Wasiat

Assalamu’alaikum ustad/ustadzah ya…
Bgmn hukumnya apabila kami melakukan pembagian warisan dlm keluarga namun tdk sesuai wasiat ayah kami yg sudah wafat.semasa hidup ayah kami berwasiat namun tdk secara keseluruhan utk warisan yg ditinggalkan. maka dengan alasan mempermudah pembagian warisan krn warisan ayah kami ada dibeberapa tempat, maka kakak kami membaginya dgn cara yg diaturnya menurut pembagian syariat scara islam. namun pembagian ini ada yg lbh utk kk kami yg tertua laki2 krn  rmh yg kakak kami tempati itu sdh di huni dan direhab oleh kakak kami semasa ayah kami msh hidup dan tdk masuk dlm hitungan beliau utk warisan yg dibagi stelah ayah kami wafat.kami 5 brsaudara 3 perempuan dan 2 laki2. ibu msh hidup. mohon jawabannya ustad/ustadzah .syukron ats jawabannya.

🍃🍃 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
pada dasarnya wasiat mesti dijalankan oleh si penerima wasiat. Tp, itu tidak mutlak. Jika isi wasiat bertentangan dgn nash-nash syariat maka tidak boleh ditaati.

📌 Untuk wasiat harta, tidak boleh diberikan kepada anak, tetapi kepada orang tua atau  kerabat atau siapa pun yg ingin diwasiatkan, biasanya memang ada hub dekat, sebab pada hakikatnya wasiat adalah sedekah. Maksimal 1/3 harta. Banyak org tidak paham ini, mereka mewasiatkan harta juga diberikan ke anak-anaknya, itu keliru. Sebab, anak-anak akan dapat dari warisan.

Allah Ta’ala berfirman: 

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (20: 180)

Dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: 

عنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ لَا الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ )رواه مسلم(

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu: Rasulullah pernah menjenguk saya waktu haji wada’ karena sakit keras yang saya alami sampai hampir saja saya meninggal. Lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah saya sedang sakit keras sebagaimana engkau sendiri melihatnya sedangkan saya mempunyai banyak harta dan tidak ada yang mewarisi saya, kecuali anak perempuan satu-satunya. Bolehkah saya menyedekahkan sebanyak 2/3 dari harta saya?”

Beliau menjawab:  “Tidak” saya mengatakan lagi bolehkah saya menyedekahkan separoh harta saya?

Beliau menjawab “Tidak” sepertiga saja yang boleh kamu sedekahkan, sedangkan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, menengadahkan tangan meminta-minta pda orang banyak. Apapun yang kamu nafkahkan karena ridha Allah, kamu mendapat pahala karenanya, bahkan termasuk satu suap untuk istrimu”. (HR. Muslim) 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam hadits lain :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُل ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Sesungguhnya Allah telah memberikan setiap orang masing-masing haknya. Maka tidak boleh harta itu diwasiatkan untuk ahli waris. (HR. At-Tirmizy No. 2046, Abu Daud No. 2486. Shahih)

Dengan demikian, wasiat tersebut tdk wajib ditaati karena tidak bersesuaian dgn Al Quran dan As Sunnah, baik dari sisi sasaran dan jumlah pembagiannya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No.381, Alauddin Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 14401, Al Khathib, 10/22. Imam Al Haitsami mengatakan: para perawinya Ahmad dalah para perawi shahih. Majma’ Az Zawaid, 5/407. Syaikh Muhammad bin Darwisy mengatakan: diriwayatkan Ahmad dan sanadnya shahih. Lihat ​Asnal Mathalib​, No. 1713)

Kesimpulan, hendaknya memakai hukum Allah Ta’ala, bukan hawa nafsu manusia. Sebagaimana firmanNya:

ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah: 44)

Ayat lain:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa: 65)

Wallahu a’lam.

Zakat Kendaraan dan Perniagaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ah …
Boleh mengajukan pertanyaan :
1. Apakah mobil atau kendaraan ada zakat yang harus dibayarkan ?
2. Hukum zakat dlm perniagaan apakah sama dengan zakat penghasilan 2,5 % ?
A 30

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
1. Apabila kendaraan tersebut, baik mobil atau motor untuk digunakan sehari-hari sebagai sarana transportasi maka tidak perlu dikeluarkan zakatnya.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Tidak ada kewajiban atas seorang muslim untuk menzakati hamba sahayanya dan kuda tunggangannya” (HR Bukhari).

Hadis ini menjadi landasan bahwa kekayaan untuk pemakaian pribadi tidak ada kewajiban zakatnya, Nabi SAW hanya mewajibkan pada harta yang berkembang dan diinvestasikan. Hal ini juga didukung oleh pendapat Imam Nawawi.

Hanya saja, status mobil sebagai harta tidak wajib dizakati dapat berubah menjadi harta yang wajib dizakati bila status dan fungsi mobil itu berubah status sebagai barang dagangan atau sebagai barang sewaan. Apabila berubah menjadi barang dagangan, maka mobil itu harus dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan zakat perdagangan.

2. Zakat perdagangan dikeluarkan oleh seseorang yang keuntungannya telah mencapai nishab (senilai 85 gram emas) dan genap satu tahun. Untuk orang yang berbisnis mobil, maka zakat dikeluarkan dari nilai mobil tersebut. Sedangkan nilai zakatnya adalah 2,5 persen.

Berbeda halnya bila fungsi mobil itu menjadi barang sewaan, maka zakatnya dikeluarkan dari hasil sewanya.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi  berpendapat bahwa zakat yang dikeluarkan adalah 10 persen setelah dikurangi biaya operasional. Sedangkan batas nishab seseorang mulai berkewajiban mengeluarkan zakat adalah penghasilan sewa tersebut mencapai 653 kg beras atau senilai dengannya.

Syaikh Ibnu Baz dalam, Fatawa Az-Zakah, menjelaskan jika kendaraan tersebut digunakan untuk sehari-hari, tidak disewakan dan rumah hanya dijadikan tempat tinggal maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Namun jika dipergunakan untuk diperjual belikan atau atau disewakan yang menghasilkan uang, maka nilai barang tersebut wajib dikeluarkan zakatnya setiap kali genap satu haul.

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya, “Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu” menjelaskan tentang rumah dan kendaraan yang dipaikai sendiri dan tidak menghasilkan pendapatan semua tidak wajib dizakati, kecuali benda tersebut menghasilkan pendapatan/keuntungan yang diperoleh maka wajib dizakati. Seperti rumah sewaan atau mobil sewaan.

Wallahu a’lam.

Apa yang Membuat Kita Siap Menerima Ujian?

© Bila kita sadari setiap peristiwa hidup ini tak luput dari rencana-Nya. Bahkan sehelai daun yang jatuh tak lepas dari pandangan-Nya pula. Kadang suasana tak mudah kita ubah namun rasa yang muncul dalam menyikapi suasana bisa mudah kita ubah.

▪Keimanan yang sangat besar di dalam dada akan menjadi landasan hidup. Segala aral yang melintang tak mampu membuat kita terlarut dalam kesedihan dan penyesalan.

® Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Ada kemudahan bersama kesulitan. Karena dengan ujian itu kita akan tahu reputasi kita. Kita akan tahu kualitas kita. Kita akan tahu daya tahan dan imunitas kita. Kita akan tahu sportivitas dan optimisme kita. Dan dengan ujian itu sesungguhnya kita sedang merancang masa depan kita.

▪Mari kita bersama mulai melangkah dengan meyakini ujian itu pasti datang. Gelombangnya boleh jadi makin hari makin besar dan dahsyat sesuai dengan tingkat kiprah dan keimanan kita.

© Fitnah akan datang seiring dengan disiapkannya kenikmatan, bila tak di dunia insya Allah di surga kan bisa mendapatinya. Bila kita bisa mengarungi gelombang itu bukan berarti telah berhasil meraih kemenangan namun pastilah akan datang lagi cobaan.

▪Semuanya itu tak lain untuk meningkatkan derajat kita di mata Allah. Bila ujian-ujian itu telah terlampaui insya Allah akan sirna kepedihan hati berganti ketenangan dan kedamaian yang merupakan bagian dari perjalanan menuju surga-Nya.

® Bagi mereka yang dikuasai keraguan.

▪Jangan takut, hilangkan rasa ragu di dada kita, canggung di jiwamu. karena aku datang pada kita. Bagi mereka yang lagi semangat membangun kesuksesan. Teruskan, teruskan, genggam tanganmu acungkan ke atas ucapkan, “Allahu Akbar!!” Karena, Allah selalu bersama kita.

© Bagi mereka yang sudah mapan dalam hidup. Ingatlah perjalanan kita masih panjang, amal kita belum seberapa di banding para pendahulu kita, simpan keangkuhan kita. Teruskan investasi akhirat. Biarkan lelah itu capai mengejar kita, dan katakanlah dengan tegas

“Seandainya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku akan terus di jalan-MU!!”

Mengelola Harta Anak Yatim

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Bagaimana mengelola harta anak yatim dlm hal ini uang. Ada ibu yg pnya anak 5. Suaminya sdh wafat 4th lalu. Bnyk tmn ayahnya yg suka nitip uang tuk anak ibu itu yg kecil sj. Krn mmg yg 4 kknya sdh akil balik. Tp belum ada yg kerja. Masih skolah n kuliah. Nah krn bnyk yg nitip uang untuk anak bungsunya, si ibu kan bingung tuk biaya kk2nya. Apa boleh uang simpanan adiknya dipake tuk biaya kakaknya? Statusnya minjem ke adiknya atau sedekah ke kekaknya. Si ibu sudah berazam kalau ada yg sedekah dia akan keluarkan zakatnya 10% agar uang yg diterima menjadi bersih. Karena tidak mungkin si ibu bertanya sumber uang sedekah itu ke si pemberi.
Member 🅰0⃣2⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Mengurus harta anak yatim termasuk iman dan kebajikan yang diperintahkan. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa memberikan hak harta anak yatim termasuk al-birr (kebaikan) seperti rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam. (QS. Al-Baqarah ayat 177) bahkan menyantuni anak yatim dijanjikan surga bagi pelakunya. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, Bab keutamaan orang yang menyantuni anak yatim dengan menanggung kebutuhannya, dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ’anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam W bersabda :

”Aku dan orang yang menanggung kebutuhan anak yatim demikian ini keadaannya di surga” Perawi mengatakan, ”Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan tengahnya.” (HR. al-Bukhari).

BAGAIMANA MENGELOLA HARTA ANAK YATIM?

Pada ulama menyebut orang yang mengurusi harta anak yatim dan menanggung penghidupan mereka dengan washi atau wali. Merekalah yang memikul amanah pemanfaatan harta anak yatim untuk kepentingan si yatim dan hartanya dengan sebaik-baiknya.

Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahihnya membuat bab, ”Bab apa yang boleh dilakukan oleh washi atau wali terhadap harta si yatim dan apa yang boleh ia makan darinya sekadar kerepotannya.” Lalu beliau membawakan atsar dari Aisyah radhiyallahu ’anha tentang ayat :

(Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu). Dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut) (QS. An-Nisa [4] : 6).

Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan : ”Ayat tersebut diturunkan pada haknya wali anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim. Boleh baginya mengambil bagian dari harta anak yatim apabila dia memang butuh kepada harta tersebut, sebatas apa yang ia berhak atasnya dengan cara yang baik.” (HR. Al-Bukhari : 2614). Yaitu, apabila walinya seorang yang fakir atau miskin.

Meski ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, namun yang lebih kuat ialah apabila wali anak yatim memang benar-benar dalam keadaan fakir atau miskin, boleh memakan sebatas hajatnya tanpa berlebihan, tidak mubazir serta tanpa berbuat dosa. Maksudnya ialah tidak boleh sampai menyimpan sebagai perbekalannya dari harta anak yatim tersebut yang merupakan kelebihan dari ukuran yang dibutuhkan untuk makan.

Termasuk yang dibolehkan bagi wali ialah membaurkan dengan anak yatim dalam hal makanan maupun minuman. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, tatkala turun ayat

(Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.) (QS. Al-An’am [6] : 152).

Maka para sahabat para wali anak yatim pun menjauhkan diri dari harta anak yatim sehingga makanan mereka pun rusak, dagingnya busuk dan semacamnya, sehingga diadukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat :

(Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, mengurus urusan mereka secara patut adalah baik dan jika kalian berbaur bersama mereka, maka mereka adalah saudaramu. Dan Allah Maha tahu orang yang berbuat kerusakan dari yang berbuat kebaikan). (QS. Al-Baqarah [2] : 220).

Sehingga akhirnya mereka pun berbaur dengan anak-anak yatim dalam makanan. (HR. Ahmad, an-Nasa’i, Abu Dawud, al-Hakim).

Berbaur di sini terjadi dengan bercampurnya makanan anak yatim dengan makanan wali mereka. Sedangkan yang harus diperhatikan ialah bahwa Allah Ta’ala Maha tahu orang yang berniat memakan harta anak yatim dan orang yang berusaha menghindarinya. Bila anak yatim tersebut berbaur dengan anak-anaknya sendiri dan keluarga yang menjadi tanggungannya, rasanya sulit memisahkan makanannya dari makanan mereka. Sehingga apabila sampai mengharuskan ia mengambil harta anak yatim tersebut dibolehkan secukupnya saja, dengan tetap memelihara diri dari sikap aniaya.

Itulah kelapangan yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Semestinya orang yang diberi amanah mengurus harta anak yatim senantiasa berlaku hanya dengan apa yang dibolehkan oleh syariat dalam memakan harta anak yatim dan membaurkannya dengan hartanya. Tidak boleh ia menukar harta anak yatim yang baik dengan hartanya yang buruk, tidak boleh pula membaurkan dalam rangka menganiaya haknya anak yatim. Termasuk juga memakannya, tidak boleh berlebihan lantaran berlebihan adalah kezaliman. (QS. An-Nisa [4] : 2 dan 6).

ZAKAT HARTA ANAK YATIM

Washi atau wali anak yatim berkewajiban mengurusi urusan mereka dan urusan harta mereka dengan sebaik-baiknya. Termasuk mengurusi zakat hartanya apabila harta itu mencapai nishab (patokan minimum untuk mengeluarkan zakat). Dan yang demikian ini hukumnya wajib.

Adapun tentang haul (batas kepemilikan) harta mereka dihitung sejak hari kematian ayahnya, sebab harta itu dengan kematian ayahnya masuk kepemilikan mereka.

Tentang Sedekah Yang Diterima dari yang tidak jelas

Pertama: Ada ulama yang memasukkan kasus di atas ke dalam hadits keenam Arbain An-Nawawiyyah. Sehingga, bentuk sikap wara’ (baca: hati-hati, pent.) untuk masalah ini adalah menjauhi harta (misalnya: hadiah, jamuan ketika bertamu ke rumahnya, dan sebagainya, pent.) orang tersebut. Namun, hukum sikap ini adalah DIANJURKAN, TIDAK WAJIB karena dengan sikap ini, kita menjadi lebih bersih dari kemungkinan yang tidak diharapkan.

Kedua: Sejumlah (ulama lain) berpendapat bahwa yang menjadi tolak ukur adalah jenis harta yang paling dominan. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang haram maka kita jauhi harta tersebut. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang halal maka kita boleh memakannya, selama kita tidak mengetahui secara pasti bahwa harta yang dia suguhkan atau dia hadiahkan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram.

Ketiga: Ulama yang lain, semisal Ibnu Mas’ud, mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang jalan haram–yang ditempuh orang tersebut dalam memperoleh hartanya–itu menjadi tanggung jawabnya, karena cara mendapatkan harta itu antara kita dengan dia berbeda. Orang tersebut mendapatkan harta itu melalui profesi yang haram, namun ketika dia memberikan harta tersebut kepada kita, dia memberikannya sebagai hadiah, hibah, jamuan tamu, atau semisalnya kepada kita.

Perbedaan cara mendapatkan harta menyebabkan berbedanya status hukum harta tersebut. Sebagaimana dalam kisah Barirah. Barirah mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Meski daging yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, tetapi status hukumnya berbeda karena terdapat perbedaan cara mendapatkannya. Berdasarkan pertimbangan ini, sejumlah shahabat dan ulama mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang adanya dosa, maka itu menjadi tanggungan orang yang memberikan harta tersebut kepada kita. Alasannya, kita mendapatkan harta tersebut dengan status hadiah, sehingga tidak ada masalah jika kita memakannya.

Keempat: Sejumlah ulama yang lain mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut selama kita tidak mengetahui bahwa harta tertentu yang dia berikan kepada kita adalah harta yang haram. Jika kita mengetahui bahwa harta yang dia berikan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram, kita tidak boleh memakan harta tersebut saja, sedangkan hartanya yang lain tetap boleh kita makan. Dalilnya adalah orang-orang Yahudi yang memberi makanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka adalah para rentenir. Meski demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memakan makanan yang diberi oleh orang-orang Yahudi itu.

Dari sisi dalil, pendapat Ibnu Mas’ud adalah pilihan yang tepat.

عن ذر بن عبد الله عن ابن مسعود قال : جاء إليه رجل فقال : إن لي جارايأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ، فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya (makanannya) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

عن سلمان الفارسي قال: إذا كان لك صديق عامل، أو جار عامل أو ذو قرابةعامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمهعليه.

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika Anda memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepada Anda atau mengajak Anda makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak Anda, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf)

Ringkasnya, harta haram itu ada dua macam:

Pertama: Haram karena bendanya. Misalnya: Babi dan khamar; mengonsumsinya adalah haram atas orang yang mendapatkannya maupun atas orang lain yang diberi hadiah oleh orang yang mendapatkannya.

Kedua: Haram karena cara mendapatkannya. Misalnya: Uang suap, gaji pegawai bank, dan penghasilan pelacur; harta tersebut hanyalah haram bagi orang yang mendapatkannya dengan cara haram. Akan tetapi, jika orang yang mendapatkannya dengan cara haram tersebut menghadiahkan uang yang dia dapatkan kepada orang lain, atau dia gunakan uang tersebut untuk membeli makanan lalu makanan tadi dia sajikan kepada orang lain yang bertamu ke rumahnya, maka harta tadi berubah menjadi halal untuk orang lain tadi, karena adanya perbedaan cara mendapatkannya antara orang yang memberi dengan orang yang diberi. Inilah pendapat ulama yang paling kuat dalam masalah ini, sebagaimana pendapat ini adalah pendapat dua shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Mas’ud dan Salman Al-Farisi.

Wallahu a’lam.

Haruskah Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab?​

Ada tiga pendapat dalam masalah “Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab”.

1. Lebih utama pakai bahasa Arab yaitu bagi khathib yang mampu dgn baik bahasa Arabnya,  walau pendengar tidak paham bahasa Arab.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

أنه يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ولو كان السامعون لا يعرفون العربية .
وبهذا قال المالكية ، وهو المذهب والمشهور عند الحنابلة .

Disyaratkan pada khutbah Jum’at hendaknya dgn bahasa Arab bagi yang mampu walau audiens tidak paham bahasa Arab. Ini pendapat Malikiyah, dan  pendapat yg masyhur dr Hanabilah.

2. Jika audiens tidak paham bahasa Arab maka boleh pakai bahasa mereka.

Syaikh menjelaskan lg:

يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ، إلا إذا كان السامعون جميعاً لا يعرفون العربية فإنه يخطب بلغتهم .
وهذا هو الصحيح عند الشافعية ، وبه قال بعض الحنابلة .

Disyaratkan khutbah Jum’at dgn bahasa Arab bagi yang mampu, KECUALI jika semua audiens tidak paham bahasa Arab, maka khutbahnya dgn bahasa mereka. Inilah pendapat yg shahih dari Syafi’iyyah dan sebagian Hanabilah.

3. Khutbah pakai bahasa Arab hanya Sunnah bukan syaratnya khutbah,   jadi tidak masalah sama sekali memakai selain bahasa Arab.

Syaikh menjelaskan lagi:

يستحب أن تكون بالعربية ولا يشترط ، ويمكن للخطيب أن يخطب بلغته دون العربية :
وهو قول أبي حنيفة وبعض الشافعية .

Disunnahkan menggunakan bahasa Arab dan itu bukan syarat. Dimungkinkan si khathib menggunakan bahasa audiens, bukan bahasa Arab. Inilah pendapat Hanafiyah dan sebagian Syafi’iyyah.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 112041)

Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang saya pilih. Mengingat tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa bahasa Arab menjadi syarat sahnya khutbah. Disampingnya tujuan khutbah adalah sampainya pesan ke jamaah yg tidak bisa diraih kecuali dgn bahasa yg mereka pahami.

Dalam ​Majelis Al Majma’ Al Fiqhiy​-nya ​Rabithah ‘Alam Islamiy​ , dikeluarkan fatwa:

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

Pendapat yang paling adil adalah bahwa berkhutbah Jumat di negeri yg tidak berbahasa Arab bukanlah syarat sahnya khutbah Jum’at. Tetapi lebih baik dalam pembukaan khutbah dan membaca kandungan Al Qur’an hendaknya memakai bahasa Arab. Agar orang-orang selain Arab terbiasa mendengar bahasa Arab dan Al Qur’an, juga agar mudah dalam mempelajarinya dan membaca Al Qur’an sesuai bahasa saat turunnya.

Lalu si khathib melanjutkan mau’izhahnya  dengan bahasa yang mereka pahami.

(Qararat Al Majma’ Al Fiqhiy, Hal. 99)

Demikian. Wallahu a’lam

Hidup Itu Hari-Hari Menanti Ajal​

📌 Jangan merasa hidup selamanya sebab mati tidak mengenal usia dan tidak harus sakit dulu

📌 Mati sudah ada jadwalnya, kita semua dapat gilirannya, kita tahu itu

📌 Persiapkan diri saja sebaik-baiknya, detik demi detik  ..

📌 Mirip anak sekolah .. jika ulangan tiba-tiba dari gurunya, dia relatif lebih siap krn sdh belajar tiap hari

📌 Jangan tunggu ajal kita dgn melakukan kesia-siaan apalagi kumpulan dosa ..

📌 Kemarin dan hari ini adalah masa penantian kematian .. saya tidak sebut besok, sbb saya tidak jamin apakah besok saya masih hidup

📌 Ada manusia yg menanti kematiannya dengan dugem, nongkrong, ngegank, main perempuan, judi, minum, .. 

📌 Ada yg mengisi hari-hari penantian kematiannya dengan tilawah, sedekah, silaturrahim, menulis, amar ma’ruf nahi munkar, dan shalat malam ..

📌 Ada pula yang menanti dengan karya-karya biasa saja .. orang-orang standar saja ..

📌 Yah begitulah .. Jadilah di dunia seperti musafir yg sejenak istirahat saja, tidak lama lagi kita akan meninggalkannya ..

Allahumma amitnaa syahadah fi sabiilik

Hukum Menjual Rokok

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Apakah hukumnya menjual rokok? Bolehkah disamakan dengan hukumnya menjual khamr? Kalau tidak salah, orang yang menjual khamr, minum, dan menyajikan, semuanya berdosa. Bagaimana dengan rokok? Kemudian utk minuman kemasan yg banyak dipasaran yg lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, apakah sebaiknya tdk di jual juga? Mengingat utk kmaslahatan manusia.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Merokok itu hukumnya haram. Ratusan ulama telah berfatwa akan haramnya rokok. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan dia (Muhammad) menghalalkan untuk umatnya hal hal yang baik dan dia haramkan untuk umatnya hal hal yang jelek.” (QS. Al A’raf: 157)

Di zaman ini bisa kita katakan bahwa semua orang sepakat bahwa rokok itu berbahaya. Sedangkan Nabi bersabda,
لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan hal yang membahayakan diri sendiri atau pun orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Rokok itu membahayakan orang yang ada di dekatnya sehingga dia termasuk dalam hadis di atas ‘membahayakan orang lain‘. Rokok itu membahayakan perekonomian suatu rumah tangga. Perokok juga membahayakan anaknya.

Rokok itu haram. Sejumlah ulama di masa silam dan di masa sekarang telah menegaskan keharamannya menimbang kejelekan dan bahayanya. Segala sesuatu yang haram dikomsumsi itu haram diperjualbelikan, haram ditanam dan haram diproduksi. 

Wallahu a’lam.

Bid’ah, Apa dan Bagaimana?

Assalamualaikum ustadz /ah..izin bertanya,
Sebetulnya bid’ah itu apa ya? Soalnya di fb saya sering ditemukan orang update status bid’ah dan dibilang sesat. Mohon penjelasannya.
Dari i16

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Belakangan ini marak di media sosial tentang sekelompok umat Islam yang sangat sering dan dengan mudahnya membid’ahkan muslim lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan yang disayangkan masalah tersebut hanya masalah furu’ (cabang). Maka banyak masyarakat yang bertanya apa sebenarnya bid’ah? Apakah semua yang tidak dilakukan nabi ﷺ bid’ah? Apakah bid’ah bersifat general, semua yang tidak ada pada masa Rasulullah ﷺ?

Makna Bid’ah

1. Imam Syathibi
“Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah ﷻ.”

2. Imam Al-Izz bin Abdissalam
“Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw.”

3. Imam An-Nawawi
“Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya.”

4. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalany
“Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya adalah bid’ah, apakah itu terpuji atau tercela.”

Dari definisi di atas lalu muncul pertanyaan, apakah semua bid’ah sesat? Dan apakah bisa dibagi beberapa macam? Jawabannya adalah tidak semua bid’ah sesat dan bid’ah bisa dibagi.

Para ulama ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yaiitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Bahkan ada yang membaginya menjadi tiga, yaitu bid’ah hasanah (terpuji), bid’ah mustaqbahah (sesat), bid’ah mubah. Dan ada pula yang melebarkan menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh, bid’ah mubah.

Yang membagi bid’ah menjadi dua adalah Imam Syafii, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Jika sesuai sunnah maka itu bid’ah mahmudah, hukumnya boleh dilakukan. Dan jika bertentangan maka disebut bid’ah madzmumah, hukumnya haram.

Adapun kriteria kedua bid’ah tersebut sebagai berikut:
Jikaa perkara yang dibuat-buat sesuai/tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau atsar atau ijma’, maka itu bid’ah mahmudah. Namun jika sebaliknya maka  disebut bid’ah madzmumah.

Yang membagi bid’ah menjadi tiga adalah Ibnu hajar Al-Atsqalany, yaitu bid’ah hasanah, bid’ah mustaqbahah dan bid’ah mubah. Jika suatu perkara dianggap baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam maka itu bid’ah hasanah, hukumnya boleh dilakukan. Jika sebaliknya maka disebut bid’ah mustaqbahah (buruk), hukumnya haram dilakukan. Jika tidak termasuk kedua bidah di atas maka itu bid’ah mubah.

Yang dimaksud oleh hadits bahwa bid’ah adalah sesat yaitu bid’ah yang bertentangan dengan syariat

Selanjutnya bid’ah yang dibagi lima adalah pendapat Imam An-Nawawi. Dasar beliau adalah hadits berikut:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Namun hadits di atas adalah type hadits umum, dan dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها

“Siapa yang membuat tradisi baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya.”

Yang dimaksud bid’ah dhalalah (sesat dalam hadits pertama adalah:

المحدثات الباطلة والبدع المذمومة

“Perkara yang dibuat-buat yang batil dan perkara yang dibuat-buat yang tercela.”

Beliau membagi bid’ah menjadi lima, dengan ukuran atau timbangan kaidah-kaidah  syariat Islam. Jika masuk dalam kaidah wajib maka menjadi bid’ah wajib, jika masuk perkara sunnah maka menjadi bid’ah mandub, jika masuk perkara makruh maka bid’ah makruh, jika masuk perkara mubah maka menjadi bid’ah mubah, jika masuk perkara haram maka menjadi bid’ah haram.

Contoh-contohnya sebagai berikut:
1. Bid’ah wajib: Mempelajari ilmu nahwu untuk memahami dan mendalami Al-Quran dan sunnah. Bid’ah ini menjadi wajib karena modal untuk mendalami syariat harus paham bahasa Arab secara baik.
2. Bid’ah mandub (dianjurkan): Membangun sekolah dan jembatan dan sejenisnya, dimana hal tersebut belum ada di masa Rasulullah ﷺ.
3. Bid’ah makruh: Hiasan pada masjid, hiasan pada mushaf dan lainnya.
4. Bid’ah haram: Melantunkan Al-Quran dengan merubah laafazh sehingga merubah makna dan kaidah bahasa Arab.
5. Bid’ah mubah: Bersalaman setelah shalat.

Benarkah semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ haram?

Bagi orang yang berargumen bahwa semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ adalah bid’ah dhalalah menggunakan kaidah berikut:

الترك يقتضى التحريم

“Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ berarti mengandung makna haram.”

Padahal tidak ada satu pun kitab fiqih dan ushul fiqih yang memuat kaidah seperti itu.

Mari kita lihat contoh perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, namun tidak selamanya perbuatan tersebut haram.

1. Karena kebiasaan
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ
أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ
قَالَ مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, “Itu adalah daging biawak.” Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, “Apakah daging itu adalah haram?” beliau bersabda: “Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku.” Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat. Malik berkata; Dari Ibnu Syihab; BIDLABBIN MAHNUUDZ (Biawak yang dipanggang).  (HR. Bukhari – 4981)

2. Khawatir akan memberatkan umatnya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari – 1061 & Muslim – 1270)

3. Tidak terlintas di fikiran Rasulullah ﷺ
حَدَّثَنَا خَلَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Khallad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Aiman dari Bapaknya dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan bisa duduk di atasnya? Karena aku punya seorang budak yang ahli dalam masalah pertukangan kayu.” Beliau menjawab: “Silakan, kalau kamu mau.” Maka wanita itu membuat sebuah mimbar.” (HR. Bukhari – 430)

4. Karena Rasulullah ﷺ lupa
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً فَلَا أَدْرِي زَادَ أَمْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ لَا وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَثَنَى رِجْلَيْهِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّلَاةَ فَإِذَا سَلَّمَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat satu kali namun aku tidak tahu apakah beliau menambah atau mengurangi. Ketika salam dikatakan kepada beliau; Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu dalam shalat? Beliau menjawab: “Tidak, apa itu?” mereka berkata; Engkau shalat ini dan itu. Ia berkata; Lalu beliau melipat kedua kakinya dilanjut dengan sujud sahwi dua kali, ketika salam beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang biasa lupa seperti kalian, apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalat, maka carilah (kepastian) shalat, maka apabila salam, hendaklah sujud dua kali.” (HR. Ahmad – 3420)

5. Khawatir orang arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah  ﷺ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَإِنَّهُمْ قَدْ عَجَزُوا عَنْ بِنَائِهِ فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام
قَالَ فَذَلِكَ الَّذِي حَمَلَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى هَدْمِهِ قَالَ يَزِيدُ وَقَدْ شَهِدْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حِينَ هَدَمَهُ وَبَنَاهُ وَأَدْخَلَ فِيهِ مِنْ الْحِجْرِ وَقَدْ رَأَيْتُ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام حِجَارَةً كَأَسْنِمَةِ الْإِبِلِ مُتَلَاحِكَةً

Telah mengabarkan kepada kami Abdur Rahman bin Muhammad bin Salam, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir bin Jazim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman dari ‘Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Aisyah, seandainya bukan karena kaummu dekat dengan masa jahiliyah niscaya saya akan memerintahkan untuk menghancurkan Ka’bah, kemudian saya masukkan kepadanya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan saya tancapkan di Bumi, serta saya buat untuknya dua pintu, pintu timur dan pintu barat. Karena mereka tidak mampu untuk membangunnya, sehingga dengannya saya telah sampai kepada pondasi Ibrahim ‘alaihissalam.” Yazid berkata; itulah yang mendorong Ibnu Az Zubair untuk menghancurkannya. Yazid berkata; saya telah menyaksikan Ibnu Az Zubair ketika menghancurkan dan membangunkannya serta memasukkan hijir padanya. Dan saya lihat pondasi Ibrahim ‘alaihissalam berupa bebatuan seperti punuk-punuk unta yang saling melekat. (HR. Nasa’i – 2854)

6. Karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum
وافعل الخير لعلكم تفبحون

“Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”

Rasulullah ﷺ tidak melakukan bukan berarti haram, tapi karena kebaikan-kebaikan itu bersifat umum. Patokannya adalah jika tidak bertentangan dengan syariat maka termasuk bid’ah hasanah. Jika bertentangan maka bid’ah dhalalah.

Mereka yang mudah membid’ahkan memakai kaida, “Jika tidak dilakukan Rasulullah ﷺ maka haram”. Pertanyaannya, adakah kaidah tersebut dalam ushul fiqih? Di atas saya sudah menyinggung bahwa tidak ada di kitab fiqih dan ushul fiqih manapun yang mencantumkan kaidah seperti itu. Kaidah haram ada tiga:
1. Nahyi (larangan/kalimat langsung), contohnya QS. Al-Isra’:72.
2. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contohnya QS. An-Nisa:148.
3. Wa’id (ancaman keras), contohnya hadits: “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Sedangkan at-tark (sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ) tidak ada satupun aahli fiqih yang memasukkannya kedalam sesuatu yang diharamkan.

Dan yang diwasiatkan Rasulullah ﷺ adalah kerjakan apa yang beliau perintah, tinggalkan apa yang beliau larng. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan untuk meninggalkan apa yang tidak beliau kerjakan.

Perkara yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatanpun yang datang belakangan. Maka at-tark tidak bisa disebut bisa menetapkan hukum. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Jika semua yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ dihukumi haram, maka terhenti perkembangan kehidupan muslim saat ini.

Jalan keluatnya adalah sabda Rasulullah ﷺ,

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى السُّدِّيُّ حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ هَارُونَ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ قَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Musa As Suddi telah menceritakan kepada kami Saif bin Harun dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi dari Salman Al Farisi dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang minyak samin dan keju serta bulu binatang, beliau menjawab: “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah – 3358)

Dan banyak sekali kita temui contoh-contoh amalan sahabat ang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi ketika beliau tahu tidak lantas menyalahkan dan membid’ahkan, tapi justru memuji. Misal kebiasaan Bilal shalat sunnah setelah wudhu’, sahabat yang selalu mengawali bacaannya denga surat Al-Ikhlas, sahabat yang selalu mengakhiri bacaan dengan surat Al-Ikhlas dan lain-lain.

Tapi ada juga perbuatan sahabat yang dilarang Rasulullah ﷺ, karena bertentangan dengan sunnah (bukan perkara yang di diamkan). Contohnya, hadits yang menyebutkan tiga sahabat yang ingin shalat malam selamanya, ada yang ingin puasa sepanjang tahun, dan ada yang tidak ingin menikah. Kemudian Rasulullah ﷺ menegur mereka bahwa beliau tidak demikian, maka mereka dilarang melakukannya.

Kesimpulan

Yang menjadi dasar bukanlah pernah atau tidak pernah dilaakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi prinsipnya adalah apakah perbuatan tersebut melanggar syariat atau tidak. Jika melanggar maka bid’ah dhalalah, jika tidak maka bid’ah hasanah.

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN: Bab Shiddiq – Jujur Itu Pokok​

Hadits:
عن أبي سفيانَ صَخرِ بنِ حربٍ – رضي الله عنه – في حديثه الطويلِ في قصةِ هِرَقْلَ ،

قَالَ هِرقلُ : فَمَاذَا يَأَمُرُكُمْ – يعني : النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم –

قَالَ أبو سفيانَ : قُلْتُ : يقولُ : اعْبُدُوا اللهَ وَحدَهُ لا تُشْرِكوُا بِهِ شَيئاً ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، ويَأْمُرُنَا بالصَلاةِ ، وَالصِّدْقِ ، والعَفَافِ ، وَالصِّلَةِ

مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Artinya:

Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb Radiallahu Anhu dalam Hadisnya yang panjang dalam menguraikan cerita Raja Hercules.

Hercules berkata: “Maka apakah yang diperintah olehnya?” Yang dimaksud adalah oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam,  Abu Sufyan berkata: “Saya lalu menjawab: “Ia berkata: “Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu denganNya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua.”

Ia juga menyuruh supaya kita semua menegakkan shalat, bersikap jujur, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan.”

(Muttafaq ‘alaih)

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:

 http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1 

Anak Orang Kreta jadi Pahlawan

Mustafa Ertuğrul Bey lahir tahun 1893 di kota Hanya (Hania), Pulau Kreta (Crete), empat tahun sebelum pemberontakan terakhir kaum Orthodox-nya. Kedua orangtuanya Muslim asli dari pulau tersebut. Islam masuk kembali ke Pulau Kreta pada tahun 1669 dibawa Turki Utsmani.  Keluarganya memutuskan untuk hijrah ke İstanbul pada tahun 1903, tiga tahun sebelum pulau tersebut bergabung dengan negara Yunani.

Lesson #1 Doa orangtua adalah keberkahan.

Nasib baik membawa Mustafa Ertuğrul menjadi kadet pada Akademi Militer Turki Utsmani di İstanbul sebelum terlibat dalam Perang Dunia Pertama dan mendapat tugas sebagai perwira artileri di pesisir selatan Turki. Wilayah ini merasakan pemberontakan etnis Yunani pada akhir tahun 1916 karena kekalahan mulai mendera Turki Utsmani. Pemberontak semakin berani dengan adanya pendaratan pasukan Perancis di Pulau Castellorizo. Memasuki bulan Januari pasukan tersebut membutuhkan logistik jika akan terus menyerbu pantai selatan Turki.

Menurut Liman von Sanders dalam otobiografinya “Lima Tahun di Turki” , elemen militer Jerman pada tubuh AB Turki Utsmani bekerja keras untuk menangkal ancaman serius ini. Putusnya jalur logistik di garis belakang ini maka mengancam keberadaan seluruh balatentara khalifah Turki Utsmani di Irak, Syam, Palestina, Hijaz, hingga Yaman.

Liman von Sanders pada bab 12 menyebutkan operasi khusus memindahkan meriam howitzer serta meriam gunung dari stasiun kereta-api Baladis ke kota Kas untuk menangkal pendaratan Perancis tersebut. Tentu dengan lebih memuji perwira Jerman serta sedikit sekali mengapresiasi pihak Turki Utsmani, Liman von Sanders menerangkan betapa sulitnya proses pemindahan meriam tersebut. Beruntung bahwa meriam tersebut telah siap pada tanggal 6 Januari 1917 dengan mendatangkan 400 unta untuk menggendong amunisi melintasi pegunungan yang terjal.

Lesson #2 Jangan takut kepada ancaman lawan, jadikan itu sebagai tantangan yang menguji kesiapan dan kesigapan kita.

Kapal AL Inggris yang bernama Ben-My-Chree ditugaskan mengirim suplai ke pulau tersebut dikawal kapal perusak Ariadne milik AL Perancis. Kapten kapal Ben-My-Chree, Charles Sampson, pada awalnya menolak merapat karena pelabuhan Castellorizo menghadap ke utara sehingga terlihat jelas dari posisi artileri Turki di kota Antifilo/Antiphellos (sekarang Kas). Namun perintah atasan tidak dapat ditolak, kapal tersebut merapat ke dermaga dan masuk jarak tembak artileri yang pada tanggal 9 Januari 1917 itu dipimpin oleh Mustafa Ertuğrul Bey. Beliau memiliki beberapa perwira teknis Jerman di bawah kesatuannya seperti Mayor Schmidt-Kelbow, Kapten Schuler, Letnan Satu Hesselberger, dan Kapten Ittman.

Lesson #3 Belajarlah memimpin karena itu bisa dibutuhkan sewaktu-waktu dan sepanjang waktu.

Mulai pukul 14:10 tembakan meriam pantai kaliber 105 mm menembaki Ben-My-Chree. Melalui tembakan bracket berikutnya berhasil mengenai hangar bekas penyimpanan pesawat dan menimbulkan api. Ben-My-Chree memang pernah dipakai sebagai kapal induk oleh AL Inggris dalam pendaratan di Gallipoli yang gagal pada tahun 1915. Kapal ini juga dilibatkan dalam operasi dukungan terhadap pemberontakan Syarif Hussein ibn Ali al-Hasyimi di Hijaz terhadap kekhilafahan Turki Utsmani tahun 1916-1917. Semakin banyak tembakan yang mengenai Ben-My-Chree sehingga kapten kapal memerintahkan awaknya meninggalkan kapal pada pukul 14:45. Kapal naas ini tenggelam ke dasar teluk yang dangkal sehingga anjungannya masih menyembul di atas permukaan laut.

Lesson #4 Berlatihlah membidik senjata karena itu adalah sunnah Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam sekaligus keterampilan yang tidak mungkin dikuasai secara cepat.

Atas jasanya ini, Mustafa Ertuğrul Bey mendapat berbagai bintang jasa. Setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani ia bergabung dengan pasukan kemerdekaan dibawah Mustafa Kemal. Dalam Perang melawan pendudukan Yunani tahun 1919-1922, beliau ditugaskan di wilayah Aydın, khususnya memobilisasi milisi bandit terkenal pimpinan Demirci Mehmet Efe. Pada tahun 1919 ia terluka akibat sergapan Yunani dan terpaksa istirahat di Antalya sebagai legiun cacat veteran.

Lesson #5 Tidak semua kita wafat di medan laga, namun semua kita berpeluang syahid.

Mustafa Ertuğrul Bey menikahi anak komandannya, Şefik Aker Bey. Ketika undang-undang Nama Belakang tahun 1934 ditetapkan. Beliau mengambil nama mertuanya menjadi Mustafa Ertuğrul Aker. Beliau wafat pada tahun 1964.

Agung Waspodo , mengucapkan alhamdulillah untuk pagi yang produktif.
Depok, 19 Januari 2018

Referensi:

Lardas, Mark. World War I Seaplane and Aircraft Carriers, London: Osprey Publishing, 2016.

von Sanders, Liman. Five Years in Turkey, Annapolis: United States Naval Institute, 1927.