Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami

📆 Senin, 21 Muharrom 1440H / 1 Oktober 2018
📚 FIQHUD DAKWAH

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Renungan di tengah Perjalanan dakwah
A. Mukaddimah
Dalam sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, “Akhi, berapa penghasilan Antum sebulan dari mengajar?” Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya. Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, “150 ribu sebulan.” Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.
Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktifis dan banyak amanah da’wah yang dia emban. Ia hanya berpenghasilan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.
Itulah ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita, bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.
Syahdan, di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup, bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya, memberikan ilustrasi keunggulan mewah’, bukan sekedar bercerita kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan untuk melegitimasi pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah dan sebagainya, karena ia sudah merasakannya. Lalu, kemana dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mau tahu?
Tak usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang urgen. Kaya memang penting. Mayoritas para sahabat yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan istri kami … Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang shalih, hamba yang bersyukur terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami menjadi pribadi yang apa adanya menurut Al Quran dan As Sunnah, bukan pribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami lupa’ diajarkan tentang masalah kekayaan dalam silabus tarbiyah kami, karena hakikat kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sehat, dan jangan memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.
Tetapi Ya Syaikh …,
kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal yang sama yakni harta, tetapi ia berbeda secara nilai yakni mentalitas. Mentalitas aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan menengah ke atas. Tak ada kamus aji mumpung dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mau mudah sekali mendapatkannya. Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan berleha-leha ketika ada saudaranya kesulitan? Justru mereka menampakkan kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..
Khadijah seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia abiskan untuk perjuangan suaminya, bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekedar melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu Anha. Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang, justru melambung tinggi, karena Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini ?
Untuk contoh masa sekarang adalah Usamah bin Ladin -setuju atau tidak dengan ideologi dan segala upaya jihadnya- ia adalah seorang kaya raya, bahkan sangat kaya, kalau dia mau bisa saja CNN dibelinya. Tapi, dia hidup amat sederhana, makan seadanya, dia serahkan kekayaannya untuk membiayai perjuangannya. Bukan mencari kekayaan dari perjuangan, bukan mencari biaya hidup dari perjuangan. Itulah letak kewibawaan.
Rasulullah dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita … selamanya. Kami tidak butuh teladan yang lain, walau ia berilmu, senior da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.
B. Kesederhanaan Adalah Izzah
Ada sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang baru, bisa diterima dengan baik. Sudut pandang materialis kapitalis ini, satu-dua contoh kasus bisa saja benar, bahwa jika Anda bergaul dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan hanya’ motor bebek atau mobil seken, lalu Anda kurang dianggap, kurang berharga’ dimata mereka. Bisa saja itu terjadi, dan bisa pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahwa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini. Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, karena taqwa dan keshalihan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau bisa juga fitnah.
Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali, tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk. Justru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan karena kekayaan dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya. Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah, dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana di lingkungan yang tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan. Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya. Inilah sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justru latah, ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bedanya dengan hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda tipis) dengan mereka.
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu Anhu dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. ” Maka Ia bersabda: “Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu. ” (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits no. 1285. Cet 1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
C. Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya
Da’wah ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill, kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang, sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran, popularitas, kekayaan, jabatan, wanita, walau ini mampu disembunyikan dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat.
Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.
Dari Aisyah Radhiallahu Anha berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan ada tentara yang menyerang Ka’bah, akan tetapi ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua dibinasakan, dari awal sampai akhirnya.”
Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka, yaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?“Rasulull ah menjawab:
“Mereka dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. ” (HR. Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)
Jadi, amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)
D. Kami Tidak Mengharamkan Perhiasan Yang halal dari Allah!
Jika ada yang menyangka, ini adalah sikap sok suci, sok tidak butuh kekayaan, apalagi disebut iri, maka ia amat keliru.
Kami meyakini, setelah iman yang mendalam dan amal yang terus-menerus, maka da’wah membutuhkan kekuatan, di antara kekuatan yang urgen hari ini adalah dana. Tentunya, orang yang tidak memiliki harta tidak bisa memberikan kekayaan. Bertemunya keimanan dan kekayaan, akan membentuk pribadi yang dermawan.
Namun yang menjadi tema dan sorotan kami adalah gaya hidup para da’i yang mengalami sock budaya, OKB, Orang Kaya Baru, lalu dia demonstratif dalam hal itu. Dia lupa bahwa dirinya berada di lingkungan da’wah, dan para ikhwah yang kebanyakan tidak seberuntung dia’. Para Ikhwah yang hidupnya kembang kempis.
Bergesernya orientasi da’wah ilallah menjadi dakwah dunia inilah yang harus disorot dan diwaspadai. Sesungguhnya, peringatan itu bermanfaat buat orang-orang beriman. Namun bagi yang sulit menerima nasihat, hatinya kesat, maka kami katakan:
Berpestalah … bersenang-senanglah … dan lakukan semua kehendakmu …. Anda bebas saudaraku… Tetapi, pesta pasti berakhir itu pasti ….
Kami juga meyakini, bahwa secara nilai normatif, banyak yang lebih faham dari kami tentang ini, lebih faqih, lebih berpengalaman, lebih cerdas, lebih pandai, lebih tahu masalah, pokoknya segalanya di atas kami ….
Tetapi, yang kami minta adalah jangan ajarkan kami kemewahan, sebab itu bukan cita-cita, obsesi, dan ambisi kami … jangan contohkan kami perilaku yang dahulunya sama-sama kita benci, sebab itu kabura maqtan … dan jangan paksa kami untuk mengikuti jejak perilaku dan pemikiran yang Anda iklankan ….
Semoga hidayah dan bimbingan Allah Ta’ala selalu menyertai kita semua .. Amin
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Isra’ : 18-19)
Wallahu A’lam wa Illahil `Izzah
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰=Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa=💰
💳 a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Uang Lebih dari Pinjaman

Ustadz Menjawab
Ahad, 30 September 2018
Ustadzah Drs. Indra Asih
Assalamualaikum ustadz/ah..
Afwan menganggu ana mau tanya ana kerja diunit koperasi dalam hal ini ada surat kesepakatan antara pihak ke 1 dan pihak ke 2 dalam pinjaman berupa uang utk biaya pembelian suatu barang
Lalu di koperasi yg ana jalani ada suatu pinjaman dgn sama2 sepakat dr msing2 pihak dari pinjaman tsbt ada kelebihan sebesar 20% apakah itu termasuk riba bkn iya…
Afwan mhn dbantu dr i09
Brownis 2
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Jika anggota atau pihak lain yang mengajukan pinjaman pada koperasi, lalu dikenai tambahan dari koperasi, ini dihukumi riba. Karena setiap utang piutang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah haram. Itu berarti bunga dari simpan pinjam tersebut adalah riba.
Kaidah baku dalam memahami riba adalah perkataan Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, yang mengatakan,
كل قرض جر منفعة فهو ربا
“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”
Demikiaan juga keterangan Abdullah bin Sallam. Beliau mengatakan, “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi itu memberikan fasilitas layanan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan keterangan di atas maka apa pun bentuk kelebihan yang diberikan oleh orang yang berutang karena konsekuensi utangnya maka statusnya adalah riba, baik yang menerima itu adalah pihak perorangan atau organisasi, semacam koperasi.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Tawakkal bag. 7

📆 Ahad, 20 Muharam 1439H / 30 September 2018
📚 KAJIAN KITAB
🎙 Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH
📻 RIYADHUS SHALIHIN
Hadits:
الخامس:
عن جابر – رضي الله عنه – : أَنَّهُ غَزَا مَعَ النبي – صلى الله عليه وسلم – قِبلَ نَجْدٍ ، فَلَمَّا قَفَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – قَفَلَ معَهُمْ ، فَأَدْرَكَتْهُمُ القَائِلَةُ في وَادٍ كثير العِضَاه ، فَنَزَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – وَتَفَرَّقَ النَّاسُ يَسْتَظِلُّونَ بالشَّجَرِ ، وَنَزَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – تَحتَ سَمُرَة فَعَلَّقَ بِهَا سَيفَهُ وَنِمْنَا نَوْمَةً ، فَإِذَا رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – يَدْعونَا وَإِذَا عِنْدَهُ أعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ : إنَّ هَذَا اخْتَرَطَ عَلَيَّ سَيفِي وَأنَا نَائمٌ فَاسْتَيقَظْتُ وَهُوَ في يَدِهِ صَلتاً ، قَالَ : مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي ؟ قُلْتُ : الله – ثلاثاً- وَلَمْ يُعاقِبْهُ وَجَلَسَ .
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .
Artinya:
Hadits Kelima
Dari Jabir r.a. sesungguhnya ia berperang bersama Nabi s.a.w. di daerah Najad – yakni perang Dzatur Riqa’.
Ketika Rasulullah s.a.w. pulang dari perjalanannya  ia pun pulang beserta mereka, kemudian mereka istirahat siang dalam suatu lembah yang banyak pohon berduri.
Rasulullah s.a.w. turun dan orang-orangpun berteduh di bawah pohon. Rasulullah s.a.w. turun di bawah pohon besar samurah kemudian menggantungkan pedangnya di situ.
Kita semua tertidur, tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil kami dan di sampingnya ada seorang Arab badui, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Orang ini telah mengacungkan pedangku padaku, saat saya tidur tadi, kemudian saya bangun, sedangkan pedang itu terhunus di tangannya, ia berkata: “Siapakah yang dapat melindungi engkau dari perbuatanku ini?”
Saya menjawab: “Allah” sampai tiga kali.
Tetapi beliau s.a.w. tidak menghukum orang – yang akan membunuhnya – tadi dan beliau pun duduklah.
(Muttafaq ‘alaih)
           ☆☆☆☆☆
Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.
Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:
http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1
atau
YouTube channel Manis
http://www.youtube.com/majelismanis
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: http://manis.id
📱 Info & pendaftaran member klik http://bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan  Dhuafa, a.n Yayasan  MANIS, No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Fitrah dan Bi'ah

📆 Sabtu, 19 Muharram 1440/ 29 September 2018
📚 *Tarbiatul Aulad*

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
Sesungguhnya, setiap anak yang lahir dari rahim ibunya dalam kondisi fitrah. Karena dalam kondisi fitrah, setiap anak menyukai kebaikan dan membenci keburukan (maksiat). Beberapa contohnya adalah anak-anak itu jujur, amanah, santun, dan tidak suka mencaci maki, tidak suka berbohong, tidak suka sifat-sifat yang tidak terpuji lainnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ar-Rum: 30,
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”. (QS. Ar-Rum : 30 )
Dan sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim)
Sebagaimana yang ditegaskan Imam Ghazali, ia mengatakan :
“والصي أمانة عند والديه، وقلبه الطاهر جوهرة نفسية، فإن عود الخير وعمله نشأ عليه، وسعد في الدنيا والآخرة، وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك،… وصيانته بأن يؤدبه ويهذبه ويعلمه محاسن الأخلاق…،”
“Setiap anak adalah amanah bagi orang tuanya. Setiap anak memiliki qalbu (hati) suci sebagai mutiara atau perhiasan yang berharga. Jika setiap anak dibiasakan dengan hal-hal yang baik, ia akan tumbuh dengan kebaikan dan kebahagiaan dia dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan berbuat yang tidak baik dan ditelantarkan pendidikannya seperti hewan, ia akan celaka dan merugi. Oleh karena itu, setiap anak harus dilindungi dengan cara mendidik, meluruskan, dan mengajarkannya akhlak yang baik”.
Syekh Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan beberapa inisiatif yang tidak baik dari para orang tua, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya ke lembaga yang tidak baik, sehingga mereka menerima pendidikan yang tidak baik, menyimpang, dan menyaksikan hal yang tidak baik pula. Mereka akan ditempa dengan hal yang tidak baik dan akan dipahamkan dengan sesuatu yang tidak baik.
2. Begitu pula jika setiap orang tua mengizinkan anaknya untuk membaca buku-buku cerita yang isinya tidak baik, cerita-cerita pornografi dan pornoaksi, ia akan seperti yang ia baca.
3. Orang tua yang membiarkan anaknya berteman tanpa kendali dan membiarkannya berteman dengan siapa pun, ia bermain dan bermuamalah dengan kawan-kawan yang tidak baik.
Sebaiknya setiap orang tua menitipkan anaknya ke lembaga pendidikan terbaik yang menanamkan iman, akhlak, dan ibadah sehingga anak tumbuh dan terdidik dengan hal-hal yang baik.
Jika setiap orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk tidak membaca cerita atau komik yang menjelaskan hal-hal buruk, begitu pula mengarahkan mereka untuk tidak menonton serta tidak bermain gadget dan game yang tidak baik, lalu memberikan alternatif lain seperti hiburan dan tempat bermain bagi mereka, anak-anak akan dapat diarahkan dan dapat dikendalikan dengan nilai-nilai islami serta terhindar dari hal-hal yang menghancurkan akhlak dan keyakinan.
Oleh karena itu, jika setiap anak yang tumbuh dalam kondisi yang fitrah ini kemudian hidup tidak terdidik dan bermain dalam lingkungan yang tidak kondusif, mendengar dan menyaksikan hal-hal yang tidak baik, berteman dengan kawan yang tidak baik, ia akan menjadi orang yang tidak baik. Sebaliknya, jika ia terdidik dan berteman dengan orang yang baik, mendengar dan menyaksikan pendidikan yang baik, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik.
📚 *Referensi* :
📔 buku Tarbiatul Aulad (Dr. Nasih Ulwan)
🗣 Alih bahasa, sistematika & Ilustrasi : Oni Sahroni
Wallahu a’lam
================
Follow And Join
📲Fb, IG, Telegram: @onisahronii
📲 Twitter : @onisahroni
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱Info & Pendaftaran member : bit.ly/mediamanis
💰 =Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa= 💰
An. Yayasan MANIS, No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut : bit.ly/donasidakwahmanis

Doa & Dzikir Awal & Akhir Tahun, adakah?

Ustadz Menjawab
Sabtu, 29 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamualaikum ustadz/ ah..
Afwan ustadz… do’a dan dzikir awal dan akhir tahun kan tidak ada tuntutannya dari Rasulallah dan para sahabat… apa hukumnya kalau kita membaca do’a akhir dan awal tahun?…
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Doa tersebut ghairu ma’tsur, yaitu doa yang tidak memiliki atsar/jejak dari Al Quran dan As Sunnah.
Lalu, apakah terlarang membaca doa yg ghairu ma’tsur? Mayoritas ulama membolehkan, selama isinya tidak ada hal-hal munkar.
Dalam kitab Al Mausu’ah, terdapat SUB BAB berjudul Ad Du’a bil Ma’tsur wa ghairi Ma’tsur (Berdoa dengan yang ma’tsur dan bukan yang ma’tsur), tertulis:
ذهب جمهور الفقهاء إلى جواز كل دعاء دنيوي وأخروي ، ولكن الدعاء بالمأثور أفضل من غيره .
Mayoritas fuqaha berpendapat bolehnya semua doa duniawi dan ukhrawi, tetapi doa yang ma’tsur lebih utama dibanding yg lainnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 20/265)
Banyak sekali doa2 buatan para sahabat, tabi’in, dan para ulama, tidak apa2 jika kita gunakan.
Yang tidak boleh adalah jika doa2 malam tahun baru tersebut dianggap dan disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan diyakini memiliki fadhilah khusus, ini yg salah. Tapi jika sekedar membaca, pada prinsipnya tidak apa-apa, sebab doa adalah aktifitas yang mutlak kapan saja, kecuali doa2 tertentu yang memang dikhususkan pd momen tertentu.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Proses Penyusunan Al-Qur'an

Ustadz Menjawab
Jum’at, 28 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Dulu proses disusunnya Al-Qur’an itu bagaimana sih Bu? Al-Quran kan mulai didokumentasikan saat kepemimpinan Ustman kalo ndak salah. Tp siapa yang memutuskan surah apa di urutan ke berapa? Kemudian pembagian juznya, bagaimana/siapa memutuskan satu juz sekian halaman (seragam kan ya jumlah halaman dlm 1 juz itu). Apakah semua organisasi konten Al-Quran itu sudah diwariskan oleh Rasulullah sebelum Beliau meninggal?
Manis 26
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Susunan itu bukan rekayasa para sahabat, tapi dari wahyu Allah Ta’ala kepada Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam.
Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuniy mengatakan:
وكان هذا التأليف عبارة عن (ترتيب الآيات) حسب إرشاد النبي و بامر من الله سبحانه وتعالى، ولهذا اتفق العلماء علي أن جمع القران “توقيفي” يعني : ان ترتيبه بهذه الطريقة التى نراه عليها اليوم في المصاحف انما هو بأمر و وحي من الله، فقد ورد أن جبريل عليه السلام كان ينزل بالآية أو الآيات علي النبي فيقول له: يا محمد إن الله يأمرك ان تضعها على رأس كذا، من سورة كذا، و كذلك كان الرسول يقول للصحابة : ضعوها في موضع كذا.
Dahulu yg dimaksud susunan adalah susunan ayat, dengan bimbingan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan melalui perintah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa pengumpulan Al Qur’an itu sifatnya TAUQIFIY (given), yaitu susunan yang bentuknya kita lihat saat ini di berbagai mushaf, semua itu adalah wahyu dari Allah.
Telah diriwayatkan bahwa Jibril ‘Alaihissalam menurunkan satu atau bbrp ayat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata kepadanya:
“Wahai Muhammad, Allah memerintahkanmu meletakkan ayat ini di depan, di surat yg anu,” .. demikian juga Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada sahabatnya: “Letakkan ayat ini di bagian ini ..”
(Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuniy, At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, hal. 53)
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Nisbah Bagi Hasil

📆 Jum’at, 18 Muharram 1440/ 28 September 2018
📚 *Fikih Muamalah*

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A
1. Tidak ada batasan tertentu untuk nisbah yang harus disepakati oleh kedua belah pihak, tetapi hal itu menjadi wewenang kedua belah pihak. Berapapun nisbahnya yang disepakati, itu sah dan mengikat.
2. Referensinya adalah kesepakatan. Akan tetapi, salah satu pihak boleh menawarkan nisbah tertentu kepada pihak lain. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih,
الرِّبْحُ عَلَى مَا اصْطَلَحَا
“Bahwa keuntungan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak”.
3. Menurut fatwa DSN MUI No.07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh); “Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha). Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan.”
Juga fatwa DSN MUI No.08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah; “Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad.”
================
Follow And Join
📲Fb, IG, Telegram: @onisahronii
📲 Twitter : @onisahroni
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱Info & Pendaftaran member : bit.ly/mediamanis
💰 =Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa= 💰
An. Yayasan MANIS, No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut : bit.ly/donasidakwahmanis

Harga Kejayaan

📆 Kamis, 17 Muharam 1440H / 27 September 2018
📚 Motivasi

🎙 Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH
لَوْلَا الْمَشَقَّةُ سَادَ النَّاسُ كُلُّهُمُ … اَلْجُوْدُ يُفْقِرُ وَالْإِقْدَامُ قَتَّالُ
“Kalau kejayaan dapat diraih tanpa kesulitan, semua orang pasti jaya…
“Ancaman kedermaan adalah kefakiran, dan ancaman keberanian adalah kematian.
Kejayaan atau kesuksesan merupakan dambaan setiap orang tanpa kecuali. Baik sukses belajar, sukses bekerja, sukses berumah tangga, sukses berkehipunan sosial, hingga sukses dalam menapaki puncak karir profesinya.
Akan tetapi pada kenyataannya, hanya sebagian kecil orang yang bisa mencapai puncak, sementara sebagian besar berada di bawah. Ibarat piramida atau gunung, kecil di puncak, semakin ke bawah semakin besar, dan yang paling besar adalah bagian bawah yang paling dasar.
Mengapa demikian? Karena kejayaan tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar. Harga itu adalah kesiapan menghadapi kesulitan, keberanian menghadapi tantangan, keuletan dan kesabaran, berkurang tidur dan istirahat, dan pantang putus asa.
Bait syair ini memberi contoh apa harga yang harus dibayar untuk meraih kejayaan sebagai dermawan dan pemberani.
Untuk menjadi dermawan, seseorang harus berjiwa kaya dan berani melawan perasaan takut miskin. Orang yang takut miskin, sulit diharap menjadi dermawan, karena jiwannya miskin. Demikian pula orang yang takut mati, ia tidak akan menjadi pemberani, apalagi menjadi pahlawan. Sejatinya, ia itu telah mati sebelum mati.
Anda memiliki potensi yang membuat Anda mampu melunasi harga kejayaan.
🏵🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: http://manis.id
📱 Info & pendaftaran member klik http://bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan  Dhuafa, a.n Yayasan  MANIS, No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Menginap di Rumah yang Memelihara Anjing..

Ustadz Menjawab
Kamis, 27 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Gimana hukum nya kalo Kita menginap dirumah orang muslim yg Islam tp mereka pelihara anjing di dalam rumah yg mana liur itu anjing udah pasti kemana2 , dan Kita sholat Di dalam rumah tsb krn gak ada pilihan lain. Katanya malaikat gak akan masuk ke rumah seseorang kalo Di dalam nya pelihara anjing atau semacam itu , krn anjing nya Di biarkan masuk ke dalam rumah dan bisa jalan ke kamar2.
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillahirrahmanirrahim ..
Kesalahan tersebut tentu kembali ke pemiliknya. Ada pun liurnya anjing adalah najis menurut mayoritas ulama kecuali Malikiyah, Asy Syaukaniy, Al Qaradhawiy, dll. Shgga memang perlu hati-hati, khususnya saat shalat agar tidak ada teras atau apa pun ditempat shalat yg terkena liur anjing.
Kemudian, shalat di rumah seorang muslim tentu sah, .. keberadaan anjing di rumah itu menghalangi malaikat rahmat bukan malaikat pencatat amal seperti yg dijelaskan Imam An Nawawi.
Bagaimana tidak sah? Sebagian ulama saja membolehkan shalat di  gereja, asalkan simbol2 salibnya sdh dihilangkan.
Jika belum ada tempat lain, bertahan sementara saja dulu. Jika ada tempat lain silahkan pindah saja, pamit dgn baik-baik dan tetap berhubungan baik.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Uang Korupsi…

Ustadz Menjawab
Rabu, 26 September 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
….Membaca bahasan tentang harta haram yang dibelanjakan untuk kebaikan, Saya berasumsi bahwa harta hasil korupsi termasuk Di dalamnya.
Namun,  Dalam konteks korupsi,  aturan negara menyatakan jika seseorang menerima uang hasil korupsi, ia bisa terjerat hukum sebagaimana orang yang melakukan korupsi. Bagaimana menurut ustadz?  Apakah tidak lebih baik kita menghindar Dari menerima harta yang didapat dari cara yang tidak halal?
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Lain kasus/pertanyaan, tentu lain jawaban. Uang haram itu  banyak sebabnya.
Kalau uang korupsi, mencuri,  cara terbaik adalah mengembalikan barang haram tersebut ke pemiliknya, sebagai mana dikatakan Imam An Nawawi dalam Babut Taubah di kitab Riyadhushalihin. Jika uang negara maka kembalikan ke negara, jika uang manusia kembalikan ke manusia tsb.
Untuk menolak uang haram, sudah pasti seorang muslim mesti menolaknya. Tapi, kadang dia tidak tahu dr mana uang yg dia peroleh dari orang lain, seperti seorang pedagang yg bertransaksi dgn pembeli yg penjudi. Maka, apa yg diterimanya tetap halal walau si pembeli pakai uang judi. Sebab, tidak mungkin pedagang menanyakan dulu “uang anda dari mana?”
Dalam hadits Bukhari, Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam juga bertransaksi secara hutang dgn seorang Yahudi, dan Nabi menjaminkan baju perangnya. Padahal si Yahudi tsb penghasilannya dari khamr, babi, dll.
Nah,  Berbeda dgn pertanyaan di manis yg terkait “penghasilan artis”. Atau uang riba, yg tidak ada kerugian dan org lain, tentu sikapnya beda lagi dgn uang korupsi.
Semoga bisa dipahami ..
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis