POSISI RASUL ﷺ BAGI UMATNYA (مكانة الرسول ص.)

📆 Jumat, 23 Jumadil Akhir 1437H / 1 April 2016

📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ust. Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌿 Sebuah kenikmatan besar bagi umat manusia adalah ketika Allah ﷻ mengutus seorang manusia pilihan-Nya untuk menjadi Nabi sekaligus Rasul, dan sekaligus menutup mata rantai kenabian dalam skenario kehidupan yang fana ini.

Kehadiran Nabi Muhammad ﷺ secara khusus adalah untuk memenangkan Islam di atas seluruh manhaj kehidupan yang ada, sehingga umatnya didorong untuk terus pro-aktif menjadi ‘misionaris’ ajaran yang haq untuk keselamatan alam dan seisinya. Ini bermakna, jika umatnya memilih untuk bersikap pasif atau egoisme pribadi, maka sejatinya ia telah mendukung tegaknya manhaj kehidupan selain Islam.

🕋 Allah berfirman,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ ڪُلِّهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah/9:33)

🔑 📌Al-Imām Ibn Jarīr ath-Thabarī menegaskan di dalam kitab tafsirnya (Jāmi’ al-Bayān an Ta’wīl ayi al-Qur’ān), agar Islam lebih tinggi, melebihi agama-agama lainnya.

📌 Maka tiada lain pilihan bagi kaum muslimin kecuali turut berkontribusi memenangkan pertarungan sebenarnya di dunia agar Islam yang sejatinya telah tinggi, betul-betul ditinggikan di dunia, dan agar dengan kontribusi yang diberikan, kaum muslimin juga berharap ditinggikan posisinya di Jannah.

Oleh karenanya, selain penting untuk melahirkan motivasi yang kuat, juga tidak lebih penting memelihara amalan yang telah dilahirkan.

Di antara cara untuk memeliharanya adalah dengan memiliki ma’rifah yang benar tentang bagaimana memposisikan pribadi Nabi Muhammad ﷺ dalam konteks kehidupan di dunia.

1⃣ Nabi Muhammad ﷺ adalah tetap seorang hamba di antara seluruh hamba Allah ﷻ.

Pemahaman ini akan membawa keyakinan bahwa Islam yang diajarkan dan diamalkan beliau tentulah Islam yang juga akan bisa diamalkan oleh manusia hingga akhir zaman, karena agama ini memang diperuntukkan khususnya bagi manusia, dan telah diteladankan dengan sempurna juga oleh manusia pilihan yang hidup di tengah manusia, dan berinteraksi dengan manusia.

Sebagai seorang manusia, tentunya Nabi Muhammad ﷺ memiliki seluruh sifat-sifat kemanusiaan (إنسانا), sebagaimana ia memiliki nasab (نسبا) yang jelas, dan rupa fisik (جسما) yang sangat dihafal oleh para sahabat-sahabatnya.

Seluruh perjalanan hidupnya terekam dengan sangat apik dan diwariskan kepada kita melalui tangan-tangan para ulama dalam bentuk ‘Sejarah Kehidupan Nabi ﷺ’ (سيرة النبوية), dan sangat penting untuk dimiliki dan dipelajari oleh para penuntut ilmu, di tengah kesibukannya mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar semakin terang bagi dirinya, bagaimana cara Nabi ﷺ dalam membumikan Islam di dunia, dan ini yang disebut dengan Metode Dakwah (فقه الدعوة).

Dengan demikian posisi Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia adalah sumber ilmu tersendiri bagi para penuntut ilmu.

🕋 Allah ﷻ berfirman,

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۟ بَشَرٌ۬ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

📌 Bagi seorang mukmin, mencintai apa yang dicintai Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia masuk sebagai bagian dari keutamaan.

Termasuk dalam hal ini, pilihan beliau untuk menikah, memilih warna pakaian, membantu pekerjaan rumah tangga, dan pilihan-pilihan lainnya.

2⃣ Nabi Muhammad ﷺ, kehidupan pribadinya menghadirkan Sunnah.

Sunnah merupakan seluruh perkataan, perbuatan hingga diam dan ketetapannya Nabi ﷺ dalam seluruh perbuatan para sahabat-sahabatnya pada khususnya.

Terekamnya Sunnah dan terverifikasinya secara mendetail dan tersampaikannya kepada kita adalah karunia besar tersendiri, sehingga menjadi terang bagi umatnya bagaimana menghukumi dan bagaimana hukum sesuatu (فقه الأحكام), bagaimana membedakan antara pilihan kehidupan (wasa-il al-hayah) dan pedoman utama kehidupan (minhaj al-hayah).

🕋 Allah ﷻ berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۚ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ إِذ ظَّلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ جَآءُوكَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ ٱللَّهَ وَٱسۡتَغۡفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّابً۬ا رَّحِيمً۬ا (٦٤) فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا (٦٥)

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah.

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisā’/4:64-65)

📌 Ketika Nabi Muhammad ﷺ telah tiada di kalangan manusia, kewajiban bagi umatnya untuk menjadikan beliau sebagai hakim tidak pernah hilang.

Namun, jika dahulu para sahabat bisa bertanya langsung atau bertanya kepada para sahabat yang telah pernah bertanya kepada beliau, maka umat hari ini harus memiliki kelengkapan alat dan metodologi yang benar agar tetap dapat menjadikannya hakim.

Dalam hal ini umat tidak bisa mencukupkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah semata, namun dibutuhkan perangkat lain agar dapat memahami kedua warisan utama tersebut, sehingga tidak keliru di dalam menghukumi sesuatu.

Kelengkapan itu di antaranya adalah Ijma’, Qiyas, Mashalih Mursalah, dan Ijtihad para ‘ulama selaku pewaris Nabi.

3⃣ Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang Rasul di antara para Rasul yang telah pernah diutus Allah ﷻ di atas muka bumi.

Sebagai seorang Rasul, selain memiliki kekhususan mu’jizat, dan dibekali dengan risalah, beliau menyampaikan risalah (بلغ الرسالة), menunaikan amanah (أدى الأمانة), dan memimpin umat (إمام الأمة) menuju cita-cita besarnya, meninggikan kalimat Allah ﷻ.

Seluruh aktivitas beliau disebut sebagai Aktivitas Kenabian, (الدعوة النبوية) dan darinya bagaimana umatnya melanjutkan Aktivitas yang telah dimulainya dengan merujuk kepada sejarah hidup beliau sebagai seorang Rasul (فقه السيرة).

🕋 Allah ﷻ berfirman,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ۬ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ‌ۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَـٰبِكُمۡ‌ۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـًٔ۬ا‌ۗ وَسَيَجۡزِى ٱللَّهُ ٱلشَّـٰڪِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang [murtad]?

Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali ‘Imrān/3:144)

💦 Semoga Allah ﷻ memberikan taufiq-Nya kepada seluruh kaum mukminin untuk sentiasa istiqomah di dalam meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh kehidupan kemanusiaannya, di dalam mentaati Nabi Muhammmad dalam seluruh warisan ke-Rasulannya, serta memudahkan kita di dalam mengambil keputusan yang tepat pada setiap kondisi yang menuntut kita untuk dapat memposisikan dengan cara yang paling sesuai.

Wallaahul musta’an.

 (Channel: https://goo.gl/idAe1M)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Orang Dewasa Punya Boneka?

✏ Ustadz Farid Nu’man

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh..
Boleh ga punya boneka (misal boneka beruang) untuk orang dewasa?

————————-
Jawaban:

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Boneka anak-anak adalah pengecualian, dia dibolehkan berdasarkan dalil-dalil berikut:

   1⃣ ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bercerita:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، «فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

          Aku bermain dengan boneka di sisi Nabi ﷺ, saat itu  ada kawan-kawanku yang bermain bersamaku, jika Rasulullah ﷺ masuk mereka bersembunyi, lalu Rasulullah ﷺ mengambilkannya untukku lalu merka bermain denganku. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

  2⃣  Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bercerita:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟» قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟»   قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: «وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟» قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: «فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟» قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ

Rasulullah ﷺ pulang dari perang Tabuk atau Khaibar, di kamar ‘Aisyah tertutup oleh kain. Lalu ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap sehingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat.  Nabi bertanya, “Wahai ‘Aisyah, ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan aku.” Lalu beliau melihat di antara boneka itu ada  kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Bagian tengah  yang aku lihat di boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.”  Nabi  bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?!” ‘Aisyah menjawab, “Apakah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat gerahamnya.” (HR. Abu Daud no. 4932. Dishahihkan oleh Imam Zainuddin Al ‘Iraqi dalam Takhrijul Ihya, 3/1329)

📕 Bagaimana penjelasan ulama?

Syaikh Abdurrahman Al Jazayri berkata:

ولهذا استثنى بعض المذاهب لعب البنات “العرائس” الصغيرة الدمى، فإن صنعها جائز، وكذلك بيعها وشراؤها. لأن الغرض من ذلك إنما هو تدريب البنات الصغار على تربية الأولاد، وهذا الغرض كافٍ في إباحتها. وكذلك إذا كانت الصورة مرسومة على ثوب مفروش أو بساط أو مخدة فإنها جائزة، لأنها في هذه الحالة تكون ممتهنة فتكون بعيدة الشبه بالأصنام

Olah karena itu, dikecualikan oleh sebagian madzhab tentang  boneka anak-anak, membuatnya dibolehkan, begitu juga membelinya. Karena tujuan dari itu adalah sebagai pendidikan bagi anak-anak perempuan agar mereka bisa mendidik anak-anak, dan tujuan ini sudah cukup dalam pembolehannya. Begitu juga gambar-gambar yang ada pada pakaian, atau karpet, atau bantal, hal itu boleh. Sebab dalam keadaan ini jauh dari makna penyerupaan dengan patung. (Al Fiqh ‘Alal Madzahib Al Arba’ah, 2/40, Cet. 2, 1324H-2003M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut)

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

فَيُسْتَثْنَى مِمَّا يَحْرُمُ مِنَ الصُّوَرِ صُوَرُ لَعِبِ الْبَنَاتِ فَإِنَّهَا لاَ تَحْرُمُ، وَيَجُوزُ اسْتِصْنَاعُهَا وَصُنْعُهَا وَبَيْعُهَا وَشِرَاؤُهَا لَهُنَّ؛ لأَِنَّهُنَّ يَتَدَرَّبْنَ بِذَلِكَ عَلَى رِعَايَةِ الأَْطْفَال، وَقَدْ كَانَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا جَوَارٍ يُلاَعِبْنَهَا بِصُوَرِ الْبَنَاتِ الْمَصْنُوعَةِ مِنْ نَحْوِ خَشَبٍ، فَإِذَا رَأَيْنَ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِينَ مِنْهُ وَيَتَقَمَّعْنَ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْتَرِيهَا لَهَا

Dikecualikan dari gambar yang diharamkan adalah gambar boneka anak-anak, itu tidak haram. Boleh minta dibuatkannya, membuatnya, menjualnya, dan membelinya untuk mereka. Karena hal itu bisa melatih mereka untuk mengemong anak-anak. Dahulu ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha memiliki tetangga yang be
rmain dengannya menggunakan boneka yang terbuat dari kayu. Jika mereka melihat Rasulullah ﷺ mereka malu dan menyembunyikan bonekaannya, dahulu Nabi ﷺ membelikannya untuk ‘Aisyah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 7/75)

Dalam halaman lain juga tertulis:

اسْتَثْنَى أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْ تَحْرِيمِ التَّصْوِيرِ وَصِنَاعَةِ التَّمَاثِيل صِنَاعَةَ لُعَبِ الْبَنَاتِ. وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ.

وَقَدْ نَقَل الْقَاضِي عِيَاضٌ جَوَازَهُ عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ، وَتَابَعَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ، فَقَال: يُسْتَثْنَى مِنْ مَنْعِ تَصْوِيرِ مَا لَهُ ظِلٌّ، وَمِنِ اتِّخَاذِهِ لُعَبَ الْبَنَاتِ، لِمَا وَرَدَ مِنَ الرُّخْصَةِ فِي ذَلِكَ.

وَهَذَا يَعْنِي جَوَازَهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتِ اللُّعَبُ عَلَى هَيْئَةِ تِمْثَال إِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ، مُجَسَّمَةً أَوْ غَيْرَ مُجَسَّمَةٍ، وَسَوَاءٌ أَكَانَ لَهُ نَظِيرٌ فِي الْحَيَوَانَاتِ أَمْ لاَ، كَفَرَسٍ لَهُ جَنَاحَانِ. وَقَدِ اشْتَرَطَ الْحَنَابِلَةُ لِلْجَوَازِ أَنْ تَكُونَ مَقْطُوعَةَ الرُّءُوسِ، أَوْ نَاقِصَةَ عُضْوٍ لاَ تَبْقَى الْحَيَاةُ بِدُونِهِ. وَسَائِرُ الْعُلَمَاءِ عَلَى عَدَمِ اشْتِرَاطِ ذَلِكَ

Mayoritas ulama mengecualikan dari pengharaman pembuatan gambar dan patung, adalah boneka anak-anak. Inilah pendapat dari Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Al Qadhi ‘Iyadh telah menukil dari mayoritas ulama atas kebolehannya, dan diikuti oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Muslim, kata Beliau: “Dikecualikan dari larangan menggambar sesuatu yang memiliki bayangan (tiga dimensi) dan yang dijadikan mainan oleh anak-anak permpuan, karena adanya dalil memberikan rukhshah hal itu.”

Maknanya adalah boleh, sama saja apakah mainan dalam wujud patung manusia, atau hewan, baik yang berjasad atau tidak, sama saja apakah dia mirip dengan hewan atau tidak, seperti kuda yang memiliki dua sayap.

Golongan Hanabilah memberikan syarat kebolehannya yaitu hendaknya bagian kepalanya dipotong, atau dicopot salah satu anggota tubuhnya sehingga tidak seperti makhluk hidup. Sementara kebanyakan ulama tidak mensyaratkan seperti itu. (Ibid , 12/111-112)

📘 Bagaimana jika Orang Dewasa Yang Main Boneka?

Imam Al Qurthubi Rahimahullah berkata:

قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَذَلِكَ لِلضَّرُورَةِ إِلَى ذَلِكَ وَحَاجَةِ الْبَنَاتِ حَتَّى يَتَدَرَّبْنَ عَلَى تَرْبِيَةِ أَوْلَادِهِنَّ. ثُمَّ إِنَّهُ لَا بَقَاءَ لِذَلِكَ، وَكَذَلِكَ مَا يُصْنَعُ مِنَ الْحَلَاوَةِ أَوْ مِنَ الْعَجِينِ لَا بَقَاءَ لَهُ، فَرُخِّصَ فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Berkata para ulama: Hal itu untuk kepentingan mendesak dan kebutuhan bagi anak-anak perempuan sampai mereka terlatih dalam mendidik anak-anak. NAMUN HAL ITU TIDAK BOLEH TERUS MENERUS.  Begitu pula pembuatan permen, atau adonan, juga tidak terus menerus. Itu diberikan keringanan (buat anak-anak). Wallahu A’lam. (Tafsir Al Qurthubi, 14/275)

Syaikh Ali Ash Shabuni berkata:

Juga dikecualikan mainan (boneka) anak perempuan (la’ibul banaat). Telah ada berita yang pasti dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha  bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa ‘Aisyah ke rumahnya saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim, lihat juga Jam’ul Fawaaid)

                Dari ‘Aisyah dia berkata, “Aku bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat itu aku memiliki sahabat yang bermain bersamaku, jika beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumah, sahabat-sahabatku malu kepadanya dan pergi, lalu beliau memangil mereka dan mendatangkan mereka untukku agar  bermain bersamaku lagi.”

                Berkata para ulama: Sesungguhnya dibolehkannya boneka anak-anak karena adanya kebutuhan terhadapnya, yaitu kebutuhan anak perempuan agar ia terlatih dalam mengasuh anak-anak,  NAMUN TIDAK BOLEH TERUS MENERUS sebab dibolehkannya karena adanya kebutuhan tadi. Serupa dengan ini adalah bentuk yang terbuat dari permen dan adonan kue. Ini adalah keringanan (dispensasi) dalam masalah ini.  (Rawa’i Al Bayan, 2/337)

Apa yang dikatakan Imam Al Qurthubi dan Syaikh Ali
Shabuni (dihuruf kapital), menunjukkan bahwa tidak dibenarkan bagi orang dewasa, sebab tidak kebutuhan sebagaimana oendidikan bagi anak-anak.
Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌴🌻🌺☘🌷🌸🌾

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Hadiah Sebagai Sarana Diplomasi dan Upaya Untuk Melengahkan Lawan!

📆 Kamis, 22 Jumadil Akhir 1437H / 31 Maret 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Kisah Jatuhnya Syam kepada Turki Utsmani
Pertempuran Marj-Dabiq – 24 Agustus 1516

Pertenpuran ini ditulis juga sebagai Marj Dābiq (dalam bahasa ‘Arabi: مرج دابق‎, yang bermakna “the meadow of Dābiq” atau Padang Rumput Dābiq; dalam bahasa Turki: Mercidabık Muharebesi) adalah bentrok militer bersejarah di Timur-Tengah. Lokasi pertempuran ini ada di Desa Dābiq sekitar 44 km sebelah utara kota Aleppo (Halab), Syria.

Pertempuran ini adalah bagian awal dari peperangan antara Khilafah Turki Utsmani melawan Kesultanan Mamluk sepanjang tahun 1516-1517 yang berakhir dengan kemenangan pada Turki Utsmani. Konsekuensi kekalahan Mamluk di Marj-Dabiq adalah lepasnya seluruh wilayah Syam. Bahkan setelah kekalahan total Kesultanan Mamluk nantinya serta jatuhnya Mesir dan Hijaz barulah secara resmi Turki Utsmani menyandang titel Khadimul-Haramain; pelayan Kedua Tanah Suci.

🏇🏿Persiapan Perang

Sultan Al-Asyraf Qansuh al-Ghawri sempat menghabiskan musim dingin 1515 hingga musim semi 1516 menyiapkan pasukannya guna bergerak maju ke perbatasan Turki Utsmani di sebelah timur Anatolia yang konon ingin berpindah haluan ke Mesir. Karena mengantisipasi adanya perlawanan dari Turki Utsmani maka ia mempersiapkan diri secara maksimal; tentu berita kekalahan Kerajaan Safawi di Chaldiran tahun sebelumnya (tulisan tentang Chaldiran baru saja saya muat beberapa menit yang lalu) menjadi salah satu pertimbangan persiapan ini.

Ketika ia hendak berangkat, tibalah utusan dari Yavuz Sultan Selim I yang membawa berita persahabatan yang menjanjikan untuk menunjuk wakil dari Mesir sebagai penguasa wilayah perbatasan antara Turki Utsmani dan Mamluk. Sultan al-Asyraf menginginkan bahwa perbatasan, khususnya propinsi Dulkadir dalam wilayah Turki Utsmani, tunduk pada perintahnya atas nama Mamluk yang berkuasa di Mesir. Diantara janji yang juga dibawa oleh utusan Sultan Selim I adalah membuka perbatasan untuk perlintasan perdagangan dan bahkan menyerahkan sebagian wilayah taklukan bekas Safawi kepada al-Asyraf.

🏇🏿Keberangkatan dari Kairo

Memasuki awal musim panas, pada hari Ahad 16 Rabi’uts Tsani 922 Hijriah (18 Mei 1516), al-Asyraf berangkat dari Kairo bersama pasukan yang banyak termasuk 20 ribu pasukan berkuda kelas berat; yang tidak ia miliki adalah kesatuan meriam lapangan. Al-Asyraf menugaskan Tuman Bey II sebagai pemimpin di Kairo selama ia memimpin ekspedisi tersebut; keberangkatan yang mewah dengan pertunjukan yang meriah melepas keberangkatan pasukan al-Asyraf. Ikut bersama pasukan ini tidak kurang dari 15 amir, kesatuan kawal kesultanan 5.000 kavaleri Mamluk, dan satuan milisi Beduin (Badw, Badui) lainnya yang bergabung di sepanjang perjalanan di Syam.

🔅Khilafah ‘Abbasiyah di Kairo

Pada rombongan terkawal paling belakang terdapat Khalifah al-Mutawakkil III dari Daulah ‘Abbasiyah. Daulah ‘Abbasiyah berdiri di Kairo setelah Baghdad dihancurkan oleh Mongol pada tahun 1258. Kesultanan Mamluk menerima dan melindungi institusi kekhalifahan pada tahun 1261 ketika Sultan Baybars I al-Bunduqdārī secara resmi mengangkat Khalifah al-Mustanshir sebagai pelanjut Daulah ‘Abbasiyah di Kairo.

Dalam rombongan belakang ini terdapat juga Ahmed yang merupakan keponakan Selim I yang memiliki hak atas kekhilafahan Turki Utsmani. Al-Asyraf membawa serta Ahmed dengan tujuan dapat menarik simpati para pemimpin dari pihak lawannya. Al-Asyraf melaju pelan sehingga baru sampai ke Damakus pada tanggal 9 Juni. Ia pun diterima di kota ini dengan karpet terbentang serta perayaan besar lagi mewah yang disediakan oleh Amir Sibay, gubernur Mamluk untuk Damaskus. Setelah itu ia terus bergerak menuju kota Hims dan Hammah dengan penerimaan yang sama mewahnya hingga persiapan menuju Aleppo (Halab).

Diantara yang menyebabkan lambannya pasukan Mamluk yang dahulu terkenal gesit adalah bahwa setiap pasukan membawa perlengkapam dan persenjataan dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh besarnya pembagian bonus dana perang yang diberikan oleh al-Asyraf kepada setiap pasukan elit kavalerinya berupa; 100 dinar, 4 bulan gaji ke depan, serta dana pembelian unta.

🔅Diplomasi

Sementara itu tiba pula utusan dari pihak Turki Utsmani dengan membawa hadiah yang mahal kepada al-Asyraf maupun al-Mutawakkil III serta para pemuka lainnya. Disampaikan oleh utusan bahwa Sultan Selim I memelas untuk diberikan gula khas Mesir serta kue dan gula-gula lainnya. Di kemudian hari ternyata ditemukan bahwa aksi diplomasi ini ditujukan agara al-Asyraf dan para pemimpin Mamluk menganggap remeh Sultan Selim I yang justru sedang bersiap tempur tanpa disadarinya.

Utusan dari al-Asyraf datang ke tenda Selim I dengan membawa hadiah ala kadarnya sebagai balasan merendahkan utusan sebelumnya. Sultan Selim I mengerti pesan simbolik pelecehan itu dan menangkap utusan serta mengembalikannya setelah dicukur hingga gundul dan ditunggangkan di atas keledai. Balasan ini mengangetkan al-Aysraf yang mengira Sultan Selim I akan tunduk dan patuh pada perintahnya begitu saja.

📌Gejalan Pengkhianatan pada Barisan Mamluk

Di kota Aleppo, gubernur Mamluk yang dijabat oleh Khair Bey menerima rombongan al-Asyraf dengan kemewahan yang sama dengan kota-kota sebelumnya untuk menyembunyikan perjanjiam rahasianya dengan Sultan Selim I. Penduduk Aleppo sebenarnya tidak menyukai al-Asyraf karena kekejamannya terhadap Aleppo di masa silam.

Kurang hangatnya penerimaan penduduk Aleppo sangat kontras dibandingkan dengan jamuan Kair Bey sehingga para penasihat al-Asyraf memberi masukan agar ia siaga. Al-Asyraf merasa tidak nyaman di Aleppo kemudian mengambil lagi janji setia para komandan dengan membagikan hadiah kepada mereka; sebagian yang tidak atau kurang mendapatkan bagian mulai merasa tersisihkan. Pertimbangan untuk menangkap Khair Beg Malbai karena tingkah-lakunya yang mencurigakan sudah disampaikan kepada al-Asyraf namun perintah itu digagalkan oleh Amir Janberdi Al-Ghazali.

⚔Pertempuran

Pada hari Rabu 21 Rajab 922 Hijriah (20 Agustus 1516) pasukan Mamluk sudah sampai di padang rumput Marj-Dabiq sekitar 1 hari perjalanan dari Aleppo. Al-Asyraf yang tiba lebih dahulu di tempat ini tidak segera menyusun barisan tempurnya sehingga kehadiran pasukan Turki Utsmani yang datang belakangan masih dapat memilih lokasi yang menguntungkannya.

Pertempuran dimulai dengan serbuan kavaleri Mamluk yang legendaris itu, sayap kanan dipimpin Amir Sibay dari Damaskus dan sayap kiri dipimpin Amir Khair Beg Malbai. Serangan keras ini berhasil memukul mundur sayap kiri Turki Utsmani setelah dibantu oleh infanteri Panglima Amir Su’dun; bahkan dalam catatan resmi diperoleh keterangan bahwa Selim I sudah mempertimbangkan untuk mundur. Namun, barisan meriam lapangan Turki Utsmani berhasil menewaskan panglima Amir Su’dun dan gubernur Amir Sibay dalam serangan balasan. Pada kondisi genting ini, sebenarnya Mamluk masih dapat meneruskan terjangan jika barisan kavaleri sayap kirinya terus mendesak maju. Hanya saja, Amir Kahir Beg Malbai menarik pasukannya sesuai komitment rahasianya dengan Selim I pada situasi tersebut sehingga sisa kavaleri dan infanteri Mamluk kini justru terkepung. Hampir semuanya terbunuh dengan tembakan jitu Janisari yang kini dilengkapi dengan senapan api Musket yang canggih untuk zamannya. Kavaleri Mamluk yang legendaris itu tercabik-cabik oleh peluru meriam lapangan yang ditembakkan secara terkoordinir dari berbagai arah membentuk “kill zone” yang mematikan.

📌Kepanikan dan Tutupnya Gerbang Aleppo

Sisa pasukan Mamluk di garis belakang mundur secara panik karena sinyal komando mundur ditiupkan oleh Amir Khair Beg Malbai ketika barisan masih mencoba bertahan. Sia-sialah upaya menyusun ulang barisan karena kini semua pasukan sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Masalah semakin bertambah karena kota Aleppo atas perintah Amir Kahir Beg Malbai menutup pintu gerbangnya. Sultan al-Asyraf Qansuh al-Ghawri terbunuh ketika ia mengalami stroke selagi menunggangi kudanya dan jatuh.

Khalifah al-Mutawakkil III memilih untuk menyerah dan berpindah pihak berikut beberapa amir yang sedari awal tidak merasa diperhatikan oleh Sultan al-Asyraf. Ada beberapa versi tentang akhir hayat al-Asyraf; pertama ia wafat karena stroke dan kepalanya dipenggal oleh pengawalnya untuk dikubur agar tidak menjadi tropi bagi lawan, kedua ia melarikan diri dan terbunuh bersama pengawalnya tapi tidak dapat ditemukan jazadnya, dan ketiga ia terbunuh dan dipenggal oleh pasukan Turki Utsmani yang hampir mendapatkan hukuman dari Selim I karena ia tidak menginginkan penistaan seperti itu.

🔅Kesudahan

Yavuz Sultan Selim I masuk dan diterima oleh penduduk Aleppo sebagai sang pembebas dari kekejaman mendiang al-Asyraf. Sultan Selim I menerima dengan hangat Khalifah al-Mutawakkil III namun ia memarahi para ‘ulama yang menurut Selim i tidak berhasil menasihati sang sultan yang bertindak semena-mena di wilayah Syam serta tidak memerangi syi’ah di Kerajaan Safawi.

Tidak lama setelah itu Damaskus pun membuka gerbangnya dan Mesir menyusul untuk ditaklukan karena basis Mamluk masih ada di wilayah tersebut.

Agung Waspodo, mencatat berbagai taktik diplomasi yang menyebabkan al-Asyraf menjadi lengah dan Selim I menjadi sangat diuntungkan oleh kelengahan lawannya.. Indonesia pun sering terkesima dengan diplomasi berpura-pura baik dari negeri-negeri lain yang tidak menginginkan majunya negeri kita, negeri-negeri itupun telah menanam agennya di dalam pemerintahan Indonesia untuk mengalahkan semangat juang bangsa kita dari dalam.. taktik lama yang masih relevan hingga 501 setelah itu.. besok

Depok, 23 Agustus 2015.. sebentar lagi tengah malam..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimana Cara Rujuk?

📝Ustadzah Dra. Indra Asih
============================
🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

Assalaamu ‘alaikum wrwb.
Mohon maaf, ustadz, mohon pencerahannya, bagaimana cara rujuk setelah istri menerima talak 1, cara rujuk setelah talak 2 dan cara rujuk setelah talak 3. Matur nuwun…

Tambahan pertanyaan:
Saya dan suami sering berbeda pendapat, kalau sudah tidak menemui titik temu suami sering mengisyaratkan perpisahan, contohnya menyuruh saya utk mengurus prosesnya ke pengadilan atau menyuruh saya utk melakukan gugatan. Apakah itu sudah termasuk talak?

=========================

Jawabannya :

Talak itu ada dua macam yaitu:

talak roj’iy, talak yang bisa kembali rujuk ketika masa ‘iddah

talak ba-in, talak yang tidak bisa kembali rujuk kecuali:

dengan akad yang baru

atau setelah menikah dahulu dengan laki-laki lain pada wanita yang ditalak tiga

Hukum Seputar Rujuk dan Talak Roj’iy

1. Rujuk ada pada talak roj’iy (setelah talak pertama dan talak kedua), baik talak ini keluar dari ucapan suami atau keputusan qodhi (hakim).

2. Rujuk itu ada jika suami telah menggauli istrinya. Jika talak itu diucap sebelum menyetubuhi istri, maka tidak boleh rujuk berdasarkan kesepakatan para ulama. Alasannya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya” (QS. Al Ahzab: 49).

3. Rujuk dilakukan selama masih dalam masa ‘iddah. Jika ‘iddah sudah habis, maka tidak ada istilah rujuk –berdasarkan kesepakatan ulama- kecuali dengan akad baru. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (masa ‘iddah)” (QS. Al Baqarah: 228).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (QS. Al Baqarah: 228).

Yang namanya rujuk adalah ingin meneruskan kepemilikan (istri). Kepemilikan di sini putus setelah berlalunya masa ‘iddah dan ketika itu tidak ada lagi keberlangsungan pernikahan.

4. Perpisahan yang terjadi sebelum rujuk bukanlah karena nikah yang batal karena faskh. Seperti nikah tersebut batal karena suami murtad.

5. Perpisahan yang terjadi bukan karena hasil dari membayar kompensasi seperti dalam khulu’ (istri menuntut cerai di pengadilan dan diharuskan membayar kompensasi).

6. Rujuk tidak bisa dibatasi dengan waktu tertentu sesuai kesepakatan suami-istri, semisal rujuk nantinya setelah 8 tahun. Sebagaimana nikah tidak bisa dengan syarat waktu sampai sekian bulan, begitu pula rujuk.

Tidak Disyaratkan Ridho Istri Ketika Suami akan Rujuk

Perlu dipahami bahwa rujuk menjadi hak suami selama masih dalam masa ‘iddah, baik istri itu ridho maupun tidak. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (QS. Al Baqarah: 228).

Dan hak rujuk pada suami ini tidak bisa ia gugurkan sendiri. Semisal suami berkata, “Saya mentalakmu, namun saya tidak akan pernah rujuk kembali”. Atau ia berkata, “Saya menggugurkan hakku untuk rujuk”. Seperti ini tidak teranggap karena penggugurannya berarti telah merubah syari’at Allah. Padahal tidak boleh seorang pun mengubah syari’at Allah. Padahal Allah Ta’ala telah menyebutkan,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (QS. Al Baqarah: 229).

Dalam rujuk tidak disyaratkan ridho istri. Karena dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

“Maka rujukilah mereka dengan baik” (QS. Ath Tholaq: 2).

Dalam ayat ini hak rujuk dijadikan milik suami. Dan Allah menjadikan rujuk tersebut sebagai perintah untuk suami dan tidak menjadikan pilihan bagi istri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Wajib rujuk jika suami mentalak istrinya ketika haidh sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat dan akan dijelaskan detail pada masalah talak bid’iy.

2. Rujuk tidak disyaratkan ada wali dan tidak disyaratkan mahar. Rujuk itu masih menahan istri sehingga masih dalam kondisi ikatan suami-istri.

3. Menurut mayoritas ulama, memberi tahu istri bahwa suami telah kembali rujuk hanyalah mustahab (sunnah). Seandainya tidak ada pernyataan sekali pun, rujuk tersebut tetap sah. Namun pendapat yang hati-hati dalam hal ini adalah tetap memberitahu istri bahwa suami akan rujuk. Karena inilah realisasi dari firman Allah,

فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

“Maka rujukilah mereka dengan baik” (QS. Ath Tholaq: 2).

Yang dikatakan rujuk dengan cara yang ma’ruf adalah memberitahukan si istri. Tujuan dari pemberitahuan pada istri adalah jika si istri telah lewat ‘iddah, ia bisa saja menikah dengan pria lain karena tidak mengetahui telah dirujuk oleh suami.

4. Ketika telah ditalak roj’iy, istri tetap berdandan dan berhias diri di hadapan suami sebagaimana kewajiban seorang istri. Karena ketika ditalak roj’iy, masih berada dalam masa ‘iddah, istri masih tetap istri suami. AllahTa’ala berfirman,

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (QS. Al Baqarah: 228). Dandan dan berhias diri seperti ini tentu akan membuat suami untuk berpikiran untuk rujuk pada istri.

Cara Rujuk

1. Rujuk dengan ucapan

Tidak ada beda pendapat di antara para ulama bahwa rujuk itu sah dengan ucapan. Seperti suami mengatakan, “Saya rujuk padamu” atau yang semakna dengan itu. Atau suami mengucapkan ketika tidak di hadapan istri dan ia berkata, “Saya rujuk pada istriku”.

Lafazh rujuk ada dua macam: (1) shorih (tegas), (2) kinayah (kalimat samaran).

Jika lafazh rujuk itu shorih (tegas) seperti kedua contoh di atas, maka dianggap telah rujuk walau tidak  dengan niat. Namun jika lafazh kinayah (samaran) yang digunakan ketika rujuk seperti, “Kita sekarang seperti dulu lagi”, maka tergantung niatan. Jika diniatkan rujuk, maka teranggap rujuk.

2. Rujuk dengan perbuatan

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini.

Ada yang mengatakan bahwa dengan melakukan jima’ (hubungan intim) dan melakukan muqoddimahnya (pengantarnya) seperti mencium dengan syahwat baik diniatkan rujuk atau tidak, maka rujuknya terjadi.

Ada juga ulama yang mensyaratkan harus disertai niat dalam jima’ dan muqoddimah tadi.

Ada yang berpendapat pula bahwa rujuk adalah dengan jimak saja baik disertai niat atau tidak.

Dalam pendapat yang lain, rujuk itu hanya terjadi dengan ucapan, tidak dengan jima’ dan selainnya.

Pendapat yang pertengahan dalam masalah ini adalah rujuk itu terjadi cukup dengan jima’ namun dengan disertai niat. (pendapat Imam Malik, salah satu pendapat Imam Ahmad dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah). Alasannya karena setiap amalan tergantung pada niatnya.

Apakah Rujuk Butuh Saksi?

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu” (QS. Ath Tholaq: 2).

Yang rojih –pendapat terkuat- dalam hal ini adalah rujuk tetap butuh saksi bahkan diwajibkan berdasarkan makna tekstual dari ayat (pendapat Imam Syafi’i yang lama, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, pendapat Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.)

Talak Roj’iy Mengurangi Jatah Talak

Sudah kita ketahui bahwa batasan talak adalah tiga kali. Jika seseorang telah mentalak istri sekali, maka masih tersisa kesempatan dua kali talak. Jika suami itu rujuk, maka tidak menghapus talak yang terdahulu. AllahTa’ala berfirman,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al Baqarah: 229)

Talak ba-in dibagi dua: (1) talak ba-in shugro (kecil) dan (2) talak ba-in kubro (besar).

Pertama: Talak ba-in shugro (kecil)

Talak ba-in shugro adalah talak di mana suami tidak memiliki hak untuk rujuk pada istri kecuali dengan akad yang baru.

Ketika itu ikatan suami istri terputus dan istri menjadi wanita asing, bukan lagi milik suami. Talak ba-in shugro ini tidak mengharuskan istri menikah dengan pria lain lalu halal bagi suami yang dulu. Jika ingin menyambung ikatan pernikahan, cukup dengan akad dan mahar yang baru.

Kapan jatuh talak ba-in shugro?

Pertama

Ini berarti jika saat malam pertama, suami belum sempat menggauli istrinya, lantas ia ceraikan, maka jatuhlah talak yang disebut talak ba-in sughro. Saat ini tidak ada lagi istilah talak. Jika ia ingin kembali pada mantan istrinya, maka harus dengan mahar dan akad yang baru. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya” (QS. Al Ahzab: 49).

Kedua: Perceraian dengan jalan khulu’.

Di mana istri menyerahkan harta sebagai kompensasi atas gugatan cerai yang ia lakukan, maka terhitung talak ba-in shugro menurut jumhur (mayoritas ulama). Artinya, jika suami ingin kembali pada istri yang dulu, maka harus dengan ridho istri, lalu dengan akad dan mahar yang baru.

Ketiga: Berbagai bentuk perceraian yaitu dengan jalan iila’, cerai karena ‘aib atau dhohor (bahaya).

Intinya, bentuk talak ba-in sughro masih boleh suami menjalin hubungan rumah tangga dengan mantan istrinya, namun tidak lagi dengan rujuk ketika masa ‘iddah. Akan tetapi, harus dengan akad dan mahar yang baru

Kedua: Talak ba-in kubro (besar)

Talak ba-in kubro adalah talak di mana suami tidak bisa kembali kepada istri baik pada masa ‘iddahnya begitu pula setelah masa ‘iddah kecuali dengan akad dan mahar baru, dan setelah mantan istri menikah dengan laki-laki lain.

Ada dua syarat agar suami pertama bisa kembali pada mantan istrinya:

Mantan istri harus menikah dengan laki-laki lain dengan pernikahan yang sah, bukan pernikahan yang dibuat-buat atau dengan nikah muhallil, yaitu suami kedua sengaja menikahi mantan istri tadi supaya ia halal kembali pada suami pertama.

Mantan istri sudah digaulii oleh suami kedua sebelum berpisah dan kembali pada suami pertama.

Talak ba-in kubro terjadi pada satu jenis perpisahan, yaitu ketika istri telah ditalak sebanyak tiga kali. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ  … فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.” (QS. Al Baqarah: 229-230).

Pertanyaan tambahan: belum jatuh talak

1. tidak ada dalil yang menganjurkan  ketika memakamkan jenazah.

2. Afwan kurang paham tentang harta pusaka, karena ada yang berpendapat itu tidak masuk waris tapi hibah, hingga tidak ada pemberlakuan hukum waris di situ

3.
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, panggilah mereka sebagai saudara-saudaramu seagama atau maulamu. Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 5)

Maula artinya mantan budak. Ketika ada seorang budak X yang dimerdekakan si A, maka penyebutannya, X maula A. Dulu ada sahabat bernama Bilal, dimerdekakan Abu Bakr. Sehingga bisa disebut, Bilal maula Abu Bakr.

Surat Al-Ahzab ayat 5 ini sekaligus menghapus perlakuan adopsi masa silam. Anak angkat yang dulu dinasabkan ke ortu asuh, nasabnya harus dikembalikan ke ortu asli. Termasuk juga tidak berlaku hubungan saling mewarisi, tidak bisa jadi mahram, dan wali nikah.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman yang sangat keras bagi orang yang mengubah nasab. Dalam hadis dari Sa’d, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام

“Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.” (HR. Bukhari)

Tentu saja dosa ini tidak ditimpakan pada si anak saja. Termasuk orang yang mengajarkan kepada si anak nasab yang salah, dia mendapatkan dosa atau bahkan sumber dosa. Karena dialah yang meretas perubahan nasab pertama kalinya.

4. Kata sedekah dalam bahasa syariat mencakup sedekah wajib dan sedekah sunah.

Sedekah wajib istilah lainnya adalah zakat. Sedangkan sedekah sunah, itulah yang kita kenal dengan kata ’sedekah’.

Ketika Allah ta’ala menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat dalam al-Quran, Allah menyebut zakat dengan kata ’sedekah’.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا… الأية

“Sedekah hanya diberikan untuk orang fakir, muskin, amil….. ” (QS. At-Taubah: 60)

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum memberikan zakat mal kepada orang kafir. Mayoritas ulama melarang hal itu.

Secara umum, sedekah yang kita keluarkan, sangat dianjurkan agar diberikan kepada muslim yang baik dan kurang mampu. Sehingga harta yang kita berikan kepadanya, akan membantunya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.

Hanya saja, mayoritas ulama – dan ini pendapat yang kuat – berpendapat, sedekah sunah boleh diberikan kepada orang kafir.

An-Nawawi mengatakan,

يستحب أن يخص بصدقته الصلحاء وأهل الخير وأهل المروءات والحاجات فلو تصدق على فاسق أو على كافر من يهودي أو نصراني أو مجوسي جاز

Dianjurkan agar sedekah itu diberikan kepada orang sholeh, orang yang rajin melakukan kebaikan, menjaga kehormatan dan dia membutuhkan. Namun jika ada orang yang bersedekah kepada orang fasik, atau orang kafir, di kalangan yahudi, nasrani, atau majusi, hukumnya boleh. (al-Majmu’).

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu..”

Lebih dari itu, jika sedekah yang kita berikan kepada saudara non muslim ini akan menjadi sebab dia masuk islam, insyaAllah akan menghasilkan pahala yang besar.

5. Seorang wanita dibolehkan terlihat sebagian auratnya di depan laki-laki yang menjadi mahram baginya serta di depan sesama wanita muslimah. Sedangkan kepada laki-laki yang bukan mahram dan juga dengan sesama wanita tapi yang bukan muslimah, maka yang boleh terlihat hanya wajah dan kedua tapak tangannnya saja.

Mahram Karena Mushaharah (besanan/ipar) Atau Sebab Pernikahan

Ibu dari isteri (mertua wanita) dengan menantu laki-lakinya.

Anak wanita dari isteri (anak tiri) dengan ayah tirinya.

Isteri dari anak laki-laki (menantu perempuan) dengan mertua laki-lakinya.

Isteri dari ayah (ibu tiri) kepada anak tiri laki-lakinya.

Pertanyaan berikutnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﻣﻦ ﺗﺮﺿﻮﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺧﻠﻘﻪ ﻓﺰﻭﺟﻮﻩ ﺇﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻩ ﺗﻜﻦ ﻓﺘﻨﺔ
ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﻛﺒﻴﺮ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian
ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)
Hadits di atas ditujukan kepada si wali wanita (yang berhak menikahkan orang yang berada dalam
perwaliannya) bukan kepada si pelamar.

Sedangkan si wanita itu sendiri ia berhak menolak atau membatalkan lamaran (khitbah) walaupun orang yang melamarnya adalah seorang laki-laki yang shalih (baik agamanya) namun ia tidak menyukainya.

Hal ini berdasarkan hadits : seorang janda tidaklah dinikahkan sehingga dimintai pendapatnya. Tidak pula seorang gadis
dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya…”( HR.
Bukhari, Muslim dan tirmidzi, hasan shahih).

Dalam hadits lain dikatakan, ada seorang gadis
menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya
yang menikahkannya dengan orang yang tidak ia
sukai, maka Rasulullah memberi hak kepadanya
untuk memilih…. [HR Ahmad, Abu Dawud, & Ibnu
Majah)

🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸
================================

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia

BOLEHKAH MENJUAL RUMAH KEPADA ORANG UNTUK DITINGGALI ISTRI SIMPANANNYA?

✏Ustadzah Dra.Indra Asih

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌷🌹

Assalamualaikum. … saya Rika dari Tangerang mau bertanya. Saat ini didekat rumah saya dijadikan TPS oleh pemerintah setempat (yang hanya berjarak 500mtr). Ini membuat bau yang sangat semerbak dan membuat anak-anak sakit-sakitan bahkan sering dirawat. Rencana rumah akan saya jual cepat. Tetapi saat ini pembeli yang berminat ada 2 orang. Yang pertama, orang cina. Saya khawatir apabila dibeli olehnya, karena lingkungan sekitar saya muslim. Yang kedua, ABRI tetapi peruntukan rumahnya untuk istri simpanan nya.
Harus pilih yang mana agar saya diridhai Allah. Terima  kasih.

***

Kalau dari data yang disampaikan, berarti pilihannya yang ABRI yaa.. Dalam Islam tidak ada istilah istri simpanan. Mungkin maksudnya istri ke 2 dari laki-laki yang berpoligami tanpa izin istri atau menghindari sangsi dari instusi tempat ybs bekerja.
Mudah-mudahan membeli rumah buat istri ke 2 nya dalam rangka menunaikan keadilan sebagai suami.

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bolehkah Istri Mengajukan Gugatan Cerai ke Suami ?

✏Ustadzah Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹.  
                                                                 
Assalamuallaikum Saya ingin bertanya apa yang harus di lakukan bila seseorang mengalami kehidupan seperti ini :
Ceritanya ttg kehidupan keluarga, suaminya kawin lg dan memang sdh pernah minta izin ke istrinya  tapi istrinya pernah memohon agar jgn dulu krn dia blm sanggup menerima dan anak masih bayi. Kemudian terjadi perdebatan sengit. Suami berkata kalau mereka  nikah dulu bukan krn cinta tapi krn dipertemukan oleh MR.

Suami sering menuduh Istrnya  tdk perawan karena di malam pertama mereka,si istri tdk keluar darah.

Suaminya tetap kawin lagi dan mengabaikan perasaan isterinya, dan istrinya  bilang kalau memang itu keputusannya maka istrinya  meminta agar jangan  pernah meminta dia utk melayaninya lg.
Si istri bertahan demi anak2 mereka
(Anak mereka pada tahun itu 3 org).
Cerita rumit ini terus berlanjut sampai sekarang, si suami kemudian menceraikan isteri keduanya (dari istri kedua mereka punya anak 2) dan kejadian ini rupanya berulang kembali, pd tahun2013 si suami menikah lagi, menikah siri dgn teman kerjanya.
Hal ini baru diketahui oleh istri pertama  selang 2 bln dr kejadian (mendapat kabar dr temannya)
Si istri pertama menangis dan bertanya kenapa suaminya melakukan itu lg (wkt itu mereka sdh bertambah anak jd 5 ).Setelah didesak oleh si istri pertama, suaminya kembali mengungkit ttg malam pertama mereka itu

Sekarang si istri pertama dalam kondisi sangat tertekan krn meminta suaminya menceraikan baik2 dan biarlah mereka tetap jaga hub krn masih ada anak2, tapi suaminya berkata sampai mati takkan menceraikan dia. (skrg si istri siri itu lg hamil besar).

Pertanyaan nya bolehkah ia mengajukan gugatan cerai krn dia takut berdosa krn dia tdk mau melayani suaminya lg ?
si suami seringkali blg apapun terjadi dia tetap akan kawin lagi.
Utk info nafkah lahir istri pertama  sering bermasalah juga, istri pertama  PNS  jadi dia punya gaji sendiri.
 Jazakumullah atas jawaban nya
 🅰0⃣9,    

🌿Jawabannya :
Kami sangat prihatin dengan kondisi keluarga yang seperti ini, siapapun yang mengalami pasti akan sangat berat, tapi percayalah bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan tidaklah Allah memberi ujian kecuali ia aka sanggup menjalaninya.

1. Bolehkah istri mengajukan gugatan cerai k suami ?

Pertama dalam sebuah hadits sahih riwayat Abu Dawud Tirmidzi, Ibnu Hibban dari Tsauban, Nabi bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

Artinya: Perempuan yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab maka haram baginya bau surga.

Hadits kedua juga hadis sahih riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلادِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً).

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)”. Rasulullah bersabda:” Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: “Saya bersedia”, lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: “Ambilah kebun itu dan ceraikan istrimu”

Dalam hadits pertama Nabi melarang istri meminta cerai tanpa sebab yang dapat dibenarkan. Sedangkan dalam hadis kedua, seorang Sahabat wanita meminta cerai dari suaminya tanpa menyebutkan sebab apapun bahkan ia memuji akhlak dan agama suaminya dan Nabi mengijinkan dan menyuruh suaminya menceraikannya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa memang betul tidak boleh istri meminta cerai pada suami tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Artinya, kalau istri melakukan gugat cerai karena sebab yang syar’i, maka itu dibolehkan. Dan termasuk sebab atau alasan yang dibolehkan bagi seorang istri untuk meminta cerai pada suami adalah apabila tidak ada lagi rasa cinta dan sayang yang dimiliki istri pada suaminya sebagaimana secara jelas digambarkan dalam hadis kedua. Termasuk sebab yang syar’i adalah istri tidak suka karena perilaku suami yang tidak taat agama, atau tidak suka pada kepribadiannya, atau istri merasa tidak mampu tinggal bersamanya walaupun suami bagus pekertinya dan taat pada agama.

2. Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman,
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.” (An Nisa: 3).
Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama.

3.  Alhamdulillah istri pertama punya penghasilan sendiri, sehingga untuk meringankan beban bathinnya kami sarankan untuk mengikhlaskan, memaafkan semua yang telah terjadi, yakinlah akan perhitungan Allah, bahwa Allah Maha teliti, selalu doakan supaya suami insyaf dan menyadari semua kesalahannya, dengan kita selalu mendoakannya, ini sekaligus jd ladang pahala buat istri, selama suami belum menyadari kekeliruannya ikhlaskan untuk menafkahi kebutuhan hidup anak-anak, walaupun sesungguhnya itu kewajiban ayah sebagai kepala keluarga. Kehidupan ini ibarat roda berputar, tidak selalu kita mengalami kesulitan terus menerus yakinlah badai pasti berlalu, hari tidak selalu malam, matahari pasti akan terbit, sebelum ia terbit Raihlah setiap peluang amal sholeh yang mampu kita lakukan, Bersyukurlah atas setiap kejadian yanh kita alami karena Allah tidak akan menguji kecuali di titik lemah kita, dengan semua kejadian ini kita bisa merasakan tarbiyah Robbani langsung dari Allah sebagai bukti kasih sayang kepada hambaNya, Wallahu A’lam

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia

Barang Temuan

✏ Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍁🍀🌸🌷🍄🌻🌹

Tanya Ustadz
Kepada Ustadz Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan dari A03

Assalamu’alaikum
Begini, saya suka bingung kalau sudah menemukan barang yang hilang. Seperti beberapa kasus di bawah ini:

1. Kasus satu, misal ayah saya menemukan hp yang jatuh di jalan. Misalnya ayah saya tidak terlalu paham hukumnya, tetapi saya takut kalau tidak dikembalikan, padahal kita bisa kembalikan dengan mencari informasi pemilik hp tsb. Saya sudah hubungin temennya pemilik hp tsb. Tetapi  tidak ada balasan. Padahal saya ingin mengembalikan.Akhirnya dibiarkan aja hp tsb sampai sekarang. Terkadang digunakan oleh ayah saya. Yang saya tanyakan, bagamana sebaiknya yang saya lakukan?

2. Kasus 2, saya menemukan anting sebelah di tempat wudhu kampus, sepertinya punya anak kecil. Cukup sulit kalau anak tersebut bukan mahasiswa. Lalu saya simpan. Saya menulis pengumuman di papan informasi, tetapi tidak ada yg merasa kehilangan. Akhirnya saya berpikir tidak  mungkin tunggu 1 tahun. Saya pikir dijual saja dan uangnya diinfakan. Apakah diperbolehkan tindakan saya seperti itu?

3. Kasus 3, misanya ayah saya menemukan seperangkat plastik kiloan lumayan 2/3 pak dan 1/2 pack tusuk gigi yang jatuh di jalan. Itu kan tidak mungkin dilacak pemiliknya, karena bingung dan mubadzir kalau tidak dipakai. Akhirnya (saya/ayah saya) berpikir untuk dipakai sendiri (mencari keuntungan sendiri misalnya).  Padahal bisa diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti penjual yang keliahatannya kurang mampu. Namun, ternyata tidak, malah digunakan sendri. Bagaimana hukumnya? Berdosakan saya/ayah saya?

Ukhti Lusi

Jazakumullah Ustadz Farid Nu’man
___________________________

JAWABAN

3⃣Assalamualaikum
Sya mau bertanya..kasusnya gni
Ada tman Sya yang mungut uang lalu dia pkai berbelanja🍫 dgan niat ingin mgemmbalikannya nanti saat dia punya uang ..nah pertanyaannya! Tidak haramkah uang itu?? Dan kalau mau d kembalikan mau di kembalikan kemana?? Apakah ke tempat yang d pungut itu??
Mohon d jawab…syukron😊☺
📝 :

🍃🍃🍃🍃

Wa ‘alaikumussalam …, Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

 Apa yang ditanyakan itu, dalam fiqih namanya LUQATHAH yaitu barang temuan.

 Ada dua jenis:

1⃣ Barang temuannya sesuatu yg dianggap sudah tidak berharga atau tidak diharapkan pemiliknya lagi, maka ini boleh dimiliki. Seperti sebutir kurma, kain usang, botol minuman, bangku reot, dll. Ini biasa kita saksikan dilakukan pemulung. Ini dibenarkan oleh syara’ dan tradisi manusia umumnya.

2⃣ Barangnya sesuatu yang diminati banyak orang, pemiliknya pun masih berharap, baik dia masih mencari atau pasif saja. Seperti jam, dompet dan isinya, perhiasan, dll.

Maka, ini mesti diumumkan selama 1 tahun,  Jika yang punya datang, maka kembalikan, jika tidak maka boleh bagi penemunha memanfaatkannya sebagaimana perintah nabi dalam hadits riwayat Al Bukhari. Boleh juga menyedekahkannya, tapi jika  suatu saat ada orang yang mengaku sebagai pemiliknya, maka tetap kita mengembalikannya.

Demikian. Wallahu a’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍀🍀🌸🌷🍄🌻🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia….

Ayah Murtad, Bolehkah Menampakkan Aurat Didepannya?

✏ Ustadzah Indra Asih

🌿🌺🍁🌸🌷🌻🍄🌹

Assalamu’alaykum…

Tanya Ustadz

Kepada Ustadzah Indra Asih

Pertanyaan dari A03

1. Jika saudara laki2 atau ayah kita murtad, bagaima hukum mengenai aurat di hadapannya? Apakah tetap sama, atau akan dikenakan seperti bukan mahrom?

Ukhti Ayu Rahayu

2. Afwan sy mau brtanya mewakili pertanyaan teman: Hukum mencatok rambut dengan tujuan ingin merapikan rambut saja dan tidak bertujuan untuk dilihat oleh orang lain hukumnya haram atau tidak?

Ukhti Ramadhiny

Jazakumullah Ustadzah🙏🏻

__________________
JAWABAN

1. Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 31, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka.”

Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan.

Tidak berubah karena murtad.

2. Hukum meluruskan rambut atau catok sangat terkait dengan konteksnya, namun hukum asalnya mubah (dibolehkan).

Jika tujuan dan dampaknya negatif maka hukumnya haram.
Sebaliknya, jika tujuan dan dampaknya positif maka dibolehkan, bahkan dianjurkan,

Jadi dibolehkan
– jika tujuannya untuk merawat tubuh dan menjaga keindahan bukan untuk maksiat atau agar dilihat
– obat yang digunakan harus halal.

🌿🌺🍁🍀🌸🌷🍄🌻🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Menikahi Wanita yang Pernah Dizinahi

✏Ustadzah Dra Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹.                                                  
Assalamu’alaikum wr wb

🌴Ada tmn yg dulu ny prnh berzina sama tmn laki2ny tp tdk sampe hamil, skrng mrka berdua sama2 aktivis kemudian beliau berdua ingin bertaubat dg cara ikhwannya mau menikahi akhwatnya, apakah boleh secara syariatnya mb, sdngkan wanita ataupun laki2 tdk boleh menikahi org yg prnh dizinahinya, mhn bantuan jawabannya,  krn tmn perempuan  sy beberapa kali resah. Mohon masukannya ustadzah
Apakah diterima taubatnya dg cr mereka berdua it menikah?

🌴Ada teman baru lahiran, nifasnya sampai 60 hr, akhirnya kontrol ke obgyn karena nifas yg g lancar, trnyata blm tuntas. Msh ada sisa darah nifas yg  membeku. Jd dikasi obat. Mau tanya, jd hukum solatnya selama ini bgmn Ustadzah.?

🌴 Saya hamil 8 minggu , kmrn sempat keluar flek2 sama dokter dikasih obat penguat,kalau seperti itu apakah saya punya kewajiban tetap sholat/ bagaimana?

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Jawaban__________

🌴Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menikahi orang yang berzina, menurut mayoritas ulama dibolehkan menikahi orang yang pernah berzina, baik laki-laki maupun perempuan, berdasarkan keumuman perintah untuk menikah dan menikahkan orang-orang yang masih sendiri.

Di masa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, “Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), “Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik’. Lalu Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka `ku yang menanggungnya.” (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, “Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri.”

🌴Karena ada kesaksian dr ahli ahli bhwa itu nifas. Berarti hukum nifas tdk boleh sholat.
Kalo blm berhenti juga, kembali kontrol utk memastikan nifasnya sudah selesai dan berganti dg istihadhah.
Jika bukan nifas, maka sholat dg menggunakan pembalut dan perbaharui wudhu setiap akan sholat.

🌴Iya tetap sholat. Krn flek itu bukan nifas ataupun haid.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KPR Syariah, Boleh?

✏ Ustadz Rizka Maulana Lc., M.Ag

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Pertanyaan

1. Jika beli rumah dg cara KPR syariah itu halal atau haram? Sementara akad nya akad jual beli n bagaimana hukumnya menabung dibank syariah.

2. Di rmh sy ikut kegtan PKK tp kegtnnya lebih ke simpan pinjam, setiap pinjaman ada kelbhan 10% tp setiap akhir tahun/pntupan( biasanya menjelang romadhon) klbhannya itu yg 2% di kembalikan k si peminjam yg 8% di bagi utk memberi bonus ke setiap anggota sama pengurus diantaranya berupa sebako sama bonus uang ke setiap yg nabung tp bonus uang ini jumlahnya gak sama disesuaikan dgn jumlah tabungan setiap anggota .
yg mau sy tanyakan kelebihan pinjaman, yg 2% sama bonus yg berupa sembako dan uang itu gimana?

3.Misalkan saya punya simpanan emas. Kemudian teman saya pinjam uang ke saya untuk jangka waktu misal 2 tahun.
Jika saya meminjamkan emas dan minta dikembalikan lagi dalam bentuk emas dgn berat yang sama (yang mana mungkin harganya sudah berbeda 2 tahun yg akan datang), apakah itu termasuk riba?
*terlepas dari apakah transaksinya suka sama suka ya mba. Krn biasanya orang kepepet mungkin akan segera ambil aja.
Pertanyaannya lebih ke si pemberi pinjaman, apakah itu menyalahi kaidah?

🅰2⃣1⃣

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Jawaban

1. Beli rumah secara KPR via bank konvensional adalah riba, karena ada unsur bunganya dan bunga adalah riba. Kalau mau beli rumah, lewat bank syariah saja, insya Allah akadnya sdh disesuaikan dengan syariah.

2. Segala bentuk simpanan maupun pinjaman uang ada bunganya adalah riba, baik bank, koperasi, dsb.

3. Konsep hutang adalah dibayar sama dengan hutangnya. Dan hutang bisa berwujud uang maupun barang, spt hewan ternak, emas, dsb. Dan apabila hutang dengan uang, maka harus dibayar uang dgn jumlah sama persis dgn jumlah yg dipinjamnya. Dan apabila hutang barang, spt emas dsb, maka harus dibayar sama persis dgn jumlah, berat dan kadar hutangnya, kendatipun harganya sdh berubah.

Wallahu A’lam

 🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…