Tadabbur Al-Qur’an: QS. Al-Qalam

Oleh: Dr. Saiful Bahri, MA

Mukaddimah: Sebuah Dukungan Rabbani

Surat al-Qalam termasuk surat yang pertama-tama diturunkan Allah di Makkah; menurut sebagian ahli tafsir diturunkan setelah surat al-’Alaq.

Saat Nabi Muhammad saw berdakwah, respon yang beliau terima dari kaumnya sangat mengecewakan. Bahkan lebih merupakan teror-teror psikis dan tak jarang juga terror fisik beliau terima, juga orang-orang yang mengikuti dakwah beliau.

Salah satu teror psikis yang beliau terima adalah stempel ”gila” yang diberikan kepada beliau. Padahal sebelum itu kaumnya sendiri yang menyematkan julukan ”al-Amin (yang terpercaya)” kepada beliau. Kini semua berbalik. Beliau dicap sebagai orang yang gila harta dan jabatan. Bahkan sebagian benar-benar menuduh gila dalam artian yang sebenarnya.

Dan Allah lah yang kemudian menjawab segala tuduhan di atas. “Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS. 68: 4)

Dukungan spiritual ini diberikan saat kaumnya menganggapnya gila ketika beliau menyampaikan risalah-Nya. Bahwa Allah juga tak henti-hentinya memberikan dukungan serta menjanjikan pahala yang tak putus-putus atas kesabaran yang ekstra dalam menghadapi kaumnya.

Sejenak kita tilik gaya bahasa yang dipakai al-Qur’an. ”la‘alâ khuluqin ’azhîm” pada ayat keempat, digunakan kata ”’alâ” (di atas) bukan dengan kata ”fî” (dalam). Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad saw memang berada di atas standar akhlak dan budi pekerti manusia pada umumnya.

Ketika beliau mendakwahi para pemuka kaumnya, Quraisy; saat itu Abdullah bin Ummi Maktum ra. -yang buta- masuk ke tempat tersebut. Seketika raut muka Rasulullah berubah sedikit muram, berubah masam. Beliau tak mengatakan apa-apa, memarahi, menghardik atau menegurnya. Hanya saja air wajah beliau menunjukkan agak terganggu dengan kehadiran Abdullah tersebut.

Seketika Allah menegur beliau “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”. (QS. `Abasa: 1-4)

Barangkali bagi orang biasa, hanya bermuka masam seperti di atas mungkin belum terlalu dianggap kurang baik. Namun, kebersihan diri beliau serta pengawasan Allah lah yang menjadikan standar akhlak beliau memang benar-benar mulia. Di atas standar akhlak manusia biasa. Di atas akhlak orang yang paling mulia sekalipun, yang pada waktu itu ada dalam suku Quraisy atau suku-suku lain yang ada disekitarnya. Bahkan paling mulia di antara sekian makhluk Allah yang pernah ada dan yang akan ada.

Karena itu, tak ada alasan bagi Nabi Muhammad saw untuk larut dalam kesedihan memikirkan cemoohan dan berbagai teror dari kaumnya. Dan yang terbaik adalah meneruskan dakwah ini kepada kaumnya. ”Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 68: 5-7). Karena terkadang orang gila tak merasa bahwa dirinya adalah orang gila. Dan ketika mereka sadar, keterlambatan itu sudah tiada berguna lagi untuk menghindarkan mereka dari siksaan Allah yang Maha Pedih.

Para Pendusta dan Pencela Nabi Muhammad saw

”Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.  Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.  Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kam, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang terdahulu”. Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya)”. (QS. 68: 8-16)

Ada perbedaan ahli tafsir, siapa yang dimaksud Allah dalam ayat ini. Karena ayat 10-16 diturunkan untuk menyindir seseorang. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat [1]. Sebagian mufassirin berpendapat ayat-ayat ini diturunkan Allah untuk menyindir al-Walid bin Mughiroh [2], sebagian lagi berpendapat: al-Akhnas bin Syuraiq, atau al-Aswad bin Abdi Yaghuts.

Allah melarang mengikuti mereka (orang-orang kafir Quraisy). Orang-orang kafir dan mereka yang mencaci Rasulullah saw. Larangan ini semula diperuntukkan kepada Nabi Muhammad saw, namun ditujukan pula kepada kita, sebagai umat yang mengikuti ajaran yang beliau bawa.

Sifat pertama yang ditunjukkan Allah dalam ayat ini adalah “mendustakan”.  Mendustakan ayat-ayat-Nya, para utusannya, meskipun sebelumnya mereka dikenal kaumnya sebagai orang terpercaya lagi baik budinya. Ciri-ciri inilah yang memasukkan kaum Ad dan Tsamud serta Ashabu Madyan, dan Rass ke dalam kategori orang-orang yang kafir. Pembangkang serta memusuhi kekasih Allah. Dan pada gilirannya Allah menghancurkan mereka dengan tentara-tentara Allah. Angin topan yang menggulung kesombongan mereka. Menghabiskan kedustaan yang mereka lakukan kepada Allah dan para Rasul-nya

Mereka ingin dihargai sementara mereka tiada mau menghargai orang lain. Ingin diperlakukan dengan lunak dan lemah lembut, sementara mereka tidaklah demikian.

Diantara sifat al-Walid yang menonjol adalah banyak bersumpah. Namun sering ia langgar sendiri. Sungguh hina orang-orang yang mempermainkan sumpahnya. Selain itu suka mencela dan mencaci, menebar fitnah, menjadi provokator dan menghalangi kebaikan. Kasar dan sudah terlanjur dikenal keculasan dan kejahatannya. Padahal ia memiliki banyak anak dan harta. Tapi sekali-kali ia tak pernah insyaf dan bertaubat kepada Allah.

Di akhir peringatan ini Allah memberitahukan lagi salah satu ciri mereka. Yaitu mereka akan mengatakan kepada setiap orang yang mengajak mereka kepada kebaikan. “Itu hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu” hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu” hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu” hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu” hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu”. Mungkin kalau bahasa kita, setelah kita memperingatkan atau mengajak pada sesuatu yang ma`ruf. Mereka akan mengangganya ”lagu lama” yang disamakan dengan dongeng-dongeng serta cerita rakyat yang penuh mitos.

Mereka sudah terlebih dahulu mengklaim sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah. Padahal mereka tak mengetahui apa pun tentangnya. Bagaimana mungkin mereka akan menerimanya.

Allah akan menghinakannya juga kuffar Quraisy itu dengan memberi tanda khusus di hidung mereka [3]. Sebagai tanda kebohongan dan kedustaan mereka. Menghinakan mereka sebagaimana mereka menghinakan ayat-ayat Allah dan para Rasul-Nya.

Al-Qur`an menggambarkannya dengan kata-kata “belalai”. Kata-belalai sebagaimana lazimnya tak dipakai kecuali untuk binatang. Bukan untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk semakin menghinakan serta menurunkan derajatnya sebagai manusia. Mereka sama dengan binatang. Bahkan lebih rendah darinya. Karena mereka mempunyai akal. Namun tak mereka gunakan untuk menerima dan memikirkan ayat-ayat Allah.

Kisah Para Pemilik Kebun

Dalam surat ini ada kandungan kisah tentang para pemilik kebun. Allah menurunkan adzab kepada mereka, dalam rangka memberi mukaddimah ancaman kepada para pencela dan pengejek Rasulullah saw. Jika mereka mengetahui atau setidaknya merasakan penyesalan dan kepedihan serta keputusasaan dalam kisah ini tentu mereka akan takut ditimpa dengan adzab yang lebih pedih dari itu, adzab akhirat.

Siapakah para pemilik kebun yang dimaksud dalam ayat-ayat ini ?[4]

Dikabarkan, mereka telah membagi-bagi dan mengkaplingkan hasil kebun mereka yang akan akan mereka tuai esoknya. Mereka memastikannya, bahkan telah bersumpah. Hasilnya untuk keperluan ini dan untuk keperluan itu.. Mereka sama sekali tak menyisakan bagian untuk kaum dhu`afa dan fakir miskin. Mereka juga sombong. Seolah merekalah yang memutuskan segalanya. Yang menjamin kelangsungan hidup hari esok. Sehingga mereka melupakan Allah. Tiada mensyukuri nikmat-Nya. Tak menyebutnya sama sekali. Bahkan mereka tak mau untuk sekedar mengatakan: “Insya Allah ”.

Adapun penafsiran ayat ke 18 memang berbeda-beda. Jika konteksnya berhubungan dengan kepercayaan pada Allah dan pemastian pembagian hasil kebun. Maka lebih pas untuk diartikan dengan “tidak mengatakan Insya Allah ”. Namun, jika konteksnya adalah amal kemanusiaan yang berhubungan dengan hak fakir miskin. Maka bisa diartikan,”Mereka tak memberikan bagian dari hasil tersebut serta menyisakannya untuk fakir miskin”. Padahal para pendahulu mereka, kakek dan bapak mereka mendermakan sebagian harta hasil dari perkebunan tersebut kepada fakir miskin. Sementara mereka mempunyai karakter yang sebaliknya, bakhil. Sangat memusuhi hati nurani kemanusiaan.

Penggambaran kebakhilan mereka terlihat dari ayat 24. Dimulai ketika mereka bangun dari tidur di waktu shubuh, mereka bergegas saling membangunkan, serta saling memanggil dan mengingatkan. Kemudian bertolak ke kebun mereka dengan diam-diam dan mengendap-endap dengan tujuan agar fakir miskin yang ada di kampung mereka tak mengetahuinya. Kemudian dikhawatirkan mereka meminta bagian dari hasil kebun tersebut.

Mereka tak mengetahui keadaan sesungguhnya. Mereka tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi pada kebun-kebun mereka. Mereka tak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap kebun mereka ketika mereka terlelap dalam tidur ketamakan semalaman. Ketika mereka mendekat, melihat dengan kedua mata mereka sendiri. Keadaan kebun-kebun mereka sungguh jauh di luar dugaan dan penggambaran mereka. Kebun-kebun mereka menghitam pekat. Sehitam hati mereka yang tetutupi hawa nafsu, cinta dunia dan kebakhilan sehingga menghalangi rasa kemanusiaan mereka.

Lenyaplah ribuan angan mereka. Hilanglah pembagian penghasilan yang mereka rancang sebelumnya. Terbanglah bayangan-banyangan kesenangan dunia.

Apakah mereka tak merasakan kesengsaraan serta penderitaan fakir miskin yang tak mendapat uluran kasih sayang dan bantuan dari mereka? Mereka telah menghalangi fakir miskin dari mendapatkan haknya dari harta mereka, padahal mereka mampu dan sanggup melakukannya.

Kemudian, ada seseorang yang masih mempunyai pemikiran baik diantara mereka mengingatkan. Bukankah aku telah mengatakan, sebaiknya kalian bertasbih kepada Tuhan kalian.

Peringatan, ajakan bertasbih ini. Tentulah sangat baik. Akan tetapi mereka mengucapkannya dengan bibir-bibir kering. Dengan keputusasaan. Dengan tertutupnya hati. Merekapun bertasbih. Namun, tak mengetahui hakikat makna dan kandungan tasbih tersebut. Hal ini terbukti dan terlihat dari fenomena permusuhan di antara mereka setelah itu. Mereka saling mencela. Saling menyalahkan di antara sesama mereka. Tiada menerima yang Allah cobakan kepada mereka

Penyesalan. Ribuan penyesalan. Bahkan tiada terhitung penyesalan yang mereka keluhkan. Mereka mengakui kelemahan dan kezhaliman mereka. Namun, penyesalan ini tidaklah sanggup mengembalikan kebun mereka kembali menghijau seketika itu. Kembali menjanjikan hasil dunia yang menggiurkan dan melenakan mereka.

Jika mereka benar-benar menyesalinya. Dan penyesalan seperti ini ketika masih ada kesempatan memperbaikinya. Tentul Allah akan menerimanya. Menerima taubat yang sungguh-sungguh dari hamba-hambaNya.

Namun, bukan penyesalan mereka. Penyesalan orang-orang kafir, para pencela Rasulullah. Penyesalan yang kelak baru mereka rasakan ketika adzab akhirat melucuti tubuh dan perasaan mereka. Jika mereka mengetahui dan menyelami kisah pemilik-pemilik kebun tersebut. Sungguh mereka akan cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri. Dan barang siapa yang tidak mengetahuinya, ketahuilah bahwa adzab akhirat sangatlah pedih. Melebihi pedihnya adzab dan cobaan dunia. Tak terbayangkan oleh siapapun yang ada di dunia ini. Hanya Allah saja yang mengetahui kedahsyatannya.

Lihatlah akhir hidup Abu Jahal, seorang penjahat kelas kakap yang terbunuh dalam Perang Badar di tangan dua orang anak kecil, Muadz dan Muawidz  [5]. Lihat pula al-Walid bin Mughiroh. Justru anaknya Khalid bin Walid menjadi panglima besar Islam  juga saudara-saudaranya, membela dakwah Rasulullah. Maka yang demikian itu sangat menghinakan mereka.

Kabar Gembira

Dan sebaliknya Allah memberikan kabar gembira untuk orang-orang yang mau mengikuti risalah Rasulullah saw. ”Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. 68: 34-35)

Tentu saja Allah tak menyamakan kedua golongan yang sangat jauh perbedaannya. Masing-masing telah Dia sediakan balasan yang setimpal sesuai dengan amal dan perbuatannya. Masing-masing dari manusia telah diberi kebebasan memilih jalan masing-masing. Hanya saja ia mesti mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Maka jika demikian halnya. Orang-orang yang bertakwa mengikuti jejak para Nabi Allah. Jejak yang jelas ujungnya, meski banyak duri serta cobaan berada disepanjang jalan pilihan tersebut.

Tunggulah sampai datang hari yang dijanjikan itu. ”Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa”. (QS. 68: 42)

Pada waktu itu orang-orang yang sombong tersebut dipanggil satu persatu. Mereka diinstruksikan untuk bersujud di hadapan Allah. Mereka pun tak kuasa melakukannya. Karena mereka tak pernah melakukannya di dunia. Atau jika melakukannya, hanya karena mereka terjangkit split personality. Hipokrit dan munafik, untuk meraup keuntungan dunia semata. Hari itu keadaan sesungguhnya menjadi nyata. Pamrih sesungguhnya dari apa yang ia lakukan menjadi jelas terlihat. Karena hati mereka tertutup oleh dunia dan segala kesenangannya.

Sujud merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi hati yang tak khusyuk. Bagi hati yang keras. Hati yang dipenuhi oleh gengsi kedudukan dan status sosial. Sujud akan mudah dilakukan oleh hati yang lembut. Hati yang tunduk, khusyuk dengan penuh pengakuan di depan kebesaran yang Maha Hidup dan Mencipta kehidupan. Sehingga sujud merupakan wirid harian yang menjadi obat kegundahan dan kegelisahan menghadapi berbagai permasalahan dunia.

Hari itu mereka benar-benar ingin melakukannya. Namun mereka tak sanggup melakukannya. Sementara ketika mereka berada dalam kelapangan dan dalam keadaan yang sejahtera, mereka menolak ketika diseru untuk bersujud. Namun mereka cepat mengambil keputusan untuk menolak ajakan tersebut dan memutuskan sekali lagi untuk tidak akan melakukannya. Maka orang-orang yang berkelakuan demikian –kata Allah- serahkan saja segala urusannya kepada-Nya. Hanya Allah yang mampu memperlakukan mereka sesuai perbuatan yang mereka lakukan.

Wasiat Sakti

Tetaplah bersabar. Demikian Allah mewasiatkan kepada Nabi-Nya yang mulia Muhammad saw. Sebuah wasiat yang menjadi senjata pamungkas dalam menghadapi kelakuan orang-orang yang memusuhi dakwahnya.

Sabar dengan ketetapan Allah. Sabar untuk terus mendakwahkan kebenaran yang telah diyakini sebagai jalan benar. Sebagai pilihan yang tepat. Dan akan dipertanggungjawabkan. Serta janji Allah berupa balasan kemuliaan.

Allah menceritakan kisah pendahulu Nabi Muhammad ketika menghadapi kaumnya. Dikisahkan, Yunus bin Matta as diutus Allah ke daerah bernama Naynawa. Beliau mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Akan tetapi kaumnya membangkang dan bersikeras untuk tetap menjauhi ajakan Nabi Yunus as. Mereka memilih jalan kekafiran sebagai respon negatif terhadap dakwah Nabi Yunus. Yunus pun marah dan bermaksud meninggalkan kaumnya. Setelah beliau mengancam dengan turunnya adzab Allah kepada mereka. Sepeninggal Nabi Yunus dari kaumnya. Tanda-tanda ancaman siksa dari Allah terlihat oleh mereka. Mereka pun sadar dan meyakini kebenaran ajakan Nabi Yunus. Bertaubatlah mereka. Keluarlah mereka berbondong-bondong ke sebuah tanah lapang di padang pasir yang luas. Anak-anak mereka, Istri-istri mereka, yang tua dan yang muda serta dengan binatang peliharaan mereka. Semuanya bermunajat dengan khusyuk kepada Allah memohon ampunan dan agar adzab tersebut tak diturunkan kepada mereka. Sedangkan Yunus, telah pergi jauh meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Allah memuat cerita Yunus lebih terperinci dalam surat Ash Shaffât dari ayat 139 – 148.

Kesalahan yang dilakukan Nabi Yunus as adalah meninggalkan kaumnya. Meninggalkan tanggungjawabnya. Padahal kaumnya telah bertaubat dan hidup dalam keadaan mengimani dakwah yang ia serukan selama ini. Hanya saja beliau agak terburu-buru. Meninggalkan kaumnya dengan ancaman siksa Allah. Namun, Allah mengampuni mereka setelah semua bermunajat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.

Pelajaran kesabaran lah yang dimaksudkan di sini. Untuk menghadapi tingkah laku kaum yang tidak mengindahkan seruan dakwah. Bahkan melecehkannya. Hanya bersabar. Sampai datang keputusan dari Allah.

Ketika dalam perut ikan –menurut riwayat Auf al-A’raby sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam tafsir Al Anbiya’ ayat 87-88- Yunus mengira bahwa dirinya telah mati. Kemudian ia menggerak-gerakkan kakinya. Kemudian bersujud seraya membisikkan dengan lemah “Ya Allah aku menjadikan tempat ini sebagai tempat sujud yang belum pernah dicapai seorang pun”. Dan beliau pun bertasbih kepada Tuhannya.

Tasbih yang diucapkan dan dimunajatkan oleh Yunus adalah tasbih khusyuk dan penuh tadharru’. Penuh ketenangan dan pengakuan akan kelemahan dan kezhaliman diri. Sehingga rintihan lemah ini di dengar oleh para malaikat-Nya. Sehingga Allah pun menitahkan pada ikan yang menelannya untuk memuntahkan kembali Yunus. Yunus pun selamat dan kembali ke kaumnya setelah bertaubat.

Berbeda dengan tasbih para pemilik kebun ketika salah seorang terbaik mereka menyeru untuk bertasbih. Mereka pun segera bertasbih. Namun, hanya menjadi hiasan bibir belaka. Ketidakikhlasan mereka terlihat, ketika masih ada kedengkian diantara mereka. Mereka saling mencaci sesamanya.

Tasbih sendiri mempunyai makna yang dalam, sehingga mempunyai pengaruh bila seseorang mengucapkannya dengan penuh penghayatan. “Maha Suci Engkau Wahai Allah, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim”.

Bagian pertama tasbih ini, mensucikan Allah dari segala kekurangan dan hal-hal yang tak layak bagi Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Kemudian bagian kedua menegaskan kelemahan diri dan kesalahan yang dilakukan dengan mengakui kezhaliman yang telah diperbuat.

Dua komponen ini merupakan bentuk penyesalan yang sempurna. Penyesalan yang diikuti keinginan untuk memperbaiki diri. Dan untuk memperbaiki diri tersebut kita memerlukan bantuan dari Allah. Minimalnya, bantuan netralisir kesalahan. Dengan menurunkan ampunan-Nya kepada kita atas segala kesalahan yang telah kita lakukan.

Inilah yang dilakukan kekasihnya dalam kegelapan lapis tiga. Dan sanggup menerobos sampai kelangit berlapis tujuh. Didengar oleh semua penduduk langit. Meski dengan suara yang sangat lemah dan pelan. Namun, terdengar sangat jelas. Jelas, karena mengakui kemahasucian Allah. Dan Allah memasukkan Yunus kedalam golongan hamba-hambaNya yang salih.

Ikhtitam: Berbahagialah yang Berani Mengambil Jalan Rasulullah

Ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan ayat-ayat Allah, orang-orang kafir mencibir dan melecehkannya. Bahkan, menganggap Muhammad telah benar-benar gila. Karena mereka tak mau menggunakan hati nurani untuk menerima ayat-ayat Allah.

Ketahuilah bahwa Al-Qur’an tak lain hanya merupakan peringatan bagi semua umat yang ada. Dan tugas Nabi Muhammad, juga tugas para penerusnya, para da’i hanya sekedar mengingatkan kaumnya. Mengingatkan umat yang diserunya untuk mengikuti dan memahami ayat-ayat tersebut. Hanya menyampaikan peringatan ini.

Jika mereka mencibirnya. Maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa para pendahulu kita juga mendapat perlakuan yang tak jauh beda dari keumnya ketika mereka menyampaikan ayat-ayat yang mereka bawa dari Tuhan mereka.

Hanya menyampaikan dan telah kita sampaikan. Maka Allahlah yang menentukan. Memberi hidayah kepada mereka atau membiarkan mereka dalam kesesatan karena mereka telah memilihnya demikian. WalLâhu a’lam.

—————————————————————————-

([1]) Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Bârî bi syarhi Shahih al-Bukhari, Cairo: Darul Hadits, Cet. I, 1998 M-1419 H Vol. VIII, hal. 815.

([2]) Ini pendapat jumhur ulama, seperti dikuatkan oleh Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet. 2002 M – 1423 H, Vol. IX, hal. 451. Juga dalam tesis Magister penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’u al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an li al-Ma’iny, Cairo: Universitas Al-Azhar-Jurusan Tafsir, 2006 M – 1427 H, Vol.II, hal. 685

([3]) lihat dalam ayat 16.

([4]) menurut riwayat Imam Ibnu Jarir at-Thabary dan Ibnu Mundzir mereka adalah sekelompok orang di negeri Yaman. Ini yang dirajihkan Imam Ibnu Katsir dalam Qashashul Qur’annyanyanya juga dipakai oleh jumhur mufassirin. Ada sebagian ahli tafsir yang meriwayatkan mereka berasal dari Habasyah (Etiophia)

([5]) Sebenarnya Abdullah bin Mas’ud lah yang berniat membunuh Abu Jahal. Tapi dua anak kecil tersebut mendahuluinya. Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam Jami’ Shahihnyanyanya hadits ke-3962 (lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bârî, Ibid. Vol.VII, hal. 361).

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Rapat Shaf Rapat Ukhuwah

Oleh: Ust. DR. Wido Supraha

Setiap Muslim wajib merapatkan shaf di saat shalat, namun apakah ritual itu mampu merapatkan ukhuwah di antara kaum muslimin?

Meluruskan dan merapatkan shaf adalah bagian daripada sunnah nabawiyah, karena Nabi saw. pernah memerintahkan hal itu melalui sabdanya, ”Luruskanlah shof kalian.” Beliau membimbing sahabat-sahabatnya untuk meluruskan shaf, sehingga mereka benar-benar memahaminya secara baik.

Suatu masa, Rasulullah saw. keluar bersamaan dengan terdengarnya iqomah, namun beliau melihat salah seorang sahabat tampak dadanya membusung ke depan, maka beliau pun bersabda,

”Wahai hamba-hamba Allah, luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memecah belah persatuan kalian.”
(Muttafaqun ’Alaih)

Kalimat tersebut memiliki penekanan dengan tiga bentuk piranti penguat dalam bahasa Arab, yakni sumpah, hurum lâm dan nûn.

Tidak lurusnya shaf dapat memecah belah pola pikir, sehingga hati akan saling berselisih, sehingga tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan ancaman terhadap orang yang tidak melakukan pelurusan shaf.

Oleh sebab itu, sebagian ulama berpendapat bahwa meluruskan shaf hukumnya wajib dan bukan sunnah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menegaskan bila jamaah shalat tidak meluruskan shaf, maka mereka akan berdosa, dan itulah pendapat yang eksplisit dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam al-Ikhtiyârôtu ‘l-Fiqhiyyah min Fatâwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah atau Majmu’ Fatâwâ Syaikhul Islam.

Yang menjadi standar dalam meluruskan shaf adalah bahu, bagian atas tubuh, dan mata kaki di bagian bawah tubuh, yang dilakukan di saat tubuh tegak lurus.

Sementara jari-jari kaki tidak bisa dijadikan patokan, karena jari-jari kaki seseorang berbeda-beda satu dengan yang lain.

Nabi memerintahkan hal ini dan menganjurkan umatnya membuat shaf seperti para malaikat menyusun shaf mereka di sisi Rabb mereka.

Merapatkan shaf berarti tidak membiarkan adanya celah bagi setan, meski tidak juga berarti berdesak-desakan.

Nabi saw. Bersabda,
“Rapatkan shaf, dan  jangan biarkan adanya celah-celah untuk dimasuki setan.” (HR. Abu Daud)

Fenomena di masa kini sering kita dapati jarangnya perhatian jamaah atas masalah ini, dan menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Terkadang mereka terpaku pada posisi format sajadah dan tidak mau merapatkannya meskipun jarak antara format sajadah adalah renggang.

Terkadang di saat salah seorang hendak merapatkan dirinya dengan jamaah di sisi kanan atau kirinya, jamaah tersebut malah bergeser menjauhkan diri dari rapatan yang dilakukan.

Belum lagi terlihat begitu banyak jamaah yang tidak memperhatikan kelurusan shaf, sehingga barisan shaf sangat tidak rapih terlihat, dan anehnya lagi, imam tidak mengambil peran sebagaimana mestinya untuk mengatur jamaah agar teratur dalam masalah ini.

Tentu saja hal-hal ini adalah akibat daripada ketidaktahuan jamaah akan pentingnya ilmu sebelum amal.

Di saat tubuh kita menempel rapat dengan jamaah di samping kita, dimana di saat itu bahu bertemu bahu, dan mata kaki bertemu mata kaki, maka kita akan merasakan sebuah energi persaudaraan yang pasti tidak kita rasakan di saat tubuh kita berjauhan seakan-akan sebuah keterasingan dan dikhawatirkan akan memudarlah semangat kebersamaan, persaudaraan, dan ikatan hati.

💡Sungguh, dalam setiap hal shalat berjama’ah, terdapat pelajaran yang mampu kita petik untuk diterapkan di luar kegiatan shalat.

Bisa dikatakan bahwa shalat berjamaan semacam miniatur daripada kehidupan islami yang diarahkan oleh ajaran suci ini. Sehingga sepatutnya antara hikmah yang kita peroleh dari kegiatan shalat berjama’ah dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, berjalan bersamaan tanpa ada dikotomi di antara keduanya.

Rasulullah saw. bersabda, “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tanpa memberikan pertolongan), tidak berbohong kepadanya, dan tidak memperhinakan nya.

Takwa itu ada di sini – seraya menunjuk ke hatinya tiga kali -.  Cukuplah bagi seseorang suatu keburukan bila ia menghina saudaranya seislam. Setiap muslim itu haram: darah, harta, dan kehormatannya.”

(HR. Muslim)

Di dalam Haji Wada, dengan bahasa yang selaras, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, seperti keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.” (Al Hadits)

Ikatan ukhuwah (persaudaraan) adalah ikatan yang tidak bisa terbeli oleh nilai apapun juga. Ia adalah ikatan yang mampu merekatkan hubungan sesama manusia di atas kualitas emosional hubungan sedarah sekalipun, karena ikatan ukhuwwah dibangun di atas pondasi taqwa.

Ukhuwah menjadi menarik, bernilai tinggi, dan pemicu kebaikan lainnya, tatkala ia dijalankan dengan penuh kasih dan menghindarkan sejauh mungkin dari hal-hal yang dapat merusaknya, khususnya hasad, ghibthoh, saling membenci, saling membelakangi, dan lainnya.

Rapatnya hati sesama kaum muslimin adalah salah satu implementasi dasar dari rutinitas shalat berjama’ah yang kita lakukan sehari-hari. Ia harus dibangun dengan penuh kasih sayang sesama saudara seiman, sehingga melahirkan semangat untuk saling memenuhi dan saling melengkapi satu sama lainnya, selayaknya satu tubuh (jasad al wahid), tanpa melihat status sosial, dan status-status lain yang hanya ada dan tercipta di dunia ini.

Mari kita mulai praktik merapatkan hati ini dari lingkungan kita masing-masing. Kunci suksesnya adalah kualitas komunikasi yang baik, prasangka baik, dan berdo’a yang baik untuk kebaikan saudara kita tanpa ia mengetahui sedang kita do’akan.

Wallāhu ta’ala a’lam,

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jangan Biarkan ‘Kuncup’ Kemaksiatan ‘Berbunga…’

Oleh: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Jauhi kemaksiatan sejak tahap awal atau stadium pertama.

Meninggalkannya ketika masih gejala, lebih mudah ketimbang hati sudah terpenjara…..

Imam Ghazali, rahimahullah,  berkata,

الْخُطْوَةُ اْلأُولَى فِي الْبَاطِلِ إِنْ لَمْ تَدْفَعْ أَوْرَثَتْ الرَّغْبَةَ ، وَالرَّغْبَةُ تُورِثُ الْهَمَّ ، وَالْهَمُّ يُورِثُ  الْقَصْدَ ، وَالْقَصْدُ يُورِثُ الْفِعْلَ ، وَالْفِعْلُ يُورِثُ البَوَارَ وَالْمَقْتَ ، فَيَنْبَغِي حَسْمَ مَادَّةِ الشَّرِّ مِنْ مَنْبَعِهِ اْلأَوَّلِ وَهُوَ الْخَاطِرُ ، فَإِنَّ جَمِيعَ مَا وَرَاءَهُ يَتْبَعُهُ  (إحياء علوم الدين، 4/401

“Langkah pertama kebatilan, jika tidak engkau cegah, akan menjadi keinginan.

Keinginan akan melahirkan kemauan, kemauan akan melahirkan tujuan, tujuan akan melahirkan perbuatan.

Pebuatan (batil) akan melahirkan kesengsaraan dan kemurkaan.

Hendaknya potensi keburukan sudah dituntaskan sejak sumber pertama, yaitu lintasan pikiran, karena seluruh langkah berikutnya hanyalah kelanjutannya.” (Ihya Ulumuddin, 4/401)

Ibnu Qayim, rahimahullah, berkata,

دَافِعْ الْخَطْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ فِكْرَةً ، فَدَافِعْ الْفِكْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ شَهْوَةً ، فَحَارِبْهَا، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ عَزِيْمَةً وَهِمَّةً ، فَإِنْ لَمْ تُدَافِعْهَا صَارَتْ فِعْلاً ، فَإِنْ لَمْ تَتَدَارَكْهُ بِضِدِّهِ صَارَ عَادَةً فَيَصْعُبُ عَلَيْكَ الاِنْتِقَالُ عَنْهَا (الفوائد، ص 31

“Usirlah lintasan pikiran (maksiat), sebab jika tidak engkau cegah, dia berubah menjadi pemikiran.

Cegahlah pemikiran (maksiat), jika tidak engkau halau, dia akan berubah menjadi syahwat.

Perangilah (syahwat maksiat), sebab jika hal itu tidak engkau lakukan, dia akan  berubah menjadi tekad kuat (azimah) dan keinginan besar (himmah).

Jika tidak juga engkau cegah, maka dia akan berubah menjadi sebuah perbuatan.

Lalu jika engkau tidak lakukan langkah penangkalnya, dia akan menjadi kebiasaan. Dan ketika itu, sulit bagimu meninggalkannya.” (Al-Fawaid: 31)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Potret Kasih Sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Dalam Pendidikan Anak (3)

Pemateri: Indra Asih

Materi sebelumnya dapat dibaca di:
Bag. 1: http://goo.gl/iWTkC0
Bag. 2: http://goo.gl/C268Sp

***

3. Bahagialah Memiliki Anak Perempuan

Mereka yang mempunyai anak perempuan, ada jaminan dari Allah yaitu surga dan dijauhkan dari api neraka.

Pada masa jahiliyah anak perempuan adalah aib bagi keluarganya, ketika anak perempuan lahir seketika itu langsung di kubur hidup-hidup.

Namun setelah hadirnya Islam ditengah-tengah mereka, maka Islam mengangkat derajat perempuan, dan memberi jaminan surga bagi orang tua yang ikhlas merawat anak perempuan serta menjadi dinding yang mengahalangi dari api neraka.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda,

 “Barangsiapa mempunyai anak perempuan kemudian tidak membebaninya, tidak melemahkannya, dan tidak mengutamakan anak laki-laki atasnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
(HR Abu Dawud)

Aisyah berkata, “Seorang wanita disertai dua anak perempuannya datang meminta sesuatu dariku. Aku tidak mempunyai apa-apa selain selain buah kurma yang kuberikan kepadanya. Wanita itu kemudian membelahnya dan memberikan kepada dua anaknya, lalu pergi.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang, aku menceritakan hal itu.
Beliau bersabda, ‘Barangsiapa diuji dengan anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka perbuatannya itu dapat menjadi dinding yang menghalanginya dari api neraka.”
(HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi )

4. Mengajari Anak Ibadah Sejak Dini

Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak ibadah sejak dini, dengan mengajak mereka ke masjid. Disebutkan dalam riwayat bahwa, sering kali saat beliau bermaksud memperlama shalatnya, terdengar tangis bayi yang menyebabkan beliau mengurungkan niatnya dan mempercepat shalatnya karena kasihan kepada ibu si bayi tersebut.

Ketika cucunya, Umamah putri Zainab, menangis, beliau menggendongnya sambil terus melakukan shalat. Ketika sampai pada sujud beliau meletakkannya dan kembali menggendongnya saat berdiri.
(HR Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika beliau sedang bersujud dalam shalat. Lalu Hasan, cucu beliau, naik ke atas punggungnya. Beliau lalu memperlama sujudnya setelah selesai shalat beliau menjelaskan kepada para sahabatnya, “Cucuku naik ke atas punggungku (saat shalat). Aku tidak ingin mengangkat kepalaku sampai dia turun (dari punggungku).”
(HR Ahmad dan Nasa’i)

Di lain kesempatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang menjadi imam shalat bagi manusia maka hendaknya dia meringankan shalatnya. Sebab di antara mereka ada orang tua, anak kecil, orang yang sakit dan orang yang memiliki keperluan.”
( HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Dan kepada Mu’adz ibn Jabal yang memperlama shalat ketika menjadi imam, beliau pun menegur, “Apakah kamu ingin membuat fitnah hai Mu’adz?”
(HR Bukhari dan Muslim)

Jika kita perhatikan, hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak-anak dengan mengajaknya ke masjid, dengan demikian apa yang anak-anak lihat di dalam masjid adalah orang yang sedang shalat atau ibadah lainnya.

Secara tidak langsung proses pendidikan dalam mengajari anak ibadah sejak dini sangat tepat karena anak-anak langsung praktek dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya yang sedang shalat.

5. Berbahagia Mendidik Anak

Mendidik anak itu menyenangkan, hal ini dapat dirasakan oleh orang tua yang menjadikan anak sebagai anugerah besar yang Allah berikan, di samping itu juga anak yang lahir adalah amanah dari Allah, sehingga motivasi dalam mendidik anak adalah mendapatkan ridha Allah.

Cinta seorang bapak atau ibu kepada anak-anaknya diwujudkan dalam bentuk pemeliharaan, pembimbingan, pengarahan, dan pendidikan yang baik terhadap anak-anaknya. Sehingga mereka tumbuh menjadi muslim yang baik.

Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda , “Usaha seseorang mendidik anaknya pasti lebih baik dibandingkan dengan ia bersedekah satu sha’.”
(HR Tirmidzi)

Ayyub bin Musa meriwayatkan dari ayahnya, dari kakek-nya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya daripada pendidikan yang baik,”
(HR Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menaruh perhatian yang demikian besar terhadap proses pertumbuhan anak sejak kecil.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh para orangtua memberikan pendidikan dan pengawasan yang baik agar tumbuh sifat-sifat terpuji dan sikap santun dalam diri anak.

Fase ini merupakan fase yang oleh psikologi modern dianggap penting dalam pembentukan kepribadian anak. Fase ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dalam menghadapi kehidupan di masa selanjutnya.

Kesimpulan:

Menggambarkan sosok Muhammad sebagai teladan dalam setiap lini kehidupan, tak cukup waktu untuk menjelaskannya. Tak pernah habis menceritakan sosok Muhammad sebagai teladan yang agung.

Jika kita mampu mengambil hikmah dan mencontoh dari gambaran teladan di atas dalam mendidik anak, hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab.

KETIKA TAK ADA CINTA DALAM RUMAH TANGGA

Pemateri: Indra Asih

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (yaitu sakinah.pen), dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Ar Rum :21)

Meskipun sepasang suami istri tinggal satu atap, satu rumah, dan satu keluarga, mereka berdua pasti memiliki titik-titik perbedaan, kekurangan-kekurangan, dan tabiat-tabiat yang tidak disukai oleh pasangannya. Terkadang, cara makan dan minum, berbicara, tidur, dan banyak perilaku lainnya yang tidak disukai pasangan.

Oleh karena itu, terkadang ada suami atau istri yang tidak atau belum mencintai pasangannya. Mereka butuh waktu untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara mereka berdua. Karena cinta adalah perkara hati yang seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk seenaknya mengontrol hatinya.

Jika rumah tangga belum atau tidak ditumbuhi bunga-bunga cinta yang menebar keindahan dan keharuman, maka jangan terburu-buru membuka pintu perceraian atau merasa pesimis dengan kebahagiaan rumah tangganya.

Ingatlah bahwa cinta itu terlahir dan bisa bertahan ketika ada 3 faktor, yairu:

a. kecocokan setelah merasakan keindahan pasangan dan keluhuran sifat-sifatnya
b kecocokan batin
c. kebaikan dari sang pasangan

Untuk meraih dan mempertahankan 3 faktor tersebut, tentu membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus ditempuh oleh suami istri.
Di antara langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

1. Seorang suami atau istri harus bisa memahami perbedaan antara mereka berdua yang terkadang saling berbenturan dengan diiringi penunaian hak dan kewajiban kedua belah pihak.

2. Seorang suami atau istri harus menjauhi dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat adalah sebab utama timbulnya kebencian dan matinya cinta.

Seorang ulama salaf berkata, “Ketika aku berbuat maksiat kepada Allah swt, aku mendapatkan pengaruh maksiat pada perubahan sifat istriku yang mulai membenciku”.

Termasuk dosa dan maksiat yang sering di lakukan adalah tidak menunaikan hak dan kewajiban suami istri.

3. Suami harus pandai mengambil hati sang istri dengan berlemah lembut, membuka pintu maaf untuk kesalahan-kesalahan istri khususnya masalah duniawi, menjaga penampilan dan kebersihan, menyempatkan diri untuk duduk mesra, memahami emosional wanita yang terkadang labil, menampakkan cintanya dengan perkataan dan perbuatan, saling membantu untuk beribadah kepada Allah, bercanda dengannya, meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan istri, dan tidak mencela atau menyakitinya.
Teladan dalam hal ini adalah Rasulullah saw.

Coba kita perhatikan, bagaimana usaha Rasulullah saw dalam menumbuhkan cinta dalam rumah tangga.

Rasulullah saw  memanggil Aisyah dengan namanya yang paling bagus, beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisy!”, dan terkadang memanggilnya dengan “Humaira’.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Aisyah ia berkata, “Rasulullah saw mencium salah satu istrinya sedangkan beliau saw sedang puasa, kemudian Aisyah tersenyum”, maksudnya Rasulullah saw mencium dirinya.

Rasulullah mengungkapkan cintanya dengan lisan, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Za’in”

Rasulullah saw bercanda mesra dengan istri-istrinya, Imam An Nasa’i meriwayatkan  hadits dari ‘Aisyah ra beliau berkata, “Pada suatu hari, Saudah mengunjungi kami dan Rasulullah saa duduk di antara kami berdua dan meletakkan kaki beliau di atas pangkuanku dan pangkuannya, aku pun membuat makanan dan aku memerintahkan Saudah untuk memakannya, akan tetapi dia enggan, lalu aku berkata kepadanya, “Makanlah, atau aku akan melumurkannya ke mukamu”, maka aku lumurkan makanan tersebut ke mukanya, kemudian Rasulullah saw mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah agar dia membalas perlakuanku tadi, maka dia pun mengambil makanan dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah saw tertawa.”

4. Istri pun harus berusaha merengkuh hati suami dengan menyambut kedatangan suami dengan kehangatan, berhias untuknya, bercanda dengannya, memuji dan mensyukuri kebaikannya, bersegera minta maaf kepadanya ketika berbuat salah, taat kepadanya, dan membantu meringankan pekerjaan suami.

Contoh berikut beberapa wanita teladan dalam berusaha menumbuhkan benih-benih cinta dan menjaga kelestariannya.

Istri Abu Muslim Al Khaulani ketika suaminya datang, maka dia langsung menyambutnya,  menanggalkan pakaiannya dan sandalnya, kemudian menghidangkan makanan kepadanya.

Coba perhatikan bagaimana Shafiyah dan ‘Aisyah bekerjasama untuk meraih kecintaan Rasulullah saw.
Suatu hari Rasulullah saw marah kepada Shafiyah, lalu Shafiyah berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bersediakah kamu mengambil giliranku agar Rasulullah saw meridhaiku?

5. Berdoa kepada Allah swt agar ditumbuhkan dan dipertahann benih-benih cinta di rumah tangganya atau meminta kepada orang-orang shalih untuk mendoakannya.
Seorang wanita mendatangi Rasulullah saw dan mengeluhkan suaminya, maka Rasulullah  saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu membencinya?”,
Wanita tersebut, “Ya”. Lalu
Rasulullah berdoa untuk mereka berdua, “Ya Allah satukan hati mereka, tanamkan kecintaan di antara mereka berdua.” Akhirnya mereka berdua pun saling mencintai.

6. Jika langkah-langkah di atas di tempuh, dan belum membuahkan hasil, maka jangan langsung menempuh jalan perceraian, akan tetapi masing-masing pihak berusaha memberikan kasih sayang kepada pasangannya, dengan harapan akan tumbuh benih-benih cinta antara mereka berdua atau muncul kembali benih-benih cinta yang nyaris padam.

Hal ini berdasarkan sebuah kisah ketika seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab ingin bermusyawarah mengenai keinginannya untuk menceraikan istrinya, maka
Umar berkata kepadanya, “Jangan kamu ceraikan dia!”
Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak mencintainya.”
Umar berkata, “Apakah setiap pernikahan itu didasari cinta? Manakah kasih sayangmu? Jika kamu tidak mencintainya maka kasihanilah dia, kecuali jika kamu tidak menginginkannya dan tidak mencintainya dan dia meminta cerai, maka ini adalah perkara lain.”

Jika tidak tumbuh benih-benih cinta juga, bahkan tidak mungkin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, maka tidak mengapa menempuh jalan perceraian, dengan syarat setelah menempuh tiga langkah dalam menyelesaikan problematika yaitu
1. nasihat
2. pisah ranjang
3. pukulan yang mendidik.

Cinta dalam rumah tangga  berpahala jika dibangun di atas cinta karena Allah dan tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu A’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Natal Dan Toleransi

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Membaur, akrab, tolong menolong dalam bermasyarakat walau beda agama, tapi mampu menjaga identitas keyakinan, itulah toleransi.

Tegas dalam keyakinan, ramah dalam pergaulan, akrab dalam kehidupan……itulah toleransi…

Tegas lalu kaku apalagi kasar dalam bergaul, atau gaul tapi lebur dan luntur dalam keyakinan….. itu bukan toleransi.

Kami hormati anda yang beragama lain berhari raya sewajarnya. Mohon hormati ajaran agama kami yg melarang tasyabbuh dengan ajaran dan keyakinan agama lain…

Umat Nashrani semestinya apresiasi kaum muslimin Indonesia yang biarkan mereka merayakan hari besarnya dengan aman di tengah mayoritas muslim.

Jika mereka bandingkan kehidupan beragama mereka di Indonesia dengan nasib minoritas kaum muslimin di negara-negara mayoritas Kristen, pasti tidak ada apa-apanya.

Apakah di Washington atau London, Idul Fitri seperti Natal di Jakarta?

Belum lagi berbicara umat Islam yang dibantai di berbagai negara oleh penganut agama lain…

Menggunakan kuasa untuk memaksa penganut agam lain berpartisipasi dlm hari rayanya, walau dengan memakai simbol, itulah anti toleransi yang sebenarnya!

Jadi, yang tidak toleran siapa? Yang tidak ikut natal tapi tidak mengganggu mereka yang natal, atau yang merayakan natal dan mengajak atau bahkan memaksa penganut agama lain untuk ikut serta?

Suasana kondusif hari natal nanti jangan dirusak dengan mengajak-ajak kaum muslimin ikut merayakannya. Yang muslim pun jangan lebay ikut merayakannya…Lakum diinukum wa liyadiin…

Sangat dianjurkan MUI atau lembaga-lembaga Islam membuka pusat layanan pengaduan jika ada umat Islam mengalami tekanan untuk berpartisipasi dalam perayaan agama lain…

Selamat menjaga izzah beragama namun tetap tebar akhlak mempesona…..

http://manhajuna.com/natal-dan-toleransi/

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Maaf, Hari Rayamu bukan Perayaan Kami, Tahun Barumu, bukan Tahun Baru Kami

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Kami umat Islam menghargai adanya perbedaan, dan mengakui perbedaan itu adalah sunatullah kehidupan …. Sebab Rabb kami telah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Seandainya Rabbmu berkehendak niscaya manusia Dia jadikan umat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih. (QS. Huud: 118)

Ayat yang lain:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)

Oleh karena itu, kami akan tetap berbuat baik dan adil kepada siapa pun yang berbeda dengan kami, selama mereka tidak berbuat aniaya kepada kami.

Rabb kami mengajarkan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Maka, biarlah kami istiqamah atas agama kami dan budaya kami, jangan kalian kecut dan jangan pula cemberut, sebab itu bagian dari tuntutan iman kami.

Nabi kami – Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam- mewasiatkan kami:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim, 62/38, At Tirmidzi No. 3574, Ahmad No. 15416, 15417, 19431, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 11425, Abu Bakar Al Khalal dalam As Sunnah No. 1677, Ibnu Hibban No. 942, dll)

Dan, kami pun tidak memaksa kalian untuk mengikuti agama dan budaya kami. Sebab memaksa bukan ajaran Rabb kami.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat ….. (QS. Al Baqarah: 256)

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (untuk memaksa). (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

Jadi, .. sangat ingin kami katakan kepada kalian …..

Bahwa hari raya kalian bukan hari raya kami, begitu pula hari raya kami bukan hari raya kalian, sebagaimana tahun baru masehi kalian bukanlah tahun baru bagi kami, karena titik tolak sejarah awal tahun kalian berbeda dengan tahun hijriyah kami, tahun baru kalian diawali oleh kelahiran Nabi kami yang mulia -yang telah kalian Tuhankan-  ‘Isa ‘Alaihissalam, sementara tahun kami diawali hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Walaupun banyak saudara kami muslimin awam yang ikut-ikutan berbahagia dan bersuka cita atas hari raya dan budaya kalian karena ketidaktahuan mereka ….. itu bukan alasan bagi kami untuk turut larut di dalamnya.

Nabi kami – Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- mengajarkan:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya masing-masing, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim, 16/892)

Ya …, jelaskan? Setiap kaum, setiap umat punya hari raya dan hari besarnya sendiri, silahkan berbahagia dan suka cita dihari itu. Kami tidak memaksa dan menuntut kalian mengucapkan selamat atas kami karena kebahagiaan kami sangat berlimpah dan tidak akan berkurang tanpa ucapan selamat dari kalian. Kami pun meyakini, kebahagiaan kalian tidak akan berkurang seandainya kami tidak mengucapkan selamat atas hari raya kalian, sebab sangat tidak dewasa bila perasaan kebahagiaan dan suka cita mesti didahului ucapan selamat dahulu.

Kami, umat Islam, memiliki sangat banyak hari raya dan hari-hari istimewa, dan kami pun puas atas hal itu, itulah kenapa kami tidak membutuhkan hari raya yang tidak berasal dari Rabb dan nabi kami, yang telah menjadi budaya dan sejarah kami.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.” (HR. Abu Daud No. 1134, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1755, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1098, katanya: hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 3/371) juga mengatakan: shahih.)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)

Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kimat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279)

Lihatlah hari raya kami …. Idul Fitri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari-hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah), dan hari Jum’at yang datangnya tiap pekan.

Belum lagi hari istimewa lainnya, walau bukan hari raya tetapi ini merupakan hari istimewa bagi kami karena di dalamnya mengandung keutamaan yang banyak untuk beribadah dan nilai sejarah. Seperti Senin, Kamis, 10 hari pertama Dzulhijjah, 6 hari Syawwal, hari ‘asyura, ayyamul bidh, 17 Ramadhan, 1 Muharam awal penanggalan kami, dan Lailatul Qadar. Semua ini ada dasarnya dalam agama dan sejarah kami ….

Inilah kami, dan inilah agama kami … walau kami bersikap Lakum diinukum wa liyadin dalam urusan agama, tetapi kami ini rahmatan lil ‘alamin bagi kalian dalam urusan muamalah. Kalian tetap saudara dan sahabat, jangan khawatir …. Sebab Rabb kami mengajarkan:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 106)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 124)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 142)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 161)

Lihatlah, Allah Ta’ala tetap menyebut para nabi pembawa risalahNya; Nuh, Hud, Shalih, dan Luth, sebagai saudara bagi kaumnya, walau kaumnya mengingkari agama yang dibawa mereka, mengingkari kenabian, dan mengingkari ketuhanan Allah Ta’ala. Itulah sikap kami juga, walau kalian ingkar kepada agama yang kami yakini, kalian tetap saudara kami.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Untuk mengetahui batasan-batasan pergaulan Muslim dan non Muslim, maka panduan kita adalah Al Quran dan As Sunnah, sebagai rujukan tertinggi umat Islam dan pedoman hidup bagi kaum Muslimin. Bukan pemikiran untung rugi masing-masing manusia yang subjektif.

Perayaan Keagamaan Adalah Wilayah Aqidah Bukan Muamalah

Persepsi ini harus dibangun dalam pemikiran kaum Muslimin,  bahwa perayaan keagamaan adalah masalah aqidah, bukan masalah muamalah (hubungan interaksi sosial), bukan pula budaya. Dalam masalah aqidah kita memiliki batasan-batasan yang jelas, yakni:

 لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al Kafirun (109): 6)

Tidak sedikit kaum Muslimin yang keliru dalam menempatkan teks-teks agama. Mereka berdalih dengan ungkapan:Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ungkapan ini benar jika ditempatkan dalam hubungan sosial, seperti pinjam meminjam, hutang piutang, kerja sama dalam kebaikan sosial, dan yang semisalnya. Dalam hal ini Islam sangat membuka diri dan luwes. Bahkan dalam hukum Islam, kaum kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Islam dan masyarakatnya. Mereka sama sekali tidak boleh diganggu, kecuali jika mereka mengumumkan perang terhadap umat Islam.

Nah, mari kita lihat bagaimana Al Quran dan As Sunnah menyikapi perayaan hari besar keagamaan non Muslim.

Kesetiaan (Wala’) Kaum Muslimin Hanya Kepada Allah, RasulNya, dan Kaum Muslimin

Kita lihat ada sebagian kaum Muslimin yang begitu enggan dengan undangan sesama Muslim, ajakan saudaranya, dan acara sesama umat Islam, seperti majelis ta’lim dalam rangka menggali ilmu-ilmu agama. Tetapi anehnya, mereka bersemangat dengan ajakan dan undangan orang kafir kepada mereka. Sungguh aneh! Mereka pun merasa bangga dengan kebersamaannya dengan orang-orang kafir tersebut. Persis seperti yang Allah Ta’ala sindir dalam Al Quran.

Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi  wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa (4):139)

Ayat lainya:

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka orang-orang yang ruku’ (tunduk). (QS. Al Maidah (5): 55)

Ayat lainnya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah (5) : 51)

Apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.[1] Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).[2]

Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

Ikut merayakan dan menghadiri Hari Raya mereka merupakan salah satu bentuk keakraban dengan mereka dalam hal keagamaan. Ini semua tercela. Kita terbuai dengan perangkap syetan yang ada dibalik istilah toleransi yang tidak pada tempatnya. Ditambah lagi, khususnya Natal, mereka menyebut apa yang mereka lakukan adalah budaya, atau dialog antar budaya, bukan ritual keagamaan. Ini merupakan talbis (perangkap) dan syubhat pemikiran yang menggelayuti pemikiran mereka.

Dialog antar budaya bukan dengan mengikuti acara hari besar non Muslim, yang merupakan simbol utama sebuah agama. Bukan duduk bersimpuh mendengarkan ayat-ayat mereka. Bukan ikut berdiri ketika mereka berdiri dan duduk ketika mereka duduk, dan bernyanyi ketika mereka nyanyi, lalu memakan makanan ritual keagamaan mereka, bertepuk tangan menyanjung mereka, dan ikut berbahagia atas perayaan mereka. Itu bukan dialog yang diinginkan Al Quran, walau bisa jadi itulah dialog yang diinginkan ala mereka. Itu bukan  memperkaya aqidah, tetapi ittiba’ bil kuffar (mengekor kepada kaum kuffar).

Dialog itu adalah berdiskusi, tanya jawab, munazharah, debat yang baik, agar mereka mau menerima Islam; baik menerima menjadi agama mereka, atau menerima Islam sebagai  agama yang eksis dan mereka mau berdampingan dengan tidak saling menganggu.

Memperkaya aqidah adalah dengan banyak-banyak mengkaji Al Quran melalui para ahlinya, mempelajari As Sunnah, mempelajari sejarah para nabi dan orang-orang shalih, hidup bersama orang shalih dan kaum beriman, dan berbanggalah dengan itu.

Memperkaya aqidah bukan dengan berbasa basi dengan kekafiran dan penyimpangan mereka, bukan dengan mengikuti perayaan mereka, dan justru berbangga dengan itu, ini adalah sinkretisme yang dibaluti toleransi agama yang bukan pada tempatnya.

Lalu, yang terpenting adalah bahwa larangan mengikuti Hari Raya mereka adalah bagian dari ta’abbudi (peribadatan) yang manshush ‘alaih (disebutkan dalam nash), yang sikap kita adalah dengar dan taat.  Turun atau tidak keimanan Anda,  tetap stabil atau labil keadaan iman Anda, maka larangan tersebut tetaplah berlaku. Larangan tersebut tetap ada walau pelakunya adalah seorang yang merasa sangat shalih dan mukmin, dan mampu menjaga keimanannya.

Peringatan Allah Ta’ala Bagi Kaum Muslimin

Jauh-jauh hari, 15 abad yang lalu, Al Quran telah memberikan panduan bagi umatnya untuk melindungi aqidahnya, yakni untuk tidak mengikuti mereka, tidak memenuhi ajakan mereka dalam hal aqidah dan keagamaan.  Namun, entah ke mana dan di mana ayat-ayat ini  dalam sanubari umat Islam?

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”(QS. Al Baqarah (2): 109)

Dalam ayat lain:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. An Nisa (4): 100)

Ayat ini dengan jelas memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti perilaku orang kafir, sebab niscaya mereka akan mengembalikan orang beriman menjadi kafir setelah beriman.

Imam Ibnu Katsir mengatakan:

يحذر تعالى   عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم في الباطن والظاهر

“Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya yang beriman tentang jalan dan perilaku orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), dan memberitahu mereka tentang permusuhan mereka terhadap kaum beriman, baik yang di hati atau yang ditampakkan.”[3]

Al Quran Melarang Umat Islam Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

Dalam Al Quran, mengikuti Hari Raya mereka diistilahkan dengan memberikan kesaksian palsu (Az Zuur). Allah Ta’ala  telah menegaskan demikian:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan (25): 72)

Tentang makna ayat ini,  Abu Bakar Al Khalal meriwayatkan dalam Al Jami’, dari sanadnya sendiri dari Muhammad bin Sirin, tentang makna: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu ..,  katanya: itu adalah menghadiri Sya’anin.

Sya’anin adalah Hari Raya Nasrani, mereka merayakannya dalam rangka mengenang kembali masuknya Isa Al Masih ke Baitul Maqdis.

Begitu pula yang disebutkan dari Mujahid, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.”[4]

Begitu juga yang dikataka oleh Rabi’ bin Anas, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.

Semakna dengan ini, apa yang diriwayatkan dari Ikrimah, katanya: “(Tidak melakukan) permainan yang dahulu mereka lakukan ketika jahiliyah.”

Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan: “Ayat ini berbicara tentang larangan menghadiri Hari Raya orang-orang musyrik.”

Adh Dhahak juga mengatakan: “(tidak) mengikuti Hari Raya orang musyrik.” Sementara Amru bin Murrah mengatakan: “Mereka tidak ikut bersama kaum musyrikin dan tidak membaur bersama mereka.”  Lihat semua tafsir ini dalam kitab Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim. [5]

As Sunnah Telah Melarang Umat Islam Menyerupai dan Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

Ada dua pembahasan dalam bagian ini. Pertama, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupai orang kafir. Kedua, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam   mengikuti hara raya orang kafir. Larangan berpartisipasi dalam perayaan Hari Raya orang kafir sangat kuat. Jangankan ikut andil, sekadar menyerupai mereka saja tidak dibenarkan. Ini membuktikan betapa kuat agama ini dalam melindungi umatnya, dari aqidah, kebiasaan, dan perilaku orang-orang kafir.

1. Pertama, Larangan Menyerupai Orang Kafir

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”[6]

Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secaramursal.[7]  Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahihmenurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.[8] Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.[9]  Demikian status hadits ini.

Oleh karena itu tidak dibenarkan menyerupai mereka dalam urusan agama, terlebih mengikuti  perayaan hari besar, yang merupakan hari utama mereka.

Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir: “Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengatakan, dan ini merupakan  perkataan Imam Ahmad bin Hambal juga,  bahwa hadits ini merupakan dalil, paling sedikit kondisi penyerupaan dengan mereka merupakan perbuatan haram, dan secara zhahirnya bisa membawa pada kekufuran, sebagaimana ayat: “Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka dia telah menjadi bagian dari mereka.” [11]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

”Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami.”. [12]

Sebagaimana kata Imam At tirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya.[13] Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.[14]

Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri tentang hadits ini:

لَا تَشَبَّهُوا بِهِمْ جَمِيعًا فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِمْ

“Janganlah kalian semua menyerupai mereka dalam segala perilaku mereka.”[15]

Tentu maksudnya adalah segala perilaku yang terkait dengan agama dan simbol agama mereka, baik acara keagamaan, pakaian keagamaan, dan lainnya. Namun, untuk perilaku di luar itu, yang terkait dengan kemaslahatan dunia dan kemakmuran manusia, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, strategi perang, dan semisalnya, maka Islam membolehkan mengambil manfaat dari mereka.

Ketika perang Ahzab yang biasa juga disebut perang Khandaq (parit), strategi yang diterapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya adalah strategi menggali Khandaq (parit) yang merupakan cara orang Persia (Majusi), atas usul sahabat Nabi, Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu ‘. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah menggunakan baju Romawi yang sempit padahal saat itu Romawi adalah Nasrani, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi.[16]

2. Kedua, larangan Mengikuti Perayaan Hari Besar Orang Kafir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,sudah melarang umatnya untuk mengikuti Hari Raya mereka. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki Hari Raya, dan hari ini adalah Hari Raya kita.”[17]

Maka, Hari Raya umat Islam adalah Hari Raya yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, saat itulah kaum Muslimin merayakan kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, berhibur dari, makan-makanan yang enak dan lainnya. Bukan pada Hari Raya agama orang lain, baik Yahudi, Nasrani, Konghucu, Budha, Hindu, dan agama lainnya.

Secara khusus, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang umat Islam mengikuti Hari Raya mereka.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya,  yakni hari Fithri dan hari Adha.”[18]

Al Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari mengatakan hadits ini sanadnya shahih.[19] Syaikh Al Albani juga menshahihkannya dalam  Ash Shahihah.[20]

Pada masa jahiliyah, kaum musyrikin memiliki dua hari, yakni Nairuz dan Mihrajan. Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim:

“Dilarang (bagi umat Islam) mengadakan permainan dan berbahagia pada dua hari itu yakni Nairuz dan Mihrajan. Hadits ini juga terdapat larangan yang halus dan perintah untuk beribadah, karena kebahagiaan hakiki terdapat dalam ibadah.” (

Lalu, disebutkan perkataan Al Muzhhir:

“Ini merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” [21]

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: “Dari hadits ini disimpulkan bahwa adalah hal yang dibenci berbahagia menyambut Hari Raya orang musyrik dan menyerupai mereka, dan telah sampai perkataan Syaikh Abu Hafsh Al Kabir An Nasafi dari kalangan Hanafiyah: ‘Barangsiapa yang memberikan hadiah kepada orang musyrik demi menghormati Hari Raya mereka, adalah perbuatan kufur kepada Allah Ta’ala.”.[22]

Bahkan, lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melarang seorang Muslim membantu menjual keperluan orang Islam yang ingin ikut-ikutan Hari Raya mereka pada  Hari Raya orang kafir, baik berupa makanan,  pakaian, dan lainnya, sebab itu merupakan pertolongan atas kemungkaran.[24][23]

Peringatan

Hari Raya merupakan simbol utama dari sebuah agama. Bukan hanya simbol tapi juga waktu kebanggaan bagi masing-masing agama. Maka, perilaku mengikuti, merayakan, dan memperingati Hari Raya orang kafir merupakan perilaku melarutkan diri dalam sebuah simbol utama dan hari kebanggaan mereka. Maka, tidak syak(ragu) lagi keharamannya, bahkan sebagian ulama mengatakan kufur seperti yang kami sebutkan di atas. Apalagi jika seorang Muslim ikut-ikutan acara ritual yang ada di pelaksanaan Hari Raya tersebut seperti ikut kebaktian, ikut melagukan lagu puji-pujian mereka, ikut ke klenteng atau tepekong untuk sembahyang, dan semisalnya. Hal ini jika dilakukan karena kesadaran, tidak dipaksa, dan sudah disampaikan dalil kepada mereka, tetapi mereka masih membandel ikut-ikutan juga, maka  ini kufur menurut ijma’’ ulama. Tetapi, jika dilakukan karena kebodohannya, atau terpaksa dan dipaksa, dan belum disampaikan dalil kepada mereka, maka belum dikategorikan kafir.

Ada pun orang Islam yang menjadi penggembira, yang ikut-ikutan berbahagia menyambutnya walau tidak ikut langsung dengan perayaannya, maka ini pun terlarang bahkan haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama di atas.

Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat Hari Raya agama lain –yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah  hal  yang diharamkan berdasarkan  kesepakatan  kaum Muslimin .  Misalnya memberi ucapan selamat pada Hari Raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya.  Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun  itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat Hari Raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai   Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Imam Ibnul Qayyim,Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Demikianlah penjelasan Al Quran, As Sunnah, dan keterangan para Imam kaum Muslimin. Semoga bermanfaat bagi yang menginginkan kebaikan bagi agama dan dunianya.[25]

Wallahu A’lam

______________________________

[1] Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, Juz. 9, Hal. 319. Muasasah Ar Risalah

[2] Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582

[3] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 1, Hal. 382. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’

[4] Agama Konghucu dengan hari besar mereka, Cap Gho Meh, termasuk kaum musyrikin yang hari raya besar mereka harus dijauhi.

[5] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 381.

[6] HR. Abu Daud No. 4031

[7] Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215

[8] Imam Ismail bin Muhamamd Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, Juz. 2, Hal. 240. Darul Kutub Al ‘Ilmiah

[9] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 11, Hal. 52. Cet. 2, 1415H.  Darul Kutub Al ‘Ilmiah

[10] Ibid

[11] Ibid. Lihat juga Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 214

[12] HR. At Tirmidzi No. 2695

[13] Lihat dalam Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 193, No. 2194. Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 23, No. 2723.  Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 6, Hal. 195. Shahihul Jami’ No. 5434

[14] Raudhatul Muhadditsin, 10, Hal. 332, No. 4757

[15] Syaikh Abul ‘Ala  Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 6, Hal. 496

[16] HR. At Tirmidzi No. 1768,   Katanya:hasan shahih

[17] HR. Bukhari No. 952

[18] HR.  An Nasa’i No. 1556, lihat jugaAs Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  No. 1755

[19] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371.  Dalam kitabnya yang lain, yakni Bulughul Maram juga disebutkan demikian.

[20] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani,  As Silsilah Ash Shahihah No. 2021

[21] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Juz. 3, Hal. 88

[22] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371

[23] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 462

[25] Namun belakangan ada pendapat yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain dengan tujuan sekedar mujamalah (basa-basi) saja, yakni pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan Syaikh Mushthafa Az Zarqa. Kemudian pendapat mereka disalahgunakan kalangan JIL untuk memprogandakan agenda SEPILIS mereka. Padahal  garis pemikiran  kedua syaikh ini amat  bertolak belakang dengan pemikiran JIL. Dikira dengan mencatut dan mengutip pendapat Syaikh Al Qaradhawi umat mau saja dengan mudah mengikuti mereka. Tidak. Sebab kecintaan kita kepada ulama adalah kecintaan yang didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala, dan bingkai syariat. Oleh karenanya mencintai mereka bukan berarti selalu mengikuti apa kata mereka, benar atau salahnya. Sebab Al Haq ahaqqu ayyuttaba’  – kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Jual Beli Gharar (Bag – 2)

Pemateri:  Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di sini:

http://www.iman-islam.com/2015/12/bab-larangan-jual-beli-gharar.html?m=1

Taujih Nabawi

Hadits #1
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شِرَاءِ مَا فِيْ بُطُوْنِ اْلأَنْعَامِ حَتَّى تَضَعَ، وَعَنْ بَيْعِ مَا فِيْ ضُرُوْعِهَا إِلاَّ بِكَيْلٍ، وَعَنْ شِرَاءِ الْعَبْدِ وَهُوَ آبِقٌ، وَعَنْ شِرَاءِ الْمَغَانِمَ حَتَّى تُقْسَمَ، وَعَنْ شِرَاءِ الصَّدَقَاتِ حَتَّى تُقْبَضُ، وَعَنْ ضَرْبَةِ الْغَائِصِ (رواه أحمد وابن ماجه والترمذي)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli hewan yang dalam kandungan induknya hingga dilahirkan, jual beli apa yang ada dalam kelenjar susu hewan kecuali dengan takaran, jual beli budak yang lari, jual beli harta ghanimah hingga ia dibagikan, jual beli harta sedekah hingga digenggam, dan jual beli hasil temuan penyelam.”

(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Hadits # 2
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاعَ ثَمَرٌ حَتَّى يُطْعَمَ أَوْ صَوْفٌ عَلَى ظَهْرٍ أَوْ لَبَنٍ فِيْ ضَرْعٍ، أَوْ سَمْنٌ فِيْ لَبَنٍ (رواه الدارقطنى)

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW melarang menjual buah, hingga (bisa) dimakan, atau bulu domba yang masih berada di punggung hewan, atau susu dalam tetenya, atau lemak dalam susu. (HR. Ad-Daruquthni)

Takhrij Hadits

Hadits #1,
Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra diriwayatkan oleh :
Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi an Syira’ ma fi buthunil An’am wa dhuru’iha  wa dharbatil gha’ish, hadits no 2187.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Abi Sa’id Al-Khudri ra, hadits no 10950.

Hadits tersebut juga dikuatkan dengan hadits yang memiliki jalur sanad lain, yaitu dari Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.

Hadits #2
Dari Ibnu Abbas ra diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, hadits no 2874.

1. Jual beli hewan dalam kandungan.

Jual beli pertama dalam hadits-hadits ini yang dilarang adalah jual beli hewan dalam kandungan.

Imam Syaukani mengemukakan, hadits ini merupakan dasar tidak sahnya jual beli hewan dalam kandungan. Dan hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama.

Adapun illat (sebab) tidak diperbolehkannya jual beli hewan dalam kandungan adalah karena adanya gharar (ketidakjelasan) dan tidak bisa diserah terimakan.

Dalam hadits di atas, Nabi SAW memberikan solusi yaitu “kecuali setelah dilahirkan”.

Artinya, ketika hewan tersebut telah lahir dan telah jelas bentuknya, jenis kelaminnya, sehat atau sakitnya, maka ia boleh diperjual belikan.

2. Jual beli susu dalam kelenjar susu hewan.

Hadits di atas juga menggambarkan tentang larangan jual beli susu yang masih terdapat dalam kelenjar susu hewan.

Imam Syaukani bahkan mengatakan bahwa hal ini sudah menjadi kesepakatan seluruh ulama, bahwa tidak sah jual beli susu dalam kelenjar susu hewan.

Illat dari larangan jual beli susu dalam kelenjar susu hewan adalah karena faktor gharar (ketidakjelasan) dan jahalah (ketidaktahuan atas objek akad).

Kecuali apabila susu tersebut telah dikeluarkan dari kelenjar susunya dan ditakar dengan takaran yang jelas, seperti literan, dsb maka hal tersebut diperbolehkan, sebagaimana sabda Nabi SAW.

3. Jual beli hewan yang lari (kabur).

Hal ketiga yang dilarang diperjual belikan berdasarkan hadits di atas adalah jual beli budak yang lari, atau kabur atau hilang.

Karena pada dasarnya objek akadnya tidak ada ; hilang. Oleh karenanya tidak boleh diperjual belikan.

Pada awal mula datangnya Islam, masih ada perbudakan dan budak diperjual belikan.

Namun Islam menghapus kan perbudakan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hilang sama sekali. Adapun kini, maka perbudakan telah tidak ada.

Objek apapun yang hilang atau tidak ada, maka tidak boleh diperjual belikan, seperti kendaraan yang hilang, binantang piaraan yang hilang, dsb.

Hal tersebut karena objeknya tidak ada dan tidak bisa diserahterimakan.

4. Jual Beli ghanimah (harta rampasan perang).

Harta rampasan perang (ghanimah), diantara yang berhak mendapatkannya adalah para mujahid yang ikut berjihad dalam peperangan tersebut.

Namun umumnya harta tersebut dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru dibagikan.

Harta ghanimah yang belum dibagikan, artinya belum menjadi hak milik mujahid tersebut. Oleh karenanya belum bisa diperjualbelikan.

Sebagai contoh bahwa diantara barang ghanimah yang akan dibagikan adalah kuda. Selama senapan tersebut belum dibagikan, maka tidak boleh diperjual  belikan.

Ketika telah dibagikan dan digenggam dalam genggamannya, maka barulah pada saat tersebut ia boleh memperjualbelikannya.

5. Jual beli harta sedekah.

Jual beli harta sedekah, sebelum sedekah tersebut diterima atau digenggam adalah tidak sah.

Maksud dari hadits ini adalah apabila seseorang dijanjikan akan mendapatkan sedekah, dan sedekahnya berupa barang (seperti beras, pakaian, dsb) atau berupa hewan (misalnya kambing, domba, ayam, dsb), maka ia tidak boleh memperjualbelikannya kecuali apabila ia telah benar-benar “menggenggam” harta sedekah tersebut.

Karena sebelum sedekah tersebut diterima, kepemilikan terhadap barang sedekah tersebut, belum menjadi miliknya.

Dan karena belum menjadi miliknya, maka tidak boleh diperjualbelikan.

6. Jual beli hasil temuan penyelam.

Yang dimaksud dengan jual beli hasil temuan penyelam adalah, (sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam As-Syaukani), seorang penyelam mengatakan kepada orang lain, ‘apa yang akan aku dapatkan dari penyelaman di sini aku jual kepadamu dengan harga sekian.’

Sementara apa yang akan didapatkan oleh penyelam tersebut belum diketahui.

Jual beli seperti ini adalah tidak boleh, karena mengandung unsur gharar dan ketidaktahuan (jahalah).

Pembeli tidak tahu apa yang akan didapatkan oleh penyelam, dan bahkan penyelam pun tidak mengetahui apa yang akan di dapatkannya.

Hal ini dapat menimbulkan potensi kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak yang berakad.

7.bJual beli buah-buahan, hingga ia layak untuk dimakan.

Hadits di atas digambarkan tentang larangan menjual buah-buahan yang masih sangat kecil, atau yang dikenal dengan istilah ijon.

Jual beli ini dilarang, karena beberapa alasan :

Ada unsur (gharar) ketidakpastian berkenaan dengan buah tersebut, apakah ia akan matang atau akan membusuk dan mati?

Di samping itu juga terdapat unsur (jahalah) ketidakjelasan berkenaan dengan ukuran dan timbangannya, menjadi berapa kilo, berapa kwintal, dsb. Kemudian juga adanya ketidakpastian dalam serah terimanya. Karena serah terimnya adalah ketika buah sudah besar dan matang.

Sementara ada kemungkinan buah tersebut matang atau membusuk.

8. Jual beli bulu domba yang masih terdapat di punggungnya.

Jual beli ini termasuk yang dilarang, selama bulu tersebut masih melekat di punggung domba.

Hal ini adalah karena adanya unsur jahalah (ketidaktahuan) seberapa banyak bulu yang ada dan juga karena berpotensi menimbulkan konflik, yaitu batasan memotong bulu dombanya.

Adapun apabila telah dipotong dari dombanya, dan ditakar sesuai dengan takaran yang umum digunakan, maka boleh diperjualbelikan.

9. Jual beli minyak yang masih terdapat dalam susu.

Ada indikasi, orang Arab mengambil lemak atau minyak dari susu untuk dimanfaatkan bagi keperluan sehari-hari.

Namun apabila lemak atau minyak yang berasal dari susu tersebut belum dipisahkan dari susunya, maka tidak boleh diperjualbelikan.

Hal tersebut karena adanya unsur jahalah atau ketidaktahuan berapa jumlah minyak yang bisa didapatkan dan seperti apa kualitas minyaknya.
Serta adanya unsur gharar, karena bisa jadi dalam susu tersebut tidak terdapat minyak sama sekali.

Oleh karena itulah, transaksi sepeti ini dilarang dan tidak boleh dilakukan.

Kesimpulan:

Bahwa Nabi SAW melarang kita untuk melakukan transaksi jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidakjelasan), adalah karena beberapa alasan :

Jual beli gharar bisa merugikan salah satu pihak

Jual beli gharar berpotensi menimbulkan konflik dan pertikaian diantara pihak yang berakad.

Jual beli gharar dapat merusak iklim dan sistim perekonomian secara umum

Jual beli gharar dilarang adalah dalam rangkan menjaga kemaslahatan umum dan menghormati kepemlikian dalam Islam.

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim, kita wajib untuk mentaati perintah dan larangan Nabi SAW.

Dan insya Allah menghindari transaksi-transaksi di atas akan mendapatkan pahala mengikuti sunnah Nabi SAW.

Akan tetapi, apabila illat (penyebab) dari gharar atau ketidakjelasan tersebut dapat dihilangkan, maka jual belinya diperbolehkan.

Diantaranya sebagaimana digambarkan dalam hadits, jual beli hewan dalam kandungan adalah tidak boleh.
Namun ia boleh apabila telah dilahirkan.

Demikian juga susu yang masih terdapat dalam kelenjar susu hewan, tidak diperbolehkan diperjualbelikan, kecuali apabila telah ditakar dengan takaran umum (seperti literan, dsb).

Jika kita mengamalkan sunnah dari sisi muamalah ini, maka insya Allah akan diberikan keberkahan oleh Allah SWT dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi SAW dari sisi muamalah.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ibu Mulia Itu, Ibunda Kita Semua

 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَ بَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثيراً وَ نِساءً وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً (1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan- mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki- laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan) mempergunakan (nama- Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan) peliharalah (hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.( An-Nisaa: 1 )

Saat nabi Adam As lelap dalam tidurnya, Allah SWT ciptakan seorang perempuan. Saat ia terbangun, ia mendapati seorang perempuan anggun duduk disamping kepalanya. Para malaikat bertanya kepadanya siapakah gerangan perempuan itu? Nabi Adam AS menyebutkan namanya Hawa. Para malaikat bertanya lagi, mengapa Allah SWT menciptakannya? Dan inilah jawaban nabi Adam AS yang sangat menakjubkan “Agar dia menjadikanku nyaman/tenang dan aku menjadikannya nyaman/tenang.” Jawaban nabi Adam As ini Allah abadikan dalam surat Ar-Ruum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Perjalanan menarik selanjutnya adalah tentang tujuan diciptakannya Adam dan Hawa. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana rajinnya setan mengganggu keduanya agar mau melanggar aturan Allah SWT yaitu memakan buah yang dilarang Allah SWT. Bujuk rayu indah terus dilancarkan setan hingga ia mengatakan “sesungguhnya aku hanya memberikan nasehat untuk kalian (agar memakan buah yang dilarang).” Tidak ada kesalahan Hawa dalam peristiwa ini karena secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang mengajak keduanya memakan buah yang dilarang adalah setan. Bukan Hawa yang mengajak Adam As.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya…” (Al-A’raf:20)

Peristiwa selanjutnya adalah peristiwa penuh hikmah yang menjadi teladan bagi kita semua.
Apakah Adam As menyalahkan Hawa saat Allah menghukum mereka?
Apakah Hawa yang menyalahkan Adam saat Allah menghukum mereka?
Jawabannya “tidak.” Sama sekali tidak.
Bahkan keduanya saling menguatkan setelah sama-sama bertaubat kepada Allah SWT. ”

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf:23).

 Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada saling mengandalkan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Keduanya mengakui kesalahannya dan keduanya memohon ampunan kepada Allah SWT. Hawa tidak mengatakan bahwa ia hanyalah makmum dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada imam akan tetapi ia turut bertaubat kepada Allah SWT tanpa menyalahkan siapapun. Maka Allah SWT sempurnakan ni”matNya dengan memberikan ampunan dan petunjuk kepada keduanya.

“Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Tahaa : 122).

***

Ibu…
adalah kata yang takkan pernah habis dieja dalam kehidupan seseorang.
Ibu…
adalah kata yang selalu lekat dengan siapapun bahkan saat ia telah tiada.
Ibu….
adalah sosok yang selalu ada karena semua orang memiliki fitrah untuk mengakui dan menyayanginya.
Tanyalah anak kecil yang belum banyak melakukan dosa. Katakan padanya bahwa ia tidak memiliki ibu, ia pasti akan menangis. Karena demikianlah fitrah berada dalam jiwa setiap manusia.

Berbicara tentang ibu, tak ada teladan terbaik untuk mengenal dan mempelajari sosoknya selain kita mengamati perjalanan hidup ibunda manusia karena ia adalah ibu dari semua ibu.
Ibu hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan. Demikian nabi Adam As menjawab pertanyaan malaikat ketika mereka bertanya untuk apa Hawa diciptakan. Secara natural, sikap lembut kaum perempuan muncul untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

 Bagaimana seorang perempuan mampu menempatkan sikap lembut penuh kasihnya untuk kenyamanan dan ketenangan, sangat ditentukan oleh interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pernahkah kita melihat seorang perempuan yang bersikap dingin, kaku, tidak ramah, kurang romantis, dan  tidak pandai bersolek? Jika itu adalah anda, saudara anda atau istri anda, ketahuilah bahwa Allah SWT memberikan fitrah sama kepada setiap perempuan untuk mengoptimalkan fitrah perempuannya. Ia hanya perlu diberi wawasan, diberi bekal, diberi modal dan dibiasakan untuk menjadi perempuan sesuai fitrahnya. Karena ibunda Hawa memberi teladan bahwa ia hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

Ibu hadir untuk menjadi mitra ayah.

Sinergi dan kekompakan Adam As dan Hawa menjadikan setan begitu iri bahkan hasad. Tak rela melihat keduanya hidup bahagia di surga, setan berusaha sekuat tenaga menggelincirkan keduanya agar kebahagiaan keduanya porak poranda. Dan hasad setan berlaku sepanjang masa, ia perlakukan sama kepada anak cucu Adam As dan Hawa. Jika hari ini banyak sekali kita dapatkan persoalan yang terjadi dalam rumah tangga kita dengan alasan apapun, maka sadarilah bahwa masalah itu akan hilang dalam waktu sesaat ketika ayah dan ibu mampu bersinergi dan kompak menghadapi masalah. Mungkin tidak diperlukan perubahan fisik tapi kadang yang diperlukan hanya cara berfikir. Menyadari bahwa sesungguhnya masalah itu bukan masalah, tetapi karena kita menganggapnya masalah maka jadilah ia masalah. Nabi Adam As dan ibunda Hawa memberi teladan akan sinergi dan kekompakan ayah ibu.

Ibu hadir untuk menguatkan ayah saat masalah melanda keluarga.

Ini bukan tentang siapa yang salah. Ketika Allah SWT memberikan hukuman/kesulitan kepada Adam As dan Hawa, tak pernah terlintas dalam fikiran ini kesalahan siapa? Akan tetapi keduanya menyadari bahwa ini masalah bersama. Maka mari sama-sama kita cari jalan keluar bersama.

“Dan mulailah keduanya menutupi aurat mereka dengan daun-daun di surga…”(Al-A’raf:22).

Ibu dan ayah perlu sama-sama kuat dan giat menghadapi masalah di keluarga. Tanpa harus berfikir siapa yang menyebabkan masalah ini muncul. Masalah seringkali menjadi semakin runcing ketika kesalahan ditumpukan kepada ayah sehingga ibu merasa di atas angin atau ditumpukan kepada ibu sehingga ia merasa sangat terpuruk. Namun ibunda Hawa memberikan teladan bahwa segera keluar dari masalah dan carilah solusi bersama.

Ibu berada di garda depan dalam memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT.

Taubat dan do’a dilantunkan bukan hanya oleh nabi Adam As akan tetapi dilantunkan bersama ibunda Hawa. Keduanya memohon ampun kepada Allah SWT. Diluar kekompakan ayah ibu dalam berdo’a kepada Allah, do’a ibu memiliki keistimewaan tersendiri. Do’anya didengar dan dijamin Allah SWT untuk dikabulkan sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat tentang kisah do’a seorang ibu di zaman nabi Musa As.

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, “Ya Allah, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”  Allah menjawab “Seorang tukang daging.” Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?” Kemudian dia bertanya kepada Allah “Dimana aku bisa menemukan orang ini?” Allah memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang. Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.” Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring. Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu). Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi. Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu. Jadi dia bertanya padanya “Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?” Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.” Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?” Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya Allah, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’”

Subhanallah, inilah kekuatan do’a seorang ibu.

Ibu hadir untuk merawat, membesarkan dan membimbing anak-anaknya.

Dalam kisah lain kita mengetahui bahwa ibunda Hawa melahirkan anak yang banyak dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Riwayat menyebutkan bahwa di antara putra-putri nabi Adam As ada yang rupawan, cantik, tidak terlalu rupawan, tidak terlalu cantik, ada yang cerdas, pintar, juga tidak terlalu cerdas dan pintar. Semua membawa kepribadian masing-masing. Diantara mereka ada yang sholih solihah namun ada juga yang berbuat fujur (menyimpang).

Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya berbuat salah atau jahat.

Seluruh ibu pasti menginginkan anak-anak yang baik, solih, solihah, cerdas, pintar dan maju. Dan setiap ibu akan berjuang demi keberhasilan anak-anaknya. Jika ada di antara anak yang tumbuh tidak sesuai dengan keinginan orang tua,  (jika ibu sudah maksimal membimbing dan merawat anaknya) maka tidak perlu kita menyalahkan ibu. Karena demikianlah Allah SWT memberikan taqdir  yang berbeda kepada setiap manusia. Yang terpenting adalah setiap ibu berusaha maksimal merawat, mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Dan ibunda Hawa menjadi teladan bagaimana ia berusaha maksimal merawat dan mendidik anak-anaknya, walau ada diantara mereka yang tidak sesuai dengan harapan yaitu tidak taat dengan aturan Allah SWT.

***

Ibunda Hawa adalah ibu dari para ibu, yang perjalanan hidupnya Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an agar menjadi teladan untuk para ibu. Menjadi teladan bagi para ayah bagaimana berinteraksi dengan pasangan agar ia menjadi ibu yang hebat.

Ibunda Hawa adalah ibu yang mulia memberi ketenangan kepada suaminya. Namun kemuliaan itu ia dapatkan karena ia pun mendapatkan ketenangan dari suaminya.

Ibunda Hawa adalah ibu yang menyadari bahwa do’anya didengar Allah SWT. Oleh karenanya ia turut berdo’a bersama suaminya memohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah ibu yang melahirkan banyak anak, merawat, mendidik dan membesarkan mereka hingga kemudian Allah SWT menetapkan takdir untuk masing-masing anaknya. Tidak ada kutukan atau sumpah serapah bagi anak yang tumbuh tidak sesuai harapan, karena bukan itu tugas seorang ibu. Kembalikan semua kepada Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah symbol kesetaraan dan persaudaraan. Bahwa umat manusia berasal dari ibu yang satu. Tak layak seseorang atau sekelompok orang merasa lebih utama
dari yang lainnya. Tak patut manusia saling bermusuhan karena sesungguhnya mereka bersaudara.

Ibunda Hawa adalah ibu peradaban. Ibu yang tidak hanya hadir untuk anak cucunya akan tetapi hadir untuk generasi yang sangat panjang. Ibu peradaban adalah ibu yang tidak hanya siap dengan kuantitas tapi juga siap dengan kualitas.

***

Saat banyak orang merayakan hari ibu, marilah kita memaknai kembali arti kata “IBU” dengan meneladani ibunda manusia “Hawa”. Seyogyanya momen hari ibu kita jadikan momen untuk semua elemen keluarga mencoba mengejawantahkan makna kata “IBU”.

Para ibu berusaha menjadi ibu mulia seperti yang dicontohkan ibunda Hawa.
Para ayah membantu para ibu untuk menjadi ibu hebat, berkepribadian seperti ibunda Hawa.
Anak cucu meningkatkan khidmah dan perbuatan baik tak kenal lelah untuk mendapatkan ridho ibu. Menjadikan ridhonya sebagai pintu-pintu keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Selain hari ini, hari ibu berada di sepanjang hidup kita. Kalaupun sebagian orang secara khusus menjadikan hari ini sebagai hari ibu, maka itulah hari dimana kita terus bersyukur, bermuhasabah, dan merencanakan kebaikan-kebaikan yang akan kita lakukan kepada ibu kita.

Sudahkah hari ini kita menyapa dan mendo’akan ibu kita???

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…