Bolehkah Penjual Menentukan Harga?

Oleh: Ust. DR Wido Supraha

1. Ligayati(A96)

Pertanyaan:

Adik laki-laki sy bekerja di perusahaan retail. Kadang kl jual barang hrgnya tdk sesuai dg hrg yg sudah dtentukan perusahaan.
Apakah boleh jual beli seperti itu?

Jawaban:

Dalam hal ini dikembalikan kepada akad kepada perusahaan agar terjadi kepastian hukum.

Diskusikan dengan perusahaan, apakah boleh menjual harga di bawa harga yang ditentukan untuk tujuan tertentu, dan apakah boleh menjual harga di atas harga pasar dengan kehendak, kelebihannya menjadi milik penjual.

Jika perusahaan mengizinkannya, maka seluruhnya menjadi harta yang halal bagi penjual.

Wallaahu a’lam

***

2. Setyaning(A95)

Pertanyaan:

Mohon penjelasan ttg larangan beda harga dalam menjual, seperti apa ya?

Ada beda harga antara kredit dan cash. Ada beda harga akibat tawar menawar. Ada beda harga karena beda waktu.

Apa itu juga dilarang?
#pengen dagang yg tdk melanggar syariat#

Jzkhr atas penjelasannya.

Jawaban:

Harga saat kredit adalah sebuah harga yang sah dalam jual beli, dan harga saat cash adalah sebuah harga yang sah dalam akad jual beli yang lain.

Dalam setiap akad, dibebaskan pagi pengusaha untuk membuat harga yang berbeda, dan perubahan harga dapat dilakukan dalam setiap transaksi kapanpun.

Semoga dagangan ibu, kami do’akan melahirkan keberkahan dalam harta-hartanya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KELUARGA HARMONIS, BUKAN BERARTI TANPA PERTENGKARAN (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

Materi sebelumnya: http://goo.gl/XsjLL6

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

2. Menghindari caci-maki

Siapapun kita, tidak akan bersedia ketika dicaci maki. Karena itulah, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang didzalimi. Syariat membolehkan orang yang didzalimi itu untuk membalas kedzalimannya dalam bentuk cacian atau makian.

Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. (An-Nisa: 148)

Dalam ikatan rumah tangga, syariat memotivasi kaum muslimin untuk menciptakan suasana harmonis. Sehingga walaupun sampai terjadi masalah, balasan dalam bentuk caci maki harus dihindari. Karena kalimat cacian dan makian akan menancap dalam hati, dan bisa jadi akan sangat membekas. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa mengobatinya. Jika semacam ini terjadi, sulit untuk membangun keluarga yang sakinah.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orang tua, yang umumnya bukan bagian dari masalah.

Beliau bersabda, “jangan kamu menjelekannya”

Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan,

لَا تَقُلْ لَهَا قَوْلًا قَبِيحًا وَلَا تَشْتُمْهَا وَلَا قَبَّحَكِ اللَّهُ

“Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud).

Perlu kita ingat bahwa cacian dan makian kepada pasangan yang dilontarkan tanpa sebab, termasuk menyakiti orang mukmin atau mukminah yang dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 58)

Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenar untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Allah sebut tindakan semacam ini sebagai dosa yang nyata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

3. Tetap Menjaga Rahasia Keluarga

Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah keluarganya, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia anda berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Terkait tujuan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

“jangan kamu boikot istrimu kecuali di rumah”

Ketika suami harus mengambil langkah memboikot istri karena masalah tertentu, jangan sampai boikot ini tersebar keluar sehingga diketahui banyak orang. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika di luar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Kecuali jika anda melaporkan kepada pihak yang berwenang, dalam rangka dilakukan perbaikan.

Pihak yang berwenang adalah pihak yang posisinya bisa mengendalikan dan memberi solusi atas masalah keluarga. Dalam hal ini bisa KUA, hakim, ustadz yang amanah, atau mertua. Mertua, karena dia berwenang untuk mengendalikan putra-putrinya. Dan ini tidak berlaku sebaliknya.

Ketika suami melakukan kesalahan, tidak selayaknya sang istri melaporkan kesalahan suami ini kepada orang tua istri. Tapi hendaknya dilaporkan kepada orang yang mampu mengendalikan suami, misalnya tokoh agama yang disegani suami atau orang tua suami. Demikian pula ketika sumber masalah adalah istri. Hendaknya suami tidak melaporkannya kepada orang tuanya, tapi dia laporkan ke mertuanya (ortu istri).

Solusi ini baru diambil ketika masalah itu tidak memungkinkan untuk diselesaikan sendiri antara suami-istri.

Hindari Pemicu Adu Domba

Bagian ini perlu kita hati-hati. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi bermusuhan. Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Selanjutnya, jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya dugaan buruk (suudzan) antar-sesama.

Semoga Allah SWT mudahkan upaya sungguh-sungguh kita membangun keluarga harmonis yang sesungguhnya, yang penuh kedewasan, bukan harmonis yang semu dan melelahkan. (Selesai)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Para Mujahidah Pemburu Surga

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Asma’ binti Abdullah bin Utsman Abi Bakar ash-Shiddiq

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Aisyah dari jalur ayah. Menikah dengan salah seorang penghuni Surga, Zubair bin Awwam.

Ibu dari Abdullah bin Zubair, satu dari empat orang besar pemberi fatwa (Al-Ibadalah al-Arbaah).

Ayah, ibu, suami, anak dan saudarinya, seluruhnya sahabat Nabi  yang setia.

Wafat pada umur 100 tahun dalam kondisi fisik gigi dan akal dan jasad yang masih kuat.

Penyair dan periwayat 56 hadits Nabi (26 hadits di Shahih Bukhari).

Ikut perang Yarmuk bersama suaminya.

Memiliki motivasi kuat saat hijrah, motivator bagi anaknya dalam peperangan, dan memiliki kecerdasan hati yang sangat tinggi.

Asma’ binti Umais bin Maad bin Haris bin Tayim bin Haris al-Khats’ami

Assabiquna al-Awwalun, saudari sayyidah Maimunah dari jalu ibu.

Bersuamikan Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a. (masing-masing menikahinya setelah wafatnya suami sebelumnya).
Wafat tahun 40 H.

Periwayat 60 hadits Nabi. Ikut hijrah ke Habsyah bersama suaminya, Ja’far.

Berani mengkritik Umar ibn Khattab r.a. untuk menjaga ilmu (HR. Bukhari No. 3905 dan HR. Muslim No. 4558).

Ummu Salamah (Asma bin Yazid bin Sukun bin Rafi’

Wanita Anshar. Wafat tahun 30 H.

Pengkhutbah, juru bicara, mujahidah pemberani nan tangguh yang membunuh 9 tentara Romawi di persembunyiannya saat perang Yarmuk, dan periwayat 80 hadits Nabi.

Ummu Imarah (Nasibah binti Ka’ab bin Umar bin Aul al-Khazrajiah)

Wanita pertama berbaiat kepada Nabi. Derajatnya sangat tinggi di antara manusia.

Bersuamikan Zaed bin Asyim dengan anak Habib dan Abdullah. Saat suaminya wafat, ia menikah dengan Ghaziah bin Umar al-Mazni. Wafat tahun 13H.

Mujahidah tangguh yang mengikuti beberapa peperangan bersama Nabi dengan tugas membantu mujahidin, memotivasi, hingga turut berperang laksana perwira.

Saat perang Uhud, ia terjun bersama suami dan anaknya hingga mengalami luka di 12 tempat.

Ia termasuk pelindung Nabi saat hendak dibunuh Ibn al-Qum’ah dengan pukulan tangannya yang kemudian dibalas dengan goresan di punggungnya.

Selain terlibat di hari Hudaibiyah, perang Khunain, ia juga turut berperang di masa Khalifah Abu Bakar r.a.

Bahkan saat ikut bersama Khalid bin Walid r.a. memerangi Musailamah al-Kadzdzab, tangannya dipotong oleh Musailamah dan tubuhnya terluka di 10 tempat, bahkan anaknya, Habib bin Zaed juga dibunuh Musailamah.

Ummu Sulaim (Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin Haram)

Wanita Anshar Al-Khazrajiah, Assabiquna al-Awwalun. Saudari Ummu Haram binti Mulkhan, ibu dari Anas bin Malik r.a., asisten Rasulullah selama 10 tahun.

Di antara suaminya adalah Ibadah bin Shamat, Malik bin Nadhr, dan Abu Thalhah.

Seorang ibu yang sangat tangguh, lebih khusus lagi sangat terkenal dengan caranya saat memberitahukan wafatnya anaknya dari Abu Thalhah kepada suaminya.

Mujahidah tangguh khususnya saat perang Uhud, selain sebagai tenaga medis, dan penyedia minuman, ia selalu membawa pisau besar untuk bersiap-siap turut berperang.

Saat hamil, ia pun tetap ikut perang Khunain dengan kebiasaan yang sama.

Ummu Haram (ar-Rumaysha binti Mulhan bin Khalid bin Zaid al-Anshary al-Najariyah)

Istri Ubadah bin Shamit r.a., bibi dari Anas bin Malik r.a. Wafat tahun 27H.

Periwayat 5 hadits Nabi. Mujahidah tanggung dalam banyak peperangan.

Didoakan Nabi termasuk bagian pasukan yang menyeberangi lautan, dan nantinya ternyata ia ikut saat ekspansi terhadap pulau Cyprus.

Ia wafat karena terjatuh dari kudanya yang menyebabkan lehernya terjerat tali kudanya. Kuburannya di pulau Cyprus terkenal dengan Kuburan Wanita Shaleh.

Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ad

Saudari Utsman bin Affan dari pihak Ibu, termasuk wanita pertama dari kabilah Hadnah Hudaibiyah yang Hijrah ke Madinah.
Wanita Quraisy yang berani keluar dari rumah ayahnya untuk Islam.

Bersuamikan Zaid bin Kharisah, dan kemudian setelah wafat, ia menikah dengan Zubair bin Awwam r.a. dikaruniai anak bernama Zainab, dan kemudian menikah dengan Abdurrahman bin ‘Auf r.a. dikaruniai anak bernama Ibrahim dan Hamid, dan setelah meninggalnya Abdurrahman bin Auf r.a., ia menikah dengan Amr bin Ash r.a. Wafat tahun 33 H.

Periwayat 10 hadits Nabi dan ahli penulisan.

Ummu Hani (Fakhitah bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib)

Keturunan Bani Hasyim, masuk Islam di masa penaklukkan Makkah. Wafat tahun 40 H.

Periwayat 46 Hadits Nabi. Ibu yang mulia dari banyak anak-anaknya.

Ummu Jamil (Ummu Hakim binti Haris)

Keturunan Bani Makhzum dari Quraisy, keponakan Khalid bin Said r.a., menikah dengan Ikrimah bin Abu Jahal r.a., Khalid bin Said r.a., dan Umar bin Khaththab r.a., masing-masing karena suaminya syahid.

Mujahidah tangguh yang berhasil membunuh 7 tentara Roma pada peperangan yang membunuh Khalid bin Said r.a. menggunakan tongkat kemah acara pernikahannya dengan Khalid.

Pernikahannya dengan Khalid r.a. sangat mulia. Tatkala Khalid meminangnya setelah masa iddahnya selesai, dan ketika hendak menyelenggarakan walimah, terjadi serangan ‘Marju as-Syuffar’ dari tentara Roma.

Khalid yang sudah merasakan ia akan syahid di peperangan ini berniat menunda pernikahannya tersebut, namun justru mengetahui hal tersebut mendorong Ummu Jamil untuk mempercepat pernikahan dengannya.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ribakah Listrik Pascabayar?

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.
       
Pertanyaan: I-09.

