Hidup Ini Adalah Hari Ini dan Saat Ini

Ustadzah Rochma Yulika

Sahabat Surgaku…
Sungguh kita kadang tak menyadari tentang tabiat kehidupan. Ada kehidupan bagitu juga ada kematian. Kita terlahir bukan kemauan kita begitu pula jadwal kematianpun tak mampu kita memintanya. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Sahabat Surgaku…
Mari kita Renungkan bersama tentang rentetan perjalanan manusia.

“Hidup dan Kehidupan selayaknya deretan kata yang terangkai dalam kalimat yang indah dan terkadang kita butuh koma untuk menjeda dari segala aktivitas kita, merehatkan perjalanan kita, kadang terbersit tanda tanya di saat kita kehilangan arah dan tersesat dalam melangkah.

Namun terkadang sesekali kita perlu menghadirkan tanda seru, kala kenyataan tak lagi berpihak kepada kita.

Harapan dan impian tak kunjung menjelma……
Namun perlu kita sadar bahwa perjalanan kita butuh petunjuk atau catatan dalam menyelesaikannya.

Terkadang kita pun harus
membuka ulang petunjuk itu karena keterbatasan ingatan kita.
Dari deretan kata itu kan berakhir pada tanda titik sebagai akhir dari kalimat kehidupan yang bisa kita baca.

Berhenti, bukan lagi sejenak, tetapi berhenti selamanya.

Tak ada yang mengetahui sampai dimana umur kita. Apakah kita yakin bila pagi datang akankah perjalanan kita sampai pada senja yang mulai temaram. Begitu pula kala malam tiba, gulita pun seakan memenjara jiwa akankan yakin fajar kan kita jumpa.

Sahabat Surgaku…
Sedemikian kenyataan takdir manusia, sayangnya kadang kita alpa. Bahwa semua kan berbatas. Bisa jadi kita menunda kebaikan lantaran sangat yakin nyawa kan tetap dikandung badan. Padahal, satu menit ke depan hanya sekedar sebuah harapan.

Hidup yang kita miliki adalah saat ini. Bukan kemarin apalagi nanti.
Kemarin hanya mampu kita jadikan cermin untuk memperbaiki perjalanan ke depan.

Maka pada hari yang nafas masih kita hela, diri mampu berkarya, maka tunaikan apa yang menjadi kewajiban dengan segera.

Sahabat Surgaku…
Apakah kita masih menunda-nunda ibadah, menunda tilawah, menunda segala kebaikan??

Katakan pada hati kita…
Hidupku adalah hari ini. Bukan nanti apalagi esok hari.

Sebagian dari kita masih sering menyia-nyiakan waktu yang kita miliki selama hidup di dunia, dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Mungkin sebagian dari kita ada yang berpikir, nanti saja, kalau sudah menjelang tua baru memperbaiki ibadah kepada Allah. Biasanya orang menunda amal kebaikan karena lebih mengutamakan dunia dan tidak mementingkan akhirat.

Contohnya, karena kesibukan segala aktifitas urusan dunia, seseorang jadi sering menunda-nunda kewajiban amal ibadah atau amal kebaikan.

Padahal hal ini sangat salah, karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita akan hidup di dunia ini. Kita tidak bisa memastikan bahwa kita akan dapat hidup sampai tua nanti. Bisa saja kematian mendatangi kita disaat kita masih muda belia. Lalu mengapa kita harus menunda-nunda amal ibadah dan kebaikan?

Ketahuilah setiap tarikan dan desahan nafas kita, saat kita menjalani waktu demi waktu, adalah merupakan langkah menuju kubur.
Dan waktu yang kita jalani hidup di dunia ini, sebenarnya sangat singkat, karena itu sangat ruginya kita apabila kita menjalaninya dengan sesuatu yang tidak berharga.
Kita sia-sia kan waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan dunia akhirat kita.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr [59] : 18)

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ashr (103) ayat 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut::
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan amal baik.  

Rasulullah SAW bersabda, ”Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori).

