AYAH PENGEMBARA (bagian 1)

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

Awalnya saya ingin memberi judul tulisan berseri kali ini “Ayah Berkelana”. Tapi urung. Khawatir ada yang iseng nanya : Ayah berkelana panjang atau berkelana pendek? Huft..Itu bercelana wooy!
Lagipula khawatir jika judulnya “ayah berkelana” mengundang nostalgia bagi para fans nya bang haji roma. Ujung-ujungnya mereka bertanya kapan roma dan ani bersatu? Akankah ada sekuel kisah cinta mereka sebagaimana Rangga dan Cinta yang terpisah hingga berpuluh-puluh purnama? Jadi repot kan? Hehe.
Maka, biarkanlah saya ubah judul tulisan ini jadi “ayah pengembara” yang selalu riang serta gembira sebagaimana lagu tasya. Huft, plesetan lagi…Itu mah ayah penggembala.

Siapa yang dimaksud dengan ayah pengembara?

Ini adalah kisah ayah yang banyak menghabiskan waktunya di luar rumah karena tuntutan tugas. Ada yang berhari-hari di lautan, lepas pantai atau perbatasan negara. Atau dipindahtugaskan ke luar daerah hingga terpaksa harus terpisah dari keluarga hingga berbulan-bulan. Namun tak menghalangi keinginan untuk tetap mengurus anaknya meskipun dari kejauhan.
Jauh dari anak bukan menjadi penghalang bagi ayah untuk mendidik anak mereka. Sebab sejarah membuktikan bagaimana Ibrahim sosok ayah teladan sukses mendidik anaknya menjadi nabi yakni Ishaq dan Ismail. Padahal beliau pulang setahun sekali. Atau kisah seorang tabiín yang bernama Farukh. Meninggalkan anak dan istrinya hingga 30 tahun lamanya. Dan ternyata anaknya menjadi salah satu ulama besar yang bernama Rabi’ah Ar Ra’yi. Guru dari beberapa ulama semisal Imam Malik, Sufyan Tsauri dan yang lainnya.

Hal ini menandakan ayah masih bisa berkontribusi terhadap tumbuh kembang anak meskipun jauh terpisah hingga rentang waktu yang lama. Apalagi bagi ayah yang sekedar pekerja kantoran dengan label angkatan 59. Berangkat jam 5 pulang jam 9. Upaya mendidik anak berkualitas masih amat mungkin diupayakan.

Yang jelas disini, peran ayah mengasuh beda dengan cara ibu. Ayah mengasuh jangan diartikan ayah yang harus stay setiap saat di rumah. Sambil buka bisnis online atau jualan tup***are dan or***ame via dunia maya. Sesekali mention teman di jejaring sosial media, “hei Sis, cek IG aku yuk” Justru ini menimbulkan kecurigaan. Jangan-jangan ayah anggota ISIS. Kok sering banget nyebut “hey Sis”? Sekali lagi, bukan begitu cara ayah mengasuh. Ayah tetaplah sosok yang harus aktif di luar rumah. Untuk apa? Memberikan inspirasi anak agar siap menghadapi persaingan di luar dan berkompetisi yang sehat. Dengan demikian figur ayah menjadi inspirator tentang upaya pencapaian prestasi sekaligus keberanian dalam mengarungi kehidupan.

Tinggal masalahnya, apa yang harus ayah lakukan agar kesibukan di dunia luar tetap menjadi sosok yang mempesona batin anak? Maka, beberapa seri ke depan saya akan mengulas bagaimana menjadi sosok ayah pengembara yang bertanggungjawab terhadap urusan pengasuhan anak.

Dalam hal ini, saya coba urai dimensi pengasuhan ayah yang terbagi menjadi dua :
1.   Dimensi Persepsi
2.   Dimensi Stimulan

Persepsi yang dimaksud disini terkait dengan sosok ayah yang meskipun sibuk di luar tetap dipersepsikan sebagai ayah yang bertanggung jawab, peduli urusan keluarga dan siap berkorban bagi anak-anaknya. Jika persepsi anak rusak tentang ayahnya, menganggap ayah sosok yang jahat, menyeramkan, gak peduli hingga timbul kebencian dalam diri mereka, inilah awal penyimpangan perilaku mereka. Bagi anak lelaki berpeluang menjadi gay. Sebab kebencian terhadap ayah berujung kepada penolakan akan hakikat dirinya sebagai lelaki. Dan bagi anak anak perempuan, mereka pun berpeluang menjadi lesbi. Bahagia jika dunia ini tak ada lelaki. Lah? Trus yang benerin atap genteng kalau bocor siapa? Hehe…Semua bermula dari persepsi buruk akan ayah sebagai lelaki pertama yang dikenal dalam hidup mereka.

Sementara, yang dimaksud stimulan adalah kelelakian seorang ayah yang harus ditransfer dalam pribadi anak. Meliputi ketegasan, keberanian dan kemampuan mengambil keputusan. Anak-anak butuh stimulan ayah yang tak bisa digantikan oleh ibu. Dan meskipun jauh di sela kesibukan bertugas, ayah masih bisa menjalankan peran ini, insyaAllah.

Dua hal inilah yang harus diupayakan oleh ayah pengembara. Produktif di luar dan tetap memberikan kontribusi pengasuhan bagi anak mereka. Kelak ketika anak tumbuh dewasa, tanpa sungkan ia akan menyebut ayahnya sebagai pahlawan baginya. Melebihi figur spiderman, superman, salesman ataupun hanoman. Dua yang terakhir itu adalah superhero buatan indonesia, kayaknya. Yang dibutuhkan anak kita saat ini adalah pahlawan baru. Namanya fatherman. Lelaki yang mampu berperan jadi ayah dimanapun ia berada. Semoga Anda salah satunya

 (bersambung pekan depan, insyaa Allah)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Anakku…Bukan Dunia Tolok Ukur Kesuksesan (Bag-1)

Pemateri : Ustadzah Dra. INDRA ASIH

Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis.

Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”

‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”

Nabi pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”

Di dalam hadits ini menunjukkan  bahwa orang-orang kafir disegerakan nikmatnya oleh Allah di dunia, dan boleh jadi itu adalah istidraj dari Allah. Namun apabila mereka mati kelak, sungguh adzab yang Allah berikan sangatlah pedih. Dan adzab itu semakin bertambah tatkala mereka terus berada di dalam kedurhakaan kepada Allah ta’ala.

Anakku…

Sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang banyak kepada kita, dan kebanyakan kita lupa akan hal itu, kenikmatan itu adalah kenikmatan Islam dan Iman. Keduanyalah yang membedakan kita semua dengan orang kafir. Sungguh kenikmatan di dunia, tidaklah bernilai secuil pun dibanding kenikmatan di akhirat.

Mari kita bandingkan antara dunia dan akhirat, menurut Teladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Demi Allah! Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Maka perhatikanlah jari tersebut kembali membawa apa?” (HR. Muslim)

Anakku…

Al Qur’an membimbing kita agar memahami bahwa ukuran kebaikan seorang insan adalah dari iman dan amal shalihnya. Adapun merasa sudah dalam kebaikan atau berpatokan dengan karunia dunia yang Allah berikan padanya, atau dengan kedudukannya, semua ini merupakan sifatnya kaum yang menyimpang.

مَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Saba: 37)

Allah Ta’ala juga berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’ara: 88-89).

dan banyak lagi ayat yang menjadikan iman dan amal shalih sebagai ukuran kebaikan di hadapan Allah, dan menafikan harta dan perkara dunia sebagai ukuran kebaikan.

Anakku…

Al Qur’an juga memberikan hikmah yang berharga bahwasanya sikap gemar mengaku-ngaku bahwa kita sudah berada dalam kebaikan tanpa dibuktikan dengan praktek nyata dan sikap gemar menjadikan perkara dunia sebagai ukuran kebaikan adalah sikapnya orang-orang yang menyimpang.

فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“maka ia (orang kafir) berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat“” (QS. Al Kahfi: 34).

Ia pun berkata:

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”(QS. Al Kahfi: 36)

Allah Ta’ala berfirman, menceritakan kelakuan kaum Yahudi dan Nasrani:

وَقَالُوا لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar“” (QS. Al Baqarah: 111).

Allah menjawab pengakuan mereka tersebut:

لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” (QS. An Nisa: 123).

Pengakuan tetapkan hanya pengakuan, Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada gunanya mengaku-ngaku dan merasa sudah baik, sudah shalih, sudah rajin beribadah, namun yang dilihat oleh Allah adalah amalan kita, bukan pengakuan kita.

Apakah amalan kita sudah sesuai dengan pengakuan?
Apakah amalan kita sudah shalih?
Ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan-Nya?
Inilah yang semestinya menjadi perhatian.

Anakku…

Jelaslah bahwa kesuksesan dunia itu sama sekali bukanlah patokan kebaikan seseorang…!

Orang yang mendapat kelebihan dalam perkara dunia, bukan berarti Allah merahmatinya. Dan orang yang diuji dengan kekurangan dalam perkara dunia, bukan berarti Allah memurkainya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا ۖ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sama sekali bukanlah demikian!” (QS. Al Fajr: 15-17).

Anakku…

Pendapat orang-orang sholih tentang dunia, antara lain:

– Umar bin Al-Khaththab berkata,
“Kalaulah aku tidak takut kebaikanku berkurang, aku akan mengikuti pola hidup kalian yang enak. Namun aku telah mendengar Allah menjelaskan tentang suatu kaum:

أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا

“Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu(saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya” (Al-Ahqaaf : 20).

– Sebagian orang sholih berkata,
“Jika engkau melihat seseorang yang mengajakmu berlomba untuk dunia, maka ajaklah ia berlomba dalam urusan agama”.

– Al-Hasan Al-Bashri berkata,
“Yang kuketahui, bahwa sebagian dari orang-orang sholih itu berusaha keras agar Allah tidak melihatnya tertawa, sampai ia mendapatkan kepastian antara dua tempat kembalinya, di surga ataukah di neraka”.

(bersambung pekan depan, Insyaa Allah)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Hukum Menggunakan Media Sosial

Bagimana hukumnya yang sibuk dengan Fesbook-an, bbm-an dan WA-an? Pada media tersebut sepertinya mengandung perkataan yang sia-sia.
Mohon jawaban Ustadz.

Sriyatini manis A05

Jazakumullah

————-

JAWABAN:

 Wa alaikumussalam.., Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Semua itu, WA, Telegram, FB, BBM, dan medsos lainnya, adalah wasilah teknologi. Sebagaimana wasilah/sarana lain dia juga bagaikan pisau bermata dua. Bisa positif dan berpahala,  bisa negatif dan berdosa.

Sehingga para ahli ushul membuat kaidah: hukmul wasiilah kahukmil ghaayah – hukum sarana mengikuti hukum tujuan. Jika sarana itu dimanfaatkan untuk tujuan baik maka sarana itu juga dinilai baik, dan sebaliknya.

Kita lihat, ada orang yang menyebarkan kebaikan, da’wah, dan faidah lainnya melalui media sosial tentu ini menjadi amal shalih yang baik. Seperti grup-grup WA juga FB,  yang diisi para asatidzah dan ulama dalam memberikan faidah ilmiyah.

Tapi, juga ada yang berisi keburukan, bukan hanya kesia-siaan. Maka ini adalah buruk.

Jadi, menilai ini, baik dan buruknya, disesuaikan dengan pemanfaatannya. Ada baiknya jika kita ikut grup yang penuh kesia-siaan, kita bisa alihkan dengan menshare ilmu2 bermanfaat, lalu bersabarlah, semoga itu bisa mengubah mereka.
Jika tidak bisa berubah, maka keluar di sana lebih baik agar tidak dianggap diam dan setuju terhadap kesia-siaan dan  kemungkaran.

Wallahu A’lam

Ustadz Farid Nu’man

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Hukum Percaya Pada Dukun

Afwan ustadz, apakah bs di share materi ttg “hukum Percaya pd dukun, paranormal, org pintar dan atau sejenisnya ? i02

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Terdapat beberapa hadits yang menyatakan larangan mendatangi peramal dan semisalnya, dengan larangan yang amat keras.

1. Pertama. Dari Shafiyah Radhiallahu ‘Anha, dari sebagian istri nabi, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu dia menanyainya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. (HR. Muslim No. 2230, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16287, Al Baghawi dalamSyarhus Sunnah, 12/182)

Menurut Imam An Nawawi maksud “shalatnya tidak diterima” adalah shalatnya tidak mengandung pahala. Begitulah yang dikatakan mayoritas Syafi’iyah. Para ulama sepakat bahwa orang tersebut tidak wajib mengulangi shalatnya yang empat puluh malam tersebut, tetapi wajib baginya taubat. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/227)

 2. Kedua. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من أتى حائضا أو امرأة في دبرها أو كاهنا فقد كقر بما أنزل على محمد [ صلى الله عليه و سلم ]

Barang siapa yang mendatangi (baca: berjima’ dengan) istrinya yang sedang haid, atau dari duburnya, atau mendatangi peramal (dukun) maka dia telah kafir terhadap apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ . (HR. At Tirmidzi No. 135. Ibnu Majah No. 639, An Nasa’i dalam Al Kubra No. 8968, dll. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Lihat Al Mustadrak, 1/8. Dishahihkan pula oleh para imam seperti Imam Al Munawi, At Taysir, 2/746, Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 4/71, dll)

Maksud “mendatangi peramal” adalah dengan membenarkan apa yang dikatakan peramal tersebut. Imam Al Munawi mengatakan: “Yaitu jika bertanya kepadanya lalu meyakininya dan membenarkannya, jika bertanya tetapi untuk mendustakannya maka tidak termasuk ancaman dalam hadits ini.” (At Taysir, 2/746)

Maksud  “Kafir” di sini bukan murtad, tetapi dalam rangka memperberat dan memperkeras maknanya. Seperti yang dikatakan Imam At Tirmidzi dalam Sunannya dari para ulama terdahulu. Tetapi jika dia mendatangi peramal itu karena dia menghalalkan dan membenarkan perbuatan tersebut maka itu kufur secara zahirnya. Jika dia tidak menghalalkan dan tidak membenarkan, maka itu bermakna kufur nikmat. (Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/355)

Imam Ali Al Qari, mengutip dari Ibnu Al Malak, katanya: “Ini diartikan jika dia menghalalkan perbuatan tersebut dan meyakininya, jika tidak maka itu adalah fasiq. Disebut “kafir” saat itu maksudnya adalah  kafir terhadap nikmat Allah ﷻ, atau secara mutlak itu perbuatan kufur yang biasa dilakukan kaum yang ingkar kepada Allah ﷻ.” (Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 2/489)

Banyak sekali hadits-hadits serupa yang juga menggunakan kata “faqad kafara” atau “kufrun”, tapi tidak bermakna murtad tetapi untuk memperkuat dan memperberat kedudukan kesalahan perbuatan tersebut.

Jadi, jika dia mendatanginya, lalu meyakininya dan membenarkannya serta dibarengi keyakinan bahwa adalah halal percaya terhadap peramal maka itu adalah kafir. Sedangkan jika tanpa ada keyakinan-keyakinan seperti ini, maka itu adalah fasiq, kufur nikmat, dan kafir ‘amali (perbuatan), bukan kafir i’tiqadi (keyakinannya).

Wallahu A’lam

Farid Nu’man Hasan

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Teruslah Melaju Untuk Menjemput Harapan

Pemateri: Ust. Umar Hidayat, M.Ag

Jalan-jalan menuju harapan akan dilalui dengan penuh kesabaran, begitulah tabiat orang beriman.
Mereka meyakini bahwa jalan yang dilalui bagian dari skenario Ilahi.
Sampainya pada harapan tak sedikit kan bertemu dengan ujian yang akan semakin menangguhkan.

Sebelum Allah memberikan kemenangan, sebelum Allah memberikan kemuliaan, yang tidak diberikan kecuali kepada orang-orang mulia yang Allah pilih, karena telah teruji, dan jujur dalam jihadnya.

Mungkin kita tidak menyadarinya kalau sesungguhnya kita sedang meniti jalan menuju kemuliaan. Allah telah menyediakan bilik surga yang khusus disediakan untuk para hambaNya yang lolos ujian.

Mungkin kita pernah mengalami masa-masa sulit ketika kita sedang bersenandung ikhtiar dalam kebaikan?

Sebaliknya menjadi aneh,
ketika kita dengan ringan kaki begitu mudahnya bila bersentuhan dengan keburukan.

Sebagai muslim, tentu kita meyakini kebenaran akan janji Allah SWT dalam Al Qur’an yang menyatakan,

“Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan”.

Dia nyatakan itu sampai diulang dalam QS 94:5-6.

Pengulangan bukan lantaran Allah tidak bisa dipegang janjinya, tetapi justru dengan cara Allah ingin membesarkan hati manusia ketika bersahabat dengan kesusahan dan kesulitan.

“Man Jadda, wa jada”;

siapa yang tekun penuh kesungguhan pasti ia berhasil, demikian salah satu peribahasa Arab yang kita dengar sejak kita masa kanak-kanak.

Tekun yang berarti kita sejatinya kita merenda semua potensi dan kemampuan yang dimiliki secara maksimal untuk mengatasi segala rintangan dengan kerja keras dan kerja cerdas secara optimal terus-menerus.

Sunatullah yang boleh jadi sering kita alami. Semakin kita tekun, semakin banyak kemudahan dan energi positif yang menyebar pada lingkungan. Ya sebut saja sebagai “keberuntungan”.

Jadi, mari kita biasakan bercermin pada suara hati, karena dia yang paling jujur.

Bukankah saat kita melakukan semua tindakan kebaikan dengan sepenuh hati, termasuk mengatasi berbagai ujian yang merintanginya, segalanya menjadi begitu nikmat dan indah, bukan?

Dan, sebaliknya saat kita melakukan berbagai tindakan keburukan, ada suara hati yang sesungguhnya menolak, bukan?

Hasrat jiwa yang menggelora untuk membersamai anugerah akal dan hati secara maksimal demi kebaikan akan terasa menggetarkan diri, demikian pesan seorang ahli tasawuf.

Getaran ini bakal mampu menggerakkan berbagai tindakan nyata dalam kehidupan, terlebih lagi saat kita mampu menaklukkan segala yang merintanginya.

Keep spirit!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Meminta Nafkah Dari Harta Yang Tidak Baik

Assalamu’alaikum. Afwan jiddan, ustadz/ah. Ada pertanyaan dari saudara jauh saya pribadi. Begini, misalnya dia lagi sangat butuh uang untuk membayar beberapa kebutuhan dan tagihan, dia seorang pelajar, untuk membiayai diri sendiri dia belum sanggup, karena kemungkinan besar akan mengganggu studinya. Sementara dia ragu akan penghasilan keluarganya yang membuat jimat/azimat, namun karena kebutuhan, dia tetap menerima dan memakai penghasilan tersebut dengan berharap ampunan dan memohon hidayah Allah atas anggota keluarganya tersebut. Dan dia (pelajar ini) jika mempunyai keluarga lain yang mempunyai usaha kayu ilegal, dan ada juga menjual minyak wangi untuk perdukunan dan sepertinya bekerja dengan jin. Kadang jika kebutuhannya betul-betul mendesak dia meminta kiriman uang juga dari keluarganya tersebut.

Bagaimana menurut ustadz/ah dengan perkara ini. Sementara dia pernah berusaha mencari rezeki yang .halal lagi baik, insya Allah, namun sangat menyita waktu, tenaga dan fikirannya tidak bisa fokus dalam studi.

————-

JAWABAN:

Wa’alaikumussalam warahmarullahi wabarakaatuh…

Jika anak dalam keadaan terpaksa, lalu dia memanfaatkan penghasilan orang tua dan tidak ada cara lain untuk mencukupi kebutuhannya, maka tidak mengapa dan dosanya ditanggung orang tuanya saja dalam kondisi seperti itu..

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173)

Dra.Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Berteduh Di Jalan Ilahi

Ustadzah Rochma Yulika

Bila kita teguh berjalan di atas jalan kebenaran, niscaya Allah tak kan menyia-nyiakan apa yang kita lakukan sesedikit jua.

Walau kadang harus merasakan sakit semua akan sirna, gundah tak lagi menyesakkan, luka tak lagi merintihkan, kelelahan mampu diabaikan.

Bila kedukaan makin menghebat, ujian dirasa semakin dahsyat, dan nafsu semakin mengajak kepada jalan yang sesat. Maka teruslah berjuang untuk mengelolanya hingga menjadi pribadi yang kuat.

Semua kerugian yang kita rasakan, keletihan dan apa saja akan berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan kemuliaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berkata,”Aku, Surga dan tamanku ada di dalam dadaku, kemana pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah. Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah (jalan-jalan)

Sadari dan renungi bahwa setiap ujian yang bertandang itu selayaknya tamu, ia akan datang namun tak lama pun jua akan segera berlalu.

Kita perlu syukuri kala kita ditimpa musibah atau pun ujian sementara kita berada dalam ketaatan. Coba saja kita ingat banyak diantara mereka yang tinggal dalam kemewahan sementara mereka berada dalam kemaksiatan.

Hendaknya kita sama-sama merenungkan perkataan bijak dalam kitab sha’id al khatir, Ibnul Jauziy yang sedang mengadu kepada Rabbnya,

“Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya aku berkhalwah dengan Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada Mu. Betapa lembutnya diriku kala Engkau jadikan ciptaan Mu berlaku dzalim kepadaku.

Ah….
Sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada Mu, begitu pun waktu yang berlalu bukan dalam ketaatan kepada Mu.

Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak lagi menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hari itu tidak lagi melukaiku.

Aku tidak tahu bahwa diriku yang mati rasa ini dikarenakan sakit yang dahsyat. Kini hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah dapat merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sehat.

“Siapa yg menyerahkan Jiwanya untuk hidup demi agamanya (ISLAM) maka ia akan melalui hari-harinya dalam kelelahan,
Akan tetapi ia akan hidup dan mati dalam kemuliaan.”

(Syaikh Ahmad Yasin)
Wahai dzat yang Maha Agung anugerahnya, sempurnakanlah kesejahteraan bagi diriku.” Aamiin

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bacaan Basmalah

Izin bertanya ust..
1.apakah kata “bismillah” merupakan bagian dr surat al fatihah, atau merupakan pembuka surat seperti surat lainnya
2.dlm pembacaan ketika jd imam shalat berjamaah,apakah bismillah diucapkan keras atau pelan

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulilkah wa ba’d:

 1. Bismillahirrahmanirrahim Termasuk Al Fatihah atau Bukan?

Terjadi perbedaan dalam hal ini:

– Ataukah dia termasuk bagian dari ayat pertama pada setiap surat ?
– Ataukah dia sebagai bagian dari AlFatihah tapi tidak bagi surat lainnya?
– Atau apakah dia adalah sebagai pembatas surat saja bukan ayat tersendiri?
– Apakah dia termasuk  AYAT TERPISAH yang ditulis di awal setiap surat.?
– Ataukah dia termasuk bagian dari surat dan ditulisnya di awal surat  sebagai ayat pertama?

Jika diringkas maka perbedaan ini menjadi tiga kelompok:

Kelompok pertama, mereka mengatakan Basmalah merupakan bagian dari surat Al Fatihah dan semua surat lainnya, kecuali surat Al Bara’ah (At Taubah). Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, Abu Hurairah dan Ali. Di kalangan tabi’in: Atha, Thawus, Mak-hul, Said bin Jubeir, Az Zuhri, dan ini juga pendapat Ibnul Mubarak,       Asy Syafi’i,   Ahmad bin Hambal dalam satu riwayat darinya, Ishaq bin Rahawaih, dan Abdul Qasim bin Salam – Rahimahumullah.

Disebutkan  bahwa Imam Asy Syafi’i berpendapat pada sebagian  madzhabnyanya; bahwa Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah tapi bukan bagian surat lainnya. Dan diriwayatkan darinya pula bahwa Basmalah termasuk bagian dari sebagian surat dari keseluruhan surat yang ada. Imam Ibnu katsir mengatakan dua pendapat ini gharib (asing). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/117)

            Mereka beralasan dengan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

 كان النبي صلى الله عليه وسلم  لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّورَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ        

            “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah mengetahui batasan/pembagian surat , sampai turunlah  kepadanya: Bismillahirrahmanirrahim.” (HR.Abu Daud No. 788, Al Baihaqi dalamAs Sunannya No. 2206. Imam Ibnu Katsir mangatakan sanadnya shahih. Lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/116. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Syaikh Al Albani juga menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 788)

            Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Basmalah adalah bagian dari setiap surat –selain memang sebagai pembatas- kecuali pada surat Al Bara’ah. Masalah kenapa surat Al Bara’ah tidak menggunakan Basmalah, Insya Allah akan dibahas pada kesempatan lain.

            Kelompok ini juga berdalil dengan riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الحمد لله رب العالمين سبع آيات: بسم الله الرحمن الرحيم إحداهن، وهي السبع المثاني والقرآن العظيم، وهي أم الكتاب

            “Al Hamdulillahi Rabbil ‘alamin  (maksudnya: surat Al Fatihah) ada tujuh ayat:Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satunya. Dia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang, Al Quran yang agung, dan dia sebagai Ummul Kitab.”

            Hadits ini juga diriwayatkan juga oleh Ad Daruquthni dari Abu Hurairah secara marfu’ , dan Beliau mengatakan: semuanya tsiqat (terpercaya). (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/103)

            Hadits ini sangat jelas menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammemasukkan  Basmalah  sebagai bagian dari surat Al Fatihah. Maka, ini menjadi pendapat yang sangat kuat.

Kelompok kedua, mereka mengatakan bahwa Basmalah BUKAN bagian dari Al Fatihah dan bukan pula surat lainnya. Inilah pendapat dari  Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya.

            Mereka beralasan bahwa hadits di atas hanya menyebutkan fungsi. Basmalah sebagai pembeda dan pemisah surat , bukan menyebutkan bahwa Basmalah adalah bagian dari setiap surat .

Alasan lainnya adalah, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  “Aku membagi Ash Shalah (yakni surat Al Fatihah) menjadi dua bagian, dan untuk hambaKu sesuai apa yang dia inginkan.” Ketika hamba berkata Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: hamadani ‘abdiy -hambaKu telah memujiKu. Ketika hamba itu membaca Ar Rahmanirrahim, maka Allah ‘Azza wa Jallaberfirman: atsna ‘alayya ‘abdiy – hambaKu telah memujiKu. …. Dst. (HR. Muslim No. 395, At Tirmidzi No. 4027, Abu Daud No. 821, Ibnu Majah No. 3784, Ibnu Hibban No. 1784)

            Hadits ini menunjukkan bahwa tidak dibaca Basmalah  ketika membaca surat Al Fatihah. Ini menunjukkan bahwa Basmalah bukan bagian darinya.

            Hal ini juga diperkuat dari kisah Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu. Beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كيف تقرأ إذا افتتحت  الصلاة؟ قال: فقرأت عليه: { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

            “Bagaimanakah bacaanmu  jika memulai shalat? Ubai menjawab: Aku membaca: Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.”

            Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah  mengomentari hadits ini:

            “Abu Said di sini bukanlah Abu Said bin Al Mu’alli sebagaimana yang diyakini oleh Ibnul ‘Atsir dalam Al Jami’ Al Ushul, dan orang-orang yang mengikutinya. Sebab, Ibnul Mu’alli adalah seorang sahabat Anshar dan yang ini adalah seorang tabi’in dari Khuza’ah, oleh karena itu hadits ini adalah muttashil shahih (bersambung lagi shahih). Hadits ini secara zhahir munqathi’ (terputus), jika Abu Said ini tidaklah mendengarkannya dari Ubai bin Ka’ab, namun jika dia mendengarkannya dari Ubai maka ini sesuai syarat Muslim. Wallahu A’lam. “ (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/104)

            Riwayat ini menunjukkan bahwa Basmalah tidaklah dibaca ketika membaca surat Al Fatihah dan ini menjadi dalil bahwa dia bukan bagian darinya.

Kelompok ketiga,  kelompok ini mengatakan Basmalah merupakan ayat tersendiri  dan terpisah dari semua surat , dia bukan bagian darinya. Inilah pendapat Daud Azh Zhahiri, diceritakan juga dari Imam Ahmad bin Hambal. Dan, Abu Bakar Ar Razi menceritakan dari Abul Hasan Al Karkhi dan keduanya merupakan pembesar madzhab Abu Hanifah. Perbedaan dengan kelompok kedua adalah kelompok ini menyebut Basmalah sebagai ayat yang tersendiri.

            Demikian. Jika kita perhatikan maka pendapat kelompok pertama lebih kuat dan jelas argumennya. Wallahu A’lam

2. Ketika Shalat, Dikeraskan atau Pelankan?

            Lalu, apa kaitannya pembahasan ini dengan pertanyaan ‘membaca basmalah di keraskan atau dipelankan?’  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

            “Ada pun yang terkait dengan menjaharkan Basmalah, maka perinciannya adalah sebagai berikut: bagi yang berpendapat bahwa Basmalah BUKAN bagian dari surat Al Fatihah maka mereka tidak menjaharkan, begitu juga menurut pihak yang mengatakan Basmalah adalah termasuk bagian ayat awal darinya.  Ada pun bagi kelompok yang mengatakan bahwa Basmalah adalah termasuk  bagian dari surat-surat di bagian awalnya. Maka mereka berbeda pendapat dalam hal ini.

            Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berpendapat bahwa Basmalah  DIJAHARKAN (dikeraskan), juga pada surat lainnya. Inilah pendapat banyak golongan dari sahabat tabi’in, para imam kaum  muslimin, baik salaf dan khalaf. Dari kalangan sahabat yang menjaharkan adalah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Muawiyah.  Ibnu Abdil Bar dan Al Baihaqi menceritakan bahwa ini juga  dilakukan Umar dan Ali. Sedangkan Al Khathib menukil dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Tapi riwayat ini gharib (asing/menyendiri). Dari kalangan tabi’in adalah Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhri, Ali bin Al Husein dan anaknya Muhammad, Said bin Al Musayyib, Atha, Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka’ab Al Qurzhi, Abu Bakar bin Amru bin Hazm, Abu Wail, Ibnu Sirin, Muhammad bin Al Munkadir,  Ali bin Abdullah bin Abbas dan anaknya Muhammad, Nafi’, Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, Al Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu Sya’ tsa’, Makhul, dan Abdullah bin Ma’qil bin Muqarrin.

            Imam Al Baihaqi menambahkan: Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin Al Hanafiyah. Sementara Imam Ibnu Abdil Bar menambahkan: Amru bin Dinar. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/117)

            Demikianlah, sangat banyak para sahabat, tabi’in dan imam kaum muslimin yang berpendapat dikeraskannya membaca Basmalah ketika shalat. Dalil-dalil mereka adalah:

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya masing-masing, Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya; dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa beliau shalat dan dia mengeraskan membaca Basmalah, lalu setelah shalat selesai, dia berkata: “Sesungguhnya saya menyerupakan untuk kalian shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Hadits ini dishahihkan oleh Ad Daruquthni, Al Khathib, Al Baihaqi, dan lainnya)

–          Imam Al Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadraknya,  dari Ibnu AbbasRadhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengeraskan membaca Bismillahirrahmanirrahim. (Katanya: hadits ini shahih)

–          Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, meriwayatkan bahwa Anas bin MalikRadhiallahu ‘Anhu ditanya tentang bacaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia menjawab: “Adalah bacaan Beliau itu diberikan jarak yang panjang, kemudian dia membaca  Bismillahirrahmanirrahim, dengan memanjangkan Bismillah, memanjangkan Ar Rahman dan memanjangkan Ar Rahim. (juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 2451, Ibnu Majah No. 4215)

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadaraknya,  meriwayatkan: dari Ummu Salamah, dia berkata: “Bahwa Shalatnya RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam  membaca dengan diputus-putus; Bismillahirrahmanirrahim. Al Hamdulillahirabbil ‘alamin. Ar Rahmanirrahim. Malikiyaumiddin.”  (Imam Ad Daruquthni mengatakan: isnad hadits ini shahih)

–          Imam Asy Syafi’i dalam Musnadnya dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya meriwayatkan dari Anas Radhiallahu ‘Anhu; bahwa Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu shalat di Madinah dan dia tidak membaca Basmalah (mengecilkan suara), lalu orang Muhajirin yang hadir mengingkarinya, maka ketika dia shalat untuk kedua kalinya, maka dia membaca bismillah.”

–          Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya menyebutkan dari Nu’aim bin Al Majmar  katanya: Aku Shalat dibelakang Abu Hurairah, dia membaca Bismillahirrahmanirrahim kemudian membaca Ummul Kitab, hingga sampai Wa Ladhdhaallin, dia menjawab: Amin, dan manusia menjawab: Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah No. 499, Berkata Syaikh Al Abani: Al A’zhami berkata: sanadnya shahihseandainya Ibnu Abi Hilal tidak tercampur (hapalannya))

Demikianlah diantara dalil yang ada bagi kalangan yang mengatakan bahwa membaca Basmalah adalah dikeraskan. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah nampaknya memilih pendapat ini dengan menyebutnya sebagai: “hujjah yang mencukupi dan memuaskan.”  (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/118)

            Kelompok yang lain mengatakan bahwa membaca Basmalah TIDAK DIJAHARKAN. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.

            “Pendapat kelompok yang lainnya adalah bahwa tidaklah mengeraskan Basmalah dalam shalat. Dan, ini telah pasti (tsabit) dari khalifah yang empat dan Abdullah bin Mughaffal, dan banyak kelompok dari  pendahulu tabi’in dan khalaf. Ini juga pendapat Abu Hanifah, Ats Tsauri, dan Ahmad bin Hambal.” (Ibid)

            Kelompok ini berdalil sebagai berikut:

–          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman memulai bacaan dalam shalatnya dengan Alhamdulillahirabbil ‘alamin. (HR. Abu Daud No. 782. Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi DaudNo. 782)

–          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Saya telah shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah.”  (HR. An Nasa’i No. 907, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 907. Juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 495)

–          Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Adalah shalatnya RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka memulainya dengan membaca: Al Hamdulillahirrabbil ‘alamin.” (HR. At Tirmidzi No. 246, katanya:hasan shahih. Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 246)

–          Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallammemulai shalat dengan bertakbir lalu membaca: Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.” (HR. Abu Daud No. 783, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 783)

Demikianlah dalil-dalil bagi kelompok yang menyatakan bahwa membaca Basmalah tidak dikeraskan.

 Sementara Imam Malik berpendapat bahwa dalam shalat TIDAKLAH MEMBACA SAMA SEKALI bacaan Basmalah, baik keras (jahran) atau pelan (sirran). Beliau beralasan bahwa hadits-hadits di atas bukan menunjukkan sirr  (pélan), tetapi memang Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamtidak membaca Basmalah.  Alasan lainnya adalah:

–          Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah membaca Bismillahirrahmanirrahim, baik di awal dan di akhirnya. Yang seperti ini juga diriwayatkan dalam berbagai kitabSunan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu.

 Tetapi, pendapat Imam Malik ini dianggap lemah, sebab dalam hadits-hadits di atas jelas sekali disebutkan kalimat: tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah, artinya Basmalah tetaplah dibaca tetapi tidak keras. Ada pun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi tidak membaca Basmalah, mesti ditakwil dan dikompromi dengan hadits lain,  yakni Beliau bukanlah tidak membaca tetapi   membacanya, hanya saja suaranya pelan seakan bagi pendengar tidak membacanya. Wallahu A’lam

Nah, dengan demikian ada dua pendapat yang kuat dan sama-sama ditopang oleh dalil-dalil yang shahih, yakni pendapat Pertama. membaca Basmalah secara keras. Pendapat kedua, membacanya secara pelan.

Kedua kelompok ini berdalil dengan hujjah yang sama-sama shahih, dan satu sama lain tidaklah dianggap merevisi (nasakh) yang lainnya, atau dianggap riwayat dhaif. Maka, pandangan yang paling seimbang adalah: Bahwa BENAR   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengeraskan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih oleh sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah, dan BENAR pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memelankan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih pula dari sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Anas bin Malik dan ‘Aisyah.

Inilah metode yang ditempuh oleh para ulama muhaqqiq (peneliti) seperti ‘Alim Rabbani Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah. Beliau berkata:

والإِنصاف الذي يرتضيه العالم المنصف، أنه صلى الله عليه وسلم جهر، وأسر، وقنت، وترك، وكان إسرارُه أكثَر من جهره، وتركه القنوتَ أكثر من فعله

“Pendapat yang bijak yang dibenarkan oleh para ulama yang objektif adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membaca secara keras dan pelan, pernah berqunut dan pernah meninggalkannya. Hanya saja memelankannya lebih banyak  dibanding mengeraskannya, dan meninggalkan qunut lebih banyak dibanding melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 1/272. Cet. 3. 1986M-1406H. Muasasah Ar Risalah. Beirut – Libanon)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

فهذه مآخذ الأئمة، رحمهم الله، في هذه المسألة وهي قريبة؛ لأنهم أجمعوا على صحة صلاة من جهر بالبسملة ومن أسر، ولله الحمد والمنة

Inilah jalannya para imam –Rahimahumullah- dalam masalah ini dan ini merupakan masalah yang bisa didekatkan, karena mereka sepakat bahwa sahnya shalat bagi yang mengeraskan dan memelankan. Walillahilhamd wa Minnah . (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/118)

Demikian pembahasan ini. Dari sini semoga kita bisa lebih arif dalam menyikapi bacaan  Basmalah ini. Membacanya, baik dikeraskan atau tidak, bukanlah bab permasalahan salah atau benar, sunah atau  bid’ah. tetapi, keduanya benar, hanya saja nabi lebih sering tidak mengeraskannya   Maka, tidak dibenarkan satu sama lain saling menyerang dan menyalahkan, apalagi sampai taraf menuduh sebagai pelaku bid’ah. Padahal duanya  merupakan perilaku nabi, sahabat tabi’in, dan imam kaum muslimin. Maka, jika kita berada di masjid yang biasa mengeraskan bacaan Basmalah, maka alangkah baik jika  kita mengikutinya -jika diminta menjadi imam- untuk menjaga persatuan hati dan menghilangkan kebencian. Begitu pula ditempat sebaliknya.  Inilah perilaku  ulama rabbani yang mendalam ilmunya yang sudah sepatutnya kita meneladaninya. Semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam

Farid Nu’man Hasan

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Inkompetensi Pada Eselon Tinggi, Berujung pada Lepasnya Satu Propinsi

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran Samos – 6 Agustus 1824

Pertempuran ini ditulis dalam bahasa Yunani sebagai Ναυμαχία της Σάμου, yang merupakan pertempuran laut yg terjadi pada hari Kamis 9 Dzhul Hijjah 1239 Hijriah. Pertempuran lepas pantai Pulau Samos ini merupakan bagian dari periode Perang Kemerdekaan Yunani dari status provinsi menjadi negeri yg berdaulat.

Latar Belakang

Pada tahun 1821, seorang pemimpin lokal bernama Lykourgos Logothetis berhasil memimpin pemberontakan bersama penduduk pulau Samos melawan Khilafah Turki Utsmani. Namun, mengingat pulau ini sangat dekat dengan daratan Anatolia maka penduduk pun bersiap untuk menghadapi serangan dari armada laut Turki Utsmani.

Jarak menentukan logistik, tetapi kebijakan menentukan alokasinya. Setiap pemberontakan harus ditelaah sumber penyebabnya karena tidak selalu memadamkannya dengan disiram dgn air.

Pada musim panas tahun 1824, setelah balatentara Turki Utsmani berhasil melumatkan pemberontakan serupa di Psara, armada laut pun berkumpul dekat pesisir Anatolia dengan tujuan menduduki kembali pulau tersebut dan meredakan pemberontakan. Mengkhawatirkan kejadian di Psara berulang kembali, admiral angkatan laut Yunani yg dijabat oleh Georgios Sachtouris mengeluarkan instruksi untuk memperkuat pertahanan pulau tersebut.

Pertempuran Laut

Setelah tembak menembak sporadis dilakuan sehari sebelumnya, pertempuran mulai memanas pada tanggal 17 Agustus. Kapal api (fireship) milik armada Yunani, termasuk yg paling terkenal bernama Constantine Kanaris, diluncurkan dan berhasil meledakkan 3 kapal perang Turki Utsmani.

Serangan kapal api yg merupakan taktik perang laut di masa itu dengan mengirimkan kapal bermuatan bahan peledak dan bahan bakar guna membongkar formasi tempur lawan. Terbakarnya ketiga kapal perang itu ternyata menciutkan nyali Panglima (Kapudan Pasha) Mehmed Husrev yg menginstruksikan seluruh kapal perang ditarik mundur. Apakah ini sebuah perintah yg tergesa-gesa kita tidak akan pernah tahu.

Setiap era memiliki inovasinya, setiap inovasi ada “biayanya,” jadi jika sebuah peradaban enggan melakukan inovasi maka peradaban itu akan terpaksa “membayar” ketertinggalannya sebesar biaya awal inovasi plus kemanfaatannya sekarang dikalikan dengan eksponensial nilai investasinya..

Dampak Kemenangan

Kemenangan bagi angkatan laut Yunani ditambah dengan kemenangan di Gerontas tidak lama setelah ini, kedua kejadian itu memastikan keamanan penduduk pada pulau ini. Hanya saja perlu dicatat bahwa pulau ini tidak masuk ke dalam wilayah Yunani yg merdeka. Ia tetap menjadi puluan dengan status khusus dibawah kendali Turki Utsmani hingga pergantian penguasa setelah Perang Balkan pertama.

Tidak semua keunggulan bisa diwujudkan hanya dengan kekuatan militer, namun kekuatan militer serta penguasaan wilayah akan sangat membantu proses diplomasi yang menguntungkan.

Agung Waspodo, masih terkagetkan atas tidak kompetennya seorang setingkat kapudan pasha yg mengeluarkan perintah mundur hanya dengan hilangnya beberapa kapal, 191 tahun kemudian.. masih kurang beberapa menit lagi.

Depok, 4 Agustus 2015.. menjelang tengah malam.
Laporan hari bersejarah dimuat C3i: 5 Agustus 2015, sesuai tanggalnya..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Ketika Shaum (Puasa) Menjadi Sebab Diturunkannya Kemenangan di Sarı Baır

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran di Sarı Baır – Penghujung Bulan Puasa
Jum’at 24 Ramadhan – 10 Syawal 1333 Hijriah
6-21 Agustus 1915

Pertempuran ini disebut Sarı Bayır Harekâtı dalam sejarah Turki atau juga dikenal sebagai Penyerangan Agustus (Ağustos Taarruzları) adalah serangan terakhir yg diupayakan oleh Inggris pada bulan Agustus 1915 untuk merebut kendali atas Semenanjung Gallipoli dari Khilafah Turki Utsmani pada Perang Dunia Pertama.

Sekilas

Kampanye militer Sekutu yg dipimpin Inggris di Gallipoli memiliki 2 front, yaitu ANZAC dan Helles, yg berlangsung selama 3 bulan sejak invasi dilancarkan pada tanggal 25 April 1915. Di front ANZAC terjadi kondisi sama kuat (stalemate) yg berkepanjangan, sedangkan di palagan Helles serangan Sekutu meminta korban yg sangat besar dengan capaian yg relatif kecil.

Pada bulan Agustus, pusat komando Inggris mengusulkan operasi baru untuk menyemangati kampanye ini dengan sasaran menguasai bukitan Sarı Baır. Perbukitan ini mendominasi bagian tengah semenanjung di atas area pantai pendaratan ANZAC. Operasi serangan dimulai pada tanggal 6 Agustus dengan sebuah pendaratan di area baru sekitar 8 km ke utara area ANZAC di Teluk Suvla. Serangan ini diserentakkan dengan serangan korps angkatan darat Australia dan Selandia Baru ke daerah terjal sepanjang pebukitan Sarı Baır dengan misi menguasai dataran tinggi serta menghubungkannya dengan zona pendaratan Suvla. Sedangkan di area Suvla, Inggris maupun Perancis berada pada postur bertahan.

Koreksi atas Peristilahan

Agar lebih akurat secara geografis, pertempuran ini seharusnya dinamakan Pertempuran Kocaçimentepe (Bukit Besar Berumput) secara lebih tepat karena itulah istilah yg dipergunakan oleh pihak Turki untuk menyebut bukit tertinggi di area tersebut. Puncak bukit ini dinamakan Bukiy-971 oleh pihak Sekutu. Namun mereka secara kurang tepat menamakannya Sarı Baır (Jurang Kuning) secara keseluruhan atas area dataran tinggi yg berujung pada jurang di atas area teluk ANZAC yg lebih populer disebut “The Sphinx.”

Latar Belakang

Pihak Turki Utsmani sudah menduga akan ada serangan baru di Semenanjung Gallipoli dalam waktu dekat. Namun masih ada keraguan tentang itu sampai Churchill sendiri, dengan ceroboh mengatakan di sebuah pidatonya di kota Dundee, menegaskan akan meneruskan kampanye militer tersebur dengan segaka resikonya.

Atas bocoran intelijen ini kemudian angkatan darat Turki Utsmani menyusun ulang Army Kelima yang mengalami penambahan hingga menjadi 16 divisi; 10 divisi di front utama tadi, 3 divisi ditempatkan di sisi Asia, dan 3 divisi lagi digabungkan dalam Korps XVI yang berjaga di Teluk Saros sebelah utara kota Bulair pada ujung semenanjung.

Bulair adalah desa sederhana yg kami lalui ketika mencari Çimpe Kalesi bersama komunitas Napak Tilas Fatih 2015. Menyapa Banu Muhammad, Fiatri Widuri ‘Ade’,  Fithra Faisal Hastiadi, Rida Rahmawati, Ahmad Husaini, dan Tia Rahmiati. Mudah-mudahan artikel pendek ini menambah rasa pada kunjungan kita itu.

Balik ke Sarı Baır, pihak Turki Utsmani telah juga mengantisipasi bahwa serangan berikutnya pasti bertujuan untuk melepaskan diri dari area ANZAC; yang belum dapat dipastikan adalah ke arah utara menuju Suvla atau ke selatan menuju Gaba Tepe. Pendaratan baru juga diperkirakan ada namun tidak diduga akam mendarat di Suvla sehingga pertahanannya hanya diserahkan pada 4 batalion saja. Para komandan lapangan Turki Utsmani banyak yang tidak memperkirakan akan ada serangan ke arah pebukitan Sarı Baır mengingat curamnya  pendakian di sekitarnya. Hanya Mustafa Kamal, komandan Divisi ke-19 di ANZAC, yang kebetulan memperkirakan hal itu namun ia belum berhasil meyakinkan teorinya kepada para atasan. Ia berteori bahwa lawan pasti akan mengambil rute yang paling kecil diduga oleh pihak Turki Utsmani, namun malangnya area ini hanya mendapatkan satu resimen tambahan saja.

Saatnya ANZAC Melakukan Terobosan

Serbuan dari ANZAC mengarah pada dua puncak dari pebukitan Sarı Baır, yaitu Chunuk Baır dan Bukit 971. Di bawah pimpinan umum Mayor Jend. Alexander Godley, elemen penyerbuan terdiri dari divisi Australia dan Selandia Baru, Divisi Ke-13 Inggris, dan 2 brigade tambahan.

Rencana umum penyerbuan terdiri dari dua kolom dari garis pertahanan ANZAC yg bergerak pada malam hari tgl 6 Agustus. Kolom sebelah kanan adalah brigade infanteri Selandia Baru di bawah pimpinan Brig. Jend. Francis Johnston yg menunu Chunuk Baır dan Bukit-Q, sedangkan kolom sebelah kiri adalah Brigade Ke-4 Australia di bawah pimpinan Brig. Jend. John Monash bersama Brigade Ke-29 India pimpinan Cox. Kedua sasaran diperkirakan berhasil dikuasai sebelum fajar menyingsing.

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa kaum muslimin itu lebih dekat lagi kepada Rabbnya pada malam-malam Ramadhan? Penyerangan yang dilancarkan pada malam Jum’at 24 Ramadhan 1333 Hijriah merupakan isyarat keteguhan yang diturunkanNya kepada barisan pasukan muslimin yang sudah siap dsn terjaga di bulan penuh keberkahan. Sungguh mulia bagi pasukan muslim manapun yg mendapat kesempatan mempertahankan tanah airnya pada malam bulan terbaik.

Untuk mengalihkan perhatian pasukan Turki Utsmani atas serbuan ini, pada jam 17.30 sebuah serangan dilakukan oleh salah satu beigade dari Divisi Ke-1 Australia atas area yg dikenal sebagai Lone Pine. Serangan ini berhasil merebut parit pertahanan Turki Utsmani di tempat itu, namun tidak sukses sebagai sebuah pengalihan karena kini pusat komando Turki Utsmani mengirim tambahan kekuatan ke utara.

Serangan pengalihan lainnya juga dilakukan di area Helles namun menimbulkan kerugian yg semestinya tidak perlu di area Krithia Vineyard. Serangan inipun tidak membuat pusat komando Turki Utsmani mengurangi pengiriman tambahan pasukan ke arah utara; khususnya area Sarı Baır.

Kolom sebelah kanan memiliki jalur yg lebih bersahabat karena sudah sering terlihat sebelumnya ketika pasukan itu bertahan di perimeter ANZAC yg lama. Namun, elemen pasukan Selandia Baru gagal merebut puncak Chunuk Baır hingga lewat pagi hari tanggal 7 Agustus. Mereka baru berhasil keesokan harinya.

Serangan Balasan Turki Utsmani

Pada pagi hari keesokannya turun juga perintah untuk memperlebar garis perimeter dari posisi sebelumnya. Diantara perintah tersebut yang paling dibenci pasukan adalah tugas yang turun bagi Brigade Berkuda Ringan Ke-3 Australia. Mereka diperintahkan untuk menguasai The Nek yang kemungkinan berhasilnya sangat rendah karena sangat bergantung pada keberhasilan elemen pasukan Selandia Baru menguasai Chunuk Baır sesuai jadwal.

Kolom kiri menempuh jalur yang membuat mereka terjebak dalam bekas kebun anggur sehingga mereka nyaris kehilangan arah serta muncul kepanikan yg membuat mereka tidak pernah sampai ke Bukit-971 sama sekali. Pada pagi hari 8 Agustus, kekuatan pasukan Cox telah berhasil menyusun ulang kekuatannya untuk menguasai Bukit-971 dan Bukit-Q. Namun, brigade Monash salah memastikan posisi Bukit-971 di lapangan. Bahkan, menjelang sore, elemen pasukan Monash merasa berjalan memutar dan kembali ke titik semula. Tiga batalion yg akhirnya sampai ke sasaran mengalami jatuh korban sebanyak 765 orang, bahkan Batalion Ke-15 turun kekuatannya hingga ke tingkat 30% saja.

Sudah pada tempatnya jika seorang komandan militer menguasai peta serta mencari jejak sehingga kesalahannya memetakan jalur tidak menjadi petaka bagi bawahannya.

Penutup

Dari seluruh kekuatan yg ditugaskan merebut Bukit-Q, hanya satu batalion yaitu Gurkha Ke-6 di bawah pimpinan Mayor Cecil Allanson yang mendekat hingga ke jarak kurang dari 61 meter pada sekitar jam 18.00 pada tanggal 8 Agustus sebelum mereka harus mencari perlindungan dari hujan artileri yg dikirim Turki Utsmani. Setelah dibalas tembakan oleh artileri dari kapal Sekutu, batalion ini menyerbu puncam Bukit-Q pada pagi hari sekitar jam 05.00 tanggal 9 Agustus.

Ketika batalion lain terus menerus dihujani artileri Turki Utsmani sehingga terkunci (pinned) pada posisinya, maka hanya batalion Gurkha yang maju menyerbu. Akhirnya puncak Bukit-Q berhasil direbut dari tangan pasukan Turki Utsmani namun malang bagi mereka kini mereka pun dihujani oleh artileri teman sendiri dari laut maupun dari area ANZAC. Dalam kondisi terjepit dan tiadanya bala bantuan maka sisa batalion Gurkha ini terpaksa meninggalkan posisi yg baru saja dikuasainya.

Pada hari Sabtu 27 Ramadhan 1333 Hijriah pasukan Sekutu hanya berhasil menguasai seujung kaki bukit Chunuk Baır dari pebukitan Sarı Baır. Keesokan harinya Kolonel Mustafa Kamal memimpin serbuan balasan yg menguasai kembali seluruh area pebukitan Sarı Baır dari tangan Sekutu.

Agung Waspodo, tertegun malu membaca dan menuliskan semua ini, sambil mengirimkan bacaan Surah al-Fatihah keoada seluruh pasukan yg menemui Rabbnya dalam kondisi keteguhan terbaik, di dalam bulan terbaik, dan dengan posisi medan gugur terbaik. Sedangkan sebagian kami hanya mempermasalahkan ta’jil setiap Ramadhan (penulis harus menyeka layar HPnya dari air-mata yg turun deras 100 tahun kemudian..)

Depok, 6 Agustus 2015.. menjelang waktu dhuha..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com