Tadabbur QS. Al-Mulk: BILIK-BILIK PRESTASI

Pemateri: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Keniscayaan Sebuah Ujian

Surat al-Mulk diturunkan Allah di Makkah

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67:1-2)

Melalui ujian tersebut Allah tahu siapa yang terbaik di antara para hamba-Nya. Terbaik dalam mengisi lembar ujian. Karena sepanjang hidup manusia selalu diuji oleh Allah. Jika –nantinya- hasil tersebut baik, maka kemanfaatan tersebut kembali pada diri masing-masing. Allah sama sekali tidak memerlukan itu. Jika ternyata belum sesuai harapan; toh pintu maaf-Nya tak pernah tertutup.

Sebagaimana siswa/mahasiswa menempuh ujian. Selalu ada materi yang diujikan atau diajarkan sebelumnya. Selalu ada yang mengingatkannya. Selalu ada yang mengajaknya bersiap-siap menempuhnya. Selalu ada yang menemani mereka.

Demikianlah kehidupan ini. Kehidupan yang dilapangkan oleh Dzat pencipta tujuh lapis langit, yang menghiasinya dengan bintang-bintang sekaligus sebagai pelempar para syetan; sang penyontek dan pengganggu ujian para manusia.

Orang yang gagal dalam ujian tersebut adalah orang yang merugi. Sekali lagi; merugi. Karena ia bukan sekadar gagal. Tapi akan menerima siksaan yang tak terperikan; pedih yang sangat. Ini bukan sebuah sistem yang kejam. Tapi sebuah hari pembalasan. Hari pengumuman. Yang pada hari itu semua manusia menampakkan penyesalan. Bagi yang berbuat baik ia menyesal mengapa tidak menambahnya. Bagi yang berbuat buruk, akan semakin tampak guratan sesal itu. Karena ia tahu kesudahan masalahnya. Hari itu takkan ada kebohongan sedikit pun. Karena yang menjadi saksi adalah anggota-anggota tubuh. Dengan titah Sang Pemilik segala kerajaan.

Ketika orang-orang yang gagal tersebut dilempar ke neraka sa’îr, para penjaga neraka itu menanyai mereka. Apakah tak pernah ada, orang yang memberi peringatan selama mereka di dunia? Mereka pun tak punya pilihan kecuali hanya mengiyakan. Guratan sesal sangat nampak. Karena mereka melecehkan para pembawa peringatan tersebut. Bahkan sebagian ada yang ditindas dan disakiti.

Sejenak kita simak pengakuan jujur mereka. “…. Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. 67:10)

Mereka adalah orang-orang yang tak mau menggunakan karunia mahal yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Untuk menempuh ujian kehidupan. Untuk menjadi orang-orang pilihan. Untuk menjadi yang terbaik.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. 3:190)

Dan akal adalah perangkat kesungguhan manusia dalam menempuh ujian. Karena hanya orang yang bersungguh-sungguh saja yang akan lulus sebagai orang-orang pilihan yang berprestasi.

Derivasi kata “a qa la” diulang dalam al-Qur’an sebanyak 49 kali. Semuanya berbentuk fi`il mudhâri’ (present/countinuous tense) kecuali satu berbentuk fi`il mâdhî (past tense). “Ta’qilûn” 24 kali, “ya’qilûn” 22 kali. ‘Aqala, na’qilu dan ya’qilu; masing-masing sekali. Ini belum kata-kata derifatif dari “fakara” yang juga diulang sebanyak 18 kali. Keduanya berarti berpikir. Menariknya adalah ketika Allah mengulang-ulang “afalâ ta’qilûn” (Tidakkah kalian berpikir) sebanyak 13 kali. Ini mengindikasikan bahwa agama bukan merupakan sebuah doktrin yang tak bisa diterima akal. Bahwa aturan-aturan yang diturunkan dari langit sebagai bahan ujian manusia di bumi tidaklah sulit untuk dipahami. Dalam setiap masa, Allah mengutus para rasul-Nya untuk menjelaskannya. Hingga datang penutup para rasul itu, Muhammad Saw.

Setelah itu tugas pemberi peringatan itu diteruskan oleh orang-orang setelahnya, pewaris para nabi. Mereka sebagai pemberi peringatan. Sekaligus sebagai peserta ujian. Karena mereka pun tak luput dari hari penghitungan. Agar kelak diketahui, siapa diantara mereka yang hanya berkata tapi tak mengamalkan. Menyeru tapi menyelisihi apa yang dikatakannya kepada manusia.

📌“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. 61: 2-3)

Kelengkapan manusia dengan dibekali akal tidaklah hanya kebetulan. Allah menjadikannya sebagai perangkat menuntut ilmu. Dengan ilmu Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud pada Adam as. Dan jin dilaknat karena enggan melakukan titah itu.

Dengan akal itu Allah menjadikan manusia sebagai khlifah-Nya di bumi. Untuk memakmurkan isinya. Agar bermuara pada ketundukan pada-Nya. Sebuah amanah yang bumi dan langit serta gunung pun menolaknya. Hanya manusia yang lemah yang berani memikulnya.

Allah mencela mereka yang tak menggunakan akalnya. Karena sama saja tidak menyukuri karunia-Nya.

Kembali ke permasalahan ujian. Bahwa proses penghargaan untuk yang menjadi terbaik adalah kedua sisi penciptaan Allah. Hidup dan mati. Semasa hidup manusia mengukir prestasi untuk dinikmatinya setelah ia mati. Jika hanya kehidupan, maka hasil ujian takkan pernah diumumkan. Sebaliknya, jika hanya ada kematian, maka takkan pernah ada ujian; apalagi penghitungan dari ujian itu.

Standar kelulusan ujian ini adalah; yang terbaik (ahsanu ‘amalâ). Bukan mereka yang banyak bicara. Bukan mereka yang banyak berbuat. Tapi mereka yang bagus dan benar amalnya. Dimensi –paling- bagus ini mencakup berbagai lini kehidupan. Dari aspek spirit, berupa kejernihan dan kebeningan hati. Dari aspek lainnya, kualitas dan profesional. Keberhasilan aspek pertama, akan membantu –sedikit banyak- keberhasilan aspek kedua.

Dalam usaha membuahkan kerja produktif dan profesional yang jujur –jika boleh dibahasakan demikian- maka akal manusia berperan untuk mewujudkan prestasi ini.

Karenanya sangat pantas jika kemudian akal ini dijadikan salah satu sarana pembantu kekhilafahan manusia di bumi.

Namun, ada hal lain yang kadang membuat manusia yang lemah lagi bodoh ini untuk mendewakan akal. Ia dijadikan satu-satunya sandaran yang dikultuskan. Bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal akal ini juga sebagaimana hati, digunakan sebagai sarana kekhilafahan yang dibimbing dan dipedomani dengan ajaran yang dibawa seorang rasul Allah. Akal tidak untuk didewakan dan dikultuskan, sebagaimana hati dan perasaan tidak pula untuk diperturutkan secara emosional.

Maka al-Quran tak pernah memuat secara langsung kata “al-aqlu” (akal); ini dimaksudkan –walLâhu a’lam”– agar kita juga tidak terlalu mendewakan akal. Yang dipuji Allah adalah proses menggunakan akal. Dianjurkan dan dijadikan sarat meraih prestasi dan posisi yang tinggi di sisi-Nya sebagai orang yang beriman dan berilmu.

Pengkultusan akal ini suatu saat bisa mengakibatkan pengkultusan diri. Pada saat kekuasaan dan harta digenggam. Pada saat tak ada orang yang berani mengatakan tidak untuk melawan keputusaannya. Pada saat semua orang terdiam, bungkam oleh keterpaksaan. Saat itulah firaun-firaun Musa menjelma menjadi dzat yang merasa besar. Congkak namun dungu “…(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. 79:24)

Orang-orang yang gagal itu akan enggan bila diajak berpikir. Siapa yang mendatangkan badai atau hujan batu? Apakah kalian merasa tenang-tenang saja dari ditimpa hal-hal seperti itu di bawah langit? Langit siapakah itu?

Ketika Allah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal manusia, ia seolah tidak pernah merasa bahwa bumi ini berputar dengan cepatnya. Di samping itu bumi dan beberapa planet di sekelilingnya juga berputar lebih cepat mengelilingi matahari sebagai pusat peredaran planet-planet. Pernahkah ia berpikir? Pernahkah manusia membayangkan, air laut yang sangat banyak itu mengapa tidak tumpah? Dan semua penghuni bumi juga tidak terlempar dengan kecepatan perputaran tersebut. Siapakah yang menjadikan hal tersebut?

Lihatlah burung ketika terbang. Saat mengembangkan dan menahan sayapnya. Siapa yang menahannya berada di udara di atas kita.

Siapa yang memberi rizki? Menjodohkan dan mengabulkan berbagai permohonan?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan. Mencipta kehidupan sekaligus mencabutnya dan menjelmakan sebuah kematian sebagai gantinya?

Siapa yang menjadikan bumi ini laik untuk dihuni para khalifah Allah. Yang sekaligus ditugaskan memakmurkannya serta menikmati segala fasilitasnya.

📌Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. 67:23).

Benar; sungguh sedikit yang mau mengerti dan paham serta menyukuri segala fasilitas ini.

Bukankah dengan ini manusia sudah cukup diajak berdialog dengan sangat demokratis. Sebelum jatuh vonis kelak di hari yang tak ada perbantahan di sana. Karena hanya ada sebuah kesaksian yang jauh dari rekayasa. Kesaksian yang berbicara dengan titah kejujuran.

Sangat adil. Dia mengaruniai manusia pendengaran, penglihatan serta hati untuk membalance akal. Sekaligus menyempurnakan perangkat dan peralatan menempuh ujian. Adapun sarana dan perangkat lain; manusia dianjurkan untuk berinovasi serta kreatif menemukan dan menggunakannya.

Setelah itu, dengan keterbukaan akal dan wawasan; kita tahu bahwa lahan prestasi dalam hidup ini sangatlah luas. Berbuat apa saja bisa dijadikan sebagai lahan peningkatan poin dalam buku prestasi amal. Bahkan tidur dan makan pun sebagai pemenuhan di antara insting manusia bisa diframe dalam bingkai prestasi. Dengan niat yang baik. Secara vertikal kepada Sang Pemilik hidup dan mati, kita tahu berinteraksi. Kepada diri kita, kita juga tahu dan paham. Serta kepada apa dan siapa saja di sekeliling kita, semua ada cara interaksinya.

Semua bisa dibingkai untuk meningkatkan raihan prestasi kita. Dengan kesungguhan. Dan dengan kecerdasan akal kita. Serta dengan kekuatan bashirah. Setelah itu, laluilah. Jalanilah kehidupan ini apa adanya. Kelak kita hanya tinggal menuai hasilnya.

Bersegeralah isi bilik-bilik prestasi itu. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan tiada guna lagi sesal saat itu.

“Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

Sedang para hamba-Nya yang berprestasi hari itu, akan diberi nilai bermacam-macam dan berbeda sesuai dengan amalnya. Pada hari itu mereka dihargai dengan derajat yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang beruntung saat penyematan prestasi itu dilakukan di depan Allah, para malaikat; penghuni langit. Jin dan manusia, serta para penduduk dunia dari berbagai penjuru dan dari setiap masa. Akankah kita termasuk salah satu dari mereka? WalLâhu al musta’ân.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an

Pemateri: Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

Anak sebagai karunia dari Allah, merupakan rahmat dan rizki yang dinanti para orang tua. Karena anak adalah permata hati yang dengan keshalehannya bisa membahagiakan kedua orang tua di dunia dan di akhirat .

Allah berfirman:
 رحمة الله وبركاته عليكم
Artinya : ” itu adalah rahmat dan berkah Allah curahkan kepadamu” ( QS. 11:73 )

Amal shaleh anak bisa menjadi sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan terputus hingga hari kiamat tiba. Sebab keberadaan anak shaleh dikarenakan adanya pengorbanan dan perjuangan yang besar dari para orang tua dalam mendidiknya tanpa kenal waktu.
Rasulullah bersabda:
 اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له
Artinya: ” Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara , yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya” ( HR. Muslim ).
Pantaslah jika anak adalah milik yang paling berharga , menjadi aset yang paling bernilai bagi para orang tua di dunia dan akhirat. Karena itu wahai para orang tua berilah anak nikmat Allah yang teragung yaitu pendidikan mencintai Alquran.
Allah berfirman:
 الرحمن. علم القران.
Artinya: ” Allah Yang Maha Penyayang . Telah mengajarkan Alquran”( QS. 55 : 1-2 ).
Pentingnya pendidikan anak mencintai Al-Quran telah diwasiatkan Rasulullah SAW. kepada para orang tua dengan sabdanya:
 ادبوا اولادكم على ثلاث خصال : حب نبيكم وحب ال بيته وتلاوة القران فان حملة القران في ظل عرش الله يوم لا ظل الا ظله.
Artinya : ” Didiklah anakmu kepada 3 perkara yitu mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan ( mencintai) membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya pelaku Al-Qur’an akan berada di bawah naungan Arsy Allah saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” ( HR. Thabrani ).

Mengapa anak harus dididik mencintai Rasulullah, keluarganya dan mencintai Al-Quran ? Karena dalam konsep Islam, anak harus disiapkan menjadi pemimpin yang beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berwawasan pengetahuan yang luas dan bermanfaat , sehat, mandiri, dan menjadi pejuang dalam melaksanakan dan menegakkan nilai2 Islam hingga kejayaaannya. Merekalah yang akan menjadi pemimpin bagi orang2 yang bertakwa.

Mendidik anak cinta alquran itu dimulai dengan cinta membacanya, cinta menghafal dan mengulangnya, cinta memahami ayat2-Nya, hingga cinta untuk mengamalkan dan berdakwah kepadanya. Urgensi mendidik anak cinta Al-Qur’an :
1. Mendidik anak selalu dekat dengan Allah dan dekat dengan wahyu-Nya.

2. Melatih kecerdasan dan kekuatan hafalannya.

3. Mendidik anak berjiwa kuat agar mampu mengendalikan nafsunya.
 اذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا
Artinya: “Apabila dibacakan alquran kepada mereka maka bertambahlah imannya” ( QS. 8 : 2 )

4. Mendidik anak berakhlak mulia.

5. Menjaga anak dari penyakit hati dan penyimpangan moral.

6. Mempersiapkan anak lebih dini untuk memiliki potensi menjadi tokoh besar.

7. Menyibukkan anak pada kegiatan yang bermanfaat.

8. Menyiapkan anak bahagia di dunia dan di akhirat.

9. Bernilai sedekah jariah bagi orang tua.

10. Menjadi syafaat bagi anak dan orang tuanya.

Kiat mendidik anak cinta Al-Qur’an:
1. Keteladanan dari kedua orang tua.
2. Banyak berdoa kepada Allah.
3. Memberikan motivasi kepada anak.
4. Disiplin dalam mengajarkan alquran ; membaca, menghafal dan mengamalkan.
5. Banyak memperdengarkan tilawah quran dari qari terbaik.
6. Melekatkan anak kepada guru alquran ( ahli alquran yang fashih, hafidz dan berakhlak alquran ).
7. Menciptakan lingkungan yang kondusif.
8. Memberikan apresiasi dan tidak memberikan sangsi.
9. Bertahap sesuai kemampuan anak.
10. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam upaya kita mewujudkan anak cinta alquran, amin

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pernikahan, Cara Allah SWT Memuliakan Wanita (bag-2, selesai)

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha,ST

Materi bag-1 bisa dibaca melalui tautan berikut …. http://www.iman-islam.com/2015/12/pernikahan-cara-allah-swt-memuliakan.html?m=1

Pernikahan adalah cara Allah Swt memuliakan setiap wanita beriman nan berakal. Ia menjadikan dasar iman untuk bergerak dan membuat pilihan kehidupan sehingga ia meraih kemuliaan dengannya. Pilihan untuk menikah setelah kehadiran niat untuk menjadi wanita mulia tentu akan mendapatkan kemudahan dan kebaikan dalam seluruh urusannya. Ada saja kemudian cara Allah Swt meninggikan maqam wanita mukminah agar ia tetap berada dalam kemuliaannya, bersama ilmu dan penghayatan dalam ber-Islam.

Pernikahan sejatinya untuk menguatkan keimanan yang telah bersemayam di dalam dada, sehingga memperhatikan keimanan pasangan akan mendukung pemuliaan wanita.[1] Ia merupakan ikatan suci yang tidak layak dirusak dan dianggap sebelah mata, sehingga wanita yang diceraikan sebelum disentuh ditetapkan untuknya ½ dari mahar yang telah dikabarkan, tanpa kewajiban idah.[2] Benar bahwa Islam memberikan jalan keluar untuk dapat menikahi wanita lebih dari satu, namun prinsip keadilan akan memberikan suaminya keselamatan di dunia dan akhirat.[3] Mahar adalah satu di antara bentuk keseriusan tekad untuk menjaga kemuliaan wanita.[4]

Pernikahan sejatinya untuk mendapatkan sepasang manusia yang berkualitas dan siap menggapai ridho Ilahi. Ingatkah kita bagaimana Nabi Syu’aib a.s. menguji kualitas Nabi Musa a.s selama 8-10 tahun lamanya, sebelum akhirnya dia yakin untuk menjadikannya suami untuk anak wanitanya tersayang?[5] Sedemikian ketatnya seleksi pasangan hidup sehingga tidak diharapkan terlintas sedikitpun keinginan berpisah, bahkan perpisahan menjadi dipersulit agar pernikahan tidak dianggap permainan.[6]

Pernikahan sejatinya untuk menjaga keberlangsungan bahkan kebaikan nasab atau jalur keturunan anak manusia yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan, meski di antara hikmahnya juga menjaga keselamatan dan kesehatan individu.[7] Ingatkah kita bagaimana Nabi Luth a.s. menawarkan wanita-wanita negerinya yang memiliki keimanan yang kokoh untuk menjadi sebab lahirnya kesadaran bahwa homo seksual adalah penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan mudah ketika manusia mampu menata persepsinya terhadap sesuatu?[8]

Pernikahan sejatinya adalah capaian utama pertama dari seluruh upaya penjagaan kehormatan diri untuk meraih ampunan dan pahala yang amat besar.[9] Ia merupakan buah kesuksesan yang penuh kesucian, sehingga dengannya ia akan dikaruniakan kemampuan untuk meraih capaian utama berikutnya.[10] Jika ini menjadi paradigma awal berpikir maka kelanjutan upayanya akan penuh dengan keberkahan.

Pernikahan sejatinya adalah cara Allah Swt untuk melihat sejauh mana implementasi kebaikan dari ilmu yang telah diwariskan Rasul-nya yang mulia. Ikatan suci ini telah diawali tanpa unsur paksaan, maka keridhoan keduanya melahirkan kemuliaan cinta. Begitu mulianya, sehingga setiap pemberian suami kepada wanita tidaklah untuk ditanyakan apalagi dimintakan kembali, karena telah jelas hak masing-masing sebagaimana kewajiban di antara keduanya.[11] Kemuliaan cintalah yang kemudian menghadirkan bentuk komunikasi paling efektif di antara sepasang manusia yang akan hidup bersama hingga ajal menjemput mereka. Komunikasi efektif adalah ciri kesiapan manusia dalam menghadirkan solusi terhadap seluruh problematika pasca pernikahan.[12]

Pernikahan sejatinya adalah wujud kesiapan wanita untuk mengandung seorang calon mujahid, dan kesiapan untuk menikmati kelemahan yang bertambah-tambah selama kandungan di dalam tubuh. Ia siap menjadi mujahidah bahkan syahid di jalan Allah dengan jihad di saat melahirkan karena kepasrahan penuh hanya kepada Allah semata. Ia siap memberikan waktu-waktu berharganya di dunia untuk tujuan akhirat dimulai dari fokus dan konsentrasinya untuk menyusi sang mujahid baru selama dua tahun lamanya atau tiga puluh bulan.[13]

Sekali lagi, pernikahan adalah bukti bahwa wanita siap melahirkan generasi rabbani, dengan peluh tanpa henti dalam mentarbiyah keturunannya. Ia bak madrasah ilmu yang mengalirkan ilmu tanpa pernah surut dan mundur karena ia semakin dekat dengan derajat tinggi di sisi Allah Swt. Ia ingatkan pasangan hidupnya untuk sentiasa berdo’a saat awal sekali ikhtiar mereka untuk memperbanyak generasi penyembah dan pejuang agama Allah dengan berdo’a, “Allaahumma jannibnaa asy-syaithaan, wa jannibi asy-syaithaanu maa razaqtanaa”, agar kesucian terjaga sentiasa dari sentuhan syaithan laknatullah ‘alaihim. Ingatkah kita bagaimana istri ‘Imran a.s. menadzarkan anaknya agar kelak menjadi wanita shaleh dan pelayan Allah Swt?[14]Ingatkah kita bagaimana keyakinan penuh keluarga Zakaria a.s. akan iradah Allah Swt memberikan keturunan untuk mereka agar dapat mereka bina menjadi sosok pejuang Islam padahal sang istri sudah tua dan dianggap mandul? [15] Ingatkah kita bagaimana Maryam a.s. tetap dalam prasangka baiknya kepada Allah Swt dengan ujian yang sangat berat untuk ukuran seorang wanita dengan dilahirkannya anak tanpa ayah biologis? Namun justru ketegaran dalam ujian Allah Swt itulah yang kemudian menjadikan Maryam a.s, saudara Harun a.s. ini, sebagai wanita yang paling mulia di masanya.[16]

Semoga bersama kesabaran seluruh wanita mukminah, kedalaman penghayatan terhadap ajaran Islam secara sempurna, kesungguhan untuk meraih kesuksesan akhirat, Allah memudahkan langkah setiap wanita untuk menjadikan diri dan pasangan hidupnya sebagai hamba-hamba yang dicintai Allah Swt dan dikumpulkan kelak di Surga-Nya Allah Tabaraka wa Ta’ala. (selesai)

[1] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 221, An-Nur [24] ayat 3, Al-Mumtahanah [60] ayat 10

[2] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 235-237, Al-Ahzab [33] ayat 49

[3] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 4, 129

[4] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5

[5] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 27

[6] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 230-232

[7] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 22-25, Al-Ahzab [33] ayat 37, Ath-Thalaq [65] ayat 4

[8] Lihat Q.S. Al-Hijr [15] ayat 66-71

[9] Lihat Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 35

[10] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5, An-Nur [24] ayat 32-33

[11] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 19

[12] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 128

[13] Lihat Q.S. Luqman [31] ayat 14, Al-Ahqaf [46] ayat 15, Al-A’raf [7] ayat 189, Ar-Ra’d [13] ayat 8

[14] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 35-37

[15] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 38-41

[16] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 42-47, [19] ayat 16-39, Al-Anbiya [21] ayat 91, At-Tahrim [66] ayat 12

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Ketika Allah Jalla wa ‘Ala dan para Malaikat saja bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka jelaslah bagaimana posisi hamba yang mulia itu di langit, dan seharusnya jelas pula posisi manusia kepada hamba yang telah memberikan berkah risalah dan usahanya kepada seisi alam ini.

Bershalawatnya Allah akan mengalirkan pujian kepada manusia yang bershalawat di sisi malaikat-malaikat yang dekat, dan salamnya manusia akan menyempurnakan hidupnya ketika terangkai dengan shalawat, karena tercapailah apa yang diinginkan manusia, dan terhapuslah apa yang ditakutkan manusia.

Sungguh tergesa-gesa adalah kondisi bagi mereka yang berdo’a tanpa diawali dengan shalawat. Tidak sekedar hilangnya kesempurnaan, rukun, sayap dan sebab, namun do’anya pun akan terhalangi (mahjub).

Sebab yang tidak dihadirkan, menyulitkan terbentuknya perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati hanya kepada Allah.

Sungguh, celaka adalah kondisi bagi mereka yang tidak bershalawat di saat menyebut, mendengar dan menulis nama Nabi Saw.

Shalawat menjadi agenda keseharian manusia, terlebih lagi di hari Jum’at, setiap kali hendak memasuki Masjid, setiap kali selesai mengulangi seluruh redaksi muadzin ketika adzan, dan setiap kali manusia berkumpul dalam sebuah majelis. Sekali lagi, rangkaian shalawat bersanding dengan salam, menjadi ikhtiar dan sebab terkabulkannya do’a manusia. Nabi Saw. mengajarkan cara bershalawat kepadanya.

 Demikian pula dalam kesempatan lain, Nabi Saw. mengajarkan kelengkapan redaksi shalawat kepadanya,

Membacanya di waktu pagi 10x dan di waktu sore 10x, menghadirkan sebab diperolehnya syafa’at, sementara 1x saja manusia bershalawat, Allah Sang Khalik akan bershalawat untuknya 10x, diampuni 10 dosanya dan diangkat baginya 10 derajat.

Tidakkah manusia rindu menjadi manusia yang paling utama di sisinya pada hari kiamat karena kecintaannya kepada shalawat? Tidakkah manusia rindu saat-saat dimana syafaat hadir tatkala manusia berjalan merangkak di atas shirath?

Tidak ada lagi setelah keutamaan kecuali kehinaan. Sebagaimana manusia yang enggan bershalawat, ia disebut bakhil, maka memudarlah kecintaannya kepada sang Nabi, terkikislah rasa rindunya kepada sang Rasul, maka tidakkah ia khawatir hatinya akan terisi kecintaan kepada selain Nabi Saw.?

Tidakkah ia gelisah hatinya akan bergemuruh dengan kerinduan kepada selain Rasulullah Saw?

***

Sesungguhnya, seringnya manusia bershalawat, khususnya pada waktu-waktu yang mengharuskan untuk itu, akan mengakrabkan manusia akan petunjuk Nabi Saw, akan memudahkan penerimaan akan petunjuk tersebut, dan menguatkan keyakinan bahwa tiada petunjuk apalagi hukum yang lebih baik dari petunjuk dan hukum Nabi Saw.

Berarti ini memudahkan manusia menjaga salah satu prinsip yang tidak akan membatalkan ke-Islam-annya.

Petunjuk atau teladan (al-hadyu) Nabi Saw., merupakan arahan (al-irsyad), perjalanan hidup (as-sirah), cara (ath-thariqah) satu-satunya manusia yang menyelamatkannya, berpandu wahyu yang telah diwahyukan13.

Maka sudah selayaknya muslim yang memahami hakikat kepasrahannya bersama hukum Allah, menjadikan Rasul sebagai hakim dalam segala urusan, tidak keberatan dalam hati mereka atas apa yang diputuskannya, dan pasrah dengan penuh kepasrahan terhadap hukumnya yang akan melahirkan keadilan untuk semesta alam, karena semesta alam pun sentiasa bershalawat atas Nabi Saw.

Maraji’

1] Q.S. Al-Ahzab: 56
2] Menukil Ibn Qayyim dalam Jalaul Afham
3] H.R. Thabarani
4] H.R. Tirmidzi
5] HR. Abu Daud
6] H.R. Ibn Majah
7] H.R. Bukhari
8] H.R Tirmidzi
9] H.R. Muslim
10] H.R. Thabarani
11] H.R. Ahmad
12] H.R. Nasa’i
13] Q.S. An-Najm:4

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

BAB LARANGAN JUAL-BELI GHARAR

Pemateri: Ust. RIKZA MAULAN, Lc. MAg

Taujih Nabawi #1
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ (رواه الجماعة إلا البخاري)

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hashoh (jual beli dengan lemparan batu) dan beliau melarang jual beli gharar (jual beli yang objeknya tidak jelas). (HR. Jamaah, Kecuali Imam Bukhari)

Taujih Nabawi #2
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، لاَ تَشْتَرُوْا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ، فَإِنَّهُ غَرَرٌ (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah kalian membeli ikan di dalam air, karena hal itu adalah gharar.’ (HR. Ahmad)

Taujih Nabawi #3
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي)، وَفِيْ رِوَايَةٍ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِيْ نُتِجَتْ (رواه أبو داود)، وَفِيْ لَفْظٍ، كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْتَاعُوْنَ لُحُوْمَ الْجَزُوْرِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِىْ نُتِجَتْ، فَنَهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ (متقف عليه)، وَفِيْ لَفْظٍ كَانُوْا يَبْتَاعُوْنَ الْجَزُوْرَ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، فنََهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah. (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi). Dalam riwayat lainnya, ‘Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah (yaitu) onta melahirkan anak onta yang dikandungnya, hingga kemudian anak onta yang baru lahir tersebut hamil.’ (HR. Abu Daud).

Dalam redaksi lain, ‘Bahwasanya orang-orang Jahiliyah memperjualbelikan daging onta dengan model habalil habalah. Habalul Habalah adalah onta melahirkan anak yang dikandungnya, hingga kemudian onta tersebut hamil. Kemudian Nabi SAW melarang transaksi tersebut. (Muttafaqun Alaih).

Dalam redaksi lainnya, ‘Dahulu mereka memperjualbelikan daging onta secara habalil habalah, lalu Nabi SAW melarang jual beli tersebut.’ (HR. Bukhari)

Takhrij Hadits
Hadits #1 dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh :
Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’ bab Buthlani Bai’i Al-Hashah wal Bai’illadzi Fiihi Gharar, hadits no 2783
Imam Tirmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Bai’ Al-Gharar, hadits no 1151.
Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Hashah, hadits no 4442.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi an Bai’ al Hashah wa Bai’ Al-Gharar, hadits no 2185.
Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Muktsirin Minas Shahabah, dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 9255.

Hadits #2 dari Ibnu Mas’ud ra, diriwayatkan oleh :
Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Al-Muktsirin minas shahabah, Musnad Abdullah bin Mas’ud, hadits no 3494.

Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Kitab Al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi An-Nahyi an Bai’ As-Samak Fil Maa’, juz 5, hal 907.

Imam Al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Kitab Al-Buyu’, Bab An-Nahyi an Bai’ Al-Gharar wa Tsamani Asbil Fahl, Hadits No 3576.

Imam At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dalam Min Musnad Abdillan bin Mas’ud ra, Juz 9 Halaman 59, hadits no 10341

Hadits #3 dari Ibnu Umar ra diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, dalam Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Gharar wa Habalil Habalah, hadits no 1999.

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Tahrim Bai’ Habalil Habalah, hadits no 2784.
Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ al-Gharar, hadits no 2934.
Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a Fi Bai’I Habalil Habalah, hadits no 1150.

Imam Nasa’I dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Habalil Habalah, hadits no 4544, 4545 dan 4546.
Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi An Syira’ ma fi buthunil An’am wa Dhuru’iha, hadits no 2188.

Makna Gharar
Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasil (akhirnya), apakah akan diperoleh atau tidak.

Atau gharar adalah keraguan atas keberadaan objek suatu akad (antara ada dan tidak ada).

Dengan bahasa singkatnya, gharar adalah ketidakjelasan terhadap apa yang ditransaksikan; baik objeknya, caranya maupun harganya.

Gharar merupakan bentuk muamalah yang dilarang dalam syariah Islam, berdasarkan hadits-hadits di atas.

Sehingga tidak boleh kita memperjual belikan sesuatu yang samar dan tidak jelas.

Larangan Jual Beli Hashoh

Diantara bentuk jual beli atau transaksi gharar yang dilarang adalah jual beli hashoh (bai’ al-hashoh), yaitu jual beli dengan lemparan batu.

Ada beberapa bentuk bai’ al-hashoh, sebagaimana dijelaskan dalam Nailul Authar, yaitu :

Seorang penjual berkata kepada pembeli, ‘Aku jual baju-baju ini kepadamu, tergantung baju mana yang terkena lemparan batumu. Kemudian pembeli melempar batunya. Atau penjual mengatakan, ‘Aku jual tanah ini kepadamu dengan harga sekian, dengan luas sejauh lemparan batumu.

Semua bentuk jual beli sebagaimana gambaran di atas adalah tidak boleh ditransaksikan, karena masuk dalam kategori gharar.

Larangan Jual Beli Ikan Dalam Air.

Diantara jual beli yang bersifat gharar yang dilarang adalah jual beli ikan yang masih terdapat di dalam air.

Maksudnya adalah merujuk kepada umumnya ikan yang terdapat di dalam air habitatnya, seperti di sungai, di danau atau di lautan. Karena ikan-ikan tersebut tidak diketahui keberadaannya; apakah ada atau tidak. Dan juga kalaupun ada, tidak bisa diperkirakan besar dan beratnya.

Oleh karena itulah, jual beli ikan di dalam air termasuk gharar yang dilarang.

Sedangkan Illat atau sebab dilarangnya jual beli ikan dalam air adalah bahwa ikan yang terdapat di dalam air tidak dapat dilihat, tidak dapat diukur dan tidak dapat diserahterimakan.

Namun, apabila illatnya bisa dihilangkan, maka jual belinya boleh dilakukan dan transaksinya sah.

Larangan Jual Beli Habalil Habalah.

Transaksi atau jual beli gharar lainnya yang dilarang adalah bai’ habalil habalah. Adapun makna habalil habalah adalah sebagai berikut :

Sebagaimana dalam hadits, yaitu jual beli anak onta yang terdapat dalam kandungan induknya, dan ketika onta ini lahir, ditunggu hingga dewasa lalu hamil. Anak dari anak onta tersebut merupakan objek akad jual belinya.

Jual beli daging onta dengan pembayaran tangguh, hingga anak onta yang dikandungnya melahirkan anak onta berikutnya.

Jual beli habalil habalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas adalah tidak diperbolehkan, karena adanya gharar atau ketidakjelasan dalam waktu penyerahan barang yang diperjualbelikan, juga karena objek akadnya tidak ada (ma’dum), serta karena barang tidak bisa diserahterimakan.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bunda Pejuang Penggelora Semangat yang Pekiknya adalah “Marilah kaum putri, hari ini adalah hari para pejuang”

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Nene Hatun lahir di kota Erzurum di pedalaman Anatolia (Asia Kecil) sebelah timur tahun 1957 pada masa Turki Utsmani. Apa peran beliau pada masanya, mari kita telusuri!

Ketika Turki Utsmani berperang melawan Russia pada tahun 1877-1878 sempat terjadi kemunduran pada permulaan perang yang menyebabkan Benteng Aziziye di kota Erzurum jatuh ke tangan Russia. Benteng ini merupakan salah satu kunci pertahanan Turki Utsmani di front ini dan kejatuhannya pada 7 November 1877 merupakan pukulan yang telak. Pasukan Turki Utsmani mundur untuk menyusun kekuatan, termasuk suami Nene Hatun, namun penduduk setempat punya rencana lain.

Malam itu adik laki-laki Nene Hatun pulang dalam keadaan luka parah yang menyebabkan kematiannya di pangkuannya. Setelah mengurus jenazah adik laki-lakinya yang gugur mempertahankan benteng tersebut, Nene Hatun menitipkan kepada orangtuanya kedua buah hatinya, yaitu anak bungsunya yang baru berusia 3 bulan dan kakak sang bayi yang juga masih balita. Jika seorang ibu telah menitipkan anak-anaknya untuk berangkat perang maka patut diperkirakan bahwa kondisi sudah sangat kritis.

Ia berangkat memanggul senapan adiknya dan berbekal kampak dapur miliknya sendiri. Nene Hatun menyemangati para perempuan lain di desanya dan berkumpul bersama penduduk Erzurum lainnya yang juga bertekad untuk merebut kembali benteng Aziziye. Pasukan Russia di benteng tidak pernah menduga atau menganggap remeh kekuatan penduduk yang sebagian besar terdiri atas barisan perempuan.

Nene Hatun termasuk berada pada barisan terdepan dengan pekik legendarisnya “marilah kaum putri, hari ini adalah hari para syuhada, kalau para prajurit sudah tiada maka kita yang menghentikan (mereka).”

Pertempuran jarak dekat tidak terelakkan lagi ketika sekitar 6.000 penduduk (hanya terdiri dari 1.000 pria) bersenjata apa adanya menyerbu benteng yang dipertahankan sekitar 3.000 pasukan Russia. Setelah pertarungan reda, Nene Hatun ditemui pingsan dengan beberapa luka namun kampak tetap tergenggam erat di tangannya. Pasukan Russia telah terdesak mundur dengan 2.000 korban jiwa dan luka-luka; sebuah corengan atas balatentara bersenjata modern tersebut.

Setelah siuman, Nene Hatun mengatakan “mereka dengan persenjataannya, kami dengan agama (Islam) kami..” berulang kali.

Nene Hatun hidup dalam usia yang panjang, suaminya dan anak laki-lakinya gugur pada Perang Dunia Pertama.

Setahun sebelum beliau wafat, Jenderal Ahmet Nurettin Baransel mengunjungi Nene Hatun secara resmi untuk menjadikannya “Bunda Bagi Balatentara Ke-3” yang berbasis di Erzurum dan sebuah monumen dibangun untuk menghormatinya. Beliau dinobatkan menjadi “Ibunya Kaum Ibu Turki” pada hari Ibu tahun 1955. Beliau wafat dalam usia 98 tahun pada tanggal 22 Mei 1955 dan dikebumikan di pemakaman khusus para ‘sehit’ (syuhada) di dalam Benteng Aziziye.

Memang benar seorang ibu adalah madrasah pertama bagi keluarganya! Para ibu adalah tiang kekuatan bagi negara. Bagaimana perhatian kita bagi pendidikan kaum ibu dan generasi calon ibu?

Agung Waspodo,
Depok, 14 Desember 2015.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ketundukan Yang Membawa Kepada Kehinaan Sejarah Penghujung Masa Kesultanan Seljuq

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran Qatwan – 9 September 1141

Pertempuran Qatwan adalah konflik antara Kara-Khitai Khanate dan Kesultanan Seljuq yang didukung oleh taklukannya Kara-Khaniya. Pada pertempuran ini Seljuq mengalami kekalahan yang menjadi awal dari kemundurannya.

Latar Belakang

Kara-Khitai adalah bangsa Mongol dari dinasti Liao yang bermigrasi dari wilayah utara China ke arah barat karena kerajaannya dihancurkan oleh invasi Jurchen pada tahun 1125. Perpindahan ini dipimpin oleh Yelü Dashi dan dalam prosesnya mereka bahkan merebut kota Balasaghun, ibukota Kara-Khaniya. Bahkan pada tahun 1137 imigran Kara-Khitai mampu mengalahkan Kara-Khaniya di Pertempuran Khujand. Pemimpin Kara-Khaniya yang bernama Mahmud II mengirim surat permohonan perlindungan dari Sultan Ahmed Sanjar dari Kesultanan Seljuq. Pada tahun 1141, Ahmed Sanjar tiba dengan pasukannya di Samarkand.

Pertempuran

Sumber-sumber sejarah memberikan angka kekuatan kedua seteru dengan besaran yang berbeda. Namun, patut diduga bahwa Kara-Khitai berkekuatan 20-30 ribu pasukan sedangkan Seljuq sekitar 70-100 ribu; namun Kara-Khitai mendapatkan bantuan dari Karluk sebanyak 30-50 ribu pasukan berkuda.

Di padang rumput Qatwan di bagian utara Samarkand pertempuran itu berkecamuk. Kara-Khitai membagi balatentaranya dalam 3 bagian dan menyerang kekuatan Seljuq secara serentak hingga berhasil mengepungnya. Lini tengah Seljuq terdesak masuk ke sebuah wadi/lembah Dargham sekitar 12 km dari Samarkand. Tanpa celah untuk meloloskan diri, hampir seluruh pasukan Seljuq hancur dan Sanjar lolos dengan susah payah. Tidak diketahui bagaimana bisa terjadi, namun banyak komandan Seljuq yang tertawan dan termasuk isteri Sanjar juga yang terpisah dari kesatuan kawal di tengah kepanikan tersebut. Sepertinya tradisi membawa permaisuri ke medan laga adalah sebuah tradisi militer dari Asia Tengah.

Kesudahan

Yelü Dashi menghabiskan 90 hari di Samarkand untuk menyelesaikan masalah politik lokal termasuk menerima banyak janji setia dari berbagai penguasa Muslimin dan mengangkat saudaranya Mahmud, yaitu Ibrahim, sebagai Samarkand. Yalü juga menerima keluarga Burhan sebagai pemimpin wilayah Bukhara.

Setelah pertempuran ini kesultanan Khwarazim menjadi wilayah taklukan (vassal) bagi Kara-Khitai dan sempat diserbu karena Sultan Atsiz telat membayarkan 30 ribu dinar upeti. Untuk keterlambatan ini wilayah Khwarazim dibumi-hanguskan oleh Erbuz utusan langsung Yelü Dashi.

Agung Waspodo, setelah 874 tahun berlalu tetap saja mencatat hikmah tunduk kepada lawan akan menghasilkan kehinaan.

Depok Utara, Sabtu 19 September 2015.. masih mengejar ketelatan artikel yang seharusnya dirampungkan 10 hari yang lalu, memanfatkan waktu sebelum acara ta’lim dimulai..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

LUKISAN KEHIDUPAN

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan.

Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya.

Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.

Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan.

Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri.

Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan.

Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, kini masalahnya bukan lagi apakah kita seorang maestro pelukis terkenal macam Picasso dan Afandi atau bukan, tetapi adalah bahwa -suka atau tidak suka- hasil ‘lukisan’ kita pada akhirnya akan dilihat dan dinilai orang.

Kesadaran tersebut jelas akan mendorong naluri kita untuk berkata bahwa ‘lukisan kehidupan’ saya harus terlihat indah dipandang.

Dan selama kesempatan melukis itu masih diberikan, kita masih diberi kebebasan berekspresi untuk memperindah lukisan kehidupan kita, meluruskan guratan-guratan yang kurang harmonis, memperjelas sapuan warna yang buram, mengarahkan segmen gambar yang tak terarah, dst.

Hingga akhirnya, ketika mata ini terpejam dan nafas terakhir telah dihembuskan, itulah saatnya lukisan kita telah usai lalu dibingkai, dan kemudian siap dipajang di ‘ruang depan rumah kita’.

Ketika itu pula kita tinggal menunggu bagaimana komentar orang-orang yang melihat lukisan kita yang secara refleks –tanpa basa basi dan formalitas- akan terlontar dari mulut-mulut mereka.

Bagaimana reaksi dan apresiasi yang akan mereka berikan, tentu sangat tergantung dengan kualitas lukisan yang terpampang.. Di situlah salah satu parameter kehidupan kita sedang ditentukan.

Suatu saat para shahabat melihat jenazah yang sedang digotong, lalu mereka memuji kebaikannya, maka Rasulullah saw bersabda, ‘pasti.’

Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, lalu mereka menyebut-nyebut keburukannya, Beliau bersabda, ‘Pasti.’

Umar bin Khattab bertanya, ‘Apanya yang pasti wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Yang kalian sebutkan kebaikannya, pasti masuk surga, sedangkan yang kalian sebutkan keburukannya pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.” (Muttafaq alaih)

Seorang penyair berkata,

إنما المرء حديث من بعده
فكن حديثا حسنا لمن وعى

Innamal mar’u hadiitsu man ba’dahu
Fa kun hadiitsan hasanan liman wa’aa

Seseorang akan menjadi pembicaraan orang-orang sesudahnya.

Maka jadilah bahan pembicaraan yang baik bagi orang yang mendengarnya.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KEJUJURAN

Pemateri: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam

Kejujuran merupakan anak kandung dari iman.
Itu sebabnya salah satu ciri orang munafik adalah suka berbohong ketika berbicara.

Sedangkan orang beriman meskipun ia belum bisa menghilangkan sebagian sifat buruk, seperti pelit atau penakut, tetapi tidak boleh memiliki sifat pembohong.

Di bawah ini ayat Alquran dan hadis yang mengajarkan sifat kejujuran.

1. Ayat Alquran

QS Al-Baqarah [2]: 42
Allah Swt. berfirman:

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة [2]: 42)

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu menyembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 42).

Ayat di atas mengajarkan akhlak kejujuran.

Kejujuran akan berdampak baik dalam kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang akan menyukainya sebagai orang yang jujur.

Kejujuran juga akan berdampak baik dalam kehidupan beragamanya, karena akan membuatnya bersikap terbuka dengan kebenaran, mau menerima serta melaksanakan kebenaran.

Dan ketika ajaran-ajaran Islam semuanya merupakan kebenaran, maka orang yang jujur sangat bersemangat dalam menjalankan agamanya.

Sebaliknya kebohongan akan berakibat buruk.

Berdampak buruk terhadap kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang tidak akan menyukainya sebagai seorang pembohong.

Kebohongan juga akan berdampak buruk dalam kehidupan beragama, karena akan membuatnya antipati terhadap kebenaran.

Karena itu sangat mungkin dari kebohongannya itu akan melahirkan sikap memerangi agama Allah dengan cara menyesatkan orang lain.

Menurut ayat di atas, ada dua cara seorang pendusta dalam menyesatkan manusia:

a. Mencampur-adukkan hak dengan batil, sehingga seolah-olah kebenaran dan kebatilan itu relatif alias abu-abu. Inilah yang dimaksud dengan tidak boleh mencampur-adukkan haq dengan batil.

b. Menolak kebenaran dan menyembunyikannya, sehingga tidak Nampak.
Ini yang dimaksud dengan larangan untuk menyembunyikan haq.

2. Hadis Kejujuran:

Nabi Saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فإن الصِّدْقَ يهدى إلى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يهدى إلى الْجَنَّةِ، وما يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حتى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

Artinya: “Berbuat jujurlah kalian! Karena kejujuran menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga.

Dan tidaklah seseorang terus berbuat jujur dan dengan sadar mengupayakan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur” (Muslim, 4/2607).

Hadits tadi menyebutkan tata-cara seorang Muslim membina dirinya menjadi orang yang jujur.

Bahwa ada beberapa tips menjadi seorang yang jujur:

a. Penghayatan iman tentang surga dan neraka. Bahwa kebaikan berbalas surga, dan keburukan berbalas neraka.

b. Pengetahuan bahwa kejujuran menjadi gerbang kebaikan, dan kebohongan menjadi gerbang keburukan. Kejujuran menjadi sifat dasar seorang Muslim.

c. Terus mengupayakan kejujuran. Karena memiliki sifat jujur membutuhkan proses, yaitu upaya terus-menerus untuk jujur, meskipun banyak godaan untuk berbohong.

d. Berhati-hati agar tidak berbohong. Misalnya, ketika dalam pembicaraan telepon seseorang ditanya sedang dimana? Dia menjawab sedang di luar kota. Dalam hatinya dia bermaksud bahwa ia berada di kota yang berbeda dari penelepon.

Dia sadar bahwa penelpon akan menangkap bahwa dia benar-benar sedang pergi ke luar kota.

Gaya pembicaraan seperti ini jika terus dilakukan bisa membuatnya terbiasa berbohong.

3. Kriteria Kejujuran:

Dalam bahasa Arab, jujur (sidq) adalah lawan dari berbohong  (kadzib).

Kejujuran aselinya disebutkan dalam konteks pembicaraan.

Karena itu jujur didefinisikan sebagai kesesuaian antara perkataan dengan hati dan objek yang dikabarkan (Al-Munawi, At-Ta’arif, 451).

Sehingga jika suatu pembicaraan tidak sesuai dengan objek yang dikabarkan, ia merupakan kebohongan.

Tetapi jika pembicaraan sesuai dengan objek berita, tetapi tidak sesuai dengan hati, maka dari segi kesuaiannya dengan objek berita disebut benar. Tetapi dari sisi perbedaannya dengan hati disebut kebohongan.

Seperti orang munafik yang menyebut bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Perkataan itu benar, tetapi karena tidak sesuai dengan keyakinan dalam hatinya, mereka disebut telah berbohong.

Firman Allah:

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Tetapi Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta” (Al-Munafiqun [63]: 1).

Wallahu a’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Memakai Atribut Natal Bagi Muslim dan Muslimah

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra: 36)

Muqadimah
 
Biasanya menjelang perayaan Natal, marak para pelayan mall, pertokoan, dan penginapan, menggunakan atribut natal. Biasanya mereka menggunakan topi Sinterklas. Umumnya mereka muslim dan muslimah, bahkan bisa jadi ada yang rajin shalatnya, muslimahnya pun ada yang berjilbab. Jilbab yes, Sinterklas Ok.   Entah karena paksaan atasan, atau memang ketidaktahuannya. Yang jelas, dari sudut pandang apa pun, baik aqidah, akhlak, dan hukum, Islam melarang tegas hal ini. Baik ikut-ikutan apalagi menyerupai. Bukan ini saja, tapi lainnya seperti April Mop, Valentine, Hallowen, dan sebagainya.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
Wahai orang-orang beriman, jika kalian ikuti sekelompok orang-orang yang diberikan Al Kitab (Yahudi dan Nasrani) nisaya mereka akan memurtadkan kamu menjadi kafir lagi setelah kamu beriman. (QS. Ali Imran: 100)

Isyarat Kenabian
 
Sejak 15 abad lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah mengisyaratkan akan datangnya masa-masa umat Islam mengekor kehidupan Yahudi dan Nasrani. Pemikiran, budaya, mode, dan sebagainya. Minimal   umat Islam sudah kehilangan identitasnya, tidak bangga dengan Islamnya, justru malu, dan lebih suka dan senang dengan identitas khusus kekufuran, dan paling  tinggi adalah murtad.
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai mereka masuk ke lubang biawak pun kalian tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3456, 7320, Muslim No. 2669)
 
Isyarat ini begitu mengerikan. Sebab, umat Islam akan mengikuti mereka sebegitu jauh. Sampai walau mereka masuk lubang biawak, umat Islam akan mengikuti juga. Artinya, walau tidak layak, tidak pantas dan tidak patut diikuti, tetaplah diikuti. Tentunya lubang biawak dengan tubuh manusia lebih besar tubuh manusia, namun tetap kita akan memasukinya karena mengikuti mereka. Artinya, begitu memaksakan untuk tetap mengikuti mereka walau tidak pantas dan menyakitkan, sebagaimana tubuh manusia yang tidak pantas dan tida pas untuk memasuki lubang biawak.
 
Asy Syaikh Al Ustadz Mushthafa Al Bugha menjelaskan:

Betapa indah pemisalan ini, yang menunjukan benarnya mu’jizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita menyaksikan generasi umat ini begitu taklid (ikut-ikutan) terhadap bangsa-bangsa kafir di dunia. Baik berupa akhlak yang tercela, kebiasaan yang rusak, yang memancarkan bau yang busuk yang berputar dalam hidung manusia, di rawa penuh lumpur yang kotor, jahat lagi berdosa, dan menjadi peringatan bagi manusia di mana-mana. (Syarh wa Ta’liq ‘Alash Shahih Al Bukhari, 3/1283)

Mengikuti dan Menyerupai Mereka (Orang Kafir) Maka Bukan Golongan Kami

Kami sampaikan dua hadits untuk menegaskan hal ini.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Daud No. 4031, Ahmad No. 5115, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No.33016, dll) (1)

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.(HR. At Tirmdizi No. 2695, Al Qudha’i, Musnad Asy Syihab No. 1191) (2)

Ketika menjelaskan hadits-hadits di atas, Imam Abu Thayyib mengutip dari Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami  tentang hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir:

“Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” (Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, ‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Imam Abu Thayyib Rahimahullah juga mengatakan:

Lebih dari satu ulama berhujjah dengan hadits ini bahwa dibencinya segala hal terkait dengan kostum yang dipakai oleh selain kaum muslimin.(Ibid, 11/52)

Demikianlah keterangan para ulama bahwa berhias dan menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas mereka –seperti topi Sinterklas, kalung Salib, topi Yahudi, peci Rabi Yahudi- termasuk makna tasyabbuh bil kuffar – menyerupai orang kafir yang begitu terlarang dan dibenci oleh syariat Islam.

Ada pun pakaian yang bukan menjadi ciri khas agama, seperti kemeja, celana panjang, jas, dasi, dan semisalnya, para ulama kontemporer berbeda pendapat apakah itu termasuk menyerupai orang kafir atau bukan.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menganggap kostum-kostum ini termasuk menyerupai orang kafir, maka ini hal yang dibenci dan terlarang, bahkan menurutnya termasuk jenis kekalahan secara psikis umat Islam terhadap bangsa-bangsa penjajah. Sedangkan menurut para ulama di Lajnah Daimah kerajaan Saudi Arabia seprti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, dan lainnya, menganggap tidak apa-apa pakaian-pakaian ini. Sebab jenis pakaian ini sudah menjadi biasa di Barat dan Timur. Bukan menjadi identitas agama tertentu.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat shahih, pernah memakai Jubah Romawi yang sempit. Sebutan “Jubah Romawi” menunjukan itu bukan pakaian kebiasaannya, dan merupakan pakaian budaya negeri lain (Romawi), bukan pula pakaian simbol agama, dan Beliau memakai jubah Romawi itu walau agama bangsa Romawi adalah Nasrani.

Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai jubah Romawi yang sempit yang memiliki dua lengan baju.(HR. At Tirmidzi No. 1768, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 18239. Al Baghawi, Syarhus Sunnah No. 3070. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, dan lainnya)

Sementara dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengenakan Jubbah Syaamiyah (Jubah negeri Syam).  Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Jubbah Rumiyah. Sebab, saat itu Syam termasuk wilayah kekuasaan Romawi.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

Banyak terdapat dalam riwayat Shahihain dan lainnya tentang Jubbah Syaamiyah, ini tidaklah menafikan keduanya, karena Syam saat itu masuk wilayah pemerintahan kerajaan Romawi. (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/377)

Syaikh Al Mubarkafuri menerangkan, bahwa dalam keterangan lain,  saat itu terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang safar. Ada pun dalam riwayat Malik, Ahmad, dan  Abu Daud, itu terjadi ketika perang Tabuk, seperti yang dikatakan oleh Mairuk. Menurutnya hadits ini memiliki pelajaran bahwa bolehnya memakai pakaian orang kafir, sampai-sampai walaupun terdapat najis, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai Jubah Romawi tanpa adanya perincian (apakah baju itu ada najis atau tidak). (Ibid)

Mengambil Ilmu Dari Mereka (Orang Kafir) Bukan Termasuk Tasyabbuh (penyerupaan)

Begitu pula mengambil ilmu dan maslahat keduniaan yang berasal dari kaum kuffar, maka ini boleh. Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan cara Majusi dalam perang Ahzab, yaitu dengan membuat Khandaq (parit) sekeliling kota Madinah. Begitu pula penggunakaan stempel dalam surat, ini pun berasal dari cara kaum kuffar saat itu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengikutinya.
 
Oleh karena itu, memakai ilmu keduniaan dari mereka, baik berupa penemuan ilmiah, fasilitas elektronik, transportasi, software, militer, dan semisalnya, tidak apa-apa mengambil manfaat dari penemuan mereka. Ini bukan masuk kategori menyerupai orang kafir. Sebab ini merupakan hikmah (ilmu) yang Allah Ta’ala titipkan melalui orang kafir, dan seorang mu’min lebih berhak memilikinya dibanding penemunya sendiri, di mana pun dia menjumpai hikmah tersebut.
             
Jadi, tidak satu pun ketetapan syariat yang melarang mengambil kebaikan dari pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non muslim dalam masalah dunia selama tidak bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah hukum yang tetap. Oleh karena hikmah adalah hak muslim yang hilang, sudah selayaknya kita merebutnya kembali. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan –dengan sanad dhaif- sebuah kalimat, “Hikmah adalah harta dari seorang mu’min, maka kapan ia mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.”

Meski sanadnya dhaif, kandungan pengertian hadits ini benar. Faktanya sudah lama kaum muslimin mengamalkan dan memanfaatkan ilmu dan hikmah yang terdapat pada umat lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu pernah berkata, “Ilmu merupakan harta orang mu’min yang hilang, ambil-lah walau dari orang-orang musyrik.” (3) Islam hanya tidak membenarkan tindakan asal comot terhadap segala yang datang dari Barat tanpa ditimbang di atas dua pusaka yang adil, Al Qur’an dan As Sunnah.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

***

Catatan:

1] Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secara mursal.(Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215).

Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih menurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.(Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 2/240). Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.(Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, Aunul Ma’bud, 11/52). Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4031)

2] Sebagaimana kata Imam AtTirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jami’ No. 5434, Ash Shahihah No. 2194). Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.(Raudhatul Muhadditsin No. 4757)

3] Hadits: “Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya maka dialah yang paling berhak memilikinya.”

Hadits ini dhaif, diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dalam sunannya, pada Bab Maa Ja’a fil Fadhli Fiqh ‘alal ‘Ibadah, No. 2828. Dengan sanad: Berkata kepada kami Muhammad bin Umar Al Walid Al Kindi, bercerita kepada kami Abdullah bin Numair,  dari Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi, dari Sa’id Al Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: …. ( lalu disebut hadits di atas).

Imam At Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: “Hadits ini gharib (menyendiri dalam periwayatannya), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah seorang yang dhaif fil hadits (lemah dalam hadits).”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Kitab Az Zuhud Bab Al Hikmah, No. 4169. Dalam sanadnya juga terdapat Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi.

Imam Ibnu Hajar mengatakan, bahwa Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah Abu Ishaq Al Madini, dia seorang yang Fahisyul Khatha’ (buruk kesalahannya). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/14. Mawqi’ Al Warraq). Sementara Imam Yahya bin Ma’in menyebutnya sebagai Laisa bi Syai’ (bukan apa-apa). (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/105. Mawqi’ Ya’sub)

Sederetan para Imam Ahli hadits telah mendhaifkannya. Imam Ahmad mengatakan: dhaiful hadits laisa biqawwifil hadits (haditsnya lemah, tidak kuat haditsnya). Imam Abu Zur’ah mengatakan: dhaif. Imam Abu Hatim mengatakan: dhaifulhadits munkarulhadits (hadisnya lemah dan munkar). Imam bukhari mengatakan: munkarul hadits. Imam An Nasa’imengatakan: munkarul hadits, dia berkata ditempat lain: tidak bisa dipercaya, dan haditsnya tidak boleh ditulis. Abu Al Hakim mengatakan: laisa bil qawwi ‘indahum (tidak kuat menurut mereka/para ulama). Ibnu ‘Adi mengatakan: dhaif dan haditsnya boleh ditulis, tetapi menurutku tidak boleh berdalil dengan hadits darinya.

Ya’qub bin Sufyan mengatakan bahwa hadits tentang “Hikmah” di atas adalah hadits Ibrahim bin Al Fadhl yang dikenal dan diingkari para ulama. Imam Ibnu Hibban menyebutnya fahisyul khatha’ (buruk kesalahannya).  Imam Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan), begitu pula menurut Al Azdi. (Lihat semua dalam karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 1/131 .DarulFikr. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 2/43.Muasasah ArRisalah. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 1/52.Darul Ma’rifah. Lihat juga Imam Abu Hatim ArRazi, Al JarhwatTa’dil, 2/122. Dar Ihya AtTurats. Lihat juga Imam Ibnu ‘Adi Al Jurjani, Al Kamilfidh Dhu’afa, 1/230-231.Darul Fikr. Imam Al ‘Uqaili, Adh Dhuafa Al Kabir, 1/60. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Syaikh Al Albani pun telah menyatakan bahwa hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), lantaran Ibrahim ini. (Dhaiful Jami’ No. 4302. Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/320)

Ada pula yang serupa dengan hadits di atas:

“Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja seorang mukmin menemukan miliknya yang hilang, maka hendaknya ia menghimpunkannya kepadanya.”

Imam As Sakhawi mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Al Qudha’i dalam Musnadnya, dari hadits Al Laits, dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, secara marfu’. Hadits ini mursal. (Imam AsSakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 1/105. Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/363)

Ringkasnya, hadits mursal adalah hadits yang gugur di akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in. Kita lihat, riwayat Al Qudha’i ini, Zaid bin Aslam adalah seorang tabi’in, seharusnya dia meriwayatkan dari seorang sahabat nabi, namun sanad hadits ini tidak demikian, hanya terhenti pada Zaid bin Aslam tanpa melalui sahabat nabi. Inilah mursal. Jumhur (mayoritas) ulama dan Asy Syafi’i mendhaifkan hadits mursal.

Ada pula dengan redaksi yang agak berbeda, bukan menyebut Hikmah, tetapi Ilmu. Diriwayatkan oleh Al ‘Askari, dari‘Anbasah bin Abdurrahman, dari Syubaib bin Bisyr, dari Anas bin Malik secara marfu’:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, dimana saja dia menemukannya maka dia mengambilnya.”

Riwayat ini juga dhaif. ‘Anbasah bin Abdurrahman adalah seorang yang matruk (ditinggal haditsnya), dan Abu Hatim menyebutnya sebagai pemalsu hadits.(Taqribut Tahdzib, 1/758)

Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya (Abu Hatim) tentang ‘Anbasah bin Abdurrahman, beliau menjawab: matruk dan memalsukan hadits. Selain itu, Abu Zur’ahjuga ditanya, jawabnya: munkarul hadits wahil hadits (haditsnya munkar dan lemah). (Al JarhwatTa’dil, 6/403)

Ada pun Syubaib bin Bisyr, walau pun Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah (bisa dipercaya), namun Abu Hatimdan lain-lainnya mengatakan: layyinulhadits. (haditsnya lemah). (Imam Adz Dzahabi, MizanulI’tidal, 2/262)

Ada pula riwayat dari Sulaiman bin Mu’adz, dari Simak, dari ‘ikrimah, dariIbnu Abbas, di antara perkataannya:

“Ambillah hikmah dari siapa saja kalian mendengarkannya, bisa jadi ada perkataan hikmah yang diucapkan oleh orang yang tidak bijak, dan dia menjadi anak panah yang bukan berasal dari pemanah.”

Ucapan ini juga dhaif. Lantaran kelemahan Sulaiman bin Muadz.

Yahya bin Ma’in mengatakan tentang dia: laisa bi syai’ (bukan apa-apa). Abbas mengatakan, bahwa Ibnu Main mengatakan: dia adalah lemah. Abu Hatim mengatakan: laisa bil matin (tidak kokoh). Ahmad menyatakannya tsiqah (bisa dipercaya).Ibnu Hibban mengatakan: dia adalah seorang rafidhah (syiah) ekstrim, selain itu dia juga suka memutar balikan hadits. An Nasa’i mengatakan: laisa bil qawwi (tidak kuat). (Mizanul I’tidal, 2/219)

Catatan:

Walaupun ucapan ini dhaif, tidak ada yang shahih dari RasulullahShallallahu ‘AlaihiwaSallam. Namun, secara makna adalah shahih. Orang beriman boleh memanfaatkan ilmu dan kemajuan yang ada pada orang lain, sebab hakikatnya dialah yang paling berhak memilikinya. Oleh karena itu, ucapan ini tenar dan sering diulang dalam berbagai kitab para ulama. Lebih tepatnya, ucapan ini adalah ucapan dari beberapa para sahabat dan tabi’in dengan lafaz yang berbeda-beda.

Dari Al Hasan bin Shalih, dari ‘Ikrimah, dengan lafaznya:

“Ambil-lah hikmah dari siapa pun yang engkau dengar, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara dengan hikmah padahal diabukan seorang yang bijak, dia menjadi bagaikan lemparan panah yang keluar dari orang yang bukan pemanah.” (Al Maqashid Al Hasanah, 1/105)

Ucapan ini adalah shahih dari ‘Ikrimah, seorang tabi’in senior, murid Ibnu Abbas. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Al Hasan bin Shalih bin Shalih bin Hay adalah seorang tsiqah, ahli ibadah, faqih, hanya saja dia dituduh tasyayyu’ (agak condong ke syi’ah). (Taqribut Tahdzib,  1/205)

Waki’ mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seseorang yang jika kau melihatnya kau akan ingat dengan Said bin Jubeir.  Abu Nu’aim Al Ashbahani mengatakan aku telah mencatat hadits dari 800 ahli hadits, dan tidak satu pun yang lebih utama darinya. Abu Ghasan mengatakan, Al Hasan bin Shalih lebih baik dari Syuraik. Sedangkan Ibnu ‘Adi mengatakan, sebuah kaum menceritakan bahwa hadits yang diriwayatkan dari nya adalah mustaqimah, tak satu pun yang munkar, dan menurutnya Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang ahlushshidqi (jujur lagi benar).  Ibnu Hibban mengatakan, Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang faqih, wara’, pakaiannya lusuh dan kasar, hidupnya diisi dengan ibadah, dan agak terpengaruh syi’ah (yakni tidak meyakini adanya shalatJumat). Abu Nu’aim mengatakan bahwa Ibnul Mubarak mengatakan Al Hasan bin Shalih tidak shalat Jumat, sementara Abu Nu’aim menyaksikan bahwa beliau shalat Jum’at.  Ibnu Sa’ad mengatakan dia adalah seorang ahli ibadah, faqih, dan hujjah dalam hadits shahih, dan agak tasyayyu’. As Saji mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seorang shaduq (jujur). Yahya bin Said mengatakan, tak ada yang sepertinya di Sakkah. Diceritakan dari Yahya bin Ma’in, bahwa Al Hasan bin Shalih adalah tsiqatun tsiqah (kepercayaannya orang terpercaya). (Tahdzibut Tahdzib, 2/250-251)

Hanya saja Sufyan Ats Tsauri memiliki pendapat yang buruk tentangnya. Beliau pernah berjumpa dengan Al Hasan bin Shalih di masjid pada hari Jum’at, ketika Al Hasan bin Shalih sedang shalat, Ats Tsauri berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari khusyu’ yang nifaq.” Lalu dia mengambil sendalnya dan berlalu. Hal ini lantaran Al Hasan bin Shalih –menurut At Tsauri- adalah seseorang yang membolehkan mengangkat pedang kepada penguasa (memberontak). (Ibid, 2/249) Namun, jarh (kritik) ini tidak menodai ketsiqahannya, lantaran ulama yang menta’dil (memuji) sangat banyak.

Selain itu, telah shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, maka ambil-lah walau berada di tangan orang-orang musyrik, dan janganlah kalian menjauhkan diri untuk mengambil hikmah itu dari orang-orang yang mendengarkannya.” (IbnuAbdil Bar, Jami’  Bayan Al ilmi wa Fadhlihi, 1/482. Mawqi’ Jami Al Hadits)

Selesai

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…