Hadits ini menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya.

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Khuluqul Muslim menerangkan waktu adalah kehidupan.
Maka memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan.

Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.

Hasan Al Banna menasihati kita,”Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.”

WAKTU kita sangatlah sedikit.
Di dunia yang sangat sempit.

WAKTU hidup kita sangatlah singkat.
Maka hati-hatilah dari berbuat maksiat.

USIA kita tak bisa terukur
Tak pernah tau kapan saatnya tersungkur di dalam kubur.
Dan bila telah tiba MASA
Sampailah kita di alam baka.

Bukan HARTA benda yg kita bawa
Amal dan kebaikan yg kan temani perjalanan kita.
Namun hanya amal kebaikan yang bisa turut serta

Jauhkan HATI dari cinta dunia yg fana
Tuk bersegera dekatkan diri dengan kebersamaan dengan NYA
Tetap semangat meski perjalanan ini terasa berat
Semoga kelak bernilai di akhirat

Dalam pepatah Arab disebutkan ”Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.”
Karena itu jangan sia-siakan waktu, manfaatkanlah segera :
Waktu muda sebelum datangnya tua.
Waktu sehat sebelum datang sakit.
Waktu kaya sebelum datangnya miskin.
Waktu luang sebelum datangnya sempit.
Waktu hidup sebelum datangnya mati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan
Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Barzah, bahwa Rasulullah SAW  bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara :
Tentang umurnya untuk apa ia habiskan,
Masa mudanya untuk apa ia gunakan,
Hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan
Ilmunya, apa yang diamalkannya.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, sebelum terlambat, sebelum kematian mendatangi kita, marilah kita memanfaatkan waktu yang tersisa dari umur kita ini untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Marilah kita perbanyak berbuat kebaikan, jangan menunda-nunda amal kebaikan, karena belum tentu besok kita masih punya waktu untuk melaksanakannya. Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput kita.

Dan alangkah sangat menyesalnya kita, apabila dalam hidup kita yang singkat, lebih banyak kita lewati dengan melakukan hal-hal yang akan kita sesali di akhirat.
Karena waktu yang sudah lewat, tidak akan pernah bisa kembali meski sesaat.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Jual Beli Kredit

1. Assalamualaikum..  Ustadzah. Bagaimana hukumnya jual beli kredit dalam islam.Misalkan si A beli barang kepada si B, boleh pilih antara cash atau kredit.jika cash harganya Rp.300.000,- Jika kredit atau tempo satu bln hrga Rp.350.000,- Tempo 2 bulan Rp.400.000,-.Bolehkah spt itu? Terima kasih.

2. Ustadzah, saya nak nanya soal memakai cadar itu hukumnya bagaimana?

[Manis_A19_A18] ——————-

JAWABAN:

1. Pada prinsipya setiap sesuatu dalam muamalat itu adalah dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syari’ah. Mengikuti kaidah fiqih.
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar memenuhi akad yang mereka lakukan.
Untuk yang namanya kredit juga dibolehkan selama keduaya melaksanakan rukun dan syaratnya, perlu di ingat apabila sistem syari’ah tidak ada riba tapi  menggunakannya sistem bagi untung.

2. Hukum memakai cadar boleh tapi perlu di ingat yang namanya muka dan telapak tangan bukan termasuk aurat.

Wallahu a’alam

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Darah Pada Daging

Ustadzah, saya mau tanya bagaimana hukumnya darah yang ada pada daging ayam potong.sudah dicuci. Tapi kadang masih ada yang nempel. Halalkah ayamnya setelah dimasak? syukron

JAWABAN:

Apabila masaknya sudah matang dan masih ada sisa warna merahnya menurut saya halal.

Kecuali masaknya belum matang itu bukan halal tapi menjijikkan.

Halal itu ketika dipotong ayamnya sesuai syarat Islam.

Wallahu’Alam..

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menikahi Sepupu Itri

Assalamu’alaikum wr wb. Saya mau tanya bagaimana hukumnya seorang laki-laki beristri dua. Tapi wanita tersebut saudara sepupuan?

[Manis_I18] ————-

JAWABAN:

Wa’alaikum salam Wr.Wb. Sepupu definisi disini kalau bibi dan ponakan hukumnya tidak boleh.

Allah berfirman,

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ

“Jangan pula menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS. An-Nisa: 23)

Kemudian dalam hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ المَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلاَ بَيْنَ المَرْأَةِ وَخَالَتِهَا

“Tidak boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya, baik bibi dari ayah maupun dari ibu (dalam satu ikatan pernikahan yang sama).” (Muttafaqun ‘alaih)

Dr.Wido Supraha

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Silaturahim Hanya Dengan Saudara Satu Nasab?

Assalaamu’alaikum Wr Wb

Terkait dengan materi ustadz Wido Supraha tentang silaturahmi,
Saya pernah mendengar seorang ustadz lulusan Timur Tengah mengatakan bahwasanya silaturahim itu untuk saudara senasab, saudara yang mungkin ketemu di kakeknya atau ternyata saudara karena sama kakek buyutnya dst.

Dan apabila menjalin hubungan dengan yang bukan senasab tidaklah dikatakan sebagai silaturahim namun hanya berbuat baik sesama muslimin dan mu’minin.

Bagaimana menurut ustadz?

Jazaakumulloh khoiron

[Manis_A22] ————–

JAWABAN:

Ibu. Betul saya sependapat, dan dalam tulisan saya (http://supraha.com/?p=535) telah saya sebutkan makna aslinya dan kemudian mengapa saat ini banyak digunakan untuk selain nasab, karrna karena manusia mengambil inspirasi dan keteladanan dari kuatnya silaturrahim senasab. Sehingga saya tuliskan, ‘…. dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.’

Maka manusia yang tidak senasab tiba-tiba terbangun ikatan ukhuwah yang sangat berkualitas karena mengambil ruh shilaturrahim.

Wassalam.
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bolehkah Merayakan Ulang Tahun?

Assalamualaikum.. Ustad. Saya mau tanya.. Apa hukumnya merayakan ulang tahun? Apakah dalam Islam ada perayaan ulang tahun? Syukron atas jawaban ustad.

[Manis_A] ———–

JAWABAN:

Ibu.

Ulang tahun tidak dikenal dalam tradisi Islam, karena hakikatnya tambah tahun. Bahkan setiap detik sejatinya usia bertambah, yg berarti kesempatan peluang hidup berkurang. Maka korelasinya seharusnya adalah kesedihan karena kesempatan persiapannya untuk akhirat semakin sedikit. Kalaupun ia bergembira lebih karena waktu pertemuan dengan Allah Swt yang dirindukannya semakin dekat.

Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa muhasabah, introspeksi, dan kemudian beramal lebih baik lagi.

Tentunya ini berbeda dengan sebagian manusia yang merayakan pertambahan tahunnya dengan hura-hura dan jauh dari upaya muhasabah, bahkan tidak sedikit yang diisi dengan kemaksiatan dan menghamburkan uang. Tentunya ini berbeda dengan makna bersyukur atas seluruh rizqi yang telah diterimanya.

Oleh itu, hendaknya kita bangun tradisi introspeksi diri daripada definisi ulang tahun dalam perspektif masyarakat kebanyakan.

Wassalam,
wido@supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

NEGERI TANPA AYAH

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak

3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’

29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.

Salam bahagia
(bendri jaisyurrahman, Twitter @ajobendri)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

UNTUKMU & UNTUKKU (Memahami Hak dan Kewajiban Dalam Rumah Tangga)

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Laki-laki dan Perempuan..
Dua insan mulia yang memiliki kedudukan sama dihadapan Maha Pencipta dipertemukan dan disatukan dalam satu ikatan pernikahan.

Laki-laki dan Perempuan.. Keduanya memiliki hak dan tanggung jawab. Sebagaimana keduanya memiliki hakikat, perasaan, sensitivitas, akal pikiran, kecerdasan, dan sisi-sisi lain dari nilai kemanusiaan yang sama.

Laki-laki dan Perempuan..
Allah ciptakan untuk menjadi pasangan. Ya…hanya laki-laki dan perempuan yang bisa berpasangan, selain itu tidak bisa berpasangan. Karena berpasangan akan melahirkan konsekuensi. Karena berpasangan berdampak pada hak dan kewajiban, pada tugas dan tanggung jawab.
Karena semua keputusan kita akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT kelak.

Mari kita fahami dan hayati bagaimana para ulama soleh memaknai kata hak dan kewajiban.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah : 228)

Bagian akhir dari ayat ini yang menjadi sumber pemaknaan.

Imam At-Thabari mengatakan : yang dimaksud dengan kalimat “Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.“ yaitu masing-masing dari suami istri melaksanakan kewajiban bagi pasangannya untuk meninggalkan madharat, yang artinya masing-masing memenuhi hak pasangannya. Bisa saja terjadi intervensi dari satu hak terhadap hak yang lainnya sebagaimana juga terjadi dalam kewajiban. Karena Allah SWT menyebutkan bahwa Ia telah menjadikan hak bagi kedua pihak atas pasangannya. Maka masing-masing dari pasangan itu harus menunaikan hak pasangannya sebagaimana pasangannya menunaikan haknya. Akan tetapi dalam masalah penunaian hak para suami memiliki derajat tersendiri atas istrinya.”

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan : “Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.“ Kalimat ini adalah kalimat yang sangat istimewa. Kalimat yang mengandung makna sangat luas, jika penjelasannya dituliskan secara detail akan membutuhkan lembaran-lembaran yang banyak. Kalimat dalam ayat itu merupakan kaidah menyeluruh yang ingin menyatakan bahwa seorang perempuan memiliki kesamaan dengan laki-laki dalam semua hak-haknya kecuali dalam satu hal yang disebutkan Allah dalam lanjutan ayat tersebut “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”

Makna ma’ruf terhadap istri mengacu pada  ma’ruf secara umum yang terjadi di masyarakat. Bagaimana cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain dan keluarganya. Mengikuti kebiasaan umum dalam hal aturan, adab, adat dan sopan santun.
Kalimat pada ayat diatas juga menunjukan bahwa hendaknya seorang laki-laki memiliki keistimewaan dalam berinteraksi dengan istrinya pada setiap situasi dan kondisi. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas RA : “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untukku karena aku memahami ayat ini.”. Dan yang dimaksud oleh ayat ini juga adalah bahwa hak-hak suami istri berlaku secara timbal balik dan keduanya sekufu/setara. Tidak ada satupun tugas yang dilakukan seorang istri untuk suaminya kecuali suami memiliki kewajiban yang harus ia tunaikan untuk istrinya. Jika tugas/kewajiban itu tidak sama dalam bentuknya akan tetapi ia sama dalam jenisnya. Maka suami istri memiliki kesamaan dalam hak dan kewajibannya, sebagaimana mereka memiliki kesamaan dalam dzat, rasa, perasaan, dan akal. Masing-masing suami istri adalah manusia sempurna yang memiliki akal untuk berfikir tentang kebaikan-kebaikannya, memiliki hati yang menyukai segala sesuai yang sesuai dan menyenangkan baginya, membenci segala sesuatu yang tidak menyenangkan dan menjauhinya. Maka tidak adil jika ada salah satu dari suami istri merasa lebih hebat, lebih berkuasa, lebih memiliki hak sehingga menjadikan satu pihak sebagai budak yang harus melayani segala kebutuhan dan keinginan pasangannya. Kebahagiaan suami istri tidak akan tercapai kecuali jika masing-masing saling menghormati dan menunaikan hak-haknya.” (Tafsir Al-Manaar, Jilid 2 hal 299)

Sedangkan mengenai makna kalimat “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”, didalam tafsir Ath-Thabary disebutkan beberapa pendapat, diantaranya :
pendapat Mujahid yang menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah keutamaan dalam jihad dan waris.
Sementara Qatadah menyebutkan bahwa keutamaan laki-laki atas perempuan dalam kepemimpinan dan tha’at. Dan Ibnu Zaid menyebutkan dalam hal tha’at, yaitu istri mentha’ati suami bukan suami mentha’ati istri.

Tentang bagaimana Rasulullah SAW menunaikan hak-hak istrinya, Aisyah RA berkata dalam sebuah riwayat bahwa hal pertama yang dilakukan Rasulullah SAW saat masuk ke rumah istri-istrinya adalah segera bersiwak. Beliau tidak ingin istri-istrinya terganggu atau merasa tidak nyaman  karena aroma kurang sedap yang berasal dari tubuhnya.
Maka penunaian hak suami istri harus dilakukan dengan penuh kesadaran secara bersama-sama sehingga tidak ada satu pihak yang merasa dirugikan. Masing-masing suami dan istri dapat sama-sama mengatakan “ini untukmu dan ini untukku”.

Wallohu a’lam bis showwab

Referensi :
Kitab Mitsaqul Usroh Fil Islam, LK3I
Kitab Al-Baitul Muslimul Qudwah, LK3I
Tafsir At-Thabary, Daarul Fikr
Tafsir Al-Manaar, Daarul Fikr

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kejujuran Dalam Kepemimpinan

Oleh: Ustadz Noorahmat Abu Mubarak

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Abu Ja’la (ma’qil) bin Jasar r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga. (HR Bukhari, Muslim)

Kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan ibarat bangunan tanpa fondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama.

Demikian pula bila kepemimpinan tidak didasarkan pada kejujuran orang-orang yang dekat dan terlibat di dalamnya, maka jangan harap kepemimpinan itu akan berjalan dengan baik.

Kejujuran di sini tidak bisa hanya mengandalkan pada satu orang saja, kepada pemimpin saja. Akan tetapi semua komponen yang terlibat di dalamnya, baik itu pemimpinnya, pembantunya, staf-stafnya, hingga struktur yang paling bawah dalam kepemimpnan ini, mulai dari menterinya, pendukungnya hingga tukang sapunya, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Hal itu karena tidak sedikit dalam sebuah kepemimpinan, atau sebuah organisasi, terdapat pihak yang jujur namun juga terdapat pihak yang tidak jujur. Bila pemimpinnya jujur namun staf-stafnya tidak jujur, maka kepemimpinan itu juga akan rapuh. Begitu pula sebaliknya.

Kejujuran itu juga meliputi kejujuran dalam menyampaikan apa adanya terkait kondisi ataupun kebijakan ketata negaraan. Menyatakan salah bila memang pemimpin melakukan kesalahan. Sikap cari muka atau cari selamat yang dilakukan oleh siapapun di dalam sistem kepemimpinan akan merusak kepemimpinan itu sendiri.

Secara garis besar, yang sangat ditekankan dalam hadits ini adalah seorang pemimpin harus memberikan keteladanan yang baik kepada siapapun yang dipimpinnya. Konsisten dan komitmen kepada sumpah jabatannya dan berhati-hati dalam upaya ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala.

Keteladanan ini tentunya harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan serta keputusan-keputusan penuh perhitungan, tidak menipu dan tidak melukai hati rakyatnya yang membayar pajak.

Pemimpin yang menipu dan melukai hati rakyat, dalam hadits ini disebutkan, diharamkan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di syurga. Meski hukuman ini tampak kurang kejam, namun sebenarnya hukuman “haram masuk syurga” ini mencerminkan betapa murkanya Allah terhadap pemimpin dan sistem kepemimpinan yang tidak jujur dan suka menipu rakyat.

Semoga negeri ini dilindungi dari keberadaan pemimpin-pemimpin buruk yang dilaknat Allah Azza wa Jalla. Bilapun pemimpin lterlaknat itu ada di sekitar kita, maka mari segera kita ingatkan pemimpin tersebut. Jauhi sikap cari muka atau cari jalan aman agar negeri ini tidak dipenuhi oleh orang-orang yang diharamkan masuk syurga

Jakarta, 10 Jumadil Ula 1437

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Menyegarkan Kembali Tema Silaturrahim

Oleh: Ustadz DR. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Islam adalah agama kasih, agama yang dibangun dengan kasih sayang, agama yang diturunkan untuk melahirkan kasih dan cinta, agama yang hadir untuk memuliakan manusia.

Maka menjadi fahamlah mengapa seluruh ajaran Islam mengandung dorongan untuk mengasihi setulus hati tanpa henti hanya untuk meraih ridho Ilahi Rabbi.

Silaturrahim sejatinya berasal dari dua akar kata, silah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang.

Istilah rahim juga berarti tempat janin bertumbuh, sebelum dilahirkan, sehingga menjalin tali kasih sayang kepada orang-orang dzu rahim, yang memiliki hubungan nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak,  mendapatkan prioritas lebih utama, dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.

Secara bahasa,
tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang, istarhama berarti meminta rahmat,
rajulun aw imra’atun rahumun berarti laki-laki atau wanita penyayang.

Islam diawali dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan kedua sifat ini adalah bagian takhalluq umatnya untuk juga mampu melahirkan sifat Kasih dan Sayang.

Islam yang dibangun di atas pondasi tauhid, meng-Esa-kan Allah, meng-Ahad-kan Allah, tidak menjadikan sesembahan selain Dzat Tuhan yang Satu (Ahad atau Esa), tidak berprilaku Syirik kepada yang Satu itu sebagai bagian adab dari hablun min Allah, ternyata kemudian mendorong umatnya untuk mempererat hubungan masyarakat dalam sistem Rabbani untuk melahirkan persatuan, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara manusia tanpa pernah sekalipun dalam bab hablun min an-nas, Islam memisahkan antara Muslim dan Non-Muslim, karena hakikat Islam adalah menjadi Kasih untuk Semesta Alam.

Sementara di dunia, kedudukan manusia bercampur mulai dari orang tua, kerabat sanak saudara, yatim, miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, sahabat sejawat baik dalam sebuah perjalanan maupun tidak, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan hamba sahaya, atau juga para asisten yang menghabiskan banyak waktunya untuk membantu manusia yang lain (Lihat Q.S. An-Nisa/4:36).

Rasulullah Saw dalam banyak khutbahnya sentiasa mengawali diantaranya dengan mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah, berdo’a dengan asma-Nya, dan memelihara hubungan Silaturrahim (Lihat Q.S. An-Nisa/4:1).

Kehadiran Nabi Saw melahirkan standar-standar suatu kebaikan dan kebenaran dalam Islam, standar-standar yang akan membawa pemeluknya ke Surga (Jannah), standar-standar yang akan membawa kebaikan kehidupan di dunia menuju Akhirat kelak. Muslim kemudian diingatkan bahwa ber-Islam berarti yakin, ibadah, dan amal shalih. Kehilangan satu dari tiga unsur tersebut menyebabkan kehilangan pondasi iman pada dirinya.

Tidak berhenti pada mengingatkan akan pentingnya menghidupkan Silaturrahim, Nabi Saw kemudian menjelaskan ragam aspeknya, kualitasnya, memberikan keteladanan, dan mengingatkan umatnya untuk tidak pernah sekali-kali meninggalkannya, apalagi memutuskannya!

Di saat Allah Swt memerintahkan manusia untuk menyambung silaturrahim (lihat Q.S. Ar-Ra’d/13:21), Dia juga menjanjikan umatnya yang bersabar dalam menjalankan perintah ini kelak mendapatkan salam penghormatan di Surga ‘And (salaamun ‘alaikum bimaa shabartum, fa ni’ma ‘uqbaddaar).

Prioritas silaturrahim kemudian dihadirkan yaitu menjaga hubungan baik dengan orang tua (lihat Q.S. Al-Isra/17:23-24), dilanjutkan dengan saudara-saudara orang tua, dan teman-teman karibnya.

Kebiasaan manusia menjaga sifat kasih dan sayangnya, akan melahirkan sebuah karakter bahkan akhlak yang terinternalisasi dengan baik sebagai ciri unik seorang Muslim kaffah, Muslim yang mampu menjaga semangat kasihnya tidak saja kepada manusia yang ada di sekitarnya, namun juga manusia yang berada jauh dari penglihatannya, seperti mereka yang mendapatkan ujian kehidupan di Rohingya, Palestina, Mesir, CAR, dan negeri-negeri lainnya, karena silaturrahim tidak mengenal sekat-sekat wilayah, persis seperti pesan Nabi Saw untuk sentiasa memberikan perlindungan dan hak kekerabatan kepada bangsa Mesir.

Manusia yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, ia pasti mencintai silaturrahim. Manusia yang mencintai silaturrahim di atas pondasi Iman kepada Allah, dijanjikan Surga, sebaliknya yang senang memutuskan silaturrahim, dijanjikan Neraka. Maka ar-rahmu tetap bergantung di ‘Arsy, bereaksi kepada bagaimana cara manusia berkasih sayang kepada sesamanya.

Maka fahamilah mengapa Rasulullah Saw memberikan posisi yang mulia kepada mereka yang berinisiatif memulai terlebih dahulu untuk menyambung tali silaturrahim yang terputus atau bahkan diputus secara menghinakan oleh saudaranya, karena dalam hal ini, fokus manusia hanya kepada berlomba-lomba berbuat kebajikan bukan menahan egoisme yang akan meruntuhkan martabatnya di hadapan Allah Swt.

Muslim disebut beriman kepada Allah dan Hari Akhir jika ia mampu memberikan yang terbaik untuk saudaranya, sekali lagi tanpa melihat suku, agama, ras, dan adat istiadat, ketika mereka bertamu, menjadi tetangga, dan menjadi relasi bisnis, dan mengajarkan untuk pintar menggunakan kata-kata yang terbaik yang enak didengar sebagai hak sesama manusia.
Islam hanya memberikan pandusan skala prioritas dalam sebuah amal shalih.

Tatkala manusia diberikan perlakuan yang buruk, Islam juga mendorong umatnya untuk membalasnya dengan cara yang lebih baik, sehingga tiba-tiba antara keduanya yang sebelumnya bermusuhan menjadi sahabat sejati nan-setia.

Begitu banyak kemuliaan silaturrahim, maka janganlah sekali-kali manusia memutuskannya bahkan senang dan berbahagia di atas pemutusannya, karena perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat dibenci.

Memutuskan tali silaturrahim disejajarkan dengan keburukan membuat kerusakan di muka bumi (lihat Q.S. Muhammad: 22-23), dan kepada mereka dijanjikan tempat kembali yang buruk (lihat Q.S. Ar-Ra’d:25).

Terkadang manusia menjauhi sahabatnya yang senang mengingatkannya dalam kebaikan padahal itulah di antara sahabat yang paling prioritas untuk ia jadikan sahabat sejati, sahabat yang akan bersamanya di kala duka.

Terkadang manusia menjauhi keluarganya untuk mendapatkan kesenangan hidup, padahal hanya keluarganya yang sentiasa siap menjaganya tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Maka demikian juga kepada Dzat yang Menciptakan manusia, adalah lebih pantas bagi manusia untuk menunaikan amanah-Nya untuk menjaga kerusakan bumi ini, di antaranya disebabkan ditinggalkannya kasih dan sayang di atas tali silaturrahim, sehingga lahirlah permusuhan dan kebencian, padahal pada saat itu kalangan syaithan sedang tertawa-tawa di atas kebodohan manusia yang tidak mengetahui rahasia dan keutamaan menyambung tali silaturrahim.

Hadanallaahu wa iyyaakum ajma’in.

 (supraha.com)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com