Bekerjasama Sementara dengan Satu Sekuler untuk Mengalahkan Sekuler Zalim Lainnya​

Partai Demokrat (DP) Turki adalah berhaluan kanan moderat yang didirikan oleh Celal Bayar pada 7 Januari 1946. DP menjadi partai oposisi legal ketiga dalam sejarah kepartaian Republik Turki. Sebelum DP pernah ada Partai Liberal Republikan (Serbest Cumhuriyet Fırkası) serta Partai Perkembangan Nasional (Milli Kalkınma Partisi).

Namun, DP merupakan yang pertama mampu menumbangkan cengkraman Partai Masyarakat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi/CHP) pada pemilu 1950. Disamping mengalahkan telak partai CHP warisan Mustafa Kemal, DP juga mengakhiri dominasi sistem satu-partai.

Dalam kajian tadi ba’da Zuhur, yang paling penting dari fenomena naiknya DP adalah naiknya juga kekuatan kaum Muslimin di Turki melalui jalur politik. Kesadaran berpolitik sebagian besar kaum Muslim pada waktu itu tidak lepas dari aktivitas kaum sufi Nakşibendi dan pergerakan Nurcu.

Selesai menyampaikan Kajian Tematik (ke-11)
Kebangkitan Politik Islamis di Republik Turki era 1946-1950

Masjid al-Ihsan, Bank Syariah Mandiri
Kantor Pusat, Senin 28 Agustus 2017

Ingin Menikah Tapi Calon Belum Siap

Assalamualaikum.. Afwan, ada sebuah pertanyaan dari teman saya dan saya ingin menanyakan pada yg lebih mampu menjawab.

Bagaimana solusi jika ada seorang gadis yg ingin menikah, sedangkan calon laki2nya msh belum mampu dan belum mendapat pekerjaan, disisi lain gadis ini masih kuliah.
Bagaimana solusi terbaik nya?
Mohon jawabannya ukhty..ana tunggu. Syukron. 😊🙏

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bila ada seorang gadis yg ingin menikah sedangkan calon laki2nya masih bekum mampu dan belum mendapat pekerjaan.disis lain gaids ini masih kuliah. Yah ini hal yang biasa dan banyak dialami dalam kehidupan. Semua permasalahan ada jalan keluarnya
1.🌿Tergantung calon suaminya.mau gak menikah dalam kondisi demikian
2.🌿Tergantung wali dari pihak perempuan. Setuju dan mengizinkan gak? Bisa gak menerima calon laki spt tersebut diatas
3.🌿Semua masalah bisa selesai atau tdk tgt yg punya masalah.

Kalau dari kaca mata syariat . Tuntunannya jelas Allah berfirman

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

(Artinya)
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

-Surat Al-Isra’, Ayat 32

Apa solusi dari Islam? ​Menikah​

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32]

HADIST NIKAH

🍂Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendaknya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu.c(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

🍂Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ . (HR. Hakim dan Abu Dawud)

🍂Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim):a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim

Itulah diantara Dalil dan solusi yang ditawarkan
Semua berpulang kepada anda sejauh mana kesiapan, keyakinan dan kemauan untuk mengamalkan syariat. Berhitunglah dengan cermat dan tidak nekad.

Wallahu a’lam.

Suara Hati Untuk Para Pejabat Dan Wakil Rakyat…​

Kini sudah kau duduki kursi jabatan itu.
Dia adalah ​amanah dan beban​, bukan ukuran kemuliaan.

Motivasi apa yang mendorongmu menduduki jabatan, akan sangat berpengaruh pada sepak terjangmu kedepan.
Rapikan niat dan tujuan.

Di penghujung malam, bangunlah, bermunajat kepada Tuhanmu, mohon kekuatan dan bimbingan, begitulah Rasulullah saw diajarkan saat menerima beban.

Di siang hari, bangunlah, berilah layanan terbaik kepada masyarakat yang dapat kau lakukan.

Hormati mereka dengan pelayananmu, jangan minta dihormati untuk beri pelayanan.

Sadarilah, kursi yang kau duduki itu, terletak di atas rintihan doa, pengorbanan waktu, tenaga dan harta para pendukugmu.
Jangan ada kesombongan..

Kuatkan jiwamu, kokohkan fisikmu.
Ini dunia orang-orang kuat, bukan dunia orang-orang lemah.
Dunia orang-orang tegar, bukan dunia orang-orang cengeng..

Di tengah masyarakat kau seharusnya orang paling pertama bangun dan paling terakhir tidur, paling awal bersedih dan paling akhir bergembira.

Matamu harus lebih tajam dari pandangan elang agar dapat melihat seluk beluk persoalan walau dari kejauhan..

Telingamu harus lebih peka dari radar dan lebih alot dari baja, agar dapat sensitive dan sabar mendengar aneka ragam keluhan dan rintihan.

Jawablah segala nasehat dan kritik dengan kinerja memuaskan, bukan melontarkan tuduhan dan menebar ancaman.

Kenalilah baik-baik, mana senyum tulus persaudaraan, dan mana senyum akal bulus penuh maksud dan pengelabuan.

Yang tampak akrab denganmu, jangan semua kau kira baik kepadamu, yang tampak keras kepadamu, jangan semua kau kira membencimu..

Jangan terpedaya oleh sanjungan yang menjatuhkan, jangan lemah oleh kritik obyektif yang memberi solusi dan kemajuan…

Akhirnya, ingatlah sabda Nabi,
​”Siapa saja yang telah Allah beri jabatan publik, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, surga haram baginya..”​

(HR. Muslim)

Cara Mengetahui Hadist Dhoif/Palsu

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
saya mau tanya ustadzah,mengenai hal ini bagaimana kah agar orang² awam seperti saya yg tdk semua hadits tahu,tapi saya juga ingin menyampaikan sedikit ilmu dan kebaikan pula yg saya dapat kepada sesama muslim. bagaimana caranya mngetahui bahwa hadits itu dhoif atau palsu?

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Untuk mengetahuinya apakah hadits itu dhoif atau palsu tentunya dari belajar. Membaca banyak buku hadits dan keterangan keterangan lain. Saya senang mendengar penanya ingin menyampaikan kebaikan dan ilmu yang sudah di dapat sehingga yang harus dipastikan adalah:
1.Meluruskan niat
2.Tidak menyampaikan nilai kecuali kita tahu kebenarannya
3.Selalu cek dan ricek
4.Berdasarkan dalil atau hujah yang benar .Allah berfirman dalam Qs.12 : 108

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

5.Tujuannya mencari ridho Allah

Untuk bisa kita melakukan itu semua didalam Qs. 3:79 Allah berfirman :

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Pelajaran dari ayat tersebut diatas adalah :
1.Harus meluruskan niat bahwa saat dakwah bukan mencari popularitas atau mengajak orang untuk membesarkan namanya tapi bagaimana kita harus mengajak orang supaya orang orang yang kita ajak hanya berorientasi kepada Allah(lillah.billah,fillah)

2.Mengajak dengan cara yang baik , penuh hikmah

3 Untuk itu ada metode pembelajaran yang ideal dan effektiv yaitu saat kita belajar bagaimana nilai2 yang kita dapat sebagai input kita proses dan kita kayakan dengan membaca dari sumber2 lain. Setelah itu baru kita keluarkan sebagai out put sehingga apa yg kita dapat dan kita pelajari akan jadi berkah. Manfaat dan selalu segar dalam ingatan kita karena kita menyampaikannya kembali . Nah itulah yang dimaksud dengan hendaklah kamu menjadi orang orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Wallahu a’lam.

Pedulilah Walau Hanya Sekali​

📌 Palestina menjerit, kau diam saja …

📌 Uighur menderita, kau diam saja …

📌 Siria bersimbah darah, kau buang wajah …

📌 Rohingnya digenosida, kau biasa saja …

📌 Lalu apa hujjahmu di sisi Allah jika mata, mulut, hati, tangan, diminta tanggungjawabnya untuk peduli terhadap saudaramu sesama muslim?

📌 maka pedulilah walau hanya sekali …!

Wudhu Air Hangat​

Assalamu’alaikum Ustadzah,izin bertanya,bagaimana hukumnya jika dalam kondisi sakit kita berwudu memakai air hangat? Terima kasih atas jawabannya.

🌺Jawaban :
—————-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Mayoritas ulama’, termasuk madzhab syafi’i berpendapat bahwa bersuci dengan menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari, seperti dengan api itu diperbolehkan dan tidak makruh, pendapat berbeda diriwayatkan dari Imam Mujahid yang menyatakan hukum penggunaannya adalah makruh.

Diantara dalil yang menguatkan diperbolehkannya menggunakan air yang dipanaskan dengan selain menggunakan sinar matahari adalah beberapa riwayat yang menjelaskan penggunaan air yang direbus oleh para sahabat dan tabi’in. Antara lain :

1. Aslam, budak sayyidina Umar, meriwayatkan ;

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ مَاءٌ فِي قُمْقُمَةٍ وَيَغْتَسِلُ بِهِ

“Sesungguhnya Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu direbuskan air didalam qumqumah (wadah untuk merebus air), lalu beliau mandi dengan menggunakan air tersebut.” (Sunan Kubro lil-Baihaqi, no.11 dan Sunan Daruquthni, no.85)

2. Diriwayatkan dari Ayyub, ia berkata

سَأَلْتُ نَافِعًا، عَنِ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ، فَقَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيمِ

“Aku bertanya pada Nafi’ mengenai (penggunaan) air yang dipanaskan, beliau menjawab : “Ibnu Umar berwudhu dengan menggunakan air panas.”(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.256)

3. Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia berkata ;

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّا نَدَّهِنُ بِالدُّهْنِ وَقَدْ طُبِخَ عَلَى النَّارِ، وَنَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيمِ وَقَدْ أُغْلِيَ عَلَى النَّارِ

“Ibnu Abbas berkata : “Kami (para sahabat) menggunakan minyak wangi yang dimasak diatas api, dan kami juga wudhu dengan air panas yang direbus diatas api” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.258)

4. Diriwayatkan dari Qurroh, ia berkata ;

سَأَلْتُ الْحَسَنَ عَنِ الْوُضُوءِ بِالْمَاءِ السَّاخِنِ، فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِه

“Aku bertanya pada Al-Hasan, mengenai wudhu dengan air yang direbus, beliau menjawab : “Tidak apa apa”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.259)

( Dijawab oleh : dan )
Referensi :
1. Al Majmu’, Juz : 1 Hal : 91
2. Al Hawi Al Kabir, Juz : 1 Hal : 41
3. Al Bayan, Juz : 1 Hal : 14
4. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 71
5. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 39 Hal : 364
6. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 1 Hal : 31
Sumber:
fikihkontemporer.com

Wallahu a’lam.

Peran Janissary yang Selama Ini Dikecilkan dalam Pertempuran Mohacs 1526​

Hari ini 491 Tahun yang Lalu

​Data Sejarah & Analisis Baru​

Kekuatan senjata bermesiu milik kesatuan Janissary pada awal abad ke-16 memiliki daya hancur yang mematikan lawan. Kesatuan elit milik sultan kekhilafahan Turki Utsmani ini dapat menembakkan senjata mereka dalam posisi berdiri maupun berlutut tanpa bantuan penyangga.

Dalam pertempuran Mohacs tahun 1526 M, pasukan Janissary menembak dalam formasi sembilan baris, menurut sejarawan Celalzade Mustafa (w. 1567 M). Mereka menembak lawannya dari barisan yang disiplin, baris demi baris. Sebegitu efektif dan mematikan taktik dan persenjataan mereka sehingga mulai banyak sejarawan yang berubah pandangan. Sekarang mereka menilai bahwa yang melumatkan puluhan ribu pasukan kavaleri Hungaria dalam 2 jam itu bukan meriam, namun senjata perorangan bermesiu milik kesatuan Janissary. Untuk data terbaru silakan dibaca buku Mohacs Emlekezete karya Karoly Kis (Budapest: 1987) yang memuat catatan Istvan Brodarics (w. 1537), salah seorang saksi mata peristiwa.

Meriam produksi kekhilafahan Turki Utsmani yang banyak digelar pada pertempuran Mohacs 1526 adalah dari kelas Darbzen. Jenis tersebut merupakan yang mudah diangkut serta diproduksi massal antara tahun 1522 s/d 1525.

Setelah perang di Mohacs, kota ini menjadi salah satu galangan kapal milik kekhilafahan Turki Utsmani di sepanjang Sungai Danube.

Dirangkum dari:

​Agoston, G. Guns for the Sultan – Military Power and the Weapons Industry in the Ottoman Empire, Cambridge, Cambridge University Press: 2005.​

Agung Waspodo, bersyukur kepadaNya untuk malam yang produktif
Depok, 28 Agustus 2017

Od Jadrana do Irana, Neje Biti Muslimana​

​Memperingati 491 tahun Pertempuran Mohacs – 29 Agustus 2017-1526 M​

Mahkota St. Stephen adalah simbol kedigdayaan kerajaan di Eropa pada awal abad ke-16 dan itu ada di kepala Raja Lajos (Louis II, 1515-26) dari Hungaria. Raja Francis I Valois (1515-47) dari Perancis menginginkan mahkota tersebut untuk dirinya sehingga pecah perang. Dengan bantuan Spanyol, Lajos II berhasil memukul mundur Francis I yang terpaksa bertahan di bentengnya.

Dari dalam benteng ia menulis surat permohonan bantuan kepada Sultan Süleyman Kanuni (1520-66) dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Untuk mengalihkan sebagian kekuatan Spanyol-Hungaria maka dikirimlah Vezir-i A’zam (Grand Vizier) Pargalı İbrahim Paşa (1523-36) dengan pasukan elit pionir.

Pada masa itu terdapat dendang Serbia yang populer berirama “od Jadrana do Irana, neje biti Muslimana” yang artinya “dari Adriatik hingga ke Iran, tidak ada Muslim yang bertahan”. Hingga pembantaian Muslimin di Bosnia pada abad ke-20 pun dendang tersebut masih populer. Kekhawatiran akan bersatunya raja-raja Eropa menumpas Ummat Islam mendorong sultan bergerak secara personal memimpin balatentara ke perbatasan.

Süleyman berangkat setelah mengunjungi pusara Eyüp Sultan, Şeyh Ebu Vefa, Sultan Fatih, Sultan Bayezid, dan Sultan Selim Yavuz dan berdoa memohon keberkahan dari Allah Azza wa Jalla. Menurut sejarawan Solakzade Mehmed Hemdemi dalam kitab Tarihi (1298 H) sultan berangkat membawa Sanjak-i Sherif atau Bendera Perang Kekhilafahan.

Balatentara Hungaria yang diperkuat kontingen berbagai kerajaan, antara lain: wilayah Jerman, Polandia, Czech, kota-kota di semenanjung Italia, dan Spanyol menanti di Palagan Mohacs. Pasukan berkuda gabungan ini berjumlah 60 ribu dan terpusat di lini tengah. Menurut sejarawan Lütfi Paşa dalam kitab Tevarih-i Ali Osman (1341 H) terdapat juga kontingen Russia.

Atas saran Bali Beg seorang akınjı pejabat Sanjakbegi dari Semendire, sultan menyeberangi sungai Sava dan Drava serta meletakkan 300 meriam di lini tengah. Padahal biasanya meriam dalam pernah terbuka diletakkan di sayap kiri dan kanan. Dalam pertempuran singkat 2 jam, kepongahan raja-raja Eropa dibabat habis tak tersisia. Dalam tumpukan korban pasukan berkuda terdapat Raja Lajos sendiri.

Kota Buda, ibukota Hungaria, menyerah tanpa syarat kepada Süleyman Kanuni menurut sejarawan modern İsmail Hakkı Uzunçarsılı dalam kitab Osmanlı Tarihi (1982-88 M). Süleyman mengangkat Janos Zapoyla sebagai Raja Hungaria bagian timur yang loyal kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Sekembalinya dari pertempuran ini, Süleyman menegur dutabesar Hungaria di İstanbul dengan bait: “bangsa Eropa Kristen telah mengumpulkan awan yang mengancam para pendahuluku, tetapi awan tersebut tak pernah turun menjadi hujan, andai mereka tidak memulai, maka aku tidak perlu menumpahkan darah mereka!”

Dirangkum dari:

​Maksudoğlu M. Osmanlı History 1289-1922 Based on Osmanlı Sources, Kuala Lumpur: IIUM, 1999. pp. 117-119.​

Agung Waspodo, merasa kecil dibawah awan
Depok, 28 Agustus 2017

HIJAB

Assalamu’alaikum ustadz/ah..apa hukum nya jika menjual pakaian yang tidak mnutup aurat (seksi)?
Padahal kan kita d wajibkan untuk menutup aurat..
Trus bagaimana mnyikapi orang yang berjualan pakaian trsebut? Apakah di tegur atau dibiarkan saja. Padahal umur orang tersebut jauh lebih tua dr kita?🅰3⃣8⃣

Jawaban
———–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،

​Keutamaan Hijab​

​• Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul.​

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
(QS. An-Nur: 31)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.”
(QS. Al-Ahzab: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Wanita itu aurat”

maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

​• Hijab itu ‘iffah (kemuliaan)​
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
(QS. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

​• Hijab itu kesucian​
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.”
(QS. Al-Ahzab: 32)

​• Hijab itu pelindung​

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:

(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”

Sabda beliau yang lain:

(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

​• Hijab itu taqwa​
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.”
(QS. Al-A’raaf: 26)

​• Hijab itu iman​

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman:

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata:

“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

​• Hijab itu haya’ (rasa malu)​

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain:

“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain:

((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

• ​Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)​

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya.

Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

​​Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:​​
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

​Jangan berhias terlalu berlebihan​

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

​Kami dengar dan kami taat​

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47)

وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ(48)

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”
(QS. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51)

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”
(QS. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

kalo kepada orang yang lebih tua menegur bukan secara langsung tp dengan contoh atau butuh bantuan orang lain yg seusianya.

(Dinukil dari kitab : الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع P.O. Box 6373 Riyadh 11442)

Wallahu a’lam.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 3- selesai) (Repost)​

Ringkasan​

Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban. Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah
Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para ulama.

– Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)

– Berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

​4. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban.​

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرعت صلاة العيدين في السنة الاولى من الهجرة، وهي سنة مؤكدة واظب النبي صلى الله عليه وسلم عليها وأمر الرجال والنساء أن يخرجوا لها.

Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)

Ada pun kalangan Hanafiyah berpendapat wajib, tetapi wajib dalam pengertian madzhab Hanafi adalah kedudukan di antara sunah dan fardhu.

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

صَلاَةُ الْعِيدَيْنِ وَاجِبَةٌ عَلَى الْقَوْل الصَّحِيحِ الْمُفْتَى بِهِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ – وَالْمُرَادُ مِنَ الْوَاجِبِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : أَنَّهُ مَنْزِلَةٌ بَيْنَ الْفَرْضِ وَالسُّنَّةِ – وَدَلِيل ذَلِكَ : مُوَاظَبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا مِنْ دُونِ تَرْكِهَا وَلَوْ مَرَّةً

Shalat ‘Idain adalah wajib menurut pendapat yang shahih yang difatwakan oleh kalangan Hanafiyah –maksud wajib menurut madzhab Hanafi adalah kedudukan yang setara antara fardhu dan sunah. Dalilnya adalah begitu bersemangatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, Beliau tidak pernah meninggalkannya sekali pun. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240)

Sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah menyatakan sebagai sunah muakadah, dalilnya adalah karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang shalat fardhu, Nabi menyebutkan shalat yang lima. Lalu Arab Badui itu bertanya:

هَل عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ ؟ قَال لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ

Apakah ada yang selain itu? Nabi menjawab: “Tidak ada, kecuali yang sunah.” (HR. Bukhari No. 46)

Bukti lain bahwa shalat ‘Idain itu sunah adalah shalat tersebut tidak menggunakan adzan dan iqamah sebagaimana shalat wajib lainnya. Shalat tersebut sama halnya dengan shalat sunah lainnya tanpa adzan dan iqamah, seperti dhuha, tahajud, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat ‘Idain adalah sunah.

Sedangkan Hanabilah mengatakan fardhu kifayah, alasannya adalah karena firman Allah Ta’ala menyebutkan shalat tersebut dengan kalimat perintah: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”(QS. Al Kautsar: 2). Juga karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu merutinkannya. (Ibid, 27/240)

Insya Allah, secara khusus pada kesempatan lain akan kami bahas pula adab-adab pada hari raya.

Selanjutnya berqurban,
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para ulama.

Ulama yang mewajibkan berdalil dengan hadits berikut, dari Abu Hurairah Radhiallhu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No. 3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 7334)

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya No. 7565, katanya:“Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.

Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya seperti At Ta’liq Ar Raghib, 2/103, dan Takhrij Musykilat Al Faqr,No. 102.

Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: “wa huwa wahm minhuma – ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.” Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: “fa akhtha’a – keliru/salah.” (Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 8273)

Mengomentari hadits ini, berkata Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah:

وَقَدْ اسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى وُجُوبِ التَّضْحِيَةِ عَلَى مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ لِأَنَّهُ لَمَّا نَهَى عَنْ قُرْبَانِ الْمُصَلَّى دَلَّ عَلَى أَنَّهُ تَرَكَ وَاجِبًا كَأَنَّهُ يَقُولُ لَا فَائِدَةَ فِي الصَّلَاةِ مَعَ تَرْكِ هَذَا الْوَاجِبِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى { فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ } وَلِحَدِيثِ مِخْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ مَرْفُوعًا { عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ } دَلَّ لَفْظُهُ عَلَى الْوُجُوبِ ، وَالْوُجُوبُ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ

“Hadits ini dijadikan dalil wajibnya berkurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini jelas ketika Rasulullah melarang mendekati tempat shalat, larangan itu menunjukkan bahwa hal itu merupakan meninggalkan kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firmanNya: “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah) berbunyi: “ (wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berkurban.” Lafaz hadits ini menunjukkan wajibnya. Pendapat yang menyatakan wajib adalah dari Imam Abu Hanifah.[6]

Sementara yang tidak mewajibkan, menyatakan bahwa dua hadits di atas tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), sebab yang pertama mauquf (hanya sampai sahabat nabi, bukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), hadits kedua dha’if. Sedangkan ayat Fashalli li Rabbika wanhar, tidak bermakna wajib kurban melainkan menunjukkan urutan aktifitas, yakni menyembelih kurban dilakukan setelah shalat Id.

Berikut keterangan dari Imam Ash Shan’ani:

وَقِيلَ لَا تَجِبُ وَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ مَوْقُوفٌ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ وَالثَّانِي ضَعْفٌ بِأَبِي رَمْلَةَ قَالَ الْخَطَّابِيُّ : إنَّهُ مَجْهُولٌ وَالْآيَةُ مُحْتَمِلَةٌ فَقَدْ فُسِّرَ قَوْلُهُ ( { وَانْحَرْ } ) بِوَضْعِ الْكَفِّ عَلَى النَّحْرِ فِي الصَّلَاةِ أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ شَاهِينَ فِي سُنَنِهِ وَابْنُ مَرْدُوَيْهِ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِيهِ رِوَايَاتٌ عَنْ الصَّحَابَةِ مِثْلُ ذَلِكَ وَلَوْ سُلِّمَ فَهِيَ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّ النَّحْرَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ تَعْيِينٌ لِوَقْتِهِ لَا لِوُجُوبِهِ كَأَنَّهُ يَقُولُ إذَا نَحَرْت فَبَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ فَإِنَّهُ قَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ أَنَسٍ { كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْحَرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَأُمِرَ أَنْ يُصَلِّيَ ثُمَّ يَنْحَرُ } وَلِضَعْفِ أَدِلَّةِ الْوُجُوبِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالْفُقَهَاءِ إلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بَلْ قَالَ ابْنُ حَزْمٍ لَا يَصِحُّ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهَا وَاجِبَةٌ .

“Dikatakan: Tidak wajib, karena hadits pertama adalah mauquf dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Hadits kedua (dari Mikhnaf bin Sulaim) dhaif karena dalam sanadnya ada Abu Ramlah. Berkata Imam Al Khathabi: “Dia itu majhul (tidak dikenal).” Sedangkan firmanNya: “…berkurbanlah.”adalah tentang penentuan waktu penyembelihan setelah shalat. Telah diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibnu Syahin di dalam sunan-nya, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas dan didalamnya terdapat beberapa riwayat dari sahabat yang seperti ini, yang menunjukkan bahwa menyembelih kurban itu dilakukan setelah shalat (‘Ied). Maka ayat itu secara khusus menjelaskan tentang waktu penyembelihnnya, bukan menunjukkan kewajibannya. Seolah berfirman: Jika engkau menyembelih maka (lakukan) setelah shalat ‘Ied. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Anas: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyembelih sebelum shalat Id, lalu Beliau diperintahkan untuk shalat dulu baru kemudian menyembelih.” Maka nyatalah kelemahan alasan mereka yang mewajibkannya. Sedangkan, madzhabjumhur (mayoritas) dari sahabat, tabi’in, dan ahli fiqih, bahwa menyembelih qurban adalah sunah mu’akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.”[7]

Seandainya hadits-hadits di atas shahih, itu pun tidak menunjukkan kewajibannya. Sebab dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berkurban maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.” (HR. Muslim No. 1977)[8]

Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkurban itu terkait dengan kehendak, manusianya oleh karena itu Imam Asy Syafi’i menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berkurban alias sunah.

Berikut ini keterangannya:

قال الشافعي إن قوله فأراد أحدكم يدل على عدم الوجوب

Berkata Asy Syafi’i: “Sesungguhnya sabdanya “lalu kalian berkehendak”menunjukkan ketidak wajibannya.[9]

​5. Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)​

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.” )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)

Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari ‘Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.

Imam At Tirmidzi berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ الصِّيَامَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ إِلَّا أَنَّ قَوْمًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ رَخَّصُوا لِلْمُتَمَتِّعِ إِذَا لَمْ يَجِدْ هَدْيًا وَلَمْ يَصُمْ فِي الْعَشْرِ أَنْ يَصُومَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَبِهِ يَقُولُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ

Para ulama mengamalkan hadits ini, bahwa mereka memakruhkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali sekelompok kaum dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan selain mereka, yang memberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattu’ jika belum mendapatkan hewan untuk berqurban dan dia belum berpuasa pada hari yang sepuluh (pada bulan Dzulhijjah, pen). Inilah pendapat Malik bin Anas, Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, lihat komentar hadits No. 773)

Pada saat itu dibolehkan mengadakan acara (haflah) makan  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci.

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:

وأن الأكل والشرب في المحافل مباح ولا كراهة فيه

Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

​6. Berdzikir Kepada Allah Ta’ala pada hari-hari Tasyriq​

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: “dan hari berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim No. 1141)

Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Ta’ala. 
Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.

Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:

يَنْبَغِي لِأَهْلِ مِنًى وَغَيْرِهِمْ أَنْ يُكَبِّرُوا أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ إِذَا اِرْتَفَعَ ثُمَّ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ بِالْعَشِيِّ وَكَذَلِكَ فَعَلَ وَأَمَّا أَهْلُ الْآفَاقِ وَغَيْرُهُمْ فَفِي خُرُوجِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى وَفِي دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَيُكَبِّرُونَ فِي خِلَالِ ذَلِكَ وَلَا يَجْهَرُونَ

Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan. 
Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, 2/463)

Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12,13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat.

Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian ‘takbiran’-nya hari raya.

Ada pun sekedar mengucapkan takbir  (Allahu Akbar) tentunya boleh  kapan pun juga. 

Demikian. 
Semoga bermanfaat …….

Wallahu A’lam