Menyikapi Kenaikan Harga Kebutuhan Kita

Oleh: Dr. Wido Supraha

Bagaimana cara menanggapi kenaikan harga rumah yg tidak berbanding lurus dengan  kenaikan penghasilan..

Bagaimana sebaiknya? Apakah masih boleh meminjam ke bank dengan mminimalisir meminjam ke bank syariah atau memang tdk boleh sama sekali?

#riba

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim,

Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quran yg begitu keras berbicara tentang hukuman kemaksiatan kecuali ketika berbicara tentang riba, dimana Allah Swt langsung yang akan memeranginya, sebagaimana firman-Nya,

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. 2:279)

Tentu ini merupakan ancaman terberat bagi manusia, makhluknya yg sangat lemah.

Di sisi lain, Allah Swt menghadirkan keberkahan hidup bagi manusia yang istiqomah di jalan-Nya. Dalam beberapa pengalaman penulis yang terbatas, penulis menemukan ragam kesulitan hidup yang dirasakan oleh mereka yang menggunakan akad ribawi, akad yang dibenci Allah Swt.

Maka, hendaknya kita menjaga seluruh muamalah dari seluruh bentuk akad yang tidak diridhoi-Nya, agar lahir keberkahan, agar pintu langit tidak tertutup dari seluruh doa-doa yang kita munajatkan, di atas keyakinan bahwa di balik seluruh pilihan kebaikan atas dasar ketaqwaan manusia ada kehidupan yang indah,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. 16:97)

Maka sentiasalah kita berdoa,

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Jadikanlah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan bagiku dan kematian sebagai istirahatku dari segala
keburuk-an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Insya Allah, ada begitu banyak cara Allah menghadirkan solusi kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak menutup pintu pertolongan-Nya karena kita butuh pertolongan-Nya saja.

Wallahu a’lam.

Hal- Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat (Bag. 1)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Ini adalah aktivitas yang dibenci jika dilakukan di dalam shalat, walau tidak membatalkannya, tetapi hendaknya ditinggalkan demi kesempurnaan shalat kita.

1. Menggerakan Gerakan Tubuh dan Memainkan Pakaian Tanpa Keperluan yang Benar

عن معيقب قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن مسح الحصى في الصلاة فقال: (لا تمسح الحصى وأنت تصلي فإن كنت لابد فاعلا فواحدة: تسوية الحصى) رواه الجماعة.
📌Dari Mu’aiqib, dia berkata: Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang meratakan kerikil ketika shalat. Maka Beliau menjawab: “Janganlah meratakan kerikil ketika shalat, tapi jika terpaksa meratakannya, cukuplah dengan meratakannya sekali hapus saja.” (HR. Muslim No. 546, dan lainnya)

Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahihnya, dengan judul Karahah Masaha Al Hasha wa Taswiyah At Turab fi Ash Shalah (Makruhnya Mengusap Kerikil dan Meratakan Tanah ketika Shalat).

Riwayat lain:
وعن أبي ذر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قام أحدكم إلى الصلاة فإن الرحمة تواجهه فلا يمسح الحصى) أخرجه أحمد وأصحاب السنن.
Dari Abu Dzar, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika salah seorang kalian mendirikan shalat, maka saat itu dia sedang berhadapan dengan rahmat (kasih sayang), maka janganlah dia meratakan kerikil.” (HR. At Tirmidzi No. 379, Abu Daud No. 945, Ahmad No. 21330, 21332, 21448, 21554, Ibnu Majah No. 1027,  Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd No. 1185, Ibnu Khuzaimah No. 913, 914, Ad Darimi No. 1388, Ibnu Hibban No. 2273, Al Baghawi No. 663, Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 1804, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 1427)

 Imam At Tirmidzi menghasankan hadits ini, dan diikuti oleh Imam Al Baghawi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya memungkinkan untuk dihasankan. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 35/259).Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar menshahihkannya. (Bulughul Maram Hal. 48. Darul Kutub Al Islamiyah)
Adapun Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jami’ No. 613,Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 1001, dan lainnya)

Penyebab terjadinya perbedaan dalam menilai hadits ini adalah disebabkan adanya seorang rawi bernama Abu Al Ahwash. Tidak ada orang yang meriwayatkan darinya kecuali Imam Az Zuhri, dan Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat (Orang-Orang Terpercaya).

Sedangkan Imam An Nasa’i mengatakan: kami tidak mengenalnya.  Imam Ibnu Ma’in mengatakan:dia bukan apa-apa. Imam Yahya bin Al Qaththan mengatakan: tidak diketahui keadaannya. Begitu pula Imam Al Hakim: “Laisa bil matiin ‘indahum – Tidak kuat menurut mereka (para ulama).” (Tahqiq Musnad Ahmad No. 35/259)

Dari Ummu Salamah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang bernama Yasar yang ketika shalat meniup-niup tanah.
ترب وجهك لله
“Perdebukanlah wajahmu untuk menyembah Allah.” (HR. Ahmad No. 26572)

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:  sanadnya jayyid/baik. (Fiqhus Sunnah, 1/268)
Syaikh Al Albani mengoreksi Syaikh Sayyid Sabiq dengan mengatakan:
كلا ليس بجيد فإن فيه عند أحمد وغيره أبا صالح مولى آل طلحة ولا يعرف كما قال الذهبي وأشار الحافظ إلى أنه لين الحديث
“Tidak, hadits ini tidak jayyid, karena di dalamnya –pada riwayat Ahmad dan selainnya- terdapat Abu Shalih pelayan keluarga Thalhah, dan dia tidak dikenal sebagaimana dikatakan Adz Dzahabi, dan Al Hafizh (Ibnu Hajar) mengisyaratkan bahwa hadits ini layyin (lemah).” (Tamamul Minnah Hal. 313)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga mengatakan: isnaaduhu dhaif- isnadnya lemah. (Tahqiq Musnad Ahmad, 44/196)

2. Bertolak Pinggang

عن أبي هريرة قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الاختصار في الصلاة.
رواه أبو داود وقال: يعني يضع يده على خاصرته.
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang bertolak pinggang ketika shalat.” (HR. Muslim No. 545, Abu Daud No. 947, dia berkata: yaitu meletakkan tangan di atas pinggangnya. Ad Darimi No. 1428, Ibnu Hibban No. 2285. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 947, dan hadits ini menurut lafaz Abu Daud )

Imam At Tirmidzi mengatakan:
وقد كره قوم من أهل العلم الاختصار في الصلاة. والاختصار هو أن يضع الرجل يده على خاصرته في الصلاة. وكره بعضهم أن يمشي الرجل مختصرا ويروى أن إبليس إذا مشى يمشي مختصرا.
“Sekelompok ulama telah memakruhkan bertolak pinggang ketika shalat. Bertolak pinggang adalah seseorang yang meletakkan pinggangnya ketika shalat. Sebagian mereka memakruhkan seseorang yang berjalan sambil bertolak pinggang. Diriwayatkan bahwa Iblis jika berjalan dia sambil bertolak pinggang.”(Sunan At Tirmidzi No. 381)

Sementara Imam An Nawawi Rahimahullah menuliskan:
قِيلَ : نَهَى عَنْهُ لِأَنَّهُ فِعْل الْيَهُود . وَقِيلَ : فِعْل الشَّيْطَان . وَقِيلَ : لِأَنَّ إِبْلِيس هَبَطَ مِنْ الْجَنَّة كَذَلِكَ ، وَقِيلَ : لِأَنَّهُ فِعْلُ الْمُتَكَبِّرِينَ .
“Disebutkan: hal itu dilarang karena merupakan perbuatan Yahudi. Disebutkan: perbuatan syetan. Disebutkan pula: karena iblis diusir dari surga dengan seperti itu. Dikatakan pula: itu adalah perilaku orang sombong. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/310. Mawqi’ Ruh Al Islam)

3. Menengadahkan Wajah Ke Langit-Langit

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم: (لينتهين أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في الصلاة أو لتخطفن أبصارهم)
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaknya orang-orang itu menghentikan perbuatannya menengadahkan pandangan ke langit ketika shalat, atau jika tidak, niscaya tercungkillah mata mereka!” (HR. Muslim No. 428, Abu Daud No. 912, Al Baihaqi, As Sunannya No. 3351, Abu Ya’ala No. 7473,  Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 58/3, hadits ini diriwayatkan melalui berbagai sahabat dengan redaksi yang sedikit berbeda, yakni dari Abu Hurairah, Anas, dan Jabir bin Samurah)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:
فِيهِ النَّهْي الْأَكِيد وَالْوَعِيد الشَّدِيد فِي ذَلِكَ وَقَدْ نَقَلَ الْإِجْمَاع فِي النَّهْي عَنْ ذَلِكَ . قَالَ الْقَاضِي عِيَاض : وَاخْتَلَفُوا فِي كَرَاهَة رَفْع الْبَصَر إِلَى السَّمَاء فِي الدُّعَاء فِي غَيْر الصَّلَاة فَكَرِهَهُ شُرَيْح وَآخَرُونَ ، وَجَوَّزَهُ الْأَكْثَرُونَ ، وَقَالُوا : لِأَنَّ السَّمَاء قِبْلَة الدُّعَاء كَمَا أَنَّ الْكَعْبَة قِبْلَة الصَّلَاة ، وَلَا يُنْكِر رَفْع الْأَبْصَار إِلَيْهَا كَمَا لَا يُكْرَه رَفْع الْيَد . قَالَ اللَّه تَعَالَى : { وَفِي السَّمَاء رِزْقكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ } .
“Dalam hadits ini terdapat larangan yang kuat dan ancaman yang keras atas perbuatan itu. Dan telah dinukil adanya ijma’ (konsensus) atas larangan hal tersebut. Berkata Al Qadhi ‘Iyadh: para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu shalat. Syuraih dan lainnya memakruhkan hal itu, namun mayoritas ulama membolehkannya. Mereka mengatakan: karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana ka’bah adalah kiblatnya shalat, dan tidaklah diingkari menengadahkan pandangan kepadanya sebagaimana tidak dimakruhkan pula mengangkat tangan (ketika berdoa). Allah Ta’ala berfirman: “Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sementara Imam Ibnu Bathal Rahimahullah menerangkan:
العلماء مجمعون على القول بهذا الحديث وعلى كراهية النظر إلى السماء فى الصلاة ، وقال ابن سيرين : كان رسول الله مما ينظر إلى السماء فى الصلاة ، فيرفع بصره حتى نزلت آية إن لم تكن هذه فما أدرى ما هى : ( الذين هم فى صلاتهم خاشعون ) [ المؤمنون : 2 ] ، قال : فوضع النبى رأسه .
“Ulama telah ijma’ bahwa hadits ini merupakan dasar bagi pendapat makruhnya memandang langit ketika shalat. Ibnu Sirin mengatakan: Bahwa Rasulullah pernah memandang ke langit ketika shalat, Beliau menaikan penglihatannya sehingga turunlah ayat yang jika hal ini tidak terjadi saya tidak tahu apa maksud ayat: “Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mu’minun (23): 2), dia berkata: “Maka Rasulullah menundukkan kepalanya.” (Imam Ibnu Bathal, Syarh Shahih Bukhari, 2/364. Cet. 3. 2003M-1423H. Maktabah Ar Rusyd, Riyadh)

4. Melihat Sesuatu Yang Dapat Melalaikan

عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في حميصة لها أعلام  فقال: (شغلتني أعلام هذه، اذهبوا بها إلى أبي جهم   واتوني بأنبجانيته)   رواه البخاري ومسلم.
Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat memakai pakaian berbulu yang bergambar, lalu dia bersabda: “Gambar-gambar ini mengganggu pikiranku, kembalikan ia ke Abu Jahm, tukar saja dengan pakaian bulu kasar yang tak bergambar.”  (HR. Bukhari No. 752,  Muslim No. 556)

عن أنس قال: كان قرام لعائشة   سترت به جانب بيتها فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم: (أميطي قرامك، فإنه لا تزال تصاويره تعرض لي في صلاتي
Dari Anas, dia berkata: ‘Aisyah punya tirai tipis yang dipasang di depan pintu rumahnya maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda: Turunkanlah tiraimu itu, karena gambar-gambarnya menggangguku dalam shalatku.” (HR. Bukhari No. 367, 5614)

            Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

وفي هذا الحديث دليل على أن استثبات الخط المكتوب في الصلاة لا يفسدها.
“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa memakai pakaian bergambar tidaklah membatalkan shalat.”(Fiqhus Sunnah, 1/269. Darl Kitab Al ‘Arabi)
Ya,   namun hal itu makruh lantaran berpotensi merusak kekhusyukan shalat.

Bersambung…

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tadabbur QS. Al-Haqqoh (Bag.2)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

materi sebelumnya http://www.iman-islam.com/2016/01/qs-al-haqqoh-bag-1.html

Sebaliknya, ”adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. telah hilang kekuasaanku daripadaku.”  (QS. 69: 25-29)

Sebuah prediksi yang salah. Jika pada saat mereka di dunia, harta dan kekuasaan sangat mereka banggakan. Tapi keduanya tak lagi mendatangkan manfaat saat hari penghitungan amal dilakukan. Akibatnya mereka pun menanggung malu yang luar biasa saat buku catatan amal dibagikan. Apalagi mereka menerimanya dengan tangan kiri, atau bahkan dilempar. Keduanya merupakan pertanda yang tidak baik. Bahkan buruk kesudahannya. Bahkan mereka berharap cepat mati dan takkan dibangkitkan lagi ([8]). Kata al-qâdhiyah adalah kematian atau kemusnahan yang tidak ada kehidupan lagi sesudahnya. Padahal ketika di dunia mereka berharap untuk hidup selamanya dan sangat takut dengan kematian.

”Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta”  (QS. 69: 29-32)

Khusus penyebutan kata ”70 hasta”, Ibnu Abbas memiliki penakwilan. Bagi orang arab ketika mengambarkan jumlah yang banyak dengan bilangan 70. Sedangkan Abu Hayyan mengatakan, bilangan tersebut bisa saja benar seperti itu, atau hasta malaikat atau hanya sekedar untuk mubalaghah seperti yang dikatakan Ibnu Abbas ([9]).

Selama di dunia mereka telah melakukan dua buah jenis ”khati`ah”. Satu kesalahan terhadap Allah dengan mendustakan-Nya. Dan satu lagi kesalahan terhadap sesamanya. Bakhil dan menyebarkan kebakhilan.

”Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin”. (QS. 69: 33-34)

Orang yang tak beriman pada Allah segala amal kebaikannya yang lain pun akan menjadi sia-sia. Demikian sebaliknya, orang yang mengaku beriman pada Allah tapi perilaku sosialnya sangat buruk, seperti menyakiti dan tidak menolong kaum fakir miskin, maka sama saja seperti orang munafik yang mendustai keyakinannya dengan berpura-pura.

Maka orang yang ideal adalah orang yang menggabungkan kedua unsur kebaikan di atas, yaitu kebaikan vertikal ( hablum minalLâh), dan kebaikan horizontal (hablum minannâs).

Al- Qur’an Sebagai Wahyu dan Pedoman Hidup

Untuk sebuah pengukuhan, tidak tanggung-tanggung Allah bersumpah dengan segala ciptaan-Nya yang ada. Baik yang bisa dilihat manusia ataupun yang tidak nampak oleh kasad mata.

”Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan dengan apa yang tidak kamu lihat.   Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia”. (QS. 69: 38-39)

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kisah Umar bin Khattab ketika sedang mengintai Nabi Muhammad yang sedang shalat di depan ka’bah ([10]). Saat beliau membaca al-Qur’an Umar membatin ini adalah perkataan seorang penyair. Nabi Muhammad membaca ayat ke-41.

”Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya”

Umar tersentak. Kemudian dia berpikir Muhammad adalah tukang tenung yang tahu pikiran manusia. Nabi Muhammad melanjutkan ayat berikutnya.

”Dan bukan pula perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya”

Umar terdiam. Benih-benih hidayah mulai bersemai dalam hatinya. Dan akhirnya kita mengetahui kisah keislamannya setelah sebelumnya menggerebek kediaman adiknya, Fatimah yang sedang belajar al-Qur’an dan Umar kemudian menangis setelah Fatimah membacakan surat Thâha.

Karena memang, ”Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”  (QS. 69: 43) dan wahyu tersebut merupakan pedoman bagi para manusia. Bahkan, Allah pun memberi ancaman jika Nabi Muhammad mengada-ada dan mengatakan apa yang bukan diwahyukan Allah sebagai wahyu-Nya.

”Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya” (QS. 69: 44-46)

Dan hanya orang yang mendapat hidayah saja yang mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. ”Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.69: 48). Allah juga Maha Tahu bahwa pasti selalu ada di antara makhluk-Nya yang mendustakan risalah-Nya. Tapi kelak semua itu berujung penyesalan yang tak tergambarkan. ”Dan Sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat)”. (QS. 69: 49-50)

Penutup: Bertasbihlah; Raihlah Prestasi

Kembali Allah mengingatkan kita untuk bertasbih kepada-Nya di akhir surat ini. ”Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha besar”  (QS. 69: 52). Karena tasbih sebagai bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah yang menurunkan Al-Qur’an sekaligus sebagai penyucian diri dari kealpaan, kelalaian dan akan semakin menjadikan Allah bersimpati dan menyayangi kita.

Semoga kita dapat menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan pelajaran sehingga hidup kita makin terarah mendekat kepada ridho dan cinta-Nya. Amin.

—————————————————————————-

([1]) kata al-Hâqqah hanya disebut tiga kali dalam surat ini saja (lihat: Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur”an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 695)

([2]) Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Jarir ath-Thabary dalam tafsirnya Jâmi’u al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Vol. XXIV, hal. 58. Juga disebut oleh Imam al-Qurthuby (al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Vol. IX, hal.468)

([3]) Syiekh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 257-258

([4]) sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, dan muridnya Qatadah (lihat: Imam al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Cairo: Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vil. IV, hal.355)

([5]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol.IV, hal. 535

([6]) Seperti pendapat Imam Ath-Thabary, al-Wahidy, al-Baghawy, al-Qurthuby, dan al-Alusy (lihat: tesis penulis,Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Vol. II, hal. 695)

([7]) Lihat ayat 37 (Surat al-Hâqqah)

([8]) lihatlah harapan mereka yang direkam Allah dalam ayat 27.

([9]) Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf, Tasfir al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2001 M/1422 H, Vol.VIII, 320

([10]) Imam Ibnu Katsir, Op.Cit, Vol. IV, hal 540-541

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Aqiqah Dengan Sapi?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan
       
Pertanyaan I-02

Mau tanya apa bisa sapi dijadikan aqiqah untuk anak?

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulilllah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

Sebagian ulama membolehkan AQIQAH dengan menggunakan jenis hewan sebagaimana qurban, yaitu An Na’am, seperti Unta, Sapi, dan Kambing.
Tertulis dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, sebagai berikut:

يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ الْجِنْسُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأُْضْحِيَّةِ ، وَهُوَ الأَْنْعَامُ مِنْ إِبِلٍ وَبَقَرٍ وَغَنَمٍ ، وَلاَ يُجْزِئُ غَيْرُهَا ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْحَنَفِيَّةِ ، وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ أَرْجَحُ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَمُقَابِل الأَْرْجَحِ أَنَّهَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ مِنَ الْغَنَمِ .وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُجْزِئُ فِيهَا الْمِقْدَارُ الَّذِي يُجْزِئُ فِي الأْضْحِيَّةِ وَأَقَلُّهُ شَاةٌ كَامِلَةٌ ، أَوِ السُّبُعُ مِنْ بَدَنَةٍ أَوْ مِنْ بَقَرَةٍ .وَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ يُجْزِئُ فِي الْعَقِيقَةِ إِلاَّ بَدَنَةٌ كَامِلَةٌ أَوْ بَقَرَةٌ كَامِلَةٌ

“Aqiqah sudah mencukupi dengan jenis hewan yang sama dengan qurban, yaitu jenis hewan ternak seperti Unta, Kerbau, dan Kambing, dan tidak sah selain itu. Ini telah disepakati oleh kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, dan ini menjadi pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat kalangan Malikiyah, yang diutamakan adalah bahwa tidak sah kecuali dari jenis hewan ternak. Kalangan Syafi’iyah mengatakan: telah sah aqiqah dengan hewan yang seukuran dengan hewan yang telah mencukupi bagi qurban, minimal adalah seekor kambing yang telah sempurna, atau sepertujuh dari Unta atau Sapi.

Kalangan Malikiyah dan Hanabilah mengatakan: tidak sah aqiqah kecuali dengan Unta dan Sapi yang telah sempurna.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 30/279)
Imam Ibnul Mundzir membolehkan Aqiqah dengan selain kambing, dengan alasan:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari No. 5154. At Tirmidzi No. 1551 Ibnu Majah No. 3164. Ahmad No. 17200)

Menurutnya, hadits ini tidak menyebutkan kambing, tetapi hewan secara umum, jadi boleh saja dengan selain kambing.

Tetapi, pendapat yang mengatakan bolehnya aqiqah dengan selain kambing telah dikoreksi oleh para ulama muhaqqiq (peneliti), pendapat tersebut dianggap lemah dan telah diingkari oleh orang-orang mulia.

Sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut:

عن ابن أبى مليكة يقول نفس لعبد الرحمن بن أبى بكر غلام فقيل لعائشة رضى الله عنها يا ام المؤمنين عقى عليه أو قال عنه جزورا فقالت معاذ الله ولكن ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم شاتان مكافأتان

Dari Ibnu Abi Malikah ia berkata: Telah lahir seorang bayi laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakan kepada ‘Aisyah: “Wahai Ummul Mu’minin, adakah aqiqah atas bayi itu dengan seekor unta?”. Maka ‘Aisyah menjawab: “Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, dua ekor kambing yang sepadan.” (HR. Ath Thahawi, Musykilul Atsar, No. 871, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19063.

Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’, 4/390)
Ini adalah riwayat pengingkaran yang sangat tegas bagi orang yang menggantikan Kambing dengan yang lainnya, sampai-sampai ‘Aisyah mengucapkan Ma’adzallah! (Aku berlindung kepada Allah).

Riwayat ini menjadi pembatal bagi siapa saja yang mencoba-coba mengganti hewan aqiqah menjadi Sapi atau Unta.
Dalam riwayat lain, dari ‘Atha Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

قالت امرأة عند عائشة لو ولدت امرأة فلان نحرنا عنه جزورا قالت عائشة : لا ولكن السنة عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة

Seorang wanita berkata di hadapan ‘Aisyah: “Seandainya seorang wanita melahirkan fulan (anak laki-kaki) kami menyembelih seekor unta.” Berkata ‘Aisyah: “Jangan, tetapi yang sesuai sunah adalah buat seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya No. 1033)

Oleh karena itu, dengan tegas berkata Imam Ibnu Hazm Rahimahullah:

ولا يجزئ في العقيقة الا ما يقع عليه اسم شاة إما من الضأن واما من الماعز فقط، ولا يجزئ في ذلك من غير ما ذكرنا لا من الابل ولامن البقر الانسية ولامن غير ذلك

“Tidaklah sah aqiqah melainkan hanya dengan apa-apa yang dinamakan dengan kambing (syatun), baik itu jenis kambing benggala atau kambing biasa, dan tidaklah cukup hal ini dengan selain yang telah kami sebutkan, tidak pula jenis unta, tidak pula sapi, dan tidak pula lainnya.” (Al Muhalla, 7/523. Darul Fikr)

Ini juga menjadi pendapat yang masyhur dari Imam Malik, bahwa tidak sah aqiqah dengan selain kambing. (Syarh An Nail wa Syifa Al ‘Alil, 4/539)

Begitu pula seorang ‘alim kontemporer, Syaikh Al Albani Rahimahullah:

و قولها ” لا ” ، فإنه صريح في أنه لا تجزي العقيقة بغير الغنم

Dan ucapan ‘Aisyah “Jangan”, itu begitu jelasnya bahwa tidak sah aqiqah dengan selain kambing. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/219)

Imam Ibnul Qayyim menceritakan, bahwa telah ada kasus pada masa sahabat, di antara mereka melaksanakan Aqiqah dengan Unta, namun hal itu langsung dingkari oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Imam Ibnul Mundzir menceritakan, bahwa Anas bin Malik meng-aqiqahkan anaknya dengan Unta, juga dilakukan oleh Abu Bakrah dia menyembelih Unta untuk anaknya dan memberikan makan penduduk Bashrah dengannya.

Kemudian disebutkan dari Al Hasan, dia berkata: bahwa Anas bin Malik meng –aqiqahkan anaknya dengan Unta. Kemudian disebutkan hadits, dari Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari ‘Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Bakrah telah mendapatkan anak laki-laki, bernama Abdurrahman, dia adalah anaknya yang pertama di Bashrah, disembelihkan untuknya Unta dan diberikan untuk penduduk Bashrah, lalu sebagian mereka mengingkari hal itu, dan berkata: ”Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan aqiqah dengan dua kambing untuk bayi laki-laki, dan satu kambing untuk bayi perempuan, dan tidak boleh dengan selain itu.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Adapun alasan Imam Ibnu Mundzir bahwa hadits tersebut masih global, tidak menyebut jenis hewannya, maka hewan selain kambing juga boleh. Itu adalah pendapat lemah pula. Sebab, hadits tersebut telah ditafsirkan dan dirinci oleh berbagai hadits lain yang menjelaskan bahwa apa yang dimaksud hewan dalam hadits itu adalah kambing.

Menurut kaidahnya, tidak dibenarkan mengamalkan dalil yang masih global, jika sudah ada dalil lain yang memberikan perincian dan penjelasannya secara khusus. Istilahnya Hamlul Muthlaq ila Al muqayyad (Dalil yang masih muthlaq/umum harus dibatasi oleh dalil yang muqayyad/terbatas).

Hadits-hadits yang memberikan rincian tersebut adalah (kami sebut dua saja). Dari Ummu Kurzin Radhiallahu ‘Anha, katanya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, bahwa untuk anak laki-laki adalah dua kambing yang sepadan, dan bagi anak perempuan adalah satu ekor kambing.” (HR. At Tirmidzi No. 1550. Ibnu Majah No. 3162. An Nasa’i No. 4141, juga As Sunan Al Kubra No. 4542. Ahmad No. 27142, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 401, 402, 403, Al Awsath No. 1818. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19059. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 4215. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27142)
Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نعق عن الغلام شاتين، وعن الجارية شاة.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk meng-aqiqahkan anak laki dengan dua ekor kambing, dan anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ibnu Majah No. 3163. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil No. 1166)

Demikianlah hadits-hadits yang memberikan perinciannya. Masih banyak hadits lainnya, yang semuanya memerintahkan dengan kambing, tak satu pun menyebut selain kambing, justru yang ada adalah pengingkaran selain kambing.

Maka, jelaslah kelemahan pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah boleh diganti dengan Sapi atau Unta. Wallahu A’lam.
Imam Ibnul Qayyim telah mengoreksi pendapat Imam Ibnul Mundzir dalam hal ini, menurutnya hadits yang menyebutkan sembelihan dengan hewan adalah masih umum, dan telah dirinci dengan riwayat hadits-hadits yang menyebut penyembelihan itu harus dengan kambing. Beliau mengatakan:

وقول النبي صلى الله عليه وسلم عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة مفسر والمفسر أولى من المجمل

“Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing,’ merupakan perincinya, dan rincian harus diutamakan dibanding yang masih global (umum).” (Tuhfatul Maudud, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Inilah pandangan yang lebih rajih. Namun, kita tetap menghargai yang membolehkannya. Demikian. Semoga bermanfaat. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullah liy wa lakum …..

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Membeli Barang Lelang

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.
       
Pertanyaan:

Assalamu’alaikum..

Ustadz ingin bertanya..

Bagaimana hukum membeli barang dari lelang atau sitaan leasing yangg macet kreditnya bagaimana ya..?

#pertanyaan dr member grup akhwat A 63

—-
Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb.

Hukum membeli barang dari hasil sitaan pembiayaan yg macet dari bank syariah atau leasing syariah hukumnya boleh saja.

Sedangkan jika dari bank atau leasing konvensional, hukumnya tdk boleh.

Karena kalau bukan syariah, berarti barang tsb merupakan hasil sitaan atas transaksi riba. Dan riba hukumnya haram.

Sedangkan kalau dari syariah, barang tsb merupakan hasil jual beli, dimana objek jual beli sekaligus menjadi alat bayar apabila nasabah kesulitan membayar pembiayaannya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jadilah Pembeli Terbaik!

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

وَيۡلٌ۬ لِّلۡمُطَفِّفِينَ (١) ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ (٢)

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, [yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
(Q.S. Al-Muthaffifin [83] : 1-2)

Jual-Beli (al-Bai’) tidak sama dengan Riba, meskipun keduanya sama-sama melahirkan keuntungan, namun ar-Riba diharamkan dan al-Bai’ dihalalkan.

Riba diharamkan karena peminjam uang membayar tambahan uang dengan sebab penundaan pembayaran dan tambahan waktu pada orang yang memberikan utang padanya.

Jual-beli dihalalkan meski pembeli membayarkan tambahan keuntungan dari modal barang dagangan si penjual

Proses membeli barang dagangan atau layanan jasa akan bernilai ibadah dan melahirkan keberkahan jika dilakukan sesuai koridor syariat.

Pembeli jangan bersepakat dengan penjual dalam menyembunyikan sesuatu dari barang untuk tujuan keuntungan bersama, seperti adanya cacat, atau menutupi suatu kelebihan.

Nasihatilah penjual jika ia tidak memiliki sifat kasih sayang dan curang dalam prosesnya

Pembeli selalu berhak untuk membatalkan transaksi yang telah disepakati, selama pembeli belum berpisah dengan penjual. Proses in disebut dengan khiyar.

Dalam proses tidak tunai, jika penjual memiliki kesulitan dalam pembayara, jangan sekali-kali pembeli menawarkan model pembayaran dengan tambahan uang, namun mintakanlah keleluasaan dalam hal waktu pembayaran dari penjual.

Pembeli jangan pernah sekalipun meminta dilebihkan dalam hal kuantitas barang atau berat timbangan, berikanlah hak prerogatif penuh kepada penjual untuk menyempurnakan takarannya.

Janganlah menawar sebuah barang yang sudah ditawar oleh saudaranya kecuali diizinkan.

Hormatilah profesi apapun dari penjual barang atau jasa, karena mereka adalah orang-orang terhormat, dan pembeli akan turut dalam golongan orang-orang terhormat jika saling menghormati dalam proses jual-beli, meski secara status si pembeli lebih tinggi secara jabatan, kekuasaan, dan kekayaan.

Nabi ﷺ menghormati ragam profesi seperti tukang sepuh, ahli gigi dan pandai besi, tukang jahit, tukang sulam dan tenun, tukang kayu.

Rasulullah sangat senang ketika seorang tukang jahit mengundangnya untuk sebuah jamuan makan. Beliau ﷺ datang bersama Anas bin Malik r.a., sehingga sejak saat itu, Anas menyukai dubba’ yang merupakan campuran kuah bersama qadid (dendeng) untuk roti. (HR. Bukhari No. 2092)

Rasulullah ﷺ senang sekali ketika seorang wanita tukang sulam menghadiahkannya burdah (selimut yang pinggirannya disulam). Beliau ﷺ langsung memakainya, meski nantinya ada sahabatnya yang memintanya untuk menjadi kain kafannya, dan langsung diberikannya. (HR. Bukhari No. 2093)
Rasulullah ﷺ meminta bantuan tukang kayu untuk membuatkannya penyangga duduk yang berguna saat beliau menjadi khatib.

Demikian pula seorang wanita yang membuatkannya mimbar. Nabi ﷺ segera menggunakannya, meski kemudian pohon kurma yang sebelumnya biasa beliau gunakan saat berkhutbah akhirnya sedih menangis dan menjerit karena tidak digunakan lagi dan teringat dengan dzikir Rasulullah ﷺ, dan baru terdiam setelah dipeluk. (HR. Bukhari No. 2094, 2095)

Sebisa mungkin agar pembeli membeli sendiri barang yang dibutuhkannya, meski status sosialnya tergolong tinggi di masyarakat.

Akan lahir cinta kasih antar manusia dan kualitas ukhuwah Islamiyah yang semakin kental.

Rasulullahﷺ jika ingin membeli unta, kambing atau makanan, bahkan dari orang-orang non-Muslim sekalipun, membelinya langsung dengan tangannya sendiri. (HR. Bukhari No. 2097)

يأتي على الناس زمان، لا يبالي المرء ما أخذ منه أمن الحلال أم من الحرام

“Akan datang kepada manusia suatu masa dimana seseorang tidak peduli apa yang ia ambil, apakah dari yang halal atau dari yang haram.”

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jadilah Pedagang Sukses!

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ

Q.S. Al-Baqarah [2] : 275

Jual-Beli (al-Bai’) tidak sama dengan Riba, meskipun keduanya sama-sama melahirkan keuntungan, namun ar-Riba diharamkan dan al-Bai’ dihalalkan.

Riba diharamkan karena pemilik uang menerima tambahan uang dengan sebab penundaan pembayaran dan tambahan waktu pada orang yang berutang padanya.

Jual-beli dihalalkan karena penjual mengambil keuntungan dari barang dagangannya
(Lihat tafsir Ibn Jarir ath-Thabari)

Mencari nafkah dari jerih payah tangan sendiri adalah kemuliaan dalam agama, dan menjadi pedagang adalah satu di antara kemuliaan itu. Hal ini karena kebaikan hasil usaha tangan dapat melepaskan diri dari ketergantungan terhadap manusia.

Para Nabi juga bekerja dengan kedua tangannya untuk nafkah hidup keluarganya, dan tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya

كان داود زارادا، و كان آدم حراثا، و كان نوح نجارا، و كان إدريس خياطا، و كان موس راعيا

Daud adalah pembuat baju besi, Adam adalah petani, Nuh adalah pedagang, Idris adalah penjahit, dan Musa adalah penggembala.
(Ibn Abbas dalam al-Mustadrak dengan sanad yang lemah)

Manusia yang bermalam dalam keadaan lemas dan lesu karena bekerja, maka dia bermalam dalam keadaan terampuni.

Demikian pula dengan Abu Bakar r.a. yang mencintai berdagang, bahkan saat telah menjadi Khalifah pun beliau tetap berusaha memenuhi nafkah keluarganya dengan berdagang, hingga kemudian Umar bin Khaththab r.a. dan Abu Ubaidah bin Jarrah r.a. menemuinya agar fokus dalam melayani umat, dan dengannya Abu Bakar r.a. mendapatkan gaji dari Baitul Maal.

Diskursus di kalangan ulama justru pada ‘pekerjaan tangan’ apa yang paling utama, apakah pertanian, perdagangan, atau keterampilan. Imam Nawawi memilih pertanian, karena menanam sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, dan menegaskan bahwa mendapatkan harta benda dari orang-orang kafir (baca: ghanimah) dari berjihad adalah puncaknya.

Berdagang dengan penuh kemurahan hati, tidak bersitegang dan tidak menggunakan kata-kata buruk, serta memudahkan dalam menjual barang akan mendapatkan kasih sayang Allah.

Berilah keringanan jika pembeli tidak mampu membayar sesuai waktu yang ditetapkan, berikanlah kelonggaran, karena manusia akan mendapatkan 3 hal bersamanya:
– Mendapatkan naungan Allah di bawah Arsy-Nya
– Memeliharanya dari luapan neraka Jahannam
– Diselamatkan Allah dari kesulitan Hari Kiamat

Jadilah pedagang yang diberkahi Allah Swt karena dapat dipercaya (trusted), bukan karena sering bersumpah atas nama Allah, namun karena transparan dalam menjual barang dan menjelaskan mana barang yang bagus dan mana barang yang memiliki cacat, keburukan dan kerusakan.

Jangan takut barang Anda tidak terjual hanya karena kejujuran Anda, bahkan teknologi informasi, data dan sosial media hari ini pun telah menggunakan metode ini, dan terbukti jual-beli tetap berlangsung dengan nilai sesuai kondisi barang dan lahir keridhoan di antara kedua belah pihak.

Selama penjual dan pembeli belum berpisah, maka transaksi di antara keduanya tetap dapat berubah dan dibatalkan.

Jadilah pedagang yang senang bertemu dengan banyak manusia agar dipanjangkan umurnya dan diluaskan pendapatannya

Tawarkanlah produk Anda kepada sebanyak mungkin manusia.

Galilah potensi bisnis dari kebersamaan Anda bersama banyak manusia.

Sungguh mencari kekayaan dari jalan yang halal jauh lebih banyak ragamnya daripada mengumpulkan dari jalan syubhat (meragukan) apalagi yang haram, maka janganlah ada lagi yang berpendapat: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Ingatlah sabda Nabi Saw.,

يأتي على الناس زمان، لا يبالي المرء ما أخذ منه أمن الحلال أم من الحرام

“Akan datang kepada manusia suatu masa dimana seseorang tidak peduli apa yang ia ambil, apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari No. 2059)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..

“Hadits-hadits Yang Memotivasi Perbuatan Baik dalam Keluarga”

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarganya diantara kalian.” (HR Ibnu Majah)

Abdullah bin Amr bin Ash RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR Ibnu Majah)

Anas RA berkata : “Kemudian kami memasuki Madinah sepulang dari Khaibar. Aku melihat Rasulullah SAW mendekap Shafiyyah yang berada di belakang beliau dengan menggunakan mantelnya. Kemudian beliau duduk diatas untanya, meletakan lututnya dan menaruh kaki Shafiyyah diatas lututnya sehingga ia bisa naik ke atas unta itu.” (HR Bukhari)

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah karena satu akhlaknya. Insya Allah ia akan senang dengan sesuatu yang lainnya.” (HR Muslim)

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik istri adalah yang membuatmu senang saat engkau memandangnya.” (HR Thabrani)

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa ketika suaminya berada di sisinya kecuali atas izinnya. Dan janaganlah ia membelanjakan nafkah kecuali atas izinnya.” (HR Bukhari Muslim)

Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menggauli istri kalian seperti binatang. Hendaknya awali diantara keduanya dengan rangsangan-rangsangan.” Seorang sahabat bertanya :”Apa yang dimaksud dengan rangsangan-rangsangan itu ya Rasulallah?”. Beliau menjawab : “Pelukan hangat dan ucapan-ucapan lembut.” (HR Abu Manshur & Ad-Dailami)

Aisyah RA berkata : suatu saat Rasulullah SAW berkata kepadaku : “Aku tahu saat dimana engkau sedang senang dan benci kepadaku.” Aku bertanya : Dari mana engkau tahu?. Beliau menjawab : “Apabila engkau sedang senang, engkau akan mengatakan ‘Demi Tuhan Muhammad’ dan apabila engkau sedang marah, engkau mengatakan ‘Demi Tuhan Ibrahim’. Aku berkata : “Engkau benar ya Rasulullah..aku tidak mempedulikan nama lain selain namamu.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin itu harus cemburu. Dan Allah lebih berhak untuk dicemburui.” (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)

Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tiga macam orang yang Allah haramkan atasnya surga : peminum arak (pemabuk), pendurhaka orang tua dan seorang dayyuts yaitu orang yang selalu berburuk sangka kepada keluarganya (pasangannya).” (HR Ahmad)

Aisyah RA berkata : Hindun istri Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah SAW :” Abu Sufyan seorang yang pelit. Ia tidak memberikan harta yang cukup untuk kebutuhanku dan kebutuhan anak-anakku. Maka aku mengambil darinya di saat ia tidak tahu.” Rasulullah SAW bersabda : “Ambillah secukupnya untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dari Muawiyah Al-Qusyairi ia berkata : “Ya Rasulullah, apa hak istri kami atas kami?”. Beliau menjawab : “Memberinya makanan jika kamu makan dan memberinya pakaian jika kamu berpakaian.” (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jika istri-istri kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke mesjid di malam hari, maka izinkanlah mereka.” ( HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai)

Dari Aswad, ia berkata : Aku bertanya kepada Aisyah RA apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya? Aisyah menjawab : “Beliau menjadi pelayan keluarganya. Apabila waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat.” (HR Ahmad, Bukhari, Tirmidzi)

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang istri bersedekah dari makanan yang berasal dari nafkah suaminya tanpa berbuat kerusakan,maka baginya pahala dan usaha suaminya akan diberkahi.” (HR Ahmad, Bukhari, Abu Daud)

Diriwayatkan dari Ummu Salamah RA ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : “Ya Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala jika aku berinfak kepada bani Abu Salamah sementara mereka adalah baniku?” Beliau menjawab : “Silakan berinfak untuk mereka dan bagimu pahalanya.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim}

Imam Ad-Dzahaby dalam kitab Al-Kabair meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda : “Empat golongan perempuan berada di surga dan empat golongan yang lain berada di neraka. Golongan yang berada di surga : perempuan yang menjaga dirinya serta ta’at kepada Allah dan suaminya, perempuan yang melahirkan banyak anak dan ia shabar menerima nafkah pemberian suaminya yang sedikit, seorang perempuan yang pemalu jika tidak ada suaminya ia menjaga dirinya dan harta suaminya dan jika ada suaminya ia menjaga lisannya (dari perkataan buruk), dan yang keempat seorang perempuan yang suaminya meninggal dan ia memiliki anak-anak yang masih kecil maka ia fokus mengurus anaknya dan memperbaiki kehidupan mereka tanpa menikah lagi karena khawatir tidak bisa fokus pada anak-anaknya. Adapun empat golongan yang berada di neraka : perempuan yang tajam lidahnya kepada suaminya atau omongannya panjang dengan kata-kata yang buruk, jika suaminya tidak ada dia tidak menjaga dirinya jika suaminya ada dia sakiti dengan ucapan-ucapannya. Kedua, perempuan yang membebani suaminya dengan beban yang ia tidak mampu menanggungnya. Ketiga, perempuan yang tidak menutup auratnya dan keluar rumah dengan tabarruj. Keempat, perempuan yang tidak memiliki semangat kecuali untuk makan, minum dan tidur serta tidak memiliki semangat untuk menunaikan shalat, taat kepada Allah, Rasulullah dan suaminya.”          

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bingkai Keluarga Muslim – 3. Syuro / Musyawarah (lanjutan)

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah.

Mengedepankan musyawarah adalah akhlak seorang muslim.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS As-Syuro : 38).

Kehidupan berkeluarga adalah kehidupan yang memiliki banyak masalah.Oleh karenanya seorang suami walaupun ia pimpinan dalam keluarga akan tetapi harus melibatkan istri dan anggota keluarga lain dalam memutuskan masalah keluarga. Demikian juga dengan seorang istri, ia harus melibatkan suami dalam urusan-urusan keluarga.

Umar bin Khattab RA mengatakan : “Ketika aku memiliki urusan yang membuatku sibuk memikirkannya, istriku memberikan masukan : Hendaknya engkau melakukan ini dan itu. Aku menyergahnya: Apa yang membuatmu turut campur dengan masalahku ?. Istriku menjawab :’Wahai putra Al-Khattab, engkau ini seorang yang aneh. Tidakkah engkau mengevaluasi dirimu sendiri? Lihatlah bagaimana putrimu mengevaluasi Rasulullah SAW hingga beliau marah sepanjang hari.” {HR Bukhari Muslim}.

Seorang suami tidak boleh meremehkan pendapat seorang istri. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW sangat menghargai pendapat Khadijah RA yang meneguhkan hati beliau di awal turunnya wahyu dan bagaimana Rasulullah SAW menerima usulan Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaibiyah. Kedua ummahatul mukminin ini memberi contoh bagaimana seorang istri yang aktif memberikan masukan dan pertimbangan kepada suaminya, dan usulan cemerlang mereka membawa berkah bagi keluarga dan masyarakatnya.

Diantara nasehat indah Al-Qur’an adalah memberikan perhatian terhadap pentingnya bermusyawarah dan saling ridho diantara suami istri dalam hal-hal yang berhubungan dengan penyusuan anak dan penyapihannya.

Allah SWT berfirman :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah : 233}.

Jika dalam hal menyusui dan menyapih anak saja seorang istri perlu bermusyawarah dengan suami, apalagi dalam hal-hal yang lebih besar dan lebih berat dari itu.

Demikian juga sunnah Rasulullah SAW menganjurkan para ayah untuk mengajak putrinya bermusyawarah dalam urusan pernikahan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan : “Ajaklah istri-istri kalian bermusyawarah dalam urusan anak-anak perempuan mereka.”
Hal ini dikarenakan seorang ibu biasanya lebih tahu tentang anak perempuannya dari pada seorang ayah. Karena sama-sama perempuan, ibu akan lebih mudah memahami orientasi dan perasaan anak gadisnya. Dan anak perempuan lebih terbuka kepada ibunya tentang rahasia-rahasia pribadinya. Sesuatu yang tidak mungkin dibuka kepada kepada ayahnya. (Malamih Mujtama Muslim ; DR Yusuf Al-Qardhawy)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tentang Kebodohan

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.
الْجَاهِلُ يُعْرَفُ بِسِتِّ خِصَالٍ: الْغَضَبُ مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ ، وَالْكَلاَمُ مِنْ غَيْرِ نَفْعٍ ، وَالْعَطِيَّةُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا ، وَأَنْ لاَ يَعْرِفَ صَدِيقَهُ مِنْ عَدُوِّهِ ، وَإِفْشَاءُ السِّرِّ ، وَالثِّقَةُ بِكُلِّ أَحَدٍ
Orang bodoh dikenal melalui enam perkara; 
Marah tanpa sebab, 
Berbicara tanpa guna, 
Memberi tidak pada tempatnya, 
Tidak dapat mengenali mana teman dan musuhnya, 
Menyebarkan rahasia dan 
Percaya kepada siapa saja. 
اثْنَانِ لاَ يُغَيِّرَانِ رَأْيَهُمَا أَبَداً؛ الْجَاهِلُ وَالْمَيِّتُ
“Dua golongan yang tidak pernah merubah pendapatnya; 
– Orang bodoh dan 
– Orang mati.”
الْجَاهِلُ يُؤَكِّدُ ، وَالْعَالِمُ يَشُكُّ ، وَالْعَاقِلُ يَتَرَوَّي
Aristoteles berkata, 
– Orang bodoh cepat memastikan, 
– Orang berilmu tidak mudah percaya, 
– Orang berakal berhati-hati.” 
يُصِيْبُ وَمَا يَدْرِي وَيُخْطِئَ وَمَا دَرَى    وَهَلاَّ يَكُونُ الْجَهْلُ إِلاَ كَذَلِكَ
“Benar tapi dia tidak tahu, salah pun juga dia tidak tahu. Begitulah halnya kondisi orang bodoh.”
إِذَا كُنْتَ لاَ تَدْرِي وَلَمْ تَكُ بِالَّذِي   يُسَائِلُ مَنْ يَدْرِي فَكَيْفَ إِذَنْ تَدْرِي
“Jika anda bukan termasuk orang yang tahu dan bukan pula termasuk orang yang bertanya kepada yang tahu, lalu, bagaimana anda dapat mengetahui.”
وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لأَهْلِهِ   وَأَجْسَادُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ
“Kebodohan sebelum kematian, merupakan kematian bagi pemiliknya. Tubuh mereka sebelum dikubur telah menjadi kuburan.”
الْجَاهِلُ عَدُوُّ نَفْسِهِ ، فَكَيْفَ يَكُونُ صَدِيقًا لِغَيْرِهِ 
“Orang bodoh adalah musuh bagi dirinya, lalu bagaimana dia menjadi teman bagi orang lain?”
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…