Tembok Ya’juj dan Ma’juj

✏Ustadz Agung waspodo

 Assalamu’alaikum afwan ukhti, ana mau titip pertanyaan tentang tembok ya’juj dan ma’juj.mohon penjelasannya

⬆ Pertanyaan dari member 07

Jawaban :

 Temboknya dibangun oleh Dhu’l Qarnain, Letaknya di sebelah timur kota Madinah, tetapi tidak ditentukan khusus oleh Rasulullah SAW.

Wallahu’alam

🍁🍂🌴🌺🌼🌿🌻

Dipersembahkan : www.iman – islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala

Suami Mengesampingkan Nafkah Batin Istri Karena Sibuk Bekerja

🌿Ustdz. Dra. Indra Asih

🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

Mohon tanya apa hukumnya bagi suami mngesampingkan nafkah batin istrinya sementara suami lebih sibuk bekerja?
Disamping pasangan ini blum menunaikan kewajibanya.
[A14]

============

Jawabanya :

Wajib hukumnya seorang suami memuaskan istri dengan nafkah batin.

Ibnu Qudamah:
“Memberi nafkah batin wajib bagi suami jika tidak ada udzur”. Maksud dari Ibnu Qudamah tersebut adalah bahwasanya wajib bagi suami untuk memuaskan istrinya karena ini hak istri atas suami. Sebagaimana diketahui bahwa wanita teramat tersiksa bilamana hak ini tidak terpenuhi.

Perkara wajib ini adalah sebuah langkah pencegahan akan fitnah (kerusakan), karena tingkat keimanan antara wanita dengan wanita lainya berbeda. Dimana sebuah perkara yang dzalim bila sang suami tidak bersedia menggauli istrinya tanpa sebab yang jelas, sedang kedzaliman itu adalah haram hukumnya.

Wajib disini adalah bila perkara ini tiada ditunaikan maka akan mendatangkan dosa atas pelanggaran syara’ dalam hak dan kewajiban dalam pernikahan.
Dan hendaknya seorang istri menuntut haknya dan suami menuruti tuntutan istrinya atas haknya dan menjalankan kewajibanya selaku suami.

Jadi kesimpulanya adalah seorang suami dibebankan kewajiban untuk menggauli istrinya yang dimana bila ia tidak menggauli istrinya maka ia juga dikenai dosa atas kelalaian kewajibanya dan kedzolimanya.

Tidak istri saja yang terkena ancaman dosa bila tidak bersedia berhubungan intim. Keduanya suami dan istri saling berkewajiban untuk melakukan hubungan intim.
Karena dalam masalah pernikahan keduanya memiliki satu hak antara satu dengan lainya dan satu kewajiban antara satu dengan lainya.

Allah swt berfirman :

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”(QS.2:228)

Pendapat wajibnya seorang suami menggauli istri ini juga dikemukakan oleh Imam Malik, alasan Imam Malik adalah bahwasanya nikah adalah demi kemaslahatan suami istri dan menolak bencana dari mereka. Ia (suami) melakukan hubungan untuk menolak gejolak syahwat istri, sebagaimana juga untuk menolak gejolak syahwat suami.

Imam Ghazali berpendapat, sebaiknya seorang suami menggaulii istrinya empat hari sekali. Ini semua merupakan suatu langkah dalam menenangkan istri karena ini merupakan suatu kewajiban. (Fiqih Sunnah)

 Hadits diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, Ka’ab bin Siwar Al Asadi pernah duduk disamping Umar bin Khotob dan datanglah seorang wanita yang mengadu padanya :

”Hai Amirul Mukminin, aku sama sekali tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih utama dari suamiku. Demi Allah ia selalu shalat semalam suntuk dan berpuasa disiang harinya, kemudian ia memohonkan ampunan kepada istrinya dan memujinya.
Umar berkata :”Ya itu suamimu”. Wanita ini berkali-kali menyampaikan aduan ini dan berkali-kali pula Umar menjawab.
Kemudian ka’ab berkata kepada Umar. “ Wahai Amirul Mukminin, wanita ini mengadu atas suaminya yang menjauhi tempat tidur istrinya”.
Umar menjawab : “ sebagaimana yang kau ketahui putuskanlah kedua masalah sumi istri ini”.
Ka’ab berkata :” Sungguh aku berpendapat bahwa wanita ini yang keempat setelah wanita yang ketiga. Maka aku putuskan tiga hari siang dan malam untuk ibadah suamimu dan satu hari satu malam untuk berkumpul dengan istri”.
Kemudian ia berpesan pada suami “Sesungguhnya pada istrimu ada hak. Hai suami engkau mendatangi istrimu empat hari sekali bagi yang sedang. Berikanlah hak itu dan hilangkanlah keburukanmu.”
Kemudian Umar berkata pada Ka’ab : “Demi Allah pendapat (keputusanmu) yang pertama kali ini menakjubkanku dari pendapat-pendapat orang lain, maka aku perintahkan kau untuk pergi menjadi hakim di Bashrah. (Al Mughni)

 Jadi beradasarkan riwayat ini bahwa bila ada seorang suami tidak bersedia menggauli istrinya ini merupakan tindak kejahatan yang bisa diadukan kepada hakim/penguasa untuk diputuskan perkaranya.
Jika ini bukan tindak kejahatan Umar dan Ka’ab tidak akan memutuskan suatu perkara ini,dan Umar juga tidak akan mengangkat Ka’ab menjadi hakim di Bashrah. Tidak menggauli istri adalah pelanggaran atas hak istri dan bentuk kedzaliman yang terkategori kriminal.
Entah apapun alasan sang suami, bahkan ia beralasan dalam rangka ibadah pada Allah tetap saja itu suatu kedzaliman bila ia enggan menggauli istrinya. Dan karena ini suatu tindak kriminal (kedzaliman) dan perenggutan hak maka sang istri berhak mengadukanya pada pengadilan. Sebagaimana ia dianiaya fisik (dipukuli) oleh suami.
Ini semua karena memukuli istri tanpa hak dan tidak memenuhi hak istri untuk digauli sama-sama kedzaliman.

Ibnu Taymiyyah menyatakan :
“Seorang suami harus memberikan nafkah batin kepada isterinya secara makruf. Sebab, ia termasuk kebutuhannya yang paling utama; melebihi kebutuhannya terhadap makan.
Nafkah batin yang wajib dipenuhi oleh suami menurut sebagian ulama paling lama empat bulan sekali.
Sementara pandangan lain sesuai dengan kebutuhan isteri dan kemampuan suami untuk memenuhinya.”

Imam Ahmad berpendapat: “ Hubungan badan dengan istri wajib, sekalipun demikian, kewajiban suami adalah menjaga hak istri (yaitu digauli).
Hendaknya suami bersikap sedang dalam berpuasa dan shalat malam agar mampu melaksanakan hubungan wajib dengan istri.

Batas ritme hari menggauli istri

Adapun berapa lama waktu ritme menggauli istri para ulama berbeda pendapat namun sangat mudah untuk dipahami.

Imam Al Ghazali berpendapat wajib setiap empat hari sekali. Alasan ini adalah karena Al Imam Ghazali bahwa empat hari ini adalah berdasarkan jatah seorang suami yang boleh memadu empat wanita. Jadi ini akan ada penggiliran yang adil yaitu sehari sekali setiap putaran. Dan alasan lainya adalah bila ada seorang suami yang mukim, dimana setiap hari sang suami berdampingan dengan istri setiap hari, dimana setiap malam mereka bertemu.
Maka kewajiban ini jatuh setiap empat hari sekali, dan bila hendak ditambah menjadi tiga kali dalam empat hari tiadalah mengapa jika memang kedua belah pihak baik kondisinya.
Dan bila dalam waktu empat hari tidak ada hasrat bagi keduanya maka tiada mengapa tidak bersenggama atas keridhoan kedua belah pihak.
Namun jika ada salah satu pihak berhasrat, maka perkara ini haruslah dipenuhi dan bagi yang tidak berhasrat haruslah membesarkan pengertiannya.

Dan sebagian ulama berpendapat wajib senggama itu ritme waktunya adalah empat bulan sekali, sebagaimana pendapat Imam Ahmad yang dikutip Ibnu Qudamah dalam Al Mughni.
Adapun ritme waktu empat bulan sekali ini bilamana sang suami bekerja dengan cara safar mukim.
Maksud dari safar mukim adalah sebagaimana seorang pedangang yang dimana ia sering berkeliling yang terkadang ia pergi berhari-hari dan berminggu-minggu namun disatu sisi ia masih ada waktu, kesempatan dan kemampuan untuk pulang.

Sebagian ulama lagi mewajibkan menggauli istri dengan ritme waktu empat bulan sekali. Ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khotob yang menyuruh tentaranya setiap empat bulan sekali pulang untuk menemui istrinya.

Dalam sebuah riwayat, suatu saat Umar bertanya pada anaknya Hafzah. “ Wahai Hafzah berapa lama wanita sanggup menahan” . Hafzah terdiam dan tidak menjawab karena malu.
Kemudian Umar mengerti dan berkata: “ Tidak perlu malu dalam perihal agama”. Kemudian Hafzah menjawab “ Empat bulan kami (para wanita) mampu menahan”.
Setelah mendapat keterangan ini Umar memutuskan untuk menggilir tentaranya yang berada diluar untuk berganti dengan kelompok pasukan yang lain setiap empat bulan sekali, agar para suami yang menjadi tentara bisa menunaikan kewajibnya atas hak istrinya.
Jadi bagi suami yang bekerja secara safar yang jauh, maka diusahakanlah setiap empat bulan sekali untuk pulang dalam rangka memenuhi hak istrinya dan menunaikan kewajibanya.

Kesimpulan:

Jadi jelaslah sudah bahwa seorang istri juga punya hak untuk disenggamai sang suami dan suami berkewajiban memenuhi hak istri ini. Yang dimana sang suami berkewajiban memuaskan batin istri bila ia tidak bersedia maka ia berdosa dan sang istri juga berkewajiban untuk bersedia melayani sang suami bila ia menolak maka ia akan berdosa. Keduanya sama-sama dikenai dan dibebani kewajiban akan hal ini.

Langkah-langkah yang bisa ditempuh istri jika suami tidak memberikan nafkah batin

1. Mengkomunikasikan dengan suami

Coba untuk membahas masalah ini pada kondisi dan waktu yang tepat. Usahakan dalam kondisi suami sudah cukup istirahat dan dalam kondisi santai. Ungkapkan perasaan dan kesedihan istri karena dinginnya suami

Melalui perbincangan ini diharapkan keduanya dapat menyampaikan segala ketidak puasan hati masing-masing, namun sebelum melangkah lebih jauh dalam perbincangan, anda berdua perlu menyakinkan bersama bahwa keadaan rumahtangga yang dialami sekarang adalah tidak sehat dan perlu jalan keluar untuk memperbaiki keadaan.

2. Sepakati untuk berlibur/cuti

Mungkin anda suami isteri merancang liburan, baik di rumah atau jika memungkinkan ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota dan tempat yang dapat membuatkan suami melupakan hal pekerjaan yang selalu dipikirkan dengan serius.

Secara tidak langsung dengan mood dan suasana yang tenang, mungkin bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.

3. Konsultasi dengan penasehat pernikahan

Jika suami sepakat bahwa keadaan rumahtangga adalah kritis dan dalam keadaan yang tidak sempurna, coba sarankan kepada suami untuk berkonsultasi untuk membantu untuk memperbaiki keadaan rumahtangga anda.

Perlu juga diperhatikan, jangan sekali-kali mengadukan isu rumahtangga anda ini kepada lelaki (bukan mahram) baik yang sudah berumahtangga ataupun tidak kecuali kepada pakar seperti penasehat. Hal ini khawatir menyebabkan kepada hal-hal yang tidak diinginkan dan menjadi dimanfaaatkan oleh laki-laki yang tidak bertanggungjawab atas nama simpati.

Dekatkanlah diri pada Allah agar anda diberikan kekuatan dalam mengharungi saat-saat yang sulit ini. Perbanyakanlah sholat dan doa agar diberikan pertolongan dan diteguhkan keimananan anda.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia

Mencegat Kafilah Dagang dalam Konteks Kekinian

✏ Ustadz Rizka Maulana, Lc.,M.Ag

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

1⃣Mau tanya ttg mencegat kafilah dagang dalam konteks kekinian,
apakah sama dengan membeli cabe pada petani cabe yg ingin menjual dg menumpangi mobil angkot.si pembeli membelinya scr grosir ktika mobil yg di tumpangi berhenti sblm smpai pasar… si penjual pun ridho dg harga yg di tawarkan si pembeli.
nah,, si pembeli td bermaksud utk menjual kembali di pasar scra ecer

2⃣Sy bgbung dlm sbuah lembaga, dan mdapat tagihan tunggakan iuran koperasi yg mnurut sy berat. Padahal sy tdk pnah ingin ataupun mbuat pjanjian ‘hitam diatas putih’ dgn pihak lembaga tsebut untuk bgabung sbg anggota koperasix. Seolah2 sy sdh berhutang.
Pihak lembaga mwajibkn agg u msuk angg koperasi walaupun mrk tdk stuju dan tsb dan memotong gaji sy stiap bulanx.
Apakah itu termasuk hutang?

🅰2⃣1⃣

🌿🌿🌿Jawab🌿🌿🌿

1⃣Mencegat kafilah dagang dalam konteks kekinian lebih mirip dgn para tengkulak yg “mencegat” para petani langsung dari sawah ladangnya, terlebih ketika petani tdk punya pilihan lain kecuali menjual kpd tengkulak tsb, krn misalnya sudah di kasih dp atau diberikan pinjaman dulu seblumnya oleh para tengkulak. Adapun pedagang yg dicegat di jalan, namun terjadi tawar menawar dan petani tahu persis berapa harga cabe tsb di pasar, lalu sepakat dgn harga yg ditawarkan, maka boleh saja. Poin penting dalam larangan mencegat kafilah dagang adalah krn petani tdk tahu harga pasar, lalu dicegat di tengah jalan dan dikelabui harga pasar dgn harga fiktif lalu ia menjualnya jauh di bawah harga pasar.
Wallahu A’lam

2⃣Jika masuk lembaga tsb memang dipersyaratkan harus menjadi anggota koperasinya dan kita menyetujuinya, maka menjadi keharusan. Dan pembayaran yg belum dibayarkan bisa menjadi hutang. Namun dalam hal tidak ada persyaratan spt itu, maka menjadi anggota koperasinya menjadi tdk wajib dan seharusnya tdk menjadi hutang.

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Membeli dengan Rupiah, Jual dengan Dolar

✏ Ustadz Rizka Maulana, Lc.,M.Ag

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

1⃣Bagaimana kalo kita grosir barang dari indo(membeli) Dgn rupiah terus di jual pakai dollar apakah termasuk riba. misalnya harga brg diindo. satu brg 100 ribu di jual Dgn hrga 10 dlr Dgn nilai mata uang yg trn naik riba kah….??

2⃣Maraknya org jual pulsa indo dgn harga yg tidak dikurskan rupiah tp pakai dolar apakah kita sbg konsumen juga kecipratan dosa jika ini dikategorikan riba?

🅰2⃣1⃣

🌿🌿🌿jawab🌿🌿🌿

1⃣Beli dgn rupiah dan dijual dgn dolar boleh saja, tidak ada larangannya dan bukan riba
2⃣Kalau jual pulsa pakai dolar masih memungkinkan,  dengan syarat harganya harus sesuai dgn kurs pada hari tsb.

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Menjual Emas Online

✏ Ustadz Rizka Maulana, Lc.,M.Ag

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Bagaimana hukumnya menjual perhiasan emas secara online?
Karena ada yg bilang, kalau emas penjualannya harus dari tangan ke tangan.
🅰2⃣1⃣

🌿🌿🌿jawab🌿🌿🌿

Jual beli emas, boleh saja dengan cara online, selama kadar, ukuran dan bentuknya jelas. Jual beli emas secara langaung tangan ke tangan, yadan bi yadin adalah lebih baik, terhindar dari perselisihan pendapat.

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Jangan ada Keributan Gara-Gara Kata “Jangan”

📆 Sabtu, 17 Jumadil Akhir 1437H / 26 Maret 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿

1. Beberapa hari ini banyak yg tanya saya (lebih tepatnya ajak diskusi) seputar kata “jangan” dalam ilmu parenting dan Alquran

2. Sebagian ada yg mengatakan kata “jangan” sebaiknya dihindarkan diganti kata anjuran. Ini ajaran parenting

3. Sebagian yg lain justru mempertentangkan dgn berdalih bahwa alquran justru banyak memuat kata jangan. Apakah quran salah?

4. Ujung-ujungnya saling melabel. Seolah-olah ilmu parenting yg menolak kata “jangan” dianggap tidak islami, pro yahudi, dsb.

5. Nah, ini yg saya khawatirkan. Pertentangan yg berujung kepada labeling. Jangan-jangan ini disengaja. Eh kok pake kata “jangan”? :p

6. Bukannya sok bijak. Sebab orang sok bijak sok bayak pajak hehe.. Tapi bersikap ekstrim meskipun baik tidak sesuai sunnah nabi.

7. Hakikatnya, islam ini agama pertengahan (ad diinul wasath). Maka tindakan menyalahkan ilmu yg bersumber dari barat tanpa dicari akarnya juga tak tepat

8. Seolah-olah kalau parenting itu dari barat jelas-jelas salah. Langsung tertolak. Padahal kita sering makan dari barat semisal rendang dari sumatera barat #eh 😀

9. Ilmu parenting pada dasarnya bagian dari ilmu “keduniawian” dimana rasul mengatakan “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Artinya silahkan inovasi

10. Tentu bukan berarti islam tak punya konsep dasar. Sama seperti ilmu kedokteran, parenting juga punya dasar ilmunya

11. Tapi Islam tak menolak inovasi dalam bidang kedokteran sebab berprinsip “hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yg melarang”

12. Maka, inovasi dalam kedokteran semisal operasi jantung, kemotherapi, dan cesar itu boleh kecuali yg jelas ada larangannya.

13. Sama juga dgn ilmu parenting. Muncul banyak inovasi yg tak semuanya kita tolak kecuali dgn dalil yg tegas.

14. Mengenai kata “jangan” itu sendiri tak perlu kita cari dalih. Hal ini memang ada dalam alquran. So what?

15. Tentu sesuatu yg berada dlm alquran tak boleh diragukan. Ini wilayah iman (QS 2:2)

16. Namun, sesuatu yg ada dalam alquran tentu harus dilihat prakteknya dalam keseharian nabi. Sebab beliau sejatinya ‘penerjemah’ terbaik maksud dari alquran

17. Jika hanya berdasarkan quran tanpa lihat praktek nabi, hati-hati bisa terkecoh. Bisa-bisa malah aneh.

18. Sholat, contohnya. Dalam quran perintahnya hanya rukuk dan sujud (qs 48 : 29). Jika tanpa melihat rasul, maka kita akan anggap sesat orang yg iktidal atau duduk tahiyat

19. Begitu juga penggunaan kata “jangan” dalam quran. Kita harus dudukkan dalam konteks ilmu parenting yg dicontohkan Rasul

20. Itu artinya, mari kita tengok sejarah bagaimana sikap rasul kepada anak-anak? Dan kita akan dapati beberapa perlakuan yg “beda”

21. Sesuatu yg dilarang kepada orang dewasa ternyata dimaklumi bahkan dibolehkan kepada anak-anak

22. Jika orang dewasa dilarang main patung atau boneka, ternyata anak-anak boleh. Aisyah contohnya

23. Jika orang dewasa dilarang ngobrol atau bercanda dalam sholat. Maka khusus anak-anak semisal husein, main di punggung rasul bahkan dibiarkan

24. Bayangkan, kalau yg main di punggung itu Umar. Mungkin sudah rasul marahin

25. Bahkan ada seorang anak yg pipis di baju rasul, dibiarkan. Tak dilarang. Kalau itu sahabat? Mungkin udah dikeroyok sama yg lain

26. Karena itu, melihat penggunaan kata “jangan” dalam alquran tak boleh sembarangan. Ada patokan dan standarnya

27. Untuk anak kecil yg belum baligh tentu beda perlakuannya dengan orang dewasa

28. Bahkan sesama orang dewasa saja masih ada perlakuan yg beda. Contohnya orang badui yg pipis di masjid nabawi dibiarkan, tak dilarang

29. Kenapa? Karena orang badui itu tak tahu alias bodoh. Inilah hebatnya rasul. Bersikap berdasarkan konteks kejadian

30. Jadi ayat tak dikeluarkan serampangan. Indah betul Islam ini jadinya

31. Karena itu, sebagai panduan penggunaan kata jangan ada beberapa pembahasan yg lumayan panjang. Salah satu yg mau saya bahas disini yakni konteks usia

32. Minimal ada 3 konteks usia penggunaan kata jangan sesuai sikap nabi : utk anak yg belum berakal, untuk anak yg sudah berakal dan utk remaja atau dewasa

33. Untuk remaja atau dewasa rasul tak ragu untuk memberikan kata jangan jika memang membahayakan agama orang ini. Biasanya terkait akidah dan akhlak

34. Sementara utk anak, rasul sikapnya beda.Rasul bedakan yg sudah berakal mana yg belum.

35. Caranya sesuai petunjuk rasul dlm urusan perintah sholat yaitu “jika sudah bisa bedakan kanan dan kiri”. Itu artinya sudah diajak berpikir

36. Nah, untuk anak tipe ini (bisa bedakan kanan dan kiri) kata larangan atau “jangan” dibolehkan.

37. Tapi lebih elok jika ditambah solusinya agar mereka tau apa yg harus dilakukan. Ingat mereka minim pengalaman

38. Hal ini dialami oleh Rafi’ bin Amr Al Ghifari yg punya hobi melempar kurma. Rasul melarangnya namun kasih solusi.

39. Solusinya adalah kalau mau makan kurma, yg jatuh di tanah, tak perlu dilempar. Indah kan?

40. Sementara untuk anak yg belum bisa berpikir, rasul tak melarang. Lebih banyak memberi tahu sikap yg tepat. Bahkan cenderung membiarkan

41. Yang dibiarkan rasul juga biasanya terkait dgn hal-hal yg berkaitan dgn eksplorasi skill.

42. Rasul bahkan memotivasi anak yg lagi main panah di mesjid dgn ucapan “teruslah memanah. Sesungguhnya kakek moyangmu ismail seorang pemanah”

43. Kalau anak sekarang main panah di masjid? Udah jadi rempeyek dihujat jamaah hehe

44. Makanya, yg kedua yg harus dipahami selain konteks objeknya juga konteks apa yg dilarang

45. Jika untuk eksplorasi skill hindari kata jangan. Agar anak termotivasi kembangkan potensi. Tapi untuk eksplorasi spiritual dan emosi silahkan pakai “jangan” dgn penjelasan

46. Contoh penjelasan dlm quran “jangan ikuti langkah syetan, syetan itu musuh nyata bagimu”

47. Lebih elok jika larangan ada penjelasan. Tentu ini pas bagi anak yg sudah berpikir.

48. Di masa rasul ada seorang anak yang saat makan berlari-lari. Rasul ucap : “nak, sebutlah Allah. Pakai tangan kananmu dan makan yg dekat denganmu”

49. Rasul tak keluarkan kata ‘jangan’ sebab anak ini butuh tindakan konkret apa yg harus ia lakukan saat itu

50. Kesimpulannya, gak perlu bersikap ekstrim. Parenting meski dari barat bisa jadi adalah hikmah kaum muslimin yg tercecer

51. So, buanglah sampah pada tempatnya ups..maksudnya pakailah kata jangan pada konteksnya.

52. Sekarang, silahkan cicipi jangan nya (alias sayur) 😀

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Pahala Besar Bagi Sang Ayah (Tanggung Jawab Suami)

📆 Sabtu, 17 Jumadil Akhir 1437H / 26 Maret 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“ Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka perempuan-perempuan  yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) tatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Adapun perempuan-perempuan yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan  Maha Besar” (QS An-Nisa : 34).

Betapa indah Al-Qur’an mengungkap bagaimana suami dan istri, ayah dan ibu berbagi tanggung jawab dalam keluarga. Allah SWT menggunakan kata-kata “rijal” bagi para suami bukan jauz. Karena rijal menurut kamus al-ma’ani berarti orang dewasa dari kalangan Bani Adam. Maka kata rijal menyiratkan makna kegagahan, independensi, kekuatan, penuh tanggung jawab dan humanis. Demikianlah kata itu mengantarkannya pada tanggung jawab sesungguhnya dengan  pahala berlimpah bagi mereka yang menunaikannya karena Allah.
🔅Menela’ah ayat diatas, setidaknya kita temukan 2 tanggung jawab besar bagi seorang rijal:
✅ Qowwam (menjadi pemimpin dalam keluarga)
Kepemimpinan seorang suami dalam keluarga, meliputi 4 hal :
1⃣Pemimpin dalam masalah finansial (infaq) ; pada dasarnya suami bertanggung jawab penuh terhadap urusan finansial dalam keluarga. Pemenuhan kebutuhan finansial seluruh anggota keluarga menjadi  tanggung jawabnya.  Akan tetapi bukan berarti bahwa istri tidak boleh ikut berkontribusi finansial dalam keluarga. Rasulullah mengatakan bahwa harta istri yang dipakai untuk kebutuhan keluarga merupakan sedekah.  Saat istri ikut berkontribusi finansial, kepemimpinan suami tidak berubah atau berkurang. Ia tetap sebagai pemimpin dengan kewenangan penuh. Namun, seorang suami tidak boleh mewajibkan istri untuk menafkahi keluarga apalagi bergantung kepadanya. Allah SWT menyimpan hikmah yang banyak dibalik kepemimpinan suami dalam masalah finansial. Apabila ketentuan Allah ini dirubah oleh manusia, maka yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran. Oleh karena itu seyogyanya lapangan pekerjaan lebih banyak disediakan untuk kaum laki-laki agar mereka mampu merealisasikan tanggung jawabnya.

2⃣Pemimpin dalam pemeliharaan dan perawatan fisik dan psikis keluarga  (ri’ayah); suami bertanggung jawab penuh terhadap pemeliharaan fisik maupun psikis anggota keluarganya. Ia tidak dapat menyerahkan begitu saja urusan ini kepada istri. Fenomena yang mulai hilang dalam masyarakat kita hari ini. Memperhatikan nilai gizi dan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga sesungguhnya adalah tanggung jawab seorang suami. Sama halnya dengan tanggung jawab terhadap psikisnya. Menciptakan kebahagiaan ditengah keluarga bukan hanya tanggung jawab istri, akan tetapi pada dasarnya adalah tanggung jawab suami. Seorang ibu memiliki peran besar dalam terciptanya stabilitas emosi anggota keluarga. Maka ayah memiliki peran yang lebih besar yaitu menjaga stabilitas emosi ibu. Membahagiakan istri, memperhatikan kondisi psikologinya, menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan penghargaan merupakan salah satu cara seorang suami/ayah membahagiakan keluarganya. Ayah tidak hanya fokus membahagiakan anak-anaknya dan mengabaikan kebahagiaan ibu. Akan tetapi ia harus fokus membahagiakan seluruh anggota keluarga.

3⃣Pemimpin dalam perlindungan keluarga secara menyeluruh (himayah) ; ayahlah yang bertanggung jawab melindungi anggota keluarga. Dari segala serangan yang akan merusak kehidupan mereka. Terutama serangan yang berasal dari luar seperti pornografi, narkoba, dll. Kehadiran ayah di tengah anggota keluarga perlu diwujudkan dengan dibukanya komunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Ayah tidak hanya membuka komunikasi dengan ibu akan tetapi dengan seluruh anggota keluarga. Anak-anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena ia tahu bagaimana rasanya dihargai. Bukankah Rasulullah SAW terbiasa menggendong putra putri dan cucu-cucunya saat mereka kecil? Bahkan membiarkan mereka bergelayutan di tangan dan punggung beliau saat beliau sedang shalat. Hingga Fathimah putri beliau sudah berumah tangga, Rasulullah tetap menjalin komunikasi yang baik. Beliau mendengar curahan hati Fathimah, memberi support agar ia menjadi istri yang solihah dan ta’at serta menghiburnya disaat kabar sedih yang beliau dengar. Support dari Rasulullah SAW membuat Fathimah kuat mengarungi bahtera keluarga dalam kesulitan ekonomi bersama suaminya Ali bin Abi Thalib. Kehadiran Rasulullah sebagai orang tua bukan mengobarkan masalah yang ada akan tetapi memberi solusi tuntas. Demikianlah Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana seorang ayah mewujudkan tanggung jawabnya.

4⃣Pemimpin dalam musyawarah keluarga (syuro); musyawarah merupakan kegiatan yang harus dibiasakan dalam keluarga. Didalam musyawarah anggota keluarga belajar mengungkapkan pendapat, memberi saran, memberi masukan dan mengambil keputusan. Ayahlah yang bertanggung jawab memimpin pengambilan keputusan itu. Mengapa demikian? Agar tidak ada saling menyalahkan di kemudian hari. Keputusan penting yang diambil oleh keluarga dengan dipimpin ayah akan menghadirkan tanggung jawab penuh dalam melaksanakannya oleh anggota keluarga. Berbeda dengan keputusan-keputusan yang diputuskan hanya oleh ibu atau anak-anak. Akan terasa berat dalam pelaksanaannya.

🔅Prinsip-prinsip kepemimpinan suami dikeluarga :
1⃣Sesuai kebutuhan
2⃣Dilaksanakan tanpa disertai sikap arogan/penghinaan kepada istri dan anggota keluarga
3⃣Dilaksanakan tanpa disertai sikap sewenang-wenang
4⃣Dilaksanakan tanpa disertai sikap dzalim.

🔅Kepemimpinan di dalam keluarga adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh wuddiyah yaitu penuh cinta dan kasih sayang. Dimana seorang suami memperlakukan istri dan anak-anaknya bukan seperti budak atau bawahan yang harus tunduk patuh kepadanya, akan tetapi sebagai makhluk mulia yang Allah SWT titipkan kepadanya.

✅Infaq (memberi nafkah)
Nafkah merupakan tanggung jawab penuh seorang suami tanpa kecuali. Bila kondisi membutuhkan istri untuk ikut mencari tambahan finansial, maka bekerjanya istri tidak dilarang. Dan posisi istri adalah membantu, bukan mengambilalih tanggung jawab.
Secara fitrah laki-laki memiliki kecenderungan untuk mampu menghadapi kerasnya kehidupan dan kompetisi di luar rumah. Dan perjalanan mencari nafkah adalah perjalanan yang berat dan keras. Oleh karenanya Allah SWT sediakan pahala besar baginya.
🔅Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim).

🔅Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), bahkan untuk makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari)

🔅 Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “…para istri memiliki hak atas kalian (para suami) untuk dipenuhi rezekinya dan kebutuhan sandangnya dengan cara yang baik.” (HR Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda : “Apabila Allah memberikan kebaikan kepada salah seorang diantara kalian, hendaklah dia memulai dari dirinya dan keluarganya (dalam pengalokasiannya).” (HR Muslim)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Salam Atau Bismillah yang Lebih Dulu?

✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
📌Pertanyaan:
Assalamuallaikum wr wb. Mana lebih dulu salam atau bismillah pada saat pembukaan?                                
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
(Mba Risya) member 🅰0⃣9⃣.                                     
🌿🍁🌿🌿🌿🍁🌿🌿🌿
Jawaban nya ,
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah … Bismillah wal Hamdulillah ..
Secara umum membaca basmalah   dianjurkan pada awal setiap amal kebajikan, sebagaimana riwayat shahih tentang menjima’ istri, naik kendaraan, memulai makan, memulai majelis, memulai wudhu,   dan lainnya.  Ada sebuah riwayat:
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ب ( بسم الله الرحمن الرحيم ) فهو أبتر
“Setiap urusan dalam kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus.”
(Diriwayatkan oleh As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah, 1/6. Al Khathib dan Al Hafizh Abdul Qadir Ar Rahawi, hal. 5)
Namun riwayat ini dhaif (lemah), lantaran seorang perawi bernama Ahmad bin Muhammad bin ‘Imran Al ‘Atiqi, biasa dikenal Ibnu Al Jundi. Imam  Khathib Al Baghdadi mengatakan: “Riwayat darinya dilemahkan dan madzhabnya telah dicela (karena dia tasyayyu’ – terpengaruh syi’ah). Aku bertanya kepada Az Zuhri tentang Ibnu Al Jundi, katanya: “Dia bukan apa-apa.”  (Tarikh Baghdad, 2/414)
Syaikh Al Albani menyatakan: dhaif jiddan – sangat lemah. (Lihat Irwa’ul Ghalil, 1/29. Cet. 2. 1985M-1405H.  Al Maktab Al Islami. Beirut) 
 Sementara Imam Ibnu Katsir berhujjah dengan hadits ini, namun tidak berkomentar apa-apa tentang derajat hadits ini. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/120)
 Tertulis dalam Majmu’ah Rasa’il-nya Imam Hasan Al Banna, pada Bab Al Ma’tsurat, hal. 379. Penerbit Al Maktabah At Taufiqiyah, pada catatan kaki no. 3, bahwa Imam Abu Daud dan selainnya meriwayatkan dengan sanadnya, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda:
 كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم  فهو أقطع
  “Setiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka itu perputus.”
  Ini keliru dan tidak terdapat dalam Sunan Abu Daud. Justru dalam ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan tentang riwayat ini: “dikeluarkan oleh Ibnu Hibban melalui dua jalan/jalur. Ibnu Ash Shalah mengatakan:  hadits ini hasan. ” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13/130)
  Ternyata, yang tertulis dalam ‘Aunul Ma’bud bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban juga keliru! Benar ada dua jalan, namun  tidak ada teks yang demikian. Dalam Shahih Ibnu Hibban, baik  No. 1 dan No. 2, (baik terbitan Muasasah Ar Risalah dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth, mau pun keluaran Mawqi’ Ruh Al Islam) teks (matan) nya adalah:
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بحمد الله فهو أقطع
“Setiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan  Alhamdulillah, maka itu terputus.”
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa isnad hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Abdirrahman Al Mu’afiri Al Mishri, yang telah didhaifkan oleh Yahya bin Ma’in, Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan An Nasa’i. (Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, 1/173)
Dalam Sunan Abu Daud  tidak ada pula lafaz demikian. Yang benar adalah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كلُّ كلامٍ لا يُبدأ فيه بالحمد للّه فهو أجذم
  “Setiap ucapan yang di dalamnya tidak dimulai dengan Al Hamdulillah, maka dia terputus (fahuwa aj-dzam).” 
(HR. Abu Daud No. 4840,  yang seperti ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 1894, juga diriwayatkan oleh ibnu majah no. 1894, al baihaqi dalam as sunan al kubra no. 5559, ad daruquthni, kitabus shalah no. 1,  ibnu hibban no. 1, ibnu abi syaibah dalam al mushannaf, 6/263, semua dengan lafaz: fa huwa aqtha’. namun ini pun juga dhaif. lantaran kedhaifan ibnu abdirrahman al mu’afiri al mishri, yang telah didhaifkan para ulama seperti ibnu ma’in, abu zur’ah, an nasa’i, abu hatim, dll. syaikh al albani mendhaifkan semuanya dalam berbagai kitabnya, seperti dhaiful jami’ no. 4216, tahqiq misykah al mashabih no. 3151, dhaif at targhib wat tarhib no. 958, dan lainnya. sedangkan imam abu thayyib syamsul ‘azhim abadi mengatakan riwayat ini hasan, baik diriwayatkan secara maushul dan mursal, dan yang maushul (bersambung) sanadnya jayyid (baik). lihat ‘aunul ma’bud, 13/130).
 wallahu a’lam
  sehingga dari sini, ada yang menggandengkan menjadi:  bismillah wal hamdulillah …., dalam pembukaan khutbahnya. ada pula yang langsung alhamdulillah atau tahmid yang semisal, bukan bismillah, karena dhaifnya mengawali segala sesuatu dengan “bismillah.”
ada pun assalamu ‘alaikum, secara khusus tidak kita jumpai dalam as sunnah di awal khutbah kecuali khutbah jumat. oleh karena itu sebagian orang ada yang membid’ahkannya. sebab yang menjadi kebiasaan nabi ﷺ adalah memulai semua khutbahnya (selain khutbah jumat)  dengan membaca pujian seperti innal hamdalillah atau yang sejenis. 
  imam ibnu taimiyah mengatakan:
هو الصواب، لان النبي صلى الله عليه وسلم
قال: (كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بالحمد فهو أجذم)   وكان صلى الله عليه وسلم يفتتح خطبه كلها بالحمد لله
  itulah yang benar, karena nabi ﷺ bersabda: “semua hal yang tidak dimulai dengan pujian (al hamdu) maka terputus.” dahulu, nabi ﷺ membuka semua khutbahnya dengan al hamdu. (fiqhus sunnah, 1/322)
  bahkan memulai makan pun, juga didahului al hamdulillah dan bismillah, sebagaimana riwayat:
  namun pihak yang membolehkan mengucapkan salam di awal memiliki beberapa alasan:
1 . mengqiyaskan dengan khutbah jumat
2. hadits:  
إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ
  jika berjumpa dengan seorang muslim maka ucapkanlah salam. (hr. muslim no. 2162). umumnya, orang berkhutbah memang baru berjumpa dengan pendengarnya.
3. keumuman hadits perintah sebarkan salam:
 لَا  تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
 kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sampai kalian saling mencintai. maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? yaitu sebarkan salam di antara kalian. (hr. muslim no. 54, dari abu hurairah)
4. walau sebelumnya si khatib sudah salam dalam pertemuan, boleh beliau mengulangi salamnya ketika khutbah. berdasarkan hadits:
إذا لقيَ أَحَدَكُمْ أخاه فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَإنْ حالَتْ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أو جِدَارٌ أوْ حَجَرٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْه
jika salah seorang kamu berjumpa saudaranya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika di antara keduanya terhalang oleh pohon, atau dinding, atau batu, lalu berjumpa dengannya lagi maka salamlah kepadanya. (hr. abu daud no. 5202, shahih) 
jadi, masalah ini sangat luwes. bisa memilih mana yang lebih dahulu, semua memiliki dasar yang kuat.
 Wallahu A’lam
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menata Ruang di Hati Kita

📆 Jumat, 16 Jumadil Akhir 1437H / 25 Maret 2016

📚 Motivasi

📝 Ustadz Umar Hidayat M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

💦Kita kalah oleh Masalah bukan karena tidak mampu bertahan atau melawannya, namun karena kita tidak mampu mengelola diri kita.

🍂Hari-hari ini, kita mendapati diri ini sudah teramat jauh dari garis agama. Kejujuran hilang karena telah diganti dengan kepentingan sesaat. Kita lebih mudah tersenyum kala ada orang lain masuk ke dalam kelompok kita sembari mengutuk kelompok lain tanpa alasan.

🍂Kita juga lebih mudah memicingkan mata sambil mengikutkan hati untuk curiga kepada orang lain yang berbeda pendapat dengan kelompok kita. Di saat yang sama, ada suadara kita yang tidak lagi mensucikan agama ini demi sesuap nasi atau demi sejumlah “kursi”.

🍂Juga ada yang berani menganggap agama ini harus diluruskan demi mendapatkan sanjungan dari sesama manusia, bahkan ada yang sangat lancang dan menghardik Tuhan atas nama kecerdasan akal. Na’udzubillah.

💦Sesungguhnya pemenang kehidupan adalah adalah tetap semangat meski kelelahan senantiasa hadir dalam kehidupan kita.

💦Tetap tegar dalam setiap ujian yang menyapa. Tetap teguh meski godaan tak henti menyesakan dada. Kenyataannya, terlampau banyak kisah hidup yang memilukan bermula dari cara kita yang salah dalam menata hati.

💦Oleh karena itu, menata hati adalah cara kita dalam menyiasati kehidupan. Menyiasati berbagai kondisi kehidupan agar tetap dalam keadaan lebih baik. Dan kunci dalam menata hati adalah iman dan positif thinking.

💦Maka sudah saatnya kita bertanya pada hati kita masing-masing.

“Di bagian mana dalam kehidupan ini, dalam kesibukan yang melelahkan; dalam hari-hari yang penuh langkah perjuangan; dalam pergolakan cinta dan benci; dalam kesunyian dan keramaian; di antara gembira dan sedih; di antara ketenangan dan kegelisahan; di antara ritme keagamaan dan keduniaan; di antara berbagai lintasan ujian dan harapan; di antara kearifan melihat zaman; di antara tugas dan amanat menjalankan jabatan, saatnya bertanya, di mana hati ini kita posisikan?”

💦Sebagus dan seindah apa pun bentuk manusia, hanya akan membawa kehinaan bila tidak disertai dengan keindahan hati yang dihiasi iman dan amal shalih.

💦Jadi, penentu baik dan buruknya amalan seseorang amat bergantung kepada hati. Seperti yang digambarkan baginda Rasulullah Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (H.r. Bukhari Muslim)

💦Dengan menata hati, berarti kita tengah menata kehidupan ini. Hati menjadi penentu atas segala keputusan yang kita ambil karena di sanalah niat terletak. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tetapi hanya tinggal keinginan. Berhenti pada kata ingin saja. Tidak pernah sukses karena orang sukses adalah mereka yang selalu berbuat. Kalau kita ingin mengubah hidup kita menjadi lebih dari yang kita impikan, kita harus mengubah tindakan kita sampai menjadi kebiasaan.

📚Menuju keputusan

💦Dalam pengambilan keputusan, selain pikiran, manusia juga melibatkan emosinya.

💦Karenanya, pikiran dan emosi perlu didorong agar bisa melahir keputusan yang tepat. Ada beberapa tahap agar kita memiliki emosi dan pikiran yang tepat untuk melakukan sebuah perubahan.

🌷Pertama, ubahlah rasa takut menjadi sebuah keberanian.

🌷Kedua, ubahlah keberanian menjadi komitmen. Yakinlah bahwa segala sesuatu pasti terjadi karena ketentuan-Nya.

Asupan-asupan keimanan inilah yang menjadikan seseorang selalu kuat menjalani proses-proses perubahan kehidupan.

💦Imam Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan sebuah hadis dari Wabishah bin Ma’bad salah seorang sahabat Nabi Saw, ia berkata:

Saya mendatangi Rasulullah untuk bertanya kepada beliau tentang kebajikan dan dosa, maka

🔹beliau bersabda: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa?”

🔺Aku menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidaklah saya datang untuk bertanya kepada Anda tentang selainnya.”

🔹Maka beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah apa yang dapat melapangkan dan menenangkan hatimu, sedangkan keburukan (dosa) adalah apa yang menyesakkan hatimu, meskipun manusia membenarkannya.”

💦Kesejatian orang-orang yang beriman akan tampak ketika ia membenahi hatinya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Q.s. al-Anfaal [8]: 2).

💦Perubahan dan kesuksesan seorang yang beriman akan terwujud kala ia mampu mengelola dan menata hatinya.

Faktanya hati itu beragam adanya.

❣1) Hati yang lembut, santun, dan penuh kasih. Seperti Allah gambarkan tentang kelembutan hati Nabi terhadap umatnya,

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.s. at-Taubah [9]: 128).

❣2) Hati yang sabar.
Sabar dalam menjalankan perintah-perintah agamasabar dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan agama; dan sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah.

❣3) Hati yang teguh dan kokoh dalam memegang kebenaran.
Sebagaimana Allah gambarkan kepada kita tentang kisah pemuda ashabul kahfi. Ya mereka adalah pemuda-pemuda yang teguh pendiriannya dalam memegang kebenaran.

❣4) Hati yang pemaaf. Banyak sekali ayat ataupun hadis yang menjelaskan keutamaan sifat pemaaf dan mencela sifat pendendam. Sebagaimana Allah gambarkan dalam firman-Nya, Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.s. Ali Imran [3]: 134).

💦Masih ada satu lagi yang harus kita benahi dalam hati kita; kemampuan mengelola respons positif dan negatif dari orang lain.

Dalam hidup ini, tentu ada beragam orang yang akan kita temui. Bermacam pikiran melintas di hadapan kita. Bertemu cinta dan benci. Berkumpul sanjung dan caci maki. Bersandar sabar dan dangkalnya hati. Berpapasan dengan perangai cerdas dan kerdilnya pikiran. Tingkah terpelajar dan urakan.

Semua warna kehidupan menyapa kita dengan cara dan tujuannya masing-masing.

💦Karenanya, jika hati kita tidak mampu mengatur lalu lintas kehidupan yang ada, sangat mungkin kita tidak akan sampai pada tujuan. Minimal letupan-letupan kegalauan yang akan mengganggu kehidupan.

📚Menata ruang di hati kita

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Menata Ruang di Hati Kita

📆 Jumat, 16 Jumadil Akhir 1437H / 25 Maret 2016

📚 Motivasi

📝 Ustadz Umar Hidayat M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Menata ruang di hati kita

Mari sejenak kita menata ruang di hati kita.
Sediakan ruang di hati kita untuk mendaur ulang segala yang negatif.
Sediakan ruang di hati kita untuk di benci, untuk di jelekkan, untuk dinodai, untuk tidak disukai.

💦Apa kata Allah? Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (Q.s. al-Baqarah [2]: 216)

💦Berprasangka baiklah agar kita mudah menerima segala kondisi dan agar kita mampu merespons hal-hal dari luar untuk kemudian kita daur ulang dalam hati yang akan menjadi energi untuk membangkitkan kehidupan kita menjadi lebih baik.

Kondisi apa pun yang kita temui, insya Allah tidak akan menjadi masalah sepanjang kita mampu mengambil pelajaran terbaik.

💦Setelah hati ini tertata, maka tahap berikutnya adalah latihan mengelola lalu lintas suara, pikiran, rasa, dan tindakan yang melintasi hati kita.

Benar kata Umar bin Khattab, “Jangan engkau kira sebuah kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin adalah keburukan. Sebab, bisa jadi itu adalah kebaikan yang ditangguhkan untukmu.”

💦Salah satu cara menyiasati kehidupan ini agar kita tetap dalam kebaikan adalah dengan menata segala perpaduan atas kondisi yang kita temui. Kegetiran dan kesusahan akan berubah menjadi kenikmatan dan kemudahan. Begitu pula kesenangan dan kelapangan berubah menjadi kesedihan dan kesempitan.

💦Kita tidak boleh terburu-buru menjatuhkan vonis pada keadaan yang kita temui. Ingatlah, segala yang ada di dunia ini, tidak serta-merta bisa di ukur lahiriahnya saja.

💦Sebuah doa yang melapangkan dada dan menyejukkan jiwa dari seorang sahabat Rasulullah yang terkenal begitu cerdas dan tinggi keshalihannya, patut kita baca,
“Ya, Allah jika Engkau tidak menghendaki apa yang aku kehendaki, maka sabarkanlah aku atas apa yang Engkau kehendaki.”

💦Ada cukup banyak alasan mengapa kita harus menjadi pribadi yang elok dalam bersikap, bertutur, merasa, berpikir, dan bertindak, antara lain:

1⃣Pertama, tidak ada manusia yang sempurna. Sesempurna-sempurnanya manusia, tetap saja ia memiliki serangkaian keterbatasan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan. Hanya Allah-lah yang sempurna.

Sederet sifat manusia akan terlihat dengan jelas ketika ia menghadapi sesuatu yang tidak diharapkan oleh dirinya, seperti ketika ditimpa musibah atau kesulitan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menempatkan diri kita sebaik mungkin, sebagai manusia yang tidak sempurna—meski memiliki kelebihan, tentu juga mempunyai kekurangan.

2⃣Kedua, hidup ini beragam seperti halnya pelangi. Ia indah karena beragam sentuhan warna menghiasinya.
Keragaman ini pula yang selalu menjadi daya tarik kita untuk menikmatinya. Dalam keanekaragaman itulah keserasian dan keharmonisan lebih bisa dinikmati. Begitu juga hati dan pikiran manusia, hanya Allah-lah yang akan menyatukan hati kita. Akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. (Q.s. al-Anfaal [8]: 63)

3⃣Ketiga, bukankah kepuasan manusia adalah kenikmatan yang tidak berujung?
Hidup ini tidak sekadar mengejar kepuasan, kadang kita juga terdorong dan bangkit karena menghindari sesuatu yang menyakitkan atau yang membuat kita menderita.

📚Sekuat positif thinking

💦Sekuat positif thinking dalam menyiasati kehidupan, maka kuatkanlah kita dengan berbagi pada sesama.

💦Emosi negatif sekecil apa pun jika disimpan akan bertambah bahaya. Emosi negatif yang menumpuk pada akhirnya akan merampas “energi positif” yang kita miliki, bahkan menghancurkannya. Maka self-help dengan cara bersikap jujur pada diri sendiri dan berani menghadapi masalah adalah solusi terbaik untuk menghadapinya.

💦Self-help bisa dalam bentuk bicara kepada diri kita sendiri, kepada Tuhan, yang bertujuan mengontrol, menyinergikan dan mengharmoniskan pikiran, emosi, kehendak, dan perilaku kita. Karena terkadang antara pikiran, emosi, dan keinginan tidak bekerja sebagaimana yang kita inginkan.

💦Menyinergikannya memang tidak mudah, butuh latihan dan pembiasaan. Dengan itu, ia akan merasa lebih kuat dalam menghadapi masalah, meskipun persoalannya belum selesai. Sebab, setidaknya beban emosi dan pikiran negatif sudah dikeluarkan melalui self-help tadi.

💦Melalui self-help, kita belajar meneguhkan hati untuk tetap percaya dan selalu mengatakan bahwa ada kebaikan dari setiap kondisi yang kita jalani. Ada hikmah di balik kesengsaraan kita. Kita yakin segala sesuatu sudah ada yang mengaturnya.

Ya, Allah Swt, bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa seizin-Nya. Tidak ada kejadian yang terjadi hanya kebetulan semata karena semua telah diatur oleh-Nya.

💦Sekuat positif thinking dalam menyiasati kehidupan, coba kita berlatih untuk menyiasati setiap keadaan dengan positif thinking.

💦Misalnya ketika kita mengeluh, “Tuhan, jauhkanlah kesulitan dan masalah ini dari kehidupanku.”

Maka Self-help, ubahlah keluhanmu menjadi sesuatu yang lebih berefek positif; sudahi dan ubahlah keluhanmu menjadi daya dorong untuk meningkatkan kemampuanmu.
“Ya Allah, meski beban hidupku sangat berat, tapi selama Engkau masih mengizinkan diriku untuk mencobanya, maka aku akan tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan aku yakin bahwa Engkau akan menolong hamba-hamba-Mu yang bersabar,”

Atau ketika kita berucap, “Ya Allah, kenapa Engkau jadikan aku miskin?” maka ubahlah menjadi, “Ya Allah, meskipun aku miskin materi, tapi Engkau telah mengayakanku dengan luasnya kelapangan di hati.” Sejuk rasanya.

💦Seperti setangguh ketakwaan Fudhail bin Iyadh, Ia bercerita:
Suatu ketika di Masjidil Haram, ia didatangi orang yang sedang menangis.

🔹Fudhail bertanya penuh iba “Kenapa engkau menangis, Sahabat?”

🔺Orang itu segera menyahutnya, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu uang itu telah dicuri?”

🔹Fudhail mengatakan, “Apakah engkau menangis karena kehilangan dinar?”

🔺Mengejutkan jawaban orang itu, “Tidak. Aku memang menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan ada di hadapan Allah dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Sungguh orang-orang terdahulu sangat luar biasa, membuat kita nyaris selalu malu kala membaca dan mengingatnya.

💦Hati manusia memang satu, tetapi ia mampu menampung segalanya.

Jika hati tidak tertata, maka jadilah kita manusia yang limbung adanya. Jika hati telah tertata, hidup ini akan menjadi indah dan bahagia. Allah ciptakan semuanya tidaklah sia-sia. Baik yang positif maupun yang negatif, semua ada manfaatnya jika kita mampu mengambil pelajaran.

💦Jika mampu menyiasati kehidupan ini dengan baik, tentu kita tidak perlu lagi mencari dalih untuk menyalahkan kondisi yang menimpa kita, apalagi menyalahkan Allah Yang Mahakuasa. Kita hanya butuh menyiasati segala keadaan. Kuasa manusia berusaha, Allah-lah penentunya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…