Puasa Sunah โ€˜Asyura: Waktu dan Keutamaannya Bag.2 (Repost)โ€‹


KAPANKAH PELAKSANAANNYA?โ€‹
Terjadi perselisihan pendapat para ulama.

๐Ÿ“Œ โ€‹1. Pihak ย  yang mengatakan 9 Muharam (Ini diistilahkan oleh sebagian ulama hari tasuโ€™a).โ€‹

Dari Al Hakam bin Al Aโ€™raj, dia berkata kepada Ibnu Abbas:

ุฃูŽุฎู’ุจูุฑู’ู†ููŠ ุนูŽู†ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุฃูŽูŠู‘ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุตููˆู…ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู‡ูู„ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ู ููŽุงุนู’ุฏูุฏู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ุจูุญู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนู ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ุฃูŽู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ูู‡ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽุนูŽู…ู’

โ€œKabarkan kepada aku tentang puasa โ€˜Asyura.โ€ Ibnu Abbas berkata: โ€œJika kau melihat hilal muharam hitunglah dan jadikan hari ke-9 adalah berpuasa.โ€ Aku berkata; โ€œDemikiankah puasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam?โ€ ย Ibnu Abbas menjawab: โ€œYa.โ€ (HR. Muslim No. 1133, Ahmad No. 2135)

ย Juga ย dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ย ุญููŠู†ูŽ ุตูŽุงู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุตููŠูŽุงู…ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ุชูุนูŽุธู‘ูู…ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุจูู„ู ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูู…ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุจูู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชููˆููู‘ููŠูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

โ€œKetika Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari โ€˜Asyura dan dia memerintahkan manusia untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata:

โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani โ€ฆ.,โ€

Maka dia bersabda: โ€œJika datang tahun yang akan datang โ€“ Insya Allah- kita akan berpuasa pada hari ke-9.โ€
Ibnu Abbas berkata: โ€œSebelum datangnya tahun yang akan datang, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah wafat.โ€ (HR. Muslim No. 1134 dan Abu Daud No. 2445)

Sementara dalam lafaz lainnya:

ู„ุฆู† ุณู„ู…ุช ุฅู„ู‰ ู‚ุงุจู„ ู„ุฃุตูˆู…ู† ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุชุงุณุน

โ€œJika saya benar-benar masih sehat sampai tahun depan, maka saya akan berpuasa pada hari ke-9.โ€ (HR. Muslim No. 1134. Ibnu Majah No. 1736. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 8185. Ahmad No. 1971)

Dalam Shahih Muslim disebutkan tentang puasa hari ke-9:

ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ: ู‚ุงู„: ูŠุนู†ูŠ ูŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก

โ€œDalam riwayat Abu Bakar, dia berkata: yakni hari โ€˜Asyura.โ€ (HR. Muslim No. 1134)

Dari Ibnu Abbas secara marfuโ€™:

ู„ุฆู† ุนุดุช ุฅู„ูŠ ู‚ุงุจู„ ู„ุฃุตูˆู…ู† ุงู„ุชุงุณุน ูŠุนู†ูŠ ูŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก

โ€œJika saya masih hidup sampai tahun depan, saya akan berpuasa pada hari ke -9, yakni โ€˜Asyura.โ€ (HR. Ahmad No. 2106, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya qawwi. Musnad Ibnu Al Jaโ€™d No. 2827)

๐Ÿ“Œ โ€‹2. Pihak ย  yang mengatakan 10 Muharam, dan ini pendapat mayoritas ulama.โ€‹ Puasa โ€˜Asyura, sesuai asal katanya โ€“ al โ€˜asyr โ€“ yang berarti sepuluh.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

ูˆุงุฎุชู„ู ุฃู‡ู„ ุงู„ุดุฑุน ููŠ ุชุนูŠูŠู†ู‡ ูู‚ุงู„ ุงู„ุฃูƒุซุฑ ู‡ูˆ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุนุงุดุฑ ุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ ุนุงุดูˆุฑุงุก ู…ุนุฏูˆู„ ุนู† ุนุงุดุฑุฉ ู„ู„ู…ุจุงู„ุบุฉ ูˆุงู„ุชุนุธูŠู… ุŒ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุฃุตู„ ุตูุฉ ู„ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุนุงุดุฑุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู…ุฃุฎูˆุฐ ู…ู† ุงู„ุนุดุฑ

โ€œTelah berselisih pendapat para ahli syariat tentang waktu spesifiknya, kebanyakan mengatakan adalah hari ke sepuluh. Berkata Al Qurthubi โ€˜Asyura disetarakan dengan kesepuluh untuk menguatkan dan mengagungkannya.

Pada asalnya dia adalah sifat bagi malam yang ke sepuluh, karena dia ambil dari kata al โ€˜asyr (sepuluh).โ€ (Fathul Bari, 6/280)

Lalu beliau melanjutkan:

ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ููŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ู‡ูˆ ุงู„ุนุงุดุฑ ูˆู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุฎู„ูŠู„ ูˆุบูŠุฑู‡ : ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฒูŠู† ุงุจู† ุงู„ู…ู†ูŠุฑ : ุงู„ุฃูƒุซุฑ ุนู„ู‰ ุฃู† ุนุงุดูˆุฑุงุก ู‡ูˆ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุนุงุดุฑ ู…ู† ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุญุฑู…

โ€œOleh karena itu, hari โ€˜Asyura adalah ke sepuluh, inilah pendapat Al Khalil dan lainnya. Berkata Az Zain bin Al Munir, โ€œ mayoritas mengatakan bahwa โ€˜Asyura adalah hari ke 10 dari bulan Allah, Al Muharram. (Ibid)

Pendapat ย  ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃู…ุฑู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุตูŠุงู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ูŠูˆู… ุงู„ุนุงุดุฑ

โ€œKami diperintahkan puasa โ€˜Asyura oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, hari ke sepuluh.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 755, katanya: hasan shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 755)ย 

Lalu, bagaimana dengan dalil-dalil yang dikemukakan oleh pihak yang mengatakan โ€˜Asyura adalah tanggal 9 Muharam?

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan: โ€œZahirnya hadits ini menunjukkan hari โ€˜Asyura adalah hari ke-9, tetapi berkata Az Zain bin Al Munir: โ€œSabdanya jika datang hari ke sembilanโ€ maka jadikanlah ย ke sepuluh, dengan maksud yang ke sepuluh karena janganlah seseorang berpuasa pada hari ke-9 kecuali setelah berniat pada malam yang akan datang yaitu malam ke sepuluh.โ€ ย Lalu beliau mengatakan:

ย  ู‚ู„ุช : ูˆูŠู‚ูˆูŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุงุญุชู…ุงู„ ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… ุฃูŠุถุง ู…ู† ูˆุฌู‡ ุขุฎุฑ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ ” ู„ุฆู† ุจู‚ูŠุช ุฅู„ู‰ ู‚ุงุจู„ ู„ุฃุตูˆู…ู† ุงู„ุชุงุณุน ูู…ุงุช ู‚ุจู„ ุฐู„ูƒ ” ูุฅู†ู‡ ุธุงู‡ุฑ ููŠ ุฃู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠุตูˆู… ุงู„ุนุงุดุฑ ูˆู‡ู… ุจุตูˆู… ุงู„ุชุงุณุน ูู…ุงุช ู‚ุจู„ ุฐู„ูƒ ุŒ ุซู… ู…ุง ู‡ู… ุจู‡ ู…ู† ุตูˆู… ุงู„ุชุงุณุน ูŠุญุชู…ู„ ู…ุนู†ุงู‡ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠู‚ุชุตุฑ ุนู„ูŠู‡ ุจู„ ูŠุถูŠูู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุนุงุดุฑ ุฅู…ุง ุงุญุชูŠุงุทุง ู„ู‡ ูˆุฅู…ุง ู…ุฎุงู„ูุฉ ู„ู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆุงู„ู†ุตุงุฑู‰ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฃุฑุฌุญ

โ€œAku berkata: yang menguatkan tafsiran ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim juga dari jalan lain, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œjika saya masih ada sampai tahun depan saya akan berpuasa pada hari ke-9, dan dia wafat sebelum itu.โ€

Pada zahir hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari ke-10, dan ย  meraka diperintah ย melakukannya pada hari ke-9 dan dia wafat sebelum itu. Kemudian apa yang mereka lakukan berupa puasa hari ke-9, tidaklah bermakna membatasi, bahkan menambahkan hingga hari ke -10, baik karena kehati-hatian, atau demi untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Inilah pendapat yang lebih kuat.โ€ (Ibid)

Sebenarnya kelompok ini tidaklah mengingkari puasa hari ke-9. Beliau mengutip dari para ulama:

ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… : ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… ” ู„ุฆู† ุนุดุช ุฅู„ู‰ ู‚ุงุจู„ ู„ุฃุตูˆู…ู† ุงู„ุชุงุณุน ” ูŠุญุชู…ู„ ุฃู…ุฑูŠู† ุŒ ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃู†ู‡ ุฃุฑุงุฏ ู†ู‚ู„ ุงู„ุนุงุดุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุงุณุน ุŒ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุถูŠูู‡ ุฅู„ูŠู‡ ููŠ ุงู„ุตูˆู… ุŒ ูู„ู…ุง ุชูˆููŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุจู„ ุจูŠุงู† ุฐู„ูƒ ูƒุงู† ุงู„ุงุญุชูŠุงุท ุตูˆู… ุงู„ูŠูˆู…ูŠู†

โ€œBerkata sebagian ulama: Sabdanya Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam Shahih Muslim: Jika aku masih hidup sampai tahun depan maka aku akan berpuasa pada hari ke -9โ€ bermakna dua hal;

Pertama, yaitu perubahan dari hari ke-10 menjadi ke-9.
Kedua, yaitu puasanya ditambahkan.

