Berfikir dan Bertindak Positif

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Jangan ratapi kekurangan mu, boleh jadi dia menjadi sebab berkurangnya dosa-dosamu, disaat banyak orang  berlumuran dosa karena kelebihannya.

Jangan sesali keterhalangan mu, boleh jadi dia menjadi sebab terhalangnya bencana menimpamu, disaat banyak orang tertimpa musibah dengan kebebasannya.

Jangan musuhi keterbatas anmu, boleh jadi justeru dia yang membatasimu dari sikap tercela.

Disaat banyak orang menjadi tercela karena berbagai fasilitas yang dimilikinya.

Allah tidak akan menciptakan kekurangan, halangan dan keterbatasan yang bersifat mutlak.

Justeru bisa jadi berawal dari itu semua, dia akan menemukan kelebihan dan jalan hidup terbaik.

Sebab yang Dia janjikan adalah kemudahan dan solusi bagi siapa yang bersungguh-sungguh mencarinya seraya menjaga takwanya…..

Selalulah  menilai positif, berpikir positif dan bekerja positif. Teruslah melangkah mencari ridha Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى إِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّى شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku tergantung persangka an hamba-Ku kepada-Ku.
Aku selalu bersamanya apabila dia mengingat-Ku.

Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya pada diri-Ku.

Jika dia mengingat Aku di hadapan makhluk, maka Aku akan menyebutnya di hadapan makhluk yang lebih baik dari mereka.

Jika dia mendekati Aku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta.

Jika dia mendekati Aku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku seraya berjalan, Aku akan mendatanginya seraya berlari.” (Muttafaq alaih)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Menjawab Mengapa Turki Anggota NATO (Agar Tidak Terjebak Pada Berbagai Sangkaan)

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Krisis Selat-Selat Turki
Memasuki Tingkat Tinggi: 7 Agustus 1946 s/d 30 Mei 1953

Krisis selat-selat Turki (Dardanelles dan Bosphorus) merupakan bagian dari konflik yang berlarut-larut hingga masuk ke periode Perang Dingin (Cold War) yang mencakup konflik teritorial antara Uni Soviet dan Turki.

Turki, yang secara resmi berposisi netral selama kurun waktu Perang Dunia Kedua yang waktu itu baru saja berakhir, mendapatkan tekanan dari pemerintah Uni Soviet untuk membebaskan pelayaran negerinya melalui kedua selat yang menghubungkan antara Laut Hitam dan Laut Tengah (Mediterranean).

Pemerintah Turki tidak bergeming dari tekanan tersebut sehingga suhu perpolitikan di region tersebut meningkat tajam. Uni Soviet membalas sikap Turki tersebut dengan menggelar kekuatan laut di dekat perbatasannya. Insiden ini kelak menjadi faktor penting dalam pelaksanaan Doktrin Truman bagi meluasnya hegemoni Amerika Serikat pada waktu itu. Pada puncak krisis, Turki akhirnya terpaksa memeinta dukungan Amerika Serikat untuk mendapatkan dukungan serta kemudian memuluskan langkah menjadi anggota NATO. Keputusan tersebut terus mempengaruhi politik luar negeri Turki hingga kini.

Kepentingan

Kedua selat penghubung Laut Hitam dan Laut Mediterranena itu sangat penting bagi jalur perdagangan antara negara-negara yang memiliki akses ke Laut Hitam kepada dunia. Apalagi waktu itu Uni Soviet, Romania, dan Bulgaria berada pada satu pihak Pakta Warsawa yg berlawanan arah dengan NATO. Posisi kedua selat ini tentu saja sangat strategis dalam perspektif militer dimana kendalinya akan mempengaruhi strategi perang di region tersebut.

Latar Belakang Politik

Konflik ini memiliki akar permasalahan dari hubungan Uni Soviet-Turki pada masa persis sebelum Perang Dunia Kedua. Keduanya memiliki hubungan yg dekat bahkan erat pada paruh terakhir dekade 1930an. Sebelum era tersebut, Russia Bolshevik dan Turki Utsmani pernah menyepakati untuk mempererat kerjasama pada Perjanjian Moscow.

Konvensi Montreaux yang membahas tentang masalah yang sama pernah disepakati pada tahun 1936 dimana negara-negara seperti Australia, Bulgaria, Perancis, Jerman, Jepang, Uni Soviet, Turki, Inggris Raya, dan Yugoslavia telah menyepakati bagaimana Turki memainkan perannya sebagai pemilik kedua selat strategis itu; baik dalam kepentingan hubungan perdagangan maupun militer.

Perselisihan Perbatasan

Uni Soviet menginginkan agar perbatasannya dengan Turki do daerah timur region Anatolia dapat dinormalisasikan guna menguntungkan negaranya serta Armenia dan Georgia. Bahkan salah seorang deputi kepala negara, Lavrentiy Beria, “membisikan” kepada Stalin bahwa perbatasan di barat-daya Georgia itu dahulu dirampas pada era Turki Utsmani. Klaim ini jika disetujui tentu saja dapat meningkatkan pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah dan menunrunkan pengaruh Inggris dan Amerika Serikat dikemudian hari. Klaim ini nantinya ditarik dengan terpaksa oleh Uni Soviet setelah bulan Mei 1953.

Kasus Kapal Perang Amerika Serikat

Setelah kalahnya Jerman Nazi oleh pihak Sekutu, maka Uni Soviet mulai mengangkat klaimnya pada tahun 1945-46. Sepanjang tahun 1946 berlangsung banyak pertemuan rahasia antara para diplomat Turki dan Amerika Serikat membahas tentang isu tersebut. Uni Soviet semakin berang setelah Turki juga mulai membiarkan kapal-kapal perang bukan dari negara Laut Hitam lalu lalang di selat-selat tersebut; terutama menjelang akhir Perang Dunia Kedua dan sesudahnya.

Pada tanggal 6 April 1946, kunjungan kapal perang Amerika Serikat USS Missouri semakin membuat Uni Soviet meradang. Turki menjelaskan bahwa kapal tersebut datang dalam kunjungan persahabatan sekaligus membawa pulang jenazah perdana menteri Turki utk AS; tentu saja penjelasan ini tidak diterima Uni Soviet.

Walaupun kunjungan Missouri itu bukan sesuatu yg mengagetkan Uni Soviet namun hal tersebut jelas melanggar Konvensi Montreux yg memicu dilayangkannya nota protes dari kedubes US di Washington D.C. dengan Nikolai Vasilevich menyebutnya sebagai demonstrasi politik dan militer menantang Uni Soviet.

Posisi Amerika Serikat

Ketika konflik ini diangkat di Konferensi Potsdam, persiden AS Harry S. Truman mengatakan bahwa permasalahan itu sebaiknya diselesaikan oleh kedua negara yg bersangkutan saja. Seiring dengan memanasnya perdebatan antar kedua negara setelah konferensi tsb barulah AS mengoreksi netralitasnya dalam hal ini dengan menyebutkan posisinya yg tidak menghendaki selat-selat tersebut jatuh ke tangan Uni Soviet. Bahkan muncul argumen bahwa AS juga tidak ingin Turki menjadi negara komunis.

Dukungan AS dan Negara Barat Lainnya

Pada musim panas 1946, Uni Soviet meningkatkan penggelaran kapal perangnya di Laut Hitam, bahkan terjadi peningkatan jumlah pasukan di negara-negara Balkan yg termasuk dalam blok Pakta Warsawa. Setelah beberapa waktu, Turki terpaksa meminta bantuan Amerika Serikat dalam bentuk pinjaman lunak untuk menungkatkan kemampuan perangnya.

Setelah melalui serangkaian rapat yg intensif, akhirnya Presiden Truman mengirim Satuan Tugas Tempur AS ke Turki. Pada 9 Oktober 1946, secara resmi negara AS dan Kerajaan Inggris menguatkan dukungannya kepada Turki. Pada tanggal 26 Oktober 1946, Uni Soviet menarik tuntutannya atas perlunya pertemuan baru utk membahas konflik ini walau tidam pernah mencabut sikapnya. Tidak lama setelah itu seluruh kekuatan militer intimidasi ditarik balik ke pangkalannya.

