Wanita Menopause Sudah Tidak Wajib Berjilbab. Benarkah Demikian?

📝Ustadzah Menjawab
🌹Ustadzah Nurdiana

🌿🌼🌸🌻🌹☘🍁🌷

Assalamu’alaikum Ustadzah….                Saya pernah baca artikel tentang Jilbab, bahwa wanita menopause sudah tidak wajib berjilbab. Benarkah demikian?

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
 Memang ada yang berpendapat seperti yang Anda sebutkan. Pendapat ini merujuk pada ayat berikut. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan berhenti mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. An-Nur 23: 60)

Apabila ayat ini dijadikan alasan untuk membolehkan wanita yang sudah menopause untuk tidak menutup aurat maka pendapat tersebut terlalu dipaksakan, sebab yang dimaksud ayat di atas bukan ditujukan pada wanita yang sudah menopause semata, tetapi dimaksudkan untuk kaum wanita menopause yang sudah sangat tua dan pikun, karenanya di ayat itu ada penegasan … mereka tidak bermaksud menampakkan perhiasan..

Kalimat ini menunjukkan bahwa wanita tersebut melakukannya karena pikun. Menurut hemat saya, untuk zaman sekarang, sangat banyak wanita yang sudah menopause tapi penampilannya masih fresh dan tidak pikun.

Dengan demikian, wanita yang sudah menopause tapi masih berakal sehat alias tidak pikun, bahkan masih berpenampilan fresh masih tetap wajib menutup aurat sesuai ketentuan yang termaktub dalam Surat Al Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31 walaupun mereka sudah tua.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al Ahzab 33: 59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya… ” (Q.S. An-Nur 24: 31).  
Wallahu a’lam.
 
 🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

Penjelasan Do’a Sebelum Makan

👳USTADZ MENJAWAB 
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹
Assalamualaikum ,saya mau minta penjelasan tentang do’a sebelum makan, apakah ada hadisnya? Karena ketika anak saya makan dan saya suruh baca do’a,dibantah oleh adik saya yg ikut pengajian SALAFI, katanya do’a sebelum makan itu tdk ada,cukup baca bismillah saja.
Tolong dijelaskan dalil2nya. *-A36-*
🍃🍃Jawaban🍃🍃
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah ..
Doa hendak makan yang diterkenal itu, ada beberapa versi, dan semuanya  tidak ada yang sah dari Nabi ﷺ, akan kami sampaikan dua versi saja. 
*Versi Pertama: Allahumma Baarik Lana Fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar*
Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa: Selamanya tidaklah dia diberikan makanan, minuman, bahkan obat, melainkan dia kan membaca: (lalu disebut dzikir yang cukup panjang …, dan kalimat akhirnya adalah:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar.” (HR. Malik,   no.1672, riwayat Yahya Al Laitsi.  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, No. 25000, 30184)
Disebutkan dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ jika mendekati makanan dia berdoa: (maka disebut doa di atas). (Al Kaamil fidh Dhu’afa, 6/206, Lisanul Mizan, 5/165)
Tapi, hadits ini munkar sebagaimana kata Imam Al Bukhari. Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:
والصواب قال البخاري منكر الحديث جداً
“Yang benar, menurut Imam Bukhari hadits ini sangat munkar.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalani,  Lisanul Mizan, 5/165)
Apakah hadits mungkar itu? Secara ringkas, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dha’if jiddan (sangat lemah). (Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan, Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81)
Sedangkan Prof.Dr. Ali Mushthafa Ya’qub, MA, Rahimahullah  mengatakan bahwa hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhu’ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu). Demikianlah.
Berkata Syaikh Ayman Shalih Sya’ban tentang doa versi ini: 
أخرجه مالك في الموطأ  عن هشام بن عروة عن أبيه ، فذكره. ولم أقف على هذه الرواية مرفوعة ، وإسناد الأثر صحيح.
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, lalu disebutkan kalimat itu. Dan aku belum temukan riwayat ini secara marfu’ (dari nabi), dan isnad atsar ini SHAHIH.” (Jaami’ Al Ushul, 4/309)
Jadi, yang shahih doa seperti ini ada, tapi bukan dari Nabi, melainkan dari seorang tabi’in bernama ‘Urwah, yaitu ‘Urwah bin Az Zubeir bin Awwam Radhiallahu ‘Anhuma. 
Sedangkan Imam Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa doa ini juga diucapkan oleh ‘Amru bin Al Ash, ketika Beliau hendak makan. (Asy Syukr, No. 169)
*Versi Kedua: Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa*
Ini juga bukan dari Nabi ﷺ tapi dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.
Ibnu A’bud berkata: Berkata kepadaku Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ibnu A’bud, tahukah kamu apa itu hak makanan?” Aku bertanya: “Apa itu wahai Ibnu Abi Thalib?” Beliau berkata:
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا
Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa. (HR. Ahmad,  No.  1313, Teks riwayat  Ibnus Sunni agak berbeda:” Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar, bismillah.”)
Hadits ini didhaifkan para ulama. Sebab, Ibnu A’bud adalah seorang yang majhul (tidak dikenal), hanya dikenal namanya saja. Ali bin Al Madini berkata: “Tidak dikenal.” Adz Dzahabi berkata: “Dia adalah Ali Al Laitsi.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal,  No. 10755) 
Ali bin Al Madini berkata: “Ibnu A’bud tidak dikenal, aku tidak mengetahuinya kecuali pada hadits ini saja.” (Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, No. 1369)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Hadits ini dhaif, karena ke-majhul-an Ibnu A’bud.” (Ta’liq Musnad Ahmad, No. 1313)
*Kalau Begitu Mana Yang Shahih?*
  
Jika doa hendak makan yang seperti itu dhaif, maka dengan apa kita membaca doa hendak makan?
Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu ‘Anhu:
فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Wahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhari, No. 5062, 5063. Muslim,  No. 2022. Ibnu Majah, No. 3267. Ahmad, No. 15740)
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:
قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud,  No. 3767.  At Timidzi,  No. 1858. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, “Bismillah,” jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah,  No. 3264.  Ahmad,   No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7087, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)  
Dalam hadits lain:
كان إذا قرب إليه الطعام يقول : بسم الله ، فإذا فرغ قال : اللهم أطعمت و أسقيت و أقنيت و هديت و أحييت ، فلله الحمد على ما أعطيت 
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71)
Inilah doa yang shahih, yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika kita hendak menyantap makanan atau minuman. *TAPI APAKAH HANYA INI? TIDAK!*
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:
من أطعمه الله الطعام فليقل اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيرا منه ومن سقاه الله لبنا فليقل اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه
Siapa yang diberikan makan oleh Allah dengan sebuah makanan, maka hendaknya berdoa: ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIHI WA ATH’AMANA KHAIRAN MINHU, dan barang siapa yang diberikan oleh Allah susu maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIH WA ZIDNAA MINHU.
(HR. At Tirmdzi No. 3455, Imam At Tirmidzi berkata: hasan. Syaikh Al Albani mengatakan hasan diberbagai kitabnya seperti Al Misykah, Shahih Ibni Majah, dan Ash Shahihah)
*Bagaimana Sikap Para Ulama?*
Para ulama berbeda dalam menyikapi penggunaan doa ini. Di antara mereka ada yang  tidak mempermasalahkan, karena pada prinsipnya berdoa itu boleh saja dengan kalimat kebaikan apa pun, bahkan walau dengan untaian sendiri, selama tidak menyandarkannya kepada Nabi ﷺ. Bahkan ada yang menyunnahkan tambahan Allahumma barik lana dst.
Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata, ketika menjelaskan doa makan dan minum:
والدعاء كثير لا يكاد يحصى وخيره ما كان الداعي بنية ويقين بالإجابة ويكفي من ذلك قوله في أول الطعام بسم الله الرحمن الرحيم وفي آخره الحمد لله رب العالمين اللهم بارك لنا في ما رزقتنا وقنا عذاب النار
Doa itu banyak dan tidak terhitung. Dan yang terbaik adalah orang yang berdoa mesti memiliki niat dan keyakinan bahwa doanya dikabulkan, dan cukup baginya ketika di awal makan membaca: “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM” dan di akhirnya ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ALLAHUMMAH BAARIK LANA FI MAA RAZAQTANA WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. (Al Istidzkaar, No. 39885)
Sementara, Imam Abul Barakat Ad Dardiri Rahimahullah mengatakan hal itu adalah dianjurkan (mandub/sunnah):
وندب زيادة: اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وزدنا خيرا منه
Disunahkan membaca tambahan (ketika hendak makan): Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa zidnaa khairan minhu. (Asy Syarh Al Kabir, 1/ 103)
Hal serupa dikatakan oleh Imam Ad Dasuqi dalam Hasyiyahnya. (Hasyiyah Ad Dasuqi, 1/103)
Syaikh Al ‘Allamah Sulaiman Al Jamal mengatakan tambahan itu adalah sunnah, yakni bismillah Allahumma barik lana fiima razaqtana wa qinaa ‘adzaaban naar. (Hasyiyah Al Jamal, 1/357). Dan, masih *sangat-sangat banyak* para ulama menganjurkan tambahan doa bukan hanya BISMILLAH, dalam kitab-kitab empat madzhab. Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa melarangnya atau mengingkarinya.
Sementara ulama lain ada yang menolak pemakaian tambahan pada doa tersebut. DI antaranya Imam As Suyuthi dan Syaikh Al Albani. Berikut ini kutipannya:
و في هذا الحديث أن التسمية في أول الطعام بلفظ ” بسم الله ” لا زيادة فيها ،و كل الأحاديث الصحيحة التي وردت في الباب كهذا الحديث ليس فيها الزيادة ، و لا أعلمها وردت في حديث ، فهي بدعة عند الفقهاء بمعنى البدعة ، و أما المقلدون فجوابهم معروف : ” شو فيها ؟ ! ” . فنقول : فيها كل شيء و هو الاستدراك على الشارع الحكيم الذي ما ترك شيئا يقربنا
إلى الله إلا أمرنا به و شرعه لنا ، فلو كان ذلك مشروعا ليس فيه شيء لفعله و لو مرة واحدة ، و هل هذه الزيادة إلا كزيادة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم من العاطس بعد الحمد .و قد أنكرها عبد الله بن عمر رضي الله عنه كما في ” مستدرك الحاكم ” ، و جزم
السيوطي في ” الحاوي للفتاوي ” ( 1 / 338 ) بأنها بدعة مذمومة  
“Dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa tasmiyah pada awal makan dengan lafaz “bismillah” tanpa ada tambahan apa-apa, semua hadits shahih yang membicarakan bab ini juga demikian tanpa ada tambahan, dan saya tidak mengetahui adanya tambahan itu dalam hadits, dan tambahan itu menurut istilah para fuqaha (ahli fiqih) adalah bid’ah, namun bagi orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya akan mengatakan perkataan yang sudah bisa diketahui: “Bukankah doa ini telah banyak dipakai?!”
Kami katakan: “Segala tambahan yang diberikan kepada pembuat syariat, berupa amalan yang jika memang benar itu bisa mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, pastilah akan diperintahkan oleh syariat, seandainya itu disyariatkan pasti hal itu dilakukan oleh Rasulullah walau cuma sekali.  Hal ini seperti menambahkan shalawat kepada Nabi, bagi orang yang membaca Alhamdulillah setelah bersin.
Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu telah mengingkari tambahan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Mustadrak-nya Imam al Hakim, dan ditegaskan oleh Imam as Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa (1/338), bahwa tambahan itu adalah bid’ah tercela.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 71)
📚 Kesimpulan:
– Tidak mengapa tambahan selain BISMILLAH, sebagaimana hadits Imam At Tirmidzi, dan sanadnya hasan. Sebagaimana dihasankan oleh Imam at Tirmidzi dan Syaikh Al Albani sendiri.
– Tersebar di kitab para ulama 4 madzhab tentang tambahan itu, dan mereka membolehkan bahkan ada yang menyunnahkan.
– Tidak mengapa mengikuti pihak yang membatasi hanya BISMILLAH, sebab itu juga ada dalam khazanah ulama Islam.
– Yang salah adalah yang hendak makan tapi tidak baca doa, justru ketawa-ketawa atau bernyanyi.
Demikian. 
Wallahu A’lam
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Ikhlas Itu Menguatkan Langkah

📆 Ahad,  8 Sya’ban 1437 H / 15 Mei 2016 M

📚 MOTIVASI

📝 Ustadzah Rochma Yulika

📋 Ikhlas Itu Menguatkan Langkah

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌵Bekerjalah untuk hidup, untuk ibadah. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari yang dekat, mulailah sekarang juga.

🌷Dalam surat Al Mulk ayat 2 Allah berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

🌵Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”

🌷Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

🌵Mari memaknai ikhlas.
Ikhlas itu bagai matahari yang selalu menyinari bumi tiap hari tanpa berharap balas sedikit pun. Selalu mendatangkan kebermanfaatan bagi semua makhluk di dunia ini.
Sebenarnya ikhlas dari hati yang paling dalam mampu memengaruhi banyak hal.

🌷Misalkan jika seorang yang memasak dengan ikhlas bukan sekadar karena kewajiban atau pekerjaan, makanan yang ia buat rasanya jauh lebih nikmat meskipun dengan bumbu yang sederhana. Seperti kasih ibu pada anaknya. Tak pernah seorang ibu meminta ganti rasa sakit kala melahirkannya.

🌵Tak ada orangtua yang meminta balasan dari harta yang dikeluarkannya. Seperti halnya matahari yang selalu menyinari bumi tiada henti.
Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada manusia.

🌷Bersandarlah atas segala masalah kehidupan hanya pada Allah. Tak kita pungkiri, raga kita berpijak di bumi. Tak hanya kebajikan yang ada, kejahatan pun merajalela.

🌵Namun demikian, tetapkan hatimu untuk mengingat akhirat dan segala yang terjadi dalam kehidupan yang hakiki.

🌷Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (Q.s. al-An’am [6]: 162).

🌵Keikhlasan merupakan energi tersendiri karena Dia pemilik segala urusan. Ikhlas adalah intisari dari keimanan kita kepada Allah.

💦Mari menjadi pribadi yang ikhlas agar apa yang kita lakukan berbalas.

Wallahul musta’an.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Beberapa Hal Tentang Bulan Sya’ban (2)

📆 Ahad,  8 Sya’ban 1437 H / 15 Mei 2016 M

📚 MOTIVASI

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 Beberapa Hal Tentang Bulan Sya’ban (2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Qadha puasa Ramadan

🌵Apa kaitannya qadha puasa Ramadan dengan bulan Sya’ban?

Aisyah radhiallahu anha berkata,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ ، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

“Aku dahulu memliki hutang puasa Ramadan, aku tidak dapat mengqadanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” (Muttafaq alaih)

🌷Berdasarkan hadits ini, umumnya para ulama berpendapat bahwa kesempatan melakukan qadha puasa Ramadan terbuka hingga bulan Sya’ban sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Namun, jika tidak ada alasan khusus, seseorang  dianjurkan segera mengqadhanya.

🌵Bahkan sebagian ulama menyatakan agar mendahulukan qadha Ramadan sebelum puasa Syawal atau puasa sunah lainnya. Sebab berdasarkan hadits Aisyah di atas, dia baru sempat melakukan qadha di bulan Sya’ban, karena ada alasan, yaitu melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

🌷Maka pemahamannya, jika seseorang tidak memiliki alasan atau uzur syar’i, hendaknya dia menyegerakan membayar qadha puasanya.

(Lihat: Syarah Muslim, Imam Nawawi, 8/21, Fathul Bari, 4/189)

🌵Apabila hutang puasa itu belum juga terbayar hingga bertemu Ramadan berikutnya karena ada  alasan tertentu yang membuatnya tidak dapat mengqadha puasa Ramadan sebelumnya, maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya selain mengqadha puasanya setelah Ramadan berikutnya.

🌷Jika tidak ada halangan bagi seseorang untuk mengqadha puasanya, namun tidak juga dia lakukan hingga datang Ramadan berikutnya, maka hendaknya dia bertaubat  dan istighfar atas kelalaiannya menunda-nunda kewajiban. Disamping itu, dia tetap harus mengqadhanya setelah bulan Ramadan berikutnya.

🌵Sebagian ulama mengharuskan orang seperti itu untuk memberikan setengah sha’ makanan  pokok (sekitar  1,5 kg) kepada seorang miskin untuk setiap satu hari puasa yang dia tinggalkan sebagai peringatan atas kelalaiannya, disamping kewajiban mengqadha puasanya. Berdasarkan ijtihad para shahabat dalam masalah ini.

🌷Namun sebagian lain berpendapat tidak ada kewajiban akan hal tersebut, karena tidak ada nash yang dengan tegas menetapkannya. Akan tetapi ijtihad tersebut dianggap baik.

(Fathul Bari, 4/189, Al-Ilmam Bisyai’in min Ahkam Ash-Shiyam, Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi, 30)

🌵Jika telah masuk bulan Sya’ban, hendaknya setiap muslim mengingatkan dirinya atau orang-orang terdekat (khususnya kaum wanita yang umumnya suka memiliki hutang puasa) apabila memiliki hutang puasa Ramadan sebelumnya, agar segera ditunaikan sebelum datang Ramadan berikutnya.

📚Puasa Di Akhir Sya’ban

🌷Sehari atau dua hari terakhir bulan Sya’ban sebelum Ramadan, dinamakan sebagai Yaumusy-Syak (hari keraguan).

🌵Dikatakan demikian, karena pada hari tersebut tidak jelas apakah sudah masuk bulan Ramadan atau belum. Pada hari tersebut, seseorang dilarang berpuasa jika tujuannya sekedar ingin hati-hati agar tidak ada hari yang tertinggal dari bulan Ramadan.

🌷Yang diperintahkan adalah memastikan datangnya bulan Ramadan dengan terlihatnya hilal Ramadan. Kalau hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi tiga puluh hari berdasarkan riwayat shahih dalam masalah ini.

🌵Namun dibolehkan berpuasa pada hari tersebut (sehari atau dua hari sebelum Ramadan) apabila pada hari itu bertepatan dengan hari-hari sunnah berpuasa yang biasa dia lakukan (seperti Senen dan Kamis), atau dia berpuasa karena hendak membayar qadha puasanya, atau nazar atau kaffarat.

🌷Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ (متفق عليه

 “Jangan kalian mendahulukan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya). Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (Muttafaq alaih).

🌵Di antara hikmah pelarangan ini adalah agar ada pemisah antara puasa Ramadan yang fardhu dengan puasa-puasa sunah sebelum dan sesudahnya.

🌷Maka, dilarang puasa sehari atau dua hari sebelumnya dan dilarang pula puasa sehari sesudahnya, yaitu pada hari Idul Fitri.

(Lihat: Syarah Muslim, Imam Nawawi, 7/194, Latha’iful Ma’arif, hal. 151, Syarh Umdatul Ahkam, Syekh Jibrin, 30/2)

Wallahu ta’ala a’lam.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Yaa Allah, berilah kami barokah dan taufiq di bulan Sya’ban, dan pertemukan kami dengan Bulan Ramadan..”

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH

📆 Sabtu, 7 Sya’ban 1437H / 14 2016

📚 *Tema KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag*

📝 *KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Keshalehan suami istri dalam membangun keluarga Islami, keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah harus sama. Sehingga visi dan misi yang dimiliki sama2 bertujuan untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

*Karakteristik suami shaleh dan istri shalihah*

Suami sebagai imam dalam keluarga memiliki tanggung jawab yang besar di dunia dan akhirat. Kebahagiaan keluarga banyak ditentukan oleh peran kepemimpinan  suami. Karena itu suami harus menjadi imam yang shaleh.

Demikian juga istri yang menjadi sumber kebahagiaan suami dan menjadi sekolah bagi anak2nya.  Keceriaan suami dan keberhasilan pendidikan anak2 sangat bergantung pada peran ibu. Karena itu  sebagai istri dan sekali gus sebagai ibu harus shalihah.

Allah telah menyebutkan karakteristik yang sama bagi suami shaleh dan istri shalihah di dalam Surat 33, QS Al Ahzab : 35.

 ان المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم  والحافظات والذاكرين الله  كثيرا والذاكرات اعدالله لهم مغفرة واجرا عظيما.

Artinya:
” Sesungguhnya laki2 dan perempuan yang muslim, laki2 dan perempuan yang mukmin, laki2 dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki2 dan perempuan yang benar, laki2 dan perempuan yang sabar, laki2 dan perempuan yang khusyuk, laki2 dan perempuan yang bersedekah, laki2 dan perempuan yang shaum, laki2 dan perempuan yang menjaga kehormatannya , laki2 dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. ( QS Al Ahzab : 35 ).

Sebab turunnya ayat ini adalah suatu hari Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah SAW. : mengapa kami secara eksplisit tidak disebut dalam alquran sebagaimana kaum laki2  ? Beliau tidak memperhatikan pertanyaan itu sampai suatu hari beliau memanggil diatas mimbar dan bersabda: ” Wahai manusia sesungguhnya Allah berfirman
ان المسلمين والمسلملت ………  
sampai akhir ayat “. ( HR. Ahmad ” ).
Dengan turunnya ayat ini maka Allah telah mengarahkan suami istri agar memiliki karakter yang sama dalam berkeluarga yaitu karakter orang yang shaleh agar bisa sukses membentuk keluarga yang Islami yang sakinah mawaddah wa rohmah.
Karakter yang harus dimiliki oleh suami shaleh dan istri shalihat yang sudah disebut dalam surat 33 Al Ahzab: 35  itu saling terkait sehingga bisa menjadi pribadi yang shaleh dan Islami yaitu Islam, iman, tunduk, benar ( jujur ), sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan, dan banyak berzikir kepada Allah.

*Karakteristik Islam* yang disebut dalam ayat itu adalah masuk ke dalam agama Islam disertai tunduk patuh dan mengamalkan syariatnya  dalam kehidupan sehari- hari. Sebagai mana Rasulullah bersabda saat ditanya tentang Islam :

الإسلام ان تشهد ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤت الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطاع اليه سبيلا.  رواه مسلم.

Islam adalah hendaknya kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, nabi Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, shaum di bulan romadhan, dan pergi haji ke Baitullah bagi yang mampu (HR Muslim)

_Karakteristik ke 2_ adalah *iman*, Rasulullah bersabda saat ditanya tentang iman , yaitu :

ان تؤمن بالله و ملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدر خيره وشره . رواه مسلم

Artinya:
” Hendaknya kamu beriman kepada Allah,  para malaikat, kitab- kitab, para Rasul Nya, hari akhir dan takdir yang baik dan yang buruk.” ( HR. Muslim )

Bersambung

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja* (lanjutan)

📆 Sabtu, 7 Sya’ban 1437H / 14 Mei 2016

📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*

📝 *Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja* (lanjutan)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

Bag-1 : http://www.iman-islam.com/2016/05/beberapa-hal-praktis-yang-perlu.html?m=1

💐 *Tip 14* : Ajak untuk bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan komunitas masyarakat yang beragam.

Jika anak-anak remaja kita dapat berinteraksi dengan masyarakat yang beragam, maka hal tersebut akan lebih sehat untuk pertumbuhan kedewasaan dan kebijaksanaan mereka.

💐 *Tip 15* : Bantulah remaja kita untuk mulai terlibat di dalam kelompok pemuda.

Setelah berhasil di lingkungan Muslim dan menghadiri kegiatan Islam secara teratur, remaja  dalam banyak kasus akan mampu untuk  mengembangkan persahabatan dengan umat Islam lainnya se-usia mereka.

Lalu bantulah mereka membentuk sebuah kelompok pemuda, tidak hanya untuk belajar tentang Islam, tapi untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya, seperti rihlah ke taman hiburan bersama-sama, pergi berenang, dan lain-lain.

Melakukan pertemuan di rumah anggota setiap minggu atau dua bulan sekali. Mengajak kelompok mereka untuk terlibat dalam pekerjaan yang berguna bagi sesama seperti membersihkan sampah di sekitar Masjid atau mengunjungi yatim dan dhuafa.

Kegiatan-kegiatan tetsebut harus mendapatkan pengawasan orangtua, meskipun remajalah yang memiliki ‘kekuasaan’ untuk pengambilan keputusan. Jadi orang tua tidak harus ‘mengganggu’ kecuali benar-benar diperlukan.

💐 *Tip 17*: Memiliki pertemuan keluarga mingguan

Tujuannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan setiap anggota keluarga dan untuk berkonsultasi pada anggota keluarga lain tentang hal-hal penting.

_Hanan mulai menghadiri halaqah._
_Imran baru saja kembali dari sebuah kamping pemuda Muslim._
_Bilal nilai ulangan Biologi terakhirnya bagus._

Intinya adalah untuk tidak hanya memberikan berita ini dalam bentuk ‘titik’. Tapi untuk _membuka forum diskusi dan komunikasi antara semua anggota keluarga, dan untuk tetap ‘up-to-date’ tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan masing-masing, yang semakin sulit terutama ketika anak-anak tumbuh menjadi remaja._

Ini juga merupakan tempat untuk berkonsultasi pada keluarga dan memutuskan hal-hal  utama yang mempengaruhi semua orang, seperti:
_Pindah ke kota lain;_
_Pernikahann salah satu anggota keluarga;_
_Kesulitan dengan ‘bully’ di sekolah_
Dan lain-lain

*Catatan:*

Syura dalam keluarga tidak berarti suara mayoritas menentukan apa yang harus dilakukan tentang suatu situasi.

Sementara orang tua tetap bertanggung jawab, remaja kita diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat dan saran kepada orang tua. Saran mereka akan dipertimbangkan dalam membuat keputusan akhir tentang suatu masalah.

💐 *Tip 17*: Memiliki “Malam Hiburan  Halal” sebulan sekali

Hiburan Islam kadang menjadi hal yang diabaikan banyak Muslim.

_Mungkin Jamil 16 tahun bisa menulis, sementara adiknya Amira, 14, dapat  menyanyi dengan baik._ _Biarkan mereka menyajikan lagu Islam mereka sendiri untuk seluruh keluarga. Atau persilahkan Ridwan 12 tahun membacakan beberapa puisi terbaiknya._

Bantu mereka membuat kriteria yang dapat diterima dan tidak dapat diterima sebagai hiburan yang diperbolehkan.

💐 *Tip 18*: Memberikan qudwah dari Rasul SAW dan para sahabat RA

Selain kita menjadi panutan dengan mencoba mengamalkan Islam, pastikan kita memberikan anak remaja kita panutan dengan menyampaikan kisah tentang Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya RA, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika tidak, karakter pada program yang anak-anak kita  tonton di televisi dapat menjadi “sahabat” buat mereka .

Diskusikan apa mungkin akan dilakukan para sahabat RA dalam situasi yang relevan dengan kehidupan anak remaja kita sekarang

Apa yang akan Abu Bakar Siddiq lakukan jika ia melihat seseorang menjual jawaban ujian akhir?

Apa yang akan Aisyah lakukan jika ia dihadapkan dengan kondisi untuk membohongi orang tuanya?

💐 *Tip 19*: Membaca buku tentang ‘Positif Parenting’

Bisa buku yang ditulis oleh Muslim, atau bahkan buku oleh non-Muslim dapat membantu. Namun, membaca buku dari sumber non muslim bisa dilakukan jika kita mampu mengidentifikasi mana yang diterima secara Islam dan mana yang tidak.

💐 *Tip 20*: Biarkan mereka menikah dini jika mereka sudah siap

Banyak kondisi di masyarakat sekarang yang memungkinkan anak-anak remaja kita banyak terpapar oleh hal-hal yang bisa merangsang nafsu birahi mereka: di TV, billboard, di jalan-jalan, bus, di film, dan lain-lain.

Seorang remaja Muslim yang menghadapi ini berada dalam posisi yang sulit: menyerah pada godaan atau sungguh-sungguh bertahan dari godaan.

Membantu mereka untuk menikah dini, akan mengurangi tekanan godaan tersebut. Mereka tidak juga harus berhenti studi mereka untuk melakukan hal ini.

Sebagai orangtua kita juga akan ikut bertanggung jawab jika putra atau putri kita sudah ingin menikah, tapi kita melarang mereka dan akhirnya mereka berhubungan seks di luar pernikahan. Naudzu billahi min dzalik.

Kita juga harus ingat untuk tidak melakukan langkah ini, yaitu memaksa putra atau putri kita menikah dengan orang yang tidak mereka sukai.

💐 *Tip 21*: Last but not least, berdoa untuk anak remaja kita.

_Allah lah yang memberi hidayah dan menyesatkan, tetapi jika kita telah melakukan kewajiban kita sebagai orang tua, Insya Allah, mengarahkan remaja kita menjadi seorang Muslim dewasa akan lebih mudah dilakukan dibandingkan jika kita mengabaikan kewajiban ini._

Lalu, berdoa untuk remaja kita di hadapan mereka. Hal ini untuk mengingatkan mereka betapa kita cinta dan peduli pada mereka.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Beberapa Hal Tentang Bulan Sya’ban

📆 Jumat,  6 Sya’ban 1437 H / 13 Mei 2016 M

📚 MOTIVASI

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 Beberapa Hal Tentang Bulan Sya’ban

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌷Bulan Sya’ban adalah bulan ke 8 dalam penanggalan Hijriah. Terletak antara dua bulan yang mulia, yaitu Rajab dan Ramadan.

Karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang bulan Sya’ban,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

“Inilah bulan yang sering disepelekan orang, terdapat antara Rajab dan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1898)

📚 Keistimewaan Bulan Sya’ban dan Puasa Di Dalamnya

Keistimewaan bulan Sya’ban, dinyatakan dalam kelanjutan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas;

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

💦 _Dia adalah bulan diangkatnya amal-amal (manusia) kepada Tuhan semesta Alam_ . Maka aku ingin ketika amalku sedang diangkat, aku sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1898)

Karena itu, berdasarkan riwayat shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada sebagian besar hari di bulan Sya’ban. Sebagaiman perkataan Aiysha radhiallahu anha,

… فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ (متفق عليه

“Aku belum pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasanya dalam sebulan selain bulan Ramadan, dan tidak aku lihat bulan yang di dalamnya *beliau paling banyak berpuasa selain bulan Sya’ban*.”

💦Dalam riwayat Bukhari (1970) dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,
“Tidak ada bulan yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam lebih banyak berpuasa di dalamnya, selain bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya.”

🌵Maksud hadits ini adalah bahwa beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari di bulan Sya’ban, berdasarkan perbandingan riwayat-riwayat lainnya yang menyatakan demikian.

🌷Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang boleh mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah ‘berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu’.

🌵Ada juga yang memahami bahwa kadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh di bulan Sya’ban, tapi kadang (di tahun lain) beliau berpuasa sebagian besarnya.

🌷Ada pula yang mengatakan bahwa pada awalnya beliau berpuasa pada sebagian besar bulan Sya’ban, namun pada akhir hidupnya beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.

💎Penafsiran pertama lebih kuat, berdasarkan riwayat-riwayat lain yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berpuasa di bulan Sya’ban melebihi puasa di bulan lainnya, dan bahwa Beliau belum pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadan.

 Wallahua’lam.

(Lihat: Fathul Bari, 4/213)

📚Berdasarkan hadits di atas, keutamaan puasa di bulan Sya’ban memiliki dua alasan;

❣  Karena di bulan ini amal manusia diangkat untuk dilaporkan.

❣  Karena bulan ini dianggap sebagai bulan yang banyak disepelekan orang, karena terletak di antara dua bulan utama.

Beribadah di saat orang lalai (kurang memperhatikan), memiliki keutamaan lebih dibanding beribadah disaat yang lainnya semangat beribadah. Meskipun kedua-duanya adalah kebaikan.

🌵Puasa di bulan Sya’ban, selain hikmah yang disebutkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits di atas, oleh para ulama juga dimaknai sebagai penyambutan dan pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.

🌷Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya diawali oleh pembuka yang mengawalinya. Seperti ibadah haji diawali dengan persiapan ihram di miqat, atau ibadah shalat yang diawali dengan bersuci dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat. Di samping hal ini akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk menyambut ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan.

🌵Di sisi lain, Para ulama menyebutkan bahwa ibadah puasa di bulan Sya’ban, ibarat shalat Rawatib (sebelum dan sesudah) shalat Fardhu. Sebab sebelum Ramadan disunnahkan banyak berpuasa di bulan Sya’ban, dan sesudah Ramadan, disunnahkan berpuasa enam hari bulan Syawwal.

(Lihat: Tahzib Sunan Abu Daud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244)

📚Malam Nishfu Sya’ban (pertengahan  Sya’ban)

🌵Terkenal di tengah masyarakat keutamaan malam nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban).

Hadits-hadits terkait dalam masalah ini sebagian dikatagorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikatagorikan maudhu (palsu) oleh para ulama hadits. Khususnya hadits-hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu pada malam tersebut atau hadits-hadits yang menjanjikan jumlah dan bilangan pahala atau balasan tertentu bagi yang beribadah di dalamnya.

🌷Akan tetapi, ada sebuah hadits yang berisi tentang keutamaan malam Nisfhu Sya’ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu. Yaitu hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik atau orang yang sedang bertengkar (dengan saudaranya).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1390). Dalam Zawa’id Ibnu Majah, riwayat ini dinyatakan dha’if karena adanya perawi yang dianggap lemah.

🌷Namun hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari shahabat Mu’az bin Jabal (215). Ibnu Hibban juga mencantumkan dalam shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). Al-Arna’uth dalam ta’liq (komentar)nya pada dua kitab terakhir tentang hadits tersebut, berkata, “Shahih dengan adanya syawahid (riwayat-riwayat semakna lainnya yang mendukung).”

🌵Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kelompok hadits-hadits shahih dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), juga dalam kitabnya Shahih Targhib wa Tarhib (1026).

🌷Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 291)

🌵Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi’in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir  yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu.

Dari merekalah kemudian kaum muslimin membudayakan berkumpul di masjid-masjid pada malam Nisfhu Sya’ban dengan melakukan ibadah tertentu untuk berdoa dan berzikir.  Ishaq bin Rahawaih menyetujui hal ini dengan berkata, “Ini bukan bid’ah”

🌷Akan tetapi, sebagian ulama Syam lainnya, di antaranya Al-Auza’i yang dikenal sebagai Imam ulama Syam, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid-masjid untuk shalat dan berdoa bersama pada malam ini, namun mereka membenarkan seseorang yang shalat khusus pada malam itu secara pribadi (tidak bersama-sama).

Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, begitu juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

🌷Lebih keras dari itu adalah pandangan mayoritas ulama Hijaz, sepeti Atha, Ibnu Mulaikah, juga ulama Madinah dan pengikut Mazhab Maliki, mereka menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah.

(Lihat: Latha’iful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 151, Mukhtashar Fatawa Al-Mishriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 292)

🌵Namun, jika seseorang qiyamullail pada malam itu sebagaimana qiyamullail disunnahkan pada umumnya malam, atau berpuasa di siang harinya karena termasuk puasa  Ayyamul Bidh (pertengahan bulan) yang disunnahkan, maka hal tersebut jelas tidak mengapa.

📚Qadha puasa Ramadan

🔹Bersambung, Ahad pagi Insya Allah..🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

📆 Ahad, 01 Sya’ban 1437H / 8 Mei 2016

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ust. Umar Hidayat M. Ag.

📝 Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Materi sebelumnya bisa dilihat di link berikut:

http://www.iman-islam.com/2016/05/kesungguhan-menghadapi-ramadhan.html

🌷Bagaimana dengan kita???

Rasulullah hanya 9 kali mengalami Ramadhan. Kita sudah berapa kali mengalami nya???

Tapi, kenapa hasil Ramadhannya tidak seperti para sahabat?

Dari sisi usia mestinya lebih dong.

Bahwa Puasa Ramadhan itu disyariatkan ketika pondasi kaum muslimin imannya sudah kuat. Rabithah imaniyahnya sudak aqwa.

Sehingga begitu beban berat, syariat ramadhan itu dikenakan, Rasululah dan para sabahat siap menjalankan.

🌵Namanya beban itu tidak ada yang mau. Berat. Apa yang membuat orang selalu siap dibebani (ditaklifi, jalani syariat) karena cinta. Beban berat bisa dinikmati karena cinta.

🌷Bahkan Ramadhan pertama Rasulullah bersama sahabat ditempa dengan perang besar, yakni perang badar. Sungguh luar biasa beban beratnya. Momentum berat dan semakin berat.

🌵Sedang puasa ramadhan pertama, tidak siap perang, jumlahnya sedikit. Mungkin kalau tidak siap jika zaman sekarang mungkin bunuh diri. Tapi karena kaum muslimin telah disiapkan imannya oleh Rasulullah, maka mereka pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Allah. Lalu keajaiban datang Allah menurunkan balatentara malaikan dari langit. Badar pun dimenangkan oleh kaum Muslimin binashrillah.

🌷Digambarkan betapa Rasulullah merasakan begitu beratnya, hingga memotivasi para sahabatnya menjelang prang Badar. Pada waktu perang Badar, Rasulullah shallallahu’aaihi wa sallam memberikan spirit kepada pasukan Muslimin untuk berperang, seraya berkata, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun yang ikut memerangi mereka hari ini, lalu dia terbunuh dalam keadaan bersabar dan mengharap pahala dari Allah, menyongsong (musuh) dan tidak mundur, melainkan Allah memasukkannya ke dalam surga.”

🌵Beliau berkata lagi: “Berangkatlah menuju surga yang luasnya seisi langit dan bumi.”
Ketika itu berkatalah al-Humaim bin al-Hamam, “Wah, Wah!”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan wah, wah?”

Dia menjawab, “Demi Allah, tidak apa-apa wahai Rasulullah, selain aku berharap menjadi salah seorang penghuni surga tersebut.”

Beliau berkata, “Benar, sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.”

Seketika dia langsung mengeluarkan kurma dari sisinya, lalu memakan sebagiannya kemudian berkata, “Jika aku hidup hingga memakan kurma-kurma ini sampai habis, sungguh merupakan hidup yang panjang. Lantas dia membuang semua kurma-kurma tersebut, kemudian berperang hingga akhirnya gugur sebagai syahid. (HR Muslim) [Sumber; Ar-Rahiq al-Makhtum (id) oleh Syaikh Mubarakfuri, hal. 316-317.]

🌷Maka beban berat ini (kastratuluqubat) selain beralas cinta, mahabatullah, Rasulullah senantiasa memperkuat dirinya dengan qiyamul lail dan tilawah al quran.

🌵Di akhir QS. 2: 185 ada kata ikmal atau kamal artinya sempurnakan Ramadhan, bukan selesaikanlah Ramadhan. Beda.

🌷Kuliah asalh lulus itu namanya selesai. Bukan sempurna. Sempurna artinya lulus dengan nilai terbaik. Mumtaz. Sempurna. Kumloud.

Bagaimana dengan kita???

🌵Ibnu jauziah mengilus trasikan Ramadhan dengan begitu eloknya. Beliau menggambarkan keadaan orang yang berpuasa dengan baik, bahwa  ucapan dan perbuatannya harum seperti harumnya minyak wangi misk!

Beliau bertutur, Maka ucapan dan perbutannya tersebut seperti bau harum yang dicium oleh orang yang duduk menemani pembawa minyak wangi misk!

Demikianlah orang yang menemani orang yang sedang berpuasa (dengan sebenar-benar puasa), niscaya akan mengambil manfaat dari pertemanannya tersebut, ia akan merasa aman dari ucapan batil, dusta, kefajiran dan kezhaliman.

🌷Inilah sesungguhnya puasa yang disyariatkan, ia tidak sekedar menahan dari makan dan minum! (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal. 54).

Ibnu Qudamah rahima hullah dalam ringkasan kitab Ibnul Jauzi ra yang dinamakan Mukhtashar Minhajil Qashidin, pada hal. 44, beliau menjelaskan tentang tingkatan puasa,

Dan puasa memiliki tiga tingkatan:

❣1. Puasa Orang Umum. Ibnu Qudamah rahima hullah mengatakan, Adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti selera syahwat (baca: menahan diri dari melakukan berbagai pembatal puasa, seperti makan,minum dan bersetubuh).

❣2. Puasa Orang Khusus (VIP).
Ibnu Qudamah rahima hullah melanjutkan penjelasannya, Dan puasa khusus adalah menahan pandangan, lisan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.

❣3. Puasa Super Khusus (VVIP).
Dan adapun puasa super khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah dan pikiran yang menjauhkan hatinya dari Allah Subhanahu wa Taala serta menahan hati dari berpaling kepada selain Allah Subhanahu wa Taala secara totalitas!

🌷Di tingkat manakah kita berada???

Tentu kita akan memilih yang terbaik. Karenanya untuk meraihnya kita membutuhkan persiapan dan kesiapan.

🌵Nasihat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu: Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata, jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran mu, penglihatanmu, dan lisanmu dari dusta dan maksiat. Tinggalkanlah menyakiti pembantu.

Hendaklah engkau tenang dan tenang pada saat engkau berpuasa, dan janganlah engkau jadikan harimu saat tidak berpuasa sama dengan hari saat engkau berpuasa (Mushannaf Ibnu Syaibah  – 8973).

🌷Penjelasan Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah:

Ini adalah potret yang cemerlang dari bentuk-bentuk persiapan menyambut bulan Ramadhan, hal itu dikarenakan sesungguhnya puasa disyariatkan untuk melembutkan jiwa, mensucikan hati, merealisasikan takwa, menjauhi dosa serta memperbaiki hati, lisan dan anggota tubuh.

Betapa indahnya ketika seseorang menyambut bulan yang diberkahi ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut bulan Ramadhan agar memperoleh kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya!

🌵Kesungguhan dalam kesiapan dan persiapan akan mempengaruhi kita dalam menjalani puasa Ramadhan. Kesiapan menyangkut kesungguhan jiwa dan mental kita, dalam menghadapi dan menjalani puasa Ramadhan.

Dan persiapan menyangkut kesungguhan kita dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung kita bisa bersungguh-sungguh menjalani puasa Ramadhan. Dan dengan demikian insya Allah akan meraih puncak ketaqwaan.

🌷Sangat tepat bila kaidah man jadda wajada (Siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat) menjadi dasar pijakan dalam menunaikan tugas suci, puasa ini.

Kesungguhan yang menghantarkan kesuksesan dinyatakan benar bila memenuhi pra syaratnya, yakni:

📚Pertama, Al Fauriyah littanfidz (merespon dengan segera).

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja

📆 Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

📚 KELUARGA & TARBIYATUL AULAD

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

📝 Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

Apa yang dibutuhkan bagi orang tua untuk mengarahkan anak remaja untuk menjadi seorang muslim dewasa?

💐Tips 1: Lakukan pengasuhan anak remaja kita lebih serius dari apa yang kita lakukan pada profesi “full-time” kita.

Kedua orang tua harus memahami bahwa anak-anak mereka adalah amanah dari Allah. Dan Allah akan bertanya bagaimana mereka dibesarkan.

Jika anak-anak tumbuh dewasa dan tidak mempraktekkan Islam karena kelalaian orang tua, maka hal itu merupakan hal yang sia-sia dalam kehidupan orang tua.

💐Tips 2: Mengurangi atau mengubah jam kerja dan berikan waktu tersebut untuk keluarga

Lebih baik untuk memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga walau hanya memberikan sedikit kemewahan di rumah. Jadi janganlah membanjiri anak dengan banyak materi tapi kehadiran orang tua nyaris tidak ada.

Ini berlaku untuk ibu dan ayah. Orang tua tidak bisa menanamkan nilai-nilai pada anak-anak jika mereka tidak ada di sisi anak-anak.

Kurangilah pekerjaan ekstra di akhir pekan atau di malam hari, agar lebih bisa mendorong anak-anak ke masjid atau untuk pergi halaqah serta kegiatan positif lainnya.

Bisa juga mempertimbangkan beralih jadwal di tempat kerja sehingga kita ada ketika anak-anak di rumah.

💐Tip 3: Rutinkan bersama untuk membaca Al-Quran, memahami maknanya, minimal selama lima menit setiap hari

Hanya lima menit.

Apakah itu di dalam mobil dalam kemacetan lalu lintas, dini hari setelah Subuh, atau tepat sebelum kita pergi tidur, membaca Al-Quran dengan terjemahan dan / atau Tafsir.

Kita akan merasakan efek bola salju. Kita akan, Insya Allah, selalu terhubung kembali dengan Allah.

Jika kita sudah biasa melakukannya, dalam jangka panjang, kita akan menjadi panutan membantu seluruh keluarga, bukan hanya remaja kita, untuk selalu berhubungan dengan Allah.

💐Tips 4: Menghadiri halaqah mingguan

Menentukan waktu rutin untuk halaqah pekanan. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka berjuang untuk belajar tentang Islam, mereka dalam banyak kasus akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.

💐Tip 5: Hormati remaja kita

Menghormati remaja kita berarti tidak memperlakukan mereka seperti bayi yang tidak kompeten. Tidak berbicara ke mereka dengan isi dan intonasi yang mempermalukan dan menghina mereka.

Ini berarti melibatkan mereka dalam kegiatan yang bermanfaat di sekitar rumah dan meminta pendapat mereka tentang hal-hal penting.

💐Tip 6: Berminatlah pada apa yang mereka lakukan

Apakah Hilmi bermain footsal di tim olahraga setempat? Menghadiri pertandingan/latihan Hilmi seteratur mungkin.

Apakah Muhsin suka membuat website? Kunjungi situs nya, masukkan e-mail ucapan selamat pada papan pesan dan tawarkan beberapa saran untuk situsnya. Beri dia sebuah buku tentang desain web canggih sebagai hadiah lebaran. Dan seterusnya

💐Tip 7: Memahami masalah mereka dan mengatasinya.

Ketika kita menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak remaja, kita akan lebih mampu merasakan jika ada sesuatu yang mengganggu mereka. Selesaikan secara terbuka tapi jangan ungkapkan masalah mereka dalam forum pertemuan keluarga atau di depan orang lain, jika menyangkut hal yang sensitif buat mereka

💐Tip 8: “ngedate” dengan remaja kita

Ngadate atau kencan dengan remaja kita untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Ini terutama penting untuk anak-anak yang menginjak usia remaja karena mereka tidak lagi hanya “salah satu dari anak-anak”. Mereka adalah orang dewasa muda yang membutuhkan perhatian dan bimbingan secara individu. Kita bisa pergi keluar pada saat ketika Hamnah lulus dari sekolah tinggi, ketika Ahmad baru mendapat KTP-nya atau jika kita merasa ada sesuatu yang mengganggu mereka dan kita ingin mengatasinya sendiri.

💐Tip 9: Jangan hanya menjadi orang tua remaja kita, jadilah mitranya

Menjadikan mereka mitra berarti memberi mereka tanggung jawab dalam keluarga. Buatlah Amir, yang baru memasuki usia 16, untuk membantu ibunya berbelanja di hari Sabtu; ajaklah Syifa berusia 15 tahun, yang mencintai bunga, untuk bertanggung jawab atas taman dan memotong rumput. Dengan cara ini, remaja akan merasa menjadi bagian dari keluarga dan diperlukan.

💐Tip 10: Membangun Masjid di rumah kita

Membuatkan bagian tertentu rumah atau ruang tamu sebagai Masjid rumah. Kita dapat melakukan ini tanpa biaya besar.

Membuat Masjid ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab anak-anak. Jadikan anak yang tertua untuk bertanggung jawab dan untuk mendelegasikan tanggung jawab untuk adik-adik. Tanggung jawabnya meliputi menjaga Masjid bersih, membangunkan orang untuk Fajr, dan seterusnya

💐Tip 11: Janganlah melatih laki-laki saja

Itu berarti tidak mengecualikan istri atau anak perempuan. Ketika orang-orang sholat berjamaah, pastikan perempuan juga sholat berjamaah.

💐Tip 12: Membuat perpustakaan Islam

Melengkapi rumah kita dengan sebuah perpustakaan Islam dengan buku-buku, video dan kaset audio tentang berbagai aspek Islam.

Jika Bilal 13 tahun suka novel petualangan, misalnya, pastikan kita memiliki beberapa buku petualangan Islam

Jadikan salah satu remaja kita untuk menjadi pustakawan. Dia diharapkan mengontrol bahan terorganisir dan dalam kondisi baik. Setiap permintaan untuk bahan yang akan ditambahkan ke koleksi harus melalui dia. Berikan pustakawan ini anggaran bulanan untuk memesan buku-buku baru, kaset, dan lain-lain.

💐Tip 13: Mengajak mereka keluar untuk melakukan kegiatan Islam

Alih-alih makan malam mewah di restoran, akan menghemat uang kita untuk mengajak semua orang keluar untuk makan bersama atau melakukan kegiatan lainnya bersama komunitas Muslim. Mengusahakan untuk pergi ke acara di mana remaja Muslim lainnya akan hadir.

Bersambung..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Cinta (bag-2)

📆 Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

📋 CINTA ( bag-2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌿

Bag-1 http://www.iman-islam.com/2016/05/cinta-bag-1.html?m=1

🔆Seorang ulama besar yang lahir di Bashrah pada pertengahan tahun ke-2 abad ke-2 Hijriyah, Al-Imam Abu ‘Abdullah al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H), memiliki wawasan yang luas dan keilmuan mendalam di bidang fikih, hadits, sekaligus seorang ahli kalam yang meninggalkan karya tulis dengan jumlah yang sangat banyak membahas tentang zuhud, akhlak, pendidikan dan kelembutan hati (ar-raqa’iq), sehingga ia pun dijuliki dengan al-Muhasibi karena banyaknya ber-muhasabah(introspeksi diri), menulis bahwa sesungguhnya permulaan cinta adalah ta’at, dan ta’at itu terlahir dari cinta kepada Allah Jalla wa ‘Ala, karena Dialah yang memulai hal tersebut, dan karena Dia memperkenalkan diriNya kepada mereka, menunjukkan kepada mereka untuk menaati-Nya, dan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka dengan mencukupi mereka. Lalu Dia menjadikan kecintaan terhadap diri-Nya itu sebagai titipan dalam hati para pecinta-Nya, kemudian Dia memakaikan mereka cahaya yang terang dalam lafazh-lafazh mereka karena kuatnya cahaya kecintaan-Nya dalam hati mereka. Ketika Allah melakukan hal tersebut kepada mereka, Dia memperlihatkan mereka – sebagai bentuk kegembiraan pada mereka, kepada para malaikatnya, hingga seluruh penduduk langitpun mencintai mereka. [5]

Lebih lanjut, Abu ‘Abdullah al-Muhasibi berkata bahwa yang paling memberikan manfaat bagi seorang mukmin untuk mengobati diri dalam urusan agamanya adalah memutus rasa cintanya terhadap dunia dari hatinya. Apabila dia melakukan itu, maka ringan untuk meninggalkan dunia[6], dan mudah untuk menggapai akhirat, namun dia tidak dapat berada di atas keadaan tersebut kecuali dengan berbagai perlengkapannya. Yang menjadi pangkal perlengkapannya adalah pikiran, pendek angan-angan, mengulangi tobat dan kesucian, mengeluarkan rasa mulia dalam hati, senantiasa bersikap rendah hati, membangun hati dengan ketakwaan, mengekalkan kesedihan dan banyaknya kegelisahan yang datang padanya. Betapa banyak orang yang beramal dengan amal yang telah dipaparkannya sementara kecintaannya terhadap dunia dalam hatinya pun bertambah, dan banyak orang yang tidak memperbanyak amal-amal tersebut, namun cintanya kepada dunia semakin berkurang, karena dia mengambilnya melalui jalannya. Maka di dalam Adab an-Nufus (hlm. 136) beliau mengatakan, “Karena sesungguhnya hati yang disertai dengan berpikir akan menjadi hidup jika memikirkan akhirat, dan akan menjadi mati jika memikirkan dunia.”

🔆Seorang ulama fikih bermadzhab Hambali yang juga seorang penasihat, ahli tafsir, ahli hadits dan budayawan yang digelari Jamaluddin (Keindahan Agama) yang bernama Abul al-Faraj, Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri (lahir 511 H, wafat 597M), atau ia juga dikenal dengan nama Ibn al-Jauzi (panggilan yang dinisbatkan pada salah satu kakeknya yang dikenal dengan al-Jauzi karena menjualjauzah (jenis buah di daerahnya) pernah berkata, “Bersihkanlah hatimu dari berbagai kotoran karena cinta itu tidak akan diberikan kecuali dalam hati yang bersih. Apakah kamu tidak melihat seorang petani memilih tanah yang baik, menyiraminya dan mengairinya, kemudian membajaknya dan mengawasinya. Setiap dia menemukan batu di dalamnya, maka dia akan melemparkannya, dan setiap dia melihat yang dapat merusak tanahnya, maka dia menyingkirkannya, kemudia dia menaburkan benih ke dalamnya dan menjaganya dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Begitu pula dengan Allah Jalla wa ‘Ala.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Jika seorang hamba ingin dicintai oleh-Nya, maka hendaknya dia memangkas berbagai duri kesyirikan dari hatinya, lalu membersihkannya dari kotoran-kotoran riya dan keraguan, kemudian menyiraminya dengan air tobat daninabah, lalu membajaknya dengan seretan rasa takut dan ikhlas, lalu menyamakan batin dan zhahirnya dalam ketakwaan, kemudian meletakkan benih hidayah di dalamnya, maka berbuahlah benih-benih cinta.” [7]

🔆Berkata al-Muhaqqiq al-Hafizh Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d bin Harits az-Zar’i ad-Dimasqy yang terkenal dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (lahir 691 H, wafat 751 H, namanya dinisbatkan kepada sekolah yang didirikan oleh Yusuf bin Abdurrahman al-Jauzi karena ayahnya turut mendirikannya), “Setiap kesalahan yang terjadi di jagat raya ini, pangkalnya adalah cinta dunia. Janganlah engkau melupakan kesalahan kedua nenek moyang kita dahulu, karena sebabnya adalah cinta kekekalan di dunia. Janganlah engkau melupakan dosa iblis, karena sebabnya adalah cinta kepada kekuasaan, yang rasa cintanya lebih buruk daripada cinta dunia. Dengan sebab itu pula Fir’aun, Haman serta bala tentaranya, Abu Jahal serta kaumnya dan bangsa Yahudi menjadi kufur.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Cinta dunia dan kepemimpinan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka, sedangkan zuhud terhadap dunia dan kekuasaan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Mabuk sebab cinta dunia lebih berbahaya dibandingkan mabuk meminum khamr. Pemabuk cinta dunia tidak akan sadar hingga dia berada dalam kegelapan liang lahat. Anda saja penutupnya dibuka dalam memandang dunia, maka dia pasti mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah kemabukan, dan itu lebih berbahaya dibandingkan mabuk khamr.” [8]

✅ Maka marilah kita hadirkan cinta dalam seluruh kerja-kerja besar kita agar melahirkan harmoni. Cinta yang tidak bertujuan duniawi akan tetapi ukhrawi, karena hanya cinta seperti ini yang akan melahirkan energi besar untuk berkarya di dunia, karena hanya di dunia tempat bertanam cinta untuk merasakan semaiannya kelak.

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

[5] Tahdzib Hilyah al-Auliya (3/273)

[6] Maksudnya meninggalkan ketamakan terhadap harta dunia, dan menjadikannya hanya sebagai perantara dan bukanlah sebuah tujuan

[7] Lihat al-Yawaqit al-Jauziyah fi al-Mawa’izh an-Nabawiyah, tahqiq Sayyid bin Abdul Maqshud, Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyah (hlm. 139)

[8] Lihat Iddatush Shabirin, cetakan Darul Kitab al-Arabi (hlm. 266)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…