CHARGER YANG TERTUKAR (seri FATHERMAN bag. 4

📆 Sabtu, 21 Sya’ban 1437H / 28 Mei 2016

📚 *KELUARGA & PARENTING*

📝 Pemateri: *Ustadz Bendri Jaisyurrahman* @ajobendri

📋  *CHARGER YANG TERTUKAR (seri FATHERMAN bag. 4)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Apa jadinya dunia tanpa charger? Tentu kita akan mengalami kegalauan massal di saat HP lowbat. Kaum _ababil_ alias ABG labil mendadak stress karena gak bisa upload foto narsis mereka di akun sosmed. Golongan _buncis_ (bunda cantik pengen eksis) bisa histeris akibat terhalang melihat tutorial hijab gaul mode terkini di kanal yutup. Para politisi pun bisa gagal kampanye pencitraan karena tak bisa lagi menulis pesan-pesan yang bertemakan “Demi Bangsa dan Negara” kepada follower setianya. Termasuk pilunya para pedagang online yang kerap menuduh pelanggannya pengikut ISIS, karena sering banget memanggil dengan sapaan “Hey, SIS!”, kelak kan gulung tikar juga. Orderan batal gegara terputus koneksi dengan internet di saat lowbat. Satu-satunya yang bergembira ria ya tukang ojek pangkalan atau taksi non online. Pelanggan bak CLBK pada balik pakai jasa mereka karena HP dan gadget sudah tak ada guna.

Ya, ini era cyber. Dimana HP dan gadget canggih bersliweran dalam beragam merk sudah jadi kebutuhan pokok. Kalau nasi mengeyangkan perut, maka HP mengenyangkan batin khususnya bagi anak muda di zaman ini. Dan demi menjaga vitalitas nyawa benda ini, maka charger amat dibutuhkan sebagai nyawa cadangan. Tak ada charger maka siap-siap mengadakan ‘tahlilan’ atas wafatnya HP tersayang. Charger memberi energi agar HP kesayangan kita bisa ON terus setiap hari.

Namun bahasan kita kali ini sebenarnya bukan tentang charger dan perangkat elektronik lainnya. Sebelum saya disangka sebagai engkoh engkoh di pasar roxy, perlu saya tegaskan bahwa uraian kali ini tentang *peran ayah sang Fatherman sebagai charger bagi anak.* Jika jiwa anak ibarat HP atau gadget, maka AYAH semestinya menjadi charger yang memberikan energi kepada anak dalam menjalani hari yang semakin sulit.

Sayangnya, banyak anak yang di saat lemah batin dan jiwanya, justru pihak lain yang menjadi charger alias motivator bagi mereka. Tengoklah anak-anak muda masa kini yang lebih termotivasi dengan pesan Om Mario Teguh dibandingkan ayahnya sendiri. Di saat mereka malas belajar yang terngiang justru pesan Om Mario “Adikku-adikku, silahkan kau nikmati bermalas-malasan hari ini. Kelak kau kan tersengal-sengal sesak di saat tua menyesali kemalasanmu di hari ini”. Ajaib. Banyak anak muda yang langsung bangkit dari kemalasannya dan langsung buka buku tuk belajar meski kemudian wajah tersungkur mencium sampul buku saking ngantuknya. Yaah setidaknya kalimat Om Mario tersebut bisa menjadi setrum darurat yang memberi energi untuk sekedar miscall kepada jiwa yang terkulai lemah (apa sih?).

Padahal apa yang disampaikan oleh Om Mario sudah sering kali diwasiatkan sang ayah dengan kalimat yang meski beda tapi maksudnya sama : “Kalau kamu malas sekolah, gak ayah kasih uang jajan. Ingat itu!”. Ternyata si anak gak merasakan efek apa-apa. Tetap asyik memeluk guling kesayangannya sambil bermimpi ketemu artis idolanya. Mager di pagi hari.
Inilah kondisi yang disebut “charger yang tertukar”. Dimana anak lebih termotivasi dengan petuah orang lain dibandingkan ayah sendiri. Mereka kadung menganggap para motivator semisal Mario Teguh sebagai sosok yang sempurna. Nyaris tanpa cela. Padahal sehebat-hebatnya Om Mario teguh, ia tak mampu memotivasi rambutnya sendiri untuk tumbuh. Ups… maaf Om Mario. Plis jangan marah ya walaupun bener. Sambil membayangkan ucapan “Anda Superrr sekali!” disertai jeweran. Tapi Om Mario dan motivator lain yang semisal tidaklah salah. Justru mereka sejatinya mengajarkan bagaimana agar ayah bisa jadi motivator handal khususnya bagi sang anak di saat mereka membutuhkan. *Menjadi charger yang orisinil, bukan KW, bagi jiwa anak di saat lowbat.*