Mohon pencerahan tentang tulisan berikut Ustadz:

Masya Allah Riba ada di mana-mana
Asslmlaikum Pagi ini saya mendengarkan Tausiyah Oleh Habib Novel Alaydrus yaitu siaran Ulang Majelilis Ta’lim Riyadlul Jannah Bahwa Beliau menyebutkan Listrik yg bayarnya di belakang ( Bukan Pulsa) itu dinamakan jual beli sistem Hutang, jika terlambat Bayar di denda, jika beberapa Bulan tidak bayar maka akan di cabut, Maka di namakan Sistem Jual beli RIBA-WI, jadi Listriknya Riba, kalau ngajinya pakai listrik tersebut berarti Ngajinya Riba, Jika Masak Menggunakan listrik yg seperti itu makanan nya mengandung Riba, Jika mandi, Minum, Wudlu dan lain-lain menggunakan listrik tersebut maka mengandung RIBA, Termasuk PDAM yg bayarnya belakangan maka Airnya Juga RIBA, Bagaimana Do’anya bisa terkabul dan Dosanya di Ampuni…?

Jawaban Ustadz Rikza:

Riba itu terkait dua hal; hutang piutang dan barter.

Semua hutang yg ada tambahan dari pokok hutangnya adalah riba, lebih tepatnya riba nasi’ah.

Dan segala bentuk tukar menukar antara barang sejenis dengan kuantitas yg tdk sama, adalah riba fadhl.

Contohnya adalah menukar uang receh Rp 100 ribu dengan uang biasa Rp 110 ribu.

Adapun pembayaran listrik yg apabila terlambat dikenakan denda, bukanlah yg termasuk dalam definisi riba.

Walaupun memang ada unsur kesalahannya, yaitu pengenaan denda akibat keterlambatan, dan dana denda tsb diakui sebagai pendapatan.

Kategorinya yg lebih tepat adalah mengambil harta orang dengan batil, bukan riba.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Asal Muasal Tradisi Bahari Bangsa Turki Rintisan Latuftahanna & Penaklukan Konstantinopel

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Lepas Pantai Chios (Sakız dlm bahasa Turki)
23 Juli 1319

Pertempuran laut ini dipertaruhkan di lepas pantai pesisir timur Laut Aegean dekat Pulau Chios (Sakız) antara kapal perang nasrani Latin (yg pada umumnya diawaki pasukan Hospitaller) melawan kapal perang dari Beylik Turki dari suku Aydın.

Sedikit latar belakang, ketika kekuasaan Imperium Byzantium runtuh di bagian barat Anatolia (Asia Kecil) berikut penguasaannya atas Laut Aegean pada akhir abad ke-13 – bertepatan dengan dibubarkannya angkatan laut Byzantium juga pada tahun 1284 – maka itu menimbulkan kekosongan kekuasaan. Kondisi vakum itu segera direbut oleh berbagai Beylik Turki serta pasukan perbatasan Ghazi Turki.

Memanfaatkan peluang tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menyisir kesempatan namun juga membutuhkan kesiapan utk menyusun kompetensi yg akan menopang laju terbukanya peluang tsb. Bangsa Turki adalah bangsa daratan, namun ketika peluang bahari itu terbuka mereka tidak segan untuk menceburkan diri ke laut. Mereka sdh mendahului dengan teladan bahwa meninggalkan zona nyaman adalah sebuah kemestian utk menjadi pengayom dunia.

Berbagai perluasan Beylik Turki di daerah ini juga memanfaatkan para pelaut berkebangsaan Yunani yg “kehilangan pekerjaan” sehingga untuk pertama kalinya bangsa Turki mengenal ilmu kebaharian. Mereka mulai belajar menguasai berbagai teknik perang bahari dan mengasahnya dengan menyerbu banyak kepulauan yg diduduki bangsa Latin. Naiknya pamor pelaut Turki juga disebabkan adanya persaingan antara dua kekuatan laut Latin, yaitu antara Venisia dan Genoa.

Satu lagi teladan yg diberikan oleh pelaut Turki masa itu adalah mereka tidak segan belajar dari bangsa manapun. Lawan tidak sekedar dihadapi atau dikalahkan, namun diayom serta dipelajari aspek-aspek keunggulannya agar menjadi kompetensi diri utk melepas dari ketergantungan.

Pada tahun 1304 suku Turki Menteshe, yg kemudian disusul oleh suku Turki Aydın, menguasai kota Ephesus dan sepertinya kepulauan di sebelah timur Laut Aegean akan segera jatuh ke tangan pelaut-pelaut Turki. Untuk menahan gelombang mematikan tersebut, pada tahun yg sama Genoa menduduki Pulau Chios (Sakız) dimana Benedetto I Zaccaria mendirikan sebuah prinsipal kecil. Empat tahun kemudian, 1308, ordo militer fanatik Knights of Saint John (Hospitallers) menduduki Pulau Rhodes. Keduanya akan menanggung hantaman paling keras dari serbuan laut bangsa Turki sampai tahun 1329.

Aspek keteladanan lainnya adalah para pelaut Turki yg masih terbilang “bau kencur” itu tidak pernah rendah diri. Bahkan mereka cukup percaya pada kemampuannya yg masih terbatas utk menghadapi bangsa-bangsa yg sudah lebih dulu mahir atas tradisi perang lautan. Kekalahan tidak juga menyurutkan laju layar mereka, karena sdh sangat dipahami bahwa tidak ada kejayaan tanpa pengorbanan.

Pada bulan Juli 1319, armada Aydın, dibawah pimpinan langsung emirnya yg bernama Mehmed Beg berlayar dari kota pelabuhan Ephesus. Ia membawa 18 galley dan 18 kapal ukuran yg lainnya. Armada kecil ini dicegat oleh armada Hospitaller yg terdiri dari 24 kapal dengan 80 pasukan bersenjata lengkap (knight) di dalamnya. Pasukan itu dipimoin oleh Albert dari Scwharzburg. Armada kaum nasrani Latin ini mendapatkan tambahan skuadron Martino Zaccaria dari Chios yg terdiri atas 1 galley dan 6 kapal lainnya.

Hampir selalu, pada masa-masa ini, pemimpin itu tidak hanya yg paling cakap pemikirannya, namun juga yg paling gagah berani perawakannya. Mehmed Beg memimpin langsung pasukan di kapal terdepan, karena dia bukan pemimpin meja di tenda belakanh.

Pertempuran laut itu berakhir dengan kemenangan pada pihak kaum nasrani Latin; hanya 6 kapal Turki yg berhasil lolos dari sergapan dan penenggelaman. Kemenangan ini ditindaklanjuti oleh armada Latin dengan merebut Pulau Leros yang penduduk Yunaninya sempat memberontak atas nama emperor Byzantium. Kemenangan ini pula disusul oleh kemenangan lain yg menggagalkan rencana armada Turki lainnya utk menginvasi Pulau Rhodes.

Kekalahan tidak menyurutkan, kemenangan tidak membusungkan; itu yg dipelajari dalam-dalam oleh keenam kapal yg berhasil meloloskan diri. Kelak mereka menjadi sumber pembelajaran yg berharga bagi para pelaut muda yg menanti gilirannya berada pada kapal terdepan.

Namun, diatas segala itu, kemenangan di lepas pantai Chios itu tidak juga dapat membendung meningkatnya kekuasan Beylik Aydın. Keluarga Zaccaria akhirnya juga harus melepaskan pangkalan Zmyrna di daratan kepada anak Mehmed Beg yg bernama Umur Beg. Dibawah kepemimpinan baru Umur Beg, angkatan laut Aydın menguasai Laut Aegean selama 2 dekade setelah itu hingga datangnya Crusade Smyrna (1343-1351) yg melumpuhkan Beylik Aydın secara final.

Hilangnya Aydın adalah pertanda naiknya Osmanlı. Tidak terlalu lama lagi proyek Latuftahanna akan disempurnakan persiapan baharinya.

Agung Waspodo, dalam rangka menelusuri jejak bahari menjelang naiknya Beylik Osmanlı yg akan menjadi cikal bakal Khilafah Turki Utsmani 696 tahun kemudian.

Depok, 23 Juli 2015

Sumber rederensi:

Sources: İnalcık, Halil (1993). “The Rise of the Turcoman Maritime Principalities in Anatolia, Byzantium, and the Crusades”. The Middle East & the Balkans Under the Ottoman Empire: Essays on Economy & Society. Indiana University Turkish Studies Department.

Luttrell, Anthony (1975). “The Hospitallers at Rhodes, 1306–1421”. In Hazard, Harry W. A History of the Crusades, Volume III: The fourteenth and fifteenth centuries. University of Wisconsin Press.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Kemenangan Tidak Selalu Membuahkan Kemajuan Tanpa Tindak Lanjut yang Nyata!

Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

Pertempuran Anzen – 22 Juli 838

Pertempuran Anzen, atau juga disebut Pertempuran Dazimon, terjadi pada hari Senin 26 Sya’ban 223 Hijriah atau 22 July 838 di daerah Anzen/Dazimon antara pasukan Byzantium dan kekuatan Khilafah ‘Abbasiyah.

Pada waktu itu Khilafah ‘Abbasiyah sedang melancarkan sebuah ekspedisi besar dengan 2 kelompok balatentara terpisah sebagai jawaban atas keberhasilan kampanye militer Emperor Theophilos setahun sebelumnya. Tujuan utama ekspedisi ini adalah utk menghancurkan Amorion, salah satu kota besar Byzantium di Asia Kecil. Di palagan Anzen, pasukan Theophilos berjumlah lebih besar dibandingkan dengan pasukan muslimin dibawah pangeran ketundukan (vassal) Iran yg bernama Afshin.

Strategi bumi hangus tentu berbeda dengan strategi penaklukan teritorial. Sangat disayangkan jika pada periode ino upaya terstruktur lagi menyeluruh tidak dilakukan utk menyebarkan Islam ke daerah Asia Kecil (Asia Minor, atau sering disebut sebagai Anatolia di masa Turki Utsmani nantinya).

Pasukan Byzantium yg jumlahnya lebih banyak itu pada awalnya memperoleh keberhasilan dalam kontak senjata ini, tetapi ketika Emperor Theophilos memutuskan utk ikut menyerang secara langsung; maka ketiadaan sosoknya di tengah-tengah para prajurit yg tidak biasanya ini menimbulkan kepanikan. Sebuah kepanikan yg tidak ia pertimbangkan sebelumnya ini semakin menjadi-jadi hingga berkembang isu bahwa emperor telah terbunuh. Isu ini ditambah dengan serangan balik pasukan panah-berkuda Afshin yg gigih menyebabkan pasukan utama Byzantium patah arang hingga akhirnya mundur dari lapangan tempur.

🔅Pemimpin memang patut memberi teladan, namun dalam taktik militer keteladanan ini harus diletakkan dalam bingkai strategi dengan pola komunikasi yg aman lagi efektif. Dalam kasus ini, alih-alih merebut kemenangan, ternyata kesemangatan pemimpin maju ke barisan terdepan malah membuat kekacauan pada keseluruhan barisan.

Kekacauan ini, menyebabkan kontingen yg dipimpin langsung oleh Emperor Theophilos dan pasukan pengawalnya menjadi terkepung sementara di sebuah bukit sebelum berhasil meloloskan diri. Kekalahan ini menyebabkan hancurnya kota Amorion beberapa pekan kemudian, sebuah momen kemunduran dan hantaman berat bagi prestise Byzantium dalam perseteruan beberapa abad dari Perang Arab-Byzantium.

Kekalahan yg seandainya ditindak-lanjuti dengan pendudukan wilayah maka akan memberikan hasil yg optimal utk perencanaan tahun berikutnya. Yang masih menimbulkan tanda tanya adalah, apa yg menjadi alasan bagi Khilafah ‘Abbasiyah tidak menguasai wilayah yg sdh rapuh dan runtuh pertahanannya itu? Perlu banyak membaca lagi sejarah era ini.

Kekalahan ini dinilai sangat tragis utk Byzantium pada waktu itu, namun peristiwa di Anzen dan hancurnya kota Amorion secara militer, anehnya tidak berdampak jangka panjang bagi imperium. Hal ini disebabkan karena Khilafah ‘Abbasiyah tidak meneruskan keberhasilan militer ini menjadi sebuah keuntungan yg lebih besar. Hal yg justru mencuat di sisi Byzantium adalah meningkatnya sentimen negatif terhadap ikonoklasme (iconoclasm) yg hampir selalu membutuhkan keberhasilan militer utk menjaga keabsahannya.

Stabilitas dalam negeri selalu menjadi faktor penentu berapa kuat dan lama sebuah ekspedisi militer ke wilayah luar. Ia bisa menjadi faktor pemicu namun bisa juga menjadi faktor penghambat; lawan pun harus cerdas memperhatikan momentum ini.

Tidak lama setelah wafatnya Emperor Theophilos pada tahun 842, empat tahun setelah pertempuran ini, gerakan memuja simbol-simbol relijius bergambar (icons) kembali marak sebagai penanda keberhasilan Nasrani Orthodox di seluruh penjuru kerajaan. Pertempuran Anzen dapat juga dilihat sebagai contoh betapa sulitnya militer Byzantium menghadapi ancaman pasukan panah-berkuda. Hal ini merupakan faktor militer yg besar pada abad ke-6 dan ke-7 yg kemudian berkembang menjadi kekuatan inti tradisi serta doktrin militer Byzantium.

Kekalahan tidak selalu berdampak negatif, dalam aspek militer maka kecerdasan sebuah peradaban juga dapat diukur dari seberapa cepat penyesuaian yg dilakukannya utk mengimbangi keunggulan lawan. Kemenangan tidak berdampak jauh ke depan jika tidak diimbangi oleh kesigapan utk selalu memiliki strategi dan taktik yg terus berkembang diluar pantauan lawan.

Suatu hal yg juga mencengangkan adalah pertempuran ini menjadi momen dimana Byzantium menghadapi taktik bangsa nomaden Turki dengan gaya perang Asia Tengahnya. Keturunan mereka nanti adalah bangsa Turki Saljuq yg akan menjadi antagonis bagi Byzantium dari abad ke-11 hingga seterusnya.

Agung Waspodo, masih terpana dengan mendalamnya sejarah Khilafah ‘Abbasiyah setelah 1177 tahun kemudian.

Depok, 22 Juli 2015, pagi selepas waktu subuh..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jika Engkau…

Oleh: Ustadz DR. Saiful Bahri, M.A.

Jika engkau lelah,
rebahkan dirimu dalam pangkuan-Nya.
Niscaya kan kau temukan berjuta ketenangan.

Jika engkau gundah, dinginkanlah dengan bacaan ayat-ayat-Nya.

Jika engkau gelisah, temuilah orang-orang shalih yang engkau percaya.

Jika engkau tak tau harus apa, bacalah buku.
Sinarilah hidupmu dengan membaca dan menuntut ilmu.
Dimanapun.

Jika engkau merasa sendiri, hitunglah orang-orang yang mencintaimu, menghargaimu dan berjasa dalam hidupmu.

Jika engkau merasa tak tau apa yang kau rasakan…. Renungilah ayat-ayat kauniyah.
Fenomena alam.
Hewan-hewan dan tumbuhan semua bertasbih dengan riang.

Maka bagaimanapun kondisimu usahakan bermanfaatlah bagi orang disekelilingmu.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SABAR, Bahan Bakar Dakwah Yang Tidak Boleh Berkurang

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Bahan bakar yang tidak boleh berkurang di jalan dakwah, apalagi di saat-saat genting  adalah sabar.

Sebab, berdakwah artinya kita akan berhadapan dengan berbagai macam  goncangan dan badai yang menghadang.

Meskipun dakwah mengusung ajaran Islam rahmatan lil aalamiin, justeru demi hal tersebut, ada pohon kebatilan yang harus tumbang, kekuatan zalim yang harus hilang dan pengusung kesesatan yang harus hengkang.

Maka, pastinya dia akan menghadapi perlawanan, karena tidak semua orang dapat menerima rahmat sebagai rahmat, justeru menganggapnya sebagai bahaya dan ancaman  kuat.

Tak heran, jika kemudian mereka melancarkan  ejekan, intimidasi, hingga pengumuman perang. Ini memang tabiat dakwah yang tak pernah berubah, sejak dahulu hingga sekarang, sejak Nabi pertama hingga rasul akhir zaman.

Maka bersabar adalah bekal penting yang harus dimiliki di jalan ini agar gerbong dakwah terus melaju, berjalan menyusuri lorong kehidupan,  menembus badai tantangan.

Suatu saat Rasulullah saw mendapatkan pengaduan yang tidak mengenakkan tentang prasangka buruk yang dialamatkan kepada dirinya.

Seketika itu dia ingat dengan kesabaran Nabi Musa alaihissalam  yang menghadapi kedegilan kaumnya, maka beliau bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah merahmati Musa, dia telah disakiti lebih dari ini, namun dia bersabar,” (Muttafaq alaih)

Jika Nabi yang begitu mulianya, sempurna kepribadiannya, lembut perangainya  masih menghadapi cemoohan, berbagai prasangka hingga tindak kekerasan, apalagi kita sebagai umatnya?!

Boleh jadi kita harus mengevaluasi hal-hal yang harus diperbaiki. Tapi jangan sekali-kali mengira bahwa semua itu membuat jalan dakwah ini lurus dan lempang tanpa onak duri menghadang.

Sabar di sini tentu bukan bersifat pasif, juga bukan menganut prinsip gereja ‘Apabila pipi kananmu ditampar, maka berikan pipi kirimu’.

🌟Tapi yang dituntut adalah sabar  yang:
– mendatangkan keteguhan,
– tidak mudah goyah dan lemah oleh tekanan,
– tegar menjawab berbagai tuduhan, baik dengan lisan atau perbuatan, dan
– tidak pernah surut mengayuh langkah di jalan perjuangan.

Sementara di sisi lain, emosi tetap terjaga dan tidak hilang kendali diri.

Inilah gambaran kesabaran yang Allah simpulkan dari pribadi para Nabi dan pengikutnya,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُواْ لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا اسْتَكَانُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (سورة آل عمران: 146

“Berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

Ketahuilah, tidak ada yang paling menyenangkan musuh-musuh dakwah, kecuali mereka melihat para dai menjadi lesu dan tidak berani lagi mengusung dakwah akibat benturan yang mereka hadapi.

Atau, mereka berharap aktifis dakwah menjadi kalap, emosi liar dan melakukan tindakan merusak tak terkendali sehingga menjadi amunisi berharga bagi mereka untuk membangun opini memojokkan  dakwah.

Sebaliknya, tidak ada yang paling membuat musuh-musuh dakwah merana dan nestapa, kecuali para pengusung dakwah tetap tegar meniti  jalan dakwah walaupun berbagai ujian berat menerpa serta tetap dapat mengendalikan emosi dan tidak terseret pada tindakan di luar kendali.

Maka, langkah pertama menghadapi guncangan  di jalan dakwah adalah bersabar, berikutnya, bersabar dan seterusnya, bersabar.

Apapun yang terjadi di jalan dakwah ini, jika sabar selalu menyertai, sesungguhnya kemenangan sudah kita bukukan dan kemenangan-kemenangan berikutnya kian mendekati kenyataan.

Insya Allah…

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Hal- Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat (Bag. 2)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Materi sebelumnya: http://www.iman-islam.com/2016/01/hal-hal-yang-dimakruhkan-dalam-shalat.html

***

5.       Memejamkan Mata
Sebenarnya Para Ulama berbeda pendapat, antara memakruhkan dan membolehkan.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
تغميض العينين: كرهه البعض وجوزه البعض بلا كراهة، والحديث المروي في الكراهة لم يصح
“Memejamkan mata: sebagian ulama ada yang memakruhkan, sebagian lain membolehkan tidak makruh. Hadits yang meriwayatkan kemakruhannya tidak shahih.” (Fiqhs Sunnah, 1/269. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Para Ulama Yang Memakruhkan
Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, mengatakan:
وروينا عن مجاهد وقتادة انهما كانا يكرهان تغميض العينين في الصلوة وروى فيه حديث مسند وليس بشئ
“Kami meriwayatkan dari Mujahid dan Qatadah bahwa mereka berdua memakruhkan memejamkan mata dalam shalat. Tentang hal ini telah ada hadits musnad,  dan hadits tersebut tidak ada apa-apanya.” (As Sunan Al Kubra, 2/284)

Ini juga menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr)
Selain mereka adalah Imam Ahmad, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, Imam Abu Bakar Al Kisani, Imam As Sayyid Bakr Ad Dimyathi,  dan lainnya.
Alasan pemakruhannya adalah karena memejamkan mata merupakan cara ibadahnya orang Yahudi, dan kita dilarang meniru mereka dalam urusan dunia, apalagi urusan ibadah.

Para Ulama Yang Membolehkan
Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Zaid bin Hibban, telah bercerita kepada kami Jamil bin ‘Ubaid,katanya:
سمعت الحسن وسأله رجل أغمض عيني إذا سجدت فقا إن شئت.
“Aku mendengar bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al Hasan, tentang memejamkan mata ketika sujud. Al Hasan menjawab: “Jika engkau  mau.” (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/162)

Disebutkan oleh Imam An Nawawi, tentang pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu:
وقال مالك لا بأس به في الفريضة والنافلة

“Berkata Malik: tidak apa-apa memejamkan mata, baik pada shalat wajib atau sunah.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr)
Semua sepakat bahwa memejamkan mata tidak haram, dan bukan pembatal shalat. Perbedaan terjadi antara makruh dan mubah. Jika dilihat dari sisi dalil  -dan  dalil  adalah hal yang sangat penting-  ternyata tidak ada hadits yang shahih tentang larangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, dan diisyaratkan oleh Imam Al Baihaqi. Namun, telah shahih dari tabi’in bahwa hal itu adalah cara shalatnya orang Yahudi, dan tidak boleh menyerupai mereka dalam hal keduniaan, lebih-lebih ritual keagamaan.

Maka, pandangan kompromis yang benar dan bisa diterima dari fakta-fakta ini adalah seperti apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah  sebagai berikut:
وقد اختلف الفقهاء في كراهته، فكرِهه الإِمامُ أحمد وغيرُه، وقالوا:هو فعلُ اليهود، وأباحه جماعة ولم يكرهوه، وقالوا: قد يكونُ أقربَ إلى تحصيل الخشوع الذي هو روحُ الصلاة وسرُّها ومقصودها. والصواب أن يُقال: إن كان تفتيحُ العين لا يُخِلُ بالخشوع، فهو أفضل، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يُشوش عليه قلبه، فهنالك لا يُكره التغميضُ قطعاً، والقولُ باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة، والله أعلم.
“Para fuqaha telah berselisih pendapat tentang kemakruhannya. Imam Ahmad dan lainnya memakruhkannya. Mereka mengatakan itu adalah perilaku Yahudi, segolongan yang lain membolehkannya tidak memakruhkan. Mereka mengatakan: Hal itu bisa mendekatkan seseorang untuk mendapatkan kekhusyu’an, dan itulah ruhnya shalat, rahasia dan maksudnya. Yang benar adalah: jika membuka mata tidak menodai kekhusyu’an maka itu lebih utama. Dan, jika justru hal itu mengganggu dan tidak membuatnya khusyu’ karena dihadapannya terdapat ukiran, lukisan, atau lainnya yang mebuat hatinya tidak tenang, maka secara qath’i (meyakinkan) memejamkan mata tidak makruh. Pendapat yang menganjurkan memejamkan mata dalam kondisi seperti ini lebih mendekati dasar-dasar syariat dan maksud-maksudnya, dibandingkan pendapat yang mengatakan makruh. Wallahu A’lam.” (Zaadul Ma’ad, 1/294. Muasasah Ar Risalah)

6.       Memberikan Isyarat Dengan Tangan Ketika Salam

Hal ini banyak dilakukan orang awam. Mereka membuka tangan kanannya dan membalikkannya  ketika salam pertama dan begitu pula dengan tangan kiri ketika salam kedua.

Dari Jabir bin Samurah, katanya:
كنا نصلي خلف النبي صلى الله عليه وسلم فقال: (ما بال هؤلاء يسلمون بأيديهم كأنها أذناب خيل شمس  إنما يكفي أحدكم أن يضع يده على فخذه ثم يقول: السلام عليكم السلام عليكم) رواه النسائي وغيره وهذا لفظه.
“Kami shalat di belakang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia bersabda: “Kenapa mereka mengucapkan salam sambil mengisyaratkan tangan mereka, tak ubahnya seperti kuda liar! Cukuplah bagi kalian meletakkan tangannya di atas pahanya, lalu mengucapkan: Assalamu ‘Alaikum, Assalamu ‘Alaikum. “(HR. An Nasa’i  No. 1185, dan lainnya, dan ini adalah lafaz darinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1185)

7.       Menutup Mulut dan Menjulurkan Kain Sarung/Gamis/Celana Panjang Hingga Ke Tanah

عن أبي هريرة قال:  نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن السدل في الصلاة، وأن يغطي الرجل فاه

“Dari Abu Hurairah, katanya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang menjulurkan kain ke bawah ketika shalat dan seseorang menutup mulutnya.” (HR.  Abu Daud No. 643, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra,  No. 3125, Ibnu Khuzaimah No. 772,  dan Hakim No. 631, katanya shahih sesuai syarat  Bukhari dan Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6883)

Apa Maksudnya?
قال الخطابي: السدل إرسال الثوب حتى يصيب الارض، وقال الكمال بن الهمام: ويصدق أيضا على لبس القباء من غير إدخال اليدين في كمه.
Berkata Al Khathabi: Menurunkan kain maksudnya menjulurkannya hingga menggeser di tanah. Berkata Kamaluddin Al Hummam: Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan baju tanpa memasukkan tangan ke lobang tangannya. (Fiqhus Sunnah, 1/270)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:
وقد اختلف أهل العلم في السدل في الصلاة. فكره بعضهم السدل في الصلاة وقالوا هكذا تصنع اليهود وقال بعضهم: إنما كره السدل في الصلاة إذا لم يكن عليه إلا ثوب واحد، فأما إذا سدل على القميص فلا بأس وهو قول أحمد. وكره ابن المبارك السدل في الصلاة.
“Para ulama telah berbeda pendapat tentang menjulurkan kain dalam shalat. Sebagian mereka memakruhkannya, mereka mengatakan itu adalah perbuatan Yahudi. Sebagian lain mengatakan bahwasanya pemakruhan itu hanya jika menggunakan satu pakaian saja, ada pun jika  yang dijulurkan pakaian itu adalah sebagai bagian luar dari gamis, maka tidak apa-apa, ini adalah pendapat Ahmad. Ibnul Mubarak memakruhakan menjulurkan kain dalam shalat.”  (Sunan At Tirmidzi No. 376)

8.       Shalat Ketika Makanan Telah Tersedia Dan Menahan Buang Air Besar dan  Buang Air Kecil

Dari ‘Aisyah Radhiallah ‘Anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
“Tidak ada shalat ketika makanan sudah terhidangkan, dan menahan dua hal yang paling busuk (menahan buang air besar dan kencing).” (HR. Muslim No. 559, Abu Daud No. 89, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 4816, Ibnu Khuzaimah No. 933,  Ibnu Hibban No. 2072, dari Abu Hurairah, tanpa kalimat: “tidak ada shalat ketika makanan sudah terhidangkan.”)

Hadits ini diperkuat oleh hadits berikut:      
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ وَلَا يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُوضَعُ لَهُ الطَّعَامُ وَتُقَامُ الصَّلَاةُ فَلَا يَأْتِيهَا حَتَّى يَفْرُغَ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ
              Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika telah dihidangkan makan malam, dan waktu shalat telah datang, maka mulailah makan malam dan jangan tergesa-gesa sampai selesai.”  Ibnu Umar pernah dihidangkan makan dan shalat tengah didirikan, namun dia tidak mengerjakannya sampai dia menyelesaikan makannya, dan dia benar-benar mendengar bacaan  Imam.” (HR. Bukhari No. 640,641,642, Muslim No. 557, 558,559, 560.  Ibnu Majah No. 933, 934)

Imam An Nawawi  Rahimahullah berkata:
فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع ، وَكَرَاهَتهَا مَعَ مُدَافَعَة الْأَخْبَثِينَ وَهُمَا : الْبَوْل وَالْغَائِط ، وَيَلْحَق بِهَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ يَشْغَل الْقَلْب وَيُذْهِب كَمَال الْخُشُوع
       “Hadits-hadits ini menunjukkan kemakruhan melaksanakan shalat ketika makanan yang diinginkan  telah tersedia, karena hal itu akan membuat hatinya terganggu, dan hilangnya kesempurnaan khusyu’, dan juga dimakruhkan melaksanakan shalat ketika menahan dua hal yang paling busuk, yaitu kencing dan buang air besar.  Karena hal ini mencakup makna menyibukkan hati dan hilangnya kesempurnaan khusyu’.” (Al Minhaj Syarh   Shahih  Muslim,  2/321. Mawqi’ Ruh Al Islam)

          Bahkan kalangan madzhab Zhahiriyah menganggap batal shalat dalam keadaan seperti itu:
وَنَقَلَ الْقَاضِي عِيَاض عَنْ أَهْل الظَّاهِر أَنَّهَا بَاطِلَة
            “Dinukil  oleh Al Qadhi ‘Iyadh dari ahluzh zhahir, bahwa hal  itu batal shalatnya.” (‘Aunul Ma’bud, 1/113. Syamilah)

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

QS. Al-Ma’arij (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Batas-Batas Ciptaan Allah

Surat Al-Ma’ârij diturunkan Allah setelah Surat Al-Hâqqah, juga seperti urutannya dalam mushaf usmany. Penamaan surat al-Ma’ârij diambil dari ayat ketiga yang memuat kata tersebut. Yaitu bentuk plural (jama’) darial-mi’raj yang berarti tempat naik ([1]).

Allah pernah menidurkan Nabi Uzeir as. selama seratus tahun, tapi menurut perkiraan beliau hanya sehari atau beberapa hari ([2]). Demikian juga Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda beriman yang tangguh di zaman kejayaan Romawi itu ditidurkan Allah selama 300 tahun penanggalan matahari atau sama dengan 309 tahun penanggalan bulan ([3]). Sebelumnya, mereka mengira bahwa mereka tertidur dalam gua selama setengah hari, sehari atau sehari semalam. Tapi di luar gua terjadi jutaan peristiwa. Lebih dari 40 Kaisar Romawi berganti memegang kekuasaan. Yang di dalam gua tiada mengetahui apa yang terjadi di luar gua. Yang di luar gua tiada sedikit pun tahu apa yang terjadi di dalam gua. Sehari bagi mereka sama dengan tiga ratus tahun bagi manusia di luar gua.

Allahlah yang menyetandarkan batasan waktu tersebut. Bahkan menghilangkan limit antara waktu dan peristiwa. Karena waktu merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Ketika seorang kafir meminta diturunkan adzab yang bila datang ia tak kuasa menahannya. Allah yang akan menurunkannya. Lidah para rasul-Nya hanya sebagai penyambung risalah dari Tuhan mereka. Dialah yang mempunyai tempat naik (al-mi`raj). Malaikat-malaikat-Nya perlu waktu satu hari untuk sampai di sana yang kadarnya sama dengan limapuluh ribu tahun bagi manusia ([4]). Atau seribu tahun minimalnya bila kita hitung-hitung dengan perhitungan kita sebagai manusia([5]).

Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) dan Masjidil Aqsha (Al-Quds) berbilang bulan bila ditempuh dengan kendaraan unta. Hamba Allah, Muhammad bin Abdullah hanya dengan setengah malam menempuhnya atas titah-Nya. Itu belum dengan perjalanan lengkap ke tujuh langit dan sidratul muntaha yang juga memakan waktu setengah malam saja. Kemudian kembali ke tempat semula sebelum sang fajar menyingsing.

Saat itu, ribuan manusia terlelap dalam mimpi malam, tiada tahu apa yang terjadi. Kepergian anak yatim dari kaum mereka dalam perjalanan panjang yang singkat setelah dirundung duka dengan kepergian dua kekasihnya; Paman dan Istri tercinta. Allah karuniakan ketenangan kepadanya, sebagai pelipur lara. Sitar yang menjadi pembatas antara hakikat dan kehidupan manusia yang bernama waktu malam itu tak berlaku, telah dihilangkan penciptanya. Sehingga setengah malam saja sudah cukup untuk menempuh jarak yang setidaknya menurut perhitungan manusia, jutaan bahkan milyaran mil, bahkan jutaan tahun cahaya menurut takaran para ilmuwan.

Satu hari sama dengan 100 tahun. Satu hari sama dengan 300 tahun. Satu hari sama dengan 1000 tahun. Satu hari sama dengan 5000 tahun. Pembatas itu  hanya Allah saja yang mengetahui.

Kesabaran yang Baik

Pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik”. (QS. Al-Ma`arij: 5) Petuah ini tidaklah mengada-ada karena kesabaran manusia yang yakin akan kekuasaan Tuhannya merupakan penangkal kebiasaan dan sifat-sifat buruk berkeluh kesah lagi amat kikir (sebagaimana dijelaskan lebih lanjut pada ayat 19-21). Dan secara khusus, terutama bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang tak henti-henti menerima tekanan dan teror fisik dan psikis dari kaum kuffar Quraisy. Itulah bedanya, beda sudut pandang antara orang yang beriman dan kaum pembangkang. Yaitu anggapan tentang jeda waktu yang diberikan pada manusia. Tentang azab bagi mereka yang memintanya sendiri. Atau tentang kemenangan dan janji Allah untuk orang-orang yang mau mengimaninya.

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)”.(QS. Al-Ma`arij:6-7)

Karena Allah sajalah yang membuat limit waktu tersebut bahkan menghilangkannya. Sedang manusia dengan segala keterbatasannya terikat oleh limit kehidupan bernama waktu.

Hari yang pasti itu tergambar jelas di mata orang-orang bertakwa. Bahkan ketakutan mereka melebihi orang-orang yang seharusnya lebih takut akan hari kebinasaan itu.

📌”Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (berterbangan). Dan tak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan isterinya serta saudaranya, juga familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”. (QS. Al-Ma’ârij:8-14)

Guratan sesal yang nyata. Bagi orang-orang yang mendustakannya, bahkan menganjurkan orang-orang untuk tidak mempercayainya.

Nantinya, setelah semuanya dihisab dan ditentukan tempat akhirnya, mereka masih terus berharap ada tebusan yang bisa menghindarkan mereka dari kemurkaan Allah. Atau setidaknya dapat mengurangi siksaan yang akan mereka dapatkan sebagai pembalasan perbuatan buruk mereka.

”Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang mengelupas kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”. (QS. Al-Ma’ârij: 15-18)

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…