Ternyata Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam keburu meninggal sebelum menjelaskan hal itu, maka demi kehati-hatian puasa tersebut ada dua hari.โ€ (Ibid)

Berkata Ibnu Abbas secara mauquf:

ุตูˆู…ูˆุง ุงู„ุชุงุณุน ูˆุงู„ุนุงุดุฑ ูˆุฎุงู„ููˆุง ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ

โ€œBerpuasalah pada hari ke 9 dan 10 dan berselisihlah dengan Yahudi.โ€ (HR. Ahmad No. 3213, sanadnya shahih mauquf/sampai Ibnu Abbas saja)

๐Ÿ“Œ โ€‹3. Pihak yang mengatakan puasa โ€˜Asyura itu adalah 9, 10, dan 11 Muharam.โ€‹

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menulis dalam kitab Fiqhus Sunnah sebuah sub bab berjudul :

ุตูŠุงู… ู…ุญุฑู…ุŒ ูˆุชุฃูƒูŠุฏ ุตูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ูˆูŠูˆู…ุง ู‚ุจู„ู‡ุงุŒ ูˆูŠูˆู…ุง ุจุนุฏู‡ุง

โ€œPuasa Muharam dan ditekankan puasa โ€˜Asyura, dan Puasa sehari sebelumnya, serta sehari sesudahnya.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/450. Darul Kitab โ€˜Arabi)

Sama dengan kelompok kedua, hal ini demi kehati-hatian agar tidak menyerupai puasa Yahudi yang mereka lakukan pada hari ke-10, sebagai perayaan mereka atas bebasnya Nabi Musa โ€˜Alaihissalam dan bani Israel dari kejaran musuhnya.

Dalilnya adalah dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Ahuma secara marfuโ€™:

ุตูˆู…ูˆุง ูŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ูˆุฎุงู„ููˆุง ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ุŒ ุตูˆู…ูˆุง ูŠูˆู…ุง ู‚ุจู„ู‡ ุฃูˆ ูŠูˆู…ุง ุจุนุฏู‡

โ€œPuasalah pada hari โ€˜Asyura dan berselisihlah dengan Yahudi, dan berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.โ€ (HR. Ahmad No. 2154, namun Syaikh Syuโ€™aib Al Arnaโ€™uth mengatakan sanadnya dhaif)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah โ€“setelah merangkum semua dalil yang ada:

ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูุตูŠุงู… ุนุงุดูˆุฑุงุก ุนู„ู‰ ุซู„ุงุซ ู…ุฑุงุชุจ : ุฃุฏู†ุงู‡ุง ุฃู† ูŠุตุงู… ูˆุญุฏู‡ ุŒ ูˆููˆู‚ู‡ ุฃู† ูŠุตุงู… ุงู„ุชุงุณุน ู…ุนู‡ ุŒ ูˆููˆู‚ู‡ ุฃู† ูŠุตุงู… ุงู„ุชุงุณุน ูˆุงู„ุญุงุฏูŠ ุนุดุฑ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… .

โ€œOleh karena itu, puasa โ€˜Asyura terdiri atas tiga tingkatan:

1. Paling rendah yakni berpuasa sehari saja (tanggal 10).

2. Puasa hari ke-9 dan ke-10.

3. ย Paling tinggi ย  puasa hari ke-9, 10, dan ke-11.

(Ibid. lihat juga Fiqhus Sunnah, 1/450)

Wallahu Aโ€™lam

MengUmrohkan Orangtua


Assalamu’alaikum ustadz/ah…mau tanya ttg umroh ,apa bisa anak mengumrohkan orang tua yg meninggal?
๐Ÿ…ฐ2โƒฃ1โƒฃ

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Sebagian ulama mengatakan umrah adalah haji juga yaitu haji kecil, seperti yang dikatakan ‘Atha, Asy Sya’biy, Mujahid, Abdullah bin Syadaad, dan Az Zuhri. (Tafsir Ath Thabari, 14/129-130)

Sehingga masalah badal umrah ini sama halnya dengan badal haji, karena kemiripannya.

Secara khusus, ada hadits yang memang menyebutkan badal umrah:
Dari Abu Razin Al ‘Uqailiy, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya:

ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅู† ุฃุจูŠ ุดูŠุฎ ูƒุจูŠุฑ ู„ุง ูŠุณุชุทูŠุน ุงู„ุญุฌ ูˆ ู„ุง ุงู„ุนู…ุฑุฉ ูˆ ู„ุง ุงู„ุธุนู† : ู‚ุงู„ ( ุญุฌ ุนู† ุฃุจูŠูƒ ูˆุงุนุชู…ุฑ )

Wahai Rasulullah, ayahku sudah sangat tua, tidak mampu haji, umrah, dan perjalanan.
Beliau bersabda:
“Haji dan umrahlah untuk.”
(HR. Ibnu Majah No. 2906, At Tirmidzi No. 930, An Nasa’i No. 2637, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 8895, dll. Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. Dishahihkan pula oleh Imam Al Hakim, dalam Al Mustadrak, 1/481, dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dll)

Namun pembolehannya ini terikat syarat, yaitu:

1. Yang dibadalkan memang sudah wafat, atau fisik tidak memungkinkan, bukan karena menghindari antrean haji.

2. Yang membadalkan sudah haji atau umrah juga, inilah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุดุฑุท ุงู„ุญุฌ ุนู† ุงู„ุบูŠุฑ ูŠุดุชุฑุท ููŠู…ู† ูŠุญุฌ ุนู† ุบูŠุฑู‡ุŒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู‚ุฏ ุณุจู‚ ู„ู‡ ุงู„ุญุฌ ุนู† ู†ูุณู‡.

“Disyaratkan bagi orang yang menghajikan orang lain, bahwa dia harus sudah haji untuk dirinya dulu.โ€ (Ibid, 1/638)

Hal ini berdasarkan pada hadits berikut:
ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽุจู‘ูŽูŠู’ูƒูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎูŒ ู„ููŠ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุฑููŠุจูŒ ู„ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฌูŽุฌู’ุชูŽ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู† ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุญูุฌู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki berkata: โ€œLabbaika dari Syubrumah.โ€ Rasulullah bertanya: :โ€Siapa Syubrumah?โ€ laki-laki itu menjawab: โ€œDia adalah saudara bagiku, atau teman dekat saya.โ€ Nabi bersabda: โ€œEngkau sudah berhaji?โ€ Laki-laki itu menjawab: โ€œBelum.โ€ Nabi bersabda: โ€œBerhajilah untuk dirimu dahulu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.โ€ (HR. Abu Daud No. 1813, Imam Al Baihaqi mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Al Muharar fil Hadits, No. 665)

Hadits ini menjadi pegangan mayoritas ulama, bahwa orang yang ingin mewakilkan haji orang lain, di harus sudah berhaji untuk dirinya dahulu.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

ูˆูŽุธูŽุงู‡ูุฑ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุญูุฌู‘ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณู‡ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญูุฌู‘ ุนูŽู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู‡ ูˆูŽุณูŽูˆูŽุงุก ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุทููŠุนู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑ ู…ูุณู’ุชูŽุทููŠุน ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุขู„ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽูู’ุตูู„ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุณูŽู…ูุนูŽู‡ู ูŠูู„ูŽุจู‘ููŠ ุนูŽู†ู’ ุดูุจู’ุฑูู…ูŽุฉูŽ ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽู†ู’ุฒูู„ ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉ ุงู„ู’ุนูู…ููˆู… ุŒ ูˆูŽุฅูู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ : ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุฌู’ุฒูุฆู ุญูŽุฌู‘ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุญูุฌู‘ ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณู‡ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽุถูŽูŠู‘ูŽู‚ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู .

Menurut zhahir hadits ini, tidak dibolehkan orang yang belum menunaikan haji untuk diri sendiri menghajikan untuk orang lain. Sama saja, apakah orang tersebut mampu atau tidak mampu, sebab Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tidak merinci keadaan laki-laki yang telah beliau dengar menjawab panggilan dari Syubrumah, sehingga hal itu menunjukkan keadaan yang umum, Inilah madzhab Asy Syafiโ€™i. Sementara Ats Tsauri berkata: โ€œBahwa boleh saj orang yang belum haji, dia menghajikan orang lain selama tidak menyulitkannya.โ€ (โ€˜Aun Maโ€™bud, 5/174
Demikian.

Wallahu a’lam.

Puasa Sunah โ€˜Asyura: Waktu dan Keutamaannya Bag.1 (Repost)โ€‹


Tidak Sedikit manusia bertanya, bagaimanakah puasa sunah โ€˜Asyura itu?

Kapankah pelaksanaannya?

๐Ÿ“š โ€‹DALIL-DALIL NYA:โ€‹

Berikut ini adalah dalil-dalil puasa tersebut:

Hadits Dari Muadz bin Jabal Radhiallahu โ€˜Anhu:

ย ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽุตููˆู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ููŽุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ { ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู } ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ุตูŽุงู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููู’ุทูุฑูŽ ูˆูŽูŠูุทู’ุนูู…ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง ุฃูŽุฌู’ุฒูŽุฃูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽ

๐Ÿ“Œโ€œSesungguhnya Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dahulu berpuasa tiga hari pada tiap bulannya dan berpuasa pada hari โ€˜Asyura, lalu Allah Taโ€™ala menurunkan wahyu:

โ€œDiwajibkan atas kalian
berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalianโ€ ย hingga firmanNya: โ€œmemberikan makanan kepada orang miskinโ€ maka sejak itu barang siapa yang ingin berpuasa (puasa tiga hari tiap bulan dan โ€˜Asyura) maka silahkan dia berpuasa, dan barang siapa yang ingin berbuka maka silahkan dia berbuka, dan memberikan kepada orang miskin setiap hari yang demikian itu akan mendapatkan ganjaran.โ€

(HR. Abu Daud No. 507. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 507)

Hadits dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:

ย ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุชูŽุตููˆู…ูู‡ู ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ูู‡ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽ ุตูŽุงู…ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุตููŠูŽุงู…ูู‡ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ููุฑูุถูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุตูŽุงู…ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู

๐Ÿ“Œโ€œHari โ€˜Asyura adalah hari yang pada masa jahiliyah orang-orang Quraisy melaksanakan puasa, saat itu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga berpuasa.

Ketika Beliauย sampai ke Madinah beliau berpuasa dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu.
Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan, dia meninggalkan puasa โ€˜Asyura.

Maka, barang siapa yang mau silahkan dia puasa dan barang siapa yang tidak maka tinggalkanlah.โ€ (HR. Bukhari No. 2002, 4504, Muslim No. 1125)

Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:

ย ูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููู’ุฑูŽุถูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุชูุณู’ุชูŽุฑู ูููŠู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽุนู’ุจูŽุฉู ย ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ููŽุฑูŽุถูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู…ู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชู’ุฑููƒูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชู’ุฑููƒู’ู‡ู

๐Ÿ“Œโ€œDahulu mereka berpuasa pada hari โ€˜Asyura sebelum diwajibkannya Ramadhan dan saat itu hari ditutupnya Kaโ€™bah.

Ketika Allah Taโ€™ala mewajibkan Ramadhan, bersabdalah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBarang siapa yang mau puasa (โ€˜Asyura) silahkan, barang siapa yang mau meninggalkannya, silahkan.โ€
(HR. Bukhari No. 1592, Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 7495, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 9513)

Dan lain-lain.

Dari tiga hadits di atas, kita dapat memahami bahwa dahulu puasa โ€˜Asyura adalah ย  RUTINITAS Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Lalu, ย puasa itu menjadi PILIHAN saja setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, bagi yang menghendakinya.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani menjelaskan, bahwa sebagaian ulama, yakni kalangan Hanafiyah mengatakan dahulu puasa โ€˜Asyura itu WAJIB, mereka berdalil dengan zahir hadits bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan hal itu:
โ€œ โ€ฆ. ketika Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sampa ke Madinah beliau berpuasa dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu.โ€

Lalu, ketika diwajibkan puasa Ramadhan, kewajiban puasa โ€˜Asyura di hapus (mansukh).

Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa tidak ada satu pun puasa yang wajib, sebelum diwajibkannya ย  puasa Ramadhan, mereka berdalil dari hadits Muโ€™awiyah Radhiallahu โ€˜Anhu secara marfuโ€™: โ€œAllah tidak mewajibkan berpuasa (โ€˜Asyura) atas kalian.โ€.

Ada pun perintah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pada hadits tersebut tidak menunjukkan kewajiban, tetapi anjuran saja. (Lihat Fathul Bari, 4/103. Darul Fikr)

Yang shahih โ€“Insya Allah- adalah pendapat jumhur ulama. Hadits yang dimaksud adalah dari Muโ€™awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅู† ู‡ุฐุง ูŠูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุกุŒ ูˆู„ู… ูŠูƒุชุจ ุนู„ูŠูƒู… ุตูŠุงู…ู‡ุŒ ูˆุฃู†ุง ุตุงุฆู…ุŒ ูู…ู† ุดุงุก ุตุงู…ุŒ ูˆู…ู† ุดุงุก ูู„ูŠูุทุฑ

๐Ÿ“Œโ€œSesungguhnya ini adalah hari โ€˜Asyura, dan kalian tidaklah diwajibkan berpuasa padanya, dan saya sedang puasa, jadi barangsiapa yang mau puasa silahkan, yang mau buka juga silahkan.โ€ (HR. Muttafaq โ€˜Alaih)

Hadits ini diucapkan juga sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, maka jelaslah bahwa sebelum wajibnya puasa Ramadhan, TIDAK ADA puasa wajib termasuk โ€˜Asyura.

๐Ÿ“š โ€‹KEUTAMAAN ‘ASYURA DAN PUASANYAโ€‹

โ€‹1. Puasa Paling Afdhal Setelah Puasa Ramadhan.โ€‹

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ย ุฃูุถู„ ุงู„ุตูŠุงู… ุจุนุฏ ุฑู…ุถุงู† ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุญุฑู… ูˆุฃูุถู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจุนุฏ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„

โ€œPuasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharam.โ€ (HR. Muslim No. 1163. Ad Darimi No. 1758. ย Ibnu Khuzaimah No. 2076. Ahmad No. 8534, dengan tahqiq Syaikh Syuโ€™aib Al Arnaโ€™uth)

โ€‹2. Diampuni Dosa Setahun Sebelumnya.โ€‹

Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ย ูˆูŽุตูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุญู’ุชูŽุณูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽูู‘ูุฑูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูŽ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ู

โ€œDan berpuasa โ€˜Asyura, sesungguhnya saya menduga atas Allah bahwa dihapuskannya dosa setahun sebelumnya.โ€ (HR. Abu Daud ย No. 2425, Ibnu Majah No. 1738. Syaikh Al Albani mengatakan shahih dalam Al Irwa, 4/111, katanya: diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Al Bukhari dan At Tirmidzi. ย Shahihul Jamiโ€™ No. 3806)

โ€‹3. Hari โ€˜Asyura adalah Hari ย di mana Allah Taโ€™ala Membebaskan Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Firโ€™aun dan Bala tentaranyaโ€‹

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ู‚ุฏู… ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ูุฑุฃู‰ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ุชุตูˆู… ุนุงุดูˆุฑุงุก.
ูู‚ุงู„: ” ู…ุง ู‡ุฐุงุŸ ” ู‚ุงู„ูˆุง: ูŠูˆู… ุตุงู„ุญุŒ ู†ุฌู‰ ุงู„ู„ู‡ ููŠู‡ ู…ูˆุณู‰ ูˆุจู†ูŠ ุงู„ุณุฑุงุฆูŠู„ ู…ู† ุนุฏูˆู‡ู…ุŒ ูุตุงู…ู‡ ู…ูˆุณู‰ ูู‚ุงู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ” ุฃู†ุง ุฃุญู‚ ุจู…ูˆุณู‰ ู…ู†ูƒู… ” ูุตุงู…ู‡ุŒ ูˆุฃู…ุฑ ุจุตูŠุงู…ู‡

Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa โ€˜Asyura. Beliau bertanya: โ€œApa ini?โ€ mereka menjawab:
โ€œIni hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.โ€

Maka, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œSaya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.โ€ Maka, beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (โ€˜Asyura).โ€ (HR. Muttafaq โ€˜Alaih)

โ€‹KAPANKAH PELAKSANAANNYA?โ€‹

Bersambung…

Bulan Muharram


Terdapat dua pertanyaan yang bertema Muharram dan bisa dijawab sekaligus

Assalamu’alaikum…afwam numpang tanya,kl bs d jwb sesegera mungkin….

Adakah tuntutan berdoa d awal & akhir th???da dalil2 serta haditsnya??
Syukron…# A 42

Puasa suro itu sebaiknya dilakukan tgl brp mhn penjelasanya terima kasih

Jawaban
———–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqaโ€™dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Taโ€™ala berfirman:

ุฅูู†ูŽู‘ ุนูุฏูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ุดูู‘ู‡ููˆุฑู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงุซู’ู†ูŽุง ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒ ุญูุฑูู…ูŒ

โ€œSesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram.”
(QS. At Taubah: 36)

Kata โ€‹Muharram artinya โ€˜dilarangโ€™.โ€‹ Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharramย sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkanย puasaย pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasaย Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽู…ูŽู‘ุง ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฌูŽุฏูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ู†ูŽุฌูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูููŠู‡ู ู…ููˆุณูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽุบู’ุฑูŽู‚ูŽ ุขู„ูŽ ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽ ููŽุตูŽุงู…ูŽ ู…ููˆุณูŽู‰ ุดููƒู’ุฑู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุจูู…ููˆุณูŽู‰ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ููŽุตูŽุงู…ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุตููŠูŽุงู…ูู‡ู

Dari Ibnu Abbasย RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu โ€˜Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, โ€œ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkanย keluargaย Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, โ€œSaya lebih berhak mengikutiย  Musa as. dari mereka.โ€ย  Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasaโ€ (HR Bukhari).

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุตูู‘ูŠูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑูŽู‘ู…ู ูˆูŽุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู

Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, โ€œSebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.โ€ (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari โ€˜Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari โ€˜Asyura.

Secara umum, โ€‹puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan :โ€‹
Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11.
Ketiga,ย  puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari โ€˜Asyura para sahabat berkata:

โ€œItu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: โ€œJika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.โ€
(HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, โ€‹umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.โ€‹

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi danย  menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena ituย  salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikanย  pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabahย terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.

Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
โœ…Puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah pada tanggal 9,10 dan 11.
โœ…Rasulullah tidak mencotohkan doa awal dan akhir tahun. Hanya perlu bermuhasabah diri ketika terjadi pergantian tahun. Bisa juga bermuhasabah dilakukan setiap hari tanpa menunggu bulan Muharram.
Sumber : dakwatuna.com

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (31)โ€‹


๐Ÿ“• โ€‹Bab Sabar – Sabar dalam Kebenaranโ€‹

โ€‹Hadits:โ€‹

ูˆุนู† ุตู‡ูŠุจ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – : ุฃู†ู‘ูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ :

ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽู„ููƒูŒ ููŠู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุจู„ูŽูƒู…ู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุงุญูุฑูŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุจูุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ู„ู…ูŽู„ููƒู : ุฅู†ู‘ููŠ ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุจูุฑู’ุชู ููŽุงุจู’ุนูŽุซู’ ุฅู„ูŽูŠู‘ูŽ ุบูู„ุงู…ุงู‹ ุฃูุนูŽู„ู‘ูู…ู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูุญู’ุฑูŽ ุ› ููŽุจูŽุนุซูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุบูู„ุงู…ุงู‹ ูŠูุนูŽู„ู‘ูู…ูู‡ู ุŒ ูˆูŽูƒุงู†ูŽ ููŠ ุทุฑููŠู‚ูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู„ูŽูƒูŽ ุฑูŽุงู‡ูุจูŒ ุŒ ููŽู‚ูŽุนุฏูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ ูˆุณูŽู…ูุนูŽ ูƒูŽู„ุงู…ูŽู‡ู ููŽุฃุนู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽูƒุงู†ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฃุชูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽุงุญูุฑูŽ ุŒ ู…ูŽุฑู‘ูŽ ุจุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจู ูˆูŽู‚ูŽุนูŽุฏูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ ุŒ ููŽุฅุฐูŽุง ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽุงุญูุฑูŽ ุถูŽุฑูŽุจูŽู‡ู ุŒ ููŽุดูŽูƒูŽุง ุฐู„ููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ูุจ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุดูŠุชูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุญูุฑูŽ ุŒ ููŽู‚ูู„ู’ : ุญูŽุจูŽุณูŽู†ููŠ ุฃูŽู‡ู’ู„ููŠ ุŒ ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุฎูŽุดููŠุชูŽ ุฃู‡ู„ูŽูƒูŽ ุŒ ููŽู‚ูู„ู’ : ุญูŽุจูŽุณูŽู†ููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุงุญูุฑู . ููŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู…ุง ู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐู„ููƒูŽ ุฅูุฐู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏูŽุงุจู‘ูŽุฉู ุนูŽุธููŠู…ูŽุฉู ู‚ูŽุฏู’ ุญูŽุจูŽุณูŽุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃุนู’ู„ูŽู…ู ุงู„ุณู‘ูŽุงุญุฑู ุฃูู’ุถูŽู„ู ุฃู… ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจู ุฃูู’ุถูŽู„ู ุŸ ููŽุฃุฎูŽุฐูŽ ุญูŽุฌูŽุฑุงู‹ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃู…ู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ูุจู ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฃู…ู’ุฑู ุงู„ุณู‘ูŽุงุญูุฑู ููŽุงู‚ู’ุชูู„ู’ ู‡ุฐูู‡ู ุงู„ุฏู‘ุงุจู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽู…ุถููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุŒ ููŽุฑูŽู…ูŽุงู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุชูŽู„ูŽู‡ุง ูˆู…ูŽุถูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุŒ ููŽุฃุชูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจูŽ ููŽุฃูŽุฎุจูŽุฑูŽู‡ู . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจู : ุฃูŽูŠู’ ุจูู†ูŽูŠู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ูŠูŽูˆู…ูŽ ุฃูู’ุถูŽู„ ู…ู†ู‘ููŠ ู‚ูŽุฏู’ ุจูŽู„ูŽุบูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑููƒูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุฑูŽู‰ ุŒ ูˆูŽุฅู†ู‘ูŽูƒูŽ ุณูŽุชูุจู’ุชูŽู„ูŽู‰ ุŒ ููŽุฅู† ุงุจู’ุชูู„ููŠุชูŽ ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุฏูู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุ› ูˆูŽูƒุงู†ูŽ ุงู„ุบูู„ุงู…ู ูŠูุจู’ุฑู‰ุกู ุงู„ุฃูƒู’ู…ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ุฃูŽุจู’ุฑุตูŽ ุŒ ูˆูŠุฏุงูˆูŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ู…ูู†ู’ ุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ุฃูŽุฏู’ูˆูŽุงุก . ููŽุณูŽู…ูุนูŽ ุฌูŽู„ูŠุณูŒ ู„ูู„ู…ู„ููƒู ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุนูŽู…ููŠูŽ ุŒ ูุฃุชุงู‡ ุจูŽู‡ูŽุฏูŽุงูŠุง ูƒูŽุซูŠุฑูŽุฉู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู…ูŽุงู‡ุงู‡ูู†ูŽุง ู„ูŽูƒูŽ ุฃูŽุฌู’ู…ุนู ุฅู†ู’ ุฃู†ุชูŽ ุดูŽููŽูŠุชูŽู†ููŠ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅู†ู‘ูŠ ู„ุง ุฃุดู’ูููŠ ุฃุญูŽุฏุงู‹ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุดูููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุŒ ููŽุฅู†ู’ ุขู…ูŽู†ู’ุชูŽ ุจุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฏูŽุนูŽูˆุชู ุงู„ู„ู‡ูŽ ููŽุดููŽุงูƒูŽ ุŒ ููŽุขู…ูŽู†ูŽ ุจุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ููŽุดููŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุŒ ููŽุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู…ูŽู„ููƒูŽ ููŽุฌูŽู„ุณูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูƒูŽู…ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฌู„ูุณู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู…ูŽู„ููƒู : ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุฏู‘ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูŽุตูŽุฑูŽูƒูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฑูŽุจู‘ููŠ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุฑูŽุจู‘ูŒ ุบูŽูŠุฑูŠ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฑูŽุจู‘ููŠ ูˆูŽุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุŒ ููŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽู‡ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฒูŽู„ู’ ูŠูุนูŽุฐู‘ูุจูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุบูู„ุงู…ู ุŒ ููŽุฌูŠุก ุจุงู„ุบูู„ุงูŽู…ู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู…ูŽู„ููƒู : ุฃูŠู’ ุจูู†ูŽูŠู‘ูŽ ุŒ ู‚ูŽุฏู’ ุจูŽู„ูŽุบูŽ ู…ูู†ู’ ุณูุญู’ุฑููƒูŽ ู…ูŽุง ุชูุจู’ุฑู‰ุก ุงู„ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ุฃูŽุจู’ุฑูŽุตูŽ ูˆุชูŽูู’ุนูŽู„ู ูˆุชูŽูู’ุนูŽู„ู ! ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅู†ู‘ููŠ ู„ุง ุฃูŽุดู’ููŠ ุฃุญูŽุฏุงู‹ ุŒ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุดูููŠ ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ . ููŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽู‡ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฒูŽู„ู’ ูŠูุนูŽุฐู‘ูุจูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจู ุ› ููŽุฌููŠุก ุจุงู„ุฑู‘ูŽุงู‡ุจู ููŽู‚ูŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู : ุงุฑุฌูุนู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูƒูŽ ุŒ ููŽุฃูŽุจูŽู‰ ุŒ ููŽุฏูŽุนูŽุง ุจูุงู„ู…ูู†ู’ุดูŽุงุฑู ููŽูˆูุถูุนูŽ ุงู„ู…ูู†ู’ุดูŽุงุฑู ููŠ ู…ูŽูู’ุฑู‚ ุฑูŽุฃุณูู‡ู ุŒ ููŽุดูŽู‚ู‘ูŽู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุดูู‚ู‘ูŽุงู‡ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฌููŠุกูŽ ุจูุฌูŽู„ูŠุณู ุงู„ู…ูŽู„ููƒู ูู‚ูŠู„ ู„ูŽู‡ู : ุงุฑู’ุฌูุนู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ููƒูŽ ุŒ ููŽุฃูŽุจูŽู‰ ุŒ ููŽูˆุถูุนูŽ ุงู„ู…ูู†ู’ุดูŽุงุฑู ููŠ ู…ูŽูู’ุฑูู‚ ุฑูŽุฃุณูู‡ู ุŒ ููŽุดูŽู‚ู‘ูŽู‡ู ุจูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุดูู‚ู‘ูŽุงู‡ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฌููŠุกูŽ ุจุงู„ุบูู„ุงูŽู…ู ูู‚ูŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู : ุงุฑู’ุฌูุนู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูƒูŽ ุŒ ููŽุฃูŽุจูŽู‰ ุŒ ููŽุฏูŽููŽุนูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ู†ูŽููŽุฑู ู…ูู†ู’ ุฃุตู’ุญูŽุงุจู‡ู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงุฐู’ู‡ูŽุจููˆุง ุจูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูŽุจูŽู„ู ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ููŽุงุตู’ุนูŽุฏููˆุง ุจูู‡ู ุงู„ุฌูŽุจูŽู„ ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุจูŽู„ูŽุบู’ุชูู…ู’ ุฐูุฑู’ูˆูŽุชูŽู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุฑูŽุฌูŽุนูŽ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูู‡ู ูˆูŽุฅู„ุงู‘ูŽ ููŽุงุทู’ุฑูŽุญููˆู‡ู . ููŽุฐูŽู‡ูŽุจููˆุง ุจูู‡ู ููŽุตูŽุนูุฏููˆุง ุจูู‡ู ุงู„ุฌูŽุจูŽู„ูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูƒู’ูู†ูŠู‡ู…ู’ ุจูู…ูŽุง ุดูุฆู’ุชูŽ ุŒ ููŽุฑูŽุฌูŽููŽ ุจู‡ูู…ู ุงู„ุฌูŽุจู„ู ููŽุณูŽู‚ูŽุทููˆุง ุŒ ูˆูŽุฌุงุกูŽ ูŠูŽู…ุดูŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูŽู„ููƒู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู…ูŽู„ููƒู : ู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽ ุฃุตู’ุญูŽุงุจููƒูŽ ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูŽููŽุงู†ููŠู‡ู…ู ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุŒ ููŽุฏูŽููŽุนูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ู†ูŽููŽุฑู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงุฐู’ู‡ูŽุจููˆุง ุจูู‡ู ูุงุญู’ู…ูู„ููˆู‡ู ููŠ ู‚ูุฑู’ู‚ููˆุฑู ูˆุชูŽูˆูŽุณู‘ูŽุทููˆุง ุจูู‡ู ุงู„ุจูŽุญู’ุฑูŽ ุŒ ููŽุฅู†ู’ ุฑูŽุฌุนูŽ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูู‡ู ูˆุฅูู„ุงู‘ูŽ ููŽุงู‚ู’ุฐููููˆู‡ู . ููŽุฐูŽู‡ูŽุจููˆุง ุจูู‡ู ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูƒู’ููู†ูŠู‡ู…ู’ ุจู…ูŽุง ุดูุฆู’ุชูŽ ุŒ ูุงู†ู’ูƒูŽููŽุฃูŽุชู’ ุจูู‡ู…ู ุงู„ุณู‘ูŽููŠู†ุฉู ููŽุบูŽุฑูู‚ููˆุง ุŒ ูˆูŽุฌูŽุงุก ูŠูŽู…ู’ุดูŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูŽู„ููƒู . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู…ูŽู„ููƒู : ู…ูŽุง ูุนู„ูŽ ุฃุตู’ุญูŽุงุจููƒูŽ ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูŽููŽุงู†ูŠู‡ู…ู ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ . ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู…ูŽู„ููƒู : ุฅู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽุณู’ุชูŽ ุจู‚ูŽุงุชู„ูŠ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽูู’ุนูŽู„ูŽ ู…ูŽุง ุขู…ูุฑููƒูŽ ุจูู‡ู . ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุชูŽุฌู’ู…ูŽุนู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ููŠ ุตูŽุนูŠุฏู ูˆูŽุงุญุฏู ูˆุชูŽุตู’ู„ูุจูู†ูŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูุฐู’ุนู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฎูุฐู’ ุณูŽู‡ู’ู…ุงู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูู†ูŽุงู†ูŽุชูŠ ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุถูŽุนู ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ู…ูŽ ููŠ ูƒูŽุจุฏู ุงู„ู‚ูŽูˆู’ุณู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูู„ู’ : ุจุณู’ู… ุงู„ู„ู‡ ุฑุจู‘ู ุงู„ุบูู„ุงูŽู…ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุงุฑู’ู…ูู†ูŠุŒ ููŽุฅู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูŽ ุฐู„ููƒูŽ ู‚ูŽุชูŽู„ุชูŽู†ูŠุŒ ููŽุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ููŠ ุตูŽุนูŠุฏ ูˆุงุญุฏู ุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุจูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูุฐู’ุนู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุณูŽู‡ู’ู…ุงู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูู†ูŽุงู†ูŽุชูู‡ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ู…ูŽ ููŠ ูƒูŽุจูุฏู ุงู„ู‚ูŽูˆู’ุณู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุจูุณู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุฑุจู‘ู ุงู„ุบูู„ุงู…ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽู…ูŽุงู‡ู ููŽูˆู‚ูŽุนูŽ ููŠ ุตูุฏู’ุบูู‡ู ุŒ ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ูŠูŽุฏูŽู‡ู ููŠ ุตูุฏู’ุบูู‡ู ููŽู…ูŽุงุชูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู : ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ุจูุฑูŽุจู‘ู ุงู„ุบูู„ุงู…ู ุŒ ููŽุฃูุชููŠูŽ ุงู„ู…ูŽู„ููƒู ูู‚ูŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู : ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุญู’ุฐูŽุฑู ู‚ูŽุฏู’ ูˆุงู„ู„ู‡ ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ุจูƒูŽ ุญูŽุฐูŽุฑููƒูŽ . ู‚ูŽุฏู’ ุขู…ูŽู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู . ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุงู„ุฃูุฎู’ุฏููˆุฏู ุจุฃูู’ูˆุงู‡ู

