Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 3- selesai) (Repost)​

​Ringkasan​

Amalan bulan Zulhijjah lainya adalah:

●Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban. Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah

●Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para ulama.

●Dilarang berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)

●Perbanyak berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

​4. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban.​

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرعت صلاة العيدين في السنة الاولى من الهجرة، وهي سنة مؤكدة واظب النبي صلى الله عليه وسلم عليها وأمر الرجال والنساء أن يخرجوا لها.

Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)

Ada pun kalangan Hanafiyah berpendapat wajib, tetapi wajib dalam pengertian madzhab Hanafi adalah kedudukan di antara sunah dan fardhu.

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

صَلاَةُ الْعِيدَيْنِ وَاجِبَةٌ عَلَى الْقَوْل الصَّحِيحِ الْمُفْتَى بِهِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ – وَالْمُرَادُ مِنَ الْوَاجِبِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : أَنَّهُ مَنْزِلَةٌ بَيْنَ الْفَرْضِ وَالسُّنَّةِ – وَدَلِيل ذَلِكَ : مُوَاظَبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا مِنْ دُونِ تَرْكِهَا وَلَوْ مَرَّةً

Shalat ‘Idain adalah wajib menurut pendapat yang shahih yang difatwakan oleh kalangan Hanafiyah –maksud wajib menurut madzhab Hanafi adalah kedudukan yang setara antara fardhu dan sunah. Dalilnya adalah begitu bersemangatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam melakukan nya,

Beliau tidak pernah meninggalkannya sekali pun. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240)

Sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah menyatakan sebagai sunah muakadah, dalilnya adalah karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang shalat fardhu, Nabi menyebutkan shalat yang lima. Lalu Arab Badui itu bertanya:

هَل عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ ؟ قَال لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ

Apakah ada yang selain itu? Nabi menjawab: “Tidak ada, kecuali yang sunah.” (HR. Bukhari No. 46)

Bukti lain bahwa shalat ‘Idain itu sunah adalah shalat tersebut tidak menggunakan adzan dan iqamah sebagaimana shalat wajib lainnya. Shalat tersebut sama halnya dengan shalat sunah lainnya tanpa adzan dan iqamah, seperti dhuha, tahajud, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat ‘Idain adalah sunah.

Sedangkan Hanabilah mengatakan fardhu kifayah, alasannya adalah karena firman Allah Ta’ala menyebutkan shalat tersebut dengan kalimat perintah: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”(QS. Al Kautsar: 2). Juga karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu merutinkannya. (Ibid, 27/240)

Insya Allah, secara khusus pada kesempatan lain akan kami bahas pula adab-adab pada hari raya.

Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para ulama.

Ulama yang mewajibkan berdalil dengan hadits berikut, dari Abu Hurairah Radhiallhu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No. 3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 7334)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya No. 7565, katanya:“Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.

Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya seperti At Ta’liq Ar Raghib, 2/103, dan Takhrij Musykilat Al Faqr,No. 102.

Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: “wa huwa wahm minhuma – ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.” Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: “fa akhtha’a – keliru/salah.” (Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 8273)

Mengomentari hadits ini, berkata Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah:

وَقَدْ اسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى وُجُوبِ التَّضْحِيَةِ عَلَى مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ لِأَنَّهُ لَمَّا نَهَى عَنْ قُرْبَانِ الْمُصَلَّى دَلَّ عَلَى أَنَّهُ تَرَكَ وَاجِبًا كَأَنَّهُ يَقُولُ لَا فَائِدَةَ فِي الصَّلَاةِ مَعَ تَرْكِ هَذَا الْوَاجِبِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى { فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ } وَلِحَدِيثِ مِخْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ مَرْفُوعًا { عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ } دَلَّ لَفْظُهُ عَلَى الْوُجُوبِ ، وَالْوُجُوبُ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ

“Hadits ini dijadikan dalil wajibnya berkurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini jelas ketika Rasulullah melarang mendekati tempat shalat, larangan itu menunjukkan bahwa hal itu merupakan meninggalkan kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firmanNya: “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah) berbunyi: “ (wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berkurban.” Lafaz hadits ini menunjukkan wajibnya. Pendapat yang menyatakan wajib adalah dari Imam Abu Hanifah.[6]

Sementara yang tidak mewajibkan, menyatakan bahwa dua hadits di atas tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), sebab yang pertama mauquf (hanya sampai sahabat nabi, bukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), hadits kedua dha’if. Sedangkan ayat Fashalli li Rabbika wanhar, tidak bermakna wajib kurban melainkan menunjukkan urutan aktifitas, yakni menyembelih kurban dilakukan setelah shalat Id.

Berikut keterangan dari Imam Ash Shan’ani:

وَقِيلَ لَا تَجِبُ وَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ مَوْقُوفٌ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ وَالثَّانِي ضَعْفٌ بِأَبِي رَمْلَةَ قَالَ الْخَطَّابِيُّ : إنَّهُ مَجْهُولٌ وَالْآيَةُ مُحْتَمِلَةٌ فَقَدْ فُسِّرَ قَوْلُهُ ( { وَانْحَرْ } ) بِوَضْعِ الْكَفِّ عَلَى النَّحْرِ فِي الصَّلَاةِ أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ شَاهِينَ فِي سُنَنِهِ وَابْنُ مَرْدُوَيْهِ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِيهِ رِوَايَاتٌ عَنْ الصَّحَابَةِ مِثْلُ ذَلِكَ وَلَوْ سُلِّمَ فَهِيَ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ النَّحْرَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ تَعْيِينٌ لِوَقْتِهِ لَا لِوُجُوبِهِ كَأَنَّهُ يَقُولُ إذَا نَحَرْت فَبَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ فَإِنَّهُ قَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ أَنَسٍ { كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْحَرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَأُمِرَ أَنْ يُصَلِّيَ ثُمَّ يَنْحَرُ } وَلِضَعْفِ أَدِلَّةِ الْوُجُوبِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ إلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بَلْ قَالَ ابْنُ حَزْمٍ لَا يَصِحُّ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ .

“Dikatakan: Tidak wajib, karena hadits pertama adalah mauquf dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Hadits kedua (dari Mikhnaf bin Sulaim) dhaif karena dalam sanadnya ada Abu Ramlah. Berkata Imam Al Khathabi: “Dia itu majhul (tidak dikenal).” Sedangkan firmanNya: “…berkurbanlah.”adalah tentang penentuan waktu penyembelihan setelah shalat. Telah diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibnu Syahin di dalam sunan-nya, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas dan didalamnya terdapat beberapa riwayat dari sahabat yang seperti ini, yang menunjukkan bahwa menyembelih kurban itu dilakukan setelah shalat (‘Ied). Maka ayat itu secara khusus menjelaskan tentang waktu penyembelihnnya, bukan menunjukkan kewajibannya. Seolah berfirman: Jika engkau menyembelih maka (lakukan) setelah shalat ‘Ied. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Anas: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyembelih sebelum shalat Id, lalu Beliau diperintahkan untuk shalat dulu baru kemudian menyembelih.” Maka nyatalah kelemahan alasan mereka yang mewajibkannya.

Sedangkan, madzhabjumhur (mayoritas) dari sahabat, tabi’in, dan ahli fiqih, bahwa menyembelih qurban adalah sunah mu’akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.”[7]

Seandainya hadits-hadits di atas shahih, itu pun tidak menunjukkan kewajibannya. Sebab dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berkurban maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.” (HR. Muslim No. 1977)[8]

Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkurban itu terkait dengan kehendak, manusianya oleh karena itu Imam Asy Syafi’i menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berkurban alias sunah.

Berikut ini keterangannya:

قال الشافعي إن قوله فأراد أحدكم يدل على عدم الوجوب

Berkata Asy Syafi’i: “Sesungguhnya sabdanya “lalu kalian berkehendak”menunjukkan ketidak wajibannya.[9]

​5. Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)​

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.” )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)

Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari ‘Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.

Imam At Tirmidzi berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ الصِّيَامَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ إِلَّا أَنَّ قَوْمًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ رَخَّصُوا لِلْمُتَمَتِّعِ إِذَا لَمْ يَجِدْ هَدْيًا وَلَمْ يَصُمْ فِي الْعَشْرِ أَنْ يَصُومَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَبِهِ يَقُولُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ

Para ulama mengamalkan hadits ini, bahwa mereka memakruhkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali sekelompok kaum dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan selain mereka, yang memberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattu’ jika belum mendapatkan hewan untuk berqurban dan dia belum berpuasa pada hari yang sepuluh (pada bulan Dzulhijjah, pen). Inilah pendapat Malik bin Anas, Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, lihat komentar hadits No. 773)

Pada saat itu dibolehkan mengadakan acara (haflah) makan  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci.

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:

وأن الأكل والشرب في المحافل مباح ولا كراهة فيه

Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

​6. Berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq​

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: “dan hari berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim No. 1141)

Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Ta’ala. 
Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.

Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:

يَنْبَغِي لِأَهْلِ مِنًى وَغَيْرِهِمْ أَنْ يُكَبِّرُوا أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ إِذَا اِرْتَفَعَ ثُمَّ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ بِالْعَشِيِّ وَكَذَلِكَ فَعَلَ وَأَمَّا أَهْلُ الْآفَاقِ وَغَيْرُهُمْ فَفِي خُرُوجِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى وَفِي دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَيُكَبِّرُونَ فِي خِلَالِ ذَلِكَ وَلَا يَجْهَرُونَ

Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan. 
Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, 2/463)

Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12,13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat.

Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian ‘takbiran’-nya hari raya.

Ada pun sekedar mengucapkan takbir  (Allahu Akbar) tentunya boleh  kapan pun juga. 

Demikian. 
Semoga bermanfaat …….

Wallahu A’lam

Shalat Jumat Saat Hari Raya, Ada atau Tiada?​

Banyak yang bertanya tentang ini, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Jika hari raya (Adha dan Fithri) jatuh di hari Jumat. Apakah shalat Jumat gugur bagi orang yang sudah shalat Id?

Berikut ini hadits-haditsnya:

1. Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhuma bertanya kepadanya:

هل شهدت مع رسول الله عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: (من شاء أن يصلي فليصل)

Apakah kamu pernah mengalami dua hari raya di hari Jumat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Zaid menjawab: “Ya.”

Muawiyah bertanya lagi: “Apa yang dilakukannya?” Zaid menjawab: “Beliau shalat ‘Id, dan memberikan keringanan atas shalat Jumat. Siapa yang mau melakukannya, silahkan dia shalat.”

(HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi. Al Hakim berkata dalam Al Mustadrak: “Shahih sanadnya tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim, hadits ini memiliki penguat yang sesuai standar Imam Muslim.” Disepakati Imam Adz Dzahabi. Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu’: isnadnya jayyid.)

2. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون

Telah berkumpul pada hari ini dua hari raya kalian, maka barang siapa yang mau maka shalat ‘Idnya itu sudah cukup, dan kami akan melakukan shalat Jumat juga.” (HR. Al Hakim, Abu Daus, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dll)

3. Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata:

اجتمع عيدان على عهد رسول الله فصلى بالناس ثم قال: (من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ، ومن شاء أن يتخلف فليتخلف).

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul dua hari raya, lalu Beliau shalat ‘Id bersama manusia. Kemudian bersabda: “Barang siapa yang mau shalat Jumat silahkan dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak mau mengerjakannya silahkan dia tinggalkan.” (HR. Ibnu Majah)

4. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة ، وإنا مجمعون إن شاء الله

Telah berkumpul dua hari raya pada hari ini, maka siapa yang shalat ‘Id maka itu sudah cukup baginya untuk tidak shalat Jumat, sedangkan kami akan shalat Jumat. (HR. Ibnu Majah, Al Bushiri berkata: isnadnya shahih, para perawinya terpercaya)

5. Hadits mursal, dari Dzakwan bin Shalih, dia berkata:

اجتمع عيدان على عهد رسول الله يوم جمعة ويوم عيد فصلى ثم قام، فخطب الناس، فقال: (قد أصبتم ذكراً وخيراً وإنا مجمعون، فمن أحب أن يجلس فليجلس -أي في بيته- ومن أحب أن يجمع فليجمع).

Telah berkumpul pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam antara hari Junat dan hari raya, Beliau shalat ‘Id lalu bangun dan berkhutbah:

“Kalian telah mendapatkan dzikir dannkebaikan, kami akan melaksanakan shalat Jumat. Barang siapa mau di rumah saja silahkan dia di rumah saja, siapa yang shalat Jumat maka silahkan shalat.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra)

6. Dari Atha bin Abi Rabah Rahimahullah, dia berkata:

صلى بنا ابن الزبير في يوم عيد في يوم جمعة أول النهار ثم رحنا إلى الجمعة فلم يخرج إلينا، فصلينا وحداناً، وكان ابن عباس بالطائف فلما قدمنا ذكرنا ذلك له، فقال : (أصاب السنة).

Ibnuz Zubeir shalat bersama kami pada hari ‘Id di hari Jumat di awal siang (pagi), lalu kami keluar untuk shalat Jumat, tapi Ibnuz Zubeir tidak keluar lalu kami shalat dan dia shalat sendiri. Saat kami berjumpa Ibnu Abbas di Thaif, kami ceritakan itu kepadanya, dan dia berkata: “Dia telah sesuai sunnah.” (HR. Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah dengan lafaz berbeda dan ada tambahan di akhirnya: Ibnuz Zubeir berkata: “Aku lihat Umar bin Al Khathab jika berkumpul dua hari raya, dia melakukan seperti itu”)

7. Dari Abu Ubaid, pelayan Ibnu Azhar, dia berkata:

شهدت العيدين مع عثمان

بن عفان، وكان ذلك يوم الجمعة، فصلى قبل الخطبة ثم خطب، فقال: (يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له).

“Aku mengalami dua hari raya bersama Utsman bin ‘Affan, saat itu di hari Jumat, lalu dia shalat sebelum khutbah, kemudian dia berkhutbah:

“Wahai manusia, sesungguhnya hari ini telah dikumpulkan bagi kalian dua hari raya, barang siapa yang mau menunggu shalat Jumat maka hendaknya dia tunggu, barang siaapa yang ingin pulang maka aku telah mengizinkannya.” (HR. Bukhari)

8. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata saat dua hari raya berkumpul dalam satu hari:

(من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس). قال سفيان: يعني : يجلس في بيته.

“Barang siapa yang mau shalat jumat hendaknya dia shalat Jumat, dan barang siapa yang ingin duduk saja maka hendaknya dia dusuk saja.” Sufyan berkata: yaitu duduk si rumahnya. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, juga Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)

Bagaimana menjelaskan riwayat-riwayat di atas?

Berikut kami sampaikan penjelasan Al Lajnah Ad Daimah:

وبناء على هذه الأحاديث المرفوعة إلى النبي ، وعلى هذه الآثار الموقوفة عن عدد من الصحابة ، وعلى ما قرره جمهور أهل العلم في فقهها، فإن اللجنة تبين الأحكام الآتية:

1- من حضر صلاة العيد فيرخص له في عدم حضور صلاة الجمعة، ويصليها ظهراً في وقت الظهر، وإن أخذ بالعزيمة فصلى مع الناس الجمعة فهو أفضل.

2- من لم يحضر صلاة العيد فلا تشمله الرخصة، ولذا فلا يسقط عنه وجوب الجمعة، فيجب عليه السعي إلى المسجد لصلاة الجمعة، فإن لم يوجد عدد تنعقد به صلاة الجمعة صلاها ظهراً.

3- يجب على إمام مسجد الجمعة إقامة صلاة الجمعة ذلك اليوم ليشهدها من شاء شهودها ومن لم يشهد العيد ، إن حضر العدد التي تنعقد به صلاة الجمعة وإلا فتصلى ظهرا.

4- من حضر صلاة العيد وترخص بعدم حضور الجمعة فإنه يصليها ظهراً بعد دخول وقت الظهر.

5- لا يشرع في هذا الوقت الأذان إلا في المساجد التي تقام فيها صلاة الجمعة، فلا يشرع الأذان لصلاة الظهر ذلك اليوم.

6- القول بأن من حضر صلاة العيد تسقط عنه صلاة الجمعة وصلاة الظهر ذلك اليوم قول غير صحيح، ولذا هجره العلماء وحكموا بخطئه وغرابته، لمخالفته السنة وإسقاطه فريضةً من فرائض الله بلا دليل، ولعل قائله لم يبلغه ما في المسألة من السنن والآثار التي رخصت لمن حضر صلاة العيد بعدم حضور صلاة الجمعة، وأنه يجب عليه صلاتها ظهراً .
والله تعالى أعلم. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Berdasarkan hadits-hadits marfu’ (sampai) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar mauquf dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Serta ketetapan mayoritas ulama dalam fiqihnya, maka Al Lajnah memberikan penjelasan sebagai berikut:

1. Siapa yang shalat Id maka diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tapi wajib baginya shalat zhuhur di waktu zhuhur. Jika dia mau ambil hukum dasar (‘azimah) yaitu shalat Jumat, maka itu lebih utama.

2. Bagi yang tidak shalat ‘Id, maka dia tidak termasuk yang mendapatkan keringanan, kewajiban shalat Jumat tidak gugur baginya, maka wajib baginya melaksanakan shalat Jumat. Namun, jika dia tidak mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, maka dia shalat zhuhur.

3. Wajib bagi Imam masjid untuk mendirikan shalat Jumat di hari itu, diperuntukan bagi mereka yang mau menjalankannya dan mereka yang belum shalat ‘Id, itu jika dia
mendapatkan jumlah manusia cukup untuk shalat Jumat, jika tidak maka dia shalat zhuhur.

4. Bagi yang ikut shalat ‘Id diberikan keringanan baginya untuk tidak shalat Jumat, tp dia shalat zhuhur jika telah masuk waktunya.

5. Tidak disyariatkan azan zhuhur kecuali di masjid yang diadakan shalat Jumat di dalamnya. Tidak disyariatkan azan zhuhur dihari itu.

6. Pendapat yang mengatakan bagi yang sudah shalat ‘Id maka gugurlah shalat Jumat dan shalat zhuhur sekaligus, adalah pendapat yang tidak benar. Para ulama telah menilainya keliru dan aneh, dan bertentangan dengan sunnah. Sebab telah menggugurkan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban dari Allah tanpa dalil.
Barangkali pihak yang berpendapat seperti itu belum dapat dalilnya baik dari hadits dan atsar, bahwa orang yang sudah shalat ‘Id diberikan keringanan untuk tidak Shalat Jumat namun tetap wajib zhuhur.

Wallahu Ta’ala A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta)

Sejarah Perang Mohacs

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …Tolong diceritakan tentang SEJARAH PERANG MOHACS ?
SEJARAH ​HANCURNYA AROGANSI BANGSA EROPA​ yang dihancurkan oleh Cicitnya ​Muhammad Al Fatih​ dalam waktu 4 Jam.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Od Jadrana do Irana, Neje Biti Muslimana

Memperingati 491 tahun Pertempuran Mohacs
29 Agustus 2017-1526 M

Mahkota St. Stephen adalah simbol kedigdayaan kerajaan di Eropa pada awal abad ke-16 dan itu ada di kepala Raja Lajos (Louis II, 1515-26) dari Hungaria. Raja Francis I Valois (1515-47) dari Perancis menginginkan mahkota tersebut untuk dirinya sehingga pecah perang. Dengan bantuan Spanyol, Lajos II berhasil memukul mundur Francis I yang terpaksa bertahan di bentengnya.

Dari dalam benteng ia menulis surat permohonan bantuan kepada Sultan Süleyman Kanuni (1520-66) dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Untuk mengalihkan sebagian kekuatan Spanyol-Hungaria maka dikirimlah Vezir-i A’zam (Grand Vizier) Pargalı İbrahim Paşa (1523-36) dengan pasukan elit pionir.

Pada masa itu terdapat dendang Serbia yang populer berirama “od Jadrana do Irana, neje biti Muslimana” yang artinya “dari Adriatik hingga ke Iran, tidak ada Muslim yang bertahan”. Hingga pembantaian Muslimin di Bosnia pada abad ke-20 pun dendang tersebut masih populer. Kekhawatiran akan bersatunya raja-raja Eropa menumpas Ummat Islam mendorong sultan bergerak secara personal memimpin balatentara ke perbatasan.

Süleyman berangkat setelah mengunjungi pusara Eyüp Sultan, Şeyh Ebu Vefa, Sultan Fatih, Sultan Bayezid, dan Sultan Selim Yavuz dan berdoa memohon keberkahan dari Allah Azza wa Jalla. Menurut sejarawan Solakzade Mehmed Hemdemi dalam kitab Tarihi (1298 H) sultan berangkat membawa Sanjak-i Sherif atau Bendera Perang Kekhilafahan.

Balatentara Hungaria yang diperkuat kontingen berbagai kerajaan, antara lain: wilayah Jerman, Polandia, Czech, kota-kota di semenanjung Italia, dan Spanyol menanti di Palagan Mohacs. Pasukan berkuda gabungan ini berjumlah 60 ribu dan terpusat di lini tengah. Menurut sejarawan Lütfi Paşa dalam kitab Tevarih-i Ali Osman (1341 H) terdapat juga kontingen Russia.

Atas saran Bali Beg seorang akınjı pejabat Sanjakbegi dari Semendire, sultan menyeberangi sungai Sava dan Drava serta meletakkan 300 meriam di lini tengah. Padahal biasanya meriam dalam pernah terbuka diletakkan di sayap kiri dan kanan. Dalam pertempuran singkat 2 jam, kepongahan raja-raja Eropa dibabat habis tak tersisia. Dalam tumpukan korban pasukan berkuda terdapat Raja Lajos sendiri.

Kita Buda, ibukota Hungaria, menyerah tanpa syarat kepada Süleyman Kanuni menurut sejarawan modern İsmail Hakkı Uzunçarsılı dalam kitab Osmanlı Tarihi (1982-88 M). Süleyman mengangkat Janos Zapoyla sebagai Raja Hungaria bagian timur yang loyal kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Sekembalinya dari pertempuran ini, Süleyman menegur dutabesar Hungaria di İstanbul dengan bait: “bangsa Eropa Kristen telah mengumpulkan awan yang mengancam para pendahuluku, tetapi awan tersebut tak pernah turun menjadi hujan, andai mereka tidak memulai, maka aku tidak perlu menumpahkan darah mereka!”

Dirangkum dari:

Maksudoğlu M. Osmanlı History 1289-1922 Based on Osmanlı Sources, Kuala Lumpur: IIUM, 1999. pp. 117-119.

Agung Waspodo, merasa kecil dibawah awan
Depok, 28 Agustus 2017

Wallahu a’lam.

Bekerjasama Sementara dengan Satu Sekuler untuk Mengalahkan Sekuler Zalim Lainnya​

Partai Demokrat (DP) Turki adalah berhaluan kanan moderat yang didirikan oleh Celal Bayar pada 7 Januari 1946. DP menjadi partai oposisi legal ketiga dalam sejarah kepartaian Republik Turki. Sebelum DP pernah ada Partai Liberal Republikan (Serbest Cumhuriyet Fırkası) serta Partai Perkembangan Nasional (Milli Kalkınma Partisi).

Namun, DP merupakan yang pertama mampu menumbangkan cengkraman Partai Masyarakat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi/CHP) pada pemilu 1950. Disamping mengalahkan telak partai CHP warisan Mustafa Kemal, DP juga mengakhiri dominasi sistem satu-partai.

Dalam kajian tadi ba’da Zuhur, yang paling penting dari fenomena naiknya DP adalah naiknya juga kekuatan kaum Muslimin di Turki melalui jalur politik. Kesadaran berpolitik sebagian besar kaum Muslim pada waktu itu tidak lepas dari aktivitas kaum sufi Nakşibendi dan pergerakan Nurcu.

Selesai menyampaikan Kajian Tematik (ke-11)
Kebangkitan Politik Islamis di Republik Turki era 1946-1950

Masjid al-Ihsan, Bank Syariah Mandiri
Kantor Pusat, Senin 28 Agustus 2017

Hukum merokok, sekedar makruhkah?

Assalamualikum tadz. Saya mau bertanya seperti apa sebenar nya hukum rokok itu. Kalo bisa mnta ayat atau hadits yg menerangkan nya jika ada. Terima kasih. Wassalamuaikum wr.wb

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:
Jawaban ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para da’i hobi dengan rokok. Padahal para da’i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Musta’an!

Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak memahami fiqih Islam, bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksudnya. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan:

Pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapannya “tidak saya temukan …dst” itu bisa dimaklumi.

Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam.

Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama.

Keempat, ia juga seorang perokok sehingga dalil agama bisa dipermainkannya sesuai selera dan kebiasaannya, bukan kebiasaannya yang ditundukkan oleh dalil-dalil agama dan fatwa para imam. Sulit sekali seseorang mengharamkan apa yang menjadi kebiasaannya sendiri.

Sejak dahulu mayoritas umat telah meyakini –kecuali sebagian kecil madzhab Maliki- bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syari’ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini.

Dikhawatiri dari pandangan sebagian da’i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang ‘monopoli’, Joget ala ngebor penyanyi seronok juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya mereka! Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Ada lagi yang berkata, “Bukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?”

Jawaban: Hanya Rasulullah yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Para ulama di tengah umatnya adalah bintang di tengah langit. Mencintai mereka adalah bagian dari perintah agama, mencela mereka adalah sebuah dosa. Memuliakan mereka adalah kemuliaan, merendahkan mereka adalah kehinaan. Namun, mencintai dan memuliakan ulama atau kaiyi tidaklah dilakukan secara membabi buta, tanpa memperhatikan akhlak Islami dan patokan-patokan syariat. Mereka pun tidak senang jika seandainya umatnya menyikapi mereka secara melampaui batas. Sungguh, kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antaranya yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan.

Imam Mujahid Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم.

“Tidaklah seorang pun melainkan bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ( yang wajib diterima /tidak boleh ditolak).”[1]

Imam Malik Rahimahullah berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai maka tinggalkanlah.”[2]

Imam Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:

وكل أحد يؤخذ من كلامه ويترك إلا المعصوم صلى الله عليه وسلم , وكل ما جاء عن السلف رضوان الله عليهم موافقا للكتاب والسنة قبلناه , و إلا فكتاب الله وسنة رسوله أولى بالإتباع ، ولكنا لا نعرض للأشخاص ـ فيما اختلف فيه ـ بطعن أو تجريح , ونكلهم إلى نياتهم وقد أفضوا إلى ما قدموا .

“Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen), dan jika tidak sesuai, maka Al Quran dan As Sunnah lebih utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak melempar tuduhan dan celaan secara pribadi kepada orang yang berbeda, kita serahkan mereka sesuai niatnya dan mereka telah berlalu dengan amal berbuatan mereka.” [3]

Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Sallam. Maka, untuk para da’i hati-hatilah, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl (16): 116)

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.” [4]

Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan akan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Insya Allah.

