Me And Gadget

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Jum’at, 13 Shafar 1439 / 02 November 2017

📕 Motivasi dan Pengembangan Diri

📝 Bu Dina Farihani S.Psi

📖 Me and Gadget
==========☆☆☆==========
👶🏻📲👶🏻📲👶🏻📲👶🏻📲👶🏻

Hai Sobat, semoga sehat dan selalu semangat! 😀

Sob, soal gadget pastinya akrab banget ya dengan dunia remaja. Sambil makan, liat gadget. Abis mandi, ngecek gadget. Mau pergi, update status dulu buka gadget. Mau belajar, ditemani gadget. Tidur pun didamping gadget. Ffiiuuhhhh😔

Pernah ngga Sob, kamu merenungi perihal hubunganmu dengan gadget? Seberapa intens dan sekuat apa keinginan untuk selalu ber-gadget yang kamu rasakan? Adakah perubahan yang terjadi antara sebelum dan setelah kamu intens ber-gadget?

*Dampak Negatif Media dan Paparan Konten Media*

_Hei Sob, kalau kita coba sadari, gadget itu ibarat pisau, bisa bermanfaat tapi bisa juga berbahaya, tergantung dari bagaimana kita menggunakannya._

Sebuah studi di Korea meneliti tentang psychological well being (PWB) aliyas kesejahteraan psikologis dan kaitannya dengan penggunaan gadget (online social networking) pada remaja Korea. Analisis menunjukkan adanya hubungan antara online social networking dengan kondisi psikologis murid-murid di Korea, yang diukur dari masalah-masalah mental yang dialami dan ide/ pikiran tentang bunuh diri.

Media mempengaruhi remaja dengan membentuk perilaku dan nilai/keyakinan melalui proses adaptasi dan imitasi (meniru). Sebagai contoh, paparan video game yang menampilkan kekerasan cenderung mendorong perilaku maupun pikiran agresif anak baik secara jangka pendek maupun jangka panjang.

*Faktanya*, penelitian menunjukkan bahwa konten kekerasan dan media interaktif secara signifikan mendorong munculnya perilaku anti sosial dan kecenderungan perilaku agresif pada remaja. Paparan media juga ditemukan berkaitan dengan pembentukan persepsi negative tentang diri dan penyalahgunaan zat. Komunikasi  via online seringkali menjadi sarana bullying yang cenderung berulang. Sering menggunakan situs jejaring sosial dikaitkan dengan fungsi psikologis yang buruk di antara anak-anak dan remaja; kecemasan, kepribadian, kesehatan mental.

_Gimana Sob? Adakah masalah-masalah tersebut kamu temukan dalam kehidupanmu? Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan, membangun harapan untuk masa depan._

*Manfaat Positif Penggunaan Gadget*

Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan manfaat dan dampak positif dari penggunaan media elektronik. Penelitian menunjukkan bahwa jenis media tertentu dapat menghasilkan perilaku positif atau pro-sosial di kalangan remaja dan bahwa sosialisasi online, dalam kondisi tertentu, dapat bermanfaat bagi mereka.

Penggunaan media online juga dapat memperluas jaringan sosial pengguna, memperkuat hubungan sosial mereka dan membantu menyalurkan lebih banyak dukungan sosial.

Mensosialisasikan secara online juga dapat menurunkan perasaan kesepian di antara remaja, sehingga berkontribusi pada kondisi psikologis mereka. Selain itu, situs web media sosial dapat berfungsi untuk mengkompensasi keterampilan sosial peserta yang lemah, dengan memungkinkan mereka memenuhi keinginan mereka untuk interaksi sosial, persahabatan, dan eksplorasi identitas.

*Tips Sehat Ber-Gadget*

1⃣ Buatlah aturan penggunaan gadget dan patuhilah
> Aturan penggunaan gadget meliputi waktu, etika, dan tujuan penggunaannya. Misal, gadget digunakan hanya untuk keperluan mencari materi pelajaran atau berkomunikasi dengan teman sekolah terkait tugas-tugas.

2⃣ Tentukan batas waktu penggunaan gadget
> Pertimbangkan juga masalah kesehatan, seperti misalnya maksimal penggunaan gadget adalah jam 10 malam, setelahnya tubuh perlu istirahat dengan tidur malam.

3⃣ Hindari komunikasi online yang negatif
> Hargai dan hormati dirimu dengan berusaha menghargai dan menghormati orang lain. Tinggalkan pembicaraan online yang merendahkan oranglain ataupun menggunakan kata-kata kasar dan tidak sopan.

4⃣ Utamakan kualitas daripada kuantitas penggunaan gadget
> Meskipun kamu punya jatah 2 jam untuk menggunakan gadget, tapi jika saat itu keperluanmu cukup diselesaikan dengan 1 jam saja, maka cukupkanlah. Kualitas penggunaan gadget ditentukan oleh manfaat yang kamu peroleh, dan pastikan tidak terjebak dalam kesia-siaan.

5⃣ Jagalah privasi
> Hindari menulis status curhat atau yang sangat personal (masalah pribadi/keluarga, menyindir dan menyinggung orang tertentu, dsb). Kalau kamu butuh menuangkan uneg-uneg atau curhat masalah pribadi, tulislah di buku diary atau catatan pribadimu, bukan di media sosial dimana orang lain bisa membaca dan sangat mungkin salah persepsi tentang statusmu.

Baiklah Sobat, sekian jumpa kita kali ini. Please, yuk jadi remaja yang bijak menggunakan gadget!
See you!

Reff :
_The impact of online social networking on adolescent psychological well-being (WB): a population-level analysis of Korean school-aged children_ (http://www.tandfonline.com/)
_10 Strategies to Help Kids Use Smartphones Wisely and Prevent Cyberbullying_ (https://www.huffingtonpost.com)

👶🏻📲👶🏻📲👶🏻📲👶🏻📲👶🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Makna LAA ILAAHA ILALLAH

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 16 Safar 1439 / 06 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Ustdz. Prima Eyza

📖 Makna LAA ILAAHA ILALLAH
==========☆☆☆==========
👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻

Assalaamu’alaikum wrwb

Apa kabar adik-adik pemuda Islam?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat yang membara dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..

Pembahasan kita pekan lalu sudah selesai membicarakan tema Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah. Makna yang ketiga dari kalimat Laa Ilaaha illallaah yakni لَا مَالِكَ إِلَّا الله  (Tidak ada Pemilik kecuali Allah). Kali ini mari kita lanjutkan kepada makna yang keempat.

Makna yang keempat dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) adalah:
لَا وَلِيّ َإِلَّا الله
 (Tidak ada Pelindung/Penolong/Pemimpin kecuali Allah)

▪ Tidak ada Pelindung/Penolong/Pemimpin kecuali Allah

Wali berarti pelindung atau penolong atau pemimpin.
Allah SWT adalah satu-satunya Pelindung, Penolong, dan Pemimpin. Allah lah Dzat Yang Melindungi dengan sesempurna-sempurna perlindungan dan menolong dengan sesempurna-sempurna pertolongan, memimpin dengan sesempurna-sempurna Pimpinan.
Ingatlah riwayat ketika Rasul saw ditodong pedang hendak dibunuh oleh orang kafir. Diriwayatkan pada suatu hari ketika beliau saw sedang istirahat dibawah pohon, datanglah seorang kafir bernama Da’sur. Ia datang dengan sebilah pedang dan mengancam Nabi Muhammad saw, Da’sur berkata, “Ya Muhammad, saat ini pedang ada di lehermu. Sekarang siapakah yang akan menolongmu?”
Nabi Muhammad saw dengan tenang menjawab, “ALLAH!”
Maka seketika itu Da’sur bergetar tubuhnya dan jatuhlah pedang di tangannya, lalu Nabi Muhammad saw mengambil pedang tersebut dan bertanya kepada Da’sur, “Hai Da’sur, sekarang siapakah yang akan menolongmu?”
Dengan gemetar dan rasa takut yang sangat hebat Da’sur menjawab, “Tiada yang dapat menolong saya hari ini ya Muhammad, kecuali jika engkau mengasihani dan memaafkan saya.”
Lalu nabi Muhammad saw menyerahkan kembali pedang itu kepada Da’sur sambil berkata, “Sudah saya maafkan engkau, hai Da’sur… Sekarang pulanglah engkau dan ini pedangmu kembali.”
Seketika itu Da’sur pun memeluk Islam di hadapan Rasullullah saw.
(Riwayat shahih)

Perlindungan dan pertolongan dari makhluk tidak akan terjadi jika Allah SWT tidak berketetapan atas hal itu.
Diriwayatkan Rasulullah saw bersabda,

عنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas ra, beliau berkata, “Suatu saat saya berada di belakang Nabi saw, maka beliau saw bersabda, “Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).”

Makna “Penjagaan hamba bagi Allah” adalah menjaga hak-hak Allah dengan menunaikannya, menjaga batasan-batasan syariatNya dengan tidak melanggarnya, dan menjaga perintah dan laranganNya dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.
Maka dengan demikian, Allah akan menolong hambaNya, menjaga hambaNya dalam kebaikan (manfaat) dan menjaga hambaNya terhindar dari kemudharatan.

Kemudian, masalah perwalian (pelindung; penolong; pemimpin) ini juga menjadi pembeda antara mukmin dan kafir. Sebab Allah SWT adalah wali bagi orang-orang beriman. Sedangkan wali bagi orang-orang kafir adalah thaghut (setan).
Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 257,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah adalah Wali (Pelindung) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, walinya (pelindung-pelindungnya) ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Karena thaghut atau setan itu sebenarnya bukanlah penolong atau pelindung atau pemimpin, maka pada hakikatnya orang-orang kafir itu sebenarnya tidak memiliki wali (pelindung; penolong).
Sebagaimana Allah SWT wahyukan dalam Al Qur`an,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.”
(QS. Muhammad [47] : 11)

Yang diizinkan Allah SWT sebagai wali selain DiriNya, hanyalah Rasul saw, dan orang-orang yang beriman (yang memenuhi 3 syarat):
1. yang mendirikan shalat,
2. menunaikan zakat, dan
3. tunduk kepada Allah SWT.
Sebagaimana dengan jelas disebutkan dalam QS. Al Maa`idah (5) ayat 55,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

▪ Bagaimana Jika Menjadikan Orang Kafir sebagai Wali (Pelindung; Penolong; Pemimpin) ???

Al Qur`an surah Al Maa`idah (5) ayat 51 secara tegas telah melarang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

→ Barangsiapa yang mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani, serta termasuk non muslim seluruhmya) menjadi  pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
→ Tindakan ini digolongkan tindakan zhalim yang tidak akan mendatangkan hidayah Allah SWT.

Demikian pula firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran (3) ayat 118,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Demikianlah, satu-satunya Yang haq dijadikan wali (pelindung; penolong; pemimpin) hanyalah Allah SWT. Tidak ada wali selain Dia.

Wallaahu a’lam bishshowab.
Bersambung…

👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻📿👆🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Tafsir Surat Al-Fiil

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Sabtu, 21 Safar 1439 / 11 November 2017

📕 Al – Qur’an

📝 Ida Faridah

📖 Surat Al – Fiil
==========☆☆☆==========
🐘🍃🐘🍃🐘🍃🐘🍃🐘

Surat ini Makkiyah, terdiri dari 5 ayat. Di surat ini Allah menceritakan kisah Ashabul Fil yang ringkasnya berikut ini.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيل. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍۭ

_”Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”_ (QS. Al-Fil : 1-5)

Tafsir

Tidakkah kau tahu tentang kisah populer, yang karena populernya ia menjadi ilmu tersendiri yang didasarkan pada kisah nyata. Ceritakan kepadaku tentang Ashabul Fil dan ceritakan kepadaku bagaimana Allah memperlakukan mereka. Bukankah Allah telah menjadikan makar dan tipu daya mereka untuk menghancurkan Ka’bah gagal. Akhirnya, mereka tidak dapat melakukan apa yang mereka inginkan.

Allah telah mengirim burung yang datang bergerombol membawa batu yang berisi kuman penyakit untuk menghancurkan sebagian besar tentara itu. Hingga mereka gagal dan pulang dengan kehinaan. Burung-burung itu melempari tentara dengan kerikil dari tanah liat yang mengeras. Mayoritas mereka binasa dan menjadi mangsa burung-burung tersebut. Kondisi mereka seperti daun yang dimakan binatang, yakni daun yang mulai kering setelah buahnya dipanen.

Diyaman terdapat seorang raja bernama Abrahah Al-Asyram. Ia membangun gereja besar di San’a. Bangunan itu sangat besar dan megah. Ia in mengalihkan ibadah haji dari Ka’bah ke gereja tersebut. Ia memberitahu hal itu kepada Najasyi, raja Habasyah.

Diriwayatkan bahwa seorang Arab buang kotoran didalam gereja itu dan hal itu membuat sang raja murka. Ia bersumpah untuk menghancurkan Ka’bah. Dipersiapkannya tentara yang banyak dan mulai bergerak menuju Mekkah. Di depan barisan tentara itu terdapat seekor gajah besar.

Ketika melewati kota Mekkah, Abrahah memerintahkan tentaranya agar merampas harta benda penduduknya. Di antara yang dirampas itu seekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi saw.

Unta itu digiring oleh seorang tentara. Ketika Abdul Muthalib mengetahui kejadian itu, ia hendak menemui raja Abrahah. Dia pun menemuinya dan berbicara perihal unta. Raja pun menjawab, “Ketika melihatmu aku kagum. Dan ketika kamu berbicara, aku terdiam. Kamu meminta unta itu dan membiarkan Baitullah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu.”

Abdul Muthalib menimpali, “Unta itu milikku, sedangkan rumah itu, ia milik Tuhan yang menjaganya.” Abrahah pun mengembalikan untanya.

Keesokan harinya, Abrahah bersiap-siap untuk memasuki Mekkah. Gajah-gajah dan tentaranya disiapkan untuk menghancurkan Ka’bah. Setelah itu, ia berencana pulang ke Yaman.

Ketika mereka mengarahkan gajah itu ke arah Mekkah, binatang itu terduduk, namun ketika di arahkan ke Yaman atau ke Syam ia bangun dan berdiri. Pada saat itulah Allah mengutus burung yang membawa batu-batu dengan paruh dan kaki mereka untuk dilemparkan kepada mereka. Penyakit pun mewabah dan melanda sebagian besar mereka. Akhirnya mereka tak ubahnya seperti daun yang telah kering.

Apakah batu-batu itu sendiri yang membinasakan mereka atau karena kuman yang mereka bawa. Hanya Allah yang tahu. Yang jelas setelah mereka dilempari batu-batu itu, sebagian besar mereka mati. Akhirnya Abrahah dan orang-orang dekatnya tidak jadi menghancurkan Ka’bah. Abrahah sendiri mati di perjalanan.

🐘🍃🐘🍃🐘🍃🐘🍃🐘

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Marhalah Da'wah: Marhalah Makkiyah​


​🌸Mukadimah​

📌 Marhalah Da’wah itu proses yang syar’i (Sunnah Syar’iyyah). Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. (QS. Asy Syu’ara: 214)

📌Marhalah Da’wah itu proses yang alami (Sunnatullah fil Kaun), apa yang ada dalam jagat raya pun terjadi secara bertahap.

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (QS. Fushilat: 12)

📌Allah Ta’ala juga menciptakan manusia dalam perut ibunya secara bertahap. Tidak langsung jadi bayi.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
(QS. Al Mu’minun: 12-14)

📌Saat hidup di dunia pun kita mengalami kehidupan yang bertahap, bayi, anak, remaja dewasa, tua.

​Durus wa ‘Ibar (Pelajaran dan hikmah)​

💦Maka, tidak selayaknya seorang muslim terburu-buru dalam da’wah.

💦Tidak selayaknya pula seorang muslim menuduh yang tidak-tidak terhadap strategi dan proses da’wah yang dilakukan saudaranya.

​🌸Marhalah Makkiyah (Fase Da’wah di Mekkah)​

📌Mekkah adalah kota perdagangan dan gembala. Kehidupannya masyarakatnya nomaden. Banyak suku dan kabilah. Pada masa jahiliyah sering terjadi perang saudara.

📌Da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di kota Mekkah sangat keras penentangannya seiring watak keras masyarakatnya. Oleh karena itu di fase ini tidak terlalu banyak pengikut dan berkali-kali ditindas, diusir, dan embargo.

​Sisi Objek Da’wah​

📌Da’wah Islam masih bersifat sembunyi-sembunyi (Sirriyatud Da’wah), demi menjaga keamanannya (amniyatud da’wah).

📌Zona yang dida’wahi juga bukan orang jauh, tapi keluarga dulu. Oleh karena itu, yang menyambut da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga orang dekat, yaitu Khadijah (istri), Ali (keponakan), Zaid bin Haritsah (anak angkat), dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

📌Sebagai fondasi da’wah ini sangat penting, sebab support keluarga merupakan amunisi ruhiyah yang paling berpengaruh terhadap jiwa.

📌Setelah ini kuat, barulah da’wah melebar kepada kerabat jauh, tetangga, dan masyarakat Mekkah. Dimulai dari rumah Arqam bin Abi Arqam seorang remaja tapi pengusaha.

📌Yang menyambut da’wah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam rata-rata anak muda, dan orang Dhu’afa. Tidak seberapa yang kaya, seperti Abu Bakar, ‘Utsman, dan Abdurrahman bin ‘Auf.

​Durus wa ‘Ibar:​

💦Janganlah melupakan da’wah di keluarga, sebab Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.. (QS. At Tahrim: 6)

💦Jangan melupakan da’wah kepada masyarakat, sebab da’wah butuh dukungan banyak manusia.

💦Jangan mencari musuh sebab musuh tanpa dicari pun sudah sedemikian banyak. Maka, pandai-pandailah menjaga kerahasiaan da’wah di saat masih sedikit dan lemah.

​Pentingnya Back Up Da’wah​

📌Saat masih lemah, da’wah mesti amat sangat dijaga. Termasuk juga dijaga keamanannya secara politik. Maka, dari itu di antara tokoh-tokoh yang di da’wahi tidak tanggung-tanggung; Abu Thalib, Abu Jahal, dan Abu Sufyan. Dari ketiganya, hanya Abu Thalib yg mau melindungi walau tidak mau masuk Islam. Ini sebuah poin tersendiri mengingat Abu Thalib adalah tokoh Bani Hasyim yg disegani di Mekkah.

📌Pemuda yang juga masuk Islam adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Ini amunisi sangat berarti. Sampai Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Umat Islam senantiasa berwibawa sejak masuk Islamnya Umar.

📌Secara komunitas, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga dibantu oleh Bani Khuza’ah, untuk melawan Bani – Bani memusuhi Islam. Bani Khuza’ah adalah musyrik, tp permusuhan mereka tidak sekeras lainya. (Kemudian hari Bani Khuza’ah juga memerangi kaum muslimin di perang Hunain, setelah Fathul Makkah).

📌Ini merupakan upaya memanfaatkan kekuatan musuh untuk melawan musuh. Secara strategi perang, ini merupakan taktik luar biasa dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Kenyataan ini menunjukkan orang kafir itu beragam, sebagaimana beragamnya manusia secara umum. Mereka ada yang memusuhi Islam, netral, mendukung Islam walau tidak masuk Islam

💦Hendaknya umat Islam mampu menjadikan potensi yang sebenarnya “memusuhi”, bisa diubah dan dijadikan senjata bagi kaum muslimin ..

💦Jangan alergi politik, sebab da’wah mesti dijaga oleh kekuatan. Oleh krn itu kata Imam Al Ghazali agama dan negara adalah dua saudara kembar.

​Konten Da’wah​

📌Fase Makkiyah, titik utama da’wah adalah tauhid. Keimanan kepada Allah, Nabi, Al Qur’an, hari akhir, dan konten aqidah lainnya.

📌Ini sangat vital sebagai asas kepribadian muslim dan masyarakat muslim. Maka, tidak dibenarkan da’wah melewati konten-konten ini. Sebab ini adalah Ushul, hal pokok dalam agama.

📌Pembahasan tentang fiqih, hudud, jihad, dan pembebanan lainnya belum disampaikan kecuali saat mereka sudah siap. Shalat wajib yang lima saja disyariatkan saat Isra Mi’raj, yaitu tahun 11 fase Makkiyah.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Tanamkanlah aqidah agar lahir cinta kepada Allah, Rasul, dan Islam

📌Masalah2 fiqih dan cabang akan mengikuti nantinya, sebab kalau sudah cinta maka mereka akan mencari sendiri untuk mengetahuinya

​Menjelang Hijrah​

📌Selama di Mekkah ada dua hijrah kecil, sebelum hijrah ke Madinah. Yaitu ke Habasyah/Etiopia, yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Lalu ke Thaif tempatnya Bani Tsaqif, dipimpin Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam.

📌Hijrah menunjukkan cara yang mungkin ditempuh utk menyelamatkan da’wah jika memang masyakarat sangat keras penolakannya, sekaligus membuka lahan baru.

📌Hijrah Nabi ke Madinah, menunjukkan bahwa Mekkah memang bukan daerah subur bagi da’wah. Madinah dipilih Krn masyarakatnya yg petani, relatif lebih lembut dan mudah menerima dibanding pedagang di Mekkah.

📌Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam menyiapkan secara matang utk hijrah, mulai dari yg mengcontioning keislaman Madinah, yaitu Mush’ab bin Umair Radhiallahu ‘Anhu. Yang menemani Nabi yaitu Abu Bakar, yang memberikan rute yaitu Abdullah bin Uraiqit (seorang musyrik Mekkah), dan melibatkan wanita untuk urusan makanan, Asma binti Abu Bakar. Serta Umar bin Khathab yg hijrah paling akhir, sebab dia seorang yang amat ditakuti oleh penduduk Mekkah.

​Durus wa ‘Ibar​

💦Jangan putus asa dalam da’wah, bumi Allah itu luas

💦Carilah tempat yang lebih kondusif bagi da’wah Islam

💦Da’wah tidak boleh berhenti bagaimana pun keadaannya

Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Mengapa Madzhab Akidah Asy’ariyyah Dibedakan Dengan Madzhab Ahlussunnah Waljama’ah?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum warohmatullaah ustadz..
Saya mau bertanya, mengapa madzhab akidah asy’ariyyah dibedakan dengan madzhab ahlussunnah waljama’ah?
Apa perbedaan dan persamaannya ustadz?
Jazaakallaahu khoiron

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Al Asy’ariyah itu Ahlus Sunnah, bersama Al Maturidiyah dan Al Atsariyah.

Lengkapnya ini 👇

​🌱🍄 ​Al Asy’ariyyah​ dituduh paham sesat, benarkah? 🍄🌱​

💢💢💢💢💢💢

Ust, ada buku berjudul Mulia dengan Manhaj Salaf, penulisnya bilang Asy’ariyyah sebagai aliran sesat .. itu serem amat ya, apa benar tuduhan itu?

🍃🍃🍃🍃🍃

​Bismillah wal Hamdulillah …​

​Al Asy’ariyyah​ adalah paham yang disandarkan kepada Imam Abul Hasan Al Asy’ariy ​Rahimahullah​.

Ajarannya memenuhi dunia Islam, Timur dan Barat, dan umumnya kampus kampus besar Islam.

Sebaiknya seorang muslim menahan dari menuduh sesat kepada sesamanya, dalam perkara yang sensitif. Apalagi kepada apa yang dianut oleh mayoritas umat ini.

Saya kutipkan pandangan para imam kaum muslimin tentang Asy’ariyyah. Agar kita bisa berpandangan adil dan inshaf/objektif.

Tertulis dalam darulfatwa.org:

الأشاعرة هم أئمة أهل السنة. منهم البيهقي النووي وابن حجر العسقلاني وصلاح الدين الأيوبي. أبو الحسن الأشعري كان إمام أهل السنة. الأشاعرة، لخصوا عقيدة الرسول والصحابة. أغلب أهل السنة والجماعة هم أشاعرة يعني يتبعون طريقة الإمام أبي الحسن الأشعري في نصرة هذا المذهب.

Al Asya’irah, mereka adalah Ahlus Sunnah, di antara seperti Al Baihaqi, An Nawawi, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, dan Shalahuddin Al Ayyubi.

Abul Hasan Al Asy’ariy adalah seorang imam Ahlus Sunnah.

Al Asya’irah adalah intisari dari ajaran Rasulullah dan sahabatnya. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah adalah Asya’irah, yaitu para pengikut jalannya Imam Abul Hasan Al Asy’ariy dalam membela madzhab ini.
(Selesai)

Sementara, Imam As Safarayini ​Rahimahullah​ berkata:

الفائدة الرابعة التعريف بأهل السنة]
(الرَّابِعَةُ) : أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ: الْأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ، وَالْمَاتُرِيدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا

Faidah yg keempat: Definisi Ahlus Sunnah.
Keempat: Ahlus Sunnah ada tiga kelompok.

1⃣ Al Atsariyah, imam mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah

2⃣ Al Asy’ariyah, imam mereka adalah Imam Abul Hasan Al Asy’ariy Rahimahullah

3⃣ Al Maturidiyah, imam mereka adalah Imam Abu Manshur Al Maturidiy Rahimahullah
Adapun firqoh sesat sangat banyak… ​(Imam Syamsuddin As Safarayini, ​Lawami’ Al Anwar Al Bahiyah wa Sawathi’ Al Asrar Al Atsariyah​, 1/73)​

Imam ‘Adhuddin Al Ijiy ​Rahimahullah​ berkata:

وأما الفرقة الناجية المستثناة الذين قال النبي ـ ‘ ـ فيهم “هم الذين على ما أنا عليه وأصحابي” فهم الأشاعرة والسلف من المحدثين وأهل السنة والجماعة، ومذهبهم خالٍ من بدع

Ada pun firqah najiyah (kelompok yang selamat), merekalah orang-orang yang dikecualikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada kata: “pada mereka”, apa-apa yang aku dan sahabatku ada di atasnya, mereka adalah Al Asyaa’irah dan generasi terdahulu ahli hadits, dan Ahlus Sunnah, madzhab mereka bersih dari bid’ah. ​(Al Muwafaq, Hal. 430)​

Imam Al Jalaal Ad Dawani ​Rahimahullah​ berkata:

