Menaaehati Orang yang Menyakiti Saudaranya

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Assalamu’alaikum…
Afwan ustadz, Bagaimana kita harus bersikap untuk menghadapi seseorang yg secara tidak langsung dia menyakiti hati dan perasaan orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah merasa apabila dia berkata dan berbuat itu menyakiti saudara a.
Apakah akan kita tabayun sendiri atau menyerahkan kepada seseorang lebih berkafaah dengan urusan ini?-A13-

Jawaban:
—————
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Menghadapi orang yang menyakiti kita, ada beberapa cara:

📌 Reaksikan dengan sikap, seperti mendiamkannya dalam rangka memberikan pelajaran. Ini tidak dilarang dan bukan termasuk larangan “mendiamkan saudara melebihi tiga hari.” Rasulullah  ﷺ pernah mendiamkan tiga orang sahabatnya selama 50 hari karena mereka meninggalkan perang Tabuk tanpa alasan.
Orang-orang bijak mengatakan: “Orang biasa menyikapi hal buruk dengan perkataan dan orang ‘alim menyikapi yang tidak disukai dengan sikapnya.”

📌 Jika cara itu tidak membuatnya berubah, maka coba menasihatinya dengan baik. Allah ﷻ berfirman:
  وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatakn itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat: 55)

📌 Jika ini juga tidak bisa, maka minta bantuan kepada orang lain yang mungkin bisa dia dengar nasihatnya. Biasanya orang yang dihormatinya.

 Sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan kepada suami istri yang sedang berselisih, dalam ayat berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحاً يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيماً خَبِيراً

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An Nisa: 35)

📌 Jika ini masih belum mempan, maka serahkan kepada Allah ﷻ, yang penting kita sudah melakukan upaya-upaya ishlah (perbaikan).

Allah ﷻ berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Berilah peringatakan, tugasmu hanyalah memberi peringatan. Kamu tidaklah memiliki kekuasaan kepada mereka untuk memaksa. (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

📌 Terakhir doakan dia, karena doa orang teraniaya tidak ada hijab (penghalang).  Nabi ﷺ bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Dan takutlah kalian terhadap doanya orang teraniaya, sebab tidak hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah ﷻ.  (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Demikian. Wallahu A’lam wa Ilahil Musytaka

🌿🌺🌸🌻🍄🍀🍁🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih pahala…

PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

📆 Ahad, 03 Rajab 1437H / 10 April 2016

📚 Tazkiyatun Nufus

📝 Ustadz Ahmad Sahal Hasan Lc.

📋 PENGHALANG TURUNNYA AZAB ALLAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Azab Allah yang bersifat penghancuran umum – menurut sebagian ulama – tidak terjadi lagi setelah Allah swt menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as berdasarkan isyarat dari ayat Al-Quran:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. (QS. Al-Qashash: 43)

Terkait isyarat dari ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:

أَنَّهُ بَعْدَ إِنْزَالِ التَّوْرَاةِ لَمْ يُعَذِّبْ أُمَّةً بِعَامَّةٍ …

“Bahwa sesudah diturunkan Taurat, Allah tidak mengazab suatu ummat dengan azab yang menyeluruh…”

Sementara Firaun dan bala tentaranya dibinasakan sebelum Nabi Musa menerima Taurat.

Terlepas dari pendapat tersebut, ada beberapa hal yang menjadi penghalang turunnya azab Allah dengan penghancuran menyeluruh sebelum hari kiamat.

Azab Allah dengan penghancuran menyeluruh disebut dengan istilah azab isti’shal yaitu azab dengan penghancuran suatu komunitas secara menyeluruh sehingga tidak ada yang hidup lagi diantara mereka, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth dan Firaun beserta bala tentaranya.

Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi turunnya azab Allah yang bersifat penghancuran  umum tersebut, meskipun azab Allah kepada individu atau beberapa pihak yang zalim masih mungkin terjadi.

1⃣Pertama, keberadaan pribadi Rasulullah saw, atau para ulama dan da’i atau kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33).

Juga berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw dengan derajat hasan :

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar atau hampir saja Allah mengirimkan hukuman atas kalian dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu doa kalian tidak dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

2⃣Kedua, keberadaan orang-orang yang beristighfar memohon ampun kepada Allah di tengah masyarakat.

Atau keberadaan orang-orang yang berdosa namun masih menyadari bahwa perbuatannya adalah dosa, dan masih menyesalinya dengan mohon ampun kepada Allah, seperti yang disebutkan oleh ayat 33 Surat Al-Anfal di atas.

Di dunia saat ini hampir selalu ada para da’i pelaku amar ma’ruf nahi munkar, atau kelompok kaum muslimin yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan berbagai sarana, atau orang-orang yang masih memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka.

Ummat-ummat terdahulu dihancurkan oleh Allah karena Nabi mereka dan orang-orang yang beriman diusir semuanya dari wilayah tempat mereka berbaur, atau karena Allah memerintahkan Nabi dan ummatnya yang beriman untuk pergi meninggalkan orang-orang kafir tersebut, seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth alaihissalam.

Sehingga wilayah itu menjadi steril dari orang-orang baik, kemudian Allah menurunkan azab-Nya.

3⃣Ketiga, karena Allah berkehendak menunda azab secara fisik untuk orang-orang zalim tanpa melalaikan perhitungan atas kezaliman yang mereka lakukan dan menyediakan azab yang pedih untuk mereka di akhirat.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (hari kiamat). (QS. Ibrahim: 42).

4⃣Keempat, adanya hikmah lain yang bisa jadi hanya Allah yang tahu sehingga Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada suatu kaum meskipun penghalang-penghalang lain sudah tidak ada.

Diantara bentuk hikmah tersebut misalnya:

🍁 Allah mengetahui bahwa diantara mereka di masa depan ada yang bertaubat, yang kafir menjadi muslim, yang zalim menjadi pembela orang yang dizalimi dan seterusnya.

Seperti yang terjadi pada Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Hindun binti Utbah radhiyallahu ‘anhum di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 128-129).

🍁Allah mengetahui bahwa diantara keturunan mereka kelak ada yang beriman kepadaNya sehingga sekalipun mereka tidak bertaubat hingga akhir hayat, kehidupan mereka diperlukan untuk melahirkan keturunan yang shalih di masa depan.

Ketika Rasulullah ditawarkan oleh malaikat penjaga gunung untuk menghancurkan orang-orang kafir yang menyakiti beliau dengan menimpakan dua buah bukit kepada mereka, Rasulullah menjawab:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang akan beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya. (HR. Bukhari & Muslim).

Shalawat & salam untukmu wahai teladan ummat..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. DR Wido Supraha

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Assalamualaikum wr wb, Ustadz  dalam kajian tertulis  “Hanya disurat ini kemudian ditegaskan secara berulang bahwa ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR, setuju? “

👆🏼kalimat itu maksudnya apa ya?  Ada di Kalimat sebelum pembahasan  5 hal mencapai ats stabat.

Sy td cm cek aja apa salah tulis?? Soalnya dipakein huruf besar semua.

Ustadz :menurut ibu seharusnya redaksinya “Islam itu agama yang benar atau yang paling benar”

Penanya:
saya jawab semampu saya pak ustadz, Islam itu agama yang benar dan dpt dibenarkan, jd ya bisa dibilang Islam agama yg paling benar.
Jd yg benar yg mana pak Ustadz?

🍀Jawaban:

Bismillāh, Wa ‘alaikum warahmatullāhi wa barakātuhu.

Terima kasih atas pertanyaan dari member A11 yang masuk, yang bermakna seluruh tulisan dari saya telah dibaca secara utuh, hanya saja kemungkinan besar membutuhkan penjelasan lebih utuh terkait kalimat bahwa “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR”.

Kalimat tersebut adalah kalimat yang secara tegas harus diyakini oleh setiap mukmin, sebagai konsekuensi iman. Latar belakang tulisan di atas memang redaksi dari beberapa kajian online yang telah saya sampaikan, sebagaimana kalimat tersebut telah saya sampaikan di banyak forum ilmiah seperti khutbah jum’at, majelis ta’lim ibu-ibu atau bapak-bapak, pengajian di musholla perkampungan, di kelas-kelas perkuliahan, dengan maksud hanya untuk menguatkan konsep ad-din sebagai bagian dari cara pandang kaum muslimin yang utuh (baca: Islamic Worldview).

Saya ingin mengingatkan diri ini, bahwa ber-Islam sejatinya adalah penghayatan. Kaum muslimin harus mulai masuk ke dalam tahap menghayati seluruh makna, dan senang berpikir secara mendalam, agar prinsip-prinsip inti nan kunci kita peroleh dari setiap kajian yang diberikan. Berpikir mendalam tidak ada hubungannya dengan filsafat yang dipahami kekinian, karena Islam juga dibangun atas unsur logika, ra’yu di bawah naungan wahyu. Itulah rahasia mengapa Allah ﷻ sering mengingatkan kita untuk mau dan terus berpikir, mengoptimalkan nikmat akal, agar kajian-kajian yang mengalir membawa manusia menuju ‘alim, tidak sekedar ‘abid.

Berpikir mendalam juga tidak ada kaitannya dengan profesi setiap manusia, karena setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk memaknai setiap pesan-pesan Ilahiyah. Inilah rahasia mengapa binaan-binaan seorang ustadz yang bernama Al-Banna, untaian kalimatnya mampu menggugah manusia yang mendengarnya meski pekerjaannya sangatlah biasa di dunia. Penghayatan dalam ber-Islam berkorelasi dengan pemaknaan setiap bahasa yang digunakan, inilah mengapa BAHASA menjadi penting untuk dikuasai, dirawat dan dilestarikan agar sentiasa mengandung serapan-serapan bahasa Arab yang maknanya begitu mendalam. Dalam perspektif ini, bahasa Melayu adalah di antara bahasa yang masih mampu merawatnya, sementara bahasa Indonesia mulai semakin berubah sebagian kata-kata dasarnya yang berasal dari Al-Qur’an dengan kata-kata yang hilang dan tercerabut dari makna Islam. Kata Agama menggantikan kata Ad-Din adalah contoh yang dapat diangkat dalam perspektif ini.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita untuk berkata yang baik atau diam. Ini mengingatkan kepada kita, bahwa untaian kalimat yang keluar dari lisan kaum mukminin hendaknya adalah kalimat-kalimat yang telah dipikirkan akan dampaknya terlebih dahulu, kalimat-kalimat pilihan, kalimat-kalimat yang berbasis ilmu, kalimat-kalimat yang mendorong lahirnya ilmu. Terkadang kita temukan banyak manusia yang reflek berbicara memberikan pendapatnya tanpa dipikirkan dahulu, sehingga lahir kasus-kasus yang tidak disukai Nabi Saw. seperti ada yang merasa tersakiti, atau lucu dalam diskusi namun di atas kisah dusta, atau diskusi-diskusi penuh kesia-siaan, bahkan yang lebih tragis diskusi-diskusi yang bernilai maksiat di jalan Allah ﷻ.

Untaian kalimat “ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR” dalam pembahasan kita adalah untaian kalimat dengan latar belakang kajian tadabbur Surat Ali ‘Imran, tadabbur ayat-ayat Qauliyah, tadabbur ayat-ayat yang mendorong manusia teguh (Ats-Tsabat) secara pemikiran dan amal, dalam ber-Islam. Islam sebagai Din dengan seluruh makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar agama dalam makna yang ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tadabbur ayat-ayat Ilahiyah tentunya harus sampai kepada pencapaian atas pesan-pesan kunci. Dalam konteks di atas, tentu kita bertanya, mengapa ya Allah ﷺ mengulang-ulang dalam beberapa tempat akan khususnya Islam? Di ayat mana saja itu?
Allah ﷻ berfirman,

 إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah hanyalah Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:19)

فَإِنۡ حَآجُّوكَ فَقُلۡ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ‌ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّـۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡ‌ۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ‌ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَـٰغُ‌ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ (٢٠)

Kemudian jika mereka mendebat kamu [tentang kebenaran Islam], maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan [demikian pula] orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu [mau] masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan [ayat-ayat Allah]. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran/3:20)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ (٨٥)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali ‘Imran/3:85)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali ‘Imran/3:102)

Berdasarkan penegasan dari Allah ﷻ di atas, maka semakin yakinlah bahwa jalan keselamatan itu HANYA ada pada jalan ISLAM. Manusia yang mencari DIN selain ISLAM maka ia bukanlah jalan keselamatan.

***

Berikutya kita coba melihat dari perspektif terminologi BENAR. Apakah sebenarnya konsep BENAR dalam Islam? Apakah BENAR bisa lebih dari satu? Apakah baik pasti benar? Tentunya terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali menghayati kitab suci yang suci karena bersih dari noda perubahan manusia. Sejatinya, tujuan dari setiap kajian Islam adalah agar para penuntut ilmu mampu mengidentifikasi mana yang BENAR dan mana yang TIDAK BENAR. Sejatinya setiap kajian Islam adalah memberikan alat bagi penuntutnya agar dapat menjadi pegangan dalam ragam persoalan hidup di dunia. Inilah ciri khas ber-Islam yang bebas dari Taklid Buta dan sistem kependetaan, karena setiap manusia didorong untuk terus berpikir dan menghayati ajarannya.

Setiap kitab suci yang diturunkan-Nya adalah untuk tujuan yang sama, agar manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡفُرۡقَانَ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ (٥٣)

Dan [ingatlah], ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab [Taurat] dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Baqarah/2:53)

Jika ada yang mengaku mereka benar, maka ia dipersilahkan untuk menunjukkan mana kebenaran yang mereka maksudkan. Inilah rahasia mengapa Islam satu-satunya agama yang ilmiah, karena ia dibangun di atas dasar ilmu bukan hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman,

وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ‌ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ‌ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَـٰنَڪُمۡ إِن ڪُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (١١١)

Dan mereka [Yahudi dan Nasrani] berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang [yang beragama] Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu [hanya] angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (Q.S. Al-Baqarah/2:111)

Dalam tadabbur kita terhadap ayat-ayat Surat Ali ‘Imrān, karena memang surat ini diturunkan untuk menjaga ATS-TSABAT manusia, konsep BENAR inipun ditegaskan secara berulang. Allah ﷻ berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ (٦٠)

[Apa yang telah Kami ceritakan itu], itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Q.S. Ali ‘Imran/3:60)

Allah ﷻ menegaskan bahwa BENAR itu dari-nya dan BENAR itu standarisasi yang perlu diketahui manusia telah ada di dunia, dan Al-Qur’an adalah standarisasi BENAR dimaksud, maka jangan lagi kita menjadi orang-orang yang ragu bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang benar. Allah ﷻ berfirman,

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ‌ۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٩٥)

Katakanlah: “Benarlah [apa yang difirmankan] Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Ali ‘Imrān/3:95)

Bagi kaum selain Islam, karena mereka menyadari bahwa ajaran mereka penuh persoalan, namun mereka tetap berupaya menunjukkan bahwa mereka LEBIH BENAR dari Islam, dalam hal ini Allah ﷻ berfirman,

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلاً (٥١)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir [musyrik Mekah], bahwa mereka itu LEBIH BENAR (AHDA) jalannya dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisā/4:51)

JALAN BENAR itu hanya ada satu, dan itu ada dalam Al-Qur’ān al-Karīm. JALAN BENAR itulah yang menjadi panduan manusia untuk bergerak dan memutuskan pilihan-pilihan hidupnya, bukan jalan lain, karena jalan lain, BUKAN JALAN BENAR. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَٮٰكَ ٱللَّهُ‌ۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآٮِٕنِينَ خَصِيمً۬ا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang [orang yang tidak bersalah], karena [membela] orang-orang yang khianat. (Q.S. An-Nisā/4:105)

Maka Allah ﷻ pun kembali menantang penganut jalan hidup selain Islam, jika memang mereka meyakini ajaran mereka LEIH BENAR (ASHDAQU), sementara yang BENAR telah jelas, maka dipersilahkan untuk menunjukkannya. Inilah ciri Islam sebagai Agama Dialog. Allah ﷻ berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬ا‌ۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّ۬ا‌ۚ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلاً۬ (١٢٢)

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang LEBIH BENAR (ASHDAQU) perkataannya daripada Allah? (Q.S. An-Nisā/4:122)

Maka Allah ﷻ mengajak kita bukan kepada agama YANG PALING BENAR, tetap kepada agamma YANG BENAR, agama yang diridhoi-Nya sebagai bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya.

إِنِّى وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٧٩)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada AGAMA YANG BENAR, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’ām/6:79)

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقً۬ا وَعَدۡلاً۬‌ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ (١١٥)

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu [Al Qur’an, sebagai kalimat YANG BENAR dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-An’ām/6:115)

ذَٲلِكَ جَزَيۡنَـٰهُم بِبَغۡيِہِمۡ‌ۖ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (١٤٦)

Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (Q.S. Al-An’ām/6:146)

قُلۡ إِنَّنِى هَدَٮٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ دِينً۬ا قِيَمً۬ا مِّلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٦١)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, [yaitu] AGAMA BENAR (DINUN QAYYIMUN); agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Al-An’ām/6:161)

***

Terma BENAR melahirkan lawan maknanya, dan Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL.

فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (١١٨)

Karena itu nyatalah yang BENAR dan batallah yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Al-A’rāf/7:118)

Allah ﷻ menugaskan Rasul-Nya dan tentunya umat penerus dakwahnya agar memenangkan AGAMA YANG BENAR (DINUL HAQQ) ini di atas agama yang lain, agama yang tidak benar, maka lahirlah kompetisi dalam dakwah, agar DINUL HAQQ ini menjadi pemenang, dan Allah ﷻ akan melihat upaya-upaya manusia dalam memenangkannya, bukan hasil dari upayanya.

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ ڪُلِّهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ (٣٣)

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah/9:33)

Ats-Tsabat dalam memenangkan agama yang benar membutuhkan kesungguhan sekaligus kebersamaan bersama orang-orang yang benar. Allah ﷻ berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ (١١٩)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Q.S. At-Taubah/9:119)

Kesungguhan manusia dalam memperjuangkan YANG BENAR akan dikokohkan-Nya sehingga YANG BENAR itu akan tegak.

وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ (٨٢)

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai [nya]. (Q.S. Yunus/10:82)

وَأَتَيۡنَـٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَإِنَّا لَصَـٰدِقُونَ (٦٤)

Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. (Q.S. Al-Hijr/15:64)

فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ (٧٩)

Sebab itu bertawakkallah kepada Allah ﷻ, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata (HAQQUL MUBIN). (Q.S. An-Naml/27:79)

***

Terma BENAR juga melahirkan lawan makna selain BATHIL, yakni SESAT. Allah ﷻ menegaskan bahwa selain BENAR ia adalah BATHIL. Allah ﷻ menggunakan kata tunggal untuk menegaskan bahwa BENAR itu hanya satu, dan menggunakan kata jamak untuk SESAT untuk menegaskan bahwa jalan SELAIN BENAR, JALAN SESAT itu banyak.

فَذَٲلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّ‌ۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَـٰلُ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ (٣٢)

Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari kebenaran]? (Q.S. Yunus/10:32)

Allah ﷻ menginginkan manusia tetap berada di JALAN BENAR, karena selain selainnya adalah jalan yang akan membawa kepada KESEDIHAN. JALAN BENAR adalah jalan cahaya yang membawa kepada Kebahagiaan Hakiki. Inilah rahasia mengapa Allah ﷻ menggunakan kata tunggal juga untuk cahaya (Nur) dan terdapat satu ayat yang berbicara tentang bahagia, happiness (As-Sa’adah).

يَوۡمَ يَأۡتِ لَا تَڪَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ فَمِنۡهُمۡ شَقِىٌّ۬ وَسَعِيدٌ۬ (١٠٥)

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Q.S. Hud/11:105)

***

Hingga disini, kita sudah memahami Konsep DINUL HAQQ (AGAMA BENAR), bukan Agama yang paling benar. Kata ‘Paling’ dalam bahasa Indonesia masuk dalam kategori Superlatif, dan menurut KBBI, Superlatif (/su·per·la·tif/) adalah tingkat perbandingan yang teratas. Dalam konteks PALING BENAR, maka ini menunjukkan bahwa posisinya akan berada paling atas dari seluruh yang benar. Pertanyaannya adalah apakah memang ada yang benar selain Islam? Jika tidak ada, maka mengapa kita masih bersikukuh bahwa Islam Agama Yang Paling Benar?

Bagian sebagian manusia mungkin hal ini dianggap sebagai semantic game, namun hakikatnya, kalimat ISLAM AGAMA YANG PALING BENAR, mengandung persoalan besar dalam tema iman, dan seluruh firman Allah terkait terma BENAR di atas telah menjelaskan kepada kita bahwa seorang mukmin dengan Aqidah-nya yang lurus, harus mengatakan bahwa ISLAM AGAMA YANG BENAR. Seorang mukmin tentu menyadari secara jelas, bahwa kalimat ISLAM AGAMA YANG BENAR mengandung keyakinan pada saat yang bersamaan, bahwa selain Islam adah AGAMA YANG TIDAK BENAR, BATIL dan SESAT, tidak membawa kepada HUDA. Namun ini adalah konsep iman tertanam di dalam hati, dan ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perasaan sebagian manusia yang merasakan dirinya paling benar, sebagaimana ini tidak ada korelasinya sama sekali dengan perilaku sebagian manusia yang tidak toleran atas perbedaan iman. Surat Ali ‘Imran penting dihayati karena Nabi ﷺ mampu memadukan antara konsep iman yang utuh dan muamalah kepada non-muslim dengan sangat baik.

Jika ada di antara mukmin yang merasa risih dengan kalimat di atas, saya sarankan untuk lebih memaknai penggunaan kata ini. Kalimat ini tidaklah multi-tafsir, dalam bab Aqidah, Islam berbicara tegas dan jelas, Al-Qur’an menyadarkan kepada kita akan penggunaan gaya bahasa yang jelas dan tegas, AGAMA BENAR, bukan AGAMA PALING BENAR. Ini kalimat sederhana yang semestinya dapat segera dipahami bersama penghayatan kita dalam ber-Islam.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan emosi terhadap pelajaran-pelajaran penting dan inti dari sebuah ilmu, saya sarankan untuk refleksi bersama, sudahkah kita memiliki TSIQAH kepada pemateri, karena ini syarat awal dalam menerima ilmu. Setiap manusia dalam hidupnya selalu berada dalam dua posisi yang bergantian terus menerus, terkadang menjadi guru terkadang menjadi murid, kedua-duanya posisi yang akan terus dialami setiap manusia hingga akhir hidupnya. Emosi akan menutupi pintu ilmu. Ketika syarat Tsiqah telah hadir, maka terhadap sesuatu yang kita belum pahami esensinya, maka dahulukan perasaan ingin tahu, dan dahulukan Adab dalam Menuntut Ilmu. Boleh jadi ilmu yang disampaikan mengandung kesalahan, namun boleh jadi juga sebuah ilmu yang disampaikan mengandung kesulitan untuk dipahami, maka bertanya adalah bagian dari proses transmisi ilmu, sebagaimana diskusi hikmah akan melahirkan cahaya ilmu.

Jika ada di antara mukmin yang mendahulukan labelisasi terhadap seseorang yang kalimat-kalimatnya berbeda atas pemahamannya, maka dahulukan semangat ilmu, karena terburu-buru dalam labelisasi akan membawa kepada keburukan yang besar. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label Syi’ah, sementara kita belum memiliki kemampuan mengidentifikasi mana Syi’ah dan mana Ahlus Sunnah, itulah mengapa saya pernah menulis ‘Siapakah Syi’ah?’. Terkadang kita mudah melabeli seseorang dengan label lainnya, sebelum kita bertanya lebih dahulu, dan dalam banyak kasus yang saya temui, terburu-buru dalam labelisasi melahirkan dampak keburukan yang besar.

***

Demikianlah uraian panjang ini disampaikan. Atas nama kebenaran, semoga kita sentiasa berada di jalan yang benar. Dalam meniti jalan yang benar dibutuhkan kebersamaan untuk saling menasihati dalam hal yang benar (tawashau bil-haqq), agar benar itu melahirkan cahaya dan bahagia, karena ilmu yang tidak lagi berhijab menyinari qalbu kita dan menerangkan akal manusia sehingga tercerahkan dan kemudian mencerahkan manusia lain di sekitarnya. Saya akhir dengan satu aqidah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah, “haqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-‘ilmu biha mutahaqqiqun”, hakkat setiap perkara adalah tetap dan ilmu mengenainya dapat dicapai.

Hadanallaahu wa iyyakum ajma’in,
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
supraha.com

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

JURUS PENGIKAT HATI (seri FATHERMAN bag. 2)

📆 Sabtu, 02 Rajab 1437H / 09 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman ( twitter : @ajobendri )

📋 JURUS PENGIKAT HATI (seri FATHERMAN bag. 2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Misi pertama seorang fatherman adalah mengikat hati anak. Ini beda dengan obsesi jomblo yang berupaya sekuat tenaga menarik perhatian sang pujaan. Kadang rambut sengaja dicat merah dan dibikin belah tengah agar dicap lelaki yang eksentrik dan adil. Begitu kena guyuran hujan malah jadi mirip miniatur laut merah yang terbelah tongkat Nabi Musa. Atau bagi yang wanitanya, sering banget posting resep masakan di akun sosmed biar dianggap istriable. Begitu disuruh masak air malah nanya “bumbunya apa aja ya?”. Helllowww!

Fatherman tidak seperti itu. Ia tidak suka cari perhatian. Sebab kalau mau cari perhatian cukup ke bandara atau mall aja. Disana banyak terdengar “PERHATIAN…PERHATIAN!”. Fatherman fokus kepada tugas untuk memikat hati anak. Ini langkah awal agar bisa mengendalikan anak untuk tetap dalam arahan selagi tak bersama dirinya. Anak tak mudah dibujuk dan dipengaruhi pihak luar. Nasehat dan petuah Fatherman menjadi rujukan yang dituruti. Kayak Mr. Charlie yang menjadi pemandu bagi tiga angelsnya dalam menjalankan tugas.

Ingat, hati adalah raja meski tanpa mahkota atau lewat pilkada. Hati yang telah terpikat akan mudah mengajak akal yang liar untuk tunduk. Saat anak beranjak remaja, dimana mereka sudah mulai ‘cerdas’ berargumen, tidak akan berdebat sampai nyolot jika dinasehati ayah sang fatherman. Hatinya memerintahkan akal untuk pasrah dan menerima. Bahkan bisa jadi ia siap mendebat pihak luar yang tak sependapat dengan nilai pengajaran dari ayahnya. Contohnya saat anak ditawari rokok sama temennya. Ia berani berkata “TIDAAAK!” dengan tegas. Begitu temannya kesel dan keluar kalimat, “Ah, dasar luh bencong. Gak berani ngerokok”. Ia dengan santai menjawab, “Ah siapa bilang? Justru kata bapak gue, bencong banyak yang ngerokok”. Duaarrr!

Disini kata kuncinya : “Kata Bapak Gue”, dan segala kalimat yang semisal dengannya. Kalimat ini menunjukkan betapa tak ada yang dipercaya oleh anak kecuali bapaknya. Fatherman punya misi menjadikan dirinya sebagai yang utama dijadikan narsum oleh anaknya. Persis seperti dr. Boyke yang kerap dijadikan rujukan utama bagi pasangan yang punya keluhan di ranjang. Semua bermula dari terpikatnya hati. Anak yang terpikat hatinya akan menjadikan ayah sebagai sosok super hero dalam hidupnya. This is fatherman. The real father.

Kendala bagi para ayah yang hendak bermetamorfosa menjadi fatherman adalah waktu yang terbatas. Khususnya di masyarakat perkotaan. Mereka lebih lama waktu menghirup asap knalpot di jalan dibandingkan waktu untuk bersama anak. Saat pulang pun kadang mendapati anak sudah tidur terlelap. Jangankan ingin jadi super hero, lah ketemuan aja gak sempat. Anak anggap sosok fatherman gak eksis. Malah dianggap cuma dongeng. Hanya ada dalam khayalan mereka.

Padahal urusan waktu yang terbatas bisa disiasati asal tahu caranya. Belajarlah dari sosok Rasulullah, mentor utama kita. Beliau mampu menjadikan pertemuan singkat namun berefek dahsyat bagi anak-anak. Hal ini dirasakan oleh sahabat cilik di masa tersebut saat berinteraksi dengan beliau. Memori bersama Rasulullah di saat kecil terkenang-kenang saat dewasa. Usamah bin zaid sebagai saksinya. Padahal beliau pernah dimarahi Rasul akibat salah membunuh saat perang. Musuh yang terdesak kemudian berucap syahadat malah ia bunuh. Dan ini menimbulkan kemurkaan Rasul. Begitu dimarahi bukannya perlawanan atau bantahan yang ia lakukan. Ia pun tunduk meskipun memiliki argumen yang cukup untuk membela tindakannya. Sebab Usamah kadung cinta kepada baginda nabi. Hatinya terpikat.

Salah satu sebabnya ada suatu peristiwa yang ia kenang di masa kecilnya. Saat ia dipangku Rasulullah bersama Hasan bin Ali. Di saat itu Rasulullah memeluknya seraya berdoa “Ya Allah, sayangilah Hasan dan Usamah. Karena sesungguhnya aku sangat sayang dengan kedua anak ini”. Duh meleleh. Hati anak mana yang tidak tersentuh. Didoakan dengan untaian cinta oleh manusia termulia. Inilah dasar pertama hati yang terpikat. Merasa dicintai. Merasa diistimewakan. Coba bayangkan. Di antara anak-anak yang lain, hanya Usamah dan Hasan yang dipangku dan didoakan Rasul. Betapa momen sesaat tersebut memberi kesan mendalam di hati Usamah.

Begitulah yang semestinya dilakukan sosok Fatherman. Mampu membuat anak merasa spesial. Hal ini berpengaruh kepada kejiwaan anak. Setidaknya memberi persepsi bahwa meski ayah waktunya terbatas namun ayah sangat besar cintanya. Dan ini menjadi alasan utama anak untuk mau patuh kepadanya.

Apa yang dilakukan Rasul memberi inspirasi bagi sosok Fatherman yang terkendala dengan waktu bahwa bukan sekedar berapa banyak waktu yang kita berikan kepada anak, namun seberapa besar kesan yang berhasil ditimbulkan. Jadikanlah setiap pertemuan bersama sosok Fatherman menjadi sesuatu yang ‘memorable” alias layak dikenang. Bukan kenangan pahit tentunya. Sebab itu tugasnya mantan. Tugas fatherman memberikan kenangan manis yang tak terlupakan.

Agar anak terkesan dan merasa diistimewakan maka tiga jurus yang harus dikuasai Fatherman :

Pertama, sering-sering memeluk atau menyentuh anak secara fisik. Anak merasa nyaman dalam sentuhan. Sentuhan ini memberi efek yang mengikat batin antara anak dan ayah selaku fatherman selama tidak terburu-buru melakukannya. Sentuhan yang terburu-buru dan sesaat malah dianggap main adu benteng oleh anak.  Maka santailah saat memeluk dan menyentuh anak, apalagi kalau disentuhnya pakai I-Phone 6 plus tiket dufan gratis seumur hidup. Makin berkesan.

Kedua, ungkapkan cinta secara privat. Boleh sambil bisik-bisik di telinga anak atau suara yang lembut namun terdengar jelas di telinga anak. Ditambah kalimat “ini rahasia lho!” makin membuat anak merasa istimewa

Ketiga, mendoakan anak secara terbuka. Hal ini amat disukai. Sebab doa adalah bait cinta yang terhubung ke angkasa. Namun doa yang diucap tentu doa yang bermakna. Jangan sampai malah baca doa mau makan atau doa untuk jenazah. Wah itu mah parah. Ucapkan doa yang singkat dan sederhana. Kalau doanya kebanyakan dipikir anak lagi tahlilan. Saat berdoa, usahakan pakai bahasa yang dimengerti anak. Dengan doa inilah anak tahu bahwa ayahnya adalah sosok fatherman yang peduli. Dibuktikan lewat doa yang selalu terucap.

Ketiga jurus ini jika dilakukan sesering mungkin saat berinteraksi dengan anak memberi pengaruh menguatnya ikatan hati kepada ayah. Efeknya jangka panjang hingga anak beranjak dewasa. Selama dilakukan dengan sungguh-sungguh anak tahu ayahnya adalah super hero yang selama ini ia idamkan. The fatherman. Dan kehadiran fatherman ibarat film kartun spongebob atau dora yang dinantikan kehadirannya setiap saat. Anak takkan pernah bosan meski sering ditayangkan berulang-ulang.

Berlatihlah dengan jurus pamungkas ini. Anak akan terpikat hatinya. Dijamin ayah makin gak betah kerja, selalu ingin pulang ke rumah memuaskan kerinduan anak. Ini efek sampingnya. Tapi tenang saja, ini efek sesaat. Begitu melihat saldo rekening yang menipis dan tagihan KPR yang harus ditunaikan, ayah akan kembali semangat ke kantor seraya memberi pesan kepada anak : Jangan kemana-mana. Fatherman akan kembali setelah tagihan-tagihan berikut ini. Bersabar ya nak!

 (bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

FATHERMAN (bag.1)

📆 Sabtu, 02 Rajab 1437H / 09 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman
 (Twitter : @ajobendri)

📋  FATHERMAN (bag.1)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍀🌿

Negeri ini sedang sekarat dan butuh pertolongan. Bukan karena bencana asap yang sempat berbulan-bulan membikin sesak. Sebab bagi sebagian penduduk negeri yang masih menjomblo, mereka sudah terbiasa bertahun-tahun merasakan hidup sesak tanpa pasangan. Bukan pula disebabkan ekonomi gonjang ganjing tanpa kepastian. Dimana indikator sederhananya nampak dari nilai tukar rupiah terhadap dollar yang sempat senilai nomor hotline delivery restoran fast food (if you know what i mean). Bukan. Bukan itu. Atau juga kisruh politik yang tak tentu arah terkait dengan kiprah MKD yang diragukan kredibilitasnya hingga terpaksa digantikan oleh MA. Ingat! MKD bukanlah Mami KrisDayanti dan MA juga bukan Mama Ashanti. Serupa tapi bukan itu maksudnya. Kisruh politik yang heboh belakangan ini meskipun menyebalkan, di sisi lain rakyat cukup terhibur lewat pentas aksi para politisi. Para punggawa politik itu tak ubahnya para pemain ILK (Indonesia Lawak Klub) yang memiliki slogan : mengupas masalah tanpa solusi. Berkumpul hanya untuk haha hihi.

Sekali lagi, negeri ini bukan darurat ekonomi ataupun politik. Sekaratnya negeri ini justru dilihat dari rusaknya sumber daya manusianya. Khususnya generasi mudanya. Tanpa disadari, kita sedang merencanakan kehancuran bangsa di masa depan jika membiarkan generasi muda saat ini melemah di berbagai sisi. Tak perlu uraian fakta panjang untuk ungkapkan hal tersebut. Kita semua tahu sama tahu. Sudah banyak berita tentang perilaku generasi muda kita di pelbagai media. Kenyataan di lapangan, banyak anak-anak muda yang hidup tanpa arah. Tak punya orientasi mau kemana mereka. Lebih mudah mengekor sana sini. Hidup untuk puaskan syahwat semata. Hingga perilaku merusak dan amoral dianggap biasa. Seks bebas dijadikan budaya. Maka muncullah tren cabe-cabean plus terong-terongan. Jangan dipikir ini bagian dari program pemerintah yang sedang menargetkan swasembada sayur-sayuran. Belum lagi fenomena remaja lelaki yang bertampang ade rai namun gemulai, gaya TNI namun perilaku bak hello kitty. Saat ini lelaki maskulin pencinta bedak vaseline makin menjamur. Banci dan gay tumbuh subur. Ada apa dengan negeri ini? Jreng jreng

Orang bijak mengatakan, daripada mengutuk kegelapan lebih baik mengutuk malin kundang anak yang durhaka. Ups..maksudnya daripada marah-marah di saat gelap maka lebih baik segera nyalakan lilin pengganti PLN untuk menerangi. Minimal lapor ke om fadjroel sang ‘juru PLN’ yang diangkat jadi komisaris BUMN. Situasi negeri yang mulai gaswat dan darurat parah habis ini -agak lebay dikit gakpapa ya?- sejatinya membutuhkan hadirnya pahlawan baru. Super hero yang siap hadir untuk menyelamatkan generasi muda harapan bangsa agar menjadi pribadi yang kokoh setegar Patung Pancoran di pusat kota Jakarta. Tidak berubah dari zaman ali sadikin hingga zaman aliando. Tetap istiqomah semenjak berjayanya koes plus sampai ke masa menjamurnya pijat plus plus. Inilah yang diharapkan dari remaja saat ini. Kokoh dan tegar. Tak mudah dipengaruhi dengan berbagai macam godaan di sekitar. Sehat fisik, akal dan batinnya.
Banyak ahli menyebutkan, rusaknya perilaku anak muda saat ini adalah buah dari kegagalan keluarga ‘memproduksi’ anak-anak yang tangguh. Hal ini erat kaitannya dengan pola asuh. Dan lebih spesifik lagi adalah peran ayah. Anak-anak ini mengalami gejala yang disebut father hunger. Lapar ayah. Kalau lapar nasi goreng masih bisa dipesan di warung sebelah, tapi kalau lapar ayah maka mutlak dipenuhi dari sosok super hero yang hadir jadi pelipur laranya.

Sambutlah sang pahlawan baru. Namanya Fatherman. Super Hero yang dibutuhkan saat ini. Kehebatannya melebihi superman, spiderman, salesman, indocement atau hanoman. Tak perlu menunggu kesamber petir atau digigit laba-laba untuk jadi pahlawan baru ini. Juga tak butuh kostum yang aneh-aneh semisal underwear yang dipakai di bagian luar ditambah inisial ‘S’ di dada. Orang bisa langsung menebak kalau ‘S’ yang dimaksud adalah Stress. Ya hanya orang stress yang bangga memakai CD di bagian luar. Fatherman tidak seperti itu. Untuk menjadi fatherman syaratnya cukup simpel. Jika Anda laki-laki dewasa yang siap mengasuh anak dengan segudang tanggung jawab di luar, maka Anda siap dilantik menjadi fatherman. Yang Anda butuhkan hanya skill dasar menjadi Fatherman sekaligus topi peran yang siap berganti tergantung situasi.

Topi peran ini ibarat kostum yang harus dimiliki seorang fatherman. Dengan topi ini fatherman bisa mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang tangguh. Topi ini juga bisa jadi senjata untuk menyelamatkan generasi muda saat ini dari kebingungan menghadapi tekanan zaman. Dimulai dari kepungan game online, pornografi hingga narkoba. Fatherman dengan kekuatan yang dimilikinya mampu menyelamatkan mereka. Rahasianya ada di topi ini yang akan dibahas lebih mendalam di bagian berikutnya. Apa saja topi yang dimaksud?
1. Topi Konselor
2. Topi Guru
3. Topi Pengasuh
4. Topi Motivator
5. Topi Entertainer
6. Topi Distributor
7. Topi Donor atau Donatur

Dengan ketujuh topi ini seorang Fatherman akan mampu mengatasi krisis moral di kalangan generasi muda. Mengubah generasi yang kerap dicaci menjadi generasi yang penuh dengan sanjungan dan puji.

Namun perlu diingat, setiap super hero ada kelemahannya yang bisa menjadi hambatannya dalam menunaikan tugas. Superman melemah terkena krypton. Batman takluk di tangan wanita bernama catwoman. Ini mungkin kelemahan hampir semua lelaki. Samson pun hilang kekuatannya saat rambutnya dicukur habis. Dalam versi betawi bahkan disebutkan rambut yang dimaksud adalah rambut ketiak. Hmmm… sepertinya samson masih bisa beralih jadi bintang iklan rexona jika sudah pensiun. Atau ultraman yang bakal pensiun dini kalau berendam di air terlalu lama. Ingat, ultraman kekuatannya bersumber dari listrik. Bisa rusak kalau kena air. Habis itu ketemu juragan madura. Jadilah potongan badan ultraman terperosok dalam timbangan. Tinggal dikiloin saja.

Demikian pula sosok fatherman. Memiliki musuh dan pantangan yang akan menghalangi tugasnya sebagai super hero. Dan pantangan terbesar fatherman adalah gadget alias HP atau tablet. Ya, begitu banyak sosok fatherman di era sekarang yang akhirnya tunduk tak berdaya di depan gadget. Anak dibiarkan main sendiri sementara sang pahlawan terbius permainan duel otak atau angry bird di layar gadget. Atau saat anak sedih dan butuh hiburan, sang fatherman nampak tunduk tak berdaya seperti terhipnotis. Sesekali cengengesan memandang layar gadget. Bayangkan betapa terlukanya anak. Di saat ia sedih, sang super hero yang dirindukan malah tertawa di atas penderitaan mereka. Ibarat penganten sunat yang tersepak bola tepat di bagian kemaluannya. Ngilu euy.

Wasiat pertama yang harus disampaikan kepada calon fatherman : berlatih sedari sekarang tuk menaklukkan saingan utama pengasuhan yakni gadget dan yang semisal dengannya. Mulai sepakati bersama pasangan kapan jam pemakaian, durasi, lokasi serta situasi dimana gadget ini boleh digunakan. Jika tidak, sehebat apapun jurus dan senjata seorang fatherman tuk selamatkan generasi saat ini, niscaya roboh dan tak berguna jika tak pandai menguasai benda mungil dan ajaib ini.

Jika Anda sudah berlatih mengendalikan pantangan sosok superhero ini, bersiaplah mendapatkan panggilan. Bukan dari KPK apalagi panggilan Yang Maha Kuasa. Ini panggilan khusus dari negeri sebagai alarm yang menandakan negeri ini butuh sosok pahlawan seperti Anda. Dan jawablah panggilan ini segera dengan ucapan : Aku OTW. Meski sebenarnya Anda masih memeluk guling di ranjang yang nyaman. Selamat datang Fatherman!

 (bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

IBU HAMIL DAN MENYUSUI, BAGAIMANA PUASANYA?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

👳USTADZ MENJAWAB
📚Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿💐🌴🌿💐🌴🌿💐🌴

Apakah benar ibu hamil dan menyusui itu bayar fidyah, ketika tidak bisa puasa ramadhan? Atau harus qodho?
Dan ketika kasusnya seseorang itu melahirkan di awal ramadhan..otomatis kan dia nifas satu bulan penuh ramadhan tdk bisa puasa.. jika seperti itu kasusnya apakah ibu ini dihukumi sebagai ibu mnyusui juga yg boleh bayar fidyah ato ya harus bayar ganti puasa karna nifas?
🅰2⃣1⃣

🌿🌿🌿🌿🌿

Jawaban_______

Ibu hamil dan menyusui adalah dua macam ‘udzur dibolehkannya meninggalkan puasa. Namun, dia diwajibkan menggantinya. Ini adalah kesepakatan (ittifaq) para fuqaha (ahli fiqih) sejak dahulu hingga hari ini. Jika dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dan tidak khawatir terhadap kesehatan dirinya dan janinnya, maka dia boleh memilih, puasa atau tidak. Keduanya dibenarkan, namun puasa lebih afdhal, karena tubuhnya kuat tadi.

Hanya saja, para fuqaha berselisih (ikhtilaf), dengan apa dia harus mengganti puasa. Qadhakah (berpuasa pada hari di luar Ramadhan)? Atau fidyah? Perlu diketahui, Qadha merupakan mengganti puasa di hari selain Ramadhan karena dia masih mampu untuk berpuasa di hari lain tersebut. Seperti musafir, orang sakit yang masih punya harapan sembuh, hamil dan menyusui, pekerja keras, orang yang perang, dipaksa/diancam untuk tidak puasa.

Sedangkan Fidyah adalah mengganti puasa bagi orang yang sudah tidak mampu lagi berpuasa dengan memberikan makanan pokok yang mengenyangkan kepada orang miskin, sebanyak jumlah hari yang dia tinggalkan. Seperti sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh, orang yang sangat tua, orang yang selalu bergelut dengan pekerja keras tiap hari. Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, ibu hamil dan menyusui termasuk golongan ini.

Untuk Qadha dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Untuk Fidyah dalilnya adalah kalimat selanjutnya, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. al-Baqarah (2): 184)

Perbedaan pandangan ulama dalam hal ini sangat wajar. Sebab memang ayat tersebut tidak merinci siapa sajakah yang termasuk orang-orang yang berat menjalankannya. Dalam hadits pun tidak ada perinciannya. Adapun tentang Qadha secara khusus, ayat di atas menyebut musafir dan orang yang sakit. Sedangkan ayat tentang Fidyah, tidak dirinci hanya disebut orang yang berat menjalankannya.

Nah, khusus ibu hamil dan menyusui, jika kita melihat keseluruhan pandangan ulama yang ada, bisa kita ringkas seperti yang dikatakan Imam Ibnu Katsir,[1] bahwa ada empat pandangan/pendapat ulama. Berikut rinciannya, silahkan perhatikan baik-baik:

Pertama, kelompok ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah sekaligus. Ini adalah pandangan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i. Dilakukan jika Si Ibu mengkhawatiri keselamatan janin atau bayinya.

Kedua, kelompok ulama yang mewajjibkan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah pandangan beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin ‘Abbas, dan Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Dari kalangan tabi’in (murid-murid para sahabat) adalah Said bin Jubeir,[2] Mujahid, dan lainnya. Kalangan tabi’ut tabi’in (murid para tabi’in) seperti al-Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an-Nakha’i.

Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih, Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepada hamba sahayanya yang sedang hamil, “Kau sama dengan orang yang sulit berpuasa, maka bayarlah fidyah dan tidak usah qadha.”

Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil yang khawatir keselamatan anaknya kalau ia berpuasa. Dia menjawab, “Hendaknya dia berbuka. Sebagai gantinya, hendaklah dia memberi makanan kepada seorang miskin sebanyak satu mud gandum.” (Riwayat Malik )

Ketiga, kelompok ulama yang mewajibkan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madzhab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal ikut pendapat ini, jika sebabnya karena mengkhawatiri keselamatan Si Ibu, atau keselamatan Ibu dan janin (bayi) sekaligus.

Keempat, ke ompok ulama yang mengatakan tidak qadha, tidak pula fidyah.

Demikianlah berbagai perbedaan tersebut. Nah, pendapat manakah yang sebaiknya kita ikuti? Seorang ahli fiqih abad ini, Al-‘Allamah Syaikh Yusuf al-Qaradhawy hafizhahullah,[3] dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) memberikan jalan keluar dan kompromi yang bagus. Beliau berkata:

“Banyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, merupakan rahmat dari Allah bagi mereka, jika tidak dibebani kewajiban qadha, namun cukup dengan fidyah. Di samping hal ini merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan materi.

Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana umumnya ibu-ibu di masa kita saat ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, kadang-kadang hanya mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih tepat pendapat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah).”

Jadi, beragam pendapat ini tidak diposisikan saling vis a vis (saling berhadap-hadapan). Tetapi semuanya disesuaikan keadaan wanitanya. Jika wanita tersebut sering hamil, tiap tahun atau dua tahun sekali, sulit baginya melakukan qadha, maka bagi dia fidyah saja. Adapun, jika hamilnya jarang, ada waktu jeda dia tidak hamil maka wajib baginya qadha di masa jeda itu, bukan fidyah. Inilah pendapat yang nampaknya adil, seimbang, sesuai ruh syariat Islam.

Bagi wanita yg lagi nifas sama ketika wanita haid yaitu mengqodho atau mengganti puasa.

Demikian. Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan :
Www.iman-islam,com

💼Sebarkan! Raih pahala, …….

BOLEHKAH AQIQAH DILUAR TANGGAL 7, 14, 21?

👳Ustadz Menjawab
✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Assalamu’alaikum wr wb..
Saya mau mnanyakan tentang seputar aqiqah,
1. apa hukum mengaqiqahkan anak?
2. apakah boleh mengaqiqahkan bukan pada hari ke7(hari ke 14,21 dst)
3. setelah mencukur rambut,
kemudian ditimbang dan dihargai apakah dengan harga emas ataukah dengan harga perak?
4. apakah boleh membagikan uang yg dari mencukur rambut anak yg aqiqah beberapa bulan setelahnya?
Demikian jazakallah khairan katsira. Member Manis 🅰2⃣8⃣.
                                                        🌴Jawaban nya.                                                                
🌴🌻Tentang AQIQAH🌻🌴
Wa alaikumsalam wr wb…..                                  1⃣ Definisi Aqiqah:
 Imam Ibnu Hajar Rahimahullah, beliau menulis sebagai berikut dalam Al Fath:

قَالَ الْخَطَّابِيُّ : الْعَقِيقَة اِسْم الشَّاة الْمَذْبُوحَة عَنْ الْوَلَد ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهَا تُعَقّ مَذَابِحهَا أَيْ تُشَقّ وَتَقْطَع . قَالَ : وَقِيلَ هِيَ الشَّعْر الَّذِي يُحْلَق . وَقَالَ اِبْن فَارِس : الشَّاة الَّتِي تُذْبَح وَالشَّعْر كُلّ مِنْهُمَا يُسَمَّى عَقِيقَة

Berkata Al Khaththabi: Aqiqah adalah nama bagi kambing yang disembelih karena kelahiran bayi. Dinamakan seperti itu karena aqiqah adalah merobek sembelihan tersebut yaitu mengoyak dan memotong. Dia berkata: dikatakan aqiqah adalah rambut yang sedang dicukur. Berkata Ibnu Faris: Kambing yang disembelih dan rambut, keduanya dinamakan aqiqah. (Fathul Bari, 9/586. Darul Fikr)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

الْعَقِيقَةُ هِيَ الذَّبِيحَةُ الَّتِي تُذْبَحُ لِلْمَوْلُودِ .
وَأَصْلُ الْعَقِّ الشَّقُّ وَالْقَطْعُ وَقِيلَ لِلذَّبِيحَةِ عَقِيقَةٌ لِأَنَّهُ يَشُقُّ حَلْقَهَا وَيُقَالُ عَقِيقَةٌ لِلشَّعْرِ الَّذِي يَخْرُجُ عَلَى رَأْسِ الْمَوْلُودِ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ وَجَعَلَهُ الزَّمَخْشَرِيُّ أَصْلًا وَالشَّاةُ الْمَذْبُوحَةُ مُشْتَقَّةٌ مِنْهُ .

“Aqiqah adalah hewan sembelihan yang disembelih untuk bayi. Berasal dari merobek, mengoyak, dan memutus. Dikatakan,  sembelihan adalah aqiqah, karena merobek dan mecukurnya. Dikatakan aqiqah pula bagi rambut yang tumbuh di kepala bayi dari perut ibunya. Az Zamakhsyari mengatakan itu adalah kata asal dari aqiqah, dan kambing sembelihan termasuk kata yang berasal   dari itu.  (Subulus Salam, 6/328. Lihat juga Nailul Authar, 5/ 132.  Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Lihat juga, Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 8/25. Darul Kutub Al ‘Ilmiah )

2⃣ Dalil Pensyariatannya:
Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 كلُّ غلامٍ رهينةٌ بعقيقته: تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق، ويسمى

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. Lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhabbi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah (kambing), dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari No. 5154. At Tirmidzi No. 1551 Ibnu Majah No. 3164. Ahmad No. 17200)

Maksud dari “hilangkanlah gangguan darinya” adalah mencukur rambut kepalanya (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah).  Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa Imam Muhammad bin Sirin berkata: “Jikalau makna ‘menghilangkan gangguan’ adalah bukan mencukur rambut, aku tak tahu lagi apa itu.”  Al Ashmu’i telah memastikan bahwa maknanya adalah mencukur rambut. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih, bahwa Al Hasan Al Bashri juga mengatakan demikian. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 9/593. Darul Fikr)

Apa maksud kalimat “Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya”? Imam Al Khaththabi mengatakan, telah terjadi perbedaan pendapat tentang makna tersebut. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, maksudnya adalah setiap anak yang lahir dan dia belum diaqiqahkan, lalu dia wafat ketika masih anak-anak,  maka dia tidak bisa memberikan syafa’at kepada kedua orang tuanya. Sementara, pengarang Al Masyariq dan An Nihayah mengatakan, maksudnya adalah bahwa tidaklah diberi nama dan dicukur rambutnya kecuali setelah disembelih aqiqahnya. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/133.  Maktabah Ad Da’wah Islamiyah. Imam Abu Thayyib Syamsul Haq ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 8/27. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Seorang tokoh tabi’in, ‘Atha bin Abi Rabbah mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ahmad, maksud kalimat tersebut adalah orang tua terhalang mendapatkan syafa’at dari anaknya. (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

3⃣ Hukumnya
Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وذهب الجمهور من العترة وغيرهم إلى انها سنة

“Madzhab jumhur (mayoritas) ulama dan lainnya adalah aqiqah itu sunah.” (Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad da’wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

والعقيقة سنة مؤكدة ولو كان الاب معسرا، فعلها الرسول، صلى الله عليه وسلم، وفعلها أصحابه، روى أصحاب السنن أن النبي، صلى الله عليه وسلم، عق عن الحسن والحسين كبشا كبشا، ويرى وجوبها الليث وداود الظاهري.

“Aqiqah adalah sunah mu’akkadah walau keadaan orang tuanya sulit, Rasulullah telah melaksanakannya, begitu pula para sahabat. Para pengarang kitab As Sunan  telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meng-aqiqahkan Hasan dan Husein dengan masing-masing satu  kambing kibas. Sedangkan menurut Laits bin Sa’ad dan Daud Azh Zhahiri aqiqah adalah wajib.” (Fiqhus Sunnah, 3/326. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Sedangkan, Imam Abu Hanifah justru membid’ahkan Aqiqah! (Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/217. Dar ‘Alim Al Kitab)

Pengarang kitab Al Bahr menyebutkan, bahwa Imam Abu Hanifah menilai Aqiqah merupakan kejahiliyahan. Imam Asy Syaukani mengatakan, jika benar itu dari Abu Hanifah, maka hal itu bisa jadi dikarenakan belum sampai kepadanya hadits-hadits tentang aqiqah. Sementara Imam Muhammad bin Hasan mengatakan Aqiqah adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam dengan qurban. Sementara, justru kalangan zhahiriyah (yakni Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm, pen) dan Imam Al Hasan Al Bashri mengatakan wajib. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad da’wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 38. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa aqiqah adalah wajib. (Al Muhalla, 7/523. Darul Fikr)

Pendapat yang benar dan lebih kuat, hukum aqiqah adalah sunah. Hal ini didasari oleh hadits berikut:

من ولد له فأحب أن ينسك عن ولده فليفعل

“Barang siapa dilahirkan untuknya seorang bayi, dan dia mau menyembelih (kambing) untuk bayinya, maka lakukanlah.” (HR. Malik No. 1066. Ahmad No. 22053. Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat seorang yang tidak menjatuhkan hadits ini, dan periwayat lainnya adalah para periwayat hadits shahih. Majma’ Az Zawaid, 4/57)

  Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa penyembelihan dikaitkan dengan kemauan orangnya. Kalau dia mau, maka lakukanlah. Maka, tidak syak lagi bahwa pendapat jumhur (mayoritas) ulama lebih kuat dan benar, bahwa aqiqah adalah sunah.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai pengalih kewajiban aqiqah menjadi sunah. (Subulus Salam, 6/329)

4⃣ Tentang Mencukur Rambut
Mencukur semuanya, bukan sebagiannya.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ القَزَعِ

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang qaza’. (HR. Bukhari No. 5921 dan Muslim No. 2120)

Apakah Qaza’? Nafi’ –seorang tabi’in dan pelayan Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan:

يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِيِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ

Kepala bayi yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian lainnya. (HR. Muslim No. 2120)

Contoh qaza’ adalah seorang yang membiarkan bagian depan kepala, tapi mencukur bagian belakangnya, atau yang tengah dibiarkan tapi kanan kirinya dicukur. Inilah yang kita lihat dari model-model rambut orang kafir yang ditiru remaja Islam. Kadang ada orang tua yang mencukur anaknya seperti ini lalu dibuat buntut, sekedar untuk lucu-lucuan.

Lalu, menimbang potongan rambut itu, dan disesuaikan dengan berat perak untuk disedekahkan. Ini jika dalam kelapangan ekonomi.

Sebagian kecil ulama seperti Imam Ar Rafi’i memilih menggunakan emas. Mungkin karena perak jarang dipakai oleh manusia.

Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Dhayyan berkata : “Dan disunnahkan mencukur rambut bayi, bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya dan diberi nama pada hari ketujuhnya. Masih ada ulama yang menerangkan tentang sunnahnya amalan tersebut (bersedekah dengan perak seperti A l Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Imam Ahmad, dan lain-lain.”

Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Anas bin Malik, Bahwasanya Rasulullah memerintahkan mencukur rambut Hasan dan Husein, anak Ali bin Abi Thalib, pada hari ke tujuh, kemudian bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut Hasan dan Husein itu. (HR. Thabrani dalam Al Ausath, 1/133)

Hadits jalur Anas bin Malik ini dhaif (lemah), namun ada hadits lain yang serupa, dari jalur Abdullah bin Abbas, yang bisa menguatkannya. Sehingga hadits di atas naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi.

Berkata Imam Ibnu Hajar, “Seluruh riwayat yang ada sepakat tentang penyebutan bersedekah dengan perak. Tidak ada satu pun yang menyebutkan emas. Berbeda dengan perkataan Ar Rafi’i, bahwa disunnahkan bersedekah dengan emas seberat timbangan rambut, kalau tidak sanggup maka dengan perak. Riwayat yang menyebut bersedekah dengan emas dhaif dan tak ada yang menguatkannya!” (Talkhis al Habir IV/1408)
Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

POTONGAN TABUNGAN

🌍Ustadz Menjawab
👳🏼Ustadz Rikza Maulana Lc. M.Ag

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Assalamu’alaikum..mau tanya ustadz/ah..bagaimana hukum potongan tabungan sebesar 10% di salah satu pusat pendidikan. Kesepakatan itu tertera di dlm lembaran kesepakatan antara pihak sekolah dgn ortu santri. Walaupun sebagaian mereka keberatan krn terlalu besar. Namun mereka masih ada yg tetap menabung. Ketika salah satu pengajar menanyakan perihal tersebut, pihak sekolah beralasan uang yg di tabung di bank jg terkena potongan. Dari pihak pengajar memberikan masukan agar pindah bank saja yg tdk terkena potongan atau lbh kecil potongannya. Apakah sistem ini bisa di kategorikan riba? atau masuk ke hukum kesepakan. Syukron..   A16

Jawaban
——————

Waalaikumsalam wr wb..
Seharusnya tidak boleh tabungan dipotong 10% oleh guru atau sekolah kecuali apabila jelas keperluannya dan atas persetujuan kedua belah pihak. Misalnya utk keperluan wisuda, buku, dsb. Adapun jika tidak ada keperluan yang jelas, maka tidak boleh, krn berarti mengambil hak orang lain secara bathil.
Wallahu A’lam.        

🌾🌺🌻🌹🍀🌷🌸💐🍄

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Meraih ATS-TSABAT Bersama Surat Ali “Imran

📆 Jumat, 01 Rajab 1437H / 08 April 2016

📚 Tsaqofah

📝 Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

📋 Meraih ATS-TSABAT Bersama Surat Ali “Imran

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Ats-Tsabat secara mudahnya bermakna keteguhan, konsistensi, mengandung unsur sabar, dan ketenangan, ada unsur merasakan kenikmatan, sehingga ingin terus menerus berada di dalamnya hingga menyelesaikannya atau diselesaikan.

Dalam terma ats-Tsabat ada makna kesungguhan di dalamnya.

Bersungguh-sungguh di dalam meraih tujuan utamanya, meskipun selama usahanya membutuhkan waktu yang amat lama, tahapan demi tahapan yang banyak, dan ujian maupun cobaan yang begitu beragam.

Antum bisa simak Quran Surah al-Ahzab ayat ke-23 dalam hal ini. Bahwa di antara manusia ada yang menepati janji mereka kepada Rabb mereka.

Dalam menepati janji tersebut bahkan ada di antara mereka yang gugur syahid, namun ada pula sebagian lagi yang menunggu-nunggu kapan waktu mereka untuk gugur syahid, namun selama masa penantian tersebut ia tidak pernah sekalipun mengubah janjinya untuk sentiasa dikenal sebagai perindu syahid.

Mungkin bagi sebagian manusia, kalau berbicara waktu akan segera teringat bahwa ‘waktu adalah uang’, tapi bagi para perindu syahid, waktu sejatinya adalah bagian dari solusi (al-waktu juz-un min al-‘ilaaj), bagian dari upayanya untuk terus meningkatkan maqamnya di hadapan Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Hal ini karena ia telah berada pada tingkat keyakinan yang penuh, tanpa keraguan sedikitpun, bahwa memang tiada pilihan lain bagi dirinya kecuali berada pada sebuah jalan, yang jalan itu diyakininya penuh dengan keberkahan dan keridhaan-Nya. Jalan yang menyediakan balasan terbaik yang amat besar dan sangat menarik hatinya, sehingga ia pun tetap fokus berada di dalam jalan tersebut.

Begitu pentingnya fokus dalam menjalani sesuatu, dalam apapun itu, namun dalam konteks ini, fokus untuk sentiasa berada dalam SHIRAT AL-MUSTAQIM. Sehingga Nabi kita yang mulia (Sha), sampai memvisualisasikan pelajarannya di atas pepasir, dengan menggariskan bahwa inilah jalan yang lurus itu, fokus lah untuk mengikutinya, dan jangan terkecoh dengan panggilan kiri dan kanan yang melenakan, jangan terkelabui dengan panggilan kiri dan kanan yang menyediakan kenikmatan semu, karena di jalan SHIRAT AL-MUSTAQIM tersedia kenikmatan sesungguhnya nan abadi.
Inilah tingkat keteguhan untuk tujuan hidup yang tertinggi.

Bersama ruh ini, kita bisa aplikasikan dalam seluruh aktivitas kebaikan yang telah kita mulai. Jangan pernah berhenti sebelum manusia meraih hal terbaik dari apa yang telah ia mulai.

Maka dalam konteks ini, ATS-TSABAT memiliki unsur SHABR, dan ketika berbicara SHABR, minimal ia memiliki 3 dimensi:
1) Sabar dalam ketaqwaan;
2) Sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan;
3) Sabar ketika diujikan dengan musibah pada kesempatan pertama.

Kalau begitu, apa kaitannya dengan surat Ali ‘Imran?

💦Pertama, yang harus dipahami, bahwa setiap ayat di dalam sebuah surah, atau antara surah dengan surah, atau ayat dengan surah, memiliki kesatuan makna yang saling menguatkan. Inilah keindahan Al-Qur’an.

💦Kedua, nama dari sebuah surah perlu ditadabburi karena ia merupakan topik utama yang mengandung banyak pelajaran

💦Ketiga, karena ternyata di dalam surah ini mengandung banyak pelajaran ATS-TSABAT

▶Apa yang membuat seseorang berada pada sebuah jalan? PETUNJUK (Al-HUDA)

▶Apa yang membuat seseorang tetap berada pada sebuah jalan? PETUNJUK (AL-HUDA)

▶Untuk apa seseorang berada di dalam sebuah jalan? PETUNJUK (AL-HUDA)

▶Setiap hari, muslim berdo’a kepada Allah Swt untuk memohon AL-HUDA. Betul?
IHDINA, Berikan kami HUDA
Selalulah berdoa dengan seluruh adabnya
Setelah manusia memujinya, menegaskan penghambaannya, ia berdo’a : IHDINA

Berikan kami HUDA

🌹Dan ternyata Allah Swt segera menjawab di dalam Q.S. Al-Baqarah, ‘Fiihi HUDA”

🌹Dan ternyata Allah Swt membimbing kita di dalam Q.S. Ali ‘Imran untuk sentiasa memohon agar HUDA itu tidak tercerabut, “Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa ba’da Idz HADAItanaa …..”

Maka sudahkah kita membaca do’a ‘IHDINA’ itu dengan seluruh kekhawatiran bahwa do’a kita tidak dikabulkannya, dengan seluruh pengharapan lirih bahwa do’a kita dikabulkannya ….. (Introspeksi Diri)

Selanjutnya … jika antum perhatikan, Surat Al Fatihah diakhiri dengan do’a, ternyata Surat Al Baqarah pun diakhiri dengan do’a (Rabbanaa Laa tahmil ‘alainaa ….), dan ternyata Surat Ali ‘Imran pun diakhiri dengan do’a setelah manusia diminta untuk sentiasa ingat kepadanya (Rabbanaa innaka man tudkhilinnaara faqad akhzaitah ….)

Inilah mengapa Nabi Saw mengajak umatnya, ‘TA’ALLAMUU, Pelajarilah kedua surat ini.’, dua surat yang disebut dengan ZAHRAWAAN, dua surat yang bercahaya.

🌿Perlu antum ketahui, bahwa Surat Ali ‘Imran diturunkan setelah Surat Al-Anfal, namun disusun setelah Surat Al-Baqarah.

🌿Perlu antum ketahui, bahwa Surat ini bukan diturunkan kepada manusia yang baru mengenal Islam, tapi Surat ini diturunkan 20 tahun setelah masa kenabian. Diturunkan kepada manusia yang sudah melewati ragam tribulasi dakwah!

🚀Dan ternyata seluruh isinya berkaitan dengan ATS-TSABAT (Keteguhan), dan ternyata semakin lama manusia ber-Islam, ia tetap perlu dikuatkan motivasinya agar sentiasa di dalam AL-HUDA.

Ini yang membuat bahwa tema ATS-TSABAT akan selalu relevan dalam seluruh umur-umur kita, karena umumnya manusia dalam berjalan menuju SHIRAT AL-MUSTAQIM sering terganggu karena dua hal, kita sebut saja FAKTOR INTERNAL dan FAKTOR EKSTERNAL.

✅Kita sebut Faktor Internal, karena biasanya Ats-Tsabat terganggu karena sesuatu yang datang dari dalam diri, mungkin berwujud pemikiran ‘menyimpang’ karena berpikir mendalam tapi tidak di bawah naungan wahyu.

✅Kita sebut Faktor Eksternal, karena biasanya Ats-Tsabat terganggu karena faktor-faktor dari luar dirinya. Bukan berarti manusia meninggalkan jalan AL-HUDA, tapi mungkin ia sekedar TIDAK MEMPRIORITASKANNYA, karena kesibukannya di dunia mengejar harta, tahta dan wanita.

Allah Swt sangat mengetahui fitrah manusia tersebut, maka membaca Surat Ali ‘Imran perlu memahami bahwa surat ini memberi ruang dialog dan obat untuk kedua persoalan tersebut, dan hal ini dapat kita lihat bahwa FAKTOR INTERNAL dirangkum dalam ayat 01-120, dan FAKTOR EKSTERNAL dirangkum dalam ayat 121-200.

Apa hal besar yang diangkat dalam kedua bagian besar itu dalam konteks Surat Ali ‘Imran?

Berbicara tentang Faktor Internal akibat pemikiran yang terganggu, Allah Swt mengangkat kisah 60 Nasrani ditemani 10 pemuka agamanya untuk berdebat dengan Nabi Saw terkait konsep Isa a.s sebagai Nabi.

Berbicara tentang Faktor Eksternal akibat gangguan luar yang membuatnya tidak memprioritaskan tujuan utamanya, Allah Swt mengangkat kisah Perang UHUD.

Islam adalah agama Ilmiah dan Dialog, disinilah KASIH dan DAMAI Islam.

Hal itu tercermin, betapa perbedaan pemikiran antara Nabi Saw dan 70 orang Nasrani adalah 180 derajat, namun Nabi Saw mencontohkan betapa akhlaknya dalam melayani tamunya sangat-sangat luar biasa.

Dengan penuh hikmah Nabi Saw mengajarkan Nasrani logika berpikir yang benar, mulai dari permisalan-permisalah sederhana, mulai meningkat medium, hingga puncaknya ketika tidak ada kata sepakat, muncullah MUBAHALAH!

Dan TERNYATA … setelah itu Allah tutup pembicaraan itu dengan konsep SABAR, baca ayat 120!

Ingat bahwa mujahid perang UHUD adalah Alumni BADAR, profesionalitasnya luar biasa, tapi tetap SABAR menjadi penting, maka Allah tutup pembicaraan itu, bahkan surat itu, dengan konsep SABAR, baca ayat 200!

Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, dan bantulah sekitarmu untuk bersabar, dan tetaplah, teguhlah, profesionallah, dalam amanah, tugas, beban yang dipercayakan kepadamu!

Ya bahwa ALIF LAM MIM (Bukan judul film Indonesia), terkadang dimaknai sebagai nama Surat, Nama Ayat, atau huruf-huruf muqotha’ah tanpa makna, tapi juga para ulama mengingatkan bahwa ALIF LAM MIM adalah juga huruf-huruf Arab yang digunakan oleh orang-orang Nasrani sehari-harinya.

Maka kalau memang mereka mampu, cobalah buat surat yang memiliki ruh seperti AL-HUDA! Padahal AL-HUDA itu telah diwahyukan dengan ruh bagi para pembacanya!

Hanya di surat ini kemudian ditegaskan secara berulang bahwa ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR, setuju?

Maka untuk mencapai ATS-TSABAT itu, minimal ada 5 (LIMA) hal yang bisa kita lakukan:

🔹1) Banyak berdo’a dan berlindung kepada-Nya, banyak sekali do’a bertaburan menyelingi setiap pelajaran di surat ini, diantaranya WA TSABBIT AQDAAMANAA (TEGUHKAN/TETAPKAN PENDIRIKAN KAMI);

🔹2) Banyak beribadah, karena ibadah adalah ruh dan sumber motivasi;

🔹3) Dakwah, karena dakwah melibatkan dialogis, mau’izhah, semangat menuntut ilmu, memindahkan fikrah dalam otak manusia dari situasi kepuasan (qana’ah) kepada wilayah identitas (hawiyah) dan loyalitas (intima’);

🔹4) Menghayati betapa jelasnya tujuan hidupnya; dan

🔹5) Ukhuwah.

Maka inilah rahasia mengapa surat ini dinamakan ALI ‘IMRAN, karena Allah Swt telah mengangkat dua figur wanita terbaik (Istri ‘Imran, dan Maryam) sebagai contoh keteladanan dalam ATS-TSABAT! Bahkan karena keteguhannya, Nabi Zakaria a.s. pun belajar kepada Maryam, karena wanita terkadang dapat dijadikan contoh sebagai SIMBOL KETEGUHAN, maka jangan lupa, setelah surat Ali ‘Imran, dihadirkan Surat An-Nisa’ (WANITA).

Maka ana tutup dengan do’a, Yaa Muqallibal Quluub, TSABBIT Quluubana ‘alaa diinika, Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘alaa Thaa’atika.

Selanjutnya silahkan sharing pendapatnya.

Nas-alullaaha salaamatan wal ‘aafiyah, al-‘afwu minkum, Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MENIKAHI WANITA HAMIL

👳USTADZ MENJAWAB
✏ Ustadz Farid Nu’man

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Assalamu’alaikum Wr. Wb ustadz/ah…
bagaimana seseorang laki2 menikah dengan wanita yg hamil 3 bulan sedangkan anak yg dikandunganya itu bukan anaknya melainkan perbuatan laki2 lain. Tapi laki2 ini tau dan beliau ttp menikahinya..

JAWABAN
——————-

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain. Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).
Abu Hanifah membolehkan akad sebelum  istibra’ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh  jima’ (hubungan badan) dulu  sampai dia melahirkan.
Asy Syafi’i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafi’i.
Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.”

# Nikahnya Wanita Hamil
Harus dirinci sebagai berikut:
1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?
Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena ‘iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?
Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafi’i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.
Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah. Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian. Wallahu A’lam

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….