Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat Tempat Berbahaya

๐Ÿ“† Kamis, 28 Rajab 1437H / 5 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat-tempat Berbahaya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sultan Mehmed II Ingin Selalu Berada Ditengah Balatentaranya

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Ada tiga kejadian besar dua-tiga hari kemarin, 9-10 April. Namun utk mengaksesnya kita perlu menengok bilangan tahun 1453. Memang sudah berselang 563 tahun yang lalu, namun apa yang dilakukan oleh Sultan Mehmed II masih menggelora dalam catatan pecinta sejarah. Sultan generasi ketujuh khilafah Turki Utsmani ini menggelar tiga khutbah dalam dua hari di tiga tempat berbahaya.

โ›ตPertama, sultan belia yang baru ditinggal wafat ayahnya 2 tahun silam harus mengumpulkan segenap kekuatan diri untuk membakar semangat para pelautnya di dermaga Diplokionion. Sebuah pelabuhan yang tidak begitu jauh dari koloni Galata; masih dalam jangkauan para assassin Genoa yang tersohor ฤฑtu.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II melepas mereka berlayar dengan 100 kapal perang menuju muara Haliรง (“teluk” dalam bahasa Arab –  khalij).  Sebuah akses laut strategis yang memisahkan antara kota Constantinople dan koloni Galata. Para pejuang laut Turki Utsmani itu dipimpin oleh nakhoda BaltaoฤŸlu dengan sasaran memutus rantai laut yang membentang menghalangi jalur masuk menuju Haliรง, populer dikenal sebagai “Tanduk Emas” atau “Golden Horn.” Jika Rantai itu berhasil diputus maka kota Konstantinopel diperkirakan akan lebih mudah jatuh.

๐Ÿ”†Lesson #1: strategi yang biasa-biasa saja jika dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa akan manjur paling tidak dalam dua hal; menguras energi lawan dan menutupi strategi andalan sebenarnya.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Kedua, kemudian sultan yang gemar berkuda perang sejak kecil ini bergerak cepat di atas tunggangannya menaiki bukit di sebelah barat Selat Bosphorus. Ia menyempatkan untuk menyemangati unit zeni yang sedang berjuang memindahkan kanon melalui pinggir lereng-lereng yg curam. Sebuah wilayah pebukitan lagi berhutan lebat yang belum sepenuhnya steril dari para pemburu Byzantium yang disegani ketepatan panah jarak jauhnya.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II menitipkan belasan kanon Urbanus ukuran sedang kepada panglima Zaganos PaลŸa. Kepadanya dipundakkan sasaran merebut benteng Byzantium di Therapia untuk menggenapkan “cekikan” atas kota Konstantinopel. Jatuhnya benteng ini bakal menutup semua akses lawan ke arah utara.

๐Ÿ”†Lesson #2: lewati rute dan prosedur yang tidak biasa, maka hasilnya bisa luar biasa; ketidak-terdugaan adalah ancaman yang dibenci lawan.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Ketiga, setelah itu sultan penghapal al-Qur’an sejak usia 12 tahun ini mengendarai kudanya sepanjang malam dan menyeberangi Haliรง dekat titik hulunya. Beliau harus kembali ke tenda kesultanan di Bukit Maltepe sebelum waktu subuh. Sultan Mehmed II ingin subuh berjamaah dengan kesatuan bengkel dan perbaikan Turki Utsmani. Tempat di garis belakang, namun zonanya berhadapan langsung dengan gerbang Santo Romanus yang dipadati oleh sniper bayaran Byzantium.

Di tempat ini ia merasa akrab karena ia dapat menyaksikan langsung perbaikan atas kanon-kanon Urbanus terbesarnya. Sultan Mehmed II amat menyukai teknologi terapan dan untuk itu ia langsung turun tangan. Khutbahnya kini lebih berupa tindakan daripada kata-kata. Beberapa kanon dirombak ulang untuk mendapatkan kaliber yang lebih kecil namun diharapkan meningkat frekuensi tembaknya. Hal ini sejalan dengan catatan beliau untuk mengatasi sigapnya zeni konstruksi Byzantium dalam memperbaiki benteng kota. sudah diperbaiki dan diposisikan ulang.

๐Ÿ”†Lesson #3: beradaptasilah dalam kesunyian, maka ia dapat melonjakkan daya saing dalam keramaian.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Menjelang waktu dhuha,
Jakarta, 11 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sujud Kepada Manusia, Bolehkah???

๐Ÿ“†Rabu, 04 Mei 2016 M
                27 Rajab 1437 H

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœ’Ust Farid Nu’man Hasan
===================
๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒน๐Ÿƒ

Pertanyaan
 Assalamu’alaikum wr wb.
Afwan. Ana mau bertanya; apakah boleh seorg muslim bersujud kepada muslim lain dalam rangka penghormatan (bukan dalam rangka menyembah)? Mhn penjelasannya. Syukran
Wassalamu’alaikum wr wb

๐Ÿ’กJawaban๐Ÿ’ก
============
Wa’alaikumussalam wr wb, tdk boleh, walau bukan dalam rngka menyembah. Sebab nabi melarang seseorg membungkukan badan ke kpd org lain, padahal dia tdk maksud menyembah, apalagi sujud?

Wallahu a’lam

๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒน๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿ‚

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan dan Raih Pahala…

Tata Cara Sholat Jamak & Qashar

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
โœ’Ustadzah Ida Faridah

๐Ÿ“†Rabu, 04 Mei 2016 M
                27 Rajab 1437 H
๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒธ๐Ÿ

 Assalamualaikum wrwb.
Ust/zah tolong paparkan mengenai tata cara shalat jamak, dan qashar  yg detail berikut tata cara, jarak, rakaat, dan shalat apa saja yang bisa di jama dan qashar.
A36

==========

Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat jamak adalah sholat yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dua sholat fardu dalam satu waktu, baik dikerjakan pada waktu sholat pertama maupun pada sholat kedua.

Sholat yang bisa di jamak hanyalah sholat dzuhur dengan asar dan sholat maghrib dengan isya. Adapun sholat subuh tidak dapat dijamak dengan sholat fardu manapun.

Sholat boleh dijamak karena beberapa alasan:
1. Berada di arafah dan muzdalifah pada saat melakukan ibadah haji
2. Musyafir ( sedang mengadakan perjalanan)
3. Karena hujan
4. Karena sakit dan udzur
5. Karena ada keperluan penting yang bukan menjadi kebiasaan

Sholat jamak ada dua macam, yakni jamak takdim dan jamak takhir. Sholat jamak takdim adalah sholat dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu dzuhur atau maghrib dan isya dikerjakan pada waktu maghrib. Adapun jamak takhir yaitu sholat dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu asar atau sholat maghrib dan isya dikerjakan pada waktu isya.

Dalam melakukan sholat jamak takdim ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,
1. Tertib yaitu mengerjakan sholat pertama terlebih dahulu, misalnya: dzuhur dahulu kemudian asar atau maghrub dahulu baru isya.
2. Niat menjamak sholat dilakukan pada saat takbiratulihram
3. Langsung melaksanakan sholat berikutnya yaitu setelah salam langsung ikamah dan kemudian melaksanakan sholat asar atau isya tanpa diselingi sholat sunna.

Adapun syarat-syarat sholat jamak takhir adalah sebagai berikut:
1. Niat menjamak takhir dilakukan pada waktu sholat pertama; jika waktu masuk sholat pertama, maka niat jamak takhir harus dilakukan tanpa langsung sholat karena sholat dilakukan pada waktu sholat berukutnya
2. Masih dalam perjalanan disaat datangnya waktu yang kedua (hal ini khusus bagi yang melakukan sholat jamak karena musyafir

Dalam menjamak sholat dapat dilakukan pemendekkan bilangan rakaat sholat, yaitu dari empat menjadi dua. Sholat jamak yang bilangan rakaatnya dipendekkan ini disebut shokat Qasar.

Ada beberapa pendapat mengenai hukum sholat jamak qasar : wajib menurut madzhab Hanafi, sunnah muakad menurut madzhab syaf’i dan Hanbali.

Sholat fardu yang boleh di jamak qasar hanyalah sholat yang terdiri atas empat raka’at, yaitu sholat dzuhur, asar, dan isya. Sholat jamak qasar boleh dilakukan oleh musyafir bila syarat-syarat berikut terpenuhi, yaitu:
1. Perjalanannya jauh (memakan waktu dua hari)
2. Niat qasar dilakukan pada waktu takbiratul ihram
3. Tidak bermakmum pada orang yang bukan musyafir yang tidak mengerjakan sholat qasar

Khusus mengenai batas jarak perjalanan yang menyebabkan musafir dibolehkan mengqasar sholat, para ulama berbeda pendapat.
1. Menurut imam syafe’i dan imam malik beserta para pengikut keduanya, batas minimal jarak bepergian (safar) untuk dapat mengqasar sholat ialah dua marhalal (48 mil)
2. Menurut abu hanifah dalam salah satu riwayat, mengqasar sholat baru boleh dilakukan apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai tiga marhalah (72 mil) atau sekitar 24 farsakh (1 farsakh = 5.541 m).
Wallahu a’lam.

๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒน๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿ‚

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan dan Raih Pahala…

Selintas Sejarah dan Kutamaan Ka’bah

๐Ÿ“† Selasa,  26 Rajab 1437 H / 3 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Selintas Sejarah dan Kutamaan Ka’bah

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šMasjid Tertua

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูŠู‘ู ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูุถูุนูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ู‚ูู„ู’ุชู ูƒูŽู…ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููˆู†ูŽ ุณูŽู†ูŽุฉู‹

๐Ÿ“Œโ€œWahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520, Ibnu Majah No. 753, Ibnu Hibban No. 1598, 6228, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4061, Ibnu Khuzaimah No. 787)

Yang dimaksud “dibangun” dalam hadits ini adalah fondasi dari kedua masjid itu. Sebab jika makna keduanya adalah masjid yang utuh, maka ada musykil.

 Berkata Imam Ibnul Jauzi:

ููŠู‡ ุฅุดูƒุงู„ุŒ ู„ุฃู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ุจู†ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณ ูˆุจูŠู†ู‡ู…ุง ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุฃู„ู ุณู†ุฉ ุงู†ุชู‡ู‰

๐Ÿ“Œ โ€œDalam hadits ini terdapat musykil, karena Ibrahim membangun Kaโ€™bah dan Sulaiman membangun Baitul Maqdis, padahal  antara keduanya terpaut  jarak lebih dari seribu tahun. Selesai.” (Fathul Bari, 6/408)

 Ya, karena memang di beberapa riwayat shahih disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam  membangun Ka’bah dan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang membangun Masjidil Aqsha. Maka, hadits di atas harus  dipahami bahwa yang dibangun saat itu adalah fondasinya.

 Kemusykilan ini dijawab oleh Imam Ibnu  Al Jauzi dengan jawaban yang memuaskan. Katanya:

ูˆุฌูˆุงุจู‡ ุฃู† ุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฃูˆู„ ุงู„ุจู†ุงุก ูˆูˆุถุน ุฃุณุงุณ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู„ูŠุณ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ูˆู„ุง ุณู„ูŠู…ุงู† ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณุŒ ูู‚ุฏ ุฑูˆูŠู†ุง ุฃู† ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ุขุฏู… ุซู… ุงู†ุชุดุฑ ูˆู„ุฏู‡ ููŠ ุงู„ุฃุฑุถุŒ ูุฌุงุฆุฒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุนุถู‡ู… ู‚ุฏ ูˆุถุน ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณ ุซู… ุจู†ู‰ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ูƒุนุจุฉ ุจู†ุต ุงู„ู‚ุฑุขู†

๐Ÿ“Œ โ€œJawabannya adalah bahwa isyaratnya menunjukkan yang dibangun adalah fondasinya masjid, Ibrahim bukanlah yang pertama membangun Ka’bah, dan Sulaiman bukanlah yang pertama kali membangun Baitul Maqdis. Kami telah meriwayatkan bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah ADAM, kemudian anak-anaknya menyebar di muka bumi. Maka, boleh saja sebagian mereka membangun Baitul Maqdis, kemudian Ibrahim yang membangun Ka’bah menurut Nash Al Quran.  (Ibid)

 Imam Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan hal yang sama:

ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ: ุฅู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ู„ู…ุง ุจู†ูŠุง ุงู„ู…ุณุฌุฏูŠู† ุงุจุชุฏุง ูˆุถุนู‡ู…ุง ู„ู‡ู…ุงุŒ ุจู„ ุฐู„ูƒ ุชุฌุฏูŠุฏ ู„ู…ุง ูƒุงู† ุฃุณุณู‡ ุบูŠุฑู‡ู…ุง.

๐Ÿ“ŒDemikian juga yang dikatakan oleh Al Qurthubi: sesungguhnya hadits ini tidaklah menunjukkan bahwa Ibrahim dan Sulaiman ketika  mereka berdua   membangun dua masjid sebagai yang mengawali, tetapi mereka hanya memperbarui apa-apa yang telah difondasikan oleh selain mereka berdua. (Ibid)

๐Ÿ“šMasjid Al Haram Termasuk Di antara Tiga Masjid Yang Paling Dianjurkan Untuk Dikunjungi

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ุชูุดูŽุฏู‘ู ุงู„ุฑู‘ูุญูŽุงู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูˆูŽู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰

๐Ÿ“Œโ€œJanganlah bertekad kuat untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Masjidil Aqsha. (HR. Bukhari
No. 1132, 1139, Muslim No. 1338, Ibnu Majah No. 1409, 1410, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19920)

Maksudnya adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke tiga masjid ini. Ada pun sekedar, kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang shalih, silaturrahim ke rumah saudara dan family, ziarah kubur, mengunjungi ulama, mendatangi majelis ilmu, berdagang, dan perjalanan kebaikan lainnya. Semua ini perjalanan kebaikan yang dibolehkan bahkan dianjurkan.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู…ุฎุตูˆุต ุจู…ู† ู†ุฐุฑ ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู…ู† ุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุบูŠุฑ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌุจ ุงู„ูˆูุงุก ุจู‡ ู‚ุงู„ู‡ ุงุจู† ุจุทุงู„.

๐Ÿ“Œโ€œBahwa larangan dikhususkan bagi orang yang bernazar  atas dirinya untuk shalat di masjid selain tiga masjid ini, maka tidak wajib memenuhi nazar tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Baththal.โ€ (Fathul Bari, 3/65)

Imam Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ู„ุง ุชุดุฏ ุงู„ุฑุญุงู„ ุฅู„ู‰ ู…ุณุฌุฏ ู…ู† ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ููŠู‡ ุบูŠุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุซู„ุงุซุฉุ› ูˆุฃู…ุง ู‚ุตุฏ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ู„ุฒูŠุงุฑุฉ ุตุงู„ุญ ุฃูˆ ู‚ุฑูŠุจ ุฃูˆ ุตุงุญุจ ุฃูˆ ุทู„ุจ ุนู„ู… ุฃูˆ ุชุฌุงุฑุฉ ุฃูˆ ู†ุฒู‡ุฉ ูู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุงู„ู†ู‡ูŠุŒ ูˆูŠุคูŠุฏู‡ ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุดู‡ุฑ ุจู† ุญูˆุดุจ ู‚ุงู„: ุณู…ุนุช ุฃุจุง ุณุนูŠุฏ ูˆุฐูƒุฑุช ุนู†ุฏู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ุงู„ุทูˆุฑ ูู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: “ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ุตู„ูŠ ุฃู† ูŠุดุฏ ุฑุญุงู„ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ุณุฌุฏ ุชุจุชุบู‰ ููŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุญุฑุงู… ูˆุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุฃู‚ุตู‰ ูˆู…ุณุฌุฏูŠ”

๐Ÿ“Œโ€œBahwa sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju masjid untuk shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat, menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya janganlah orang yang shalat itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid  selain Masjidil Haram, Masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid nabawi). (Ibid)

๐Ÿ“šTempat Terjadinya Peristiwa Isra

Surat Al Isra’ ayat pertama di atas menunjukkan bahwa Al Aqsha bersama Masjidil Haram-  merupakan tempat terjadinya  peristiwa Isra’  (perjalanan di malam hari). Hal ini menunjukkan kedudukannya yang tinggi  sehingga dia dipilih sebagai titik tolak  Isra di dunia.

๐Ÿ“š Kiblat Kedua  Umat Islam

Allah Taโ€™ala berfirman:

ุณูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ุณู‘ูููŽู‡ูŽุงุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุง ูˆูŽู„ุงู‡ูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ู‚ูุจู’ู„ูŽุชูู‡ูู…ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‰ ุตูุฑูŽุงุทู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ู (142) ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุณูŽุทู‹ุง ู„ูุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุดูŽู‡ููŠุฏู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ุง ู„ูู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุจูุนู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽู„ูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‚ูุจูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู‹ ุฅูู„ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูŽุฏูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ููŠูุถููŠุนูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽูƒูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ูŽุฑูŽุกููˆููŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ (143) ู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุฑูŽู‰ ุชูŽู‚ูŽู„ู‘ูุจูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ููŽู„ูŽู†ููˆูŽู„ู‘ููŠูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู‹ ุชูŽุฑู’ุถูŽุงู‡ูŽุง ููŽูˆูŽู„ู‘ู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽูƒูŽ ุดูŽุทู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูˆูŽุญูŽูŠู’ุซูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ููŽูˆูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูุฌููˆู‡ูŽูƒูู…ู’ ุดูŽุทู’ุฑูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูุบูŽุงููู„ู ุนูŽู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ (144)

๐Ÿ“ŒOrang-orang yang kurang akalnya  diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.  Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah (2): 142-144)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Baitul Maqdis telah menjadi kiblat selama 16 atau 17 bulan lamanya. (HR. Bukhari No. 4488)

Ada beberapa hikmah dari ayat-ayat tahwilul qiblah (perubahan kiblat) di atas:

โœ…Ujian Keimanan dan Ketaatan untuk kaum mukminin (para sahabat saat itu).

โœ…Simbol persatuan dan  kebersamaan seluruh  kaum muslimin.

โœ…Keseragaman arah ibadah kaum muslimin

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ุฅู†ู…ุง ุดุฑุนู†ุง ู„ูƒ -ูŠุง ู…ุญู…ุฏ -ุงู„ุชูˆุฌู‡ ุฃูˆู„ุง ุฅู„ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณุŒ ุซู… ุตุฑูู†ุงูƒ ุนู†ู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉุŒ ู„ูŠุธู‡ุฑ ุญุงู„ู ู…ู† ูŠูŽุชู‘ูŽุจุนูƒ ูˆูŠูุทูŠุนูƒ ูˆูŠุณุชู‚ุจู„ ู…ุนูƒ ุญูŠุซู…ุง ุชูˆุฌู‡ุชูŽ ู…ูู…ู‘ูŽู† ูŠู†ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุนูŽู‚ุจูŽูŠู’ู‡ุŒ ุฃูŠ: ู…ูุฑู’ุชูŽุฏู‘ุงู‹ ุนู†   ุฏูŠู†ู‡

๐Ÿ“Œ โ€œSesungguhnya syariat kami  untukmu โ€“wahai Muhammad- pertama-tamanya adalah mengarah  ke Baitul Maqdis, kemudian merubahmu darinya kearah Ka’bah, untuk menampakkan/memenangkan   keadaan orang yang mengikutimu, mentaatimu, dan berkiblat bersamamu di mana saja kamu  menghadap, terhadap orang-orang yang murtad dari agamanya. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/457. Dar Lin Nasyr wat Tauzi)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

QS. Al-Qiyamah (Bag. 3)

๐Ÿ“† Senin, 25 Rajab 1437H / 2 Mei 2016 M
๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐Ÿ“‹ QS. Al-Qiyamah (Bag. 3)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

materi sebelumnya

http://www.iman-islam.com/2016/04/qs-al-qiyamah-bag-2.html?m=1

๐Ÿ“šTanda-Tanda Dari Allah

Sebagaimana pada kekuasaan-Nya terdapat tanda-tanda, demikian pula pada makhluk ciptaan-Nya, Allah berikan tanda padanya agar ia mau mengingat Allah. Demikian halnya menjelang kematian Allah tak jarang memberikan tanda pada kita. Saat kita sakit, semestinya kita segera menyadarinya bahwa Allah mengirimkan sebuah tanda agar kita lebih siap lagi. Saat melihat atau mendengar kabar tentang kematian, itu juga sebuah tanda. Baik dia beriman pada Allah ataupun mengingkarinya

Ini adalah tanda-tanda kiamat kecil (sughrรข) yaitu kematian yang pasti dialami oleh semua makhluk-Nya yang bernafas. Sebelum kiamat besar (kubrรข) benar-benar datang. Yaitu hari kiamat yang meluluhlantakan apa saja. Bukan hanya yang hidup tapi apa saja dan siapa saja, saat itu menjumpai kebinasaannya. Karena kekekalan dan kehidupan hari itu hanya milik-Nya. Seorang saja. โ€œSemua yang ada di bumi itu akan binasaโ€[11].

๐Ÿ“Œโ€œSekali-kali jangan, apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): โ€œSiapakah yang dapat menyembuhkan?โ€ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)โ€. (QS. 75: 26-28)

Saat sakaratul maut dihadapinya ia benar-benar tak memiliki daya apapun. Yang ia tau bahwa saat perpisahan dengan segala yang dicintainya akan segera terjadi. Semua sangkaannya akan menjadi sia-sia. Hari yang ia takuti akan segera datang. Saat yang paling ia benci akan menyambanginya. Segala keangkuhan dan kekuasaannya, juga uangnya tak akan mampu menggantikan suasana ketakutan itu sirna dan menjahuinya, โ€œSiapakah yang dapat menyembuhkan?โ€. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabannya. Tapi ia tak mampu mengatakannya, karena taubat di detik-detik itu tidak diterima Allah.

Simaklah satu lagi penggambaran Allah terhapat peristiwa menjelang kematian ini,

๐Ÿ“Œโ€œDan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)โ€ (QS.75: 29).

Ia benar-benar menggigil ketakutan, dua betisnyapun mengatup. Tergambar didepannya segala bentuk kengerian dan kesendirian yang akan dijumpainya. Saat itu dua masalah bertemu. Adh-Dhahรขk mengatakan,

๐Ÿ“Œโ€œYaitu urusan jasad dan ruhnya. Keluarganya mengurus jasadnya. Sedang malaikat mengurus ruhnya. Ia bahkan tak tahu kemana jasad dan ruhnya dibawa oleh masing-masing merekaโ€ [12].

Mereka seolah lupa bahwa ini semua merupakan implikasi dan dampak dari apa yang mereka perbuat di dunia.

๐Ÿ“Œ โ€œDan ia tidak mau membenarkan (rasul dan al-Qurโ€™an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada keluarganya dengan berlagak (sombong)โ€. (QS.75โ€ 31-33)

Ringkasannya ia melakukan empat dosa besar:

1โƒฃ .       Mendustakan Rasul Allah dan al-Qurโ€™an

Mendustakan Rasul berarti tidak menerima segala hal yang dibawa olehnya. Termasuk al-Qurโ€™an, wahyu Allah yang dimandatkan padanya untuk disampaikan isi dan redaksinya secara utuh kepada umatnya.

2โƒฃ .       Tidak mau mengerjakan shalat

Sebagaimana disinggung sebelumnya dalam surat al-Mudatsir ayat 43. Mereka tidak mengerjakan shalat, dan ini merupakan simbol keengganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol keangkuhan, simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

3โƒฃ .       Berpaling dari kebenaran karena ego dan gengsinya

Sebagai akibat ia tak mau lagi mendengarkan nasihat dan masukan konstruktif. Ia abaikan kebenaran. Ia palingkan dirinya menjauhi kebenaran, demi gengsi dan egonya, apalagi jika kebenaran itu datang dari orang yang tidak disukainya atau karena ancaman polularitasnya atau karena takut kehilangan pengaruh di tengah kaumnya.

4โƒฃ .       Sombong di depan manusia

Di ayat 33 ini secara spesifik justru Allah mengambarkan ia berlaku sombong di depan keluarganya. Jika ia sudah berani berlaku sombong dan angkuh di depan keluarganya apalagi di depan orang lain. Selaiknya ia bela dan sayangi keluarganya. Ia tunjukkan keramahan, cinta dan keteduhan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia berinteraksi dengan kasar dan keras demi menunjukan keangkuhannya.

Maka jatuhlah vonis celaka terhadap mereka dan apa yang mereka lakukan.

๐Ÿ“Œโ€œKecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimu. Kemudia Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimuโ€. (QS.75: 34-35).

Kutukan ini diulang sampai empat kali. Sekali saat ia merenggang nyawa menghadapi kematian. Kedua, saat ia berada dalam kesendirian tanpa daya mendapatkan siksa kubur. Ketiga, saat ia dibangkitkan setalah hari kehancuran. Dan keempat kalinya, saat vonis terakhir benar-benar ia terima. Mendekam dalam kekekalan di neraka jahannam. Sepanjang masa yang hanya Allah saja tahu takarannya.

๐Ÿ“šPetaka, Bermula Dari Kelalaian yang Berkelanjutan

๐Ÿ“Œโ€œApakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa bertanggung jawab)?โ€.

Manusia lupa, bahwa ia diciptakan dengan misi memakmurkan bumi Allah dan membawa misi penghambaan yang benar pada Allah semata. Dan semua itu ada pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah. Lantas apa yang membuatnya berkeyakinan bahwa ia akan hidup dan kemudia mati serta berakhir segalanya? Sebagaimana ia diperintahkan untuk beribadah dan dilarang untuk membangkang serta mendustakan agama-Nya, maka semua ada saatnya manusia diganjar atas perbuatannya. Tentunya sebelum itu ia akan diminta terlebih dahulu tanggung jawab atas amal-amalnya.

Sebenarnya yang membuat lupa, karena ia melalaikan asal kejadiannya. Dan ia tak pernah merasakan bahwa wujud serta eksistensinya di dunia ini adalah sebuah kenikmatan yang Maha Agung.

๐Ÿ“Œโ€œBukankah dia dulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuanโ€. (QS. 75: 37-39)

Jika manusia mau mengingat asal kejadiannya ia akan segera sadar dan tahu bahwa Allah mampu membangkitkannya setelah dia mematikan semua makhluk-Nya,

๐Ÿ“Œโ€œBukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?โ€ (QS. 75: 40). Mahasuci Allah, Engkau Maha Besar.

Ibnu Katsir menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud Shรขhibussunan. Ibunda Aisya ra menuturkan sebuah riwayat,

๐Ÿ“Œโ€œAda seorang laki-laki shalat di atas rumahnya. Dan ketika ia menbaca โ€ฆ.. ia berkata: Subhรขnaka fa balรข (mahasuci Engkau maka benarlah). Kemudian  saat ia ditanya, ia menjawab aku mendengarnya dari Rasulullah sawโ€. Namun, Ibnu Katsir melemahkan hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud ini[13]. Sebagaimana pendapat Ibnu Jarir ath-Thabary, โ€œhadits ini mursal dan saya tak menemukan satu pun yang marfuโ€ [14]. Namum jika dibaca diluar shalat maka hal tersebut tidak ada perbedaan pendapat. Karena Ibnu Abbas dan Said bin Jubair juga mengajurkannya demikian [15].

Mahasuci Allah. Jika manusia tak lalai dan mau mengingat asal usulnya, tentu ia akan jauh dari petaka dan azab Allah sejak berada di dunia. Sebagai gantinya kelak di akhirat akan Allah berikesempatan yang sangat mahal, yaitu bertemu langsung dengan-Nya dan mendapatkan pentulan cahaya-Nya yang menerangi segala kegelapan. Allรขhumma Amin.

โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€“
                                                                                   
[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqรขn fi โ€˜Ulumi al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.22, dan lihat Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2] Prof Dr. Jumโ€™ah Ali Abd Qader, Maโ€™รขlim Suar al-Qurโ€™an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vol.2, hal .732

[3]  Lihat: Abu Zakaria al-Farrรข, Maโ€™aniy al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2002 M/1423 H, Vol.III,hal.100, juga lihat: Imam az-Zamakhsyary, al-Kasysyรขf โ€˜an Haqรขโ€™iqu at-Tanzil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hal.163

[4]  Imam al-Qurthuby, al-Jamiโ€™ li Ahkami al-Qurโ€™an Cairo: Darul Hadits, 2002 M / 1422 H, Vol.X, hal.83

[5]  QS. Annur (24): 24

[6]  Imam al-Hakim at-Trimidzi, Nawadir al-Ushul fi Maโ€™rifai Ahadits ar-Rasul, Cairo: Dar ar-Rayyan, Cet.I, 1988 M / 1413 H, Vol.2, hal.457

[7]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nataโ€™ รขmal maโ€™a al-Qurโ€™an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 28

[8]  HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7435 (Ibnu Hajar al-โ€˜Asqalany, Fathul Bรขri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1998 M / 1419 H, Vol.XIII, hal.497)

[9] HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7436 (Fathul Bรขri, Ibid, hal.499)

[10] Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imรขn wa al-Hayรขh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet.16, 2007 M /1428 H,hal.160

[11]  QS. Ar-Rahmรขn (55): 26

[12]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jรขmiโ€™ al-Bayรขn, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29,hal.233

[13]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurโ€™an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.586

[14] Imam Ibnu Jarir ath Thabary, Jรขmiโ€™ al-Bayรขn, Ibid,Vol.XXIX. hal.29, lihat juga tesis penulis , Kitab Lawamiโ€™ al-Burhan wa Qawathiโ€™ al-Bayan fi Maโ€™any al-Qurโ€™an li al-Maโ€™iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.758

[15]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurโ€™an al-Azhim, Ibid
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimana Menutup Aurat Yang Benar???

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“Ustadzah Eko Yuliarti

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1436 H
๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ‚๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒพ๐ŸŒธ

Assalaamualaikuum..
Saya Atika, kalau boleh ingin mengajukan pertanyaan .

“Saya mendapat banyak pemahaman yg berbeda ttg menutup aurat. Ada yg mengatakan harus menggunakan gamis (pakaian yg bersambung). ada jga yang mengatakan tidak apa2 menggunakan rok utk bawahan, dan baju panjang utk atasan. Dgn ctatan baju dan rok tsb tdk ketat, tdk tipis, dsb. Jadi saya ingin menanyakan pendapat manakah yg benar menurut islam ?”
#A 36

๐ŸŒนJawaban๐ŸŒน
    ————–

Wa’alaikumsalam wr wb
Pedoman kita dalam hal menutup aurat adalah surat Annur ayat 31
 “Katakanlah kepada wanita yang beriman, โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, ……”

Dan Al-ahzab ayat 59 :
Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !โ€ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allรขh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sementara hadits menjelaskan :
Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjidโ€ฆ
[HR. Muslim, no. 3028]

Ayat dan hadits tidak menjelaskan “model” atau “rupa” tertentu untuk pakaian. Akan tetapi memberikan batasan2 saja. Hal ini tentu dikarenakan masalah pakaian erat hubungannya dengan budaya. Sehingga tidak mungkin diseragamkan untuk seluruh dunia. Karena adat/budaya banyak menimbang/memperhatikan unsur kepatutan.

Oleh karenanya para ulama merumuskan batasan2 pakaian perempuan dengan poin2 berikut :
– Menutup seluruh aurat
– Tidak transparan
– Tidak membentuk lekuk2 anggota tubuh/tidak ketat
– Tidak menyerupai pakaian laki2.

Bila pakaian perempuan sudah memenuhi batasan2 diatas, maka pakaian itu boleh dipakai. Jadi titik tekannya bukan pada model akan tetapi pada memenuhi batasan yg telah ditentukan para ulama.
Wallohu a’lam bis showwab

๐ŸŒบ๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒป๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒธ

Dipersembahkan oleh:
www.iman-manis.com

โœ’Sebarkan! Raih Pahala….

Bagaimana Investasi Saham Dalam Islam

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUst. Rikza Maulana Lc. M.Ag

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท

Assalamualaikum ustadz/ah…
mau tanya dong, kalo kita investasikan uang kita ke suatu PT finance, terus dpt keuntungan (kaya main saham gitu). Itu secara  hukumnya apaa yaa? apakah itu samaa dgn judi ? A12

Jawaban
————

Wa’alaikumsalam wr wb..
Saham  yg dijalankan secara syariah diperbolehkan. Adapun saham yg tidak syariah, maka bertransaksinya adalah haram, krn mengandung unsur maisir (gambling).
Wallahu A’lam.

 ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Memanggil Istri Dengan Sebutan Ummi,Bolehkah??

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUst. DR.H. Saiful  Bahri M.A

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamualaikum ustadz mohon penjelasannya.
bagaimana hukumnya memanggil istri dengan sapaan ummi, bunda. apa hal tersebut sama dengan menzihar istri? karena saat ini banyak pasangan suami istri yg memanggil pasangannya dg sapaan abi-ummi, ayah bunda, dsb. ๐Ÿ…ฐ1โƒฃ0โƒฃ

๐Ÿ€.Jawaban nya๐Ÿ€

Alaikumsalam.
Panggilan tersebut (abi umi, ayah bunda, papa mama dsb) dibolehkan, karena diniatkan untuk mendidik anak-anak cara memanggil orang tua mereka. Kecuali, jika diniatkan zhihar (disamakan ibu atau siapa saja dari mahramnya) maka harus membayar kafaratnya (denda).
1. Memerdekakan budak (setara dg nilai harga 10 unta)
2. Atau puasa dua bulan berturut-turut
3. Atau memberi makan 60 fakir miskin.
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

๐Ÿ“† Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

๐Ÿ“‹ Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ

Jika cinta bersemi di awal-awal pernikahan, itu wajar; tapi ketika perasaan saling menyayangi dan memahami bertahan untuk selamanya, itu luar biasa!
Di masyarakat, keluarga yang kandas di tengah jalan jumlahnya makin banyak saja. Kasus perceraian dari tahun ketahun meningkat tajam. Rumah tangga yang kelihatannya baik-baik saja, tiba-tiba berakhir di pengadilan. Terkesan, mengakhiri cinta dengan pasanganitu mudah sekali. Semudah membalik telapak tangan. Istilah True love (cinta sejati) atau endlesslove (cinta yang tiada akhir) seolah hanya menjadi impian

Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285perkararumahtangga.184 perkara berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir. Dari data Ditjen Badilag 2010, kasus tersebut dibagi menjadi beberapa aspek yang menjadi pemicu munculnya perceraian. Misalnya, ada 10.029 kasus perceraian yang dipicu masalah cemburu. Kemudian, ada 67.891 kasus perceraian dipicu masalah ekonomi. Sedangkan perceraian karena masalah ketidakharmonisan dalam rumah tangga mencapai 91.841 perkara.

Adapun secara geografis, perkara perceraian paling banyak terjadi di Jawa Barat yakni 33.684 kasus, disusul Jawa Timur dengan 21.324 kasus. Di posisi ketiga adalah Jawa Tengah dengan 12.019 kasus. Sedangkan, dalam Proyek Transisi Institut Perceraian Australia, mayoritas laki-laki dan perempuan menyatakan penyebab perceraian mereka antara lain adalah masalah komunikasi, ketidakcocokan, perubahan nilai dan gaya hidup, serta perselingkuhan. Alasan yang cukup mendominasi juga adalah meningkatnya harapan kepuasan diri dalam pernikahan dan penurunan toleransi (Reynolds dan Mansfield 1999; Amato dan Booth 1997, Coontz 1997, Dewan Keluarga di Amerika 1.995 ).

Meskipun mengakhiri pernikahan tidak mudah dan mungkin menimbulkan trauma atau merugikan bagi salah satu atau kedua pasangan dan anak-anak mereka (Waite 1995; Amato dan Booth 1997), sebagian besar perempuan dan laki-laki, apa pun alasan perceraian mereka, menyatakan bahwa merasa mereka tidak ingin kembali dengan mantan pasangan mereka. Bagi wanita, alasa yang paling kuat untuk perceraian adalah perilaku kasar pasangan.

Ternyata, untuk mempertahankan mahligai rumah tangga, tidak harus melalukan hal-hal besar dan sulit. Dari studi tentang pernikahan jangka panjang (Kaslow dan Robinson 1996, Levenson et al 1993; Wallerstein dan Blakeslee 1995) diidentifikasi beberapa karakteristik hubungan pasangan yang sehat, yaitu rasa hormat dan merasa dihargai, kepercayaan dan kesetiaan, hubungan seksual yang baik, komunikasi yang baik, berbagi, kerjasama dan saling mendukung serta kebersamaan, rasa spiritualitas, dan kemampuan masing-masing untuk fleksibel ketika dihadapkan dengan suasana transisi dan perubahan.

Para peneliti juga menggambarkan karakteristik sebuah keluarga yang kuat (Schlesinger 1998, Curran 1983). Menurut Stinnett dan Defrain (1985), keluarga yang kuat memiliki semangat untuk memajukan kesejahteraan dan kebahagiaan masing-masing, menunjukkan penghargaan satu sama lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan berbicara satu sama lain, menghabiskan waktu bersama-sama, memiliki rasa spiritualitas, dan menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk tumbuh.

Jadi bisa disimpullkan, mahligai rumah tangga dapat dipertahankan dengan suasana hubungan yang sehat dan penuh cinta, melalui beberapa hal berikut:

๐ŸŒท 1. Yakinlah pada kekuatan kebersamaaan. Salah satu kekuatan yang sangat penting adalah bekerja sama dengan baik. Tidak ada beban yang terlalu berat saat mengangkatnya bersama.

๐ŸŒท 2. Ingatlah selalu hal-hal yang menyenangkan dari pasangan Anda. Ketika istri sedang melipat baju suami, bayangkankan etos kerja, kesabaran, dan kemurahan hatinya. Suami, tersenyumlah dengan meingat-ingat lelucon dan humoristri. Dengan menghabiskan waktu untuk selalu merenungkan sifat-sifat baik dari pasangan Anda, cinta, kasih sayang, pemujaan terhadap satu sama lain akan terus tumbuh.

๐ŸŒท 3.Tertarik dan berbagilah tentang dunia masing-masing. Tetap terhubung dan berkomunikasi ketika Anda terpisah.

๐ŸŒท 4. Saling menghormati dan menghargai. Jangan pernah merendahkan pasangan. Perhatikan nada suara ketika Anda berkomunikasi satu sama lain. Belajarlah untuk menyenandungkan pujian. Jangan memiliki harapan yang berlebihan. Berlatihlah untuk menerima apa adanya.

๐ŸŒท 5.Saling mendorong dan meningkatkan semangat untuk maju. Jangan meragukan kemampuan pasangan. Memberikan dorongan, saran dan kebijaksanaan dengan cara yang penuh kasih.

๐ŸŒท 6. Siap jika dibutuhkan pada saat-saat penting terutama melewati saat-saat sulit dalam hidup

๐ŸŒท 7. Membuat kejutan-kejutan untuk pasangan. Hindari kehidupan rutin.Ya, bila Anda bosan sesuatu cobalah sesuatu yang berbeda dengan pasangan. Kesempatan tidak terbatas!

๐ŸŒท 8. Kenalilah apa-apa yang pasangan Anda suka dan tidak suka. Semakin banyak Anda tahu dan memahami dunia pribadi masing-masing, maka persahabatan Anda akan makin terjalin kuat.

๐ŸŒท 9. Terus mensyukuri apa yang sudah dijalani dan mengandalkan kekuatan doa. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu akan selesai dengan baik dan menyenangkan.

Perlu terus dikuatkan keyakinan bahwa pernikahan adalah karunia dari Allah swt. Ya, pernikahan adalah ibadah dan hal itu adalah motivasi paling kuat bagi kaum muslim sehingga kita mampu bersabar atas kekurangan pasangan masing-masing.

Referensi:
-Amato, P. & Booth, A. (1997), A Generation at Risk: Growing Up in an Era of Family Disheaval, Harvard University Press, Cambridge.
-Coontz, S. (1997), The Way We Really Are, Basic Books, New York.
-Curran, D. (1983), Traits of a Healthy Family: Fifteen Traits Commonly Found in Healthy Families by Those Who Work With Them, Winston Press, Minneapolis.
-Kaslow, R. & Robinson, J. (1996), ‘Long-term satisfying marriages: perceptions of contributing factors’, American Journal of Family Therapy, vol. 24, no. 2, pp. 69 78.
-Levenson, R., Carstenson, L. & Gottman, J. (1993), ‘Long-term marriage: age, gender and satisfaction’, Psychology and Aging, vol. 8, no. 2, pp. 310-313
-Reynolds, J. & Mansfield, P. (1999), ‘The effect of changing attitudes to marriage on its stability’, in Simons, J. (ed.) High Divorce Rates: The State of the Evidence on Reasons and Remedies: Reviews of Evidence on the Causes of Marital Breakdown and the Effectiveness of Policies and Services Intended to Reduce its Incidence, Research Series, vol. 1, pp. 1-38, Lord Chancellor’s Department, London.
-Schlesinger, B. (1998), ‘Strong families: a portrait’, Transition, June, pp. 4-15.
-Stinnett, N. & DeFrain, J. (1985), Secrets of Strong Families, Little Brown, Boston.
-Waite, L. (1995), ‘Does marriage matter?’, Demography, vol. 32, no. 4, pp. 483 507.
-Wallerstein, J. & Blakeslee, S. (1995), The Good Marriage, Warner Books, New York.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Pelajaran Fiqih Dakwah dari Nabi Harun & Nabi Musa ‘Alaihimassalam

๐Ÿ“† Ahad, 24 Rajab 1437H / 1 Mei 2016

๐Ÿ“š DAKWAH ISLAM

๐Ÿ“ Ust. A Sahal Hasan, Lc

๐Ÿ“‹ PELAJARAN FIQIH DAโ€™WAH dari NABI HARUN & NABI MUSA โ€˜alaihimassalam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Harun โ€˜alaihissalam:

1โƒฃ Nasihat Nabi Harun kepada kaumnya menunjukkan urutan tema daโ€™wah yang sangat indah:

โœ… Sesungguhnya kamu hanya diuji dengan anak lembu itu: ini merupakan bentuk ุฅุฒุงู„ุฉ ุงู„ุดุจู‡ุงุช (upaya melenyapkan syubhat aqidah dan pemahaman) dengan mengingatkan mereka agar jangan mudah terperosok kepada kesesatan hanya oleh seorang Samiri, padahal mereka telah meilhat berbagai muโ€™jizat dan niโ€™mat Allah melalui Nabi Musa alaihissalam.

โœ… Dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู„ู‡ (maโ€™rifatullah), sebagai asas iman yang benar.

โœ… Maka ikutilah aku: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู†ุจูˆุฉ mengenal kenabian agar dibimbing oleh utusan Allah.

โœ… Dan taatilah perintahku: mengingatkan mereka untuk ุงุชุจุงุน ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ (mengikuti syariat) sebagai jalan hidup yang lurus. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, Al-Razi: 22/92).

2โƒฃ Ucapan Nabi Harun โ€œWahai putra ibu..โ€ menunjukkan posisi seorang ibu yang amat penting bagi kedekatan anak-anaknya dengan kasih sayangnya yang melebihi seorang ayah. Nabi Harun mengingatkan Nabi Musa dengan ibu mereka berdua untuk meredakan kemarahan Nabi Musa kepadanya, meskipun mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

3โƒฃ Nabi Harun โ€˜alaihissalam mengetahui kapasitas dirinya sehingga ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan akibat lebih buruk. Akan berbeda akibatnya jika yang melakukannya adalah Nabi Musa, karena ia lebih memiliki kharisma dari pada Nabi Harun. Ini tersirat dari ucapannya: โ€œSesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.โ€

4โƒฃ Ada fiqih muwazanat (timbangan maslahat & madharat) dan fiqih awlawiyat (prioritas) yang diperhatikan oleh Nabi Harun yang terlihat dari jawabannya atas teguran Nabi Musa (Thaha: 94).

Menurut Nabi Harun:

โœ… Maslahat tetap membersamai ummat yang tersesat lebih besar dari pada maslahat meninggalkan mereka untuk menyusul Nabi Musa.

โœ… Madharat perpecahan ummat jauh lebih besar dari pada madharat tidak berlaku keras atau tidak memerangi kelompok yang menyimpang, meskipun peyimpangan dan kesesatan mereka sangat nyata, dan meskipun beliau juga seorang nabi yang memiliki legalitas dan wewenang tinggi untuk berlaku keras.

Artinya Nabi Harun memprediksi akan terjadi perpecahan bahkan perang saudara jika ia dan orang-orang yang tetap beriman bersikap keras. Kesesatan mereka bisa diatasi saat Musa kembali sehingga Nabi Harun lebih memilih sabar. Sedangkan nyawa yang hilang tak dapat dikembalikan, juga keutuhan ummat sulit dipulihkan setelah cerai berai oleh perang meskipun Nabi Musa telah kembali.

Tentu, muwazanah seperti muwazanah Nabi Harun lebih layak diperhatikan terhadap hal-hal yang “penyimpangannya” masih diperdebatkan.

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Musa โ€˜alaihissalam

1โƒฃ Kemarahan karena Allah tatkala melihat kemunkaran yang jelas dan tak ada perbedaan pendapat tentang status munkarnya. Ini adalah sikap yang wajib dimiliki oleh setiap juru da’wah dan organisasi da’wah. Meskipun ekspresi kemarahan itu harus dikontrol dengan berbagai fiqih, seperti fiqih awlawiyat, fiqih muwazanat, fiqih ma-alat…

2โƒฃ Nabi Musa melakukan empat hal berurutan yang menunjukkan kapasitas dan ketegasannya sebagai seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah:

โœ… Berdialog dengan kaumnya yang tersesat untuk mengetahui masalah dan meluruskan mereka, karena mereka yang paling bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, dan mereka punya kehendak untuk tetap istiqamah.

โœ… Berbicara kepada saudaranya, Nabi Harun, yang telah diamanahkan memimpin mereka.

โœ… Menyelesaikan urusan dengan Samiri, sebagai penyebab kesesatan kaumnya dan memberikan hukuman diusir dan dikucilkan dari pergaulan hingga akhir hayatnya (lihat: Thaha: 95-97).

โœ… Membakar patung anak sapi dan membuang abunya ke laut (lihat: Thaha: 97-98).

Sayid Quthb rahimahullah berkata:

ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ุฐู ุงู„ู’ุจูŽุฏู’ุกูุŒ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ููˆู†ูŽ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ูŠูŽุชูŽู‘ุจูุนููˆุง ูƒูู„ูŽู‘ ู†ูŽุงุนูู‚ูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญููˆู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุชูู‘ุจูŽุงุนูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูŽู…ูู‘ูˆุง ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูุฏูู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ู…ูุคู’ุชูŽู…ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’. ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุณูŽู‘ุงู…ูุฑููŠู‘ ููŽุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู ูŠูŽุฌููŠุกู ู…ูุชูŽุฃูŽุฎูู‘ุฑู‹ุง ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูู’ุชูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ู‚ููˆูŽู‘ุฉูุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูู‚ููˆู„ูู‡ูู…ู’ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฃูŽุบู’ูˆูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽุบูŽูˆูŽูˆู’ุงุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽู…ู’ู„ููƒููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุซู’ุจูุชููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูุฏูŽู‰ ู†ูŽุจููŠูู‘ู‡ูู…ู ุงู„ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ูˆูŽู†ูุตู’ุญู ู†ูŽุจููŠูู‘ู‡ูู…ู ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ. ููŽุงู„ุชูŽู‘ุจูŽุนูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุงุนููŠู‡ูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ููุชู’ู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽูˆูŽุงูŠูŽุฉู ุฃูŽุฎููŠุฑู‹ุง.

Nabi Musa tidak langsung mengarahkan kemarahannya kepada Samiri, karena kaumnyalah yang bertanggung jawab (atas diri mereka sendiri) untuk tidak mengikuti semua seruan penyesat.

Sedangkan Harun dialah mas-ul yang bertanggung jawab menghalangi mereka dari keinginan mengikuti kesesatan, dan ia adalah pemimpin yang diamanahi atas mereka.

Adapun Samiri, dosanya datang belakangan karena ia tidak menyesatkan mereka dengan kekuatan (paksaan), juga tidak menghilangkan akal mereka. Tetapi ia hanya mengajak mereka lalu mereka menyambut kesesatannya. Mereka tetap memiliki pilihan untuk tsabat (teguh) di atas petunjuk Nabi mereka yang pertama dan mengikuti nasihat Nabi mereka yang kedua.

Jadi tanggung jawab tetap pada mereka pertama kali, kemudian di pundak pemimpin mereka, kemudian terakhir adalah tanggung jawab pemilik (ide) kerusakan dan kesesatan (Samiri). (Fi Zhilal Al-Quran: 4/2348).

Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…