Apakah Syiah Termasuk Mazhab?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Izin bertanya Ustadz, Apakah Syi’ah itu termasuk Mazhab juga atau di luar itu ?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Syiah adalah sebuah firqah (kelompok) dan madzhab dalam aqidah.

Mereka terbagi 3 kelompok:
1. Ghaliyah, esktrim. Menuduh Al Qur’an lengkapnya di Ali Radhiyallahu ‘Anhu, memberikan sifat2 ketuhanan kepada Ali, dst. Mereka kafir, bahkan dikafirkan oleh sesama Syiah.

2. Rafidhah, ini Syiah mayoritas. Mereka membenci para sahabat nabi, mulai dari memaki sampai mengkafirkan. Selain itu, mereka menuduh para sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam telah memalsukan Al Qur’an, merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Talib.

Mereka menuduh mayoritas sahabat nabi murtad pasca wafat nabi, kecuali Salman Al Farisi, Miqdad bin Al Aswad, dan Abu Dzar.

Kebencian mereka kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Muawiyah, Abu Hurairah .. sangat luar biasa.

Oleh karena itu, sebagian Imam Ahlus Sunnah memfatwakan kafirnya Rafidhah, sebagian lain mengatakan ahli bid’ah, tergantung sejauh mana sikap mereka thdp sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam.

3. Syiah Zaidiyah, Syiah moderat. Masih menghormati para sahabat nabi, tetapi tetap lebih mengunggulkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu baik dalam kedudukan dan kekhalifahan.

​LAMPIRAN​
🍀🌻Kafirnya Syiah Menurut Ulama Terdahulu dan 4 Madzhab🌻🍀

Berikut ini fatwa para Imam Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang mencela, memaki, hingga mengkafirkan para sahabat nabi. Dalam sejarah ada tiga golongan yang mencela para sahabat nabi. Pertama, golongan syiah yang telah mencela umumnya sahabat nabi, bahkan mengkafirkan umumnya para sahabat, kecuali Miqdad, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Kedua , golongan khawarij yang telah mengkafirkan Ali, Muawiyah, Abu Musa, Amr bin Al ‘Ash, dan ketiga, golongan nashibi yang telah menghina Ali, Fathimah, dan keturunannya.

🔷 Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah Berikut ini keterangannya:

قيل للحسن – رضي الله عنه -: «يا أبا سعيد، إن هاهنا قوماً يشتمون أو يلعنون معاوية و ابن الزبير». فقال: «على أولئك الذين يلعنون، لعنة الله

Ditanyakan kepada Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu : “Wahai Abu Sa’id, di sini ada kaum yang suka mencela dan melaknat Mu’awiyah dan Ibnuz Zubeir.” Beliau menjawab: “Atas merekalah laknat Allah itu.” (Ibnu ‘Asakir, At Tarikh, , 59/206)

🔶 Imam Malik bin Anas Rahimahullah Imam Malik mengomentari ayat: Liyaghizhabihimul kuffar (adanya sahabat nabi membuat orang-orang kafir marah):

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah –dalam sebuah riwayat darinya- memutuskan kafirnya kaum rafidhah, orang-orang yang membenci para sahabat. Beliau berkata: “Karena mereka murka terhadap para sahabat, maka itu adalah kafir menurut ayat ini.” Segolongan ulama menyetujui pendapat ini. Dan telah banyak hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka dengan keburukan, cukuplah bagi mereka pujian dari Allah dan keridhaanNya bagi mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/362) 

🔷 Imam Abu Zur’ah Rahimahullah Beliau berkata:
فإذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله –
صلى الله عليه وسلم – فاعلم أنّه زنديق

Jika kamu melihat seorang laki-laki yang mencela satu saja sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq! (Al Kifayah Lil Khathib Al Baghdadi, Hal. 97)

🔶 Imam Al Qurthubi Rahimahullah Beliau berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته و أصاب في تأويله، فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد ردَّ على الله رب العالمين و أبطل شرائع المسلمين

Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik dan benarlah ta’wilnya itu, bahwa barang siapa yang mencederai satu saja di antara mereka (para sahabat), atau menyerang mereka pada riwayat riwayat yang di bawa oleh mereka, maka sama saja telah membantah Allah Rabb semesta alam dan membatalkan syariat kaum muslimin. (Tafsir Al Qurthubi, 16/297)

Sebab berbagai syariat yang ada dan dilakukan oleh mayoritas umat Islam karena berasal dari periwayatan para sahabat nabi, maka apa jadinya jika para sahabat dicela bahkan dikafirkan? Tentu sama saja menganggap mereka tidak pantas membawa riwayat tersebut, dan gugurlah berbagai macam syariat tersebut.

🔷 Imam Al Auza’i Rahimahullah Beliau berkata:

من شتم أبا بكر الصديق – رضي الله عنه – فقد ارتد عن دينه و أباح دمه

Barang siapa yang mencela Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, maka dia telah murtad dari agamanya dan halal darahnya (maksudnya boleh dihukum mati, pen). (Syarh Al Ibanah, Hal. 161)

🔶 Imam Ali Al Qari Rahimahullah Beliau berkata:

و أما من سبَّ أحداً من الصحابة فهو فاسق و مبتدع بالإجماع، إلا إذا اعتقد أنه مباح، كما عليه بعض الشيعة و أصحابهم، أو يترتب عليه ثواب، كما هو دأب كلامهم، أو اعتقد كفر الصحابة و أهل السنة، فإنه كافر بالإجماع

Ada pun barang siapa yang mencela seorang saja dari sahabat nabi, maka dia fasik dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) menurut ijma’, – kecuali jika orang itu meyakini mencela sahabat itu boleh sebagaimana yang diyakini sebagian syiah dan para pengikutnya, atau yang meyakini bahwa mencela para sahabat akan mendapatkan pahala seperti yang biasa mereka katakan, atau meyakini bahwa para sahabat dan ahlus sunah adalah kafir- maka orang itu adalah kafir menurut ijma’. (Syammul ‘Awaridh fi Dzammir Rawafidh, Hal. 16. Masih Manuskrip)

🔷Al Qadhi Abu Ya’la Rahimahullah Beliau berkata:

من قذف عائشة بما برأها الله منه كفر بلا خلاف. و قد حكى الإجماع على هذا غير واحد، و صرّح غير واحد من الأئمة بهذا الحكم

Barang siapa yang melemparkan tuduhan kepada ‘Aisyah dengan tuduhan yang Allah Ta’ala jauhi dia dengan tuduhan itu, maka dia kafir dan tanpa perbedaan pendapat. Telah diceritakan adanya ijma tentang hal ini, lebih dari satu ulama yang menyatakan itu. Tentang hukum ini lebih dari satu ulama pula yang mengeluarkan hukum seperti ini. (Syubhat Rafidhah Haula Ash Shahabah, Hal. 31)

🔶 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah Abu Bakar Al Marwadzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal:

أيما أفضل، معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟». فقال: «معاوية أفضل! لسنا نقيس بأصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحداً. قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: خير الناس قرني الذي بعثت فيهم

Mana yang lebih utama, Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Mu’awiyah lebih utama! Kami tidak pernah menyetarakan seorang pun dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sebaik-baik manusia adalah pada zamanku yaitu di mana aku diutus pada mereka. (Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, 2/434)

🔷 Imam Sarakhsi Rahimahullah Beliau berkata:

فمن طعن فيهم فهو ملحد منابذ للإسلام دواؤه السيف إن لم يتب

Barang siapa yang mencela para sahabat nabi, maka dia adalah mulhid (atheis) yang melawan Islam, maka boleh ditebas dengan pedang jika dia tidak bertobat. (Al Ushul, 2/134)

🔶 Imam Ibnu Hazm Az Zhahiri ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau berkata,
“Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang menyangka bahwa orang Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal muncul setelah wafatnya Rasulullah (, sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/ 213)

Ada pun para imam 4 madzhab sebagai berikut:

1⃣ Madzhab Hanafi
Dari kalangan ulama Hanafiyah, “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat ‘Syaikhaini’ (Abu Bakar dan Umar) maka dia kafir, demikian halnya dengan pengkafiran terhadap Usman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan Aisyah –semoga Allah meridhai mereka- (juga adalah kafir)” (Al Fatawa Al Hindiyah, 2/286)

2⃣ Madzhab Maliki
Imam Malik berkata: “Jika dia berkata bahwa para sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat”. (Asy Syifa bi Ta’rif Huquq Al Mushthafa, 2/1108)

Imam Ibnu Katsir berkata:

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. 

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah memutuskan, dalam sebuah riwayat darinya, bahwa kafirnya Rafidhah (syiah) yaitu golongan yang marah kepada sahabat nabi. Beliau (Imam Malik) berkata: “Karena mereka murka kepada para sahabat, maka barang siapa yang murka kepada para sahabat nabi maka dia KAFIR menurut ayat ini. (maksudnya Al Fath: 29). Dan, segolongan ulama menyepakati fatwa Imam Malik atas kafirnya Syiah ini. ( Tafsir Al Quran Al Azhim, 7/362)

3⃣ Madzhab Syafi’i
Dari kalangan ulama Syafi’iyah, “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengkafirkan sahabat.” (Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 7/290)

4⃣ Madzhab Hambali
Dari kalangan ulama Hanabilah, Imam Ibnu Taimiyah berkata: “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi telah murtad atau fasik setelah Nabi wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir. ” (Al Mukhtashar ash Sharim al Maslul, hal. 128).
Sekian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

RIYADHUS SHALIHIN (36)​


📕 ​Bab Sabar – Seni Bersabar & Menyabarkan​

​Hadits:​

وعن أنسٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ : كَانَ ابنٌ لأبي طَلْحَةَ – رضي الله عنه – يَشتَكِي ، فَخَرَجَ أبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبيُّ ، فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ ،
قَالَ : مَا فَعَلَ ابْنِي ؟ قَالَتْ أمُّ سُلَيم وَهِيَ أمُّ الصَّبيِّ : هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ ، فَقَرَّبَتْ إليه العَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ منْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ ، قَالَتْ : وَارُوا الصَّبيَّ فَلَمَّا أَصْبحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأخْبَرَهُ ،

فَقَالَ : أعَرَّسْتُمُ اللَّيلَةَ ؟
قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا، فَوَلَدَتْ غُلاماً ، فَقَالَ لي أَبُو طَلْحَةَ : احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – ، وَبَعَثَ مَعَهُ بِتَمَراتٍ ،
فَقَالَ : أَمَعَهُ شَيءٌ ؟
قَالَ : نَعَمْ ، تَمَراتٌ ، فَأخَذَهَا النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا في فِيِّ الصَّبيِّ ، ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبدَ الله .
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

وفي رواية للبُخَارِيِّ :
قَالَ ابنُ عُيَيْنَةَ : فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصارِ : فَرَأيْتُ تِسعَةَ أوْلادٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَؤُوا القُرْآنَ ، يَعْنِي : مِنْ أوْلادِ عَبدِ الله المَولُودِ .

وَفي رواية لمسلمٍ :
مَاتَ ابنٌ لأبي طَلْحَةَ مِنْ أمِّ سُلَيمٍ ، فَقَالَتْ لأَهْلِهَا : لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ، فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْه عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذلِكَ ، فَوَقَعَ بِهَا . فَلَمَّا أَنْ رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وأَصَابَ مِنْهَا ، قَالَتْ : يَا أَبَا طَلْحَةَ ، أَرَأَيتَ لو أنَّ قَوماً أعارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ ، أَلَهُمْ أن يَمْنَعُوهُمْ ؟ قَالَ : لا ، فَقَالَتْ : فَاحْتَسِبْ ابْنَكَ ، قَالَ : فَغَضِبَ ، ثُمَّ قَالَ : تَرَكْتِني حَتَّى إِذَا تَلطَّخْتُ ، ثُمَّ أخْبَرتني بِابْنِي ؟! فانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: بَارَكَ اللهُ في لَيْلَتِكُمَا،
قَالَ : فَحَمَلَتْ . قَالَ : وَكانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – في سَفَرٍ وَهيَ مَعَهُ ، وَكَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَتَى المَدِينَةَ مِنْ سَفَرٍ لاَ يَطْرُقُهَا طُرُوقاً فَدَنَوا مِنَ المَدِينَة ، فَضَرَبَهَا المَخَاضُ ، فَاحْتَبَسَ عَلَيْهَا أَبُو طَلْحَةَ ، وانْطَلَقَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – .

قَالَ : يَقُولَ أَبُو طَلْحَةَ : إنَّكَ لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أَنَّهُ يُعْجِبُنِي أنْ أخْرُجَ مَعَ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ وَأَدْخُلَ مَعَهُ إِذَا دَخَلَ وَقَدِ احْتَبَسْتُ بِمَا تَرَى ، تَقُولُ أُمُّ سُلَيْمٍ : يَا أَبَا طَلْحَةَ ، مَا أَجِدُ الَّذِي كُنْتُ أجدُ انْطَلِقْ ، فَانْطَلَقْنَا وَضَرَبَهَا المَخَاضُ حِينَ قَدِمَا فَوَلدَت غُلامَاً . فَقَالَتْ لِي أمِّي : يَا أنَسُ ، لا يُرْضِعْهُ أحَدٌ حَتَّى تَغْدُو بِهِ عَلَى رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا أصْبَحَ احْتَمَلْتُهُ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ..وَذَكَرَ تَمَامَ الحَدِيثِ .

​Artinya:​

Artinya :
Dari Anas r.a., katanya: “Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi – kemudian anaknya itu dicabutlah ruhnya – meninggal dunia.

Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: “Bagaimanakah keadaan anakku?”

Ummu Sulaim, yaitu ibu anak tersebut – isterinya Abu Thalhah – menjawab: “Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya.”

Isterinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhi isterinya itu.

Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Makamkanlah anak itu.” Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut – kematian anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama isterinya.

Kemudian Nabi bersabda: “Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?”

Abu Thalhah menjawab: “Ya.”

Beliau lalu bersabda pula: “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan isterinya.

Selanjutnya Ummu Sulaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku – aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini: “Bawalah ia sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma.

Nabi s.a.w. bersabda: “Adakah besertanya sesuatu benda?”
Ia -Anas- menjawab: “Ya. ada beberapa biji buah kurma.” Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian:
Ibnu ‘Uyainah berkata: “Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: “Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, yaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu isterinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: “Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti.”

Abu Thalhah – yang saat itu berpergian – lalu datanglah, kemudian isterinya menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya isterinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi isterinya. Sewaktu isterinya telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai menyetubuhinya, ia pun berkatalah pada Abu Thalhah: “Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?”

Abu Thalhah menjawab: “Tidak boleh menolaknya – yakni harus menyerahkannya.” Kemudian berkata pula isterinya: “Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?”

Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: “Engkau biarkan aku tidak mengetahui – kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran – maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku.”
Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu.”

Anas r.a. berkata: “Kemudian isterinya hamil.”

Anas r.a. melanjutkan katanya: “Rasulullah s.a.w. sedang dalam berpergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula – bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari berpergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit karena hendak melahirkan, maka oleh sebab Abu Thalhah tertahan – yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat.”

Anas berkata: “Setelah itu Abu Thalhah berkata: “Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahwa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar berpergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar berpergian dan untuk masuk -tetap di negerinya – bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk.

Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui.”

Ummu Sulaim lalu berkata: “Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan – jikalau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kita pun – maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan isterinya – berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki.

Ibuku – yakni ibu Anas r.a. – berkata padaku – pada Anas r.a.: “Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w.”

Ketika waktu pagi menjelma, saya – Anas r.a. – membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan ceritera Hadis ini sampai selesainya.

​Keterangan:​
Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku isteri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu.

Sementara itu Hadis di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seseorang isteri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama.

Demikian pula isteri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran.

Jadi salah sekali, apabila seseorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya. Juga salah pula apabila seorang isteri itu kurang memerhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, atau pun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan.

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

DOWNLOAD MP3 KAJIAN KITAB DISINI

Selamat menyimak.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (4/5)​


​​Kecakapan Teknikal, Semua Musti Memilikinya​​

Setelah dieksekusinya Muhiddin Piri Reis terkait fitnah atas tindakannya meninggalkan armada Turki Utsmani di Basra maka ditugaskan Kapten (Reis) Murad Yaşlı (Bapak Tua) untuk menyelesaikannya. Viceroy untuk Kegubernuran Portugis di India dipegang oleh Afonso de Noronha (November 1550-September 1554).

Ekspedisi besar keempat ini dipimpin oleh Murad Reis Yaşlı yang kedudukannya pada waktu itu adalah Sancak-Beğ untuk Qatif atau setara gubernur. Qatif adalah sebuah pelabuhan di pesisir barat Teluk Arab sekitar 50 kilometer sebelah utara Pulau Bahrain. Murad Reis ditugaskan untuk membawa armada yang tertambat di Basra balik ke pangkalan utama Armada Samudera Hindia di Suez.

Dalam pelayarannya mendekati Selat Hormuz pada bulan Juli 1553, armada Murad Reis tercegat oleh patroli armada Dom Diogo de Noronha sehingga terpaksa bertempur. Sejarah mencatat ini sebagai pertempuran di laut terbesar antara armada Portugis dan Turki Utsmani. Murad Reis berhasil menenggelamkan kapal bendera Noronha. Namun, perubahan arah angin secara mendadak membuat Murad Reis kewalahan menghadapi kapal-kapal Portugis yang lebih gesit. Oleh sebab itu Beliau memutuskan untuk menarik mundur sisa armadanya kembali ke Basra.

Salah satu taktik yang dilakukan oleh Murad Reis untuk menyelamatkan armadanya adalah dengan manuver ke laut dangkal penuh karang. Hal ini menyebabkan sisa armada Portugis tidak berani mengejarnya diantara pulau-pulau lepas pantai Hormuz itu.

Armada Portugis juga tidak memanfaatkan perubahan cuaca ini untuk mengejar armada kekhilafahan Turki Utsmani. Mungkin juga tenggelamnya kapal bendera membuat mereka ragu-ragu.

Agung Waspodo, merasa perlu belajar pelayaran.

Kalibata, 23 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (4/5)​


​​Kecakapan Teknikal, Semua Musti Memilikinya​​

Setelah dieksekusinya Muhiddin Piri Reis terkait fitnah atas tindakannya meninggalkan armada Turki Utsmani di Basra maka ditugaskan Kapten (Reis) Murad Yaşlı (Bapak Tua) untuk menyelesaikannya. Viceroy untuk Kegubernuran Portugis di India dipegang oleh Afonso de Noronha (November 1550-September 1554).

Ekspedisi besar keempat ini dipimpin oleh Murad Reis Yaşlı yang kedudukannya pada waktu itu adalah Sancak-Beğ untuk Qatif atau setara gubernur. Qatif adalah sebuah pelabuhan di pesisir barat Teluk Arab sekitar 50 kilometer sebelah utara Pulau Bahrain. Murad Reis ditugaskan untuk membawa armada yang tertambat di Basra balik ke pangkalan utama Armada Samudera Hindia di Suez.

Dalam pelayarannya mendekati Selat Hormuz pada bulan Juli 1553, armada Murad Reis tercegat oleh patroli armada Dom Diogo de Noronha sehingga terpaksa bertempur. Sejarah mencatat ini sebagai pertempuran di laut terbesar antara armada Portugis dan Turki Utsmani. Murad Reis berhasil menenggelamkan kapal bendera Noronha. Namun, perubahan arah angin secara mendadak membuat Murad Reis kewalahan menghadapi kapal-kapal Portugis yang lebih gesit. Oleh sebab itu Beliau memutuskan untuk menarik mundur sisa armadanya kembali ke Basra.

Salah satu taktik yang dilakukan oleh Murad Reis untuk menyelamatkan armadanya adalah dengan manuver ke laut dangkal penuh karang. Hal ini menyebabkan sisa armada Portugis tidak berani mengejarnya diantara pulau-pulau lepas pantai Hormuz itu.

Armada Portugis juga tidak memanfaatkan perubahan cuaca ini untuk mengejar armada kekhilafahan Turki Utsmani. Mungkin juga tenggelamnya kapal bendera membuat mereka ragu-ragu.

Agung Waspodo, merasa perlu belajar pelayaran.

Kalibata, 23 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Hukum Liur dan Bulu Kucing, Najiskah?​


Bismillah wal Hamdulillah ..

Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ -فِي اَلْهِرَّةِ-: – إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ, إِنَّمَا هِيَ مِنْ اَلطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ – أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ. وَابْنُ خُزَيْمَةَ

📌 Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang Al Hirrah (kucing): “Sesungguhnya kucing bukan najis, dia hanyalah hewan yang biasa beredar disekeliling kalian.” (HR. At Tirmidzi No. 92, Abu Daud No. 75, 76, An Nasa’i No. 68, Ibnu Majah No. 367, Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya, Kitabuth Thaharah, No. 567)

Status hadits ini, sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram, dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Ibnu Khuzaimah. Imam Al Hakim mengatakan: Shahih. Beliau juga mengatakan hadits ini dishahihkan oleh Imam Malik dan dia berhujjah dengan hadits ini dalam kitabnya, Al Muwaththa’. Imam Adz Dzahabi juga menshahihkan hadits ini dalam At Talkhish. (Lihat Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/263, No. 567. Cet. 1, 1990M-1411H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tahqiq: Syaikh Mushthafa Abdul Qadir ‘Atha)

Syaikh Dr. Muhammad Mushthafa Al A’zhami mengatakan: isnadnya shahih. (Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/54. Tahqiq: Dr. Muhammad Mushthafa Al A’zhami. Al Maktab Al Islami, Beirut) Imam Al Baghawi mengatakan: hasan shahih. (Syarhus Sunnah No. 286) Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: “Hadits ini shahih dan terkenal, diriwayatkan oleh para imam dunia.” (Badrul Munir, 1/551)

📚 ​Makna Hadits:​

🔹 1. Apakah maksud bahwa kucing adalah hewan yang Ath Thawwaafiin – الطوافين ?

Penyebutan kucing sebagai Ath Thawwaafiin, menunjukkan kedudukannya di tengah kehidupan manusia, termasuk umat Islam.

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah menjelaskan:

الطّائف : الخادمُ الذي يَخْدُمُك برفْقٍ وعنَاية

Ath Thaa-if adalah pelayan yang melayanimu dan menolongmu dengan lembut. (Imam Ibnul Atsir, An Nihayah fi Gharibil Atsar, 3/323. 1979M-1399H. Maktabah Al ‘Ilmiyah, Beirut. Lihat juga Imam Ibnul Jauzi, Gharibul Hadits, 2/43. Cet. 1, 1985M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

ومعنى الطوافين علينا الذين يداخلوننا ويخالطوننا ومنه قول الله عز وجل في الأطفال: {طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ} [النور: من الآية58].

Makna dari “berputar di sekitar kita”: (mereka) adalah yang masuk dan membaur dalam kehidupan kita, dan di antaranya yang seperti ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang anak-anak: (mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian yang lain). (Imam Abu Umar bin Abdil Bar, At Tamhid, 1/319. Musasah Al Qurthubah)

Imam Al Kasymiri Rahimahullah mengatakan:

وإنما هي كمتاع البيت

Sesungguhnya kucing itu seperti perhiasan rumah. (Imam Al Kasymiri Al Hindi, Al ‘Urf Asy Syaadzi, 1/130. Cet. 1. Muasasah Dhuha. Tahqiq: Syaikh Mahmud Ahmad Syakir. Ini juga merupakan ucapan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, Lihat At Tamhid, 1/320)

🔹2. Hadits ini menunjukkan kesucian kucing, termasuk liurnya, dan ini merupakan salah satu kasih sayang Allah Ta’ala kepada umat ini. Sebab, kebersamaan mereka dengan manusia begitu erat, maka akan sulitlah jika mereka dikategorikan najis.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata:

يعني من الحيوانات التي تترد كثيرا عليكم ولو كان نجسا لشق عليكم

Yakni termasuk hewan yang banyak mondar mandir disekitar kalian, seandainya dia najis niscaya kalian akan menjadi sulit/payah/sempit. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘Ala Bulughil Maram, 2/35)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

وفيه أن الهر ليس ينجس ما شرب منه وأن سؤره طاهر وهذا قول مالك وأصحابه والشافعي وأصحابه والأوزاعي وأبي يوسف القاضي والحسن بن صالح بن حي

Pada hadits ini menunjukkan bahwa apa-apa yang diminum kucing tidaklah najis, dan air sisanya adalah suci. Inilah pendapat Malik dan para sahabatnya, Asy Syai’i dan para sahabatnya, Al Auza’i, Abu Yusuf Al Qadhi, Al Hasan bin Shalih bin Hay. (At Tamhid, 1/319)

Syaikh Abul Hasan ‘Ubaidullah Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil sucinya kucing secara zat, dan liurnya bukan najis, boleh berwudhu dari sisa minumnya, dan tidak makruh berwudhu di air bekasnya, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah. Hadits ini sebagai koreksi bagi pihak yang menyatakan makruhnya berwudhu dengan sisa air minum kucing, dengan makruh tahrimiyah atau tanzihiyah. (Mir’ah Mafatih Syarh Misykah Al Mashaabih, 2/183. Cet. 3, 1404H-1984M. Al Jaami’ah As Salafiyah)

🔹3. Karena air liurnya suci, maka apakah boleh berwudhu dengannya?

Dalam hal ini ada dua pendapat secara umum:

Pertama, boleh dan ini pendapat mayoritas ulama.
Kedua, makruh dan ini pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah dan pengikutnya.

Pendapat mayoritas adalah pendapat yang lebih kuat, karena dikuatkan oleh dalil lainnya. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, Beliau berkata:

وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ بفضلها

Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu dengan air sisa kucing. (HR. Abu Ja’far Ath Thahawi, Bayan Musykilul Aatsar, No. 73)

Sementara, kalangan Hanafiyah terdahulu membela madzhabnya dengan mentakwil hadits ini, seperti yang dikatakan oleh Imam Mula Ali Al Qari Al Hanafi Rahimahullah, katanya:

وهذا منه صلى الله عليه وسلم لبيان الجواز ، فلا ينافي ما ذكره علماؤنا من أن سؤره مكروه يعني الأولى ألا يتوضأ منه إلا إذا عدم غيره.

Inilah hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan kebolehannya, namun ini tidak menafikan apa yang disebutkan oleh ulama kami bahwa air sisanya adalah makruh, yaitu lebih utama adalah tidak berwudhu dari air tersebut, kecuali jika tidak ada air lain selain itu. (Syarh Musnad Abi Hanifah, Hal. 258)

Namun, umumnya kalangan Hanafiyah justru mengikuti pendapat mayoritas ulama yaitu bolehnya berwudhu dengan air sisa minumnya kucing.

Berikut ini keterangannya:

وَفِي مَجْمَع الْبِحَار أَنَّ أَصْحَاب أَبِي حَنِيفَة خَالَفُوهُ وَقَالُوا لَا بَأْس بِالْوُضُوءِ بِسُؤْرِ الْهِرَّة وَاَللَّه تَعَالَى أَعْلَمُ .

Disebutkan dalam Majma’ Al Bihaar bahwa para sahabat (pengikut) Abu Hanifah menyelisihi pendapatnya. Mereka mengatakan: Tidak apa-apa wudhu dengan air sisa dari kucing. Wallahu Ta’ala A’lam. (Hasyiyah As Suyuthi was Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 1/59. Mawqi’ Al islam)

Selesai. Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Suamiku…


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau bertanya ustadz,
1. Bagaimana batasan berhias bagi muslimah baik yg sudah menikah atau yang belum menikah?
2. Bagaimana seharusnya menurut islam , sikap istri yg tidak pernah dinafkahi bathin oleh suaminya selama lebih kurang 9 th, namun tetap dinafkahi lahir. Walau suaminya pun memenuhi kebutuhan keluarga, anak, walau untuk kebutuhan istri tetap istri memenuhi sendiri kecuali makan, tp selebihnya istri memenuhi sendiri, suami selalu sholat dimasjid, dan melaksanakan sunnah2 yang lain, suaminya juga sangat pendiam, sehingga komunikasi tdk terlalu bagus

Persoalannya: tdk menafkahi bathin, bahkan info yang kami dptkan, tidurnya tdk 1 kasur walau satu kamar, suami tdk pernah sekalipun membuka auratnya di depan istrinya, kalo istrinya ganti baju di kamar suaminya keluar , selama 9 th tadi 2 th istri pernah bertanya kenapa tdk pernah jima’ padahal istri sudah mengajak, suami diam atau marah, setelah itu katanya istri nya tdk pernah bertanya lagi, namun istrinya merasa tersiksa krn istri membutuhkan nafkah batin, bahkan cenderung lebih. Kalo demikian bolehkah mastrubasi. Member Manis 🅰2⃣8⃣

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. ☘Di dalam Islam tidak ada perbedaan dalam berhias untuk mereka yg sudah nikah atau belum. Batasannya firman Allah :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

” dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Surat Al-Ahzab : 33)

2.☘ Dari uraian pertanyaan. Komentar saya lho ko bisa sampai 9 thn tidak mengetahui kondisi suami. Kalau benar demikian berarti suami dalam keadaan sakit . Hal yg prioritas yg harus dilakukan adalah berkomunikasi dari hati ke hati coba cari tahu akar masalahnya kalau hanya lemah syahwat sebenarnya istri berperan besar untuk membantu menyembuhkan.