Turki kemudian mengambil sikap melepaskan netralitasnya dan menerima bantuan AS sebesar $100 juta dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer pada tahun 1947. Bantuan ini dicairkan melalui Doktrin Truman yg hendak membendung perluasan pengaruh Uni Soviet; dalam region ini khususnya ke Yunani dan Turki. Kemudian kedua negara tersebut bergabung dengan NATO pada tahun 1952. Pada tahun yg sama, pada tanggal 16 Oktober 1952, Stalin wafat.

Agung Waspodo, mulai sedikit memahami mengapa Turki menjadi anggota NATO, 68 tahun kemudian.. sungguh amat telat!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Jual Beli (Jus) Buah Kepada Yang Akan Menjadikannya Khamr

By: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag
Taujih Nabawi
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ (رواه الترمذي)
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah SAW melaknat sepuluh orang yang berkenaan dengan khamr, (yaitu) 
orang yang memeras, 
yang meminta diperaskan, 
peminum, 
pembawanya, 
yang dibawakan untuknya, 
penuangnya, 
penjualnya, 
yang memakan hasilnya, 
pembelinya dan 
yang minta dibelikan. (HR. Tirmidzi)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لُعِنَتْ الْخَمْرُ عَلَى عَشْرَةِ وُجُوهٍ لُعِنَتْ الْخَمْرُ بِعَيْنِهَا وَشَارِبُهَا وَسَاقِيهَا وَبَائِعُهَا وَمُبْتَاعُهَا وَعَاصِرُهَا وَمُعْتَصِرُهَا وَحَامِلُهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَآكِلُ ثَمَنِهَا (رواه أحمد)
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Dilaknat di dalam khamr, sepuluh hal; 
khamer dilaknat karena dzatnya, peminumnya, penghidangnya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, yang minta diperaskan, pembawanya, yang dibawakan untuknya dan pemakan harganya.’ 
(HR. Ahmad)
Makna Hadits
Secara umum, hadits di atas menggambarkan tentang haramnya khamr, dan segala hal yang terkait dengan khamr. 
Haramnya khamr sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an dalam bebeberapa ayat yang berbeda, diantaranya adalah : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. 
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90)
Pengharaman khamr dalam Al-Qur’an, dikuatkan kembali dengan pengharaman dalam sunnah, diantaranya dalam dua hadits yang disebutkan di atas.
Bahkan dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa semua yang terkait dengan khamr, maka hukumnya haram. Mereka adalah ; pemerasnya, yang minta diperaskan, peminunmnya, yang membawakannya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, penikmat keuntungannya, dan yang minta dibelikannya.
Oleh karenanya, tidak boleh hukumnya membantu proses penyediaan khamr, dalam bentuk apapun, apakah dari aspek produksi, konsumsi, maupun distribusinya.
Bahwa mengkonsumi khamr beserta seluruh jajarannya, bukan hanya “haram” secara hukum, namun juga mendapatkan laknat dari Allah SWT. 
Dan laknat mengandng arti, sangat dibenci, dicela dan dimurkai Allah SWT.
Khamr dalam bahasa Arab berasal dari akar kata `khamara` yang bermakna sesuatu yang menutupi`. 
Disebutkan,`
مَا خَمَرَ الْعَقْلُ
(Maa Khaamaral aql`) yaitu sesuatu yang menutupi akal.
Sedangkan jumhur ulama memberikan definisi khamar segala sesuatu yang memabukkan baik sedikit maupun banyak.
Atau dengan definisi lain : khamr ialah zat yang memabukkan dan terbuat dari sari anggur atau semua zat (minuman) yang dapat menutupi dan menghilangkan akal.
Sebagian ulama seperti Imam Hanafi memberikan pengertian khamar sebagai nama (sebutan) untuk jenis minuman yang dibuat dari perasan anggur sesudah dimasak sampai mendidih serta mengeluarkan buih dan kemudian menjadi bersih kembali. 
Sari dari buah itulah yang mengandung unsur yang memabukkan.
Periodisasi Pengharaman Khamr
Pengharaman khamr atau minuman keras dalam Islam, tidaklah dilakukan secara sekaligus melainkan secara bertahap. 
Hal ini disebabkan dua hal: 
Bentuk kasih sayang Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya, karena tentunya jika diharamkan secara sekaligus akan memberatkan manusia pada masa tersebut. 
Terlebih khamr pada saat tersebut sudah menjadi minuman sehari-hari di masyarakat jahiliyah.
Karakteristik Islam yang sangat manusiawi, yaitu memahami sifat dan karakter manusia serta unsur-unsur kemanusiaan nya. Karena manusia perlu adaptasi dan berproses untuk melakukannya.
Oleh karenanya, pengharam an khamer, melalui tiga tahapan, sebagai berikut: 
1. Tahapan pertama
Pemberitahuan kepada manusia bahwa walaupun khamer memiliki manfaat, namun madharat yang terdapat di dalamnya jauh lebih besar. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا 
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. 
Katakanlah: 
“Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. (QS. Al-Baqarah : 219)
Catatan : 
Ketika diturunkannya ayat ini, khamer masih belum diharamkan, namun baru memberikan image atau persepsi tentang madharat yang ditimbulkan dari khamer.
2. Tahapan Kedua
Larangan untuk mendekati shalat dalam keadaan mabuk. 
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi… (QS. An-Nisa’ : 43)
Catatan:
Pada periode ini juga khamer belum diharamkan secara mutlak, namun memberikan persepsi bahwa khamer merusak akal dan kotor, sehingga tidak pantas untuk dikonsumsi mendekati pelaksanaan shalat.
3. Tahapan Ketiga
Kemudian barulah Allah SWT mengharamkannya secara keseluruhan, bahwa segala jenis minuman keras yang memabukkan adalah haram hukumnya. 
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. 
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90)
Catatan : 
Pada saat turunnya ayat ini, semua orang yang memiliki khamer langsung membuangnya di jalan-jalan kota Madinah. 
Bahkan yang sedang meminumnya, lantas memuntahkannya kembali.
والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

Hal- Hal Yang Dibolehkan Dalam Shalat (Bag. 2)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

materi sebelumnya bisa dilihat di
www.iman-islam.com/2015/12/hal-hal-yang-dibolehkan-dalam-shalat.html?m=1

7. Bertasbih dan bertepuk Tangan Untuk Meralat Imam

Dalilnya:
عن النبي صلى الله عليه وسلم:  مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

  Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang terganggu dalam shalatnya oleh suatu hal maka bertasbihlah, sesungguhnya jika dia bertasbih hendaknya menengok kepadanya, dan  bertepuk tangan hanyalah  untuk kaum wanita. (HR. Bukhari No. 652, Muslim No. 421,  Abu Daud No. 940, Ibnu Hibban No. 2260, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 3147, 5089, Ibnu Khuzaimah No. 1623, Malik dalam Al Muwaththa No. 390)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
 يجوز التسبيح للرجال والتصفيق للنساء إذا عرض أمر من الامور، كتنبيه الامام إذا أخطأ وكالاذن للداخل أو الارشاد للاعمى أو نحو ذلك.
“Dibolehkan bagi laki-laki bertasbih dan bertepuk tangan bagi wanita, jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman seperti: mengingatkan imam ketika berbuat kesalahan, memberi izin kepada orang yang akan masuk, atau memandu orang buta atau yang semisalnya.” (Fiqhus Sunnah,1/264)

8. Meralat Bacaan Imam Yang Salah atau Lupa

Dalilnya:
عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى صلاة فقرأ فيها فالتبس عليه فلما فرغ قال لابي: (أشهدت معنا؟) قال: نعم. قال: (فما منعك أن تفتح علي؟) رواه أبو داود وغيره ورجاله ثقات.
📌Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shalat, lalu membaca suatu ayat, tiba-tiba beliau lupa atau ragu dalam bacaannya. Setelah selesai dia bertanya kepada ayahku (Umar bin Al Khathab): apakah engkau shalat bersamaku? Umar menjawab: Ya. Nabi bersabda: Apa yang menghalangimu untuk mengingatkanku? (HR. Abu Daud No. 907, Ibnu Hibban No. 2242, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 13216. Syaikh Al Albani menghasankannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 907)

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr Hafizhahullah:
فهذا يدلنا على مشروعية الفتح على الإمام إذا حصل منه خطأ
“Ini menunjukkan bahwa disyariatkan untuk memberitahukan kepada imam jika didapatkan padanya ada kesalahan.” (Syarh Sunan Abi Daud, 115. Al Misykat)

9. Memuji Allah Ketika Bersin Atas Suatu Ni’mat

Dalilnya:
Dari Rifa’ah bin Rafi’, dia berkata;
صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ فَقَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا
“Aku shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu aku bersin, dan aku berkata: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan ‘alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak lagi baik dan keberkahan di dalamnya, dan keberkahan atasnya, sebagaimana yang disukai Tuhan kami dan diridhaiNya). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selesai shalat, dia bertanya: “Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?”. Tidak ada satu pun yang menjawab. Beliau bertanya lagi kedua kalinya: “Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?”. Tidak ada satu pun yang menjawab.  Beliau bertanya lagi ketiga kalinya: “siapa yang yang mengatakan tadi dalam shalat?” maka, berkatalah Rifa’ah bin Rafi’ bin ‘Afra: “Saya wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Bagaimana engkau mengucapkannya?” dia menjawab: “Aku  mengucapkan: ” Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan ‘alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sebanyak tiga puluh Malaikat saling merebutkan siapa di antara mereka yang membawanya naik (kelangit).” (HR. At Tirmidzi No. 402, katanya: hasan. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykah Al Mashabih No. 992)

Riwayat ini menunjukkan bolehnya bersin dalam shalat, lalu dia mengucapkan bacaan seperti di atas secara jahr (keras), dan hal ini terjadi di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau tidak mengingkari bahkan justru memujinya. At Tirmidzi menambahkan bahwa sebagian ulama menganjurkan hal ini pada shalat tathawwu’ (sunah). Pernyataan ini lemah, sebab hal ini terjadi pada shalat wajib, yakni maghrib,  sebagaimana diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4044.
Al Hafizh Ibnu Hajar juga menyebutkan riwayat dari Bisyr bin Umar Az Zuhrani, dari Rifa’ah bin Yahya bahwa Shalat tersebut adalah maghrib. (Fathul Bari, 2/286)

Riwayat ini sekaligus menjadi bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa kebolehannya hanya pada shalat  sunah.

Ada pun, bagi yang mendengarnya, maka dianjurkan membaca Yarhamukallah, tetapi ini hanya berlaku  di luar shalat. Imam Ash Shan’ani menyebutkan, bahwa kalangan zhahiriyah dan Ibnul Arabi  berpendapat wajibnya tasymit bagi setiap orang yang mendengar ucapan Alhamdulillah. (Imam Amir Ash Shan’ani, Subulus Salam, 7/12)

Ada pun di dalam shalat, tidaklah menjawabnya, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun tidak menjawab bersin Rifa’ah bin Rafi’ setelah dia membaca Alhamdulillah. Bahkan Beliau melarang itu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam haditsnya yang cukup panjang, dari Muawiyah bin Al Hakam As Sulami. Ketika beliau shalat bersama Rasulullah, ada seorang yang bersin dan mengatakan Alhamdulillah, lalu Muawiyah menjawab: Yarhamukallah. Ringkasnya, setelah shalat Nabi menasihatinya:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآن
“Sesungguhnya pada shalat ini, tidaklah ada kebaikan di dalamnya bagi ucapan manusia, sesungguhnya dia adalah tasbih, takbir, dan membaca Al Quran.” (HR. Muslim No. 537, juga Abu Daud No. 930, dengan lafaz: Sesungguhnya dalam shalat ini tidak halal suatu apapun dari ucapan manusia …)

Mayoritas ulama menyatakan hal itu terlarang, dan membatalkan shalat, sebab tidak dicontohkan oleh Nabi, dan termasuk kalamun nas (ucapan manusia) yang masuk ke dalam shalat.  Imam An Nawawi mengatakan, hadits di atas menunjukkan haramnya kalamun nas (ucapan manusia) di dalam shalat, baik karena ada kebutuhan atau tidak, ucapan yang bermaslahat bagi shalat atau tidak. Jika ada kebutuhan untuk memberikan peringatakan maka bertasbih bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi wanita, inilah madzhab kami, Malik, Abu Hanifah, dan mayoritas salaf dan khalaf. Namun dimaafkan bagi orang yang lupa dan bodoh (belum tahu), sebagaimana yang dilakukan oleh Muawiyah bin Al Hakam, beliau tidak diperintah untuk mengulang shalatnya, tetapi Rasulullah memberikan pengajaran untuknya. (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/298)

10. Sujud Di atas Baju atau Sorban Karena Udzur (Alasan yang dibenarkan)

  Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، صَلَّى فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُتَوَشِّحًا بِهِ، يَتَّقِي بِفُضُولِهِ حَرَّ الْأَرْضِ وَبَرْدَهَا
Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat pada sehelai baju yang dihamparkannya,  untuk menahan panasnya tanah atau dinginnya di waktu beliau sujud.” (HR. Ahmad No. 2320, Abu Ya’la No. 2446, 2687. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairihi. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 2320)

Ada riwayat lain yang lebih shahih, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنْ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ
Kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat panas yang sangat, jika salah seorang kami ada yang tidak kuat meletakkan dahinya ke tanah, dia akan membentangkan pakaiannya lalu dia sujud di atasnya. (HR. Muslim No. 620)

Ada pun dalam riwayat Imam Bukhari, dari Anas bin Malik juga:
كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ
Kami shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka salah seorang di antara kami meletakkan ujung pakaiannya lantaran panas yang sangat, di tempat sujud. (HR. Bukhari No. 1208)

Sedangkan jika tanpa adanya udzur maka hukumnya makruh.

11. Membaca Ayat Dengan Melihat Mushhaf

Berikut keterangan dari Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
فإن ذكوان مولى عائشة كان يؤمها في رمضان من المصحف، رواه مالك. وهذا مذهب الشافعية
“Dzakwan, hamba sahayanya ‘Aisyah, kalau jadi imam bagi Aisyah di waktu shalat dalam bulan Ramadhan biasa membaca ayat dari mushhaf (Diriwayatkan oleh  Malik). (Fiqhus Sunnah, 1/269ح87).

 Imam An Nawawi mengatakan:
لَوْ قَرَأَ الْقُرْآنَ مِنْ الْمُصْحَفِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ سَوَاءٌ كَانَ يَحْفَظُهُ أَمْ لَا بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ ذَلِكَ إذَا لَمْ يَحْفَظْ الْفَاتِحَةَ كَمَا سَبَقَ، وَلَوْ قَلَّبَ أَوْرَاقَهُ أَحْيَانًا فِي صَلَاتِهِ لَمْ تَبْطُلْ، وَلَوْ نَظَرَ فِي مَكْتُوبٍ غَيْرِ الْقُرْآنِ وَرَدَّدَ مَا فِيهِ فِي نَفْسِهِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ وَإِنْ طَالَ، لَكِنْ يُكْرَهُ، نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْإِمْلَاءِ وَأَطْبَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ.
“Seandainya membaca Al Quran melalui mushaf, tidaklah membatalkan shalatnya. Sama saja, apakah dia sudah hafal Al Quran atau belum, bahkan menjadi wajib melihat mushaf jika dia belum hafal Al Fatihah sebagaimana penjelasan lalu. Walau kadang membolak-balikan halamannya dalam shalat, maka itu tidak membatalkan shalatnya. Juga bagi seorang yang melihat catatan lain selain Al Quran dan diulang-ulang isinya dalam hati walau lama tidaklah batal, tetapi makruh. Demikian pemaparan Asy Syafi’i dalam Al Imla’.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/20. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Ini juga menjadi pendapat Imam Malik, Imam Muhammad bin Hasan, Imam Abu Yusuf, Imam Ahmad bin Hambal, sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan: batal shalatnya. (Ibid)

12. Ingat Dengan Sesuatu Hal Yang Tidak Termasuk Amalan Shalat

Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata:
 إِنِّي لَأُجَهِّزُ جَيْشِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ
“Sesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedang  shalat.” (Riwayat Bukhari)

Tentang ucapan Umar Radhiallahu ‘Anhu ini, Imam Bukhari membuat judul:  Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syai’a fish shalah
Dari ‘Uqbah bin Al Harits Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ
“Aku shalat ashar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian  Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: “Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang shalat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman,  maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.” (HR. Bukhari No. 1221, Ahmad No. 16151, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Ahadits Wal Matsani No. 477)

  Walau hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas shalat. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:
ومع أن الصلاة في هذه الحالة صحيحة مجزئة   فإنه ينبغي للمصلي أن يقبل بقلبه على ربه ويصرف عنه الشواغل بالتفكير في معنى الايات والتفهم لحكمة كل عمل من أعمال الصلاة فإنه لا يكتب للمرء من صلاته إلا ما عقل منها.
“Meskipun shalatnya tetap sah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang shalat itu menghadapkan hatinya kepada Allah dan melenyapkan segala godaan dengan memikirkan ayat-ayat dan memahami hikmah setiap perbuata shalat, karena yang dicatat dari perbuatan itu hanyalah apa-apa yang keluar dari kesadaran.” (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إنّ الرّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إلاّ عُشْرُ صلاتِهِ تُسْعُها ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya ada orang yang selesai shalatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari shalatnya.” (HR. Abu Daud No. 211, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 211). Sekian.

Wallahu A’lam

Referensi:
Al Quran Al Karim
Shahih Bukhari, karya Imam Al Bukhari
Shahih Muslim, karya Imam Muslim
Shahih Ibnu Hibban, karya Imam Ibnu Hibban
Shahih Ibnu Khuzaimah, karya Imam Ibnu Khuzaimah
Sunan Abi Daud, karya Imam Abu Daud
Sunan At Tirmidzi, karya Imam At Tirmidzi
Sunan An Nasa’i, karya Imam An Nasa’i
Sunan Ad Darimi, karya Imam Ad Darimi
Sunan Ad Daruquthni, karya Imam Ad Daruquthni
As Sunan Al Kubra, karya Imam Al Baihaqi
 Musnad Ahmad, karya Imam Ahmad dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth
Musnad Abi Ya’la, karya Imam Abu Ya’la
Al Ahadits wal Matsani, karya Imam Ibnu Abi ‘Ashim
Syarhus Sunnah, karya Imam Al Baghawi
Al Muwaththa’¸karya Imam Malik bin Anas
Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, karya Imam Al Hakim An Naisaburi
Al Mushannaf, karya Imam Abdurrazzaq
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya Imam An Nawawi
Fathul Bari, karya Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani
Tuhfah Al Ahwadzi, kaya Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri
Syarh Sunan Abi Daud, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
Fiqhus Sunnah, karya Syaikh Sayyid Sabiq
Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, karya Imam An Nawawi
Subulus Salam, karya Imam Amir Ash Shan’ani
Tahqiq Misykat Al Mashabih, karya Syaikh Al Albani
Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i, karya Syaikh Al Albani
Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, karya Syaikh Al Albani
dll

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

QS. Al-Haqqoh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Benar-Benar Akan Terjadi

Surat Al-Hâqqah termasuk surat makkiyah yang diturunkan di Makkah, tak lama setelah Surat al-Mulk. Al-Hâqqah ([1]) salah satu nama hari kiamat yang artinya hari yang benar-benar pasti terjadi. Merupakan bentuk subyek dari kata ”haqqa” ([2]). Ada beberapa nama hari kiamat yang lain, di antaranya:  Al-Waqi’ah (yang pasti terjadi), as-Sâ’ah (yang sudah ditentukan), al-Qâri’ah(yang menggetarkan hati), al-Qiyâmah   dan al-Ba’ts (hari kebangkitan), at-Taghâbun (ditampakkan amal-amal manusia) dan lain-lain.

Tema utama surat ini adalah menguatkan keimanan terhadap hari kiamat dan adanya hari pembalasan serta pengukuhan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad saw. Sekaligus difungsikan sebagai pedoman hidup bagi manusia yang mau mengikuti petunjuk-Nya ([3]).

Dalam surat ini nama Al-Hâqqah, al-Qâri’ah dan al-Wâqi’ah disebut secara berurutan. Penyebutan Al-Hâqqah dan al-Wâqi’ah yang artinya berdekatan untuk merasakan suasana hari kiamat. Yang pertama disebut dua kali untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Dan dalam pengisahan orang-orang terdahulu disebut al-Qari’ah untuk untuk menimbulkan efek psikis yang dikiaskan secara bertingkat. Mereka yang mendustakan para utusan Allah dibinasakan di dunia dengan adzab yang mengerikan. Tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan ngeri dan dahsyatnya hari kiamat. Maka konteks hal tersebut sangat menggetarkan hati([4]). Kalau Ath-Thariq (bukan nama surat) asal katanya ­tharaqa  secara bahasa berarti mengetuk (dengan ketukan kecil), tapi al-Qâri’ah asal katanya qara’a (artinya mengetuk atau melubangi). Dalam bahasa keseharian lebih sering digunakan tharaqa. Karena qara’a bisa juga diartikan ketukan yang menakutkan, mengejutkan atau membuat cemas.

”Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. 69: 1-3)

Cara pengambaran seperti ini sering digunakan sebagai mukaddimah sebuah pemberitahuan Allah untuk hal-hal yang ghaib yang akan dikabarkan Allah pada Nabi Muhammad saw, juga kaum mukminin secara umum.

Bila kita lihat struktur surat al-Hâqqah, mugkin kita berpikiran seharusnya ayat ke-13 diletakkan langsung setelah tiga ayat pertama sebagai jawabannya. Namun, justru Allah memilih mengisahkan terlebih dahulu nasib dan kesudahan yang dialami kaum terdahulu yang mendustakan para utusannya. Juga mendustakan adanya hari kiamat, hari kebangkitan dan pembalasan. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari penceritaan Allah tersebut.

Kaum Ad, Tsamud, Fir’aun dan tentaranya, serta para pendusta sebelum mereka seperti kaum Nabi Nuh as. Allah meminta kita membayangkan sejenak bagaimana adzab dunia yang mereka terima.

“Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”. (QS. 69: 5).

At-Thaghiyah adalah sesuatu yang luar biasa, di luar yang dibayangkan manusia. Asal katanya thaghâ (melampaui batas normal). Allah menghukum kaum Nabi Shalih as. ini dengan petir yang menyambar dan suara yang sangat memekakkan telinga dan menghancurkan apa saja.

”Adapun kaum ‘Ad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.  Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka”. (QS. 69: 6-8)

Allah pun menyebutkan akhir yang naas bagi Fir’aun dan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan utusan-Nya.

Allah pun menyebutkan akhir yang naas bagi Fir’aun dan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan utusan-Nya.

”Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar” (QS. 69:9).

Ibnu katsir mengartikannya secara umum: kaum-kaum terdahulu yang dimusnahkan Allah karena pendustaan yang mereka lakukan ([5]). Tapi beberapa mufassirin mengartikannya secara spesifik; yaitu kaumnya Nabi Luth ([6]). Kata yang dipilih Allah juga berbeda. ”al-khâti`ah” yaitu kesalahan fatal, yang dilakukan dengan sengaja tanpa ada niat untuk memperbaiki. Subjek (pelakunya) disebut dengan ”khâti`ûn” ([7]). Berbeda dengan kesalahan secara umum ”khata“” yang subjeknya ”mukhti`un” adalah orang yang berbuat salah tanpa unsur kesengajaan, atau dengan sengaja tapi karena lalai, atau kemudian disertai keinginan untuk memperbaiki/bertaubat. Maka kepada mereka ditimpakan hukuman dan adzab yang sangat dahsyat dan bermacam-macam.

Sangkakala Kehancuran

Maka tatkala sangkakala ditiup oleh malaikat. Mulailah hari kehancuran itu. Hari itu lebih dahsyat dari hari-hari buruk yang menimpa kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Nuh dan Luth, Kaum Madyan, Fir’aun. Hari kiamat yang lebih mengerikan.

”Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur” . (QS. 69: 13-14)

Sekali bentur saja sudah membuat bumi ini berkeping-keping. Dan langit yang selama ini menjadi atap terbelah, kemudian runtuh. Dan hari kehancuran itu membuat orang-orang hamil langsung melahirkan. Orang-orang lari mencari perlindungan, namun mereka takkan mampu mencari tempat persembunyian. Masing-masing memikirkan keselamatan dirinya. Sehingga tak ada lagi saling kenal, bahkan ibu dan anaknya, juga diantara sesama saudara dan famili.

”Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah) ”. (QS. 69: 18)

Mau bersembunyi di mana? Apa yang mereka sembunyikan. Setelah hari kehancuran itu, kemudian Allah membangkitkan semua manusia untuk mempertanggungjawabkan tingkah lakunya selama di dunia.

”Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, Bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.  Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS. 69: 19-24)

Balasan yang baik untuk pelaku kebaikan. Hari itu muka mereka berseri-seri, bahagia dan bangga. Karenanya mereka bangga dengan catatan amal dan prestasi mereka. Karena Allah menyematkan penghargaan tersebut di depan banyak manusia dan disaksikan para malaikatnya.

Ketika para malaikat juga orang-orang menanyai mereka mereka pun tak segan membuka rahasia keberhasilan ini. ”Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku” . Keyakinan inilah yang kemudian membawa mereka konsisten sepanjang hidup untuk memelihara stabilitas dan kualitas keimanan serta ketakwaan mereka.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Da’wah Terbuka (جهريّة الدعوة)

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Beberapa tahun lamanya Rasulullah Saw berdakah secara sembunyi-sembunyi (sirriyyah) hingga Allah Swt. menurunkan kewajiban untuk berdakwah secara terbuka (jahriyyah).

Ragam ujian mulai terasa berat bagi Nabi Saw dan para pengikutnya, namun semangat dakwah yang kuat di atas iman menjadikan sebagian kaum muslimin begitu berani tampil di muka umum untuk memperlihat kan kebenaran Islam.

Faktor dukungan keluarga besar menjadi salah satu penguat dakwah Nabi Saw. hingga periode tertentu.

Tiga tahun atau empat tahun, wallaahu a’lam, dilewati Rasulullah Saw berdakwah sirriyyah hingga turun firman Allah Swt. dalam Surat Al-Hijr.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Kata fashda’ bermakna menyeleksi antara kebenaran dengan kebathilan.[1]

Dengan penuh keberanian dan semangat ‘bersegera’, Rasulullah Saw. yang terkenal manusia paling jujur dan terpercaya di masanya itu mengumpulkan manusia dari atas bukti Shafa, dan memanggil masyarakat baik dari Bani Firh, Bani ‘Adi, dan kalangan lainnya.

Tidak umumnya perilaku Nabi Saw ini, menghadirkan perasaan di masyarakat bahwa ada sesuatu yang serius yang akan diumumkan, sehingga orang-orang yang berhalangan untuk hadir sampai mengirimkan perwakilannya hanya untuk mendengar apa pengumuman yang akan disampaikan Nabi Saw. Setelah banyak masyarakat yang berkumpul, Nabi Saw mengumumkan satu berita penting sebagaimana Surat Al-Hijr [15] ayat 89,

Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Mendengar seruan dari Nabi Saw. yang tentu tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam alam pikiran mereka, dan tidak pernah disangka-sangka, namun karena datang dari manusia yang paling terpercaya, banyak yang kemudian mencoba memahami seruan tersebut kecuali Abu Lahab yang bersegera menolak secara terang-terangan dakwah Nabi.

Penolakan yang keras ini sampai menurunkan firman Allah Swt dalam Surat Al-Lahab [111].

Pasca pengumuman, turunlah Nabi Saw dari atas bukit dan ‘bersegera’ memulai dakwahnya kepada keluarganya yang terdekat seperti Bani Ka’b bin Lu’ai, Bani Murrah bin Ka’b, Bani Abdi Syams, Bani Abdul Muththalib, Fatimah, dan lainnya sebagaimana perintah yang khusus ini turun, meskipun perintah sejenis secara umum telah turun sebelumnya, memperlihatkan pentingnya mengkonsentrasikan dakwah kepada para keluarga. Allah Swt. berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara [25] ayat 214-215:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat;
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Surat ini diawali dengan kisah Nabi Musa a.s. dari awal nubuwwah hingga hijrahnya bersama Bani Israil hingga kisah tenggelamnya Fir’aun dan para pengikutnya.

Tahapan dakwah Musa a.s. perlu disampaikan agar Nabi Saw dan para sahabatnya mendapatkan sedikit gambaran yang bakal dihadapi pasca deklarasi dakwah terbuka.

Di sisi lain, surat ini juga memuat kesudahan yang dialami para pendusta Rasul, baik dari kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, Ibrahim, Luth, dan Ash-habul Aikah, agar masyarakat mengetahui hukuman yang bakal diturunkan jika mereka mendustakan, dan kesudahan baik bagi orang-orang beriman. [2]

Namun, cara berpikir mayoritas kaum musyrikin Makkah adalah berpegang teguh pada tradisi nenek moyang yang tidak mungkin mereka tinggalkan.

Semangat taqlid yang tinggi atas adat istiadat yang telah mereka pegang teguh sejak lama mengalahkan hakikat kebenaran yang hakiki.

Pemikiran seperti ini tentu bukan pemikiran yang cerdas, sementara Islam justru mendorong daya nalar dan kritis manusia atas segala sesuatu.

Dari sinilah kita menjadi paham, bahwa terminologi ‘tradisi’ bukanlah milik Islam, dan tidak sepantasnya kaum muslimin terbiasa menggunakan istilah ini, karena tradisi erat kaitannya dengan warisan turun temurun yang membutuhkan referensi kebenaran, sementara Islam hadir untuk membebaskan akal manusia dari ragam tradisi kepada ilmu yang datang dari-Nya.[3]

Ketika tradisi menjadi candu, maka ilmu menjadi obatnya. Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 170:

Dan apabila dikatakan kepada mereka:
“Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,”

Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.

“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Sebagian dampak permusuhan Nabi kepada berhala-berhala yang disembah, keteguhannya dalam memegang dasar iman yang tidak berkompromi dengan kemusyrikan pada akhirnya mulai melahirkan ujian yang berat, di antaranya penyiksaan kaum musyrikin terhadap kaum muslimin yang terus bertambah, sampai-sampai sebagian dari mereka wafat di dalam penyiksaan, atau terdapat juga yang buta karenanya. [4]

Ragam upaya kaum Musyrikin untuk menghentikan laju dakwah Nabi Saw. terus dilancarkan. Ketika Abu Thalib, pamannya sendiri meminta Nabi Saw. untuk menghentikan dakwahnya,

Nabi Saw. menjawab dengan tegas bahwa kemenangan Islam menjadi tujuan utamanya, atau mati dalam mendakwahnya, meskipun Matahari diletakkan di tangan kanannya dan Bulan diletakkan di tangan kirinya. Ketika Rasulullah thawaf di Makkah dan kemudian diganggu oleh beberapa orang kaum kafir, Rasulullah mendatangi dan balik memberi peringatan dengan tegas.

Ketika esok harinya, lebih banyak lagi kaum kafir hadir mengganggu Thawaf Nabi Saw., hingga Uqbah ibn Abi Mu’aith sampai memegang baju atau surban Nabi Saw., hadir Abu Bakar yang membubarkannya.

Ketika suatu ketika, sembari berpegangan tangan, Nabi Saw., Abu Bakar r.a. dan ‘Utsman bin ‘Affan r.a., berthawaf, kembali diganggu oleh Uqbah ibn Abi Mu’aith, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf, hingga terjadi perkelahian kecil dimana Utsman mendorong Abu Jahal, Abu Bakar melawan Umayyah dan Rasulullah Saw sendiri melawan Uqbah. [5]

Kebenaran Islam sejak awal didakwahkan secara terbuka adalah mendahulukan keilmiahan daripada mistisisme, apalagi materialisme.

Sosok ‘tetua’ seperti Al-Walid bin Al-Mughirah juga tidak menemukan kebenaran akan usulan para kafir Quraisy saat musim haji untuk menuduh Nabi Saw sebagai seorang dukun, orang gila, penyair, atau tukang sihir. Ia lebih memilh penyihir dalam pengertian majazi.

Namun kedudukan tinggi di mata masyarakat menjauhkan Al-Walid dari kebenaran, hingga Allah mengecam dengan turunnya Surat Al-Muddatstsir ayat 11-16, juga 17-22, dan 23-25.

Kebenaran inilah yang membuat Abu Thalib semakin kokoh dalam membela Nabi, meski ia ditawarkan untuk mengganti keponakannya dengan Imarah bin Al-Walid.

Kebenaran inilah yang membuat Hamzah bin Abdul Muththalib sampai memukul Abu Jahal, dan bersaksi sebagai Muslim.

Kebenaran inilah yang menjadikan Nabi Saw tegar dalam prinsipnya meski diiming-imingi harta, posisi pemimpin, raja, atau pengobatan atas ‘sakit gila’ beliau.

Namun Nabi Saw. hanya menjawab dengan Surat Fushshilat ayat 1-5, ayat yang membuat ‘Utbah bin Rabi’ah tidak bisa berkata-kata lain kecuali menikmati kebenaran yang hakiki.

***

Maraji’

1] Ibn Ishaq, Sirah Nabawiyah

2] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhthum, Bahtsum fi As-Sirah An-Nabawiyyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyadh: Dar As-Salam, 1414H

3] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh As-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihi shalatu wa salam, Libanon: Dar al-Fikr, 1977

4] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyyah, Kairo: Dar as-Salam

5] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa’ bi Ihwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyyah, 2004

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pilihan Dakwah Rahasia (سرّية الدعوة)

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Dakwah yang pertama kali dipilih oleh Rasulullah Saw atas perintah dakwah yang telah diturunkan adalah secara rahasia.

Pilihan ini dibuat berdasarkan kebutuhan masa awal pengembangan Islam untuk melahirkan kemaslahatan agama yang lebih besar.

Sejarah memperlihatkan bahwa pilihan itu adalah pilihan yang tepat.

Dakwah dengan segera telah dimulai Nabi Muhammad Saw. ketika turun Surat Al-Muzzamil

“Bangunlah, lalu berilah peringatan!”

 Ayat 1-7 dari surat ini memberikan pelajaran yang besar dalam dakwah, dan tujuh ayat ini diakhiri dengan perintah kesabaran.

Ayat-ayat ini merangkum seluruh hal mendasar yang dibutuhkan dalam kerja dakwah.[1]

1. Menjaga eksistensi agama jauh lebih utama dari sekedar eksistensi diri

Tentu dapat dibayangkan bahwa dakwah yang baru disemai ini harus lenyap karena kehilangan pengusungnya sementara infrastruktur kekuatan belum terbangun sama sekali.

Maka menjaga kemaslahatan yang lebih besar tentu jauh lebih diprioritaskan.

Tercatat dalam sejarah tokoh-tokoh yang masuk dalam asabiqunal awwalun, adalah Abu Bakar As-Shiddiq yang kemudian diikuti Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Demikian juga Khadijah Al-Kubra yang diikuti Zaid bin Haritsah, dan Waraqah bin Naufal.

Tidak lupa tokoh besar seperti Ali bin Abi Thalib,[2] dan Arqam bin Abi Arqam.

Maka masuklah kemudian golongan berikutnya seperti Bilal bin Rabah, Abu Ubaidan Amir bin Al Jarrah, Abu Salaman bin Abdul Asad, Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumy, Utsman bin Mazh’un dan kedua saudaranya, Qudamah dan Abdullah, Ubaidan bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah binti al-Khaththab al-Adawiyyah, Khabbab nin Al-Aratt, Abdullah bin Mas’ud, dan laiinya.[3]

2. Tabi’at Dakwah Para Nabi dan Rasul adalah diikuti oleh mayoritas lapisan akar rumput.

Dakwah para Nabi pada tahap awal lebih banyak disambut oleh masyarakat yang fakir, lemah dan bahkan kaum budak.[4]

Shuhaib ar-Rumi dan Bilal al-Habsyi adalah contoh paling tepat yang menyambut seruan Islam meski mereka berasal dari negeri asing.

Dalam hal ini kita dapat melihat sejarah dakwah Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Shaleh a.s.

Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 27,

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 137,

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.

Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”

Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 75-76,

“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka:
“Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”.

Mereka menjawab:
 “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.”

Ketika dakwah mulai diikuti 30 orang, Rasulullah Saw mulai menetapkan satu tempat untuk meningkatkan pembinaan Islam.

Maka dipilihlah rumah Arqam bin Abi Arqam yang juga telah masuk ke dalam Islam. Nabi membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang turun kepadanya.[5]

3. Tabiat Penolakan Kaum Elit adalah egoisme daripada penolakan kebenaran

Sebagai contoh dapat kita saksikan dalam peristiwa peperangan Al-Qadisiyah, khususnya menarik mencermati dialog Rustum (komandan Persia) dan Rub’i bin Amir (prajurit dalam komando Sa’ad bin Abi Waqqash).

Proses dakwah secara rahasia ini berlangsung selama kurang lebih 3 tahun,[6] sebelum kemudian dakwah secara terang-terangan nantinya diperintahkan Allah ketika jumlah kaum muslimin telah mencapai minimal 30 orang.

Turunlah firman Allah Swt dalam Surat Al-Hijr ayat 94.

Maraji’

1] Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsum fi As-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wassalam, Riyadh: Darussalam, 1414H

2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zaad al-Ma’ad, Jilid 3, Dar at-Taqwa lil Nasyr wa at-Tauzi’, 1999

3] Ibn Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah

4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1977

5] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, Cet. I, 1998
6] Ibnul Jauzi, Al-Wafa bi Ahwali al-Musthofa, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Jual Beli

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M Ag.

Pertanyaan:

Ustadz kalo per kayuan biasanya begini prosesnya :dari petani Pohon berdiri(kubikasi belum pasti) dijual ke Penebang,  dari penebang dipotong sehingga ukuran (kubikasi jelas), terus dijual ke Pangkalan harga per kubikasi,

Apakah aktivitas Beli Si Penebang termasuk yg dikharamkan ?

Kalo ini termasuk diharamkan… Siap meninggalkan profesi beli pohonnya,  ganti profesi

(I-09 Mustolih)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Menaksir harga kayu dari pohonnya yg sudah siap tebang, hukumnya boleh.

Karena objek akad jual belinya sudah ada (wujud) dan keberadaannya sdh jelas.

Adapun ukuran kubikasi yg belum jelas, tidak mengapa dengan syarat ada standar umum harga pohon berdasarkan ukurannya.

Misal utk pohon dgn diameter tertentu, maka harganya sekian, kalau diameter lebih besar, harga lebih tinggi, kalau lebih kecil harga lebih rendah.

Kemudian kualitas pohon lebih baik juga harga lebih tinggi dst.

Jadi, selama ada patokan umum boleh saja.

Yang tidak boleh adalah ketika pohonnya masih kecil diperjualbelikan dengan pengambilan pohonnya ketika sudah besar.

