IBU HAMIL DAN MENYUSUI, BAGAIMANA PUASANYA?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
๐Ÿ“šUstadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด

Apakah benar ibu hamil dan menyusui itu bayar fidyah, ketika tidak bisa puasa ramadhan? Atau harus qodho?
Dan ketika kasusnya seseorang itu melahirkan di awal ramadhan..otomatis kan dia nifas satu bulan penuh ramadhan tdk bisa puasa.. jika seperti itu kasusnya apakah ibu ini dihukumi sebagai ibu mnyusui juga yg boleh bayar fidyah ato ya harus bayar ganti puasa karna nifas?
๐Ÿ…ฐ2โƒฃ1โƒฃ

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Jawaban_______

Ibu hamil dan menyusui adalah dua macam โ€˜udzur dibolehkannya meninggalkan puasa. Namun, dia diwajibkan menggantinya. Ini adalah kesepakatan (ittifaq) para fuqaha (ahli fiqih) sejak dahulu hingga hari ini. Jika dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dan tidak khawatir terhadap kesehatan dirinya dan janinnya, maka dia boleh memilih, puasa atau tidak. Keduanya dibenarkan, namun puasa lebih afdhal, karena tubuhnya kuat tadi.

Hanya saja, para fuqaha berselisih (ikhtilaf), dengan apa dia harus mengganti puasa. Qadhakah (berpuasa pada hari di luar Ramadhan)? Atau fidyah? Perlu diketahui, Qadha merupakan mengganti puasa di hari selain Ramadhan karena dia masih mampu untuk berpuasa di hari lain tersebut. Seperti musafir, orang sakit yang masih punya harapan sembuh, hamil dan menyusui, pekerja keras, orang yang perang, dipaksa/diancam untuk tidak puasa.

Sedangkan Fidyah adalah mengganti puasa bagi orang yang sudah tidak mampu lagi berpuasa dengan memberikan makanan pokok yang mengenyangkan kepada orang miskin, sebanyak jumlah hari yang dia tinggalkan. Seperti sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh, orang yang sangat tua, orang yang selalu bergelut dengan pekerja keras tiap hari. Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, ibu hamil dan menyusui termasuk golongan ini.

Untuk Qadha dalilnya adalah firman Allah Taโ€™ala, โ€œMaka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.โ€ (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Untuk Fidyah dalilnya adalah kalimat selanjutnya, โ€œDan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.โ€ (QS. al-Baqarah (2): 184)

Perbedaan pandangan ulama dalam hal ini sangat wajar. Sebab memang ayat tersebut tidak merinci siapa sajakah yang termasuk orang-orang yang berat menjalankannya. Dalam hadits pun tidak ada perinciannya. Adapun tentang Qadha secara khusus, ayat di atas menyebut musafir dan orang yang sakit. Sedangkan ayat tentang Fidyah, tidak dirinci hanya disebut orang yang berat menjalankannya.

Nah, khusus ibu hamil dan menyusui, jika kita melihat keseluruhan pandangan ulama yang ada, bisa kita ringkas seperti yang dikatakan Imam Ibnu Katsir,[1] bahwa ada empat pandangan/pendapat ulama. Berikut rinciannya, silahkan perhatikan baik-baik:

Pertama, kelompok ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah sekaligus. Ini adalah pandangan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafiโ€™i. Dilakukan jika Si Ibu mengkhawatiri keselamatan janin atau bayinya.

Kedua, kelompok ulama yang mewajjibkan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah pandangan beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin โ€˜Abbas, dan Abdullah bin โ€˜Umar Radhiyallahu โ€˜Anhuma. Dari kalangan tabiโ€™in (murid-murid para sahabat) adalah Said bin Jubeir,[2] Mujahid, dan lainnya. Kalangan tabiโ€™ut tabiโ€™in (murid para tabiโ€™in) seperti al-Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an-Nakhaโ€™i.

Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih, Ibnu โ€˜Abbas pernah berkata kepada hamba sahayanya yang sedang hamil, โ€œKau sama dengan orang yang sulit berpuasa, maka bayarlah fidyah dan tidak usah qadha.โ€

Nafiโ€™ bercerita bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil yang khawatir keselamatan anaknya kalau ia berpuasa. Dia menjawab, โ€œHendaknya dia berbuka. Sebagai gantinya, hendaklah dia memberi makanan kepada seorang miskin sebanyak satu mud gandum.โ€ (Riwayat Malik )

Ketiga, kelompok ulama yang mewajibkan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madzhab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafiโ€™i dan Imam Ahmad bin Hambal ikut pendapat ini, jika sebabnya karena mengkhawatiri keselamatan Si Ibu, atau keselamatan Ibu dan janin (bayi) sekaligus.

Keempat, ke ompok ulama yang mengatakan tidak qadha, tidak pula fidyah.

Demikianlah berbagai perbedaan tersebut. Nah, pendapat manakah yang sebaiknya kita ikuti? Seorang ahli fiqih abad ini, Al-โ€˜Allamah Syaikh Yusuf al-Qaradhawy hafizhahullah,[3] dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) memberikan jalan keluar dan kompromi yang bagus. Beliau berkata:

โ€œBanyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, merupakan rahmat dari Allah bagi mereka, jika tidak dibebani kewajiban qadha, namun cukup dengan fidyah. Di samping hal ini merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan materi.

Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana umumnya ibu-ibu di masa kita saat ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, kadang-kadang hanya mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih tepat pendapat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah).โ€

Jadi, beragam pendapat ini tidak diposisikan saling vis a vis (saling berhadap-hadapan). Tetapi semuanya disesuaikan keadaan wanitanya. Jika wanita tersebut sering hamil, tiap tahun atau dua tahun sekali, sulit baginya melakukan qadha, maka bagi dia fidyah saja. Adapun, jika hamilnya jarang, ada waktu jeda dia tidak hamil maka wajib baginya qadha di masa jeda itu, bukan fidyah. Inilah pendapat yang nampaknya adil, seimbang, sesuai ruh syariat Islam.

Bagi wanita yg lagi nifas sama ketika wanita haid yaitu mengqodho atau mengganti puasa.

Demikian. Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan :
Www.iman-islam,com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala, …….

BOLEHKAH AQIQAH DILUAR TANGGAL 7, 14, 21?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamu’alaikum wr wb..
Saya mau mnanyakan tentang seputar aqiqah,
1. apa hukum mengaqiqahkan anak?
2. apakah boleh mengaqiqahkan bukan pada hari ke7(hari ke 14,21 dst)
3. setelah mencukur rambut,
kemudian ditimbang dan dihargai apakah dengan harga emas ataukah dengan harga perak?
4. apakah boleh membagikan uang yg dari mencukur rambut anak yg aqiqah beberapa bulan setelahnya?
Demikian jazakallah khairan katsira. Member Manis ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ.
                                                        ๐ŸŒดJawaban nya.                                                                
๐ŸŒด๐ŸŒปTentang AQIQAH๐ŸŒป๐ŸŒด
Wa alaikumsalam wr wb…..                                  1โƒฃ Definisi Aqiqah:
 Imam Ibnu Hajar Rahimahullah, beliau menulis sebagai berikut dalam Al Fath:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู : ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ุงูุณู’ู… ุงู„ุดู‘ูŽุงุฉ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ุจููˆุญูŽุฉ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ูˆูŽู„ูŽุฏ ุŒ ุณูู…ู‘ููŠูŽุชู’ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุชูุนูŽู‚ู‘ ู…ูŽุฐูŽุงุจูุญู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ ุชูุดูŽู‚ู‘ ูˆูŽุชูŽู‚ู’ุทูŽุน . ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุญู’ู„ูŽู‚ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู† ููŽุงุฑูุณ : ุงู„ุดู‘ูŽุงุฉ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุชูุฐู’ุจูŽุญ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑ ูƒูู„ู‘ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ูŠูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ

Berkata Al Khaththabi: Aqiqah adalah nama bagi kambing yang disembelih karena kelahiran bayi. Dinamakan seperti itu karena aqiqah adalah merobek sembelihan tersebut yaitu mengoyak dan memotong. Dia berkata: dikatakan aqiqah adalah rambut yang sedang dicukur. Berkata Ibnu Faris: Kambing yang disembelih dan rambut, keduanya dinamakan aqiqah. (Fathul Bari, 9/586. Darul Fikr)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽุจููŠุญูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุชูุฐู’ุจูŽุญู ู„ูู„ู’ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏู .
ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽู‚ู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุทู’ุนู ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูู„ุฐู‘ูŽุจููŠุญูŽุฉู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุดูู‚ู‘ู ุญูŽู„ู’ู‚ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูู‚ูŽุงู„ู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ู„ูู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏู ู…ูู†ู’ ุจูŽุทู’ู†ู ุฃูู…ู‘ูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุฎู’ุดูŽุฑููŠู‘ู ุฃูŽุตู’ู„ู‹ุง ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ุจููˆุญูŽุฉู ู…ูุดู’ุชูŽู‚ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู .

โ€œAqiqah adalah hewan sembelihan yang disembelih untuk bayi. Berasal dari merobek, mengoyak, dan memutus. Dikatakan,  sembelihan adalah aqiqah, karena merobek dan mecukurnya. Dikatakan aqiqah pula bagi rambut yang tumbuh di kepala bayi dari perut ibunya. Az Zamakhsyari mengatakan itu adalah kata asal dari aqiqah, dan kambing sembelihan termasuk kata yang berasal   dari itu.  (Subulus Salam, 6/328. Lihat juga Nailul Authar, 5/ 132.  Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Lihat juga, Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 8/25. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiah )

2โƒฃ Dalil Pensyariatannya:
Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ูƒู„ู‘ู ุบู„ุงู…ู ุฑู‡ูŠู†ุฉูŒ ุจุนู‚ูŠู‚ุชู‡: ุชุฐุจุญ ุนู†ู‡ ูŠูˆู… ุณุงุจุนู‡ุŒ ูˆูŠุญู„ู‚ุŒ ูˆูŠุณู…ู‰

โ€œSetiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.โ€ (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. Lihat Syaikh Al Albani, Irwaโ€™ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Dari Salman bin โ€˜Amir Adh Dhabbi, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุบูู„ูŽุงู…ู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ููŽุฃูŽู‡ู’ุฑููŠู‚ููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฏูŽู…ู‹ุง ูˆูŽุฃูŽู…ููŠุทููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰

โ€œBersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah (kambing), dan hilangkanlah gangguan darinya.โ€ (HR. Bukhari No. 5154. At Tirmidzi No. 1551 Ibnu Majah No. 3164. Ahmad No. 17200)

Maksud dari โ€œhilangkanlah gangguan darinyaโ€ adalah mencukur rambut kepalanya (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah).  Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa Imam Muhammad bin Sirin berkata: โ€œJikalau makna โ€˜menghilangkan gangguanโ€™ adalah bukan mencukur rambut, aku tak tahu lagi apa itu.โ€  Al Ashmuโ€™i telah memastikan bahwa maknanya adalah mencukur rambut. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih, bahwa Al Hasan Al Bashri juga mengatakan demikian. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 9/593. Darul Fikr)

Apa maksud kalimat โ€œSetiap bayi digadaikan dengan aqiqahnyaโ€? Imam Al Khaththabi mengatakan, telah terjadi perbedaan pendapat tentang makna tersebut. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, maksudnya adalah setiap anak yang lahir dan dia belum diaqiqahkan, lalu dia wafat ketika masih anak-anak,  maka dia tidak bisa memberikan syafaโ€™at kepada kedua orang tuanya. Sementara, pengarang Al Masyariq dan An Nihayah mengatakan, maksudnya adalah bahwa tidaklah diberi nama dan dicukur rambutnya kecuali setelah disembelih aqiqahnya. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/133.  Maktabah Ad Daโ€™wah Islamiyah. Imam Abu Thayyib Syamsul Haq โ€˜Azhim Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 8/27. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Seorang tokoh tabiโ€™in, โ€˜Atha bin Abi Rabbah mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ahmad, maksud kalimat tersebut adalah orang tua terhalang mendapatkan syafaโ€™at dari anaknya. (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 48. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

3โƒฃ Hukumnya
Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุงู„ุนุชุฑุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุฅู„ู‰ ุงู†ู‡ุง ุณู†ุฉ

โ€œMadzhab jumhur (mayoritas) ulama dan lainnya adalah aqiqah itu sunah.โ€ (Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ูˆุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุงุจ ู…ุนุณุฑุงุŒ ูุนู„ู‡ุง ุงู„ุฑุณูˆู„ุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆูุนู„ู‡ุง ุฃุตุญุงุจู‡ุŒ ุฑูˆู‰ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู† ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ุนู‚ ุนู† ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ูƒุจุดุง ูƒุจุดุงุŒ ูˆูŠุฑู‰ ูˆุฌูˆุจู‡ุง ุงู„ู„ูŠุซ ูˆุฏุงูˆุฏ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠ.

“Aqiqah adalah sunah muโ€™akkadah walau keadaan orang tuanya sulit, Rasulullah telah melaksanakannya, begitu pula para sahabat. Para pengarang kitab As Sunan  telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah meng-aqiqahkan Hasan dan Husein dengan masing-masing satu  kambing kibas. Sedangkan menurut Laits bin Saโ€™ad dan Daud Azh Zhahiri aqiqah adalah wajib.โ€ (Fiqhus Sunnah, 3/326. Darul Kitab Al โ€˜Arabi)

Sedangkan, Imam Abu Hanifah justru membidโ€™ahkan Aqiqah! (Imam An Nawawi, Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/217. Dar โ€˜Alim Al Kitab)

Pengarang kitab Al Bahr menyebutkan, bahwa Imam Abu Hanifah menilai Aqiqah merupakan kejahiliyahan. Imam Asy Syaukani mengatakan, jika benar itu dari Abu Hanifah, maka hal itu bisa jadi dikarenakan belum sampai kepadanya hadits-hadits tentang aqiqah. Sementara Imam Muhammad bin Hasan mengatakan Aqiqah adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam dengan qurban. Sementara, justru kalangan zhahiriyah (yakni Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm, pen) dan Imam Al Hasan Al Bashri mengatakan wajib. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 38. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa aqiqah adalah wajib. (Al Muhalla, 7/523. Darul Fikr)

Pendapat yang benar dan lebih kuat, hukum aqiqah adalah sunah. Hal ini didasari oleh hadits berikut:

ู…ู† ูˆู„ุฏ ู„ู‡ ูุฃุญุจ ุฃู† ูŠู†ุณูƒ ุนู† ูˆู„ุฏู‡ ูู„ูŠูุนู„

โ€œBarang siapa dilahirkan untuknya seorang bayi, dan dia mau menyembelih (kambing) untuk bayinya, maka lakukanlah.โ€ (HR. Malik No. 1066. Ahmad No. 22053. Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat seorang yang tidak menjatuhkan hadits ini, dan periwayat lainnya adalah para periwayat hadits shahih. Majmaโ€™ Az Zawaid, 4/57)

  Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa penyembelihan dikaitkan dengan kemauan orangnya. Kalau dia mau, maka lakukanlah. Maka, tidak syak lagi bahwa pendapat jumhur (mayoritas) ulama lebih kuat dan benar, bahwa aqiqah adalah sunah.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai pengalih kewajiban aqiqah menjadi sunah. (Subulus Salam, 6/329)

4โƒฃ Tentang Mencukur Rambut
Mencukur semuanya, bukan sebagiannya.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู‚ูŽุฒูŽุนู

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang qazaโ€™. (HR. Bukhari No. 5921 dan Muslim No. 2120)

Apakah Qazaโ€™? Nafiโ€™ โ€“seorang tabiโ€™in dan pelayan Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma menjelaskan:

ูŠูุญู’ู„ูŽู‚ู ุจูŽุนู’ุถู ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ูˆูŽูŠูุชู’ุฑูŽูƒู ุจูŽุนู’ุถูŒ

Kepala bayi yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian lainnya. (HR. Muslim No. 2120)

Contoh qazaโ€™ adalah seorang yang membiarkan bagian depan kepala, tapi mencukur bagian belakangnya, atau yang tengah dibiarkan tapi kanan kirinya dicukur. Inilah yang kita lihat dari model-model rambut orang kafir yang ditiru remaja Islam. Kadang ada orang tua yang mencukur anaknya seperti ini lalu dibuat buntut, sekedar untuk lucu-lucuan.

Lalu, menimbang potongan rambut itu, dan disesuaikan dengan berat perak untuk disedekahkan. Ini jika dalam kelapangan ekonomi.

Sebagian kecil ulama seperti Imam Ar Rafiโ€™i memilih menggunakan emas. Mungkin karena perak jarang dipakai oleh manusia.

Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Dhayyan berkata : โ€œDan disunnahkan mencukur rambut bayi, bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya dan diberi nama pada hari ketujuhnya. Masih ada ulama yang menerangkan tentang sunnahnya amalan tersebut (bersedekah dengan perak seperti A l Hafidz Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani, Imam Ahmad, dan lain-lain.โ€

Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Anas bin Malik, Bahwasanya Rasulullah memerintahkan mencukur rambut Hasan dan Husein, anak Ali bin Abi Thalib, pada hari ke tujuh, kemudian bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut Hasan dan Husein itu. (HR. Thabrani dalam Al Ausath, 1/133)

Hadits jalur Anas bin Malik ini dhaif (lemah), namun ada hadits lain yang serupa, dari jalur Abdullah bin Abbas, yang bisa menguatkannya. Sehingga hadits di atas naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi.

Berkata Imam Ibnu Hajar, โ€œSeluruh riwayat yang ada sepakat tentang penyebutan bersedekah dengan perak. Tidak ada satu pun yang menyebutkan emas. Berbeda dengan perkataan Ar Rafiโ€™i, bahwa disunnahkan bersedekah dengan emas seberat timbangan rambut, kalau tidak sanggup maka dengan perak. Riwayat yang menyebut bersedekah dengan emas dhaif dan tak ada yang menguatkannya!โ€ (Talkhis al Habir IV/1408)
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

POTONGAN TABUNGAN

๐ŸŒUstadz Menjawab
๐Ÿ‘ณ๐ŸผUstadz Rikza Maulana Lc. M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum..mau tanya ustadz/ah..bagaimana hukum potongan tabungan sebesar 10% di salah satu pusat pendidikan. Kesepakatan itu tertera di dlm lembaran kesepakatan antara pihak sekolah dgn ortu santri. Walaupun sebagaian mereka keberatan krn terlalu besar. Namun mereka masih ada yg tetap menabung. Ketika salah satu pengajar menanyakan perihal tersebut, pihak sekolah beralasan uang yg di tabung di bank jg terkena potongan. Dari pihak pengajar memberikan masukan agar pindah bank saja yg tdk terkena potongan atau lbh kecil potongannya. Apakah sistem ini bisa di kategorikan riba? atau masuk ke hukum kesepakan. Syukron..   A16

Jawaban
——————

Waalaikumsalam wr wb..
Seharusnya tidak boleh tabungan dipotong 10% oleh guru atau sekolah kecuali apabila jelas keperluannya dan atas persetujuan kedua belah pihak. Misalnya utk keperluan wisuda, buku, dsb. Adapun jika tidak ada keperluan yang jelas, maka tidak boleh, krn berarti mengambil hak orang lain secara bathil.
Wallahu A’lam.        

๐ŸŒพ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒน๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒธ๐Ÿ’๐Ÿ„

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Meraih ATS-TSABAT Bersama Surat Ali “Imran

๐Ÿ“† Jumat, 01 Rajab 1437H / 08 April 2016

๐Ÿ“š Tsaqofah

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

๐Ÿ“‹ Meraih ATS-TSABAT Bersama Surat Ali “Imran

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Ats-Tsabat secara mudahnya bermakna keteguhan, konsistensi, mengandung unsur sabar, dan ketenangan, ada unsur merasakan kenikmatan, sehingga ingin terus menerus berada di dalamnya hingga menyelesaikannya atau diselesaikan.

Dalam terma ats-Tsabat ada makna kesungguhan di dalamnya.

Bersungguh-sungguh di dalam meraih tujuan utamanya, meskipun selama usahanya membutuhkan waktu yang amat lama, tahapan demi tahapan yang banyak, dan ujian maupun cobaan yang begitu beragam.

Antum bisa simak Quran Surah al-Ahzab ayat ke-23 dalam hal ini. Bahwa di antara manusia ada yang menepati janji mereka kepada Rabb mereka.

Dalam menepati janji tersebut bahkan ada di antara mereka yang gugur syahid, namun ada pula sebagian lagi yang menunggu-nunggu kapan waktu mereka untuk gugur syahid, namun selama masa penantian tersebut ia tidak pernah sekalipun mengubah janjinya untuk sentiasa dikenal sebagai perindu syahid.

Mungkin bagi sebagian manusia, kalau berbicara waktu akan segera teringat bahwa ‘waktu adalah uang’, tapi bagi para perindu syahid, waktu sejatinya adalah bagian dari solusi (al-waktu juz-un min al-‘ilaaj), bagian dari upayanya untuk terus meningkatkan maqamnya di hadapan Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Hal ini karena ia telah berada pada tingkat keyakinan yang penuh, tanpa keraguan sedikitpun, bahwa memang tiada pilihan lain bagi dirinya kecuali berada pada sebuah jalan, yang jalan itu diyakininya penuh dengan keberkahan dan keridhaan-Nya. Jalan yang menyediakan balasan terbaik yang amat besar dan sangat menarik hatinya, sehingga ia pun tetap fokus berada di dalam jalan tersebut.

Begitu pentingnya fokus dalam menjalani sesuatu, dalam apapun itu, namun dalam konteks ini, fokus untuk sentiasa berada dalam SHIRAT AL-MUSTAQIM. Sehingga Nabi kita yang mulia (Sha), sampai memvisualisasikan pelajarannya di atas pepasir, dengan menggariskan bahwa inilah jalan yang lurus itu, fokus lah untuk mengikutinya, dan jangan terkecoh dengan panggilan kiri dan kanan yang melenakan, jangan terkelabui dengan panggilan kiri dan kanan yang menyediakan kenikmatan semu, karena di jalan SHIRAT AL-MUSTAQIM tersedia kenikmatan sesungguhnya nan abadi.
Inilah tingkat keteguhan untuk tujuan hidup yang tertinggi.

Bersama ruh ini, kita bisa aplikasikan dalam seluruh aktivitas kebaikan yang telah kita mulai. Jangan pernah berhenti sebelum manusia meraih hal terbaik dari apa yang telah ia mulai.

Maka dalam konteks ini, ATS-TSABAT memiliki unsur SHABR, dan ketika berbicara SHABR, minimal ia memiliki 3 dimensi:
1) Sabar dalam ketaqwaan;
2) Sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan;
3) Sabar ketika diujikan dengan musibah pada kesempatan pertama.

Kalau begitu, apa kaitannya dengan surat Ali ‘Imran?

๐Ÿ’ฆPertama, yang harus dipahami, bahwa setiap ayat di dalam sebuah surah, atau antara surah dengan surah, atau ayat dengan surah, memiliki kesatuan makna yang saling menguatkan. Inilah keindahan Al-Qur’an.

๐Ÿ’ฆKedua, nama dari sebuah surah perlu ditadabburi karena ia merupakan topik utama yang mengandung banyak pelajaran

๐Ÿ’ฆKetiga, karena ternyata di dalam surah ini mengandung banyak pelajaran ATS-TSABAT

โ–ถApa yang membuat seseorang berada pada sebuah jalan? PETUNJUK (Al-HUDA)

โ–ถApa yang membuat seseorang tetap berada pada sebuah jalan? PETUNJUK (AL-HUDA)

โ–ถUntuk apa seseorang berada di dalam sebuah jalan? PETUNJUK (AL-HUDA)

โ–ถSetiap hari, muslim berdo’a kepada Allah Swt untuk memohon AL-HUDA. Betul?
IHDINA, Berikan kami HUDA
Selalulah berdoa dengan seluruh adabnya
Setelah manusia memujinya, menegaskan penghambaannya, ia berdo’a : IHDINA

Berikan kami HUDA

๐ŸŒนDan ternyata Allah Swt segera menjawab di dalam Q.S. Al-Baqarah, ‘Fiihi HUDA”

๐ŸŒนDan ternyata Allah Swt membimbing kita di dalam Q.S. Ali ‘Imran untuk sentiasa memohon agar HUDA itu tidak tercerabut, “Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa ba’da Idz HADAItanaa …..”

Maka sudahkah kita membaca do’a ‘IHDINA’ itu dengan seluruh kekhawatiran bahwa do’a kita tidak dikabulkannya, dengan seluruh pengharapan lirih bahwa do’a kita dikabulkannya ….. (Introspeksi Diri)

Selanjutnya … jika antum perhatikan, Surat Al Fatihah diakhiri dengan do’a, ternyata Surat Al Baqarah pun diakhiri dengan do’a (Rabbanaa Laa tahmil ‘alainaa ….), dan ternyata Surat Ali ‘Imran pun diakhiri dengan do’a setelah manusia diminta untuk sentiasa ingat kepadanya (Rabbanaa innaka man tudkhilinnaara faqad akhzaitah ….)

Inilah mengapa Nabi Saw mengajak umatnya, ‘TA’ALLAMUU, Pelajarilah kedua surat ini.’, dua surat yang disebut dengan ZAHRAWAAN, dua surat yang bercahaya.

๐ŸŒฟPerlu antum ketahui, bahwa Surat Ali ‘Imran diturunkan setelah Surat Al-Anfal, namun disusun setelah Surat Al-Baqarah.

๐ŸŒฟPerlu antum ketahui, bahwa Surat ini bukan diturunkan kepada manusia yang baru mengenal Islam, tapi Surat ini diturunkan 20 tahun setelah masa kenabian. Diturunkan kepada manusia yang sudah melewati ragam tribulasi dakwah!

๐Ÿš€Dan ternyata seluruh isinya berkaitan dengan ATS-TSABAT (Keteguhan), dan ternyata semakin lama manusia ber-Islam, ia tetap perlu dikuatkan motivasinya agar sentiasa di dalam AL-HUDA.

Ini yang membuat bahwa tema ATS-TSABAT akan selalu relevan dalam seluruh umur-umur kita, karena umumnya manusia dalam berjalan menuju SHIRAT AL-MUSTAQIM sering terganggu karena dua hal, kita sebut saja FAKTOR INTERNAL dan FAKTOR EKSTERNAL.

โœ…Kita sebut Faktor Internal, karena biasanya Ats-Tsabat terganggu karena sesuatu yang datang dari dalam diri, mungkin berwujud pemikiran ‘menyimpang’ karena berpikir mendalam tapi tidak di bawah naungan wahyu.

โœ…Kita sebut Faktor Eksternal, karena biasanya Ats-Tsabat terganggu karena faktor-faktor dari luar dirinya. Bukan berarti manusia meninggalkan jalan AL-HUDA, tapi mungkin ia sekedar TIDAK MEMPRIORITASKANNYA, karena kesibukannya di dunia mengejar harta, tahta dan wanita.

Allah Swt sangat mengetahui fitrah manusia tersebut, maka membaca Surat Ali ‘Imran perlu memahami bahwa surat ini memberi ruang dialog dan obat untuk kedua persoalan tersebut, dan hal ini dapat kita lihat bahwa FAKTOR INTERNAL dirangkum dalam ayat 01-120, dan FAKTOR EKSTERNAL dirangkum dalam ayat 121-200.

Apa hal besar yang diangkat dalam kedua bagian besar itu dalam konteks Surat Ali ‘Imran?

Berbicara tentang Faktor Internal akibat pemikiran yang terganggu, Allah Swt mengangkat kisah 60 Nasrani ditemani 10 pemuka agamanya untuk berdebat dengan Nabi Saw terkait konsep Isa a.s sebagai Nabi.

Berbicara tentang Faktor Eksternal akibat gangguan luar yang membuatnya tidak memprioritaskan tujuan utamanya, Allah Swt mengangkat kisah Perang UHUD.

Islam adalah agama Ilmiah dan Dialog, disinilah KASIH dan DAMAI Islam.

Hal itu tercermin, betapa perbedaan pemikiran antara Nabi Saw dan 70 orang Nasrani adalah 180 derajat, namun Nabi Saw mencontohkan betapa akhlaknya dalam melayani tamunya sangat-sangat luar biasa.

Dengan penuh hikmah Nabi Saw mengajarkan Nasrani logika berpikir yang benar, mulai dari permisalan-permisalah sederhana, mulai meningkat medium, hingga puncaknya ketika tidak ada kata sepakat, muncullah MUBAHALAH!

Dan TERNYATA … setelah itu Allah tutup pembicaraan itu dengan konsep SABAR, baca ayat 120!

Ingat bahwa mujahid perang UHUD adalah Alumni BADAR, profesionalitasnya luar biasa, tapi tetap SABAR menjadi penting, maka Allah tutup pembicaraan itu, bahkan surat itu, dengan konsep SABAR, baca ayat 200!

Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, dan bantulah sekitarmu untuk bersabar, dan tetaplah, teguhlah, profesionallah, dalam amanah, tugas, beban yang dipercayakan kepadamu!

Ya bahwa ALIF LAM MIM (Bukan judul film Indonesia), terkadang dimaknai sebagai nama Surat, Nama Ayat, atau huruf-huruf muqotha’ah tanpa makna, tapi juga para ulama mengingatkan bahwa ALIF LAM MIM adalah juga huruf-huruf Arab yang digunakan oleh orang-orang Nasrani sehari-harinya.

Maka kalau memang mereka mampu, cobalah buat surat yang memiliki ruh seperti AL-HUDA! Padahal AL-HUDA itu telah diwahyukan dengan ruh bagi para pembacanya!

Hanya di surat ini kemudian ditegaskan secara berulang bahwa ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR, setuju?

Maka untuk mencapai ATS-TSABAT itu, minimal ada 5 (LIMA) hal yang bisa kita lakukan:

๐Ÿ”น1) Banyak berdo’a dan berlindung kepada-Nya, banyak sekali do’a bertaburan menyelingi setiap pelajaran di surat ini, diantaranya WA TSABBIT AQDAAMANAA (TEGUHKAN/TETAPKAN PENDIRIKAN KAMI);

๐Ÿ”น2) Banyak beribadah, karena ibadah adalah ruh dan sumber motivasi;

๐Ÿ”น3) Dakwah, karena dakwah melibatkan dialogis, mau’izhah, semangat menuntut ilmu, memindahkan fikrah dalam otak manusia dari situasi kepuasan (qana’ah) kepada wilayah identitas (hawiyah) dan loyalitas (intima’);

๐Ÿ”น4) Menghayati betapa jelasnya tujuan hidupnya; dan

๐Ÿ”น5) Ukhuwah.

Maka inilah rahasia mengapa surat ini dinamakan ALI ‘IMRAN, karena Allah Swt telah mengangkat dua figur wanita terbaik (Istri ‘Imran, dan Maryam) sebagai contoh keteladanan dalam ATS-TSABAT! Bahkan karena keteguhannya, Nabi Zakaria a.s. pun belajar kepada Maryam, karena wanita terkadang dapat dijadikan contoh sebagai SIMBOL KETEGUHAN, maka jangan lupa, setelah surat Ali ‘Imran, dihadirkan Surat An-Nisa’ (WANITA).

Maka ana tutup dengan do’a, Yaa Muqallibal Quluub, TSABBIT Quluubana ‘alaa diinika, Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘alaa Thaa’atika.

Selanjutnya silahkan sharing pendapatnya.

Nas-alullaaha salaamatan wal ‘aafiyah, al-‘afwu minkum, Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

MENIKAHI WANITA HAMIL

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœ Ustadz Farid Nu’man

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr. Wb ustadz/ah…
bagaimana seseorang laki2 menikah dengan wanita yg hamil 3 bulan sedangkan anak yg dikandunganya itu bukan anaknya melainkan perbuatan laki2 lain. Tapi laki2 ini tau dan beliau ttp menikahinya..

JAWABAN
——————-

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: โ€œNikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain. Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).
Abu Hanifah membolehkan akad sebelum  istibraโ€™ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh  jimaโ€™ (hubungan badan) dulu  sampai dia melahirkan.
Asy Syafiโ€™i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafiโ€™i.
Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.โ€

# Nikahnya Wanita Hamil
Harus dirinci sebagai berikut:
1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?
Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena โ€˜iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?
Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafiโ€™i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.
Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah. Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian. Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Ketika Kaum Musyrikin Quraisy Pertama Kali Mengakui Eksistensi Kaum Muslimin di Madinah

๐Ÿ“† Kamis, 29 Jumadil Akhir 1437H / 7 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Ketika Kaum Musyrikin Quraisy Pertama Kali Mengakui Eksistensi Kaum Muslimin di Madinah

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Berawal dari mimpi Rasul SAW memasuki kota Makkah dengan aman maka dimulailah perjalanan 1500 sahabat untuk melaksanakan umroh pertama kalinya. Mereka demikian bergembira dalam menyongsong kerinduan akan kampung halaman setelah 6 tahun berhijrah. Turut bersama Rasulullah SAW adalah isterinya yg bernama Ummu Salamah. Kerinduan adalah sebuah perayaan yang sangat manusiawi yang juga dirasakan oleh para sahabat.

Sesampainya mereka di Dhul Hulaifah, semua laki-laki mengenakan kain ihram adapun pedang yg mereka bawa semua tersimpan dalam sangkurnya karena bukan ekspedisi militer. Kesatuan pengintai yg dikirim Rasulullah SAW membawa berita bahwa jalan menuju Makkah telah diblokade oleh pasukan elit Quraisy yg juga mengerahkan kekuatan para Budak berkulit hitam. Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu berupaya mengumpulkan data intelijen secara sistematik.

Khalid ibn al-Walid yg dikerahkan para pemuka Quraisy bersama 200 pasukan berkuda bermaksud menyerang secara mendadak pada waktu zuhur. Namun Allah SWT mewahyukan dibolehkannya sholat Khauf dimana sebagian sahabat bersiaga dengan senjata mereka ketika sebagian lain shalat; momen genting tersebut terselamatkan. Kecenderungan kepada perdamaian tidak pernah menjadikan Kaum Muslimin lengah akan ancaman lawannya.

Rasulullah SAW mengubah arah perjalanan mereka ke Tsaniyatul Marar hingga sampai ke sebuah sumur tua yg mulai mengering di daerah al-Hudaibiyah dimana mereka mendirikan tenda. Mu’jizat Allah SWT turun berupa mengalir derasnya kembali air di sebuah cerukan yang ditancapi anak panah oleh Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah contoh perencanaan yang maksimal dan dengannya Allah Ta’ala turunkan bantuan sesuai dengan waktunya.

Ketika berkemah di sini, Kaum Quraisy mengirim 3 utusan berturut-turut. Ketika utusan ketiga, ‘Urwa ibn Mas’ud ats-Tsaqafi, menginap diantara Kaum Muslimin, ia menduga bahwa para sahabat pasti meninggalkan beliau pada saat genting nantinya. Namun setelah menyaksikan secara langsung bagaimana interaksi diantara Kaum Muslimin ia berubah pandangan. Ketika ia kembali ke Kaum Musyrikin Quraisy, ia berkata “aku sudah pernah melihat istana Kaisar serta Raja-Raja, namun belum pernah suatu kaum setia, mencintai, menghormati, dan rela berkorban utk pemimpinnya daripada Kaum Muslimin.

Bersambung..

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

MATI YANG BAGAIMANA YANG DISEBUT MATI SYAHID?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ“ŒAssalamualaikum wr wb ustadz/ah…Saya mau bertanya, tentang mati syahid. Mati seperti apa sajakah yg termasuk mati syahid? Dan mohon penjelasan nya tentang macam2 mati syahid. Terima kasih….. ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ

Jawaban;
—————–
Bismillah wal Hamdulillah …
Orang-orang yang mati syahid itu banyak, di antaranya:

1โƒฃ Dibunuh Karena Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar Kepada Penguasa Zalim

Dari Jabir radhiallahu โ€˜anhu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam  bersabda,

 ุณูŠุฏ ุงู„ุดู‡ุฏุงุก ุญู…ุฒุฉ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู…ุทู„ุจ ุŒ ูˆุฑุฌู„ ู‚ุงู„ ุฅู„ู‰ ุฅู…ุงู… ุฌุงุฆุฑ ูุฃู…ุฑู‡ ูˆู†ู‡ุงู‡ ูู‚ุชู„ู‡

โ€œPenghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang berkata benar kepada penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.โ€   (HR. Al Hakim, Al  Mustdarak-nya, Ia nyatakan shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Adz Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al Albany mengatakan hasan, dia memasukkannya dalam kitabnya As Silsilah Ash Shahihah,  No. 374)

3โƒฃ  Dibunuh Karena Melindungi Harta

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ

โ€Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid.โ€   (HR. Al Bukhari No. 2348)

3โƒฃ  Dibunuh karena membela agama, keluarga, dan darahnya (kehormatan)

Dari Saโ€™id bin Zaid Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฏููŠู†ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฏูŽู…ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka dia syahid.โ€   (HR. At Tirmidzi, No. 1421, katanya: hasan shahih. Abu Daud, No. 4177. An Nasaโ€™i,  No. 4095. Ahmad, Juz.  4, Hal. 76, No. 1565. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 2, Hal. 75, No. 1411)

4โƒฃ  Mati karena penyakit thaโ€™un, sakit perut, dan tenggelam

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

  ู…ูŽุง ุชูŽุนูุฏู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู‡ููŠุฏูŽ ูููŠูƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ุฅูุฐู‹ุง ู„ูŽู‚ูŽู„ููŠู„ูŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ููŽู…ูŽู†ู’ ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽุงุนููˆู†ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุทู’ู†ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูู‚ู’ุณูŽู…ู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุจููŠูƒูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุฑููŠู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏ

Siapa yang kalian anggap sebagai syahid? Mereka menjawab: โ€œOrang yang dibunuh di jalan Allah, itulah yang syahid.โ€ Nabi bersabda: โ€œKalau begitu syuhada pada umatku sedikit.โ€ Mereka bertanya: โ€œSiapa sajakah mereka wahai Rasulullah?โ€ Nabi menjawab: โ€œSiapa yang dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena thaโ€™un dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid.โ€ Ibnu Miqsam berkata: โ€œAku bersaksi atas ayahmu, pada hadits ini bahwa Beliau bersabda: โ€œOrang yang tenggelam juga syahid.โ€ (HR. Muslim No. 1915)

5โƒฃ Juga karena melahirkan, tertiban, dan terbakar. Sebagaimana hadits berikut:

ุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนูŒ ุณููˆูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽุชู’ู„ู ููู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุทู’ุนููˆู†ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุฑูู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุตูŽุงุญูุจู ุฐูŽุงุชู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู’ุจู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุจู’ุทููˆู†ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ุญูŽุฑููŠู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ูŠูŽู…ููˆุชู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ู…ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุชูŽู…ููˆุชู ุจูุฌูู…ู’ุนู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ยป.

Mati syahid itu ada tujuh golongan, selain yang  terbunuh fi sabilillah: โ€œOrang yang kena penyakit  thaโ€™un, tenggelam, luka-luka di tubuh, sakit perut, terbakar, tertiban, dan wanita melahirkan.โ€ (HR. Abu Daud No. 3113, shahih)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก:ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุดู‡ุงุฏุฉ ู‡ุคู„ุงุก ูƒู„ู‡ู…ุŒ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ู‚ุชูˆู„ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฃู†ู‡ู… ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ู… ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุซูˆุงุจ ุงู„ุดู‡ุฏุงุกุŒ ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุงุŒ ููŠุบุณู„ูˆู†ุŒ ูˆูŠุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ู….

  Berkata para ulama: Yang dimaksud   syahadah (mati syahid) adalah bagi mereka semua,  selain karena terbunuh di jalan Allah,   dan sesungguhnya bagi mereka di akhirat akan mendapatkan ganjaran syuhada, ada pun di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan. (Fiqhus Sunnah, 2/633)
Demikian. Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan :
Www.iman-islam,com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala, …….

APAKAH BERSENTUHAN DENGAN NON MUSLIM MEMBATALKAN WUDHU?

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœ Ustadz Farid Nu’man

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr. Wb ustadz/ah…Mau bertanya itu, kemaren waktu saya PKL ada yg bilang kalo perempuan sudah wudhu kemudian bersentuhan dgn wanita non muslim maka harus wudhu lagi, itu benar? Dan kalau benar apakah berlaku untuk laki”? Terima kasih ๐Ÿ™‚
I07

JAWABAN
——————-

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..
Menurut mayoritas ulama, tidak usah mengulang wudhunya. Sebab mereka suci tubuhnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ ูููŠ ุตูŽุญููŠุญู‡ ุนูŽู†ู’ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู‘ูŽุงุณ ุชูŽุนู’ู„ููŠู‚ู‹ุง : ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุฌูุณ ุญูŽูŠู‘ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽูŠู‘ูุชู‹ุง . ู‡ูŽุฐูŽุง ุญููƒู’ู… ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑ ููŽุญููƒู’ู…ู‡ ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ุญููƒู’ู… ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจ ุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงู‡ููŠุฑ ู…ูู†ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽู„ูŽู . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ : { ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ู†ูŽุฌูŽุณ } ููŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏ ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ุงู„ูุงุนู’ุชูู‚ูŽุงุฏ ูˆูŽุงู„ูุงุณู’ุชูู‚ู’ุฐูŽุงุฑ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ู†ูŽุฌูุณูŽุฉ ูƒูŽู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉู ุงู„ู’ุจูŽูˆู’ู„ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุท ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆู‡ู…ูŽุง . ููŽุฅูุฐูŽุง ุซูŽุจูŽุชูŽุชู’ ุทูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ุงู„ู’ุขุฏูŽู…ููŠู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุงููุฑู‹ุง ุŒ ููŽุนูุฑู’ู‚ู‡ ูˆูŽู„ูุนูŽุงุจู‡ ูˆูŽุฏูŽู…ู’ุนู‡ ุทูŽุงู‡ูุฑูŽุงุช ุณูŽูˆูŽุงุก ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุญู’ุฏูุซู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุฌูู†ูุจู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุงุฆูุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูููŽุณูŽุงุก ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูู„ู‘ู‡ ุจูุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ู’ุชู‡ ูููŠ ุจูŽุงุจ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถ

โ€œImam Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya, dari Ibnu Abbas secara mualaq (tidak disebut sanadnya): Seorang muslim tidaklah najis baik hidup dan matinya. Ini adalah hukum untuk seorang muslim. Ada pun orang kafir maka hukumnya dalam masalah  suci dan najisnya adalah sama dengan hukum seorang muslim (yakni suci). Ini adalah madzhab kami dan mayoritas salaf dan khalaf. Ada pun ayat (Sesungguhnya orang musyrik itu najis) maka maksudnya adalah najisnya aqidah  yang kotor, bukan maksudnya anggota badannya najis seperti najisnya kencing,  kotorannya , dan semisalnya. Jika sudah pasti kesucian manusia baik dia muslim atau kafir, maka keringat, ludah, darah, semuanya suci, sama saja apakah dia sedang berhadats, atau junub, atau haid, atau nifas. Semua ini adalah ijma kaum muslimin sebagaimana yang telah lalu saya jelaskan dalam Bab Haid. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/87. Mawqi Ruh Al Islam)
Penjelasan di atas, menunjukkan bahwa mayit non muslim adalah sama dengan mayit muslim, yakni suci. Bahkan Imam An Nawawi mengklaim telah terjadi ijma kaum muslimin.

Namun, faktanya tidak  ijma. Sebagian salaf dan ahli zhahir menyatakan bahwa kaum kafir adalah najis ketika hidupnya, tentu apalagi mayitnya.
 Abdullah bin Abbas Radhiallahu Anhuma  berpendapat bahwa sesuai zahir ayat: innamal musyrikun najasun  (sesungguhnya orang musyrik itu najis), maka tubuh orang musyrik itu najis sebagaimana najisnya babi dan anjing. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Al Hasan Al Bashri, katanya: Barang siapa yang bersalaman dengan mereka maka hendaknya berwudhu.โ€  (Lihat Tafsir Ayat Al Ahkam, 1/282)

Ini juga menjadi pendapat kaum zhahiriyah. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

ูุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจู†ุฌุณ ุงู„ุจุฏู† ูˆุงู„ุฐุงุชุ› ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุญู„ ุทุนุงู… ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจุŒ ูˆุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠุฉ ุฅู„ู‰ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃุจุฏุงู†ู‡ู….

Maka, menurut jumhur bukanlah najis badan dan zatnya, karena Allah Taala menghalalkan makanan Ahli Kitab, dan sebagian Zhahiriyah menajiskan badan mereka. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 4/131)

Namun yang shahih adalah pendapat jumhur bahwa mereka adalah suci, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ayat Al Ahkam berikut ini:

ุงู„ุชุฑุฌูŠุญ : ุงู„ุตุญูŠุญ ุฑุฃูŠ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุฃู† ุงู„ู…ุณู„ู… ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุนุงู…ู„ ู…ุนู‡ู… ุŒ ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ูŠุดุฑุจ ู…ู† ุฃูˆุงู†ูŠ ุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู† ุŒ ูˆูŠุตุงูุญ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… .

Tarjih: yang shahih adalah pendapat jumhur (mayoritas) karena seorang muslim berinteraksi dengan mereka, dahulu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum dari wadah kaum musyrikin, dan bersalaman dengan  non muslim.
Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Keimanan Selalu Menuntut Pengorbanan

๐Ÿ“† Kamis, 29 Jumadil Awal 1437H / 7 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Keimanan Selalu Menuntut Pengorbanan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Di pelabuhan Syaibah, pesisir Laut Merah inilah para sahabat generasi paling awal mu’minin membuktikan keimanan mereka kepada Allah Ta’ala.

Setelah terus bertahan dalam ancaman, aniaya, siksaan, hingga pembunuhan sekian lama di kota Makkah maka diturunkan kepada mereka Surah al-Kahfi. Menurut para mufassirin surah ini mengandung 3 hikmah yg memberikan isyarat untuk mencari tempat untuk mengamankan keimanan mereka:

1. Kisah Ashabul Kahfi: menjahui kezaliman penguasa semata untuk mengamankan keimanan mereka dan Allah SWT memberkahi usaha sungguh-sungguh itu serta membukakan jalan dikemudian hari,

2. Kisah Khaidir dan Nabi Musa (as): mengupayakan segala macam ikhtiar untuk menghindari konfrontasi yang belum perlu dan juga belum diperintahkan kehadapan penguasa yang zalim dengan sebuah target yaitu kembali dengan kekuatan,

3. Kisah Dzulqarnain: pentingnya peran seorang Raja yg beriman kepada Allah Ta’ala, tegas dan adil, lagi perkasa dalam melindungi rakyatnya dari berbagai macam gangguan dan marabahaya.

Setelah itu baru diturunkan ayat ke-10 dari Surah az-Zumar (38) yaitu: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Than mu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Para mufassirin menyepakati bahwa ayat ini yg mendorong Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat berhijrah ke Habasyah di seberang pantai ini di benua Afrika.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

SHALAT FAJAR SETELAH SHALAT SUBUH, BOLEHKAH?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ“ŒAssalamuallaikum wr wb

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ

Assalamualaikum ustadz๐Ÿ˜€ , ada pertanyaan dr member ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ:

Mau tanya apakah boleh shalat sunat fajar dilakukan sesudah shalat subuh? Karena sy seorang ibu yg memiliki bayi. Pernah suatu kali sy mendahulukan shalat sunat fajar tp kemudian bayi sy menangis dan sy hrs menyusuinya hingga sy shalat subuhnya sdh telat sekali diakhir waktu. Demikian prtanyaan sy. Jzk atas jawabannya

๐ŸŒด.Jawaban nya

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah … Bismillah wal Hamdulillah ..

Shalat sunah fajar boleh diqadha, yakni dilakukan setelah subuh baik matahari telah terbit atau belum. Hal ini berdasarkan hadits berikut (sebenarnya masih ada beberapa hadits lainnya, namun saya sebut dua saja):

Hadits Pertama:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ููŽู„ู’ูŠูุตูŽู„ู‘ูู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽุง ุชูŽุทู’ู„ูุนู ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œBarangsiapa yang belum shalat dua rakaat fajar, maka shalatlah keduanya (sunah fajar dan subuh) sampai tebitnya matahari.โ€  (HR. At Tirmidzi No. 423)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู†ู‡ ูุนู„ู‡  ูˆุงู„ุนู…ู„ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุนู†ุฏ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุณููŠุงู† ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญู‚

Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia melakukannya. Sebagian ulama telah mengamalkan hadits ini dan inilah pendapat Sufyan At Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy Syafiโ€™I, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, penjelasan hadits No. 423)

Imam Asy Syaukani menulis dalam Nailul Authar sebagai berikut:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุถูŽุงู‡ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽุงู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽููŽุฑู

โ€œTelah tsabit (kuat) bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah mengqadha keduanya  (shalat sunah fajar)  bersama shalat wajib (subuh) ketika ketiduran saat fajar dalam sebuah perjalanan.โ€

Tentang hadits Imam At Tirmidzi di atas,  Imam As Syaukani berkata:

ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ู…ูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุนู ู…ูู†ู’ ููุนู’ู„ูู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู

โ€œPada hadits ini tidaklah menunjukkan  larangan untuk melaksanakan dua rakaat tersebut setelah shalat subuh.โ€    (Nailul Authar, 3/25)

Hadits Kedua:

Hadits yang paling jelas tentang qadha shalat sunah fajar adalah riwayat tentang Qais bin Umar bahwa beliau shalat subuh di masjid bersama Rasulullah, sedangkan dia sendiri belum mengerjakan shalat sunah fajar. Setelah selesai shalat subuh dia berdiri lagi untuk shalat sunah dua rakaat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   berjalan melewatinya dan bertanya:

ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู ููŽุณูŽูƒูŽุชูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุถูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œShalat apa ini?, maka dia menceritakannya. Lalu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam diam, dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.โ€ (HR. Ahmad No. 23761, Abdurazzaq dalam Al Mushannaf No. 4016, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul Ummal No. 22032, Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkat: Berkata Al Iraqi: sanadnya hasan. (Fiqhus Sunnah, 1/187). Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: hadits ini mursal (terputus sanadnya pada generasi sahabat), namun semua perawinya tsiqaat. Lihat Taliq Musnad Ahmad No. 23761)

Beliau  melanjutkan:

ูˆุธุงู‡ุฑ ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุฃู†ู‡ุง ุชู‚ุถู‰ ู‚ุจู„ ุทู„ูˆุน ุงู„ุดู…ุณ ูˆุจุนุฏ ุทู„ูˆุนู‡ุงุŒ ุณูˆุงุก ูƒุงู† ููˆุงุชู‡ุง ู„ุนุฐุฑ ุฃูˆ ู„ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ ูˆุณูˆุงุก ูุงุชุช ูˆุญุฏู‡ุง ุฃูˆ ู…ุน ุงู„ุตุจุญ

โ€œSecara zhahir, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengqadha shalat sunah fajar  bisa  dilakukan sebelum terbit matahari atau setelahnya. Sama saja, baik terlambatnya karena adanya udzur atau selain udzur,  dan sama  pula baik yang luput itu shalat   sunah fajar saja, atau juga shalat subuhnya sekaligus.   (Fiqhus Sunnah, 1/187) Sekian. Wallahu Alam

Syaikh  Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู„ูƒ: ุณูƒูˆุชู‡ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ู‚ุถุงุก ุณู†ุฉ ุงู„ุตุจุญ ุจุนุฏ ูุฑุถู‡ ู„ู…ู† ู„ู… ูŠุตู„ู‡ุง ู‚ุจู„ู‡. ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ – ุงู†ุชู‡ู‰. ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุญุณูŠู† ุจู† ู…ุญู…ูˆุฏ ุงู„ุฒูŠุฏุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ู…ูุงุชูŠุญ ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญุŒ ูˆุงู„ุดูŠุฎ ุนู„ูŠ ุจู† ุตู„ุงุญ ุงู„ุฏูŠู† ููŠ ู…ู†ู‡ู„ ุงู„ูŠู†ุงุจูŠุน ุดุฑุญ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญุŒ ูˆุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ุฒูŠู†ูŠ ููŠ ุดุฑุญ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญ

Berkata Ibnu Al Malik: Diamnya nabi menunjukkan bolehnya mengqadha shalat sunah subuh setelah ditunaikan kewajiban subuhnya, bagi siapa saja yang belum melakukannya sebelumnya. Ini adalah pendapat Asy Syafii. Selesai. Demikian juga pendapat Syaikh Husein bin Mahmud Az Zaidani dalam kitab Al Mafatih Hasyiah Al Mashabih, Syaikh Ali bin Shalahuddin dalam kitab  Manhal Al Yanabi Syarh Al Mashabih, dan juga Al Allamah Az Zaini dalam Syarh Al Mashabih. (Mirah Al Mafatih, 3/465).

Namun, hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan.

Wallahu Alam
 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Pahala…