Pahala Besar Bagi Sang Ayah (Tanggung Jawab Suami)

๐Ÿ“† Sabtu, 17 Jumadil Akhir 1437H / 26 Maret 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู‚ูŽูˆู‘ูŽุงู…ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุจูู…ูŽุง ููŽุถู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽุจูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููŽู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ููŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญูŽุงุชู ู‚ูŽุงู†ูุชูŽุงุชูŒ ุญูŽุงููุธูŽุงุชูŒ ู„ูู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ุจูู…ูŽุง ุญูŽููุธูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽุงุชููŠ ุชูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ู†ูุดููˆุฒูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุนูุธููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู‡ู’ุฌูุฑููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุถูŽุงุฌูุนู ูˆูŽุงุถู’ุฑูุจููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุทูŽุนู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุจู’ุบููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ูƒูŽุจููŠุฑู‹ุง

โ€œ Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka perempuan-perempuan  yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) tatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Adapun perempuan-perempuan yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan  Maha Besarโ€ (QS An-Nisa : 34).

Betapa indah Al-Qurโ€™an mengungkap bagaimana suami dan istri, ayah dan ibu berbagi tanggung jawab dalam keluarga. Allah SWT menggunakan kata-kata โ€œrijalโ€ bagi para suami bukan jauz. Karena rijal menurut kamus al-maโ€™ani berarti orang dewasa dari kalangan Bani Adam. Maka kata rijal menyiratkan makna kegagahan, independensi, kekuatan, penuh tanggung jawab dan humanis. Demikianlah kata itu mengantarkannya pada tanggung jawab sesungguhnya dengan  pahala berlimpah bagi mereka yang menunaikannya karena Allah.
๐Ÿ”…Menelaโ€™ah ayat diatas, setidaknya kita temukan 2 tanggung jawab besar bagi seorang rijal:
โœ… Qowwam (menjadi pemimpin dalam keluarga)
Kepemimpinan seorang suami dalam keluarga, meliputi 4 hal :
1โƒฃPemimpin dalam masalah finansial (infaq) ; pada dasarnya suami bertanggung jawab penuh terhadap urusan finansial dalam keluarga. Pemenuhan kebutuhan finansial seluruh anggota keluarga menjadi  tanggung jawabnya.  Akan tetapi bukan berarti bahwa istri tidak boleh ikut berkontribusi finansial dalam keluarga. Rasulullah mengatakan bahwa harta istri yang dipakai untuk kebutuhan keluarga merupakan sedekah.  Saat istri ikut berkontribusi finansial, kepemimpinan suami tidak berubah atau berkurang. Ia tetap sebagai pemimpin dengan kewenangan penuh. Namun, seorang suami tidak boleh mewajibkan istri untuk menafkahi keluarga apalagi bergantung kepadanya. Allah SWT menyimpan hikmah yang banyak dibalik kepemimpinan suami dalam masalah finansial. Apabila ketentuan Allah ini dirubah oleh manusia, maka yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran. Oleh karena itu seyogyanya lapangan pekerjaan lebih banyak disediakan untuk kaum laki-laki agar mereka mampu merealisasikan tanggung jawabnya.

2โƒฃPemimpin dalam pemeliharaan dan perawatan fisik dan psikis keluarga  (riโ€™ayah); suami bertanggung jawab penuh terhadap pemeliharaan fisik maupun psikis anggota keluarganya. Ia tidak dapat menyerahkan begitu saja urusan ini kepada istri. Fenomena yang mulai hilang dalam masyarakat kita hari ini. Memperhatikan nilai gizi dan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga sesungguhnya adalah tanggung jawab seorang suami. Sama halnya dengan tanggung jawab terhadap psikisnya. Menciptakan kebahagiaan ditengah keluarga bukan hanya tanggung jawab istri, akan tetapi pada dasarnya adalah tanggung jawab suami. Seorang ibu memiliki peran besar dalam terciptanya stabilitas emosi anggota keluarga. Maka ayah memiliki peran yang lebih besar yaitu menjaga stabilitas emosi ibu. Membahagiakan istri, memperhatikan kondisi psikologinya, menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan penghargaan merupakan salah satu cara seorang suami/ayah membahagiakan keluarganya. Ayah tidak hanya fokus membahagiakan anak-anaknya dan mengabaikan kebahagiaan ibu. Akan tetapi ia harus fokus membahagiakan seluruh anggota keluarga.

3โƒฃPemimpin dalam perlindungan keluarga secara menyeluruh (himayah) ; ayahlah yang bertanggung jawab melindungi anggota keluarga. Dari segala serangan yang akan merusak kehidupan mereka. Terutama serangan yang berasal dari luar seperti pornografi, narkoba, dll. Kehadiran ayah di tengah anggota keluarga perlu diwujudkan dengan dibukanya komunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Ayah tidak hanya membuka komunikasi dengan ibu akan tetapi dengan seluruh anggota keluarga. Anak-anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena ia tahu bagaimana rasanya dihargai. Bukankah Rasulullah SAW terbiasa menggendong putra putri dan cucu-cucunya saat mereka kecil? Bahkan membiarkan mereka bergelayutan di tangan dan punggung beliau saat beliau sedang shalat. Hingga Fathimah putri beliau sudah berumah tangga, Rasulullah tetap menjalin komunikasi yang baik. Beliau mendengar curahan hati Fathimah, memberi support agar ia menjadi istri yang solihah dan taโ€™at serta menghiburnya disaat kabar sedih yang beliau dengar. Support dari Rasulullah SAW membuat Fathimah kuat mengarungi bahtera keluarga dalam kesulitan ekonomi bersama suaminya Ali bin Abi Thalib. Kehadiran Rasulullah sebagai orang tua bukan mengobarkan masalah yang ada akan tetapi memberi solusi tuntas. Demikianlah Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana seorang ayah mewujudkan tanggung jawabnya.

4โƒฃPemimpin dalam musyawarah keluarga (syuro); musyawarah merupakan kegiatan yang harus dibiasakan dalam keluarga. Didalam musyawarah anggota keluarga belajar mengungkapkan pendapat, memberi saran, memberi masukan dan mengambil keputusan. Ayahlah yang bertanggung jawab memimpin pengambilan keputusan itu. Mengapa demikian? Agar tidak ada saling menyalahkan di kemudian hari. Keputusan penting yang diambil oleh keluarga dengan dipimpin ayah akan menghadirkan tanggung jawab penuh dalam melaksanakannya oleh anggota keluarga. Berbeda dengan keputusan-keputusan yang diputuskan hanya oleh ibu atau anak-anak. Akan terasa berat dalam pelaksanaannya.

๐Ÿ”…Prinsip-prinsip kepemimpinan suami dikeluarga :
1โƒฃSesuai kebutuhan
2โƒฃDilaksanakan tanpa disertai sikap arogan/penghinaan kepada istri dan anggota keluarga
3โƒฃDilaksanakan tanpa disertai sikap sewenang-wenang
4โƒฃDilaksanakan tanpa disertai sikap dzalim.

๐Ÿ”…Kepemimpinan di dalam keluarga adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh wuddiyah yaitu penuh cinta dan kasih sayang. Dimana seorang suami memperlakukan istri dan anak-anaknya bukan seperti budak atau bawahan yang harus tunduk patuh kepadanya, akan tetapi sebagai makhluk mulia yang Allah SWT titipkan kepadanya.

โœ…Infaq (memberi nafkah)
Nafkah merupakan tanggung jawab penuh seorang suami tanpa kecuali. Bila kondisi membutuhkan istri untuk ikut mencari tambahan finansial, maka bekerjanya istri tidak dilarang. Dan posisi istri adalah membantu, bukan mengambilalih tanggung jawab.
Secara fitrah laki-laki memiliki kecenderungan untuk mampu menghadapi kerasnya kehidupan dan kompetisi di luar rumah. Dan perjalanan mencari nafkah adalah perjalanan yang berat dan keras. Oleh karenanya Allah SWT sediakan pahala besar baginya.
๐Ÿ”…Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: โ€œSatu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)โ€ (HR. Muslim).

๐Ÿ”…Dari Saโ€™ad bin Abi Waqqosh, Rasulullah SAW bersabda: โ€œSungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), bahkan untuk makanan yang kamu berikan kepada istrimu.โ€ (HR. Bukhari)

๐Ÿ”… Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : โ€œ…para istri memiliki hak atas kalian (para suami) untuk dipenuhi rezekinya dan kebutuhan sandangnya dengan cara yang baik.โ€ (HR Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda : โ€œApabila Allah memberikan kebaikan kepada salah seorang diantara kalian, hendaklah dia memulai dari dirinya dan keluarganya (dalam pengalokasiannya).โ€ (HR Muslim)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Salam Atau Bismillah yang Lebih Dulu?

โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ“ŒPertanyaan:
Assalamuallaikum wr wb. Mana lebih dulu salam atau bismillah pada saat pembukaan?                                
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ
(Mba Risya) member ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ.                                     
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ
Jawaban nya ,
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah … Bismillah wal Hamdulillah ..
Secara umum membaca basmalah   dianjurkan pada awal setiap amal kebajikan, sebagaimana riwayat shahih tentang menjimaโ€™ istri, naik kendaraan, memulai makan, memulai majelis, memulai wudhu,   dan lainnya.  Ada sebuah riwayat:
ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจ ( ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ) ูู‡ูˆ ุฃุจุชุฑ
โ€œSetiap urusan dalam kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus.โ€
(Diriwayatkan oleh As Subki dalam Thabaqat As Syafiโ€™iyah, 1/6. Al Khathib dan Al Hafizh Abdul Qadir Ar Rahawi, hal. 5)
Namun riwayat ini dhaif (lemah), lantaran seorang perawi bernama Ahmad bin Muhammad bin โ€˜Imran Al โ€˜Atiqi, biasa dikenal Ibnu Al Jundi. Imam  Khathib Al Baghdadi mengatakan: โ€œRiwayat darinya dilemahkan dan madzhabnya telah dicela (karena dia tasyayyuโ€™ โ€“ terpengaruh syiโ€™ah). Aku bertanya kepada Az Zuhri tentang Ibnu Al Jundi, katanya: โ€œDia bukan apa-apa.โ€  (Tarikh Baghdad, 2/414)
Syaikh Al Albani menyatakan: dhaif jiddan โ€“ sangat lemah. (Lihat Irwaโ€™ul Ghalil, 1/29. Cet. 2. 1985M-1405H.  Al Maktab Al Islami. Beirut) 
 Sementara Imam Ibnu Katsir berhujjah dengan hadits ini, namun tidak berkomentar apa-apa tentang derajat hadits ini. (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 1/120)
 Tertulis dalam Majmuโ€™ah Rasaโ€™il-nya Imam Hasan Al Banna, pada Bab Al Maโ€™tsurat, hal. 379. Penerbit Al Maktabah At Taufiqiyah, pada catatan kaki no. 3, bahwa Imam Abu Daud dan selainnya meriwayatkan dengan sanadnya, dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, bersabda:
 ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…  ูู‡ูˆ ุฃู‚ุทุน
  โ€œSetiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka itu perputus.โ€
  Ini keliru dan tidak terdapat dalam Sunan Abu Daud. Justru dalam โ€˜Aunul Maโ€™bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan tentang riwayat ini: โ€œdikeluarkan oleh Ibnu Hibban melalui dua jalan/jalur. Ibnu Ash Shalah mengatakan:  hadits ini hasan. โ€ (Lihat โ€˜Aunul Maโ€™bud, 13/130)
  Ternyata, yang tertulis dalam โ€˜Aunul Maโ€™bud bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban juga keliru! Benar ada dua jalan, namun  tidak ada teks yang demikian. Dalam Shahih Ibnu Hibban, baik  No. 1 dan No. 2, (baik terbitan Muasasah Ar Risalah dengan tahqiq Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth, mau pun keluaran Mawqiโ€™ Ruh Al Islam) teks (matan) nya adalah:
ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูู‡ูˆ ุฃู‚ุทุน
โ€œSetiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan  Alhamdulillah, maka itu terputus.โ€
Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan bahwa isnad hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Abdirrahman Al Muโ€™afiri Al Mishri, yang telah didhaifkan oleh Yahya bin Maโ€™in, Ahmad, Abu Zurโ€™ah, Abu Hatim, dan An Nasaโ€™i. (Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, 1/173)
Dalam Sunan Abu Daud  tidak ada pula lafaz demikian. Yang benar adalah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ูƒู„ู‘ู ูƒู„ุงู…ู ู„ุง ูŠูุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‘ู‡ ูู‡ูˆ ุฃุฌุฐู…
  โ€œSetiap ucapan yang di dalamnya tidak dimulai dengan Al Hamdulillah, maka dia terputus (fahuwa aj-dzam).โ€ 
(HR. Abu Daud No. 4840,  yang seperti ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 1894, juga diriwayatkan oleh ibnu majah no. 1894, al baihaqi dalam as sunan al kubra no. 5559, ad daruquthni, kitabus shalah no. 1,  ibnu hibban no. 1, ibnu abi syaibah dalam al mushannaf, 6/263, semua dengan lafaz: fa huwa aqthaโ€™. namun ini pun juga dhaif. lantaran kedhaifan ibnu abdirrahman al muโ€™afiri al mishri, yang telah didhaifkan para ulama seperti ibnu maโ€™in, abu zurโ€™ah, an nasaโ€™i, abu hatim, dll. syaikh al albani mendhaifkan semuanya dalam berbagai kitabnya, seperti dhaiful jamiโ€™ no. 4216, tahqiq misykah al mashabih no. 3151, dhaif at targhib wat tarhib no. 958, dan lainnya. sedangkan imam abu thayyib syamsul โ€˜azhim abadi mengatakan riwayat ini hasan, baik diriwayatkan secara maushul dan mursal, dan yang maushul (bersambung) sanadnya jayyid (baik). lihat โ€˜aunul maโ€™bud, 13/130).
 wallahu aโ€™lam
  sehingga dari sini, ada yang menggandengkan menjadi:  bismillah wal hamdulillah …., dalam pembukaan khutbahnya. ada pula yang langsung alhamdulillah atau tahmid yang semisal, bukan bismillah, karena dhaifnya mengawali segala sesuatu dengan โ€œbismillah.โ€
ada pun assalamu โ€˜alaikum, secara khusus tidak kita jumpai dalam as sunnah di awal khutbah kecuali khutbah jumat. oleh karena itu sebagian orang ada yang membidโ€™ahkannya. sebab yang menjadi kebiasaan nabi ๏ทบ adalah memulai semua khutbahnya (selain khutbah jumat)  dengan membaca pujian seperti innal hamdalillah atau yang sejenis. 
  imam ibnu taimiyah mengatakan:
ู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจุŒ ู„ุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
ู‚ุงู„: (ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุงู„ุญู…ุฏ ูู‡ูˆ ุฃุฌุฐู…)   ูˆูƒุงู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูุชุชุญ ุฎุทุจู‡ ูƒู„ู‡ุง ุจุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡
  itulah yang benar, karena nabi ๏ทบ bersabda: โ€œsemua hal yang tidak dimulai dengan pujian (al hamdu) maka terputus.โ€ dahulu, nabi ๏ทบ membuka semua khutbahnya dengan al hamdu. (fiqhus sunnah, 1/322)
  bahkan memulai makan pun, juga didahului al hamdulillah dan bismillah, sebagaimana riwayat:
  namun pihak yang membolehkan mengucapkan salam di awal memiliki beberapa alasan:
1 . mengqiyaskan dengan khutbah jumat
2. hadits:  
ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠุชูŽู‡ู ููŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู
  jika berjumpa dengan seorang muslim maka ucapkanlah salam. (hr. muslim no. 2162). umumnya, orang berkhutbah memang baru berjumpa dengan pendengarnya.
3. keumuman hadits perintah sebarkan salam:
 ู„ูŽุง  ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆุงุŒ ุฃูŽูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏูู„ู‘ููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ู ุชูŽุญูŽุงุจูŽุจู’ุชูู…ู’ุŸ ุฃูŽูู’ุดููˆุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’
 kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sampai kalian saling mencintai. maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? yaitu sebarkan salam di antara kalian. (hr. muslim no. 54, dari abu hurairah)
4. walau sebelumnya si khatib sudah salam dalam pertemuan, boleh beliau mengulangi salamnya ketika khutbah. berdasarkan hadits:
ุฅุฐุง ู„ู‚ูŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ุฃุฎุงู‡ ููŽู„ู’ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽุฅู†ู’ ุญุงู„ูŽุชู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉูŒ ุฃูˆ ุฌูุฏูŽุงุฑูŒ ุฃูˆู’ ุญูŽุฌูŽุฑูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽู‚ููŠูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡
jika salah seorang kamu berjumpa saudaranya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika di antara keduanya terhalang oleh pohon, atau dinding, atau batu, lalu berjumpa dengannya lagi maka salamlah kepadanya. (hr. abu daud no. 5202, shahih) 
jadi, masalah ini sangat luwes. bisa memilih mana yang lebih dahulu, semua memiliki dasar yang kuat.
 Wallahu A’lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menata Ruang di Hati Kita

๐Ÿ“† Jumat, 16 Jumadil Akhir 1437H / 25 Maret 2016

๐Ÿ“š Motivasi

๐Ÿ“ Ustadz Umar Hidayat M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ’ฆKita kalah oleh Masalah bukan karena tidak mampu bertahan atau melawannya, namun karena kita tidak mampu mengelola diri kita.

๐Ÿ‚Hari-hari ini, kita mendapati diri ini sudah teramat jauh dari garis agama. Kejujuran hilang karena telah diganti dengan kepentingan sesaat. Kita lebih mudah tersenyum kala ada orang lain masuk ke dalam kelompok kita sembari mengutuk kelompok lain tanpa alasan.

๐Ÿ‚Kita juga lebih mudah memicingkan mata sambil mengikutkan hati untuk curiga kepada orang lain yang berbeda pendapat dengan kelompok kita. Di saat yang sama, ada suadara kita yang tidak lagi mensucikan agama ini demi sesuap nasi atau demi sejumlah โ€œkursiโ€.

๐Ÿ‚Juga ada yang berani menganggap agama ini harus diluruskan demi mendapatkan sanjungan dari sesama manusia, bahkan ada yang sangat lancang dan menghardik Tuhan atas nama kecerdasan akal. Naโ€™udzubillah.

๐Ÿ’ฆSesungguhnya pemenang kehidupan adalah adalah tetap semangat meski kelelahan senantiasa hadir dalam kehidupan kita.

๐Ÿ’ฆTetap tegar dalam setiap ujian yang menyapa. Tetap teguh meski godaan tak henti menyesakan dada. Kenyataannya, terlampau banyak kisah hidup yang memilukan bermula dari cara kita yang salah dalam menata hati.

๐Ÿ’ฆOleh karena itu, menata hati adalah cara kita dalam menyiasati kehidupan. Menyiasati berbagai kondisi kehidupan agar tetap dalam keadaan lebih baik. Dan kunci dalam menata hati adalah iman dan positif thinking.

๐Ÿ’ฆMaka sudah saatnya kita bertanya pada hati kita masing-masing.

“Di bagian mana dalam kehidupan ini, dalam kesibukan yang melelahkan; dalam hari-hari yang penuh langkah perjuangan; dalam pergolakan cinta dan benci; dalam kesunyian dan keramaian; di antara gembira dan sedih; di antara ketenangan dan kegelisahan; di antara ritme keagamaan dan keduniaan; di antara berbagai lintasan ujian dan harapan; di antara kearifan melihat zaman; di antara tugas dan amanat menjalankan jabatan, saatnya bertanya, di mana hati ini kita posisikan?”

๐Ÿ’ฆSebagus dan seindah apa pun bentuk manusia, hanya akan membawa kehinaan bila tidak disertai dengan keindahan hati yang dihiasi iman dan amal shalih.

๐Ÿ’ฆJadi, penentu baik dan buruknya amalan seseorang amat bergantung kepada hati. Seperti yang digambarkan baginda Rasulullah Saw, โ€œKetahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.โ€ (H.r. Bukhari Muslim)

๐Ÿ’ฆDengan menata hati, berarti kita tengah menata kehidupan ini. Hati menjadi penentu atas segala keputusan yang kita ambil karena di sanalah niat terletak. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tetapi hanya tinggal keinginan. Berhenti pada kata ingin saja. Tidak pernah sukses karena orang sukses adalah mereka yang selalu berbuat. Kalau kita ingin mengubah hidup kita menjadi lebih dari yang kita impikan, kita harus mengubah tindakan kita sampai menjadi kebiasaan.

๐Ÿ“šMenuju keputusan

๐Ÿ’ฆDalam pengambilan keputusan, selain pikiran, manusia juga melibatkan emosinya.

๐Ÿ’ฆKarenanya, pikiran dan emosi perlu didorong agar bisa melahir keputusan yang tepat. Ada beberapa tahap agar kita memiliki emosi dan pikiran yang tepat untuk melakukan sebuah perubahan.

๐ŸŒทPertama, ubahlah rasa takut menjadi sebuah keberanian.

๐ŸŒทKedua, ubahlah keberanian menjadi komitmen. Yakinlah bahwa segala sesuatu pasti terjadi karena ketentuan-Nya.

Asupan-asupan keimanan inilah yang menjadikan seseorang selalu kuat menjalani proses-proses perubahan kehidupan.

๐Ÿ’ฆImam Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan sebuah hadis dari Wabishah bin Maโ€™bad salah seorang sahabat Nabi Saw, ia berkata:

Saya mendatangi Rasulullah untuk bertanya kepada beliau tentang kebajikan dan dosa, maka

๐Ÿ”นbeliau bersabda: โ€œKamu datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa?โ€

๐Ÿ”บAku menjawab, โ€œDemi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidaklah saya datang untuk bertanya kepada Anda tentang selainnya.โ€

๐Ÿ”นMaka beliau bersabda, โ€œKebaikan itu adalah apa yang dapat melapangkan dan menenangkan hatimu, sedangkan keburukan (dosa) adalah apa yang menyesakkan hatimu, meskipun manusia membenarkannya.โ€

๐Ÿ’ฆKesejatian orang-orang yang beriman akan tampak ketika ia membenahi hatinya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Q.s. al-Anfaal [8]: 2).

๐Ÿ’ฆPerubahan dan kesuksesan seorang yang beriman akan terwujud kala ia mampu mengelola dan menata hatinya.

Faktanya hati itu beragam adanya.

โฃ1) Hati yang lembut, santun, dan penuh kasih. Seperti Allah gambarkan tentang kelembutan hati Nabi terhadap umatnya,

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.s. at-Taubah [9]: 128).

โฃ2) Hati yang sabar.
Sabar dalam menjalankan perintah-perintah agamasabar dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan agama; dan sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah.

โฃ3) Hati yang teguh dan kokoh dalam memegang kebenaran.
Sebagaimana Allah gambarkan kepada kita tentang kisah pemuda ashabul kahfi. Ya mereka adalah pemuda-pemuda yang teguh pendiriannya dalam memegang kebenaran.

โฃ4) Hati yang pemaaf. Banyak sekali ayat ataupun hadis yang menjelaskan keutamaan sifat pemaaf dan mencela sifat pendendam. Sebagaimana Allah gambarkan dalam firman-Nya, Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.s. Ali Imran [3]: 134).

๐Ÿ’ฆMasih ada satu lagi yang harus kita benahi dalam hati kita; kemampuan mengelola respons positif dan negatif dari orang lain.

Dalam hidup ini, tentu ada beragam orang yang akan kita temui. Bermacam pikiran melintas di hadapan kita. Bertemu cinta dan benci. Berkumpul sanjung dan caci maki. Bersandar sabar dan dangkalnya hati. Berpapasan dengan perangai cerdas dan kerdilnya pikiran. Tingkah terpelajar dan urakan.

Semua warna kehidupan menyapa kita dengan cara dan tujuannya masing-masing.

๐Ÿ’ฆKarenanya, jika hati kita tidak mampu mengatur lalu lintas kehidupan yang ada, sangat mungkin kita tidak akan sampai pada tujuan. Minimal letupan-letupan kegalauan yang akan mengganggu kehidupan.

๐Ÿ“šMenata ruang di hati kita

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Menata Ruang di Hati Kita

๐Ÿ“† Jumat, 16 Jumadil Akhir 1437H / 25 Maret 2016

๐Ÿ“š Motivasi

๐Ÿ“ Ustadz Umar Hidayat M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šMenata ruang di hati kita

Mari sejenak kita menata ruang di hati kita.
Sediakan ruang di hati kita untuk mendaur ulang segala yang negatif.
Sediakan ruang di hati kita untuk di benci, untuk di jelekkan, untuk dinodai, untuk tidak disukai.

๐Ÿ’ฆApa kata Allah? Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (Q.s. al-Baqarah [2]: 216)

๐Ÿ’ฆBerprasangka baiklah agar kita mudah menerima segala kondisi dan agar kita mampu merespons hal-hal dari luar untuk kemudian kita daur ulang dalam hati yang akan menjadi energi untuk membangkitkan kehidupan kita menjadi lebih baik.

Kondisi apa pun yang kita temui, insya Allah tidak akan menjadi masalah sepanjang kita mampu mengambil pelajaran terbaik.

๐Ÿ’ฆSetelah hati ini tertata, maka tahap berikutnya adalah latihan mengelola lalu lintas suara, pikiran, rasa, dan tindakan yang melintasi hati kita.

Benar kata Umar bin Khattab, โ€œJangan engkau kira sebuah kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin adalah keburukan. Sebab, bisa jadi itu adalah kebaikan yang ditangguhkan untukmu.โ€

๐Ÿ’ฆSalah satu cara menyiasati kehidupan ini agar kita tetap dalam kebaikan adalah dengan menata segala perpaduan atas kondisi yang kita temui. Kegetiran dan kesusahan akan berubah menjadi kenikmatan dan kemudahan. Begitu pula kesenangan dan kelapangan berubah menjadi kesedihan dan kesempitan.

๐Ÿ’ฆKita tidak boleh terburu-buru menjatuhkan vonis pada keadaan yang kita temui. Ingatlah, segala yang ada di dunia ini, tidak serta-merta bisa di ukur lahiriahnya saja.

๐Ÿ’ฆSebuah doa yang melapangkan dada dan menyejukkan jiwa dari seorang sahabat Rasulullah yang terkenal begitu cerdas dan tinggi keshalihannya, patut kita baca,
โ€œYa, Allah jika Engkau tidak menghendaki apa yang aku kehendaki, maka sabarkanlah aku atas apa yang Engkau kehendaki.โ€

๐Ÿ’ฆAda cukup banyak alasan mengapa kita harus menjadi pribadi yang elok dalam bersikap, bertutur, merasa, berpikir, dan bertindak, antara lain:

1โƒฃPertama, tidak ada manusia yang sempurna. Sesempurna-sempurnanya manusia, tetap saja ia memiliki serangkaian keterbatasan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan. Hanya Allah-lah yang sempurna.

Sederet sifat manusia akan terlihat dengan jelas ketika ia menghadapi sesuatu yang tidak diharapkan oleh dirinya, seperti ketika ditimpa musibah atau kesulitan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menempatkan diri kita sebaik mungkin, sebagai manusia yang tidak sempurnaโ€”meski memiliki kelebihan, tentu juga mempunyai kekurangan.

2โƒฃKedua, hidup ini beragam seperti halnya pelangi. Ia indah karena beragam sentuhan warna menghiasinya.
Keragaman ini pula yang selalu menjadi daya tarik kita untuk menikmatinya. Dalam keanekaragaman itulah keserasian dan keharmonisan lebih bisa dinikmati. Begitu juga hati dan pikiran manusia, hanya Allah-lah yang akan menyatukan hati kita. Akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. (Q.s. al-Anfaal [8]: 63)

3โƒฃKetiga, bukankah kepuasan manusia adalah kenikmatan yang tidak berujung?
Hidup ini tidak sekadar mengejar kepuasan, kadang kita juga terdorong dan bangkit karena menghindari sesuatu yang menyakitkan atau yang membuat kita menderita.

๐Ÿ“šSekuat positif thinking

๐Ÿ’ฆSekuat positif thinking dalam menyiasati kehidupan, maka kuatkanlah kita dengan berbagi pada sesama.

๐Ÿ’ฆEmosi negatif sekecil apa pun jika disimpan akan bertambah bahaya. Emosi negatif yang menumpuk pada akhirnya akan merampas โ€œenergi positifโ€ yang kita miliki, bahkan menghancurkannya. Maka self-help dengan cara bersikap jujur pada diri sendiri dan berani menghadapi masalah adalah solusi terbaik untuk menghadapinya.

๐Ÿ’ฆSelf-help bisa dalam bentuk bicara kepada diri kita sendiri, kepada Tuhan, yang bertujuan mengontrol, menyinergikan dan mengharmoniskan pikiran, emosi, kehendak, dan perilaku kita. Karena terkadang antara pikiran, emosi, dan keinginan tidak bekerja sebagaimana yang kita inginkan.

๐Ÿ’ฆMenyinergikannya memang tidak mudah, butuh latihan dan pembiasaan. Dengan itu, ia akan merasa lebih kuat dalam menghadapi masalah, meskipun persoalannya belum selesai. Sebab, setidaknya beban emosi dan pikiran negatif sudah dikeluarkan melalui self-help tadi.

๐Ÿ’ฆMelalui self-help, kita belajar meneguhkan hati untuk tetap percaya dan selalu mengatakan bahwa ada kebaikan dari setiap kondisi yang kita jalani. Ada hikmah di balik kesengsaraan kita. Kita yakin segala sesuatu sudah ada yang mengaturnya.

Ya, Allah Swt, bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa seizin-Nya. Tidak ada kejadian yang terjadi hanya kebetulan semata karena semua telah diatur oleh-Nya.

๐Ÿ’ฆSekuat positif thinking dalam menyiasati kehidupan, coba kita berlatih untuk menyiasati setiap keadaan dengan positif thinking.

๐Ÿ’ฆMisalnya ketika kita mengeluh, โ€œTuhan, jauhkanlah kesulitan dan masalah ini dari kehidupanku.โ€

Maka Self-help, ubahlah keluhanmu menjadi sesuatu yang lebih berefek positif; sudahi dan ubahlah keluhanmu menjadi daya dorong untuk meningkatkan kemampuanmu.
โ€œYa Allah, meski beban hidupku sangat berat, tapi selama Engkau masih mengizinkan diriku untuk mencobanya, maka aku akan tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan aku yakin bahwa Engkau akan menolong hamba-hamba-Mu yang bersabar,โ€

Atau ketika kita berucap, โ€œYa Allah, kenapa Engkau jadikan aku miskin?โ€ maka ubahlah menjadi, โ€œYa Allah, meskipun aku miskin materi, tapi Engkau telah mengayakanku dengan luasnya kelapangan di hati.โ€ Sejuk rasanya.

๐Ÿ’ฆSeperti setangguh ketakwaan Fudhail bin Iyadh, Ia bercerita:
Suatu ketika di Masjidil Haram, ia didatangi orang yang sedang menangis.

๐Ÿ”นFudhail bertanya penuh iba โ€œKenapa engkau menangis, Sahabat?โ€

๐Ÿ”บOrang itu segera menyahutnya, โ€œAku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu uang itu telah dicuri?โ€

๐Ÿ”นFudhail mengatakan, โ€œApakah engkau menangis karena kehilangan dinar?โ€

๐Ÿ”บMengejutkan jawaban orang itu, โ€œTidak. Aku memang menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan ada di hadapan Allah dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis.โ€

Sungguh orang-orang terdahulu sangat luar biasa, membuat kita nyaris selalu malu kala membaca dan mengingatnya.

๐Ÿ’ฆHati manusia memang satu, tetapi ia mampu menampung segalanya.

Jika hati tidak tertata, maka jadilah kita manusia yang limbung adanya. Jika hati telah tertata, hidup ini akan menjadi indah dan bahagia. Allah ciptakan semuanya tidaklah sia-sia. Baik yang positif maupun yang negatif, semua ada manfaatnya jika kita mampu mengambil pelajaran.

๐Ÿ’ฆJika mampu menyiasati kehidupan ini dengan baik, tentu kita tidak perlu lagi mencari dalih untuk menyalahkan kondisi yang menimpa kita, apalagi menyalahkan Allah Yang Mahakuasa. Kita hanya butuh menyiasati segala keadaan. Kuasa manusia berusaha, Allah-lah penentunya.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Seputar Pembagian Waris

โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐Ÿƒ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum.
saya mau bertanya urgent yang harus di selesaikan. tentang  warisan.
Bapak sudah meninggal 7 tahun yang lalu dan meninggalkan rumah di taksir 6 milyar. Ibu tinggal di rumah tersebut. Baiknya menunggu ibu meninggal, apa di jual dan di bagi kepada ahli warisnya?
Mengingat ahli waris ada yang ingin cepat di bagikan,  ada juga yang ingin nanti bila ibu sudah meninggal. mohon jawabannya segera. Ahli waris: Ibu (istri dari yang meninggal), 3 anak laki laki, 7 anak perempuan.

 (Tuti A12)

JAWABAN:

Wa ‘alaikumussalam, ya sebaiknya disegerakan agar jangan ada ahli waris yang terzalimi, tapi bersabar juga karena menjual rumah tidak mudah.

Lalu, setelah terjual bayarkan dulu semua hutang almarhum kalau ada. Kemudian, sisanya itu yang diwariskan.

Untuk ibu dapat 1/8, anak2 dapet sisanya ..

Ibu = 1/8 bagian
Anak laki-laki masing-masing
= 7/52 bagian
–> 3 anak = 21/52 bagian

Anak perempuan masing-masing
= 7/104 bagian
–> 7 anak = 49/104 bagian

1/8 + 21/52 + 49/104 = 1

Demikian. Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐Ÿƒ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Adab Mandi

โœUstadzah Dra.Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒท

๐ŸŒผPertanyaan dari Korma 3

๐ŸšฆSaya mau tanya tentang adab-adab mandi di dalam kamar mandi. Ada yang bilang katanya kita tidak boleh (maaf) telanjang bulat ya?

JAWABAN:

Sebagian orang merasa ragu tentang hukum mandi dalam keadaan membuka seluruh aurat, apakah boleh ataukah tidak. Di antara hal yang menyebabkan keraguan ini adalah sebuah hadits dari Muโ€™awiyah bin Haidah radhiallahu โ€˜anhu, dia berkata:
 ู‚ู„ุช: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุนูˆุฑุงุชู†ุงุŒ ู…ุง ู†ุฃุชูŠ ู…ู†ู‡ุง ูˆู…ุง ู†ุฐุฑุŸ ู‚ุงู„: ุงุญูุธ ุนูˆุฑุชูƒ ุฅู„ุง ู…ู†ุฒูˆุฌุชูƒ ุฃูˆ ู…ุง ู…ู„ูƒุช ูŠู…ูŠู†ูƒ. ู‚ู„ุช: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ู‚ูˆู… ุจุนุถู‡ู… ููŠุจุนุถุŸ ู‚ุงู„: ุฅู† ุงุณุชุทุนุช ุฃู† ู„ุง ูŠุฑุงู‡ุง ุฃุญุฏ ูู„ุง ูŠุฑุงู‡ุง. ู‚ุงู„: ู‚ู„ุช: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฅุฐุงูƒุงู† ุฃุญุฏู†ุง ุฎุงู„ูŠุงุŸ ู‚ุงู„: ูุงู„ู„ู‡ ุฃุญู‚ ุฃู† ูŠุณุชุญูŠูŠ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ

โ€œSaya bertanya: โ€œWahai Nabi Allah, aurat kita, manakah yang harus kita tutup dan manakah yang boleh kita tampakkan?โ€ Nabi menjawab: โ€œJagalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak (wanita)mu.โ€ Saya bertanya: โ€œWahai Rasulullah, apabila sekelompok orang sedang berkumpul bersama?โ€ Nabi menjawab: โ€œJika engkau mampu agar auratmu tidak bisa dilihat oleh seorangpun maka (usahakan) jangan sampai ada orang yang bisa melihatnya.โ€ Saya bertanya: โ€œWahai Nabi Allah, apabila salah seorang dari kita sendirian?โ€ Nabi menjawab: โ€œAllah lebih pantas bagi dia untuk malu terhadap-Nya daripada (malu) terhadap manusia.โ€ [HR At Tirmidzi (2794). Hadits hasan.]

Hadits di atas menerangkan bahwa jikalau kita malu untuk menampakkan aurat di hadapan orang lain, maka tentunya kita lebih patut lagi untuk malu kepada Allah jika kita membuka aurat ketika mandi.

Penjelasan yang benar dalam masalah ini, insya Allah, adalah bolehnya bagi seseorang untuk mandi dalam keadaan menyingkap seluruh aurat asalkan dilakukan di tempat yang tertutup atau jauh dari pandangan manusia agar mereka tidak dapat melihat kepada auratnya. Ada beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang untuk mandi telanjang. Di antara dalilnya adalah:

1. Kisah Nabi Musa AS Dari Abu Hurairah radhiallahu โ€˜anhu, bahwasanya Rasulullah  Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:
 ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุจูŽู†ููˆ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ููˆู†ูŽ ุนูุฑูŽุงุฉู‹ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ููˆุณูŽู‰ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู. ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู…ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ู…ููˆุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ู…ูŽุนูŽู†ูŽุงุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุขุฏูŽุฑู. ููŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุฌูŽุฑู. ููŽููŽุฑู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุจูุซูŽูˆู’ุจูู‡ู. ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽู…ููˆุณูŽู‰ ูููŠ ุฅูุซู’ุฑูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุซูŽูˆู’ุจููŠ ูŠูŽุง ุญูŽุฌูŽุฑู! ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽุธูŽุฑูŽุชู’ ุจูŽู†ููˆ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ููˆุณูŽู‰ุŒููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู…ูŽุง ุจูู…ููˆุณูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุจูŽุฃู’ุณู. ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ููŽุทูŽููู‚ูŽ ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุถูŽุฑู’ุจู‹ุง. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู†ูŽุฏูŽุจูŒ ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุณูุชู‘ูŽุฉูŒ ุฃูŽูˆู’ ุณูŽุจู’ุนูŽุฉูŒ ุถูŽุฑู’ุจู‹ุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู

โ€œMasyarakat Bani Israil biasa mandi bersama dalam keadaan telanjang. Mereka saling melihat kepada (aurat) yang lainnya. Sedangkan Musa AS mandi sendirian. Berkatalah masyarakat Bani Israil: โ€œDemi Allah, Musa itu tidak mau mandi bersama kita pasti karena ada cacat pada nya.โ€ Pada suatu ketika, Musa pergi mandi. Dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Lalu batu tersebut bergerak pergi sambil membawa pakaiannya. Musa pun mengejar batu tersebut di belakangnya sambil berkata: โ€œWahai batu, kembalikan bajuku!โ€ Kaum Bani Israil melihat kepada Musa dan berkata: โ€œDemi Allah, ternyata Musa tidak memiliki kelainan apapun.โ€ Lalu Musa mengambil bajunya dan langsung memukul batu tersebut.โ€ Abu Hurairah berkata: โ€œDemi Allah, pada batu tersebut terdapat enam atau tujuh tanda bekas pukulan.โ€ Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahih-nya  dan Imam Muslim di dalam Shahih-nya.

 2. Kisah Nabi Ayyub.
 ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฃูŽูŠู‘ููˆุจู ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุนูุฑู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง ููŽุฎูŽุฑู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฌูŽุฑูŽุงุฏูŒ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูุŒ ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฃูŽูŠู‘ููˆุจู ูŠูŽุญู’ุชูŽุซููŠ ูููŠุซูŽูˆู’ุจูู‡ู. ููŽู†ูŽุงุฏูŽุงู‡ู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู: ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูุŒ ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุฃูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽุบู’ู†ูŽูŠู’ุชููƒูŽ ุนูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฑูŽู‰ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุจูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุนูุฒู‘ูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ู„ูŽุง ุบูู†ูŽู‰ ุจููŠ ุนูŽู†ู’ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุชููƒูŽ

โ€œKetika (Nabi) Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, jatuhlah belalang-belalang dari emas di dekatnya. Lalu Ayyub menciduk (belalang-belalang emas itu) ke dalam pakaiannya. Maka Rabbnya memanggilnya: โ€œWahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan (rizki) bagimu dari (selain) apa yang engkau lihat?โ€ Ayyub menjawab: โ€œBenar (wahai Allah) demi keagungan-Mu, akan tetapi tidak cukup bagiku untuk (tidak mengambil) keberkahan-Mu.โ€ Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahih-nya. Kedua hadits di atas menerangkan bahwa Nabi Musa dan Ayyub โ€˜alaihimas salam mandi dalam keadaan telanjang. Jika ada yang mengkritik bahwa ini adalah syariat umat terdahulu dan tidak lagi berlaku pada umat Muhammad, maka hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab Fathul Bari bahwa Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam menceritakan kedua peristiwa kepada para sahabat tanpa ada catatan apapun dari beliau. Ini menunjukkan bahwa perbuatan kedua nabi tersebut diakui di dalam syariat kita. Kalau seandainya hal ini tidak diakui oleh syariat kita, maka pastilah Nabi  Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  telah menerangkannya kepada kita.

3. Kisah Nabi Muhammad Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  mandi bersama Aisyah radhiallahu โ€˜anha. Rasulullah Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam pernah mandi bersama istri beliau Aisyah di dalam satu ruangan pada waktu yang sama. Aisyah berkata: ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฅูู†ูŽุงุกู ูˆูŽุงุญูุฏู ุชูŽุฎู’ุชูŽู„ููู ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู†ูŽุง ูููŠู‡ู โ€œSaya pernah mandi (janabah) bersama Nabi Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam dari satu bejana dan tangan kami saling bergantian (mengambil air) di dalamnya.โ€ [HR Al Bukhari dan Muslim]

4. Kisah Nabi Muhammad Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  mandi bersama Maimunah radhiallahu โ€˜anha. Dari Abdullah ibnu Abbas radhiallahu โ€˜anhu, dia berkata:

 ุฃุฎุจุฑุชู†ูŠ ู…ูŠู…ูˆู†ุฉ ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ุชุบุชุณู„ ู‡ูŠ ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฅู†ุงุกูˆุงุญุฏ

Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam   โ€œMaimunah telah mengabarkan kepada saya bahwa dia pernah mandi bersama Nabi  dari satu bejana.โ€ [HR Muslim (322)] Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam Walaupun kedua hadits di atas tidak secara jelas menyatakan bahwa Nabi   mandi telanjang, akan tetapi para ulama berdalil dengan hadits ini tentang bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya ataupun sebaliknya. Silakan melihat kalam Ibnu Hajar di Fathul Bari. Adapun hadits-hadits yang melarang seseorang untuk melihat aurat istrinya, maka seluruhnya adalah lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Lantas bagaimana dengan hadits Muawiyah bin Haidah radhiallahu โ€˜anhu di atas yang menerangkan bahwa kita harus malu kepada Allah ta’ala jika mandi dalam keadaan telanjang? Jawabannya adalah hadits Muawiyah bin Haidah menunjukkan bahwa mandi dalam keadaan menutup aurat adalah lebih utama dan lebih sempurna, bukan wajib. Al Munawi berkata: โ€œAsy Syafiโ€™iyyah membawa hadits ini kepada hukum an nadb (lebih utama).

Di antara yang mendukung pendapat mereka adalah Ibnu Jarir. Dia menafsirkan hadits ini di kitab Tahdzibul  Aatsar kepada hukum nadb. Dia berkata: โ€œKarena Allah taโ€™ala tidak tersembunyi darinya segala sesuatu dari makhluk-Nya, baik telanjang ataupun tidak telanjang.โ€  Pendapat ini juga didukung Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mandi dalam keadaan telanjang hukumnya adalah diperbolehkan dengan syarat auratnya tidak terlihat oleh orang lain selain istri. Akan tetapi, yang lebih utama dalam hal ini adalah mandi dengan menutup auratnya.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Dosakah Istri Siri yang Menyembunyikan Pernikahannya dengan Istri Pertama Suaminya?

โœUstadzah Dra.Indra Asih

 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

๐ŸƒPertanyaan dari Korma 3

Assalamualaikum…. Ustadz/ustadzah… terkait dengan pertanyaan dan jawaban tentang istri siri yang baru saja di share, saya jadi kepikiran diri saya sendiri.

1. Apakah saya termasuk orang yang berdosa karena menikah dengan suami orang ?
Pada saat mau menikah, saya tahu suami sudah punya istri. Tetapi mereka sampai sekarang  belum dikaruniai keturunan. Alasan ingin mendapatkan keturunan yang membuat suami mau menikahi saya. Pernikahan saya sah (ada buku nikah), tetapi sampai sekarang masih ditutupi dengan istri pertamanya. Saya menikah sudah 8 tahun lebih. Dan sudah dikaruniai 2 orang anak. Saya tidak pernah berusaha untuk membicarakan soal pernikahan saya dengan istrinya yang pertama. Karena suami melarang saya. Alhamdulillah dari awal keluarga suami merestui pernikahan kami.

2. Jika memang berdosa, bagaimana sebaiknya saya bersikap ? Apakah saya harus mengajukan cerai ?

JAWABAN:

๐ŸŒฟPertanyaan 1

Ketika memutuskan untuk mempertahankan Rumah Tangga, maka lebih baik membahas langkah-langkah yang bisa diambil agar rumah tangga uhty menjadi menyenangkan. Diantaranya:

1. Bersabarlah

2. Berlatih Untuk Mengutarakan Perasaan

Terkadang sulit sekali mengutarakan perasaan dan maksud hati kita pada suami. Untuk menghadapi suami yang demikian, maka sebagai istri kita dituntut untuk bisa sepintar mungkin mengutarakan maksud hati dan perasaan pada suami. Maksud pintar disini adalah istri dituntut untuk bisa menyampaikan maksud hatinya dengan baik tanpa menyinggung atau menyakiti perasaan suaminya. Jangan serta merta anda mengatakan suami anda egois jika perasaan dan keinginan anda tak pernah digubrisnya. Jika hal ini sampai terjadi, maka bukan saja anda tidak akan didengar justru pertengkaran akan semakin mudah tersulut dan terjadi dalam rumah tangga anda. Cukup katakan pada suami bahwa anda dan anak-anak membutuhkan perhatiannya. Contoh lain, mintalah suami untuk lebih memperhatikan kata-kata anda sewaktu anda dan suami mengobrol. Tidak perlu kata-kata kasar untuk mengungkapkan rasa kesal anda pada suami, sebaliknya ungkapkan dengan lembut tanpa membuat suami tersakiti.

3. Berbincang dengan suami dari hati ke hati.

Ingatkan dirinya bahwa rumah tangga akan lebih harmonis dan bahagia jika ia mau memperhatikan istri dan anak lebih banyak daripada memperhatikan pekerjaan semata

Pesan Rasulullah untuk para suami:

โ€œBertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allahโ€ (HR Muslim)

3. Cerdas Sewaktu Berkompromi

Pada saat anda membutuhkan bantuan suami namun mereka menolak melakukannya, maka hindari memarahi atau bahkan mengumpat suami. Sebaliknya lakukan kompromi bersama dengan suami. Misalkan, ketika anda sedang memasak dan anak anda menangis ingin digendong, sementara anda melihat suami sedang bersantai. Maka mintalah suami untuk mengajak anak dan menjaganya sementara anda memasak dan berikan pula kompensasi pada suami bahwa anda akan memasak menu yang disukainya. Dengan begitu, suami akan merasa lebih baik dan seolah tidak diperintah, melainkan lebih merasa tulus sewaktu membantu anda.

4. Usulkan Waktu Bersama

Usulkan waktu bersama untuk melakukan hal-hal positif yang menyenangkan yang bisa meningkatkan kesehatan mental anda dan pasangan. Seperti misalkan melakukan beberapa hal dengan jalan-jalan atau berolah raga bersama atau bisa juga dilakukan dengan melakukan kegiatan yang disukai suami.

5. Tumbuhkan Rasa Sayang

Permasalahan yang terjadi sehari-hari apalagi dilatarbelakangi oleh sifat suami yang kurang disukai seringkali membuat seorang istri lupa caranya menyenangkan suami. Hal ini mungkin saja disebabkan karena istri terlalu sibuk mengurus anak dan urusan rumah tangga dan mengelola keungan rumah tangga. Sehingga perhatian dan kasih sayang istri pada suami menjadi berkurang. Begitupun dengan suami saat mereka tak diberikan perhatian, mereka akan cenderung menganggap jika kita sudah tak lagi mencintainya. Untuk itulah, ketika anda ingin diperlakukan baik oleh suami maka perlakukan mereka seperti anda ingin diperlakukan. Suami yang makin sayang pada istrinya akan secara otomatis lebih peka dan lebih peduli pada sang istri, bahkan mereka lebih rela mengesampingkan lelahnya sekalipun.

Terkait masalah nafkah:

Allah SWT berfirman dalam surah an-Nisaaโ€™ ayat 34, โ€œKaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian harta mereka…โ€

Dalam ayat ini jelas disebutkan jika kewajiban memberi nafkah ada di pundak laki-laki. Seorang suami harus berusaha sekuat kemampuannya untuk memberi nafkah kepada istrinya. Meski kondisi sedang sulit, kewajiban ini tidak lantas gugur dengan sendirinya. Bahkan, jika ia sengaja tidak bekerja maka beberapa ulama menggolongkan perbuatannya masuk dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, โ€œCukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya.โ€ (HR Muslim).

Di sisi lain baik seorang laki-laki itu bekerja atau tidak, ia tetap pemimpin dari istrinya. Artinya meski memiliki penghasilan, seorang wanita tidak boleh merendahkan atau menolak taat kepada suaminya. Sepanjang perintah sang suami tidak dalam bentuk kemaksiatan.

Harta yang dihasilkan dari pekerjaan istri sepenuhnya milik istri. Jika ia menggunakannya untuk menafkahi keluarga maka itu termasuk sedekah dan kemuliaan. โ€œApabila seorang Muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.โ€ (HR Bukhari)

๐ŸŒฟPertanyaan 2

Yang perlu dibahas adalah ketika pernikahan ke dua sudah terjadi

1.  Salah satu yang dituntut untuk dilakukan oleh suami yang melakukan poligami adalah bersikap adil secara materi dalam masalah nafkah lahir batin. Suami wajib memberikan nafkah yang memenuhi kelayakan yang sama kepada semua istrinya. Suami wajib memberikan jatah gilir waktu kunjungan yang sama. Jika tidak sanggup melakukan hal ini, Islam mengingatkan agar tidak melakukan poligami. Allah berfirman;

ููŽุฅูู†ู’ ุฎููู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุนู’ุฏูู„ููˆุง ููŽูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุนููˆู„ููˆุง

โ€œJika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahlah dengan seorang wanita saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada sikap tidak berbuat aniaya.โ€ (QS. An-Nisa: 3).

Bahkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengancam sikap tidak adil semacam ini. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽุงู†ู ูŠูŽู…ููŠู„ู ู„ูุฅูุญู’ุฏูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ุฌูŽุงุกูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุฏู ุดูู‚ูŽู‘ูŠู’ู‡ูู…ูŽุงุฆูู„ูŒ

โ€œSiapa yang memiliki dua istri, namun dia hanya mementingkan salah satunya, maka dia akan datang pada hari kiamat, sementara salah satu sisi badannya condong.โ€ (HR. Ahmad, An-Nasai, Ibn Majah).

2. Untuk mewujudkan semangat adil sebagaimana keterangan di atas, sebagian ulama mempersyaratkan bahwa suami yang hendak poligami harus diketahui oleh semua istrinya. Karena seseorang tidak mungkin bisa bersikap adil, sementara hubungan terhadap semua istrinya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam kenyataannya, mereka yang melakukan praktik poligami secara sembunyi-sembunyi, tidak diketahui istri pertama, sangat kesulitan untuk bisa bersikap adil. Jika tidak mementingkan istri pertama, dia lebih mengunggulkan istri kedua. Tentu saja, sikap sembunyi-sembunyi semacam ini telah menjerumuskan dia ke dalam jurang maksiat.

Meskipun, bukan syarat poligami harus diizinkan istri pertama. Dua hal yang perlu dibedakan, diketahui istri dan izin dari istri. Poligami harus diketahui istri, meskipun tidak diizinkan oleh istri.

3.  Untuk kasus ukhty sebaiknya kembalikan penyelesaian permasalahan pada suami.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐Ÿƒ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Jadi …, Minum Sambil Berdiri Boleh Apa Enggak Sih?

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS

๐Ÿ“Œ Riwayat yang menunjukkan BOLEHnya minum sambil  berdiri

Berikut ini adalah keterangan bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah minum sambil berdiri.

โœ… Dari Nazzal, katanya:

ุฃูŽุชูŽู‰ ุนูŽู„ููŠูŒู‘ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุงุจู ุงู„ุฑูŽู‘ุญูŽุจูŽุฉู ููŽุดูŽุฑูุจูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ู†ูŽุงุณู‹ุง ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ูŒ ูˆูŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ููˆู†ููŠ ููŽุนูŽู„ู’ุชู

    โ€œAli Radhiallahu โ€˜Anhu datang ke pintu Ar Rahabah, lalu dia minum sambil berdiri, lalu berkata: Sesungguhnya manusia membenci salah seorang mereka minum sambil berdiri. Sesungguhnya saya melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melakukan seperti yang kalian lihat terhadap perbuatanku.โ€ (HR. Bukhari No. 5292)

โœ… Dari Amru bin Syuโ€™aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

ุฑุฃูŠุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง ูˆู‚ุงุนุฏุง

โ€œAku melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum sambil berdiri dan duduk.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1944, katanya: hasan shahih.  Syaikh Al Albani menyatakan hasan dalam Mukhtashar Asy Syamail Muhammadiyah No. 177)

โœ… Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุณู‚ูŠุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุฒู…ุฒู… ูุดุฑุจ ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…

โ€œAku menuangkan air zamzam kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lalu dia meminumnya sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam Mukhtashar Asy Syamail Muhammadiyah No. 178)

โœ… Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุดุฑุจ ู…ู† ุฒู…ุฒู… ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…ูŒ

    โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum zamzam sambil berdiri.โ€(HR. At Tirmidzi No. 1943, katanya: hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1882)

โœ… Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุงุนูุฏู‹ุง

    โ€œAku melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum sambil berdiri dan duduk.โ€ (HR. An Nasaโ€™i No. 1361, Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasaโ€™i No. 1361)

๐Ÿ“Œ Selanjutnya adalah keterangan bahwa Beliau MELARANG  minum sambil berdiri.

โœ–๏ธ Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจูŽู†ูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุณููŠูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ูุฆู’

โ€œJanganlah salah seorang kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa, maka muntahkanlah.โ€ (HR. Muslim No. 2026)

โœ–๏ธ Dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุฃู† ูŠุดุฑุจ ุงู„ุฑุฌู„ ู‚ุงุฆู…ุง ูู‚ูŠู„ ุงู„ุฃูƒู„ ู‚ุงู„: ุฐุงูƒ ุฃุดุฏ

    โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seseorang minum sambil berdiri.โ€ Dikatakan: kalau makan? Beliau menjawab: lebih keras lagi larangannya.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1940, Katanya: hadits ini shahih. Dalam riwayat Muslim No. 2024, lafaznya: lebih jelek dan lebih buruk lagi)

โœ–๏ธDari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฒุฌุฑ ุนู† ุงู„ุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง.

โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri.โ€ (HR. Muslim No. 2024, juga dengan lafaz yang sama dari jalur Abu Said Al Khudri No. 2025)

โœ–๏ธ Dari Al Jarud bin Al โ€˜Ala Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:  

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง

โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1941, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1880)

Kita lihat berbagai keterangan riwayat shahih ini, bahwa Beliau minum sambil berdiri dan disaksikan oleh beberapa sahabatnya. Dan,  beliau juga melarang minum sambil berdiri dan ini pun juga didengar dan diriwayatkan oleh beberapa sahabatnya.

Perbedaan ini membuat perselisihan pendapat di antara para ulama; ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan.  Tapi mereka sepakat, minum sambil duduk adalah afdhal. Ada sebagian ulama menganggap hadits-hadits ini musykil (bermasalah), bahkan dhaif (lemah), dan ada pula yang menganggap yang satu menasakh (menghapus) yang lain. Sem
ua ini dibantah oleh Imam An Nawawi dengan bantahan yang bagus. Beliau melakukan metode kompromi di antara riwayat yang nampaknya bertentangan ini. Baginya, semua riwayat ini terbukti shahih, tidak ada yang merevisi satu sama lain,  baik berdiri atau duduk, keduanya adalah boleh tetapi duduk adalah lebih utama dan sempurna.

Perhatikan  penjelasan Imam An Nawawi Rahimahullah:

  ุงูุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ุฃูŽุดู’ูƒูŽู„ูŽ ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู„ู‹ุง ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุฒูŽุงุฏูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุฌูŽุงุณูŽุฑูŽ ูˆูŽุฑูŽุงู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุถูŽุนูู‘ู ุจูŽุนู’ุถู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุงุฏูŽู‘ุนูŽู‰ ูููŠู‡ูŽุง ุฏูŽุนูŽุงูˆููŠ ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ู„ูŽุง ุบูŽุฑูŽุถ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฐููƒู’ุฑู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูˆูŽุฌู’ู‡ ู„ูุฅูุดูŽุงุนูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจูŽุงุทููŠู„ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽู„ูŽุทูŽุงุช ูููŠ ุชูŽูู’ุณููŠุฑ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู† ุŒ ุจูŽู„ู’ ู†ูŽุฐู’ูƒูุฑ ุงู„ุตูŽู‘ูˆูŽุงุจ ุŒ ูˆูŽูŠูุดูŽุงุฑ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชูŽู‘ุญู’ุฐููŠุฑ ู…ูู†ู’ ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงุฑ ุจูู…ูŽุง ุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ุจูุญูŽู…ู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฅูุดู’ูƒูŽุงู„ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ุถูŽุนู’ู ุŒ ุจูŽู„ู’ ูƒูู„ู‘ู‡ูŽุง ุตูŽุญููŠุญูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ูˆูŽุงุจ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ู‡ู’ูŠ ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุงู„ุชูŽู‘ู†ู’ุฒููŠู‡ . ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุดูุฑู’ุจู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽุจูŽูŠูŽุงู† ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุŒ ููŽู„ูŽุง ุฅูุดู’ูƒูŽุงู„ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุนูŽุงุฑูุถ ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ู ูŠูŽุชูŽุนูŽูŠูŽู‘ู† ุงู„ู’ู…ูŽุตููŠุฑ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุฒูŽุนูŽู…ูŽ ู†ูŽุณู’ุฎู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑู‡ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุบูŽู„ูุทูŽ ุบูŽู„ูŽุทู‹ุง ููŽุงุญูุดู‹ุง ุŒ ูˆูŽูƒูŽูŠู’ู ูŠูุตูŽุงุฑ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุณู’ุฎ ู…ูŽุนูŽ ุฅูู…ู’ูƒูŽุงู† ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุน ุจูŽูŠู’ู† ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ู„ูŽูˆู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุงุฑููŠุฎ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‰ ู„ูŽู‡ู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ . ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู… . ููŽุฅูู†ู’ ู‚ููŠู„ูŽ : ูƒูŽูŠู’ู ูŠูŽูƒููˆู† ุงู„ุดูู‘ุฑู’ุจ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุนูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŸ ููŽุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุจ : ุฃูŽู†ูŽู‘ ููุนู’ู„ู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽูŠูŽุงู†ู‹ุง ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ุŒ ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุจูŽูŠูŽุงู† ูˆูŽุงุฌูุจ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ููŽูƒูŽูŠู’ู ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุชูŽูˆูŽุถูŽู‘ุฃูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ูˆูŽุทูŽุงููŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนููŠุฑ ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุน ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ูˆูุถููˆุก ุซูŽู„ูŽุงุซู‹ุง ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ูˆูŽุงู ู…ูŽุงุดููŠู‹ุง ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ ุŒ ูˆูŽู†ูŽุธูŽุงุฆูุฑ ู‡ูŽุฐูŽุง ุบูŽูŠู’ุฑ ู…ูู†ู’ุญูŽุตูุฑูŽุฉ ุŒ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูู†ูŽุจูู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุก ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุช ุŒ ูˆูŽูŠููˆูŽุงุธูุจ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ ู…ูู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ูˆูุถููˆุฆูู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซ ุซูŽู„ูŽุงุซู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ุทูŽูˆูŽุงูู‡ ู…ูŽุงุดููŠู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ุดูุฑู’ุจู‡ ุฌูŽุงู„ูุณู‹ุง ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุงุถูุญ ู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽุดูŽูƒูŽู‘ูƒ ูููŠู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ู†ูุณู’ุจูŽุฉ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูู„ู’ู… . ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู… .

    โ€œKetahuilah, hadits-hadits ini menurut sebagian ulama dinilai musykil (bermasalah) maknanya, sampai-sampai di antara mereka terdapat pendapat-pendapat yang batil, ditambah lagi sampai berani melemparkan anggapan sebagian hadits-hadits tersebut adalah  dhaif. Mereka mengklaim dengan vonis yang batil tapi kami tidak bermaksud membahasnya di sini, dan tidak akan menyebarkan kebatilan dan kekeliruan penafsiran mereka terhadap sunah. Tetapi kami akan sampaikan kebenaran tentang ini, bahwa larangan tersebut bermakna makruh tanzih (makruh  mendekati mubah, yang sebaiknyantidak dilalukan). Ada pun minumnya Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam secara berdiri merupakan penjelasan atas kebolehannya. Tidak ada musykil dan tidak ada pula kontradiksi, inilah yang telah kami sebutkan maknanya. Ada pun barangsiapa menyangka adanya nasakh (amandemen)  atau lainnya, maka itu merupakan kesalahan yang buruk. Bagaimana bisa terjadi nasakh, padahal masih bisa dimungkinkan jamโ€™u (kompromi) antara hadits-hadits yang ada.  Wallahu Aโ€™lam. Jika dikatakan: โ€œBagaimana bisa minum berdiri adalah makruh padahal Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melakukannya?โ€ Jawabnya: โ€œSesungguhnya perbuatan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika sebagai penjelas atas kebolehan sesuatu, maka tidaklah itu menjadi makruh, bahkan penjelasan itu adalah wajib atasnya (untuk menjelaskan), bagaimana hal itu menjadi makruh, padahal telah shahih darinya bahwa beliau berwudhu pernah sekali-sekali, thawaf  dengan menunggang  Unta, sedangkan ijmaโ€™ menyebutkan bahwa wudhu hendaknya tiga kali-tiga kali, dan thawaf dengan berjalan kaki adalah lebih sempurna. Pandangan-pandangan ini tidaklah dibatasi, sebab dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengabarkan kebolehan sesuatu sekali atau berkali-kali, dan beliau
menegaskan pula mana yang afdhalnya. Demikian juga, bahwa kebanyakan wudhu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tiga kali-tiga kali, dan lebih banyak thawaf dengan berjalan kaki, dan lebih banyak minum dengan cara duduk. Dan, ini sangat jelas, tanpa ada keraguan lagi bagi orang-orang yang menyerukan dirinya kepada ilmu. Wallahu Aโ€™lam.โ€ (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/62. Mawqiโ€™ Al Islam)

    Kesimpulannya, menurut Imam An Nawawi pendapat yang paling kuat dalam memahami perbedaan hadits-hadits ini adalah menunjukkan kebolehan minum sambil berdiri, tetapi dengan cara duduk adalah lebih utama, sebab itu yang lebih ditekankan.  Dalam kitab Riyadhushshalihin Beliau pun membuat Bab Bayan Jawaz Asy Syurb Qaa-iman wa Bayan An Al Akmal wal Afdhal Asy Syurb Qaaโ€™idan. (Penjelasan Bolehnya Minum Berdiri dan Penjelasan Bahwa Lebih Sempurna dan Utama Minum adalah Sambil Duduk)

   ๐Ÿ“Œ Tarjih Imam An Nawawi ini diperkuat oleh perilaku para sahabat, bahwa mereka pun pernah minum berdiri.

๐Ÿ“•  Umar, Ali, dan Utsman Radhiallahu โ€˜Anhum

ุนู† ู…ุงู„ูƒ ุฃู†ู‡ ุจู„ุบู‡ ุฃู† ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ ูˆุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ูˆุนุซู…ุงู† ุจู† ุนูุงู† ูƒุงู†ูˆุง ูŠุดุฑุจูˆู† ู‚ูŠุงู…ุง

    Dari Malik,  sesungguhnya telah sampai kepadanya, bahwa Umar bin Al Khathab, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan, mereka minum sambil berdiri. (Al Muwaththaโ€™ No. 1651)

๐Ÿ“˜  Zubeir bin Awwam Radhiallahu โ€˜Anhu

Dari Abdullah bin Az Zubier, dari Ayahnya (yakni Zubeir bin Awwam):

ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง

โ€œBahwa dia (ayahnya) minum sambil berdiri.โ€ (HR. Malik, Al Muwaththaโ€™ No. 1654)

๐Ÿ“™   โ€˜Aisyah dan Saad bin Abi Waqqash Radhiallahu โ€˜Anhuma

    Dari Ibnu Syihab, katanya:

ุฃู† ุนุงุฆุดุฉ ุฃู… ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุณุนุฏ ุจู† ุฃุจูŠ ูˆู‚ุงุต ูƒุงู†ุง ู„ุง ูŠุฑูŠุงู† ุจุดุฑุจ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู… ุจุฃุณุง

    โ€œBahwa Ummul Muโ€™minin โ€˜Aisyah dan Saโ€™ad bin Abi Waqqash menganggap tidak apa-apa manusia minum sambil  berdiri.โ€ (HR. Malik, Al Muwaththaโ€™ No. 1652. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 19591. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 5/514,  No. 5)

๐Ÿ“”   Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Ahuma

    Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ูƒู†ุง ู†ุฃูƒู„ ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู†ุญู† ู†ู…ุดูŠ ูˆู†ุดุฑุจ ูˆู†ุญู† ู‚ูŠุงู…ูŒ

    โ€œKami makan pada zaman Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sambil berjalan dan minum sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1942, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3301,  Ahmad No. 5607. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf , 5/515, No. 16)

    Selain itu juga dari Abu Hurairah, Said bin Jubeir, Al Hasan, dan lainnya. Wallahu Aโ€™lam

Berwudhu dengan Air yang Tercampur Bahan Kimia

โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ–Assalamualaikum wr wb.                                      
___________________

Pertanyaan nya.      

Boleh gak  ya pake air buat wudhu  ยฅฤ…ษฒวฅ sudah tercampur…

saya tinggal dikomplek perkebunan jauh dr kota yg asal airnya berasal dari satu sumber tampungan kolam besar. air disini keruh, karna berlumpur. jadi untuk menjernihkan, dipakai bahan kimia.

yg saya tanyakan, bagaimana hukumnya memakai air tersebut untuk bersuci…?
terimakasih.
Pertanyaan dari ukhti Endah ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Jawaban nya.                      

Jika diberikan zat kimia, lalu air tersebut tetap dan bahan kimianya tidak merubahnya, maka boleh wudhu di situ. Walau berlumpur atau keruh. Di daerah tanah gambut memang begitulah airnya, tidak apa-apa. Al Maa’u thahuurun laa yunajjisuhu syai’un – air itu suci dan tdk ada apa pun yg menajiskannya …

Tp jika merubah aroma dan rasa, walau air tersebut menjadi bening, maka air tersebut telah menjadi air thahir, suci tapi tidak mensucikan. Seperti soda, air kuah, sirup, dan semisalnya. (Lihat penjelasannya dalam Syarah Bulughul Maram yang pertama).

Menurut ijma, jika sudah ada perubahan salah satu dr 3 unsur tsb, maka sudah tidak bisa dipakai bersuci, walau dia suci, istilahnya air thahir.

Wallahu a’lam…

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Keteguhan Para Prajurit, Keteladan Para Perwira Menjelang Masa Akhir Kekhalifahan Turki Utsmani

๐Ÿ“† Kamis, 15 Jumadil Akhir 1437H / 24 Maret 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Pertempuran Bukit Scimitar – 21 Agustus 1915

Pertempuran di “Bukit Pedang Bengkok” ini dikenal di Turki sebagai Yusufรงuk Tepe atau Bukit Capung (Dragonfly Hill) adalah serangan terakhir yang dilancarkan oleh Inggris di Suvla menghadapi Khilafah Turki Utsmani pada perang di Gallipoli, Perang Dunia Pertama.

Serangan ini adalah yang terbesar dalam satu hari yang pernah digelar oleh Sekutu di Gallipoli dengan mengerahkan 3 divisi. Tujuan dari serangan ini adalah untuk menghilangkan potensi ancaman Turki Utsmani atas pantai pendaratan Suvla serta mencoba menghubungkannya dengan sektor pendaratan ANZAC di selatan.

Serangan ini dilancarkan pada hari Ahad 4 Syawal 1333 Hijriah (21 Agustus 1915) yang diserentakkan dengan penyerangan terhadap Bukit-60. Serangan ini membuahkan kegagalan yang meminta korban dalam jumlah yang banyak bukan hanya pihak sekutu namun juga dari pihak Turki Utsmani. Pertempuran ini berlangsung hingga masuk waktu malam dimana parit pertahanan sempat berganti tangan beberapa kali.

๐Ÿ“ŒPermulaan

Kemandegan menghampiri Sekutu pada kampanye militer di front Gallipoli ini sejak sulitnya mereka merebut Helles di ujung semenanjung sejak pendaratan gelombang pertama pada tanggal 25 April. Bukit Scimitar mendapatkan nama julukannya karena puncaknya yang berbentuk cembung. Bukit ini pada mulanya menjadi sasaran hari-pertama (7 Agustus) namun Jend. Stopford sangat ragu-ragu untuk maju tanpa kepastian dukungan artileri.

Pada pagi hari tanggal 9 Agustus, pasukan Inggris baru memulai upaya serius untuk menguasai tebing Tekke Tepe. Dalam konteks manuver di atas, Bukit Scimitar yang menghalangi arah serangan ke Tekke Tepe dari arah barat-daya sebenarnya sudah dikuasai lebih dahulu tanpa perlawanan oleh Batalion ke-6 dari Resimen East-Yorkshire sehari sebelumnya.

Hanya saja, Bukit Scimitar kemudian ditinggalkan oleh kesatuan tersebut tanpa sebab yang jelas sehingga diduduki kembali oleh pasukan Turki Utsmani. Inggris berusaha merebutnya kembali dan sempat terjadi perpindahan kekuasaan beberapa kali sebelum akhirnya Turki Utsmani berjaya sekitar tengah hari. Keesokan harinya, Divisi Infanteri Ke-53 kembali menyerbu Bukit Scimitar namun tetap menemui kegagalan; bahkan menyebabkan daya tempur divisi tersebut berkurang drastis.

๐Ÿ“ŒPertempuran

Pada 15 Agustus, Jend. Stopford dibebas-tugaskan serta digantikan olrh Mayor Jend. Beauvoir De Lisle sebagai komandan sementara Korps IX sampai datangnya Jend. Julian Byng. De Lisle menghentikan semua penyerangan karena banyaknya korban yanb berjatuhan dari aksi sebelumnya. De Lisle hanya memusatkan perhatiannya pada penguatan atas area yang telah dikuasainya.

Rencana pada tanggal 21 Agustus adalah untuk menyerang Bukit Scimitar dengan Divisi Ke-29 dan Bukit-W diserang oleh Divisi Ke-11 dengan Yeomanry sebagai cadangan. Sebagaimana biasa pada pendahuluan serangan, tembakan artileri Inggris begitu sengit menembak namun kebanyakan tidak tepat sasaran karena faktor alam serta minimnya pantauan udara. Di lain pihak, posisi Turki Utsmani yang berada di atas dataran yang lebih tinggi memudahkan mereka untuk membaca gerakan lawannya serta lebih akurat mengarahkan tembakannya.

Serbuan Divisi Ke-11 menjadi berantakan karena menghadapi banyaknya titik-kuat pasukan Turki Utsmani yang tidak terlihat sebelumnya; disamping tembakan artileri lawan dari balik bukit yang akurasinya mematikan. Oleh karena itu, ketika Batalion Ke-1 dari Royal Inniskilling Fusiliers berhasil mencapai Bukit Scimitar mereka dihujani tembakan dari berbagai arah termasuk dari Bukit-W yang belum berhasil dikuasai. Kesatuan Irlandia ini terpaksa mundur dari Bukit Scimitar sambil menerobos rerumputan kering yang terbakar akibat bertubinya tembakan artileri Turki Utsmani. Sebuah neraka kecil bagi prajurit yang tidak sempat meloloskan dirinya.

Sekitar pukul 17.00 sore, Inggris mengerahkan kesatuan baru yaitu Divisi Kavaleri Ke-2 dari pantai Lala Baba untuk merebut kembali Bukit Scimitar melintasi dasar danau kering. Mereka maju berbaris rapi seperti perang zaman baheula. Mereka maju menerobos medan yang berkabut dan asap yang menutupi pandangan. Ke-5.000 pasukan dalam 5 brigade itu maju dengan gagah di lapangan terbuka sehingga menjadi sasaran empuk para penembak jitu Turki Utsmani di bukit yang lebih tinggi. Banyaknya korban yang gugur memaksa mereka untuk menghentikan langkah di dekat Bukit Green untuk berlindungan dari kematian sia-sia. Namun, Brig. Jend. Lord Longford tetap memaksa Brigade Kavaleri Ke-2 South Midland untuk terus maju, mereka semua disapu bersih oleh tembakan yang sangat akurat.

Serangan ini merupakan yang terakhir dilakukan Inggris di area operasi Suvla. Tapal batas kedua pihak antara Bukit Scimitar dan Bukit Green menjadi perbatasan statik hingga ke akhir kampanye Gallipoli pada tanggal 20 Desember.

๐Ÿ“ŒCatatan Tambahan

Dalam satu hari pertempuran ini telah menelan korban pada pihak Inggris sebanyak 5.300 personil dari 14.300 yang dikerahkan. Hanya dua penganugerahan bintang Victoria Cross di front Suvla diberikan pada 9 Agustus kepada Kapten Percy Hansen yang menolong prajuritnya yg terluka turun dari Bukit Scimitar dan satu lagi kepada Prajurit Frederick Potts pada pertempuran di Bukit Scimitar pada tanggal 21 Agustus.

Agung Waspodo, merasakan bahwa setiap jengkal pantai dan setiap tapakan bukit di Gallipoli adalah bukti atas keteguhan para prajurit serta keteladanan para perwira di penghujung akhir kekhilafahan, 100 tahun berlalu lebih 2 hari..

Depok, 23 Agustus 2015, subuh lewat sedikit..

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…