Memberi Hadiah Terhadap Hutang Piutang

Assalaamu’alaikum wrwb.

Mohon maaf para asatidz, saya ingin bertanya.

1. Saya memberikan modal kerja ke kawan untuk usaha pakaian. Dengan waktu yang disepakati dia mengembalikan. Di awal akad meminjam tidak ada perjanjian harus mengembalikan dengan tambahan nilai tertentu. Akan tetapi saat dia mengembalikan uang modal tanpa saya minta pun di pasti memberi tambahan. Apakah itu termasuk riba..??

2. Seseorang menjaminkan bilyet Giro sebagai pengganti pembayaran utangnya kepada saya. Dia memberikan hadiah untuk saya berupa sejumlah uang dengan cara potongan pinjaman dimuka karena yang mencairkan Bilyet Giro adalah saya nantinya (nilai pinjaman lebih kecil dari nominal Bilyet Giro). Adapun hadiah yang diberikan terserah dari peminjam. Apakah ini termasuk riba yang diharamkan tsb?

-A13-

jawabannya:
1. Bukan termasuk riba.

2. Bukan termasuk riba yang diharamkan.

Dalam hal perkara diatas, tambahan uang yang diberikan dengan sukarela bukan sebagai syarat pemberian modal pinjaman maka bukan termasuk riba.

Pada dasarnya islam melarang seorang muslim untuk memakan riba, hal ini seperti yang tercantum di dalam surat Al-Baqarah ayat 278 yang artinya: “Hai orang –orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman” (Q.S. Al Baqarah: 278) Allah melarang seseorang memakan riba dikarenakan akan diberikannya siksaan yang amat pedih bagi orang-orang yang memakan riba. Hal ini sudah disampaikan oleh Firman Allah dalam Al-Quran salah satunya di dalam surat An-Nisa ayat 161, yaitu: “Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang amat pedih” (Q.S An-Nisa: 161)

Riba menurut bahasa berarti ziyadah (tambahan). Menurut Yusuf al-Qardawi, setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan adalah riba.

Wallahu A’lam Bishshawab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Ketika Dunia Bahari Sudah Dikuasai Turki Utsmani

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran di Pulau Ponza – 5 Agustus 1552

Pertempuran laut ini terjadi di lepas pantai Pulau Ponza, tidak jauh dari daratan Semenanjung Italia. Pertempuran ini mempertemukan armada Perancis dan Khilafah Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Turgut Reis (Dragut) menghadapi armada Genoa di bawah pimpinan Andrea Doria. Pada akhir pertempuran, pihak Genoa kalah dengan 7 galley mereka tertawan Turki Utsmani. Kemenangan ini memudahkan armada Turki Utsmani berikutnya untuk menyerbu pantai Sisilia, Sardinia, dan Italia selama tiga tahun.

Kekuatan Yang Berhadapan

Armada yg digelar Turki Utsmani terdiri dari sekitar 100 galley khusus untuk mempenetrasi laut Mediterranean bagian barat. Pengerahan ini diputuskan dengan mempertimbangkan bahwa Raja Henry II berperang melawan Raja Charles V pada Perang Italia 1551-59.

Mencari “kesempatan dalam kesempitan” dalam dunia percaturan politik regional maupun global itu sdh ada sejak dahulu kala, maksimalkan!

Armada Turki Utsmani ini mendapatkan bantuan sejumlah 3 galley Perancis di bawah dutabesarnya untuk İstanbul yg bernama Gabriel de Luetz d’Aramon yg juga menyertai serbuan-serbuan berikutnya sepanjang pesisir Calabria di bagian selatan Italia hingga ke keberhasilan menguasai kota Reggio.

Armada Genoa terdiri dari 40 galley di bawah pimpinan Andrea Doria. Dua puluh diantaranya merupaka milik pribadi Doria, enam milik Antonio Doria, serta 2 lagi milik Keluarga Grimaldi dari Monako.

Pertempuran

Pertempuran laut antara kedua armada ini terjadi pada hari Jum’at 14 Sya’ban 959 Hijria berlangsung antara pulau Ponza dan Terracina di dekat pesisir Italia. Armada Turki Utsmani sedemikian gesitnya sehingga tidak hanya mengalahkan lawan namun mereka juga berhasil menawan 7 galley yg berisi perbekalan pasukan Genoa.

Seperti apa sekolah laut atau akademi maritim khilafah pada waktu itu adalah sebuah penelusuran yg menarik!

Setelah pertempuran ini selesai, gabungan armada Turki Utsmani dan Perancis itu menyerbu hingga ke Pulau Majorca pada 13 Agustus 1552; tidak jauh dari Bumi Andalusia yg sudah terhapus dari pentas sejarah. Pihak Turki Ustamni terus menekankan betapa perlunya Perancis ikut serta dalam penyerbuan ke arah barat serta menjelaskan ancaman laten dari Persia.

Tidak semua mitra aliansi itu dapat dipercaya; semua kepentingan politik itu sementara dan hanya tujuan yg utama yg abadi.

Setelah pertempuran ini, armada Turki Utsmani melewatkan musim dingin tahun itu dengan merapat ke dermaga di Pulau Chios. Di pelabuhan inilah armada Perancis turut merapat dan bergabung. Armada gabungan ini selalu disiagakan untuk mengantisipasi hal-hal yg tidak diinginkan. Doria sekali lagi mencoba untuk menghentikan laju serbuan Turgut di Pertempuran Djerba, namun kembali ia mengalami kegagalan pada tahun 1560. Turgut terus aktif menyerbu pesisir negeri-negeri kaum nasrani hingga 5 tahun sebelum ia wafat.

Agung Waspodo, berusaha mengangkat tema hari bersejarah bagi pahlawan tidak dikenal maupun yang masyhur, 463 tahun kemudian, kurang satu hari.