Karena itu, sang Fatherman, ganti segera kostummu. Mulai kenakan topi motivator sebagai kostum yang melekat dalam lakon Fatherman kali ini. Topi motivator ini sebagai pengingat bahwa ayah adalah sumber setrum utama bagi anak. Dimana jika anak malas tak bergairah bisa jadi karena ayah yang belum dianggap jadi motivator bagi sang buah hati. Bagaimana caranya? Apakah ayah harus belajar menyusun kalimat yang tidak biasa dengan irama yang audiogenic? Sambil suara direndahkan seperti suara operator telpon atau dubber iklan? Tentu tidak. Yang ayah butuhkan selaku Fatherman agar bisa jadi motivator utama bagi anak hanya dua : *kredibilitas* dan *momentum*.

Kredibilitas adalah dimana sosok ayah memang layak jadi contoh dan teladan. Diakui dan dibanggakan oleh sang anak. Jangan sampai ayah nyuruh anak rajin belajar padahal ayah sendiri jarang baca buku. Sekalinya baca buku, paling buku tabungan disertai ratapan, “Kok saldonya cuma sepuluh ribu ya?”. Anak menganggap nasehat ayah yang tidak kredibel cuma bualan. Gak nyetrum, karena salah charger. Atau mungkin sesuai chargernya tapi KW. Malah merusak. Bandingkan jika ayah adalah sosok yang membanggakan dan istimewa. Segudang prestasi diraih. Memiliki pribadi yang antusias dan penuh semangat. Cukup ayah mendehem saja disertai bahasa tubuh yang ok, anak sudah memiliki gairah tanpa perlu diberi ceramah. Ingatlah wahai ayah, sang _Fatherman harus jadi contoh._ Inilah cara mudah meraih kredibilitas dan kewibawaan meski ayah tak mampu menyusun kalimat seindah Mario teguh.

Modal yang kedua adalah momentum. Yakni _kemampuan ayah melihat golden moment untuk memberi setruman energi bagi anak._ Dimana anak amat membutuhkan kehadiran ayah di situasi ini. Contohlah Rasul. Suatu hari beliau melewati Bani Aslam yang sedang melakukan lomba memanah. Pada saat Rasul melihat kejadian tersebut, Rasul mampir sejenak seraya memberi motivasi anak-anak yang sedang lomba dengan kalimat “Teruslah memanah keturunan Ismail. Sesungguhnya kakek moyangmu seorang pemanah!”. Dan sungguh luar biasa. Motivasi singkat Rasul saat itu mampu membuat anak-anak merasakan energi lomba berkali-kali lipat. Hingga dikenal dalam sejarah, Bani Aslam menjadi pemasok pemanah unggul di zamannya.

Perhatikan bagaimana Rasul memanfaatkan momentum tuk menjelma menjadi motivator yang mumpuni bagi anak-anak. Yaitu di *saat anak unjuk prestasi atau sedang kompetisi.* Inilah saat dimana kehadiran ayah sebagai Fatherman amat dinantikan. Di saat mereka mentas atau beraksi, bukan tepuk tangan guru atau teman yang diharapkan. Kehadiran ayah yang dicintai lah yang mereka rindukan. Jika ayah tak ada, prestasi yang diraih tak berarti apa-apa. Standing applause dari para khalayak tak mampu menggembirakan hatinya. Sebab ayah tak nampak di hadapannya. Inilah penyebab lambat laun mereka kehilangan gairah.

