Ustadzah Menjawab: Seputar Keluarga

Oleh: Ustadzah Wulandari Eka Sari

1. Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadzah Wulan, Jika melihat beberapa lapis dalam membangun keluarga seperti yang ustadzah sampaikan sangatlah bagus dan ideal untuk semua keluarga muslim. Tapi dalam praktek di lapangan sehari-hari seringnya kita menemukan kendala-kendala terutama dalam mendidik anak-anak kita. Wa bil khusus untuk anak yang mulai menginjak remaja. Karena faktor pergaulan dan lingkungan di luar rumah mau tidak mau juga ikut andil dalam membentuk pribadi anak kita. Sekuat tenaga kita sebagai orang tua pastilah kita upayakan untuk tetap melakukan yang terbaik untuk menjaga anak kita dari pengaruh buruk pergaulannya di luar rumah. Nah yg saya mau tanyakan adalah, kiat-kiat apa atau apa yg perlu kita lakukan sebagai ortu bagi anak yang mulai remaja agar anak kita bisa tetap ada pada rule-rule yang sudah kita susun dalam mencapai keluarga muslim yang diharapkan Allah seperti yang ustadzah wulan sampaikan. (Ukhti Yani – Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal ukhti Yani di Riyadh. Kendala dalam proses pendidikan di keluarga adalah hal yang lumrah. Merupakan bagian dari kehidupan. Maka ada beberapa hal yang bisa kita siapkan agar ketika kendala menghadang, solusi bisa diperoleh.

Yang pertama : Dalam menjalani proses pendidikan keluarga kita harus selalu bersandar pada Allah. Bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu bagian dari penciptaan Allah. “kenakalan” tidak hanya mutlak milik anak, orang dewasa pun bisa melakukannya. Karena itu dalam upaya pendidikan keluarga, selalu ingat bahwa Allah yang punya kuasa dalam menentukan segalanya. Kita hanya berupaya.

Yang ke dua : Dalam proses pendidikan keluarga semuanya berperan, semua bisa menjadi subyek dan obyek. Anak bisa belajar dari ortu dan sebaliknya. Hal ini melahirkan rasa saling menghargai dan membutuhkan. inilah prinsip tawashowbil haq tawashowbishobr tawashowbil marhamah.

Yang ketiga : Bangun komitmen bersama melalui komunikasi yang intensif dan ramah. Mengapa al quran banyak bercerita tentang kisah-kisah? Karena berkisah adalah sarana terbaik dalam membangun komunikasi. Dengan komunikasi yang harmonis antar anggota keluarga, proses pendidikan bisa dijalankan dengan baik… Allahu a’lam bish showab.

Proses pendidikan untuk anak memiliki keunikan di tiap fase usia. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib ra, ada 3 fase yaitu usia 0-7 di mana anak ibarat raja, 7-14 anak ibarat tawanan dan di atas 14 anak adalah sahabat. Namun 3 fase itu saling berkelindan (berkaitan laksana rajutan). Bila dirasa anak usia baligh sulit diajak berkomunikasi, mungkin ada yang sempat ‘miss’ pada hubungan kita sebagai ortu dengan si anak di fase sebelumnya. Namun tidak ada kata terlambat utk perbaikan….

2. Pertanyaan :

Seperti apa langkah-langkah teknis yg dapat kami terapkan untuk anak umur 0-5 tahun agar kami orang tua dapat melahirkan anak-anak dengan kepribadian seperti yang di gambarkan dalam surah Al Ahzab ayat 35? ( Ummu Hisyma)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Hisyma.. Usia 0-5 tahun adalah fase penting di mana sel neuron dalam otak sangat aktif membangun jaringan. Informasi apapun yg masuk di otak anak sangat melekat. Dalam ilmu neuroscience, dalam otak ada bagian ‘ketuhanan’. Di mana pada hakekatnya manusia itu mengakui keberadaan Dzat yang Maha Besar yang menguasai dirinya. Di usia ini, sangat baik dimulai dengan menstimulan pengenalan terhadap Allah. Misal ortu sering menyebut-nyebut Asmaul Husna, tilawah alQuran di dekatnya, kalau ortu memiliki bacaan al Quran yg bagus bisa juga mentalaqqi anak hafalan al Quran dan bercerita banyak kisah. Terkait perkembangan motorik kasar dan halus bisa dilakukan di rumah dan sekitarnya oleh keluarganya, misal pengenalan tubuh, alam, hal-hal di dalam dan sekitar rumah. Namun perlu diingat, pada fase ini fungsi pengembangan kognitif anak bukan prioritas. Sehingga tidak disarankan anak utk diajari membaca, menulis bila ia tidak tertarik. Stimulan dengan banyak hal yg bisa membuatnya mengenal Robbnya, RasulNya dan kondisi sekitarnya..

3. Pertanyaan

Bisa diceritakan ustdzh, pendampingan seperti apa yg ustdzh. Wulan berikan, hingga anak anak bisa terus termotivasi untuk mengambil jalannya dengan penuh kesadaran? (Ummu Ahda)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Ahda. Pendampingan seperti apa yang kami lakukan, saya sendiri merasa belum optimal dan masih terus belajar.
๐Ÿ“ŒUpaya pertama yg kami lakukan adalah ada kesamaan pandang antara suami dan istri dalam menjalani proses pendidikan, sehingga bisa saling sinergi. Karena dalam pendidikan anak, ada peran ayah dan peran ibu dalam proses pendampingan tersebut. Misal ada saat di mana ayah yg harus bersikap dan berbicara. Saya sendiri kadang ada momen merasa sulit utk bisa menyampaikan maksud saya ke anak2, lalu saya komunikasikan ke suami dan beliaulah yg berbicara ke anak2. Begitu juga kadang ada momen di mana anak butuh kelembutan sikap seorang ibu.

Yang kedua, membangun komitmen bersama dengan anak adalah upaya pendampingan ortu ke anak. Kita tidak bisa mengawasi mereka 24 jam. Komitmen inilah yang menjadi kesepakatan kita.

Yang ke tiga, mereview komitmen bersama sebagai upaya menyegarkan kembali hubungan ortu dan anak.

Yang ke empat, selalu mohon kepada Allah utk penjagaanNya kepada keluarga kita.

4. Pertanyaan :

Ustadzah, bagaimana membuat kurikulum yang pas bagi putra-putri kita, agar tercapai tujuan-tujuan sebagaimana tersebut di materi? (Ummu Maryam, Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Maryam di Riyadh. Bila ditanyakan ke saya, sebagai praktisi Homeschooling, saya sekarang menyebutnya Familyschooling, tidak bisa menyatakan kurikulum yg pas itu seperti apa. Karena tiap manusia unik. Apa yg saya tulis di artikel ttg 10 model pembentuk pribadi muslim adalah sarana yg saya coba pakai sebagai standar. Saya sendiri membuat kurikulum bisa utk 6 bulan atau untuk setahun disesuaikan dengan masing-masing anak.

Yang kita perlukan sebagai langkah pertama dalam membuat kurikulum adalah membangun kedekatan kita dengan anak. Output dari kedekatan ini adalah pengenalan satu dengan yang lain.

Yang kedua  dengan melakukan dokumentasi misal foto, pencatatan dll yg bisa dibuat menjadi portofolio yg bisa dijadikan tolak ukur perkembangan proses pendidikan anak.

Yang ketiga, kurikulum perlu direview dengan kembali melihat tujuan dengan anak sebagai subyek. Disesuaikan dg potensi, kapasitas dan kemampuan anak.

5. Pertanyaan :

Ustadzah, mau tanya bagaimana memotivasi anak agar bersemangat dlm menghafal al qur’an dan tumbuh kecintaannya thd al qur’an atas kesadaran pribadi , bkn atas suruhan ortu.

Jawaban :
Pengenalan terhadap al Quran bisa dilakukan sejak usia dini.

Yang pertama adalah banyak berdoa khusus meminta kepada Allah agar keluarga kita dirahmati dengan al Quran. Allahummarhamna bil Qur’an, Allahumma yassirlana litilawatil Qur’an, yassir lana li hifdzil Qur’an…

๐Ÿ“ŒYang kedua, banyak menghidupkan al Quran dalam kehidupan, bisa dengan tilawah, menghafal, berkisah yg diambil dr al Quran, membaca terjemah, mendengar murottal. Bahkan di saat iman sedang lemah, tetaplah dekat dengan al Quran walaupun hanya mendengar murottal, sedikit tilawah. anak-anak yang melihat kebiasaan ini jadi terbiasa hidup dengan al Qur’an dan tidak merasa canggung…

Yang ketiga, tidak mengapa di awal anak membaca dan menghafal Qur’an atas suruhan ortu. Tentu saja kita memotivasinya dengan niat liLlah dan dengan cara yg positif. Setelah menjalaninya, insya Allah pada diri anak perlahan tumbuh rasa cintanya pada al Qur’an dan mulai berinteraksi dg al Qur’an secara mandiri… Allahu a’lam bish showab.

6. Pertanyaan :

Bagaimana caranya agar dalam mendidik anak si anak tidak merasa sebagai objek tunggal tetapi mereka melihat bahwa ortu pun termasuk dalam proyek besar pendidikan dlm keluarga itu sendiri.

Jawaban :
Dalam proses pendidikan keluarga semua anggota keluarga terlibat. Ini yang perlu dihidupkan. Mulai dari yang kecil seperti saling membangunkan pagi, membersihkan rumah hingga yang besar seperti cara mewujudkan keinginan dll. Komunikasi, walaupun sepertinya sederhana tapi ternyata merupakan batu terbesar yang sering sulit dipecahkan dalam proses harmonisasi dalam keluarga. Inilah hal yang sangat perlu dibangun sejak awal. Jangan biarkan siapapun, suami, istri atau anak bahkan ortu kita, bila masih ada, membangun impian atau cita-citanya sendiri. Tak perlu sungkan menceritakan impian kita ke orang terdekat. Maka impian anak pun kita genggam bersama. Katakan padanya, kita jalan bareng yuk menuju ke impianmu.

7. Pertanyaan :
Ustadzah Wulan, dalam mendidik anak di rumah, apa kiat Ustadzah dlm manajemen emosi menghadapi rutinitas bersama anak?

Jawaban :
Manajemen emosi memang butuh jam terbang. Kalau teringat saya dulu sering tidak mampu mengontrol emosi pada anak ketika anak masih kecil dan pemahaman saya yg masih minim, saya merasa malu dan mohon ampun kepada Allah. Itu pun karena minimnya ilmu saya. Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Kesadaran demi kesadaran Allah berikan dari kejadian-kejadian dalam kehidupan yg membuka mata saya untuk selalu move on. Rasa kesal kadang muncul baik kepada pasangan atau anak adalah hal lumrah. Namun yg membedakan kita dg org lain adalah pada cara mengendalikannya.

Yang pertama yang perlu menjadi kesadaran utama adalah tidak ada manusia sempurna. Begitu juga anak kita. Kesalahan yg dilakukannya atau hal yang tidak menyenangkan bagi kita, bukan pula hal yg diharapkannya. Karena itulah Rasul saw mengatakan bahwa kesabaran itu ada pada pukulan pertama. Ketika masalah itu muncul di hadapan kita, istighfar, bertasbih, mencoba tenang, berpikir positif dan bersikap positif.

๐Ÿ“ŒYang kedua, ajak anak utk menyelesaikan masalah bersama. Tidak melempar masalah ke pihak lain dan meminta pihak lain menyelesaikannya.

๐Ÿ“ŒYang ke tiga, utk keluar dr rutinitas yg kadang menjenuhkan kita, buatlah hal-hal yang di luar dari rutinitas kita dan buang pikiran bahwa itu akan membebani kita nantinya. Misal bila kita ingin bersantai di hari ahad, biarlah rumah berantakan, makanan apa adanya, anak-anak tidak mandi dll.. Itu hanya terjadi sehari, dan tidak akan mengubah banyak hal… asal ibadah tetap baik loh…
Allahu a’lam bi showab….

Bismillah… Tidak ada manusia sempurna kecuali Rasulullah saw.. Dalam proses pendidikan keluarga, hanya Allah yang berkehendak menentukan kita akan bagaimana. Semoga Allah mudahkan cita-cita mulia dan langkah-langkah kita… fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alaLlah…

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SURAT AL-KAFIRUN (Bag-2)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

Pembahasan sebelumnya bisa dilihat tautan di bawah ini..
www.iman-islam.com/2015/12/surat-al-kafirun-bag-1.html?m=1

Penjelasan tentang ayat-ayat Surat Al-Kafirun berikut ini semoga memperkuat motivasi kita semua untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan terus mendalaminya.