Depok, 4 Agustus 2015.. mulai mendekati tengah malam dan berjuang menangkis serangan kantuk.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kemuliaan dan Harga Diri Ummat yang Dulu Pernah Ada, Sekarang Sudah Hilang!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan Kota Pelabuhan Nice, 6-22 Agustus 1543

Pengepungan ini adalah bagian dari Italian War tahun 1542–46 dimana Raja Francis I dan Sultan Suleiman I Kanuni bekerja sama dalam suatu aliansi Perancis-Turki Utsmani melawan Emperor Charles V dari Holy Roman Empire bersama Raja Henry VIII dari Inggris. Pada waktu itu, kota pelabuhan Nice sedang berada di bawah kendali Charles III pangeran Savoy yg juga sekutu dari Charles V. Peristiwa ini juga merupakan bagian dari kampanye militer Khairuddin Barbarossa di Laut Mediterranean periode 1543-44.

Latar Belakang

Di Laut Mediterranean, telah terjadi kolaborasi angkatan laut antara Perancis dan Khilafah Turki Utsmani berhadaoan dengan kekuatan Spanyol. Kolaborasi ini merupakan permintaan dari Francis I yg disampaikan melalui utusam khusus Antoine Escalin des Aimars. Angkatan laut Perancis dipimpin oleh François de Bourbon sedangkan angkatan laut Turki Utsmani dipimpin oleh Khairuddin Barbarossa. Mereka berdua pertama kali bertemu di Marseilles pada bulan Agustus 1543.

Walaupun Duchy Savoy yg menguasai kota Nice pernah menjadi wilayah protektorat Perancis selama seabad, Francis I tetap menyerangnya – konon – dengan alasan bahwa Charles III menikahi Beatrixe dari Portugal sehingga otomatis menjadi sekutu Dinasti Habsburg.

Admiral François de Bourbon pernah mencoba menyerbu Nice secara mendadak tetapi gagal akibat perlawanan dan pertahanan sengit dari admiral Andrea Doria.

Kedatangan Armada Laut Turki Utsmani

Berdasarkan kesepakatan antara Francis I dan Suleiman I, armada berkekuatan 110 galley di bawah Khairuddin Barbarossa telah berangkat meninggalkan Laut Marmara oada pertengahan bulan Mei 1543. Dalam perjalanan menuju Nice, armada itu telah menyerbu pesisir Sisilia dan Italia selatan sampai bulan Juni. Bahkan armada ini buabg sauh tidak jauh dari kota Roma di daerah hilir Sungai Tiber pada hari Kamis Rabi’ul Awwal 950 Hijriah (28 Juni). Duta besar Perancis yg bernama Polin sampai perlu menulis surat kepada Paus memberikan jaminan bahwa Roma tidak akan diserang.

Demikian harga diri serta kedigdayaan ummat Islam pada waktu itu sedemikian tinggi sehingga kaum lain segan kepadanya.

Khairuddin Barbarossa tiba dengan armadanya, didampingi dubes Polin, di Île Saint-Honorat pada hari Kamis 2 Rabi’uts Tsani 950 Hijriah (5 July). Pihak Perancis benar-benar tidak siap dengan keseriusan armada Khilafah Turki Utsmani ini, sehingga Polin diutus menemui Francis I untuk membicarakan tentang logistik di Marolles (?) serta dukungan lainnya. Sementara itu Khairuddin Barbarossa bergeran menuju pelabuhan kota Toulon lima hari setelah itu dan armada tersebut diterima dengan hormat di Marseilles pada 21 Juli. Di pelabuhan kota Marseilles inilah kedua angkatan laut bergabung secara resmi. Armada gabungan inj bergerak keluar dari Marseilles pada hari Ahad tanggal 4 Jumadil Awwal 950 Hijriah (5 Agustus).

Pengepungan

Armada Turki Utsmani pertama kali mendarat di Villefranche, sekitar 6 mm sebelah timur Nice, dan demi strategi perang kota tersebut direbut dan dihancurkan pertahanannya. Setelah itu armada Perancis dan Turki Utsmani melakukan serangan gabungan ke kota Nice pada keesokan harinya, Senin tanggal 5 Junadil Awwal 950 Hijriah (6 Agustus 1543), dengan dibantu oleh 50 galley Perancis.

Aliansi ini mendapatkan perlawanan yg sengit dari kota Nice yg juga melahirkan legenda Catherine Ségurane. Konflik ini bereskalasi menjadi perang besar pada tanggal 15 Agustus, namun kota tersebut baru menyerah pada 22 Agustus. Dalam kesempatan ini pihak Perancis menghalangi perusakan kota dari tangan balatentara Turki Utsmani. Lebih dari itu, aliansi ini pun tidak mampu merebut benteng kota yg dikenal sebagai Château de Cimiez. Konon kabarnya, kegagalan ini disebabkan oleh keterbatasan mesium yg dapat diperbantukan Perancis kepada Turki Utsmani.

Perang Lainnya

Pertempuran lain yg berlangsung tidak jauh dari benteng kota terjadi pada tanggal 8 September, namun pasukan aliansi tersebut mundur setelah memoeroleh infirmasi intelijen tentang datangnya balatentara Habsburg untuk membantu perlindungan kota tersebur. Kekuatan yang sedang disiapkan untuk bergerak ke arah Nice dikonsolidasikan oleh Duke Charles III dari Savoy di kota Piedmont.

Pada malam terakhir sebelum mundur, Barbarossa menyempatkan diri untuk meratakan kota tersebut, merebut persediaannya, membakar bangunan strategis, serta memperoleh sekitar 5 ribu tawanan. Pasukan bala-bantuan yg dikirim via laut menggunakan armada Andrea Doria baru merapat ke Villefranche sebelum berbaris menuju benteng pertahanan di Nice.

Selama kampanye militer ini, Khairuddin Barbarossa sering mengajukan keberatannya kepada kapal perang Perancis atas ketidaksiapan kapal perang dan persediaannya. Bahkan tercatat ia mengatakan “apakah pelau-pelautmu justru memenuhi stok kapal dengan anggur dan bukan bubuk mesiu?” Barbarossa terlihat enggan menyerang Andrea Doria bahkan ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan menggantikan 4 galley yg terkena badai. Sebagian sejarawan ada yg mengatakan bahwa antara Barbarossa dan Doria telah terjadi kesepakatan tidak tertulis.

Armada Turki Utsmani Berlindung dari Musim Dingin di Toulon

Setelah pengepungan itu diangkat tanpa hasil yg bermakna, Francis I menawarkan Barbarossa untuk berdiam di Toulon selama musim dingin. Hal ini juga dengan pertimbangan bahwa kedua sekutu itu akan memiliki banyak kesempatan untuk menyerbu berbagai eikayah Holy Roman Empire yg terisolir. Sasaran lain tentunya pesisir selatan Spanyol dan Italia dengan meningkatnya efektivitas komunikasi antar keduanya. Selain itu, Khairuddin Barbarossa juga mendapatkan janji bantuan dalam upayanya merebut kembali Tunis dari tangan Spanyol.

Selama musim dingin, armada Turki Utsmani dengan 120 galley dan 39 ribu pasukan mendapatkan rumah-pangkalan sementara di Toulon. Dari Toulon, Khairuddin Barbarossa menugaskan Salih Reis untuk memanfaatkan situasi ini guna menyerang secara sistemik target-target di pantai Barcelona di Spanyol, Sanremo, Borghetto, Santo Spirito, Cerialein di Italia, and mematahkan serangan-serangan Italia dan Spanyol via laut.

Barbarossa kemudian menggerakan seluruh armadanya ke Genoa untuk menegosiasikan pelepasan Turgut Reis dari penjaranya. Perancis menyediakan sekitar 19 juta kg roti untuk menunjang balatentara Khilafah Turki Utsmani selama di Toulon, sekaligus persediaan untuk melanjutkan kampanye militer pada musim panas berikutnya, hingga logistik yg memungkinkan mereka kembali ke İstanbul.

Sepertinya keterlibatan Francis I pada aliansi bersama Turki Utsmani ini hanya setengah-hati karena banyaknya negeri Eropa berpenduduk kaum nasrani yg menolak serta merendahkan aliansi tersebut. Mereka tidak dapat menerima adanya aliansi yg mengadu sesama kekuatan nasrani. Hubungan antar keduanya selalu dalam suasana tegang lagi curiga.

Kesudahan

Perjanjian antara Perancis dan Habsburg akhirnya ditanda-tangani antara pemimpin Perancis dan Habsburg di kota Crépy pada hari Kamis 1 Rajab 951 (18 September 1554). Perjanjian damai jugs berhasil disepakati antara Turki Utsmani dan Kerajaan Habsburg pada 10 November 1545 dimana emperor Charles V menyetujui wilayah-wilayah yg sudah ditaklukkan Khilafah Turki Utsmani. Perdamaian semu ini terus berlangsunh hingga terjalinnya perjanjian perdamaian resmi setelah Francis I wafat pada 1547.

Agung Waspodo, melihat vitalitas yg begitu tinggi pada pemimpin ummat pada periode tersebut, 472 tahun setelah itu.. minus 1 hari.

Depok, 5 Agustus 2015, menyicil artikel untuk besok.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang (bag. 1)

Oleh: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

باب النهي عن بيع الدين بالدين

Hadits #1

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ (رواه النسائي في الكبرى والحاكم والدارقطني)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim dalam Mustadraknya)

Hadits #2

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَبِيعُ اْلإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رُوَيْدَكَ أَسْأَلُكَ إِنِّي أَبِيعُ اْلإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَهَا بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ (رواه النسائي وأبو داود وأحمد والحاكم)

Dari Ibnu Umar, dia berkata; ‘Aku pernah menjual unta di Baqi‘, aku menjualnya dengan beberapa dinar, dan aku mengambil beberapa dirham, dan menjual dengan beberapa dirham dan mengambil beberapa dinar.

Kemudian aku datang menemui Nabi SAW di rumah Hafshah ra, lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya. Sesungguhnya aku menjual unta di Baqi’, aku menjualnya dengan dinar dan mengambil dirham, dan menjualnya dengan dirham dan mengambil dinar. Aku mengambil ini sebagai ganti dari ini dan memberi ini sebagai ganti dari ini.’

Kemudian Beliau bersabda: “Tidak mengapa engkau mengambilnya dengan harga pada hari itu, selama kalian berdua belum berpisah sementara (ketika itu) di antara kalian ada sesuatu.”
(HR. Nasa’i, Abu Daud, Ahmad dan Al-Hakim)

Takhrij Hadits

1. Hadits pertama diriwayatkan oleh:

Imam Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra nya, dalam Jama’ Abwab Ar-Riba, Bab Ma Ja’a fin Nahyi an Bai’ ad-Dayn bi ad-Dayn, Juz V, hal 716.

Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, Kitab Al-Buyu’, Bab Wa Amma Hadits Ma’mar bin Rasyid, hadits no 2302.

Imam Daruquthni dalam Kitab Al-Buyu’, hadits no 3105, Juz VII, hal 351.

2. Hadits kedua diriwayatkan oleh :

Imam Abu Daud dalam sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab fi Iqtidha’ ad-Dahahab Minal Waraq, hadits no 2911.

Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi as-Sharf, hadits no 1163.

Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab bai al-fidhah bid ad-dzhab wa bai’ ad-dzahab bi al-fiddhah, hadits no 4506.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab at-Tijarat, Bab Iqtidha’ ad-Dzahab mi al-waraq wa al-Waraq min ad-Dzahab, hadits no 2253.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Abdullah bin Umar bin Khattab, hadits no 5296, 5300, 5959 dan 6139.

Makna Umum

Hadits pertama secara umum menggambarkan tentang larangan jual beli hutang dengan hutang, atau jual beli barang yang masih tangguh yang belum diterima dengan uang yang juga masih tangguh atau belum diterima.

Larangan jual beli hutang dengan hutang, adalah sama seperti larangan jual beli ma’dum (yaitu jual beli yang objek barangnya tidak ada) dengan uang atau harga yang juga ma’dum (uangnya belum ada atau belum diterima).

