Harta = Kebaikan

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ – سورة العاديات: 8

“Sesungguhnya manusia sangat bakhil karena kecintaannya terhadap hartanya.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8)

Ayat ini berbicara tentang sebuah kenyataan tentang tabiat manusia secara umum terkait dengan hartanya. Yaitu bahwa manusia sangat cinta terhadap hartanya.

Ada pula yang menafsirkan bahwa kecintaannya terhadap harta, mendorong manusia untuk bersifat bakhil, enggan mengeluarkannya di jalan Allah.

Yang menarik dari ayat tersebut adalah bahwa Allah menyebutkan harta dengan ungkapan (الخير) yang secara harfiah artinya ‘kebaikan’.

Para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud ‘kebaikan’ dalam ayat di atas adalah harta.

Begitu pula kata yang sama untuk makna yang sama terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 180.

💧Abu Bakar Al-Jazairi mengatakan bahwa harta disebut dengan istilah ‘kebaikan’ berdasarkan urf  (kebiasaan), maksudnya sudah dikenal di tengah bangsa Arab bahwa yang dimaksud (الخير) adalah harta, juga karena dengan harta akan dapat dilakukan berbagai kebaikan jika dikeluarkan di jalan Allah. (Tafsir Muyassar, Al-Jazairi)

Dari sini setidaknya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya harta secara langsung bukanlah ‘sumber keburukan’, meskipun kenyataannya banyak manusia yang tergelincir karenanya.

Maka, enggan mencari harta dengan alasan agar tidak tergelincir bukanlah jawaban yang tepat, bahkan bisa jadi itu menjadi sebab ketergelinciran dari pintu yang lain.

Karena, banyak juga keburukan yang terjadi akibat kekurangan harta.

Namun yang harus diluruskan adalah sikap kita terhadap harta, bahwa dia bukanlah tujuan dan sumber kebahagiaan itu sendiri, tapi sarana untuk mendapakan kemuliaan dalam kehidupan dan merelisasikan kebaikan untuk meraih kebahagiaan.

Dengan paradigma seperti ini seseorang akan semangat berusaha meraih harta dan menyalurkannya dengan cara yang halal.

Bahkan dalam surat Al-Araf ayat 32, Allah mengisyarat kan bahwa tujuan Dia menciptakan harta (perhiasan dunia) pada hakekatnya adalah untuk orang beriman.

Maka, ‘cinta harta’ atau ‘mengejar harta’ tidak dapat secara mutlak dikatakan buruk.

Sebab, selain cinta harta memang dasarnya adalah fitrah, diapun dapat menjadi pintu kebaikan yang banyak selama digunakan dengan benar.

💧Imam Bukhari meriwayat kan dalam Al-Adabul Mufrad-nya, dari Amr bin Ash, dia berkata,

“Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menemuinya dengan membawa perlengkapan pakaian dan senjata. Maka aku datang menghadap beliau saat beliau sedang berwudhu, lalu dia memandangiku dari atas hingga bawah. kemudian berkata,
“Wahai Amr, aku ingin mengutusmu dalam sebuah pasukan, semoga Allah memberimu ghanimah dan aku ingin engkau mendapatkan harta yang baik.”

Maka aku berkata, “Sungguh, aku masuk Islam bukan karena ingin harta. Tapi aku masuk Islam karena Islam dan aku dapat bersama

Rasulullah saw.” Maka Rasulullah saw bersabda,

يا عَمْرو ، نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ

“Wahai Amr, sebaik-baik harta, adalah milik orang yang saleh.”

Ucapan Rasulullah saw ini setidaknya memberikan dua pesan kepada kita;
Semangat membina diri agar menjadi orang saleh dan
Semangat berusaha agar menjadi orang kaya…

Abdullah bin Mubarak suatu hari menjamu makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,

لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ

“Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya tidak akan  berdagang….”
(Siyar A’lam An-Nubala..)

Wallhua’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Mengamalkan Hadits Dhaif

Assalamu’alaikum  
Ustadzah. Mau tanya, kalau hadist lemah apakah tidak boleh diamalkan? Misal membaca surat Al Waqiah setelah asar dn sebelum subuh. Katanya hadistnya lemah.                        
Bagaimana menurut ustadzah? Jazakumullah khoir.

[Manis_Innar A08]                                

JAWABAN:
                         
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.                                                
Alhamdulillah wa syukurillah La haula wala quwata ila billa.Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari & Muslim). Dari hadits ini terlihat jelas bahwasanya seseorang yang menyandarkan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tanpa mengetahui keshohihannya, dia terancam masuk neraka.

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa berita orang yang fasik gugur dan tidak diterima dan persaksian orang yang tidak adil adalah tertolak.” Maka dapat disimpulkan bahwa hadits dho’if tidak boleh dijadikan sandaran hukum karena periwayat hadits dho’if termasuk orang yang fasik.

Ada ulama yang membolehkan beramal dengan hadits dho’if di dalam fadho’il a’mal dengan memberikan persyaratan bagi hadits yang boleh diamalkan dalam hal tersebut.

Syarat-syarat tersebut adalah:

(1) Hendaknya hadits dho’if tersebut bukanlah hadits yang sangat dho’if/lemah,

(2) Hendaknya hadits dho’if tersebut masuk di bawah hadits shohih (atau minimal hasan) yang sifatnya umum, atau didukung oleh dalil lain yang shahih

(3) Di dalam mengamalkannya tidak diyakini keshohihannya,

(4) Hadits ini tidak boleh dipopulerkan.

Catatan: tentang surat Al Waqiah sendiri, penjelasan keutamaan-keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Waqi’ah tersebut dijelaskan di dalam hadits-hadits yang derajatnya TIDAK SHOHIH dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebagian hadits-hadits tersebut derajatnya DHO’IF (Lemah) dan sebagian lainnya PALSU.

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bagaimana Hukum Kerja di Bank?

Assalamuallaikum  mau tanya dong. Sebenarnya, apakah hukum bagi prang yang bekerja di bank? Mengingat bank adalah pusat riba. Dan riba itu haram

A 06.

JAWABAN NYA.3).                    

Wa alaikumsalam wr wb                            

“Tidak boleh bekerja di bank karena bank pasti bermuamalah dengan riba. Jika demikian jika seseorang bekerja di bank, maka terdapat bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَشَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)

Juga terdapat hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 278-279)

Memakan harta riba termasuk dosa yang menghancurkan pelakunya, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الَمُوبِقَاتِ -فَذَكَرَ مِنْهَا:- أَكْلَ الرِّبَا

“Jauhilah tujuh dosa yang menghancurkan… (beliau menyebutkan di antaranya): memakan harta riba.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلَّا كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

“Tidaklah ada seseorang yang memperbanyak riba melainkan akibat akhir urusannya adalah kekurangan.” (HR. Ibnu Majah)

Takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tawakkal kepada-Nya adalah kunci datangnya rezeki yang halal

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًاوَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan anugerahkan rezeki kepada kalian sebagaimana melimpahkan rezeki kepada burung, di pagi hari dalam keadaan lapar, (pulang) sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Istri Kecewa Dengan Suami

Assalamu’alaikum.. Ustadz. Boleh bertanya:

1. Jika seorang istri hanya bisa diam menahan rasa kecewa terhadap suami, apakah itu benar? Karena kalau istri mengungkapkan rasa kekecewaannya suami pasti marah.

2. Bagaimana hukumnya seorang suami yang menampung laki laki tinggal dirumahnya. Laki laki ini saudaranya (adiknya dan ponakan). Bagi sang istri, laki-laki ini bukan mahromnya  Jadi aurot harus selalu tertutup. Suatu saat si istri lagi tidak pakai jilbab (dikira adik ipar tidak ada) tiba-tiba dia masuk rumah dan kadung lihat  kakak ipar tak berjilbab. Perempuan ini malu sama adiknya dan jengkel sama suaminya. Gara-gara ada orang lain, dia tidak bebas di rumah sendiri. Lalu, ia berpikir jika aurotnya terbuka biar suaminya yang tanggung ďosa karena dia yang masukin org dari luar.
Siapakah yang salah dalam hal ini, suami ato istri? Rumah yang ditempati itu adalah milik istri. Apakah bila sudah menikah dia tak punya hak lagi? Jika yang ditampung itu saudara perempuan, si istri tidak keberatan karena dia tidak harus selalu tertutup. Istri merasa terganggu jika yang ikut laki laki. Setelah 3 tahun si ipar dinikahkan….eee ganti ponakan yang ikut. Jadinya tidak bebas lagi.

Mohon penjelasannya. Terima kasih.

[Manis_A29] ————–

JAWABAN:

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله ،

1. Bersabarnya seorang istri akan membawa keberkahan untuknya di akhirat. Namun, berusahanya dia untuk memperbaiki urusannya, baik dengan menggunakan pihak ketiga atau dengan cara lainnya yang lebih berpotensi berhasil.

2. Hendaknya tidak terjadi dua manusia yang bukan mahram berdua dalam satu rumah. Hal ini perlu diingatkan kepada suami. Adapun rumah tetaplah milik istri, bukan milik suami.

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Shalat Jamak dan Qashan Bagi Pelajar di Luar Negeri

Assalamu’alaikum .. ingin bertanya, hukum sholat jama /qashor bila belajar di luar negeri..ada batasan tidak? Syukron.            

[Manis_Yulia A08]

JAWABAN:

Wa alaikum salam wr wb.                            
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa man waalah wa ba’d
                                                                                     
A. Berniat Mukim

Kalau memang ia melakukan perjalanan dan berniat mukim di lokasi tujuan, seperti orang yang mempunyai rumah lebih dari satu, maka status musafirnya yang mana itu menjadikannya mendapat rukhshoh itu selesai ketika ia sampai rumah tujuan.

Jadi, Ketika sampai lokasi, ia tidak boleh lagi qashar atau pun jama’ sholat, karena statusnya di lokasi tujuan adalah seorang mukim, bukan musafir. Karena bukan musafir, maka tidak ada keringanan baginya untuk men-qashar atau juga men-jama’ sholat.

B. Tidak Berniat Mukim Hanya Singgah

Tapi ada jenis kedua, yaitu yang melakukan perjalanan tapi tidak berniat mukim di lokasi tujuan, hanya saja mereka berdiam/singgah di lokasi tujuan beberapa hari karena memang ada kebutuhan untuk mereka berdiam di situ. Dan orang yang seperti ini juga tidak semuanya sama, tapi ada 2 jenis;

[1] Tidak tahu dan tidak menentukan berapa hari berdiam di lokasi

[2] Sudah menentukan jumlah hari berdiam/singgah di lokasi

Tidak Menentukan Jumlah Hari

Untuk jenis yang pertama ialah mereka yang berpergian untuk menyelesaikan sebuah urusan atau pekerjaan yang waktunya tidak ditentukan. Karena memang bukan waktu yang menjadi patokannya, akan tetapi urusan atau pekerjaannya yang mereka jadikan ukuran. Berapa hari pekerjaan itu selesai, segitu pula mereka akan singgah.

Imam Al-Turmudzi dalam kitab sunan-nya meriwayatkan beberapa hadits perihal batasan hari di mana seorang musafir tidak lagi mendapatkan rukhshoh, lalu berliau menutup dengan perkataan bahwa ulama telah berijma’ bahwa bagi siapa yang tidak berniat mukim dan tidak menentukan jumlah hari singgahnya, mereka tetap mendapatkan rukhshoh Qashar dan jama’ sholat, walaupun lamanya sampai tahunan. (Sunan Al-Tirmidzi 2/431)

C. Sudah Menentukan/Ditentukan Jumlah Hari

Intinya pada poin ini adalah seorang yang melakukan perjalanan jauh tidak untuk tujuan mukim dan ia sudah menentukan berapa lama ia akan singgah/tinggal di lokasi tujuannya itu, apapun jenis pekerjaan dan kebutuhan.

Untuk jenis safar seperti ini, ulama 4 madzhab sepakat untuk membatasi jumlah hari mereka yang mana mereka boleh qashar dan jama’ sholat, namun terlarang jika mereka sudah melewati batas hari rukhshoh tersebut.

1.  Al-Hanafiyah (14 Hari)

Ini didasarkan pada apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw ketika datang ke Mekkah dari Madinah untuk pembebasan Mekkah (Fathu Makkah). Bahwa beliau saw meng-qashar sholatnya sampai 14 hari di Mekah. (HR. Abu Daud)

2. Al-Malikiyah & Al-Syafiiyah (3 Hari)

Dalil yang digunakan ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya bahwa Nabi saw menjadikan bagi para Muhajirin 3 hari untuk rukhshoh setelah mereka menunaikan hajinya.

لِلْمُهَاجِرِ إِقَامَةُ ثَلَاثٍ بَعْدَ الصَّدَرِ بِمَكَّةَ

“untuk para muhajirin itu bermukim 3 hari di Mekkah setelah Shodr (menunaikan manasik)” (HR Muslim)

3. Al-Hanabilah (4 Hari/21 Sholat)

Uniknya dalam madzhab ini adalah bahwa yang dijadikan ukuran bukanlah hari melainkan sholat. Madzhab ini menetapkan bahwa batasan rukhshoh bagi seorang musafir itu setelah ia melewati 21 kali waktu sholat, atau kalau dihitung dalam hari menajdi 4 hari lebih 1 kali waktu sholat.

Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2/212) dan juga Imam Al-Mardawi dalam Al-Inshaf (2/329). Dalilnya sama seperti yang digunakan oleh madzhab Al-Syafiiyah dan AL-Malikiyah, hanya saja mereka menghitungnya dengan hitungan jumlah sholat.

Imam Ibnu Qudamah Mengatakan:

وَإِذَا نَوَى الْمُسَافِرُ الْإِقَامَةَ فِي بَلَدٍ أَكْثَرَ مِنْ إحْدَى وَعِشْرِينَ صَلَاةً، أَتَمَّ) الْمَشْهُورُعَنْ أَحْمَدَ – رَحِمَهُ اللَّهُ –

“Jika seseorang musafir berniat untuk tinggal di suatu negeri lebih dari 21 kal waktu sholat, maka ia ketika itu ia harus sempurna sholatnya (tidak jama qashar)” (Al-Mughni 2/212).

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Status Galau Termasuk abicara Buruk?

Assalamu’alaikum Ustadzah.. Mau tanya.
1. Di medsos sering kita temuin status-status galau. Apakah itu termasuk bicara yang buruk?

2. Temen yang pacaran, suka kumpul sama lawan jenis dalam konteks belajar bareng temen belum berhijab. Bagaimana caranya biar saya berani kasih nasihat?

Terima kasih.

[Manis_A29] ————–

JAWABAN:

Wa’alaikumussalam Wr.Wb

Pertanyaan 1

A. Mengalami galau, pikiran kacau, bingung dalam menentukan arah hidup, bukanlah kesalahan. Hampir semua manusia mengalaminya. Yang lebih penting adalah mengatasi kondisi galau, sehingga tidak sampai menyeret kita kepada jurang maksiat.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْأَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَاَلشَّيْطَانِ

Bersemangatlah untuk mendapatkan apa yang manfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika kalian mengalami kegagalan, jangan ucapkan, ‘Andai tadi saya melakukan cara ini, harusnya akan terjadi ini…dst.’ Namun ucapkanlah, ‘Ini taqdir Allah, dan apa saja yang dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena berandai-andai membuka peluang setan. (HR. Ahmad, Muslim, Ibn Hibban, dan yang lainnya).

Seorang mukmin tidak perlu merasa kesulitan untuk mencari apa yang manfaat baginya. Karena semua yang ada di sekitarnya, bisa menjadi kegiatan yang bermanfaat baginya. Jika dia belum bisa melakukan kegiatan yang manfaatnya luas, dia bisa awali dengan kegiatan yang manfaatnya terbatas. Setidaknya dia gerakkan lisannya untuk berdzikir atau membaca al-Quran. Atau berusaha menghafal al-Quran atau membaca buku yang bermanfaat.

1. Jangan lupa diiringi dengan doa

 “mintalah pertolongan kepada Allah”

Mengingatkan agar kita tidak hanya bersandar dengan kerja yang kita lakukan, tetapi harus diiringi dengan tawakkal kepada Allah. Karena keberhasilan tidak mungkin bisa kita raih, tanpa pertolongan dari Allah.

2. Jangan merasa lemah

Dalam melakukan hal yang terbaik dalam hidup, bisa dipastikan, kita akan mengalami rintangan. Seorang mukmin, rintangan bukan sebab untuk putus asa. Karena dia paham, rintangan pasti di sepanjang perjalanan hidupnya.

3. Hindari Panjang Angan-angan

Terlalu ambisius menjadi orang sukses, memperparah kondisi galau yang dialami manusia. Dia berangan-angan panjang, hingga terbuai dalam bayangan kosong tanpa makna. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mencela panjang angan-angan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِى اثْنَتَيْنِ فِى حُبِّ الدُّنْيَا ، وَطُولِ الأَمَلِ

Hati orang tua akan seperti anak muda dalam dua hal: dalam cinta dunia dan panjang angan-angan. (HR. Bukhari)

4. Jangan Merasa Didzalimi Taqdir

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاتَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Perhatikanlah orang yang lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian. (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah)

5. Jangan Lupakan Doa Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَامَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّخَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim no. 2720).

B. Hendaknya kita mengeluh di tempat yang tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam al-Quran “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86)”, Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran.

Islam perbolehkan kita berdoa dimana dan kapan pun kecuali di toilet/kamar mandi. Tetapi akan lebih elok dan berkah doa yang kita untaikan di tempat-tempat telah dicontohkan Rasulullah SAW. Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan, ingin diketahui publik dan ajang narsis.

Dalil-dalil telah mengatur waktu-waktu untuk berdoa mustajab. Antara lain:

“Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di ‘Arafah, ketika menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya, Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan, Di tengah malam, Di antara adzan dan iqamat, Ketika I’tidal yang akhir dalam shalat, Ketika sujud dalam shalat, Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz, Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur, Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu, antara Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Maghrib, Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis dan Pada waktu minum air zam-zam”

Tempat-tempat baik untuk berdoa “Di kala melihat Ka’bah, Di kala melihat masjid Rasulullah Saw, Di tempat dan di kala melakukan thawaf, Di sisi Multazam. Di dalam Ka’bah, Di sisi sumur Zamzam, Di belakang makam Ibrahim, Di atas bukit Shafa dan Marwah, Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.

Nah seperti dijelaskan di atas jelas bahwa tempat dan waktu mustajab berdoa, bukan saat buka Facebook/twitter, sebaiknya social networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Karena Allah tidak menyukai hamba yang suka mengeluh

 —

Pertanyaan 2

Menasehati seseorang (apalagi itu kita kenal) harus berani melakukannya. Menasehati adalah bagian dari kepedulian kita untuk menyelamatkan orang tersebut dari jurang kenistaan dalam hidupnya.

Sebenarnya tak ada resep khusus dalam cara menasehati seseorang yang berbuat maksiat agar kembali kepada ketaatan terhadap syariat. Namun yang pasti, isi nasehat itulah yang terpenting.

Cara boleh berbeda-beda, tetapi isi nasehat haruslah sama berdasarkan tuntunan syariat Islam. Tuntunan Rasulullah saw. ketika kita melihat suatu kemunkaran, tercermin dalam hadits dari Abu Said al-Khudri ra. dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemahnya iman.’” (HR Muslim).

Hadits ini adalah panduan ketika kita melihat suatu kemunkaran, dimana contoh dalam pertanyaan ini adalah pacaran.

Cara menasehatinya, bisa ajak dialog dulu teman tersebut, jelaskan haramnya pacaran, jika kuat cegahlah dia.

Kuat atau tidak bisa diketahui dengan mencoba dan terus berlatih memberi nasehat.

Ustadzah Dra Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Kenapa Poliandri Dilarang?

Assalamu’alaikum.. Ustad. Ada dua pertanyaan:

1. Kenapa poliandri tidak dibolehkan?

2. Setiap saya mendapat ujian yang membuat hati saya sedih, saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Dan Allah memberikan semua ujian kepadaku mungkin karena saya sanggup dan kuat. Prtanyaan saya, Apakah saya salah menganggap Allah itu sangat menyayangi saya? Dan bagaimana caranya agar saya bisa selalu kuat menghadapi segala ujian? Trimakasih

[Manis_A30] ————–

JAWABAN:

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله ،

1. Poliandri yang dipahami umum adalah adanya 1 wanita yang memiliki lebih dari 1 suami pada saat bersamaan. Maka yg terjadi adalah bercampurnya sperma, dan menjadi tidak jelas nasab. Kedua, bahwa tiada kebahagiaan secara fitrah dalam kejujuran kita seorang wanita dimiliki oleh dua suami dalam waktu bersamaan, karena seluruh sendi hidup kita tidaklah melulu seputar hubungan seksual, namun ada pekerjaan besar di atasnya yang ini hanya bisa dilakukan ketika manusia tetap bersama fitrah kebahagiaannya, dan Allah Swt adalah Dzat yg paling mengetahui fitrah manusia.

2. Anggapan Ibu adalah anggapan yang baik. Pertama, karena berprasangka baik adalah kewajiban. Kedua, karena keimanan manusia bahwa mereka yang sering ditimpa musibah dalam salah satu makna adalah mensucikan jiwanya, dan dikehendaki baginya kebaikan jika ia mampu mengolahnya agar berbuah kebaikan.

Nabi Saw. bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi)

Wallaahu a’lam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

08 Jurus Mendulang Pahala dari Gadget

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Gadget adalah nama dari sebuah alat komunikasi yang selalu berada di genggaman tangan manusia, bisa handphone bisa juga tablet. Namun yang pasti, barang ini telah menjadi sahabat terdekat manusia modern, bahkan banyak yang merasa kehilangan separuh dirinya ketika barang tersebut rusak, apalagi hilang. Sedemikian pentingnya alat tersebut sehingga seluruh aktivitas sebagian manusia bersumber dan berakhir dari barang tersebut. Semakin kesini alih-alih semakin berkurang, justru peminatnya semakin meningkat, data grafik berikut ini menunjukkan tren demikian.

Jika intensitas manusia bersama gadget menjadi semakin tinggi, tentunya dalam perspektif seorang Muslim, seluruh aktivitasnya haruslah bernilai ibadah. Tanpa gadget, ibadah tetap bisa lahir, dan memang gadget merupakan produk teknologi terkini, sementara konsep ibadah sudah ada sejak 1400 tahun yang lalu. Tentunya akan sangat merugi jika bersama kehadiran teknologi gadget justru menjadikan kualitas ibadah menurun, apalagi menurun tajam dan drastis. Jika tanpa gadget seorang manusia mampu beramal dengan tingkatan tertentu, seyogyanya, bersama gadget akan terlahir amalan ibadah yang luar biasa. Bagaimana untuk mencapai hal tersebut? Marilah kita fikirkan bersama amalan yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan adanya teknologi gadget. Amalan yang menjadikan kualitas keimanan kita jauh melampaui kebiasaan kita.

1.Meningkatkan frekuensi membaca Al-Qur’an, Dzikir dan Shalawat

Membaca Al-Qur’an seyogyanya telah menjadi keseharian seorang Muslim. Tanpa adanya teknologi gadget pun, Muslim tetap bersemangat membaca Al-Qur’an, karena Nabi Saw. telah bersabda,

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Apa keutamaan setelah memiliki gadget? Mudah-mudahan, frekuensinya semakin tinggi. Kalau dahulu sering ketinggalan Al-Qur’an, sekarang selalu di bawah kemanapun pergi. Kalau dahulu hanya bisa membaca di waktu-waktu tertentu, maka setelah memiliki gadget, membaca dan bahkan menghafal dan mentadabburinya menjadi jauh lebih mudah. Demikian pula halnya dengan aktivitas dzikir dan bershalawat.

2.Meningkatkan kualitas Cinta dan Silaturrahim

Makna silaturrahim akan sentiasa lekat dalam pribadi seorang Muslim, karena Nabi Saw. telah bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ

“Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad)

Tentunya menyambung ikatan cinta di antara manusia terutama adalah cinta kepada orang tua dan pasangan hidup kita, dan kemudian dilanjutkan dengan kerabat terdekat, sahabat orang tua, dan orang-orang yang kita utamakan dalam hidup kita. Tanpa adanya gadget, tali cinta itu tetap telah sering kita sambung. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan, seiring hadirnya gadget, kualitas tali cinta itu semakin tinggi, kuat dan bernilai. Hal ini dimungkinkan karena dengan gadget, manusia tidak lagi sekedar dapat mendengarkan suara namun lebih dari itu, ia bisa melihat secara langsung wajahnya, sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan gadget, sesuatu yang mendekatkan fisik yang jauh, dan dapat tersambung dimanapun dan kapanpun ia berada.

3.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyebaran Dakwah

Dakwah adalah amalan unggulan manusia berimana untuk meraih amal jariyah dalam mencapai tujuannya dalam melahirkan perbaikan untuk dunia dan seisinya. Nabi Saw. telah bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim)

Tanpa memiliki gadget, dakwah dapat dengan mudah dilakukan dan telah dilakukan sejak generasi terbaik agama ini. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan, bersama gadget, jangkauan dakwah bisa meraih apa-apa yang tidak bisa diraih kecuali dengan adanya gadget. Begitupun variasi dan kualitas konten dakwah bisa lebih menarik lebih banyak manusia ke jalan agama yang ilmiah ini, dimanapun dan kapanpun ia berada, dengan biaya lebih murah namun lebih cepat tiba di target tujuan dakwah.

4.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pertolongan sesama manusia

Menolong dan memberi manfaat bagi sesama manusia adalah sesuatu yang telah inheren. Sesuai tingkatan-tingkatanya, Nabi Saw telah menjelaskan,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)

Tanpa gadget, manusia tetap dapat memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan bersama gadget, kecepatan dan ketepatan sasaran lebih maksimal, dan bahkan kuantitas manfaat bisa lebih tinggi nilainya. Di antara manusia yang terpisah jarak atau wilayah diharapkan tersambung dan saling menerima manfaat meski sebelumnya tidak dikenal dan belum saling mengenal.

5.Meningkatkan keterlibatan dalam pengembangan intelektual

Dunia intelektual adalah dunia ilmiah sebagaimana ciri Islam sebagai agama yang dibangun di atas dasar ilmu sebelum amal. Menuntut ilmu merupakan kewajiab setiap manusia, sebagaimana sabda Nabi Saw.,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”. (HR. Ibnu Majah)

Tanpa gadget, menuntut ilmu telah menjadi tradisi turun temurun dan bahkan pernah mengantarkan peradaban Islam ke puncak kepemimpinan dan peradaban dunia khususnya dalam rentang abad 6 – 13 M. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan, bersama gadget ilmu menjadi lebih mudah diakses, dengan biaya yang semakin terjangkau, dan dapat diakses kapan pun kemauan itu lahir, dengan metode penyampaian yang jauh lebih variatif sehingga diharapkan lebih mudah menghadirkan ilmu yang bermanfaat.

6.Pengingat Amal-amal Unggulan dan suksesnya Muamalah

Memiliki amal unggulan adalah cita-cita berikutnya dari setiap Muslim, dan sehari-hari Muslim melakukan muamalah bersama manusia. Selalu sibuk dengan amal demi amal adalah keseharian Muslim, demikian pula sibuk bermuamalah demi muamalah adalah keseharian Muslim, sebagaimana Nabi Saw. telah bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.”[HR. Muslim]

Amal dapat terus mengalir, dan muamalah dapat terus tercipta tanpa adanya gadget. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan bersama gadget, manusia lebih matang dalam merencanakan amal unggulannya masing-masing dan semakin terorganisir dan profesional dalam menjalakan roda muamalahnya. Ia bisa mengaktifkan fitur alarm untuk membangunkannya di waktu Subuh, sebagaimana jadwal hidupnya telah tersusun rapih berikut pesan pengingat yang selalu mengingatkan manusia. Jika manusia telah semakin bagus dalam perencanaan hidupnya bukankah itu awal dari kesuksesannya di akhirat?

7. Mengetahui kabar-kabar para ‘alim di dunia

Di antara yang mampu menjaga keteguhan manusia untuk sentiasa istiqomah di jalan Allah Swt adalah adanya keteladanan dari orang-orang yang dianggap terbaik dalam hidupnya. Dorongan motivasi dari para alim, kisah-kisah sukses, kiprah-kiprah dakwah, warisan demi warisan ilmu yang terlahir menjadi pelecut bagi seorang manusia untuk terus bersemangat dalam beramal. Mungkin ini rahasia mengapa sebagian Al-Qur’an pun berisi kisah-kisah keteladanan untuk menjadi motivasi terbaik

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ بَحِيرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ النَّاسُ عَالِمٌ وَمُتَعَلِّمٌ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ هَمَجٌ لَا خَيْرَ فِيهِ

Manusia (terbagi dua) yaitu alim (orang yg mengajar) dan pelajar, selain itu adalah orang hina yang tak memiliki kebaikan. [HR. Darimi No.325]

Jika tanpa gadget kita dapat mengetahui dan mengenal sosok-sosok para ‘alim di dunia, lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan, bersama gadget, kita dapat memantau perkembangan aktifitas para ‘alim tersebut, mengetahui kondisi kesehatannya, mendo’akan kemudahan dalam seluruh urusannya, bahkan mungkin dapat berkomunikasi dengannya dan mengambil manfaat darinya sehingga kualitas keteguhan itu dapat semakin menguat dan terawat.

8.Meningkatkan kualitas tadabbur ayat-ayat Kauniyah

Tadabbur ayat-ayat Kauniyah adalah memikirkan seluruh ciptaan Allah Swt, menikmatinya, dan menjadikannya sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi Saw. telah bersabda,

تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللَّهِ ، وَلا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ“

“Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas).

Tentunya mentadabburi ayat-ayat Kauniyah amat sangat bisa dilakukan tanpa menggunakan gadget. Lalu apa manfaat gadget? Mudah-mudahan, ketika ada gadget, dan berkesempatan mengunjungi wilayah-wilayah tertentu, gadget dapat mengabadikan momen-momen yang mungkin tidak terulang dua kali tersebut. Keindahan alam yang tiada duanya dapat terus dinikmati selama kita memegang gadget. Akan mengalir ruh, motivasi, semangat untuk terus rindu bersama Allah Swt.

Demikianlah 8 (delapan) jurus mendulang pahala dari gadget yang dimiliki, semoga bermanfaat dan melahirkan ide-ide baru lainnya. Semoga Allah Swt melahirkan pahala yang banyak dari gadget kita masing-masing.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Adab Buang Hajat

Assalamualaykum Ustadz..
Mohon penjelasan tentang adab B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

—————

JAWABAN:

Adab membuang hajat
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda “janganlah seseorang di anatara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda ” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda ” apabila dua org buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari temanua dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu. (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh. Rosulullah saw bersabda “jauhilah perbuatan dua org yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka (HR. Muslim)

Wallahu a’alam

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Membuat Laporan Tidak Real?

Assalaamu’alaikum,
mau bertanya ustadzah. bagaimana hukumnya membuat laporan kerja secara perkiraan/ tidak real dan korupsi waktu kerja…

peratanyaan dari A 06.
                                         
JAWABAN.

Wa alaikumsalam wr wb.                    
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa man waalah wa ba’d.                                                                  
Pahamilah sesungguhnya Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta’ala yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang utama bagi kejayaan Islam.

Sedangkan sifat bohong merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang.

Dusta merupakan dosa dan aib besar.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju Surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur.
Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta .
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Salah satu pendorong terjadinya dusta adalah: usaha memutar balikkan fakta dengan berbagai motifnya; baik untuk melariskan barang dagangan, melipatgandakan keuntungan termasuk seperti yang ditanyakan agar seseorang mendapat penilaian kinerja baik.

Hendaknya bisa mengerti, kepercayaan perusahanaanya akan berkurang karena kebohongan-kebohongannya, bahkan bisa luntur sama sekali.

Beberapa ancaman keras tentang berdusta:

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” (QS Adz Dzaariyaat:10)

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah:10)

“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” (Al Jaatsiyah:7)

Nabi Muhammad SAW: “ Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta,bila berjanji tidak ditepati,dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)

“Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)

Orang yang membohongi temannya atau orang yang membaca laporan merupakan pengkhianat besar:

Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Akhirnya hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon agar kita dijauhkan dari sifat tercela ini, sehingga kita termasuk golongan hamba-hambaNya yang selalu bersikap jujur dalam segala situasi dan kondisi. Aamiin.

Ustadzah Dra. Indra Asih

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com