Batasan Aurat Bagi Muslimah


Assalamualaikum ustadz/ah..Mau tanya, sebelumnya ada materi tentang wajibnya akhwat untuk menutup kaki?# A42

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Kalau kita bicara aurat wanita , apa sih batasannya?
Sebelum membahas mengenai kaki bagian bawah, perlu dipahami apa batasan aurat bagi wanita. Allah ta’ala berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”)

Selain dalil-dalil mengenai batasan aurat secara umum, terdapat juga beberapa dalil yang jelas menunjukkan bahwa al qadam atau bagian bawah kaki wajib ditutup. Diantaranya yaitu hadits Ummu Salamah radhiallahu’anha,

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم لما قال في جرِّ الذيلِ ما قال قالت قلتُ يا رسولَ اللهِ فكيف بنا فقال جُرِّيهِ شبرًا ، فقالت (أم سلمة) إذًا تنكشفُ القدمانِ ، قال فجُرِّيهِ ذراعًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku berkata kepada beliau, ‘wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?’. Nabi menjawab: ‘julurkanlah sejengkal‘. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu julurkanlah sehasta‘. (HR. Ahmad 6/295, Abu Ya’la dalam As Sanad 1/325, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/828)

Syaikh Al Albani menyatakan: “hadits ini dalil bahwa kedua qadam wanita adalah aurat. Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan: ‘julurkanlah sejengkal‘, Ummu Salamah berkata: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?‘, menunjukkan kesan bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh dibuka. Dan hal itu disetujui oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Oleh karena itu beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta. Dan dalam Al Qur’an Al Karim juga ada isyarat terhadap makna ini, yaitu dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)”

Kesimpulannya: kaki adalah aurat yang harus ditutup berdasarkan dalil dalil diatas.

Wallahu a’lam.

Mesir Paceklik Pangan, Namun Hijaz dan Jama'ah Hajji tetap Terkelola Baik​


” ​Sekelumit teka-teki sejarah pada era transisi Mesir dari era Mamluk ke Turki Utsmani​”

Buku Tentang Hajji pada Masa Kekhilafahan Turki Utsmani pada dua ratus tahun pertama setelah Mesir beralih era, tujuh catatan penting menurut saya:

1⃣. Topik buku ini menarik karena fokus pada sisi politik serta sosial dari pelaksanaan Hajji yang sangat ritual; padahal jama’ah hajji pada abad ke-16 Masehi tidak membedakannya,

2⃣. Aktivitas hajji juga memindahkan uang dalam bentuk emas dan perak serta gandum dari Turki dan Mesir kepada bangsa Arab yang mendiami gurun pasir Suriah dan Jazirah Arab. Walau terjadi beberapa pemberontakan dan pencegatan atas kafilah hajji, aktivitas tersebut tidak pernah menurun,

3⃣. Perdagangan Turki Utsmani di wilayah Anatolia lebih banyak menggunakan mata uang perak daripada emas sehingga memungkinkan jama’ah hajji membawa uang emas tersebut dalam perjalanan mereka,

4⃣. Ketika persediaan uang emas tidak cukup, maka baru jama’ah hajji menggunakan uang perak; hal ini tidak terlalu disukai oleh penduduk Hijaz karena mereka memiliki kepentingan untuk menggunakan uang emas sebagai medium transaksi dengan pedagang India,

5⃣. Sebelum kedua tanah suci menjadi wilayah perlindungan kekhilafahan Turki Utsmani, persediaan gandum untuk Hijaz kadang dipasok dari Yaman. Setelah memasuki era Turki Utsmani, suplai gandum untuk Hijaz murni dari Mesir,

6⃣. Lanjutan nomor 5, ketika situasi perekonomian Mesir melemah dan gagal panen melanda seharusnya suplai gandum ke Hijaz juga turut terganggu; namun catatan sejarah tidak menemukan kelangkaan tersebut karena kokohnya fondasi pelayanan publik Turki di Anatolia oleh para sultan Turki Utsmani,

7⃣. Berkaitan dengan nomor 6, setelah Mesir beralih dari masa Mamluk ke Turki Utsmani telah terjadi revitalisasi wilayah pedesaan di Mesir namun tidak otomatis meningkatkan suplai gandum di Makkah menurut sejarawan Qutbuddin.

Agung Waspodo, menemukan sebagian jawaban dari teka-teki sejarah pada era transisi Mesir dari era Mamluk ke Turki Utsmani

Depok, 18 September 2017

Wanita Pergi Haji Tanpa Mahram??


Assalamualaikum…. afwan mau tanya ustadz/ah.. Bagaimana hukumnya prempuan yg pergi umroh/haji tanpa mahrom? Apakah mahrom yg ditunjuk oleh travel umroh sah sedangkan sebenarnya orang tsb bukan mahrom perempuan ybs. Mohon pencerahan.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ngaku mahram padahal bukan tentu itu berbohong. Tidak boleh.

Ada pun ttg wanita pergi haji yg wajib, seorg diri tanpa mahram, adalah khilafiyah ulama .. jelasnya ini 👇

Wanita Pergi Haji Tanpa Mahram: ​BOLEH menurut mayoritas ulama, dan Inilah yang benar menurut Imam An Nawawi​

Imam Asy Syafi’i ​Rahimahullah​:

ونقل قولاً عن الشافعي أنها تسافر وحدها إذا كان الطريق آمناً

Dikutip perkataan dari Imam Asy Syafi’i bahwa seorang wanita boleh safar seorang diri (untuk haji) jika kondisi jalan aman. ​( ​Subulus Salam​, 2/183)​

Imam An Nawawi ​Rahimahullah​:

وقال عطاء وسعيد بن جبير وبن سيرين ومالك والأوزاعي والشافعي في المشهور عنه لا يشترط المحرم بل يشترط الأمن على نفسها قال أصحابنا يحصل الأمن بزوج أو محرم أو نسوة ثقات ولا يلزمها الحج عندنا الا بأحد هذه الأشياء فلو وجدت امرأة واحدة ثقة لم يلزمها لكن يجوز لها الحج معها هذا هو الصحيح

Dan berkata ‘Atha, Said bin Jubeir, Ibnu Sirin, Malik, Al Auza’i, Asy Syafi’i, dan yang masyhur darinya bahwa adanya mahram bukan syarat, tetapi yang menjadi syarat adalah adanya rasa aman bagi dirinya. Para sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa rasa aman itu bisa diperoleh dengan suami atau mahram atau wanita-wanita terpercaya, bagi kami kaum wanita tidaklah wajib baginya kecuali satu di antara hal-hal ini, seandainya dia dapatkan satu orang wanita terpercaya maka boleh baginya haji bersamanya. DAN INILAH YANG BENAR. ​( ​Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,​ 9/104)​

Imam Ibnu Taimiyah ​Rahimahullah​:

.وقال ابن تميمة: إنه يصح الحج من المرأة بغير محرم ومن غير المستطيع

Imam Ibnu Taimiyah berkata: bahwa Sah hajinya seorang wanita yang pergi tanpa mahram dan hajinya orang yang tidak mampu. ​( ​Subulus Salam​, 2/184)​

Imam Ibnu Hazm ​Rahimahullah​:

وإنما اختلفوا فيما كان واجبا واستنبط منه بن حزم جواز سفر المرأة بغير زوج ولا محرم لكونه صلى الله عليه و سلم لم يأمر بردها ولا عاب سفرها

Para ulama berselisih pendapat tentang safarnya wanita dalam ibadah yang wajib. Imam Ibnu Hazm berpendapat bolehnya safar seorang wanita tanpa suaminya atau tanpa mahramnya sebab kenyataannya Nabi ﷺ tidak memerintahkan wanita itu untuk kembali dan tidak mencela safarnya. ​( ​Fathul Bari​, 4/78)​

Imam Ibnu Hajar ​Rahimahullah​:

واستدل بحديث عائشة هذا على جواز حج المرأة مع من تثق به ولو لم يكن زوجا ولا محرما

Hadits ‘Aisyah ini menjadi dalil bolehnya haji seorang wanita bersama orang-orang terpercaya walau pun tidak bersama suaminya dan tanpa mahramnya. ​( ​Fathul Bari​, 4/75)​

✅ Hadits Aisyah ​Radhiallahu ‘Anha​ yang mana yang dimaksud? Yaitu pertanyaan Aisyah ​Radhiallahu ‘Anha​:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَغْزُو وَنُجَاهِدُ مَعَكُمْ فَقَالَ لَكِنَّ أَحْسَنَ الْجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ الْحَجُّ حَجٌّ مَبْرُورٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَلَا أَدَعُ الْحَجَّ بَعْدَ إِذْ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Wahai Rasulullah, boleh kami berperang dan berjihad bersamamu?