Adapun hadits kedua menggambarkan tentang bolehnya menukar harga yang berada dalam jaminan seseorang dengan mata uang lain. Namun kebolehannya bersyarat, dengan adanya taqabudh (saling menggemgam barang saat transaksi, sebagai bukti bahwa transaksinya memiliki objek akad)
Karena emas dan perak keduanya merupakan barang-barang ribawi yang tidak boleh ditukarkan kecuali dengan cash pada saat transaksi.

Pembahasan Fiqh Bai’ Dain

Dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Al-Zuhaily memberikan pembahasan tentang bai’ ad-dain (بيع الدين) sebagai berikut (4/432):

#1. بيع الدين نسئة –

1. Menjual hutang dengan hutang (tunggakan pembayaran)

Dalam fiqh dikenal dengan bai’ ad-dain by ad-dayn atau dalam hadits disebut bai’ al-kali bil kali (بيع الكالئ بالكالئ).
Bentuk jual beli seperti ini adalah dilarang secara syariah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ
(رواه النسائي في الكبرى والحاكم والدارقطني)

Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim)

Contoh jual beli hutang dengan hutang adalah sebagai berikut :

‘Saya beli dari kamu satu mud gandum dengan harga satu dinar dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan.’

Atau seseorang membeli barang yang akan diserahkan pada waktu tertentu lalu ketika jatuh tempo, penjual tidak mendapatkan barang untuk menutupi utangnya, lantas berkata kepada pembeli,

‘Juallah barang ini kepadaku dengan tambahan waktu lagi dengan imbalan tambahan barang’.

Lalu pembeli menyetujui permintaan penjual dan kedua belah pihak tidak saling sarah terima barang.

Atau dengan bentuk lain yang melibatkan pihak ketiga:
‘Saya jual kepadamu 20 mud gandum milikku yang dipinjam oleh fulan dengan harga sekian dan kamu bisa membayarnya kepadaku setelah satu bulan.’

Jual beli seperti ini adalah jual beli yang terlarang, dan ulama sepakat akan keharamannya.

#2. بيع الدين نقدا في الحال –

2. Menjual hutang secara tunai pada saat transaksi.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Seputar Waris

Oleh: Ustadzah Dra. Indra Asih

Assalamu’alaikum ustadzah,,

Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan dalam kehidupan ustadzah dan keluarga,,,Aaminn

Mohon maaf mengganggu waktunya,

Saya ingin bertanya sesuatu hal mengenai sikap terhadap seorang ibu,

Sebelumnya perkenankan saya menceritakan kronologisnya

Saya istri dari suami dengan 1 kakak laki-laki dan 2 adik perempuan.
Bapak mertua saya meninggal beberapa tahun yang lalu, meninggalkan tanah puluhan meter, ratusan juta uang kematian mobil dan rumah.

Semua harta sepeninggalan almarhum tidak dibagikan karena di hak semua oleh ibu mertua, awalnya suami saya tidak mempermasalahkan harta waris karena memang sifat mamah mertua selalu kasar dan marah berapi-api kalo membahas masalah harta waris.

Waktupun berlalu dari tahun ketahun dan akhirnya semua harta habis kecuali rumah yang ditinggali sekarang.

Harta waris yang habis itu tidak jelas diperuntukkan kemaslahatannya, malah dominan kepada foya-foya dan mamah mertua selalu mendatangi orang pintar, bayaran orang pintar itu juta-jutaan bahkan sampai puluhan juta (itu informasi yang di dapat).

Sekarang rencana mamah mertua itu mau menjual rumah yang ditinggali, selanjutnya mau beli rumah yang lebih  kecil dari sekarang dan sisa dari hasil jual rumah mau diperuntukkan biaya hidup mamah mertua..

Sebelumnya  mamah mertua pernah tertipu sama pacar brondongnya sampai menggadaikan SK JHT, jadi penghasilan bulanannya terpotong oleh cicilan dan sebagian biaya hidup mamah mertua dibantu oleh anak-anaknya.

Kalo menurut analisa saya penghasilan mamah mertua lebih dari cukup hanya karena gaya hidup yang menjadikan kurang dan kurang (mohon tegur saya apabila saya lancang menganalisa orang tua)

Dari kronologis diatas,
suami saya rencananya mau meminta mamah untuk membagikan hasil dari penjualan rumah tersebut sesuai dengan aturan agama, apapun reaksi mamah dengan dasar ingin meluruskan dan melindungi harta waris agar tidak dipakai yang tidak jelas.

Hanya saja, saya menahan keputusan suami ini karena beberapa hal.

Sebelumnya pernah timbul konflik mengenai harta waris ini,,,
Sampai mamah mencak-mencak,  memaki, sumpah serapah bahkan mengeluarkan kata anak durhaka..

Karena mamah punya pikiran: “ini semua punya mamah, kalo anak-anak mau harta waris kudu nunggu mamah meninggal”.

Bagaimana menurut ustadzah kalo kondisinya seperti ini?

Apa suami saya tetep lanjut untuk meminta dibagikan? Atau diam saja seperti yang sudah-sudah?

Mohon sarannya sangat ditunggu..

Jazzakillah khairan khatsira sebelumnya..sudah mau meluangkan waktu untuk membaca curhatan saya..

Wassalamu’alaikum

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

1. Sebaiknya penerapan syariat dilakukan karena semua yang terkait paham.

2. Langkah yang didahulukan adalah memberikan pemahaman. Semaksimal mungkin.

3. Hindari keburukan yang lebih besar dibandingkan mengambil manfaat.

4. Kewajiban anak untuk menyayangi dan menyantuni orang tua (apalagi untuk anak laki-laki) tetap prioritas apapun kondisinya.

5. Usaha menyayangi dan menyantuni dilakukan dengan cara terus menasehati dan mendekati, hingga dengan izin Allah, mudah-mudahan kesadaran dan hidayah ibu muncul.

6. Semoga Allah mudahkan usaha birrul walidain kita, hingga menjadi sarana ibu kita mendapatkan hidayah, siap menjalankan syariat dan ketaatan di usia tuanya dan husnul khotimah.

