Yasinan & Tahlilan…Bagaimana Hukumnya???

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ€Ustadzah Indra Asih

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamualaikum ustadzah saya mau bertanya…
Sebenarnya bagaimana hukumnya yasinan dan tahlilan…
Karena ada saudara kita yang kalau ada undangan untuk yasinan tidak mau datang..dengan alasan yasinan dan tahlilan itu tidak ada.. Maaf karena ada saudara kita yang islamnya maaf islam wahabi… Mohon pencerahannya ustadzah..
Syukron๐Ÿ™๐Ÿฝ  ๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Kalau sekedar mengatakan bahwa perayaan tahlilan atau yasinan tidak ada ajaran atau anjurannya dari Rasulullah SAW, sepertinya semua pihak pasti sepakat. Nyatanya memang tidak ada satu pun hadits shahih, bahkan tidak juga hadits palsu, yang menyebutkan bahwa ada  ritual seperti urusan tahilan 3 hari kematian, 7 hari atau 40 hari. Semua itu memang tidak kita temui contoh langsung dari Rasulullah SAW.

Tapi masalahnya, bagaimana cara mensosialisasikan pengertian ini di tengah saudara2 yang sudah dicecoki doktrin tahlilan dan praktek sejenisnya? Padahal mereka sudah berpikir demikian sejak dahulu?

Memang benar bahwa yang menjadi masalah adalah tinggal tehnik berdakwah.

Masalahnya, saudara-saudara kita justru tidak pernah sepakat dalam tehnik berdakwah. Ada yang cenderung dengan jurus sekali sikat, pokoknya bid’ah, sesat dan masuk neraka, titik dan habis perkara

Memang harus diakui bahwa masalah yasinan, tahlilan dan maulidan ini memang mencakup wilayah perbedaan pendapat yang sangat ekstrim. Di tengah masyarakat berkembang beberapa pandangan yang berbeda. Ada yang yang mewajibkan, menyunnahkan, memubahkan, memakruhkan hingga yang mengharamkan.

Tentu saja masing-masing pihak datang tidak sekedar dengan kesimpulan akhirnya. Mereka bahkan datang dengan sekian banyak hujjah, istidlal, argumentasi serta latar belakang manhaj fiqihnya.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Khitan Untuk Wanita

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan SS

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                   12 Sya’ban 1437 H

*Khitan Untuk Wanita*
————————————-

Assalamualaikum…saya mau bertanya tentang masalah hukum khitan untuk anak perempuan. Bagaimana hukum sebenarnya? karena ada beberapa negara islam seperti pakistan tidak ada khitan u perempuan tp hanya u lelaki saja.. sedangkan di indonesia khitan u anak perempuan masih ada… bagaimana hukumnya ustadz… terima kasih
 ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ              

 Jawaban:
—————

Wa Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah wa bad:

Khitan merupakan salah satu millah (ajaran) Nabi Ibrahim Alaihis Salam, yang Allah Taala perintahkan agar kita mengikutinya. Allah Taala berfirman:

ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ุญูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุจูุนู’ ู…ูู„ู‘ูŽุฉูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุญูŽู†ููŠูู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ

โ€œKemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl (16): 123)

Maka, khitan baik laki-laki dan wanita adalah perbuatan yang memiliki tempat dalam syariat Islam. Dia bukan barang asing, bukan pula bidah yang menyusup ke dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang.

*_๐Ÿ“ŒApanya Yang Dikhitan?_*

Pada wanita, yang dipotong adalah kulit yang menyembul dibagian atas saluran kencing, yang mirip dengan jengger ayam (Urf ad Dik). (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28) Biasa kita menyebutnya klitoris.

Bagian ini adalah bagian luar yang paling sensitif pada genital wanita, oleh karena itu khitan wanita bertujuan untuk menstabilkan libido mereka. Tetapi, tidak dibenarkan memotong semua, atau sebagian besarnya sebagaimana dilakukan di negeri-negeri Afrika. Bahkan ada yang memotong bagian labia minora (bibir kecil). Ini tentu cara yang bertentangan dengan khitan wanita  menurut Islam.

Sedangkan, pada laki-laki yang dipotong adalah kulit yang menutupi  hasyafah (glans), kulit itu dinamakan Qulfah (Kulup), sehingga seluruh hasyafah terlihat. (Ibid)

Bagian ini adalah kumpulan bakteri dan najis, oleh karena itu tujuan khitan pada laki-laki adalah  agar najis yang ada padanya menjadi hilang, tak lagi terhalang oleh qulfah tersebut.

*_๐Ÿ“ŒDalil-Dalil Pensyariatannya_*

Ada beberapa dalil yang biasa dijadikan alasan kewajiban dan kesunnahan khitan bagi wanita. Tetapi, hadits hadits tersebut tak satu pun yang selamat dari cacat.  Di antaranya sebagai berikut:

1โƒฃ Dari Ummu Athiyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa ada seorang wanita yang dikhitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

ู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุนู’ู„ู

โ€œJangan potong berlebihan, karena itu menyenangkan bagi wanita dan disukai oleh suami.”
(HR. Abu Daud No. 5271. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/324. Juga Syuabul Iman, No. 8393. Ath Thabarani, Al Mujam Al Kabir, No. 8062, juga dalam Al Awsath, No. 2343, dan dalam Ash Shaghir No. 122,  Abu Nuaim, Marifatush Shahabah, No. 3450)

Hadits ini menurut lafaz Imam Abu Daud. Sedangkan dari Imam yang lainnya, ada tambahan diawalnya dengan ucapan: Asyimmi dan Ikhfidhi yang berarti rendahkan/pendekkan. Sedangkan Laa Tanhiki artinya jangan berlebihan dalam memotong.

Hadits ini menurut Imam Abu Daud- sanadnya tidak kuat, dan hadits ini mursal, sedangkan Muhammad bin Hassan  adalah majhul (tidak dikenal). Dan, hadits ini dhaif (lemah). (Sunan Abi Daud No. 5271)

Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi mengatakan bahwa hadits ini idhthirab (guncang). (Aunul Mabud, 14/126)

2โƒฃ Dari Abdullah bin Umar secara marfu:

ูŠูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ุงูุฎู’ุชูŽุถูุจู’ู†ูŽ ุบูŽู…ู’ุณู‹ุง ูˆูŽุงุฎู’ููุถู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒู’ู†ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ุนูู†ู’ุฏ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู†ู‘ูŽ
       
โ€œWahai wanita Anshar, celupkanlah dan potonglah, jangan banyak-banyak, karena itu membuat senang suami kalian.โ€
(HR. Al Bazzar dan Ibnu โ€˜Adi)

Dalam sanad hadits  Al Bazzar terdapat Mandal bin Ali dan dia dhaif. Sedangkan, ri wayat Ibnu โ€˜Adi terdapat Khalid bin โ€˜Amru Al Kursyi, dia lebih dhaif dari Mandal. (Ibid)

3โƒฃ Hadits lain:

ุงู„ู’ุฎูุชูŽุงู† ุณูู†ู‘ูŽุฉ ู„ูู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู…ูŽูƒู’ุฑูู…ูŽุฉ ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

โ€œKhitan adalah sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita.โ€
(HR. Ahmad)

Hadits ini juga dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Hajaj bin Arthaโ€™ah. Imam Adz Dzahabi mengatakan: Hajaj bin Arthaโ€™ah adalah dhaif dan tidak boleh berhujjah dengannya.

Imam Ath Thabarani juga meriwayatkan yang seperti ini dari Syaddad binAus, dari Ibnu Abbas. Imam As Suyuthi mengatakan sanadnya hasan. Sedangkan Imam Al Baihaqi mengatakan dhaif dan sanadnya munqathi (terputus), dan ditegaskan pula kedhaifannya oleh Imam Adz Dzahabi.

Al Hafizh Al Iraqi mengatakan: sanadnya dhaif. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Hajaj bin Arthaah adalah seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan dalam hal ini terjadi idhthirab (keguncangan).  Imam Abu Hatim mengatakan: ini adalah kesalahan Hajaj atau perawi yang meriwayatkan darinya.

Imam Al Munawi mengatakan dalam At Taisir : sanad hadits ini dhaif, berbeda dengan yang dikatakan As Suyuthi yang mengatakan hasan.  (Ibid,  14/125. Lihat juga At Talkhish Al Habirnya Imam Ibnu Hajar)

*_๐Ÿ“ŒBenarkah Seluruh Hadits Khitan Wanita Adalah Cacat dan Dhaif ?_*

Hal ini ditegaskan para Imam muhaqqiq (peneliti). Berkata Imam Abu Thayyib Abadi:

ูˆุญุฏูŠุซ ุฎุชุงู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฑูˆูŠ ู…ู† ุฃูˆุฌู‡ ูƒุซูŠุฑุฉ ูˆูƒู„ู‡ุง ุถุนูŠูุฉ ู…ุนู„ูˆู„ุฉ ู…ุฎุฏูˆุดุฉ ู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡ุง ูƒู…ุง ุนุฑูุช.ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ: ู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุฎุชุงู† ุฎุจุฑ ูŠุฑุฌุน ุฅู„ูŠู‡ ูˆู„ุง ุณู†ุฉ ูŠุชุจุน. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ููŠ ุงู„ุชู…ู‡ูŠุฏ: ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃุฌู…ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุฃู† ุงู„ุฎุชุงู† ู„ู„ุฑุฌุงู„ ุงู†ุชู‡ู‰

โ€œDan hadits tentang khitannya wanita diriwayatkan oleh banyak jalur, semuanya dhaif, memiliki ilat (cacat), dan tidak sah berdalil dengannya sebagaimana yang telah anda ketahui. Berkata Ibnul Mundzir: Tentang khitan (wanita) tidak ada riwayat yang bisa dijadikan rujukan dan tidak ada sunah yang bisa diikuti. Berkata Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid: Dan yang di-ijmakan kaum muslimin adalah bahwa khitan itu bagi laki-laki.” (Aunul Mabud, 14/126)

Tetapi, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits riwayat Abu Daud di atas (hadits pertama). Beliau mengakui sanad hadits ini sebenarnya dhaif, tetapi banyak riwayat lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih. (Selengkapnya lihat di kitab As Silsilah Ash Shahihah 2/353, No. 722, dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5271, lihat juga Shahih Al Jamiush Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/1244-1245)

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani termasuk ulama yang mewajibkan khitan bagi wanita, karena keshahihan riwayat ini.

Tetapi, benarkah semua hadits tentang khitannya wanita adalah dhaif ?  Jika kita lihat secara seksama, tidaklah demikian.

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅุฐุง ุงู„ุชู‚ู‰ ุงู„ุฎุชุงู†ุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika bertemu dua khitan maka wajiblah untuk mandi.โ€
(HR. At Tirmidzi No. 109, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 608, Ahmad No. 26067, Ath Thahawi dalam Syarh Maani Al Aatsar No. 332, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1041, Asy Syafii dalam Musnadnya No. 102 (disusun oleh As Sindi), Ath Thabarani dalam Musnad Syamiyyin No. 2754, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 961 dari Asiyah. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 954)

Hadits ini shahih. (Syaikh Al Albani, Irwaul Ghalil No. 80. Juga Syaikh Syuaib Al Arnauth,  Taliq Musnad Ahmad No. 26067)

Hadits lainnya:

ุฅุฐุง ุฌู„ุณ ุจูŠู† ุดุนุจู‡ุง ุงู„ุฃุฑุจุน ูˆู…ุณ ุงู„ุฎุชุงู† ุงู„ุฎุชุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika seserang duduk diantara empat cabang anggata badan, dan khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajiblah dia mandi.โ€
(HR. Muslim, No. 349, Abu Daud No. 216, dan At Tirmidzi, katanya: hasan shahih. Ibnu Khuzaimah No. 227,  Abu Yaala No. 4926)

Riwayat seperti ini cukup banyak, dan secara makna, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang dikhitan bukan hanya laki-laki tetapi wanita. Sebab, maksud bertemunya dua khitan adalah bertemunya dua kemaluan laki-laki dan wanita yang sudah dikhitan. Maksud bertemu di sini bukan sekedar bersentuhan, tetapi terbenamnya kemaluan l aki-laki pada kemalaun wanita, sebagaimana telah disepakati oleh madzhab yang empat. (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/50).

Dan, Imam Ahmad mengatakan: Dari hadits ini, bahwa bagi wanita juga dikhitan.  Tetapi menurutnya khitan wanita adalah sunah.  (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 134. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ูุทุฑุฉ ุฎู…ุณูŒุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณูŒ ู…ู† ุงู„ูุทุฑุฉ: ุงู„ุฎุชุงู†ุŒ ูˆุงู„ุงุณุชุญุฏุงุฏุŒ ูˆู†ุชู ุงู„ุฅูุจุทุŒ ูˆุชู‚ู„ูŠู… ุงู„ุฃุธูุงุฑุŒ ูˆู‚ุตู‘ู ุงู„ุดุงุฑุจ

โ€œFitrah itu ada lima, atau lima hal yang termasuk fitrah: (diantaranya) โ€œKhitan โ€ฆ.โ€ (HR. Bukhari No. 5550, Muslim No. 257)

Hadits ini umum, bukan hanya bagi laki-laki tetapi juga wanita, kecuali memendekkan kumis yang memang khusus untuk laki-laki. Nah, riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa khitan bagi wanita memang ada dalam Islam. Tetapi, memang tidak ada hadits shahih yang khusus menceritakan khitan wanita. Yang ada adalah hadits tentang khitan secara umum, dengan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan.

*_๐Ÿ“ŒLalu, Apa Hukumnya Khitan Wanita?_*

Keterangan di atas telah jelas, bahwa khitan wanita adalah masyru (disyariatkan) dalam Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum kemasyruannya. Ada yang mewajibkan, menyunnahkan, membolehkan, bahkan ada yang melarangnya dalam kedaan tertentu.
Pihak yang mewajibkan seperti Imam Asy Syafii dan mayoritas pengikutnya. Juga Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh Al Albani Rahimahumulullah Taala.
Sedangkan,  Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menyatakan sunah secara mutlak (laki-laki dan wanita), dan Imam Ahmad mengatakan wajib buat laki-laki namun sunah buat wanita. (Aunul Mabud, 14/125),

Imam Ibnu Qudamah mengatakan wajib bagi laki-laki, dan kemuliaan bagi wanita,  serta tidak wajib bagi mereka. (Al Masuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28).

Pihak yang mewajibkan berdalil dengan ayat An Nahl 123 (agar mengikuti millah Ibrahim), dan hadits sunah fitrah ada lima.

Alasan ini ditolak, sebab ayat tersebut memerintahkan kita mengikuti agama Ibrahim secara Global dan pokoknya yaitu Tauhid.

Sedangkan, hadits tersebut juga tidak bisa dijadikan dalil,  dan tidak menunjukkan wajibnya khitan, sebab jika khitan wajib, maka empat hal lainnya dalam hadits itu juga wajib seperti bersiwak, memendekkan kumis, mencukur bulu kemaluan, dan ketiak. Sedangkan kita tahu, tak ada yang mengatakan bersiwak , mencukur ketiak, bulu kemaluan adalah wajib, semua adalah sunah!
Selain itu, hadits tentang bertemunya dua khitan, juga bukan menunjukkan wajibnya khitan wanita, melainkan hanyalah informasi tentang khitan wanita. Ditambah lagi, lemahnya riwayat yang memerintahkan khitan khusus wanita. Maka, pendapat yang paling rajih (kuat) adalah khitan wanita adalah sunah. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

*Tapi, hukum ini bisa berubah jika:*

๐Ÿ’ข Bagi wanita tertentu jika membahayakan maka sebaiknya dilarang. Syaikh Ali Jumah mufti Mesir saat ini- pernah memfatwakan haramnya khitan wanita lantaran kasus tewasnya seorang gadis setelah dikhitan.

๐Ÿ’ข Tekstur genital wanita tidaklah sama satu sama lain. Jika klitorisnya pendek dan kecil, yang justru akan mendatangkan frigid jika dikhitan, maka tidak wajib dan tidak sunah, sebab akan membawa mudharat pada kehidupan seksualnya. Tetapi, jika ada wanita yang klitorisnya panjang, maka sangat dianjurkan untuk dikhitan, agar tidak terjadi mudharat berupa tidak stabilnya libido.

Ketentuan-ketentuan ini sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter yang berkompeten. Sekian.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana mensikapi keluarga yg turut mengatur Rumah Tangga kita??

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“ Ustadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah… mau tanya, bagaimana hukumnya seorang istri memprotes suami yang masih terpengaruh oleh bude & pakdenya yang masih suka ikut campur mengatur keuangan rumah tangga suami-istri tsb?
Padahal sang istri dalam kehidupan sehari2 sudah berusaha mengikuti (taat dan qonaah) aturan suami untuk hidup irit/hemat. Dan istri tdk pernah menghalangi suami ketika mendapat rizki utk berbagi kepada mertua kandung dan angkat (bude-pakde) bahkan tak jarang istri turut mengingatkan suami ketika mendapat rizki supaya memberi/ berbagi rizki kepada mereka.
Tetapi istri gelisah, merasa tidak terima ketika masalah pengeluaran yg notabene untuk kebutuhan rumah tangga suami & istri, bude-pakde sering ikut mengatur (memprotes) jika menurut mereka misal barang yang dibeli kemahalan. Puncaknya kini istri tidak terima ketika akan melahirkan di RS dikarenakan resiko perdarahan, sedangkan bude-pakde memprotes dan menginginkan si istri (menantu) melahirkan di klinik bidan daerah perkebunan (tempat tinggal bude-pakde) karena harga melahirkan disana masih murah dibawah 1 juta rupiah.
Si istri minta melahirkan di rumah sakit karena peralatan RS lebih lengkap serta penanganan lebih cepat, dikarenakan juga menurut dokter ada indikasi perdarahan. *biayanyapun ada dari uang penghasilan suami.

*Sejarahnya : dalam hal ini bude & pakdenya adalah saudara yg mengangkat anak sang suami sejak bayi dikarenakan adat, yaitu kepercayaan mengambil (mengangkat) anak yg bukan anak kandungnya (kebetulan saat itu mengambil anak adeknya) utk memancing supaya memiliki anak dari rahim sendiri.  ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban:
—————

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Menyimak dari cerita penanya berarti posisi pak de/bu de bagi suami penanya adalah orang tua, karena merekalah suami penanya jadi seperti sekarang, kalau dari sisi fiqh anak laki-laki milik ibunya dan wajib taat sepanjang tidak mengajak pada kemaksiatan.
Dan istri milik suaminya dan wajib taat dgn Suami.

Saran saya masalah ini tidak usah di bawa kepada fiqh, hukumnya gmn? Sebaiknya yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa berdamai dan memahami mereka. Berlapang dadalah dan selalu berprasangka baik, karena di hadits qudsi Allah berfirman,

*”Aku seperti persangkaan hambaku”*

tunjukkan sikap baik kepada pak de atau bu de karena posisi mereka seperti orang tua buat suami anda. Jalin komunikasi yang baik dengan suami, kalaupun tidak merasa cocok dgn keputusan suami coba pahami alasan-alasannya dengan positif thinking.

Kalau dari cerita di atas ,contohnya saat mau melahirkan ternyata pak de/bu de ikut campur, coba di pahami ini sebagai bentuk perhatian, dan kenapa disarankan di klinik? Mereka kan tidak paham kondisi kesiapan keuangan suami anda, mungkin bu de mengukur dengan dirinya sendiri, supaya hemat, dll. Jadi untuk hal-hal hubungan sesama tidak harus selalu di bawah ke ranah fiqih, jauh lebih baik kita juga memahami sisi muamalah dan sisi humanis sebagai sesama hamba Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia

๐Ÿ“† Kamis, 12 Sya’ban 1437H / 19 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

๐Ÿ“ *Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia* Bag-2

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

*Syaikh Mahfuzh at-Termisi* dilahirkan di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Ula 1258/1868 ketika ayahnya Abdullah sedang berada di Makkah. Saat berumur 6 tahun, ayahnya membawanya ke Makkah pada tahun 1291/1874 dan memperkenalkan kepadanya beberapa kitab penting, sehingga Mahfuzh menganggap Abdullah lebih dari sekadar ayah dan guru, yakni murabbi wa ruhi (pendidikku dan jiwaku). Ketika Mahfuzh menginjak remaja, akhir 1870-an, ayahnya menemani kembali ke Jawa dan mengirimkannya kepada seorang โ€˜alim Jawa kenamaan, Kyai Saleh Darat (1820-1903) untuk belajar di pesantrennya di Semarang, Jawa Tengah. Ayahnya meninggal di Makkah pada tahun 1314/1896, dan dimakamkan di Maโ€™la di dekat makam Khadijah. Sebagian besar dari delapan saudaranya menjadi ulama penting di Jawa, dan memiliki ketenaran di beberapa bidang yang berbeda. Mahfuzh ahli di bidang Ilmu Hadits, Dimyati di bidang ilmu waris (faraโ€™idh), bakri di bidang ilmu Al-Qurโ€™an, dan Abdurrazzaq (w.1958) di bidang Tarekat, dan menjadi mursyid tarekat yang memiliki ratusan pengikut dari seluruh Jawa. Ketika Mahfuzh meninggal di Makkah pada Sabtu malam menjelang Maghrib, tanggal 1 Rajab 1338/1919, ribuan kaum muslim menyalatkan dan mengantar jenazahnya ke sebuah pemakaman keluarga Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syata                   (w. 1310/1892) di Makkah. Satu-satunya anak Mahfuzh yang masih hidup adalah Muhammad, yang berhasil menjadi seroang guru dalam bidangnya di Demak, Jawa Tengah, yang memiliki banyak murid dari seluruh Nusantara, atas dorongan kuat dari ayahnya, Mahfuzh, untuk mempelajari dan menghafal Al-Qurโ€™an.[7]

*Jaringan Intelektual Ulama Haramain*

Menurut Komaruddin Hidayat, catatan sejarah menunjukkan bahwa secara umum hubungan Islam Nusantara dengan Timur Tengah senantiasa terjalin dengan erat, khususnya sejak sekitar awal abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-17, kemudian sejak akhir abad ke-19 sampai sekarang.[8] Ismatu Ropi dan Kusmana menegaskan, dua daerah Timur Tengah yang paling sering dijadikan tumpuan tempat menimba ilmu keislaman (rihlah โ€˜ilmiyyah atau thalab al-โ€˜ilm) adalah Haramain (Makkah dan Madinah) serta Kairo. Posisi Haramain sangat dominan sejak abad ke-17 hingga akhir abad ke-19. Hal ini boleh jadi adalah karena kaum Muslim memandang Haramain sebagai tempat yang memiliki nilai sakral lebih ketimbang daerah-daerah lain. Sedangkan Kairo baru dilirik para pelajar Indonesia sebagai tempat studi mulai pertengahan abad kesembilan belas setelah sebelumnya terjadi kontak-kontak antara murid-murid Jawa dan Universitas al-Azhar sejak akhir abad ke-18.[9]

Pada  pertengahan abad ke-19 ini, menurut Ali Mubarak seperti dikutip Abaza, telah terdapat suatu Riwaq Zawi (asrama mahasiswa Jawa) di Kairo, yang terletak di antara Riwaq Salmaniyyah dan Riwaq al-Shawwam, yang dihuni oleh sekitar 11 orang dipimpin oleh *Syaikh Ismail Muhammad al-Jawi*. Data lain yang menguatkan adalah catatan Goldziher, yang juga seperti dikutip Abaza, bahwa pada 1871 terdapat enam mahasiswa asal Jawi yang tinggal di Riwaq Jawi. Akan tetapi, Jawa atau Jawi di sini masih merupakan istilah yang digunakan sebelum terbentuknya negara bangsa (Indonesia) yang meliputi semua mahasiswa Asia Tenggara tanpa kecuali.[10]

Pada abad ke-17 dan ke-18, interaksi keilmuan antara Timur Tengah dan Indonesia telah semakin menemukan bentuknya yang nyata. Dalam periode ini terbentuk jaringan (networks), dalam bentuk hubungan guru dan murid, yang relatif mapan antara Muslim Nusantara dan rekan mereka di Timur Tengah. Dalam periode ini pula muncul sejumlah ulama yang tidak hanya produktif tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Nama-nama seperti *Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Syamsuddi al-Sumatrani, โ€˜Abd al-Raโ€™uf al-Sinkili, Abu Shamad* adalah tokoh-tokoh yang secara intens terlibat dalam jaringan tersebut. Demikian lamanya interaksi yang berlangsung sehingga ia tidak hanya telah membentuk wacana keislaman tersendiri yang unik, tetapi lebih dari itu telah menciptakan jaringan ulama yang berfungsi sebagai โ€˜alatโ€™ transmisi keilmuan dan gagasan-gagasan pembaruan pemikiran Islam.[11]

Berdasarkan perkembangan-perkembangan yang terjadi, studi Islam di Haramain dapat dikelompokkan ke dalam tiga periode. Pertama, periode abad ke-17 sampai dengan akhir abad ke-19. Pada periode ini, wacana yang berkembang adalah tradisionalisme Islam dan neo-sufisme. Kedua, awal abad ke-20 sampai dengan dekade 1950-an. Pada periode ini di Haramain terjadi pergumulan yang intens antara Islam tradisi dan Islam reformis. Kalangan tradisionalis mendirikan Madrasah Darul โ€˜Ulum yang embrionya adalah Madrasah Shaulatiyah dengan *Syaikh Yasin al-Fadani* sebagai ujung tombaknya. Sementara kalangan reformis yang dipelopori oleh *Syaikh Janan Thayib* (orang Indonesia pertama yang mendapat gelar LC dari Universitas al-Azhar) mendirikan Madrasah Indonisiyyin. Sayangnya, madrasah ini terpaksa bubar menjelang Perang Dunia II. Ketiga, dekade 1960-an hingga sekarang yang boleh disebut sebagai periode โ€œthe return of Islamic traditionโ€. Kaum reformis mengalami kekalahan total karena dipandang tidak sejalan dengan ideologi penguasa yang sejak 1925 disuburkan oleh bani Saud. Pada konteks Haramain, lingkungan berpikir pelajar Indonesia tidak jauh berbeda dengna warna pendidikan di sana yang sangat menekankan pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam dan secara umum mempertahankan tradionalisme. Mereka amat sedikit mengenyam pemikiran-pemikiran dari luar Arab (seperti Barat).[12]

Banyak alasan mengapa banyak muslim datang ke Makkah untuk mencari ilmu. Pertama, karena pandangan tentang keilmuan Islam dan cara memperoleh ilmu itu. Ada keyakinan bahwa lebih autentik jika ilmu-ilmu keislaman itu dicari dari pusat tumbuhnya, yaitu Timur Tengah, dengan bahasa Arab sebagai salah satu cirinya. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa banyak di antara para muqimin dan pencari ilmu di Makkah menunjukkan prestasi dan disambut positif oleh masyarakat mereka berasal. Kedua, keyakinan bahwa Makkah adalah tempat pusaran atau bursa ilmu keislaman yang paling dinamis karena sebagai pusat peribadatan, Makkah dikunjungi oleh para ulama mancanegara yang tidak hanya datang untuk menunaikan ibadah tetapi juga melakukan pertukaran ilmu. Dalam batas tertentu, kuantitas dan kualitas sumber atau jaringan ilmu memberikan nilai tersendiri bagi seorang ulama. Ketiga, karena tradisi Makkah yang memberikan peluang yang amat besar bagi orang asing (non-Arab) untuk menuntut ilmu keislaman di sana. Sejak masa pra-Islam komunitas asli Makkah memang telah memiliki tradisi untuk selalu siap menerima kedatangan tamu (hujjaj), melayani dan menghormatinya. Pada masa Islam, tradisi ini berkembang lebih jauh dan pada titik tertentu dikaitkan dengan ajaran Islam yang mendorong pencarian ilmu dan penghormatan terhadap pemilik maupun pencarinya. Mereka yang datang dari luar dan bermuqim di Makkah juga memegang tradisi ini. Dari itu, tradisi waqf dan infaq yang mengarah pada perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman, berkembang dan mengakar dengan kuat.[13]

Perlu juga kita ketahui beberapa tempat di Makkah yang menjadi tujuan para pencari ilmu antara lain: Masjid al-Haram, bait al-Shaikh ataupun rubat, madrasah, dan al-jamiโ€™ah. Pertama, pengajaran di Masjid al-Haram, yakni selain sebagai tempat ibadah, juga tempat studi yang banyak diminati, dengan kegiatan pembelajarannya terdiri atas tiga bentuk yaitu halaqa dirasiya (umumnya baโ€™da โ€˜Ashr diperuntukkan bagi peserta dewasa), halaqa tahfiz al-Qurโ€™an, dan maโ€™had Haram. Kedua, pengajaran di bait al-Shaikh (rumah-rumah para pengajar) dilakukan karena syaikh tertentu melanjutkan pengajarannya di rumah, atau karena ulama-ulama yang tidak mengajar di al-Haram, atau karena sudah terlalu tua (sepuh), atau karena bukan penduduk asli (tabaiya) yang mendapatkan izin membuka halaqa di al-Haram, atau karena alasan lain. Termasuk dalam golongan ini adalah *Syaikh Jabir di Harat al-Bab, Kyai Idris Kediri di Shieb โ€˜Ali*. Adapun pengajaran di rumah yang dilakukan oleh syaikh-syaikh yang mengajar di               al-Haram dilakukan misalnya oleh Syaikh Yasin Padang. Yang paling menonjol adalah aktifitas belajar di rumah Sayyid Muhammad โ€˜Alawi al-Maliki, dahulu di Utabiya, sekarang di Rusaifa, Makkah. Ketiga, pengajaran di Madrasah, baik milik pemerintah yang tidak menerima warga asing (ajanib) atau madrasah swasta yang umumnya didirikan oleh perorangan atau paguyuban dari warga asing yang telah memperoleh kewarganegaraan Saudi (tabaโ€™iya). Madrasah di Makkah yang banyak diikuti warga asing adalah Madrasah Shaulatiyyah, Madrasah Dar al-Hadits, dan Madrasah Dar al-โ€˜Ulum, yang kesemuanya adalah madrasah swasta (ahliya) dan memusatkan pada ilmu-ilmu agama. Madrasah Shaulatiyyah adalah madrasah tertua dari seluruh madrasah yang ada di Makkah (ketika wilayah ini dimasuki penguasa Mamlaka al-Hijaziyyah tahun 1924 M.). Madrasah ini didirikan pada tahun 1291/1871 atas inisiatif seorang muqimin India, al-Syaikh Muhammad Rahmat Allah (lahir 1233 H.). Keempat, pengajaran melalui perguruan tinggi (al-jamiโ€™ah).

*Kedatangan Ulama Haramain ke Nusantara*

Para pakar sejarah memiliki teori masing-masing perihal kapan dan bagaimana agama Islam masuk ke bumi Nusantara Indonesia. Di antara teori-teori yang dikenal adalah Teori Gujarat, Teori Makkah, Teori Persia, Teori Cina, dan Teori Maritim. Namun di antara teori tersebut, tampaknya yang paling bisa diterima validitasnya adalah *Teori Makkah*, sebagaimana pendapat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963) yang mengangkat fakta dari Berita Cina Dinasti Tang, bahwa Islam masuk ke Nusantara Indonesia sekitar abad ke-7 M. Di dalam berita tersebut ditemukan daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatra, maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab, dibawah oleh wiraniagawan Arab.[14]

Berbicara tentang ulama Haramain, setidaknya bisa dibagi atas ulama asli kelahiran Haramain, atau ulama kelahiran non-Haramain dan non-Nusantara, dan terakhir ulama Nusantara yang sengaja mengunjungi Haramain. Untuk memastikan siapakah sosok ulama Haramain kelahiran non-Nusantara yang masuk ke Nusantara Indonesia tersebut tentu bukan persoalan yang mudah mengingat literatur yang sangat terbatas sekali. Sebagai contoh Ibnu Battuta yang dikenal sebagai seorang pengembara sejati, telah melakukan perjalanan ke Asia Tenggara dan Cina, pada tahun 1345-1346 M. dari perjalanan panjangnya mengunjungi banyak negara di dunia, mulai dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Arabia, Persia, Irak, Anatolia, Asia Tengah, Afghanistan, India, Sri Lanka, Kepulauan Maladewa, hingga kembali lagi ke Afrika Utara, Spanyol dan Afrika Barat.[15] Menurut Ibnu Battuta, ia berada di Kesultanan Samudra selama dua minggu. Tetapi dengan mempelajari kisah pelayarannya dapat diperkirakan bahwa ia berada di sana lebih lama. Ketika ia melanjutkan pelayaran, menyusuri pantai Sumatra untuk meneruskan perjalanan ke Cina. Ia singgah di Mul-Jawa yang masyarakatnya masih kufur. Dalam perjalanan kembali dari Cina, ia singgah lagi di Samudra. Ketika itu, menurut Ibnu Battuta, Sultan baru saja pulang berperang dan membawa banyak tawanan perang. Sang pelancong pun berkesempatan pula menghadiri pesta perkawinan putra Sultan dengan putri saudaranya. Menurut Ibnu Battuta, โ€œSultan Jawa (Samudra), al-Malik az-Zahir adalah penguasa yang paling hebat dan terbuka, juga pecinta ulama. Meskipun baginda tidak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seorang yang rendah hati, yang selalu berjalan kaki pergi ke masjid untuk salat Jumatโ€ฆ.โ€.[16]

Namun begitu, ditemukan dalam beberapa literatur sosok-sosok ulama baik yang memang asli kelahiran Nusantara Indonesia, maupun dari negara lain yang kemudian menimba ilmu di Haramain, dan memiliki kapasitas intelektual yang diakui sampai saat ini dan berjasa besar dalam pengembangan syiโ€™ar Islam di Nusantara Indonesia.

Pada kurun abad ke-18 sampai abad ke-20, beberapa ulama Indonesia  di Haramain yang terkenal adalah *Syaikh โ€˜Abdusshomad al-Falimbani, Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syaikh Ahmad Ripangi, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten*. Adapun beberapa ulama keturunan Arab yang terkenal di Nusantara Indonesia adalah Habib Husein Abu Bakar al-Aydrus, Sayid Usman bin Yahya, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah al-Attas, Habib Ahmad bin Muhsin al-Hadar, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas, Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf (1285-1376 H), Habib Abdullah bin Ali Syahab, Habib Alwi bin Muhammad al-Muhdar, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, Habib Ali al-Habsyi (1870-1968 M), Habib Ahmad bin Abdullah as-Seggaf (1299-1369 H), Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas (125501346 H), Habib Abdul Qadir bin Alwi bin Idrus as-Seggaf (1241-1331 H), Habib Ali bin Husein al-Attas (1889-1976 M), Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad (1299-1373 H), Habib Shaleh bin Muhsin al-Hamid, Habib Salim bin Jindan (1324-1389 H/1906-1969 M), Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Habib Muhammad bin Hasyim bin Abdurrahman ath-Thahir, Habib Umar bin Ali as-Syaikh Abu Bakar, Habib Ahmad bin Alwi bin Ahmad al-Haddad (โ€œHabib Kuncungโ€), Habib Alwi bin Segaf Assegaf, Habib Jaโ€™far bin Syaikhan Assegaf, Habib Abdullah bin Ali al-haddad (โ€œKramat Bangilโ€).[17]

Bersambung

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 2)

๐Ÿ“† Rabu,  11 Sya’ban 1437 H / 18 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 2)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Sejak Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?*

Telah diketahui secara pasti bahwa puasa Ramadhan adalah wajib berdasarkan Al Quran (QS. Al Baqarah (2): 183), Al Hadits, dan ijma.

Telah masyhur pula bahwa puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun kedua hijriyah, dan sepanjang hayat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya menjalankan sembilan kali puasa Ramadhan.

Dalam sejarah Islam, pewajiban puasa pun tidak langsung, melainkan diberikan anjuran puasa sebagai memberikan pengalaman dan pembiasaan.

Berkata Syaikh Ibnu Al Utsaimin Rahimahullah:

ูˆุญูƒู…ู‡: ุงู„ูˆุฌูˆุจ ุจุงู„ู†ุต ูˆุงู„ุฅุฌู…ุงุน.
ูˆู…ุฑุชุจุชู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ: ุฃู†ู‡ ุฃุญุฏ ุฃุฑูƒุงู†ู‡ุŒ ูู‡ูˆ ุฐูˆ ุฃู‡ู…ูŠุฉ ุนุธูŠู…ุฉ ููŠ ู…ุฑุชุจุชู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ. ูˆู‚ุฏ ูุฑุถ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฅุฌู…ุงุนุงู‹ุŒ ูุตุงู… ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุชุณุน ุฑู…ุถุงู†ุงุช ุฅุฌู…ุงุนุงู‹ุŒ ูˆูุฑุถ ุฃูˆู„ุงู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฎูŠูŠุฑ ุจูŠู† ุงู„ุตูŠุงู… ูˆุงู„ุฅุทุนุงู…ุ› ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ู…ู† ูุฑุถู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฎูŠูŠุฑ ุงู„ุชุฏุฑุฌ ููŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุนุ› ู„ูŠูƒูˆู† ุฃุณู‡ู„ ููŠ ุงู„ู‚ุจูˆู„ุ› ูƒู…ุง ููŠ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุฎู…ุฑ

 โ€œHukumnya adalah wajib berdasarkan nash (teks Al Quran dan Al Hadits) dan ijmaโ€™.

Kedudukannya dalam agama Islam adalah dia sebagai salah satu rukun Islam yang memiliki urgensi yang agung dalam Islam.

Telah ijma bahwa Allah   mewajibkan puasa pada tahun kedua,  dan ijma pula  bahwa puasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sembilan kali Ramadhan.

Pertama kali diwajibkan adalah sebagai  takhyir  (pemberian opsi) antara puasa dan makan, hikmah dari pewajiban dengan cara ini adalah sebagai pentahapan dalam pensyariatannya agar lebih mudah diterima, sebagaimana dalam pengharaman khamr. (Syarhul Mumti , 6/298. Mawqi Ruh Al Islam)

๐Ÿ“š *Rukun Puasa*

Puasa ada dua rukun.

โฃ *Pertama* , menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.

โฃ *Kedua* , niat untuk puasa. Niat dilakukan paling lambat sebelum terbit fajar.

 (Lengkapnya lihat Fiqhus Sunnah, 1/437)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Wudhu…Bagaimana seharusnya?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐ŸŒธUstadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum..
Apakah ada hadist yg melarang mengelap anggota tubuh kita jika sdh berwudhu? Misalnya mengelap muka,, tangan, kaki.

Bagaimana jika seseorang berwudhu tanpa menutup kemaluan (auratnya)? Misalnya setelah mandi langsung dan blm menggunakan handuk, trus berwudhu. ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban :
————

 ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
sejauh yang saya baca hadits tentang wudhu, saya belum menemukan keterangan itu.

Jadi menurut saya disaat kita berwudhu sesuai sunnah, dimana sangat dianjurkan tidak berlebih-lebihan dalam memakai air, maka setelah wudhu tidak perlu di elap, kalaupun di elap boleh.

Wudhunya sah,tapi hendaklah kita memperhatikan adab dan malu kepada Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana Khusyu Dalam Sholat?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ’Ustadzah Sri Wisnu Karang Seto

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum. Bagaimana hukum bagi orang yang dalam sholatnya kurang khusyu? [Manis A40] —-

Jawaban:

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Pendapat pertama, menurut jumhur ulama khusyuโ€™ bukan syarat sah shalat atau rukunnya. Ia hanya sunnah dalam shalat. Jika tidak ada khusyuโ€™ di dalam shalat, maka tidak ada kewajiban menggantinya (mengqadla) atau mengulangnya. Namun pahalanya berkurang. Jadi tidak khusyuโ€™ itu tidak membatalkan shalat.

Menurut Imam Nawawi, ijma ulama menyatakan khusyuโ€™ tidak wajib, karena tidak ada ulama yang menyatakan wajibnya khusyuโ€™. Ibnu Hajar menambahkan, khusyuโ€™ merupakan penyempurna shalat dan sunnah dalam shalat.

Ada juga pendapat cabang dari pendapat jumhur yakni Ar-Razi yang menyatakan, khusyuโ€™ adalah syarat sah dan bukan syarat diterimanya.

Pendapat kedua, menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Hamid (pengikut Imam Ahmad), Ibnu Taimiyah, khusyuโ€™ hukumnya wajib dalam shalat.  Pendapat ini berdasarkan sejumlah dalil:๏ฟผ

Firman Allah,

{ุฃูู„ุง ูŠุชุฏุจุฑูˆู† ุงู„ู‚ุฑุขู†} (ุงู„ู†ุณุงุก: 82)

โ€œMaka apakah mereka tidak mentadabburkan (memperhatikan) Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya,โ€
(QS An-Nisaโ€™: 82).

Tadabbur hanya bisa dengan khusyuโ€™.

{ุฃู‚ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุฐูƒุฑูŠ} (ุทู‡: 14).

โ€œSesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,โ€ (QS Thaha: 14).

Tujuan shalat adalah untuk mengingat Allah dan itu hanya bisa dicapai dengan khusyuโ€™.

{ูˆู„ุง ุชูƒู† ู…ู† ุงู„ุบุงูู„ูŠู†} (ุงู„ุฃุนุฑุงู: 205)

โ€œDan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai,โ€(QS Al-Aโ€™raf: 205).

Dalam ayat ini Allah melarang Rasulullah agar tidak menjadi orang yang lalai, terutama dalam shalat. Sementara lalai notabene bertentangan dengan khusyuโ€™. Dalil lain adalah beberapa hadits Nabi. Di antaranya;

ุฑูˆูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ) ู…ุณู†ุฏุง :ยซุฅู† ุงู„ุนุจุฏ ู„ูŠุตู„ูŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู‡ ุณุฏุณู‡ุง ูˆู„ุง ุนุดุฑู‡ุงุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ู…ุง ุนู‚ู„ ู…ู†ู‡ุง

Rasulullah bersabda, โ€œSungguh seorang hamba shalat dengan satu shalat, tidak ditulis baginya (pahala) seperenam atau sepersepuluhnya. Namun shalatnya ditulis apa yang dipahaminya,โ€  (Hilyatul auliyaโ€™).

ุนู† ู…ุนุงุฐ ุจู† ุฌุจู„: ู…ู† ุนุฑู ู…ู† ุนู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุดู…ุงู„ู‡ ู…ุชุนู…ุฏุงู‹ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู‡

Dari Muadz bin Jabal, ia berkata,โ€œBarangsiapa yang mengetahui orang di sebelah kanan atau kirinya dalam shalat secara sengaja maka dia tidak shalat.โ€

ุนู† ุงู„ุญุณู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: โ€ ูƒู„ ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠุญุถุฑ ููŠู‡ุง ุงู„ู‚ู„ุจ ูู‡ูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ุฃุณุฑุน โ€œ.

Hasan Al-Bashri berkata, โ€œSetiap shalat yang tidak ada hati yang hadir di dalamnya, maka dia lebih cepat mendapatkan siksa.โ€

 ูˆู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุจู† ุฒูŠุฏ: โ€ ุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู‚ู„โ€

Abdul Wahid bin Zaid, โ€œUlama sepakat bahwa seseorang tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali yang dia pahami.โ€

๏ฟผIbnu Taimiyah menegaskan,

 โ€œ({ ูˆุงุณุชุนูŠู†ูˆุง ุจุงู„ุตุจุฑ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅู†ู‡ุง ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุงุดุนูŠู† )

โ€œDan mintalah tolong dengan kesabaran dan shalat karena sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Baqarah: 45).

Ayat ini menyatakan celaan bagi orang yang tidak khusyuโ€™, seperti halnya celaan dalam ayat lainnya tentang kiblat.

  {ูˆู…ุง ุฌุนู„ู†ุง ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ุงู„ุชูŠ ูƒู†ุช ุนู„ูŠู‡ุง ุฅู„ุง ู„ู†ุนู„ู… ู…ู† ูŠุชุจุน ุงู„ุฑุณูˆู„ ู…ู…ู† ูŠู†ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุนู‚ุจูŠู‡ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ุฏู‰ ุงู„ู„ู‡ },

โ€œDan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah,โ€
(QS Al-Baqarah: 143).

Celaan dalam ayat ini terjadi karena mereka meninggalkan hal yang wajib. Ayat lain menegaskan,

 {ู‚ุฏ ุฃูู„ุญ ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† * ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ููŠ ุตู„ุงุชู‡ู… ุฎุงุดุนูˆู†  โ€œ

“Sungguh bahagia orang-orang beriman yang mereka dalam shalatnya khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Mukminun: 1-2).

Artinya, surga Firdaus hanya diwarisi oleh mereka yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan di antaranya khusyuโ€™ dalam shalat. Surga diperoleh dengan hal-hal yang wajib bukan yang mustahab
 (dianjurkan).โ€

Selain itu menurut pendapat ini, dalil khusyuโ€™ itu ada dua: lahir dan batin. Karenanya, Umar pernah melihat seseorang yang mempermainkan sesuatu dalam shalatnya, maka beliau mengatakan, โ€œJika hatinya khusyuโ€™ maka organnya juga khusyuโ€™.โ€

Dalil Khusyuโ€™ Hanya Sunnah Bukan Wajib

Rasulullah
memerintahkan orang yang lupa shalat untuk sujud sahwi dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏูŽ ู„ูŽูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑููู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู , ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูุดู’ุฑูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุชูุณู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู…ู’ู†ูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุฏู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฎูู…ู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู„ูุซูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูุตู’ููู‡ูŽุง

Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallambersabda,
โ€œSesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya dan dia tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya,โ€ (Musykilul atsar).

Selain itu, ijmaโ€™ ulama menyatakan bahwa khusyuโ€™ bukan syarat shalat.๏ฟผ

Dalam hadits lain ditegaskan,

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: โ€ ุฅูุฐูŽุง ู†ููˆุฏููŠูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุถูุฑูŽุงุทูŒุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุซููˆู‘ูุจูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฎู’ุทูุฑูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุงุฐู’ูƒูุฑู’ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠูŽ ุฃูŽุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽู…ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฑู ุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ูˆู โ€œ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda,โ€œJika adzan shalat dikumandangkan, setan mundur dengan terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar adzan. Jika adzan selesai, dia datang lagi. Jika diiqamati dia mundur lagi. Jika selesai iqamah, dia datang lagi sehingga mengganggu antara manusia dengan dirinya. Setan berkata, โ€œIngat ini ingat itu.โ€ Sampai dia (manusia) tidak ingat hingga berapa rakaat dia shalat. Jika seseorang mendapatkan seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali pada saat dia dalam keadaan duduk,โ€(HR Bukhari, Muslim dll).

Karena itu, dalam Al-Minhaj dan sharahnya oleh Ibnu Hajar ditegaskan, disunnahkan khusyuโ€™ dalam shalat dengan hatinya dimana tidak menghadirkan apapun selain shalat.

Jadi shalat tetap sah dan cukup, dan ini bukan masalah pahala dan diterimanya. Ar-Razi berkata, โ€œKehadiran hati menurut kami adalah syarat kecukupan sahnya (ijzaโ€™) dan bukan syarat diterimanya. Yang dimaksud ijzaโ€™adalah tidak wajib diqadla dan yang dimaksud syarat diterima adalah hukum pahalanya.โ€

Al-Alusi berkata, โ€œBerdasarkan pendapat ini maka khusyuโ€™ adalah syarat sah namun hanya di sebagian shalat. Jika tidak bisa sama sekali maka shalatnya batal. Sebab ruh shalat adalah khusyuโ€™. Jika shalat tidak ada ruhnya, maka dia ditolak.โ€

Perkataan Al-Alusi ini agaknya merupakan usaha kompromi dari kedua pendapat antara yang mewajibkan dan menyunnahkan. Pernyataan itu juga berusaha menekan pentingnya khusyuโ€™ dalam shalat.

Terdapat banyak kesimpulan yang kita dapat dari keterangan Al Quran dan Hadits diatas yang pada hakekatnya adalah Islam adalah agama yang mudah dan sangat memudahkan , tidak berat dan memberatkan , karena itu permudahlah jangan kamu persulit , berilah sesuatu yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari.
Wallahu aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Nadzar….Bagaimana melaksanakannya??

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB ๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                 11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr wb
Mohon izin bertanya..
Ada seorang wanita yg dahulu ketika masih pelajar bernazar akan puasa 2 pekan jika diterima masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tapi nazar tersebut belum sempat dilaksanakan hingga sekarang sudah menikah dan punya anak. (Sekarang sedang masa menyusui).

Pertanyaannya : apakah nazar tersebut bisa digantikan dengan membayar kafarat? Mengingat keadaan sekarang yg belum mampu melaksanakan puasa karena sedang menyusui. Khawatir jika tidak ada umur, maka apakah diperkenankan membayar kafarat?
Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoiron.Wassalamu’alaikum.wr.wb.
#i 09

Jawaban :
—————-

 _Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:_

Sebaiknya nadzar  dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – – ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงูŽู„ู’ููŽุชู’ุญู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู! ุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูŽุฐูŽุฑู’ุชู ุฅูู†ู’ ููŽุชูŽุญูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูŽูƒู‘ูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู ุงูŽู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุฏูุณู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุตูŽู„ู‘ู ู‡ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง” . ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุตูŽู„ู‘ู ู‡ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง”. ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุดูŽุฃู’ู†ููƒูŽ ุฅูุฐู‹ุง” – ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู, ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ, ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู

Dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: โ€œWahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).โ€ Nabi bersabda: โ€œShalat di sini saja.โ€ Orang itu meminta lagi. Nabi menjawab: โ€œShalat di sini saja.โ€ Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: โ€œKalau begitu terserah kamu.โ€
*(HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)*

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan _Kaffarat Nadzar_ sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽู…ููŠู†ู

_Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah._
(HR. Muslim No. 1645)

*๐Ÿ“ŒBagaimana caranya?*

1. Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

2. Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat. jika fakir miskin itu seorang wanita, maka sebagusnya mesti dengan kerudungnya juga.

3. Atau memerdekakan seorang budak

4. Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Taโ€™ala sebagai berikut:

 _Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)._ (QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfuโ€™:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุณูŽู…ู‘ูู‡ูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ูููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุทููŠู‚ูู‡ู ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุทูŽุงู‚ูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽูู ุจูู‡ูยป

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, *_dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah_*, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: โ€œIsnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.โ€ Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfuโ€™ /ucapan nabi.  )
Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ

www.iman-islam.com

๐ŸŽ’Sebarkan! Raih pahala….

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan

๐Ÿ“† Selasa,  10 Sya’ban 1437 H / 17 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“‹Definisi Shaum Ramadhan

๐Ÿ“š  *Apa arti shaum?*

 Secara bahasa, berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ู„ุบุฉ ู…ุตุฏุฑ ุตุงู… ูŠุตูˆู…ุŒ ูˆู…ุนู†ุงู‡ ุฃู…ุณูƒุŒ ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ููŽูƒูู„ููŠ ูˆูŽุงุดู’ุฑูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ูŽุฑู‘ููŠ ุนูŽูŠู’ู†ุงู‹ ููŽุฅูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฑูŽูŠูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุดูŽุฑู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง ููŽู‚ููˆู„ููŠ ุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูŽุฐูŽุฑู’ุชู ู„ูู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู† ุตูŽูˆู’ู…ู‹ุง ููŽู„ูŽู†ู’ ุฃููƒูŽู„ู‘ูู…ูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฅูู†ู’ุณููŠู‘ู‹ุง } [ู…ุฑูŠู…] ูู‚ูˆู„ู‡: {ุตูŽูˆู’ู…ู‹ุง} ุฃูŠ: ุฅู…ุณุงูƒุงู‹ ุนู† ุงู„ูƒู„ุงู…ุŒ ุจุฏู„ูŠู„ ู‚ูˆู„ู‡: {ููŽุฅูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฑูŽูŠูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุดูŽุฑู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง} ุฃูŠ: ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุช ุฃุญุฏุงู‹ ูู‚ูˆู„ูŠ: {ุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูŽุฐูŽุฑู’ุชู ู„ูู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู† ุตูŽูˆู’ู…ู‹ุง} ูŠุนู†ูŠ ุฅู…ุณุงูƒุงู‹ ุนู† ุงู„ูƒู„ุงู… {ููŽู„ูŽู†ู’ ุฃููƒูŽู„ู‘ูู…ูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฅูู†ู’ุณููŠู‘ู‹ุง}.

๐Ÿ“Œ โ€œShiyam secara bahasa merupakan mashdar dari shaama โ€“ yashuumu, artinya adalah menahan diri. Sebagaimana firmanNya: (Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”) (QS. Maryam (19):26). firmanNya: (shauman) yaitu menahan diri dari berbicara, dalilnya firmanNya: (jika kamu melihat seorang manusia), yaitu jika kau melihat seseorang, maka katakanlah: (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah) yakni menahan dari untuk bicara. (Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini).

(Syarhul Mumti’, 6/296.  Cet. 1, 1422H.Dar Ibnul Jauzi. Lihat juga Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/431. Lihat Imam Al Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/850)

 Secara syara’, menurut Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, makna shaum adalah:

 ุงู„ุงู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ู…ูุทุฑุงุชุŒ ู…ู† ุทู„ูˆุน ุงู„ูุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณุŒ ู…ุน ุงู„ู†ูŠุฉ

๐Ÿ“Œ โ€œMenahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan dibarengi dengan niat (berpuasa).โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/431)

  Ada pun Syaikh Ibnul Utsaimin menambahkan:

ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุดุฑุน ูู‡ูˆ ุงู„ุชุนุจุฏ ู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุจุงู„ุฅู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจุŒ ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ูุทุฑุงุชุŒ ู…ู† ุทู„ูˆุน ุงู„ูุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ.
ูˆูŠุฌุจ ุงู„ุชูุทู† ู„ุฅู„ุญุงู‚ ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ุชุนุจุฏ ููŠ ุงู„ุชุนุฑูŠูุ› ู„ุฃู† ูƒุซูŠุฑุงู‹ ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ุง ูŠุฐูƒุฑูˆู†ู‡ุง ุจู„ ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ุงู„ุฅู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ู…ูุทุฑุงุช ู…ู† ูƒุฐุง ุฅู„ู‰ ูƒุฐุงุŒ ูˆููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ู‡ูŠ: ุฃู‚ูˆุงู„ ูˆุฃูุนุงู„ ู…ุนู„ูˆู…ุฉุŒ ูˆู„ูƒู† ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ู†ุฒูŠุฏ ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ุชุนุจุฏุŒ ุญุชู‰ ู„ุง ุชูƒูˆู† ู…ุฌุฑุฏ ุญุฑูƒุงุชุŒ ุฃูˆ ู…ุฌุฑุฏ ุฅู…ุณุงูƒุŒ ุจู„ ุชูƒูˆู† ุนุจุงุฏุฉ

 ๐Ÿ“Œโ€œAda pun menurut syariat, maknanya adalah taโ€™abbud (peribadatan) untuk Allah Taโ€™ala dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Wajib dalam memahami definisi ini, dengan mengaitkannya pada kata taabbud, lantaran banyak ahli fiqih yang tidak menyebutkannya, namun mengatakan: menahan dari dari ini dan itu sampai begini. Tentang shalat, mereka mengatakan: yaitu ucapan dan perbuatan yang telah diketahui. Sepatutnya kami menambahkan kata taabbud, sehingga shalat bukan  semata-mata gerakan , atau semata-mata menahan diri, tetapi dia adalah ibadah.

(Syarhul Mumti’,  6/298. Cet.1, 1422H. Dar Ibnul Jauzi)

๐Ÿ”‘ Dari definisinya ini ada beberapa point penting sebagai berikut:

๐Ÿ”น๏ธMenahan diri dari perbuatan yang membatalkan
๐Ÿ”นHarus dibarengi dengan niat
๐Ÿ”นBertujuan ibadah kepada Allah Taala

๐Ÿ“š *Lalu, apa arti Ramadhan ?*

 Ramadhan, jamaknya adalah Ramadhanaat, atau armidhah, atau ramadhanun. Dinamakan demikian karena mereka mengambil nama-nama bulan dari bahasa kuno (Al Qadimah), mereka menamakannya dengan waktu realita yang terjadi saat itu, yang melelahkan, panas, dan membakar (Ar ramadh).  Atau juga diambil dari  ramadha ash shaaimu: sangat panas rongga perutnya, atau karena hal itu membakar dosa-dosa. (Lihat Al Qamus Al Muhith, 2/190)

 Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูŠูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ู†ุงุชูู‚ูŒ  ุŒ ููŽุณูู…ู‘ููŠูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุฃู’ุฎููˆุฐูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽู…ู’ุถูŽุงุกู ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุฑู‘ู : ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุญููŠู†ูŽ ููุฑูุถูŽ ูˆูŽุงููŽู‚ูŽ ุดูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑู‘ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽูˆูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู {ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ} ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุณูู…ู‘ููŠูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู : ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฑู’ู…ูุถู ุงู„ุฐู‘ูู†ููˆุจูŽ ุฃูŽูŠู’ : ูŠูŽุญู’ุฑูู‚ูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุจูู‡ูŽุง .

๐Ÿ“Œ โ€œAdalah bulan Ramadhan pada zaman jahiliyah dinamakan dengan โ€˜kelelahanโ€™, lalu pada zaman Islam dinamakan dengan Ramadhan yang diambil dari kata Ar Ramdha yaitu panas yang sangat. Karena ketika diwajibkan puasa bertepatan dengan keadaan yang sangat panas. Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa, yaitu membakarnya dan menghapskannya. (Al Hawi Al Kabir, 3/854. Darul Fikr)

 Secara istilah (terminologis), Ramadhan adalah nama bulan (syahr) ke sembilan dalam bulan-bulan hijriyah, setelah Syaban dan sebelum Syawal. Ada pun bulan dalam artian benda langit adalah al qamar, dan bulan sabit adalah al hilaal.

๐Ÿ“š *Keutamaan-Keutamaannya*

 Sangat banyak keutamaan puasa. Di sini kami hanya paparkan sebagian kecil saja.

๐Ÿ“‹ *Berpuasa Ramadhan menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆู…ู† ุตุงู… ุฑู…ุถุงู† ุฅูŠู…ุงู†ุง ูˆุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

๐Ÿ“Œ            “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab,  maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman No. 3459)

            Makna โ€˜diampuninya dosa-dosa yang lalu adalah dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, mabuk, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, dan lainnya- hanya bisa dihilangkan dengan tobat nasuha, yakni dengan menyesali perbuatan itu, membencinya, dan tidak mengulanginya sama sekali.  Hal ini juga ditegaskan oleh hadits berikut ini.

๐Ÿ“‹ *Diampuni dosa di antara Ramadhan ke Ramadhan*

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุตู„ูˆุงุช ุงู„ุฎู…ุณ. ูˆุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุนุฉ. ูˆุฑู…ุถุงู† ุฅู„ู‰ ุฑู…ุถุงู†. ู…ูƒูุฑุงุช ู…ุง ุจูŠู†ู‡ู†. ุฅุฐุง ุงุฌุชู†ุจ ุงู„ูƒุจุงุฆุฑ

๐Ÿ“Œ             โ€œShalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.โ€ (HR. Muslim No. 233)

๐Ÿ“‹ *Dibuka Pintu Surga, Dibuka pintu Rahmat, Dibuka pintu langit,  Ditutup Pintu Neraka, dan Syetan dibelenggu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ููุชู‘ูุญูŽุชู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุบูู„ู‘ูู‚ูŽุชู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุตููู‘ูุฏูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†

๐Ÿ“Œ            “Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. bukhari No. 1800. Muslim No. 1079.  Malik No. 684. An Nasaโ€™i No. 2097, 2098, 2099, 2100, 2101, 2102, 2104, 2105)

๐Ÿ“‹ *Buat Orang berpuasa akan dimasukkan ke dalam surga melalui pintu Ar Rayyan*

Dari Sahl Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุจูŽุงุจู‹ุง ูŠูู‚ูŽุงู„ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽูŠู‘ูŽุงู†ู ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ููˆู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ู ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ููˆู†ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ููˆุง ุฃูุบู’ู„ูู‚ูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู’ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

๐Ÿ“Œโ€œSesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar Rayyan, darinyalah orang-orang puasa masuk surga pada hari kiamat, tak seorang pun selain mereka  masuk lewat pintu itu. Akan ditanya: Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak akan ada yang memasukinya kecuali  mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup dan tak ada yang memasukinya seorang pun.

(HR. Bukhari No. 1797, 3084. Muslim No. 1152. An NasaI No. 2273, Ibnu Hibban No. 3420. Ibnu Abi Syaibah 2/424)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Tadabbur Surat An-Nabaโ€™ (Bag. 2)

๐Ÿ“† Senin, 9 Sya’ban 1437H / 16 Mei 2016 M
๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐Ÿ“‹ Tadabbur Surat An-Nabaโ€™ (Bag. 2)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Hari yang Ditunggu-Tunggu*

            Bila hari penentuan itu datang, semuanya menjadi berubah. Karena saat itu para manusia sudah tak lagi dibebani dengan tugas dan taklif.

๐Ÿ“Œ   _”Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan dijalankanlah gunung-gunung maka ia menjadi fatamorgana”_  (QS. 78: 17-20)

            Bila datang hari kebangkitan, manusia pun segera terjaga dari kematian. Kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai. Hari pembalasan menanti mereka. Mereka dibangkitkan secara berkelompok sesuai dengan perilaku dan amal mereka ketika hidup di dunia([7]). Masing-masing kelompok terdapat pemimpinnya, yang mereka ikuti ketika di dunia. Hal ini senada ungkapan Allah dalam firman-Nya,

๐Ÿ“Œ _โ€œ(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka Ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpunโ€_ (QS. 17: 71)โ€

            Langit-langit pun membuka diri atas titah Tuhan-Nya. Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang sangat banyak. Gunung-gunung yang menjadi pasak bumi pun terserabut terbang dan dijalankan Allah bagai bulu. Ia pun seperti fatamormana. Ada keberadaannya tapi seolah terlihat tidak di alam nyata. Karena gunung yang demikian kokohnya terseret juga oleh arus dan mesti mengikuti titah dan perintah Tuhannya. Gunung-gunung itu menjadi seperti fatamorgana. Seperti ada dan seperti tiada. Seolah menjadi demikian ringannya. Ini adalah satu dari sekian gambaran kedahsyatan hari kemusnahan dan kiamat. Dan setelahnya diikuti dengan datangnya hari kebangkitan kemudian dilanjutkan dengan pembalasan.

๐Ÿ“š *Hari Pembalasan*

            Hari kebangkitan membawa misi keadilan. Agar setiap manusia mendapatkan balasan yang setimpal dan adil atas semua perbuatannya yang dilakukannya ketika ia hidup di bumi.

๐Ÿ“Œ           _โ€Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguhnya. Dan segala sesuatu telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azabโ€_ (QS. 78: 21-30)

            Orang-orang zhalim yang melampau batas kewajaran, yang zalim, penindas yang lemah, culas dan serakah. Bagi mereka neraka jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali di akhirat kelak. Yaitu neraka yang selalu ada pengintainya. Menjaga mereka tanpa belas kasihan sama sekali. Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farraโ€™ menafsirkannya dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan _โ€la bardanโ€_ , takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun([8]). Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya([9]). Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

            Itulah balasan yang setimpal bagi perbuatan mereka. Yaitu mendustakan ayat-ayat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah. Bumi, langit, ditidurkannya manusia, gunung-gunung, awan dan air serta berbagai tanda yang lainnya seperti yang disebutkan. Seolah tak memberikan bekas dan pengaruh bagi mereka. Padahal kesempatan taubat yang berulang-ulang dibuka oleh Allah tak juga digunakan dengan baik sampai akhirnya datang masa yang tak lagi bisa diperdengarkan alasan dan udzur.

 Akibatnya, orang-orang yang melampaui batas tersebut berlaku zhalim. Menindas yang lemah, menipu, culas, ringan melakukan kesalahan, berbuat semaunya dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena mereka sudah berkeyakinan takkan ada pembalasan. Namun anggapan tersebut tidaklah benar. Semua bahkan terekam dalam catatan amal yang kelak tak lagi bisa dipungkiri, karena malaikat pencatat pun disertai saksi anggota tubuh manusia sendiri yang berbicara atas titas keagungan Allah. Saat itu, takkan lagi ada pendusta yang sanggup berdusta. Dan orang-orang yang zhalim tersebut tak laik mendapatkan tambahan melainkan kepedihan adzab yang tak terperikan.

๐Ÿ“š *Kemuliaan dan Kemenangan Orang Bertaqwa*
๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…