Maka kalau seperti itu tidak boleh, mengandung unsur gharar.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

NASEHAT AYAH KEPADA ANAK

Oleh: Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Anak adalah dambaan setiap sepasang manusia yang mengikat tali suci untuk meraih ridho Ilahi. Dengannya nasab Islam akan berlanjut, dengannya agama Rasulullah Saw insya Allah akan terus hidup, dan dengannya insya Allah, seluruh alam akan merasakan keberkahan hidup bersama seorang Muslim. Maka terlahirnya seorang anak bukanlah akhir dari sebuah cita-cita, melainkan awal dari sebuah pekerjaan besar nan mulia untuk menumpuk investasi jariyah yang nilainya amat tinggi, mengalahkan investasi materi di dunia.

Untuk inilah sebuah keluarga harus mencurahkan sepenuh jiwanya, bersama do’a kaum muslimin yang mengharapkan kebaikan, melahirkan sebuah proses berkesinambungan, tanpa harus bersedih jika hasil tidak sesuai dengan asa, karena Allah Sang Pencipta hanya akan menilai proses bukan hasil kerja.

Peran seorang ayah begitu penting sebagai imam dalam keluarga, sebagai panutan dalam tindakan, sebagai guru bagi murid-muridnya, yang tidak lain adalah isteri dan anak-anaknya. Begitu pentingnya peran seorang ayah, sehingga satu halaman Al-Qur’an secara khusus mengajarkan kepada seorang ayah nasihat apa yang pantas disampaikan kepada anak-anaknya pada kesempatan pertama seorang anak mampu untuk menyerap ilmu. Allah mengarahkan seorang ayah agar menjadi guru yang memberikan mau’izhoh (pelajaran) inti dan mendasar, agar dari lisannya pertama kali seorang anak mendengarkannya, bukan dari orang lain, meskipun orang lain itu seorang yang shalih, karena keshalihan utama dalam sebuah keluarga harus terpancar dari seorang imam keluarga.

Allah ‘Azza wa Jalla memilihkan sosok Luqman bin Anqa’ bin Sadun untuk menjadi teladan para ayah dalam bab ini, karena ia sosok panutan yang sangat pandai bersyukur akan nikmat-Nya, dan akan kita lihat bagaimana cara Luqman mensyukuri nikmat dikaruniai seorang anak, khususnya puteranya yang bernama Tsaran.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [Q.S. 31.12]

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. [Q.S. 31.13]

Inilah inti agama para Nabi, hakikat da’wah para Rasul, dan bangunan awal nan mendasar yang diletakkan di dasar jiwa setiap anak-anaknya. Ketika dasar ini tertanam kokoh dalam relung hati setiap manusia, niscaya pribadinya akan siap untuk menerima syari’at agama yang akan melahirkan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah).

Ayah melanjutkan pelajarannya dengan mengingatkan seorang anak untuk mencurahkan perhatiannya untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, wa bil khushus, ibunya. Seorang anak harus belajar mensyukur nikmat Allah, nikmat memiliki ayah dan ibu yang shalih dan shalihah.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [Q.S. 31.14]

Iman seorang anak adalah kepada Sang Pencipta, bukan kepada ayah dan ibunya. Kalaupun ia berbakti kepada orang tuanya, itu murni karena penghambaannya kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah, bukan karena orang tuanya. Oleh karenanya, ada kalanya orang tua tersimpangkan hidupnya mengkhianati imannya kepada Allah, maka syariat ini mengajarkan umatnya untuk tetap birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), dan mengedepankan akhlak yang mulia dalam bab mu’amalah sembari sentiasa berusaha mengingatkan untuk kembali ke jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim). Pelajaran ini harus disampaikan oleh seorang ayah.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Q.S. 31.15]

Keyakinan bahwa Allah sentiasa mengawasinya (muraqabatullah), memiliki kunci-kunci keghaiban sehinga mengetahui hingga hal-hal yang terkecil sekalipun, meskipun sehelai daun yang gugur, meskipun sebutir biji yang jatuh dalam kegelapan malam, meskipun ia tersimpan rapat di hati manusia. Allah telah menuliskannya di Lauh al-Mahfuzh, dan Allah akan memberikan balasan dengan Maha Sempurna dan Maha Adil. “(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 31.16]

Perhatikanlah, bagaimana taujih rabbani Allah kepada seorang ayah untuk membangun kekuatan jiwa seorang anak. Saat kekuatan jiwa itu telah kokoh, barulah ayah mengajarkan dan membiasakan seorang anak tata cara ibadah yang benar sebagai wujud syukur, dan kunci semua ibadah adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab, dan menentukan apakah amalah kebaikan lainnya akan dihisab ataukah tidak tergantung baiknya shalat. Maka seorang anak diajarkan untuk tidak sekedar memahami bahwa shalat adalah kewajiban, akan tetapi shalat harus dinikmati, dinanti, dan dirindukan. Ia menjadi sarana seorang manusia untuk berkhalwat kepada Sang Pencipta, realisasi mi’raj ruhani. Kehidupan adalah waktu yang disiapkan Allah untuk menegakkan shalat, dan sembari menunggu waktu shalat, manusia mengisi waktunya dengan bekerja, belajar, mengajar, dan berdakwah, bukan sebaliknya, bukan shalat yang menanti dirinya. Persepsi seperti inilah yang akan melahirkan pribadi yang mampu shalih tidak hanya di dalam masjid, tetapi dalam seluruh praktik kehidupannya di luar masjid.

“Hai anakku, dirikanlah salat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Q.S. 31.17]

Kesombongan, menolak kebenaran dan merendahkan manusia, tidak mungkin akan terlahir dari pribadi yang kokoh dasar imannya dan terlatih dalam kesinambungan ibadah yang benar. Maka tidak akan sulit bagi seorang ayah mengajarkan ilmu ini kepada anaknya, anak  yang akan semakin tawadhu’ seiring ilmu yang semakin banyak yang ia terima, anak yang tidak memilih-milih sahabat kecuali karena pertimbangan keshalihannya, anak yang bagus tutur katanya, karena memiliki motivasi hidup yang benar, yang akan menyuntikkannya energi asa yang tak pernah putus, bahkan berlimpah sehingga mampu dibaginya kepada alam semesta.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Q.S. 31.18] “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [Q.S. 31.19].

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Pengecualian Dalam Jual Beli

Oleh: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Hadits Nabawi

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالثُّنْيَا إلاَّ أَنْ تُعْلَمَ (رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ )

Dari Jabir bin Abdillah ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW melarang jual beli muhaqalah, jual beli muzabanah dan jual beli dengan pengecualian, kecuali apabila (pengecualiannya) diketahui.’

(HR. Nasa’I dan Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Tirmidzi)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a Fin Nahyi an At-Tsunya, hadits no 1211.

Imam Syaukani mengemuka kan bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’I. juga oleh Imam Muslim dengan lafafdz, bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli dengan pengecualian.

Imam Syaukani juga mengemukakan bahwa Ibnu Jauzi keliru dalam takhrij hadits ini, beliau mengira bahwa hadits ini adalah muttafaqun alaih (dispekati oleh Imam Bukhari dan Muslim), sementara Imam Bukhahi sama sekali tidak mentakhrij hadits ini dalam shahihnya.

Makna Umum Hadits

Hadits ini menggambarkan tentang adanya larangan dalam muamalah, yaitu :
Bai’ Muhaqalah
Bai’ Muzabanah
Bai’ Tsunya

Larangan – larangan dalam muamalah ini sejatinya tidak bertujuan untuk menyulitkan umat Islam, namun adalah dalam rangka untuk menjaga kemaslahatan dan keselarasan dalam kehidupan.

Larangan tersebut dimaksudkan supaya tidak saling merugikan, tidak saling menipu dan membohongi, tidak saling bermuhushan karena sesuatu yang tidak diketahui pada objek jual beli, dsb.

1. Makna Muhaqalah

Makna Bai’ (jual beli) Muhaqalah adalah mencakup jual beli sebagai berikut :

– Jual beli makanan yang masih berada di pohonnya di dalam ladang dengan ukuran yang tertentu.

– Jual beli makanan (buah-buahan/ gandum) yang masih berada di tangkai pohonnya.
Berasal dari kata haql yang berarti pengolahan tanah (pembajakan) dan lahan untuk bercocok tanam. (Abu Ubaid)

– Jual biji gandum yang masih berada di tanaman (misalnya yang terdapat dalam seratus pohon yang terpisah-pisah). (Jabir ra)

– Jual beli makanan pokok yang masih berada di pohonnya (seperti gandum, dsb) sebelum jelas atau terlihat buahnya secara jelas.

Kesimpulan

Muhaqalah adalah jual beli makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (umumnya makanan pokok seperti gandum, beras, dsb) yang masih berada di tangkai pohonnya (bahkan terkadang masih belum terlihat buahnya) dan dengan ukuran dan takaran yang tidak jelas (seperti menggunakan ukuran jumlah pohon, ukuran luas area kebun atau sawah tempat ditanaminya pohon-pohon tersebut).

Jual beli seperti ini merupakan jual beli yang terlarang, bahkan Imam Syaukani dengan jelas mengatakan :

وهو يدل على تحريم المحاقلة والمزابنة

Hadits di atas menunjukkan haramnya jual beli muhaqalah dan muzabanah.

2. Makna Muzabanah

Sedangkan secara bahasa berasal dari kata (زبن) yang berarti mendorong dengan keras.

Oleh karenanya, perang disebut juga zabun, karena di dalam perang, seseorang mendorong musuhnya dengan keras.

Sedangkan secara istilah, bai’ muzabanah merupakan transaksi jual beli yang mencakup sebagai berikut :

– Jual beli dimana salah satu pihak baik penjual maupun pembeli ingin membatalkan transaksinya karena adanya tipuan dalam transaksinya sementara pihak lainnya memaksa untuk meneruskan transaksinya tersebut.

– Jual beli kurma basah (yang masih berada di tangkai di pohonnya) dengan beberapa wasaq  (ukuran timbangan Arab) tamar (kurma kering).

– Atau jual beli anggur yang masih basah dengan anggur kering (kismis).

– Jual beli sesuatu yang majhul (tidak diketahui) ataupun yang ma’lum (diketahui) dari jenis barang yang sama, di mana di dalamnya terdapat unsur riba (seperti takaranannya tidak sama).

– Jual beli sesuatu tanpa ditimbang yang tidak diketahui takarannya, timbangannya dan jumlahnya, baik yang di dalamnya terdapat unsur riba maupun tidak. (Imam Malik)

– Jual beli semua jenis buah-buahan yang masih terdapat di pohonnya dengan kurma kering yang ditimbang.

– Jual beli rutob (kurma basah) yang masih berada di pohon dengan kurma kering.

Kesimpulan :

Jual beli Muzabanah adalah jual beli yang merugikan salah satu pihak, (seperti dengan cara paksaan atau keterpaksaan) dimana umumnya terjadi dalam bentuk barter antara barang sejenis (seperti antara kurma basah yang masih ada di tangkainya di pohonnya dengan kurma kering yang sudah siap dimakan, atau antara anggur basah yang masih terdapat di pohonnya dengan anggur kering yang sudah diolah seperti kismis) dengan takaran dan timbangan yang umumnya tidak diketahui dengan jelas, atau timbangannya diktahui dengan jelas, namun menimbulkan riba.

3. Hukum Bai’ Muhaqalah & Muzabanah

Ulama sepakat akan haramnya jual beli Muhaqalah dan Muzabanah.
Bai’ muhaqalah diharamkan karena mengandung unsur:

(1) gharar yaitu ketidak jelasan ukuran dan timbangan makanan yang diperjual belikan tersebut dan karena adanya unsur

(2) tidak bisa diserah terimakan pada saat terjadinya akad.

Bai’ Muzabanah diharamkan karena mengandung unsur:

(1) paksaan atau keterpaksaan,

(2) gharar, yaitu ketidakjelasan ukuran dan takarannya,

(3) adanya unsur riba di dalamnya, karena menukar barang sejenis dengan takaran dan timbangan yang tidak sama.

4. Transaksi Kontemporer Yang Menyerupai Muhaqalah atau Muzabanah

Pada Transaksi Muhaqalah

Seperti jual beli ijon, dimana seorang pembeli menawar mangga yang masih kecil bahkan terkadang masih berwujud bunga yang terdapat di dalam pohonnya, dengan harga Rp 500.000,- satu pohon yang akan diambil ketika mangganya sudah besar dan matang.

Pada Transaksi Muzabanah :

Seperti seorang suplayer menjual barang kepada satu perusahaan, lalu dibayar dengan cek atau sertifikat uang namun baru bisa dicairkan pada dua bulan mendatang.

Nah, karena ia butuh uang cash, maka ia jual sertifikat uang tersebut atau cek tersebut kepada orang lain dengan harga yang lebih rendah dari nominal uang yang tertera di dalam ceknya.

5. Bai’ Tsunya

Tsunya secara bahasa berarti sesuatu yang dikecualikan, berasal dari kata (الإستثناء) yaitu pengecualian.

Sedangkan pengertiannya secara umum adalah sebagai berikut:

– Menjual suatu barang tertentu (baik makanan, tanaman, tanah, rumah, hewan ternak, dsb), yang dilakukan dengan cara ada yang dikecualikan dari barang-barang tersebut, dan yang dikecualikan tidak diketahui atau tidak disepakati.

Seperti seseorang berkata, aku jual tanah ini kepadamu, kecuali sebagiannya (tanpa menyebutkan bagian mana yang dikecualikan).

Imam Syaukani mengemukakan bahwa jual beli tsunya adalah transaksi yang tidak sah, karena mengandung unsur jahalah (ketidak tahuan) objek akadnya dan gharar (adanya ketidakjelasan) terhadap objek akad.

Sehingga ketika terjadi ketidakjelasan, pembeli tidak bisa mengetahui bagian manakah dari tanah tersebut yang sudah menjadi miliknya dan mana yang belum menjadi miliknya.
Karena pengecualiannya tidak jelas.

Adapun apabila yang dikecualikan adalah jelas, seperti penjual berkata, aku jual tanah ini kepada mu seluas 1000 m2, kecual 200 m2 (20 X 10) yang terletak di bagian sebelah depan paling kanan.

Apabila pengecualiannya jelas, maka ulama sepakat bahwa hukumnya adalah boleh dan transaksinya sah.

Kesimpulan

Dalam hadits ini, Nabi SAW melarang tiga bentuk jual beli yaitu sebagai berikut :

Bai’ Muhaqalah, yaitu jual beli makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (umumnya makanan pokok seperti gandum, beras, dsb) yang masih berada di tangkai pohonnya dengan ukuran dan takaran yang tidak jelas (seperti menggunakan ukuran jumlah pohon, ukuran luas area kebun atau sawah tempat ditanaminya pohon-pohon tersebut.

Bai’ Muzabanah, yaitu jual beli yang merugikan salah satu pihak, terjadi dalam bentuk barter antara barang sejenis (seperti antara kurma basah yang masih ada di tangkainya di pohonnya dengan kurma kering yang sudah siap dimakan) dengan takaran dan timbangan yang umumnya tidak diketahui dengan jelas, atau timbangannya diketahui dengan jelas, namun menimbulkan riba.

Bai’ Tsunya, yaitu Menjual suatu barang tertentu (baik makanan, tanaman, tanah, rumah, hewan ternak, dsb), yang dilakukan dengan cara ada yang dikecualikan dari barang-barang tersebut, dan yang dikecualikan tidak diketahui atau tidak disepakati.

Ketiga transaksi tersebut dilarang secara syariah, karena mengandung unsur jahalah (ketidaktahuan), gharar (ketidakjelasan), merugikan salah satu pihak yang berakad, tidak bisa diserahterimakan pada saat akad, dan juga bahkan mengandung unsur riba.

Pelarangan syariah terhadap bentuk-bentuk jual beli atau transaksi tertentu adalah dalam rangka menjaga kemasalahatan kaum muslimin, agar terhindar dari kesalahpahaman yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah

Serta agar umat Islam mendapatkan rizki yang halal dan thayib. Karena harta yang kotor tidak akan diterima oleh Allah dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari transaksi yang diharamkan syariah.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…