Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

📆 Selasa,  5 Rajab 1437H / 12 April 2016

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋 Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Hadits ke 12:

                Pada hadits ke 12 ini, Al Hafizh Ibnu Hajar menuliskan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذْ وَلَغَ فِيهِ اَلْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ, أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

وَفِي لَفْظٍ لَهُ:   فَلْيُرِقْهُ  .

وَلِلتِّرْمِذِيِّ:  أُخْرَاهُنَّ, أَوْ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ                                                    

📌            Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sucinya bejana kalian ketika seekor anjing walagha (menjilat) di dalamnya adalah dengan cara mencucinya tujuh kali, yang pertamanya adalah dengan tanah.” (HR. Muslim)

            Pada lafazhnya yang lain: “maka hendaknya dibuang airnya.”

            Pada riwayat Imam At Tirmidzi: “yang  akhir atau yang pertamanya adalah dengan tanah.”

📚Takhrij Hadits:

🔹-    Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul Wudhu Bab Al Ma’il Ladzi Yughsalu bihi Sya’arul Insan, No. 172, dengan lafaz: Idzasyariba Al kalbu ……….. (Jika seekor anjing minum), tanpa menyebut dicampur dengan tanah.

🔹-          Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitabuth Thaharah Bab Hukmi Wulughil Kalbi  No. (279) (91) dan (279) (89), dengan lafazh:“hendaknya dibuang airnya.” Taqdim: Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi. Lafaz hadits di atas adalah menurut lafaz Imam Muslim dalam Shahihnya.

🔹-          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Maa Ja’a fi Su’ril Kalbi No. 91, katanya: hasan shahih

🔹-          Imam Abu Daud dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Al Wudhu bi Su’ril Kalbi, No. 71

🔹-          Imam An Nasa’i dalam Sunannya,Kitabul Kiyah Bab Su’ril Kalbi No.  64, jugaBab Ta’firil Inaa bit Turab min Wulughil Kalbi fiih, No. 338, 339

🔹-          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Wulughil Kalbi fil Inaa, 1/64

🔹-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shughra, Bab Ghuslil Ina min Wulughil Kalbi,  No.  176, liat juga No. 1102

🔹-          Dll

📚Status Hadits:

            Hadits ini shahih, dimasukkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya masing-masing.

📚Kandungan dan Faidah Hadits:

               Hadits ini memiliki banyak pelajaran, di antaranya:

📋1⃣ .Pada lafaz hadits di atas – riwayat Imam Muslim- menggunakan kata وَلَغَ  – walagha(menjilat), sementara pada riwayat Imam Bukhari menggunakan lafaz  شَرِبَ – syariba (minum). Apa perbedaannya?

Berkata Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim Rahimahullah:

وفرق بين (شرب، وولغ) فبعض العلماء يقول: الشرب لغير الكلاب والسباع، وهو أن يعب الماء عباً، والولوغ: هو أن يتناول الماء بطرف لسانه

📌             Perbedaan antara syariba dan walagha, sebagian ulama mengatakan: asy syurbu (minum) adalah untuk selain anjing dan selain hewan buas, dan meminum air dengan sekali teguk, sedangkan al wulugh artinya meminum air dengan ujung lidah.  (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh Bulugh Al Maram, 3/5)

            Jadi, anjing minum dengan cara menjulurkan ujung lidahnya ke air, maka itu tidak ubahnya seperti menjilat. Sehingga tidak ada pertentangan berarti antara walagha dan syariba, keduanya sama-sama minum, yang berbeda hanya cara minumnya.

              Syaikh ‘Athiyah Rahimahullah berkata:

فالولوغ: هو تناول الكلب بطرف لسانه للسائل الذي في الإناء، وهذه طبيعته، والشرب أعم

📌              Maka, Al Wulugh adalah cara minumnya anjing dengan ujung lidahnya untuk mengalir air yang ada pada air, dan ini adalah caranya yang natural, ada pun minum maknanya lebih umum.

              Lalu Beliau juga melanjutkan:

إذاً: ولغ وشرب ليس بينهما تعارض

📌              Jadi, walagha dan syariba di antara keduanya tidak ada pertentangan. (Ibid)

              Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan tentang walagha:

وَهُوَ الْمَعْرُوف فِي اللُّغَة ، يُقَال وَلَغَ يَلَغ – بِالْفَتْحِ فِيهِمَا – إِذَا شَرِبَ بِطَرَفِ لِسَانه ، أَوْ أَدْخَلَ لِسَانه فِيهِ فَحَرَّكَهُ ، وَقَالَ ثَعْلَب : هُوَ أَنْ يُدْخِل لِسَانه فِي الْمَاء وَغَيْره مِنْ كُلّ مَائِع فَيُحَرِّكهُ ، زَادَ اِبْن دُرُسْتَوَيْهِ : شَرِبَ أَوْ لَمْ يَشْرَب . وَقَالَ اِبْن مَكِّيّ : فَإِنْ كَانَ غَيْر مَائِع يُقَال لَعِقَهُ . وَقَالَ الْمُطَرِّزِيّ : فَإِنْ كَانَ فَارِغًا يُقَال لَحِسَهُ

  📌         Ini adalah istilah yang sudah terkenal secara bahasa, dikatakan: walagha – yalaghu,  dengan difathahkan pada keduanya, artinya minum dengan ujung lidahnya, atau dia memasukan lidahnya padanya lalu menggerak-gerakannya. Berkata Ats Tsa’lab: yaitu memasukan lidahnya ke dalam air dan selainnya dari semua benda cair, lalu dia menggerak-gerakannya.  Ibnu Durustawaih menambahkan: baik dia minum atau tidak minum.  Berkata Ibnu Makki: “Jika dia menjilatnya pada sesuatu yang cair (padat) itu disebut la’iqa.” Al Mutharrizi berkata: “Jika dia menjilatnya pada sesuatu yang kosong maka itu disebut lahisa.” (Fathul Bari, 1/274. 1379H. Darul Ma’rifah, Beirut)

📋2⃣ . Hadits ini menunjukkan najisnya liur anjing, dan ini menjadi pandangan jumhur (mayoritas) ulama. Bahkan sebagian ulama ada yang mengkategorikannya sebagai najis mughallazhah (najis berat)

            Hal ini sangat jelas, yakni ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sucinya bejana yang airnya telah diminum oleh anjing adalah dengan cara dicuci tujuh kali dan yang pertamanya dicampur dengan tanah, itu menunjukkan batas antara suci dan najis. Najisnya ketika anjing minum di dalamnya, dan sucinya ketika dibersihkan tadi.

           Namun, pada kenyataannya para imam kaum muslimin berbeda pendapat tentang kenajisan anjing. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar.

1⃣ Pertama, yang menyatakan bahwa seluruh tubuh Anjing adalah najis, luar maupun dalam. Inilah pandangan Imam Asy Syafi’i, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya.

2⃣ Kedua, yang menyatakan bahwa najisnya Anjing adalah hanya liurnya saja, anggota tubuh yang lain adalah suci. Inilah pandangan  jumhur (mayoritas) ulama, dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  Imam Asy Syaukani,  Syaikh Sayyid Sabiq dan lain-lain.

3⃣ Ketiga, yang menyatakan seluruhnya adalah suci termasuk air liurnya. Inilah pandangan Imam Malik, dan diikuti oleh  Syaikh Yusuf Al Qaradhawi.

Mari kita lihat alasan masing-masing kelompok.

🔶Kelompok pertama. Mereka berargumen dengan hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ

📌“Jika Seekor Anjing minum di bejana kalian, maka cucilah tujuh kali.”    (HR. Bukhari No. 172, Muslim No. 279, 90, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 288, Malik dalam Al Muwaththa’ No. 65, menurut Riwayat Yahya Al Laits. Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 536, Al Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal AatsarNo. 467)

Sementara dari jalur Abu Hurairah lainnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

📌“Sucinya bejana kalian jika seekor Anjing minum di dalamnya adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan yang  pertamanya dengan tanah.”   (HR. Muslim No. 279, 91 , Ahmad No. 9511, Ad Daruquthni, 1/64, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1840, 37395, Abu ‘Uwanah No. 540)

Hadits ini menunjukkan bahwa liur anjing adalah najis berat. Jika yang diminum adalah airnya, lalu kenapa yang diperintah untuk dicuci juga bejananya? Bukankah cukup dengan dibuang saja airnya? Padahal bejananya tidak dijilat, hanya airnya saja yang kena.  Perintah untuk mencuci sampai tujuh kali bejana menunjukkan kenajisannya, sebab jika memang suci, pastilah tidak akan ada perintah tersebut. Demikian alasan mereka.

Selain itu mereka juga mengqiyaskan bahwa najisnya liur, menunjukkan najisnya seluruh tubuh anjing. Lagi pula anjing punya kebiasaan menjilat-jilat tubuhnya, sehingga tubuhnya terbungkus oleh liurnya yang najis.

Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah ketika mengomentari hadits di atas:

وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي نَجَاسَةِ فَمِهِ ، وَأُلْحِقَ بِهِ سَائِرُ بَدَنِهِ قِيَاسًا عَلَيْهِ ، وَذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ إذَا ثَبَتَ نَجَاسَةُ لُعَابِهِ ، وَلُعَابُهُ جُزْءٌ مِنْ فَمِهِ ، إذْ هُوَ عِرْقُ فَمِهِ ، فَفَمُهُ نَجِسٌ ، إذْ الْعِرْقُ جُزْءٌ مُتَحَلِّبٌ مِنْ الْبَدَنِ ، فَكَذَلِكَ بَقِيَّةُ بَدَنِهِ

📌“Secara zhahir, mulutnya pun najis. Ketika dia menjilati seluruh badannya maka itu menjadi qiyas atasnya. Hal itu karena  sudah pasti najisnya liur anjing, dan liur merupakan bagian dari mulutnya. Ketika mulutnya berkeringat maka mulutnya juga najis. Jika keringat bagian yang keluar dari badan, maka demikian juga anggota badan lainnya (juga najis).”    (Subulus Salam, 1/22. Maktabah Mushthafa Al Baabiy Al Halabiy)

🔶Kelompok kedua. Inilah jumhur (mayoritas). Mereka mengakui bahwa liur anjing adalah najis, tetapi anggota tubuh lainnya adalah suci. Dalil kelompok ini berdasarkan hadits-hadits di atas juga, yang menunjukkan kenajisan anjing dikaitkan dengan air liurnya. Selain itu, sebagaimana tertera dalam Shahih Al Bukhari, pada masa lalu anjing lalu lalang di masjid nabi tetapi mereka tidak diusir dan tidak pula dibersihkan bekas tapak kaki mereka.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

الكلب: وهو نجس ويجب غسل ما ولغ فيه سبع مرات، أولاهن بالتراب

📌“Anjing, dia najis dan wajib mencuci apa-apa yang dijilatnya sebanyak tujuh kali dan yang pertamanya dengan tanah.” (lalu beliau menyebutkan hadits di atas) Tetapi beliau juga berkata:

أما شعر الكلب فالاظهر أنه طاهر، ولم تثبت نجاسته.

📌“Adapun bulu anjing, yang benar adalah suci tidak ada dalil yang kuat yang menyebutnya najis.”   (Fiqhus Sunnah, 1/29. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menguatkan pendapat ini, katanya:

أَمَّا الْكَلْبُ فَلِلْعُلَمَاءِ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ مَعْرُوفَةٍ : أَحَدُهَا : أَنَّهُ نَجِسٌ كُلُّهُ حَتَّى شَعْرُهُ كَقَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ . وَالثَّانِي : أَنَّهُ طَاهِرٌ حَتَّى رِيقُهُ كَقَوْلِ مَالِكٍ فِي الْمَشْهُورِ عَنْهُ . وَالثَّالِثُ : أَنَّ رِيقَهُ نَجِسٌ وَأَنَّ شَعْرَهُ طَاهِرٌ وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ الْمَشْهُورُ عَنْهُ وَهَذِهِ هِيَ الرِّوَايَةُ الْمَنْصُورَةُ عِنْدَ أَكْثَرِ أَصْحَابِهِ وَهُوَ الرِّوَايَةُ الْأُخْرَى عَنْ أَحْمَد وَهَذَا أَرْجَحُ الْأَقْوَالِ .

📌“Adapun anjing, para ulama kita terbagi atas tiga pendapat: Pertama. Bahwa anjing najis seluruhnya termasuk bulunya, inilah pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya. Kedua. Bahwa anjing adalah suci termasuk liurnya inilah pendapat yang masyhur (terkenal) dari Malik. Ketiga. Bahwa liurnya adalah najis, dan bulunya adalah suci, inilah madzhab yang masyhur dari Abu Hanifah, dan inilah riwayat yang didukung oleh mayoritas pengikutnya, dan inilah riwayat lain dari Ahmad. Inilah pendapat yang lebih kuat.” (Majmu’ Fatawa, 21/616. Cet. 3, 2005M-1426H. Darul Wafa’)

Beliau juga berkata:

فَأَحَادِيثُهُ كُلُّهَا لَيْسَ فِيهَا إلَّا ذِكْرُ الْوُلُوغِ لَمْ يَذْكُرْ سَائِرَ الْأَجْزَاءِ فَتَنْجِيسُهَا إنَّمَا هُوَ بِالْقِيَاسِ

📌Semua hadits-haditsnya, hanya menunjukkan Al Wulugh (menjilat, meminum), tidak menunjukkan seluruh bagian tubuh. Maka pengharamannya hanyalah qiyas saja.(Ibid,  21/617)

Beliau menjelaskan pendapat Imam Ahmad bin Hambal dalam masalah bulu anjing. Bahwa ada dua riwayat dari Imam Ahmad Rahimahullah, demikian katanya:

إحْدَاهُمَا : أَنَّهُ طَاهِرٌ وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ كَأَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ . وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ : أَنَّهُ نَجِسٌ كَمَا هُوَ اخْتِيَارُ كَثِيرٍ مِنْ مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِ أَحْمَد وَالْقَوْلُ بِطَهَارَةِ ذَلِكَ هُوَ الصَّوَابُ .

📌“Riwayat pertama, bahwa itu adalah suci, dan ini adalah madzhab jumhur seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan Malik.  Riwayat kedua, bahwa itu adalah najis, sebagaimana yang dipilih oleh kebanyakan para pengikut Imam Ahmad. Namun, yang menyatakan kesuciannya, maka itulah yang benar.” (Ibid,21/619)

 Bahkan beliau juga menyatakan lebih jauh lagi bahwa bulu babi juga suci.

وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ طَهَارَةُ الشُّعُورِ كُلِّهَا : شَعْرُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَغَيْرُهُمَا بِخِلَافِ الرِّيقِ وَعَلَى هَذَا فَإِذَا كَانَ شَعْرُ الْكَلْبِ رَطْبًا وَأَصَابَ ثَوْبَ الْإِنْسَانِ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ : كَأَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ : وَذَلِكَ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَعْيَانِ الطَّهَارَةُ فَلَا يَجُوزُ تَنْجِيسُ شَيْءٍ وَلَا تَحْرِيمُهُ إلَّا بِدَلِيلِ .

📌“Dan pendapat yang kuat adalah sucinya bulu seluruh hewan: bulu anjing, babi, dan selain keduanya. Sedangkan liur terjadi perbedaan pendapat. Oleh karena itu jika bulu anjing basah dan mengenai pakaian manusia maka tidak mengapa, sebagaiama itu menjadi madzhab jumhur fuqaha: seperti Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat darinya. Hal itu karena asal dari berbagai benda adalah suci, maka tidak boleh menajiskan sesuatu dan mengharamkan kecuali dengan dalil.”    (Ibid, 21/617)

🔶Kelompok ketiga. Kalangan yang mengatakan bahwa semua tubuh anjing adalah suci termasuk liurnya. Inilah pandangan Imam Malik, Imam Daud Azh Zhahiri, dan Imam Az Zuhri. Mereka  beralasan:

إنَّ الْأَمْرَ بِالْغَسْلِ لِلتَّعَبُّدِ لَا لِلنَّجَاسَةِ

📌                “Sesungguhnya perintah untuk mencucinya itu bermakna ta’abbud(peribadatan), bukan berarti najis.” (Subulus Salam, 1/22)

                Alasan lain dalam Al Muntaqa Syarh Al Muwatha’ , Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahullah menyebutkan:

وَالدَّلِيلُ عَلَى مَا نَقُولُهُ أَنَّ هَذَا حَيَوَانٌ يَجُوزُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ فَكَانَ طَاهِرًا كَالْأَنْعَامِ

📌                “Dalilnya adalah apa-apa yang telah kami sebutkan, bahwa hewan ini boleh dimanfaatkan tanpa alasan terdesak, maka ia termasuk suci sebagaimana hewan ternak.”(Imam Sulaiman bin Khalaf Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwatha’, 1/67)

                Dalil lainnya adalah ayat Al Quran yang membolehkan makanan hasil buruan tanpa memerintahkan mencucinya:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (4)

 📌               “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al Maidah (5): 4)

                Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawy Hafizhahullah mengatakan: “Sedangkan saya sendiri cenderung pada pendapat Imam Malik bahwa semua yang hidup adalah suci. Oleh sebab itulah, dibolehkan bagi kita memakan hasil buruannya. Dan perintah Nabi untuk mencuci apa yang dijilat anjing adalah sesuatu yang ta’abbudi.” (Syaikh Yusuf Al Qarahawy,Fikih Thaharah, Hal. 22. Cet. 1, 2004M. Pustaka Al Kautsar)

                Yang dimaksud ta’abbudi  oleh Imam Malik di sini adalah bahwa perintah tersebut bernilai ibadah yang tanpa harus tahu sebab dan hikmahnya, melainkan terima jadi saja, karena ini masalah peribadatan.

                Berkata Al Ustadz Asy Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah :

و الأصل في العبادات التعبد دون الالتفات إلى المعاني , وفي العاديات الالتفات إلى الأسرار و الحكم و المقاصد

📌                Dasar dari peribadatan adalah ketundukan (ta’abbud) bukan mencari-cari kepada makna-maknanya, sedangkan dasar dari kebiasaan (adat) adalah mengkaji rahasia, hikmah, dan maksud-maksudnya. (Lihat Ushul ‘Isyrin No. 5)

                Demikianlah pembahasan khilafiyah para imam tentang status kenajisan anjing.

📋3⃣ . Apakah ini berlaku untuk semua anjing atau tertentu saja?

🔹Bersambung🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bisakah Anak Mengumrohkan Orang Tua yang Sudah Meninggal?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Assalamu’alaikum ustadz/ah…mau tanya ttg umroh ,apa bisa anak mengumrohkan orang tua yg meninggal?
🅰2⃣1⃣

🌴🌿Jawaban🌴🌿

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Sebagian ulama mengatakan umrah adalah haji juga yaitu haji kecil, seperti yang dikatakan ‘Atha, Asy Sya’biy, Mujahid, Abdullah bin Syadaad, dan Az Zuhri. (Tafsir Ath Thabari, 14/129-130)

Sehingga masalah badal umrah ini sama halnya dengan badal haji, karena kemiripannya.

Secara khusus, ada hadits yang memang menyebutkan badal umrah:
Dari Abu Razin Al ‘Uqailiy, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya:

يا رسول الله إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و لا العمرة و لا الظعن : قال ( حج عن أبيك واعتمر )

Wahai Rasulullah, ayahku sudah sangat tua, tidak mampu haji, umrah, dan perjalanan.
Beliau bersabda:
      “Haji dan umrahlah    untuk.”
(HR. Ibnu Majah No. 2906, At Tirmidzi No. 930, An Nasa’i No.  2637, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 8895, dll. Imam At Tirmidzi mengatakan:  hasan shahih. Dishahihkan pula oleh Imam Al Hakim, dalam Al Mustadrak, 1/481, dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dll)

Namun pembolehannya ini terikat syarat, yaitu:

1. Yang dibadalkan memang sudah wafat, atau fisik tidak memungkinkan, bukan karena menghindari antrean haji.

2. Yang membadalkan sudah haji atau umrah juga, inilah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرط الحج عن الغير يشترط فيمن يحج عن غيره، أن يكون قد سبق له الحج عن نفسه.

“Disyaratkan bagi orang yang menghajikan orang lain, bahwa dia harus sudah haji untuk dirinya dulu.” (Ibid, 1/638)

Hal ini berdasarkan pada hadits berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika dari Syubrumah.” Rasulullah bertanya: :”Siapa Syubrumah?” laki-laki itu menjawab: “Dia adalah saudara bagiku, atau teman dekat saya.” Nabi bersabda: “Engkau sudah berhaji?” Laki-laki itu menjawab: “Belum.”  Nabi bersabda: “Berhajilah untuk dirimu dahulu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.”  (HR. Abu Daud No. 1813, Imam Al Baihaqi mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Al Muharar fil Hadits, No. 665)

Hadits ini menjadi pegangan mayoritas ulama, bahwa orang yang ingin mewakilkan haji orang lain, di harus sudah berhaji untuk dirinya dahulu.

Berkata Imam Abu Thayyib Rahimahullah:

وَظَاهِر الْحَدِيث أَنَّهُ لَا يَجُوز لِمَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه أَنْ يَحُجّ عَنْ غَيْره وَسَوَاء كَانَ مُسْتَطِيعًا أَوْ غَيْر مُسْتَطِيع لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَفْصِل هَذَا الرَّجُل الَّذِي سَمِعَهُ يُلَبِّي عَنْ شُبْرُمَةَ ، وَهُوَ يَنْزِل مَنْزِلَة الْعُمُوم ، وَإِلَى ذَلِكَ ذَهَبَ الشَّافِعِيّ . وَقَالَ الثَّوْرِيّ : إِنَّهُ يُجْزِئُ حَجّ مَنْ لَمْ يَحُجّ عَنْ نَفْسه مَا لَمْ يَتَضَيَّقْ عَلَيْهِ .

Menurut zhahir hadits ini, tidak dibolehkan orang yang belum menunaikan haji untuk diri sendiri menghajikan untuk orang lain. Sama saja, apakah orang tersebut mampu atau tidak mampu, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak merinci keadaan laki-laki yang telah beliau dengar menjawab panggilan dari Syubrumah, sehingga hal itu menunjukkan keadaan yang umum, Inilah madzhab Asy Syafi’i. Sementara Ats Tsauri berkata: “Bahwa boleh saj orang yang belum haji, dia menghajikan orang lain selama tidak menyulitkannya.”  (‘Aun Ma’bud, 5/174
Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Pahala…

Membaca Surat Pendek Tidak Sampai Akhir Dalam Shalat

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. DR. H. Saiful Bahri M.A

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dari korma 02

Pertanyaan :

🌻Assalamualaikum Ustadz…saya mau nanya ttg membaca surat pendek dlm sholat misalnya surat ‘basa tdk sampai selesai?

🅰0⃣8⃣

_ Jawaban :
Waalaikumusalam.wr.wb.
Tidak ada
keharusan membaca surat sampai selesai di dalam shalat. Kalau untuk surah2 pendek seperti adh-dhuha sebaiknya sampai selesai.
Surah al-Baqarah dan surah2 panjang lainnya bisa dipakai dalam banyak rakaat. Demikian halnya surah Abasa.
Wallahu a’lam.

🍃🌺🍃🌻🍃🌸🍃🌼🍃

Dipersemabahkan Oleh :
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan ! Raih pahala..

Haramkah Demokrasi?

👳🏽Ustadz Menjawab
✒Ust. Farid Nu’man Hasan
==========================
🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺

Assalaam’alaikum wrwb.
Afwan di group sebelah ada yg posting tulisan/artikel dibawah ini 👇
Pertanyaan saya, bagaimana pandangan ustadz/ustadzah Manis tentang hal tersebut, sebab notabene saat ini banyak organisasi islam yg berjuang menegakkan khilafah dengan sarana Demokrasi.

Berikut artikelnya 👇👇👇:

“Salut sama Ketua Umum MUI KH. Achef Noor Mubarak..
pikirannya jauh ke depan , bukan hanya mikirin halal haramnya suatu produk (madaniyah) tapi juga mikirin haram atau halalnya sebuah ideologi peradaban (Hadlarah) 🙂 ^___^

Ketum MUI Tasikmalaya: Allah Melaknat Penegak Demokrasi.

Dalam bincang-bincangnya di aplikasi whatsapp grup MUI Tasikmalaya beberapa hari yang lalu, K.H. Achef Noor Mubarak (Ketua umum MUI Kota Tasikmalaya) menyampaikan haramnya demokrasi kepada anggota grup lain dalam dialog berbahasa arab.

Dalam dialog tersebut tampak K.H. Irvan Hilmi (Ponpes Bahrul Ulum Kota Awipari) bertanya tentang bagaimana sikap kita terhadap sistem politik dewasa ini.
Berikut kutipan dialog tersebut:

K.H. Achef (ketum MUI Kota Tasikmalaya) :
 لعنه الله لمن طبق الديمقراطية ومن تبعه بعد ظهور الشريعة الاسلامية لانها تهاجم الشريعة وتظلم المسلمين وتخادع التاس عامة وتظهر الفساد فى البر والبحر وتورث الفقر فى الدنيا والخلود فى النار وتدعو عذاب الله

Allah melaknat siapapun yang menerapkan demokrasi juga mereka yang mengikutinya setelah datang syari’at Islam, karena demokrasi menyerang syari’ah dan pola hidup umat Islam, menipu manusia secara umum dan menimbulkan kerusakan di daratan dan di lautan, juga mewariskan kefaqiran di dunia dan keabadian di neraka serta menantang adzab Allah.

K.H. Irvan Hilmi (Ponpes Bahrul Ulum Awipari) :
 وماذا نفعل ؟ هل الابتعاد عن السياسة هو الحل ؟ اذا كانت السياسية هي السبيل الوحيد للوصول الى السيادة ماذا بوسعنا ان نتخذ غير السياسة الراهنة بديلا ؟

Lalu apa yang kita lakukan? Apakah harus menjauhi politik? Jika politik adalah jalan satu-satunya menuju kedaulatan, apakah kita bisa mengambil politik selain politik seperti sekarang ini?

K.H. Achef :
 السياسة ليست بالديموقراطية وحدها اذن الى اي ماذا نحن المسلمون نسعي بالوقار وفي الجنة قرار ما دمنا نبثعد عن الشريعة الاسلامية الكافة

Politik itu bukan satu-satunya dengan demokrasi. Jadi,kita ummat Islam akan berjalan dengan berwibawa dan dimasukkan ke dalam jannah selama kita tidak berpaling dari (perjuangan menerapkan) syari’at Islam secara kaaffah.

Demikian, mohon penjelasan ustadz/ustadzah.
Jazakumullaahu khairan. – A13-

==============================
🌷 Jawaban

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Itu adalah pendapat seseorang yang bisa diterima atau bisa ditolak. Semua tergantung sudut pandang terhadap demokrasi.

📌 Tidak ada yang mengingkari bahwa Demokrasi berasal dari luar Islam.

📌 Dahulu maknanya adalah pemerintahan rakyat (demos-kratos), di mana kedaulatan tertinggi di tangan rakyat. Jika seperti ini maka bertentangan dengan Islam, sebab kedaulatan tertinggi di tangan Allah Ta’ala.

📌Saat ini, kata Syaikh Taufiq Yusuf Al Wa’iy, makna demokrasi telah menjadi lebih dari 300 makna. Masing-masing negara, masing-masing pemikir memiliki definisinya sendiri.

📌Indonesia pun demokrasinya macam-macam, dengan makna yang juga tidak sama; demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dan demokrasi pancasila.

📌Oleh karena itu, ketika definisi tidak ada yang baku dan disepakati, maka tidak bisa digebyah uyah keharamannya. Ketika sebuah air di gelas, tidak diketahui khamrkah, atau sirup, teh, .., maka tidak bisa langsung dihukumi haram. Definisi adalah pokok, sedangkan hukum darinya merupakan cabangnya. Cabang tidak akan muncul jika pokoknya belum ada. Oleh karena itu bara’atul ashliyah, kembali ke hukum awal.

📌 Jika demokrasi dilarang karena berasal dari negeri kafir, maka dia hanya sebuah alat perjuangan, bukan idiologi hidup, itu saja jangan sampai dilebihkan.

📌 Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menggunakan khandaq ketika perang Ahzab  yang merupakan peradaban Persia yang Majusi. Nabi pun pernah menggunakan stempel dalam surat da’wahnya ke raja-raja kafir, karena mengikuti mereka saat itu.

📌 Pembagian MADANIYAH dan HADHARAH adalah pembagian muhdats (baru), tidak ditemui dalam kitab-kitab para ulama. Jika dikatakan itu adalah ijtihad, maka yang lain pun juga berijtihad.

📌 Ulama bukan hanya Kiayi yang melaknat Demokrasi itu, dan itu tidak mewakili MUI mana pun kecuali dirinya sendiri dan yang semisal.  Justru MUI mengharamkan golput. Maka, ini merupakan menyempal dari MUI secara umum.

📌Ulama bukan hanya yang mengharamkan demokrasi,  ulama yang membolehkan memanfaatkan demokrasi pun juga banyak. Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Ahmad Raisuni, Syaikh Abdul Karim Zaidan, Syaikh Abdul Majid Az Zindani, Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Ahmad Thayyib, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Salim Bahsanawi, Syaikh Khalid Muhammad Khalid,  dan lainnya, belum lagi para ulama sejak masa MASYUMI sampai saat ini. Tentunya mereka bukan orang bodoh, mereka adalah guru para ulama, dan apakah kesesatan ini luput begitu saja dari mereka?

📌Suara terbanyak tidak selalu salah dalam Islam. Oleh karena itu, ada istilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

📌Penentuan lokasi ghazwah Uhud, juga diputuskan suara terbanyak para pemuda saat itu

📌Penyikapan terhadap tawanan Badar, juga mengikuti suara terbanyak yaitu pendapat Abu  Bakar, walau Allah Ta’ala membenarkan pendapat Umar.

📌 Ini menunjukkan bahwa, suara terbanyak bisa salah.  Ini juga menunjukkan bahwa sebagai sebuah mekanisme, suara terbanyak pernah ada pada masa awal Islam dan itu tidak terlarang

📌Jika Anda katakan, jangan samakan suara terbanyak para sahabat nabi dengan manusia saat  ini, maka jawabnya: manusianya memang tidak sama, dan tabiin pun tidak sama dengan mereka, bahkan sampai kapan pun tidak akan sama,  tapi mekanismenya yang sama. Itulah yang dibahas, bukan sedang membahas orangnya.

📌Menang kalah ditentukan oleh suara terbanyak, bukan kebenaran, salah pun bisa menang jika dianut banyak orang. Itulah keluhan kita. Maka, yang kita lakukan adalah menshalihkan suara terbanyak itu. Da’wah mesti jalan terus agar suara mayoritas adalah suara orang-orang baik. Sehingga kalah atau menang, maka yang menang shalih dan yang kalah juga shalih.

📌 Islam membenci pemimpin diktator, banyak hadits yang mengancamnya, bahkan pemimpin yg  dibenci oleh kaumnya shalatnya tidak diterima. Demokrasi juga menolak otoritarianisme kepemimpinan.

📌Tapi, kita akui tidak sama antara Islam dengan Demokrasi yang di kenal Barat.

📌Barat itu demokrasi dengan kebebasan sebebas-bebasnya, Islam mengakui kebebasan tapi terikat syariat.

📌Barat itu demokrasi yang duniawi saja, Islam memandang semua perilaku manusia ada tanggungjawab akhirat, sehingga tidak ada menghalalkan segala cara.

📌 Jika disederhanakan, bahwa demokrasi adalah mekanisme memilih pemimpin atau majelis niyabah (perwakilan), maka banyak ulama hari ini yang membolehkannya.

📌 Fatwa-fatwa Ulama Tentang Pemilu

1. Asy Syaikh Dr. Abdullah Al-Faqih Hafizhahullah.
Beliau ditanya tentang hukum mencalonkan diri dalam parlemen untuk maslahat kaum muslimin, dan hukum memilih partai sekuler, Beliau menjawab:

فإنه لا يجوز التعاون مع الأحزاب العلمانية والشيوعية، لما تعتقده من أفكار إلحادية، فإن الترجمة الصحيحة للعلمانية هي: اللادينية أو الدنيوية، ومدلول العلمانية المتفق عليه يعني عزل الدين عن الدولة وحياة المجتمع، كما أن معنى الشيوعية يقوم على أساس تقديس المادة، وأنها أساس كل شيء، كما أنه مذهب فكري يقوم على الإلحاد، وعدم الاعتراف برب الأرض والسماوات، أما عن دخول المجالس النيابية عن طريق الانتخابات وغيرها، فالأصل أن نفع المسلمين بأي وسيلة لا تؤدي إلى الإثم أمر مشروع في الجملة، فمن كانت نيته بالترشيح لهذه المجالس خدمة المسلمين وتحصيل حقوقهم، فلا نرى مانعاً من ذلك، وقد بينا ذلك بإذن الله في الفتوى رقم:

Tidak boleh bekerjasama dengan partai-partai sekuler dan komunis, karena dasar pemikiran mereka adalah anti Tuhan. Penjelasan yang benar tentang sekulerisme adalah anti agama, dan yang disepakati tentang sekulerisme adalah menghapuskan agama dari negara dan kehidupan masyarakat. Sebagaimana makna komunisme yang merupakan pemikiran yang didasari sikap pemujaan kepada materi, dan materialisme merupakan pondasi semuanya, sama halnya dengan pemikiran yang ditegakkan oleh atheis, yang menghilangkan sama sekali pengakuan atas adanya Tuhannya bumi dan langit.

Ada pun masuk ke dalam majelis perwakilan (parlemen) melalui jalan pemilu dan selainnya, maka pada dasarnya melahirkan manfaat bagi kaum muslimin dengan cara apa saja yang tidak membawa pada dosa, itu merupakan cara yang diperintahkan syariat secara umum. Maka, siapa saja yang niat pencalonannya adalah untuk melayani kaum muslimin dan mengambil hak-hak mereka, maka kami memandang hal itu tidak terlarang. Kami telah jelaskan hal ini, dengan izin Allah, dalam fatwa No. 5141. (Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyah,1/565)

Beliau juga menasihati agar tidak sembarang memakai fatwa ulama sebuah negara untuk keadaan di negara lain, khususnya tentang larangan ikut serta dalam pemilu, karena masing-masing negara punya keadaan yang tidak sama. Maka, adalah hal aneh memaksakan pendapat ulama yang mengharamkan pemilu di negerinya, untuk diberlakukan disemua negara muslim. Dalam masalah ini dibutuhkan pemahaman tahqiqul manath, kecerdasan berfiqih, bukan asal comot fatwa ulama, sebagaimana yang dilakukan banyak para pemuda yang semangat beragama, tapi mereka laksana Ar-Ruwaibidhah
zaman ini. Ar-Ruwaibidhah adalah orang bodoh tapi sok membicarakan urusan orang banyak.

Asy Syaikh mengatakan:

لأن مبنى الأمر عندئذ على فقه المصالح والمفاسد، وأهل العلم من كل بلد هم أقدر الناس على تقدير هذه الأمور، فإنهم أدرى بملابسات بلادهم وأحوالها

Dikarenakan masalah ini dibangun atas dasar pemahaman maslahat dan mafsadat (kerusakan), dan setiap ulama di masing-masing negara adalah pihak yang paling tahu tentang ukuran hal-hal tersebut (maslahat dan mafsadat), dan mereka juga mengetahui keadaan negerinya dan hal-hal seputarnya. (Ibid, 7/4)

2. Asy Syaikh Dr. Ahmad bin Muhammad Al-Khudhairi (Ulama Saudi, Anggota Hai’ah At Tadris di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh.
Beliau ditanya tentang kaum muslimin yang tinggal di Barat, bolehkah ikut pemilu di sana yang nota bene calon-calonnya adalah kafir.

المسلمون الذين يعيشون في بلاد غير إسلامية يجوز لهم على الصحيح المشاركة في
انتخاب رئيس للبلاد أو انتخاب أعضاء المجالس النيابية إذا كان ذلك سيحقق مصلحة للمسلمين أو يدفع عنهم مفسدة، ويحتج لذلك بقواعد الشريعة العامة التي جاءت بتحقيق
المصالح ودرء المفاسد، واختيار أهون الشرين، وعلى المسلمين هناك أن يقوموا بتنظيم
أنفسهم وتوحيد كلمتهم لكي يكون لهم تأثير واضح وحضور فاعل يؤخذ في الحسبان عند
اتخاذ القرارات الهامة التي تخص المسلمين في تلك البلاد أو غيرها.

Kaum muslimin yang tinggal di negeri non-muslim, menurut pendapat yg benar adalah boleh berpartisipasi dalam pemilihan presiden di berbagai negara, atau memilih anggota majelis perwakilan jika hal itu dapat menghasilkan maslahat bagi kaum muslimin atau mencegah kerusakan bagi mereka. Dan, hujjah dalam hal ini adalah adanya berbagai kaidah syariat umum yang memang mendatangkan berbagai maslahat dan mencegah berbagai kerusakan, dan memilih yang lebih ringan di antara dua keburukan, dan mestilah bagi kaum muslimin di sana mengatur diri mereka, menyatukan kalimat mereka, agar mereka memperoleh pengaruh yang jelas. Kehadiran mereka bisa memberikan kontribusi atas berbagai keputusan-keputusan penting khususnya bagi kaum muslimin di negeri itu dan lainnya. (Fatawa Istisyarat Al-Islam Al-Yaum, 4/506)

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah.
Beliau ditanya tentang pemilu di Kuwait, yang diikuti oleh para aktifis Islam, Beliau menjawab:

أنا أرى أن الانتخابات واجبة, يجب أن نعين من نرى أن فيه خيراً, لأنه إذا تقاعس أهل الخير من يحل محلهم؟ أهل الشر, أو الناس السلبيون الذين ليس عندهم لا خير ولا شر, أتباع كل ناعق, فلابد أن نختار من نراه صالحاً
فإذا قال قائل: اخترنا واحداً لكن أغلب المجلس على خلاف ذلك, نقول: لا بأس, هذا الواحد إذا جعل الله فيه بركة وألقى كلمة الحق في هذا المجلس سيكون لها تأثير

Saya berpendapat, bahwa mengikuti pemilu adalah wajib, wajib bagi kita memberikan pertolongan kepada orang yang kita nilai memiliki kebaikan, sebab jika orang-orang baik tidak ikut serta, maka siapa yang menggantikan posisi mereka? Orang-orang buruk, atau orang-orang yang tidak jelas keadaannya, orang baik bukan, orang jahat juga bukan, yang asal ikut saja semua ajakan. Maka, seharusnya kita memilih orang-orang yang kita pandang adanya kebaikan. Jika ada yang berkata: “Kita memilih satu orang tetapi kebanyakan seisi majelis adalah orang yang menyelesihinya.” Kami katakan: “Tidak apa-apa, satu orang ini jika Allah jadikan pada dirinya keberkahan, dan dia bisa menyatakan kebenaran di majelis tersebut, maka itu akan memiliki dampak baginya.” (Liqa Bab Al-Maftuuh kaset No. 211)

4. Syaikh Abdul Muhsin Al-Ubaikan Hafizhahullah.
Beliau ditanya tentu ikut memberikan suara dalam pemilu sebagai berikut:

السؤال : السلام عليكم و رحمة الله و بركاته كيف حالك ياشيخ يا شيخ عندي سؤال وهو فيما يتعلق بالإنتخابات هل ننتخب أو لا وأرجو ان توضحو لي مرفوقين بالدليل أفتوني مأجورين إن شاء الله وارجو أن يكون في اقرب وقت لأنها لا تبقى عليها إلا 7 أيام فقط والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الإجابة:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته. الدخول في الانتخابات مطلوب حتى لا يأتي أهل الشر فيستغلون هذه المناصب لبث شرورهم وهذا ما يفتي به سماحة الشيخ ابن باز والعلامة الشيخ ابن عثيمين رحمهم الله

Pertanyaan: Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. Apa kabar Syaikh, Ya Syaikh saya ada pertanyaan terkait pemilu, apakah kita mesti ikut pemilu? Saya harap Anda menjelaskan  dengan dalil-dalil, semoga Allah Ta’ala memberikan pahala-Nya. Was Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Jawaban:
Wa ‘AlaikumSalam wr wb.
Berpartisipasi dalam pemilu adalah suatu hal yang dituntut untuk dilakukan supaya orang yang jahat tidak bisa menjadi anggota dewan untuk menyebarluaskan kejahatan mereka. Inilah yang difatwakan oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin”. (Sumber:http://al-obeikan.com/show_fatwa/619.html)

5. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah.
Al Lajnah Ad-Daimah
adalah lembaga fatwa kerajaan Arab Saudi, fatwa ini dikeluarkan ketika masih diketuai oleh Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Rahimahullah. Mereka ditanya tentang hukum ikut pemilu di sebuah negeri yang negaranya tidak memakai hukum Allah Ta’ala. Mereka menjawab:

لا يجوز للمسلم أن يرشح نفسه رجاء أن ينتظم في سلك حكومة تحكم بغير ما أنزل الله، وتعمل بغير شريعة الإسلام، فلا يجوز لمسلم أن ينتخبه أو غيره ممن يعملون في هذه الحكومة، إلا إذا كان من رشح نفسه من المسلمين ومن ينتخبون يرجون بالدخول في ذلك أن يصلوا بذلك إلى تحويل الحكم إلى العمل بشريعة الإسلام، واتخذوا ذلك وسيلة إلى التغلب على نظام الحكم، على ألا يعمل من رشح نفسه بعد تمام الدخول إلا في مناصب لا تتنافى مع الشريعة الإسلامية.

Tidak boleh bagi seorang muslim mencalonkan dirinya, dengan itu dia ikut dalam sistem pemerintahan yang tidak menggunakan hukum Allah, dan menjalankan bukan syariat Islam. Maka tidak boleh bagi seorang muslim memilihnya atau selainnya yang bekerja untuk pemerintahan seperti ini, KECUALI jika orang yang mencalonkan diri itu berasal dari kaum muslimin dan para pemilih mengharapkan masuknya dia ke dalamnya sebagai upaya memperbaiki agar dapat berubah menjadi pemerintah yang berhukum dengan syariat Islam, dan mereka menjadikan hal itu sebagai cara untuk mendominasi sistem pemerintahan tersebut. Hanya saja orang yang mencalonkan diri tersebut, setelah dia terpilih tidaklah menerima jabatan kecuali yang sesuai saja dengan syariat Islam. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 4029, ditanda tangani oleh Syaikh bin Baaz, Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Syaikh Abdullah Ghudyan, Syaikh Abdullah bin Qu’ud)

6. Fatwa Al-Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami, dalam pertemuan ke 19 Rabithah ‘Alam Islami, di Mekkah Pada 22-17 Syawwal 1428H (3-8 November 2007M).
Mereka menelurkan fatwa bahwa hukum pemilu tergantung keadaan di sebuah Negara, di antaranya:

 مشاركة المسلم في الانتخابات مع غير المسلمين في البلاد غير الإسلامية من مسائل السياسة الشرعية التي يتقرر الحكم فيها في ضوء الموازنة بين المصالح والمفاسد، والفتوى فيها تختلف باختلاف الأزمنة والأمكنة والأحوال.

Partisipasi seorang muslim dalam pemilu bersama non-muslim di negeri non-muslim, termasuk  permasalahan As-Siyasah Asy Syar’iyah yang ketetapan hukumnya didasarkan sudut pandang pertimbangan antara maslahat dan kerusakan, dan fatwa tentang masalah ini berbeda-beda sesuai perbedaan zaman, tempat, dan situasi. (selesai kutipan)

Jadi, tidak benar memutlakan keharamannya, sebagaimana tidak benar memutlakan kebolehannya, semuanya disesuaikan dengan situasi yang berbeda-beda. Di negeri Indonesia, inilah cara yang paling mungkin berpartisipasi bagi seorang muslim untuk memperbaiki keadaan pemerintahan negaranya. Di tambah lagi, negeri ini masih negeri muslim, bukan negeri kafir walau sistem dan hukum yang berlaku belum Islami.

Dan, masih banyak lagi fatwa para ulama yang membolehkan pemilu dan semisalnya.

Hendaknya seorang muslim menahan lisannya dari memaki-maki kepada yang berbeda dengan mereka.
Demikian. Wallahu A’lam

🍀🌸🌼🍄🍀🌸🌼🍄🍀

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih Pahala..

QS. Al-Mudatsir (Bag. 3)

📆 Senin, 4 Rajab 1437H / 11 April 2016
📚 Tadabbur Al-Qur’an

📝 Dr. Saiful Bahri, M.A

📋 QS. Al-Mudatsir (Bag. 3)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Golongan Kanan

Jika orang-orang kafir di atas harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, maka Allah akan memberi keleluasaan bagi orang-orang yang mengimani dakwah Rasulullah saw.

📌“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan”. (QS.74: 38-39)

Bahkan mereka bisa menanyakan kondisi orang-orang yang diadzab Allah. Hal demikian akan semakin membuat mereka bersyukur. Betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Simaklah saat mereka bertanya kepada para penghuni neraka Saqar,

📌“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian”. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (QS. 74: 42-48)

Hal diatas bisa kita ambil pelajaran. Bahwa para penghuni Saqar tersebut setidaknya memiliki empat kesalahan fatal.

1⃣ Pertama, tidak mengerjakan shalat. Merupakan simbol keenganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol kengkuhan. Simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

2⃣ Kedua, tidak menunaikan zakat dan tidak menyayangi fakir miskin. Ini merupakan simbol kejahatan sosial. Menjadi sebuah akumulasi keburukan, setelah tak mampu menundukan kepala kepada Allah karena memusuhi fakir miskin dan kaum lemah berarti memusuhi Allah, Sang Pengasih yang sangat menyayangi mereka.

3⃣ Ketiga, selalu membicarakan dan menggunjingkan kebatilan. Jika membicarakan sebuah kebatilan saja sudah dicela, apalagi kebatilan itu kemudian dipergunjingkan, disebarluaskan, dibisniskan. Maka merugi dan celakalah mereka yang mengambil keuntungan dibalik pergunjingan kebatilan ini.

4⃣ Keempat, mengingkari adanya hari pembalasan. Jika hari pembalasan diingkari, maka orang-orang dzalim itu semakin menjadi – jadi. Tak ada lagi yang mereka takuti. Jika sangkaan mereka dibenarkan, maka berapa banyak orang-orang terdzhalimi dan tertindas tak terlindungi. Lantas siapa yang akan membalas mereka. Kaum tertindas yang dijanjikan kemenangan dan pertolongan. Jika tak di dunia mereka sangat mengharapkannya di akhirat. Sementara orang-orang dzhalim itu ditanguhkan oleh Allah sampai datangnya hari pembalasan.

Di samping itu ini menjadi dalil dan bukti bahwa ada dialog dan perbincangan yang terjadi pada penghuni surga dan neraka. Jika di surat ini penghuni surga menanyai penghuni neraka. Maka dalam surat lain para penghuni neraka meminta belas kasihan para penghuni surga yang sarat dengan berbagai kenikmatan.

📌“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesunguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim” [8].

📚 Keterlambatan

Sangat aneh. Peringatan yang demikian jelas seperti diatas justru di dustakan.

📌“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)”. (QS.74: 49).

Padahal jika mereka mau mengunakan akalnya mereka takakan melakukan kebodohan itu. karena hal tersebut hanya akan mendatangkan penyesalan kelak.

Kita telaah sejenak penggambaran Allah tentang kedunguan mereka,

📌“Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari dari pada singa”. (QS.74: 50-51).
 Bukankah keledai adalah perumpamaan yang menghinakan. Binatang yang dungu, namun itu lebih baik karena ia tak memiliki akal untuk berpikir. Sementara orang-orang kafir itu diberi akal oleh Allah, tapi mereka tak mau menggunakannya. Jadi mereka lebih buruk dari keledai.

Peringatan yang diberikan Allah seharusnya mereka terima dengan lapang dada dan terbuka. Karena peringatan itu membuat dan menstimulus mereka untuk memperbaiki kualitas hidup dengan penghambaan yang benar kepada Allah. Tapi justru mereka lari menghindar, seperti menghindarnya keledai dari kejaran singa. Jika keledai tak mampu dari kejaran singa. Sanggupkah mereka lari dari takdir Allah, menghindari keputusan dan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Atau dapatkah mereka bersembunyi dari siksaan Allah yang telah menunggu mereka setelah hari perhitungan. Tak akan ada yang bisa melarikan diri dari keputusan Allah.

📚Sebaik-baik Peringatan

📌“….Sesunguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun”. (QS.74: 54-56)

Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah saw merupakan pengingat terutama bagi mereka yang mau membacanya dan mau berusaha memahaminya serta menginginkan kebaikan darinya. Beruntunglah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah serta dimudahkan untuk berinteraksi dan memahami al-Qur’an dengan baik.

Karena al-Qur’an adalah pedoman langgeng serta aturan yang berlaku untuk manusia dimana saja sepanjang masa. Ia merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. Dan hingga sekarang kemurnian al-Qur’an masih tetap terjaga, berbeda dengan kitab-kitab suci lainya. Hal ini dikarenakan Allah menjaganya dari segala macam perubahan, penggantian, dan pengurangan isinya [9]. Sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw, al-Qur’an memiliki berbagai karakteristik yang mampu menunjukkan keagungannya. Di antaranya al-Qur’an sebagai kitab ilahy (wahyu dari Allah), kitab yang dijaga Allah, sebagai Mukjizat, jelas dan mudah dipahami, kitab agama yang integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), kitab yang berlaku untuk sepanjang masa, dan kitab yang memiliki muatan humanisme [10].

Dan barang siapa yang mau berpegang teguh pada al-Qur’an maka ia akan lapang dalam menjalani hidup yang sarat dengan berbagai macam rintangan. Apalagi jika seorang nabi atau dai. Maka kedekatannya dengan Al-Qur’an menjadi spirit tersendiri yang akan menjadi ruh dan motivasi dakwahnya. Wallâhu al-Musta’ân.

                                                                                                ———————————————————————————–

[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.21, Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2]  Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 267-268

[3] Lihat Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, edisi terjemah, Jakarta Pustaka al-Kautsar,Cet.II, Januari 2009, hal.65

[4]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29,hal.176, juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.572

[5]  Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, Op.Cit, hal.66

[6]  Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II,hal.738

[7] Ibid. Hal, 739

[8]  Lihat QS. Al-A’raf: 44

[9]  Lihat QS. Al-Hijr: 09

[10]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’ âmal ma’a al-Qur’an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 17

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Menaaehati Orang yang Menyakiti Saudaranya

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Assalamu’alaikum…
Afwan ustadz, Bagaimana kita harus bersikap untuk menghadapi seseorang yg secara tidak langsung dia menyakiti hati dan perasaan orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah merasa apabila dia berkata dan berbuat itu menyakiti saudara a.
Apakah akan kita tabayun sendiri atau menyerahkan kepada seseorang lebih berkafaah dengan urusan ini?-A13-

Jawaban:
—————
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Menghadapi orang yang menyakiti kita, ada beberapa cara:

📌 Reaksikan dengan sikap, seperti mendiamkannya dalam rangka memberikan pelajaran. Ini tidak dilarang dan bukan termasuk larangan “mendiamkan saudara melebihi tiga hari.” Rasulullah  ﷺ pernah mendiamkan tiga orang sahabatnya selama 50 hari karena mereka meninggalkan perang Tabuk tanpa alasan.
Orang-orang bijak mengatakan: “Orang biasa menyikapi hal buruk dengan perkataan dan orang ‘alim menyikapi yang tidak disukai dengan sikapnya.”

📌 Jika cara itu tidak membuatnya berubah, maka coba menasihatinya dengan baik. Allah ﷻ berfirman:
  وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatakn itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat: 55)

📌 Jika ini juga tidak bisa, maka minta bantuan kepada orang lain yang mungkin bisa dia dengar nasihatnya. Biasanya orang yang dihormatinya.

 Sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan kepada suami istri yang sedang berselisih, dalam ayat berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحاً يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيماً خَبِيراً

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An Nisa: 35)

📌 Jika ini masih belum mempan, maka serahkan kepada Allah ﷻ, yang penting kita sudah melakukan upaya-upaya ishlah (perbaikan).

Allah ﷻ berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Berilah peringatakan, tugasmu hanyalah memberi peringatan. Kamu tidaklah memiliki kekuasaan kepada mereka untuk memaksa. (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

📌 Terakhir doakan dia, karena doa orang teraniaya tidak ada hijab (penghalang).  Nabi ﷺ bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Dan takutlah kalian terhadap doanya orang teraniaya, sebab tidak hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah ﷻ.  (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Demikian. Wallahu A’lam wa Ilahil Musytaka

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih pahala…

PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

📆 Ahad, 03 Rajab 1437H / 10 April 2016

📚 Tazkiyatun Nufus

📝 Ustadz Ahmad Sahal Hasan Lc.

📋 PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Azab Allah yang bersifat penghancuran umum – menurut sebagian ulama – tidak terjadi lagi setelah Allah swt menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as berdasarkan isyarat dari ayat Al-Quran:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. (QS. Al-Qashash: 43)

Terkait isyarat dari ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:

أَنَّهُ بَعْدَ إِنْزَالِ التَّوْرَاةِ لَمْ يُعَذِّبْ أُمَّةً بِعَامَّةٍ …

“Bahwa sesudah diturunkan Taurat, Allah tidak mengazab suatu ummat dengan azab yang menyeluruh…”

Sementara Firaun dan bala tentaranya dibinasakan sebelum Nabi Musa menerima Taurat.

Terlepas dari pendapat tersebut, ada beberapa hal yang menjadi penghalang turunnya azab Allah dengan penghancuran menyeluruh sebelum hari kiamat.

Azab Allah dengan penghancuran menyeluruh disebut dengan istilah azab isti’shal yaitu azab dengan penghancuran suatu komunitas secara menyeluruh sehingga tidak ada yang hidup lagi diantara mereka, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth dan Firaun beserta bala tentaranya.

Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi turunnya azab Allah yang bersifat penghancuran  umum tersebut, meskipun azab Allah kepada individu atau beberapa pihak yang zalim masih mungkin terjadi.

1⃣Pertama, keberadaan pribadi Rasulullah saw, atau para ulama dan da’i atau kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33).

Juga berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw dengan derajat hasan :

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar atau hampir saja Allah mengirimkan hukuman atas kalian dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu doa kalian tidak dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

2⃣Kedua, keberadaan orang-orang yang beristighfar memohon ampun kepada Allah di tengah masyarakat.

Atau keberadaan orang-orang yang berdosa namun masih menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa, dan masih menyesalinya dengan mohon ampun kepada Allah, seperti yang disebutkan oleh ayat 33 Surat Al-Anfal di atas.

Di dunia saat ini hampir selalu ada para da’i pelaku amar ma’ruf nahi munkar, atau kelompok kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan berbagai sarana, atau orang-orang yang masih memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka.

Ummat-ummat terdahulu dihancurkan oleh Allah karena Nabi mereka dan orang-orang yang beriman diusir semuanya dari wilayah tempat mereka berbaur, atau karena Allah memerintahkan Nabi dan ummatnya yang beriman untuk pergi meninggalkan orang-orang kafir tersebut, seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth alaihissalam.

Sehingga wilayah itu menjadi steril dari orang-orang baik, kemudian Allah menurunkan azab-Nya.

3⃣Ketiga, karena Allah berkehendak menunda azab secara fisik untuk orang-orang zalim tanpa melalaikan perhitungan atas kezaliman yang mereka lakukan dan menyediakan azab yang pedih untuk mereka di akhirat.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (hari kiamat). (QS. Ibrahim: 42).

4⃣Keempat, adanya hikmah lain yang bisa jadi hanya Allah yang tahu sehingga Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada suatu kaum meskipun penghalang-penghalang lain sudah tidak ada.

Diantara bentuk hikmah tersebut misalnya:

🍁 Allah mengetahui bahwa diantara mereka di masa depan ada yang bertaubat, yang kafir menjadi muslim, yang zalim menjadi pembela orang yang dizalimi dan seterusnya.

Seperti yang terjadi pada Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Hindun binti Utbah radhiyallahu ‘anhum di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 128-129).

🍁Allah mengetahui bahwa diantara keturunan mereka kelak ada yang beriman kepadaNya sehingga sekalipun mereka tidak bertaubat hingga akhir hayat, kehidupan mereka diperlukan untuk melahirkan keturunan yang shalih di masa depan.

Ketika Rasulullah ditawarkan oleh malaikat penjaga gunung untuk menghancurkan orang-orang kafir yang menyakiti beliau dengan menimpakan dua buah bukit kepada mereka, Rasulullah menjawab:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang akan beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya. (HR. Bukhari & Muslim).

Shalawat & salam untukmu wahai teladan ummat..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. DR Wido Supraha

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Assalamualaikum wr wb, Ustadz  dalam kajian tertulis  “Hanya disurat ini kemudian ditegaskan secara berulang bahwa ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR, setuju? “

👆🏼kalimat itu maksudnya apa ya?  Ada di Kalimat sebelum pembahasan  5 hal mencapai ats stabat.

Sy td cm cek aja apa salah tulis?? Soalnya dipakein huruf besar semua.

Ustadz :menurut ibu seharusnya redaksinya “Islam itu agama yang benar atau yang paling benar”

Penanya:
saya jawab semampu saya pak ustadz, Islam itu agama yang benar dan dpt dibenarkan, jd ya bisa dibilang Islam agama yg paling benar.
Jd yg benar yg mana pak Ustadz?

🍀Jawaban:

Bismillāh, Wa ‘alaikum warahmatullāhi wa barakātuhu.

Terima kasih atas pertanyaan dari member A11 yang masuk, yang bermakna seluruh tulisan dari saya telah dibaca secara utuh, hanya saja kemungkinan besar membutuhkan penjelasan lebih utuh terkait kalimat bahwa “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR”.

Kalimat tersebut adalah kalimat yang secara tegas harus diyakini oleh setiap mukmin, sebagai konsekuensi iman. Latar belakang tulisan di atas memang redaksi dari beberapa kajian online yang telah saya sampaikan, sebagaimana kalimat tersebut telah saya sampaikan di banyak forum ilmiah seperti khutbah jum’at, majelis ta’lim ibu-ibu atau bapak-bapak, pengajian di musholla perkampungan, di kelas-kelas perkuliahan, dengan maksud hanya untuk menguatkan konsep ad-din sebagai bagian dari cara pandang kaum muslimin yang utuh (baca: Islamic Worldview).

Saya ingin mengingatkan diri ini, bahwa ber-Islam sejatinya adalah penghayatan. Kaum muslimin harus mulai masuk ke dalam tahap menghayati seluruh makna, dan senang berpikir secara mendalam, agar prinsip-prinsip inti nan kunci kita peroleh dari setiap kajian yang diberikan. Berpikir mendalam tidak ada hubungannya dengan filsafat yang dipahami kekinian, karena Islam juga dibangun atas unsur logika, ra’yu di bawah naungan wahyu. Itulah rahasia mengapa Allah ﷻ sering mengingatkan kita untuk mau dan terus berpikir, mengoptimalkan nikmat akal, agar kajian-kajian yang mengalir membawa manusia menuju ‘alim, tidak sekedar ‘abid.

Berpikir mendalam juga tidak ada kaitannya dengan profesi setiap manusia, karena setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk memaknai setiap pesan-pesan Ilahiyah. Inilah rahasia mengapa binaan-binaan seorang ustadz yang bernama Al-Banna, untaian kalimatnya mampu menggugah manusia yang mendengarnya meski pekerjaannya sangatlah biasa di dunia. Penghayatan dalam ber-Islam berkorelasi dengan pemaknaan setiap bahasa yang digunakan, inilah mengapa BAHASA menjadi penting untuk dikuasai, dirawat dan dilestarikan agar sentiasa mengandung serapan-serapan bahasa Arab yang maknanya begitu mendalam. Dalam perspektif ini, bahasa Melayu adalah di antara bahasa yang masih mampu merawatnya, sementara bahasa Indonesia mulai semakin berubah sebagian kata-kata dasarnya yang berasal dari Al-Qur’an dengan kata-kata yang hilang dan tercerabut dari makna Islam. Kata Agama menggantikan kata Ad-Din adalah contoh yang dapat diangkat dalam perspektif ini.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita untuk berkata yang baik atau diam. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa untaian kalimat yang keluar dari lisan kaum mukminin hendaknya adalah kalimat-kalimat yang telah dipikirkan akan dampaknya terlebih dahulu, kalimat-kalimat pilihan, kalimat-kalimat yang berbasis ilmu, kalimat-kalimat yang mendorong lahirnya ilmu. Terkadang kita temukan banyak manusia yang reflek berbicara memberikan pendapatnya tanpa dipikirkan dahulu, sehingga lahir kasus-kasus yang tidak disukai Nabi Saw. seperti ada yang merasa tersakiti, atau lucu dalam diskusi namun di atas kisah dusta, atau diskusi-diskusi penuh kesia-siaan, bahkan yang lebih tragis diskusi-diskusi yang bernilai maksiat di jalan Allah ﷻ.

Untaian kalimat “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR” dalam pembahasan kita adalah untaian kalimat dengan latar belakang kajian tadabbur Surat Ali ‘Imran, tadabbur ayat-ayat Qauliyah, tadabbur ayat-ayat yang mendorong manusia teguh (Ats-Tsabat) secara pemikiran dan amal, dalam ber-Islam. Islam sebagai Din dengan seluruh makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar agama dalam makna yang ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tadabbur ayat-ayat Ilahiyah tentunya harus sampai kepada pencapaian atas pesan-pesan kunci. Dalam konteks di atas, tentu kita bertanya, mengapa ya Allah ﷺ mengulang-ulang dalam beberapa tempat akan khususnya Islam? Di ayat mana saja itu?
Allah ﷻ berfirman,

 إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah hanyalah Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:19)

فَإِنۡ حَآجُّوكَ فَقُلۡ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ‌ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّـۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡ‌ۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ‌ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَـٰغُ‌ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ (٢٠)

Kemudian jika mereka mendebat kamu [tentang kebenaran Islam], maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan [demikian pula] orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu [mau] masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan [ayat-ayat Allah]. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran/3:20)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٨٥)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali ‘Imran/3:85)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:102)

Berdasarkan penegasan dari Allah ﷻ di atas, maka semakin yakinlah bahwa jalan keselamatan itu HANYA ada pada jalan ISLAM. Manusia yang mencari DIN selain ISLAM maka ia bukanlah jalan keselamatan.

***

Berikutya kita coba melihat dari perspektif terminologi BENAR. Apakah sebenarnya konsep BENAR dalam Islam? Apakah BENAR bisa lebih dari satu? Apakah baik pasti benar? Tentunya terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali menghayati kitab suci yang suci karena bersih dari noda perubahan manusia. Sejatinya, tujuan dari setiap kajian Islam adalah agar para penuntut ilmu mampu mengidentifikasi mana yang BENAR dan mana yang TIDAK BENAR. Sejatinya setiap kajian Islam adalah memberikan alat bagi penuntutnya agar dapat menjadi pegangan dalam ragam persoalan hidup di dunia. Inilah ciri khas ber-Islam yang bebas dari Taklid Buta dan sistem kependetaan, karena setiap manusia didorong untuk terus berpikir dan menghayati ajarannya.

Setiap kitab suci yang diturunkan-Nya adalah untuk tujuan yang sama, agar manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡفُرۡقَانَ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (٥٣)

Dan [ingatlah], ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab [Taurat] dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Baqarah/2:53)

Jika ada yang mengaku mereka benar, maka ia dipersilahkan untuk menunjukkan mana kebenaran yang mereka maksudkan. Inilah rahasia mengapa Islam satu-satunya agama yang ilmiah, karena ia dibangun di atas dasar ilmu bukan hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman,

وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ‌ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ‌ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَـٰنَڪُمۡ إِن ڪُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (١١١)

Dan mereka [Yahudi dan Nasrani] berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang [yang beragama] Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu [hanya] angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah/2:111)

Dalam tadabbur kita terhadap ayat-ayat Surat Ali ‘Imrān, karena memang surat ini diturunkan untuk menjaga ATS-TSABAT manusia, konsep BENAR inipun ditegaskan secara berulang. Allah ﷻ berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ (٦٠)

[Apa yang telah Kami ceritakan itu], itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Q.S. Ali ‘Imran/3:60)

Allah ﷻ menegaskan bahwa BENAR itu dari-nya dan BENAR itu standarisasi yang perlu diketahui manusia telah ada di dunia, dan Al-Qur’an adalah standarisasi BENAR dimaksud, maka jangan lagi kita menjadi orang-orang yang ragu bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang benar. Allah ﷻ berfirman,

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ‌ۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٩٥)

Katakanlah: “Benarlah [apa yang difirmankan] Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Ali ‘Imrān/3:95)

Bagi kaum selain Islam, karena mereka menyadari bahwa ajaran mereka penuh persoalan, namun mereka tetap berupaya menunjukkan bahwa mereka LEBIH BENAR dari Islam, dalam hal ini Allah ﷻ berfirman,

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلاً (٥١)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir [musyrik Mekah], bahwa mereka itu LEBIH BENAR (AHDA) jalannya dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisā/4:51)

JALAN BENAR itu hanya ada satu, dan itu ada dalam Al-Qur’ān al-Karīm. JALAN BENAR itulah yang menjadi panduan manusia untuk bergerak dan memutuskan pilihan-pilihan hidupnya, bukan jalan lain, karena jalan lain, BUKAN JALAN BENAR. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَٮٰكَ ٱللَّهُ‌ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآٮِٕنِينَ خَصِيمً۬ا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang [orang yang tidak bersalah], karena [membela] orang-orang yang khianat. (Q.S. An-Nisā/4:105)

Maka Allah ﷻ pun kembali menantang penganut jalan hidup selain Islam, jika memang mereka meyakini ajaran mereka LEIH BENAR (ASHDAQU), sementara yang BENAR telah jelas, maka dipersilahkan untuk menunjukkannya. Inilah ciri Islam sebagai Agama Dialog. Allah ﷻ berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬ا‌ۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّ۬ا‌ۚ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلاً۬ (١٢٢)

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang LEBIH BENAR (ASHDAQU) perkataannya daripada Allah? (Q.S. An-Nisā/4:122)

Maka Allah ﷻ mengajak kita bukan kepada agama YANG PALING BENAR, tetap kepada agamma YANG BENAR, agama yang diridhoi-Nya sebagai bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya.

إِنِّى وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٧٩)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada AGAMA YANG BENAR, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’ām/6:79)

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقً۬ا وَعَدۡلاً۬‌ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ (١١٥)

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu [Al Qur’an, sebagai kalimat YANG BENAR dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-An’ām/6:115)

ذَٲلِكَ جَزَيۡنَـٰهُم بِبَغۡيِہِمۡ‌ۖ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (١٤٦)

Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (Q.S. Al-An’ām/6:146)

قُلۡ إِنَّنِى هَدَٮٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ دِينً۬ا قِيَمً۬ا مِّلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٦١)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, [yaitu] AGAMA BENAR (DINUN QAYYIMUN); agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Al-An’ām/6:161)

***

Terma BENAR melahirkan lawan maknanya, dan Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL.

فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١١٨)

Karena itu nyatalah yang BENAR dan batallah yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Al-A’rāf/7:118)

Allah ﷻ menugaskan Rasul-Nya dan tentunya umat penerus dakwahnya agar memenangkan AGAMA YANG BENAR (DINUL HAQQ) ini di atas agama yang lain, agama yang tidak benar, maka lahirlah kompetisi dalam dakwah, agar DINUL HAQQ ini menjadi pemenang, dan Allah ﷻ akan melihat upaya-upaya manusia dalam memenangkannya, bukan hasil dari upayanya.

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ ڪُلِّهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ (٣٣)

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah/9:33)

Ats-Tsabat dalam memenangkan agama yang benar membutuhkan kesungguhan sekaligus kebersamaan bersama orang-orang yang benar. Allah ﷻ berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ (١١٩)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Q.S. At-Taubah/9:119)

Kesungguhan manusia dalam memperjuangkan YANG BENAR akan dikokohkan-Nya sehingga YANG BENAR itu akan tegak.

وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ (٨٢)

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai [nya]. (Q.S. Yunus/10:82)

وَأَتَيۡنَـٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (٦٤)

Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. (Q.S. Al-Hijr/15:64)

فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ (٧٩)

Sebab itu bertawakkallah kepada Allah ﷻ, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata (HAQQUL MUBIN). (Q.S. An-Naml/27:79)

***

Terma BENAR juga melahirkan lawan makna selain BATHIL, yakni SESAT. Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL. Allah ﷻ menggunakan kata tunggal untuk menegaskan bahwa BENAR itu hanya satu, dan menggunakan kata jamak untuk SESAT untuk menegaskan bahwa jalan SELAIN BENAR, JALAN SESAT itu banyak.

فَذَٲلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّ‌ۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَـٰلُ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ (٣٢)

Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari kebenaran]? (Q.S. Yunus/10:32)

Allah ﷻ menginginkan manusia tetap berada di JALAN BENAR, karena selain selainnya adalah jalan yang akan membawa kepada KESEDIHAN. JALAN BENAR adalah jalan cahaya yang membawa kepada Kebahagiaan Hakiki. Inilah rahasia mengapa Allah ﷻ menggunakan kata tunggal juga untuk cahaya (Nur) dan terdapat satu ayat yang berbicara tentang bahagia, happiness (As-Sa’adah).

يَوۡمَ يَأۡتِ لَا تَڪَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ فَمِنۡهُمۡ شَقِىٌّ۬ وَسَعِيدٌ۬ (١٠٥)

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Q.S. Hud/11:105)

***

Hingga disini, kita sudah memahami Konsep DINUL HAQQ (AGAMA BENAR), bukan Agama yang paling benar. Kata ‘Paling’ dalam bahasa Indonesia masuk dalam kategori Superlatif, dan menurut KBBI, Superlatif (/su·per·la·tif/) adalah tingkat perbandingan yang teratas. Dalam konteks PALING BENAR, maka ini menunjukkan bahwa posisinya akan berada paling atas dari seluruh yang benar. Pertanyaannya adalah apakah memang ada yang benar selain Islam? Jika tidak ada, maka mengapa kita masih bersikukuh bahwa Islam Agama Yang Paling Benar?

Bagian sebagian manusia mungkin hal ini dianggap sebagai semantic game, namun hakikatnya, kalimat ISLAM AGAMA YANG PALING BENAR, mengandung persoalan besar dalam tema iman, dan seluruh firman Allah terkait terma BENAR di atas telah menjelaskan kepada kita bahwa seorang mukmin dengan Aqidah-nya yang lurus, harus mengatakan bahwa ISLAM AGAMA YANG BENAR. Seorang mukmin tentu menyadari secara jelas, bahwa kalimat ISLAM AGAMA YANG BENAR mengandung keyakinan pada saat yang bersamaan, bahwa selain Islam adah AGAMA YANG TIDAK BENAR, BATIL dan SESAT, tidak membawa kepada HUDA. Namun ini adalah konsep iman tertanam di dalam hati, dan ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perasaan sebagian manusia yang merasakan dirinya paling benar, sebagaimana ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perilaku sebagian manusia yang tidak toleran atas perbedaan iman. Surat Ali ‘Imran penting dihayati karena Nabi ﷺ mampu memadukan antara konsep iman yang utuh dan muamalah kepada non-muslim dengan sangat baik.

Jika ada di antara mukmin yang merasa risih dengan kalimat di atas, saya sarankan untuk lebih memaknai penggunaan kata ini. Kalimat ini tidaklah multi-tafsir, dalam bab Aqidah, Islam berbicara tegas dan jelas, Al-Qur’an menyadarkan kepada kita akan penggunaan gaya bahasa yang jelas dan tegas, AGAMA BENAR, bukan AGAMA PALING BENAR. Ini kalimat sederhana yang semestinya dapat segera dipahami bersama penghayatan kita dalam ber-Islam.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan emosi terhadap pelajaran-pelajaran penting dan inti dari sebuah ilmu, saya sarankan untuk refleksi bersama, sudahkah kita memiliki TSIQAH kepada pemateri, karena ini syarat awal dalam menerima ilmu. Setiap manusia dalam hidupnya selalu berada dalam dua posisi yang bergantian terus menerus, terkadang menjadi guru terkadang menjadi murid, kedua-duanya posisi yang akan terus dialami setiap manusia hingga akhir hidupnya. Emosi akan menutupi pintu ilmu. Ketika syarat Tsiqah telah hadir, maka terhadap sesuatu yang kita belum pahami esensinya, maka dahulukan perasaan ingin tahu, dan dahulukan Adab dalam Menuntut Ilmu. Boleh jadi ilmu yang disampaikan mengandung kesalahan, namun boleh jadi juga sebuah ilmu yang disampaikan mengandung kesulitan untuk dipahami, maka bertanya adalah bagian dari proses transmisi ilmu, sebagaimana diskusi hikmah akan melahirkan cahaya ilmu.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan labelisasi terhadap seseorang yang kalimat-kalimatnya berbeda atas pemahamannya, maka dahulukan semangat ilmu, karena terburu-buru dalam labelisasi akan membawa kepada keburukan yang besar. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label Syi’ah, sementara kita belum memiliki kemampuan mengidentifikasi mana Syi’ah dan mana Ahlus Sunnah, itulah mengapa saya pernah menulis ‘Siapakah Syi’ah?’. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label lainnya, sebelum kita bertanya lebih dahulu, dan dalam banyak kasus yang saya temui, terburu-buru dalam labelisasi melahirkan dampak keburukan yang besar.

***

Demikianlah uraian panjang ini disampaikan. Atas nama kebenaran, semoga kita sentiasa berada di jalan yang benar. Dalam meniti jalan yang benar dibutuhkan kebersamaan untuk saling menasihati dalam hal yang benar (tawashau bil-haqq), agar benar itu melahirkan cahaya dan bahagia, karena ilmu yang tidak lagi berhijab menyinari qalbu kita dan menerangkan akal manusia sehingga tercerahkan dan kemudian mencerahkan manusia lain di sekitarnya. Saya akhir dengan satu aqidah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah, “haqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-‘ilmu biha mutahaqqiqun”, hakkat setiap perkara adalah tetap dan ilmu mengenainya dapat dicapai.

Hadanallaahu wa iyyakum ajma’in,
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
supraha.com

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

JURUS PENGIKAT HATI (seri FATHERMAN bag. 2)

📆 Sabtu, 02 Rajab 1437H / 09 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman ( twitter : @ajobendri )

📋 JURUS PENGIKAT HATI (seri FATHERMAN bag. 2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Misi pertama seorang fatherman adalah mengikat hati anak. Ini beda dengan obsesi jomblo yang berupaya sekuat tenaga menarik perhatian sang pujaan. Kadang rambut sengaja dicat merah dan dibikin belah tengah agar dicap lelaki yang eksentrik dan adil. Begitu kena guyuran hujan malah jadi mirip miniatur laut merah yang terbelah tongkat Nabi Musa. Atau bagi yang wanitanya, sering banget posting resep masakan di akun sosmed biar dianggap istriable. Begitu disuruh masak air malah nanya “bumbunya apa aja ya?”. Helllowww!

Fatherman tidak seperti itu. Ia tidak suka cari perhatian. Sebab kalau mau cari perhatian cukup ke bandara atau mall aja. Disana banyak terdengar “PERHATIAN…PERHATIAN!”. Fatherman fokus kepada tugas untuk memikat hati anak. Ini langkah awal agar bisa mengendalikan anak untuk tetap dalam arahan selagi tak bersama dirinya. Anak tak mudah dibujuk dan dipengaruhi pihak luar. Nasehat dan petuah Fatherman menjadi rujukan yang dituruti. Kayak Mr. Charlie yang menjadi pemandu bagi tiga angelsnya dalam menjalankan tugas.

Ingat, hati adalah raja meski tanpa mahkota atau lewat pilkada. Hati yang telah terpikat akan mudah mengajak akal yang liar untuk tunduk. Saat anak beranjak remaja, dimana mereka sudah mulai ‘cerdas’ berargumen, tidak akan berdebat sampai nyolot jika dinasehati ayah sang fatherman. Hatinya memerintahkan akal untuk pasrah dan menerima. Bahkan bisa jadi ia siap mendebat pihak luar yang tak sependapat dengan nilai pengajaran dari ayahnya. Contohnya saat anak ditawari rokok sama temennya. Ia berani berkata “TIDAAAK!” dengan tegas. Begitu temannya kesel dan keluar kalimat, “Ah, dasar luh bencong. Gak berani ngerokok”. Ia dengan santai menjawab, “Ah siapa bilang? Justru kata bapak gue, bencong banyak yang ngerokok”. Duaarrr!

Disini kata kuncinya : “Kata Bapak Gue”, dan segala kalimat yang semisal dengannya. Kalimat ini menunjukkan betapa tak ada yang dipercaya oleh anak kecuali bapaknya. Fatherman punya misi menjadikan dirinya sebagai yang utama dijadikan narsum oleh anaknya. Persis seperti dr. Boyke yang kerap dijadikan rujukan utama bagi pasangan yang punya keluhan di ranjang. Semua bermula dari terpikatnya hati. Anak yang terpikat hatinya akan menjadikan ayah sebagai sosok super hero dalam hidupnya. This is fatherman. The real father.

Kendala bagi para ayah yang hendak bermetamorfosa menjadi fatherman adalah waktu yang terbatas. Khususnya di masyarakat perkotaan. Mereka lebih lama waktu menghirup asap knalpot di jalan dibandingkan waktu untuk bersama anak. Saat pulang pun kadang mendapati anak sudah tidur terlelap. Jangankan ingin jadi super hero, lah ketemuan aja gak sempat. Anak anggap sosok fatherman gak eksis. Malah dianggap cuma dongeng. Hanya ada dalam khayalan mereka.

Padahal urusan waktu yang terbatas bisa disiasati asal tahu caranya. Belajarlah dari sosok Rasulullah, mentor utama kita. Beliau mampu menjadikan pertemuan singkat namun berefek dahsyat bagi anak-anak. Hal ini dirasakan oleh sahabat cilik di masa tersebut saat berinteraksi dengan beliau. Memori bersama Rasulullah di saat kecil terkenang-kenang saat dewasa. Usamah bin zaid sebagai saksinya. Padahal beliau pernah dimarahi Rasul akibat salah membunuh saat perang. Musuh yang terdesak kemudian berucap syahadat malah ia bunuh. Dan ini menimbulkan kemurkaan Rasul. Begitu dimarahi bukannya perlawanan atau bantahan yang ia lakukan. Ia pun tunduk meskipun memiliki argumen yang cukup untuk membela tindakannya. Sebab Usamah kadung cinta kepada baginda nabi. Hatinya terpikat.

Salah satu sebabnya ada suatu peristiwa yang ia kenang di masa kecilnya. Saat ia dipangku Rasulullah bersama Hasan bin Ali. Di saat itu Rasulullah memeluknya seraya berdoa “Ya Allah, sayangilah Hasan dan Usamah. Karena sesungguhnya aku sangat sayang dengan kedua anak ini”. Duh meleleh. Hati anak mana yang tidak tersentuh. Didoakan dengan untaian cinta oleh manusia termulia. Inilah dasar pertama hati yang terpikat. Merasa dicintai. Merasa diistimewakan. Coba bayangkan. Di antara anak-anak yang lain, hanya Usamah dan Hasan yang dipangku dan didoakan Rasul. Betapa momen sesaat tersebut memberi kesan mendalam di hati Usamah.

Begitulah yang semestinya dilakukan sosok Fatherman. Mampu membuat anak merasa spesial. Hal ini berpengaruh kepada kejiwaan anak. Setidaknya memberi persepsi bahwa meski ayah waktunya terbatas namun ayah sangat besar cintanya. Dan ini menjadi alasan utama anak untuk mau patuh kepadanya.

Apa yang dilakukan Rasul memberi inspirasi bagi sosok Fatherman yang terkendala dengan waktu bahwa bukan sekedar berapa banyak waktu yang kita berikan kepada anak, namun seberapa besar kesan yang berhasil ditimbulkan. Jadikanlah setiap pertemuan bersama sosok Fatherman menjadi sesuatu yang ‘memorable” alias layak dikenang. Bukan kenangan pahit tentunya. Sebab itu tugasnya mantan. Tugas fatherman memberikan kenangan manis yang tak terlupakan.

Agar anak terkesan dan merasa diistimewakan maka tiga jurus yang harus dikuasai Fatherman :

Pertama, sering-sering memeluk atau menyentuh anak secara fisik. Anak merasa nyaman dalam sentuhan. Sentuhan ini memberi efek yang mengikat batin antara anak dan ayah selaku fatherman selama tidak terburu-buru melakukannya. Sentuhan yang terburu-buru dan sesaat malah dianggap main adu benteng oleh anak.  Maka santailah saat memeluk dan menyentuh anak, apalagi kalau disentuhnya pakai I-Phone 6 plus tiket dufan gratis seumur hidup. Makin berkesan.

Kedua, ungkapkan cinta secara privat. Boleh sambil bisik-bisik di telinga anak atau suara yang lembut namun terdengar jelas di telinga anak. Ditambah kalimat “ini rahasia lho!” makin membuat anak merasa istimewa

Ketiga, mendoakan anak secara terbuka. Hal ini amat disukai. Sebab doa adalah bait cinta yang terhubung ke angkasa. Namun doa yang diucap tentu doa yang bermakna. Jangan sampai malah baca doa mau makan atau doa untuk jenazah. Wah itu mah parah. Ucapkan doa yang singkat dan sederhana. Kalau doanya kebanyakan dipikir anak lagi tahlilan. Saat berdoa, usahakan pakai bahasa yang dimengerti anak. Dengan doa inilah anak tahu bahwa ayahnya adalah sosok fatherman yang peduli. Dibuktikan lewat doa yang selalu terucap.

Ketiga jurus ini jika dilakukan sesering mungkin saat berinteraksi dengan anak memberi pengaruh menguatnya ikatan hati kepada ayah. Efeknya jangka panjang hingga anak beranjak dewasa. Selama dilakukan dengan sungguh-sungguh anak tahu ayahnya adalah super hero yang selama ini ia idamkan. The fatherman. Dan kehadiran fatherman ibarat film kartun spongebob atau dora yang dinantikan kehadirannya setiap saat. Anak takkan pernah bosan meski sering ditayangkan berulang-ulang.

Berlatihlah dengan jurus pamungkas ini. Anak akan terpikat hatinya. Dijamin ayah makin gak betah kerja, selalu ingin pulang ke rumah memuaskan kerinduan anak. Ini efek sampingnya. Tapi tenang saja, ini efek sesaat. Begitu melihat saldo rekening yang menipis dan tagihan KPR yang harus ditunaikan, ayah akan kembali semangat ke kantor seraya memberi pesan kepada anak : Jangan kemana-mana. Fatherman akan kembali setelah tagihan-tagihan berikut ini. Bersabar ya nak!

 (bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

FATHERMAN (bag.1)

📆 Sabtu, 02 Rajab 1437H / 09 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman
 (Twitter : @ajobendri)

📋  FATHERMAN (bag.1)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍀🌿

Negeri ini sedang sekarat dan butuh pertolongan. Bukan karena bencana asap yang sempat berbulan-bulan membikin sesak. Sebab bagi sebagian penduduk negeri yang masih menjomblo, mereka sudah terbiasa bertahun-tahun merasakan hidup sesak tanpa pasangan. Bukan pula disebabkan ekonomi gonjang ganjing tanpa kepastian. Dimana indikator sederhananya nampak dari nilai tukar rupiah terhadap dollar yang sempat senilai nomor hotline delivery restoran fast food (if you know what i mean). Bukan. Bukan itu. Atau juga kisruh politik yang tak tentu arah terkait dengan kiprah MKD yang diragukan kredibilitasnya hingga terpaksa digantikan oleh MA. Ingat! MKD bukanlah Mami KrisDayanti dan MA juga bukan Mama Ashanti. Serupa tapi bukan itu maksudnya. Kisruh politik yang heboh belakangan ini meskipun menyebalkan, di sisi lain rakyat cukup terhibur lewat pentas aksi para politisi. Para punggawa politik itu tak ubahnya para pemain ILK (Indonesia Lawak Klub) yang memiliki slogan : mengupas masalah tanpa solusi. Berkumpul hanya untuk haha hihi.

Sekali lagi, negeri ini bukan darurat ekonomi ataupun politik. Sekaratnya negeri ini justru dilihat dari rusaknya sumber daya manusianya. Khususnya generasi mudanya. Tanpa disadari, kita sedang merencanakan kehancuran bangsa di masa depan jika membiarkan generasi muda saat ini melemah di berbagai sisi. Tak perlu uraian fakta panjang untuk ungkapkan hal tersebut. Kita semua tahu sama tahu. Sudah banyak berita tentang perilaku generasi muda kita di pelbagai media. Kenyataan di lapangan, banyak anak-anak muda yang hidup tanpa arah. Tak punya orientasi mau kemana mereka. Lebih mudah mengekor sana sini. Hidup untuk puaskan syahwat semata. Hingga perilaku merusak dan amoral dianggap biasa. Seks bebas dijadikan budaya. Maka muncullah tren cabe-cabean plus terong-terongan. Jangan dipikir ini bagian dari program pemerintah yang sedang menargetkan swasembada sayur-sayuran. Belum lagi fenomena remaja lelaki yang bertampang ade rai namun gemulai, gaya TNI namun perilaku bak hello kitty. Saat ini lelaki maskulin pencinta bedak vaseline makin menjamur. Banci dan gay tumbuh subur. Ada apa dengan negeri ini? Jreng jreng

Orang bijak mengatakan, daripada mengutuk kegelapan lebih baik mengutuk malin kundang anak yang durhaka. Ups..maksudnya daripada marah-marah di saat gelap maka lebih baik segera nyalakan lilin pengganti PLN untuk menerangi. Minimal lapor ke om fadjroel sang ‘juru PLN’ yang diangkat jadi komisaris BUMN. Situasi negeri yang mulai gaswat dan darurat parah habis ini -agak lebay dikit gakpapa ya?- sejatinya membutuhkan hadirnya pahlawan baru. Super hero yang siap hadir untuk menyelamatkan generasi muda harapan bangsa agar menjadi pribadi yang kokoh setegar Patung Pancoran di pusat kota Jakarta. Tidak berubah dari zaman ali sadikin hingga zaman aliando. Tetap istiqomah semenjak berjayanya koes plus sampai ke masa menjamurnya pijat plus plus. Inilah yang diharapkan dari remaja saat ini. Kokoh dan tegar. Tak mudah dipengaruhi dengan berbagai macam godaan di sekitar. Sehat fisik, akal dan batinnya.
Banyak ahli menyebutkan, rusaknya perilaku anak muda saat ini adalah buah dari kegagalan keluarga ‘memproduksi’ anak-anak yang tangguh. Hal ini erat kaitannya dengan pola asuh. Dan lebih spesifik lagi adalah peran ayah. Anak-anak ini mengalami gejala yang disebut father hunger. Lapar ayah. Kalau lapar nasi goreng masih bisa dipesan di warung sebelah, tapi kalau lapar ayah maka mutlak dipenuhi dari sosok super hero yang hadir jadi pelipur laranya.

Sambutlah sang pahlawan baru. Namanya Fatherman. Super Hero yang dibutuhkan saat ini. Kehebatannya melebihi superman, spiderman, salesman, indocement atau hanoman. Tak perlu menunggu kesamber petir atau digigit laba-laba untuk jadi pahlawan baru ini. Juga tak butuh kostum yang aneh-aneh semisal underwear yang dipakai di bagian luar ditambah inisial ‘S’ di dada. Orang bisa langsung menebak kalau ‘S’ yang dimaksud adalah Stress. Ya hanya orang stress yang bangga memakai CD di bagian luar. Fatherman tidak seperti itu. Untuk menjadi fatherman syaratnya cukup simpel. Jika Anda laki-laki dewasa yang siap mengasuh anak dengan segudang tanggung jawab di luar, maka Anda siap dilantik menjadi fatherman. Yang Anda butuhkan hanya skill dasar menjadi Fatherman sekaligus topi peran yang siap berganti tergantung situasi.

Topi peran ini ibarat kostum yang harus dimiliki seorang fatherman. Dengan topi ini fatherman bisa mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang tangguh. Topi ini juga bisa jadi senjata untuk menyelamatkan generasi muda saat ini dari kebingungan menghadapi tekanan zaman. Dimulai dari kepungan game online, pornografi hingga narkoba. Fatherman dengan kekuatan yang dimilikinya mampu menyelamatkan mereka. Rahasianya ada di topi ini yang akan dibahas lebih mendalam di bagian berikutnya. Apa saja topi yang dimaksud?
1. Topi Konselor
2. Topi Guru
3. Topi Pengasuh
4. Topi Motivator
5. Topi Entertainer
6. Topi Distributor
7. Topi Donor atau Donatur

Dengan ketujuh topi ini seorang Fatherman akan mampu mengatasi krisis moral di kalangan generasi muda. Mengubah generasi yang kerap dicaci menjadi generasi yang penuh dengan sanjungan dan puji.

Namun perlu diingat, setiap super hero ada kelemahannya yang bisa menjadi hambatannya dalam menunaikan tugas. Superman melemah terkena krypton. Batman takluk di tangan wanita bernama catwoman. Ini mungkin kelemahan hampir semua lelaki. Samson pun hilang kekuatannya saat rambutnya dicukur habis. Dalam versi betawi bahkan disebutkan rambut yang dimaksud adalah rambut ketiak. Hmmm… sepertinya samson masih bisa beralih jadi bintang iklan rexona jika sudah pensiun. Atau ultraman yang bakal pensiun dini kalau berendam di air terlalu lama. Ingat, ultraman kekuatannya bersumber dari listrik. Bisa rusak kalau kena air. Habis itu ketemu juragan madura. Jadilah potongan badan ultraman terperosok dalam timbangan. Tinggal dikiloin saja.

Demikian pula sosok fatherman. Memiliki musuh dan pantangan yang akan menghalangi tugasnya sebagai super hero. Dan pantangan terbesar fatherman adalah gadget alias HP atau tablet. Ya, begitu banyak sosok fatherman di era sekarang yang akhirnya tunduk tak berdaya di depan gadget. Anak dibiarkan main sendiri sementara sang pahlawan terbius permainan duel otak atau angry bird di layar gadget. Atau saat anak sedih dan butuh hiburan, sang fatherman nampak tunduk tak berdaya seperti terhipnotis. Sesekali cengengesan memandang layar gadget. Bayangkan betapa terlukanya anak. Di saat ia sedih, sang super hero yang dirindukan malah tertawa di atas penderitaan mereka. Ibarat penganten sunat yang tersepak bola tepat di bagian kemaluannya. Ngilu euy.

Wasiat pertama yang harus disampaikan kepada calon fatherman : berlatih sedari sekarang tuk menaklukkan saingan utama pengasuhan yakni gadget dan yang semisal dengannya. Mulai sepakati bersama pasangan kapan jam pemakaian, durasi, lokasi serta situasi dimana gadget ini boleh digunakan. Jika tidak, sehebat apapun jurus dan senjata seorang fatherman tuk selamatkan generasi saat ini, niscaya roboh dan tak berguna jika tak pandai menguasai benda mungil dan ajaib ini.

Jika Anda sudah berlatih mengendalikan pantangan sosok superhero ini, bersiaplah mendapatkan panggilan. Bukan dari KPK apalagi panggilan Yang Maha Kuasa. Ini panggilan khusus dari negeri sebagai alarm yang menandakan negeri ini butuh sosok pahlawan seperti Anda. Dan jawablah panggilan ini segera dengan ucapan : Aku OTW. Meski sebenarnya Anda masih memeluk guling di ranjang yang nyaman. Selamat datang Fatherman!

 (bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…