Mewaspadai Hasutan Kaum Munafiqin

📆 Sabtu, 26 Muharram  1440 H / 06 Oktober 2018
📚 SIROH  DAN TARIKH ISLAM

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP
Lembah al-Hasa (وادي الحسا) terletak diantara Mu’tah menuju Tafilah. Lembah ini membentang dari Timur ke Barat lebih dari 80 kilometer. Sebuah lembah yang cukup hijau tak jauh di sebelah selatan palagan Pertempuran Mu’tah.
Lembah itu juga menjadi saksi perjalanan para mujahid Ekspedisi Mu’tah yang kembali menuju Madinah. Khalid ibn al-Walid Radhiyallahu’anhu yang dipilih oleh para sahabat Nabi untuk memimpin mereka telah berhasil menahan serangan 100.000 pasukan Byzantium di Mu’tah. Bahkan, pasukan Kaum Muslimin yang hanya berjumlah 3.000 itu berhasil menewaskan 20.000 lawannya menurut Ibnu Katsir.
Dengan izin Allah Ta’ala, kemenangan strategis ini diperoleh melalui taktik Khalid ibn al-Walid (ra) dengan pertukaran pasukan dari sayap kanan ke kiri dan sebaliknya. Bahkan, balatentara Byzantium yang tinggal 80.000 kekuatannya itu tidak berani menyerang karena tertipu taktik Khalid yang membuat drama seolah bala bantuan dari Madinah telah datang.
Kini dengan jumlah 2.978 setelah syahid 12 syuhada di Mu’tah, pasukan Kaum Muslimin mundur secara terhormat melintasi jalur ini menuju Ma’an sebelum kembali ke Jazirah Arab via Tabuk.
Diluar dugaan, sesampainya di Madinah timbul kasus yang dimotori oleh beberapa orang munafik:
وجعل الناس يحثون على الجيش التراب
📚 “(Sebagian penduduk Madinah yang terhasut) melempari tanah kepada pasukan (Mu’tah).”
Demikian catatan dari 📖 Sirah Nabawiyah li-Ibni Hisyam. Bahkan sebagian sahabat bertanya kepada Rasulullah apakah mereka sehina cercaan yang beredar pada sebagian masyarakat yang terhasut:
يا فرّار فررتم في سبيل الله
📚 “Wahai kalian (pengecut yang) melarikan diri, (sungguh) kalian telah melarikan diri di jalan Allah (meninggalkan jihad)!”
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam naik ke atas tempat yang tinggi lalu menjelaskan kepada masyarakat yang terhasut kaum munafiqin itu:
ليسوا بالفرّار ولكنهم الكرّار انشاء الله تعالى
📚 “Mereka bukan (pengecut yang) melarikan diri, akan tetapi mereka (pasukan Mu’tah) akan menyerang kembali dengan izin Allah Ta’ala”
Bahkan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada momen itu memberikan gelar “pedang Allah yang terhunus” (سيف الله المسلول) kepada Khalid ibn al-Walid Radhiyallahu’anhu untuk menghargai jasanya menyelamatkan pasukan dari kehancuran yang lebih besar. Lebih dari itu, dikemudian hari taktik manuver Khalid ibn al-Walid Radhiyallahu’anhu ini dikenal sebagai
الكرّ و الفرّ
📚 “Serang (secara mendadak lagi menggentarkan) lalu Mundur (secara elegan lagi senyap)”
Agung Waspodo
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰=Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa=💰
💳 a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Khitbah (Meminang/Melamar) (Bag. 1)

Ustadz Menjawab
Jum’at, 05 Oktober 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamualaikum ustadz/ah..Saya ingin bertanya Adab Lamaran dalam Islam.
Jazakumullah khoir
Wassallam wr wb
-Manis 26-
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1⃣ Definisi
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:
خطب المرأة يخطبها خطبا وخطبة، أي طلبها للزواج بالوسيلة المعروفة بين الناس
Seseorang melamar wanita, yaitu memintanya untuk menikah dengan sarana yang telah dikenal di antara manusia. (Fiqhus Sunnah, 2/24)
Laki-laki yang melamar disebut Al Khathiib – الخطيب, juga Al Khaathib – الخاطب. (Ibid)
  Syaikh Sayyid Sabiq juga berkata:
وقد شرعها الله قبل الارتباط بعقد الزوجية ليعرف كل من الزوجين صاحبه، ويكون الاقدام على الزواج على هدى وبصيرة.
  Allah telah mensyariatkannya sebelum adanya ikatan pernikahan, untuk saling mengenal satu sama lain,  dan agar pernikahan itu menjadi kokoh di atas petunjuk dan pengetahuan. (Ibid)
2⃣  Dalil-Dalil Pensyariatannya
Allah ﷻ berfirman:
وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلا أَنْ تَقُولُوا قَوْلا مَعْرُوفًا وَلا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
  Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu  dengan sindiran  atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al Baqarah: 235)
  Dalam ayat ini, dibolehkan bagi kaum laki-laki melamar wanita dalam masa ‘iddahnya secara bahasa sindirin, yaitu bagi wanita yang suaminya sudah wafat, dan wanita yang sedang ‘iddah dalam thalaq ba’in. Ada pun untuk wanita yang statusnya dithalaq raj’iy, tidak boleh dilamar sebab suaminya masih ada kesempatan untuk kembali lagi. 
  Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
نَهَى النَّبِيُّ أَنْ يَبِيعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا يَخْطُبَ (وَلَا يَخْطُبِ) الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ
  Nabi ﷺ melarang kalian membeli barang yang sudah ditawar untuk dibeli oleh orang lain. Dan, melarang laki-laki melamar wanita yang telah dilamar saudaranya, sampai pelamar sebelumnya meninggalkan wanita itu, atau dia mengizinkannya untuk melamarnya. (HR. Al Bukhari No. 5142)
  Larangan melamar wanita yang sudah dilamar laki-laki lain adalah HARAM menurut mayoritas fuqaha. Sebagaimana keterangan berikut:
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْخِطْبَةَ عَلَى الْخِطْبَةِ حَرَامٌ إِذَا حَصَل الرُّكُونُ إِلَى الْخَاطِبِ الأْوَّل
  Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa melamar atas lamaran yang sudah ada adalah haram, jika pada lamaran yang pertama sudah terpenuhi rukun-rukunnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/95)
Bersambung …
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Separah Apa Derita Kita

📆 Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 05 Oktober 2018
📚 Motivasi
 
📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika
Hidup adalah perjuangan. Begitulah sunatullah kehidupan. Bahkan para Nabi dan Rasul pun merasakan kepedihan yang tak terperikan
Kadang kala kita terluka yang tak seberapa atau hati memerih lantaran ada yang menghina. Itu belum seberapa bila kita belajar dari para pendahulu kita
Mari kita napak tilasi jejak pengorbanan mereka, salah satunya adalah Nabi Ayub. Beliau kehilangan semua putra. Lantas  harta yang dimiliki lenyap seketika. Dan diberi sakit berat hingga banyak manusia menjauhinya.
Sanggupkah kita jika harus menjalani seperti Sang Nabi? Membayangkan perihnya tiada terperi. Membayangkan sakitnya yang tiada bisa terobati. Anak serta hartanya tak bisa menemani.
Separah apa luka yang telah kita rasakan? Bukan tebasan pedang yang menggores badan. Bukan cacian yang menyayat perasaan. Tapi mengapa seolah diri yang paling merana dalam kehidupan.
Mari kita bersyukur agar menjadi pribadi yang jauh dari ghuhur. Ujian dan cobaan yang Allah berikan tak lain agar iman kita terukur. Maka hendaklah kita senantiasa bertafakur. Tak tergelisahkan oleh pedih yang membuat kita futur.
Duka kita tak sebanding dengan karunia berupa ras bahagia. Seberapa lama rasa bahagia menyelimuti hati kita, kadang kita bisa lupa. Sementara sakit yang sesaat lewat membuat kita diri berduka terlalu lama.
Mari mengingat lebih banyak kemudahan yang telah Allah berikan dibanding dengan kesulitan. Mari kita hitung betapa banyaknya kenikmatan dibanding kesusahan. Dan mari kita selalu ingat Allah dalam setiap keadaan agar semakin yakin bahwa Allah penentu segalanya dan ada maksud terbaik diperuntukkan untuk hamba Nya.
Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah ‘azzawajalla berfirman,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Wallahul musta’an
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰=Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa=💰
💳 a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Kuliah Dulu ya Nak…

Ustadz Menjawab
Kamis, 04 Oktober 2018
Ustadzah Nurdiana
Assalamualaikum ustadz/ah..Saya ada pertanyaan gini. Anak saya punya cita cita jadi tentara, tentara itu yg saya pahami daftar setelah selesai SMA atau sederajat..nah anak anak lulusan SMA saya pikir blm cukup bekal ilmu agamanya/akidahnya belum kuat.. saya kepengin dia kuliah , soal pekerjaan biar Allah yg mengatur…Minta tlg bantu menghadapai masalah ini Ustadzah.. terimakasih
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ideal nya memang ortu bisa “merekayasa” tumbuh kembang anak sampai mereka punya cita cita sebagai mana harapan kita. Tp ala kuli hal sekarang anak ingin jadi tentara.maka kita sebagai orangtua
1. Harus menghargai dan mendukung cita cita nya
2. Memberi pandangan. Nak bila kamu jadi tentara setelah lulus SMA..maka kamu akan mengalami penggemblengan fisik dan lulus jadi letnan. Akan berbeda kalau kamu jd tentaranya setelah S1 atau.S2. Maka peluang jd perwira lebih mudah. Secara karir pun bagus. Hal itu juga untuk melihat keseriusan dan kesungguhan dia .apakah betul2 ingin jd tentara atau kena pengaruh teman
3. Selalu berkomunikasi dengan anak dan di point ini usahakan ortu lbh banyak mendengar dan menyerap aspirasi. Untuk mengetahui apa yg jadi keinginan anak dan alasan dia memilih cita cita itu.
4. Ciptakan suasana akrab dan terbuka
5. Nasehatilah bila diperlukan dan beri keteladanan .
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Ku Ingin yang Terbaik Untuknya

Ustadz Menjawab
Selasa, 02 Oktober 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamualaikum ustadz/ah..
Ust. Saya mau bertanya. saya punya anak perempuan …..September kata anak saya ada yang mau datang melamar…..dan laki laki itu udah pernah ketemu saya…laki laki itu sudah bekerja tapi belum tetap……saya tanya anak saya….sudah siap belum menghadapi kedepannya……anak saya bilang juga  khawatir…tapi saling mencintai…..sementara saya juga khawatir ust….apa yang harus saya lakukan …..saya ingin yang terbaik untuk anak saya……..mohon pencerahannya ust…biar saya tidak khawatir tentang kehidupan anak saya nanti…Demikian ust…Terima kasih
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Tidak masalah ditunda sampai benar-benar siap,  bukan sampai mapan. Siap artinya siap bertanggungjawab.
Kita dituntut realistis, tapi kita pun tidak boleh arogan dgn takdir Allah, yaitu seolah mendahului apa yg nantinya Allah rencanakan buat hambaNya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nuur: 32)
Tentang ayat ini, Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:
رَغَّبَهُمُ اللَّهُ فِي التَّزْوِيجِ، وَأَمَرَ بِهِ الْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، وَوَعَدَهُمْ عَلَيْهِ الْغِنَى
Allah mendorong mereka untuk menikah, memerintahkan bagi org merdeka dan budak, dan Allah janjikan kepada mereka kekayaan
Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:
الْتَمِسُوا الْغِنَى فِي النِّكَاحِ
Carilah kekayaan pada pernikahan(Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Tinggal dengan Orangtua ato Pisah??

Ustadz Menjawab
Senin, 01 Oktober 2018
Ustadzah Nurdiana

Saya sudah menikah dan tinggal dengan orang tua (ibu). Saya merepotkan ibu, saya berkeinginan untuk mandiri pisah dengan orang tua. Tapi orang tua sudah tua (68 tahun) dan butuh pendamping. Apa saya berdosa jika terus membebani ibu dengan tinggal dirumahnya. Disisi lain ketika saya hijrah , ibu saya membutuhkan pendamping. Apa yang harus saya lakukan? Jazakallahu Khoir


Assalamualaikum ustadz/ah..
Saya sudah menikah dan tinggal dengan orang tua (ibu). Saya merepotkan ibu, saya berkeinginan untuk mandiri pisah dengan orang tua. Tapi orang tua sudah tua (68 tahun) dan butuh pendamping. Apa saya berdosa jika terus membebani ibu dengan tinggal dirumahnya. Disisi lain ketika saya hijrah , ibu saya membutuhkan pendamping. Apa yang harus saya lakukan? Jazakallahu Khoir
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Seorang anak tinggal bersama ortu tidak selalu di artikan *beban* melihat kondisi ortu justru sangat membutuhkan hadir nya anak. Karena dengan tinggal bersama
1.Bisa melayani ortu
2.Mendampingi dan menjaga ortu
3.Andai sdh ada cucu ini bisa sbg hiburan
4.Di komunikasikan saja dgn ortu mana yg ortu lbh sukai ? atau minta pandangan  saudara yg lain bagaimana baiknya
5.Sampaikan saja  kenapa  ingin bersama ortu. Ortu adalah kunci surga yg tertinggal di dunia.krn lewat doa dan ridho nya  maka kelak bisa menggapai surga.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Cara Berwudhu Dengan Luka Diperban

📆 Senin, 21 Muharrom 1440H / 1 Oktober 2018
📚 Fiqih dan Hadits

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
انْكَسَرَتْ إِحْدَى زَنْدَيَّ فَسَأَلْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَنِي أَنْ أَمْسَحَ عَلَى الْجَبَائِرِ
“Salah satu lengan tanganku retak, maka aku tanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau memerintahkan kepadaku agar mengusap bagian atas kain pembalut luka.” (HR. Ibnu Majah no. 657)
Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:
أحمد: إذا توضأ، وخاف على جرحه الماء، مسح على الخرقة. 
َImam Ahmad berkata: “Jika berwudhu, dan khawatir atas lukanya terkena air, maka dibasuh dibagian permukaan perbannya.”
(Al Mughniy, 1/205)
Beliau juga berkata:
وكذلك إن وضع على جرحه دواء، وخاف من نزعه، مسح عليه. نص عليه أحمد
Demikian pula jika ada olesan obat di lukanya, dan dia khawatir obatnya itu hilang, maka basuhlah atasnya. Demikian ucapan Imam Ahmad.
(Ibid)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
إذا وجد جرح في أعضاء الطهارة فله مراتب :
المرتبة الأولى : أن يكون مكشوفا ولا يضره الغسل ، ففي هذه المرتبة يجب عليه غسله إذا كان في محل يغسل .
المرتبة الثانية : أن يكون مكشوفا ويضره الغسل دون المسح ، ففي هذه المرتبة يجب عليه المسح دون الغسل .
المرتبة الثالثة : أن يكون مكشوفا ويضره الغسل والمسح ، فهنا يتيمم له .
المرتبة الرابعة : أن يكون مستورا بلزقة أو شبهها محتاج إليها ، وفي هذه المرتبة يمسح على هذا الساتر ، ويغنيه عن غسل العضو ولا يتيمم .
“Jika terdapat luka pada salah satu anggota bersuci, maka ada beberapa tingkatan:
1. Lukanya terbuka dan tidak berbahaya jika di-ghusl (dibasahkan/mandikan/dibasuh).  Dalam hal ini maka dia wajib dibasuh jika dia merupakan anggota yang wajib dibasuh.
2. Lukanya terbuka tapi berbahaya jika di-ghusl dan tidak berbahaya jika diusap. Dalam tingkatan ini, yang diwajibkan adalah diusap, tidak dighusl .
3. Lukanya terbuka dan berbahaya jika dibasuh dan diusap. Maka jika begitu keadaannya, dia bertayammum untuk mengganti basuhan anggota wudhu tersebut.
4. Lukanya tertutup oleh perban dan semacamnya dan hal itu dibutuhkan. Dalam tingkatan seperti ini, cukup baginya mengusap di atasnya. Hal itu sudah menggantikan basuhan dan usapan di atasnya.
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Utsaimin, 11/121)
Wallahu a’lam
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰=Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa=💰
💳 a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami

📆 Senin, 21 Muharrom 1440H / 1 Oktober 2018
📚 FIQHUD DAKWAH

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
Renungan di tengah Perjalanan dakwah
A. Mukaddimah
Dalam sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, “Akhi, berapa penghasilan Antum sebulan dari mengajar?” Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya. Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, “150 ribu sebulan.” Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.
Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktifis dan banyak amanah da’wah yang dia emban. Ia hanya berpenghasilan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.
Itulah ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita, bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.
Syahdan, di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup, bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya, memberikan ilustrasi keunggulan mewah’, bukan sekedar bercerita kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan untuk melegitimasi pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah dan sebagainya, karena ia sudah merasakannya. Lalu, kemana dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mau tahu?
Tak usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang urgen. Kaya memang penting. Mayoritas para sahabat yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan istri kami … Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang shalih, hamba yang bersyukur terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami menjadi pribadi yang apa adanya menurut Al Quran dan As Sunnah, bukan pribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami lupa’ diajarkan tentang masalah kekayaan dalam silabus tarbiyah kami, karena hakikat kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sehat, dan jangan memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.
Tetapi Ya Syaikh …,
kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal yang sama yakni harta, tetapi ia berbeda secara nilai yakni mentalitas. Mentalitas aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan menengah ke atas. Tak ada kamus aji mumpung dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mau mudah sekali mendapatkannya. Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan berleha-leha ketika ada saudaranya kesulitan? Justru mereka menampakkan kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..
Khadijah seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia abiskan untuk perjuangan suaminya, bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekedar melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu Anha. Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang, justru melambung tinggi, karena Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini ?
Untuk contoh masa sekarang adalah Usamah bin Ladin -setuju atau tidak dengan ideologi dan segala upaya jihadnya- ia adalah seorang kaya raya, bahkan sangat kaya, kalau dia mau bisa saja CNN dibelinya. Tapi, dia hidup amat sederhana, makan seadanya, dia serahkan kekayaannya untuk membiayai perjuangannya. Bukan mencari kekayaan dari perjuangan, bukan mencari biaya hidup dari perjuangan. Itulah letak kewibawaan.
Rasulullah dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita … selamanya. Kami tidak butuh teladan yang lain, walau ia berilmu, senior da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.
B. Kesederhanaan Adalah Izzah
Ada sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang baru, bisa diterima dengan baik. Sudut pandang materialis kapitalis ini, satu-dua contoh kasus bisa saja benar, bahwa jika Anda bergaul dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan hanya’ motor bebek atau mobil seken, lalu Anda kurang dianggap, kurang berharga’ dimata mereka. Bisa saja itu terjadi, dan bisa pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahwa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini. Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, karena taqwa dan keshalihan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau bisa juga fitnah.
Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali, tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk. Justru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan karena kekayaan dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya. Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah, dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana di lingkungan yang tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan. Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya. Inilah sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justru latah, ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bedanya dengan hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda tipis) dengan mereka.
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu Anhu dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. ” Maka Ia bersabda: “Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu. ” (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits no. 1285. Cet 1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
C. Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya
Da’wah ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill, kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang, sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran, popularitas, kekayaan, jabatan, wanita, walau ini mampu disembunyikan dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat.
Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.
Dari Aisyah Radhiallahu Anha berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan ada tentara yang menyerang Ka’bah, akan tetapi ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua dibinasakan, dari awal sampai akhirnya.”
Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka, yaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?“Rasulull ah menjawab:
“Mereka dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. ” (HR. Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)
Jadi, amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)
D. Kami Tidak Mengharamkan Perhiasan Yang halal dari Allah!
Jika ada yang menyangka, ini adalah sikap sok suci, sok tidak butuh kekayaan, apalagi disebut iri, maka ia amat keliru.
Kami meyakini, setelah iman yang mendalam dan amal yang terus-menerus, maka da’wah membutuhkan kekuatan, di antara kekuatan yang urgen hari ini adalah dana. Tentunya, orang yang tidak memiliki harta tidak bisa memberikan kekayaan. Bertemunya keimanan dan kekayaan, akan membentuk pribadi yang dermawan.
Namun yang menjadi tema dan sorotan kami adalah gaya hidup para da’i yang mengalami sock budaya, OKB, Orang Kaya Baru, lalu dia demonstratif dalam hal itu. Dia lupa bahwa dirinya berada di lingkungan da’wah, dan para ikhwah yang kebanyakan tidak seberuntung dia’. Para Ikhwah yang hidupnya kembang kempis.
Bergesernya orientasi da’wah ilallah menjadi dakwah dunia inilah yang harus disorot dan diwaspadai. Sesungguhnya, peringatan itu bermanfaat buat orang-orang beriman. Namun bagi yang sulit menerima nasihat, hatinya kesat, maka kami katakan:
Berpestalah … bersenang-senanglah … dan lakukan semua kehendakmu …. Anda bebas saudaraku… Tetapi, pesta pasti berakhir itu pasti ….
Kami juga meyakini, bahwa secara nilai normatif, banyak yang lebih faham dari kami tentang ini, lebih faqih, lebih berpengalaman, lebih cerdas, lebih pandai, lebih tahu masalah, pokoknya segalanya di atas kami ….
Tetapi, yang kami minta adalah jangan ajarkan kami kemewahan, sebab itu bukan cita-cita, obsesi, dan ambisi kami … jangan contohkan kami perilaku yang dahulunya sama-sama kita benci, sebab itu kabura maqtan … dan jangan paksa kami untuk mengikuti jejak perilaku dan pemikiran yang Anda iklankan ….
Semoga hidayah dan bimbingan Allah Ta’ala selalu menyertai kita semua .. Amin
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Isra’ : 18-19)
Wallahu A’lam wa Illahil `Izzah
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰=Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa=💰
💳 a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
📲 Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Uang Lebih dari Pinjaman

Ustadz Menjawab
Ahad, 30 September 2018
Ustadzah Drs. Indra Asih
Assalamualaikum ustadz/ah..
Afwan menganggu ana mau tanya ana kerja diunit koperasi dalam hal ini ada surat kesepakatan antara pihak ke 1 dan pihak ke 2 dalam pinjaman berupa uang utk biaya pembelian suatu barang
Lalu di koperasi yg ana jalani ada suatu pinjaman dgn sama2 sepakat dr msing2 pihak dari pinjaman tsbt ada kelebihan sebesar 20% apakah itu termasuk riba bkn iya…
Afwan mhn dbantu dr i09
Brownis 2
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Jika anggota atau pihak lain yang mengajukan pinjaman pada koperasi, lalu dikenai tambahan dari koperasi, ini dihukumi riba. Karena setiap utang piutang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah haram. Itu berarti bunga dari simpan pinjam tersebut adalah riba.
Kaidah baku dalam memahami riba adalah perkataan Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, yang mengatakan,
كل قرض جر منفعة فهو ربا
“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”
Demikiaan juga keterangan Abdullah bin Sallam. Beliau mengatakan, “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi itu memberikan fasilitas layanan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan keterangan di atas maka apa pun bentuk kelebihan yang diberikan oleh orang yang berutang karena konsekuensi utangnya maka statusnya adalah riba, baik yang menerima itu adalah pihak perorangan atau organisasi, semacam koperasi.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Tawakkal bag. 7

📆 Ahad, 20 Muharam 1439H / 30 September 2018
📚 KAJIAN KITAB
🎙 Pemateri: Ustadz Arwani Amin Lc. MPH
📻 RIYADHUS SHALIHIN
Hadits:
الخامس:
عن جابر – رضي الله عنه – : أَنَّهُ غَزَا مَعَ النبي – صلى الله عليه وسلم – قِبلَ نَجْدٍ ، فَلَمَّا قَفَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – قَفَلَ معَهُمْ ، فَأَدْرَكَتْهُمُ القَائِلَةُ في وَادٍ كثير العِضَاه ، فَنَزَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – وَتَفَرَّقَ النَّاسُ يَسْتَظِلُّونَ بالشَّجَرِ ، وَنَزَلَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – تَحتَ سَمُرَة فَعَلَّقَ بِهَا سَيفَهُ وَنِمْنَا نَوْمَةً ، فَإِذَا رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – يَدْعونَا وَإِذَا عِنْدَهُ أعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ : إنَّ هَذَا اخْتَرَطَ عَلَيَّ سَيفِي وَأنَا نَائمٌ فَاسْتَيقَظْتُ وَهُوَ في يَدِهِ صَلتاً ، قَالَ : مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي ؟ قُلْتُ : الله – ثلاثاً- وَلَمْ يُعاقِبْهُ وَجَلَسَ .
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .
Artinya:
Hadits Kelima
Dari Jabir r.a. sesungguhnya ia berperang bersama Nabi s.a.w. di daerah Najad – yakni perang Dzatur Riqa’.
Ketika Rasulullah s.a.w. pulang dari perjalanannya  ia pun pulang beserta mereka, kemudian mereka istirahat siang dalam suatu lembah yang banyak pohon berduri.
Rasulullah s.a.w. turun dan orang-orangpun berteduh di bawah pohon. Rasulullah s.a.w. turun di bawah pohon besar samurah kemudian menggantungkan pedangnya di situ.
Kita semua tertidur, tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil kami dan di sampingnya ada seorang Arab badui, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Orang ini telah mengacungkan pedangku padaku, saat saya tidur tadi, kemudian saya bangun, sedangkan pedang itu terhunus di tangannya, ia berkata: “Siapakah yang dapat melindungi engkau dari perbuatanku ini?”
Saya menjawab: “Allah” sampai tiga kali.
Tetapi beliau s.a.w. tidak menghukum orang – yang akan membunuhnya – tadi dan beliau pun duduklah.
(Muttafaq ‘alaih)
           ☆☆☆☆☆
Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.
Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:
http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1
atau
YouTube channel Manis
http://www.youtube.com/majelismanis
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: http://manis.id
📱 Info & pendaftaran member klik http://bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan  Dhuafa, a.n Yayasan  MANIS, No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis