KARENA KEBERSIHAN HATI PENGHUNINYA, SURGA BISA TERASA DALAM RUMAH KITA (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

Materi sebelumnya ….
(Bag 1 & 2) http://bit.ly/1RdrwWs

Agar surga ada di rumah kita :
3. Perbanyak membaca Al-Qur’an, jangan sampai hari dalam rumah kita terlewatkan tanpa membaca dan memahami kalam-kalam Allah. Al-Quran di turunkan bukan hanya untuk mencari berkah dengannya, tetapi Allah turunkan sebagai pelajaran, nasihat, obat, dan pedoman hidup.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِ نِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat/pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus: 57).

 وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan/pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar: 17).

4. Perbanyak dalam rumah kita mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dzikrullah, karena dengan berdzikir kita akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah, sehingga hati dan pikiran lebih terkontrol untuk berhati-hati dalam berniat dan beramal.

 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَََّّ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالَِْرْ ضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau ducom
 atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’.” (QS. Ali ‘Imran: 181)

5. Berlatihlah untuk berbahagia dengan kebahagiaan orang lain. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sehingga penting bagi kita untuk pandai-pandai menata hati. Ketika melihat tetangga beli mobil baru, maka biasanya syubhat mengganggu hati dengan berpikiran su’udzon. Maka hendaklah dengan lapang dada kita berpikiran bahwa ketika tetangga beli mobil baru, adalah suatu kebahagian pula untuk kita karena (Alhamdulillah) kita nanti bisa numpang, kita bisa merasakan pula nyamannya mobil tersebut. Subhanallah, betapa tentram hati kita sekeluarga ketika kita mampu menata hati dengan baik, maka semua yang terjadi akan terasa sebagai nikmat, nikmat dan nikmat. وَإِذْ تَأذََّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لََِزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

6. Bila kita dilempari batu, maka tangkaplah batu itu, kumpulkan dan bangunlah dengannya sebuah rumah yg indah. Ketika ada yang mengkritik, terima kritikan tersebut dengan sebuah senyuman disertai ucapan “terima kasih”. Dua hal ini akan membuat si pengritik langsung tahu bahwa yang dikritik bukanlah orang sembarangan. Mengucapkan “terima kasih” plus senyum pada saat dihujani kritik adalah sebuah sinyal bahwa kita sudah dewasa dan matang. Kata “terima kasih” dan senyum juga bisa menjadi “serangan balik” yang baik bagi mereka yang mengkritik karena biasanya mereka belum tentu akan melakukan hal yang sama pada saat dirinya yang kena kritik.

7. Janganlah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, karena itu hanyalah akan menyia-nyiakan waktu.

Bangkitlah dan bersemangatlah untuk membuat sebab takdir Allah menjadi lebih baik. Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang mengundang syubhat dari syaithan, seperti mengatakan, “Seaindainya aku melakukan itu, pastilah akan terjadi begini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengucapkan “Seandainya demikian maka demikian” karena ucapan itu akan membuka celah munculnya hal-hal tersebut. Orang yang tabah menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan, dia tidak menyesali kesungguhan dan upaya yang sudah ditempuhnya. Oleh karenanya Nabi memerintahkan kita untuk berkata, “QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala”. Biarlah terjadi karena memang itulah yang sudah ditakdirkan Allah. Tiada gunanya mengeluh dan berandai-andai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala’ (Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya), Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim).

8. Tata hati dengan gemar berbagi. Anas bin Malik mengisahkan, “Dahulu Abu Thalhah adalah orang Anshar di Madinah yang paling banyak harta kebun kurmanya. Kebun yang paling dicintainya adalah “Bairuha”, kebun itu ada di depan masjid yang Nabi selalu memasukinya untuk minum airnya yang bagus.” Anas mengisahkan,

“Ketika turun ayat ‘Kalian tidak akan memperoleh kebaikan hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai.’ Abu Thalhah bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebaikan hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai.’ Sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah “Bairuha”, harta itu aku sedekahkan di jalan Allah, aku harapkan kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, berikanlah wahai Rasulullah sebagaimana Allah perlihatkan kepada engkau. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian bersabda, “Itu harta yang baik, aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Menurutku engkau berikan saja harta itu kepada kerabat-kerabatmu.” Abu Thalhah berkata, “Aku akan melakukannya wahai Rasulullah.” Lalu ia bergegas membagikan harta itu kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

9. Kunjungilah fakir miskin dan seringlah mengingat kematian, karena dengan itu kita menjadi sadar bahwa dunia ini benar-benar hina, hidup di dunia tidaklah lama, dan hidup di dunia hanyalah untuk mencari bekal menghadap Allah Rabbul ‘alamin. Sehingga keluarga kita akan tumbuh menjadi orang-orang yang qana’ah, zuhud, dan suka berbagi kebahagiaan.

 الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَ بِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi : 46).

 وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَََّّ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal : 28).

Harta bukanlah tujuan, namun tidak lebih hanya sebagai salah satu sarana dan bekal untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya,

 انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَ بِيلِ اللََِّّ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah : 41).

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

LGBT mulai ramai digunakan sekitar tahun 90-an di media-media Amerika untuk menggantikan istilah Gay untuk dapat meliputi cakupan penyimpangan seksual yang lebih luas.

Keberanian untuk membuka pembicaraan tentang hal yang tabu ini telah ditemukan dimulai sekitar tahun 50 atau 60-an dengan mengganti istilah homoseksual dengan homophile, kemudian dirubah menjadi gay di tahun 70-an. Terdapat istilah lain tapi tidak terlalu populer seperti sexual minority.

Komunitas dengan gejala penyakit kejiwaan ini, kemudian mengkonsolidasikan kekuatan mereka, sekaligus memanfaatkan berbagai celah di banyak negara, khususnya negara-negara yang telah melepaskan agama sebagai ruh negara dan politik, untuk menampilkan diri mereka di tengah alam kebebasan yang kebablasan.

Lahirlah kemudian beragam syubhat, pemikiran-pemikiran baru yang mencoba untuk semakin menguatkan eksistensi mereka, sekaligus mendorong tingkat penerimaan masyarakat religius sekalipun khususnya masyarakat yang tidak memprioritaskan ilmu dalam kehidupan mereka. Namun benarkah syubhat tersebut?

Mari kita kumpulkan sebagian di antara syubhat mereka tersebut, dan kita coba menjawabnya bersama-sama.

Nabi Luth a.s. tidak pernah berdakwah kepada kaum LGBT, dan bahkan kaum Nabi Luth a.s. bukanlah kaum LGBT

Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sangat tinggi untuk menggambarkan betapa bejatnya kebiasaaan kaum nabi Luth bin Haran bin Azar a.s., putra dari saudara laki-laki Nabi Ibrahim a.s., sang Kekasih Allah itu. Telah hilang dari jiwa mereka rasa ketertarikan kepada wanita dikarenakan kebiasaan mereka mengikuti hawa nafsu syaithan dalam mencintai sesama jenis.

Bahkan kemudian, tamu Nabi Luth a.s. yang tentunya sangat layak untuk dihormati, tidak kurang menjadi target yang paling menarik bagi mereka. Inilah diantara yang dapat dipahami ketika Allah Swt berfirman,

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Huud: 78)

Sebagai seorang Nabi, Luth a.s. telah berdakwah dengan berbagai upaya untuk mengobat penyakit yang diderita akal mereka. Ia mengingatkan sentiasa agar umatnya bertaubat, khususnya dari perilaku LGBT. Ini pemahaman yang jelas ketika Allah Swt berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf: 80-81)

Bahkan kemudian Allah Swt menguatkan ayat tersebut dengan firman-Nya,

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)

Dalam setiap rencana strategis dakwah Nabi Luth a.s. selalu telah diketahui terlebih dahulu oleh lingkungan eksternal, hal ini karena pengkhianatan isterinya, sebuah pengkhianatan ideologis. Namun kita melihat bahwa LGBT tidak pernah ditoleransi oleh Nabi Luth a.s., tapi selalu dicarikan solusi penyembuhannya.

LGBT adalah karunia dari Tuhan

Faktanya hingga hari ini, seluruh penelitian tidak mampu membuktikan teori tersebut. Peneliti pertama yang memperkenalkan adanya gen gay adalah Magnus Hirscheld dari Jerman (1899), berikutnya ada Dr. Michael Bailey dan Dr. Richard Pillard di tahun 1991, dan dilanjutkan oleh Dean Hamer (seorang gay) di tahun 1993. Berbekal penelitian Dean Hamer, Prof. George Rice (Universitas Western Ontarion, Kanada) kembali riset di tahun 1999, dan Prof. Alan Sanders (Universitas Chicago) diketahui juga meneliti masalah gay di tahun 1998-1999, dan tidak menemukan apapun.

Lihat : trueorigin.org/gaygene01.php

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

“Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harap temukan yaitu sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Faktanya, kami tidak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya.” (Dean Hamer. Mengenal pemikiran beliau dapat klik: https://www.youtube.com/watch?v=qJVkOKslXnQ)

Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks.

Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.” (Ruth Hubbard, pengurus “The Council for Responsible Genetics”, penulis buku “Exploding the Gene Myth”).
Saksikan wawancara bersama Ruth Hubbard di http://gender.eserver.org/exploding-the-gene-myth.html)

American Psychiatric Association (APA) menerbitkan buku panduan psikologi berjudul Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM). Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Namun 5 (lima) dari 7 (tujuh) orang tim pembuat DSM adalah homo dan lesbian. Anggota task force APA terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual). (Lihat Rita Soebagyo dalam wawancara dengan Hidayatullah Online.)

Kecenderungan LGBT juga perlu diwaspadai dari pemilihan faktor makanan dengan banyak 3P (Pewarna, Pengawet dan Perasa) dan diperburuk semakin banyaknya radikal bebas seperti Polusi Udara dan Asap Rokok. Hal ini di antara yang memicu lahirnya penyakit degeneratif, maka kita menyaksikan adanya pria di usia 40 tahun yang telah memiliki anak dan istri kemudian diketahui bersifat transgender.

Gay bukan penyakit menular

66% faktor lingkungan sangat mempengaruhi jiwa seseorang menjadi Gay (Pandangan NiklasLangstrom, seorang Professor di Karolinska institutet, Senior Researcher, Correctional Services, Twitter: @NiklasLangstrom)

Para pendukung gay kemudian mencoba menularkan mereka dengan ragam aktifitas. Di dunia pendidikan, mereka mendorong konsep baru yakni bahwa orang tua harus memposisikan dirinya sebagai fasilitator bagi anak sejak kecil dalam menentukan pilihan gendernya, dan agama tidak boleh berperan mengintervensi.

Maka kemudian jangan terkejut jika ada seorang anak yang telah tertular pemikiran ini dengan tanpa berdosa berbicara di depan publik bahwa gender adalah anugerah dari Tuhan dan tidak boleh ada yang mengecam mereka yang berbeda gender.

Pakar Kedokteran Jiwa, Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater menyebutkan bahwa suara-suara yang menghalalkan perkawinan sejenis (homoseksual dan lesbian) sebenarnya lebih bersumber dari jiwa yang sakit, emosi yang tidak stabil dan nalar yang sakit.

Penyakit homo/lesbi ini bisa diobati. Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial.

Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual). (Dadang Hawari, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual)

Sebagian dokter banyak menceritakan pengalaman mereka. Misalkan bagaimana seorang penderita gay baru datang ke dokter ketika duburnya sudah rusak. Ia kemudian tidak jadi berobat setelah melihat sendiri bagaimana tingkat kerusakan duburnya yang sangat parah.

Sebagian gay mungkin baru tersadarkan setelah nasi menjadi bubur, bahwa ternyata para pendukung LGBT tidak akan membersamai mereka di saat kondisi mereka semakin kritis.

Ketika para dokter dan perawat pun sangat berhati-hati memegang tubuh mereka yang mengidap banyak penyakit menjijikan, namun pada saat itu, hanya orang tua merekalah yang penuh ikhlas merawat mereka, meski sebelumnya merekalah orang tua yang paling keras mengecam perilaku anaknya.

Gay tidak bisa disembuhkan karena bukan penyakit

Sebagian psikiatri ketika merewind masa kecil seorang pengidap gay, menemukan bahwa kebanyakan biseksual memiliki trauma masa kecil dengan ibu atau bapaknya, sehingga ia lebih nyaman berbicara dengan selain orang tuanya.

Seorang anak yang tumbuh dengan kecenderungan ‘melambai’, mungkin karena ia dibesarkan di lingkungan dengan jumlah wanita lebih banyak (keluarga dekat atau teman sekolah), berpotensi akan terus menguat jika orang tua dan lingkungannya tidak segera meluruskan perilakunya atau pilihan-pilihan hidupnya.

Misalkan ketika seorang anak laki-laki lebih memilih penjepit rambut dan boneka, maka orang tua harus segera memberikan alternatif atas pilihannya.

Dalam hal ini peran ayah tidak boleh hilang. Sebagus apapun seorang ibu menceritakan kisah kepahlawanan pria, tidak akan sama jika ayah yang menceritakan dan meneladankannya.

Seorang anak yang terbiasa menonton media massa akan perilaku pria-pria yang sengaja ‘melambai’ dan tidak didampingi orang tuanya berpotensi untuk meniru, atau minimal menjadi sosok yang menerima keadaan.

Maka orang tua harus selalu menemani dan memberikan pelajaran positif bagi anaknya agar tetap tegas dalam kelelakiannya dan memandang bahwa apa yang disaksikannya adalah bentuk penyimpangan kejiwaan. Yang patut disayangkan film kartun Ipin dan Upin pun masih terdapat tokoh Bang Saleh yang dapat mengganggu perkembangan identitas anak.

Dalam konteks tumbuh kembang anak, terapi terhadap orang tua jauh lebih penting agar dapat lebih optimal membersamai anak-anaknya, sehingga wabah penyakit tidak keburu menjadi kronis dan sulit disembuhkan.

Sebagai penutup, mari kita cegah berkembangnya pemikiran dan nafsu LGBT minimal melalui cara berikut ini:

1.  Meningkatkan peran dan kualitas orang tua

2. Menguatkan pendidikan agama

3. Memperhatikan asupan makanan

4. Memperhatikan lingkungan pendukung

5. Memperhatikan bahaya informasi media

Wallahu A’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

JEBAKAN DI ATAS JEBAKAN

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan dan Penyerbuan Szigetvár
6 Agustus s/d 8 September 1566

Pengepungan ini dieja sebagai [ˈsiɡɛtvaːr] dalam bahasa Hungaria dalam istilah Szigetvár ostroma, dalam istilah Kroasia sebagai: Bitka kod Sigeta atau Sigetska bitka, dan dalam istilah Turki sebagai: Zigetvar Kuşatması.

Pengepungan terhadao kota Szigetvár menjadi sebuah keharusan karena ia adalah titik itu berada pada jalur keberangkatannya menuju pengepungan kota Wina (Vienna) pada tahun 1566. Pertempuran yg terjadi bersamaan dengan pengepungannya mempertemukan antara kekuatan Kerajaan Habsburg Austria yang dipimpin oleh Ban-Kroasia yg bernama Nikola Šubić Zrinski (dalam bahasa Hungari: Zrínyi Miklós) melawan Khilafah Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Suleiman I Kanuni  (the Magnificent).

Latar Belakang

Setelah kekalahan di Mohács tahun 1526, yg mengakibatkan hilangnya kedaulatan Kerajaan Hungaria, Ferdinand I diangkat menjadi raja oleh para bangsawan Hungaria dan Kroasia. Setelah itu terjadilah serangkaian konflik yang menimpa Kerajaan Habsburg beserta sekutunya melawan Turki Utsmani. Pada Perang Pendek (Little War) kedua pihak kehabisan energi akibat besarnya korban yg jatuh. Kampante militer Turki Utsmani mereda hingga dimulainya penyerangan terhadap Szigetvár ini.

Pada bulan Januari 1566, tanoa disadarinya, Sultan Suleiman I berangkat perang untuk yang terakhir kalinya. Pengepungan Szigetvár yg berlangsung dari 5 Agustus hingga 8 September 1566 walau berakhir pada kemenangan Turki Utsmani namun kedua pihak kembali mengalami jatuhnya korban yg besar. Kedua pemimpinnya juga wafat dalam kejadian ini, Zrinski gugur pada serbuan terakhirnya sedangkan Suleiman wafat di tendanya karena sakit.

Lebih dari 20 ribu pasukan Turki Utsmani yang gugur dalam beberapa kali serbuan sedangkan hampir seluruh pasukan pertahanan Zrinski yg berjumlah 2.300 orang itu gugur semua. Sebagian besar barisan pertahanan terkahir yang gugur pada hari terakhir mencapai jumlah 600 orang. Pengepungan dan pertempuran itu kembali menghentikan langkah Suleiman menuju Vienna tahun itu. Setelah beliau wafat, Vienna aman dari ancaman hingga ke pengepungan berikutnya tahun 1683.

Pentingnya Arti Pertempuran Ini

Pertempuran ini penting artinya sampai-sampai seorang pemuka agama Perancis, Cardinal Richelieu, sempat menjelaskan bahwa “pertempuran ini telah menyelamatkan peradaban [barat].” Pertempuran ini masih populer dalam kesejarahan bangsa Kroasia dan Hungaria.

Pergerakan Pasukan

Pada bulan Januari 1566, Suleiman I Kanuni telah memerintah Khilafah Turki Utsmani selama 46 tahun dan usianya telah mencapai 76 tahun. Ia menderita penyakit asam urat (gout) sehingga keberangkatannya ke medan perang yg ketigabelas ini harus ditandu. Pada tanggal 1 Mei 1566, beliau berangkat dari İstanbul mengepalai balatentara Turki Utsmani terbesar yg pernah dipimpinnya.

Sedangkan lawannya, Ban Nikola Šubić Zrinski adalah pemiliki tanah paling luas di seluruh Kerajaan Kroasia, seorang komandan tempur yg berpengalaman, dan menjadi kepala para bangsawan (Ban) seKroasia selama periode 1542-1556. Pada awal karir hidupnya ia pernah merasakan pertempuran Vienna dan status kemiliterannya cemerlang.

Pasukan Turki Utsmani mencapai kota Belgrade pada 27 Juni setelah long-march selama 49 hari. Di sini Suleiman I bertemu dengan John II Sigismund Zápolya yg pernah ia janjikan utk menjadi pemimpin seluruh wilayah Hungaria. Sesampainya di Belgrade, Suleiman I mengetahui bahwa Zrinski sudah berhasil merebut pemukiman Turki di Siklós. Atas perkembangan ini beliau memutuskan untuk menunda rencana penyerangannya atas Eger/Erlau dan mengalihkan perhatiannya pada benteng Szigetvár guna melenyapkan ancaman ini sebelum meneruskan rencana besarnya.

Pertempuran

Elemen intai terdepan dari balatentara Turki Utsmani sampai di pinggir kota Szigetvár pada tgl 2 Agustus dan, diluar dugaan, pasukan Hungaria menyerang lebih awal dan sempat mengakibatkan kerugian yg tidak sedikit. Namun keadaan kacau ini segera diredakan sebelum akhirnya sultan tiba dengan pasukan utamanya pada hari Senin 19 Muharam 974 Hijriah. Tenda kebesarannya dibangun di atas bukit Similehov dimana ia dapat melihat keseluruhan pandan medan tempur. Dihambat mobilitas oleh penyakitnya, maka sultan menerima laporan harian di tendanya langsung dari Menteri Utamanya yg dijabat oleh Sokollu Mehmed Pasha. Sokollu merupakan panglima di lapangan.

Pengepungan itu dimulai keesokan harinya ketika sultan mengeluarkan perintah utk menyerbu parit pertahanan; gelombang pertama ini dihentikan setelah sultan mempelajari pola bertahan lawannya. Walaupun pertahanan di Szigetvár sebenarnya kurang personil dan kalah jumlah berkali lipat, namun mereka sampai akhir pertempuran tidak pernah dikirimi bantuan apapun dari Vienna.

Setelah beberapa bulan dikepung dengan penuh nestapa, sedikit personil pertahanan yg tersisa terpaksa mundur ke dalam pertahanan kota tua untuk mempersiapkan garis mundur terakhir jika bala bantuan tidak kunjung datang. Sebenarnya sultan telah memberikan peluang kepada Zrinski untuk menyerah dengan tawaran sebagai penguasa Kroasia dibawah Turki Utsmani namun sang Ben tidak pernah menjawab dan berniat untuk terus bertahan.

Benteng terkahir inipun sudah menunjukkan tanda-tanda kejatuhan namun para pemimpin kesatuan Turki Utsmani di lapangan tetap menunjukkan keraguan. Pada hari Jum’at 21 Safar 974 Hijriah (6 September 1566) sultan Suleiman I Kanuni – cucu Sultan Mehmed II Fatih – ini wafat di dalam tendanya. Kewafatannya dirahasiakan sedemikian rupa oleh lingkar satunya dan dengan segera kurir diperintahkan untuk mengantarkan surat tsrsegel kepada calon penerusnya, Selim II, untuk bersiap-siap. Sang kurir pun tidak mengetahui isi berita yg ia bawa menuju kediaman sang penerus yg berada jauh di sebelah timur Anatolia. Perjalanan jauh ini hanya ditempuh dalam 8 hari saja.

Pertempuran Terakhir & Jebakan

Babak terakhir terjadi keesokan harinya dimana benteng tersebut sudah tinggal puing-puing yg berserakan serta api yg menyala, dengan drum mesium menebarkan bau yg menyengat di sana-sini. Pada pagi hari dikeluarkanlah perintah serbuan terakhir dimana pasukan terdepan dibekali dengan “Api Yunani” setelah titik-titik pertahanan terakhir dihujani mortir terlebih dahulu. Dampaknya adalah, bangunan terakhir itu rubuh dan menimpa kamar-kamar imperial dan bekas barak.

Zrinski tetap bertaham dan tidak membiarkan pasukan Turki Utsmani utk menerobos ke bagian dalam istana. Kini lautan pasukan Turki Utsmani itu merangsek memenuhi jembatan kecil yang menghubungkan dengan istana bagian dalam. Tiba-tiba gerbangnya terbuka dan meriam kaliber besar Hungaria yg sudah disiapkan pun menyalak dan memuntahkan ratusan patahan besi yg menyambar nyawa sekitar 600 pasukan lawan terdepan tanpa ampun.

Setelah itu Zrinski memimpin serbuan balasan dari arah dalam istana menuju barisan pasukan Turki Utsmani yg masih terkesima dengan kejutan tadi. Keenam-ratus pasukan yg dipimpin oleh Zrinski itu mendapati pasukan lawannya tidak bergeming dan bentrokan jarak dekatpun tak terelakkan. Zrinski terkena tembakan musket dua kali tepat di dada dan panah tepat di kepala sebelum roboh. Sisa-sisa pasukannya mundur kembali ke istana bagian dalam.

Akhirnya pasukan Turki Utsmani berhasil merebut istana bagian dalam itu dan seluruh personilnya dieksekusi kecuali segelintir yg dibiarkan hidup oleh kesatuan Janisari atas kesalutan terhadap mereka. Tercatat hanya 7 orang pasukan Hungaria yg lolos atau dibiarkan lolos. Jasad Zriski dilepaskan dari kepalanya, jasadnya dikebumikan dengan penghormatan militer penuh, sedangkan kepalanya dibawa sebagai bukti kemenangan di hadapan pasukan.

Jebakan Lagi

Sebelum istana bagian dalam itu berhasil direbut oleh pasukan Turki Utsmani dan bahkan sebelum serbuan terakhir yg dipimpin oleh Zrinski, ia telah memerintahkan agar tumpukan mesiu di basement istana tersebut sdh dinyalakan dengan sumbu yg lambat. Benar saja, setelah semua personil pertahanan ditaklukkan maka pasukan Turki Utsmani berhamburan ke dalam istana dalam tersebut tanpa menyadari adanya jebakan lagi.

Ledakan tiba-tiba itu merenggut lebih banyak lagi pasukan terbaik Turki Utsmani!

Nyawa sang menteri utama nyaris terancam jika ia tidak diberi peringatan oleh pelayan Zrinski tentang jebakan itu ketika ia dan pengawalnya sedang memeriksa kamar pribadi Zrinski. Pelayan yg sama itu mengatakan bahwa harta pribadi Zrinski tekah tergadaikan semua untuk memperbaiki benteng tersebut. Mendengar dan mempercayai berita jebakan tersebur membuat Sokollu beserta pasukan pengawal berkudanya bergegas meninggalkan istana dalam bersama pasukan lainnya.. waktu yg demikian pendek menyebabkan tidak cukup waktu untuk mengevakuasi selurunya. Ledakan tersebut membawa serta hampir 3.000 pasukan terdepan Turki Utsmani wafat secara mengenaskan.

Akhir Pengepungan

Korban di pihak Turki Utsmani sangat besar sejumlah 7.000 Janisari, 28.000 pasukan infanteri lainnya, 3 orang berpangkat pasha, dengan total keseluruhan sekitar 20-35 ribu pasukan.

Setelah pertempuran itu Sokollu memalasukan cap kesultanan utk mengirimkan berita kememangan tersebut agar wafatnya Suleiman tidak diketahui dahulu. Surat tersebut juga menjelaskan kepada para komandan lapangan mengapa ekspedisi ke Vienna dibatalkan. Kondisi kesehatan sultan juga dijadikan alasan ia tidam dapat menemui pasukan yg menang itu secara langsung. Jenazah sultan dibawa balik ke İstanbul dan para pemimpin lingkar-1 bersandiwara seolah-olah terus berkomunikasi dengannya. Kerahasiaan tersebut dijaga selama 3 pekan lamanya dan dokter istana pun terpaksa diamankan untuk tetap menjaga kerahasiaan tersebut.

Letihnya perjalanan yang panjang dan taqdir juga yang mewafatkan sultan sehingga misi ke Vienna terpaksa dibatalkan. Sokollu harus kembali ke İstanbul utk menerima perintah berikutnya dari Sultan Selim II. Kalaupun sultan masih hidup, serbuan ke Vienna pun harus ditunda karena masa akhir penyerbuan ke Szigetvár sangat dekat dengan awal musim dingin. Pertahanan yg “bandel” di Szigetvár ternyata menjadi “penyelamat” basib kota Wina.

Agung Waspodo, kali ini tidak perlu menyimpulkan apa2 karena seluruhnya merupakan kesimpulan bagi mereka yg bersedia berpikir setelah 449 tahun kemudian, kurang satu hari..

Depok, 6 Agustus 2015, pas masuk waktu maghrib.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Jangan Pernah Lagi Mengatakan Mereka Hanya Berpangku Tangan!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Dimulainya Pengepungan Kota al-Jazīrah al-Khadra (Algeciras) – 3 Agustus 1342 – 26 Maret 1344

Pengepungan kota Algeciras adalah salah satu rangkaian peristiwa yg dikenal sebagai Reconquista atau usaha sistemik perebutan wilayah al-Andalus oleh berbagai kerajaan nasrani di Semenanjung Iberia. Pada pengepungan ini kekuatan Kerajaan Castile dibawah Alfonso XI mendapat bantuan dari Kerajaan Aragon dan Republik Genoa. Sasaran pengepungan adalah kota kaum muslimin al-Andalus yg diberi nama Al-Jazīra Al-Khadra atau disebut Algeciras oleh kaum nasrani. Ketika itu, kota tersebut merupakan kota pelabuhan utama milik Kesultanan Mariniyah (Maroko) di wilayah bagian Eropa.
Pengepungan itu berlangsung selama 21 bulan dimana sekitar 30.000 penghuni kota, termasuk penduduk sipil beserta pasukan pertahanan dari Suku Berber asal Afrika, menderita hidupnya akibat blokade darat dan laut yg menghambat masuknya bahan pangan. Emirat Granada pernah mengirim pasukan bantuan, namun mereka dikalahkan oleh koalisi kaum nasrani di Pertempuran Río Palmones. Setelah kekalahan itu, pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 H (26 Maret 1344) kota Algeciras ini menyerah untuk kemudian diserap mejadi bagian dari Kerajaan Castile. Pertempuran ini kemungkinan besar adalah konflik militer pertama yg menggunakan bubuk mesiu dan meriam di Eropa.

al-Jazīrah al-Khadra pada awalnya adalah bagian dari Emirat Granada yang pada tahun 1329 diambil alih penjagaannya oleh Kesultanan Mariniyah (Maroko) yg menjadikannya ibukota untuk wilayahnya di Eropa. Dari kota ini, gabungan kekuatan Emirat Granada dan Kesultanan Mariniyah melancarkan serangan dan menguasai Jabal Tariq (Gibraltar) pada tahun 1333 sehingga timbul kesan seolah-olah pergerakan Reconquista telah terhenti.

Kemudian pada tahun 1338, Abdul Malik anak dari sultan Mariniyah yg diberi amanah memerintah kota al-Jazīrah al-Khadra dan Hisn ar-Rundah (Ronda) melancarkan serbuan-serbuan ke wilayah selatan Kerajaan Castile. Pada salah satu serbuan, ia gugur dan jenzahnya dibawa ke al-Jazīrah al-Khadra utk dikebumikan. Ayahnya, Abu al-Hasan ‘Ali ibn ‘Utsman, ketika mendengar berita itu bergegas menyeberangi selat pada tahun 1340, mengalahkan armada Castile serta mendarat di kota. Di pusara anaknya ia berjanji untuk mengalahkan raja Castile dengan mengepung kota Tarifa terlebih dahulu.

Mendapatkan begitu besar energi penyerangan yg dibawa dari Maroko, Raja Alfonso XI dari Castile yg merasa akan kehilangan kota Tarifa dari kendalinya segera meminta bantuan dari Raka Afonso IV dari Portugal. Kedua pasukan besar ini bertempur di Pantai Los Lances dekat Tarifa dalam sebuah pertempuran yg dikenal sebagai Rip Salado pada hari Senin, 8 Jumadil Awal 741 Hijriah (30 Oktober 1340). Kemenangan ini meyakinkan Alfonso XI utk segera menundukkan kota al-Jazīrah al-Khadra yg menjadi pintu masuk bagi pasukan kaum muslimin Maroko tersebut.

Pada hari Sabtu, 1 Rabi’ul Awwal 743 Hijriah (3 Agustus 1342), dan tenda-tenda sudah didirikan, Raja Castile menginstruksikan kesatuan zeni kerajaan untuk mempelajari wilayah setempat guna merumuskan posisi terbaik dalam menggelar kepungan. Tantangan utama mereka adalah menghalangi pasukan dari dalam kota untuk keluar serta menghambat pasukan dari luar untuk masuk ke dalam kota, khususnya yg berasal dari jalur Tarifa maupun Jabal Tariq. Direncanakan sedemikian rupa agar kota ini menyerah karena kelaparan bukan dengan serbuan militer yg diduga akan merenggut banyak korban.

Pasukan yg mengepung ternyata mebghadapi masalah yg lebih banyak dari perkiraan mereka. Pertama, pada awal bulan Oktober mereka terkena badai yg besar sehingga tenda-tenda mereka di bagian barat laut terendam banjir sehingga area tenda maupun garis kepung tersebut mendadak berubah menjadi rawa. Pasukan pertahanan kota mengambil peluang ini guna melancarkan serangan dadakan pada malam hari sehingga mengakibatkan kerugian yang banyak. Kedua, akibat dari badai dan banjir tersebut maka pasukan kaum nasrani terpaksa memindahkan markas besar berasama sebagian besar pasukannya ke muara Sungai Palmones sambil menghabiskan bulan Oktober 1342 di sana. Melihat perpindahan itu, pasukan dari dalam kota mengumpulkan sisa kekuatan mereka di Villa Vieja untuk mengirimkan serangan besar. Dalam serangan tersebut, para pemuka kaum muslimin berhasil menerobos hingga ke area tenda dan mengakibatkan banyak korban para pembesar kaum nasrani, antara lain Gutier Díaz de Sandoval, Lope Fernández de Villagrand, utusan vasal Joan Núñez, dan Ruy Sánchez de Rojas yg juga merupakan utusan dari ordo militer fanatik nasrani Master of Santiago.

Lambat laun, kondisi kedua belah pihak semakin memburuk. Bahan pangan juga sempat menjadi langka di pihak kaum nasrani setelah kebanjiran itu dan bahkan banyaknya pasukan yg terlibat dalam pengepungan berikut buruknya kebersihan area garis belakang menimbulkan banyak penyakit menular.

Pada bulan Mei 1343, pasukan yg dikirim oleh Emirat Granada melintasi Sungai Guadiaro dan bergerak menuju kota. Raja Alfonso XI mengirim detasemen pengintainya untuk menilai situasi dan tingkat ancaman. Dari hasil pengintaian tersebut, ia mengirimkan surat kepada Emir Granada bahwa ia bersedia melepas kepungan jika dibayar sejumlah upeti (tribute). Setelah menerima surat tersebut, Emir Granada hanya menawarkan gencatan senjata yg rupanya tidak cukup bagi pihak Castile yg memerlukan dana segar guna membayar pasukannya.

Andai saja upeti ini dibayar mungkin kejadian berikutnya bisa berubah, namun para pemimpin kaum muslimin pada era itu menganggap pembayaran upeti sebagai bentuk perendahan dan penghinaan yg tidak dapat diterima.

Pada bulan Januari 1344, Raja Alfonso XI memutuskan untuk membangun kembali rantai laut (chain sea-boom) guna menghambat bantuan yg datang dari Jabal Tariq menggunakan kapal-kapal kecil. Penghalang laut ini dibuat dari tambang kapal yg ditopang oleh drum yg diikat bersama membentuk pelampung pengikat. Posisi pelampung tersebut diperkuat dengan bekas tiang kapal yg dihujamkan ke dasar laut. Pembangunan rantai laut dan struktur penunjangnya membutuhkan waktu 2 bulan dimana selundupan bantuan tetap lolos lewat jalur laut hingga akhirnya terputus total pada awal bulan Maret. Kini dapat dipastikan bahwa tinggal menunggu waktu untuk kota tersebut menyerah dengan syarat yang lebih menguntungkan bagi pihak pengepung.

Pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 Hijriah kota Algeciras menyerah dimana penduduknya bebas keluar kota dalam perlindungan, gencatan senjata selama 10 tahun, dan Emirat Granada membayar upeti 12 ribu doubloon setiap tahun. Raja Alfonso XI menerima ini walau para penasihat militernya mengajukan diteruskannya pengepungan hingga jatuhnya kota.

Jatuhnya kota Algeciras menandai masuknya masa penghujung Reconquista dan kini tinggal Jabal Tariq yg menjadi incaran kaum nasrani.

Agung Waspodo, melihat episode akhir kegigihan kaum muslimin al-Andalus yg tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Depok, 2 Agustus 2015, malam menjelang tanggal bersejarah itu 671 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Teruslah Berjuang Kawan, Kezaliman Harus Dilawan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Jika musuh makin kuat memerangimu,
Tak ada jalan lain kecuali kau Tambahkan kekuatan juangmu….
Selain itu adalah kekalahan!

Jika mereka dengan berbagai macam cara memerangi dakwah.
Kau akan dapatkan berbagai macam cara utk membelanya.

Kezaliman tidak punya nafas panjang…
Karena itu, yang sangat mereka takutkan adalah perlawanan yang punya nafas panjang…

Jangan pernah berhenti..!

Bergembiralah jika dapatkan mereka yang marah melihat dusta dan kezaliman,

Berhati-hatilah jika dapatkan mereka yang senyum penuh intrik dan permusuhan.

Jika kau marah dengan kezaliman dan dusta, pertanda akal dan jiwamu masih sehat.

Yang sakit, adalah mereka yang marah dengan kemarahanmu….

Jangan harap musuhmu habis…
Berharaplah agar semangatmu tidak habis

Jangan harap musuh berhenti….
Berharaplah agar perjuangnmu tak berhenti.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Mukmin Yang Kuat

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Materi hari ini VIDEO Motivasi, silahkan buka di link berikut:

https://youtu.be/o0OIAOW3ZTE
—————————-

Alhamdulillah Allah pertemukan kita di majelis ilmu, majelis yang mudah-mudahan menjadi indikasi bahwa Allah SWT menghendaki kita menjadi muslim yang baik.

Hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.

Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.

Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168); an-Nasâ-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 626, 627); at-Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsâr (no. 259, 260, 262); Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 356).

Kehidupan kita adalah perjuangan kita.

Agar kita mampu berjuang, agar kita eksis dalam kehidupan, maka kita harus memiliki kekuatan.

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Meskipun keduanya baik, tapi yang kuat lebih baik dari yang lemah.

Bagaimana agar kita menjadi mukmin yang kuat? Mampu menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan dan mampu mengemban semua kewajiban ibadah dan dakwah yang Allah dan Rasulullah SAW berikan?

Rasulullah memberikan tips:

Berusahalah untuk selalu melakukan sesuatu yang beramanfaat.
Bermanfaat bagi kehidupan kita baik di dunia apalagi akhirat.

Jadi, jangan biasakan waktu dan potensi kita habis terbuang percuma melakuakn hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang sia-sia.

Jangankan melakukan hal-hal yang haram, hal-hal tidak bermanfaatpun sedapatnya kita hindari.

Jangan habiskan waktu kita hanya untuk nongkrong, bicara tanpa guna, hanya menghabiskan waktu kita di depan televisi berjam-jam untuk menonton sinetron. Itu semua tidak ada manfaat nya.

Lebih baik kita gunakan untuk membaca, belajar ilmu agama, atau lakukan bersilturrahim, mengambil ilmu dan nasihat dari ulama, itu akan jauh lebih manfaat.

Setiap melakukan kegiatan selalu tanyakan apakah ini ada manfaatnya atau tidak.

Selanjutnya Rasulullah SAW menyampaikan tips berikutnya:

Mintalah pertolongan dari Allah SWT. Mintalah petunjuk dan bantuan dari Allah. Sebab segala sesuatunya ada di tangan Allah.

Dialah yang menetapkan, yang menentukan. Jangan sampai kita hanya bersandar dan berpangku tangan pada usaha dan ikhtiar manusia saja.

Ikhtiar di perintahkan, tapi selanjutnya sebagai seorang muslim, kita harus memasrahkan hasilnya kepada Allah. Mohon kepada Allah SWT agar tiap usaha kita diberikan hidayah, taufik dan kemudahan dan jalan keluar.

Kemudian, jangan engkau merasa lemah.

Ini masalah mentalitas dan watak manusia. Dimana kadang seringkali langkah-langkah kebaikan kita terhalang oleh perasaan dan mentalitas bahwa kita tidak mampu, lemah dan tidak akan berhasil.

Yakini bahwa tidak ada yang Allah perintahkan, perbuatan baik yang menjadi tuntutan untuk kita lakukan, selain kita masih dapat melakukannya.

Sebab Allah mengatakan tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan atau di bawah kemampuannya.

Jadi sering kali kita tidak bisa berbuat baik bukan karena kita tidak punya tenaga, bukan karena tidak punya kemampuan…

Tapi sering kali itu semua terjadi karena kita tidak punya KEMAUAN.

Ingin ngaji, baca Al Quran, turut berdakwah, kita tidak melakukannya karena merasa tidak mampu, PADAHAL kita MAMPU.

Disinilah pentingnya motivasi dari dalam diri selalu kita bangun.
Maka jangan sekali-kali kita merasa lemah.

Demikianlah nasihat Rasulullah SAW agar kita dapat menjadi mukmin yang kuat.

Bersungguh-sungguhlah berusaha untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu.

Mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta

Yakinlah bahwa sesungguhnya kita memilki kekuatan, kita memiliki potensi untuk melakukan banyak hal apabila kita bersungguh-sungguh dan  melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Shalat Qabliyah & Ba’diyah Jum’at

Oleh: Ust Farid Nu’man Hasan SS.

Pertanyaan:
Salam, ana nambahin pertanyaan dong terkait shalat jum’at tlong d bantu t Tadz, hukumnya gmn y sholat sunnah qobliyah & ba’diyah shalat jum’at it. Jazakallah Tri Yuwono manis I 13

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

 Ada tiga shalat sunah yg dilakukan sebelum shalat Jumat.

1.       Shalat Sunah Tahiyatul Mesjid. Ini hukumnya sunah menurut mayoritas ulama.  Walau pun ketika sampai di mesjid khatib sedang berkhutbah, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam tetaplah menganjurkannya untuk dilakukan.

Dari Abu Qatadah
Radhiallahu ’Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. (HR. Bukhari No. 444, Muslim (69)  (714), At Tirmidzi No.  316, An Nasa’i dalam As Sunan Al KubraNo. 809, Ahmad No. 22576, 22582, 22631, Malik dalam Al Muwaththa’No. 275, dll)

Imam At Tirmidzi
Rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا اسْتَحَبُّوا إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْمَسْجِدَ أَنْ لَا يَجْلِسَحَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ عُذْرٌ

Para sahabat kami mengamalkan hadits ini, menurut mereka sunnah bagi seorang yang masuk ke masjid untuk tidak duduk dulu sampai dia menunaikan shalat dua rakaat, kecuali dia memiliki ‘udzur.(Lihat Sunan At Timridzi No. 316)

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu, mengutip dari Imam Muhammad bin Hasan Radihiallahu ‘Anhu:

هذا تطوع وهو حسن وليس بواجب
               
“Ini sunah dan bagus, bukan wajib.”  (Al Muwaththa No. 275)[3]

Berkata Dr. Taqiyuddin An Nadwi –pentahqiq kitab Al Muwaththa’:

هو أمر ندب بالإجماع سوى أهل الظاهر فقالوا بالوجوب

“Ini adalah perkara sunah menurut ijma’, kecuali menurut kelompok Ahli Zhahir (tekstualist) , mereka mengatakan wajib.”

Lalu beliau mengomentari ucapan Imam Muhammad bin Hasan, “ … bukan wajib “:

وليس بواجب لأن النبي صلى الله عليه و سلم رأى رجلا يتخطى رقاب الناس فأمرهبالجلوس ولم يأمره بالصلاة كذا ذكره الطحاوي . وقال زيد بن أسلم : كان الصحابةيدخلون المسجد ثم يخرجون ولا يصلون وقال : رأيت ابن عمر يفعله وكذا سالم ابنهوكان القاسم بن محمد يدخل المسجد فيجلس ولا يصلي ذكره الزرقاني

“Bukan wajib ..” karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang laki-laki yang melangkahi punggung  manusia, lalu Beliau memerintahkan laki-laki itu untuk duduk, dan dia tidak memerintahkannya untuk shalat. Demikian disebutkan oleh Ath Thahawi. Zaid bin Aslam mengatakan: “Dahulu  para sahabat memasuki masjid kemudian keluar lagi dan mereka tidak shalat.” Dia (Zaid) berkata: “Aku melihat Ibnu Umar melakukannya, demikian juga Salim – anaknya-, dan juga Al Qasim bin Muhammad memasuki masjid dia duduk dan tidak shalat. Ini disebutkan oleh Az Zarqani. (Lihat Al Muwaththa’ No. 275, Catatan kaki No. 10. Cet. 1. 1413H. Darul Qalam, Damaskus)

Kepada siapakah Tahiyatul Masjid Disunnahkan?
               
Tahiyatul masjid disunnahkan bagi yang masuk ke masjid dalam keadaan berwudhu, sebagain ulama menambahkan: serta bermaksud duduk di dalamnya, bukan sekedar lewat. Sebagian lain mengatakan walaupun cuma lewat, tetap sunah.
               
Tertulis dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ يُسَنُّ لِكُل مَنْ يَدْخُل مَسْجِدًا غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ – يُرِيدُالْجُلُوسَ بِهِ لاَ الْمُرُورَ فِيهِ ، وَكَانَ مُتَوَضِّئًا – أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ قَبْل الْجُلُوسِ .وَالأَْصْل فِيهِ حَدِيثٌ رَوَاهُ أَبُو قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَال : إِذَا دَخَل أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ   وَمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْمِنْهُمَا لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ يَقُول نَدْبًا : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُأَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْل وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . فَإِنَّهَا تَعْدِل رَكْعَتَيْنِ كَمَا فِي الأَْذْكَارِ
             
Mayoritas  ahli fiqih berpendapat bahwa  disunnahkan bagi siapa saja yang masuk ke dalam masjid selain masjidil haram –yang berkehendak duduk bukan cuma lewat[4] dan dia dalam keadaan berwudhu- untuk shalat dua rakaat atau lebih[5] sebelum duduk.  Dasarnya adalah hadits diriwayatkan Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu:bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. Dan, siapa saja yang terhalang melakukan keduanya (shalat dan duduk) disebabkan hadats atau selainnya, disunahkan mengucapkan: Subhanallah wal hamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar wa laa haulaa wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Azhim.[6] Sesungguhnya itu sebanding dengan dua rakaat tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al Adzkar. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/305)

Walaupun Sudah Duduk Tetap Sunah
           
Di antara kita mungkin pernah lupa tahiyatul masjid, lalu langsung duduk. Sering kali hal itu membuat sebagian kita ragu-ragu; bolehkah tahiyatul masjid dilakukan padahal kita sudah duduk
             
Jawabnya: boleh, dan tetap sunah. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dari Abu Dzar Al GhifariRadhiallahu ‘Anhu katanya

دخلت المسجد فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس وحده قال يا أبا ذر إنللمسجد تحية وإن تحيته ركعتان فقم فاركعهما قال فقمت فركعتهما
               
Saya masuk ke masjid ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya untuk masjid itu sambutannya, sambutan bagi masjid adalah shalat dua rakaat. Maka bangunlah dan shalatlah dua rakaat!” Abu Dzar berkata: “Maka saya bangun dan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Hibban No. 361)
             
Hadits ini sangat lemah, lantaran dalam sanadnya terdapatIbrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghathafani . Imam Abu Zur’ah mengatakan tentang dia: Kadzdzaab (pembohong). (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin No. 133. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
             
 Imam Abu Hatim dan lainnya mengatakan: laisa bitsiqah(bukan orang yang bisa dipercaya). (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh Dhu’afa no. 201)
               
Imam Abu hatim juga mengatakan tentang Ibrahim bin Hisyam: Kadzdzaab (pembohong). Lalu Ali bin Al Husain bin Al Junaid berkata: “Abu Hatim benar, hendaknya jangan mengambil hadits darinya (Ibrahim bin Hisyam).” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal No. 244
               
Namun dalam riwayat lain, diriwayatkan secara shahih dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَافُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ            

Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamsedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: “Wahai fulan, apakah engkau sudah shalat?” orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.” (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)
               
Perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bangunlah ..”menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.
               
Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur“duduk” tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur.(Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

2. Shalat Sunah mutlak. Ini juga sunah hukumnya, tak ada perselisihan ulama. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang dilakukan tanpa terikat oleh waktu atau peristiwa. Misalnya, sambil menunggu adzan Jumat, anda mengisi kekosongan waktu dengan melakukan shalat sunah, itulah shalat sunah mutlak dengan dilakukan dua rakaat, dan boleh berulang-ulang, hingga kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti, atau karena khatib sudah naik mimbar.

3. Shalat Sunah Qabliyah Jumat setelah adzan pertama. Para ulama berselisih faham tentang ini. Ada yang  menilainya tidak disyariatkan, sebab menurut mereka memang tak ada satu pun keterangan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah melakukannya setelah adzan berkumandang. Dalam masalah ibadah ritual seperti shalat, harus memiliki dalil. Justru yang Nabi ﷺ contohkan adalah ketika  setelahke mimbar, lalu adzan,  kemudian  khutbah.

Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘anhuma. Maka pada masa UtsmanRadhiallahu ‘Anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (HR. Al Bukhari No. 912)
             
Bagi mereka, masalah ini tidak boleh diqiyaskan dengan shalat qabliyah zhuhur, sebab dalam ibadah tidak boleh ada qiyas, berbeda dengan masalah muamalah.  Tidak disyariatkannya qabliyah Jumat merupakan pendapat Imam Malik dan umumnya pengikut Imam Ahmad bin Hambal.
               
Sementara ulama lain yang mengatakan qabliyah jumat adalah sunah, inilah pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i. Mereka beralasan dengan beberapa hadits berikut:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ

Di antara setiap dua adzan hendaknya ada shalat (sunah), (nabi mengatakan tiga kali), bagi yang menghendaki. (HR. Al Bukhari No. 624, 627, Muslim No. 838)
             
 Maksud dari ‘antara dua adzan’ adalah di antara adzan dan iqamah. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir bahwa Rasulullah ﷺ   bersabda:

ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Tiada satu shalat fardhu (wajib) pun, melainkan pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.”  (HR. Ibnu Hibban No. 2455, 2488. Syaikh Syu’aib Al Arnauth: isnadnya kuat. Ath Thabarani, Musnad Asy Syamiyyin, 3/282. Syaikh Hamdi bin Abdul Majid mengatakan: shahih)
               
Nah, bagi mereka, karena Shalat Jumat juga shalat fardhu sebagimana yang fardhu yang lain, maka ia termasuk keumuman hadits di atas. Yakni yang namanya  shalat fardhu, pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.
               
Demikian, semoga bermanfaat, dan tidak menjadikan masalah khilafiyah sebagai sumber perpecahan. Wallahu A’lam

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Jual Beli Indent

Oleh: Ust Dr. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Pertanyaan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

1. Semoga Ustadz Ust Rikza senantiasa dlm lindungan Allah.. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Begini Ustadz.. saat ini sedang marak penjualan Online biasanya Buku/ Tools Online. Penjualnya menggunakan strategi PreOrder dengan iming iming diskon misal 50% dr Harga Normal. Setelah tanggal habis masa promo pre order harga menjdi Normal.

Pre order biasanya Barang tersebut belum selesai proses percetakannya atau belum dalam bentuk finish good.

Pertanyaan saya bolehkah strategi tsb dilakukan pebisnis tsb?

2. Sekarang sdg marak para pebisnis Travel Umroh yang menawarkan UMROH untuk 1-2 tahun kedepan dgn iming iming harga bisa di bawah harga pasar umumnya $2300 dijual 13jt.

Ada juga oknum Travel yg menggunakan uang tsb utk diinvestasikan slm forex atau bisnis penggemukan sapi dengan harapan owner tersebut mdapat margin yg jauh lebih besar lagi.

Apakah hal tsb diperbolehkan, baik praktek tsb dana umrohnya di investasikan atau tidak diinvestasikan ?

Mojon pencerahannya ya Ustadz…

Jazakumullah khairan katsir..

Jawaban:

 Waalaikumsalam wr wb.

1 Secara umum, dalam Islam ada namanya bai’ salam, yaitu jual beli inden, dimana uang dibayarkan dimuka dan barang diserahkan kemudian.

Namun terdapat persyaratan dalam jual beli salam sebagaimana digambarkan di atas, yaitu:

1. Objek barang harus jelas, jenis, bentuk, kualitas dan kuantitasnya.

2. Waktu serah terima barang juga harus jelas. Tidak sah apabila tidak ada kejelasan waktu penyerahan barang.

3. Pembayaran dilakukan pada saat akad secara tunai, bukan hutang.

Apabila kriteria tersebut dipenuhi, maka hikumnya boleh saja.

Wallahu A’lam

2. Umrah dengan harga pembayaran lebih rendah dibandingkan dengan harga normal dengan waktu pemberangkatan 1 atau 2 tahun yang akan datang, harus memperhatikan hal2 berikut :

1. Harus jelas akadnya di awal. Karena pada dasarnya paket umrah itu merefleksikan dari akad ijarah, yaitu jasa.

Selama jasa yg ditawarkan benar, dan sesuai antara yg ditawarkan dgn realitanya, maka boleh saja.

Dan perlu dipastikan, bahwa pembayaran yg dilakukan adalah untuk pembayaran paket umrah, bukan untuk inveatasi.

2. Karena akadnya adalah untuk paket umrah, maka harus ada jaminan pemberangkatan umrah. Jaminan diatas materai lebih baik.

3. Apabila dana pembayaran umrah tersebut akan diinvestasikan oleh penyelenggara (travel), maka pastikan bahwa investasinya harus halal secara syariah.

Karena dari hasil investasi itulah akan ditambahkan pada dana awal umrah yg telah dibayarkan. Sehingga halal haramnya harus jelas.

Apabila tercampur dengan yang haram, maka bisa jadi ibadahnya tidak diterima oleh Allah Swt.

Wallahu A’lam

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (2) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 2:

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –   إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

                Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang bisa menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Ats Tsalatsah (tiga imam: Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i), dan dishahihkan oleh Imam Ahmad.

Takhrij:

–          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 66, 67

–          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 66

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 326

–          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/29

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya No.11119

–          Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2155

–          Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1513

–          Imam ‘Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 255

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/61

–          Imam Ibnu Jarud dalam Al Muntaqa No. 47

–          Imam Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2051

Status Hadits:

–          Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh  Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.”  (Talkhish Al Habir, 1/125-126)

–          Imam At Tirmidzi mengatakan: “hasan.”(Sunan At Tirmidzi No. 66)

–          Imam Al Baghawi mengatakan: “hasan shahih.” (Syarhus Sunnah, 2/61)

–          Imam An Nawawi mengatakan:“shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

–          Imam Al Bushiri mengatakan: “hasan.”(Ittihaf Al Khairah No. 416)

–          Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata:“sanadnya jayyid.”(Tuhah Al Ahwadzi, 1/170)

–          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih bithuruqihi wa syawahidihi – shahih karena banyak jalan dan penguatnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 11119)

–          Syaikh Al Albani mengatakan: ”shahih.”(Al Irwa’ No. 14, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 67, Shahihul Jami’ No. 1925, dll)

Latar Belakang Hadits:

                Disebutkan dalam Sunan Abi Daud dan lainnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

         

📌Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan  Al Hiyadh, daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” (HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah bercerita –kami ringkas- sebagai berikut:

“Dia adalah Al Imam Al Mujahid, muftinya kota Madinah, namanya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’alabah bin ‘Ubaid bin Al Abjar bin ‘Auf bin Al Haarits bin Al Khazraj. Ayahnya (Malik) mati syahid ketika perang Uhud, dan dirinya sendiri ikut perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan (Bai’at di bawah pohon). Dia adalah salah satu ahli fiqih dan mujtahid.

Hanzhalah bin Abi Sufyan meriwayatkan dari guru-gurunya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui hadits-hadits para sahabat nabi dibanding Abu Sa’id Al Khudri.

Al Waqidi dan jamaah mengatakan, Abu Sa’id Al Khudri wafat tahun 74 H. Ismail Al Qadhi berkata: Aku mendengar Ali bin Al Madini mengatakan bahwa Abu Sa’id wafat tahun 63 H.

Musnad Abu Sa’id terdapat 1170 hadits. Pada Bukhari dan Muslim terdapat 43 hadits. Pada Bukhari saja ada 16 hadits, pada Muslim saja ada 52 hadits.”  (Selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/168-172)

2.       Ada beberapa istilah khusus yang perlu dijelaskan.

Pertama. Al Hiyadh – الْحِيَضُ  adalah –sebagaimana dijelaskan Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah:

الحيضُ- بكسر الحاء، وفتح الياء-: جمع حيْضة- بكسر الحاء، وسكون الياء-، وهي: خرقة الحيض، ويقال لها أيضاً المحيضة، وتجمع على المحايض

Al Hiyadh –dengan huruf ha dikasrahkan dan huruf ya difathahkan adalah jamak dari hiidhah –dengan ha dikasrahkan dan ya disukunkan- itu adalah harqatul haidh (pembalut haid).  Juga disebutkan artinya adalah Al Mahiidhah, dan dijamakkan menjadi Al Mahaayidh. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 1/198. Maktabah Ar Rusyd)

Kedua. An Natnu  –النَّتْنُ – artinya:

” والنتْنُ ” الرائحة الكريهة، ويقع أيضاً على كل مستقْبح

                An Natnu adalah Ar Raa-i-ah Al Kariihah (aroma yang tidak sedap), dan juga bisa berarti setiap hal yang buruk. (Ibid)

               Ketiga. Istilah  أخرجه الثلاثة –dikeluarkan/diriwayatkan oleh tiga orang imam.Apa maksudnya?

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullahmengatakan:

هم أصحاب السنن، ما عدا ابن ماجه

                Mereka adalah ashhabus sunan (para penyusun kitab As Sunan), selain Ibnu Majah.(Subulus Salam, 1/16. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

                Mereka adalah Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

3.       Pada hadits ini menyebutkan bahwa hukum dasar bagi air adalah suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya menjadi najis, walau dia terkena benda-benda yang dianggap najis seperti daging anjing, darah haid, dan sesuatu yang berbau, selama tidak mengubah sifat-sifat kesuciannya. Tentunya, apalagi ketika tidak diketahui adanya benda-benda yang mencampurinya, maka kesuciannya bisa dipastikan lagi. Dan, ini menjadi pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu.

Berikut ini keterangannya:

وبهذا الحديث استدل مالك على أن الماء لا يتنجس بوقوع النجاسة- وإن كان قليلاً- ما لم تتغير أحد

أوصافه.

📌Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya dia dengan najis –jika air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah. (Ibid)

             

4.       Sebagian ulama mengatakan bahwa, hadits ini hanya berlaku khusus bagi sumur Budhaa’ah, tidak bagi lainnya, karena latar belakang hadits ini memang sedang membicarakan sumur tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya air pada sumur Budhaa’ah yang melebihi dua qullah.

Berkata Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri:

فتأويله إن الماء الذي تسألون عنه وهو ماء بئر بضاعة فالجواب مطابقى لا عموم كلي كما قاله الامام مالك انتهى وإن كان الألف واللام للجنس فالحديث مخصوص بالإتفاق كما ستقف ( لا ينجسه شيء ) لكثرته فإن بئر بضاعة كان بئرا كثيرا الماء يكون ماؤها أضعاف قلتين لا يتغير بوقوع هذه الأشياء والماء الكثير لا ينجسه شيء ما لم يتغير

          📌      Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah bukan untuk umum  sebagaimana dikatakan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana  Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah  menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

QS. Nuh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Orang-Orang Pilihan

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Sangat manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan langsung oleh Allah serta diabadikan dalam kalam sucinya dan dibaca oleh jutaan bahkan milyaran manusia.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua teladan individu secara personal. Dan keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga yang layak untuk diikuti jejaknya.

Dalam kesempatan kali ini kita akan menelusuri jejak-jejak dakwah Nabi Nuh as. Sebagai salah satu individu yang difigurkan serta layak untuk diteladani. Khususnya kisah beliau yang terangkum dalam Surat Nûh yang diturunkan Allah di Makkah setelah Surat an-Nahl ([1]) . Seorang dai dan nabi yang menyeru kepada kalimat Allah hampir sepuluh abad lamanya, namun hanya segelintir orang saja pengikutnya. Bahkan istri dan anaknya termasuk orang-orang yang menghalangi, memusuhi dan melawan dakwahnya. Namun, hal tersebut tak membuat beliau surut berdakwah.

”Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ”Berilah kaummu peringatan sebelum datang adzab yang pedih”. (QS. 71: 1))

Dan tugas utama seorang nabi dan utusan Allah adalah menyampaikan risalah-Nya. Risalah pengesaan dan totalitas penghambaan kepada Allah.

”Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71: 2-4)

Keangkuhan dan Gengsi Sosial

Bukan bunga yang ditaburkan, bukan pula pujian yang diterima, dan tidak pula orang-orang berbondong-bondong mendengarkan dakwah Nabi Nuh as. Yang terjadi justru sebaliknya. Dengarlah saat dengan penuh kepasrahan beliau mengadu kepada Allah,

”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajah) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (QS. 71: 5-9)

Nabi Nuh. As menyeru kaumnya siang dan malam. Dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Justru respon mereka sangat menyakitkan hati. Mereka menyumpal telinga dengan jari-jari. Jika Nabi Nuh meneruskan dakwahnya mereka pun mengangkat kain untuk menutupi wajah mereka. Agar mereka tidak melihat beliau menyampaikan dakwahnya, tidak juga mendengar apa yang dikatakannya ([2]).

Namun, Nabi Nuh as. tetap melanjutkan dakwahnya sampai kemudian datang ketentuan Allah.

”Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. 11: 36)

Nabi Nuh pun mematuhi titah-Nya yang kemudian memerintahkan kepada-nya membuat perahu di tengah padang pasir. Sebuah perintah yang kemudian dilecehkan kaum-kaumnya. Mereka menertawakannya, menganggapnya gila bahkan berusaha merusaknya.

Icon Kesabaran yang Luar Biasa

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…