Waktu 9 tahun bukan waktu singkat dan dalam keadaan demikian istri tetap tidak boleh mastrubasi, kenapa? Karena secara psychologis berpotensi menimbulkan kemudharatan yg lebih besar seperti penyimpangan Sex. Bila dirasa memang sudah tidak sanggup jalan keluar yang dibolehkan syariat adalah gugat cerai.
Alasannya :
Suami tidak mampu memberikan nafkah wajib bagi istri, yaitu nafkah “bathin”.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

RIYADHUS SHALIHIN (35)​


📕 ​Bab Sabar – Ujian Besar, Pahala Besar​

​Hadits:​

وعن أنسٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ :
قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : إِذَا أَرَادَ الله بعبدِهِ الخَيرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ في الدُّنْيا ، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبدِهِ الشَّرَّ أمْسَكَ عَنْهُ بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يومَ القِيَامَةِ .

وَقالَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : إنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.
رواه الترمذي ، وَقالَ: حديث حسن.

​Artinya:​

​Dari Anas r.a., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hambaNya, maka ia menyegerakan hukuman dari suatu siksaan – penderitaan – sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan saja dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan – siksaannya – hari kiamat.”​

​Dan Nabi SAW. bersabda – juga riwayat Anas r.a.:​

​”Sesungguhnya besarnya balasan – pahala – itu menilik besarnya ujian yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela – menerima ujian tadi, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang marah-marah maka ia memperolehi kemurkaan Allah pula.”​

​Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini Hadis hasan.​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

DOWNLOAD AUDIO KAJIAN KITAB DISINI

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafan Turki Usmani (2/5)​


​Kadang Anak Keturunan tidak Mewarisi Semangat Juang Para Pendahulunya​

​​Kisah Hadim Süleyman Paşa (foto)​​

Wafatnya Sultan Selim I Yavuz cukup memperlambat realisasi janjinya mendukung Muzaffer II Sultan Gujarat. Naiknya Sultan Süleyman Kanuni menggantikan ayahnya yang wafat ternyata kembali memberikan harapan.

Bahadur Shah anak Muzaffer II kembali meminta bantuan kekhilafahan Turki Utsmani untuk memerangi Portugis di anak-benua India. Sultan Süleyman memanfaatkan permintaan ini sebagai kesempatan untuk mengimbangi ekspansi Portugis di Samudera Hindia.

Untuk ekspedisi tersebut Süleyman Kanuni mengangkat orang kepercayaannya yaitu Hadim Suleiman Paşa sebagai admiral armada Samudera Hindia. Pada tahun 1538, Hadim Süleyman Paşa memimpin 90 kapal kelas galleys dari pangkalan di Suez menuju Gujarat. Rute yang dilewati adalah sepanjang Laut Merah dan membelah Laut Arab menuju anak-benua India.

Sesampainya di Gujarat, ternyata Bahadur Shah ibn Muzaffar II baru saja terbunuh dalam pertempuran laut melawan Portugis. Sedangkan penerusnya justru memilih untuk bersekutu dengan Portugis.

Setelah armada tersebut gagal mencoba menyerang kota Diu, mental pasukan jatuh. Hadım Süleyman Paşa memutuskan untuk kembali ke Suez untuk menyelamatkan sisa armadanya. Dalam perjalanan balik tersebut mereka berhasil menguasai kota pelabuhan Aden serta sebagian besar wilayah Yaman.

Atas keberhasilan di Yaman itulah, Hadim Süleyman Paşa diangkat menjadi sadrazam, atau perdana menteri, bagi Sultan Süleyman Kanuni.

Agung Waspodo, masih tertarik dengan periode sejarah ini.

Depok, 22 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA