Aku Tau Diriku

📆Jum’at, 13 Sya’ban 1437H/ 20 Mei 2016

📕Pengembangan diri dan Motivasi

📝Tim Psikologi Manis 4 Teen

📖Aku Tau Diriku
===========================
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃

Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh
Gimana kabar member group manis 4 teen???

semoga semuanya selalu dalam limpahan Rahmat Allah S.W.T. aamiin

Tahu gak sih…kalau manusia itu akan mengalami perkembangan di setiap rentang usia lhoo…ketika kita lahir kita masuk dalam tahap perkembangan masa bayi kemudian tubuh kita berkembang terus sampai ke masa kanak-kanak. Setelah masa kanak-kanak masuklah ke masa puber,apa itu puber?

Menurut Hurlock,seorang pakar perkembangan psikologi,puber adalah suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapainya kemampuan reproduksi. Setiap manusia pasti mengalami masa ini hanya rentang usia berbeda-beda. Umumnya anak perempuan sekitar usia 11-15 tahun dan anak laki2 sekitar usia 12-16 tahun.
Kamu sudah masuk usia ini belum yaaa??atau sudah mengalaminya??
Karena masa puber ini pendekk binggittt….bisa jadi tiap dari kita masuk masa pubernya berbeda-beda. Ketika kamu mengalami haid maka disitulah masuk masa puber. Kemudian di ikuti perubahan-perubahan lainnya pada anggota tubuh,seperti. Proporsi tubuh berubah,pinggul melebar,buah dada mulai mengembang,kulit menjadi lebih berminyak,emosi mulai berubah,Tiba2 merasa marah,khawatir,gelisah bahkan sedih.

Kamu Pernah merasakan?

Islam menaruh  perhatian yang penting lhoo di masa puber ini. Islam menamakan masa ini adalah masa balig. Dimana sudah harus bertanggung jawab pada diri masing-masing atas setiap niat&perbuatan yang dilakukannya. Jika sudah bertanggung jawab dengan diri sendiri berarti segala apa2 yang dilakukan kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pahami ayat berikut ini

اَلْيَوْمَ  نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا  يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

[QS. Ya Sin: Ayat 65]

Ternyata mulut yang biasa digunakan untuk membela diri ditutup rapat oleh Allah! Yang berbicara adalah anggota tubuh lainnya. Soo…..perlu berhati-hati dalam bertindak..

Trus setelah masa puber masuk masa apa??

Yupp…setelah masa puber masuklah masa remaja atau sering disebut masa muda. Kayak lagu bang Rhoma yaa : darah muda darahnya para remaja….eitss!! Jangan joget sambil pegang hape lhoo…cukup di ingat saja lagunya. Masa remaja adalah masa dimana mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa,dimana pada usia ini muncul keinginan untuk menjadi sosok dewasa. Masa ini dianggap menjadi masa yang paling efektif untuk berkarya karena tubuhnya kuat dan semangat muda bergejolak tinggi. Usia remaja kisaran 15-17 tahun..

ada yang berusia 17 tahun di sini?? Sepertinya ada tuh….

Apa yang seharusnya dilakukan remaja seusia kalian?
1Bertaqwa kepada Allah
2Berbakti pada Orang tua
3Pilih teman yang mengajak kebaikan…apalagi teman yang mengajak selalu dekat dg Al-Qur’an. Keren tuhh…..
4Menjaga kemaluan
5Menahan pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat

Baiklah….Sekian dulu materi hari ini ketemu lagi jumat depan,insyallah.
============================

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…..

Ibadah Dalam Islam

📆Kamis, 12 Sya’ban 1437H / 19 Mei 2016

📔Fiqh Ibadah

📝Suci Susanti S.SoS.I

💎Ibadah Dalam Islam💎
=====================
💦🌸💦🌸💦🌸💦🌸💦🌸💦

Banyak orang yang menyempitkan ibadah dalam Islam hanya shalat, zikir, puasa dan membayar zakat. Padahal tidak seperti itu. Islam itu luas, mengatur semua sisi kehidupan hingga hal yang terkecil.

Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai ibadah, apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi mencapai keridhaan-Nya, serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan oleh-Nya.

 Islam tidak membataskan ruang lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu saja. Namun seluruh kehidupan manusia adalah medan amal dan bekal bagi para mukmin sebelum mereka kembali bertemu Allah di hari akhir nanti.

✏Pengertian Ibadah
Menurut bahasa ; عبد- يعبد -عبادة  . ibadah berasal dari bahasa Arab, yang artinya : melayani, patuh, tunduk.
Menurut istilah, ibadah artinya ; mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai allah azza wa jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. (Amin Syukur, 2003)

Abul A’la Al-Maududi, menyatakan bahwa makna asal ibadah adalah ketundukan secara total, kepatuhan secara sempurna, dan ketaatan mutlak. Kemudian, kadang makna ini ditambah dengan unsur perasaan baru yang padanya tergambar penghambaan hati, setelah penghambaan kepala atau leher. Dan indikasi unsur ini adalah penghambaan, peribadahan, dan melaksanakan syiar-syiar (Qaradhawi, 2005)

Ibadah ada dua macam :
1.       Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang telah ditetapkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah ;Wudhu, tayammum, mandi hadats, shalat, puasa, haji dan umrah.

2.       Ibadah ghairu mahdhah ; segala amalan yang diizinkan oleh Allah dan membutuhkan keterlibatan orang lain. Misalnya ; belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya

Dalam pelaksanaannya,  ibadah harus memenuhi beberapa syarat yaitu ;
a.Tidak menyekutukan Allah

وَاعْبُدُواْ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun….”
(QS An-Nisa : 36)

b.Pasrah kepada Allah

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS Al-An’am 162-163)

c.Ikhlas

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS: Al-Bayyinah Ayat: 5)

d.      Yakin pada Allah swt

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yang menyamai?”
(QS Maryam : 65)

———————
Maroji :

Prof. Amin Syukur MA, Pengantar Studi Islam ,2003)
Yusuf Qardhawi, Ibadah dalam Islam, 2005
======================

Dipersembahkan :
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala… 

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 4)

📆 Senin,  16 Sya’ban 1437 H / 23 Mei 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 4)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Safar yang Bagaimana yang dapat keringan tidak puasa dan diganti di hari lain?*

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang safar boleh tidak puasa, baik ia tidak berpuasa sebelum berangkat atau ketika berangkat. Hal ini ditegaskan oleh beberapa hadits berikut:

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu, katanya:

يا رسول الله: أجد بي قوة على الصيام في السفر. فهل علي جناح ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “هي رخصة من الله فمن أخذ بها فحسن. ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه”.

📌 “Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya. (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no.  7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

 Hadits di atas adalah bagi yang merasa kuat dan sanggup, ada pun bagi yang kepayahan puasa dalam perjalanan maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih menganjurkan berbuka saja.

 Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى مكة عام الفتح في رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس معه فقيل له يا رسول الله إن الناس قد شق عليهم الصيام فدعا بقدح من ماء بعد العصر فشرب والناس ينظرون فأفطر بعض الناس وصام بعض فبلغه أن ناسا صاموا فقال أولئك العصاة

📌 “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa. Kemudian Beliau meminta segelas air  setelah asar,  lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya  bahwa ada orang   yang masih puasa.   Maka Beliau bersabda: Mereka  durhaka.  (HR. Muslim No. 1114.  Ibnu Hibban No. 2706, An Nasai No. 2263. At Tirmidzi No. 710.  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

 Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan dia kesusahan karenanya.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: “ماله ؟” قالوا: رجل صائم. فقال رسول الله عليه وسلم: “ليس من البر أن تصوموا في السفر”.

📌 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: “Kenapa dia?” Meeka menjawab: “Seseorang yang puasa. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar. (HR. Muslim No. 1115)

 Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Jaa fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Hadits Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:

 باب ذكر خبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية الصوم في السفر عصاة من غير ذكر العلة التي أسماهم بهذا الاسم توهم بعض العلماء أن الصوم في السفر غير جائز لهذا الخبر

📌 “Bab tentang khabar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang penamaan berpuasa saat safar adalah *DURHAKA* tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah *TIDAK BOLEH* karena hadits ini.”

 Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah  bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu d atas.

 Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, katanya:

لا تعب على من صام ولا من أفطر. قد صام رسول الله صلى الله عليه وسلم، في السفر، وأفطر.

📌 “Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

 Dari Ibnu Abbas juga:

سافر رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فصام حتى بلغ عسفان. ثم دعا بإنء فيه شراب. فشربه نهارا. ليراه الناس. ثم أفطر. حتى دخل مكة .
قال ابن عباس رضي الله عنهما: فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأفطر. فمن شاء صام، ومن شاء أفطر.
📌 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah. Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka. (Ibid)

Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar  bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu A’lam

📚 *Dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yang lebih utama?*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah meringkas sebagai berikut:

  فرأى أبو حنيفة، والشافعي، ومالك: أن الصيام أفضل، لمن قوي عليه، والفطر أفضل لمن لا يقوى على الصيام.
وقال أحمد: الفطر أفضل.
وقال عمر بن عبد العزيز: أفضلهما أيسرهما، فمن يسهل عليه حينئذ، ويشق عليه قضاؤه بعد ذلك، فالصوم في حقه أفضل.
وحقق الشوكاني، فرأى أن من كان يشق عليه الصوم، ويضره، وكذلك من كان معرضا عن قبول الرخصة، فالفطر أفضل وكذلك من خاف على نفسه العجب أو الرياء – إذا صام في السفر – فالفطر في حقه أفضل.
وما كان من الصيام خاليا عن هذه الامور، فهو أفضل من الافطار.

📌 “Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: berbuka lebih utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata: Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.”

 Asy Syaukani melakukan penelitian, dia berpendapat bahwa bagi yang berat berpuasa dan membahayakannya, dan juga orang yang tidak mau menerima  rukhshah, maka berbuka lebih utama. Demikian juga bagi orang yang khawatir pada dirinya ada ujub dan riya jika puasa dalam perjalanan- maka berbuka lebih utama. Ada pun jika puasanya sama sekali bersih dari perkara ini semua, maka puasa lebih utama. (Fiqhus Sunnah, 1/443. Nailul Authar, 4/225)

📚  *Bolehkah Berbuka Sebelum Berangkat?*

 Jika seseorang sedang puasa Ramadhan, lalu di waktu tengah berpuasa, dia hendak melakukan safar, bolehkah dia berbuka sebelum berangkat safarnya ?

 Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أتيت في رمضان أنس بن مالك، وهو يريد سفرا، وقد رحلت له راحلته، ولبس ثياب السفر، فدعا بطعام فأكل فقلت له: سنة؟ فقال: سنة، ثم ركب

📌 “Saya menemui Anas bin Malik, dan dia hendak safar, dan sudah bersiap-siap dengan kendaraannya, serta sudah mengenakan pakaian safar. Lalu dia minta disediakan makanan, lalu dia makan. Maka saya bertanya kepadanya: apakah ini sunah? Dia menjawab: Ini sunah. Kemudian dia berangkat dengan kendaraannya. (HR. At Tirmidzi No. 799, katanya: hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 799)

 Ja’far berkata, Dari  ‘Ubaid bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كنت مع أبي بصرة الغفاريِّ صاحب رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم في سفينة من الفسطاط في رمضان فرفع، ثم قرِّب غداؤه، قال جعفر في حديثه: فلم يجاوز البيوت حتى دعا بالسُّفرَة قال: اقترب قلت: ألست ترى البيوت؟ قال أبو بصرة: أترغب عن سنة رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال جعفرٌ في حديثه: فأكل.

📌 “Aku bersama Abu Bashrah Al Ghifari, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perahu dari daerah Fusthath (Mesir) pada saat Ramadhan. Tiba-tiba dia menawarkan dan menyajikan sarapannya.” Ja’far berkata dalam haditsnya: belumlah meninggalkan rumah-rumah dan dia mengajak ke meja makan. Dia (Abu Bashrah) berkata: Mendekatlah. Aku berkata: Bukankah engkau masih  melihat rumah-rumah? Berkata Abu Bashrah: Apakah engkau tidak suka sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Jafar berkata dalam haditsnya: maka dia memakannya. (HR. Abu Daud No. 2412. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2412)

 Dua riwayat ini sangat jelas menerangkan bahwa berbuka sebelum safar adalah boleh, bahkan para sahabat menyebutnya sunah nabi.

 Imam Asy Syaukani memberikan penjelasan sebagai berikut:

“والحديثان” يدلان على أنه يجوز للمسافر أن يفطر قبل خروجه من الموضع الذي أراد السفر منه. قال ابن العربي في العارضة: هذا صحيح

📌 “Dua hadits ini menunjukkan bahwa boleh bagi musafir untuk berbuka sebelum dia keluar dari tempat kediamannya. Ibnul ‘Arabi mengatakan dalam Al ‘Aridhah: Inilah yang benar. (Nailul Authar, 4/229. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

 Lalu, Ibnul Arabi berkata lagi:

وأما حديث أنس فصحيح يقتضي جواز الفطر مع أهبة السفر

📌 “Ada pun hadits Anas adalah shahih, dan menetapkan bolehnya berbuka puasa ketika sedang persiapan safar.” (Ibid)

📚  *Berapakah Jarak Safar Yang Membolehkan Untuk Berbuka?*

 Tidak ada keterangan khusus tentang hal ini. Kasus ini sama halnya dengan jarak dibolehkannya Qashar, juga tidak ada  keterangan khusus. Sedangkan Imam Ibnul Mundzir menyebutkan ada 20 pendapat lebih tentang jarak untuk dibolehkannya qashar. Oleh karena itu, jarak yang sudah dibolehkan bagi seseorang untuk berbuka adalah sebagaimana dibolehkannya untuk qashar. Inilah pendapat para ulama muhaqqiq (peneliti).

 Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

والسفر المبيح للفطر، هو السفر الذي تقصر الصلاة بسببه، ومدة الاقامة التي يجوز للمسافر أن يفطر فيها، هي المدة التي يجوز له أن يقصر الصلاة فيها. وتقدم جميع ذلك في مبحث قصر الصلاة ومذاهب العلماء وتحقيق ابن القيم.

📌 “Safar yang membolehkan berbuka adalah safar yang membuatnya boleh pula qashar shalat. Begitu pula rentang waktu waktu yang membolehkan untuk berbuka bagi seorang musafir, yaitu selama jangka waktu dibolehkan pula mengqashar. Semua pembahasan ini telah kami bahas sebelumnya dalam pembahasan qashar shalat, pandangan para ulama, dan tahqiq dari Ibnul Qayyim. (Fiqhus Sunnah, 1/444)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH Bag-2

📆 Sabtu, 14 Sya’ban 1437H / 21 Mei 2016

📚 *Tema KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag*

📝 *KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH* Bag-2

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Bag. 1 👇
http://www.iman-islam.com/2016/05/karakteristik-suami-dan-istri-yang.html?m=1

*Karakteristik suami shaleh dan istri shalihah*

Menurut Sayyid Quthub dalam buku tafsirnya ” Fii Dzilaalil Quran” bahwa Islam dan iman itu mempunyai hubungan yang erat, salah satu sisi dari keduanya merupakan sisi bagi yang lain. Sebab makna Islam adalah tunduk dan patuh , sedangkan makna iman adalah pembenaran dengan keyakinan. Sedangkan Islam  adalah tuntutan iman, dan iman yang benar harus tumbuh dari Islam.

Karakteristik yang ke 3 adalah *tunduk dan patuh*. Maksudnya adalah ketaatan yang tumbuh dari Islam dan iman. Tunduk yang didasarkan dari keridhaan  bukan paksaan . Muhammad bin Ali Asysyaukani  dalam buku tafsirnya ” Fathul Qadiir” menjelaskan bahwa yang dimaksud tunduk disini adalah selalu beribadah dan taat kepada Allah.

Karakter yang ke 4 adalah *benar ( jujur )* yaitu orang yang selalu menjaga kejujurannya dan tidak mau berdusta.
Rumah tangga yang menjaga kejujurannya dapat menjaga kehormatan dan saling percaya antara suami dan istri.

Karakteristik yang ke 5 adalah *sabar* , yaitu sabar dalam taat melakukan perintah   Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan sabar menghadapi musibah. Maka dengan sabar ini keluarga yang dibangun bisa menjadi keluarga yang Islami yang istiqomah dan bahagia dalam kondisi apapun.

Karakteristik yang ke 6 adalah *khusyuk*. Khusyuk merupakan sifat hati dan anggota tubuh yang sedang terpengaruh oleh kebesaran dan keagungan Allah SWT sehingga bertambah ketakwaan dan amal shalehnya.

Karakteristik yang ke 7 yaitu *bersedekah*. Tidak bersifat bakhil dengan karunia rizki yang diberikan Allah kepadanya.
Bersedekah menunjukkan kesucian jiwa dan cinta kasih kepada sesama manusia.
Bersedekah sebagai tanda setia terhadap hak harta dan bersyukur kepada Allah atas nikmat rizki dari Nya.

Karakteristik yang ke 8 adalah *shaum/berpuasa*.
Berpuasa untuk bisa melatih diri dalam mengendalikan kehendak diri untuk bisa istiqomah di jalan yang diridhai Allah.

Karakteristik yang ke 9 adalah *menjaga kehormatan*. Menjaga kehormatan sebagai tanda setia kepada Islam dan setia kepada pasangan serta setia kepada anak cucu, keturunan dan keluarga besar. Kehormatan yang terjaga tidak akan menodai dan mencederai jiwa mereka semua.

Karakteristik yang ke 10 adalah *banyak berzikir kepada Allah* . Banyak berzikir menunjukkan kuatnya hubungan dengan Allah SWT, agar seluruh prilaku zhahir dan bathin selalu berlimpah cahaya Ilahi rabbi sehingga tidak berada di jalan yang dimurkai.

10 karakteristik keshalehan  yang harus dimiliki suami istri yang disebut dalam surat al-ahzaab ini memudahkan mereka dalam membangun keluarga Islami yang sakinah mawaddah wa rohmah. Mereka akan bahagia selalu sampai nanti di surga Nya, amin.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

THE RIGHT MAN AT THE RIGHT TIME (seri FATHERMAN bag. 3)

📆 Sabtu, 14 Sya’ban 1437H / 21 Mei 2016

📚 *KELUARGA & PARENTING*

📝 Pemateri: *Ustadz Bendri Jaisyurrahman* @ajobendri

📋  *THE RIGHT MAN AT THE RIGHT TIME (seri FATHERMAN bag. 3)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Pernah lihat adegan ini?
“Seorang wanita lari dengan nafas tersengal-sengal dikejar seorang monster atau makhluk jahat. Di depannya hanya ada jurang. Ia tak bisa lari kemana-mana. Pilihannya hanya dua. Mati jatuh ke jurang atau diterkam monster buas. Begitu sang monster mendekat dan siap memangsa korbannya, muncullah pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani ia taklukkan sang monster hingga lumat dan lenyap dari muka bumi. Si wanita meleleh hatinya seraya membatin _‘So sweet. You are my hero’._

Demikianlah kisah mainstream kepahlawanan dalam hampir setiap film, komik ataupun novel. Polanya selalu sama. Pahlawan datang di detik-detik terakhir yang menegangkan. Ketika adrenalin bergejolak, jantung berdetak kencang, air mata terkuras karena saking pedihnya hati dibarengi dengan air kencing yang tanpa sadar keluar saking mencekamnya suasana, muncullah sang pahlawan. Yes. _Pahlawan selalu punya rumus : datang di saat yang tepat._ Beda dengan mahasiswa jenius yang datang kecepetan, bahkan sebelum pintu kelas dibuka. Atau polisi dalam film-film Indonesia jaman dulu yang selalu datang terlambat sekedar untuk memasang garis kuning di TKP sambil membereskan puing-puing di lokasi kejadian diikuti credit title tanda berakhirnya film.

*Tepat waktu, itulah ciri pahlawan.*. Tidak terlalu cepat seperti petugas pendaftaran atau terlambat seperti haid alias datang bulan. _Dan itu pulalah yang selayaknya dimiliki pahlawan bagi anak yang bernama Fatherman. Tahu kapan harus hadir di sisi anak._ Tentu tepat waktu yang dimaksudkan disini bukan mengabaikan peran ayah memberi banyak waktu bagi anak. Namun bagaimana melatih kemampuan ayah sebagai Fatherman membaca situasi dan moment agar WAJIB hadir di saat anak membutuhkan. Hasilnya akan memberikan *efek terpesonanya batin anak. The right man at the right time*. Jangan sampai di situasi genting dan kritis malah orang lain yang hadir. Jika ini sampai terjadi, ayah akan bernasib seperti para jones alias jomblo ngenes yang ditikung teman sendiri. Awalnya dia yang deketin eh nikahnya sama yang lain. Duh sakitnya tuh di sana sini. Perih.

Agar kejadian jones tidak dialami oleh ayah, maka ada *dua waktu yang ayah mutlak harus hadir sebagai Fatherman.*

*Pertama, saat anak sedang sedih.*

Inilah waktu-waktu yang kritis. Sebab, saat anak lagi sedih ia butuh sandaran jiwa. Siapapun yang hadir di sisinya saat itu, ia anggap super hero baginya. Disinilah kejelian bandar narkoba, predator seksual dan musuh-musuh pengasuhan dalam mengintai mangsanya. Mereka mengincar anak-anak yang lagi sedih. Bisa karena putus cinta, gagal berprestasi, merasa diabaikan oleh kawan, dan segala masalah anak lainnya. Mereka menyamar sebagai sosok pahlawan padahal sejatinya adalah monster jahat yang siap menerkam. Anak pun terpikat akan sosoknya. Hingga akhirnya dibujuk ke dalam perangkap jahatnya.

Nah, sang fatherman tidak boleh terlambat. Hadirlah di saat situasi tersebut. Sesegera mungkin. Jika saat tersebut sedang ada tugas di kantor, minimal hubungi anak via telpon. Luangkan waktu untuk mendengarkan masalah anak. Jika perlu, berjanjilah untuk pulang lebih cepat. Semakin ayah berani luangkan waktu dan hadir secara fisik dalam situasi ini semakin anak terpikat hatinya. Ayah benar-benar sudah menjadi super hero bagi ananda. This is Fatherman!

Inilah yang diajarkan oleh baginda Nabi. Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ia memiliki sepupu yang dijuluki Abu Umair. Sepupunya ini punya hewan kesayangan, seekor burung pipit yang diberi nama Nughair. Suatu hari Abu Umair berduka. Nughair yang disayanginya telah mati. Ia amat kehilangan. Menangis sesenggukan. Kabar matinya hewan piaraan ini sampai kepada Rasulullah. Beliau pun segera mengunjungi Abu Umair dan menghibur hatinya yang sedang merasakan kehilangan. Disinilah hebatnya rasul. Tak remehkan urusan yang dianggap ‘sepele’. Sebagian besar ayah mungkin akan bertindak beda. Saat anak kehilangan burung pipit malah dikomentari “Halah, baru burung pipit mati aja kamu udah sedih. Ya sudah, nanti papa ganti sama burung rajawali. Kalau perlu burung garuda yang ada logo pancasila”. Huft… Padahal bukan masalah burung yang mati, namun kehilangan sesuatu yang dicintai amatlah mengoyak hati. Sang fatherman hadir untuk memahami situasi ini.

*Kedua, saat anak sakit.*

Sakitnya fisik mempengaruhi psikis. Di saat inilah anak butuh diperhatikan. Bukan sekedar obat ataupun makanan. Lebih dari itu, ia butuh perhatian dan kasih sayang. Hadir di sisinya, memeluknya, mengusap kepalanya, menyuapinya makan atau mendoakannya amatlah menyentuh batinnya. Obat akan menyembuhkan dan menguatkan fisiknya, namun perhatian akan menyembuhkan luka batinnya dan menguatkan cinta kepada ayahnya.
Di saat seperti inilah, sang fatherman bisa manfaatkan momen untuk bercerita, menasehati dan mengajarkan hikmah kepada anak. Asal jangan banyak-banyak. Ingat! Anak ini bukan mahasiswa yang lagi ambil kuliah 6 SKS. Jadi nasehati seperlunya saja. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah kepada seorang anak yang menjadi pembantunya. Anak ini beragama yahudi. Di saat ia sakit, Rasul pun mengunjunginya. Hati anak pun tersentuh akan perhatian Rasul. Di saat itulah Rasul pun mengajaknya masuk Islam, ia pun mau sebab hatinya telah terpikat.

Maka, menasehati anak hanya bisa dilakukan oleh ayah yang telah mengikat hati anak lewat momen yang tepat. Hadir di saat sakit itu contohnya. Meleset sedikit, nasehat ayah tak lagi didengarkan malah dikacangin. Kalau kacang sih gurih, tapi dikacangin? Perih…

Agar kedua moment itu bisa memberikan efek yang dahsyat dalam jiwa anak, ayah selaku Fatherman jangan sampai salah kostum. Salah kostum bisa berakibat fatal. Lihat aja Superman. Tanda “S”di dada bidangnya itu kostum khas. Memberi makna tubuhnya yang kekar dan langsing. Seumpama diganti dengan tanda “XL” maka itu bermakna dia sudah overweight. Harus banyak lari pagi. Tidak ada yang mau ditolong karena ragu, sebab Super Heronya sendiri butuh pertolongan konsultan nutrisi, khususnya untuk menurunkan berat tubuh sendiri.

_Kostum yang dimaksud bagi Fatherman adalah topi peran yang sudah kita ulas di bagian awal tulisan ini. Dan topi yang tepat di kedua situasi tersebut adalah Topi Konselor._Ayah berperan sebagai konselor yang memahami perasaan anak. Siap mendengarkan keluh kesah anak seraya menunggu moment yang pas untuk memberikan advice. Endurance atau ketahanan Ayah dalam mendengarkan curhat anak dalam situasi ini, amat menentukan. Kuping emang harus siap panas karena mendengarkan curhat yang berulang. Tapi inilah super hero idaman. Sedikit bicara dan banyak diam namun memberikan kesan. Bukan sembarang diam. Namun diam yang penuh respons lewat isyarat tubuh yang menunjukkan kepedulian. Inilah yang membuat ayah makin tampak cool di hadapan anak.

*Kehadiran ayah dengan kostum yang tepat di situasi kritis tersebut adalah prasyarat menjadi sosok ayah yang memorable.* Hingga terpahat di hati anak sebuah untaian kalimat *“Ayah memang tidak selalu hadir setiap saat disisiku, namun ayah selalu hadir di saat aku membutuhkan. Itulah ayahku, sang fatherman.”*  So sweet…tissue mana tissue?

 (bersambung)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Bagi Wanita Haid Mengikuti Halaqah di Masjid

👳USTADZ MENJAWAB 
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹
Assalamualaikum ustadz/ah…
Bagaimana sebenarnya hukum bagi wanita haid mengikuti halaqah atau majlis ilmu dimesjid?
Maksud saya apa boleh didalam, diteras mesjid atau dihalaman atau tidak sama sekali dimana pun bagian mesjid? A 02
Jawaban:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jima’ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).
Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.
🌿Para Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu ‘Anhu, katanya:
أنه لا يحجزه شيء عن القرأءة إلا الجنابة              
“Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.” 
(HR. Ibnu Majah No. 594) 
Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاتقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن          
“Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.” (HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi – hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni,  Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id ‘An Qira’atil Quran,No. 1) 
🌿Para Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qath’i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu A’lamTetapi, ada yang merinci: wanita  HAID dan  NIFAS adalah  BOLEH, sedangkan  JUNUB adalah TIDAK BOLEH.Syaikh Abdul Aziz bin BazRahimahullah mengatakan –dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج ولا بأس أن تقرأ القرآن على الصحيح أيضاً لأنه لم يرد نص صحيح صريح يمنع الحائض والنفساء من قراءة القرآن إنما ورد في الجنب خاصة بأن لا يقرأ القرآن وهو جنب لحديث على رضي الله عنه وأرضاه أما الحائض والنفساء فورد فيهما حديث ابن عمر { لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن } ولكنه ضعيف لأن الحديث من رواية اسماعيل بن عياش عن الحجازيين وهو ضعيف في روايته عنهم ، ولكنها تقرأ بدون مس المصحف عن ظهر قلب أما الجنب فلا يجوز له أن يقرأ القرآن لا عن ظهر قلب ولا من المصحف حتى يغتسل والفرق بينهما أن الجنب وقته يسير وفي إمكانه أن يغتسل في الحال من حين يفرغ من اتيانه أهله فمدته لا تطول والأمر في يده متى شاء اغتسل وإن عجز عن الماء تيمم وصلى وقرأ أما الحائض والنفساء فليس بيدهما وإنما هو بيد الله عز وجل ، فمتى طهرت من حيضها أو نفاسها اغتسلت ، والحيض يحتاج إلى أيام والنفاس كذلك ، ولهذا أبيح لهما قراءة القرآن لئلا تنسيانه ولئلا يفوتهما فضل القرأءة وتعلم الأحكام الشرعية من كتاب الله فمن باب أولى أن تقرأ الكتب التي فيها الأدعية المخلوطة من الأحاديث والآيات إلى غير ذلك هذا هو الصواب وهو أصح قولى العلماء رحمهم الله في ذلك . 
“Tidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali – semoga Allah meridhainya dan dia  ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,” tetapi  hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits  dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi.  Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk  mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas,  dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka  dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama –rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah,  4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid) 
🌿Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

فسقط الاستدلال بالحديث على التحريم ووجب الرجوع إلى الأصل وهو الإباحة وهو مذهب داود وأصحابه واحتج له ابن حزم ( 1 / 77 – 80 ) ورواه عن ابن عباس وسعيد بن المسيب وسعيد بن جبير وإسناده عن هذا جيد رواه عنه حماد بن أبي سليمان قال : سألت سعيد بن جبير عن الجنب يقرأ ؟ فلم يربه بأسا وقال : أليس في جوفه القرآن ؟ 
“Maka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; “Bukankah Al Quran juga berada di rongga  hatinya?” (Tamamul Minnah, Hal. 117) 
🌿Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:

يجوز للحائض أن تقرأ القرآن للحاجة، مثل أن تكون معلمة، فتقرأ القرآن للتعليم، أو تكون طالبة فتقرأ القرآن للتعلم، أو تكون تعلم أولادها الصغار أو الكبار، فترد عليهم وتقرأ الآية قبلهم. المهم إذا دعت الحاجة إلى قراءة القرآن للمرأة الحائض، فإنه يجوز ولا حرج عليها، وكذلك لو كانت تخشى أن تنساه فصارت تقرؤه تذكراً، فإنه لا حرج عليها ولو كانت حائضاً، على أن بعض أهل العلم قال: إنه يجوز للمرأة الحائض أن تقرأ القرآن مطلقاً بلا حاجة.وقال آخرون: إنه يحرم عليها أن تقرأ القرآن ولو كان لحاجة.فالأقوال ثلاثة والذي ينبغي أن يقال هو: أنه إذا احتاجت إلى قراءة القرآن لتعليمه أو تعلمه أو خوف نسيانه، فإنه لا حرج عليها.
“Dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk  membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.                
Jadi, tentang “Orang Berhadats Besar Membaca Al Quran” bisa kita simpulkan: 
🍀 Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali,  Jabir,  hingga tabi’in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakha’i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, dan Ishaq.
🍀 Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi ‘Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
🍀 Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin. 
🍀Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub.  Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud,  Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.
Wallahu a’lam.
[http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.ae/2014/02/apakah-orang-haid-nifas-dan-junub-boleh.html?m=1] is good,have a look at it! 
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 3)

📆 Jumat,  13 Sya’ban 1437 H / 20 Mei 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 3)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Niat, Bagaimanakah itu?*

❣ *Definisinya*

Secara Lughah, niat adalah Al Qashdu (maksud/kehendak) dan Al Azm (tekad/kemauan kuat) untuk melakukan sesuatu. (Imam Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan, Hal. 136)

Dalam Al Mausu’ah disebutkan, makna niat secara mutlak adalah Al Qashdu. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/287)

Dia juga bermakna Al Hifzhu (penjagaan), nawallahu fulanan, yaitu Allah menjaganya (Hafizhahu). (Al Mausu’ah, 42/59)

Makna secara Syariat,   hakikat niat adalah kehendak (Al Iradah) yang terarah pada  sebuah perbuatan untuk mencari ridha Allah Taala dengan menjalankan hukumNya. (Fiqhus Sunnah, 1/42. Al Mausuah, 2/287. Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Menurut fuqaha Hanafiyah, artinya adalah  kehendak ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Taala. Kalangan Malikiyah mengatakan kehendak di hati terhapap apa-apa yang dikehendaki manusia untuk dilakukan, itu termasuk pembahasan Al Uzuum (tekad) dan Al Iradaat (kehendak), bukan pembahasan ilmu dan aqidah. Kalangan Syafi’iyah mengartikan kehendak terhadap sesuatu yang tersambung dengan perbuatannya. Ada pun fuqaha hanabilah mengartikan kemauan kuat di hati untuk melakukan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Taala, menjadikan Allah Taala sebagai tujuannya bukan selainnya.  (Al Mausu’ah, 42/59-60)

Ada beberapa istilah yang terkait dengan niat, yakni:

✅ Al ‘Azm  (tekad),  bermakna kehendak yang pasti setelah adanya keraguan (Jazmul Iradah bada taraddud). Hubungan  antara niat dan Al ‘Azm adalah keduanya merupakan marhalah (tahapan/tingkatan) dari kehendak. Al ‘Azm merupakan  ism (kata benda) yang lebih dahulu ada sebelum  berwujud  perbuatan. Sedangkan niat adanya langsung bersambung dengan perbuatan yang dibarengi dengan pengetahuan terhadap apa yang diniatkan.

✅ Al Iradah (kehendak), artinya adalah Ath Thalab (tuntutan), Al Ikhtiyar (daya untuk memilih), dan Al Masyi’ah  (kemauan). Jika dikatakan Araada syai’a artinya dia menghendaki sesuatu dan menyukainya. Secara istilah,  Al Iradah adalah sifat yang mesti  ada pada sesuatu yang hidup dan terjadinya pada perbuatan, pada satu  sisi tidak pada sisi lainnya.  (Lihat semua dalam Al Mausu’ah, 42/60)

❣ *Letaknya*

Niat terletak di hati, demikianlah yang dikatakan semua literatur fiqih, kamus, tradisi dan akal manusia. Kami tidak perlu menyampaikan referensinya sebab hal itu sudah diketahui dengan mudah oleh semua manusia.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki:

( وَالنِّيَّةُ بِالْقَلْبِ ) إجْمَاعًا هُنَا وَفِي سَائِرِ مَا تُشْرَعُ فِيهِ لِأَنَّهَا الْقَصْدُ وَهُوَ لَا يَكُونُ إلَّا بِهِ فَلَا يَكْفِي مَعَ غَفْلَتِهِ

 (Niat itu di hati) berdasarkan ijma’, dan mesti ada pada setiap amal yang disyariatkan karena niat adalah maksud, dan tidaklah perbuatan dianggap ada kecuali dengan adanya niat, maka tidaklah mencukupi jika melalaikannya. (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

Mayoritas fuqaha kalangan Hanafiyah, dan ini juga pendapat Malikiyah, dan Syafiiyah,  serta Hanabilah, menyatakan bahwa niat adalah syarat sahnya ibadah.

Pendapat mayoritas Syafi’iyah menyatakan bahwa niat adalah rukunnya ibadah.

Sedangkan kalangan Malikiyah menyatakan bahwa niat adalah fardhu (wajib) ketika wudhu. Berkata Al Mazari: itu adalah pendapat yang lebih terkenal (pada madzhab Maliki). Berkata Ibnu Hajib: itu adalah pendapat yang lebih benar.  (Al Asybah wan Nazhair Libni Nujaim, Hal. 20, 24, 52. Al Mawahib Al Jalil, 1/182-230. Adz Dzakhirah, Hal. 235-236. Al Qawaid Al Ahkam, Hal. 175-176. Hasyiah Al Jumal, 1/103. Mughni Muhtaj, 1/148. Al Asybah Wan Nazhair Lis Suyuthi, Hal. 10, 43, 44. Kasyful Qina, 1/85, 313. Al Mughni, 3/91)

❣ *Melafazkan Niat*

Ada pun melafazkan niat, tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Wacana tentang melafazkan  niat baru ada pada masa pengikut-pengikut mereka.

Sejak berabad-abad lamanya, umat Islam mulai dari ulama hingga kaum awamnya, berpolemik tentang melafazkan niat (At Talafuzh An Niyah), seperti lafaz niat hendak shalat:

 “ushalli fardha subhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaan lillahi ta’ala,”  atau lafaz niat hendak wudhu: “nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsil asghari lillahi ta’ala,” atau lafaz niat hendak berpuasa Ramadhan: “nawaitu shaama ghadin an ada’i fardhusy syahri Ramadhana haadzihis sanati lillahi ta’ala, dan lainnya. Di negeri ini, kalimat-kalimat ini sering diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah dasar, umumnya pesantren, dan forum-forum pengajian.

Polemik ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tapi juga umumnya di negeri-negeri Muslim. Di antara mereka ada yang membid’ahkan, memakruhkan, membolehkan, menyunnahkan, bahkan mewajibkan (namun yang mewajibkan   telah dianggap   pendapat yang syadz janggal lagi menyimpang).

Di sisi lain, tidak ada perbedaan pendapat tentang  keberadaan niat di hati dalam melaksanakan ibadah. Mereka juga sepakat bahwa melafazkan niat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Perbedaan mereka adalah  dalam hal legalitas pengucapan niat ketika ibadah.

❣ *Menurut  Pendapat Madzhab*

Sebelumnya, mari kita tengok bagaimana pandangan para ulama madzhab tentang melafazkan niat dalam beribadah ritual.

 Tertulis dalam Al Mausu’ah:

فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ فِي الْمُخْتَارِ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الْمَذْهَبِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ سُنَّةٌ لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ   .
وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ مَكْرُوهٌ  .
وَقَال الْمَالِكِيَّةُ بِجَوَازِ التَّلَفُّظِ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ ، وَالأْوْلَى تَرْكُهُ ، إِلاَّ الْمُوَسْوَسَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ التَّلَفُّظُ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللَّبْسُ

Pendapat kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) berdasarkan pendapat yang dipilih, dan Syafi’iyah (pengikut imam Asy Syafi’i) serta Hanabilah (Hambaliyah-pengikut Imam Ahmad bin Hambal) menurut pendapat madzhab bahwasanya melafazkan niat dalam peribadatan adalah SUNAH, agar lisan dapat membimbing hati.

Sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa melafazkan niat adalah MAKRUH.

Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) mengatakan bolehnya melafazkan niat dalam peribadatan, namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah menyebutkan:

ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها   ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة.

 “Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi disunahkan menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

 Jadi, secara umum kebanyakan ulama madzhab adalah menyunnahkan melafazkan niat, ada pun sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah memakruhkan. Sedangkan Malikyah membolehkan walau lebih utama meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka dianjurkan mengucapan niat untuk mengusir was-was tersebut. Sedangkan para imam perintis empat madzhab, tidak ada riwayat dari mereka tentang pensyariatan melafazkan niat.

❣ *Pandangan Para Imam Kaum Muslimin*

Berikut adalah pandangan para ulama yang mendukung pelafazan niat, baik yang menyunnahkan atau membolehkan.

❣ *Imam Muhammad bin Hasan Rahimahullah, kawan sekaligus murid Imam Abu Hanifah Rahimahullah.*

Beliau  mengatakan:

النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ فَرْضٌ ، وَذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ سُنَّةٌ ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَفْضَل

 “Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

❣ *Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

( وَيَنْدُبُ النُّطْقُ ) بِالْمَنْوِيِّ ( قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ وَإِنْ شَذَّ وَقِيَاسًا عَلَى مَا يَأْتِي فِي الْحَجِّ

 “(Disunahkan mengucapkan) dengan apa yang diniatkan (sesaat sebelum takbir) agar lisan  membantu hati dan keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan kalangan yang mewajibkan, walaupun yang mewajibkan ini adalah pendapat yang syadz (janggal),  sunnahnya ini  diqiyaskan dengan apa yang ada pada haji (yakni pengucapan kalimat talbiyah, pen).” (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

❣ *Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

ويندب النطق بالمنوي قبيل التكبير ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس وللخروج من خلاف من أوجبه

“Dianjurkan mengucapkan apa yang diniatkan sesaat sebelum takbir untuk membantu hati, karena hal itu dapat menjauhkan was-was dan untuk keluar dari perselisihan pendapat dengan pihak yang mewajibkannya.” (Nihayatul Muhtaj, 1/457. Darul Fikr)

❣ *Imam Al Bahuti Rahimahullah*

  Beliau mengatakan ketika membahas niat dalam shalat:

وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ وُجُوبًا وَاللِّسَانُ اسْتِحْبَابًا

 “Tempatnya niat  adalah  di hati sebagai hal yang wajib, dan disukai (sunah) diucapkan lisan ..  (Kasyful Qina’,  2/442. Mawqi Islam)

Dan lain-lain.

📚 *Kepada Siapa Diwajibkan dan Tidak Diwajibkan?*

 Puasa Ramadhan diwajibkan kepada setiap umat Islam, laki-laki dan perempuan,  baligh, berakal, dan sedang tanpa udzur (halangan). Udzur-udzur  tersebut adalah:

❣ *Orang Sakit*

 Hal ini berdasarkan ayat:

 ومن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”  (QS. Al Baqarah (2): 184)

❣ *Sakit Yang Bagaimana?*
Sebagian ulama mengatakan bahwa segala macam sakit walau ringan- boleh untuk tidak puasa. Alasan mereka adalah karena ayat ini tidak merincinya. Jadi,  karena kemutlakan ayat ini maka semua macam sakit boleh membuat seseorang tidak puasa dan wajib diganti di hari lain.

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahimahullah  mengatakan dalam kitabnya Al Mughni:

وَحُكِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ أَبَاحَ الْفِطْرَ بِكُلِّ مَرَضٍ ، حَتَّى مِنْ وَجَعِ الْإِصْبَعِ وَالضِّرْسِ ؛ لِعُمُومِ الْآيَةِ فِيهِ

“Diceritakan dari sebagian salaf bahwa dibolehkan berbuka bagi setiap jenis penyakit, sampai rasa sakit di jari-jari dan tergigit, lantaran keumuman ayat tentang hal ini. (Al Mughni, 6/149. Mawqi Islam)

 Ini juga pendapat Imam Bukhari, Imam Atha, dan ahluzh zhahir seperti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm Al Andalusi.

 Namun, pendapat yang lebih aman dan selamat adalah bahwa penyakit yang boleh bagi penderitanya untuk meninggalkan puasa adalah penyakit yang membuatnya sulit dan berat berpuasa, dia tidak mampu, dan bisa membahayakan dirinya jika dia berpuasa. Dengan demikian, seseorang tidak bermain-main dengan syariat, hanya dengan alasan sakit yang sebenarnya tidak menyulitkannya.

 Imam Ibnu Qudamah mengomentari ayat di atas, katanya;

وَالْمَرَضُ الْمُبِيحُ لِلْفِطْرِ هُوَ الشَّدِيدُ الَّذِي يَزِيدُ بِالصَّوْمِ أَوْ يُخْشَى تَبَاطُؤُ بُرْئِهِ .

 “Sakit yang dibolehkan untuk berbuka adalah sakit keras yang bisa bertambah parah karena puasa atau dikhawatiri lama sembuhnya.” (Ibid)

 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah di tanya:

مَتَى يُفْطِرُ الْمَرِيضُ ؟ قَالَ : إذَا لَمْ يَسْتَطِعْ .
قِيلَ : مِثْلُ الْحُمَّى ؟ قَالَ : وَأَيُّ مَرَضٍ أَشَدُّ مِنْ الْحُمَّى

 “Kapankah orang sakit boleh berbuka?” Dia  menjawab: “jika dia tidak mampu (puasa).” Ditanyakan lagi: “semacam demam?” Beliau menjawab: “Sakit apa pun yang lebih berat dari demam.” (Ibid)

 Dialog ini menunjukkan bahwa beliau hanya mengkhususkan sakit tertenu saja yakni yang memberatkan bagi si penderitanya.

 Berkata Syaikh Sayid Sabiq Rahimahullah:

والصحيح الذي يخاف المرض بالصيام، يفطر، مثل المريض وكذلك من غلبه الجوع أو العطش، فخاف الهلاك، لزمه الفطر وإن كان صحيحا مقيما وعليه القضاء.

 “Yang benar adalah jika puasa  dikhawatirkan membuat sakit maka dia boleh berbuka, sebagaimana puasa, begitu juga bagi orang yang tidak kuat menahan lapar dan haus yang dikhawatiri membuatnya celaka, maka dia mesti berbuka. Jika dia dalam keadaan sehat dan mukim maka wajib baginya qadha’ “ (Fiqhus Sunnah, 1/442)

 Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah  mengatakan tentang standar sakit  yang boleh berbuka puasa:

هوالذي يشق معه الصوم مشقة شديدة أو يخاف الهلاك منه إن صام، أو يخاف بالصوم زيادة المرض أو بطء البرء أي تأخره  . فإن لم يتضرر الصائم بالصوم كمن به جرب أو وجع ضرس أو إصبع أو دمل ونحوه، لم يبح له الفطر.

 “Yaitu sakit   berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau  khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti   sakit kudis, sakit gigi, jari,  bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah)

 Inilah pendapat yang lebih kuat, karena Allah Taala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.. “ (QS. At Taghabun (64): 16)

Jadi, selama masih ada kesanggupan maka berpuasalah. Jangan menyerah begitu saja hanya karena penyakit ringan seperti panu, kudis, keseleo kaki, dan sejenisnya.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وأما الصحيح المقيم الذي يُطيق الصيام، فقد كان مخيَّرًا بين الصيام وبين الإطعام، إن شاء صام، وإن شاء أفطر، وأطعم عن كل يوم مسكينا، فإن أطعم أكثر من مسكين عن كل يوم، فهو خير، وإن صام فهو أفضل من الإطعام، قاله ابن مسعود، وابن عباس، ومجاهد، وطاوس، ومقاتل بن حيان، وغيرهم من السلف؛ ولهذا قال تعالى: { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ }

 “Ada pun orang sehat yang tidak bepergian, tapi dia mengalami kesulitan untuk puasa, maka mereka bisa memilih antara puasa atau berbuka. Jika dia mau maka puasa, jika dia mau buka maka buka saja, lalu memberikan makan tiap hari (yang ditinggalkannya)  ke orang miskin, jika dia memberikan makannya lebih banyak dari hari yang ditinggalkannya maka itu lebih baik. Jika dia mau berpuasa maka itu lebih utama dibanding memberikan makan. Inilah pendapat Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Muqatil bin Hayyan, dan selain mereka dari kalangan salaf. Oleh karena Allah Taala berfirman:

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/498. Dar Ath thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi)

Ada pun jika orang yang sakit keras memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya tetap sah, walau hal itu dibenci (makruh), lantaran dia telah menyiksa diri sendiri dan menolak keringanan yang Allah dan RasulNya berikan.

Allah Taala berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)

Ayat lainnya:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
  “ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”  (QS. Al Baqarah (2): 195)

 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

وإذا صام المريض، وتحمل المشقة، صح صومه، إلا أنه يكره له ذلك لاعراضه عن الرخصة التي يحبها الله، وقد يلحقه بذلك ضرر.

“Jika orang sakit berpuasa dan hal itu membawanya pada keadaan yang menyulitkan, maka puasanya sah, tetapi hal itu makruh karena dia menentang rukhshah (dispensasi) yang Allah Taala sukai, dan dengan itu dia bisa jadi  tertimpa hal yang buruk. (Fiqhus Sunnah, 1/442)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Yasinan & Tahlilan…Bagaimana Hukumnya???

🎀Ustadzah Menjawab🎀
🍀Ustadzah Indra Asih

📆Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

Assalamualaikum ustadzah saya mau bertanya…
Sebenarnya bagaimana hukumnya yasinan dan tahlilan…
Karena ada saudara kita yang kalau ada undangan untuk yasinan tidak mau datang..dengan alasan yasinan dan tahlilan itu tidak ada.. Maaf karena ada saudara kita yang islamnya maaf islam wahabi… Mohon pencerahannya ustadzah..
Syukron🙏🏽  🅰3⃣8⃣

Jawaban
————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Kalau sekedar mengatakan bahwa perayaan tahlilan atau yasinan tidak ada ajaran atau anjurannya dari Rasulullah SAW, sepertinya semua pihak pasti sepakat. Nyatanya memang tidak ada satu pun hadits shahih, bahkan tidak juga hadits palsu, yang menyebutkan bahwa ada  ritual seperti urusan tahilan 3 hari kematian, 7 hari atau 40 hari. Semua itu memang tidak kita temui contoh langsung dari Rasulullah SAW.

Tapi masalahnya, bagaimana cara mensosialisasikan pengertian ini di tengah saudara2 yang sudah dicecoki doktrin tahlilan dan praktek sejenisnya? Padahal mereka sudah berpikir demikian sejak dahulu?

Memang benar bahwa yang menjadi masalah adalah tinggal tehnik berdakwah.

Masalahnya, saudara-saudara kita justru tidak pernah sepakat dalam tehnik berdakwah. Ada yang cenderung dengan jurus sekali sikat, pokoknya bid’ah, sesat dan masuk neraka, titik dan habis perkara

Memang harus diakui bahwa masalah yasinan, tahlilan dan maulidan ini memang mencakup wilayah perbedaan pendapat yang sangat ekstrim. Di tengah masyarakat berkembang beberapa pandangan yang berbeda. Ada yang yang mewajibkan, menyunnahkan, memubahkan, memakruhkan hingga yang mengharamkan.

Tentu saja masing-masing pihak datang tidak sekedar dengan kesimpulan akhirnya. Mereka bahkan datang dengan sekian banyak hujjah, istidlal, argumentasi serta latar belakang manhaj fiqihnya.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Khitan Untuk Wanita

👳Ustadz Menjawab👳
✍Ustadz Farid Nu’man Hasan SS

📆Kamis, 19 Mei 2016 M
                   12 Sya’ban 1437 H

*Khitan Untuk Wanita*
————————————-

Assalamualaikum…saya mau bertanya tentang masalah hukum khitan untuk anak perempuan. Bagaimana hukum sebenarnya? karena ada beberapa negara islam seperti pakistan tidak ada khitan u perempuan tp hanya u lelaki saja.. sedangkan di indonesia khitan u anak perempuan masih ada… bagaimana hukumnya ustadz… terima kasih
 🅰0⃣9⃣              

 Jawaban:
—————

Wa Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah wa bad:

Khitan merupakan salah satu millah (ajaran) Nabi Ibrahim Alaihis Salam, yang Allah Taala perintahkan agar kita mengikutinya. Allah Taala berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl (16): 123)

Maka, khitan baik laki-laki dan wanita adalah perbuatan yang memiliki tempat dalam syariat Islam. Dia bukan barang asing, bukan pula bidah yang menyusup ke dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang.

*_📌Apanya Yang Dikhitan?_*

Pada wanita, yang dipotong adalah kulit yang menyembul dibagian atas saluran kencing, yang mirip dengan jengger ayam (Urf ad Dik). (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28) Biasa kita menyebutnya klitoris.

Bagian ini adalah bagian luar yang paling sensitif pada genital wanita, oleh karena itu khitan wanita bertujuan untuk menstabilkan libido mereka. Tetapi, tidak dibenarkan memotong semua, atau sebagian besarnya sebagaimana dilakukan di negeri-negeri Afrika. Bahkan ada yang memotong bagian labia minora (bibir kecil). Ini tentu cara yang bertentangan dengan khitan wanita  menurut Islam.

Sedangkan, pada laki-laki yang dipotong adalah kulit yang menutupi  hasyafah (glans), kulit itu dinamakan Qulfah (Kulup), sehingga seluruh hasyafah terlihat. (Ibid)

Bagian ini adalah kumpulan bakteri dan najis, oleh karena itu tujuan khitan pada laki-laki adalah  agar najis yang ada padanya menjadi hilang, tak lagi terhalang oleh qulfah tersebut.

*_📌Dalil-Dalil Pensyariatannya_*

Ada beberapa dalil yang biasa dijadikan alasan kewajiban dan kesunnahan khitan bagi wanita. Tetapi, hadits hadits tersebut tak satu pun yang selamat dari cacat.  Di antaranya sebagai berikut:

1⃣ Dari Ummu Athiyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa ada seorang wanita yang dikhitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

“Jangan potong berlebihan, karena itu menyenangkan bagi wanita dan disukai oleh suami.”
(HR. Abu Daud No. 5271. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/324. Juga Syuabul Iman, No. 8393. Ath Thabarani, Al Mujam Al Kabir, No. 8062, juga dalam Al Awsath, No. 2343, dan dalam Ash Shaghir No. 122,  Abu Nuaim, Marifatush Shahabah, No. 3450)

Hadits ini menurut lafaz Imam Abu Daud. Sedangkan dari Imam yang lainnya, ada tambahan diawalnya dengan ucapan: Asyimmi dan Ikhfidhi yang berarti rendahkan/pendekkan. Sedangkan Laa Tanhiki artinya jangan berlebihan dalam memotong.

Hadits ini menurut Imam Abu Daud- sanadnya tidak kuat, dan hadits ini mursal, sedangkan Muhammad bin Hassan  adalah majhul (tidak dikenal). Dan, hadits ini dhaif (lemah). (Sunan Abi Daud No. 5271)

Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi mengatakan bahwa hadits ini idhthirab (guncang). (Aunul Mabud, 14/126)

2⃣ Dari Abdullah bin Umar secara marfu:

يَا نِسَاءَ الْأَنْصَارِ اِخْتَضِبْنَ غَمْسًا وَاخْفِضْنَ وَلَا تُنْهِكْنَ فَإِنَّهُ أَحْظَى عِنْد أَزْوَاجِكُنَّ
       
“Wahai wanita Anshar, celupkanlah dan potonglah, jangan banyak-banyak, karena itu membuat senang suami kalian.”
(HR. Al Bazzar dan Ibnu ‘Adi)

Dalam sanad hadits  Al Bazzar terdapat Mandal bin Ali dan dia dhaif. Sedangkan, ri wayat Ibnu ‘Adi terdapat Khalid bin ‘Amru Al Kursyi, dia lebih dhaif dari Mandal. (Ibid)

3⃣ Hadits lain:

الْخِتَان سُنَّة لِلرِّجَالِ مَكْرُمَة لِلنِّسَاءِ

“Khitan adalah sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini juga dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Hajaj bin Artha’ah. Imam Adz Dzahabi mengatakan: Hajaj bin Artha’ah adalah dhaif dan tidak boleh berhujjah dengannya.

Imam Ath Thabarani juga meriwayatkan yang seperti ini dari Syaddad binAus, dari Ibnu Abbas. Imam As Suyuthi mengatakan sanadnya hasan. Sedangkan Imam Al Baihaqi mengatakan dhaif dan sanadnya munqathi (terputus), dan ditegaskan pula kedhaifannya oleh Imam Adz Dzahabi.

Al Hafizh Al Iraqi mengatakan: sanadnya dhaif. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Hajaj bin Arthaah adalah seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan dalam hal ini terjadi idhthirab (keguncangan).  Imam Abu Hatim mengatakan: ini adalah kesalahan Hajaj atau perawi yang meriwayatkan darinya.

Imam Al Munawi mengatakan dalam At Taisir : sanad hadits ini dhaif, berbeda dengan yang dikatakan As Suyuthi yang mengatakan hasan.  (Ibid,  14/125. Lihat juga At Talkhish Al Habirnya Imam Ibnu Hajar)

*_📌Benarkah Seluruh Hadits Khitan Wanita Adalah Cacat dan Dhaif ?_*

Hal ini ditegaskan para Imam muhaqqiq (peneliti). Berkata Imam Abu Thayyib Abadi:

وحديث ختان المرأة روي من أوجه كثيرة وكلها ضعيفة معلولة مخدوشة لا يصح الاحتجاج بها كما عرفت.وقال ابن المنذر: ليس في الختان خبر يرجع إليه ولا سنة يتبع. وقال ابن عبد البر في التمهيد: والذي أجمع عليه المسلمون أن الختان للرجال انتهى

“Dan hadits tentang khitannya wanita diriwayatkan oleh banyak jalur, semuanya dhaif, memiliki ilat (cacat), dan tidak sah berdalil dengannya sebagaimana yang telah anda ketahui. Berkata Ibnul Mundzir: Tentang khitan (wanita) tidak ada riwayat yang bisa dijadikan rujukan dan tidak ada sunah yang bisa diikuti. Berkata Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid: Dan yang di-ijmakan kaum muslimin adalah bahwa khitan itu bagi laki-laki.” (Aunul Mabud, 14/126)

Tetapi, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits riwayat Abu Daud di atas (hadits pertama). Beliau mengakui sanad hadits ini sebenarnya dhaif, tetapi banyak riwayat lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih. (Selengkapnya lihat di kitab As Silsilah Ash Shahihah 2/353, No. 722, dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5271, lihat juga Shahih Al Jamiush Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/1244-1245)

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani termasuk ulama yang mewajibkan khitan bagi wanita, karena keshahihan riwayat ini.

Tetapi, benarkah semua hadits tentang khitannya wanita adalah dhaif ?  Jika kita lihat secara seksama, tidaklah demikian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا التقى الختانان فقد وجب الغسل

“Jika bertemu dua khitan maka wajiblah untuk mandi.”
(HR. At Tirmidzi No. 109, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 608, Ahmad No. 26067, Ath Thahawi dalam Syarh Maani Al Aatsar No. 332, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1041, Asy Syafii dalam Musnadnya No. 102 (disusun oleh As Sindi), Ath Thabarani dalam Musnad Syamiyyin No. 2754, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 961 dari Asiyah. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 954)

Hadits ini shahih. (Syaikh Al Albani, Irwaul Ghalil No. 80. Juga Syaikh Syuaib Al Arnauth,  Taliq Musnad Ahmad No. 26067)

Hadits lainnya:

إذا جلس بين شعبها الأربع ومس الختان الختان فقد وجب الغسل

“Jika seserang duduk diantara empat cabang anggata badan, dan khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajiblah dia mandi.”
(HR. Muslim, No. 349, Abu Daud No. 216, dan At Tirmidzi, katanya: hasan shahih. Ibnu Khuzaimah No. 227,  Abu Yaala No. 4926)

Riwayat seperti ini cukup banyak, dan secara makna, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang dikhitan bukan hanya laki-laki tetapi wanita. Sebab, maksud bertemunya dua khitan adalah bertemunya dua kemaluan laki-laki dan wanita yang sudah dikhitan. Maksud bertemu di sini bukan sekedar bersentuhan, tetapi terbenamnya kemaluan l aki-laki pada kemalaun wanita, sebagaimana telah disepakati oleh madzhab yang empat. (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/50).

Dan, Imam Ahmad mengatakan: Dari hadits ini, bahwa bagi wanita juga dikhitan.  Tetapi menurutnya khitan wanita adalah sunah.  (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 134. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

الفطرة خمسٌ، أو خمسٌ من الفطرة: الختان، والاستحداد، ونتف الإِبط، وتقليم الأظفار، وقصُّ الشارب

“Fitrah itu ada lima, atau lima hal yang termasuk fitrah: (diantaranya) “Khitan ….” (HR. Bukhari No. 5550, Muslim No. 257)

Hadits ini umum, bukan hanya bagi laki-laki tetapi juga wanita, kecuali memendekkan kumis yang memang khusus untuk laki-laki. Nah, riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa khitan bagi wanita memang ada dalam Islam. Tetapi, memang tidak ada hadits shahih yang khusus menceritakan khitan wanita. Yang ada adalah hadits tentang khitan secara umum, dengan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan.

*_📌Lalu, Apa Hukumnya Khitan Wanita?_*

Keterangan di atas telah jelas, bahwa khitan wanita adalah masyru (disyariatkan) dalam Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum kemasyruannya. Ada yang mewajibkan, menyunnahkan, membolehkan, bahkan ada yang melarangnya dalam kedaan tertentu.
Pihak yang mewajibkan seperti Imam Asy Syafii dan mayoritas pengikutnya. Juga Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh Al Albani Rahimahumulullah Taala.
Sedangkan,  Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menyatakan sunah secara mutlak (laki-laki dan wanita), dan Imam Ahmad mengatakan wajib buat laki-laki namun sunah buat wanita. (Aunul Mabud, 14/125),

Imam Ibnu Qudamah mengatakan wajib bagi laki-laki, dan kemuliaan bagi wanita,  serta tidak wajib bagi mereka. (Al Masuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28).

Pihak yang mewajibkan berdalil dengan ayat An Nahl 123 (agar mengikuti millah Ibrahim), dan hadits sunah fitrah ada lima.

Alasan ini ditolak, sebab ayat tersebut memerintahkan kita mengikuti agama Ibrahim secara Global dan pokoknya yaitu Tauhid.

Sedangkan, hadits tersebut juga tidak bisa dijadikan dalil,  dan tidak menunjukkan wajibnya khitan, sebab jika khitan wajib, maka empat hal lainnya dalam hadits itu juga wajib seperti bersiwak, memendekkan kumis, mencukur bulu kemaluan, dan ketiak. Sedangkan kita tahu, tak ada yang mengatakan bersiwak , mencukur ketiak, bulu kemaluan adalah wajib, semua adalah sunah!
Selain itu, hadits tentang bertemunya dua khitan, juga bukan menunjukkan wajibnya khitan wanita, melainkan hanyalah informasi tentang khitan wanita. Ditambah lagi, lemahnya riwayat yang memerintahkan khitan khusus wanita. Maka, pendapat yang paling rajih (kuat) adalah khitan wanita adalah sunah. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

*Tapi, hukum ini bisa berubah jika:*

💢 Bagi wanita tertentu jika membahayakan maka sebaiknya dilarang. Syaikh Ali Jumah mufti Mesir saat ini- pernah memfatwakan haramnya khitan wanita lantaran kasus tewasnya seorang gadis setelah dikhitan.

💢 Tekstur genital wanita tidaklah sama satu sama lain. Jika klitorisnya pendek dan kecil, yang justru akan mendatangkan frigid jika dikhitan, maka tidak wajib dan tidak sunah, sebab akan membawa mudharat pada kehidupan seksualnya. Tetapi, jika ada wanita yang klitorisnya panjang, maka sangat dianjurkan untuk dikhitan, agar tidak terjadi mudharat berupa tidak stabilnya libido.

Ketentuan-ketentuan ini sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter yang berkompeten. Sekian.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana mensikapi keluarga yg turut mengatur Rumah Tangga kita??

🎀Ustadzah Menjawab🎀
📝 Ustadzah Nurdiana

📆Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
🌿🌺🍀🌷🌹🌻

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah… mau tanya, bagaimana hukumnya seorang istri memprotes suami yang masih terpengaruh oleh bude & pakdenya yang masih suka ikut campur mengatur keuangan rumah tangga suami-istri tsb?
Padahal sang istri dalam kehidupan sehari2 sudah berusaha mengikuti (taat dan qonaah) aturan suami untuk hidup irit/hemat. Dan istri tdk pernah menghalangi suami ketika mendapat rizki utk berbagi kepada mertua kandung dan angkat (bude-pakde) bahkan tak jarang istri turut mengingatkan suami ketika mendapat rizki supaya memberi/ berbagi rizki kepada mereka.
Tetapi istri gelisah, merasa tidak terima ketika masalah pengeluaran yg notabene untuk kebutuhan rumah tangga suami & istri, bude-pakde sering ikut mengatur (memprotes) jika menurut mereka misal barang yang dibeli kemahalan. Puncaknya kini istri tidak terima ketika akan melahirkan di RS dikarenakan resiko perdarahan, sedangkan bude-pakde memprotes dan menginginkan si istri (menantu) melahirkan di klinik bidan daerah perkebunan (tempat tinggal bude-pakde) karena harga melahirkan disana masih murah dibawah 1 juta rupiah.
Si istri minta melahirkan di rumah sakit karena peralatan RS lebih lengkap serta penanganan lebih cepat, dikarenakan juga menurut dokter ada indikasi perdarahan. *biayanyapun ada dari uang penghasilan suami.

*Sejarahnya : dalam hal ini bude & pakdenya adalah saudara yg mengangkat anak sang suami sejak bayi dikarenakan adat, yaitu kepercayaan mengambil (mengangkat) anak yg bukan anak kandungnya (kebetulan saat itu mengambil anak adeknya) utk memancing supaya memiliki anak dari rahim sendiri.  🅰0⃣9⃣

Jawaban:
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Menyimak dari cerita penanya berarti posisi pak de/bu de bagi suami penanya adalah orang tua, karena merekalah suami penanya jadi seperti sekarang, kalau dari sisi fiqh anak laki-laki milik ibunya dan wajib taat sepanjang tidak mengajak pada kemaksiatan.
Dan istri milik suaminya dan wajib taat dgn Suami.

Saran saya masalah ini tidak usah di bawa kepada fiqh, hukumnya gmn? Sebaiknya yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa berdamai dan memahami mereka. Berlapang dadalah dan selalu berprasangka baik, karena di hadits qudsi Allah berfirman,

*”Aku seperti persangkaan hambaku”*

tunjukkan sikap baik kepada pak de atau bu de karena posisi mereka seperti orang tua buat suami anda. Jalin komunikasi yang baik dengan suami, kalaupun tidak merasa cocok dgn keputusan suami coba pahami alasan-alasannya dengan positif thinking.

Kalau dari cerita di atas ,contohnya saat mau melahirkan ternyata pak de/bu de ikut campur, coba di pahami ini sebagai bentuk perhatian, dan kenapa disarankan di klinik? Mereka kan tidak paham kondisi kesiapan keuangan suami anda, mungkin bu de mengukur dengan dirinya sendiri, supaya hemat, dll. Jadi untuk hal-hal hubungan sesama tidak harus selalu di bawah ke ranah fiqih, jauh lebih baik kita juga memahami sisi muamalah dan sisi humanis sebagai sesama hamba Allah.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…