AYAT 1

ู‚ูู„ู’ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ

Katakanlah: “Hai orang-orang kafirโ€

โ€œQulโ€ (Katakanlah wahai Rasul-Ku): adalah perintah Allah kepada beliau untuk merespon negosiasi yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah dan rekan-rekannya agar Rasulullah mau melakukan kompromi dan pencampuran ibadah. Sebuah respon negatif untuk mereka dan jawaban tegas berupa penolakan.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa seruan ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir di muka bumi, meskipun seruan saat ayat ini diturunkan ditujukan untuk kafir Quraisy. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/507).

Beberapa ulama tafsir lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-kafirun dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tetap dalam kekafiran mereka hingga akhir hayat, seperti yang terjadi pada Al-Walid bin Mughirah dan rekan-rekannya yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Mereka semua tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam dan meninggal dalam kekafiran. (Tafsir Al-Qurthubi, Syamsuddin Al-Qurthubi, 20/226; Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 5/619; Nazhm Ad-Durar, Al-Biqaโ€™i, 22/3012; At-Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 30/440).

Orang-orang Quraisy di masa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam dinyatakan kafir oleh Allah meskipun mereka mengakui dan menyatakan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, dan biasa menyebut kata Allah dalam pembicaraan mereka.

ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑูŽ ู„ูŽูŠูŽู‚ููˆู„ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Al-Ankabut: 61).

Hal ini menegaskan bahwa sekadar percaya bahwa Allah adalah Maha Pencipta, apalagi sekadar percaya bahwa alam ini diciptakan tanpa keyakinan yang jelas siapa Penciptanya, maka semua itu tidak cukup untuk dikatakan beriman kepada Allah dengan benar.

Keimanan dan beragama yang benar bagi manusia yang lahir setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dengan tata cara yang dijelaskan oleh wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam melalui Al-Quran dan Hadits dan membenarkan semua informasi yang bersumber dari keduanya.

Dalam konteks Quraisy, awal kekafiran mereka adalah pengingkaran mereka kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam.

Seruan kepada mereka oleh Rasulullah menggunakan isim faโ€™il (kata sifat, pelaku) โ€œkafirunโ€ untuk menghinakan mereka dan mengisyaratkan bahwa:

1. Rasulullah tidak pernah takut kepada mereka meskipun beliau memanggil mereka dengan โ€œorang-orang kafirโ€, sebuah panggilan yang mereka pasti tidak suka. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581).

2. Bahwa negosiasi yang mereka lakukan adalah upaya pencampuran tauhid dengan syirik tanpa keraguan sedikitpun, dan momen menjawab negosiasi mereka adalah momen ketegasan, sehingga diperlukan bahasa yang tegas tentang al-furqan (garis pemisah) antara iman dengan kafir yang tidak menimbulkan kesan keraguan atau kelemahan.

3. Seruan dakwah Rasulullah menggunakan bahasa yang sesuai situasi dan kondisi, termasuk dalam memanggil objek dakwah. Beliau menggunakan panggilan umum seperti โ€œYa Ayyuhan-Nasโ€ (wahai manusia), atau panggilan yang mengandung penghormatan misalnya dengan menyebut suku atau kabilah mereka yang terhormat seperti โ€œYa Maโ€™syara Quraisyโ€ (Wahai masyarakat Quraisy) atau โ€œYa Bani โ€˜Abdi Manafโ€ (Wahai anak keturunan Abdu Manaf), .. demi maslahat dakwah yang ingin diwujudkan tanpa melanggar larangan.

AYAT 2 sampai dengan 5

ู„ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู ู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽุงุจูุฏูŒ ู…ูŽุง ุนูŽุจูŽุฏู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู

Beberapa ulama tafsir memaparkan dengan penjelasan yang berbeda. Apakah AYAT 4 adalah sekadar taukid (penguat) bagi AYAT 2, begitu juga AYAT 5 bagi AYAT 3, ataukah ada fungsi dan manfaat lainnya?

PENJELASAN IBNU โ€˜ASYUR

Ada yang memandang bahwa rangkaian AYAT dari 2 sampai 5 ini memiliki fungsi yang berbeda.

Diantaranya Ibnu โ€˜Asyur rahimahullah yang menyimpulkan  bahwa:

AYAT 2 menjelaskan situasi MASA DEPAN, bahwa Rasulullah tidak akan menyembah sesembahan mereka DI WAKTU MENDATANG.

Dalilnya adalah:

Dalil bahasa Arab, bahwa huruf nafi/negasi ู„ุง (tidak) yang masuk ke dalam fiโ€™il mudhariโ€™ (ุฃุนุจุฏ) mengandung makna negasi di MASA DEPAN.
Juga dapat disimpulkan dari salah satu riwayat sabab nuzul surat ini bahwa mereka menawarkan untuk lebih dahulu beribadah kepada Allah selama setahun,  baru setelah itu Rasulullah beribadah menyembah berhala mereka DI TAHUN BERIKUTNYA.

Sehingga maknanya menjadi:

โ€œAku tidak akan (di masa datang) beribadah kepada apa yang kalian ibadahi.โ€

AYAT 3 mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG, bahwa kalian orang-orang kafir tidak menjadi pelaku ibadah kepada Allah SAAT INI.

Dalilnya:

Dalil bahasa:   Negasi atas kalimat yang berbentuk JUMLAH ISMIYAH adalah negasi untuk keadaan SAAT INI. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), di AYAT 3 ini isimnya adalah dhamir (kata ganti) โ€“ ุฃู†ุชู… dimana โ€œantumโ€ (kalian) adalah mubtada (kata yang diterangkan), dengan KHABARnya (yang menerangkan) juga ISIM yaitu ุนุงุจุฏูˆู†.

Juga dapat disimpulkan dari sabab nuzul bahwa mereka siap mulai menyembah Allah SAAT INI dengan syarat tahun berikutnya Rasulullah menyembah berhala mereka.

Maksudnya: kalian wahai tokoh-tokoh Quraisy tidak perlu SAAT INI menjadi pelaku ibadah menyembah Allah jika hal itu kalian lakukan dengan tujuan mencampur adukan keyakinan dan peribadatan, dan supaya tahun depan aku bergantian menyembah berhala kalian. Karena perbuatan itu tidaklah benar.

Sehingga terjemahannya akan menjadi:

โ€œDan kalian (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.โ€

AYAT 4 merupakan athaf bagi AYAT 3 (keduanya berkedudukan sejajar, dipisahkan dengan huruf wau) dan sama-sama berbentuk JUMLAH ISMIYAH, sehingga juga mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG.

Sehingga maknanya menjadi:

Dan aku (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi.

AYAT  5 merupakan athaf bagi AYAT 4: berfungsi sebagai penegasan perbedaan 180 derajat antara Rasulullah dengan mereka.

AYAT 5 sebagai pengulangan dari AYAT 3: sebagai isyarat bahwa Allah dengan pengetahuan-Nya yang tak dibatasi oleh apapun telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh Quraisy yang datang kepada Rasulullah untuk menawarkan negosiasi ini tidak akan pernah sama sekali menyembah Allah sampai akhir hayat mereka. Sekaligus ini menjadi salah satu tanda kenabian atau muโ€™jizat Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam.

(At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581-583).

PENJELASAN ASY-SYAUKANI

Sementara Asy-Syaukani rahimahullah berpendapat bahwa AYAT 4 adalah taukid (penguat) bagi AYAT 2, dan AYAT 5 adalah taukid bagi AYAT 3. Taukid ini bertujuan untuk membuat mereka putus asa dari keinginan agar Rasulullah mau menerima negosiasi mereka.

Beliau juga menjelaskan bahwa kata ู…ุง pada keempat ayat tersebut bisa berposisi sebagai โ€œmaushulahโ€ (kata sambung) bermakna objek sesembahan atau yang diibadahi, sehingga terjemahan ayat-ayatnyanya kurang lebih sebagai berikut:

โ€œAku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi. Dan kalian bukan pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi. Dan aku tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi. Dan kalian tidak (pula) menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.”

Atau ู…ุง pada keempat ayat tersebut bisa juga sebagai โ€œmashdariyahโ€ (kata benda bentukan dari kata kerja) bermakna ibadah itu sendiri atau tata cara ibadah, sehingga terjemahan ayat-ayatnya kurang lebih sebagai berikut:

โ€œAku tidak beribadah dengan ibadah yang kalian lakukan. Dan kalian bukan pelaku ibadah dengan ibadah yang aku lakukan. Dan aku tidak menjadi pelaku ibadah dengan ibadah yang kalian lakukan. Dan kalian tidak  (pula) menjadi pelaku ibadah dengan ibadah yang aku lakukan.”
(Fath Al-Qadir, 5/620-621)

PENJELASAN TAMBAHAN

Penjelasan lain yang berbeda sudut pandang namun menambah kekayaan pemahaman kita terhadap surat ini, diantaranya:

Bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam tidak mungkin menyembah apa yang mereka sembah. Hal ini diungkapkan sekaligus dengan dua bentuk kalimat:

Pertama, JUMLAH FIโ€™LIYAH (kalimat yang intinya diawali dengan fiโ€™il (kata kerja) – ุฃุนุจุฏ) yaitu PADA AYAT 2. Jumlah fiโ€™liyah lebih menunjukkan kesan sewaktu-waktu terjadi, maka ketika ia dinafikan berarti perbuatan yang dinafikan (beribadah kepada berhala) itu tidak akan terjadi meskipun hanya sewaktu-waktu.

Kedua, JUMLAH ISMIYAH  (kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), dalam hal ini adalah dhamir (kata ganti) – ุฃู†ุง) yaitu PADA AYAT 4. Jumlah ismiyah ini lebih menunjukkan sifat pelaku yang relatif tetap, maka ketika ia dinafikan berarti sifat yang dinafikan itu secara relatif konsisten tidak terjadi. (Website Multaqa Ahli At-Tafsir, pada link: http://vb.tafsir.net/tafsir6174/#.Vmqwblf43C4)

Penjelasan di atas merupakan isyarat bahwa KONSISTENSI RASULULLAH shallallahu โ€˜alaihi wasallam DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH dan menjauhi syirik JAUH LEBIH HEBAT daripada konsistensi orang-orang Quraisy dalam menyembah berhala. Alasannya karena pernyataan tentang orang-orang kafir Allah hanya diungkapkan dengan jumlah ismiyah saja yaitu pada AYAT 3 dan AYAT 5, sementara keadaan Rasulullah diungkapkan dengan jumlah ismiyah dan fiโ€™liyah sekaligus yaitu pada AYAT 2 dan AYAT 4. Dan begitulah hendaknya kita, selalu berupaya sekuat tenaga untuk konsisten beribadah kepada Allah melebihi ibadah orang-orang kafir yang menyembah selain Allah, demi meneladani Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam. (http://vb.tafsir.net/tafsir26247/#.Vmwvvlf43C4).

Ibnu Katsir mengutip pendapat Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah rahimahumallah:

Bahwa jumlah fiโ€™liyah pada AYAT 2 berfungsi sebagai nafyu al-fiโ€™li (menolak kemungkinan perbuatan itu terjadi pada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam), sedangkan jumlah ismiyah pada AYAT 3, 4 dan 5 berfungsi sebagai nafyu al-qabul (menolak kemungkinan hal itu diterima oleh syariat). (Tafsir Ibnu Katsir, 8/508).

Perbuatan menyembah berhala oleh orang-orang kafir diungkapkan dengan fiโ€™il madhi (kata kerja yang menunjukkan masa lalu – ุนุจุฏุชู…) untuk menunjukkan bahwa penyembahan berhala telah mereka lakukan sejak lama.

Sedangkan ibadah kepada Allah yang dilakukan oleh Rasulullah diungkapkan dengan fiโ€™il mudhariโ€™ (kata kerja yang menunjukkan masa kini – ุฃุนุจุฏ) merupakan isyarat bahwa sebelum menerima wahyu beliau tidak mengenal iman dan ibadah yang benar, meskipun beliau tidak pernah menyembah berhala. Seperti dinyatakan dalam firman Allah:

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽูˆู’ุญูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฑููˆุญู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุฏู’ุฑููŠ ู…ูŽุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ู†ููˆุฑู‹ุง ู†ูŽู‡ู’ุฏููŠ ุจูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุดูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽุชูŽู‡ู’ุฏููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุตูุฑูŽุงุทู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ู

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52).

Dengan akal sehat dan fitrah yang lurus, mungkin saja seorang manusia sampai pada kesimpulan tentang keesaan Tuhan. Tetapi untuk mengetahui siapa Tuhan sesungguhnya dan bagaimana cara beribadah kepadaNya, manusia tidak akan sampai pada pengenalan dan tata cara beribadah dengan tepat tanpa wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah menjelaskan juga bahwa AYAT 2 dan 3 menegaskan perbedaan al-maโ€™bud (yang diibadahi), dimana Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam beribadah kepada Allah saja, sedangkan mereka orang-orang kafir menyembah berhala atau sesembahan selain Allah.

Sementara AYAT 3 dan 4  menegaskan perbedaan ibadah itu sendiri, dimana ibadah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam adalah ibadah yang murni tanpa kemusyrikan dan tata caranya benar, sedangkan ibadah orang-orang kafir adalah syirik dan batil, sehingga tidak akan pernah keduanya bertemu. (At-Tafsir Al-Munir, 30/441).

AYAT 6

ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฏููŠู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽู„ููŠูŽ ุฏููŠู†ู

Mengandung makna:

1. Bahwa semua agama selain Islam adalah satu kesatuan dalam kebatilan, dan hanya Islam yang benar. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/508).

2. Bagi kalian agama kalian yang berisi kemusyrikan, dan bagiku agama tauhid yaitu Islam. (Tafsir Jalalain, hlm 825).

3. Kalian wahai orang-orang yang datang bernegosiasi untuk mencampuradukkan ibadah, bagi kalian agama kalian selamanya, dimana kalian tak akan masuk Islam hingga akhir hayat kalian. Dan bagiku agamaku, dan aku dengan izin Allah tetap istiqamah dalam keislaman. (Ibnu Katsir, 8/508).

4. Bagi kalian balasan amal-amal kalian, dan bagiku balasan amal-amalku. (Tafsir Al-Maraghi, Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, 30/256). Karena balasan adalah salah satu arti kata ad-din seperti di surat Al-Fatihah ayat 4.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tanya Ustadz/Ustadzah: Seputar Keluarga

Dari mba Sumi Ati member A 83

Afwan ustadzah ada yang ingin saya tanyakan.

 Ini dari seorang teman, yang sudah bersuami.  Dia bilang suaminya seringkali selingkuh suka marah-marah dengan ucapan2 kasar, dan kadang dia juga ringan tangan, tidak sholat sehingga merasa sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkahnya

Pertanyaan dia, apakah berdosa jika dia meminta untuk cerai /Khuluq.

 Ustadzah…. syukron

Jawaban Ustadzah Indra Asih:

Asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai.

Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:

ุฃูŠู‘ูู…ุง ุงู…ุฑุฃุฉู ุณุฃู„ุช ุฒูˆุฌูŽู‡ุง ุทู„ุงู‚ุงู‹ ูููŠ ุบูŽูŠุฑ ู…ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูุ› ููŽุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽู„ูุนูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ุชูŽุฒูุนูŽุงุชู ู‡ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ูŽุงุชู

“Para wanita yang khulu’ dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu’ (pisah) dari suami, di antaranya:

1. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

2. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, dll

Bersabar lebih baik

Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang shalih, yang lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berimu, membimbing, bertanggungjawab dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun harus diingat, saat ini kita hidup di dunia, bukan di surga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan.

Sebaik-baik suami tentu tetaplah ada celah kekurangannya, dan seburuk-buruk suami tentu tetaplah ada sisi kebaikannya.

Setiap kali wanita bertemu dengan kondisi tidak ideal dalam rumah tangga yang menyusahkannya akibat perlakuan suami, maka sebaik-baik sikap adalah Shobr (tabah). Kesusahan yang dihadapi dengan Shobr karena semata-mata ingin memperoleh ridha Allah, akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba.

Bukhari meriwayatkan
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam beliau bersabda: โ€œTidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.(H.R.Bukhari)

Terhapusnya dosa bermakna bersihnya diri. Bersihnya diri dan kesucian jiwa akan membuat seorang hamba dicinta Rabbnya. Jika seorang hamba sudah dicintai Rabbnya maka doanya akan didengar, kebutuhannya akan dipenuhi, dilindungi dari marabahaya, dan dibela jika disakiti. Boleh jdi juga dengan kedekatan kepada Allah seorang wanita bisa membuat ‘keajaiban’, yakni menjadi perantara suaminya menjadi orang shalih sebagaimana dirinya.

Wallahu a’lam

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Asmaโ€™ul Husna dan Shifat Al โ€˜Ulya (bag-2)


Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2015/12/sikap-ahlus-sunnah-terhadap-asmaul.html

1. Sikap pertama: Tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash) ……

2. Sikap Kedua: Tafwidh

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah  berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Taโ€™ala, mengatakan:

ูˆู†ุญู† ู†ุนุชู‚ุฏ ุฃู† ุฑุฃูŠ ุงู„ุณู„ู ู…ู† ุงู„ุณูƒูˆุช ูˆุชููˆูŠุถ ุนู„ู… ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุนุงู†ูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุฃุณู„ู… ูˆุฃูˆู„ู‰ ุจุงู„ุงุชุจุงุน ุŒ ุญุณู…ุง ู„ู…ุงุฏุฉ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ูˆุงู„ุชุนุทูŠู„ ุŒ ูุฅู† ูƒู†ุช ู…ู…ู† ุฃุณุนุฏู‡ ุงู„ู„ู‡ ุจุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุŒ ูˆุฃุซู„ุฌ ุตุฏุฑู‡ ุจุจุฑุฏ ุงู„ูŠู‚ูŠู† ุŒ ูู„ุง ุชุนุฏู„ ุจู‡ ุจุฏูŠู„ุง

โ€œKami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Taโ€™ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan taโ€™thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).โ€
(Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Sebagian orang ada yang mencela apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini, lantaran mereka begitu โ€˜memaksakanโ€™ pendapatnya bahwa kaum salaf adalah tatsbit, tidak yang lainnya.

Sebenarnya, jika mereka mau bersabar untuk melihat ke berbagai literatur yang ada, mereka akan temukan bahwa apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini merupakan kesimpulan dan sikap para Imam Ahlus Sunnah sebelumnya. Sehingga tidak perlu sampai keluar celaan untuknya, yang secara tidak langsung hal itu juga celaan untuk para ulama sebelumnya.

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah mengatakan bahwa sikap salaf terhadap Bab Sifat-Sifat Allah Taโ€™ala adalah tafwidh, berikut ucapannya:

ูู‚ูˆู„ู†ุง ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆุจุงุจู‡: ุงู„ุงู‚ุฑุงุฑุŒ ูˆุงู„ุงู…ุฑุงุฑุŒ ูˆุชููˆูŠุถ ู…ุนู†ุงู‡ ุฅู„ู‰ ู‚ุงุฆู„ู‡ ุงู„ุตุงุฏู‚ ุงู„ู…ุนุตูˆู…

Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah  mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan maโ€™shum (Imam Adz Dzahabi, Siyar Aโ€™lam An Nubala, 8/105)

Begitu pula Imam Al Alusi Rahimahullah, ketika menafsirkan Surat Al Anโ€™am ayat  158:

ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุฃู’ุชูู‰ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุกุงูŠุงุช ุฑูŽุจู‘ูƒูŽ

โ€œAtau Kedatangan sebagian ayat Tuhanmuโ€

Berkata Imam Al Alusi dalam tafsir Ruhul Maโ€™ani:

ูˆุฃู†ุช ุชุนู„ู… ุฃู† ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุณู„ู ุนุฏู… ุชุฃูˆูŠู„ ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ุจุชู‚ุฏูŠุฑ ู…ุถุงู ูˆู†ุญูˆู‡ ุจู„ ุชููˆูŠุถ ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู†ู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ุทูŠู ุงู„ุฎุจูŠุฑ ู…ุน ุงู„ุฌุฒู… ุจุนุฏู… ุฅุฑุงุฏุฉ ุงู„ุธุงู‡ุฑ

โ€œEngkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf adalah meniadakan takwil seperti itu, baik dengan cara menambahkan atau lainnya, tetapi (mereka) tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Al Lathiful Khabir (maksudnya Allah Taโ€™ala) beserta meyakininya  dengan tanpa memaknainya secara literal.โ€ (Ruhul Maโ€™ani,  6/80)

Begitu pula ketika menafsiri Al Aโ€™raf ayat 54:

ุซูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ุชูŽูˆูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู

โ€œKemudian Allah bersemayam di atas โ€˜Arysโ€
Berkata Imam Al Alusi:

ูˆุฃู†ุช ุชุนู„ู… ุฃู† ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุณู„ู ููŠ ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ุชููˆูŠุถ ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู†ู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

โ€œEngkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf dalam hal seperti ini adalah tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Allah Taโ€™ala.โ€ (Ibid, 6/196)

Berkata Imam An Naisaburi dalam tafsirnya ketika menafsiri Al Maidah ayat 64:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ูŠูŽุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุบู’ู„ููˆู„ูŽุฉูŒ

โ€œDan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..โ€

ูˆูƒุงู† ุทุฑูŠู‚ุฉ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ุง ูˆุฃู†ู‡ุง ู…ู† ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุซู… ุชููˆูŠุถ ู…ุนุฑูุชู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡

โ€œAdalah metode kaum salaf mereka mengimaninya, bahwa itu dari sisi Allah, kemudian tafwidh (menyerahkan) pengetahuan tentangnya kepada Allah.โ€ (Tafsir An Naisaburi, 3/186)

Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan tentang makna, โ€˜Alal โ€˜Arsyistawaโ€™ , Dia bersemayam di atas โ€˜arsy:

ูˆูŽู„ูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู : { ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุงูุณู’ุชูŽูˆูŽู‰ } ู…ูู†ู’ ุชูŽูู’ูˆููŠุถู ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู…ู’ุณูŽุงูƒู ุนูŽู†ู’ ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ูู‡ู .

โ€œUntuk firmanNya: โ€˜Ala Al โ€˜Arsy istawa (Dia bersemayam di atas โ€˜arsy), termasuk menyerahkan ilmunya kepada Allah Taโ€™ala, dan menahan diri dari mentaโ€™wilnya.โ€ (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi Syarh Sunan At Tirmidzi, 8/160)

Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki beliau berkata:

ูุฅูู†ู‘ูŽ ุฃุญุฏู‹ุง ู„ุง ูŠุนุฑูู ูƒูŠููŠุฉูŽ ู…ุง ุฃุฎุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุนู† ู†ูุณู‡ ุŒ ูˆู„ุง ูŠู‚ู ุนู„ู‰ ูƒู†ู‡ ุฐุงุชู‡ ูˆุตูุงุชู‡ ุบูŠุฑู‡ ุŒ ูˆู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฌุจู ุชููˆูŠุถู ุงู„ุนู„ู… ููŠู‡ ุฅูู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒู‘ูŽ ูˆุฌู„ูŽ

โ€œMaka, sesungguhnya tak ada satu pun manusia yang mengetahui bagaimana caranya, tentang apa-apa yang Allah kabarkan tentang diriNya, dan tidak ada yang mengerti asalNya, DzatNya, SifatNya, selain diriNya, dan yang demikian itulah yang diwajibkan untuk menyerahkan (tafwidh) ilmu tentang hal itu kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla.โ€ (Mujmal Iโ€™tiqad Aโ€™immah As Salaf,  Hal. 141)

Demikianlah.
Imam Al Alusi justru mengatakan, tafwidh baik itu tafwidhul murad (menurut istilah Imam Al Alusi ), atau tafwidhul maโ€™na (menurut istilah Imam Adz Dzahabi), atau tafwidhul maโ€™rifah (menurut istilah Imam An Naisaburi), atau tafwidhul โ€˜ilmi (menurut istilah Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki) yang semuanya bermakna sama yakni  menyerahkan maksud/makna/pengetahuan/ilmu tentang sifat-sifat Allah  kepada Allah Taโ€™ala, ternyata sebagaimana dikatakan Imam Al Alusi- itu adalah madzhab masyhur dari para ulama salaf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun melakukan tafwidh

Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, ternyata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga melakukan tafwidh terhadap sifat-sifat Allah Taโ€™ala.
Padahal tafwidh adalah pemahaman yang sangat dia benci.

Demikian katanya:

” ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ุจูุตูููŽุงุชู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุฆูู‡ู ” ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูˆูŽุตูŽููŽ ุจูู‡ูŽุง ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ูˆูŽุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุจูู‡ูŽุง ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจูู‡ู ูˆูŽุชูŽู†ู’ุฒููŠู„ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู„ูุณูŽุงู†ู ุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฒููŠูŽุงุฏูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูŽู‚ู’ุตู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌูŽุงูˆูุฒู ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูู’ุณููŠุฑู ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ู ู„ูŽู‡ูŽุง ุจูู…ูŽุง ูŠูุฎูŽุงู„ููู ุธูŽุงู‡ูุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุดู’ุจููŠู‡ู ู„ูŽู‡ูŽุง ุจูุตูููŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ููŠู†ูŽ ุ› ูˆูŽู„ูŽุง ุณูู…ูŽุงุชู ุงู„ู…ุญุฏุซูŠู† ุจูŽู„ู’ ุฃูŽู…ูŽุฑููˆู‡ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ูˆูŽุฑูŽุฏู‘ููˆุง ุนูู„ู’ู…ูŽู‡ูŽุง ุฅู„ูŽู‰ ู‚ูŽุงุฆูู„ูู‡ูŽุง ุ› ูˆูŽู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุชูŽูƒูŽู„ู‘ูู…ู ุจูู‡ูŽุง . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ – ูˆูŽูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู – : ” ุขู…ูŽู†ู’ุช ุจูู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุจูู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุฑูŽุงุฏู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู “

โ€œBeriman kepada Sifat Allah Taโ€™ala dan NamaNyaโ€ yang telah Dia sifatkan diriNya sendiri, dan Dia namakan diriNya sendiri, di dalam KitabNya dan wahyuNya, atau atas lisan RasulNya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, tetapi membiarkan sebagaimana datangnya, dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.

Sebagian mereka berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafiโ€™i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu โ€œAlaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah.โ€ (Majmuโ€™  Fatawa, 1/ 294)

Apa yang dikatakannya: โ€œ … dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.โ€ Tak lain dan tak bukan adalah tafwidhul ilmi (menyerahkan ilmunya kepada Allah Taโ€™ala) dan tawidhul maโ€™na (menyerahkan maknanya kepada Allah Taโ€™ala).

Sungguh, ini sangat jelas persamaannya. Wallahu Aโ€™lam.

Sedangkan, kita melihat adanya dua sikap dari Al Ustadz Hasan Al Banna, dia menampakkan bahwa sikap yang benar sebagaimana salaf adalah mengimani dan menetapkan sebagaimana datangnya (tatsbit), dan menyerahkan maknanya kepada Allah Taโ€™ala (tafwidh), tanpa takwil dan taโ€™thil.

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Taโ€™ala)

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Taโ€™ala)

Kita akan dapati pula, bahwa sebagian salaf, mulai dari sahabat dan tabiโ€™in juga ada yang melakukan taโ€™wil terhadap sifat-sifat yang disandarkan kepada Allah Taโ€™ala. Namun, pada generasi selanjutnya, metode taโ€™wil inilah yang lebih sering ditempuh oleh para ulama.
Maka boleh kita katakan, taโ€™wil merupakan madzhab jumhur setelah masa-masa abad-abad pertama Islam.

Taโ€™wil yang kita bahas di sini, bukanlah taโ€™wil kaum zindik yang memang telah melakukan penyimpangan terhadap makna-makna sifat Allah Taโ€™ala.

Sebelum saya paparkan tentang  contoh taโ€™wil para Imam Ahlus Sunnah, saya akan berikan rambu-rambu taโ€™wil, dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

Syaikh Utsaimin membagi taโ€™wil menjadi tiga dalam kitab,  Lumโ€™ah al Iโ€™tiqad, Hal. 19 (saya ringkas saja):

1. Dilakukan melalui ijtihad dan niat yang baik. Maka ini dimaafkan.

2. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan memiliki argumentasi bahasa Arab, maka pelakunya fasiq, kecuali jika pendapatnya itu terdapat penguarangan atau aib terhadap Allah maka itu bias kufur.

3. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan tanpa memiliki argumentasi bahasa Arab. Keloimpok ini kufur, karena pada hakikat nya kedustaan yang tidak berdasar.

Berikut ini beberapa contoh taโ€™wil yang dilakukan oleh sahabat nabi dan tabiโ€™in ridhwanullah โ€˜alaihim jamiโ€™an, terhadap ayat-ayat sifat

Firman Allah Taโ€™ala tentang โ€˜tanganโ€™:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ูŠูŽุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุบู’ู„ููˆู„ูŽุฉูŒ

โ€œDan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..โ€

Ayat ini tidak mungkin dipahami sesuai teksnya, sebab membawa makna Allah Taโ€™ala serupa dengan makhlukNya sendiri yang tangannya terbelenggu.

Oleh karena itu, Abdullah bin Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma mengatakan:

ู„ูŠุณ ูŠุนู†ูˆู† ุจุฐู„ูƒ ุฃู† ูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ูˆุซู‚ุฉูŒุŒ ูˆู„ูƒู†ู‡ู… ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ุฅู†ู‡ ุจุฎูŠู„ ุฃู…ุณูƒ ู…ุง ุนู†ุฏู‡ุŒ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู…ุง ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุนู„ูˆู‘ู‹ุง ูƒุจูŠู‹ุฑุง.
โ€œMaknanya bukanlah tangan Allah terikat, tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah Taโ€™ala bakhil, lantaran telah menahan apa-apa yang ada padaNya, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar.โ€

Sementara Qatadah Radhiallahu โ€˜Anhu mengatakan:

ุฃู…ุง ู‚ูˆู„ู‡:”ูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ุบู„ูˆู„ุฉ”ุŒ ู‚ุงู„ูˆุง: ุงู„ู„ู‡ ุจุฎูŠู„ ุบูŠุฑ ุฌูˆุงุฏ!

โ€œAda pun tentang firmanNya, Tangan Allah Terbelenggu, mereka mengatakan: โ€œAllah itu bakhil tidak dermawan.โ€ (Imam Abu Jaโ€™afar bin Jarir Ath Thabari, Jamiโ€™ul Bayan fi Taโ€™wilil Quran, 10/452-453)

Imam Ibnu Katsir telah menyebutkan, dari Ibnu Abbas tentang makna โ€˜terbelengguโ€™: yakni bakhil. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 3/146)

Imam Al Baghawi Rahimahullah berkomentar tentang ayat tersebut:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ ูˆุนูƒุฑู…ุฉ ูˆุงู„ุถุญุงูƒ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ: ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูƒุงู† ู‚ุฏ ุจุณุท ุนู„ู‰ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ุญุชู‰ ูƒุงู†ูˆุง ู…ู† ุฃูƒุซุฑ ุงู„ู†ุงุณ ู…ุงู„ุง ูˆุฃุฎุตุจู‡ู… ู†ุงุญูŠุฉ ูู„ู…ุง ุนุตูˆุง ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฃู…ุฑ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆูƒุฐุจูˆุง ุจู‡ ูƒู ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ู…ุง ุจุณุท ุนู„ูŠู‡ู… ู…ู† ุงู„ุณุนุฉุŒ ูุนู†ุฏ ุฐู„ูƒ ู‚ุงู„ ูู†ุญุงุต ุจู† ุนุงุฒูˆุฑุงุก: ูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ุบู„ูˆู„ุฉุŒ ุฃูŠ: ู…ุญุจูˆุณุฉ ู…ู‚ุจูˆุถุฉ ุนู† ุงู„ุฑุฒู‚ ู†ุณุจูˆู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุจุฎู„ุŒ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ุฐู„ูƒ.

โ€œBerkata Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh Dhahak, dan Qatadah: โ€œSesungguhnya Allah Taโ€™ala begitu lapang terhadap Yahudi sampai-sampai mereka menjadi manusia yang paling banyak hartanya dan kelompok paling makmur di antara mereka. Lalu, ketika mereka mengingkari Allah dalam urusan Muhammad Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan mendustakannya, maka Allah Taโ€™ala menahan buat mereka apa-apa yang dahulu Dia lapangkan, maka saat itulah Finhash bin โ€˜Azura berkata: โ€œTangan Allah terbelengguโ€, yaitu dikekang dan dicabut dari rezeki, mereka menyandarkanNya dengan kebakhilan.

Maha Tinggi Allah dari hal itu.โ€ (Imam Al Baghawi, Maโ€™alim At Tanzil, 3/76)

Ayat lainnya:

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ููŽุถู’ู„ูŽ ุจููŠูŽุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

โ€œ Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah..โ€ (QS. Ali Imran (3): 73)

Imam Ibnu Katsir mentaโ€™wil ayat ini, katanya:

ุฃูŠ: ุงู„ุฃู…ูˆุฑู ูƒู„ู‡ุง ุชุญุช ุชุตุฑูŠูู‡ุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู…ุนุทูŠ ุงู„ู…ุงู†ุนุŒ ูŠูŽู…ูู†ู‘ ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุดุงุก ุจุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุชุตูˆุฑ ุงู„ุชุงู…ุŒ ูˆูŠุถู„ ู…ู† ูŠุดุงุก ูˆูŠูุนู…ูŠ ุจุตุฑู‡ ูˆุจุตูŠุฑุชู‡ุŒ ูˆูŠุฎุชู… ุนู„ู‰ ุณู…ุนู‡ ูˆู‚ู„ุจู‡ุŒ ูˆูŠุฌุนู„ ุนู„ู‰ ุจุตุฑู‡ ุบุดุงูˆุฉุŒ ูˆู„ู‡ ุงู„ุญุฌุฉ ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ

โ€œYaitu semua urusan di bawah pengaturanNya. Dialah yang memberi dan menolak. Dia memberikan karunia berupa ilmu, iman, dan seluruh tindakan kepada siapa saja secara sempurna. Serta menyesatkan, membutakan penglihatannya dan mata hatinya, menutup pendengarannya dan hatinya, dan menjadikan pada pandangannya halangan, dan  Dialah yang memiliki hujjah dan hikmah.โ€ (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 2/60)

Dalam ayat lain, yang menyebutkan sifat Wajhullah (Wajah Allah), para Imam Ahlus Sunnah pun melakukan taโ€™wil:

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‡ูƒุฐุง ู‚ูˆู„ู‡ ู‡ุง ู‡ู†ุง: { ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‡ูŽุงู„ููƒูŒ ุฅูู„ุง ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู } ุฃูŠ: ุฅู„ุง ุฅูŠุงู‡.

โ€œDemikian juga, firmanNya di sini: โ€œSegala sesuatu akan binasa kecuali wajahNyaโ€, yaitu kecuali DiriNyaโ€ (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 6/261)

Begitu pula Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan, tentang makna โ€˜Wajah Allahโ€™:

ู‚ุงู„: ” ุฅู†ู…ุง ู†ุทุนู…ูƒู… ู„ูˆุฌู‡ ุงู„ู„ู‡ ” ุฃูŠ ู„ุฑุถุงุฆู‡ ูˆุทู„ุจ
ุซูˆุงุจู‡ุŒ ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: (ู…ู† ุจู†ู‰ ู…ุณุฌุฏุง ูŠุจุชุบูŠ ุจู‡ ูˆุฌู‡ ู„ู„ู‡ ุจู†ู‰ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ ู…ุซู„ู‡ ููŠ ุงู„ุฌู†ุฉ).

โ€œAllah Taโ€™ala berfirman: โ€˜Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian, hanyalah demi wajah Allah.โ€™ Yaitu demi ridhaNya, dan mencari pahalaNya, dari itulah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan baginya yang seumpama itu di surga.โ€ (Al Jamiโ€™ Li Ahkamil Quran, 2/84)

Belau juga mengatakan:

 (ูˆูŠุจู‚ู‰ ูˆุฌู‡ ุฑุจูƒ) ุฃูŠ ูˆูŠุจู‚ู‰ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูุงู„ูˆุฌู‡ ุนุจุงุฑุฉ ุนู† ูˆุฌูˆุฏู‡ ูˆุฐุงุชู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงุนุฑ: ู‚ุถู‰ ุนู„ู‰ ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ู…ู†ุงูŠุง * ููƒู„ ุดุฆ ุณูˆุงู‡ ูุงู†ูŠ
ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุฐูŠ ุงุฑุชุถุงู‡ ุงู„ู…ุญู‚ู‚ูˆู† ู…ู† ุนู„ู…ุงุฆู†ุง: ุงุจู† ููˆุฑูƒ ูˆุฃุจูˆ ุงู„ู…ุนุงู„ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู….
ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ: ุงู„ูˆุฌู‡ ุนุจุงุฑุฉ ุนู†ู‡ ูƒู…ุง ู‚ุงู„: (ูˆูŠุจู‚ู‰ ูˆุฌู‡ ุฑุจูƒ ุฐูˆ ุงู„ุฌู„ุงู„ ูˆุงู„ุงูƒุฑุงู…) ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุงู„ู…ุนุงู„ูŠ: ูˆุฃู…ุง ุงู„ูˆุฌู‡ ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ ุนู†ุฏ ู…ุนุธู… ุฃุฆู…ุชู†ุง ูˆุฌูˆุฏ ุงู„ุจุงุฑูŠ ุชุนุงู„ู‰ุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุงุฑุชุถุงู‡ ุดูŠุฎู†ุง.

โ€œDan Yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu, yaitu yang tersisa hanyalah Allah, wajah merupakan ibarat (perumpamaan) dari wuudNya dan ZatNya yang Maha Suci.

Berkata seorang penyair:
โ€œTelah ditetapkan atas hambaNya kematian, Segala sesuatu selainNya adalah binasa (fana).โ€

Inilah yang disetujui para muhaqqiq (peneliti) dari ulama kami, seperti: Ibnu Furak, Abu Al Maโ€™ali, dan lainnya.

Ibnu Abbas mengatakan: Wajah merupakan ibarat dariNya, sebagaimana frmanNya: โ€œDan yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliann.โ€

Abul Maโ€™ali mengatakan: โ€œAda pun wajah maksudnya adalah menurut imam-imam besar kami adalah wujud Allah Taโ€™ala, dan itulah yang disetujui oleh guru kami.โ€ (Ibid, 17/165)

Ayat lainnya:

 ุณูŽู†ูŽูู’ุฑูุบู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ุซู‘ูŽู‚ูŽู„ุงู†ู
 
โ€œKami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.โ€ (QS. Ar Rahman: 31)

Para ulama salaf pun melakukan taโ€™wil  atas ayat โ€œkami akan memperhatikanโ€ , sebab jika dipahami secara zhahir makna โ€˜memperhatikanโ€™ membutuhkan alat penginderaan, dan itu mustahil bagi Allah Taโ€™ala.

Oleh karena itu Imam Ibnu Jarir berkata tentang ayat tersebut:

ูˆุฃู…ุง ุชุฃูˆูŠู„ู‡ : ูุฅู†ู‡ ูˆุนูŠุฏ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุนุจุงุฏู‡ ูˆุชู‡ุฏุฏ

โ€œAda pun taโ€™wilnya adalah ancaman dari Allah dan menakut-nakuti.โ€ Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Adh Dhahak. (Jamiโ€™ul Bayan, 23/41-42)
Ayat lain:

 ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’
  โ€œ ..dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.โ€ (QS. Al Hadid (57): 4)

Ayat ini mesti ditaโ€™wil, sebab jika tidak, akan bertentangan dengan kalimat yang ada pada ayat itu sendiri bahwa Allah bersemayam di โ€˜ArysNya.

Oleh karena itu Imam Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya pun yang sangat anti taโ€™wil, juga menakwil ayat ini.

Ayat ini tidak berarti Allah Taโ€™ala secara zat ada di setiap tempat kita berada, dan tidak boleh mengartikan demikian.

Kata Imam Ibnu Jarir  takwilnya adalah:

ูˆู‡ูˆ ุดุงู‡ุฏ ู„ูƒู… ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุฃูŠู†ู…ุง ูƒู†ุชู… ูŠุนู„ู…ูƒู…ุŒ ูˆูŠุนู„ู… ุฃุนู…ุงู„ูƒู…ุŒ ูˆู…ุชู‚ู„ุจูƒู… ูˆู…ุซูˆุงูƒู…ุŒ ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุนุฑุดู‡ ููˆู‚ ุณู…ูˆุงุชู‡ ุงู„ุณุจุน

โ€œDia menyaksikan kalian, wahai Manusia, dimana saja kalian berada Dia mengetahui kalian, mengetahui perbuatan kalian, lalu lalang kalian, dan di tempat tinggal kalian,dan Dia di atas โ€˜ArsyNya, di langit yang tujuh.โ€ (Ibid, 23/196)

Demikianlah. Sebenarnya masih sangat banyak taโ€™wil yang dilakukan para ulama terhadap ayat-ayat sifat, dalam rangka menjaga kesucian sifat-sifatNya dari penakwilan menyimpang manusia.

Sikap taโ€™wil ini di dukung deretan para Imam kaum muslimin, seperti Imam Al Ghazali, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Al Khathabi, Imam Fakruddin Ar Razi, Imam Al Jashash, Imam As Suyuthi, Imam Al Baqillani, Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id, Imam Izzuddin bin Abdusalam, Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Imam An Nasafi, Imam Al Bulqini, Imam Ar Rafiโ€™i, Imam Al Baidhawi, Imam Al Amidi, Imam Al โ€˜Iraqi, Imam Ibnu Al โ€˜Arabi, Imam Al Qurthubi, Imam Al Qadhi โ€˜Iyadh, Imam Al Qarrafi, Imam Asy Syathibi, Imam Abu Bakar Ath Thurthusi, Imam Syahrustani, Imam Al Maziri, Imam Isfirayini, Imam Dabusi, Imam As Sarakhsi, Imam At Taftazani, Imam Al Bazdawi, Imam Ibnul Hummam, Imam Ibnu Nujaim, Imam Al Karkhi, Imam Al Kasani, Imam As Samarqandi, dan lain-lain.

Mereka inilah yang biasa disebut kaum Asy โ€˜ariyah. (sebenarnya saya ingin menguraikan satu-persatu bukti sikap mereka, namun ini sudah cukup mewakili)

Jika kita perhatikan, maka jumhur ulama adalah melakukan taโ€™wil. Namun, para ulama salaf (terdahulu), lebih sedikit melakukan taโ€™wil.

Ada apa dibalik ini?
Ini bisa terjadi, lantaran Islam dan Al Quran telah menyebar ke seluruh penjuru dunia yang penduduknya bukan berbahasa Arab. Sehingga, jika ayat-ayat dan hadits-hadits sifat ini   dibaca dan difahami secara literal (zhahiriyah), maka bisa menggelincirkan pemahaman orang awam yang tidak bercita rasa bahasa Arab.

Oleh karena itu, bangkitlah para ulama untuk melindungi nash-nash tersebut, dari kemungkinan tafsiran berbahaya orang-orang โ€˜Ajam (non Arab).

Dari sisi ini, maka sebenarnya antara salaf dan khalaf, memiliki tujuan yang sama dengan sikap mereka itu, yakni menjaga kesucian Al Quran.

Oleh karena itu, walau kita lebih condong kepada pemahaman salaf, tidak selayaknya menjadikan polemik ini sebagai ajang saling pengkafiran sesama umat Islam. sebab, para ulama yang berselisih pun tidak sampai tingkat seperti itu.

Sebab memojokkan kaum Asyโ€™ariyah (para penakwil) dan menuduhnya keluar dari Ahlus Sunnah, sama juga memojokkan nama-nama para Imam kaum muslimin yang telah mendapat posisi penting di hati umumnya kaum muslimin.

Maka, renungkanlah!

Wallahu Aโ€™lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..

Ustadzah Menjawab: Seputar Shalat

Oleh: Ustz Aan Rohana

Pertanyaan

1. Jika kita shalat sebelum azan dgn jeda waktu tdk terlalu lama krn di daerah tsb jauh dr masjid/ musholla ternyata pas kita shalat baru terdengar sayup2 azan, apakah kita hrs mengulang shalat kita lg atau tdk?

2. Mengenai qorin, sy pernah baca tp sy lupa dimana krn sdh lama skli klo qorin itu afa yg baik ada yg jahat… Tapi saat ini saya baca lagi qorin itu jahat smua kec qorinnya nabi muhammad SAW.

3. Bagaimana cara kita mhadirkan hati pd saat shalat krn seringkali kita sdh berusaha khusyu’ tp sering ada lintasan2 pikiran yg muncul

Jzklh khair ust/ ustz atas penjelasannya

Jawaban:

Jika shalat dilakukan sudah masuk waktunya. Maka shalatnya sah sekalipun belum terdengar adzan. Karena yg menjadi syarat sahnya shalat adalah sudah masuk waktunya.
Sdgk adzan itu utk panggilan shalat.

Adzan juga menjadi isyarat sudah masuk waktu shalat, namun tdk semua sang muadzdzin adzan di awal waktu shalat terkadang ada yg tertunda bbrp menit.

2. Mengenai qorin , iya semua Qarin mengajak manusia kepada keburukan, kecuali hanya Qarin yg mendampingi Rasulullah SAW selalu mengajak pada kebaikan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah kpd Aisyah rodiyallahu anha.

3. Cara mrnghadirkan khusyuk dlm shalat , adalah;

a. Menyiapkan dan mengkondisikan jiwa  utk shalat .
b. Konsentrasikan fikiran agar bisa fokus kepada bacaan dan gerakan shalat.
c. Memahami makna semua bacaan dan gerakan shalat.
d. Menghindari dari hal2 yg mengganggu kekhusyuan shalat.
e. Banyak berdoa kpd Allah agar diberikan kekhudyuan dlm shalat.
f. Merasakan diri yg hina sedang berhadapan dgn
 Allah yang Maha agung .

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Seputar Muamalat

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M.Ag.

Pertanyaan:

1. Afwan ust, kalau petugas insenminasi buatan atau ib bgm? Petani biasanya bayar biaya ib.

2. Manis30 Tulus: Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Afwan Ustad ”..mau nanya?…bagaimana tetang hukum Sperma Laki-laki yang katanya bisa di tanam ke Rahim Wanita, dari Sperma yang bukan Suaminya?”..apa istilah bayi Tabung itu Ustd?”…Jazaakallahkhair,Mohon Pencerahanya.Wassalamu alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

3. Ustadz, terkait dengan jual beli sperma,, bagaimana hukumnya bagi orang yang bekerja sebagai perantaranya..,misal rekan kami yang bekerja di dinas peternakan, salah satu kegiatan rutin mereka yaitu melakukan IB (inseminasi buatan) pada lembu, dengan memasukkan sperma unggul dari lembu lain yang merupakan benih unggul yang diperjual belikan kepada indukan. Mohon tanggapannya. Terima kasih
Abu faruqi i33

4. MANIS A55
Bgmn hukum ensiminasi buatan? Karena sekarang ini kan lagi trend, mau pilih bibit yg seperti apa silahkan saja dgn harga yg berbeda?

5. Bgmn hukum upah bg mantri/ dokter hewan yg mengkawinkan sapi dengan ensiminasi buatan?
Sangat penting info ini bg sy..krn ada sapi yg sy pelihara dg cara ini.

Jazakumullah

6. Jadi program “setetes mani sejuta harapan” yg merpkn program pemerintah mll bid pwternakan berupa peningkatan kualitas n kuantitas ternak dg inseminasi buatan ato kawin IB “tak sesuai syariah”?
Suryanto I28

Jawaban Ust Rikza:

 Wa’alaikumsalam wbr

1. Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.
2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.
Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar. Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Wallahu A’lam

2. Dalam kasus bayi tabung para ulama sepakat hukumnya boleh apabila sperma yg dimasukkan ke dalam rahim istri adalah bersumber dari sperma suami.

Apabila bukan berasal dari suaminya, maka hukumnya haram.
Wallahu A’lam

3. Petugas inseminasi buatan hukumnya boleh saja, karena hukum inseminasi nya juga boleh.

Yg tdk diperbolehkan adalah upah kawin pejantan karena mentransaksikan sesuatu yg tidak jelas keberadaan yaitu mani pejantan. Keberadaan bisa ada atau tidak ada.

Ukurannya juga tdk jelas dan cara memperoleh nya juga spekulasi bisa wujud atau tidak.
Wallahu A’lam

4, 5 & 6
 Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.

2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.

Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar.

Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Kalaupun harga bibit atau mani pejantannya berbeda tergantung kualitas nya, maka tetap boleh, selama mani tersebut sdh wujud adanya dan bukan masih berada dalam tubuh pejantan nya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pernikahan, Cara Allah SWT memuliakan Wanita (bag-1)

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Di masa jahiliyah, wanita tidak diposisikan sebagai manusia. Mereka diperjualbelikan, dan dijadikan komoditas nafsu. Kelemahan wanita yang tidak dilahirkan untuk berperang dengan fisiknya, menjadi pembenaran bagi sebagian kaum jahiliyah untuk lebih memilih membunuh mereka semasa kecil daripada menjadi aib bagi keluarga karena tertawannya mereka di medan perang. Wanita digambarkan sebagai laki-laki yang belum lengkap, ia direndahkan dan dinistakan, tidak memiliki hak memilih sama sekali, termasuk dalam hal warisan, dan siapa pasangan hidupnya, maka secara keseluruhan wanita jauh dari martabat mulia.

Kehadiran Islam secara perlahan merevisi ragam pemikiran, adat istiadat, kepercayaan orang tua, keyakinan keghaiban, yang tidak sejalan dengan tujuan diciptakannya manusia, termasuk dalam hal ini, merevisi secara total cara pandangan manusia terhadap wanita. Islam kemudian mengembalikan wanita kepada derajat dan martabat sebenarnya sebagai sesama hamba Allah Swt yang sejajar dan setara dalam pandangan Allah Swt.[1]

Ketika Islam hadir, standar kebaikan wanita berganti dari yang bersifat fana menjadi iman,[2] maka menikahi wanita dari kalangan budak jauh lebih mulia daripada menikahi wanita musyrik meski cantiknya luar biasa.[3] Bersama iman, wanita diposisikan sebagai kesenangan hidup di dunia bagi setiap lelaki yang mencari ridho Allah semata[4] yang telah memerintahkan kaum lelaki untuk berlaku seadil-adilnya kepada wanita, sekaligus jaminan dan keamanan untuk hidup wanita dalam tanggung jawabnya.[5]

Wanita yang menjadi perhiasan dunia itu sejatinya adalah wanita yang mampu menjaga kehormatan dirinya hingga hari akad pernikahannya,[6] dan Allah Swt sudah mendidiknya langsung dengan membiasakannya untuk menutup auratnya secara benar.[7] Wanita telah dididik untuk terbiasa menjaga lisannya dari ucapannya kepada sesama wanita pada khususnya[8] dan juga kepada lawan jenisnya. Wanita pun dididik untuk tidak merusak aqidahnya dengan ragam keyakinan terhadap hal-hal khurafat seperti zodiak, ramalan tangan, ramalan perbintangan, dan keyakinan lainnya.[9]Wanita juga diajarkan untuk menjadi โ€˜akuntanโ€™ yang kredibel di rumah tangganya sehingga menjadi kepercayaan seisi rumah.[10]

Wanita yang terbiasa hidup dalam tarbiyah Allah Swt akan termudahkan untuk mampu mentaโ€™ati dan memposisikan suaminya sebagai imam dalam ketaatan kepada Allah,[11] dan kebiasaannya itu memudahkannya untuk memelihara dirinya dalam kesendirian di rumah suaminya.[12]Wanita yang mulia adalah yang membantu suaminya meraih setengah agama.[13] Seorang suami tidak lagi memiliki celah untuk berlaku keji kepada istrinya dengan bentuk tuduhan tanpa bukti nyata nan zhahir,[14] menyamakan istri dengan ibunya,[15] sehingga lahirlah kehatian-hatian dalam mengarungi tangga pernikahan menuju maqam yang lebih tinggi, dan berhati-hati untuk mengucapkan kalimat-kalimat buruk seperti sumpah tidak menyentuh,[16]kalimat โ€˜perpisahanโ€™ yang dibenci itu.[17]Bahkan Islam menjaga wanita yang telah dinikahi namun belum disentuh.[18]

Islam menghadirkan sosok-sosok wanita terbaik untuk dijadikan teladan oleh para wanita, seperti Maryam bin โ€˜Imran a.s.,.[19] anak-anak wanita Syuโ€™aib a.s.,[20]istri Ibrahim a.s,[21] istri Firโ€™aun,[22] istri โ€˜Imran a.s.,[23] istri-istri Nabi Muhammad Saw,[24] sebagaimana dihadirkan juga sosok-sosok wanita durhaka yang tidak layak dijadikan teladan seperti Istri Luth a.s.[25] dan istri al-โ€˜Aziz yang kelak bertaubat.[26]

Dalam hal menjalani kehidupan rumah tangga, wanita diingatkan akan ketidaksamaannya dengan pria,[27] dan bahwa penciptaannya yang setingkat lebih rendah dari pria, sehingga tidak layak wanita dipaksa bekerja di luar rumah.[28] Islam mendorong pemisahan antara harta pria dan wanita dalam kehidupan rumah tangga,[29] Untuk tujuan kesucian, kesehatan dan keselamatan jiwa, seorang suami pun tidak lagi diizinkan โ€˜menyentuhโ€™ wanita di kala haidh,[30] sebagaimana untuk tujuan kebaikan nasab, Islam mengatur wanita mana yang boleh dinikahi dan mana yang tidak, seperti menikahi wanita yang telah dinikahi ayah,[31]wanita bersuami,[32] atau wanita-wanita tertentu.[33] Untuk tujuan ridho Allah, seluruh perselisihan dalam rumah tangga pun diarahkan untuk diperoleh solusinya dengan cara-cara yang baik.[34]

Pernikahan kemudian mengingatkan para pengamalnya untuk memperbanyak generasi penyembah Allah Swt, dengan seluruh pelajaran dan hikmah yang telah diwariskannya.[35]Mengandung dan melahirkan menjadi sebuah aktivitas yang sangat dimuliakan dengannya.[36] Demikian pula dengan memperhatikan seluruh asupan yang baik untuk tumbuh kembangnya dengan baik,[37] hingga waktu yang ditetapkan Allah Swt.[38] __________________________

Rujukan :

[1] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 38, At-Taubah [9] ayat 71, 72, An-Nahl [16] ayat 97, An-Nur [24] ayat 2, Al-Ahzab [33] ayat 35, 36, 73, Al-Mukmin [40] ayat 40, Asy-Syuro [42] ayat 49, 50, Al-Fath [48] ayat 5, 6, 25, Al-Hadid [57] ayat 18

[2] Lihat Q.S. Al-Mumtahanah [60] ayat 10-12

[3] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 221

[4] Lihat Q.S. Ali โ€˜Imran [3] ayat 14

[5] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 3

[6] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 25

[7] Lihat Q.S. An-Nur [24] ayat 31, Al-Ahzab [33] ayat 59

[8] Lihat Q.S. Al-Hujuran [49] ayat 11

[9] Lihat Q.S. Al-Falaq [113] ayat 4

[10] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 282

[11] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 34

[12] Lihat Q.S. Hud [11] ayat 72

[13] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 187, 223, Al-Aโ€™raf [7] ayat 189, An-Nahl [16] ayat 72, Al-Furqon (25) ayat 74, Ar-Rum [30] ayat 21

[14] Lihat Q.S. An-Nur [24] ayat 6, 23, Al-Ahzab [33] ayat 4

[15] Lihat Q.S. Al-Mujadilah [58] ayat 2

[16] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 226

[17] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 229-232

[18] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 236-237, Al-Ahzab [33] ayat 49

[19] Lihat Q.S. Ali โ€˜Imran [3] ayat 42

[20] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 25

[21] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32

[22] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 9

[23] Lihat Q.S. Ali โ€˜Imran [3] ayat 35-36

[24] Lihat Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 28-32

[25] Lihat Q.S. Hud [11] ayat 81, An-Naml [27] ayat 57

[26] Lihat Q.S. Yusuf [12] ayat 23-34

[27] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 1

[28] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 228

[29] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32

[30] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 222

[31] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 22

[32] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 24

[33] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 23

[34] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 35

[35] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32, Al-Hujurat[49] ayat 13

[36] Lihat Q.S. Fathir [35] ayat 11, Fushshilat [41] ayat 47

[37] Lihat Q.S. Ath-Thalaq [65] ayat 6

[38] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 234

(bersambung ke bag-2)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

POTRET KASIH SAYANG RASULULLAH S.A.W DALAM PENDIDIKAN ANAK(2): BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK

Pemateri: Ustzh. INDRA ASIH
Di tengah kesibukan mengurusi umat, perang, keluarga, dan masalah-masalah duniawi, Nabi Muhammad shalallahu โ€˜alaihi wassalam selalu memberi dan menakar sesuatu sesuai dengan haknya. Beliau memberikan anak-anak kecil haknya untuk disayang dan dimanja. Beliau seringkali bermain dan bercanda bersama mereka, untuk membuat mereka ceria dan senang.
Abu Hurairah Ra pernah menceritakan bagaimana Nabi Saw bermain dan bercanda dengan cucu beliau, Al-Hasan. โ€œRasulullah Saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembiraโ€.
Anas bin Malik Ra menuturkan, bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. โ€œRasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra, beliau memanggilnya dengan: Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kaliโ€. Zuwainab artinya Zainab kecil.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, โ€œMereka (anak-anak itu) berkata, โ€œYa Rasulullah, mengapa engkau bercanda dengan kami?โ€ Kemudian Nabi Muhammad shalallahu โ€˜alaihi wassalam pun menjawab,
โ€œYa, akan tetapi aku selalu berkata benar, walau dalam senda gurau.โ€ (HR Ahmad)
Di antara candaan beliau adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa beliau memanggilnya dengan sebutan, โ€œwahai orang yang berkuping dua.โ€ (HR Abu Daud).
Seorang anak kecil bernama Abu Umair adalah anak Ummi Sulaim yang sering diajak bercanda oleh Nabi Muhammad shalallahu โ€˜alaihi wassalam. Pada suatu hari, terlihat wajah anak ini kelihatan murung. Rupanya dia sedang bersedih karena burung pipit peliharaannya mati. Kemudian Rasulullah pun menghampirinya dan mencoba untuk menghiburnya dengan berkata, โ€œHai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipitmu?โ€ (Muttafaq โ€˜alaih)
Pada kesempatan lain, Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam nampak asyik saat bercanda dengan anak-anak (kedua cucunya), sering kali Rasulullah digelantungi oleh mereka berdua. 
Al-Barra berkata, โ€œAku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam digelantungi Hasan, dan Beliau berkata, โ€˜Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia.โ€ 
(HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Al-Barraโ€™ juga mengatakan, โ€œRasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperhatikan Hasan dan Husain, lalu berkata, โ€˜Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.โ€
(HR Tirmidzi)
Sebagai imam masjid, Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam sangat memaklumi perilaku anak-anak, meskipun mereka agak โ€œmengangguโ€. Beliau memaklumi, dunia anak-anak memang demikian dan kecintaan anak-anak kepada masjid harus ditumbuhkan dengan dibiasakan mendatangi masjid dan dibina agar berlaku baik ketika berada di masjid. Hal tersebut nampak pada kejadian berikut,
Ketika Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam sedang berjalan menuju masjid guna menunaikan shalat berjamaah, di tengah jalan didapati beberapa anak-anak yang sedang bermain.
Saat mereka melihat kedatangan beliau, anak-anak itu langsung mengerubunginya, bahkan memegang dan menarik-narik baju beliau.
Diantara mereka bahkan sampai mengatakan:
โ€œJadilah engkau untaku.โ€
Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam melayani ajakan anak-anak itu sehingga beliau agak terlambat datang ke masjid dari biasanya.
Bilal bin Rabah yang sudah menunggu kedatangan Rasul di masjid akhirnya harus mencari dimana Rasulullah ber shalallahu โ€˜alaihi wassalam ada. Ternyata ia mendapati, beliau sedang bermain dan dikerubungi anak-anak itu.
Bilal mendatangi mereka dan bermaksud menjewer telinga anak-anak itu agar mau melepaskan Rasul. Tetapi Rasul mencegah Bilal dengan mengatakan:
“Sempitnya waktu shalat lebih kusukai daripada harus menyakiti anak-anak ini.โ€
Nabi Muhammad shalallahu โ€˜alaihi wassalam kemudian memerintahkan Bilal untuk mencari makanan di rumah beliau agar bisa diberikan kepada anak-anak.
Bilal segera kembali kepada Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam dengan membawa kacang. 
Beliau kemudian mengatakan: 
โ€œApakah kalian mau menjual unta kalian dengan kacang ini?โ€
Anak-anakpun bergembira dengan mengambil kacang-kacang itu dan melepaskan Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam yang melanjutkan perjalanan menuju masjid yang diikuti oleh anak-anak itu. Bilal terharu menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Penelitian yang dilakukan Rana Esseily dari Paris West University Nanterre La Defense dan teman-temannya menunjukkan bahwa bercanda bersama anak membantu mereka menjadi lebih bahagia dan hal tersebut akan meningkatkan perhatian, motivasi, persepsi, daya ingat, yang pada gilirannya meningkatkan pembelajaran mereka.
Mereka melakukan penelitian tentang hubungan antara humor dengan kemampuan balita dalam belajar.
Penelitian tersebut melibatkan bayi berusia 18 bulan dengan menemukan bahwa anak-anak yang sering bercanda atau tertawa karena tingkah laku orang tua atau orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan dibandingkan mereka yang tidak tertawa
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rana ini akan menyimpulkan bahwa kecerdasan anak dalam belajar ternyata berkaitan dengan kebahagiaan anak. Dengan kata lain, mental anak yang bahagia mendukung anak-anak untuk mencoba sesuatu yang baru dan berhasil ketika mempelajari sesuatu.
Berikut cara yang dilakukan oleh Rana Esseily dan teman-teman dalam mengetahui bahwa bercanda bisa membuat anak lebih cerdas:
Dalam satu kelompok, orang dewasa hanya bermain dengan mainan; tetapi pada kelompok lain, orang dewasa melemparkan mainan di lantai, yang membuat separuh anak-anak dalam kelompok tertawa. Hasilnya, anak-anak yang tertawa karena tingkah laku orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan daripada mereka yang tidak tertawa.
Kesimpulan:
Nabi shalallhu โ€˜alaihi wassalam senang bercanda dengan anak-anak. Bermain dan bercanda dengan anak ini merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh orang tua. 
Sebagian orang tua merasa malu dan gengsi untuk bermain dan bercanda bersama anak-anaknya. Padahal cara ini merupakan salah satu cara yang sangat jitu dan manjur untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tuanya. Ketika orang tua sudah akrab dengan anak-anaknya, maka pada saat itu anak akan lebih terbuka untuk menceritakan apa yang dia hadapi kepada orang tuanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketika seseorang berada di tengah-tengah keluarganya, hendaklah ia menjadi seperti anak kecil; penuh kasih sayang, bercanda dan bermain-main dengan anaknya. Tapi, ketika kehorrmatannya dilecehkan, ia menjadi lelaki sejati.”
Orang tua hendaklah menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak-anak. Dalam mendidik anak, bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah bermain dan belajar bersama anak-anak. Betapa senang anak-anak apabila orang tua mau bermain-main dan bergembira bersama mereka. Para orang tua jangan menganggap bermain-main dengan anak sebagai sesuatu yang tidak penting. Penelitian telah menunjukkan, orang tua yang memiliki waktu untuk bermain dengan anak-anak, memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan anak.
Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda, “Siapa memiliki anak kecil, hendaklah ia bercanda dan bermain dengan mereka.” (HR. Ad-Dailami dan Ibnu ‘Asakir)
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

SURAT AL-KAFIRUN (Bag-3)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.
Pembahasan sebelumnya bisa dilihat tautan di bawah ini..
Penjelasan tentang ayat-ayat Surat Al-Kafirun berikut ini semoga memperkuat motivasi kita semua untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan terus mendalaminya.
AYAT 1โƒฃ

ู‚ูู„ู’ ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ
๐Ÿ“ŒKatakanlah: “Hai orang-orang kafirโ€
โ€œQulโ€ (Katakanlah wahai Rasul-Ku): adalah perintah Allah kepada beliau untuk merespon negosiasi yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah dan rekan-rekannya agar Rasulullah mau melakukan kompromi dan pencampuran ibadah. Sebuah respon negatif untuk mereka dan jawaban tegas berupa penolakan.
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa seruan ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir di muka bumi, meskipun seruan saat ayat ini diturunkan ditujukan untuk kafir Quraisy. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/507).
Beberapa ulama tafsir lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-kafirun dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tetap dalam kekafiran mereka hingga akhir hayat, seperti yang terjadi pada Al-Walid bin Mughirah dan rekan-rekannya yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Mereka semua tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam dan meninggal dalam kekafiran. (Tafsir Al-Qurthubi, Syamsuddin Al-Qurthubi, 20/226; Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 5/619; Nazhm Ad-Durar, Al-Biqaโ€™i, 22/3012; At-Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 30/440).
Orang-orang Quraisy di masa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam dinyatakan kafir oleh Allah meskipun mereka mengakui dan menyatakan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, dan biasa menyebut kata Allah dalam pembicaraan mereka.

ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽู…ูŽุฑูŽ ู„ูŽูŠูŽู‚ููˆู„ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
๐Ÿ“ŒDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Al-Ankabut: 61).
Hal ini menegaskan bahwa sekadar percaya bahwa Allah adalah Maha Pencipta, apalagi sekadar percaya bahwa alam ini diciptakan tanpa keyakinan yang jelas siapa Penciptanya, maka semua itu tidak cukup untuk dikatakan beriman kepada Allah dengan benar.
Keimanan dan beragama yang benar bagi manusia yang lahir setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dengan tata cara yang dijelaskan oleh wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam melalui Al-Quran dan Hadits dan membenarkan semua informasi yang bersumber dari keduanya.
Dalam konteks Quraisy, awal kekafiran mereka adalah pengingkaran mereka kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam.
Seruan kepada mereka oleh Rasulullah menggunakan isim faโ€™il (kata sifat, pelaku) โ€œkafirunโ€ untuk menghinakan mereka dan mengisyaratkan bahwa:
1โƒฃ Rasulullah tidak pernah takut kepada mereka meskipun beliau memanggil mereka dengan โ€œorang-orang kafirโ€, sebuah panggilan yang mereka pasti tidak suka. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581).
2โƒฃ . Bahwa negosiasi yang mereka lakukan adalah upaya pencampuran tauhid dengan syirik tanpa keraguan sedikitpun, dan momen menjawab negosiasi mereka adalah momen ketegasan, sehingga diperlukan bahasa yang tegas tentang al-furqan (garis pemisah) antara iman dengan kafir yang tidak menimbulkan kesan keraguan atau kelemahan.
3โƒฃ Seruan dakwah Rasulullah menggunakan bahasa yang sesuai situasi dan kondisi, termasuk dalam memanggil objek dakwah. Beliau menggunakan panggilan umum seperti โ€œYa Ayyuhan-Nasโ€ (wahai manusia), atau panggilan yang mengandung penghormatan misalnya dengan menyebut suku atau kabilah mereka yang terhormat seperti โ€œYa Maโ€™syara Quraisyโ€ (Wahai masyarakat Quraisy) atau โ€œYa Bani โ€˜Abdi Manafโ€ (Wahai anak keturunan Abdu Manaf), .. demi maslahat dakwah yang ingin diwujudkan tanpa melanggar larangan.
AYAT 2โƒฃ sampai dengan 5โƒฃ

ู„ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู ู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽุงุจูุฏูŒ ู…ูŽุง ุนูŽุจูŽุฏู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุจูุฏู
Beberapa ulama tafsir memaparkan dengan penjelasan yang berbeda. Apakah AYAT 4 adalah sekadar taukid (penguat) bagi AYAT 2, begitu juga AYAT 5 bagi AYAT 3, ataukah ada fungsi dan manfaat lainnya?
๐Ÿ“šPENJELASAN IBNU โ€˜ASYUR
Ada yang memandang bahwa rangkaian AYAT dari 2 sampai 5 ini memiliki fungsi yang berbeda.
Diantaranya Ibnu โ€˜Asyur rahimahullah yang menyimpulkan bahwa:
AYAT 2โƒฃ menjelaskan situasi MASA DEPAN, bahwa Rasulullah tidak akan menyembah sesembahan mereka DI WAKTU MENDATANG.
๐Ÿ”น Dalilnya adalah:
Dalil bahasa Arab, bahwa huruf nafi/negasi ู„ุง (tidak) yang masuk ke dalam fiโ€™il mudhariโ€™ (ุฃุนุจุฏ) mengandung makna negasi di MASA DEPAN. 
Juga dapat disimpulkan dari salah satu riwayat sabab nuzul surat ini bahwa mereka menawarkan untuk lebih dahulu beribadah kepada Allah selama setahun, baru setelah itu Rasulullah beribadah menyembah berhala mereka DI TAHUN BERIKUTNYA.
Sehingga maknanya menjadi:
โ€œAku tidak akan (di masa datang) beribadah kepada apa yang kalian ibadahi.โ€
AYAT 3โƒฃ mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG, bahwa kalian orang-orang kafir tidak menjadi pelaku ibadah kepada Allah SAAT INI.
๐Ÿ”น Dalilnya:
Dalil bahasa: Negasi atas kalimat yang berbentuk JUMLAH ISMIYAH adalah negasi untuk keadaan SAAT INI. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), di AYAT 3 ini isimnya adalah dhamir (kata ganti) โ€“ ุฃู†ุชู… dimana โ€œantumโ€ (kalian) adalah mubtada (kata yang diterangkan), dengan KHABARnya (yang menerangkan) juga ISIM yaitu ุนุงุจุฏูˆู†.
Juga dapat disimpulkan dari sabab nuzul bahwa mereka siap mulai menyembah Allah SAAT INI dengan syarat tahun berikutnya Rasulullah menyembah berhala mereka.
Maksudnya: kalian wahai tokoh-tokoh Quraisy tidak perlu SAAT INI menjadi pelaku ibadah menyembah Allah jika hal itu kalian lakukan dengan tujuan mencampur adukan keyakinan dan peribadatan, dan supaya tahun depan aku bergantian menyembah berhala kalian. Karena perbuatan itu tidaklah benar.
Sehingga terjemahannya akan menjadi:
โ€œDan kalian (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.โ€
AYAT 4โƒฃ merupakan athaf bagi AYAT 3 (keduanya berkedudukan sejajar, dipisahkan dengan huruf wau) dan sama-sama berbentuk JUMLAH ISMIYAH, sehingga juga mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG.
Sehingga maknanya menjadi:
Dan aku (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi.
AYAT 5โƒฃ merupakan athaf bagi AYAT 4: berfungsi sebagai penegasan perbedaan 180 derajat antara Rasulullah dengan mereka.
AYAT 5 sebagai pengulangan dari AYAT 3: sebagai isyarat bahwa Allah dengan pengetahuan-Nya yang tak dibatasi oleh apapun telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh Quraisy yang datang kepada Rasulullah untuk menawarkan negosiasi ini tidak akan pernah sama sekali menyembah Allah sampai akhir hayat mereka. Sekaligus ini menjadi salah satu tanda kenabian atau muโ€™jizat Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam.
(At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581-583).
๐Ÿ“šPENJELASAN ASY-SYAUKANI
๐Ÿ”น(Bersambung)๐Ÿ”น
Dipersembahkan:
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Upah Kawin Pejantan

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Taujih Nabawi

Hadits #1

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุณู’ุจู ุงู„ู’ููŽุญู’ู„ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ)

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang menjual air mani pejantan. (HR. Bukhari, Nasaโ€™i dan Abu Daud)

Takhrij Hadits

Dengan sanad dari Ali bin Hakam, dari Nafiโ€™, dari Ibnu Umar ra, diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Ijarah, Bab โ€˜Ashbil Fahl, hadits no 2123.

Imam Turmudzi, dalam Jamiโ€™nya, Kitab Al-Buyuโ€™ an Rasulillah SAW, Bab Ma Jaโ€™a fi Karahiyati Asbil Fahl, hadits no 1194.

Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Fi Baiโ€™ Dhirabil Jamal, hadits no 4592.

Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Fi Asbil Fahl, hadits no 2975.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Muktsirin Minas Shahabah, dalam Musnad Abdullah bin Umar bin Khattab , hadits no 4402.

Hadits #2

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุถูุฑูŽุงุจู ุงู„ู’ููŽุญู’ู„ู (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ)

Dari Jabir ra bahwa Nabi SAW melarang upah (kawin) hewan jantan.โ€™ (HR. Muslim & Nasaโ€™i)

Takhrij Hadits

Dengan sanad dari Ibnu Jubair, dari Abu Zubai dari Jabir bin Abdillah ra, diriwayatkan oleh :

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim baiโ€™ fadhlil maaโ€™illadzi yakunu bil falati wa yuhtaju ilaihi, hadits no 2926.

Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Baiโ€™ Dhirabil Jamal, hadits no 4591.

Catatan :

Namun riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim dan Sunan Nasaโ€™i, tidak menggunakan redaksi ( ุถุฑุงุจ ุงู„ูุญู„ ) akan tetapi menggunakan redaksi ( ุถุฑุงุจ ุงู„ุฌู…ู„ ).

Gambaran Takhrij Hadits

Kesimpulan Hukum Riwayat Hadits

Hadits #1 merupakan hadits shahih, sesuai syarat Imam Bukhari, dan ditakhrij oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya.

Hadits ke #2 adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, dan sebagaimana dikemukakan juga oleh Imam Al-Hakim dalam Mustadraknya, :

ูˆู‡ุฐู‡ ุฃุณุงู†ูŠุฏ ูƒู„ู‡ุง ุตุญูŠุญุฉ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ู…ุณู„ู… ูˆู„ู… ูŠุฎุฑุฌุงู‡

Sanad hadits ini semuanya shahih sesuai syarat Imam Muslim, namun beliau tidak mentakhrij dalam Shahihnya.
Makna Hadits

Gambaran Hadits Secara Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang hukum jual beli sperma hewan pejantan, atau upah kawin hewan pejantan, yaitu bahwa hadits tersebut melarang transaksi dimaksud.

Maksud dari jual beli sperma hewan pejantan atau upah kawin hewan pejantan adalah seseorang memiliki hewan pejantan dari jenis-jenis hewan yang boleh dimakan seperti kambing, sapi, kerbau dan unta, kemudian ia memperjual belikan sperma pejantannya untuk ditanamkan dalam rahim hewan betina milik pembeli.

Atau seseorang yang memiliki hewan pejantan menyewakannya kepada penyewa, untuk mengawani hewan milik si penyewa.

Adapun tujuan dari jual beli sperma pejantan atau sewa/ upah kawin hewan pejantan adalah agar hewan tersebut bisa membuahi hewan betina milik si pembeli atau si penyewa.

Makna ( ุนุณุจ ุงู„ูุญู„ ) Asbil Fahl

Makna ( ุนุณุจ ) secara bahasa, asb berarti keturunan atau anak
Makna ( ูุญู„ ) secara bahasa, fahl berarti hewan jantan atau pejantan
Dalam Nailul Authar disebutkan, bahwa fahl adalah jenis jantan dari semua hewan, kuda, unta atau kambing, atau hewan lainnya.

Apabila digandeng, ( ุนุณุจ ุงู„ูุญู„ ) memiliki beberapa pengertian, diantaranya :

Air pejantan, maksudnya sperma yang berasal dari hewan pejantan.

Upah perkawinan dari hewan pejantan.

Pandangan Ulama Tentang Hukum Upah Kawin Pejantan

Pandangan Pertama:

Pandangan yang berpegang pada dzahir nash hadits, yaitu bahwa menjual sperma hewan pejantan, atau menyewakan hewan pejantan untuk mengawini hewan betina, atau upah kawin hewan pejantan, adalah haram.

Dalam nailul authar disebutkan :

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุจูˆ ุซูˆุฑ ูˆุขุฎุฑูˆู† ุงุณุชุฆุฌุงุฑู‡ ู„ุฐู„ูƒ ุจุงุทู„ ูˆุญุฑุงู… ูˆู„ุง ูŠุณุชุญู‚ ููŠู‡ ุนูˆุถ ูˆู„ูˆ ุฃู†ุฒุงู‡ ุงู„ู…ุณุชุฃุฌุฑ ู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ู…ุณู…ู‰ ู…ู† ุฃุฌุฑู‡ ูˆู„ุง ุฃุฌุฑุฉ ู…ุซู„ ูˆู„ุง ุดุฆ ู…ู† ุงู„ุฃู…ูˆุงู„ ู‚ุงู„ูˆุง ู„ุฃู†ู‡ ุบุฑุฑ ู…ุฌู‡ูˆู„ ูˆุบูŠุฑ ู…ู‚ุฏูˆุฑ ุนู„ู‰ ุชุณู„ูŠู…ู‡

As-Syafii, Abu Hanifah, dan Abu Tsaur, serta beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa menyewakan hewan jantan untuk dikawinkan statusnya tidak sah dan haram.

Pemiliknya tidak berhak mendapatkan ganti biaya. Meskipun penyewa itu mengawinkan hewan jantan (milik orang lain) dengan betina miliknya, dia tidak berkewajiban membayar upah yang telah dinyatakan di awal, tidak pula upah yang semisal atau harta apapun.

Pandangan Kedua

Pendapat yang mengatakan bahwa larangan dalam hadits di atas bukanlah menunjukkan keharaman (tahrimi), melainkan larangan yang dimaksudkan agar dihindari (tanzihi).

Atau dengan kata lain, larangannya adalah bersifat makruh, bukan haram.

Dalam syarah shahih Muslim disebutkan

ูˆู‚ุงู„ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุขุฎุฑูˆู† ูŠุฌูˆุฒ ุงุณุชุฆุฌุงุฑู‡ ู„ุถุฑุงุจ ู…ุฏุฉ ู…ุนู„ูˆู…ุฉ ุฃูˆ ู„ุถุฑุจุงุช ู…ุนู„ูˆู…ุฉ ู„ุฃู† ุงู„ุญุงุฌุฉ ุชุฏุนูˆ ุฅู„ูŠู‡ ูˆู‡ูŠ ู…ู†ูุนุฉ ู…ู‚ุตูˆุฏุฉ ูˆุญู…ู„ูˆุง ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู†ุฒูŠู‡ ูˆุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ู…ูƒุงุฑู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚โ€ฆ

โ€Beberapa sahabat, tabiin, Imam Malik, dan beberapa ulama lainnya berpendapat, boleh menyewakan pejantan untuk dikawinkan dalam masa yang disepakati, atau untuk beberapa kali proses mengawini.

Karena ada kebutuhan untuk melakukan proses itu, danmengawinkan binatang merupakan manfaat utamanya.

Illat Dilarangnya Jual Beli Sperma Pejantan

Adapun illat (sebab/ alasan) dilarangnya jual beli sperma pejantan, atau upah kawin pejantan adalah karena adanya dua hal berikut

Jahalah (ketidaktahuan) kadar, jenis, kuantitas dan kualitasnya

Adamul qudrah alat taslim (tidak bisa diserah terimakan).

Ibnu Qayim Al-Jauzi mengatakan ;

ุฃู† ู…ุงุก ุงู„ูุญู„ ู„ุง ู‚ูŠู…ุฉ ู„ู‡ ูˆู„ุง ู‡ูˆ ู…ู…ุง ูŠุนุงูˆุถ ุนู„ูŠู‡ ูˆู„ู‡ุฐุง ู„ูˆ ู†ุฒุง ูุญู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุนู„ู‰ ุฑู…ูƒุฉ ุบูŠุฑู‡ ูุฃูˆู„ุฏู‡ุง ูุงู„ูˆู„ุฏ ู„ุตุงุญุจ ุงู„ุฑู…ูƒุฉ ุงุชูุงู‚ุง ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠู†ูุตู„ ุนู† ุงู„ูุญู„ ุฅู„ุง ู…ุฌุฑุฏ ุงู„ู…ุงุก ูˆู‡ูˆ ู„ุง ู‚ูŠู…ุฉ ู„ู‡

Sperma adalah benda yang tidak memiliki nilai, bukan pula benda yang layak dijual belikan. Karena itu, ketika ada hewan pejantan seseorang yang mengiwini hewan betina milik orang lain, kemudian menghasilkan anak. Maka anak hewan ini menjadi milik si pemilik hewan betina dengan sepakat ulama. Karena anak ini tidak ada hubunganya dengan si jantan, selain sebatas sperma dan itu tidak ada harganya.

Hukum Meminjamkan Hewan Pejantan Kepada Pemilik Betina

Ulama sepakat, bahwa hukum meminjamkan hewan pejantan kepada pemilik hewan betina, dengan maksud supaya hewan pejantan tersebut mengawini hewan betina, tanpa adanya konpensasi upah apapun, adalah boleh.

Hal ini sebagaimana dalam hadits :

ุนู† ุฃุจูŠ ูƒุจุดุฉ ุงู„ุฃู†ู…ุงุฑูŠ ุŒ ุฃู†ู‡ ุฃุชุงู‡ ูู‚ุงู„ : ุฃุทุฑู‚ู†ูŠ (1) ูุฑุณูƒ ุŒ ูุฅู†ูŠ ุณู…ุนุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠู‚ูˆู„ : ยซ ู…ู† ุฃุทุฑู‚ ูุฑุณุง ูุนู‚ุจ ู„ู‡ ุงู„ูุฑุณ ูƒุงู† ู„ู‡ ูƒุฃุฌุฑ ุณุจุนูŠู† ูุฑุณุง ุญู…ู„ ุนู„ูŠู‡ุง ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูˆุฅู† ู„ู… ุชุนู‚ุจ ูƒุงู† ู„ู‡ ูƒุฃุฌุฑ ูุฑุณ ุญู…ู„ ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ (ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุญุจุงู†)

Dari Abi Kabsyah Al-Anmari ra, berkata โ€˜Pinjamkanlah kudamu padaku, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang meminjamkan kuda pejantannya secara cuma-cuma, lalu kuda betina yang dibuahi itu berketurunan, maka pemilik kuda jantan tersebut akan mendapatkan pahala tujuh puluh kuda yang dijadikan sebagai binatang tunggangan di jalan Allah.

Jika tidak berketurunan maka pemilik kuda pejantan akan mendapatkan pahala seekor kuda yang digunakan sebagai hewan tunggangan di jalan Allah.โ€ (HR. Ibnu Hibban)

Memberikan Hadiah, sebagai konpensasi peminjaman hewan pejantan.

Namun bagaimana hukumnya, apabila si peminjam memberikan hadiah kepada pemilik hewan pejantan, sebagai rasa terimakasihnya telah dipinjami hewan pejantan dan mengawini hewan betinanya?

Ulama berpendapat bahwa hukumnya boleh, dengan syarat bahwa hadiah tersebut bukanlah sewa, namun benar-benar hadiah yang diberikan tanpa adanya perjanjian pemberiah imbalan dengan besaran tertentu.

Hal ini di dasarkan pada hadits dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah SAW :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ุงูŽุจู ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุณู’ุจู ุงู„ู’ููŽุญู’ู„ูุŒ ููŽู†ูŽู‡ูŽุงู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูุทู’ุฑูู‚ู ุงู„ู’ููŽุญู’ู„ูŽ ููŽู†ููƒู’ุฑูŽู…ูุŸ ููŽุฑูŽุฎู‘ูŽุตูŽ ู„ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa seseorang dari kabilah Kilab bertanya kepada Nabi SAW perihal upah kawin pejantan.

Lalu Nabi SAW melarangnya. Kemudian ia berkata, โ€˜Wahai Rasulullah, kami meminjamkan hewan pejantan (untuk tujuan pengawinan), lalu kami mendapatkan hadiah?โ€™ lalu Nabi SAW memperbolehkannya hadiah tersebut.โ€™ (HR. Turmudzi)

Konsekwensi Jual Beli Sperma Pejantan, atau upah kawin pejantan.

Oleh karena hukum jual beli sperma atau upah kawin pejantan adalah dilarang, maka upah atau harga jual belinya adalah juga terlarang juga.

Karena ketika Allah SWT mengharamkan sesuatu, maka Allah haramkan juga harga atau keuntungan dari proses jual beli sesuatu tersebut.

Jadi, keuntungan atau upah kawin pejantan adalah tidak sah secara syariah, karena termasuk usaha yang dilarang secara syariah.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..