Shalat Qabliyah & Ba’diyah Jum’at

Oleh: Ust Farid Nu’man Hasan SS.

Pertanyaan:
Salam, ana nambahin pertanyaan dong terkait shalat jum’at tlong d bantu t Tadz, hukumnya gmn y sholat sunnah qobliyah & ba’diyah shalat jum’at it. Jazakallah Tri Yuwono manis I 13

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

 Ada tiga shalat sunah yg dilakukan sebelum shalat Jumat.

1.       Shalat Sunah Tahiyatul Mesjid. Ini hukumnya sunah menurut mayoritas ulama.  Walau pun ketika sampai di mesjid khatib sedang berkhutbah, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam tetaplah menganjurkannya untuk dilakukan.

Dari Abu Qatadah
Radhiallahu ’Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. (HR. Bukhari No. 444, Muslim (69)  (714), At Tirmidzi No.  316, An Nasa’i dalam As Sunan Al KubraNo. 809, Ahmad No. 22576, 22582, 22631, Malik dalam Al Muwaththa’No. 275, dll)

Imam At Tirmidzi
Rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا اسْتَحَبُّوا إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْمَسْجِدَ أَنْ لَا يَجْلِسَحَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ عُذْرٌ

Para sahabat kami mengamalkan hadits ini, menurut mereka sunnah bagi seorang yang masuk ke masjid untuk tidak duduk dulu sampai dia menunaikan shalat dua rakaat, kecuali dia memiliki ‘udzur.(Lihat Sunan At Timridzi No. 316)

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu, mengutip dari Imam Muhammad bin Hasan Radihiallahu ‘Anhu:

هذا تطوع وهو حسن وليس بواجب
               
“Ini sunah dan bagus, bukan wajib.”  (Al Muwaththa No. 275)[3]

Berkata Dr. Taqiyuddin An Nadwi –pentahqiq kitab Al Muwaththa’:

هو أمر ندب بالإجماع سوى أهل الظاهر فقالوا بالوجوب

“Ini adalah perkara sunah menurut ijma’, kecuali menurut kelompok Ahli Zhahir (tekstualist) , mereka mengatakan wajib.”

Lalu beliau mengomentari ucapan Imam Muhammad bin Hasan, “ … bukan wajib “:

وليس بواجب لأن النبي صلى الله عليه و سلم رأى رجلا يتخطى رقاب الناس فأمرهبالجلوس ولم يأمره بالصلاة كذا ذكره الطحاوي . وقال زيد بن أسلم : كان الصحابةيدخلون المسجد ثم يخرجون ولا يصلون وقال : رأيت ابن عمر يفعله وكذا سالم ابنهوكان القاسم بن محمد يدخل المسجد فيجلس ولا يصلي ذكره الزرقاني

“Bukan wajib ..” karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang laki-laki yang melangkahi punggung  manusia, lalu Beliau memerintahkan laki-laki itu untuk duduk, dan dia tidak memerintahkannya untuk shalat. Demikian disebutkan oleh Ath Thahawi. Zaid bin Aslam mengatakan: “Dahulu  para sahabat memasuki masjid kemudian keluar lagi dan mereka tidak shalat.” Dia (Zaid) berkata: “Aku melihat Ibnu Umar melakukannya, demikian juga Salim – anaknya-, dan juga Al Qasim bin Muhammad memasuki masjid dia duduk dan tidak shalat. Ini disebutkan oleh Az Zarqani. (Lihat Al Muwaththa’ No. 275, Catatan kaki No. 10. Cet. 1. 1413H. Darul Qalam, Damaskus)

Kepada siapakah Tahiyatul Masjid Disunnahkan?
               
Tahiyatul masjid disunnahkan bagi yang masuk ke masjid dalam keadaan berwudhu, sebagain ulama menambahkan: serta bermaksud duduk di dalamnya, bukan sekedar lewat. Sebagian lain mengatakan walaupun cuma lewat, tetap sunah.
               
Tertulis dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ يُسَنُّ لِكُل مَنْ يَدْخُل مَسْجِدًا غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ – يُرِيدُالْجُلُوسَ بِهِ لاَ الْمُرُورَ فِيهِ ، وَكَانَ مُتَوَضِّئًا – أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ قَبْل الْجُلُوسِ .وَالأَْصْل فِيهِ حَدِيثٌ رَوَاهُ أَبُو قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَال : إِذَا دَخَل أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ   وَمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْمِنْهُمَا لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ يَقُول نَدْبًا : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُأَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْل وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . فَإِنَّهَا تَعْدِل رَكْعَتَيْنِ كَمَا فِي الأَْذْكَارِ
             
Mayoritas  ahli fiqih berpendapat bahwa  disunnahkan bagi siapa saja yang masuk ke dalam masjid selain masjidil haram –yang berkehendak duduk bukan cuma lewat[4] dan dia dalam keadaan berwudhu- untuk shalat dua rakaat atau lebih[5] sebelum duduk.  Dasarnya adalah hadits diriwayatkan Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu:bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. Dan, siapa saja yang terhalang melakukan keduanya (shalat dan duduk) disebabkan hadats atau selainnya, disunahkan mengucapkan: Subhanallah wal hamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar wa laa haulaa wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Azhim.[6] Sesungguhnya itu sebanding dengan dua rakaat tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al Adzkar. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/305)

Walaupun Sudah Duduk Tetap Sunah
           
Di antara kita mungkin pernah lupa tahiyatul masjid, lalu langsung duduk. Sering kali hal itu membuat sebagian kita ragu-ragu; bolehkah tahiyatul masjid dilakukan padahal kita sudah duduk
             
Jawabnya: boleh, dan tetap sunah. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dari Abu Dzar Al GhifariRadhiallahu ‘Anhu katanya

دخلت المسجد فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس وحده قال يا أبا ذر إنللمسجد تحية وإن تحيته ركعتان فقم فاركعهما قال فقمت فركعتهما
               
Saya masuk ke masjid ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya untuk masjid itu sambutannya, sambutan bagi masjid adalah shalat dua rakaat. Maka bangunlah dan shalatlah dua rakaat!” Abu Dzar berkata: “Maka saya bangun dan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Hibban No. 361)
             
Hadits ini sangat lemah, lantaran dalam sanadnya terdapatIbrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghathafani . Imam Abu Zur’ah mengatakan tentang dia: Kadzdzaab (pembohong). (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin No. 133. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
             
 Imam Abu Hatim dan lainnya mengatakan: laisa bitsiqah(bukan orang yang bisa dipercaya). (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh Dhu’afa no. 201)
               
Imam Abu hatim juga mengatakan tentang Ibrahim bin Hisyam: Kadzdzaab (pembohong). Lalu Ali bin Al Husain bin Al Junaid berkata: “Abu Hatim benar, hendaknya jangan mengambil hadits darinya (Ibrahim bin Hisyam).” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal No. 244
               
Namun dalam riwayat lain, diriwayatkan secara shahih dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَافُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ            

Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamsedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: “Wahai fulan, apakah engkau sudah shalat?” orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.” (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)
               
Perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bangunlah ..”menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.
               
Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur“duduk” tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur.(Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

2. Shalat Sunah mutlak. Ini juga sunah hukumnya, tak ada perselisihan ulama. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang dilakukan tanpa terikat oleh waktu atau peristiwa. Misalnya, sambil menunggu adzan Jumat, anda mengisi kekosongan waktu dengan melakukan shalat sunah, itulah shalat sunah mutlak dengan dilakukan dua rakaat, dan boleh berulang-ulang, hingga kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti, atau karena khatib sudah naik mimbar.

3. Shalat Sunah Qabliyah Jumat setelah adzan pertama. Para ulama berselisih faham tentang ini. Ada yang  menilainya tidak disyariatkan, sebab menurut mereka memang tak ada satu pun keterangan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah melakukannya setelah adzan berkumandang. Dalam masalah ibadah ritual seperti shalat, harus memiliki dalil. Justru yang Nabi ﷺ contohkan adalah ketika  setelahke mimbar, lalu adzan,  kemudian  khutbah.

Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘anhuma. Maka pada masa UtsmanRadhiallahu ‘Anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (HR. Al Bukhari No. 912)
             
Bagi mereka, masalah ini tidak boleh diqiyaskan dengan shalat qabliyah zhuhur, sebab dalam ibadah tidak boleh ada qiyas, berbeda dengan masalah muamalah.  Tidak disyariatkannya qabliyah Jumat merupakan pendapat Imam Malik dan umumnya pengikut Imam Ahmad bin Hambal.
               
Sementara ulama lain yang mengatakan qabliyah jumat adalah sunah, inilah pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i. Mereka beralasan dengan beberapa hadits berikut:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ

Di antara setiap dua adzan hendaknya ada shalat (sunah), (nabi mengatakan tiga kali), bagi yang menghendaki. (HR. Al Bukhari No. 624, 627, Muslim No. 838)
             
 Maksud dari ‘antara dua adzan’ adalah di antara adzan dan iqamah. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir bahwa Rasulullah ﷺ   bersabda:

ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Tiada satu shalat fardhu (wajib) pun, melainkan pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.”  (HR. Ibnu Hibban No. 2455, 2488. Syaikh Syu’aib Al Arnauth: isnadnya kuat. Ath Thabarani, Musnad Asy Syamiyyin, 3/282. Syaikh Hamdi bin Abdul Majid mengatakan: shahih)
               
Nah, bagi mereka, karena Shalat Jumat juga shalat fardhu sebagimana yang fardhu yang lain, maka ia termasuk keumuman hadits di atas. Yakni yang namanya  shalat fardhu, pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.
               
Demikian, semoga bermanfaat, dan tidak menjadikan masalah khilafiyah sebagai sumber perpecahan. Wallahu A’lam

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Jual Beli Indent

Oleh: Ust Dr. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Pertanyaan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

1. Semoga Ustadz Ust Rikza senantiasa dlm lindungan Allah.. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Begini Ustadz.. saat ini sedang marak penjualan Online biasanya Buku/ Tools Online. Penjualnya menggunakan strategi PreOrder dengan iming iming diskon misal 50% dr Harga Normal. Setelah tanggal habis masa promo pre order harga menjdi Normal.

Pre order biasanya Barang tersebut belum selesai proses percetakannya atau belum dalam bentuk finish good.

Pertanyaan saya bolehkah strategi tsb dilakukan pebisnis tsb?

2. Sekarang sdg marak para pebisnis Travel Umroh yang menawarkan UMROH untuk 1-2 tahun kedepan dgn iming iming harga bisa di bawah harga pasar umumnya $2300 dijual 13jt.

Ada juga oknum Travel yg menggunakan uang tsb utk diinvestasikan slm forex atau bisnis penggemukan sapi dengan harapan owner tersebut mdapat margin yg jauh lebih besar lagi.

Apakah hal tsb diperbolehkan, baik praktek tsb dana umrohnya di investasikan atau tidak diinvestasikan ?

Mojon pencerahannya ya Ustadz…

Jazakumullah khairan katsir..

Jawaban:

 Waalaikumsalam wr wb.

1 Secara umum, dalam Islam ada namanya bai’ salam, yaitu jual beli inden, dimana uang dibayarkan dimuka dan barang diserahkan kemudian.

Namun terdapat persyaratan dalam jual beli salam sebagaimana digambarkan di atas, yaitu:

1. Objek barang harus jelas, jenis, bentuk, kualitas dan kuantitasnya.

2. Waktu serah terima barang juga harus jelas. Tidak sah apabila tidak ada kejelasan waktu penyerahan barang.

3. Pembayaran dilakukan pada saat akad secara tunai, bukan hutang.

Apabila kriteria tersebut dipenuhi, maka hikumnya boleh saja.

Wallahu A’lam

2. Umrah dengan harga pembayaran lebih rendah dibandingkan dengan harga normal dengan waktu pemberangkatan 1 atau 2 tahun yang akan datang, harus memperhatikan hal2 berikut :

1. Harus jelas akadnya di awal. Karena pada dasarnya paket umrah itu merefleksikan dari akad ijarah, yaitu jasa.

Selama jasa yg ditawarkan benar, dan sesuai antara yg ditawarkan dgn realitanya, maka boleh saja.

Dan perlu dipastikan, bahwa pembayaran yg dilakukan adalah untuk pembayaran paket umrah, bukan untuk inveatasi.

2. Karena akadnya adalah untuk paket umrah, maka harus ada jaminan pemberangkatan umrah. Jaminan diatas materai lebih baik.

3. Apabila dana pembayaran umrah tersebut akan diinvestasikan oleh penyelenggara (travel), maka pastikan bahwa investasinya harus halal secara syariah.

Karena dari hasil investasi itulah akan ditambahkan pada dana awal umrah yg telah dibayarkan. Sehingga halal haramnya harus jelas.

Apabila tercampur dengan yang haram, maka bisa jadi ibadahnya tidak diterima oleh Allah Swt.

Wallahu A’lam

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (2) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 2:

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –   إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

                Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang bisa menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Ats Tsalatsah (tiga imam: Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i), dan dishahihkan oleh Imam Ahmad.

Takhrij:

–          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 66, 67

–          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 66

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 326

–          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/29

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya No.11119

–          Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2155

–          Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1513

–          Imam ‘Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 255

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/61

–          Imam Ibnu Jarud dalam Al Muntaqa No. 47

–          Imam Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2051

Status Hadits:

–          Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh  Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.”  (Talkhish Al Habir, 1/125-126)

–          Imam At Tirmidzi mengatakan: “hasan.”(Sunan At Tirmidzi No. 66)

–          Imam Al Baghawi mengatakan: “hasan shahih.” (Syarhus Sunnah, 2/61)

–          Imam An Nawawi mengatakan:“shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

–          Imam Al Bushiri mengatakan: “hasan.”(Ittihaf Al Khairah No. 416)

–          Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata:“sanadnya jayyid.”(Tuhah Al Ahwadzi, 1/170)

–          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih bithuruqihi wa syawahidihi – shahih karena banyak jalan dan penguatnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 11119)

–          Syaikh Al Albani mengatakan: ”shahih.”(Al Irwa’ No. 14, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 67, Shahihul Jami’ No. 1925, dll)

Latar Belakang Hadits:

                Disebutkan dalam Sunan Abi Daud dan lainnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

         

📌Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan  Al Hiyadh, daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” (HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah bercerita –kami ringkas- sebagai berikut:

“Dia adalah Al Imam Al Mujahid, muftinya kota Madinah, namanya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’alabah bin ‘Ubaid bin Al Abjar bin ‘Auf bin Al Haarits bin Al Khazraj. Ayahnya (Malik) mati syahid ketika perang Uhud, dan dirinya sendiri ikut perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan (Bai’at di bawah pohon). Dia adalah salah satu ahli fiqih dan mujtahid.

Hanzhalah bin Abi Sufyan meriwayatkan dari guru-gurunya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui hadits-hadits para sahabat nabi dibanding Abu Sa’id Al Khudri.

Al Waqidi dan jamaah mengatakan, Abu Sa’id Al Khudri wafat tahun 74 H. Ismail Al Qadhi berkata: Aku mendengar Ali bin Al Madini mengatakan bahwa Abu Sa’id wafat tahun 63 H.

Musnad Abu Sa’id terdapat 1170 hadits. Pada Bukhari dan Muslim terdapat 43 hadits. Pada Bukhari saja ada 16 hadits, pada Muslim saja ada 52 hadits.”  (Selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/168-172)

2.       Ada beberapa istilah khusus yang perlu dijelaskan.

Pertama. Al Hiyadh – الْحِيَضُ  adalah –sebagaimana dijelaskan Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah:

الحيضُ- بكسر الحاء، وفتح الياء-: جمع حيْضة- بكسر الحاء، وسكون الياء-، وهي: خرقة الحيض، ويقال لها أيضاً المحيضة، وتجمع على المحايض

Al Hiyadh –dengan huruf ha dikasrahkan dan huruf ya difathahkan adalah jamak dari hiidhah –dengan ha dikasrahkan dan ya disukunkan- itu adalah harqatul haidh (pembalut haid).  Juga disebutkan artinya adalah Al Mahiidhah, dan dijamakkan menjadi Al Mahaayidh. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 1/198. Maktabah Ar Rusyd)

Kedua. An Natnu  –النَّتْنُ – artinya:

” والنتْنُ ” الرائحة الكريهة، ويقع أيضاً على كل مستقْبح

                An Natnu adalah Ar Raa-i-ah Al Kariihah (aroma yang tidak sedap), dan juga bisa berarti setiap hal yang buruk. (Ibid)

               Ketiga. Istilah  أخرجه الثلاثة –dikeluarkan/diriwayatkan oleh tiga orang imam.Apa maksudnya?

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullahmengatakan:

هم أصحاب السنن، ما عدا ابن ماجه

                Mereka adalah ashhabus sunan (para penyusun kitab As Sunan), selain Ibnu Majah.(Subulus Salam, 1/16. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

                Mereka adalah Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

3.       Pada hadits ini menyebutkan bahwa hukum dasar bagi air adalah suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya menjadi najis, walau dia terkena benda-benda yang dianggap najis seperti daging anjing, darah haid, dan sesuatu yang berbau, selama tidak mengubah sifat-sifat kesuciannya. Tentunya, apalagi ketika tidak diketahui adanya benda-benda yang mencampurinya, maka kesuciannya bisa dipastikan lagi. Dan, ini menjadi pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu.

Berikut ini keterangannya:

وبهذا الحديث استدل مالك على أن الماء لا يتنجس بوقوع النجاسة- وإن كان قليلاً- ما لم تتغير أحد

أوصافه.

📌Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya dia dengan najis –jika air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah. (Ibid)

             

4.       Sebagian ulama mengatakan bahwa, hadits ini hanya berlaku khusus bagi sumur Budhaa’ah, tidak bagi lainnya, karena latar belakang hadits ini memang sedang membicarakan sumur tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya air pada sumur Budhaa’ah yang melebihi dua qullah.

Berkata Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri:

فتأويله إن الماء الذي تسألون عنه وهو ماء بئر بضاعة فالجواب مطابقى لا عموم كلي كما قاله الامام مالك انتهى وإن كان الألف واللام للجنس فالحديث مخصوص بالإتفاق كما ستقف ( لا ينجسه شيء ) لكثرته فإن بئر بضاعة كان بئرا كثيرا الماء يكون ماؤها أضعاف قلتين لا يتغير بوقوع هذه الأشياء والماء الكثير لا ينجسه شيء ما لم يتغير

          📌      Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah bukan untuk umum  sebagaimana dikatakan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana  Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah  menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

QS. Nuh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Orang-Orang Pilihan

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Sangat manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan langsung oleh Allah serta diabadikan dalam kalam sucinya dan dibaca oleh jutaan bahkan milyaran manusia.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua teladan individu secara personal. Dan keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga yang layak untuk diikuti jejaknya.

Dalam kesempatan kali ini kita akan menelusuri jejak-jejak dakwah Nabi Nuh as. Sebagai salah satu individu yang difigurkan serta layak untuk diteladani. Khususnya kisah beliau yang terangkum dalam Surat Nûh yang diturunkan Allah di Makkah setelah Surat an-Nahl ([1]) . Seorang dai dan nabi yang menyeru kepada kalimat Allah hampir sepuluh abad lamanya, namun hanya segelintir orang saja pengikutnya. Bahkan istri dan anaknya termasuk orang-orang yang menghalangi, memusuhi dan melawan dakwahnya. Namun, hal tersebut tak membuat beliau surut berdakwah.

”Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ”Berilah kaummu peringatan sebelum datang adzab yang pedih”. (QS. 71: 1))

Dan tugas utama seorang nabi dan utusan Allah adalah menyampaikan risalah-Nya. Risalah pengesaan dan totalitas penghambaan kepada Allah.

”Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71: 2-4)

Keangkuhan dan Gengsi Sosial

Bukan bunga yang ditaburkan, bukan pula pujian yang diterima, dan tidak pula orang-orang berbondong-bondong mendengarkan dakwah Nabi Nuh as. Yang terjadi justru sebaliknya. Dengarlah saat dengan penuh kepasrahan beliau mengadu kepada Allah,

”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajah) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (QS. 71: 5-9)

Nabi Nuh. As menyeru kaumnya siang dan malam. Dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Justru respon mereka sangat menyakitkan hati. Mereka menyumpal telinga dengan jari-jari. Jika Nabi Nuh meneruskan dakwahnya mereka pun mengangkat kain untuk menutupi wajah mereka. Agar mereka tidak melihat beliau menyampaikan dakwahnya, tidak juga mendengar apa yang dikatakannya ([2]).

Namun, Nabi Nuh as. tetap melanjutkan dakwahnya sampai kemudian datang ketentuan Allah.

”Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. 11: 36)

Nabi Nuh pun mematuhi titah-Nya yang kemudian memerintahkan kepada-nya membuat perahu di tengah padang pasir. Sebuah perintah yang kemudian dilecehkan kaum-kaumnya. Mereka menertawakannya, menganggapnya gila bahkan berusaha merusaknya.

Icon Kesabaran yang Luar Biasa

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mencabut Uban, Bolehkah?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

pertanyaan dari I-18:

Assalamu’alaikum. Afwan ustadz.
Saya mohon izin bertanya.. bagaimana hukumnya kalau kita mencabut uban yg ada dikepala kita. Apakah diperbolehkan atau dilarang. Kebetulan saya kmrn berbincang2 sm teman bahwa mencabut uban itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Mohon penjelasannga ustadz. Demikian ustadz, jazakallah.

Jawaban Ustad Farid Nu’man:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah ..
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Beruban? Jangan dicabut! Karena …..

1. Spesial bagi seorang muslim, dia cahaya baginya, bukan bagi non muslim.

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نتف الشيب، وقال ((هو نور المؤمن)).

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mencabut uban,” dan katanya: “Itu adalah cahaya bagi seorang mu’min.” (HR. Ibnu Majah No. 3721, Syaikh Al Albani mengatakan Hasan Shahih, dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3721)

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:

“أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن نتف الشيب وقال إنه نور المسلم”. هذا حديث حسن وقد رواه عبد الرحمن بن الحارث وغير واحد عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mencabut uban, dan bersabda: bahwa itu adalah cahaya bagi seorang muslim.”(HR. At Tirmidzi No. 2975, katanya: Hadits ini hasan. Abdurrahman bin Al Harits dan  selain dari satu orang telah meriwayatkannya dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14604. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih, dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2821)

2. Beruban itu bisa mendatangkan pahala dan Menghapus dosa

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“لاتنتفوا الشيب ما من مسلمٍ يشيب شيبةً في الإِسلام” قال عن سفيان “إلاَّ كانت له نوراً يوم القيامة” وقال في حديث يحيى “إلا كتب اللّه [تعالى وجل] له بها حسنةً وحطَّ عنه بها خطيئةً”.

“Janganlah kalian mencabut uban, tidaklah seorang muslim beruban  satu saja di dalam Islam.” (Beliau berkata, dari Sufyan): “Melainkan baginya cahaya di hari kiamat nanti.” (Dia bersabda dalam hadits Yahya): “melainkan Allah Ta’ala catat baginya satu kebaikan dan menghapuskan untuknya satu kesalahan.” (HR. Abu Daud No. 4202, Syaikh Al Albani mengatakan Hasan Shahih, dalamShahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4202. Lihat juga Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14605)

3. Uban Itu Kewibawaan

Imam Abul ‘Abbas Al Qurthubi mengatakan:

إنَّما كان لأنه وقارٌ ، كما قد روى مالك : (( أن أوَّل من رأى الشيب إبراهيم ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فقال : يا رب ! ما هذا ؟ فقال : وقار . قال : يا رب زدني وقارًا )) ، أو لأنه نورٌ يوم القيامة

   Sesungguhnya  uban adalah kewibawaan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik: Bahwa yang pertama kali melihat uban adalah Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: Ya Rabb, apa ini?! Tuhan menjawab: Waqar (kewibawaan/mahkota),” Dia berkata: “Ya Rabb, tambahkan untukku kewibawaan.” Atau juga karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. (lalu Imam Abul Abbas menyebut hadits tentang itu). (Lihat Al Mufhim, 19/56. Maktabah Misykah)

4. Mencabutnya terlarang

             Hadits-hadits di atas secara zahir menunjukkan larangan mencabut uban, dan hukum dasar dari larangan  menunjukkanharam. Berkata Syaikh Abdul Muhsin Hamd Al ‘Abbad Al BadrHafizhahullah:

فهذا يدل على منع أو تحريم نتف الشيب

“Maka, ini menunjukkan larangan atau keharaman mencabut uban.” (Syarh Sunan Abi Daud No. 472. Maktabah Al Miyskah)