ุงู„ุณู‘ููƒูŽูƒู ููŽุฎูุฏู‘ูŽุชู’ ูˆุฃูุถู’ุฑูู…ูŽ ููŠู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ููŠุฑุงู†ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุฌุนู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ู‡ู ููŽุฃู‚ู’ุญู…ูˆู‡ู ููŠู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ู: ุงู‚ุชูŽุญูู…ู’ ููŽููŽุนูŽู„ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฌูŽุงุกุช ุงู…ู’ุฑูŽุฃุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ูŽุง ุตูŽุจูŠู‘ูŒ ู„ูŽู‡ูŽุง ุŒ ููŽุชูŽู‚ูŽุงุนูŽุณูŽุชู’ ุฃู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุนูŽ ููŠู‡ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุงู„ุบูู„ุงู…ู : ูŠูŽุง ุฃูู…ู‡ู’ ุงุตู’ุจูุฑูŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุญูŽู‚ู‘ู !

ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… .

โ€‹Artinya:โ€‹

โ€‹Dari Shuhaib r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulu ada seorang raja dari golongan ummat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja:โ€‹
โ€‹”Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir.”โ€‹

โ€‹Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya melintasi seorang rahib -pendeta Nasrani yang mentauhidkan Allah – berjalan di situ, ia pun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya.โ€‹

โ€‹Apabila ia telah datang di tempat penyihir – yakni dari pelajarannya, ia pun melalui tempat rahib tadi dan terus duduk di situ – untuk mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnya apabila datang di tempat penyihir, ia pun dipukul olehnya – kerana kelambatan datangnya.โ€‹

โ€‹Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: “Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahwa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahawa engkau ditahan oleh penyihir.”โ€‹

โ€‹Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang-halangi orang banyak – untuk berlalu di jalanan itu.โ€‹

โ€‹Anak itu lalu berkata: “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?” Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: “Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisiMu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.”โ€‹

โ€‹Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut.โ€‹

โ€‹Rahib itu pun berkata: “Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya.Sesungguhnya engkau akan terkena cobaan, maka jikalau engkau terkena cobaan itu, janganlah menunjuk kepadaku.”โ€‹

โ€‹Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengobati orang banyak dari segala macam penyakit.โ€‹

โ€‹Hal itu didengar oleh kawan seduduk – yakni sahabat karib – raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: “Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku.”โ€‹

โ€‹Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, hanya saja Allah Ta’ala yang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau tuan suka beriman kepada Allah Ta’ala, saya akan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan tuan. Kawan raja itu lalu beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah.โ€‹

โ€‹Raja kemudian bertanya: “Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?” Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: “Tuhanku.”โ€‹

โ€‹Raja bertanya: “Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?”โ€‹

โ€‹Ia menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”โ€‹

โ€‹Kawannya itu lalu ditindak oleh raja tadi dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itu pun didatangkan.โ€‹

โ€‹Raja berkata padanya: “Hai anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu.”โ€‹

โ€‹Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seseorang pun, hanyasanya Allah Ta’ala jualah yang menyembuhkannya.”โ€‹

โ€‹Anak itu pun ditindaknya, dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendeta pun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu!”โ€‹
Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung.

โ€‹Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut.โ€‹

โ€‹Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja yang terdahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu itu!”โ€‹

โ€‹Ia pun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pula lah gergaji itu di tengah kepalanya lalu dibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu.โ€‹

โ€‹Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu.” la pun menolak ajakannya.โ€‹

โ€‹Kemudian anak itu diberikan kepada sekeIompok sahabatnya lalu berkata: “Pergilah membawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu.”โ€‹

โ€‹Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Kemudian gunung itu pun bergerak keras dan orang-orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menuju ke tempat raja.โ€‹

โ€‹Raja berkata: “Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: “Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah tongkang dan belayarlah sampai di tengah lautan. Jikalau ia kembali dari agamanya – maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu.”โ€‹

โ€‹Orang-orang bersama-sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Tiba-tiba tongkang itu terbalik, maka tenggelamlah semuanya.โ€‹

โ€‹Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: “Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka.”โ€‹

โ€‹Selanjutnya ia berkata pula pada raja: “Tuan tidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang ku perintahkan.” Raja bertanya: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini,” terus lemparkanlah anak panah itu.โ€‹ โ€‹Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku.”โ€‹

โ€‹Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan pada sebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalu meletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini.” Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia.โ€‹

โ€‹Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: “Kita semua beriman kepada Tuhannya anak ini.”โ€‹

โ€‹Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: “Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba – yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman.”โ€‹

โ€‹Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi – yang bertebing dua kanan-kiri – yaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan dinyalakan api di situ, Ia berkata: “Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu,” atau dikatakan: “Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya.”โ€‹

โ€‹Orang banyak melakukan yang sedemikian itu – sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: “Hai ibunda, bersabarlah, kerana sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran.”โ€‹

(Riwayat Muslim)

โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian โ€‹AUDIOโ€‹ di bawah ini.

Selamat menyimak.

UNDUH DISINI

Batasan Aurat Bagi Muslimah


Assalamualaikum ustadz/ah..Mau tanya, sebelumnya ada materi tentang wajibnya akhwat untuk menutup kaki?# A42

Jawaban
———-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Kalau kita bicara aurat wanita , apa sih batasannya?
Sebelum membahas mengenai kaki bagian bawah, perlu dipahami apa batasan aurat bagi wanita. Allah taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽู‚ูู„ ู„ู‘ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบู’ุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œKatakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan merekaโ€ (QS. An Nur: 31).

Allah taโ€™ala juga berfirman:

ูŠูŽุขุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ ู„ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุขุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู† ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู† ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ุงูŽ ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู‹ุง

โ€œHai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muโ€™min: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka.โ€ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€ (QS. Al Ahzab: 59)

Allah taโ€™ala juga berfirman:

ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽุฑู’ุฌูู„ูู‡ูู†ู‘ูŽ ู„ููŠูุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ูŽุงูŠูุฎู’ูููŠู†ูŽ ู…ูู† ุฒููŠู†ูŽุชูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œdan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.โ€ (QS. An Nur: 31)

Diriwayatkan dari โ€˜Aisyah radhiallahuโ€˜anha, beliau berkata,

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุกูŽ ุจูู†ู’ุชูŽ ุฃูŽุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุซููŠูŽุงุจูŒ ุฑูู‚ูŽุงู‚ูŒ ููŽุฃูŽุนู’ุฑูŽุถูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุกู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉูŽ ุฅูุฐูŽุง ุจูŽู„ูŽุบูŽุชู ุงู„ู’ู…ูŽุญููŠุถูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุตู’ู„ูุญู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑูŽู‰ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ูˆูŽูƒูŽูู‘ูŽูŠู’ู‡ู

Asmaโ€™ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahuโ€˜alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahuโ€˜alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, โ€œwahai Asmaโ€™, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan iniโ€, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: โ€œhasan dengan keseluruhan jalannyaโ€)

Selain dalil-dalil mengenai batasan aurat secara umum, terdapat juga beberapa dalil yang jelas menunjukkan bahwa al qadam atau bagian bawah kaki wajib ditutup. Diantaranya yaitu hadits Ummu Salamah radhiallahuโ€™anha,

ุฃู†ู‘ูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ู‘ูŽู… ู„ู…ุง ู‚ุงู„ ููŠ ุฌุฑู‘ู ุงู„ุฐูŠู„ู ู…ุง ู‚ุงู„ ู‚ุงู„ุช ู‚ู„ุชู ูŠุง ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ููƒูŠู ุจู†ุง ูู‚ุงู„ ุฌูุฑู‘ููŠู‡ู ุดุจุฑู‹ุง ุŒ ูู‚ุงู„ุช (ุฃู… ุณู„ู…ุฉ) ุฅุฐู‹ุง ุชู†ูƒุดูู ุงู„ู‚ุฏู…ุงู†ู ุŒ ู‚ุงู„ ูุฌูุฑู‘ููŠู‡ู ุฐุฑุงุนู‹ุง

โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku berkata kepada beliau, โ€˜wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?โ€™. Nabi menjawab: โ€˜julurkanlah sejengkalโ€˜. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: โ€˜kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?โ€™. Nabi bersabda: โ€˜kalau begitu julurkanlah sehastaโ€˜. (HR. Ahmad 6/295, Abu Yaโ€™la dalam As Sanad 1/325, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/828)

Syaikh Al Albani menyatakan: โ€œhadits ini dalil bahwa kedua qadam wanita adalah aurat. Dan ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh para wanita di masa Nabi. Buktinya ketika Nabi mengatakan: โ€˜julurkanlah sejengkalโ€˜, Ummu Salamah berkata: โ€˜kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?โ€˜, menunjukkan kesan bahwa Ummu Salamah sebelumnya sudah mengetahui bahwa kedua bagian bawah kaki adalah aurat yang tidak boleh dibuka. Dan hal itu disetujui oleh Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam. Oleh karena itu beliau memerintahkan untuk memanjangkan kainnya sehasta. Dan dalam Al Qurโ€™an Al Karim juga ada isyarat terhadap makna ini, yaitu dalam firman Allah Taโ€™ala (yang artinya) โ€œdan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.โ€ (QS. An Nur: 31)โ€

Kesimpulannya: kaki adalah aurat yang harus ditutup berdasarkan dalil dalil diatas.

Wallahu a’lam.

Mesir Paceklik Pangan, Namun Hijaz dan Jama'ah Hajji tetap Terkelola Baikโ€‹


” โ€‹Sekelumit teka-teki sejarah pada era transisi Mesir dari era Mamluk ke Turki Utsmaniโ€‹”

Buku Tentang Hajji pada Masa Kekhilafahan Turki Utsmani pada dua ratus tahun pertama setelah Mesir beralih era, tujuh catatan penting menurut saya:

1โƒฃ. Topik buku ini menarik karena fokus pada sisi politik serta sosial dari pelaksanaan Hajji yang sangat ritual; padahal jama’ah hajji pada abad ke-16 Masehi tidak membedakannya,

2โƒฃ. Aktivitas hajji juga memindahkan uang dalam bentuk emas dan perak serta gandum dari Turki dan Mesir kepada bangsa Arab yang mendiami gurun pasir Suriah dan Jazirah Arab. Walau terjadi beberapa pemberontakan dan pencegatan atas kafilah hajji, aktivitas tersebut tidak pernah menurun,

3โƒฃ. Perdagangan Turki Utsmani di wilayah Anatolia lebih banyak menggunakan mata uang perak daripada emas sehingga memungkinkan jama’ah hajji membawa uang emas tersebut dalam perjalanan mereka,

4โƒฃ. Ketika persediaan uang emas tidak cukup, maka baru jama’ah hajji menggunakan uang perak; hal ini tidak terlalu disukai oleh penduduk Hijaz karena mereka memiliki kepentingan untuk menggunakan uang emas sebagai medium transaksi dengan pedagang India,

5โƒฃ. Sebelum kedua tanah suci menjadi wilayah perlindungan kekhilafahan Turki Utsmani, persediaan gandum untuk Hijaz kadang dipasok dari Yaman. Setelah memasuki era Turki Utsmani, suplai gandum untuk Hijaz murni dari Mesir,

6โƒฃ. Lanjutan nomor 5, ketika situasi perekonomian Mesir melemah dan gagal panen melanda seharusnya suplai gandum ke Hijaz juga turut terganggu; namun catatan sejarah tidak menemukan kelangkaan tersebut karena kokohnya fondasi pelayanan publik Turki di Anatolia oleh para sultan Turki Utsmani,

7โƒฃ. Berkaitan dengan nomor 6, setelah Mesir beralih dari masa Mamluk ke Turki Utsmani telah terjadi revitalisasi wilayah pedesaan di Mesir namun tidak otomatis meningkatkan suplai gandum di Makkah menurut sejarawan Qutbuddin.

Agung Waspodo, menemukan sebagian jawaban dari teka-teki sejarah pada era transisi Mesir dari era Mamluk ke Turki Utsmani

Depok, 18 September 2017

Wanita Pergi Haji Tanpa Mahram??


Assalamualaikum…. afwan mau tanya ustadz/ah.. Bagaimana hukumnya prempuan yg pergi umroh/haji tanpa mahrom? Apakah mahrom yg ditunjuk oleh travel umroh sah sedangkan sebenarnya orang tsb bukan mahrom perempuan ybs. Mohon pencerahan.

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Ngaku mahram padahal bukan tentu itu berbohong. Tidak boleh.

Ada pun ttg wanita pergi haji yg wajib, seorg diri tanpa mahram, adalah khilafiyah ulama .. jelasnya ini ๐Ÿ‘‡

Wanita Pergi Haji Tanpa Mahram: โ€‹BOLEH menurut mayoritas ulama, dan Inilah yang benar menurut Imam An Nawawiโ€‹

Imam Asy Syafiโ€™i โ€‹Rahimahullahโ€‹:

ูˆู†ู‚ู„ ู‚ูˆู„ุงู‹ ุนู† ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃู†ู‡ุง ุชุณุงูุฑ ูˆุญุฏู‡ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุทุฑูŠู‚ ุขู…ู†ุงู‹

Dikutip perkataan dari Imam Asy Syafiโ€™i bahwa seorang wanita boleh safar seorang diri (untuk haji) jika kondisi jalan aman. โ€‹( โ€‹Subulus Salamโ€‹, 2/183)โ€‹

Imam An Nawawi โ€‹Rahimahullahโ€‹:

ูˆู‚ุงู„ ุนุทุงุก ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ูˆุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ููŠ ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ุนู†ู‡ ู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุงู„ู…ุญุฑู… ุจู„ ูŠุดุชุฑุท ุงู„ุฃู…ู† ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ุง ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง ูŠุญุตู„ ุงู„ุฃู…ู† ุจุฒูˆุฌ ุฃูˆ ู…ุญุฑู… ุฃูˆ ู†ุณูˆุฉ ุซู‚ุงุช ูˆู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ุง ุงู„ุญุฌ ุนู†ุฏู†ุง ุงู„ุง ุจุฃุญุฏ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุดูŠุงุก ูู„ูˆ ูˆุฌุฏุช ุงู…ุฑุฃุฉ ูˆุงุญุฏุฉ ุซู‚ุฉ ู„ู… ูŠู„ุฒู…ู‡ุง ู„ูƒู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ุญุฌ ู…ุนู‡ุง ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ

Dan berkata โ€˜Atha, Said bin Jubeir, Ibnu Sirin, Malik, Al Auzaโ€™i, Asy Syafiโ€™i, dan yang masyhur darinya bahwa adanya mahram bukan syarat, tetapi yang menjadi syarat adalah adanya rasa aman bagi dirinya. Para sahabat kami (Syafiโ€™iyah) mengatakan bahwa rasa aman itu bisa diperoleh dengan suami atau mahram atau wanita-wanita terpercaya, bagi kami kaum wanita tidaklah wajib baginya kecuali satu di antara hal-hal ini, seandainya dia dapatkan satu orang wanita terpercaya maka boleh baginya haji bersamanya. DAN INILAH YANG BENAR. โ€‹( โ€‹Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,โ€‹ 9/104)โ€‹

Imam Ibnu Taimiyah โ€‹Rahimahullahโ€‹:

.ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุชู…ูŠู…ุฉ: ุฅู†ู‡ ูŠุตุญ ุงู„ุญุฌ ู…ู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจุบูŠุฑ ู…ุญุฑู… ูˆู…ู† ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุชุทูŠุน

Imam Ibnu Taimiyah berkata: bahwa Sah hajinya seorang wanita yang pergi tanpa mahram dan hajinya orang yang tidak mampu. โ€‹( โ€‹Subulus Salamโ€‹, 2/184)โ€‹

Imam Ibnu Hazm โ€‹Rahimahullahโ€‹:

ูˆุฅู†ู…ุง ุงุฎุชู„ููˆุง ููŠู…ุง ูƒุงู† ูˆุงุฌุจุง ูˆุงุณุชู†ุจุท ู…ู†ู‡ ุจู† ุญุฒู… ุฌูˆุงุฒ ุณูุฑ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจุบูŠุฑ ุฒูˆุฌ ูˆู„ุง ู…ุญุฑู… ู„ูƒูˆู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู„ู… ูŠุฃู…ุฑ ุจุฑุฏู‡ุง ูˆู„ุง ุนุงุจ ุณูุฑู‡ุง

Para ulama berselisih pendapat tentang safarnya wanita dalam ibadah yang wajib. Imam Ibnu Hazm berpendapat bolehnya safar seorang wanita tanpa suaminya atau tanpa mahramnya sebab kenyataannya Nabi ๏ทบ tidak memerintahkan wanita itu untuk kembali dan tidak mencela safarnya. โ€‹( โ€‹Fathul Bariโ€‹, 4/78)โ€‹

Imam Ibnu Hajar โ€‹Rahimahullahโ€‹:

ูˆุงุณุชุฏู„ ุจุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุญุฌ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ุน ู…ู† ุชุซู‚ ุจู‡ ูˆู„ูˆ ู„ู… ูŠูƒู† ุฒูˆุฌุง ูˆู„ุง ู…ุญุฑู…ุง

Hadits โ€˜Aisyah ini menjadi dalil bolehnya haji seorang wanita bersama orang-orang terpercaya walau pun tidak bersama suaminya dan tanpa mahramnya. โ€‹( โ€‹Fathul Bariโ€‹, 4/75)โ€‹

โœ… Hadits Aisyah โ€‹Radhiallahu โ€˜Anhaโ€‹ yang mana yang dimaksud? Yaitu pertanyaan Aisyah โ€‹Radhiallahu โ€˜Anhaโ€‹:

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ู†ูŽุบู’ุฒููˆ ูˆูŽู†ูุฌูŽุงู‡ูุฏู ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏู ูˆูŽุฃูŽุฌู’ู…ูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ุญูŽุฌู‘ูŒ ู…ูŽุจู’ุฑููˆุฑูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ููŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏูŽุนู ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุฐู’ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

Wahai Rasulullah, boleh kami berperang dan berjihad bersamamu?

Nabi bersabda: โ€œJihad terbaik dan terindah adalah haji yang mabrur.โ€

Lalu โ€˜Aisyah berkata: โ€œMaka aku tidak pernah meninggalkan haji setelah aku mendengarkan perkataan ini dari Rasulullah ๏ทบ .โ€ โ€‹(HR. Al Bukhari No. 1728)โ€‹

Hadits ini juga di komentara Imam Ibnu Baththal Rahimahullah sebagai berikut:

ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ ุชุฑูุน ุชุญุฑูŠุฌ ุงู„ุฑุณูˆู„ ( ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ) ุนู† ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ู…ุณุงูุฑุงุช ุจุบูŠุฑ ุฐู‰ ู…ุญุฑู… ุŒ ูƒุฐู„ูƒ ู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนู‰ ูˆุงู„ุดุงูุนู‰ : ุชุฎุฑุฌ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูู‰ ุญุฌุฉ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ู…ุน ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ู†ุณุงุก ูู‰ ุฑูู‚ุฉ ู…ุฃู…ูˆู†ุฉ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠูƒู† ู…ุนู‡ุง ู…ุญุฑู… ุŒ ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุฐู„ูƒ ุŒ ูˆูƒุงู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูŠุญุฌ ู…ุนู‡ ู†ุณูˆุฉ ู…ู† ุฌูŠุฑุงู†ู‡ ุŒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุนุทุงุก ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ูˆุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูˆุงู„ุญุณู†

Keadaan ini menghilangkan larangan Rasulullah ๏ทบ bagi wanita yang safar tanpa mahram, demikian juga perkataan Malik, Al Auzaโ€™i, Asy Syafiโ€™i: โ€œKeluarnya wanita pergi haji yang wajib bersama jamaah wanita yang terpercaya, walau tidak ada mahram bersamanya. โ€‹MAYORITAS ULAMA MEMBOLEHKAN ITUโ€‹. Dahulu Ibnu Umar haji bersama wnaita tetangganya. Ini merupakan pendapat โ€˜Atha, Saโ€™id bin Jubeir, Ibnu Sirin, dan Al Hasan Al Basri. โ€‹( โ€‹Syarh Shahih Al Bukhari,โ€‹ 4/532)โ€‹

โ€‹โœ… Lalu bagaimana dengan hadits โ€‹โ€œJanganlah seorang wanita bepergian KECUALI bersama mahramnyaโ€?โ€‹โ€‹

Hadits tersebut dikomentari oleh para ulama, sebagai berikut:

ูˆุญู…ู„ู‡ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุตูˆุต ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ู†ู‡ู‰ ุงู„ุฃุณูุงุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ูˆุงุฌุจุฉ ุนู„ูŠู‡ุง ุจุนู…ูˆู… ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ : ( ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุญูุฌู‘ู ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ) [ ุขู„ ุนู…ุฑุงู† : 97 ] ูุฏุฎู„ุช ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูู‰ ุนู…ูˆู… ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุทุงุจ ูˆู„ุฒู…ู‡ุง ูุฑุถ ุงู„ุญุฌ ุŒ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ุชูู…ู†ุน ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ู† ุงู„ูุฑูˆุถ ูƒู…ุง ู„ุง ุชู…ู†ุน ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุตูŠุงู… ุ› ุฃู„ุง ุชุฑู‰ ุฃู† ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชู‡ุงุฌุฑ ู…ู† ุฏุงุฑ ุงู„ูƒูุฑ ุฅู„ู‰ ุฏุงุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุฅุฐุง ุฃุณู„ู…ุช ููŠู‡ ุจุนูŠุฑ ู…ุญุฑู… ุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ูƒู„ ูˆุงุฌุจู ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชุฎุฑุฌ ููŠู‡ ุŒ ูุซุจุช ุจู‡ุฐุง ุฃู† ู†ู‡ูŠู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุฃู† ุชุณุงูุฑ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ุน ุบูŠุฑ ุฐู‰ ู…ุญุฑู… ุฃู†ู‡ ุฃุฑุงุฏ ุจุฐู„ูƒ ุณูุฑู‹ุง ุบูŠุฑ ูˆุงุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

Malik dan MAYORITAS ULAMA mengartikannya secara khusus (bukan untuk semua safar), maksud larangan tersebut adalah untuk safar-safar yang TIDAK WAJIB, berdasarkan keumuman firman Allah ๏ทป : mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah (QS. Ali Imran: 97), dan kaum wanita termasuk pada keumuman pembicaraan ayat ini dan kewajiban haji.

Dan, TIDAK BOLEH MELARANG WANITA dari kewajiban-kewajiban, sebagaimana tidak boleh melarang mereka dari shalat dan puasa. Tidakkah Anda melihat, bahwa wanita diwajibkan berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam, jika di negeri kafir dia tidak memiliki mahram? Maka, demikian juga semua kewajiban yang mengharuskannya dia keluar dari negerinya. Maka, dengan ini telah pasti bahwa larangan Nabi ๏ทป tentang safarnya kaum wanita tanpa mahram adalah pada perjalanan yang tidak wajib baginya. Wallahu Aโ€™lam โ€‹( โ€‹Syarh Shahih Al Bukhariโ€‹, 4/532-533)โ€‹

Namun demikian, dengan mahram atau suaminya tentu lebih baik.

โœ… Sebagian ulama ada yang tetap melarang wanita haji tanpa suami dan mahram, karena menurut mereka larangan tersebut berlaku untuk semua safar. Inilah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. โ€‹(Ibid, 4/532)โ€‹

Wallahu a’lam.

Kedudukan Bulan Muharram


ยฉ Bulan Muharram adalah bulan yang dalam syariat Islam dimasukkan dalam bulan-bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum)

Firman Allah Taโ€™ala:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุนูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ุดู‘ูู‡ููˆุฑู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงุซู’ู†ูŽุง ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒ ุญูุฑูู…ูŒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ูู…ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุธู’ู„ูู…ููˆุง ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’

โ€œSesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat ituโ€ฆ.” (QS. At-Taubah: 36)

โ–ช Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Bakrah ra, bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽุฏูŽุงุฑูŽ ูƒูŽู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุชูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽุŒ ุงู„ุณู‘ูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงุซู’ู†ูŽุง ุนูŽุดูŽุฑูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑุงู‹ุŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒ ุญูุฑูู…ูŒ: ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูุชูŽูˆูŽุงู„ููŠูŽุงุชูŒุ› ุฐููˆ ุงู„ู’ู‚ูŽุนู’ุฏูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฐููˆู’ ุงู„ู’ุญูุฌู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุฌูŽุจู ู…ูุถูŽุฑูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฌูู…ูŽุงุฏูŽู‰ ูˆูŽุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ – ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡

โ€œSesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Syaโ€™ban.โ€ (Muttafaq ‘alaih)

ยฎ Pada keempat bulan ini Allah menekankan agar kita kaum muslimin jangan melakukan perbuatan aniaya (az-zulm), sebagaimana firman-Nya:

ูู„ุง ุชุธู„ู…ูˆุง ููŠู‡ู† ุฃู†ูุณูƒู…

โ€œJangan kalian aniaya diri kalian.โ€

ยฉ Ada dua penafsiran az-zulm (ุงู„ุธู„ู…) dalam ayat di atas.

โ–ชPertama, berperang.

Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan yang diharamkan tersebut. Namun ketentuan ini sebagaimana dikuatkan oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya telah mansukh (dihapus)

โ–ช Kedua, berbuat maksiat dan dosa.

Namun hal ini bukan berarti bahwa bermaksiat dibolehkan pada bulan lainnya. Karena kemaksiatan, apapun bentuknya adalah dilarang, kapan pun dan dimana pun tanpa terkecuali.

ยฎ Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa dikhususkannya larangan bermaksiat pada bulan-bulan ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini di banding bulan-bulan lainnya, dimana kemaksiatan di dalamnya mendapat penekanan untuk dijauhi oleh setiap muslim. Hal tersebut mirip dengan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 238, Allah Taโ€™ala berfirman:

ุญูŽูฐููุธููˆุงŸ ุนูŽู„ูŽู‰ ูฑู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽูฐุชู ูˆูŽูฑู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูฐุฉู ูฑู„ู’ูˆูุณู’ุทูŽู‰ูฐย 

โ€œPeliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha.โ€ (QS. Al-Baqarah: 238)

โ–ช Menjaga seluruh shalat jelas diperin-tahkan, namun menjaga shalat Wustha yang menurut sebagian ulama adalah shalat Ashar, mendapat tekanan khusus untuk kita jaga.

ยฉ Kedudukan bulan Muharram juga dapat dilihat dari nama bulan itu sendiri dan julukan yang diberikan kepadanya.

ยฎ Nama Muharram merupakan sighat mafโ€™ul dari kata Harrama-Yuharrimu, yang artinya diharamkan. Maka kembali kepada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna bahwa pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Taโ€™ala memiliki tekanan khusus yang sangat kuat pada bulan ini.

โ–ช Kemudian dari sisi istilah, bulan ini disebut sebagai โ€œBulan Allahโ€ (ุดู‡ุฑ ุงู„ู„ู‡), sebagaimana terdapat suatu riwayat hadits. Berarti bulan ini disandingkan kepada Lafzul Jalalah (Lafaz ‘Allah’). Para ulama menyatakan bahwa penyandingan makhluk kepada Lafzul Jalalah, memiliki makna tasyrif (pemu-liaan), sebagaiman istilah Baitullah, Rasulullah, Abdullah, dan sebagainya.

Aqiqah Ketika Dewasa, Bolehkah?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Ustad mengenai aqiqah .bolehkan orang yg sdh tua umurnya mengaqiqahkan dirinya sendiri krn kedua orang tuanya blm mengaqiqahkannya sejak lahir.dn kedua ortunya sdh wafat.

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Bismillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man Waalah wa Bad:

Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal) unuk aqiqah, tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ูƒู„ู‘ู ุบู„ุงู…ู ุฑู‡ูŠู†ุฉูŒ ุจุนู‚ูŠู‚ุชู‡: ุชุฐุจุญ ุนู†ู‡ ูŠูˆู… ุณุงุจุนู‡ุŒ ูˆูŠุญู„ู‚ุŒ ูˆูŠุณู…ู‰

โ€œSetiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.โ€ (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. Lihat Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr. Syaikh Al Albani, Irwaโ€™ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. )

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

ูููŠู‡ู ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ู…ููŠูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุฏู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽู…ู’ู„ู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ู…ููŠูŽุฉูŽ ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซู ุณูŽู…ูุฑูŽุฉูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูู‚ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ู…ููŠูŽุฉู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽุจู’ุญู .
ูˆูŽูููŠู‡ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุถู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ ูˆูŽุฐูŽุจู’ุญู ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู .

โ€œDalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu. (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, memberikan syarah (penjelasan) demikian:

ูููŠู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูˆูŽู‚ู’ุช ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ุณูŽุงุจูุน ุงู„ู’ูˆูู„ูŽุงุฏูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูุดู’ุฑูŽุน ู‚ูŽุจู’ู„ู‡ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏู‡ ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ุชูŽุฌู’ุฒููŠ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุน ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซ ู„ูู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุจู’ู† ุจูุฑูŽูŠู’ุฏูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ุชูุฐู’ุจูŽุญ ู„ูุณูŽุจู’ุน ูˆูŽู„ูุฃูŽุฑู’ุจูŽุน ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽู„ูุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ” ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูุจูู„ . ูˆูŽู†ูŽู‚ูŽู„ูŽ ุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู… ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูุฐู’ุจูŽุญ ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ูŠูŽูˆู’ู… ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุน ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽู‡ูŽูŠู‘ูŽุฃ ููŽูŠูŽูˆู’ู… ุงู„ุฑู‘ูŽุงุจูุน ุนูŽุดูŽุฑ ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽู‡ูŽูŠู‘ูŽุฃ ุนูŽู‚ู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูŠูŽูˆู’ู… ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ .

โ€œDalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21. Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21. (Aunul Mabud, 8/28. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran. Berikut keterangannya:

ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ู…ุณุงุฆู„ ุณู…ุนุช ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุชุฐุจุญ ูŠูˆู… ุงู„ุณุงุจุน ูˆู‚ุงู„ ุตุงู„ุญ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ู‚ุงู„ ุฃุจูŠ ููŠ ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุชุฐุจุญ ูŠูˆู… ุงู„ุณุงุจุน ูุฅู† ู„ู… ูŠูุนู„ ูููŠ ุฃุฑุจุน ุนุดุฑุฉ ูุฅู† ู„ู… ูŠูุนู„ ูููŠ ุฅุญุฏู‰ ูˆุนุดุฑูŠู† ูˆู‚ุงู„ ุงู„ู…ูŠู…ูˆู†ูŠ ู‚ู„ุช ู„ุฃุจูŠ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ุชู‰ ูŠุนู‚ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ ุฃู…ุง ุนุงุฆุดุฉ ูุชู‚ูˆู„ ุณุจุนุฉ ุฃูŠุงู… ูˆุฃุฑุจุนุฉ ุนุดุฑุฉ ูˆู„ุฃุญุฏ ูˆุนุดุฑูŠู† ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุทุงู„ุจ ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ุชุฐุจุญ ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ู„ุฃุญุฏ ูˆุนุดุฑูŠู† ูŠูˆู…ุง ุงู†ุชู‡ู‰

โ€œAbu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: Ada pun Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21. Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai. (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Saad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Saad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafii, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ูˆุงู„ุฐุจุญ ูŠูƒูˆู† ูŠูˆู… ุงู„ุณุงุจุน ุจุนุฏ ุงู„ูˆู„ุงุฏุฉ ุฅู† ุชูŠุณุฑุŒ ูˆุฅู„ุง ูููŠ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุฑุงุจุน ุนุดุฑ ูˆุฅู„ุง ูููŠ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ูˆุงุญุฏ ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ู…ู† ูŠูˆู… ูˆู„ุงุฏุชู‡ุŒ ูุฅู† ู„ู… ูŠุชูŠุณุฑ ูููŠ ุฃูŠ ูŠูˆู… ู…ู† ุงู„ุงูŠุงู…. ูููŠ ุญุฏูŠุซ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ: ุชุฐุจุญ ู„ุณุจุนุŒ ูˆู„ุงุฑุจุน ุนุดุฑุŒ ูˆู„ุงุญุฏูŠ ูˆุนุดุฑูŠู†.

โ€œPenyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21. (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

ูˆูŽู†ูŽู‚ูŽู„ูŽ ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูุฌู’ุฒูุฆู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนู ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ู…ูุฌูŽุงุฒูŽููŽุฉูŒ ู…ูŽุง ุนูŽุฑูŽูู’ุช ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูƒููˆุฑู .

โ€œPengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan. (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

ุนู‚ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ู†ูุณู‡ ุจุนุฏ ู…ุง ุจุนุซ ุจุงู„ู†ุจูˆุฉ

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.โ€ (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa. Shahihkah hadits ini?

Sanad hadits ini dhaif. Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Main mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang). Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah). Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.

Abu Zurah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Tadil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhuafa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Marifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhuafa, 2/310. Darul Kutub Al ilmiyah)

Imam An Nasai mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasai, Adh Dhuafa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zailai, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini, ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.

Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan. Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (saksi penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Jafar Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู‚ ุนู† ู†ูุณู‡ ุจุนุฏู…ุง ุฌุงุกุชู‡ ุงู„ู†ุจูˆุฉ

Bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Sanad hadits ini: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas: (lalu disebutkan ucapan di atas)

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang riwayat ini:

ู‚ู„ุช : ูˆ ู‡ุฐุง ุฅุณู†ุงุฏ ุญุณู† ุฑุฌุงู„ู‡ ู…ู…ู† ุงุญุชุฌ ุจู‡ู… ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ููŠ ” ุตุญูŠุญู‡ ” ุบูŠุฑ ุงู„ู‡ูŠุซู… ุงุจู† ุฌู…ูŠู„ ุŒ ูˆ ู‡ูˆ ุซู‚ุฉ ุญุงูุธ ู…ู† ุดูŠูˆุฎ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Mujam Al Awsath No. 1006. Sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI. (As Silsilah Ash Shahihah No. 2726)

Ulama yang membolehkan adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha, sebagian Hambaliyah dan Syafiiyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

ูˆู‚ุงู„ ุฃู† ูุนู„ู‡ ุฅู†ุณุงู† ู„ู… ุฃูƒุฑู‡ู‡

โ€œDia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.โ€ (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirrin berkata:

ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนูŽู‚ู‘ูŽ ุนูŽู†ู‘ููŠ ุŒ ู„ูŽุนูŽู‚ูŽู‚ู’ุชู ุนูŽู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููŠ.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุนู‚ ุนู†ูƒ ุŒ ูุนู‚ ุนู† ู†ูุณูƒ ูˆ ุฅู† ูƒู†ุช ุฑุฌู„ุง

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, berdasarkan dalil-dalil ini, inilah pendapat yang lebih kuat, Insya Allah.
Kalimat ini berlaku juga u perempuan.

Wallahu a’lam.