Andai Ini Hari Terakhirku

๐Ÿ“† Ahad, 4 Jumadil Akhir 1437H / 13 Maret 2016
๐Ÿ“š Tazkiyatun Nufus
๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Umar Hidayat M. Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ
๐ŸŒทBuat sekujur jasad ini yang tak selamanya ada. 
Buat lisan ini yang selamanya tak mampu bicara. 
Buat jiwa ini yang tak selamanya bersemayam di dalam dada. 
๐ŸŒทIa bakal berlalu pergi tinggalkan kehidupan. 
Hanya goresan nama yang tertera di sebuah nisan. 
Dan semua tak akan kembali yang ada hanya sesal tak berkesudahan. 
“Ya Rabb, beri aku waktu dan kesempatan sejenak saja. 
Ya Rabb, aku takut seperti kata Sang Nabi: ‘Celakah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan ramadhan namun dosanya masih belum diampuni Allah!” HR Ath_Thabrani
๐ŸŒทAndai ini hari terakhirku…
Akan kugenapkan azzamku, betapapun rasa berat menghantuiku, dan rasa malas yang melenakanku. 
๐ŸŒทAndai ini hari terakhirku…
Aku ingin menempatkan diriku dalam nasihat Imam Syafi’
“Kita adalah pemburu surga dan buronan neraka. 
Sungguh menakjubkan jika masih bisa bersantai dalam perjalanannya menuju keinsyafan. 
๐ŸŒทAndai ini hari terakhirku…
Tentu shalatku akan kupelihara, kulakukan dengan penuh khusyu’ lagi tawadhu’. 
Malam pun kan kusibukkan dengan tarawih, Qiyamullail, bertahajud, bertilawah, bersedekah, juga memperbaiki ukhuwah. 
๐ŸŒทAndai ini hari terakhirku…
Berharap semua amal kan menjadi bekal terbaik untuk menghadap Nya. 
Hingga raih kemudahan kala melakukan perjalanan menuju kehidupan yang baka. 
Wallahu musta’an
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sumber Ungkapan โ€œPemimpin Kafir Yang Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Yang Zalimโ€

๐Ÿ“† Ahad, 4 Jumadil Akhir 1437H / 13 Maret 2016

๐Ÿ“š Tsaqofah

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ

Akhir-akhir ini beredar ungkapan yang sangat disukai suatu โ€˜kaumโ€™ demi memuluskan jalan bagi seorang kafir untuk memimpin negerinya.

Mereka menyebar perkataan yang mereka klaim sebagai perkataan Ali ra, yaitu, โ€œPemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.โ€

Siapa muslim yang tidak mengormati Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu?!

Semua mencintai dan memuliakannya. Maka akan tampak sekali betapa kata-kata tersebut akan memberikan pengaruh kaum muslimin, terutama yang awam.

Tahukah anda, dibalik kata-kata itu ada racun syiah? Jangan marah duluโ€ฆ.๐Ÿ˜Š sini saya jelaskan.

Ungkapan itu bukan perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tapi perkataan seorang tokoh ulama (baca: pendeta) syiah yang bernama Ali bin Musa bin Jaโ€™far bin Thawus, dikenal dengan sebutan Sayyid Ibnu Thawus, Tokoh ulama Syiah asal Irak yang lahir tahun 589. Lengkapnya silakan lihat Wikipedia.

Pintarnya mereka (baca: liciknya) adalah ketika menyebut sumber ungkapan tersebut hanya menulis Ali ra saja, tidak menyebut nasabnya dengan lengkap, agar para pembaca mengira bahwa itu adalah ungkapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tentu tujuannya agar mudah diterima masyarakat.

Kapan kata-kata itu diucapkan?

Anda ingat sejarah kelam yang menimpa dunia Islam saat keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad?

Yap, itu terjadi pada tahun 656 H = 1258 M. Saat itu pasukan Tatar yang dipimpin panglima kafir dan bengis yang bernama Hulagu Khan, menyerbu Baghdad dan menaklukkannya.

Baghdad luluh lantak dan porak poranda, perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan kitab-kitab berharga mereka musnahkan, penduduknya mereka bantai, sehingga ada yang memperkirakan satu juta warga Baghdad terbunuh. Kelam sekali.

Nah, suatu kali, Hulagu Khan mengumpulkan para ulama Baghdad untuk meminta fatwa mereka (hebat, orang kafir minta fatwa), mana yang lebih utama, pemimpin kafir yang adil atau pemimpin muslim yang zalim? Para ulama saat itu diam tak berfatwa. Sangat boleh jadi karena kondisinya sangat dilematis, karena di hadapan mereka ada pemimpin kafir yang kejam sedang berkuasa dan dapat berbuat apa saja, sementara mereka yakin bahwa seorang kafir tidak boleh diangkat sebagai pemimpin.

Namun akhirnya Ali bin Thawus ini berani mengeluarkan fatwanya dengan menyatakan bahwa pemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.

Kisah ini tercatat dalam kitab-kitab karangan kaum Syiah sendiri, di antaranya; Al-Adab As-Sulthaniyah, karangan Ibnu Thaqthaqi.

Ini teks arabnya dari kitab tersebut:

ู„ู…ุง ูุชุญ ุงู„ุณู„ุทุงู† ู‡ูˆู„ุงูƒูˆ ุจุบุฏุงุฏ ููŠ ุณู†ุฉ ุณุช ูˆุฎู…ุณูŠู† ูˆุณุชู…ุงุฆุฉ ุฃู…ุฑ ุฃู† ูŠุณุชูุชู‰ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฃูŠู‡ู…ุง ุฃูุถู„: ุงู„ุณู„ุทุงู† ุงู„ูƒุงูุฑ ุงู„ุนุงุฏู„ ุฃู… ุงู„ุณู„ุทุงู† ุงู„ู…ุณู„ู… ุงู„ุฌุงุฆุฑ ุŸ ุซู… ุฌู…ุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุจุงู„ู…ุณุชู†ุตุฑูŠุฉ ู„ุฐู„ูƒ ุŒ ูู„ู…ุง ูˆู‚ููˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ูุชูŠุง ุฃุญุฌู…ูˆุง ุนู† ุงู„ุฌูˆุงุจ ูˆูƒุงู† ุฑุถูŠู‘ู ุงู„ุฏูŠู† ุนู„ูŠ ุจู† ุทุงูˆูˆุณ ุญุงุถุฑุงู‹ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูˆูƒุงู† ู…ู‚ุฏู…ุงู‹ ู…ุญุชุฑู…ุงู‹ ุŒ ูู„ู…ุง ุฑุฃู‰ ุฅุญุฌุงู…ู‡ู… ุชู†ุงูˆู„ ุงู„ูุชูŠุง ูˆูˆุถุน ุฎุทู‡ ููŠู‡ุง ุจุชูุถูŠู„ ุงู„ุนุงุฏู„ ุงู„ูƒุงูุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณู„ู… ุงู„ุฌุงุฆุฑ ุŒ ููˆุถุน ุงู„ู†ุงุณ ุฎุทูˆุทู‡ู… ุจุนุฏู‡. -ุงู„ุขุฏุงุจ ุงู„ุณู„ุทุงู†ูŠุฉ ู„ุงุจู† ุงู„ุทู‚ุทู‚ูŠ/-2

Jadi ucapan tersebut tidak bersumber dari Al-Quran, hadits, perkataan shahabat dan para ulama salaf dari kalangan Ahlussunah wal jamaah. Tapi dari mulut seorang syiah yang memang berkepentingan dengan ucapan tersebut saat itu.

Mengapa? Karena mereka sedikit atau banyak termasuk yang berperan atas kejatuhan Khilafah Abbasiah, tentu disamping faktor-faktor lain. Karena kelompok syiah terus merongrong penguasa Bani Abbasiah.

Tercatat dalam sejarah ada perdana menteri pada masa akhir Khilafah Bani Abbasiah yang bernama Ibnu Alqami yang secara diam-diam berkonspirasi dengan Hulagu Khan untuk menyerang Baghdad dan meruntuhkan kekhalifahan Bani Abbasiah, dengan harapan setelah itu dia diserahkan kekuasaan atas Baghdad.

Namun setelah pasukan Hulagu Khan menguasa Baghdad, kekuasaan itu tak diberikan kepadanya dan bahkan dia sendiri dibunuh.

Kematian tragis seorang pengkhianat.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Peminjam Ridho Membayar Bunga Pinjaman Karena Merasa Tertolong

โœUst. Rikza Maulana Lc. M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท
Assalamualaikum.                
___________________
Pertanyaan nya.            
1โƒฃ. maaf, mau tanya tentang riba lebih lanjut…
jika orang yg dihutangi merasa tertolong atas peminjaman bagaimana? dan, kelebihan pengembalian hutang tidak menjadi masalah. termasuk pemberian gandum dan sebagainya itu. ridho memberi karna rasa terimakasih.
jika seperti itu, apakah hukumnya masih riba?
โฌ† pertanyaan dari A 28
2โƒฃ  Kl jual beli tp di kredit 10x bgm?krn setiap penjual pasti mengambil untung..
โฌ† pertanyaan dari A 10.                                                    
___________________
Jawabannya.                                   
Wa alakum salam wr wb.                                             
1โƒฃ. Saling ridho itu merupakan syarat lanjutan dalam akad, dan dia terkait dengan syarat sebelumnya. Artinya dia tdk bisa berdiri sendiri. Kalau substansi akadnya batal, maka sudah pasti akadnya tdk sah walaupun saling ridho. Maaf, penjual narkoba dengan pembelinya, bisa jadi saling ridha, saling butuh dan saling ikhlas ketika transaksi. Tapi ia batal karena objeknya haram. Maaf juga antara wanita tuna susila dengan lelaki hidung belang, bisa jadi saling ridho dalam transaksi asusila, tapi jelas batal demi hukum karena objek jasa nya haram. Pun demikian dengan riba, antara peminjam dan peminjam adalah batal, tidak sah serta berdosa meskipun mereka salimg ridho.
2โƒฃ.  Hukum jual beli cicil (kredit) hukum asalnya adalah boleh, dengan syarat tidak ada riba/bunga di dalamnya dan disepakati du awal akad. Penjual boleh saja menjual dgn harga lebih tinggi atau mengambil keuntungan lebih besar pada transaksi jual beli secara cicil selama tidak menggunakan bunga dan ada kesepakatan harga jual di awal kontrak dengan pembeli. Jika keuntungan dikaitkan dengan bunga, maka hukumnya menjadi riba.
Wallahu A’lam 
๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Hak Susmi Terhadap Penghasilan Istri

โœUstadzah Nurdiana
Assalamuallaikum.         
___________________
Pertanyaan nya,        
Apa  hak-hak suami thd penghasilan/pendapatan/istri yg bekerja/usaha dg dukungan/disuruh dan di ridhoi swami nya? ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ.                        
___________________
Jawaban nya,               
Wa alaikum salam wr wb.                              
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:
ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู‚ูŽูˆู‘ูŽุงู…ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุขุกู ุจูู…ูŽุง ููŽุถู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽุจูู…ูŽุขุฃูŽู†ููŽู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’
โ€œKaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta merekaโ€. [an Nisaa`/4 : 34].
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, sudah menjadi Ijmaโ€™ ulama, ayah (suami)lah yang menafkahi anak-anak, tanpa dibarengi oleh ibu (isteri)LAZIMNYA suami bertanggung jawab mencari nafkah dan memiliki kesiapan untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Tidak sekadar menerima nafkah dari suami, istri juga harus siap mengelola keuangan keluarga secara keseluruhan. Namun, bagaimana jika suami tidak bekerja dan berpenghasilan sedangkan istri memiliki penghasilan? Apakah harta itu menjadi milik suami juga?
Islam membebankan pemberian nafkah keluarga ada di pundak para suami bukan para istri. Oleh karena itu, dituntut kepada para suami untuk keluar rumah mencari karunia Allah demi memenuhi kewajiban tersebut. Adapun besar pemberian nafkah tidaklah ditentukan besarnya akan tetapi disesuaikan dengan kadar kemampuan mereka.
Itu sudah sangat jelas disebutkan Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah: 233, โ€œDan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.โ€ Dan Surat Ath Thalaq: 6,  โ€œTempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.โ€
Abu Dawud meriwayatkan dari Mu`awiyah Al-Qusyairi dari ayahnya, ia berkata; aku katakan; wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang diantara kami atasnya? Beliau berkata: โ€œEngkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.โ€
Adapun terhadap para istri dikarenakan tidak ada kewajiban padanya untuk memberikan nafkah kepada keluarganya maka tidak ada kewajiban baginya untuk bekerja mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Nah, bagaimana jika istri bekerja dan mendapatkan uang? Apakah uang istri sama dengan uang suami?
Pada hakekatnya, uang suami adalah uang istri juga, dan uang istri adalah uang suami juga. Itu jika kita menghayati nilai-nilai pernikahan. Namun, dalam sisi hukum, memang ada kategorinya masing-masing. Yakni, uang suami adalah uang yang dia hasilkan sendiri, dan demikian istri.
Jadi, memang, secara hukum pun seorang suami, atau istri, tidak ada kaidah untuk meminta izin saat mau membelanjakan uangnya.
Namun, dalam pernikahanโ€”dan kehidupan manusia pada umumnyaโ€”ada kaidah moral yang juga mesti diperhatikan.
Misalnya, ketika suami merasa tidak sreg dengan belanja istri yang tanpa izinnya, maka secara moral, istri harus izin dahulu kepadanya, supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
Demikian pula sebaliknya. Pernikahan adalah persatuan, maka satukanlah jiwa suami dengan suami istri. Jangan sampai pernikahan terganggu hanya karena hal yang sebenarnya sepele.
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Hindun binti Utbah mengadukan perihal suaminya (Abu Sufyan) kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seseorang yang pelit. Dia tidak memberikan harta yang cukup untuk kebutuhanku dan anak-anakku, kecuali jika aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya.โ€
Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menasihatkan, โ€œAmbillah hartanya, yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu, sewajarnya.โ€Ayat dan hadis di atas memberikan konsekuensi sebaliknya; wanita tidak berkewajiban memberikan hartanya kepada suaminya, karena harta istri berhak untuk dimiliki oleh istri, tanpa harus memberikan sebagian dari hartanya tersebut kepada suaminya. Dengan demikian, wanita berhak mengeluarkan hartanya untuk kepentingannya atau untuk sedekah, tanpa harus meminta izin kepada suaminya.
Di antara dalilnya adalah hadis dari Jabir bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berceramah di hadapan jamaah wanita, โ€œWahai para wanita, perbanyaklah sedekah, karena saya melihat kalian merupakan mayoritas penghuni neraka.โ€ Kemudian, para wanita itu pun berlomba-lomba menyedekahkan perhiasan mereka, dan mereka melemparkannya di pakaian Bilal. (H.R. Muslim)
Kesimpulannya: Suami secara fiqih tidak punya hak atas harta istri dan bila istri mengeluarkan harta tuk anak atau suami maka hitungannya SEDEKAH, tapi dalam berumah tangga jalinlah hubungan yang harmonis tidak hanya dari pendekatan fiqih tapi bagaimana menghargai dan menghormati suami sebagai bagian kesempurnaan ibadah.                                          Wa Allahu a’lam.
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
disingkat oleh WhatsApp]

Apa yang Dolakukan Istri Ketika Mendapat Talak Suami?

๐Ÿ“Ustadzah Dra.Indra Asih
๐ŸŒฟ๐Ÿ„๐Ÿ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน
1. Apa yang harus dilakukan seorang istri ketika mendapat talak 1/2 dari suami?
2. Bagaimana cara shalat hajat ? Adakah surat khusus yang dibaca setelah baca al fatihah?
3. Bagaimana dengan koperasi simpan pinjam yang mana jika anggota meminjam 500,000 misal di cicil 10 x jadi bayarnya  55000 plus jasa nya setiap bulan tetapi di saat ada kendala tidak bisa bayar pokoknya tapi di kenakan jasanya yang 5000?
[MaNis_A29]
JAWABAN:
๐ŸŒฟ Pertanyaan 1
ู„ุทูŽู‘ู„ุงู‚ู ู…ูŽุฑูŽู‘ุชูŽุงู†ู ููŽุฅูู…ู’ุณูŽุงูƒูŒ ุจูู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ุฃูŽูˆู’ ุชูŽุณู’ุฑููŠุญูŒ ุจูุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู
 โ€œTalak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan baikโ€ (Al-Baqarah: 229)
Dan selama itu suami berhak merujuk kembali walaupun tanpa persetujuan istri.
Allah Taโ€™ala berfirman,
ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุทูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุงุชู ูŠูŽุชูŽุฑูŽุจู‘ูŽุตู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู†ู‘ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ู‚ูุฑููˆุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุญูู„ู‘ู ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุชูู…ู’ู†ูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุฃูŽุฑู’ุญูŽุงู…ูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู‘ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู‘ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑู ูˆูŽุจูุนููˆู„ูŽุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽู‚ู‘ู ุจูุฑูŽุฏู‘ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏููˆุง ุฅูุตู’ู„ูŽุงุญู‹ุง
โ€œWanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quruโ€™ (masa โ€˜iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa โ€˜iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlahโ€ (Al Baqarah: 228).
Jangan segera berpisah
Suami istri bahkan diperintahkan tetap tinggal satu rumah. Dengan demikian suami diharapkan bisa menimbang kembali untuk melihat istrinya yang tetap di rumah dan mengurus rumahnya.
Demikian juga istri diharapkan mau ber-islah karena melihat suami tetap memberi nafkah dan tempat tinggal.
Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽููŽู‚ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ููƒู’ู†ูŽู‰ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุฅูุฐูŽุงูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌู’ุนูŽุฉู .
โ€œNafkah dan tempat tinggal adalah hak istri, jika suami memiliki hak rujuk kepadanya.โ€ (Hadits shahih. Riwayat An-Nasaโ€™i)
Allah Taโ€™ala berfirman,
ู„ูŽุง ุชูุฎู’ุฑูุฌููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุจููŠููˆุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู†ูŽ ุจูููŽุงุญูุดูŽุฉู ู…ูุจูŽูŠู‘ูู†ูŽุฉู
โ€œJanganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.โ€ QS. Ath Thalaq: 1.
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,
ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู: {ู„ูŽุง ุชูุฎู’ุฑูุฌููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุจููŠููˆุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุง ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽ} ุฃูŽูŠู’: ูููŠ ู…ูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุนูุฏู‘ูŽุฉู ู„ูŽู‡ูŽุง ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุณู‘ููƒู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌู ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽุชู’ ู…ูุนู’ุชูŽุฏู‘ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎู’ุฑูุฌูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุงู„ู’ุฎูุฑููˆุฌู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูุนู’ุชูŽู‚ูŽู„ูŽุฉูŒ (3) ู„ูุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง.
โ€œYaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya keluar dari rumah karena statusnya masih wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk).โ€
Istri yang ditalak rajโ€™iy (talak 1 atau 2) berdosa jika keluar dari rumah suami
Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan,
: ุฃูŠ ู„ูŠุณ ู„ู„ุฒูˆุฌ ุฃู† ูŠุฎุฑุฌู‡ุง ู…ู† ู…ุณูƒู† ุงู„ู†ูƒุงุญ ู…ุง ุฏุงู…ุช ููŠ ุงู„ุนุฏุฉ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุฃูŠุถุงู‹ ุงู„ุญู‚ ุงู„ุฒูˆุฌ ุฅู„ุง ู„ุถุฑูˆุฑุฉ ุธุงู‡ุฑุฉุ› ูุฅู† ุฎุฑุฌุช ุฃุซู…ุช ูˆู„ุง ุชู†ู‚ุทุน ุงู„ุนุฏุฉ
โ€œyaitu tidak boleh bagi suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi wanita keluar juga karena (masih ada) hak suaminya kecuali pada keadaan darurat yang nyata. Jika sang istri keluar maka ia berdosa dan tidaklah terputus masa iddahnya.โ€
๐ŸŒฟPertanyaan 2
Ulama yang menganjurkan adanya shalat hajat berdalil dengan hadits dari โ€˜Utsman bin Hunaif sebagai berikut.
ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ุถูŽุฑููŠุฑูŽ ุงู„ู’ุจูŽุตูŽุฑู ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงุฏู’ุนู ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ููŠ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนูŽุงูููŠูŽู†ููŠ. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅูู†ู’ ุดูุฆู’ุชูŽ ุฃูŽุฎูŽู‘ุฑู’ุชู ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูุฆู’ุชูŽ ุฏูŽุนูŽูˆู’ุชู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงุฏู’ุนูู‡ู’. ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถูŽู‘ุฃูŽ ููŽูŠูุญู’ุณูู†ูŽ ูˆูุถููˆุกูŽู‡ู ูˆูŽูŠูุตูŽู„ูู‘ู‰ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุนููˆูŽ ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกู: ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุฃูŽุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ู†ูŽุจููŠูู‘ ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู. ูŠูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูุŒ ุฅูู†ูู‘ูŠ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู’ุชู ุจููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจูู‘ูŠ ูููŠ ุญูŽุงุฌูŽุชููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู„ูุชูู‚ู’ุถูŽู‰. ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ููŽุดูŽููู‘ุนู’ู‡ู ูููŠูŽู‘
Seorang buta datang kepada Nabi lalu mengatakan, โ€œBerdoalah engkau kepada Allah untukku agar menyembuhkanku.โ€ Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengatakan, โ€œApabila engkau mau, aku akan menundanya untukmu (di akhirat) dan itu lebih baik. Namun, apabila engkau mau, aku akan mendoโ€™akanmu.โ€ Orang itu pun mengatakan, โ€œDoโ€™akanlah.โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu menyuruhnya untuk berwudhu dan memperbagus wudhunya serta shalat dua rakaat kemudian berdoa dengan doa ini, โ€œYa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Muhammad Nabiyyurrahmah. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku denganmu dalam kebutuhanku ini agar ditunaikan. Ya Allah, terimalah syafaโ€™atnya untukku.โ€ (HR. Ibnu Majah no. 1385 dan Tirmidzi no. 3578. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Shalat hajat tersebut dua rakaโ€™at sebagaimana pendapat dari ulama Malikiyah, Hambali dan masyhur dalam pendapat Syafiโ€™iyah.
Waktu pelaksanaan shalat hajat tidak ada waktu khusus dan pelaksanaan dua rakaโ€™at sama seperti shalat sunnah lainnya, tidak ada tata cara khusus.
Adapun doโ€™a yang dibaca, bisa mengamalkan apa yang disebutkan dalam hadits di atas:
ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุฃูŽุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ู†ูŽุจููŠูู‘ ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู. ูŠูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูุŒ ุฅูู†ูู‘ูŠ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู’ุชู ุจููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจูู‘ูŠ ูููŠ ุญูŽุงุฌูŽุชููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู„ูุชูู‚ู’ุถูŽู‰. ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ููŽุดูŽููู‘ุนู’ู‡ู ูููŠูŽู‘
โ€œYa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Muhammad Nabiyyurrahmah. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku denganmu dalam kebutuhanku ini agar ditunaikan. Ya Allah, terimalah syafaโ€™atnya untukku.โ€
๐ŸŒฟPertanyaan 3
Jika anggota atau pihak lain yang mengajukan pinjaman pada koperasi, lalu dikenai tambahan dari koperasi, ini dihukumi riba. Karena setiap utang piutang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah haram. Itu berarti bunga dari simpan pinjam tersebut adalah riba.
Kaidah baku dalam memahami riba adalah perkataan Fudhalah bin Ubaid radhiallahu โ€˜anhu, yang mengatakan,
ูƒู„ ู‚ุฑุถ ุฌุฑ ู…ู†ูุนุฉ ูู‡ูˆ ุฑุจุง
โ€œSetiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.โ€
Demikiaan juga keterangan Abdullah bin Sallam. Beliau mengatakan, โ€œApabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi itu memberikan fasilitas layanan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.โ€ (HR. Bukhari)
Berdasarkan keterangan di atas maka apa pun bentuk kelebihan yang diberikan oleh orang yang berutang karena konsekuensi utangnya maka statusnya adalah riba, baik yang menerima itu adalah pihak perorangan atau organisasi, semacam koperasi.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Cerai Lewat BBM

โœUstadzah Nurdiana
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน                                                        
๐Ÿ“ŒAssalamuallaikum
___________________
Pertanyaan nya 
Bagaimana kalau ada suami menceraikan lwt bbm apakah sah atau tidak.selama setahun tdk mnafkahi lahir bathin.tdk ada kabar berita bahkn beredar foto2 perselingkuhannya.apa sudah sah cerai .trmksh u.jawabnnya
โฌ† pertanyaan dari ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ7โƒฃ.                                          
___________________
Jawaban nya. 
Walaikum salam.                           
Tulisan lewat BBM sebagai  pernyataan cerai berarti yaa sudah cerai/talaq.
 ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ุฌูุฏูู‘ู‡ูู†ูŽู‘ ุฌูุฏูŒู‘ ูˆูŽู‡ูŽุฒู’ู„ูู‡ูู†ูŽู‘ ุฌูุฏูŒู‘ ุงู„ู†ูู‘ูƒูŽุงุญู ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ู„ุงูŽู‚ู ูˆูŽุงู„ุฑูŽู‘ุฌู’ุนูŽุฉู
โ€œTiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius:
(1) nikah,
(2) talak, dan
(3) rujukโ€.
( HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)           
Yang harus di lakukan adalah minta klarifikasi sikap atas pernyataannya dan memfollow up legalitas status ke pengadilan agama. Supaya jelas dan tidak menggantung. 
Wa Allahu a’lam
 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Suami Istri Cerai, Apakah Tetap Wajib Menafkahi Anak Angkat?

โœUstadzah Nurdiana
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท
๐Ÿ“ŒAssalamualaikum  ustadzah….sy mau nanya, begini, misal ada sepasang suami istri yg sudah 12 thn blm dikaruniai anak krn sang istri yg ada masalah, lalu mereka mengangkat ank orang lain dr bayi untuk diasuh dan dijadikan anak kandung itu bgmn hukumnya ya…?
Tapi kemudian krn suatu hal, suami istri ini bercerai,  apakah sang suami masih berkewajiban memberi  nafkah untuk anak angkatnya itu? 
Wa  alaikumsalam.                  
Di dalam konsep ajaran Islam kalau mau mengangkat anak maka statusnya tetap sebagai anak angkat, dengan kejelasan bin dari orang tua kandungnya, dan tidak bisa berubah menjadi anak kandung, Allah berfirman  dalam QS Al Ahzab ayat 4-5 “Dan, dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri); yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggilan mereka (anak angkat) itu dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang paling adil di hadapan Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudaramu seagama dan maula-maula (hamba sahaya yang di merdekakan).”
Di jelaskan  bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dari Abu Dzar RA sesungguhnya ia mendengar RasulullaKh bersabda, “Tidak seorangpun mengakui (membangsakan diri) kepada bukan ayah yang sebenarnya, sedang ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, melainkan ia telah kufur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam fatwanya MUI memandang, mengangkat anak hendaknya tidak lantas mengubah status (nasab) dan agamanya. Misalnya, dengan menyematkan nama orangtua angkat di belakang nama si anak. Rasulullah telah mencontohkan. Beliau tetap mempertahankan nama ayah kandung Zaid, yakni Haritsah di belakang namanya dan tidak lantas mengubahnya dengan nama bin Muhammad.                            
Dalam pertanyaan diatas ternyata akhirnya mereka bercerai, siapa  ยฅฤ…ษฒวฅ menanggung nafkah si anak? Biasanya saat mereka bercerai pengadilan  ยฅฤ…ษฒวฅ menentukan apakah bapak angkat, ibu angkat atau di kembalikan ke orang tua kandungnya ini tergantung keadaan dan kemampuan serta kemauan bapak atau ibu angkatnya, Wa Allahu a’lam 
๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Wilayah Kekuasaan Turki Utsmani, Dimanakah?

โœUst. Agung Waspodo SE.MPP

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท
           
Assalamualaikum wr wb.                       
Pertanyaan nya
Mau tanya donk ustadz..
Jangkauan wilayah atau luas area kekuasaan wilayah Turki utsmaniyah dimana saja ya? 
Sukro, member ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ.                 
Jawaban nya                 
Wa alaikumus salam wr wb,Utk yg Turki Utsmani, wilayah terluas di era Sultan Sรผleyman Kanuni, 
Batas barat: Aljazair
Batas utara: perbatasan Austria
Batas selatan: Yaman dan sebagian wilayah di Mombasa, Afrika Timur
Batas timur: perbatasan Iran 
๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

BERJ-UANG (seri tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ
Ada satu pertanyaan dalam benak anak yang ingin diajukan kepada sang ayah pengembara : โ€œApa yang sebenarnya dikerjakan ayah di luar sana hingga menyebabkan jarang pulang?โ€ Tentu ayah jangan keburu sensi atas pertanyaan ini lantas buru-buru menjawab โ€Kamu mau tau aja apa mau tau bingits? Ayah di luar sibuk kerja keleeeuuss. Plis deh ahโ€. Jreng jreng. Ini mah bukan jawaban ayah pengembara. Ini komen Alay penggembira yang biasa kita saksikan setiap pagi di tayangan musik stasiun TV swasta. Ye ye ye..la la la.
๐Ÿ”…Mengapa anak bertanya hal demikian? Mereka hanya ingin tahu seberapa worth it aktivitas ayah di luar hingga harus meninggalkan mereka. Naluri kecemburuan mendasari pertanyaan ini. Sebab hakikatnya setiap anak ingin senantiasa diperlakukan istimewa dan spesial meskipun gak harus pakai telor dan karetnya dua. Apa sih? Emangnya nasi goreng? Hehe. 
Mereka senantiasa menginginkan hanya diri merekalah yang jadi prioritas dari lelaki yang mereka sebut dengan ayah. Itulah kenapa rasa ingin tahu mereka akan aktivitas ayah di luar terasa amat penting. Untuk membandingkan apakah tak hadirnya ayah di rumah benar-benar memiliki nilai.
๐Ÿ”…Karena itu, aktivitas ayah pengembara amat mempengaruhi persepsi anak. Jika anak mengetahui ayah di luar sekedar hura-hura, berburu kesenangan demi kepuasan diri semata, semakin anak merasa tak berharga. Ayah akan dipersepsikan sebagai sosok yang cuek, egois dan tak peduli keluarga. Namun jika ayah yang tak pulang-pulang ini terdengar kabar sebagai pejuang dalam bidangnya masing-masing, bahkan namanya masyhur dibicarakan berbagai kalangan akan kegigihan dan usahanya, dibarengi dengan berderetnya penghargaan akan prestasi ayah, inilah ayah yang mengagumkan. Ayah telah membuat bangga akan dirinya. Mengharumkan nama keluarga. Hingga tanpa sungkan ia sebut dan  pamerkan aktivitas sang ayah di hadapan kawan-kawannya.
๐Ÿ”…Belajarlah dari sosok ayah bernama Farukh. Seorang daโ€™i sekaligus mujahid di masa tabiโ€™in. Tuntutan iman dan kerinduannya untuk mati syahid โ€˜memaksaโ€™ ia harus tinggalkan anak yang masih dalam kandungan istrinya. Tak tanggung-tanggung. Ia tinggalkan rumah hingga hampir 30 tahun lamanya. Itu artinya selama 30 kali lebaran ia gak pulang-pulang. Ini lebih dahsyat daripada bang thoyyib yang baru 3 kali lebaran gak pulang. Jadi buat pemerhati bang thoyyib harap sabar menanti kedatangannya.
Sang anak pun tumbuh dan besar tanpa sosok ayah. Masa kecil dan remaja dilalui hanya lewat sentuhan ibu. Namun ketidakhadiran ayah di sisi ia maklumi. Bahkan mengundang puji. Seiring dengan kabar beredar bahwa sang ayah adalah mujahid yang luar biasa, pejuang tangguh dan pembela agama nomor wahid di zamannya. Jadilah sang anak berupaya mengikuti jejak ayah. Berjuang dengan cara yang beda tanpa perlu angkat senjata. Ia dikenal sebagai pendidik umat lewat ilmunya yang menderas. Dialah Rabiโ€™ah Ar Raโ€™yi. Guru dari Imam Malik, Sufyan Tsauri dan ulama besar lainnya. Sosok ayah yang bertahun-tahun tak hadir menjadi inspirasi bagi sang anak meski tak pernah bersua. Sebab ia tahu, ayah meninggalkan rumah bukan sekedar mencari UANG tapi lebih luhur dari itu yakni berjUANG.
Disinilah kata kuncinya. Ayah pengembara punya misi besar yakni untuk berjUANG. Ada kata โ€œberjโ€ yang disandingkan dengan kata โ€œuangโ€. Kalau mau dicari-cari maknanya, meskipun terkesan maksa, kurang lebih begini : โ€œBerjโ€ ini mirip bunyinya dengan โ€œBurjโ€. Artinya menara yang tinggi. Digandengkan dengan kata โ€œuangโ€. Kesimpulannya, kalau ayah mau dapat uang harus bekerja di menara yang tinggi ya? Hellow…kamu bukan herp atau cak lontong kan? Ini serius nih. Saya lagi mau berfilosofi. Maksudnya begini, seorang Ayah seharusnya selain bertanggung jawab mencari uang juga dituntut untuk mengukir nama sekaligus prestasi yang menjulang tinggi bagai menara. Semakin tinggi prestasi yang dibuat sekaligus nama baik yang diukir, makin membuat anak kagum dan bangga. Inilah kompensasi yang adil dan setara atas ketidakhadiran ayah di sisi anak khususnya dalam rentang waktu yang lama.
Jangan sampai justru kabar yang sampai ke telinga anak adalah tentang โ€˜kenakalanโ€ ayah di luar. Ayah terkenal sebagai pribadi yang suka berbohong, korupsi, main perempuan, menipu banyak orang, menyakiti kawan dan dibenci rekan sekerja karena sikapnya yang menyebalkan. Ditambah dengan tak ada satupun prestasi yang diukir ayah dalam bidangnya. Bahkan sering gagal dalam tugas. Ini ayah pecundang. The loser. Hal tersebut menjadikan anak layaknya peserta MOS. Tercoreng-moreng wajahnya dengan arang seraya memakai topi yang terbuat dari panci. Digantungi karton bertuliskan โ€œaku anak idiotโ€ dengan tali rafia berumbai-rumbai. Dengan kata lain, perilaku ayah di luar tersebut hanya membuat anak super duper malu. Dan inilah yang membuat rasa respect kepada sosok ayah menjadi sirna.
๐Ÿ”…Agar anak senantiasa menjadikan ayah sebagai figur utama, maka ukirlah prestasi dengan cara terhormat dalam bidang yang ayah geluti. Tunjukkan bahwa ayah selagi di luar bukan cuma untuk senang-senang namun sedang berjuang. Setiap keberhasilan dan prestasi yang ayah peroleh di luar akan tersiar ke rumah hingga menjadi pesan pengasuhan bagi anak meski bukan berasal langsung dari lisan ayah. Kalau perlu pajanglah segala foto, penghargaan dan sertifikat yang ayah miliki berikut pernak-pernik perkakas yang dipakai selama berjuang. Dari situ anak belajar akan nilai kesungguhan, kerja keras, pengorbanan dan kemanfaatan kepada sesama. Ini amat berpengaruh dalam perjalanan hidup sang anak.
Ayah pengembara punya tekad untuk menjaga nama baik keluarga selagi di luar. Hindari perilaku yang tak terhormat. Sebab jika ayah membuat malu keluarga karena sikap yang tak elok, anak akan kecewa, malu dan minder. Hati mereka menjerit seraya berkata โ€œaku tuh gak bisa dibeginiinโ€. Sambil ngambil tissue basah. Plis ayah, jaga kehormatanmu dimanapun berada selain juga jaga dompetmu agar isinya selalu utuh begitu tiba di rumah. Anak pun menyambut sumringah begitu ayah tiba. Mereka bersenandung gembira : akhirnya bang thoyyib pulang juga
Ahay. Buat yang kasmaran, ini tema udah lama ditunggu-tunggu kayaknya. Sementara bagi jomblo, judul tulisan ini aja udah menyiksa.  Rentan untuk dibully. Apa coba yang dekat dengan hati mereka? Paling ya lambung atau paru-paru dikelilingi usus besar dan usus kecil hehe…Padahal semestinya gak perlu baper. Tulisan ini masih lurus kok ngebahas relasi antara ayah dan anak. Bukan ngebahas jomblo dan jodohnya yang udah beberapa kali lebaran gak kunjung datang. Jadi santai aja vrooh..
Lagipula apa yang dirasakan oleh jomblo, dirasakan juga oleh ayah pengembara. Mereka hidup sendiri jauh dari keluarga. Meski gak sampai ngenes jejeritan, kebayang  kan bagaimana sang AYAH menjalani malam? Hanya berteman guling dan bantal. Sekalinya nyamuk datang beramai-ramai dianggap hiburan agar malam tak kesepian. Namun yang membedakan, sang ayah hatinya masih tertambat ke rumah. Kalau jomblo? Tertambat ke gadget biasanya. Betah mantengin layar berjam-jam sambil berharap akan ada aplikasi โ€œdownload jodohโ€ di playstore #eaaa.  
Bagi ayah pengembara, berlama-lama di luar tentu amat menyiksa. Ada buah hati yang dirindukan, selain istri tentunya. Konon katanya, anak itu lebih ngangenin dibandingkan istri. Sebab anak sudah cukup bahagia jika pulang dihadiahkan balon. Sementara Istri mesti dibawain I-Phone. Kalau anak lagi sedih, cukup dipeluk dan diajak bermain. Sementara istri harus dipeluk dan diajak belanja. Beda kan?
Meski terpisah, lewat kejauhan, sosok AYAH pengembara masih bisa jalankan peran. Yakni tetap terpaut hati dengan si anak meski raga terpisahkan. Dimana anak merasakan kehadiran AYAH walau tak ada di sisinya.
Bagaimana caranya? Kita bisa belajar dari sosok AYAH luar biasa yang mencetak pemimpin hebat yang digelari oleh rakyatnya sebagai Khalifatur Rasyidin yang kelima yakni Umar bin abdul aziz. Sang AYAH, Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang birokrat. Khalifah saat itu menunjuknya menjadi gubernur di Mesir. Sementara ia dan keluarganya telah lama bermukim di Madinah. Sebagai pribadi yang bertanggungjawab maka ia tunaikan amanah tersebut hingga tuntas. Gak tertarik ikut pencapresan. Sebab ia tak butuh pencitraan. Meski konsekuensinya ia harus rela tinggalkan anaknya seorang diri di Madinah, jauh dari pengawasannya. Sebab hanya istrinya saja yang boleh ia bawa ke Mesir.
Sebagai AYAH yang peduli, ia tak ingin anaknya melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia tahu ia sulit membagi waktunya sebagai abdi negara, khususnya dalam mengajarkan pendidikan agama kepada sang anak. Karena itu, ia menunjuk seorang ulama ternama di Madinah saat itu, sebagai guru sekaligus mentor spiritual bagi anaknya. Ulama itu bernama Syaikh Sholih bin Kaisan.
Saat hendak berangkat ke Mesir untuk tunaikan tugas hingga waktu yang lama, ia meminta kepada Syaikh Sholih tuk ajarkan anaknya agar selalu sholat tepat waktu. Hal ini atas dasar keyakinan sang AYAH bahwa sholat adalah pilar awal pembentukan karakter seorang anak. Jika sholatnya baik, maka amal yang lain pun baik. Dan jika sholatnya buruk, perilaku yang lain pun buruk. Dan demi memantau pendidikan anaknya, ia meminta Syaikh Sholih melaporkan jika ada perilaku anaknya yang harus ia evaluasi.
Setibanya dii Mesir, hari-harinya disibukkan dengan mengurus rakyatnya. Hingga suatu hari datanglah sepucuk surat Syaikh  Sholih yang memberi kabar yang tak ia sukai. Anaknya, Umar, mulai punya kebiasaan buruk yakni suka menunda-nunda sholat hingga selalu masbuk dalam sholat berjamaah. Demi mendapatkan informasi yang benar, maka Syaikh Sholih diminta untuk datang ke Mesir menceritakan ihwal anaknya.
Begitu tiba di Mesir, Syaikh Sholih berujar โ€œAnakmu memiliki rambut panjang. Ia suka sekali menyisir rambutnya hingga melalaikannya dari waktu sholatโ€ Setelah paham akan apa yang terjadi, maka sang AYAH menulis surat untuk anaknya, Umar. โ€œNak, bersamaan dengan surat ini, AYAH mengutus tukang cukur khusus dari Mesir untuk membotaki kepalamu agar kamu tak lagi terlambat sholatโ€
Alhasil, Umar bin Abdul Aziz muda pun langsung dibotaki begitu Syaikh Sholih tiba di Madinah. Ia  merasakan kehadiran AYAHnya lewat hukuman tersebut. Kepalanya yang plontos menjadi pengingat bahwasanya sang AYAH ternyata terus memantaunya dari kejauhan meski lewat berita yang disampaikan gurunya. Inilah contoh AYAH yang jauh di mata dekat di hati. Umar yang terlena dengan rambutnya yang membuat ia terlambat sholat harus merelakan rambutnya dicukur habis. Zaman sekarang banyak anak muda yang terlambat sholat karena sibuk ngurus batu akik, main HP atau motor kesayangannya. Kisah Umar tadi bisa jadi inspirasi buat AYAH di zaman ini apa yang semestinya dilakukan.
Kata kunci agar AYAH pengembara senantiasa dekat di hati anak adalah mengetahui kondisi anak dalam berbagai situasi. Jika dahulu, AYAH dari Umar mendapatkan kiriman informasi lewat kiriman surat, maka di zaman sekarang tentunya lebih mudah. AYAH bisa memantau anak lewat social media. Ataupun mendapatkan kabar dari istri via gadget lewat kiriman gambar atau Video. Intinya AYAH tetap tahu perkembangan anaknya setiap saat, setiap waktu.
Jangan sampai ada kejadian ketika AYAH kembali ke rumah dari pengembaraannya, mendadak diminta istri mengambil raport anak. Sang AYAH pun menyanggupi. Dengan pede berangkat ke sekolah anak dan masuk ke dalam kelas. Hingga selesai pengambilan ternyata nama anak gak juga dipanggil. AYAH lantas buru-buru menelpon istrinya seraya mengomel,
โ€œMah, gimana sih? Kok dari tadi papa gak dipanggil guru kelasnya?โ€
โ€œLho, memang papa dimana sekarang?โ€
โ€œPapa di ruangan kelas 2Aโ€
โ€œDuh papa, anak kita sekarang udah kelas 6โ€
Duaaarr…Malu bener kan? So, jadilah AYAH pengembara yang selalu update akan perkembangan anaknya. Dan bertindaklah jika ada sesuatu yang dirasa โ€œistimewaโ€. Jika diperoleh info bahwa anak sukses dalam suatu bidang, segeralah jadi orang pertama yang mengapresiasi. Atau jika anak melakukan tindakan yang tak pantas, biarlah AYAH yang bertugas mengeksekusi tuk anak kembali ke jalan yang benar. Sekali lagi, dari jauh AYAH tetap bisa mengasuh. Modalnya cuma koleksi informasi tentang anak. Meski resikonya AYAH akan dicap sebagai AYAH kepo. Takpapa. Sebab ketahuilah di dalam kepo ada kepodulian (maksa!). Dan inilah AYAH yang dibanggakan 
(bersambung)
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mengambil Pelajaran dari Kisah Kematian

๐Ÿ“ Pemateri: Rochma Yulika

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Oleh: Rochma Yulika

Sungguh seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kebiasaannya.

Pernahkah kita mendengar banyak kisah tentang itu? Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

๐ŸŒทKisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H). Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :
Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154).

๐ŸŒทKisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H). Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatam kan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383).

๐Ÿ’ฆAhli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatam kan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali. Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kaliโ€ฆ..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini. waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi.

๐ŸŒทKisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair. Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah:

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, โ€œPegang tanganku ke mesjid!!โ€ merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” ,

Diapun berkata,โ€Aku mendengar muadzin mengumandang kan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku ! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142).

๐ŸŒทPun Anas bin Nadzir yang melihat surga di kaki bukit Uhud. Kematian yang spektakuler. Salah satu kisah yang tidak gentar menjemput kematian karena keyakinan atas janji Allah bagi orang-orang yang mati dalam jihad fi sabilillah.  Seperti halnya yang dialami Anas bin An-Nadhir yang disebabkan oleh kekuatan dan keyakinannya, membuat Anas bin An-Nadhr r.a, paman Anas bin Malik r.a. memberikan respons spontan kepada Saโ€™ad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di Perang Uhud dengan ucapannya,
“Ya Saโ€™ad! Surga, surga…. Aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.”

 Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya melalui jari tangannya. (Muttafaq Alaih, Riyadhus Shalihin, Kitab Al Jihad, Hadits No 1317).

๐Ÿ’ฆImam Al-Qurthubi berkata:
โ€œKetahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk seantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.โ€

๐ŸƒIblis akan berusaha menggangu manusia meski saat ajal menjelang hingga terlepasnya nyawa. Apakah kita akan mendapatkan kemenangan atau kekalahan.

๐Ÿ’ฆBerharap akan mendapatkan kebahagiaan kala perjumpaan dengan Rabb semesta alam.

Surga nan indah yang dicitakan kan dapat diraih. Wajah-wajah cerah pada hari kala berkumpul bersama saudara seiman.

Semoga semua kan jadi kenyataan.

Aamiin.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…