Menjual Pakan Babi, Bagaimana?

Assalamualaikum, mau tanya tentang halal haram. Ada teman saya yang berbisnis pakan babi dan juga ekspedisi produk babi. Bagaimana hukumnya?

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

Babi adalah makhluk hidup yang perlu dilindungi dan disayangi keberadaannya sebagaimana makhluk hidup lainnya. Mereka pun juga membutuhkan pakan untuk kelangsungan hidupnya, maka menjual pakan untuk kelangsungan hidup babi adalah sesuatu yang dibolehkan khususnya ketika tidak ada lagi yang menjualkannya.

Namun begitu, Islam telah mengharamkan memakan segala sesuatu dari jasad babi. Maka beternak babi dikhawatirkan akan berkontribusi memelihara kebiasaan manusia memakannya yang akan menghalangi masuknya pintu hidayah. Inilah di antara hikmah mengapa manusia dilarang berjual beli babi, sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” (Muttafaqun Alaih)

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Hukum Hypnoterapi

Assalamu’alaikum.. Ustad. Bagaimana hukum hypnoterapi dalam Islam? Benarkah menggunakan jin?

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

Sejauh pemahaman saya dalam seluruh teks agama ini, Islam melarang umatnya untuk mengosongkan pikiran dan menerima sesuatu masuk ke dalam dirinya melalui pengosongan jiwa.

Islam pun telah mengajarkan umatnya bagaimana cara meraih ketenangan jiwa dan melahirkan sifat-sifat terbaik seperti keberanian, optimisme, dan sejenisnya.

Pemanfaatan jin baru diketahui dari praktiknya bukan sekedar dari nama hypnotherapi. Maka menghukuminya dikembalikan kepada praktik yg dilakukan dan dampak yang diperoleh.

Wassalam,
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Dokter Periksa Aurat Pasien

Assalamu’alaikum.. Ustadzah. Saya mau tanya: Tentang aurat,
bagaimana dengan tugas seorang dokter atau perawat yang harus memeriksa pasiennya…?

[Manis_Vivin A08]

Wa’alaikumussalam.
Dalam hal aurat untuk tujuan berbeda (kondisi darurat) maka diperbolehkan. Bila ada dokter perempuan maka dianjurkan untuk memilih dokter yang perempuan terlebih dahulu. Kecuali, dokternya tidak ada yang wanita.

Agama Islam tidak pernah mempersulit umatnya, sholat pun bisa di rukhsoh dalam kondisi tertentu, begitu pula dalam kondisi berobat.

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Hidup Ini Adalah Hari Ini dan Saat Ini

Ustadzah Rochma Yulika

Sahabat Surgaku…
Sungguh kita kadang tak menyadari tentang tabiat kehidupan. Ada kehidupan bagitu juga ada kematian. Kita terlahir bukan kemauan kita begitu pula jadwal kematianpun tak mampu kita memintanya. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Sahabat Surgaku…
Mari kita Renungkan bersama tentang rentetan perjalanan manusia.

“Hidup dan Kehidupan selayaknya deretan kata yang terangkai dalam kalimat yang indah dan terkadang kita butuh koma untuk menjeda dari segala aktivitas kita, merehatkan perjalanan kita, kadang terbersit tanda tanya di saat kita kehilangan arah dan tersesat dalam melangkah.

Namun terkadang sesekali kita perlu menghadirkan tanda seru, kala kenyataan tak lagi berpihak kepada kita.

Harapan dan impian tak kunjung menjelma……
Namun perlu kita sadar bahwa perjalanan kita butuh petunjuk atau catatan dalam menyelesaikannya.

Terkadang kita pun harus
membuka ulang petunjuk itu karena keterbatasan ingatan kita.
Dari deretan kata itu kan berakhir pada tanda titik sebagai akhir dari kalimat kehidupan yang bisa kita baca.

Berhenti, bukan lagi sejenak, tetapi berhenti selamanya.

Tak ada yang mengetahui sampai dimana umur kita. Apakah kita yakin bila pagi datang akankah perjalanan kita sampai pada senja yang mulai temaram. Begitu pula kala malam tiba, gulita pun seakan memenjara jiwa akankan yakin fajar kan kita jumpa.

Sahabat Surgaku…
Sedemikian kenyataan takdir manusia, sayangnya kadang kita alpa. Bahwa semua kan berbatas. Bisa jadi kita menunda kebaikan lantaran sangat yakin nyawa kan tetap dikandung badan. Padahal, satu menit ke depan hanya sekedar sebuah harapan.

Hidup yang kita miliki adalah saat ini. Bukan kemarin apalagi nanti.
Kemarin hanya mampu kita jadikan cermin untuk memperbaiki perjalanan ke depan.

Maka pada hari yang nafas masih kita hela, diri mampu berkarya, maka tunaikan apa yang menjadi kewajiban dengan segera.

Sahabat Surgaku…
Apakah kita masih menunda-nunda ibadah, menunda tilawah, menunda segala kebaikan??

Katakan pada hati kita…
Hidupku adalah hari ini. Bukan nanti apalagi esok hari.

Sebagian dari kita masih sering menyia-nyiakan waktu yang kita miliki selama hidup di dunia, dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Mungkin sebagian dari kita ada yang berpikir, nanti saja, kalau sudah menjelang tua baru memperbaiki ibadah kepada Allah. Biasanya orang menunda amal kebaikan karena lebih mengutamakan dunia dan tidak mementingkan akhirat.

Contohnya, karena kesibukan segala aktifitas urusan dunia, seseorang jadi sering menunda-nunda kewajiban amal ibadah atau amal kebaikan.

Padahal hal ini sangat salah, karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita akan hidup di dunia ini. Kita tidak bisa memastikan bahwa kita akan dapat hidup sampai tua nanti. Bisa saja kematian mendatangi kita disaat kita masih muda belia. Lalu mengapa kita harus menunda-nunda amal ibadah dan kebaikan?

Ketahuilah setiap tarikan dan desahan nafas kita, saat kita menjalani waktu demi waktu, adalah merupakan langkah menuju kubur.
Dan waktu yang kita jalani hidup di dunia ini, sebenarnya sangat singkat, karena itu sangat ruginya kita apabila kita menjalaninya dengan sesuatu yang tidak berharga.
Kita sia-sia kan waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan dunia akhirat kita.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr [59] : 18)

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ashr (103) ayat 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut::
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan amal baik.  

Rasulullah SAW bersabda, ”Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori).

Hadits ini menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya.

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Khuluqul Muslim menerangkan waktu adalah kehidupan.
Maka memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan.

Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.

Hasan Al Banna menasihati kita,”Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.”

WAKTU kita sangatlah sedikit.
Di dunia yang sangat sempit.

WAKTU hidup kita sangatlah singkat.
Maka hati-hatilah dari berbuat maksiat.

USIA kita tak bisa terukur
Tak pernah tau kapan saatnya tersungkur di dalam kubur.
Dan bila telah tiba MASA
Sampailah kita di alam baka.

Bukan HARTA benda yg kita bawa
Amal dan kebaikan yg kan temani perjalanan kita.
Namun hanya amal kebaikan yang bisa turut serta

Jauhkan HATI dari cinta dunia yg fana
Tuk bersegera dekatkan diri dengan kebersamaan dengan NYA
Tetap semangat meski perjalanan ini terasa berat
Semoga kelak bernilai di akhirat

Dalam pepatah Arab disebutkan ”Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.”
Karena itu jangan sia-siakan waktu, manfaatkanlah segera :
Waktu muda sebelum datangnya tua.
Waktu sehat sebelum datang sakit.
Waktu kaya sebelum datangnya miskin.
Waktu luang sebelum datangnya sempit.
Waktu hidup sebelum datangnya mati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan
Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Barzah, bahwa Rasulullah SAW  bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara :
Tentang umurnya untuk apa ia habiskan,
Masa mudanya untuk apa ia gunakan,
Hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan
Ilmunya, apa yang diamalkannya.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, sebelum terlambat, sebelum kematian mendatangi kita, marilah kita memanfaatkan waktu yang tersisa dari umur kita ini untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Marilah kita perbanyak berbuat kebaikan, jangan menunda-nunda amal kebaikan, karena belum tentu besok kita masih punya waktu untuk melaksanakannya. Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput kita.

Dan alangkah sangat menyesalnya kita, apabila dalam hidup kita yang singkat, lebih banyak kita lewati dengan melakukan hal-hal yang akan kita sesali di akhirat.
Karena waktu yang sudah lewat, tidak akan pernah bisa kembali meski sesaat.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Jual Beli Kredit

1. Assalamualaikum..  Ustadzah. Bagaimana hukumnya jual beli kredit dalam islam.Misalkan si A beli barang kepada si B, boleh pilih antara cash atau kredit.jika cash harganya Rp.300.000,- Jika kredit atau tempo satu bln hrga Rp.350.000,- Tempo 2 bulan Rp.400.000,-.Bolehkah spt itu? Terima kasih.

2. Ustadzah, saya nak nanya soal memakai cadar itu hukumnya bagaimana?

[Manis_A19_A18] ——————-

JAWABAN:

1. Pada prinsipya setiap sesuatu dalam muamalat itu adalah dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syari’ah. Mengikuti kaidah fiqih.
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar memenuhi akad yang mereka lakukan.
Untuk yang namanya kredit juga dibolehkan selama keduaya melaksanakan rukun dan syaratnya, perlu di ingat apabila sistem syari’ah tidak ada riba tapi  menggunakannya sistem bagi untung.

2. Hukum memakai cadar boleh tapi perlu di ingat yang namanya muka dan telapak tangan bukan termasuk aurat.

Wallahu a’alam

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Darah Pada Daging

Ustadzah, saya mau tanya bagaimana hukumnya darah yang ada pada daging ayam potong.sudah dicuci. Tapi kadang masih ada yang nempel. Halalkah ayamnya setelah dimasak? syukron

JAWABAN:

Apabila masaknya sudah matang dan masih ada sisa warna merahnya menurut saya halal.

Kecuali masaknya belum matang itu bukan halal tapi menjijikkan.

Halal itu ketika dipotong ayamnya sesuai syarat Islam.

Wallahu’Alam..

Ustadzah Ida Faridah

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menikahi Sepupu Itri

Assalamu’alaikum wr wb. Saya mau tanya bagaimana hukumnya seorang laki-laki beristri dua. Tapi wanita tersebut saudara sepupuan?

[Manis_I18] ————-

JAWABAN:

Wa’alaikum salam Wr.Wb. Sepupu definisi disini kalau bibi dan ponakan hukumnya tidak boleh.

Allah berfirman,

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ

“Jangan pula menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS. An-Nisa: 23)

Kemudian dalam hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ المَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلاَ بَيْنَ المَرْأَةِ وَخَالَتِهَا

“Tidak boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya, baik bibi dari ayah maupun dari ibu (dalam satu ikatan pernikahan yang sama).” (Muttafaqun ‘alaih)

Dr.Wido Supraha

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Silaturahim Hanya Dengan Saudara Satu Nasab?

Assalaamu’alaikum Wr Wb

Terkait dengan materi ustadz Wido Supraha tentang silaturahmi,
Saya pernah mendengar seorang ustadz lulusan Timur Tengah mengatakan bahwasanya silaturahim itu untuk saudara senasab, saudara yang mungkin ketemu di kakeknya atau ternyata saudara karena sama kakek buyutnya dst.

Dan apabila menjalin hubungan dengan yang bukan senasab tidaklah dikatakan sebagai silaturahim namun hanya berbuat baik sesama muslimin dan mu’minin.

Bagaimana menurut ustadz?

Jazaakumulloh khoiron

[Manis_A22] ————–

JAWABAN:

Ibu. Betul saya sependapat, dan dalam tulisan saya (http://supraha.com/?p=535) telah saya sebutkan makna aslinya dan kemudian mengapa saat ini banyak digunakan untuk selain nasab, karrna karena manusia mengambil inspirasi dan keteladanan dari kuatnya silaturrahim senasab. Sehingga saya tuliskan, ‘…. dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.’

Maka manusia yang tidak senasab tiba-tiba terbangun ikatan ukhuwah yang sangat berkualitas karena mengambil ruh shilaturrahim.

Wassalam.
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bolehkah Merayakan Ulang Tahun?

Assalamualaikum.. Ustad. Saya mau tanya.. Apa hukumnya merayakan ulang tahun? Apakah dalam Islam ada perayaan ulang tahun? Syukron atas jawaban ustad.

[Manis_A] ———–

JAWABAN:

Ibu.

Ulang tahun tidak dikenal dalam tradisi Islam, karena hakikatnya tambah tahun. Bahkan setiap detik sejatinya usia bertambah, yg berarti kesempatan peluang hidup berkurang. Maka korelasinya seharusnya adalah kesedihan karena kesempatan persiapannya untuk akhirat semakin sedikit. Kalaupun ia bergembira lebih karena waktu pertemuan dengan Allah Swt yang dirindukannya semakin dekat.

Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa muhasabah, introspeksi, dan kemudian beramal lebih baik lagi.

Tentunya ini berbeda dengan sebagian manusia yang merayakan pertambahan tahunnya dengan hura-hura dan jauh dari upaya muhasabah, bahkan tidak sedikit yang diisi dengan kemaksiatan dan menghamburkan uang. Tentunya ini berbeda dengan makna bersyukur atas seluruh rizqi yang telah diterimanya.

Oleh itu, hendaknya kita bangun tradisi introspeksi diri daripada definisi ulang tahun dalam perspektif masyarakat kebanyakan.

Wassalam,
wido@supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com