Terkait Amalan di Bulan Rojab

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Abdullah Haidir
🌿🌺🍁🌸🌼🍀🌻🌷🌹
Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Saya mau bertanya tentang amalan rajab yang di baca pada jum’at terakhir bulan rajab diantara dua kutbah..
“ahmadurrasulullah muhammadurasulullah”. Apakah ada dalilnya.. Mohon penjelasan. Jazakallah.  🅰2⃣8⃣
JAWABAN:
Semua amalan yang dikhususkan di bulan Rajab tidak ada dalilnya…..
wallahu a’lam
🌿🌺🍁🌸🌼🍀🌻🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih pahala…

Melintasi Makam, Perlukah Mengucap Salam

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Ida Faridah

Assalamuallaikum…ingin bertanya.
Kalau kita sedang lewat kuburan. Katanya harus salam. Itu tanda menghargai adanya kuburan atau bagaimana ya?
Terimakasih  A36
Jawaban
========
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kita adab ketika memasuki makam orang-orang muslim agar mengucapkan salam.
ﺍﻟﺴﻼﻣﻌﻠﯿﮑﻢ ﺍﮬﻞ ﺍﻟﺪﯾﺎﺭﻣﻦ ﺍﻟﻢﺀﻣﻨﯿﻦ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ ﻭﺍﻧﺎﺍﻥ ﺷﺎﺀﺍﻟﻠﮧ ﺑﮑﻢ
ﻻﺣﻘﻮﻥ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﮧ ﻟﻨﺎﻭﻟﮑﻢ ﺍﻟﻌﺎﻓﯿﮧ
”Selamat sejahtera atas kamu penduduk daerah kaum
mu’minin dan muslimin,dan bila Allah menghendaki kami akan menyusulmu, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu agar sejahtera.”
(HR. Muslim)
“Ketika seseorang melewati kuburan yang ia kenal kemudian mengucapkan salam maka ahli kubur itu menjawab salamnya dan mengetahui orang itu. Dan ketika ia melewati kuburan yang tidak dikenal kemudian mengucapkab salam kepada ahli kubur maka ahli kubur itu menjawab salamnya.
(HR. Abu Hurairoh).
Wallahu a’lam.

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Sebarkan! Raih Bahagia….

Bolehkah Sholat dengan Mata Terpejam

💻Ustadzah Menjawab
💐Ustadzah Nurdiana
🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tanya Ustadz/Ustadzah
Gimana hukumnya klo sholat tapi mata kita tertutup? A 38
Jawaban
————–
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Para ulama memakruhkan memejamkan mata saat sholat, diantaranya hanafi, maliki,hambali, sebagian syafi’i Terdapat sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ
”Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabrani (w. 360 H) dalam Mu’jam as-Shagir no. 24. dari jalur Mus’ab bin Said, dari Musa bin A’yun, dari Laits bin Abi Salim.
Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama pakar hadis, karena dua alasan,
1. Laits bin Abi Salim dinilai dhaif karena mukhtalat (hafalannya kacau), dan dia perawi mudallis (suka menutupi)
2. Mus’ab bin Said, dinilai sangat lemah oleh para ulama. Ibnu Adi mengatakan tentang perawi ini,
يحدث عن الثقات بالمناكير ويصحف عليهم ، والضعف على حديثه بيِّن
”Beliau membawakan hadis-hadis munkar atas nama perawi terpercaya dan menyalahi ucapan mereka. Status dhaif hadisnya sangat jelas.”
Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya,
a. Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnul Qoyim (w. 751 H) mengatakan,
ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تغميض عينيه في الصلاة
”Bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)
b. Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan shalat orang yahudi. Dalam ar-Raudhul Murbi’ – kitab fikih madzhab hambali – pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat, dinyatakan,
ويكره أيضا تغميض عينيه لأنه فعل اليهود
”Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi.” (ar-Raudhul Murbi’, 1/95).
c. Karena memejamkan mata bisa menyebabkan orang tertidur, sebagaimana keterangan dalam Manar as-Sabil (1/66).
Untuk itu, sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan. Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya. Ibnul Qoyim mengatakan,
والصواب أن يقال : إن كان تفتيح العينين لا يخل بالخشوع فهو أفضل ، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يشوش عليه قلبه ، فهنالك لا يكره التغميض قطعًا ، والقول باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة
Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih afdhal. Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini tidak makruh memejamkan mata. Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya. (Zadul Ma’ad, 1/283).).
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Tips Menjadi Jomblo Sholihah Smart dan Energik

📆 Rabu, 27 Rajab 1437 H / 4 Mei 2016 M

📚 MOTIVASI

📝 Ustadz Dr. Wido@Supraha.com

📋 TIPS MENJADI JOMBLO SHOLIHAH SMART DAN ENERGIK

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌼 Alhamdulillaahi bi ni’matihii tatimmushshaalihaat,
Segala puji hanyalah milik Allah yang dengan nikmat-Nya sempurna seluruh kebaikan.

Menjadi jomblo juga adalah kenikmatan kok, semoga ini cara Allah mendorong kesiapan yang utuh menuju gerbang yang ditunggu.

🌻 Asyhadu an-Laa ilaaha illallaah, wa Asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Jomblo atau tidak, bukan itu persoalannya, namun apakah qalbu dan bibir ini sentiasa memperbaharui syahadah, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

🌺 Allaahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihii wa shahbihii ajma’iin,
Jomblo mengingatkan diri bahwa sejatinya manusia nafsi-nafsi menuju Yaumul Yaqin, maka marilah kita sentiasa bershalawat atas Nabi Muhammad Saw, keluarganya, sahabat-Nya seluruhnya.

🌸 Yaa Akhawaat fiddiin, rahimanii wa rahiimakumullah,

🍃 Menikah adalah 1/2 agama, perintah Allah Swt, penyeimbang kehidupan, dan peningkat ketenangan jiwa. Amal mulia ini adalah awal dari sebuah kerja besar yang tidak bisa dilalui dengan ketenangan kecuali orang-orang yang tenang.

🍃 Persoalan utama hari ini adalah apakah memang kita sudah siap untuk menikah. Jangan-jangan jika hari ini kita menikah justru lahir banyak kemunduran padahal hidup ini untuk kemajuan. Bukankah yang terutama justru persiapan dan pembiasaan sehingga lahir berbagai kemudahan dan jalan keluar dalam kondisi jomblo atau berdua.

🍃 Shalihah, Smart dan Energik adalah 3 kata yang memang menempel dalam diri setiap mukminah. Shalihah kemestian, smart keharusan, energik keniscayaan. Shalihah semakin berkualitas dengan sifat smart dan energik, dan setiap pilihan yang smart akan membuat energi yang semakin energik membentuk keshalihan yang paripurna.

🍃 Shalihah, Smart dan Energik tidak terkait dengan seseorang itu jomblo atau berdua, karena dia seyogyanya sudah bersifat inherent. Namun kita perlu ingat, bahwa sesuatu yang besar adalah karena kumpulan yang kecil. Kebiasaan besar adalah kumpulan kebiasaan kecil. Terbiasa dengan yang kecil, dan tidak meremehkan yang kecil, akan menjadi jalan kemudahan bagi yang besar.

🍃 Hal-hal penting yang dapat menjaga 3 (tiga) hal di atas perlu kita hadirkan dan upayakan keberadaannya.

❣Pertama, memelihara komunikasi dengan Allah Jalla wa ‘ala.

Ingatlah bahwa Allah Swt bersama kita, baik dalam kondisi terpuruk dan bahagia, namun kebiasaan kita dekat dengan-Nya di kondisi bahagia akan memudahkan kita dikenali-Nya di saat kita terpuruk.

Kebersamaan dengan Allah akan memberikan energi yang tak pernah henti, sehingga lahirlah pilihan-pilihan smart. Jika Adam dan Hawa baru ketemu setelah saling mencari bertahun-tahun lamanya, maka hakikatnya menunggu sang pangeran yang baru berbilang tahun, belum ada bandingannya.

❣Kedua, selalu siapkan waktu dengan orang-orang terdekat.

Tentunya orang terdekat kita adalah orang tua, adik, kakak, dan kerabat. Tapi ciptakanlah orang-orang terdekat tambahan. Mereka bisa terlahir karena kesamaan visi sehingga melahirkan gerak bersama.

Mereka pun bisa terlahir sebagai dampak dorongan diri untuk mengisi, sehingga melahirkan kebersamaan yang penuh. Jomblo punya potensi untuk lebih optimal dalam kreasi ini. Sesuatu yang akan membuat kita nyaman meski sang pangeran belum hadir.

❣Ketiga, selalu awali hari dan isi hari dengan energi positif.

Energi positif lahir berawal dari tahajjud dan subuh berjama’ah yang kita lakukan. Energi positif sempurna dengan dzikir pagi yang kita nikmati. Energi ini akan mendorong lahirnya energi turunan, sesuatu seperti keinginan untuk tersenyum ramah dan lepas kepada sesiapapun yang ditemui, bahkan menggerakan diri untuk berbuat lebih melengkapi manusia lain, dan menjaga alam sekitar. Bahkan, jika energi positif itu mampu kita tularkan kepada seluruh makhluk di sekitar kita, pantulannya akan semakin memperkaya diri sehingga energi bertambah tinggi.

❣Keempat, Think Positive Be Passionate.

Sejatinya kita dilahirkan untuk sibuk, dan Allah berjanji akan menyaksikan kesibukan kita. Kesibukan akan mendorong kita untuk selalu berpikir positif. Kecintaan pada kesibukan akan membawa kita pada fokus kerja karena begitu menikmati. Syaithan pun mendapatkan penghalang tambahan untuk merasuki jiwa-jiwa yang sibuk. Maka temukanlah passion kita, nikmatilah, dan teruslah berkarya, karena karyamu akan semakin berkualitas kelak bersama sang pangeran.

Alhamdulillah ‘ala kulli haalin.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Setiap Kedzaliman, akan Menjadi Perkara Besar Di Hari Kiamat

📆 Rabu, 27 Rajab 1437 H / 4 Mei 2016 M

📚 MUAMALAH

📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc, M.Ag

📋 Setiap Kedzaliman, Akan Menjadi Perkara Besar Di Hari Kiamat

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang berbuat satu kedzaliman kepada saudaranya, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan.

Karena pada Hari Kiamat kelak, tidak akan bermanfaat (banyaknya) dinar dan dirham.

Dan (pada hari tersebut), setiap kezaliman akan dibalas dengan cara diberikan kebaikan (amal shalehnya) kepada saudaranya (yg didzaliminya).

Jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, maka kejahatan saudaranya (yang didzaliminya) akan diambil dan dipikulkan kepada dirinya.” (HR. Bukhari)

📚Hikmah Hadits :

❣1. Pentingnya beramal shaleh dalam hal menjaga hubungan baik, terutama terkait interaksi dengan sesama muslim.

Karena setiap muamalah dengan sesama muslim yang baik, kelak akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat, demikian juga sebaliknya setiap keburukan atau kedzaliman terhadap orang lain, kelak akan dibalas dengan dengan keburukan yang bisa jadi kelak menjadi penghalang besar dalam menggapai keridhaan Allah Swt.

❣2. Seperti gambaran perbuatan dzalim dalam hadits di atas, yang harus dibayar oleh pelakunya dengan pahala amal shaleh yang dimilikinya.

Kelak amal shalehnya akan diambil oleh Allah Swt dan diberikan kepada orang yang didzaliminya.

Semakin banyak kedzaliman nya, maka akan semakin banyak pula pahala amal shalehnya yang diambil darinya.

Dan ketika pahala amal shalehnya habis, dan ia tidak lagi bisa membayar kedzalimannya, maka yang terjadi adalah dosa-dosa orang yang didzaliminya akan diambil oleh Allah Swt lalu dipikulkan ke atas pundaknya.

❣3. Maka setiap kedzaliman yang telah dilakukan terhadap saudaranya, hendaknya minta dihalalkan.

Apakah kedzaliman terkait hutang piutang, urusan bisnis dan perniagaan, mencederai kehormatan, atau dalam segala urusan lainnya, hendaknya ia menyelesaikannya, atau minta dimaafkan.

Karena setiap muslim terhadap muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatan nya.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Tadabbur Surat An-Naba’

📆 Senin, 2 Sya’ban 1437H / 9 Mei 2016 M
📚 Tadabbur Al-Qur’an

📝 Dr. Saiful Bahri, M.A

📋 Tadabbur Surat An-Naba’

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚  *Mukaddimah: Jawaban Atas Berbagai Keraguan*

 Dalam surat ini Allah lebih banyak menjelaskan tentang hari kebangkitan dan kemudian pembalasan bagi para manusia sesuai amal dan perbuatannya. Hari yang didustakan oleh banyak orang sejak para rasul sebelum Nabi Muhammad _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_  menyampaikannya pada kaum mereka.

Dengan hal inilah Allah menyampaikan pesan dalam surat  _An-Naba’_ (Berita Besar) di awal juz 30. Juz terakhir dari al-Qur’an yang didalamnya terdapat 37 surat. Sebagian besar surat tersebut diturunkan Allah di masa kenabian pertama yang dikenal dengan periode Makkah. Hanya dua saja –yang disepakati oleh para ulama- merupakan surat  _madaniyah_ , yaitu surat al-Zalzalah dan surat An-Nashr yang turun pada periode Madinah.

Surat an-Naba’ diturunkan setelah surat al-Ma’arij([1]). Surat ini memuat sebuah berita besar yang dipertanyakan dan didustakan oleh orang-orang kafir([2]). Yaitu berita tentang hari kiamat yang selalu membuat manusia penasaran dan mencari tahu kapan datangnya([3]).

📚 *Hari Kiamat: Misteri Yang Takkan Pernah Terkuak Waktunya*

            Siapapun orangnya takkan pernah mengetahui kapan tiba masanya hari kiamat; bahkan Nabi Muhammad _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_ sekalipun. Karena itu bila ada yang mengaku-aku mengetahui kapan datangnya hari kiamat, sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah seorang pendusta, hanya pembual yang bermulut besar.

  📌          _”Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui”_. (QS. 78: 1-5)

            Imam al-Alusy menyebutkan bahwa kata ganti ketiga yang berbentuk plural di sini tanpa didahului penyebutan mereka sebelumnya bisa jadi dimaksudkan untuk menghinakan mereka yang mendustakan hari kiamat. Yaitu orang-orang  _kuffar quraisy_ . Sehingga mereka perlu dihadirkan dalam kesempatan ini. Atau bisa jadi justru merekalah yang meneror kaum muslimin dengan pertanyaan yang bernada penghinaan. Pada hakikatnya mereka bukanlah bertanya, karena sikap mereka sudah sangat jelas. Mendustakan adanya hari kiamat([4]). Apapun maksud mereka Allah sudah menegaskan bahwa penentuan hari kebangkitan sudah dilakukan Allah dan tak seorang makhluk-Nya pun yang mengetahui rahasia tersebut. Tidak juga orang terdekat-Nya, baginda Rasulullah _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_  atau malaikat Jibril

Dengan ini Allah sekaligus mengancam para pendusta tersebut bahwa kelak yang mereka olok-olokkan akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat mereka akan segera mengetahui dan menyesal saat itu. Dan penyesalan seperti ini tidaklah berguna, karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang sebelumnya terbuka luas ketika di dunia.

📚 *Tanda-tanda Kekuasaan Allah*

            Sejenak Allah memalingkan pembicaraan tentang hari kebangkitan. Para pendusta itu –khususnya- dan para manusia secara umum melalui Rasulullah dan orang-orang mukmin, diajak berpikir, melihat berbagai fenomena alam yang diciptakan Allah. Dengan pikiran jernih, dapat menghantarkan manusia untuk sampai pada keyakinan kebenaran hari kiamat.

📌            _“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat?”_ (QS. 78; 6-16)

Ayat-ayat di atas –sebagaimana tutur Imam Qatadah- merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sekaligus sebagai pembuka pembicaraan yang lebih serius tentang hari kebangkitan([5]).

Bumi yang terhampar luas ini pada hakikatnya tidaklah seberapa jika dibanding dengan luasnya alam semesta ciptaan Allah. Gunung-gunung yang dipasang sebagai pasaknya kelak akan dicabut bagaikan bulu-bulu ringan. Allah jualah yang menciptakan apapun serba berpasangan. Menjadikan sebuah perbedaan yang bahkan sangat mencolok, menjadi sebuah keserasian. Ia juga yang sanggup menentukan hari kehancuran bagi apa saja.

            Menariknya Allah menyebut tidur sebagai sebuah nikmat istirahat bagi manusia. Sekaligus sebagai tanda hari kebangkitan. Bahwa tidurnya manusia di malam hari bagaikan sebuah kematian. Dan ketika ia terbangun di pagi hari Allah telah membangkitkannya dari sebuah kematian. Maka kelak hari kebangkitan yang sesungguhnya setelah mati juga demikian. Hanya saja tiada yang tahu kapan terjadinya.

📌            _”Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”_. (QS. 6: 60)

Dalam surat al-An’am ini, Allah menggunakan kata _”yatawaffâkum”_ (mematikan kalian), yaitu menidurkan di malam hari. Ibnu al-Anbary mengatakan, “tidur disetarakan seperti kematian karena semua kegiatan manusia terputus” ([6]). Allah juga menjadikan malam seperti halnya pakaian yang menutupi. Karena pada malam hari manusia beristirahat, dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk privasi diri dan tak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan siang Allah jadikan sebagai waktu bagi manusia untuk beraktivitas. Keduanya berpasangan dan diganti Allah secara bergiliran untuk kepentingan manusia. Siapakah yang menggilir kedua waktu tersebut secara bergantian? Bagaimana seandainya sepanjang waktu menjadi malam yang gelap? Atau menjadi terang selamanya, menjadi siang tanpa malam. Itulah hikmah penciptaan pergantian waktu. Dzat yang mampu melakukannya tentu juga mampu membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Dialah sang pencipta tujuh lapis langit tanpa tiang yang berada di atas bumi secara kokoh. Pernahkah manusia membayangkan satu saja dari tujuh lapis langit tersebut terjatuh dan menimpa bumi, tempat manusia berada dan melangsungkan kehidupannya.

Allah juga yang menjadikan pelita sangat terang, yaitu matahari. Tanpa pernah padam sejenak pun. Semua manusia merasakannya dengan kadar yang berbeda-beda. Semua telah di tentukan Allah sehingga sesuai untuk manusia. Pernahkah kita bayangkan seandainya jarak antara matahari dan bumi tempat kita berada dijauhkan Allah sedikit saja. Mungkin dunia ini akan segera membeku kedinginan. Atau sebaliknya jaraknya didekatkan sedikit saja, maka semua yang ada di bumi akan terbakar kepanasan. Dzat yang sangat detil memperhitungkan hal tersebut tentu saja mudah dalam membangkitkan makhluk-Nya setelah kematian.

Allah juga yang menurunkan dari awan-awan yang membawa air menjadi hujan yang mengguyur bumi. Dari air yang satu itu kemudian diterima oleh tanah yang bermacam-macam jenisnya. Dari sana kemudian tumbuh berbagai jenis biji-bijian dan tumbuhan yang macamnya sangat beragam dan sangat banyak, sebagian diantaranya menjadi perkebunan dan taman-taman yang indah dan lebat. Dan setiap waktu selalu saja ditemukan jenis tanaman dan tumbuhan baru. Semuanya berasal dari satu jenis air. Yaitu air dari awan. Dzat yang bisa melakukannya tentu saja mampu membangkitkan manusia setelah kebinasaannya.

📚 *Hari yang Ditunggu-Tunggu*
🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Cinta (bag-2)

📆 Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

📋 CINTA ( bag-2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌿

Bag-1 http://www.iman-islam.com/2016/05/cinta-bag-1.html?m=1

🔆Seorang ulama besar yang lahir di Bashrah pada pertengahan tahun ke-2 abad ke-2 Hijriyah, Al-Imam Abu ‘Abdullah al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H), memiliki wawasan yang luas dan keilmuan mendalam di bidang fikih, hadits, sekaligus seorang ahli kalam yang meninggalkan karya tulis dengan jumlah yang sangat banyak membahas tentang zuhud, akhlak, pendidikan dan kelembutan hati (ar-raqa’iq), sehingga ia pun dijuliki dengan al-Muhasibi karena banyaknya ber-muhasabah(introspeksi diri), menulis bahwa sesungguhnya permulaan cinta adalah ta’at, dan ta’at itu terlahir dari cinta kepada Allah Jalla wa ‘Ala, karena Dialah yang memulai hal tersebut, dan karena Dia memperkenalkan diriNya kepada mereka, menunjukkan kepada mereka untuk menaati-Nya, dan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka dengan mencukupi mereka. Lalu Dia menjadikan kecintaan terhadap diri-Nya itu sebagai titipan dalam hati para pecinta-Nya, kemudian Dia memakaikan mereka cahaya yang terang dalam lafazh-lafazh mereka karena kuatnya cahaya kecintaan-Nya dalam hati mereka. Ketika Allah melakukan hal tersebut kepada mereka, Dia memperlihatkan mereka – sebagai bentuk kegembiraan pada mereka, kepada para malaikatnya, hingga seluruh penduduk langitpun mencintai mereka. [5]

Lebih lanjut, Abu ‘Abdullah al-Muhasibi berkata bahwa yang paling memberikan manfaat bagi seorang mukmin untuk mengobati diri dalam urusan agamanya adalah memutus rasa cintanya terhadap dunia dari hatinya. Apabila dia melakukan itu, maka ringan untuk meninggalkan dunia[6], dan mudah untuk menggapai akhirat, namun dia tidak dapat berada di atas keadaan tersebut kecuali dengan berbagai perlengkapannya. Yang menjadi pangkal perlengkapannya adalah pikiran, pendek angan-angan, mengulangi tobat dan kesucian, mengeluarkan rasa mulia dalam hati, senantiasa bersikap rendah hati, membangun hati dengan ketakwaan, mengekalkan kesedihan dan banyaknya kegelisahan yang datang padanya. Betapa banyak orang yang beramal dengan amal yang telah dipaparkannya sementara kecintaannya terhadap dunia dalam hatinya pun bertambah, dan banyak orang yang tidak memperbanyak amal-amal tersebut, namun cintanya kepada dunia semakin berkurang, karena dia mengambilnya melalui jalannya. Maka di dalam Adab an-Nufus (hlm. 136) beliau mengatakan, “Karena sesungguhnya hati yang disertai dengan berpikir akan menjadi hidup jika memikirkan akhirat, dan akan menjadi mati jika memikirkan dunia.”

🔆Seorang ulama fikih bermadzhab Hambali yang juga seorang penasihat, ahli tafsir, ahli hadits dan budayawan yang digelari Jamaluddin (Keindahan Agama) yang bernama Abul al-Faraj, Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri (lahir 511 H, wafat 597M), atau ia juga dikenal dengan nama Ibn al-Jauzi (panggilan yang dinisbatkan pada salah satu kakeknya yang dikenal dengan al-Jauzi karena menjualjauzah (jenis buah di daerahnya) pernah berkata, “Bersihkanlah hatimu dari berbagai kotoran karena cinta itu tidak akan diberikan kecuali dalam hati yang bersih. Apakah kamu tidak melihat seorang petani memilih tanah yang baik, menyiraminya dan mengairinya, kemudian membajaknya dan mengawasinya. Setiap dia menemukan batu di dalamnya, maka dia akan melemparkannya, dan setiap dia melihat yang dapat merusak tanahnya, maka dia menyingkirkannya, kemudia dia menaburkan benih ke dalamnya dan menjaganya dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Begitu pula dengan Allah Jalla wa ‘Ala.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Jika seorang hamba ingin dicintai oleh-Nya, maka hendaknya dia memangkas berbagai duri kesyirikan dari hatinya, lalu membersihkannya dari kotoran-kotoran riya dan keraguan, kemudian menyiraminya dengan air tobat daninabah, lalu membajaknya dengan seretan rasa takut dan ikhlas, lalu menyamakan batin dan zhahirnya dalam ketakwaan, kemudian meletakkan benih hidayah di dalamnya, maka berbuahlah benih-benih cinta.” [7]

🔆Berkata al-Muhaqqiq al-Hafizh Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d bin Harits az-Zar’i ad-Dimasqy yang terkenal dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (lahir 691 H, wafat 751 H, namanya dinisbatkan kepada sekolah yang didirikan oleh Yusuf bin Abdurrahman al-Jauzi karena ayahnya turut mendirikannya), “Setiap kesalahan yang terjadi di jagat raya ini, pangkalnya adalah cinta dunia. Janganlah engkau melupakan kesalahan kedua nenek moyang kita dahulu, karena sebabnya adalah cinta kekekalan di dunia. Janganlah engkau melupakan dosa iblis, karena sebabnya adalah cinta kepada kekuasaan, yang rasa cintanya lebih buruk daripada cinta dunia. Dengan sebab itu pula Fir’aun, Haman serta bala tentaranya, Abu Jahal serta kaumnya dan bangsa Yahudi menjadi kufur.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Cinta dunia dan kepemimpinan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka, sedangkan zuhud terhadap dunia dan kekuasaan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Mabuk sebab cinta dunia lebih berbahaya dibandingkan mabuk meminum khamr. Pemabuk cinta dunia tidak akan sadar hingga dia berada dalam kegelapan liang lahat. Anda saja penutupnya dibuka dalam memandang dunia, maka dia pasti mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah kemabukan, dan itu lebih berbahaya dibandingkan mabuk khamr.” [8]

✅ Maka marilah kita hadirkan cinta dalam seluruh kerja-kerja besar kita agar melahirkan harmoni. Cinta yang tidak bertujuan duniawi akan tetapi ukhrawi, karena hanya cinta seperti ini yang akan melahirkan energi besar untuk berkarya di dunia, karena hanya di dunia tempat bertanam cinta untuk merasakan semaiannya kelak.

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

[5] Tahdzib Hilyah al-Auliya (3/273)

[6] Maksudnya meninggalkan ketamakan terhadap harta dunia, dan menjadikannya hanya sebagai perantara dan bukanlah sebuah tujuan

[7] Lihat al-Yawaqit al-Jauziyah fi al-Mawa’izh an-Nabawiyah, tahqiq Sayyid bin Abdul Maqshud, Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyah (hlm. 139)

[8] Lihat Iddatush Shabirin, cetakan Darul Kitab al-Arabi (hlm. 266)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

📆 Jumat, 29 Rajab 1437H / 6 Mei 2016

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ust. Umar Hidayat M. Ag.

📝 Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

💎Kita adalah para pemburu surga sekaligus buronan neraka. Maka sungguh teramat menakjubkan jika masih bias bersantai, bermalas dalam keinsyafan atasnya. 💎
(Imam Asy-Syafii)

🌷Ketika kita menyambut untaian kata itu dengan bisikan halus dalam hati, “Ah.. itu kan Imam Asy Syafii. Ya iyalah, pantas. “
Lalu akal kita menyambut nya,
“Coba kalau Imam Asy Syafii hidup di zaman sekarang. Mungkin lain ceritanya. “

🌵Masya Allah. Subhanallah. Astaghfirullah.

Kesadaran yang sesat dan tersesatkan. Engkau letakan di bagian mana Allah dalam hatimu.. ?
Naudzubillah stumma naudzubillah.

🌷Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, maka akan tersebarlah keutamaannya yang banyak dan hati akan terus menebarkan kebaikannya.

🌵Maka hati-hatilah, jagalah batin kalian, karena jika batin telah rusak maka tidak akan bermanfaat lagi kebaikan amaliah yang tampak. (Shaidul Khathir I/206).

Berbincang tentang kesungguhan, kita harus memulai dari hati.

🌷Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.  (Qs. Al Baqarah ayat 183)

🌵Setiap puasa Ramadhan datang setiap kita berbanyak ibadah mencari ridlo Allah dan puncaknya berharap mendapatkan ketaqwaan, sebagai tujuan puasa kita.

🌷Mari sejenak berhitung untuk membandingkan puasa kita. Tentang keseriusan kita mendapatkan puncak pengalaman (peak experience) spiritual, yakni taqwa.

🌵Maka dalam persoalan ini, sungguh rasa mendalam begitu malu bila puasa kita disandingkan dengan makhluk Allah yang bernama hewan.

🌷Umur kita sudah 40 th (ups.ada yang lebih muda yah). Lalu dikurangi masa baligh 15 th, maka kita sudah bertemu dengan puasa Ramadhan 25 kali.
Atau 25 x 30 hari = 750 hari.

🌵Jika diukur secara kuantitas kita kalah dengan puasanya hewan.

🔹Ayam betina hanya dengan 21 hari telah sampai puncak kejayaannya menetaskan telur-telurnya. dan selama itupula seluruh potensinya berpuasa bahkan tidak kemana-mana, dikerahkan semata-mata menetaskan telur.

🔹Ular hanya butuh 21-40 hari dapat sampai pada titik pembaharuan ke awal kehidupannya.

🔹Ulat cukup 14-16 hari berpuasa melakukan metamorphosis menjadi kupu-kupu nan indah yang dikagumi manusia.

🌷Coba kita sudah berpuasa Ramadhan berapa kali?
Apa yang telah kita hasilkan dari puasa?
Sudahkah kita mencapai puncak pengalaman spiritual sebentuk taqwa?
Maka hendak mengatakan apa kita semua& dihadapan Allah kelak????

🌵Maka apakah puasa Ramadan kita selama ini sungguh karena (perintah) Allah, atau hanya karena ia sudah menjadi tradisi (yang begitu kuat terinternalisasi sejak kita kanak-kanak)???

🌷Seperti layaknya anak sekolah tidak mau bolos sekolah, karena sejak PAUD kita diajarkan untuk selalu masuk sekolah?

🌵Atau bahkan seperti otomatis ritmik kehidupan bangun tidur lalu mandi, karena sejak TK diajarkan lagu bangun tidur kuterus mandi? entahlah..

🌷Nah ini dia bila itu semua sungguh terjadi. Tak salahlah kita melihat disebagian kaum Muslimin yang seakan berpuasa tapi tidak lebih dari sekedar kebiasaan.

🌵Maka ada seseorang yang tetap berpuasa padahal ia asyik menggosip atau menggunjingkan orang, teman, atau ‘ngrasani’ dalam bathin mbatin.

🌷Mereka akan tetap bukber, tarawih, dan mengaji tiap malam, sahur dan berpuasa hingga magrib, walau mata dan telinganya melihat dan mendengar hal tak senonoh, pikiran kita mengotori akal sehat, bahkan mengutil rezeki orang lain hingga mencuri uang negara alias korupsi, lalu mendermakan sebagian kecilnya untuk infak, zakat, sumbangan masjid, panti asuhan, atau sekadar takjil gratis. Masya Allah.

🔹Apa makna puasa bagi kita dan mereka?
🔹Apa kesungguhan yang telah kita siapkan (targhib)?

🌷Mari Temukan Kesungguhan Diri Dalam Ramadhan-NYA.

Tentang kesungguhan (jiddiyah). Syekh Abdullah Al Azzam pernah memberikan contoh tentang istilah semampunya (mastato’tum) yang mencerminkan sepenuh-penuh kesungguh an.
Semampunya yang merupakan daya upaya yang kita kerjakan sampai Allah sendiri yang menghentikannya.

🌵Suatu ketika sang syekh ditanya oleh seorang muridnya, “Ya syekh apa yang dimaksud dengan semampumu (mastato’tum). Syekh pun membawa muridnya kelapangan dan meminta mereka mengelilingi lapangan semampu mereka.
Startnya sama tapi finish dan jumlah putaran masing-masing berbeda.

🌷Ada yang 3 kali putaran sudah kecapean dan menyerah ada yang lebih dari itu. Setelah muridnya sudah menepi untuk istirahat. Syekh pun gantian berlari.

🌵Para murid pun kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua lari mengelilingi lapangan, mereka berupaya menahan apa yang akan dilakukan syekh tapi tidak berhasil. Sang murid sudah melihat muka syeikhnya pucat pasi tanda kelelahan tapi sang murid hanya bisa berteriak dan memohon, Yaa syekh cukup!!!!,”  Saya tidak tega melihat yang syekh lakukan. Saya takut terjadi apa-apa sama syekh. “Hentikan syekh……Hentikan syekh.

🌷Tapi syekh Abdullah al-azzam terus berlari dan pada akhirnya syekh pun jatuh pingsan. Para muridnya tambah panik dan berusaha membuat syekh Abdullah al-azzam terbangun.

Beliau pun akhirnya siuman dan sadar. Beliau langsung mengatakan..
💎Inilah yang dinamakan semampu kita (mastato’ tum).
Kita berusaha maksimal sampai Allah sendiri yang akan menghentikan perjuangan kita.💎

Subhanallah.Allahu akbar

🌷Puasa Ramadhan itu taklif (beban). Sejarah puasa ramadhan pertama kali dilakukan Rasulullah pada 2 hijriyah.

🌵Perintah puasa ini diturunkan, QS. 2:183, setelah 15 tahun lamanya Rasulullah mendakwahkan Islam ini. 13 di Makah 2 th di Madinah. 15 tahun Rasul menyiapkan iman yang luar biasa. Karena itu QS. 2:183 dimulai dengan kalimat , tidak langsung  Ini mengandung pelajaran yang sangat mahal bagi kita, bahwa 15 tahun Rasulullah menyiapkan iman yang mendewasa bagi para sahabatnya, sehingga siap menerima syariat. Taklif. Beban.

Sehingga saat dipanggil langsung nyaut (istijabah Al Fauriyah/ istijabah littanfidz; merespon dengan segera). Dan hasilnya elok menakjubkan.

🌷Bagaimana dengan kita???

🔹Bersambung hari Ahad insya Allah🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

BERSEGERA DALAM DAKWAH

📆 Jumat, 29 Rajab 1437H / 6 Mei 2016

📚 DAKWAH ISLAM

📝 Pemateri: Ust. Imantoko Riyanto

📝 BERSEGERA DALAM DAKWAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🍃Setiap umat yang ingin hancur dan roboh pilar-pilarnya, hilang pengaruhnya, hilang eksistensinya pasti berawal dari diamnya para da’inya, lirih suaranya, rancu risalahnya, kehilangan tujuan utamanya, hancur peninggalannya.

🍁Dan umat manapun yang ingin naik dan tinggi maka harus memahami kebenaran da’wahnya, kesucian tujuan utamanya, keagungan risalahnya, para da’inya memiliki titik tolak di muka bumi untuk membangun pilar dan da’wahnya, memiliki suara bergaung, dan syi’ar (slogan) yang bergema, para da’i yang vokal, mulut yang lancar bicara, pena yang lancar menulis, informasi yang merata, propaganda yang menguasai telinga, pemikiran yang menguasi akal fikiran, pengetahuan yang mengendalikan akal dan pemahaman.

🍃Setiap umat yang ingin kekal, abadi dan berkelanjutan maka ia harus mampu memperbaharui diri, menghidupkan nilai idealismenya, membersihkan langkah-langkahnya, memperbaiki bengkokan-bengkokannya.

🍁Harus cerdas mendeteksi penyakit-penynakitnya, mencari obat kesembuhan nya. Menjaga dan melindungi fisiknya dari hal-hal yang membahayakan dan membinasakan.

🍃Hal ini semua tidak akan ada kecuali jika umat ini memiliki sistem yang lurus dan kuat, para da’i yang ikhlas, terlatih, faham, mengimani risalah dan ghayah (tujuan utamanya).

🍁Umat Islam adalah umat risalah, umat da’wah. Datang dengan tujuan, ada karena ada sasaran dalam hidup ini.

🍃Umat ini pernah dipimpin oleh Rasulullah yang diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta, membawa cahaya penerang bagi mereka yang tersesat dalam kebingungan.

🍁Da’wah dalam umat tidak hanya menjadi amalan sunnah tetapi menjadi landasan utama risalahnya, salah satu pilar dalam membina masyarakat muslim, membersihkannya, dan meluruskannya pertama kali, sebelum menjadi penuntun dan pembimbing, merahmati dan membahagiakan alam semesta.

💎”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” 💎
QS. Ali Imran: 110

🍃Tidak diragukan lagi bahwa da’wah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sisi utama dalam agama, tugas penting utusan Allah yang menjadi penutup para nabi dan rasul, dan jika tidak karena da’wah maka hilanglah tujuan risalah, dan hangus tujuan pengangkatannya, kehancuran menyebar luas, kesesatan merata di mana-mana, kebaikan dan kebenaran terhalang.

🍁Sesungguhnya seorang da’i ketika melaksanakan risalahnya, komitmen dengannya, berjanji kepada Allah untuk mengamalkannya, akan diminta pertanggung jawaban dari banyak hal, dari janjinya, ilmunya tentang apa yang dilakukan orang-orang yang tergelincir menjadi pengikut kebatilan.

🍃Dari itulah kewajiban da’wah atas para faqihin (yang faham) dan mengetahui kesalahan umatnya menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar bagi kebangkitan umat yang memiliki risalah.

🍁Maka ketika para da’i mengkhianati amanahnya, para faqihin tidak berperan dalam umatnya, maka ini pertanda buruk bagi kehidupan dan masyarakat.

🍃Umat Islam adalah umat risalah, umat da’wah, maka tidak ada manfaatnya tanpa menunaikan risalahnya, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan tanpa da’wah. Dari itulah umat ini sejak dahulu sampai hari ini menjadi yang terdepan dalam mengajarkan kebaikan dan nilai kemuliaan. Dan yang sudah terbiasa bahwa keimanan akan menghindar dari kemunkaran, melawan dosa.

🍁Umat ini menghabiskan hidupnya untuk risalah itu, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membebaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju ke cahaya Islam.

🍃Melakukan perbuatan munkar adalah kehinaan dan lemah kepribadian, jauh dari istiqamah, merendahkan diri sendiri, membuat manusia bertentangan dengan fitrahnya sendiri, membunuh kehormatannya.

🍁Perbuatan maksiat, dosa dan pelanggaran kadang terjadi di suatu masyarakat, kadang menjadi kebiasaan orang-orang jahat, perusak dan menyimpang.
Bumi ini tidak akan pernah sepi dari keburukan, dan masyarakat tidak akan pernah sepi dari keanehan.

🍃Akan tetapi karakter
masyarakat shalih tidak memberikan ruang bagi keburukan dan kemunkaran untuk menjadi kebiasaan, gaya hidup dan perbuatan yang mudah dikerjakan siapa saja.

🍁Masyarakat shalih akan menjadi benteng kuat di hadapan kerusakan, penyimpangan, kejahatan dengan memberikan hukuman, peringatan, dan penolakan. Ketika itulah keburukan akan menyingkir, pendorongnya akan merugi.

🍃Masyarakat akan semakin solid sehingga tidak bisa ditembus celahnya.

🍁Orang-orang atau umat yang sehari-hari hidup dengan kemunkaran, merasa nyaman dengannya, meridhai manhajnya, sudah tidak ada masalah dengannya, ia telah menutupi hatinya, meracuni fikirannya, kehinaan telah menelannya sepotong-sepotong, sehingga menjadi habitatnya, dan tidak merasa ada apa-apa dengan keberadaan dan hegomoninya, maka dengan itu ia tidak akan mampu menyuruh yang baik dan mencegah yang buruk, sebab seleranya telah berubah, hilang petunjuk, cahaya, pertolongan dan ridha Allah.

❣Akhi fillah…

🍃Kita telah melihat kerusakan yang dahsyat akhir-akhir ini. Keburukan demi keburukan silih berganti didendangkan, dipertontonkan dan diperjual belikan bahkan sebagian gratis didistribusikan.

🍁Bangsa ini, tanah yang kita berpijak diatasnya, telah begitu sesak dengan sampah peradaban. Airnya keruh dan membahayakan karena asam kejahatan menumpuk, mengotorinya.
Udaranya menyesakkan dengan aneka kesesatan yang menyebar, mematikan.

❣Wahai para da’i, yang telah menginfakkan diri, hidupkan malam dan bersegeralah menyambut seruan.

🍃Tidak ada pilihan lain kecuali bersegera. Jadilah dari bagian yang sedikit, yakni mereka yang senantiasa menunggu janji Rabb semesta alam.

🍁Terlalu kecil jika kita berharap pada yang fana dan meninggalkan bahagia yang tak berbatas.

💎Atas nama cinta, mari kita datangi manusia. Di jalan dakwah yang bertaburan berkah kita harus bertahan.
Dan tiadalah akhir dari semuanya kecuali hari raya yang setiap hari, di kampung akherat yang abadi.

Akhukum fillah…

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Menghadiri Pernikahan Teman Yang Hamil Diluar Nikah ?

👳USTADZ MENJAWAB 👳
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

📆Kamis, 05 Mei 2016 M
                  28 Rajab 1437H
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹🌺🌸🍁

Assalamualaikum ustadz/ah…
saya punya teman,hamil di luar nikah, setelah 4 bulan baru menikah, nah bagaimana hukumnya kita menghadiri pernikahan tersebut? Bukan kah sama saja kita memberi restu ia hamil di luar nikah karena menghadiri pernikahannya? Sedangkan kita pun baru tau beberapa hari sebelum nikah dan kami datang ke pernikahannya, mohon pencerahannya ust..

💡Jawaban💡
=============

Bismillah wal hamdulillah ..

Tentang sah atau tidak pernikahan wanita yang sudah hamil duluan, para ulama berbeda pendapat. Antara yang membolehkan seperti Imam Asy Syafi’i dan Imam Abu Hanifah, dan ada yang melarang dan tidak sah, seperti Imam Malik dan Imam Ahmad.  Selengkapnya lihat tulisan saya di:
http://www.dakwatuna.com/2014/11/26/60687/hukum-menikahi-wanita-hamil/#axzz47eoc4Gqc

Sehingga hal ini berdampak pada hukum menghadiri pernikahannya. Bagi yang menyatakan boleh, tentu boleh pula menghadiri pernikahannya. Sebaliknya, pihak yang melarang tentu melarang pula menghadirinya, sebab itu sama juga menghadiri pernikahan yang tidak sah dan  meridhai perzinahan.

Pilihan bijak nampaknya adalah sikap yang paling minim melahirkan fitnah. Silahkan dikalkulasi sendiri, ditimbang-timbang, sebab masing-masing kasus, keuarga, dan masyarakat tidak sama.

Jika memang TIDAK DATANG melahirkan permusuhan, maka lebih baik datang. Jika TIDAK DATANG tidak berdampak apa-apa, baik-baik saja, maka silahkan tidak datang.
Wallahu A’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….