Tetapi, tertulis dalam  berbagai kitab tentang  riwayat dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

عن عبد الله بن مسعود أن نبي الله صلى الله عليه وسلم كان يكره الصفرة يعني الخلوق وتغيير الشيب يعني نتف الشيب وجر الإزار والتختم بالذهب…

Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakruhkan shafrah yakni wangi-wangian, merubah uban yakni mencabutnya, menjulurkan kain, dan memakai cincin emas …”(HR. Abu Daud No. 4222, An Nasa’i No. 5088, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 15464)

Keterangan dari Ibnu Mas’ud ini menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘hanya’ memakruhkan mencabut uban. Tetapi hadits ini memiliki redaksi yang musykil sebab menyebutkan bahwa memakai cincin emas (buat laki-laki) adalah makruh, padahal telah ijma’ (konsensus) bahwa cincin emas adalah haram untuk laki-laki, bukan makruh. Dan, secara sanad hadits ini pun munkar (LihatShahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 4222),   oleh karena itu menurut para ulama, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah kemakruhannya. Maka, mesti kembali kepada hukum asal larangan yaitu haram.

Namun, ada riwayat lain yang dijadikan alasankemakruhannya, Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

يكره أن ينتف الرجل الشعرة البيضاء من رأسه ولحيته.

“Dimakruhkan bagi seorang laki-laki mencabut rambut kepalanya yang memutih dan juga janggutnya.” (HR. Muslim No. 2341,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14593)

Apa yang dikatakan Anas bin Malik ini menjadi penjelas, sekaligus dalil yang kuat makruhnya mencabut uban baik di kepala atau di janggut. Dan, ini menjadi pendapat madzhab Syafi’i dan Maliki bahwa mencabut uban adalah makruh, tidak haram.  Inilah pandangan yang lebih kuat. Wallahu A’lam

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

قَالَ أَصْحَابنَا وَأَصْحَاب مَالِك : يُكْرَه وَلَا يَحْرُم .

“Sahabat-sahabat kami (syafi’iyah) dan sahabat-sahabat Malik (Malikiyah) mengatakan: dimakruhkan, dan tidak diharamkan.”(Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 8/59. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Beliau juga menambahkan bahwa kemakruhan ini bukan hanya bagi rambut di kepala, tapi juga lainnya. Katanya:

ولا فرق بين نتفه من اللحية والرأس والشارب والحاجب والعذار من الرجل والمرأة.

“Tidak ada perbedaan antara mencabut rambut janggut, kepala, kumis, alis, dan pipi, baik pada laki-laki dan wanita.” (Lihat Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/227)

Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan:

وكراهته ـ صلى الله عليه وسلم ـ نَتْف الشيب إنَّما كان لأنه وقارٌ ، كما قد روى مالك : (( أن أوَّل من رأى الشيب إبراهيم ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فقال : يا رب ! ما هذا ؟ فقال : وقار . قال : يا رب زدني وقارًا )) ، أو لأنه نورٌ يوم القيامة

  “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakruhkan mencabut uban, karena dia adalah kewibawaan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik: Bahwa yang pertama kali melihat uban adalah Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: Ya Rabb, apa ini?! Tuhan menjawab: Waqar (kewibawaan/mahkota),” Dia berkata: “Ya Rabb, tambahkan untukku kewibawaan.” Atau juga karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. (lalu Imam Abul Abbas menyebut hadits tentang itu). (Lihat Al Mufhim, 19/56. Maktabah Misykah)

Maka lebih tepat dikatakan bahwa larangan tersebut adalah makruh, sebagaimana langsung  dikatakan oleh salah seorang Sahabat Nabi, dan pernah menjadi pelayan di rumahnya, yakni Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu. Ada pula sebagian ulama yang mengatakan boleh mencabut uban, tetapi berbagai riwayat shahih di atas, dan juga fatwa sahabat ini sudah cukup mengoreksi pendapat mereka.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbhi Ajma’in.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menjual Barang yang Tidak Dimiliki

Oleh: Ust Dr. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Pertanyaan:
Ust. yang saya ketahui,ada bbrp yg seperti itu.misal…saya upload barang via foto, pdhal barang tsb milik temen…jk ada yg tertarik-nego dan deal-dia.transfer…br saya uruskan…saya belikan barang temen tsb, kmdian saya kirimkan. gimana yg sprti ini.mhon pncrrahannya agar jelas pkerjaan kami.nuwun

Atau sistem dropship bgmn hukumnya?

جزاك اللهُ خيرًا ya uStadz


Jawaban :

Ya, metode seperti itu termasuk yg tidak diperbolehkan. Karena menjual barang yg tidak dimiliki. Jika model dropshopnya seperti itu, maka juga tidak boleh.
Solusinya dgn cara menjalin kerja sama dengan pihak yg punya stok barang tsb, bahwa kita menjualkan produk atau barang miliknya di web kita. Adapun harga dan keuntungannya bisa disepakati bersama. Apabila metodenya spt ini maka diperbolehkan.
Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Bai’ Ma’dum) (bag. 2)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/larangan-jual-beli-sesuatu-yang-tidak.html?m=1

Jenis-Jenis Bai’ Ma’dum
dan Hukumnya.

1. Jenis (المعدوم الموصوف في الذمة)

Yaitu jual beli barang yang belum ada, namun spesifikasinya jelas dan keberadaannya dalam jaminan penjual.

Ulama sepakat bai’ ma’dum jenis yang pertama, diperbolehkan, selama secara kebiasaan umum keberadaan objek yang diperjualbelikan bisa dipastikan keberadaannya.

Contohnya adalah seperti jual beli kendaraan secara inden, jual beli elektronik, gadget, secara inden, dsb.

Dalam timbangan syariah, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ salam.

Atau contoh bentuk lainnya adalah jual beli dengan pesanan pembuatan terlebih dahulu, seperti jas yang dijahit sesuai ukuran pembeli, jual beli lemari dengan ukuran dan model tertentu, renovasi rumah, dsb.

Dalam syariah  jual beli seperti ini disebut dengan bai’ istishna’.

2. Jenis  (بيع معدوم تبع للموجود وإن كان أكثر منه)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, namun mengikuti yang sudah ada, meskipun kemungkinan tidak adanya lebih banyak dari keberadaannya.

Nah dalam hal ini, ulama berbeda pendapat sebagian membolehkannya namun sebagian lainnya tidak memperbolehkannya.

Yang memperbolehkan karena beranggapan masih bisa masuk dalam kategori bai’ salam, seperti membeli buah-buahan setelah melihat hasil buah yang pertama dan secara logika umumnya, dapat menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang sama.

Yang tidak memperbolehkan adalah karena menganggap, unsur ghararnya lebih dominan dan apabila diterapkan dalam objek lainnya, maka akan tererumus pada bai’ gharar yang diharamkan.

Contohnya seperti jual beli anak hewan, yang belum lahir dan belum ada dalam kandungan induknya.

3. Jenis (بيع المعدوم الذي لا يدرى يحصل أو لا يحصل)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, dan tidak diketahui apakah keberadaannya akan ada atau tidak ada.

Ulama sepakat akan haramnya jual beli ma’dum jenis yang ketiga ini. Karena sudah jelas ke ghararannya dan juga karena tidak bisa diserah terimakan serta berpotensi besar menimbulkan unsur penipuan di dalamnya.

Termasuk di dalamnya adalah jual beli sebagaimana digambarkan di dalam hadits utama di atas, yaitu seorang penjual datang lalu membeli barang yang tidak dimilikinya, kemudian ia pergi ke pasar untuk membelinya, lalu ia menjualnya kepada pembeli tersebut.

Jual beli seperti ini adalah termasuk yang dilarang, berdasarkan nash hadits di atas.

Illat (Penyebab) Larangan Dalam Bai’ Ma’dum

Ulama sepakat, bahwa illat atau musabab pelarangan bai’ ma’dum adalah karena adanya unsur gharar (ketidakjelasan), pada objek akad yang ditransaksikan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kepada kedua belah pihak yang berakad.

Dan sebagai catatannya, ternyata ulama memandang pelarangannya adalah bukan karena tidak beradaannya, namun karena ghararnya.

Karena bisa jadi barang yang ditransaksikan belum ada, namun keberadaannya bisa dipastikan secara logika umum dan ada jaminan dari keberadaannya.

Jika demikian maka hukumnya menjadi boleh.

Jika kita melihat jenis-jenis ba’i al ma’dum yang dilarang dan jenis ba’i al ma’dum yang diperbolehkan, maka akan dapat disimpulkan bahwa segala objek yang dilarang diperjual-belikan, pada umumnya keberadaan objeknya tidak pasti dan tidak diketahui; apakah akan ada atau tidak ada.

Sedangkan sebaliknya segala objek yang diperbolehkan dalam bai’ ma’dum ini, umumnya keberadaannya lebih bisa dipastikan, walaupun terkadang tidak ada pada saat akad.

Sehingga kaidah yang berlaku dalam ba’i al ma’dum adalah:

Segala yang tidak ada dan tidak dapat direalisasi kan keberadaannya di masa datang maka tidak boleh diperjual-belikan.

Dan segala yang tidak ada namun keberadaannya dapat direalisasikan di masa datang, sesuai dengan kebiasaan maka boleh diperjual-belikan.🔑🌟

Maraji’

Al-Syaukani, Al-Alamah Muhammad bin Ali. Nailul Authar, Min Ahadits Sayyidil Akhyar, 1996. Beirut : Dar Al-Khair.

Al-Zuhayli, Syekh Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1996. Damaskus ; Dar Al-Fikr

والله تعالى أعلى وأعلم بالصوبا
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KARENA KEBERSIHAN HATI PENGHUNINYA, SURGA BISA TERASA DALAM RUMAH KITA (Bag-1)

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

A. Mengilmui Setiap Aktifitas Seluruh Anggota Keluarga

“Wahai putraku, tuntutlah ilmu, dan aku siap membiayaimu dari pintalanku. Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan: Apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” (Riwayat Imam Ahmad)

Tahukah siapa sebenarnya ibu dengan nasihat luar biasa di atas? Dialah ibunda Sufyan Ats Tsauri. Sufyan Ats Tsauri tercatat sebagai adalah salah seorang tokoh ulama teladan dari Kufah, Imam dalam bidang hadits juga bidang keilmuan lainnya, Terkenal sebagai pribadi yang wara’ (sangat hati-hati), zuhud, dan seorang ahli fiqih, ‘Ulama yang selalu ingat untuk mengamalkan ilmunya.

B. Mencemerlangkan Hati-Hati Seluruh Anggota Keluarga

Kebahagiaan letaknya di dalam hati, dan setiap manusia memiliki hati. Sehingga kebahagiaan itu milik semua orang, baik si kaya maupun si miskin, asalkan ia mampu menata dan membersihkan hatinya dari karat-karat yang mematikan hati.

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ
مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu] (HR. Muslim no. 2654).

( يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ) 88 ( إِلَّا مَنْ أَتَى اللَََّّ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ )89
“(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).

Ibnu Katsir berkata: “'(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’. Artinya, yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya. Oleh karena itu, Allah kemudian berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’ yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”

Imam Asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya, serta tidak ada pula dendam dan hasad.’ (Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, dikeluarkan oleh Ibnu Majah no.4216 dan Ath-Thabrani).

Berdoa saja tidak cukup. Doa harus diiringi dengan usaha dan perjuangan untuk membersihkan hati karena hal tersebut juga merupakan ibadah, ibadah mentauhidkan Allah dalam perkara ‘ubudiyyah dan ‘uluhiyyah. وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَََّّ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69)

Apa yang membuat hati itu ternoda?
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ
الَّذِى ذَكَرَ اللََُّّ ) كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِ بُونَ
“Jika seorang hamba berbuat sebuah dosa, maka akan ditorehkan sebuah noktah hitam di dalam hatinya. Tapi jika ia meninggalkannya dan beristigfar niscaya hatinya akan dibersihkan dari noktah hitam itu. Sebaliknya jika ia terus berbuat dosa, noktah-noktah hitam akan terus bertambah hingga menutup hatinya. Itulah dinding penutup yang Allah sebutkan dalam ayat, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutup hati mereka.’ (QS.al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Lalu dimana kita posisikan Allah dalam kehidupan kita? Apakah kedudukan atasan telah mengalahkan kedudukan Allah di hati kita? Sehingga kita dengan santainya berbuat maksiat kepada-Nya? Padahal Allah adalah Dzat yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sebenarnya orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan).” (Shahih Al Wabilus Shoyib, hal. 94).

Oleh karena itu, hendaklah kita menempa, mendidik, dan menundukkan nafsu (jiwa) keluarga kita, agar nafsu mengarahkan hati kita pada hal-hal yang baik, bukan pada kesesatan.

Berikut ini beberapa hal agar surga ada di rumah kita karena hati bersih para penghuninya, amal pun tanpa pamrih, hanya mengharap ridha ilahi:

1. Berlepas diri atas segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah Azza wa Jalla demi memurnikan pengabdian kita pada-Nya.

Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Itulah hakikat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.

Merealisasikan tauhid dalam rumah kita adalah dengan membersihkan kita dan keluarga kita dari tiga hal; syirik, bid’ah, dan maksiat. Barangsiapa yang melakukannya maka berarti dia telah merealisasikan tauhidnya.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِ هِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللََِّّ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ
الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللََِّّ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لَِِبِيهِ لََِسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللََِّّ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ
أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’ Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.’.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

2. Perbanyak beristighfar pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Renungkan betapa banyak nikmat Allah yang diberikan pada kita, namun betapa sedikit kita bersyukur. Dan betapa seringnya kita lalai, lalai karena harta kita, anak-anak kita, ataupun karena istri kita. Setiap ibadah yang kita lakukan tidaklah lepas dari campur tangan Allah. Dia memberikan kita taufiq sehingga kita terasa ringan dalam melakukan ibadah, dan itu semua adalah nikmat yang selayaknya kita syukuri. Allah berfirman dalam banyak ayat mengenai perintah untuk beristighfar dan bertaubat, diantaranya dalam

وَتُوبُوا إِلَى اللَِّ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَِّ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang benar (ikhlas).” (QS. At-Tahrim: 8)

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِ ي  فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ
كَبِيرٍ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepadaNya, (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, hingga pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut, kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (QS. Hud: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sayyidul istighfar (penghulu bacaan istighfar) adalah seorang hamba mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُك وَأَنَا عَلَى عَهْدِك وَوَعْدِك مَا اسْتَطَعْت أَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْت أَبُوءُ لَك بِنِعْمَتِك عَلَيَّ
وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّه لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ

(‘Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau’.) Barangsiapa mengucapkannya di pagi hari dalam keadaan meyakininya, lalu ia mati di waktu malamnya, maka ia akan masuk surga.”

(bersambung pekan depan, insyaa Allah)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Bai’ Ma’dum)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Taujih Nabawi

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ فَقَالَ لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ (رواه الخمسة)

Dari Hakim bin Hizam ra, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku ingin membeli sesuatu yang tidak aku miliki, apakah boleh aku memberlikan untuknya dari pasar?

Beliau bersabda,
‘Janganlah engkau menjual apa yang tidak engkau miliki.’ (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, & Imam Ahmad bin Hambal)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi ar-Rajul Yabi’u Ma Laisa Lahu, hadits no 3040.

Diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ ‘an Rasulillah, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Bai’ Ma Laisa ‘Indak, hadits no 1153.

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Ma Laisa ‘Indal Ba’I’, hadits no 4534.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya, Kitab Al-Buyu’, bab An-Nahyu an Bai’ Ma Laisa Indak wa An Ribhi Ma Lam Yudman, hadits no 2178.

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Al-Makiyin, dalam Musnad Hakim bin Hizam an Rasulillah SAW, hadits no 14772,

Makna Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang larangan jual beli barang yang tidak ada atau jual beli barang yang belum dimiliki oleh penjual, baru kemudian ia membelinya di pasaran, lalu ia menjualnya kepada pembeli.

Dalam istilah lainnya, jual beli dimana penjual tidak memiliki atau belum memiliki objek jual belinya, dikenal juga dengan istilah bai’ ma’dum, yaitu jual beli yang objeknya tidak ada.

Hadits Hakim bin Hizam di atas menggambarkan bahwa ia didatangi oleh seseorang yang ingin membeli sesuatu yang tidak ia miliki. Kemudian nanti ia AKAN membelinya, lalu menjualnya kepada orang tersebut.

Namun ternyata hal tersebut dilarang oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya, ‘Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada pada dirimu.’

Makna Sesuatu Yang Tidak Ada (Ma’dum)

Sesuatu yang tidak ada (ma’dum) adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh penjual, atau tidak dalam kuasa dan genggaman penjual dan tidak dalam penguasaan penjual.

Sehingga penjual tidak bisa melakukan serah terima barang yang ditransaksikan tersebut kepada pembeli.

Sementara diantara syarat dalam jual beli adalah bahwa objek yang diperjualbelikan harus bisa diserah terimakan.

Masuk dalam kategori sesuatu yang tidak ada (ma’dum) adalah:

jual beli anak dari anaknya onta (habalil habalah),

jual beli onta yang hilang yang tidak diketahui keberadaannya,

jual beli mutiara yang masih berada di dalam kerang di tengah lautan,

jual beli susu hewan yang masih berada dalam teteknya,

jual beli buku sebelum ditulis bukunya, dsb.

Dikecualikan dari jual beli sesuatu yang tidak ada (ma’dum) adalah jual beli barang yang ada, namun tidak ada di hadapan penjual maupun pembeli pada saat transaksi, namun sesungguhnya wujudnya ada di tempat lain.

Atau dengan istilah lain, disebut dengan gha’ib.

Jual beli barang yang ghaib adalah boleh, dengan syarat wujud barangnya ada.

Dikecualikan juga jual beli barang yang tidak ada, namun secara sifat, spesifikasi, dan wujud keberadaannya secara logika dan kebiasaan umum akan ada, maka termasuk diperbolehkan.

Oleh karenanya, diperboleh kan bai’ salam dan bai’ istishna’.

Jenis-Jenis Bai’ Ma’dum
Dan Hukumnya

 Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Secercah Harapan di Penghujung Kegelapan Tidak Semua Kisah Reconquista itu Sendu

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan dan Penaklukan Algeciras – 28 Juli 1369

Pengepungan ini adalah upaya pada masa Emir Muhammad V dari Granada untuk merebut kota Al-Hadra Al-Yazirat dari tangan Kerajaan Castile. Kota ini dikenal oleh pasukan nasrani Reconquista sebagai Algeciras.

Pengepungan ini hanya berlangsung selama 3 hari dimana Emir Muhammad V memperoleh kemenangan dalam merebut kembali Algecira yg dulu merupakan kota kaum muslimin. Kota penting ini dikuasai oleh Raja Alfonso XI dari Castile sejak direbutnya dari pihak Maroko setelah dikepung selama dua tahun lamanya, 1342-1344.

Betapa pentingnya selat Jabal Tariq ini bagi kedua belah pihak yg sedang memperebutkan Semenanjung Iberia. Selat ini menjadi semakin penting mengingat kaum muslimin mendapatkan bantuan dari entitas kekuatan yg berasal dari al-Maghrib di Afrika Utara.

Kota ini merupakan yg pertama kali dibangun oleh Tariq ibn Ziyad, sang penakluk Visigothic Hispania/Iberia, di semenanjung ini. Sepanjang abad ke-13 hingga ke-14 kota ini dikendalikan oleh pemimpin Granada maupun Maroko (al-Maghrib). Pengepungan serta penaklukan kota Algeciras oleh Alfonso XI menjadikan Kerajaan castile pemegang kendali atas Selat Jabal Tariq (Gibraltar).

Pada hari Sabtu 22 Dzul Hijjah 770 Hijriah (28 Juli 1369) Emir Muhammad V datang mrmbawa pasukan dalam jumlah yg banyak mengepung Algeciras dengan membangun banyak menara-kepung serta menutup rapat semua celah masuk ke kota. Algeciras pada waktu itu terdiri dari dua bagian kota yg dipisahkan oleh Sungai Río de la Miel. Setiap bagian kota memiliki dinding pertahanan kota serta menara pertahanannya sendiri. Efek dari pengepungan periode sebelumnya adalah banyak bagian dari pertahanan yg masih hancur atau sangat rapuh. Kedatangan pasukan Granada ini cukup mendadak sehingga kaum nasrani terburu-buru dalam memperbaikinya.

Berkali-kali pendadakan memenangkan pertempuan, tidak boleh bosan untuk dicatat.

Upaya perbaikan yg dipercepat ini memang tidak sekuat dibandingkan banguan aslinya ketika dibangun oleh Tariq. Oleh karena itu, misalnya, gerbang utama (Puerta del Fonsario) yg pernah paling parah menderita kerusakan ketika dikepung Alfonso XI kini dibangun dengan adukan pengeras kelas rendah. Jeleknya kualitas pertahanan serta sedikitnya pasukan penjaga di Algeciras membuat serangan kaum muslimin dari arah utara menyebabkan kerusakan yg hebat.

Kemampuan seorang pemimpin militer adalah mengetahui persis kekuatan pasukannya, lalu mengarahkan kekuatan tersebut untuk menghantam titik terlemah dari lawan dengan segenap daya serta dalam waktu yg sekejut-kejutnya.

Serangan kaum muslimin tersebut dirahkan secara khusus pada al-Binya (Villa Nueva), yaitu kota bagian selatan. Pasukan yg digelar oleh Muhammad V membangun banyak alat penghancur pertahanan kota, telah juga menyiapkan tangga serbu berukuran tinggi, serta memiliki keberanian yg terlatih untuk menyerbu kota. Kota bagian selatan ini jatuh pada tanggal 30 Juli dan seluruh prajurit dan penduduk yg mengangkat senjata menjadi korban. Efek hukuman tegas serta kekalahan telak ini mendorong pasukan yg berada di kota bagian utara untuk buru-buru menyerahkan senjatanya. Dari sekian banyak mesin perang yg disiapkan oleh Emir Muhammad V hanya sebagian saja yg dipakai; lainnya lebih berfungsi sebagai alat penggentar.

Perang tidak selalu simetris, efek psikologis tidak boleh diabaikan ketika tujuan hendak dicapai dalam waktu yg terbatas; maka metode penggentaran dapat dipakai sebagai upaya membuat palagan menjadi asimetrik.

Pada tanggal 31 Juli, Emir Muhammad V dan pasukannya parade masuk ke Villa Vieja pusat kota serta memberikan kebebasan bagi pasukan dan penduduknya utk keluar dari kota dengan membawa harta benda mereka. Katedral Algeciras yg dahulunya merupakan masjid kini dikembalikan fungsinya sebagai tempat sujud kepada Allah Ta’ala. Sang emir kemudian menempati benteng kuno Algeciras yg bernama Cerro de Matagorda. Dampak kemenangan ini pada moral penduduk Granada sungguh besar, ini terlihat dengan banyaknya penulisan sejarah atas peristiwa tersebut di pusat-pusat studi di Granada.

Kemenangan mendorong banyak pencatatan, sedangkan kekalahan mendorong sedikit saja. Pola seperti itu tidak selalu bijak, tapi itulah kenyataannya.

Setelah kota Algeciras diperbaiki dan garnizun pasukan ditempatkan, selama 10 tahun kota tersebut dikendalikan Granada secara strategik namun tidak pernah sampai ke titik kejayaan sebelumnya. Ketika Emirat Granada turun pamor militer dan kekuatan ekonominya, maka seiring itu pula peran Algeciras sebagai pangkal jembatan ke Afrika Utara perlahan berkurang hingga terhapus dari catatan sejarah.

Kemenangan sesaat tanpa perencanaan yg berkelanjutan dapat menggerus keunggulan strategik menjadi sebatas kemenangan taktis.

Di teluk Algeciras sebenarnya terdapat dua kota pelabuhan, yg satunya lagi adalah Jabal Tariq (Gibraltar). Secara alami, Gibraltar lebih mudah dibentengi daripada Algeciras yg membutuhkan pasukan penjaga utk pertahaannya seoanjang hampir 5 km. Sehingga tidak ada pilihan lagi setelah 10 tahun bahwa Algeciras harus ditinggalkan. Pada tahun 1379, kota berikut perbentengannya diluluhlantakkan agar tidak pernah lagi dapat dibangun maupun diduduki oleh Kerajaan Castile.

Agung Waspodo, mengagumi semangat juang dan ketidak-putusasaan Emir Muhammad V dari Granada di tengah kemunduran peradaban Andalusia yg sepertinya tidak terelakkan..

Depok, 28 Juli 2015, menjelang sore 646 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…