Nabi bersabda: “Jihad terbaik dan terindah adalah haji yang mabrur.”

Lalu ‘Aisyah berkata: “Maka aku tidak pernah meninggalkan haji setelah aku mendengarkan perkataan ini dari Rasulullah ﷺ .” ​(HR. Al Bukhari No. 1728)​

Hadits ini juga di komentara Imam Ibnu Baththal Rahimahullah sebagai berikut:

هذه الحال ترفع تحريج الرسول ( صلى الله عليه وسلم ) عن النساء المسافرات بغير ذى محرم ، كذلك قال مالك والأوزاعى والشافعى : تخرج المرأة فى حجة الفريضة مع جماعة النساء فى رفقة مأمونة وإن لم يكن معها محرم ، وجمهور العلماء على جواز ذلك ، وكان ابن عمر يحج معه نسوة من جيرانه ، وهو قول عطاء وسعيد بن جبير وابن سيرين والحسن

Keadaan ini menghilangkan larangan Rasulullah ﷺ bagi wanita yang safar tanpa mahram, demikian juga perkataan Malik, Al Auza’i, Asy Syafi’i: “Keluarnya wanita pergi haji yang wajib bersama jamaah wanita yang terpercaya, walau tidak ada mahram bersamanya. ​MAYORITAS ULAMA MEMBOLEHKAN ITU​. Dahulu Ibnu Umar haji bersama wnaita tetangganya. Ini merupakan pendapat ‘Atha, Sa’id bin Jubeir, Ibnu Sirin, dan Al Hasan Al Basri. ​( ​Syarh Shahih Al Bukhari,​ 4/532)​

​✅ Lalu bagaimana dengan hadits ​“Janganlah seorang wanita bepergian KECUALI bersama mahramnya”?​​

Hadits tersebut dikomentari oleh para ulama, sebagai berikut:

وحمله مالك وجمهور الفقهاء على الخصوص ، وأن المراد بالنهى الأسفار غير الواجبة عليها بعموم قوله تعالى : ( وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ ) [ آل عمران : 97 ] فدخلت المرأة فى عموم هذا الخطاب ولزمها فرض الحج ، ولا يجوز أن تُمنع المرأة من الفروض كما لا تمنع من الصلاة والصيام ؛ ألا ترى أن عليها أن تهاجر من دار الكفر إلى دار الإسلام إذا أسلمت فيه بعير محرم ، وكذلك كل واجبٍ عليها أن تخرج فيه ، فثبت بهذا أن نهيه عليه السلام أن تسافر المرأة مع غير ذى محرم أنه أراد بذلك سفرًا غير واجب عليها ، والله أعلم

Malik dan MAYORITAS ULAMA mengartikannya secara khusus (bukan untuk semua safar), maksud larangan tersebut adalah untuk safar-safar yang TIDAK WAJIB, berdasarkan keumuman firman Allah ﷻ : mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah (QS. Ali Imran: 97), dan kaum wanita termasuk pada keumuman pembicaraan ayat ini dan kewajiban haji.

Dan, TIDAK BOLEH MELARANG WANITA dari kewajiban-kewajiban, sebagaimana tidak boleh melarang mereka dari shalat dan puasa. Tidakkah Anda melihat, bahwa wanita diwajibkan berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam, jika di negeri kafir dia tidak memiliki mahram? Maka, demikian juga semua kewajiban yang mengharuskannya dia keluar dari negerinya. Maka, dengan ini telah pasti bahwa larangan Nabi ﷻ tentang safarnya kaum wanita tanpa mahram adalah pada perjalanan yang tidak wajib baginya. Wallahu A’lam ​( ​Syarh Shahih Al Bukhari​, 4/532-533)​

Namun demikian, dengan mahram atau suaminya tentu lebih baik.

✅ Sebagian ulama ada yang tetap melarang wanita haji tanpa suami dan mahram, karena menurut mereka larangan tersebut berlaku untuk semua safar. Inilah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. ​(Ibid, 4/532)​

Wallahu a’lam.

Kedudukan Bulan Muharram


© Bulan Muharram adalah bulan yang dalam syariat Islam dimasukkan dalam bulan-bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum)

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu….” (QS. At-Taubah: 36)

▪ Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Bakrah ra, bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ – متفق عليه

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih)

® Pada keempat bulan ini Allah menekankan agar kita kaum muslimin jangan melakukan perbuatan aniaya (az-zulm), sebagaimana firman-Nya:

فلا تظلموا فيهن أنفسكم

“Jangan kalian aniaya diri kalian.”

© Ada dua penafsiran az-zulm (الظلم) dalam ayat di atas.

▪Pertama, berperang.

Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan yang diharamkan tersebut. Namun ketentuan ini sebagaimana dikuatkan oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya telah mansukh (dihapus)

▪ Kedua, berbuat maksiat dan dosa.

Namun hal ini bukan berarti bahwa bermaksiat dibolehkan pada bulan lainnya. Karena kemaksiatan, apapun bentuknya adalah dilarang, kapan pun dan dimana pun tanpa terkecuali.

® Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa dikhususkannya larangan bermaksiat pada bulan-bulan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini di banding bulan-bulan lainnya, dimana kemaksiatan di dalamnya mendapat penekanan untuk dijauhi oleh setiap muslim. Hal tersebut mirip dengan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 238, Allah Ta’ala berfirman:

حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ 

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238)

▪ Menjaga seluruh shalat jelas diperin-tahkan, namun menjaga shalat Wustha yang menurut sebagian ulama adalah shalat Ashar, mendapat tekanan khusus untuk kita jaga.

© Kedudukan bulan Muharram juga dapat dilihat dari nama bulan itu sendiri dan julukan yang diberikan kepadanya.

® Nama Muharram merupakan sighat maf’ul dari kata Harrama-Yuharrimu, yang artinya diharamkan. Maka kembali kepada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna bahwa pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Ta’ala memiliki tekanan khusus yang sangat kuat pada bulan ini.

▪ Kemudian dari sisi istilah, bulan ini disebut sebagai “Bulan Allah” (شهر الله), sebagaimana terdapat suatu riwayat hadits. Berarti bulan ini disandingkan kepada Lafzul Jalalah (Lafaz ‘Allah’). Para ulama menyatakan bahwa penyandingan makhluk kepada Lafzul Jalalah, memiliki makna tasyrif (pemu-liaan), sebagaiman istilah Baitullah, Rasulullah, Abdullah, dan sebagainya.

Aqiqah Ketika Dewasa, Bolehkah?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Ustad mengenai aqiqah .bolehkan orang yg sdh tua umurnya mengaqiqahkan dirinya sendiri krn kedua orang tuanya blm mengaqiqahkannya sejak lahir.dn kedua ortunya sdh wafat.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man Waalah wa Bad:

Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal) unuk aqiqah, tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

كلُّ غلامٍ رهينةٌ بعقيقته: تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق، ويسمى

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. Lihat Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr. Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. )

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ التَّسْمِيَةِ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ وَالرَّدُّ عَلَى مَنْ حَمْلِ التَّسْمِيَةَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ السَّابِقِ عَلَى التَّسْمِيَةِ عِنْدَ الذَّبْحِ .
وَفِيهِ أَيْضًا مَشْرُوعِيَّةُ وَضْعِ الْأَذَى وَذَبْحِ الْعَقِيقَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ .

“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu. (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, memberikan syarah (penjelasan) demikian:

فِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ وَقْت الْعَقِيقَة سَابِع الْوِلَادَة ، وَأَنَّهَا لَا تُشْرَع قَبْله وَلَا بَعْده وَقِيلَ تَجْزِي فِي السَّابِع الثَّانِي وَالثَّالِث لِمَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَبْد اللَّه بْن بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيّ أَنَّهُ قَالَ ” الْعَقِيقَة تُذْبَح لِسَبْع وَلِأَرْبَع عَشْرَة وَلِإِحْدَى وَعِشْرِينَ ” ذَكَرَهُ فِي السُّبُل . وَنَقَلَ التِّرْمِذِيّ عَنْ أَهْل الْعِلْم أَنَّهُمْ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ تُذْبَح الْعَقِيقَة يَوْم السَّابِع فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأ فَيَوْم الرَّابِع عَشَر ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأ عَقَّ عَنْهُ يَوْم إِحْدَى وَعِشْرِينَ .

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21. Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21. (Aunul Mabud, 8/28. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran. Berikut keterangannya:

قال أبو داود في كتاب المسائل سمعت أبا عبد الله يقول العقيقة تذبح يوم السابع وقال صالح بن أحمد قال أبي في العقيقة تذبح يوم السابع فإن لم يفعل ففي أربع عشرة فإن لم يفعل ففي إحدى وعشرين وقال الميموني قلت لأبي عبد الله متى يعق عنه قال أما عائشة فتقول سبعة أيام وأربعة عشرة ولأحد وعشرين وقال أبو طالب قال أحمد تذبح العقيقة لأحد وعشرين يوما انتهى

“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: Ada pun Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21. Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai. (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Saad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Saad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafii, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

والذبح يكون يوم السابع بعد الولادة إن تيسر، وإلا ففي اليوم الرابع عشر وإلا ففي اليوم الواحد والعشرين من يوم ولادته، فإن لم يتيسر ففي أي يوم من الايام. ففي حديث البيهقي: تذبح لسبع، ولاربع عشر، ولاحدي وعشرين.

“Penyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21. (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وَنَقَلَ صَاحِبُ الْبَحْرِ عَنْ الْإِمَامِ يَحْيَى أَنَّهَا لَا تُجْزِئُ قَبْلَ السَّابِعِ وَلَا بَعْدَهُ إجْمَاعًا وَدَعْوَى الْإِجْمَاعِ مُجَازَفَةٌ مَا عَرَفْت مِنْ الْخِلَافِ الْمَذْكُورِ .

“Pengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan. (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa. Shahihkah hadits ini?

Sanad hadits ini dhaif. Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Main mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang). Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah). Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.

Abu Zurah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Tadil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhuafa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Marifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhuafa, 2/310. Darul Kutub Al ilmiyah)

Imam An Nasai mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasai, Adh Dhuafa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zailai, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini, ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.

Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan. Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (saksi penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Jafar Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, katanya:

أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Sanad hadits ini: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas: (lalu disebutkan ucapan di atas)

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang riwayat ini:

قلت : و هذا إسناد حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في ” صحيحه ” غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Mujam Al Awsath No. 1006. Sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI. (As Silsilah Ash Shahihah No. 2726)

Ulama yang membolehkan adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha, sebagian Hambaliyah dan Syafiiyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه

“Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirrin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, berdasarkan dalil-dalil ini, inilah pendapat yang lebih kuat, Insya Allah.
Kalimat ini berlaku juga u perempuan.

Wallahu a’lam.

Hidup Mulia dan Mati Syahid ; Front Gallipoli – Çanakkale1915 M​

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.”
Surah Al-Anbiya’: Ayat 103

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Yahya ibn Rabi’ah, dari ‘Atha: bahwa kejutan yang dahsyat adalah kematian. Dalam riwayat yang lain, oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas: tiupan sangkakala.

Seorang Tabur-İmam atau semisal Da’i-Batalion sedang memberikan wejangan kepada beberapa pasukan kekhilafahan Turki Utsmani yang baru pulang dari front Çanakkale, 1915, AND. Mereka menyaksikan bagaimana rekan-rekannya telah mendahului sebagai syuhada, kini mereka menunggu-nunggu giliran untuk disapa para malaikat dengan “inilah harimu (berbahagia) yang telah dijanjikan kepadamu.”

Agung Waspodo dan keluarganya, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkan kita dalam daftar syuhada.

Depok, 19 September 2017

AND. : Sumber photo

Di ceraikan Saat Mengandung

Assalamualaikum langsungng ajah…pak ustadz bagai mana hukum nya suami menceraikan istri dlm ke adaan mengandung?
1.HUKUM NYA
2.SYAH APA TDK
Terimakasih ustadz

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Jumhur ulama mengatakan bahwa menceraikan isteri pada saat hamil adalah boleh, bahkan Imam Ahmad menyebutnya cerai yang sejalan dengan sunnah, maksudnya ada dasarnya.

Hal ini berdasarkan hadits shahih berikut:

ثُمَّ لِيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلًا

“Kemudian, ceraikanlah dia pada waktu suci atau hamil.” (HR. Muslim No. 1471)

Imam An Nawawi memberikan komentar:

فِيهِ دَلَالَة لِجَوَازِ طَلَاق الْحَامِل الَّتِي تَبَيَّنَ حَمْلهَا وَهُوَ مَذْهَب الشَّافِعِيّ ، قَالَ اِبْن الْمُنْذِر وَبِهِ قَالَ أَكْثَر الْعُلَمَاء مِنْهُمْ طَاوُس وَالْحَسَن وَابْن سِيرِينَ وَرَبِيعَة وَحَمَّاد بْن أَبِي سُلَيْمَان وَمَالِك وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَأَبُو ثَوْر وَأَبُو عُبَيْد ، قَالَ اِبْن الْمُنْذِر : وَبِهِ أَقُول . وَبِهِ قَالَ بَعْض الْمَالِكِيَّة

“Di dalamnya terdapat dalil bagi bolehnya mencerai wanita yang jelas kehamilannya, itulah madzhab Asy Syafi’i. berkata Ibnul Mundzir: “Dengan ini pula pendapat mayoritas ulama, di antara mereka adalah Thawus, Al Hasan, Ibnu Sirin, Rabi’ah, Hammad bin Abi Sulaiman, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid.” Berkata Ibnu Mundzir: “Aku juga berpendapat demikian.” Dan dengan ini juga pendapat sebagian Malikiyah.” ​(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 10/65)​

Namun, sebagian Malikiyah lainnya mengharamkannya, dan Ibnul Mundzir meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Bashri) memakruhkan. Demikian keterangan lanjutan dari Imam An Nawawi, dalam kitabnya tersebut. Namun pendapat yang membolehkan adalah lebih sesuai dengan nash syariat. Selesai.

​📌 Konteks Hukum Indonesia​

Di Indonesia, sebagian kalangan menganggap perceraian baru dianggap sah jika disahkan oleh pengadilan. Misalnya, seperti majelis tarjih Muhammadiyah, ini agar meminimalisir angka perceraian. Ada pun MUI menganggap perceraian yang terjadi diluar persidangan mesti dilaporkan ke pengadilan untuk diputuskan sah atau tidaknya.

Namun, secara fiqih, sebagaimana yang sudah kami bahas jika syarat-syarat perceraian sudah terpenuhi, maka itu sah, walau belum disidangkan oleh pengadilan agama.Demikian.

Wallahu a’lam.

Belajar Berhikmah Agar Meruah Berkah

© Mengambil hikmah dari setiap episode yang hadir dalam kehidupan kita merupakan keniscyaan. Lantaran tak sia-sia ketika Allah menetapkan keputusan atas apa saja yang terjadi tanpa terlewat sedikit pun. Semua akan bermakna bila kita bisa mengerti maksud setiap peristiwa.

▪Sejarah pun banyak mengajarkan pada kita tentang banyak hal. Dan dari kisah sejarah kita belajar untuk memperbaiki diri. Namun sayang tak banyak orang yang mampu mengambil pelajaran.

® Ada nilai-nilai tersirat yang ingin disampaikan oleh sejarah. Namun, mereka kebanyakan menganggap bahwa apa yang terjadi hanya menjadi sejarah yang dijadikan monumen kebanggaan.

© Bagi siapa yang di dalam hatinya bersemayam segenggam iman niscaya hikmah meruah akan dirasakan. Banyak pelajaran yang bisa diambil untuk melangkah ke depan. Menapaki kehidupan yang kian hari terasa kian menyesakkan.

▪Karut marutnya dunia membuat kita harus bersiap dengan mental pejuang. Pengorbanan tak sedikit yang harus kita persembahkan untuk sebuh kemuliaan karena itulah sunatullah jika ingin berjumpa dengan Allah swt.

® Hikmah kebaikan yang tiada berkesudahan kala ujian menerpa kehidupan. Semua baik adanya bagi orang yang mengimani takdir. Justru bagi orang yang beriman ujian itu merupakan harta kekayaan yang tiada bernilai. Rasulullah pun mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang isinya,

”Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku adalah harta kekayaan.”

© Tak pernah mampu kita menolak ujian bila Allah ingin hadirkan untuk kita. Kadang kita pernah berpikir panjang bahwa ada hikmah di balik setiap ujian. Inilah saat yang tepat Allah sedang mendidik kita. Allah tak hanya akan beri kekuatan namun Allah beri kesulitan agar kita belajar bagaimana menyelesaikannya.

▪ Kala kita lemah saat itulah Allah mendidik kita menjadi kuat dan tangguh. Banyak pelajaran kala kesulitan menerpa. Bila kesulitan demi kesulitan hadir silih berganti, Allah beri kesempatan pada kita untuk berdoa tiada henti. Bila kesulitan datang beruntun sesungguhnya Allah beri kesempatan bagi kita agar senantiasa doa itu terlantun. Dan bila kesulitan tak mampu segera terselesaikan, saatnya kita menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah perjuangan dan butuh pengorbanan.

® Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah telah memberi janji dengan firman-Nya itu, dibalik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat. Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 6)

Wallahu A’lam

1-th-final

3 Awesome Vectorized Car

Looking at other designers’ work can bring a new wave of creativity and inspiration. For today’s inspiration, we have put together a draw-dropping collection of creative car vectors for you.

These vector designs are so realistic and amazing that you will fall in love with them instantly. Creating a good vector car design requires loads of time and efforts, but as you’ll can see from these masterpieces, it’s certainly worth all the time and effort in the end. Now check out the car collection!

Chevrolet Camaro by Haegele Joan

This Chevrolet Camaro car looks real when you first glance at it. The artist has paid attention even to the minute details. The artist has also uploaded different images to show the progress of work which is a nice touch.

giphy (1)

Radio sound packs

It was one of the worst storms to hit London since God knows when. The thunder rolled, lightning flashed and the rain hammered into the roof. There’s something about a storm that brings a sense of doom. It fitted so perfectly.

When the ITV news flash sign came on the TV screen everyone looked up. When the flash sign was immediately followed by a still of Elvis Presley, a quiet voice breathed, “Oh, my God.”

“Reports are coming in that Elvis Presley, the rock and roll singer, died this evening at his home in Memphis, Tennessee.”

We all looked at each other in disbelief.

“Elvis is dead!”

It didn’t seem quite credible. And yet it wasn’t the kind of shock that followed the news of J.F.K. being cut down. There had been so much speculation about Presley’s mental and physical health that his death was unpleasantly predictable.

It was almost impossible to know what to think. My first impulse was to pick up the phone and call a couple of people. I tried two numbers, but they were both busy. Obviously other people had reacted the same way. It was the kind of news that demanded to be passed on. Elvis had always been there. For more than two decades he’d maintained a unique position in too many people’s lives. Despite all the depressing rumours it scarcely seemed possible that he’d gone, that Elvis Presley was dead at 42.

I guess the only word I can use is numb. Numb, and just very slightly embarrassed at the way I was reacting. It wasn’t the ordinary kind of grief that you feel for a personal friend. There was no voice telling me that I’d never see Elvis Presley again. Jesus Christ, I’d never seen him, ever. I didn’t even regret that I’d never get the chance to see him. The Elvis Presley I’d have given my right arm to watch was the wild hoodlum in the gold jacket who vanished into the US Army and never returned. I’d mourned his passing many years ago.