1.Dalil dari Al Qur’an

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan.” (QS. Al Baqarah (2): 195)
Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr&  ÇËÒÈ
“Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..” (QS. An Nisa (4): 29)

Perhatikan dua ayat ini, tidak syak (ragu) lagi, merokok merupakan tindakan merusak diri si pelakunya, bahkan tindakan bunuh diri. Para pakar kesehatan telah menetapkan adanya 3000 racun berbahaya, dan 200 diantaranya amat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari Ganja (Canabis Sativa). Mereka menetapkan bahwa sekali hisapan rokok dapat mengurangi umur hingga beberapa menit. Wallahu A’lam bis Shawab. Pastinya, umur manusia urusan Allah Ta’ala, namun penelitian para pakar ini adalah pandangan ilmiah empirik yang tidak bisa dianggap remeh. Al Ustadz Muhamad Abdul Ghafar Al Hasyimi menyebutkan dalam bukunya Mashaibud Dukhan (Bencana Rokok) bahwa rokok bisa melahirkan 99 macam penyakit. Lancet, sebuah majalah kesehatan di Inggris menyatakan bahwa merokok itu adalah penyakit itu sendiri, bukan kebiasaan. Perilaku ini merupakan bencana yang dialami kebanyakan anggota keluarga, juga bisa menurunkan kehormatan seseorang. Jumlah yang mati karena rokok berlipat ganda. Majalah ini menyimpulkan, asap rokok lebih bahaya dari asap mobil.

Perhatikan dua ayat di atas, ia menggunakan bentuk kata untuk pengingkaran/larangan yang bermakna jauhilah perbuatan merusak diri atau mengarah pada bunuh diri. Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan Al Ashlu fi An Nahyi lil Haram (hukum asal dari sebuah larangan adalah haram). Seperti kalimat wa laa taqrabuz zinaa .. (jangan kalian dekati zina) artinya mendekati saja haram apa lagi melakukannya. Maksudnya, ada dua yang diharamkan dalam ayat ini yakni 1. Berzina, dan 2. perilaku atau sarana menuju perzinahan. Ini Sesuai kaidah Ushul Fiqh:

وَمَا أَدَّى إلَى الْحَرَامِ فَهُوَ حَرَامٌ .

“Apa saja yang membawa kepada yang haram, maka dia juga haram.”[5]

Begitu pula ayat ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’, artinya, yang diharamkan adalah 1. Bunuh diri, dan 2. Perilaku atau sarana apapun yang bisa mematikan diri sendiri.

Imam Asy Syaukani berkata dalam Kitab tafsirnya, Fat-hul Qadir, tentang maksud ayat An Nisa 29 di atas:

قوله “ولا تقتلوا أنفسكم” أي: لا يقتل بعضكم أيها المسلمون بعضاً إلا بسبب أثبته الشرع، أو لا تقتلوا أنفسكم باقتراف المعاصي أو المراد النهي عن أن يقتل الإنسان نفسه حقيقة. ولا مانع من حمل الآية على جميع المعاني. ومما يدل على ذلك احتجاج عمرو بن العاص بها حين لم يغتسل بالماء البارد حين أجنب في غزاة ذات السلاسل، فقرر النبي صلى الله عليه وسلم احتجاجه وهو في مسند أحمد وسنن أبي داود وغيرهما

“Maksud firmanNya ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’ adalah Wahai muslimun, janganlah kalian saling membunuh satu sama lain, kecuali karena ada sebab yang ditetapkan oleh syariat. Atau, janganlah bunuh diri kalian dengan perbuatan keji dan maksiat, atau yang dimaksud ayat ini adalah larangan membunuh diri sendiri secara hakiki (sebenarnya). Tidak terlarang membawa maksud ayat ini kepada makna-makna yang lebih umum. Dalilnya adalah Amr bin Al Ash berhujjah (berdalil) dengan ayat tersebut, ketika ia tidak mandi wajib (mandi junub) dengan air dingin pada saat perang Dzatul Salasil. Namun, Nabi Shaliallahu ‘Alaihi wa Sallam mendiamkan (tanda setuju) hujjah (alasan) yang yang dipakai olenya. Ini ada dalam Musnad Ahmad, Sunan Abu daud, dan lain-lain.” [6]

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra’ (17): 27)

Tidak ragu pula, hobi merokok tindakan tabdzir (pemborosan) dan penyia-nyiaan terhadap harta. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari rokok kecuali ketenangan sesaat, bahaya penyakit yang mengancam jiwa, dan terbuangnya uang secara sia-sia. Bahkan, Allah Ta’ala menyebut mereka sebagai saudara-saudara syaitan.
Berkata Imam Asy Syaukany tentang tafsir ayat ini:

أن المبذر مماثل للشيطان، وكل مماثل للشيطان له حكم الشيطان، وكل شيطان كفور، فالمبذر كفور.

“… Bahwa orang yang berbuat mubadzir (pemboros) diumpamakan seperti syaitan, dan setiap yang diumpamakan dengan syaitan maka baginya dihukumi sebagai syaitan, dan setiap syaitan adalah ingkar (terhadap Allah, pen), maka orang yang mubadzir adalah orang yang ingkar.”[7]

Sebagian ulama –seperti Imam Asy Syaukany ini- ada yang mengatakan bahwa berlebihan dalam berinfak juga termasuk tabdzir (pemborosan)[8], maka apalagi berlebihan dalam merokok, berpikirlah wahai manusia!

Maka, haramnya rokok adalah muwafaqah bil maqashid asy Syari’ah (sesuai dengan tujuan syariat) yang menghendaki terjaganya lima hal asasi (mendasar), yaitu agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan. Imam Al Qarafi Al Maliki menambahkan menjadi enam, yaitu kehormatan.

Allah Ta’ala juga menyebut tentang ciri-ciri orang yang beriman yakni orang yang:

“ Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS.Al Mu’minun (23): 8)

Kesehatan adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga, itu adalah amanah dari Allah Ta’ala yang tidak boleh dikhianati. Dalam hadits disebutkan, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
“Tidak beriman bagi orang yang tidak menjaga amanah, dan tidak beragama orang yang tidak menepati janjinya.”[9]

Seharusnya, seorang muslim yang baik berhati-hati dengan perkara amanah ini, sebab akan menjatuhkannya dalam kategori kemunafikan. Wal ‘Iyadzubillah!

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat di atas: “Yaitu jika diberi amanah ia tidak mengkhianatinya, bahkan ia menunaikannya kepada pihak yang memberinya.” [10]

Itulah orang yang beriman, ia menjaga amanah dan tidak mengkhianatinya. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menjaga amanah?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.”[11]

Demikianlah dalil-dalil Al Qur’anul Karim yang amat tegas dan jelas tentang larangan merusak diri sendiri dan berbuat mubadzir, mengkhianati amanah kesehatan, yang semua itu telah dilakoni oleh aktifitas merokok. Bagian ini telah kami paparkan juga beberapa hadits, dan pandangan para ulama terdahulu kita. Alhamdulillah …

1. Dalil-dalil dari As Sunnah Al Muthahharah

Selain beberapa hadits di atas, ada lagi beberapa hadits lain yang memperkuat larangan merokok bagi seorang muslim. Kami hanya akan menggunakan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima periwayatannya) yaitu yang shahih atau hasan, ada pun hadits yang mardud (tertolak/tidak boleh digunakan khususnya dalam masalah aqidah dan hukum) yaitu hadits dhaif, tidak akan kami gunakan. Nas’alullaha as salamah wal ‘afiyah …

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa SallamI bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” [12]

Ya, tanda baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Rokok tidak membawa manfaat apa-apa, kecuali ancaman bagi kesehatan dan jiwa dan pemborosan. Ada pun ketenangan dan konsentrasi setelah merokok, itu hanyalah sugesti. Hendaknya bagi seorang muslim yang sadar dan faham agama merenungi hadits yang mulia ini.

Dari Abu Shirmah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من ضار مسلما ضاره الله و من شاق مسلما شق الله عليه

“Barangsiapa yang memudharatkan (merusak) seorang muslim yang lain, maka Allah akan memudharatkannya, barang siapa yang menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkan orang itu.” [13]

Ada istilah perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok namun tanpa disengaja (baik ia sudah menghindar atau belum) ia menghirup juga asap rokok. Bahkan menurut penelitian, perokok pasif mendapatkan dampak yang lebih berbahaya, sebab selain ia mendapatkan racun dari asap rokok, juga mendapat racun dari udara yang ditiupkan si perokok yang telah bercampur dengan asapnya. Inilah mudharat (kerusakan) yang telah dibuat oleh para perokok aktif kepada orang lain. Jelas Rasulullah amat melarangnya, bahkan ia mendoakan agar Allah Ta’ala membalas perbuatan rusak orang tersebut.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

وَالْحَدِيث فِيهِ دَلِيل عَلَى تَحْرِيم الضِّرَار عَلَى أَيّ صِفَة كَانَ ، مِنْ غَيْر فَرْق بَيْن الْجَار وَغَيْره

“Hadits ini merupakan dalil, haramnya berbuat dharar (kerusakan) bagaimana pun sifatnya, dan tidak ada perbedaan, baik itu kepada tetangga atau orang lain.”[14]

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Salami bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu.” [15]

Dalam sejarahnya, rokok pertama kali dilakukan oleh suku Indian ketika sedang ritual penyembahan dewa-dewa mereka. Kami yakin perokok saat ini tidak bermaksud seperti suku Indian tersebut, namun perilaku yang nampak dari mereka merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffar (penyerupaan dengan orang kafir) yang sangat diharamkan Islam. Dan perlu diketahui, bahwa Fiqih Islam menilai seseorang dari yang terlihat (nampak), adapun hati atau maksud orangnya, kita serahkan kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

Demikian, kami cukupkan dulu dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebenarnya seluruh keterangan di atas –kami kira- sudah mencukupi, namun ada baiknya kami tambahkan beberapa hal untuk lebih meyakinkan lagi.

2. Al Qawaid Al Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah fiqih)

Dalam fiqih ada kaidah-kaidah yang biasa digunakan para Ulama mujtahid (ahli ijtihad) untuk membantu menyimpulkan dan memutuskan sebuah hukum, baik untuk keputusan haram atau halalnya sesuatu benda atau perbuatan.

Dalam menentukan haramnya rokok ini ada beberapa kaidah yang menguatkan, di antaranya (seperti yang sudah disebut sebelumnya):
وَمَا أَدَّى إلَى الْحَرَامِ فَهُوَ حَرَامٌ .

“Sesuatu atau sarana yang membawa kepada keharaman, maka hukumnya haram.”

Merusak diri sendiri dengan perbuatan yang bisa mengancam kesehatan dan jiwa, jelas diharamkan dalam syariat, tanpa ragu lagi. Maka, merokok atau perilaku apa saja yang bisa merusak diri dan mengancam jiwa, baik cepat atau lambat, adalah haram, karena perilaku tersebut merupakan sarananya.

Kaidah lainnya adalah:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Janganlah melakukan kerusakan (melakukan dharar), atau merusak diri sendiri.”[16] Sebenarnya kaidah ini adalah berasal dari bunyi hadits yang diriwayatkan banyak ulama di antaranya Malik, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, dan Al Hakim.[17]

Tertulis dalam kitab Anwarul Buruq ketika mengomentari hadits ini:

وَبِالْجُمْلَةِ إنْ ثَبَتَ فِي هَذَا الدُّخَانِ أَضْرَارٌ صُرِفَ عَنْ الْمَنَافِعِ فَيَجُوزُ الْإِفْتَاءُ بِتَحْرِيمِه

“Secara global, jika pasti adanya mudharat pada rokok yang menghilangkan manfaatnya, maka bolehlah difatwakan bahwa rokok adalah haram.”[18]

Merokok selain merusak diri sendiri, juga merusak kesehatan orang lain di sekitarnya (perokok pasif). Keduanya (yakni merusak diri sendiri dan merusak orang lain) sama-sama dilarang oleh syariat. Ada pun bagi pelakunya ia mengalami dharar mali (kerusakan pada harta, karena ia menyia-nyiakannya), dharar jasady (kerusakan tubuh, karena membahayakan kesehatan bahkan jiwa), dharar nafsi (merusak kepribadian-citra diri, dan mental-kecanduan). Jika berbahaya bagi kesehatan saja sudah cukup untuk mengharamkan, apalagi jika sudah termasuk menghamburkan uang dan menurunkan harga diri. Tentu lebih kuat lagi pengharamannya.

Kaidah lainnya:
إَنَّ دَفْعَ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Sesungguhnya, menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat.”[19]
Kita tahu, para perokok –katanya- merasa tenang dan konsentrasi ketika merokok. Baik, taruhlah itu manfaat yang ada, namun ternyata dan terbukti bahwa mudharatnya sangat jauh lebih besar, maka menurut kaidah ini walau rokok punya manfaat, ia tetap wajib ditinggalkan, dalam rangka menghindari kerusakan yang ditimbulkannya. Faktanya, manfaatnya tidak ada, hanya sugesti dan mitos.

3. Alasan Mereka dan Bantahannya

Mereka beralasan bahwa “hukum asal segala sesuatu (urusan dunia) adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil syariat yang mengharamkannya. Nah, kami tidak menemukan dalil pengharamannya.”

Alasan ini sudah terjawab secara tuntas dan rinci dari uraian di atas. Telah kami paparkan beberapa ayat, beberapa hadits, yang mengarah pada haramnya rokok (atau apa saja yang termasuk membahayakan kesehatan dan jiwa, dan mubadzir), beserta pandangan para Imam umat Islam. Ucapan “kami tidak menemukan dalil pengharamannya” bukan berarti tidak ada dalilnya. Sebab, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Hal ini, tergantung kejelian, kemauan, dan –yang paling penting- kesadaran manusianya. Memang, masalah ilmu dan kebenaran, bukan tempatnya bagi orang malas dan pengekor hawa nafsu dan emosi.

Mereka beralasan bahwa, “Kami pusing jika tidak merokok, jika merokok, kami kembali tenang dan konsentrasi.”

Alasan ini tidak layak keluar dari mulut orang Islam yang baik, apalagi da’i. Ucapan ini justru telah membuka kedok, bahwa orang tersebut telah ketergantungan dengan rokok, yang justru memperkuat keharamannya. Bahkan menurut sebagian ulama rokok telah menjadi berhala bagi orang ini, sehingga ia tidak layak menjadi imam shalat. Namun bagi kami, ia masih boleh menjadi imam shalat, sebab Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu pernah shalat menjadi makmum di belakang ahli maksiat, yaitu seorang gubernur zhalim di Madinah, Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy.

Ya, ajaib memang. Jika, memang mengaku muslim (tidak usahlah mu’min kalau masih berat), seharusnya ia berdzikir kepada Allah Ta’ala supaya pikiran tenang, hati khusyu’ dan konsentrasi, bukan dengan merokok! Karena hanya dengan mengingat Allah Ta’ala hati menjadi tenang. Wallahul Musta’an!

Allah Ta’ala berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du (13): 28)

Alasan lainnya adalah, “Bagi kami merokok adalah makruh saja, makruh’kan tidak berdosa.”

Jawaban ini hanya keluar dari orang yang wahnun fid din (lemah dalam beragama), tidak wara’, mempermainkan fiqih, dan mutasahil (menggampang-gampangkan). Jika benar itu makruh, maka tahukah Anda apa itu makruh? Ia diambil dari kata karaha (membenci), makruh artinya sesuatu yang dibenci, siapa yang membenci? Allah Ta’ala! Muslim yang baik, yang mengaku Allah Ta’ala adalah kekasihnya, ia akan meninggalkan hal yang dibenci kekasihnya. Kekasih model apa yang hobi melakukan sesuatu yang dibenci olah sang kekasih?

Dahulu, kami pun sekadar memakruhkan rokok, sebagaimana pendapat Imam Hasan al Banna dan Syaikh Said Hawwa Rahimahumallah. Namun, apa yang kami yakini itu, dan apa yang difatwakan oleh dua ulama ini adalah pandangan lama ketika sains belum berkembang, penemuan tentang bahaya rokok tidak separah seperti yang terkuak sekarang. Kami yakin, jika dua ulama ini berumur panjang dan diberi kesempatan untuk melihat perkembangan bahaya rokok, niscaya mereka akan merubah pendapatnya. Sebab mereka berdua adalah ulama yang terkenal open mind (pikiran terbuka), tidak jumud (statis/diam di tempat), mereka selalu terus mencari kebenaran.

Sesungguhnya, perubahan pendapat atau ijtihad yang disebabkan perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, dalam sejarah khazanah fiqih Islam bukanlah hal yang aneh.[20] Imam Ahlus Sunnah, Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu ketika masih tinggal di Baghdad ia memiliki Qaul Qadim (pendapat lama), namun ketika ia hijrah ke Mesir dan wafat di sana, lantaran perubahan kondisi, tempat, dan juga kematangan usia dan ilmu, ia merubahnya menjadi Qaul Jadid (pendapat baru). Contoh lain sangat banyak dan bukan di sini tempatnya.

Yang pasti, kami telah merevisi apa yang kami yakini dahulu. Sebab para ahli telah menegaskan betapa bahayanya rokok bagi penghisapnya dan orang di sekitarnya, cepat atau lambat. Dahulu dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, para pakar mengatakan bahaya rokok hanya ini dan itu. Namun sekarang ketika ilmu pengetahuan sudah maju, rahasia yang dahulu tertutup menjadi terbuka, racun yang dahulunya tersembunyi sekarang diketahui. Maka, tidak ragu lagi, bahwa saat ini kurang tepat jika rokok dihukumi makruh, melainkan haram. Masalahnya, adakah kesadaran dalam diri kita untuk merubah kebiasaan yang sudah mentradisi?

Sungguh, bersegera menuju kebenaran adalah lebih utama dari pada berlama-lama dalam kesalahan.

5. Pandangan Ulama Dunia Tentang Rokok

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Ali Asy Syaikh berkata, “Saya pernah ditanya tentang hukum tembakau yang sering dihisap oleh orang yang belum paham tentang haramnya rokok. Maka kami jawab, bahwa kami kalangan para ulama dan syaikh-syaikh kita yang dahulu, para ahli ilmu, para imam da’wah, ahli Najd (daerah antara Makkah dan Madinah), dahulu sampai sekarang menghukumi bahwa rokok itu haram, berdasarkan dalil yang shahih, dan akal yang waras, serta penelitian para dokter yang masyhur.” Lalu Syaikh menyebut dalil-dalil tersebut, beliau juga mengatakan bahwa haramnya rokok telah difatwakan oleh para ulama dari kalangan madzhab yang empat.

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di (Ulama tafsir terkenal) berkata, “Perokok, penjualnya, dan orang yang membantunya, semuanya haram. Tidak halal bagi umat islam memperolehnya, baik untuk dihisap atau untuk dijual. Barangsiapa yang memperolehnya, hendaknya ia bertaubat dengan taubat nasuha dari semua dosa. Sebab rokok ini masuk kepada dalil keumuman nash (teks Al Qur’an) yang menunjukkan haram baik lafazh atau makna..dst.”

Syaikh Musthafa Al Hamami dalam An Nahdhatu al Ishlahiyah bekata tentang keanehan para perokok, “Tembakau dan rokok adalah perkara yang hampir sama. Keduanya memiliki daya tarik dan pengaruh yang kuat bagi para pecandunya, sehingga begitu menakjubkan, seolah-olah tidak ada daya tarik yang melebihi rokok. Kita saksikan bersama, betapa gelisahnya para penghisap rokok jika dia ingin merokok, sedangkan ia tidak punya uang. Maka ia akan mencari temannya yang merokok untuk mengemis walau satu batang. Hal ini kami ceritakan, karena kami melihatnya sendiri. Yang lucu, pengemis rokok itu orang yang berkedudukan tinggi, tetapi karena kuatnya dorongan untuk merokok membuat dirinya menjual harga dirinya untuk mengemis rokok walau satu batang!”

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan hafizhahullah dalam Al I’lam bi Naqdi Kitab al Halal wal Haram, berkata setelah ia menjelaskan haramnya rokok, “Begitulah intisari nasihat dari dokter tentang bahaya rokok, yang kami ketengahkan setelah fatwa para ulama tentang bahaya rokok. Apakah pantas bagi mereka yang sudah memahami berbagai macam fatwa ulama ini dan pandangan para dokter ahli, mereka masih ragu tentang haramnya rokok dan enggan meninggalkannya? Tidaklah yang demikian itu melainkan suatu ketakabburan tanpa alasan.”

Syaikh Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah berkata dalam Al Halal wal Haram fil Islam, “Kami mengatakan bahwa rokok, selama hal itu telah dinyatakan membahayakan, maka hukumnya haram. Lebih-lebih jika dokter spesialis sudah menetapkan hal itu kepada orang tertentu.

Sekali pun tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan, tetapi yang jelas hal itu termasuk membuang uang untuk yang tidak bermanfaat, baik untuk agama atau urusan dunia. Dalam hadits dengan tegas Rasulullah melarang membuang-buang harta. Keharamannya lebih kuat lagi, jika ternyata sebenarnya ia amat memerlukan uang itu untuk dirinya atau keluarganya.” Inilah fatwa Syaikh Al Qaradhawy saat kitabnya ini baru dibuat yakni tahun 1960-an. Dalam Hadyu Al Islam Fatawa Mu’ashirah jilid 1, tahun 1988, Darul Ma’rifah Ia lebih panjang lagi menjelaskan tentang haramnya rokok setelah ia membandingkan seluruh alasan yang membolehkan, memakruhkan, dan mengharamkan. Dengan dalil yang ada, serta maksud dalil tersebut, beserta keterangan para dokter, Ia semakin mantap tentang haramnya rokok.
Demikian. Wallahu A’lam

* * * * *

[1] Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’, Juz. 2, Hal. 31. Al Maktabah Asy Syamilah

[2] Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, Juz. 27, Hal. 120. Al Maktabah Asy Syamilah

[3] Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal.306. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun

[4] HR. Bukhari, Kitabul Ilmi Bab Kaifa Yuqbadhul ‘Ilma, Juz. 1, Hal. 176, No.98. Muslim, Kitabul Ilmi Bab Raf’il Ilmi wa Qabdhihi …., Juz. 13, Hal. 160. No. 4828. Al Maktabah Asy Syamilah
[5] Imam Izzuddin bin Abdissalam, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, Juz. 2, Hal. 402. Al Maktabah Asy Syamilah
[6] Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, Juz. 2, Hal. 130. Al Maktabah Asy Syamilah

[7] Ibid, Juz. 4, Hal. 301. Al Maktabah Asy Syamilah

[8] Namun pendapat yang lebih kuat adalah dalam berinfaq untuk Al Haq tidak mengenal kata ‘berlebihan atau boros’. Berkata Imam Mujahid, “Seandainya manusia berinfak seluruh hartanya untuk kebenaran bukanlah termasuk tabdzir, tetapi berinfaq di jalan yang bukan al haq walau satu mud, itulah yang mubadzir.” Ini juga pendapat sahabat Nabi seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma (Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an al Azhim, Juz. 5, Hal. 69. Al Maktabah Asy Syamilah)
[9] HR. Ahmad, Juz. 24, Hal. 481, No. 11935. Ath Thabari, Al Mu’jam Al Kabir, Juz. 9, Hal. 81, No. 10401. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Juz. 9, Hal. 383, No. 4184. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 88, No. 3004. Al Maktabah Asy Syamilah

[10] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Juz, 5, hal. 463. Al Maktabah Asy Syamilah

[11] HR. Bukhari, Kitab Al Iman Bab ‘Alamatil Munafiq, Juz. 1, Hal. 58, No. 32. Muslim, Kitab Al Iman Bab Bayan Khishal Al Munafiq, Juz.1, Hal. 192, No. 90. Al Maktabah Asy Syamilah
[12] HR. At Tirmidzi, Kitab Az Zuhd ‘An Rasulillah Bab Fiman Takallam Bikalimatin Yudhhika biha An Nas, Juz. 8, Hal. 294, No. 2239. Malik, Juz. 5, Hal. 381, No. 1402, dari Ali bin Husein bin Ali bin Ab Thalib. Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Kaffil Lisan fil Fitnah, Juz. 11, Hal. 472, No. 3966. Ahmad, Juz. 4, Hal. 168, No. 1646, dari Ali bin Abi Thalib. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Misykah Al Mashabih, Juz. 3, Hal. 49, No. 4839. Al Maktabah Asy Syamilah

[13] HR. Abu Daud, Kitab Al Aqdhiyah Bab Minal Qadha’, Juz. 10, Hal. 41, No. 3151. At Tirmidzi, Kitab Al Birr wash Shilah ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a fil Khiayanah wal Ghisysyi, Juz. 7, Hal. 188, No. 1863. Katanya: hasan gharib. Ad Daruquthni, Juz. 7, Hal. 375, No. 3124. Al Hakim, Al Mustdarak, Juz. 5, Hal. 454, No. 2305, dari Abu Said Al Khudri. Menurutnya shahih sesuai syarat Imam Muslim. Syakh Al Albani juga menghasankan, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 4, Hal. 440, No. 1940. Al Maktabah Asy Syamilah

[14] Imam Abu Thayyib Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 8, Hal. 130. Al Maktabah Asy Syamilah

[15] HR. Abu Daud, Kitab Al Libas Bab Fi Lubsi Asy Syuhrah, Juz. 11, Hal. 48, No. 3512. Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Juz. 31, Hal. 9. Juga dari Ath Thabarani, Juz. 18, Hal. 140, No. 8562, dari Hudzaifah bin Yaman. Imam Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat periwayat bernama Ali bin Ghurab, lebih dari satu orang menyatakan tsiqah (bisa diperaya), tapi sebagian lain mengatakan dhaif, namun periwayat lainnya tsiqat semua, Majma’uz Zawaid, Juz. 10, Hal. 271. Al Maktabah Asy Syamilah
[16] Imam As Suyuthi, Al Asybah Wan Nazhair, Juz. 1, Hal. 8 . Al Maktabah Asy Syamilah

[17] HR. Malik, Juz. 5, Hal. 37, No. 1234. Ibnu Majah, Kitab Al Ahkam Bab Man Banaa fi Haqqihi Maa Yadhurru bi Jaarihi, Juz. 7, Hal. 143, No. 2331. Ahmad, Juz. 6, Hal. 251, No. 2719. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, Juz. 6, Hal. 69. Ad Daruquthni, Bab fil Mar’ah Taqtulu Idza Irtadat, Juz. 10, Hal. 339, No. 4595. Al Hakim, Al Mustadarak ‘alash Shahihain, Juz. 5, Hal. 454, No. 2305. Katanya shahih sesuai syarat Imam Muslim. Sementara Imam Ibnu Rajab mengatakan hadits ini hasan, dan Imam Ibnu Ash Shalah mengatakan hadits ini disandarkan oleh Ad Daruquthni dengan berbagai jalur yang jika dikumpukan akan menjadi kuat dan hasan, dan mayoritas ulama menerimanya dan berargumentasi dengan hadits ini. Lihat Al Qaidah Adz Dzahabiyah, Hal. 1-2. Al Maktabah Asy Syamilah