Selain itu, lihat kalimat yang meluncur dari lisan Rasul dalam memberi motivasi. Singkat dan menohok. Tak perlu pakai kalimat yang meliuk-liuk. Cukup dengan kalimat dorongan seraya menyebutkan kebesaran atau kemuliaan nasab. Entah kakek atau ayah ataupun buyut. Yang sesuai dengan bidangnya anak. Ingat! Yang disebutkan tentu prestasi baiknya. Bukan yang buruk. Jangan sampai misalnya, kakeknya yang dikenal penjahat malah dibanggain, “Semangat nak larinya! Kakekmu dulu copet ternama di kampung kita. Larinya kuat!” Ini menjerumuskan anak. Bahayyaa!

Dengan kata lain, agar anak menjadikan ayah sebagai motivator utamanya, selalu jaga kredibilitas nasab di hadapan anak dengan teladan kebaikan yang patut ditiru. Dan bukan hanya ayah, namun juga kakek hingga buyut dan seterusnya dengan cerita-cerita penuh makna dan hikmah. Kemuliaan nasab bisa jadi pemicu dan pemberi energi yang sesuai bagi jiwa anak. Dan berikutnya, tak lupa untuk selalu hadir di moment istimewa anak saat ia mentas dan unjuk prestasi. Ini adalah undangan yang tak bisa ditolak. Sama seperti ketika kita diundang hadir untuk dimintai keterangan di gedung KPK. Wajib hadir sesibuk apapun, itu intinya.

_Kemampuan ayah selaku Fatherman sebagai motivator utama bagi anak ibarat HP dengan charger yang tak bisa dipisahkan. Satu paket saat awal membelinya. Anak yang jiwanya terkulai lemah sejatinya sedang lowbat dan butuh dicharge. Segera ambil kesempatan itu, agar tak ada charger lain yang menelikung. Dimana merk lain memang banyak yang bagus dan layak dicoba, namun yang orisinil tetaplah ayahnya, sang Fatherman. Lagipula, untuk anak kok coba-coba?_

(bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 7)

 Jumat, 20 Sya’ban 1437 H / 27 Mei 2016 M

 Fiqih dan Hadits

 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

 *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 7)*


 *Amalan Sunnah Ketika Ramadhan*

❣ *Bersedekah*

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai teladan kita telah mencontohkan akhlak yang luar biasa yaitu kedermawanan. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika bulan Ramadhan.
Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadhan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan laksana angin yang berhembus. (HR. Bukhari No. 3220)

❣ *Memberikan makanan buat orang yang berbuka puasa*

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.

(HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasai dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syuabul Iman No. 3952. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami No. 6415. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat taliq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan memberikan makanan untuk berbuka. Sebagian menilai itu adalah makanan yang mengenyangkan selayaknya makanan yang wajar. Sebagian lain mengatakan bahwa hal itu sudah cukup walau memberikan satu butir kurma dan seteguk air. Pendapat yang lebih kuat adalah Wallahu Alam- pendapat yang kedua, bahwa apa yang tertulis dalam hadits ini sudah mencukupi walau sekedar memberikan seteguk air minum dan sebutir kurma, sebab hal itu sudah cukup bagi seseorang dikatakan telah ifthar (berbuka puasa).

❣ *Memperbanyak doa*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

 ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم

Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: 1. Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, 2. Pemimpin yang adil, 3. Doa orang teraniaya.

(HR. At Tirmidzi No. 2526, 3598, katanya: hasan. Ibnu Hibban No. 7387, Imam Ibnul Mulqin mengatakan: hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/152. Dishahihkan oleh Imam Al Baihaqi. Lihat Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah, 1/85. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2526)

Berdoa diwaktu berbuka puasa juga diajarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Berikut ini adalah doanya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhamau wab talatil uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.

(HR. Abu Daud No. 2357, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7922, Ad Daruquthni, 2/185, katanya: isnadnya hasan. An Nasai dalam As sunan Al Kubra No. 3329, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1536, katanya: Shahih sesuai syarat Bukhari- Muslim. Al Bazzar No. 4395. Dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami No. 4678)

Sedangkan doa berbuka puasa: Allahumma laka shumtu … dst, dengan berbagai macam versinya telah didhaifkan para ulama, baik yang dari jalur Muadz bin Zuhrah secara mursal, juga jalur Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas.

 (Lihat Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/444-445. Imam An Nawawi, Al Adzkar, 1/62. Imam Abu Daud, Al Maraasiil, 1/124, Imam Al Haitsami, Majma Az Zawaid, 3/371. Syaikh Al Albani juga mendhaifkan dalam berbagai kitabnya)

❣ *Menyegerakan berbuka puasa*

Dari Amru bin Maimun Radhiallahu Anhu, katanya:

كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم أعجل الناس إفطارا وأبطأهم سحورا

Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)

Imam An Nawawi mengatakan: sanadnya shahih. (Lihat Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al Aini, Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)

❣ *Itikaf di – asyrul awakhir*

Dalilnya berdasarkan Al Quran, As Sunnah, dan Ijma, yakni sebagai berikut:

✅ *Al Quran*

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Janganlah kalian mencampuri mereka (Istri), sedang kalian sedang I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

✅ *As Sunnah*

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228, Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

✅ *Ijma’*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijma’ tentang syariat I’tikaf:

وقد أجمع العلماء على أنه مشروع، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما.

Ulama telah ijma’ bahwa I’tikaf adalah disyariatkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

✅ *Hukumnya*

 Hukumnya adalah sunnah alias tidak wajib, kecuali Itikaf karena nazar. Kesunahan ini juga berlaku bagi kaum wanita, dengan syarat aman dari fitnah, dan izin dari walinya, dan masjidnya kondusif.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وقد وقع الإجماع على أنه ليس بواجب ، وعلى أنه لا يكون إلا في مسجد

Telah terjadi ijma’ bahwa I’tikaf bukan kewajiban, dan bahwa dia tidak bisa dilaksanakan kecuali di masjid. (Fathul Qadir, 1/245)

Namun jika ada seorang yang bernazar untuk beri’tikaf, maka wajib baginya beri’tikaf.

 Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

الاعتكاف ينقسم إلى مسنون وإلى واجب، فالمسنون ما تطوع به المسلم تقربا إلى الله، وطلبا لثوابه، واقتداء بالرسول صلوات الله وسلامه عليه، ويتأكد ذلك في العشر الاواخر من رمضان لما تقدم، والاعتكاف الواجب ما أوجبه المرء على نفسه، إما بالنذر المطلق، مثل أن يقول: لله علي أن أعتكف كذا، أو بالنذر المعلق كقوله: إن شفا الله مريضي لاعتكفن كذا.
وفي صحيح البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” من نذر أن يطيع الله فليطعه “

 I’tikaf terbagi menjadi dua bagian; sunah dan wajib. Itikaf sunah adalah Itikaf yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim dalam rangka taqarrub ilallahi (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka mencari pahalaNya dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hal itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana penjelasan sebelumnya.

 Itikaf wajib adalah apa-apa yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri, baik karena nazar secara mutlak, seperti perkataan: wajib atasku untuk beritikaf sekian karena Allah. Ataukarena nazar yang mualaq (terkait dengan sesuatu), seperti perkataan: jika Allah menyembuhkan penyakitku saya akan Itikaf sekian ..

 Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barang siapa yang bernazar untuk mentaati Allah maka taatilah (tunaikanlah). (Fiqhus Sunnah, 1/475)

 Wallahu Alam

Bersambung 



Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Badal Haji, Wajibkah ?

🌏Ustadzah Menjawab
📲Ustadzah Nurdiana
🌿🌺🍁🌻🍄🌸🌼🌷🌹
Assalamualaikum ustadz/ah…
Afwan, apa hukumnya badal haji bagi orang yang sudah meninggal?  [ # A 40] —
Jawaban:
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Badal haji untuk orang yang meninggal 1, wajib bila Almarhum sebelum meninggal bernadzar mau haji dan ahli waris mampu, sunnah bila Almarhum berniat haji dan ahli waris mampu, mubah bila ahli waris mampu tapi Almarhum tidak pernah mengungkapkan keinginan pergi haji nya.
Wallahu A’lam.
🌿🌺🍁🌻🍄🌸🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
🕋Sebarkan! Raih Pahala..

Ritual Sya'ban ?

🌏Ustadz Menjawab
👳Ustadz Abdullah Haidir
🌿🌺🍁🌻🍄🌼🌷🌹
Assalamu’alaikum..Ustadz,  di tempat saya setiap bulan sya’ban masyarakat memiliki kebiasaan bahwa beberapa rumah akan mengadakan acara makan2 seperti pesta pernikahan, hanya saja tidak semeriah itu. Si pemilik acara akan mengundang kerabat dan keluarga ke rumahnya. Tujuannya untuk bersedekah. Dan hal itu dilakukan setiap bulan sya’ban bagi yang berkemampuan. Bagaimana hukumnya bagi yg mengadakan acara dan bagi yg diundang itu ustadz? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. 🌻🅰3⃣9⃣
—————
Jawaban:
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Jika hal itu dia lakukan semata-mata  karena kebiasaannya saja, tanpa ada keyakinan adanya fadhilah atau keutamaan tertentu, kecuali keutamaan berbuat baik secara umum. InsyaAllah tidak mengapa.
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍁🌻🍄🌸🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimanakah Kedudukan Hadits Perintah Sholat ?

Ustadz Menjawab
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum wrwb  Ustadz saya mau tanya apakah kedudukan  hadist ttg diperintahkannya Rosul Muhammad saw solat dr 50x ke 5 x ? Shahih Atau dhoif ? Bagaimana memahaminya?   = A 39
Jawaban
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh, Bismillah wal Hamdulillah …
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:
فُرِضَتْ عَلَى النّبِيّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ الصَلوَاتُ خَمْسِينَ، ثُمّ نُقِصَتْ حَتّى جُعِلَتْ خَمْساً، ثُمّ نُودِيَ: يا محمدُ: إِنّهُ لاَ يُبَدّلُ الْقَوْلُ لَدَيّ وَإِنّ لَكِ بِهَذِهِ الْخَمْسِ خَمْسينَ  .
“Telah difardhukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat pada malam beliau diisra`kan 50 shalat. Kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan, “Wahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat.” (HR. At Tirmidzi No. 213, katanya: hasan shahih gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 213)
Dalam kisah Isra Mi’raj yang panjang, Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam. Ketika turun kewajiban shalat  50 kali dalam sehari, Nabi Musa ‘Alaihissalam mengusulkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk meminta kepada Allah ﷻ agar dikurangi menjadi 5 waktu saja, sebab umatnya tidak akan sanggup. Kisah ini *SHAHIH* dalam *_Shahih Bukhari_* dan *_Shahih Muslim_.*
Tidak ada masalah apa pun pada hadits itu dan semisalnya. Tidak ada yang mendhaifkannya kecuali orang –orang jahil terhadap ilmu hadits. Tidak yang menganggap bahwa Allah ﷻ “bingung” dengan perintahnya sendiri kecuali orang-orang kufur. Tidak ada yang menganggap Nabi Musa ‘Alaihissalam itu lebih tahu dari Allah ﷻ tentang kemampuan manusia, kecuali anggapan orang-orang yang belum paham.
Hal yang biasa, pada sebuah perintah lalu di _mansukh_ (direvisi) oleh Allah ﷻ. Dahulu Jihad dilarang kemudian, diperintahkan  oleh Allah ﷻ. Dahulu dilarang berperang di bulan-bulan haram *(Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab)*, lalu Allah ﷻ menghapus larangan itu, dan sebagainya.
Semua ini terjadi atas kehendak dan keluasan hikmah dan ilmuNya yang sempurna atas hamba-hambaNya. Begitu perubahan beban shalat dari 50 menjadi 5. Tidak ada yang perlu dirisaukan dengan itu.
_Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq_

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
Sebarkan! Raih Bahagia….

Sholat Tahajud Tapi Belum Tidur

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Nurdiana


Assalamu’alaikum. Bolehkah kalau kita shalat tahajud tapi belum tidur sebelumnya? Terima kasih.  #A 39
Jawaban :
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Sholat tahajud adalah sholat yang di lakukan setelah kita tidur.
Kalau kita belum tidur apakah boleh sholat? Boleh namanya qiyamul lail.

Allah berfirman :
“Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagaimana ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji.”
( Qs. Al-Isra’ : 79 )

Perintah ini, meskipun secara khusus ditujukan kepada Rasulullah Saw juga mengacu pada semua Muslim, karena Rasulullah adalah ,contoh sempurna dan panduan bagi mereka dalam segala hal.
Selain itu, melakukan salat Tahajjud teratur memenuhi syarat sebagai salah satu dari orang-orang benar dan seseorang yang mendapatkan karunia dan kemurahan Allah. Dalam memuji mereka yang melakukan sholat malam.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk tuhan mereka.” ( Qs. Al-Furqan : 64 )

pada ayat lain Allah berfirman : “Bangun lah pada malam hari (untuk sembahyang) kecuali sedikit (daripadanya).” (Qs. Al-Muzzammil 73 : 20 )
Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh:

Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimanakah Qurban Untuk yang Melaksanakan Ibadah Haji ?

 Ustadzah Menjawab 
✏ Ustad Slamet Setiawan SHI


☘ *Pertanyaan*
Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Mau tanya kalo qurban untuk yg melaksanakan ibadah haji, sebaiknya di tanah suci atau boleh di Indonesia saja? Jazakalloh..

☘ *Jawaban*
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Mayoritas atau jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunah muakadah atau sunah yang dikuatkan bagi orang yang hidup berkecukupan. Tapi, Abu Hanifah berpendapat, berkurban itu hukumnya wajib bagi mereka yang berkecukupan, kecuali orang yang sedang berhaji dan pada waktu itu berada di Mina.

Adapun mengenai berkurban bagi jamaah haji, menurut Imam Malik, tidak disunahkan bagi jamaah haji dan segala yang disembelih jamaah haji pada waktu dan tempat itu disebut hadyun bukan kurban. Menurut jumhur ulama, berkurban itu sunah bagi semua umat Islam yang berkecukupan, baik mereka yang sedang berhaji atau yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji.
Ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad berkurban di Mina untuk para istrinya dengan menyembelih sapi. Dari hadis ini dapat disimpulkan, berkurban juga disunahkan bagi jamaah haji yang pada saat dilakukan ibadah kurban itu sedang di Mina.
Dari hadis itu, kita juga dapat mengambil kesimpulan, boleh melakukan kurban untuk orang lain yang masih hidup walaupun tempatnya berbeda dengan tempat orang yang melakukan kurban. Kurban berbeda dengan hadyun atau dam. Hadyun atau dam harus disembelih di Tanah Suci karena merupakan bagian dari rangkaian ritual ibadah haji
Berdasarkan penjelasan tersebut, boleh hukumnya bagi jamaah haji melakukan ibadah kurban di Tanah Suci atau menitipkan kepada keluarganya di kampung. Namun, mengingat surplusnya daging hewan di Tanah Suci pada masa haji dan karena lebih besarnya kebutuhan fakir dan miskin di Indonesia terhadap daging,  sebaiknya disembelih di Indonesia saja karena manfaatnya lebih besar.  Dan, pada akhirnya juga, sebagian dari daging yang berlimpah pada musim haji oleh Pemerintah Arab Saudi dikirimkan ke negara-negara yang membutuhkannya. 
Wallahu’alam bish shawab


Dipersembahkan oleh : 

 Sebarkan dan raih bahagia..

Hukum Meninggalkan Sholat Dengan Sengaja

💻Ustadzah Menjawab
✍Ustadzah Ida Faridah
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Assalamualaikum ustadz/ustazah… Bagaimana hukumnya meninggalkan solat dengan sengaja….Dan bagaimana cara mengajak keluarga yang suka meninggalkan solat…Sudah diingatkan tapi tetap juga enggan melaksanakan solat….harus bagaimana bergaul dengan keluarga besar yang suka meninggalkan solat….terimakasih atas jawabanya.    A22
Jawaban :
==============
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bentuk pengabdian dan penghambaan diri tertinggi seorang hamba kepada Rabbnya tercermin dalam bentuk ibadah sholatnya.
“Dirikanlah sholat, karena sesungguhnya sholat itu kewajiban yang ditentukan (diwajibkan) bagi orang mukmin dengan waktu-waktu tertentu
(QS. An-Nisa: 102)
Umat islam yang taat menjalankan sholat dengan khusyu’ dan sebenarnya, insya allah akan terhindar dari segala bentuk maksiat dunia. Namun bagi mereka yang meninggalkan sholat sesungguhnya amat dekat dengan kekejian dan kemungkaran.
Orang yang meninggalkan sholat dihukumi dengan Dosa Besar
Ibnu Qayyim Al Jauziyah ra mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman
keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat. ”
( Ash Sholah , hal. 7)
Mengajak sholat hukumnya wajib, jika sudah d ingatkan masih tetap meninggalkan sholat jalan terakhir adalah berdo’a pada allah mohon d bukakan hati keluarganya
Bergaul dengan keluarga besar juga seperti biasa jangan ada skat d antara keluarga besar dan bahkan kita harus memberi contoh pada keluarga besar kita dengan sholat tepat waktu.
Wallahu a’lam.
🌱🍁🌱🍁🌱🌱🍁🌱
Di persembahkan oleh :
www.iman-islam.com
🎒Sebarkan! Raih pahala…

Warisan Dibagi Rata, Bolehkah Dalam Islam???

🎀Ustadzah Menjawab🎀
✍Ustadzah Ida Faridah

📆Kamis, 26 Mei 2016 M
                  19 Sya’ban 1437 H
🌹🎀🌹🎀🌹🎀🌹🎀

Assalamu’alaikum wr.wb
Saya ingin bertanya mengenai pembagian warisan dalam islam. Telah jelas bahwa pembagian warisan kepada anak laki2 jauh lebih banyak daripada perempuan. Tapi bagaimana jika ortu ingin memberikan warisan yg lebih ke anak perempuan di banding laki2 . hukumnya bagaimana ? Mohon penjelasannya . jazakallah
Wassalamu’alaikum.wr.wb.. # A36

=================
Jawaban :

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Islam agama rahmatal lil’alamin, dalam pembagian warisan anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian dr anak perempuan bukan berarti tidak adil, tetapi karena islam menitikberatkan pada berat ringanya pada tanggung jawab.

Sesuatu hal jika tidak sesuai dengan aturan yang udah ada maka hukumnya haram. Harta pusaka itu wajib dibagi menurut semestinya sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dalam al-Qur’an.

” Dan janganlah sebagian kamu makan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.” (Q.S Al-Baqarah : 188)

Kalaupun orang tua ingin memberikan harta lebih kepada anak perempuanya ada satu cara yaitu dengan cara *WASIAT*, namun wasiat ini tidak boleh lebih dari sepertiga harta kekayaannya kecuali apabila diijinkan ahli waris sesudah matinya yang berwasiat.

“Sesungguhnya Allah menganjurkan untuk bersedakah atasmu dengan harta sepertiga harta pusaka kamu. Ketika menjelang wafatmu, sebagai tambahan kebaikanmu.”
(HR. Ad Daru Quthni dari Mu’ad bin Jabal).
Wallahu a’lam.

🎀🌹🎀🌹🎀🌹🎀🌹

Di persembahkan oleh :
www.iman-islam.com

🎒Sebarkan! Raih pahala…

Nadzar Puasa Bisakah Diganti Dengan Fidyah???

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Umar
===================
📆Kamis, 26 Mei 2016 M
                  19 Sya’ban 1437 H
🌺🍀🌸🍃🌹☘🌾

Assalaamu’alaikum wr wb Ustadz/ah ,saya punya sodara.Dia memiliki nazar puasa selama 7 hari,namun karena skrg dia dlm kondisi hamil muda,dia blg dia tdk sanggup utk menunaikannya,apakah nazar puasanya tsb bisa diganti dng membayar fidyah? Jazakumullah khair atas jawabannya.    A13
==========

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Sejauh yg ana tahu puasa nazar tdk bs dignti  fidyah. Jd karena hamil, puasa itu di tunaikan pada saat sudah mampu.
Wallahu a’lam.

🌺🍀🌸🍃🌹🌾

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih pahala….