Allahu A’lam Bisshawab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (3) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 3:

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ – صلى الله عليه وسلم –  إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ

                Dari Abu Umamah Al BaahiliRadhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya, kecuali yang bisa mengubah baunya, rasanya, dan warnanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, dan didhaifkan oleh Abu Hatim.

Takhrij Hadits:

–          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 521

–          Imam At Thabari dalam Tahdzibul AtsarNo.  2078

–          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 26652

–          Imam Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah No. 1856

Status Hadits:

–          Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar hadits ini didhaifkan oleh Imam Abu Hatim.

–          Imam An Nawawi berkata: “Dhaif, tidak sah berhujjah (berargumentasi) dengannya, mereka (para ulama) telah sepakat atas kelemahannya.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/110)

–          Imam Ibnul Mulqin berkata: “Pada sanadnya terdapat Risydin bin Sa’ad, para ulama mendhaifkannya, tetapi Ahmad berkata: saya harap dia shalihul hadits (haditsnya baik).” (Tuhfatul Muhtaj, 1/144)

–          Imam Asy Syafi’i juga mengisyaratkan kedhaifan hadits ini. (Khulashah Al Badru Al Munir, 1/8)

–          Imam Al Haitsami mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat Risydin bin Sa’ad, dan dia dhaif. “ (Majma’ Az Zawaid, 1/502)

–          Imam Az Zaila’i mengatakan: “Hadits ini dhaif.” (Nashbur Rayyah, 1/94)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu.

 Imam Amir Shan’ani Rahimahullah menjelaskan:

Namanya Shudda, ayahnya adalah ‘Ajlan. Al Baahili dinisbatkan kepada Al Baahilah yang artinya kaum. Ibnu Abdil Bar mengatakan tidak ada perbedaan pendapat tentang nama Beliau dan ayahnya. Beliau tinggal di Mesir, lalu pindah ke Himsh. Beliau termasuk yang banyak meriwayatkan hadits dari NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan bahwa dia wafat usia 86 tahun. Disebutkan pula bahwa Beliau adalah sahabat yang terakhir yang wafat di Syam. (Lihat Subulus Salam, 1/18)

2.       Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Abu Hatim mendhaifkan hadits ini. Maka, ada dua keterangan yang mesti diketahui:

1. Pertama, siapakah Imam Abu Hatim? Berkata Imam Adz DzahabiRahimahullah –kami ringkas:

Dia adalah Al Imam, Al Haafizh, An Naaqid (ahli kritik), gurunya para ahli hadits, Al Hanzhali (keturunan Hanzhalah), Al Ghatafani (suku Ghatafan), dia berasal dari Tamim bin Hanzhalah bin Yarbu’. Disebutkan juga, dikenal  Al Hanzhali karena dahulu dia tinggal di daerah Hanzhalah, di kota Ar Ray.

Dia adalah lautan ilmu, lahir tahun 195H. Al Khathib berkata: “Abu Hatim adalah salah satu imam di antara para Huffaazh yang kokoh.”  Ali bin Ibrahim Al Qaththan mengatakan: “Aku belum pernah melihat yang seperti Abu Hatim.” Imam An Nasa’i mengatakan: “terpercaya.” Hibbatullah Al Lalika’i mengatakan: “Abu Hatim adalah imam, hafizh, dan tsabit (kokoh).” (Lengkapmya lihat Siyar A’lamin Nubala, 13/247-266)

2. Kedua, apakah hadits dhaif? Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وهو ما لم يجتمع فيه صفات الصحيح، ولا صفات الحسن المذكور

Yaitu hadits yang tidak terkumpul di dalamnya sifat-sifat hadits shahih, tidak pula hadits hasan, sebagaimana disebutkan. (Al Baa’its Al Hatsits, Hal. 5)

Hadits dhaif memiliki berbagai jenis:maudhu’ (palsu), matruk (ditinggalkan), maqlub (terbalik), munqathi’ (terputus sanadnya), syadz (janggal), mudhtharib (guncang), mursal (serupa dengan munqathi’), mu’allaq (tidak disebutkan sanadnya), dan lainnya. Semua ini dibahas dalam kitab-kitab musthalahul hadits atau‘ulumul hadits. Wallahu A’lam

3.       Hadits ini menunjukkan bahwa air pada awalnya suci sebagaimana penjelasan hadits kedua, kecuali jika air  itu terkena benda najis yang bisa mengubah sifat-sifat air suci, maka dia menjadi najis.

Bukankah hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan dalil? Dalilnya adalah ijma’, bukan karena hadits ini. Hal ini dijawab oleh Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

وقال النووي: اتفق المحدثون على تضعيفه، والمراد تضعيف ورواية الاستثناء، لا أصل الحديث، فإنه قد ثبت في حديث بئر بضاعة، ولكن هذه الزيادة قد أجمع العلماء على القول بحكمها. قال ابن المنذر: قد أجمع العلماء: على أن الماء القليل والكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت له طعماً، أو لوناً، أو ريحاً فهو نجس، فالإجماع هو الدليل على نجاسة ما تغير أحد أوصافه، لا هذه الزيادة.

Berkata An Nawawi: “Para muhadditsin telah sepakat atas kelemahan hadits ini,” yang dimaksud lemah adalah riwayat yang menunjukkan pengecualiannya (yaitu kalimat: kecuali yang bisa mengubah baunya, rasanya, dan warnanya, pen), bukan hadits asalnya, sebab telah shahih hadits tentang sumurBudhaa’ah (hadits kedua, pen), tetapi tentang tambahan ini, para ulama telah ijma’ (konsensus) untuk berpendapat dengan hukum yang ada padanya.  Berkata Ibnul Mundzir: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, dan aroma, maka dia menjadi najis.” Maka, ijma’ adalah merupakan dalil atas kenajisan sesuatu yang telah berubah salah satu sifat-sifatnya, bukan berdalil pada kalimat tambahan hadits ini. (Subulus Salam, 1/19)

Jadi, pendapat tentang najisnya air yang telah berubah rasa, warna, dan aroma, adalah bukan berdasarkan hadits ini karena dia dhaif, tetapi berdasarkan ijma’, dan ijma’ merupakan salah satu sumber hukum Islam.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلَالَةٍ

Sesungguhnya Allah tidak akan meng-ijma’kan umatku –atau dia berkata: umat Muhammad- di atas kesesatan. (HR. At Tirmidzi No. 2167. Al Hakim No. 397,  Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 1848)

Oleh karenanya berkata Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

 الْإِجْمَاعُ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْفُقَهَاءِ وَالصُّوفِيَّةِ وَأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْكَلَامِ وَغَيْرِهِمْ فِي الْجُمْلَةِ وَأَنْكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَالشِّيعَةِ

                “Ijma’ telah menjadi kesepakatan antara umumnya kaum muslimin, baik dari kalangan ahli fiqih, sufi, ahli hadits, dan ahli kalam, serta selain mereka secara global, dan yang mengingkarinya adalah sebagian ahli bid’ah seperti mu’tazilah dan syi’ah.” ( Majmu’ Fatawa, 3/6. Mawqi’ Al Islam)

  Al Imam  Al Hafizh  Al Khathib Al Baghdadi Rahimahullah beliau berkata:

“Ijma’ ahli ijtihad dalam setiap masa adalah satu di antara hujjah-hujjah Syara’ dan satu di antara dalil-dalil hukum yang dipastikan benarnya”. (Al Faqih wal Mutafaqih, 1/154)

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

QS. Nuh (Bag. 2)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Materi sebelumnya:
http://www.iman-islam.com/2016/02/qs-nuh-bag-1.html?m=1

Dengan Dialog dan Bukan Dengan Doktrin

Nabi Nuh as dalam berdakwah tidaklah pernah memaksa, tidak juga menggunakan doktrin yang tidak masuk akal. Beliau berdakwah dengan penuh hikmah. Bahkan kaumnya diajak berdialog dengan membaca ayat-ayat kauniah Allah.

”Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal dia sesungguhnya telah menciptakanmu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (ke hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”. (QS. 71: 13-20)

1. Pertama, Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk mengenal penciptaan manusia yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang menjadikan hal tersebut. Dari setetes air mani yang mengandung sperma yang membuahi ovum kemudian berubah melalui berbagai fase hingga kemudian membentuk janin yang sempurna sampai kemudian keluar dari rahim ibunya. Siapa yang mampu menciptakan hal seperti itu.

2. Kedua, Alam sekeliling manusia. Langit, bintang dan jagad raya yang ada terhampar begitu luas. Tak ada yang tahu seberapa luasnya. Di mana batas-batasnya. Siapakah yang menciptakannya. Dan siapakah yang menjadikan bumi menghampar sebagai tempat hidup manusia yang bisa berjalan ke mana saja untuk menjemput rizki dan karunia Allah.

Tapi, nihil. Hati kaum Nabi Nuh benar-benar tertutup. Lebih keras dari batu. Maka Nabi Nuh pun mengeluhkan pada Allah,
📌”Nuh berdoa: Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku” (QS. 23: 26)

Dalam surat ini Nabi Nuh lebih jelas berdoa,
📌”Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka., dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” (QS. 71: 21-22)

Kukuh Dalam Kesalahan

Lihatlah bagaimana mereka bersikukuh pada ego mereka. Para pemuka kaum menyeru tak henti-henti pada semua orang. Anehnya perkataan mereka lebih didengar daripada perkataan Nabi Nuh as. Padahal mereka jelas-jelas menjerumuskan kepada kesesatan.

”Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. 71: 23)

Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr adalah nama-nama berhala yang mereka sembah.

Imam Bukhary meriwayatkan perkataan sahabat Ibnu Abbas ra.,”Tuhan-tuhan mereka ini kemudian disembah orang-orang di semenanjung Arab . Wadd disembah kabilah al-Kalb yang bertempat di Daumah al-Jandal, Suwwa’ disembah oleh Hudzail, Yaghuts oleh Murad dan Bani Ghutaif, Ya’uq disembah Kabilah Hamdan serta Nasr disembah Kabilah Hamir di Yaman …” ([6]).

Dulunya mereka adalah orang-orang shalih yang baik yang kemudian dikultuskan secara berlebihan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Syaitan pun bermain di sana untuk menyesatkan manusia.

📌”Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka. Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”. (QS. 71: 24-25)

Karena itu, sebagai pamungkas Nabi Nuh memohon yang terbaik. Menyerahkan ketentuan kepada Allah. Supaya Allah menghukum mereka.

📌” Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. 71: 26-27)

Dan sebagaimana kita tahu, air pun melimpah dari segala arah.

📌”Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan”. (QS. 54: 11-12)

Keluarga yang Dibanggakan

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bila Pohon Semakin Meninggi

Penulis : Ustadzah Rochma Yulika
Serial motivasi diri di jalan Ilahi (1)
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan angin yang merobohkannya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan hujan menderas yang kan menghanyutkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, akan bersua dengan teriknya matahari yang akan mengerontangkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan badai yang akan memporak-porandakannya
Namun menjadilah pohon yang tak hanya meninggi namun harus menghunjam kan akarnya agar tak mudah ditumbangkan, meski sedahsyat apapun kekuatan yang akan menyerangnya. 
Akar yang menghunjam itulah iman yang teguh, keyakinan yang penuh totalitas sehingga apa pun yang terjadi tak pernah lepas dari kehendak Allah. 
Batangnya yang kokoh dan menjulang tinggi menunjukkan ketangguhan dan kekokohan prinsipnya yakni untuk menegakkan kalimatullah. 
Itulah pohon yang baik. 
Kala meninggi hadirkan keteduhan dan kebermanfaatan bagi orang banyak. 
Daunnya pun semakin rimbun hingga hadirkan sepoi-sepoinya angin.  
Mari kita kuatkan motivasi dan azam  dalam bekerja mengusung amanah maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. 
Dalam kondisi yang sulit, kita masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan iman dan niat kita hanya untuk Allah. 
Pelajaran yang bisa dipetik adalah…..
Terkadang kesuksesan kita itu menjadi sandungan bagi orang lain. 
Keberuntungan-keberuntung an yang kita dapatkan dari Allah bisa membuat orang lain tidak rela. Entah apa pun namanya
Namun perlu disadari bahwa yang namanya angin, hujan, badai, terik matahari adalah sunatullah. Dan semua pasti akan berlalu. 
Kesabaranlah serta kesyukuran yang menjadi penjaga hati kita agar tetap melangkah tanpa terjeda sedikitpun. 
Asshobru minassayajaah… Sabar itulah wujud dari keberanian kita dalam menghadapi masalah. 
Begitu pula ungkapan syukur yang akan semakin meninggikan derajat kita di hadapan Allah. 
Allah telah berfirman: “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3).
Sebuah keberuntungan bila diri kita menjadi terpilih melalui berbagai ujian. Karena itulah jembatan yang akan mengantarkan kita menuju surga. 
Skenario Allah kadang tidak kita pahami lantaran keterbatasan kita sebagai manusia. 
Jika manusia mau menyadari bahwa Rasulullah mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bermaksud: 
“Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan.”
 
Masya Allah, Walhamdulillah, 
Wallahu Akbar,
Wallahu musta’an. 
Biarlah Allah yang atur skenario terbaiknya hingga beri keajaiban. Insya Allah.
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Menangis Bukan Karena Kita Lemah

Penulis : Ustadzah Rochma Yulika

Sahabat Surgaku…
Pernahkah kita menangis?
Sudahkah kita menangis hari ini?

Atau….
Betapa sulitnya kita menangis?

Atau….
Kita malu jika harus menangis?

Apakah hati kita mudah disentuh oleh keagungan Nya?

Apakah hati kita mudah trenyuh kala merasakan betapa besar kasih sayang Nya?

Menangislah karena mampu merasakan cinta kepada Nya.
Menangislah karena telah sering melalaikan Nya.
Dan menangislah karena kita mendurhaka pada Nya.

Menangis itu perlu, karena banyak hal yg harus kita tangisi.

Teringat kata yang terlontar hingga datang petaka.
Terlintas sikap tak layak ada hingga datangkan lara di jiwa.
Terbersit sesal kala berperilaku yang jauh dari norma.

Sentuh hatimu dengan mengingat khilafmu.
Sentuh hatimu dengan mengingat dosamu
Dan sentuh hatimu dengan mengingat segala alpamu.

Menangislah…
Curahkanlah segala rasa bersalahmu hanya pada Rabbmu.

Kita perlu menangis bukan karena lemahnya diri kita, namun kita menangis karena kita punya hati.

Dalam Al Isra ayat 109 Allah menyampaikan pesan,”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'”.

Dengan menangis akan menghadirkan kekhusyu’an.
Rasulullah pun menganjur kan kita menangis di banyak tempat dan momen.

1. Pertama, pada saat membaca Al Quran.
Beliau bersabda,”Bacalah Al Quran dan menangislah. Jika engkau tidak menangis maka berpura-puralah menangis.” (HR. Tiemidzi)

2. Kedua, pada saat rasa takut kita kepada Allah itu hadir.
Karena tangis kita akan memberi keselamatan. Beliau bersabda,”Dua jenis mata yang tidak disentuh oleh api neraka, mereka yang menangis karen takut kepada Allah dan mata yang piket malam di sabilillah.”

3. Ketiga, pada saat menyebut nama Nya dan menyendiri bersama Nya.
Rasulullah menyebutkan, bahwa satu golongan yg akan mendapat naungan Allah kelak pd hari kiamat adalah orang yg menyebut Allah dalam kesendirian, lalu kedua matanya berlinang air mata. (Mutafaq alaih)

4. Keempat, saat kita mendapat nasihat-nasihat keimanan.
Seperti kata ‘irbadh bin Sariyah ra,”Rasulullah saw menasihati hati kami dengan sebuah nasihat yang membuat mata kami berderai air mata dan hati kami pun bergetar.”

5. Kelima, ketika berada di waktu sore, setelah melampaui perjalanan hari dengan segala aktivitas.
Sepertin Adh Dhahhak bin Mazahim yg selalu menangis jika ia telah berada di sore hari. Saat ditanya,”Apa yang membuatmu menangis?”
Ia menjawab,”Aku tidak tahu, manakah diantara amalku yang terangkat ke langit hari ini.”

Dan kita wahai saudariku…
Pernahkah kita khawatir atas amal kita. Atau kita sudah merasa cukup dengan bekal yang akan kita bawa?

Merenungi sejenak sejarah perjalanan kita. Yakinkah kita dengan apa yang sudah kita lakukan? Sehingga kita bersantai dan berpangku tangan.

Bersegeralah kita mengevaluasi diri. Dan selalu memperbaharui niat karena Allah swt.

Keenam, saat kita tertinggal amalan utama. Sebagaimana Sa’ad bin Abdul Aziz rahimahumullah yg selalu menangis kala ketinggalan sholat berjamaah.

Kita menangis karena kita punya hati.
Kita menangis karena kita punya rasa empati.
Kita menangis karena ada duka dalam hati.
Kita menangis karena ada rasa takut pada Ilahi
Dan kita menangis lantaran beban berat yang tak mampu ditanggung sendiri.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang mampu mendekat pada Ilahi Rabi.

Dengan kerendahan hati kita mengabdi. Dan dengan air mata yang hadir karena cinta hakiki.

Begitulah Menanda cinta dengan Air mata lantaran besarnya cinta pada yang Maha Pecinta.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

AYAH YANG DIRINDUKAN (AWASSS!! INI TULISAN SERIUS, GAK NYANTAI)

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN (twitter :@ajobendri)

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)

Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah.  Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia.

Yusuf, dalam ayat tersebut diceritakan mendatangi ayahnya. Bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi. Yakni tentang mimpi yang dialaminya. Sebuah hal yang menunjukkan ia hanya akan tanyakan sesuatu kepada orang yang paling ia percaya. Dan ayahnya pun memahami arti mimpi tersebut bahwa itu adalah kabar gembira dari Allah untuknya. Dan demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka ia pun menasehati anaknya agar berhati-hati dengan mimpinya terutama tak menceritakan kepada saudaranya.

Yang menarik dari dialog di atas adalah panggilan Yusuf kepada ayahnya menggunakan sebutan  يا أبت, seolah-olah orang yang dipanggil, yakni Ya’qub ayahnya, berada di tempat yang jauh, padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh menandakan ia dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan hatinya dan perhatian terhadap sesuatu yang akan diceritakan (Hiwarul Aba’ Ma’al Abna fiil Qur’anil Kariim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah, Sarah Binti Halil Ad Dakhili)

Dari sinilah kita bisa mengambil dua pelajaran penting dalam konteks pengasuhan saat ini :
1. Adakah AYAH menjadi figur yang dirindukan oleh anaknya
2. Sejauh mana anak menaruh kepercayaan terhadap sang ayah

Ayah yang dirindukan. Ini menunjukkan ikatan hati yang terjalin sedemikian erat. Kesibukan ayah dalam mencari nafkah tak menghalanginya untuk menjalin ikatan batin kepada anaknya. Sehingga tiap pertemuan dirasa begitu berharga oleh anak. Kadang hanya singkat namun memberi makna. Ada kesan mendalam yang digoreskan dalam batin anak. Tentu hal ini terjadi jika ayah betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pengasuh sekaligus pengasih.

Ketidakmampuan ayah menghadirkan kerinduan dalam jiwa anak berakibat kepada beralihnya perhatian anak kepada sosok-sosok lain diluar sana. Televisi dan segala perangkat digital menjadi rujukan mereka sekaligus pengisi kekosongan jiwa anak akan hadirnya ayah. Jiwa mereka telah terikat oleh pahlawan-pahlawan rekayasa buatan media. Dampaknya, kepulangan ayah ke rumah tak lagi dianggap istimewa. Ucapan salam ayah di depan teras rumah tak menggetarkan jiwa mereka untuk menyambut. Kalah dengan teriakan tukang bakso yang kadang membuat sebagian anak histeris menyambutnya.

Ketidakrinduan anak kepada ayah ini menjadikan fungsi ayah terbatas hanya kepada dua hal :
1. Memberi nafkah
2. Memberi izin untuk menikah

Tanpa sadar, anak menganggap ayah sebatas mesin ATM. Didatangi saat kehabisan uang belanja. Kehadiran ayah dirasa ada dan tiada. Bahkan banyak yang merasa sudah yatim sebelum waktunya meski sang ayah masih ada di sekitarnya. Wal’iyadzubillah…

Jika ini dibiarkan terjadi, maka hilanglah rasa kepercayaan anak kepada sang ayah. Dan ini ditandai dengan banyaknya ayah yang tak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah. Kenapa demikian? Sebab anak merasa sungkan untuk bertanya akan masalah seksualitas yang dialaminya. Bayangkan! Ayah menuntut anaknya untuk sholat subuh ke mesjid. Sementara anaknya baru saja mengalami mimpi basah dan tak tahu harus mandi junub. Sholat si anak tidak sah. Tentu ayah lah sebagai penanggung jawabnya.

Menjadi ayah yang dirindukan memang tak mudah. Layaknya menanam benih hingga menjadi tanaman padi yang bernas, butuh ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Namun kelak ayah akan memanen hasilnya. Yakni berupa kepercayaan dari anak. Saat anak betah berlama-lama bercerita di hadapan ayah akan kegiatan sehari-harinya. Menjadikan ayah rujukan informasi pertama. Bahkan saat anak hadapi suatu masalah, ia tahu kepada siapa ia mencari solusi. Tak lain adalah ayahnya.

Bagi anak yang telah timbul rasa kepercayaan kepada ayahnya, sang ayah telah menjelma menjadi ‘super hero’ pertamanya. Memberi inspirasi di sepanjang perjalanan usia anak. Bahkan hingga ia berusia dewasa dan menua.
Tidakkah ini menjadi hal yang begitu menggembirakan bagi sang ayah? Saat petuah dan nasehat ayah senantiasa didengarkan dan dipatuhi anak. Bahkan saat ayah meninggal dunia, tak henti-hentinya anak mendoakannya seraya memohon ampun bagi sang ayah. Dan hal ini berdampak kepada kebahagiaan ayah di akherat. Perhatikanlah hadits berikut ini :
إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول : أنى لي هذا ؟ فيقال : باستغفار ولدك لك . ‌
“Sesungguhnya ada seorang AYAH yang diangkat derajatnya di surga, maka iapun heran dan berkata : Bagaimana ini bisa untukku? Maka dikatakan : disebabkan anakmu beristighfar (memohonkan ampun) untukmu” (HR. Ahmad, Al Baihaqi)

Subhanallah. Maka, jadilah ayah yang dirindukan. Ayah yang tak sekedar mengurus kebutuhan fisik anak namun juga jiwanya. Luangkan waktu untuk berbincang mesra bersama mereka. Tak boleh ada media lain yang membuat kekhidmatan obrolan menjadi rusak. Abaikan dulu HP, laptop dan segala jenis media yang selalu menempel di dekat ayah. Sebab anak juga punya perasaan. Tak ingin diduakan.

Kelak ayah akan menjadi sosok layaknya Ya’qub. Yang begitu dekat dengan anak-anaknya. Menjadi figur yang utama dalam kehidupan mereka. Mengiringi perjalanan hidup anak hingga mereka dewasa. Meski raga terpisah namun hati terikat dalam jalinan cinta. Seraya berharap terkumpul bersama di surga.

Ya, negeri ini sedang darurat ayah. Dengan kata lain anak-anak kita butuh hadirnya sosok ayah. Ayah yang siap mengorbankan kesenangannya menonton bola di malam hari untuk membacakan cerita sebelum anak tidur. Ayah yang siap mengeluarkan segala jurus untuk mengikat hati anaknya. Ayah yang menjadi pahlawan pertama bagi mereka. Agar tak ada lagi anak-anak yang begitu ditanya : dimana ayahmu? Mereka cuma bisa menjawab ‘tau’ ah gelap’.

Ayah, pulanglah!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com