[18] Imam Al Qarrafi, Anwarul Buruq fi Anwaril Furuq, Juz. 2, Hal. 368. Al Maktabah Asy Syamilah

[19] Imam Abdullah Az Zarkasyi, Al Bahr Al Muhith, Juz. 7, Hal. 51. Al Maktabah Asy Syamilah
[20] Perlu diingat, yang bisa berubah karena perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, adalah fatwa dan ijtihad. Bukan syariatnya, sebab syariat sifatnya tsabit (tetap/aksiomatik) selamanya

Wallahu a’lam.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 2) (Repost)​

3⃣ Shaum ‘Arafah (Pada 9 Dzulhijjah)​

Dari Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

📌Nabi ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Menghapuskan dosa tahun lalu dan tahun kemudian.” (HR. Muslim No. 1162, At Tirmidzi No. 749, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2805, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 763, Ahmad No. 22535, 22650. Ibnu Khuzaimah No. 2117, dan ini adalah lafaz Imam Muslim)

Hadits ini menunjukkan sunahnya puasa ‘Arafah.

✖️ Apakah yang sedang wuquf dilarang berpuasa ‘Arafah?

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah menganjurkan berpuasa pada hari ‘Arafah, kecuali bagi yang sedang di ‘Arafah.” (Sunan At Tirmidzi, komentar hadits No. 749)

❓ Apa dasarnya bagi yang sedang wuquf di ‘Arafah dilarang berpuasa?

Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

📌Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah. (HR. Abu Daud No. 2440, Ibnu Majah No. 1732, Ahmad No. 8031, An Nasa’i No. 2830, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 2731, Ibnu Khuzaimah No. 2101, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1587)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” (Al Mustadrak No. 1587) Imam Adz Dzahabi menyepakati penshahihannya.

Dishahihkan pula oleh Imam Ibnu Khuzaimah, ketika beliau memasukkannya dalam kitab Shahihnya. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar: “Aku berkata: Ibnu khuzaimah telah menshahihkannya, dan Mahdi telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban.” (At Talkhish, 2/461-462)

Namun ulama lain menyatakan bahwa  hadits ini dhaif. (Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Ta’liq Musnad Ahmad No.  8031, Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya seperti Tamamul Minnah Hal. 410,  At Ta’liq Ar Raghib, 2/77, Dhaif Abi Daud No. 461,  dan lainnya)

Mereka menyanggah tashhih (penshahihan) tersebut, karena perawi hadits ini yakni Syahr bin Hausyab dan Mahdi Al Muharibi bukan perawi Al Bukhari dan Muslim sebagaimana yang diklaim Imam Al Hakim.

Imam Al Munawi mengatakan: “Berkata Al Hakim: ‘Sesuai syarat Bukhari,’ mereka (para ulama) telah menyanggahnya karena terjadi ketidakjelasan pada Mahdi, dia bukan termasuk perawinya Al Bukhari, bahkan Ibnu Ma’in mengatakan: majhul. Al ‘Uqaili mengatakan: ‘Dia tidak bisa diikuti karena kelemahannya.’” (Faidhul Qadir, 6/431)

Lalu,  Mahdi Al Muharibi – dia adalah Ibnu Harb Al Hijri, dinyatakan majhul (tidak diketahui) keadaannya oleh para muhadditsin.

Syaikh Al Albani berkata: “Aku berkata: isnadnya dhaif, semua sanadnya berputar pada Mahdi Al Hijri, dan dia majhul.” (Tamamul Minnah Hal. 410)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: “Isnadnya dhaif, karena ke-majhul-an Mahdi Al Muharibi, dia adalah Ibnu Harbi Al Hijri, dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitab Ats Tsiqaat (orang-orang terpercaya), dia (Ibnu Hibban) memang yang menggampangkannya (untuk ditsiqahkan, pen).” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8041)

Telah masyhur bagi para ulama hadits, bahwa Imam Ibnu Hibban dinilai sebagai  imam hadits yang  longgar men-tsiqah-kan perawi yang majhul.

Majhulnya Mahdi Al Muharibi juga di sebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (At Talkhish Al Habir,  2/461), Imam Al ‘Uqaili mengatakan dalam Adh Dhuafa: “Dia tidak bisa diikuti.” (Ibid)

Imam Yahya bin Ma’in dan Imam Abu Hatim mengatakan: Laa A’rifuhu – saya tidak mengenalnya. (Imam Ibnu Mulqin, Al Badrul Munir, 5/749)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Dalam isnadnya ada yang perlu dipertimbangkan, karena Mahdi bin Harb Al ‘Abdi bukan orang yang dikenal. (Zaadul Ma’ad, 1/61), begitu pula dikatakan majhul oleh Imam Asy Syaukani.” (Nailul Authar, 4/239)

Maka, pandangan yang dinilai para ulama lebih kuat adalah tidak ada yang shahih larangan berpuasa pada hari  ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah. Oleh karenanya Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Tidak ada yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang berpuasa pada hari ini ( 9 Dzhulhijjah).” (Ta’liq Musnad Ahmad, No. 8031)

Tetapi, di sisi lain juga tidak ada yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpuasa ketika wuquf di ‘Arafah.

Diriwayatkan secara shahih:

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّهُمْ شَكُّوا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَبَعَثَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحٍ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبَهُ

📌“Dari Ummu Al Fadhl, bahwa mereka ragu tentang berpuasanya Nabi Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari ‘Arafah, lalu dikirimkan kepadanya segelas susu, lalu dia meminumnya.” (HR. Bukhari No. 5636)

Oleh karenanya Imam Al ‘Uqaili mengatakan: “Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sanad-sanad yang baik, bahwa Beliau belum pernah berpuasa pada hari ‘Arafah ketika berada di sana, dan tidak ada yang shahih darinya tentang larangan berpuasa pada hari itu.” (Adh Dhuafa, No. 372)

Para sahabat yang utama pun juga tidak pernah berpuasa ketika mereka di ‘Arafah. Disebutkan oleh Nafi’ –pelayan Ibnu Umar, sebagai berikut: “Dari Nafi’, dia berkata: Ibnu Umar ditanya tentang berpuasa hari ‘Arafah ketika di ‘Arafah, dia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berpuasa, begitu pula Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra No. 2825)

Maka, larangan berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang di ‘Arafah tidaklah pasti, di sisi lain, Nabi pun tidak pernah berpuasa  ketika sedang di ‘Arafah, begitu pula para sahabat setelahnya. Sehingga, kemakruhan berpuasa tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang sedang wuquf telah diperselisihkan para imam kaum muslimin. Sebagian memakruhkan dan pula ada yang membolehkan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau tidak pernah melakukannya, tetapi juga tidak melarang puasa ‘Arafah bagi yang wuquf di ‘Arafah.

Ibnu Umar ditanya tentang berpuasa pada hari ‘Arafah, beliau menjawab: “Saya haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau  tidak berpuasa, saya haji bersama Abu Bakar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama Umar, juga tidak berpuasa, saya haji bersama ‘Utsman dia juga tidak berpuasa, dan saya tidak berpuasa juga, saya tidak memerintahkan dan tidak melarangnya.” (Sunan Ad Darimi No. 1765. Syaikh Husein Salim Asad berkata: isnaduhu shahih.)

Kalangan Hanafiyah mengatakan, boleh saja berpuasa ‘Arafah bagi jamaah haji yang sedang wuquf jika itu tidak membuatnya lemah. (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu,  3/25)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan bahwa tidak dianjurkan mereka berpuasa, walaupun kuat fisiknya, tujuannya agar mereka kuat berdoa: “Ada pun para haji, tidaklah disunahkan berpuasa pada hari ‘Arafah, tetapi disunahkan untuk berbuka walau pun dia orang yang kuat, agar dia kuat untuk banyak berdoa, dan untuk mengikuti sunah.” (Ibid, 3/24). Jadi, menurutnya “tidak disunahkan”, dan tidak disunahkan bukan bermakna tidak boleh.

🌐 Namun mayoritas madzhab memakruhkannya, berikut ini rinciannya:

✅ Hanafiyah: makruh bagi jamaah haji berpuasa ‘Arafah jika membuat lemah, begitu juga puasa tarwiyah (8 Dzulhijjah).

✅Malikiyah: makruh bagi jamaah haji berpuasa ‘Arafah, begitu pula puasa tarwiyah.

✅Syafi’iyah: jika jamaah haji mukim di Mekkah, lalu pergi ke ‘Arafah siang hari maka puasanya itu  menyelisihi hal yang lebih utama, jika pergi ke ‘Arafah malam hari maka boleh berpuasa. Jika jamaah haji adalah musafir, maka secara mutlak disunahkan untuk berbuka.

✅Hanabilah: Disunahkan bagi para jamaah haji berpuasa pada hari ‘Arafah jika wuqufnya malam, bukan wuquf pada siang hari, jika wuqufnya siang maka makruh berpuasa.  (Lihat rinciannya dalam Al Fiqhu ‘Alal Madzahib Al Arba’ah, 1/887, karya Syaikh Abdurrahman Al Jazairi)

Bersambung ..

DONOR ORGAN TUBUH​

Assalamu’alaikum ustadz
Bagaimana hukumnya mendonorkan organ tubuh kepada orang lain.
“Case nya ada seseorang yg ingin mendonorkan ginjal kpd kakak kandungnya karena ybs janda dg 4 anak dan harus cuci darah setiap bulan sementara biaya tdk mencukupi..”
Jzklh khair Wa’Alaikumussalam warahmatullah …, Bismillah wal Hamdulillah
I -24

Jawaban
———–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،
Mendonorkan salah satu organ tubuh, bukan menjualnya, dalam rangka menyelematkan kehidupan orang lain adalah salah satu amal shalih luar biasa. Dengan syarat, hal itu juga tidak mencelekakan dirinya, setelah izin dan analisa pihak dokter yang terpercaya.

Hal ini berdasarkan ayat:

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
(QS. Al Maidah: 32).

Nabi ﷺ bersabda:

من فرج عن مسلم كربة من كرب الدنيا فرج الله عنه كربة من كرب الآخرة

“Barang siapa yang menolong seorang muslim pada sebuah kesulitannya, dari kesulitan2 dunia, maka Allah akan menolongnya dalam menghadapi kesulitan pada kesulitan2 akhirat.”
(HR. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra No. 7246. Al Baihaqi, Sya’bul Iman No. 7209)

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (28)​

📕 ​Bab Sabar – Surprise​

​Hadits:​

وعن أبي يحيى صهيب بن سنانٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ:

قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – :

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن :

إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

رواه مسلم .

​Artinya:​

​Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:​

​”Amat mengagumkan sekali keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada bagi orang lain melainkan hanya untuk orang mu’min saja,​

​Yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, maka ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya.​

​Sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran – atau musibah – ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya.”​

(Riwayat Muslim)

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

DOWNLOAD

Memakan Daging Unta

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apakah benar dalam islam setelah memakan daging unta harus ambil wudhu kembali jika hendak melakukan shalat? Mohon dijelaskan!

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ada artikel yang pas u menjawab pertanyaan diatas.
Dakwatuna.com – Oleh-oleh khas haji yang biasa dibawa jamaah adalah air zamzam, kacang Arab, dan tasbih. Selain itu, ada juga yang pesan daging atau hati unta. Berbicara soal daging unta ini menarik. Di Indonesia, hampir mustahil kita makan daging unta. Tentu karena kita tidak punya pusat penggemukan unta. Secara umum, konsumsi bangsa Indonesia atas daging memang rendah. Apalagi harga daging naik terus.

Balik ke masalah konsumsi daging unta. Tahukah Anda bahwa makan daging unta membatalkan wudhu?

عن جابر بن سمرة – رضي الله عنه- ( “أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم أأتوضأ من لحوم الغنم؟ قال إن شئت فتوضأ وإن شئت فلا توضأ قال أتوضأ من لحوم الإبل؟ قال نعم فتوضأ من لحوم الإبل”

Dari Jabir bin Samrah (semoga Allah meridhainya) bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kami harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika kau mau, silakan berwudhu. Dan jika kau mau, tidak usah berwudhu”. Lalu orang itu bertanya lagi, “Apakah kami (harus) berwudhu setelah makan daging unta?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, berwudhulah setelah (makan) daging unta”.

Berdasarkan teks hadits ini, penganut Madzhab Maliki dan Hambali mengatakan bahwa mengkonsumsi daging unta otomatis membatalkan wudhu. Mereka mengambil pada teks hadits Nabi yang berbunyi demikian.

Apa alasannya sampai daging unta membatalkan wudhu. Imam Ibnu Taimiyah (madzhab Hambali) menjelaskan:

Pertama: kita wajib mengikuti apapun yang disampaikan Allah dan rasul-Nya tanpa banyak tanya, sesuai dengan firman Allah SWT:

وقال تعالى: (وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبِيناً) [الأحزاب:36] “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah berbuat sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Kedua: kalaupun dicari hikmahnya, hal itu sebatas untuk menambah keimanan kita dengan perintah Allah dan rasul-Nya. Kemungkinan hikmahnya adalah karena mengkonsumsi daging unta menyebabkan adrenalin terpacu, badan menjadi panas, darah mengalir lebih cepat, dan karenanya orang menjadi cepat marah. Rasulullah SAW mengatakan, انها جن خلقت من جن (sebab unta sejenis jin, ia tercipta dari jin). Karena itulah, dalam riwayat Abu Daud dikatakan:
الغضب من الشيطان وإن الشيطان من النار وإنما تطفأ النار بالماء فإذا غضب أحدكم فليتوضأ
Marah dari syaitan, dan syaitan dari api. Dan sesungguhnya api dapat dipadamkan dengan air. Maka, jika ada di antara kalian yang marah, hendaklah dia berwudhu.

Sementara itu, menurut madzhab Hanafi dan Syafii (qawul jadid), makan daging unta tidak serta merta membatalkan wudhu.

Alasannya:
Pertama: menurut pendapat ini, hadits yang diriwayatkan dari Jabir Samrah sebagaimana dikutip di atas telah di-mansukh (delete) hukumnya dengan hadits lain. Antara lain, Rasulallah SAW diriwayatkan berkata,
الوضوء مما يخرج وليس مما يدخل
Menjadi (wajib) wudhu karena ada yang keluar, bukan karena ada (makanan) yang masuk

Kedua: ada hadits lain yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah yang menceritakan makan daging bakar dan setelahnya langsung shalat. Lengkap teksnya berbunyi:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما: أنه سأله رجل عن الوضوء مما مست النار؟ فقال: لا، قد كنا زمان النبي صلى الله عليه وسلم لا نجد مثل ذلك من الطعام إلا قليلاً فإذا نحن وجدناه لم يكن لنا مناديل إلا أكفنا وسواعدنا وأقدامنا ثم نصلي ولا نتوضأ

“Dari Jabir bin Abdullah (semoga Allah meridhai keduanya) bahwasanya dia bertanya kepada seseorang tentang apakah wajib wudhu bila (mengkonsumsi) daging yang dipanggang? Orang itu berkata, “tidak. Sungguh kami dulu di zaman Nabi kami jarang mendapatkan makanan seperti itu (dipanggang) kecuali hanya sesekali saja. Maka, apabila kami mendapatkannya, kami tak punya kain tissu kecuali hanya telapak tangan, atau telapak kaki. Lalu kami shalat dan tidak berwudhu lagi.”

Ketiga: “pesan” dari hadits Jabir bin Samrah yang menjadi dalil madzhab Hanbali dan Maliki harus dilihat esensinya. Yaitu, bahwa seseorang yang mengkonsumsi daging unta harus segera cuci tangan dan berkumur. Sebab, dalam kesempatan lain, Rasulallah SAW berpesan, jangan tidur kalian sementara di tangan dan mulut kalian masih ada sisa makanan, khawatir didekati binatang melata seperti kalajengking dan sejenisnya.

Dari penjelasan di atas, saya pribadi berkesimpulan, bahwa makan daging unta membatalkan wudhu jika makannya banyak seperti saudara-saudara kita di Arab Saudi yang memang bermadzhab Hambali. Tetapi, kalau cuma dibagi sepotong dari jamaah haji yang pulang besok, saya tetap menggunakan mazhab Syafii. (inayatullah/dakwatuna)

Wallahu a’lam.

Kemana Kita Pergi, Darimana Kita Mulai​

Pendidikan Barat telah menjauhkan Agus Salim dari Islam, “saya mulai merasa kehilangan iman,” tuturnya.

Melalui rekomendasi guru kesayangannya, Snouck Hurgronje; Agus Salim mendapatkan tawaran dari pemerintah Hindia Belanda. Tawaran yang menggiurkan, yaitu menjadi ambtenaar atau pegawai negeri di Konsulat Belanda di Jeddah. Tahun menunjukkan 1906, Jeddah masih dibawah kekhilafahan Turki Utsmani. Majalah Tempo menyebutnya Saudi Arabia; padahal masih lama negara itu muncul.

Di tempat inilah Agus Salim justru bertemu pamannya, ulama terkenal yang bernama Syekh Ahmad Khatib. Di Mekkah, ia berkenalan dengan pemikiran Islam “modern” yang justru mengembalikannya kepada Islam dari sikap agnostik sebelumnya. Agnostik adalah sikap yang meyakini bahwa keberadaan Tuhan atau pencipta alam semesta tidak bisa dipastikan atau diketahui.

Agus Salim dikenal sebagai pemikir yang cenderung lebih bebas daripada Ahmad Dahlan maupun Hasyim Asy’ari.

Agung Waspodo, masih kurang membaca
Depok, 24 Agustus 2017