الفرقة الناجية، وهم الأشاعرة أي التابعون في الأصـول للشيخ أبي الحسـن

Firqah Najiyah, mereka adalah Al Asyaa’irah yaitu orang-orang yang mengikuti pokok-pokok aqidah Asy Syaikh Abul Hasan .. ​(Syarh Aqidah Al ‘Adhudiyah, 1/34)​

Imam Ibnu ‘Ajibah ​Rahimahullah​ berkata:

أما أهل السنة فهم الأشاعرة ومن تبعهم في اعتقادهم الصحيح، كما هو مقرر في كتب أهل السنة

Adapun Ahlus Sunnah, mereka adalah Al Asyaa’irah dan orang-orang yang mengikuti Aqidah mereka yang shahih, sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. ​(Al Bahr Al Madid, Hal. 607)​

Imam Abu Ishaq Asy Syirazi ​Rahimahullah​:

وأبو الحسن الأشعري إمام أهل السنة، وعامة أصحاب الشافعي على مذهبه، ومذهبه مذهب أهل الحق

Abul Hasan Al Asy’ari, dia adalah Imam Ahlus Sunnah, kebanyakan pengikut Asy Syafi’i adalah di atas madzhabnya, dan madzhabnya adalah madzhab Ahlul Haq. ​(Ath Thabaqat Asy Syafi’iyah, 3/376)​

Imam Murtadha Az Zabidi ​Rahimahullah​ berkata:

إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية

Jika secara mutlak disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka maksudnya adalah Al Asyaa’irah dan Al Maturidiyah. ​(Ittihaf As Sa’adah Al Muttaqin, 2/6)​

Di halaman lain dia berkata:

والمراد بأهل السنة هم الفرق الأربعة، المحدثون والصوفية والأشاعرة والماتريدية

Maksud dari Ahlus Sunnah, mereka adalah golongan yang empat: ahli hadits, sufi, Asyaa’irah, dan Maturidiyah. ​(Ibid, 2/86)​

Sufi di sini adalah sufi yang lurus, seperti Al Junaid bin Muhammad, Ma’ruf Al Karkhi, Ibrahim bin Adham, dan yg masih di atas Al Qur’an dan As Sunnah.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami ​Rahimahullah​ berkata:

المـراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجمـاعة الشيخ أبو الحسن الأشعري وأبو منصور الماتريدي…

Maksud dari As Sunnah adalah apa yang imam ahlussunah ada di atasnya, yaitu Abul Hasan Al Asy’ariy dan Abu Manshur Al Maturidiy .. ​(Az Zawaajir, Hal. 82)​

Al ‘Allamah Thasyi Kubra Zaadah Rahimahullah berkata:

ثم اعلم أن رئيس أهل السنة والجماعة في علم الكلام – يعني العقائد – رجلان، أحدهما حنفي والآخر شافعي، أما الحنفي فهو أبو منصور محمد بن محمود الماتريدي، إمام الهدى…

وأما الآخر الشافعي فهو شيخ السنة ورئيس الجماعة إمام المتكلمين وناصر سنة سيد المرسلين والذاب عن الدين والساعي في حفظ عقائد المسلمين، أبو الحسن الأشعري البصري..

Ketahuilah bahwa pemimpinnya Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam ilmu Kalam -yaitu ilmu aqidah- ada dua orang.

Yang satu seorang Hanafiy, yang satu lagi Syafi’iy.

Ada pun Hanafiy, dia adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Al Maturidiy, Imamul Huda ..

Ada pun yang lain adalah seorang pengikut Syafi’iy, dia Syaikhus Sunnah, pimpinannya imam ahli kalam, pembela As Sunnah, penjaga agama dan aqidah kaum muslimin, Abul Hasan Al Asy’ariy .. ​(Miftah As Sa’aadah, 2/33)​

Dan, masih banyak perkataan yang lainnya. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah juga memberikan kesaksian positif untuk Al Asy’ariyah.

وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ. وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ

Adapun melaknat para ulama asy’ariyah, maka melaknat mereka mesti dita’zir (dihukum), dan laknat itu kembali kepada pelakunya. Barangsiapa yang melaknat org yang tdk berhak dilaknat maka laknat itu kembali kepada si pelaknat. Para ulama adalah pembela cabang-cabang agama, dan golongan Asy’ariyah adalah pembela-pembela dasar-dasar agama. ​(Majmu’ Al Fatawa, 4/16)​

Para imam seperti Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Ibnu Hajar Al Haitami, An Nawawi, Ibnu Furak, Ibnul Jauzi, Al Ghazali, Al Bulqini, Al Baqilani, Al Juwaini, Abu Syamah, Ibnu An Nahwi, As Suyuthi, Ali Al Qari, Zakariya Al Anshari, Al Qalyubi, Al Qasthalani, … dll -Rahimahumullah- semua ini Asy’ariyah. Maka, menyebut Asy’ariyyah sesat sama juga menuduh sesat sedemikian banyak imam umat Islam. Tentunya ini sangat berbahaya, selain sangat tidak etis.

Sikap ekstrim mencoret sesama Ahlus Sunnah, lalu mengeluarkan mereka sebagai bukan ​Ahlus Sunnah wal Jamaah,​ pernah melahirkan fitnah berdarah-darah pada masa lalu, .. apakah kita ingin menumpahkan kembali darah umat Islam oleh tangan kita sendiri? ​Laa hawla walaa quwwata Illa Billah​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Apakah Syiah Termasuk Mazhab?


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Izin bertanya Ustadz, Apakah Syi’ah itu termasuk Mazhab juga atau di luar itu ?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Syiah adalah sebuah firqah (kelompok) dan madzhab dalam aqidah.

Mereka terbagi 3 kelompok:
1. Ghaliyah, esktrim. Menuduh Al Qur’an lengkapnya di Ali Radhiyallahu ‘Anhu, memberikan sifat2 ketuhanan kepada Ali, dst. Mereka kafir, bahkan dikafirkan oleh sesama Syiah.

2. Rafidhah, ini Syiah mayoritas. Mereka membenci para sahabat nabi, mulai dari memaki sampai mengkafirkan. Selain itu, mereka menuduh para sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam telah memalsukan Al Qur’an, merebut kekhalifahan dari Ali bin Abi Talib.

Mereka menuduh mayoritas sahabat nabi murtad pasca wafat nabi, kecuali Salman Al Farisi, Miqdad bin Al Aswad, dan Abu Dzar.

Kebencian mereka kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Muawiyah, Abu Hurairah .. sangat luar biasa.

Oleh karena itu, sebagian Imam Ahlus Sunnah memfatwakan kafirnya Rafidhah, sebagian lain mengatakan ahli bid’ah, tergantung sejauh mana sikap mereka thdp sahabat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam.

3. Syiah Zaidiyah, Syiah moderat. Masih menghormati para sahabat nabi, tetapi tetap lebih mengunggulkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu baik dalam kedudukan dan kekhalifahan.

​LAMPIRAN​
🍀🌻Kafirnya Syiah Menurut Ulama Terdahulu dan 4 Madzhab🌻🍀

Berikut ini fatwa para Imam Ahlus Sunnah terhadap orang-orang yang mencela, memaki, hingga mengkafirkan para sahabat nabi. Dalam sejarah ada tiga golongan yang mencela para sahabat nabi. Pertama, golongan syiah yang telah mencela umumnya sahabat nabi, bahkan mengkafirkan umumnya para sahabat, kecuali Miqdad, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Kedua , golongan khawarij yang telah mengkafirkan Ali, Muawiyah, Abu Musa, Amr bin Al ‘Ash, dan ketiga, golongan nashibi yang telah menghina Ali, Fathimah, dan keturunannya.

🔷 Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah Berikut ini keterangannya:

قيل للحسن – رضي الله عنه -: «يا أبا سعيد، إن هاهنا قوماً يشتمون أو يلعنون معاوية و ابن الزبير». فقال: «على أولئك الذين يلعنون، لعنة الله

Ditanyakan kepada Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu : “Wahai Abu Sa’id, di sini ada kaum yang suka mencela dan melaknat Mu’awiyah dan Ibnuz Zubeir.” Beliau menjawab: “Atas merekalah laknat Allah itu.” (Ibnu ‘Asakir, At Tarikh, , 59/206)

🔶 Imam Malik bin Anas Rahimahullah Imam Malik mengomentari ayat: Liyaghizhabihimul kuffar (adanya sahabat nabi membuat orang-orang kafir marah):

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah –dalam sebuah riwayat darinya- memutuskan kafirnya kaum rafidhah, orang-orang yang membenci para sahabat. Beliau berkata: “Karena mereka murka terhadap para sahabat, maka itu adalah kafir menurut ayat ini.” Segolongan ulama menyetujui pendapat ini. Dan telah banyak hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka dengan keburukan, cukuplah bagi mereka pujian dari Allah dan keridhaanNya bagi mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/362) 

🔷 Imam Abu Zur’ah Rahimahullah Beliau berkata:
فإذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله –
صلى الله عليه وسلم – فاعلم أنّه زنديق

Jika kamu melihat seorang laki-laki yang mencela satu saja sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq! (Al Kifayah Lil Khathib Al Baghdadi, Hal. 97)

🔶 Imam Al Qurthubi Rahimahullah Beliau berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته و أصاب في تأويله، فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد ردَّ على الله رب العالمين و أبطل شرائع المسلمين

Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik dan benarlah ta’wilnya itu, bahwa barang siapa yang mencederai satu saja di antara mereka (para sahabat), atau menyerang mereka pada riwayat riwayat yang di bawa oleh mereka, maka sama saja telah membantah Allah Rabb semesta alam dan membatalkan syariat kaum muslimin. (Tafsir Al Qurthubi, 16/297)

Sebab berbagai syariat yang ada dan dilakukan oleh mayoritas umat Islam karena berasal dari periwayatan para sahabat nabi, maka apa jadinya jika para sahabat dicela bahkan dikafirkan? Tentu sama saja menganggap mereka tidak pantas membawa riwayat tersebut, dan gugurlah berbagai macam syariat tersebut.

🔷 Imam Al Auza’i Rahimahullah Beliau berkata:

من شتم أبا بكر الصديق – رضي الله عنه – فقد ارتد عن دينه و أباح دمه

Barang siapa yang mencela Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, maka dia telah murtad dari agamanya dan halal darahnya (maksudnya boleh dihukum mati, pen). (Syarh Al Ibanah, Hal. 161)

🔶 Imam Ali Al Qari Rahimahullah Beliau berkata:

و أما من سبَّ أحداً من الصحابة فهو فاسق و مبتدع بالإجماع، إلا إذا اعتقد أنه مباح، كما عليه بعض الشيعة و أصحابهم، أو يترتب عليه ثواب، كما هو دأب كلامهم، أو اعتقد كفر الصحابة و أهل السنة، فإنه كافر بالإجماع

Ada pun barang siapa yang mencela seorang saja dari sahabat nabi, maka dia fasik dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) menurut ijma’, – kecuali jika orang itu meyakini mencela sahabat itu boleh sebagaimana yang diyakini sebagian syiah dan para pengikutnya, atau yang meyakini bahwa mencela para sahabat akan mendapatkan pahala seperti yang biasa mereka katakan, atau meyakini bahwa para sahabat dan ahlus sunah adalah kafir- maka orang itu adalah kafir menurut ijma’. (Syammul ‘Awaridh fi Dzammir Rawafidh, Hal. 16. Masih Manuskrip)

🔷Al Qadhi Abu Ya’la Rahimahullah Beliau berkata:

من قذف عائشة بما برأها الله منه كفر بلا خلاف. و قد حكى الإجماع على هذا غير واحد، و صرّح غير واحد من الأئمة بهذا الحكم

Barang siapa yang melemparkan tuduhan kepada ‘Aisyah dengan tuduhan yang Allah Ta’ala jauhi dia dengan tuduhan itu, maka dia kafir dan tanpa perbedaan pendapat. Telah diceritakan adanya ijma tentang hal ini, lebih dari satu ulama yang menyatakan itu. Tentang hukum ini lebih dari satu ulama pula yang mengeluarkan hukum seperti ini. (Syubhat Rafidhah Haula Ash Shahabah, Hal. 31)

🔶 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah Abu Bakar Al Marwadzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal:

أيما أفضل، معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟». فقال: «معاوية أفضل! لسنا نقيس بأصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحداً. قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: خير الناس قرني الذي بعثت فيهم

Mana yang lebih utama, Mu’awiyah atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Mu’awiyah lebih utama! Kami tidak pernah menyetarakan seorang pun dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sebaik-baik manusia adalah pada zamanku yaitu di mana aku diutus pada mereka. (Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, 2/434)

🔷 Imam Sarakhsi Rahimahullah Beliau berkata:

فمن طعن فيهم فهو ملحد منابذ للإسلام دواؤه السيف إن لم يتب

Barang siapa yang mencela para sahabat nabi, maka dia adalah mulhid (atheis) yang melawan Islam, maka boleh ditebas dengan pedang jika dia tidak bertobat. (Al Ushul, 2/134)

🔶 Imam Ibnu Hazm Az Zhahiri ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau berkata,
“Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang menyangka bahwa orang Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal muncul setelah wafatnya Rasulullah (, sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, 2/ 213)

Ada pun para imam 4 madzhab sebagai berikut:

1⃣ Madzhab Hanafi
Dari kalangan ulama Hanafiyah, “Jika seorang Rafidhi mencaci maki dan melaknat ‘Syaikhaini’ (Abu Bakar dan Umar) maka dia kafir, demikian halnya dengan pengkafiran terhadap Usman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan Aisyah –semoga Allah meridhai mereka- (juga adalah kafir)” (Al Fatawa Al Hindiyah, 2/286)

2⃣ Madzhab Maliki
Imam Malik berkata: “Jika dia berkata bahwa para sahabat itu (Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash) berada di atas kesesatan dan kafir maka ia dibunuh, dan jika mencaci mereka seperti kebanyakan orang maka dihukum berat”. (Asy Syifa bi Ta’rif Huquq Al Mushthafa, 2/1108)

Imam Ibnu Katsir berkata:

ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. 

Dari ayat ini, Imam Malik Rahimahullah memutuskan, dalam sebuah riwayat darinya, bahwa kafirnya Rafidhah (syiah) yaitu golongan yang marah kepada sahabat nabi. Beliau (Imam Malik) berkata: “Karena mereka murka kepada para sahabat, maka barang siapa yang murka kepada para sahabat nabi maka dia KAFIR menurut ayat ini. (maksudnya Al Fath: 29). Dan, segolongan ulama menyepakati fatwa Imam Malik atas kafirnya Syiah ini. ( Tafsir Al Quran Al Azhim, 7/362)

3⃣ Madzhab Syafi’i
Dari kalangan ulama Syafi’iyah, “Dipastikan kafir setiap orang yang mengatakan suatu perkataan yang ujungnya berkesimpulan menyesatkan semua umat Islam atau mengkafirkan sahabat.” (Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 7/290)

4⃣ Madzhab Hambali
Dari kalangan ulama Hanabilah, Imam Ibnu Taimiyah berkata: “Siapa yang menganggap para sahabat Nabi telah murtad atau fasik setelah Nabi wafat, maka tidak ragu lagi bahwa orang itu kafir. ” (Al Mukhtashar ash Sharim al Maslul, hal. 128).
Sekian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

RIYADHUS SHALIHIN (36)​


📕 ​Bab Sabar – Seni Bersabar & Menyabarkan​

​Hadits:​

وعن أنسٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ : كَانَ ابنٌ لأبي طَلْحَةَ – رضي الله عنه – يَشتَكِي ، فَخَرَجَ أبُو طَلْحَةَ ، فَقُبِضَ الصَّبيُّ ، فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ ،
قَالَ : مَا فَعَلَ ابْنِي ؟ قَالَتْ أمُّ سُلَيم وَهِيَ أمُّ الصَّبيِّ : هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ ، فَقَرَّبَتْ إليه العَشَاءَ فَتَعَشَّى ، ثُمَّ أَصَابَ منْهَا ، فَلَمَّا فَرَغَ ، قَالَتْ : وَارُوا الصَّبيَّ فَلَمَّا أَصْبحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأخْبَرَهُ ،

فَقَالَ : أعَرَّسْتُمُ اللَّيلَةَ ؟
قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا، فَوَلَدَتْ غُلاماً ، فَقَالَ لي أَبُو طَلْحَةَ : احْمِلْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – ، وَبَعَثَ مَعَهُ بِتَمَراتٍ ،
فَقَالَ : أَمَعَهُ شَيءٌ ؟
قَالَ : نَعَمْ ، تَمَراتٌ ، فَأخَذَهَا النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَضَغَهَا ، ثُمَّ أَخَذَهَا مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا في فِيِّ الصَّبيِّ ، ثُمَّ حَنَّكَهُ وَسَمَّاهُ عَبدَ الله .
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

وفي رواية للبُخَارِيِّ :
قَالَ ابنُ عُيَيْنَةَ : فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصارِ : فَرَأيْتُ تِسعَةَ أوْلادٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَؤُوا القُرْآنَ ، يَعْنِي : مِنْ أوْلادِ عَبدِ الله المَولُودِ .

وَفي رواية لمسلمٍ :
مَاتَ ابنٌ لأبي طَلْحَةَ مِنْ أمِّ سُلَيمٍ ، فَقَالَتْ لأَهْلِهَا : لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ، فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْه عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ، ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَتْ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذلِكَ ، فَوَقَعَ بِهَا . فَلَمَّا أَنْ رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وأَصَابَ مِنْهَا ، قَالَتْ : يَا أَبَا طَلْحَةَ ، أَرَأَيتَ لو أنَّ قَوماً أعارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ ، أَلَهُمْ أن يَمْنَعُوهُمْ ؟ قَالَ : لا ، فَقَالَتْ : فَاحْتَسِبْ ابْنَكَ ، قَالَ : فَغَضِبَ ، ثُمَّ قَالَ : تَرَكْتِني حَتَّى إِذَا تَلطَّخْتُ ، ثُمَّ أخْبَرتني بِابْنِي ؟! فانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: بَارَكَ اللهُ في لَيْلَتِكُمَا،
قَالَ : فَحَمَلَتْ . قَالَ : وَكانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – في سَفَرٍ وَهيَ مَعَهُ ، وَكَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَتَى المَدِينَةَ مِنْ سَفَرٍ لاَ يَطْرُقُهَا طُرُوقاً فَدَنَوا مِنَ المَدِينَة ، فَضَرَبَهَا المَخَاضُ ، فَاحْتَبَسَ عَلَيْهَا أَبُو طَلْحَةَ ، وانْطَلَقَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – .

قَالَ : يَقُولَ أَبُو طَلْحَةَ : إنَّكَ لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أَنَّهُ يُعْجِبُنِي أنْ أخْرُجَ مَعَ رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ وَأَدْخُلَ مَعَهُ إِذَا دَخَلَ وَقَدِ احْتَبَسْتُ بِمَا تَرَى ، تَقُولُ أُمُّ سُلَيْمٍ : يَا أَبَا طَلْحَةَ ، مَا أَجِدُ الَّذِي كُنْتُ أجدُ انْطَلِقْ ، فَانْطَلَقْنَا وَضَرَبَهَا المَخَاضُ حِينَ قَدِمَا فَوَلدَت غُلامَاً . فَقَالَتْ لِي أمِّي : يَا أنَسُ ، لا يُرْضِعْهُ أحَدٌ حَتَّى تَغْدُو بِهِ عَلَى رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا أصْبَحَ احْتَمَلْتُهُ فَانْطَلَقْتُ بِهِ إِلَى رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ..وَذَكَرَ تَمَامَ الحَدِيثِ .

​Artinya:​

Artinya :
Dari Anas r.a., katanya: “Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi – kemudian anaknya itu dicabutlah ruhnya – meninggal dunia.

Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: “Bagaimanakah keadaan anakku?”

Ummu Sulaim, yaitu ibu anak tersebut – isterinya Abu Thalhah – menjawab: “Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya.”

Isterinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhi isterinya itu.

Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Makamkanlah anak itu.” Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut – kematian anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama isterinya.

Kemudian Nabi bersabda: “Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?”

Abu Thalhah menjawab: “Ya.”

Beliau lalu bersabda pula: “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan isterinya.

Selanjutnya Ummu Sulaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku – aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini: “Bawalah ia sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma.

Nabi s.a.w. bersabda: “Adakah besertanya sesuatu benda?”
Ia -Anas- menjawab: “Ya. ada beberapa biji buah kurma.” Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian:
Ibnu ‘Uyainah berkata: “Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: “Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, yaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu isterinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: “Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti.”

Abu Thalhah – yang saat itu berpergian – lalu datanglah, kemudian isterinya menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya isterinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi isterinya. Sewaktu isterinya telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai menyetubuhinya, ia pun berkatalah pada Abu Thalhah: “Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?”

Abu Thalhah menjawab: “Tidak boleh menolaknya – yakni harus menyerahkannya.” Kemudian berkata pula isterinya: “Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?”

Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: “Engkau biarkan aku tidak mengetahui – kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran – maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku.”
Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu.”

Anas r.a. berkata: “Kemudian isterinya hamil.”

Anas r.a. melanjutkan katanya: “Rasulullah s.a.w. sedang dalam berpergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula – bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari berpergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit karena hendak melahirkan, maka oleh sebab Abu Thalhah tertahan – yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat.”

Anas berkata: “Setelah itu Abu Thalhah berkata: “Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahwa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar berpergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar berpergian dan untuk masuk -tetap di negerinya – bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk.

Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui.”

Ummu Sulaim lalu berkata: “Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan – jikalau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kita pun – maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan isterinya – berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki.

Ibuku – yakni ibu Anas r.a. – berkata padaku – pada Anas r.a.: “Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w.”

Ketika waktu pagi menjelma, saya – Anas r.a. – membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan ceritera Hadis ini sampai selesainya.

​Keterangan:​
Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku isteri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu.

Sementara itu Hadis di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seseorang isteri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama.

Demikian pula isteri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran.

Jadi salah sekali, apabila seseorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya. Juga salah pula apabila seorang isteri itu kurang memerhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, atau pun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan.

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

DOWNLOAD MP3 KAJIAN KITAB DISINI

Selamat menyimak.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Samudera Hindia di Era Kekhilafahan Turki Utsmani (4/5)​


​​Kecakapan Teknikal, Semua Musti Memilikinya​​

Setelah dieksekusinya Muhiddin Piri Reis terkait fitnah atas tindakannya meninggalkan armada Turki Utsmani di Basra maka ditugaskan Kapten (Reis) Murad Yaşlı (Bapak Tua) untuk menyelesaikannya. Viceroy untuk Kegubernuran Portugis di India dipegang oleh Afonso de Noronha (November 1550-September 1554).

Ekspedisi besar keempat ini dipimpin oleh Murad Reis Yaşlı yang kedudukannya pada waktu itu adalah Sancak-Beğ untuk Qatif atau setara gubernur. Qatif adalah sebuah pelabuhan di pesisir barat Teluk Arab sekitar 50 kilometer sebelah utara Pulau Bahrain. Murad Reis ditugaskan untuk membawa armada yang tertambat di Basra balik ke pangkalan utama Armada Samudera Hindia di Suez.

Dalam pelayarannya mendekati Selat Hormuz pada bulan Juli 1553, armada Murad Reis tercegat oleh patroli armada Dom Diogo de Noronha sehingga terpaksa bertempur. Sejarah mencatat ini sebagai pertempuran di laut terbesar antara armada Portugis dan Turki Utsmani. Murad Reis berhasil menenggelamkan kapal bendera Noronha. Namun, perubahan arah angin secara mendadak membuat Murad Reis kewalahan menghadapi kapal-kapal Portugis yang lebih gesit. Oleh sebab itu Beliau memutuskan untuk menarik mundur sisa armadanya kembali ke Basra.

Salah satu taktik yang dilakukan oleh Murad Reis untuk menyelamatkan armadanya adalah dengan manuver ke laut dangkal penuh karang. Hal ini menyebabkan sisa armada Portugis tidak berani mengejarnya diantara pulau-pulau lepas pantai Hormuz itu.

Armada Portugis juga tidak memanfaatkan perubahan cuaca ini untuk mengejar armada kekhilafahan Turki Utsmani. Mungkin juga tenggelamnya kapal bendera membuat mereka ragu-ragu.

Agung Waspodo, merasa perlu belajar pelayaran.

Kalibata, 23 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Haruskah Bermahzab??


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya mau tanya tadz…Jadi hukum bermazhab bgm..dan hukum yg tidak bermazhab bagaimana..krn ada yg bilang sy mah ikut rasulullah aja..namun ada juga yg bilang ikut mazhab syafii…Itu bgmn ustad..

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Untuk aqidah, bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib. Sebab itulah esensi Islam yang diajarkan Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Salam.​ Walau penamaan Ahlus Sunnah baru pada pada masa sahabat dan tabi’in.

Ada pun dalam bidang fiqih, internal Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenal empat madzhab yg masih ada; Hanafi, Maliki, Syafi’iy, dan Hambaliy. Boleh memilih, madzhab yg mana .. sebab semuanya merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk di Indonesia memang mayoritas Syafi’iyyah.

Ada orang yang mungkin merasa sudah jadi ulama, sering berkata madzhab saya Al Qur’an dan As Sunnah, … Perkataan ini mengandung beberapa hal:

1. Seolah dia sudah sampai derajat ulama Mujtahid Mutlaq, yg sudah mampu menggali hukum syariat langsung dari Al Qur’an dan As Sunah. Tanpa lagi mau merujuk kepada para ulama.

2. Seolah para imam madzhab tidak paham Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga mesti dibenturkan oleh orang-orang ini dgn perkataan “Saya tidak ikut madzhab, saya ikut Al Qur’an dan As Sunnah.”

3. Perkataan madzhab saya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, secara tdk langsung (tidak mereka sadari) menurunkan derajat Allah dan RasulNya, seolah Allah dan RasulNya sederajat dengan para imam madzhab. Maha Suci Allah.

4. Terakhir .. jika mereka jujur dan konsisten dgn Al Qur’an, maka ikutilah ayat Al Qur’an:

​Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun​ – bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) jika kalian tidak tahu …

Jika mereka konsisten dengan As Sunnah, maka ikutilah nasihat Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​:

​Idza wusidal Amru ilaa ghairi ahlih fantazhirus saa’ah​ – Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. (HR. Bukhari)

Dan, yg ahli tentang agama adalah para ulama …

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA