Dalil Haramnya Memilih Pemimpin Non Muslim

✏Ustadz Dr. Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Assalaamu ‘alaikum Wr.Wb.
Mohon materi pencerahan tentang hukum haramnya memilih pemimpin non muslim.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..
[MaNis_A13]
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Sehubungan dengan pertanyaan Ibu, silahkan dapat mendownload karya ilmiah Dr. Syamsuddin Arif (Direktur INSISTS) dalam link berikut ini: http://is.gd/VZHKNJ
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Memanggil Istri dengan Sebutan “Ummi” Termasuk Zihar?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Assalamu’alaikum Ustadz. Ada pertanyaan dari Niha khomsi #A 29
Temanku memberitahu tafsir Qs. 58 ayat 2- 4… kata nya termasuk memanggil istri dengan kata ibu, ummi, emak dll sama dengan zihar di ayat tersebut.
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Allah Swt berfirman,
وَٱلَّذِينَ يُظَـٰهِرُونَ مِن نِّسَآٮِٕہِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّا‌ۚ ذَٲلِكُمۡ تُوعَظُونَ بِهِۦ‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬
“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka [wajib atasnya] memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah/58:2)
Al Imam Ibn Jarir ath-Thabari menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa maksudnya adalah orang yang mengharamkan istrinya untuk dirinya, sebagaimana Allah mengharamkan punggung ibu mereka untuk mereka, sehingga mereka mengatakan kepada istri mereka, “Kamu bagiku bagaikan punggung ibuku!”, dan ini adalah bentuk thalaq pada masa Jahiliyah.
Untuk lebih memahami persoalan ini, Al Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya memasukkan satu riwayat dari Imam Ahmad dengan sanad sampai kepada Khaulah binti Tsa’labah r.a., yang mengalami ‘thalaq’ dari suaminya yang marah kepadanya saat Khaulah r.a. tidak mau melayaninya, sehingga Khaulah r.a. pergi menemui Rasulullah Saw., dan turun ayat 1-4 dari Surat Al-Mujadilah, dan mewajibkan kepada suami Khaulah r.a. untuk membayar kafarat. Inilah kisah seorang wanita yang aduannya didengar Allah Swt.
Dari kisah di atas dapat kita ambil key-term, istilah-kunci-nya adalah niatan menthalaq di atas kemarahan yang memuncak.
Pertanyaan Ibu adalah bagaimana jika seorang suami yang justru memanggil suaminya dengan kasih sayang: ‘ummi’, maka ini tidak memenuhi syarat thalaq di atas, namun tentu ini bukan kebiasaan Nabi Saw., maka hendaknya suami dapat memanggil dengan nama atau panggilan tersayang lainnya.
Wallahu a’lam,
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🍁🍀🌸🍄🌻🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bagaimana Hubungan Alam Kubur dengan Alam Dunia?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Pertanyaan:
Assalamualaikum..
1. Mau tanya, gimana caranya menasihati teman non muslim yang hobi bergunjing? Karena dia yg paling rame, sangat mendominasi pembicaraan saat ngumpul, dan karakternya sangat sensitif.
-🅰1⃣3⃣-
2. Bagaimana hubungan alam kubur dengan alam dunia. Apakah orang yang sudah meninggal masih dapat menyaksikan keluarganya yang masih hidup. Terima kasih.
A12
Jawaban:
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
1. Bergunjing adalah perbuatan buruk, tanpa melihat latar belakang apakah seseorang itu muslim ataupun non-Muslim. Tentunya yang dapat kita lakukan adalah mengingatkan dengan bijak penuh hikmah dan disampaikan dengan penuh kasih sayang. Peringatan kepada manusia untuk bergunjing ada dalam Kitab Injil dengan redaksi yang cukup banyak, maka hendaknya jika mereka mengaku sebagai pencinta Nabi Isa a.s., maka ikutilah ajarannya untuk tidak bergunjing, karena kaum Muslimin akan sentiasa menjaga lisannya dari bergunjing sebagaimana Nabi Isa a.s., dan penutup para Nabi, Nabi Muhammad Saw.
2. Pertanyaan ini termasuk pertanyaan keghaiban. Dalam beberapa nash yang shahih, dimungkinkan ruh seseorang yang telah wafat bertemu dengan keluarganya melalui mimpi dalam sebagian pendapat terhadap firman Allah Swt.,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)
Ruh seseorang juga dalam beberapa kehendak Allah (belum tentu berlaku umum) dapat mendengar dan mengetahui keluarganya, namun tidak bisa menjawab, sebagaimana sabda Nabi Saw.,
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ وَهُوَ ابْنُ الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا مَعَ عُمَرَ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ أَخَذَ يُحَدِّثُنَا عَنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُرِينَا مَصَارِعَهُمْ بِالْأَمْسِ قَالَ هَذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ غَدًا قَالَ عُمَرُ وَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا أَخْطَئُوا تِيكَ فَجُعِلُوا فِي بِئْرٍ فَأَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَادَى يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانٍ يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانٍ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَإِنِّي وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي اللَّهُ حَقًّا فَقَالَ عُمَرُ تُكَلِّمُ أَجْسَادًا لَا أَرْوَاحَ فِيهَا فَقَالَ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ
Telah mengabarkan kepada kami [‘Amru bin ‘Ali] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Al Mughirah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Tsabit] dari [Anas] dia berkata; “Kami pernah bersama [Umar] berada di antara Mekkah dan Madinah, ia segera bercerita kepada kami tentang orang-orang yang meninggal dunia pada perang Badar. Lalu ia berkata; ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar memperlihatkan kepada kami tempat terbunuh mereka kemarin, beliau bersabda: ‘Ini adalah tempat terbunuh si fulan – insya Allah – besok.’ Umar berkata; ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, apa kesalahan mereka itu sehingga di masukkan ke dalam sumur?. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka seraya memenggil, ‘Wahai fulan bin fulan, Wahai fulan bin fulan, Apakah kalian benar-benar mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian? Sungguh benar-benar aku telah mendapatkan yang dijanjikan Allah kepadaku.’ Umar lalu berkata; ‘Engkau berbicara dengan jasad yang tidak ada ruhnya? ‘ maka beliau bersabda: ‘Kalian tidak lebih mendengar dari mereka terhadap apa yang ku katakan’.” (HR. Bukhari No. 2047)
Namun begitu, para ulama menasihati kita untuk tidak terlalu detail membahas persoalan ghaib ini, membahas persoalan satu alam dimana ruh seorang manusia berada antara dua kemungkinan, kenikmatan ataupun adzab kubur. Mari kita lebih fokuskan pada upaya kita meraih kenikmatan hidup di alam kubur dalam masa transisi menuju Yaumul Qiyamah, dan meraih kebahagiaan hakiki di Jannah. Amiin.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Jika Mantan Istri Menikah Lagi Apakah Hak Asuh Anak Bisa Diambil Ayahnya?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wrwb.
Teman saya bercerai dengan suaminya sekitar 4 tahun yang lalu, walaupun tidak ada perjanjian tertulis anak perempuannya ikut dengan dia dan sewaktu-waktu ikut ayahnya ketika libur sekolah. Suaminya sudah menikah lagi dan sedang menantikan anak keduanya. Teman saya ini masih sendiri dan takut untuk menikah karena dulu suaminya pernah bilang kalau dia menikah maka anaknya akan diambil suaminya, dia tanya apakah ini ancaman kalau dia tidak boleh menikah lagi, tapi suaminya bilang kalu ada dalil-dalil dalam Islam yang menyatakan kalau mantan istri menikah lagi maka hak asuh bisa diambil ayahnya, padahal yang dia tahu secara hukum kalau anaknya belum 17 tahun maka harus ikut ibu. Apakah benar ada hadits/dalil yang menyatakan kalau mantan istri menikah lagi maka hak asuh anak akan jatuh pada ayahnya,  sedangkan selama ini porsi pengasuhan lebih banyak pada ibunya. Terimakasih
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Sebelumnya kami berdo’a agar Allah Swt memberikan kekuatan dan kesabaran kepada Ibu agar sentiasa tetap istiqomah di jalan Allah Swt., jalan kebahagiaan, kebenaran, dan cahaya.
Ibu, Nabi Saw., telah bersabda,
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ السُّلَمِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ أَبِي عَمْرٍو يَعْنِي الْأَوْزَاعِيَّ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي
Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Khalid As Sulami], telah menceritakan kepada kami [Al Walid] dari [Abu ‘Amr Al Auza’i], telah menceritakan kepadaku [‘Amr bin Syu’aib], dari [ayahnya] dari [kakeknya yaitu Abdullah bin ‘Amr] bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku adalah tempatnya, dan putting susuku adalah tempat minumnya, dan pangkuanku adalah rumahnya, sedangkan ayahnya telah menceraikannya dan ingin merampasnya dariku. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah. (HR. Abu Daud No. 1938)
Dari hadits di atas, Ibu didahulukan untuk mengasuh seorang anak pasca sebuah perceraian, karena umumnya Ibu memiliki seluruh sifat kasih sayang yang dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan.
Bagaimana jika Ibu kemudian menikah lagi? Dalam hal ini, pengasuhan anak tidak mutlak harus kemudian dipindahtangankan ke suami, namun diutamakan dapat diberikan kepada suami hingga ia dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun begitu, prinsip kunci yang harus tetap dipegang dalam hal ini adalah pemenuhan penuh atas kebutuhan anak, yakni kasih sayang fisik, dan itu sama sekali tidak berkorelasi dengan harta. Maka sebaiknya didiskusikan antara ibu dan mantan suami, dalam fokus diskusi bagaimana agar pemenuhan atas kasih sayang ini terpenuhi. Kegagalan dalam hal ini akan berkontribusi dalam melahirkan anak yang kehilangan kasih sayang, dan turunan derivasinya cukup panjang untuk dibahas dalam kesempatan ini. Yang jelas, ayah dan ibu, harus menyadari pentingnya melahirkan anak yang shalih dan berbakti kepada keduanya, dan ini membutuhkan kerjasama kedua belah pihak, bukan egoisme masing-masing agar terlahir prinsip ta’awun, saling melengkapi antara ayah dan ibu dalam mendidik anak, meskipun tidak lagi dalam satu ikatan suci pernikahan yang sah.
Semoga Allah Swt memudahkan seluruh urusan Ibu. Amiin.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bolehkah Isbal?

✏ Ustadz Farid Nu’man
🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹
Pertanyaan:
📕🔴Dari Ibnu Umar ra berkata: Nabi SAW bersabda, “Barang siapa menurunkan kainnya dibawah mata kaki karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat”
Maka Abubakar ra bertanya, “Ya, Rasulullah, kainku selalu turun kebawah mata kaki, kecuali jika kujaga benar-benar” Nabi SAW bersabda, “Engkau tidak berbuat itu karena sombong” 
(HR. Bukhari & Muslim)
Pertanyaannya : jadi, apakah dibolehkan tdk isbal, jika itu dilakukan krn tidak sombong?
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sering kita melihat sesama aktifis Islam saling serang hanya karena perselisihan pemahaman fiqih semata, termasuk isbal (pelakunya disebut musbil) ini. Biasanya sikap keras dilancarkan oleh pihak yang memahami bahwa isbal itu haram walaupun tanpa rasa sombong. Sementara pihak yang diserang pun tentunya memberikan pembelaan dengan berbagai hujjah yang mereka miliki. Akhirnya, bukan masalah ini saja dan ini bukan yang terakhir, para aktifis Islam berputar-putar pada masalah yang memang sejak lama para ulama berselisih, mereka hanyalah melakukan siaran ulang saja. Sementara, banyak amal-amal pokok dan produktif menjadi tertinggal.
🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹 
Dipersembahkam oleh: 
www.iman-islam.com 
💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (9) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

📆 Selasa,  6 Jumadil Akhir 1437H / 15 Maret 2016
📚 Fiqih dan Hadits
📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
📚Hadits ke 9:
وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “أَنْ تَغْتَسِلَ اَلْمَرْأَةُ بِفَضْلِ اَلرَّجُلِ, أَوْ اَلرَّجُلُ بِفَضْلِ اَلْمَرْأَةِ, وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَالنَّسَائِيُّ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
📌                Dari seorang laki-laki, sahabat NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang seorang wanita mandi dengan air  sisa yang dipakai laki-laki, atau seorang laki-laki terhadap air sisa yang dipakai wanita, dan hendaknya mereka menyiduk air bersama-sama.” Dikeluarkan oleh Abu Daud, An Nasa’i, dan isnadnya shahih.
📚Takhrij Hadits:
-🔹          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 81, dan ini adalah lafaz beliau
-🔹          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 238
-🔹          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 23132
-🔹          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 869
📚Status Hadits:
-🔹          Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab ini: shahih.
-🔹          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. (Ta’liq Musnad AhmadNo. 23132)
-🔹          Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Shahih wa Dhaif  Sunan At Tirmidzi No. 238)
📚Kandungan Global hadits ini:
                Hadits ini memiliki beberapa  pelajaran:
📋1⃣ .       Hadits ini diriwayatkan dari seorang sahabat nabi yang tidak disebutkan siapa dia?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
وهو مجهول لكن جهالة الصحابي لا تضر لأن الصحابة كلهم ثقاة كلهم لا يمكن أن يكذب عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم
📌Dia tidak diketahui, tetapi tidak diketahuinya identitas seorang sahabat nabi tidaklah mengapa, karena semua sahabat nabi adalah terpercaya, tidak mungkin mereka mendustakan riwayat dari RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘Ala Bulughil Maram, 2/7)
Lalu, siapakah sahabat nabi ? Telah banyak penjelasan dari para ulama, di antaranya tercatat dalam Al Qamus Al Fiqhiysebagai berikut:
                Imam Al Jurjani Rahimahullahmengatakan:
من رأى النبي صلى الله عليه وسلم، وطالت صحبه، وإن لم يرو عنه
📌Siapa saja yang melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bersahabat dalam waktu yang lama, walau pun mereka tidak meriwayatkan hadits darinya.  
                Pendapat ahli hadits, mayoritas ahli fiqih baik salaf dan khalaf, dan yang shahih dari Madzhab Syafi’iyah, Hanabilah, dan Ibadhiyah, sahabat nabi adalah:
هو كل مسلم رأى النبي صلى الله عليه وسلم، سواء جالسه، أم لا.
📌                Dia adalah setiap muslim yang melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sama saja apakah dia pernah duduk bersamanya atau tidak.
                Imam Sa’id bin Al Musayyib Radhiallahu ‘Anhu (menantu Abu Hurairah), menjelaskan:
من أقام مع النبي صلى الله عليه وسلم سنة، فصاعدا، أو غزا معه غزوة.
📌Siapa saja yang menetap bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama setahun atau lebih atau berperang bersamanya dalam sebuah peperangan. 
Menurut madzhab Malikiyah:
من اجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم في حياته، مؤمنا به، ومات على ذلك.
📌Siapa saja yang berkumpul bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, dia mengimaninya, dan mati dalam keadaan demikian.
Sebagian ahli ushul mengatakan:
من لقي النبي صلى الله عليه وسلم مسلما، ومات على الاسلام، أو قبل النبوة ومات قبلها على الحنفية، كزيد بن عمرو بن نفيل، أو ارتد وعاد في حياته.
📌Siapa saja yang berjumpa NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai seorang muslim, dan dia mati dalam Islam, atau dia hidup sebelum masa kenabian dan mati sebelum masa kenabian dalam keadaan agama yang hanif, seperti Zaid bin Amru bin Nufail, atau orang yang murtad dan kembali kepada Islam pada masa hidupnya (Nabi).(Lihat Syaikh Sa’diy Abu Jaib, Al Qamus Al Fiqhiy, Hal. 208. Cet. 2, 1988M. Darul Fikr)
Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim menjelaskan:
من رآه ولو لحظة وهو مؤمن به ومات على الإسلام
📌Siapa saja yang melihatnya walau sesaat dan dia mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Syarh Bulughul Maram, 7/178)
Sedangkan mayoritas ulama terdahulu dan belakangan mengatakan:
هو أن الصحابي من لقى النبي صلى الله عليه وسلم مؤمنا به ومات على الاسلام
📌Sahabat nabi adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Imam Al ‘Ijliy, Ma’rifah Ats Tsiqat, hal. 95. Cet. 1, 1985M-1405H. Maktabah Ad Dar)
Dan inilah definisi yang anggap kuat oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, 1/7)
📋2⃣ .       Dalam hadits ini terdapat larangan bagi kaum laki-laki (suami) untuk mandi dengan berendam menggunakan air sisa kaum wanita (istri), dan sebaliknya.   Tetapi, menurut sebagian ulama larangan ini adalah untuk pendidikan saja, bukan menunjukkan haram. Melainkan sebagai bimbingan kepada suami istri agar lebih melahirkan keakraban di antara mereka berdua.
Berikut ini keterangannya:
أن النبي – صلى الله عليه وسلم -نهى أن يغتسل الرجل بفضل المرأة أو المرأة بفضل الرجل وليغترفا جميعا هذا هو الأفضل والمشروع يعني مثلا رجل وزوجته عندهما إناء يمكن أن يغتسل الرجل قبل المرأة ثم تأتي المرأة فتغتسل أو تغتسل المرأة ثم يأتي الرجل فيغتسل فنهى النبي – صلى الله عليه وسلم – نهي إرشاد لا نهي تحريم وأمر بحال أفضل من هاتين الحالتين وهى أن يغترفا جميعا فيجلس الرجل إلى جانب الإناء والمرأة إلي الجانب الأخر لأن هذا أوفر للماء وأجمع للقلب وأشد للمحبة بين الزوجين ولهذا أرشد النبي – صلى الله عليه وسلم -إلى ذلك
📌Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang seorang suami mandi dengan bekas air istrinya, atau seorang istri memakai sisa air laki-laki, dan hendaknya mereka berdua menyiduk air bersama-sama. Inilah yang lebih utama yakni dan disyariatkan, yakni misalnya seorang suami dan istrinya  yang memiliki   sebuah bejana yang memungkinkan suami mandi dulu sebelum istrinya, kemudian datang istrinya lalu dia mandi, atau si istri mandi duluan kemudian datang suaminya lalu dia mandi, maka larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah larangan untuk bimbingan bukan larangan pengharaman, atau Beliau memerintahkan  cara yang lebih utama dibanding dua cara tersebut, yakni dengan menyiduk bersama-sama. Si suami duduk di hadapan bejana dan si istri di sisi lainnya, karena hal ini  bisa mengambil air lebih banyak, menyatukan hati, dan menguatkan cinta di antara suami istri. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membimbing ke arah sana.     (Asy Syarh Al Mukhtashar, 2/7)
Ulama lain ada yang memahami bahwa larangan ini adalah benar adanya, tetapi makruh tanzih, sebagaimana penjelasan nanti. Ada pula yang mengatakan bahwa larangan ini adalah larangan menggunakan air bekas yang terjatuh dari anggota badan.
📋3⃣ .       Al Fadhl secara bahasa artinya lebih. Maka, dalam konteks pembahasan ini, Fadhl adalah air lebih yang berada di dalam wadah (bak, ember, kolam kamar mandi) yang sebelumnya dipakai mandi. Bukan air menetes dari anggota tubuh, kalau itu dinamakan air musta’mal.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimana Infaq yang Benar?

✏ Ustadz Farid Nu’man

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Pertanyaan Korma 5
Assalamu ‘alaikum wrwb.

1. Member MANIS A23
Bagaimana seharusnya menurut syari’at tentang pembayaran infaq, sedekah dan zakat apakah setelah pemotongan kebutuhan tiap bulan atau disisihkan dl untuk infaq, sedekah dan zakat?

🍃🍃🌾🌾

📌 Sedekah dan Infaq ada sedikit perbedaan. 📌Sedekah itu ibadah harta dan non harta
📌 Utk yg harta, seperti ayat: khudz min amwaalihim shadaqatan – ambillah dr harta mereka sedekahnya (zakat) ..

📌Dalam hadits Abu Daud, Ahmad, dll, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, Beliau bertanya: ayyu shadaqah afdhal? – sedekah apa yang paling baik?, nabi menjawan: saqiyul maa’ – memberikan air.

📌 untuk yg non harta, sebagaimana dalam beberapa hadits, misal dlm Shahih Muslim: inna fi budh’i ahadikum shadaqah – dikemaluan kalian ada sedekah. Atau dalam Shahih Bukhari: kalimatuth thayyibah shadaqah – perkataan yang baik adalah sedekah.

📌 Sedangkan infaq adalah ibadah harta saja. Seperti ayat: wa mimma razaqnaahum yunfiquun – dan orang2 yang menginfakan apa yang Kami rezekikan …

📌atau hadits doa malaikat: Allahumma a’thi munfiqan khalafa – Ya Allah, berikanlah ganti bagi org yg berinfaq. HR. Bukhari

📌 Persamaannya adalah pada keduanya ada yang WAJIB dan SUNNAH.

📌 Yang Wajib seperti zakat dan belanja dari suami kepada istri, juga sedekah yg  dinadzarkan, kaffarat, dan semisalnya.

📌 yang Sunnah, seperti sedekah dan infaq kpd org yang sdg kesulitan, sumbangn membangun masjid, dll.

📌 mana yang di dahulukan? Maka yg wajib didahulukan dibanding yang sunnah

📌 Jika sama2 wajib, seperti zakat dan nafkah kpd keluarga, maka zakat didahulukan, sebab sedekah yang membawa manfaat pribadi dan org banyak secara bersamaan didahulukan dibanding sedekah yg bermanfaat utk diri sndiri. TAPI ini terjadi jika sudah NISHAB dan HAUL,  jika belum maka kebutuhan keluarga didahulukan.

Wallahu a’lam

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia..

Bagaimana Sebenarnya Asuransi Syariah Itu?

✏Ust. Rikza Maulana Lc. M.Ag
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷
🖍Assalamualaikum ustadz/ah…
1) Tentang kehalalan asuransi syariah..banyak yg meragukannya..pertanyaannya : bgmn sebenarnya asuransi syariah itu?dan bila meragukan..dimana letak keraguannya? Mohon penjelasannya.
2) ttg bermain saham, kehalalan dan keharamannya
3) tentang reksa dana, menurut sudut pandang islam.    
member 🅰0⃣7⃣            
 _________________
Jawabannya.                    
Wa’alaikumsalam wr wb,                                                
1⃣. Asuransi yg dijalankan secara konsep taawuni (sharing of risk) adalah boleh secara syariah. Krn sdh menghilangkan unsur maisir (gambling), gharar (ketidakjelasan) dan riba (bunga) dan dibangun atas pondasi tabarru’ (derma). Kebolehannya sdh menjadi ijma ulama, yg diputuskan dalam majma fiqh al islami di Jeddah. Sehingga asuransi yg sdh menjalankan prinsip operasionalnya secara syariah, sdh tidak perlu diragukan lagi kebolehannya. 
2⃣, Saham  yg dijalankan secara syariah diperbolehkan. Adapun saham yg tidak syariah, maka bertransaksinya adalah haram, krn mengandung unsur maisir (gambling). 
3⃣Reksadana  juga sama, yg dijalankan berdasarkan prinsip shariah hukumnya boleh. Sedangkan yg ribawi, maka tidak boleh.
Wallahu A’lam
 🌺🍀🌻🍁🍄🌷🌸🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia..

QS. Al-Muzammil (Bag.1)

📆 Senin, 5 Jumadil Akhir1437H / 14 Maret 2016

📚 Tadabbur Al-Qur’an
📝 Dr. Saiful Bahri, M.A
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
📚Mukaddimah: Persiapan Mental
Surat Al-Muhzamil diturunkan Allah di Makkah setelah surat Al-Qalam (Nûn), kecuali ayat terakhir diturunkan di Madinah[1]. Yaitu ayat yang menasakh (menghapus) hukum wajib shalat malam kecuali bagi Nabi Muhammad saw. Surat ini tidak memiliki nama selain“al-Muzammil” yang berarti orang berselimut, yaitu melingkarkan kain di tubuhnya[2], atau berselimut si waktu malam[3]. Surat ini diturunkan diawal – awal masa risalah beliau. Sebagai shock terapi bagi Rasul saw, yang saat itu menggigil dan kemudian berselimut, sakit, dan ketakutan, juga saat tidur dan beristirahat di waktu malam. Maka Allah memerintahkannya untuk bangun dan bankit menyampaikan risalah Allah, apapun resikonya[4].
📌“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS. 73: 1-4)
Sebuah perintah yang diturunkan Allah, sebagai pembekalan efektif Shalat malam dan membaca al-Qur’an . Karena Allah sedang menyiapkan seorang dai dan nabi yang tangguh. Dan karena nantinya tantangan yang dihadapinya tidak ringan.
Shalat malam atau yang sering dikenal dengan qiyâmullail merupakan bentuk pembekalan yang efektif. Ada perlawanan terhadap keinginan hawa nafsu di sana. Saat orang sedang enak tidur atau bersembunyi dibalik ketakutanya, justru Allah memerintahkan untuk melawannya. “Bangunlah”. Menariknya Allah memberikan perkiraan waktu yang ideal untuk latihan penguatan mental ini. Dari sejak “al-laila” [5] yang berarti seluruh malam [6] , kecuali sedikit. Ini untuk tingkatan pertama. Kemudian, Allah menurunkannya menjadi standar. Qiyâmullail ini pertama kali diwajibkan, kemudian dinasakh dengan ayat ke 20 [7]. Adapun Imam Syafi’i, Muqatil bin Sulaiman dan Ibnu Kîsân mendukung pendapat Aisyah ra yang menyatakan kewajiban diatas dihapus dengan turunya kewajiban shalat lima waktu[8]. Dengan kebiasaan bangun pada waktu malam seperti ini seseorang akan benar-benar manpu melawan dirinya. Inilah persiapan dan penguatan mental yang sangat bagus.
Setelah itu perintah untuk menartilkan bacaan Al-Qur’an, bertujuan agar selain untuk bisa dipahami dengan mudah, juga supaya lebih terasa dan memungkinkan untuk dijiwai. Yaitu bacaan yang dibaca dengan pelan – pelan sehingga memberi hak yang cukup dalam mengartikulasikan bacaan huruf-huruf al-Qur’an juga hukum-hukum yang berkaitan dalam membacanya (tajwid), panjang pendeknya, idghâm izh-hârnya dan sebagainya.
Mengenai alasan, betapa pentingnya malam bagi seorang nabi juga para dai. Allah menegaskannya di ayat keenam dan tujuh. 📌“Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (supaya khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS.73: 6-7)
Dengan suasana yang hening akan membantu seseorang dan memudahkannya dalam mengatur suasana hatinya supaya sesuai dengan ritme bacaan al-Qur’an yang dibacanya. Sehingga hati bisa mengikuti gerak mulut. Sementara diwaktu siang, kondisi seperti ini sangat langka untuk didapatkan. Karena banyak urusan dan orang tergesa – gesa dalam urusannya. Kata “as-sabhu” aslinya berjalan cepat di dalam air. Untuk mengambarkan betapa sulitnya kondisi dalam kesibukan. Ini kiasan untuk orang yang berpergian[9]dan banyak urusannya.
📚Tugas Berat Siap Menanti
Setelah itu tugas yang berat pun tidak akan membebani atau menjadi tanggungan yang berlebihan.karena pemikul amanahnya benar-benar telah siap.baik dalam menerima atau menyampaikan risalah,ataupun menanggung resiko yang akan ditemuinya sebagai konsekuensi dakwah tersebut.’’sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat’.(QS.73:5) Qatadah berpendapat,bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah hukuman-hukum Allah.sebagian ahli tafsir yang lainnya menerjemahkannya dengan janji dan ancaman Allah [10].
📌‘’Sebutlah nama tuhanmu,dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan’’(QS.73:8)
Tugas berat selain di atas, perlu penambahan bekal lagi.berdzikir.dengan mengingat Allah selalu,juga akan menguatkan mental Rasulullah dalam menjalankan misi risalahnya,bahwa Allah maha kuat, maka siapapun takkan mampu melawannya. Allah lah sebaik-baik penolong. Allah maha mendengar, sebaik hamba-nya. Allah maha penyayang, dan kisahnya takkan pernah memiliki batas.
Dengan berdzikir, kita akan semakin mengenal Allah.Semakin menatapkan keimanan dan keyakinan kita sebagai penerus risalah Nabi saw.Itulah yang dikehendaki Allah dalam membekali kekasihnya, Muhammad saw.
 📌‘’(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrhib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung’’. (QS.73:9)
Karena dzikir ini merupakan salah satu sumber kekuatan seorang mukmin dalam kondisi apapun. Senada dengan pesan arif Ibnu ‘Atha illah as-Sakandary[11], ‘’Jangan tinggalkan berdzikir. Sebab kelalaianmu saat berdzikir. Semoga allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh kesadaran. Dan dari dzikir yang penuh kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit” [12]. Hanya tinggal kita membiasakannya dan mau terus berusha.
📚Sikap Terabik Dalam Menghadapi Rintangan Dakwah
📌“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik’’. (QS. 73:10)
Kenilaian kelembutan Allah dengan bersabar. Dengan kesabaran ini akan semakin membuat seseorang dekat dengan Allah.Dan semakin membuatnya kokoh serta istiqomah. Keyakinan terhadap takdir Allah, juga akan membantu kita dalam bersabar dan membuat segala rintangan menjadi sebuah bumbu kehidupan. Justru akan terasa lebih manis [13].
Sabar merupakan salah satu bentuk kepasrahan yang positif.Bukan sikap menyerah atau apatis dalam merespon sebuah masalah. Maka siakap sabar seperti ini akan semakin membuat seseorang kuat. Dan akan semakin dewasa dalam mengambil sikap. Karena ia telah mengalahkan ego dan perasaannya.
Bagaimana tidak, bukankah yang memerintah bersikap sabar telah memberikan jaminan. Dia akan membuat perhitungan terhadap orang-orang yang selalu menyakiti dan menghalangi Rasulullah saw. Mendustakan risalahnya dan memandangkan permusuhan terhadap risalah yang diembannya. Maka biarlah Allah yang mengurusi mereka.
📌“Dan biarkan Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar”. (QS. 73: 11)
Allah tangguhkan mereka. Sebenarnya agar mereka mau berpikir untuk bertaubat dan menyadari kekeliruannya. Kemudian segera memperbaiki kesalahannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka semakin menjadi-jadi, memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya. Menindas dan menyakiti mereka, baik secara fisik ataupun dengan tekanan dan teror psikis yang mereka terus lancarkan.
📚Untuk Para Pendusta
🔹Bersambung🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkan Melakukan Suntik Putih?

✏Ustadzah Nurdiana
📌Assalamualaikum…                    
Ustadzah bolehkah kita melakukan suntik putih ato memakai sabun pemutih u memutihkan kulit? apakah diperbolehkan dalam islam?              
     
Jawaban nya.        
              
Wa’alaikum salam wr wb,                                                      
Kebanyakan perempuan pada umumnya  beranggapan kulit putih, identik dengan cantik, dan setiap perempuan pastinya ingin dibilang cantik, perbedaannya terletak pada pensikapan dia menerima realitas diri, ada yang bersyukur apapun keadaannya dan banyak yang kufur sehingga terjebak dengan bujuk rayu syaithan,
Firman Allah Swt.: 
{وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأنْعَامِ}
dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya. (An-Nisa: 119) 
Menurut Qatadah, As-Saddi, dan selain keduanya, yang dimaksud ialah membelah telinga binatang ternak untuk dijadikan tanda bagi hewan 
{وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ}
dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. (An-Nisa: 119) 
Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan mengubah ciptaan Allah dalam ayat ini ialah mengebiri binatang ternak.
Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu Umar, Anas, Sa’id ibnul Musayyab, Ikrimah, Abi Iyad, Qatadah, Abu Saleh, As-Sauri. Hal ini telah dilarang oleh hadis yang menceritakan hal tersebut.
Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan, yang dimaksud ialah mentato binatang ternak. Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan adanya larangan membuat tato pada wajah. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah melaknat orang yang berbuat demikian.
Di dalam hadis sahih dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa Allah melaknat wanita tukang tato dan wanita yang minta ditato, wanita yang mencabuti bulu alisnya dan yang meminta dicabuti, wanita yang melakukan pembedahan untuk kecantikan lagi mengubah ciptaan Allah Swt.
Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan pula, “Ingatlah, aku melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah Saw.,” untuk konteks kekinian juga termasuk orang yang suntik putih, berbeda dengan sabun pemutih atau pencerah sepanjang dzat yang dipergunakan dijamin kehalalannya, maka hukumnya boleh karena sabun tersebut hanya memutihkan dalam arti cerah, bersih dan tidak merubah keaslian warna kulitnya, sementara suntik putih dilarang karena punya efek samping negatif tuk kesehatan dan merubah ciptaan Allah dengan merubah warna.
Wa Allahu a’lam
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia..