Fikih I’tikaf (Bag. 8)

📆 Sabtu,  13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf  (Bag. 8)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *_Aktifitas Yang Diperbolehkan Selama I’tikaf_*

  Berikut ini aktifitas yang diperbolehkan selama I’tikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

1⃣.  Tawdi’  (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan thdp Shafiyyah

 2⃣.    Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang ‘Aisyah lakukan terhadap nabi

4⃣.  Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

4⃣.  Makan, minum, dan tidur ketika I’tikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

   Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan shalat jumat bagi yang I’tikafnya di masjid ghairu jami’, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal I’tikafnya. Wallahu A’lam

📚 *_Pembatal-Pembatal I’tikaf_*

  Pembatal-pembatal tersebut antara lain:
1⃣. Secara sengaja Keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar
 2⃣.  Murtad
 3⃣. Hilang akal
 4⃣. Gila
 5⃣. Mabuk
 6⃣. Jima’  (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

📚 *_Aktifitas Selama I’tikaf_*

Hendaknya para mu’takifin memanfaatkan waktunya selama I’tikaf untuk aktifitas ketaatan, seperti membaca Al Quran, dzikir dengan kalimat yang ma’tsur,  muhasabah, shalat sunnah mutlak,  boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.
Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang I’tikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS, WA, telegram, yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktifitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

وقوله: «لطاعة الله» اللام هنا للتعليل، أي: أنه لزمه لطاعة الله، لا للانعزال عن الناس، ولا من أجل أن يأتيه أصحابه ورفقاؤه يتحدثون عنده، بل للتفرغ لطاعة الله عزّ وجل.
وبهذا نعرف أن أولئك الذين يعتكفون في المساجد، ثم يأتي إليهم أصحابهم، ويتحدثون بأحاديث لا فائدة منها، فهؤلاء لم يأتوا بروح الاعتكاف؛ لأن روح الاعتكاف أن تمكث في المسجد لطاعة الله ـ عزّ وجل ـ، صحيح أنه يجوز للإنسان أن يتحدث عنده بعض أهله لأجل ليس بكثير كما كان الرسول صلّى الله عليه وسلّم يفعل ذلك

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (‘ilat- istilahnya lam ta’lil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang i’tikaf di masjid. Lalu, datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beri’tikaf, karena ruh yang ingin beri’tikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya  tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis I’tikaf, beliau berkata:

لا شك أن طلب العلم من طاعة الله، لكن الاعتكاف يكون للطاعات الخاصة، كالصلاة، والذكر، وقراءة القرآن، وما أشبه ذلك، ولا بأس أن يَحضر المعتكف درساً أو درسين في يوم أو ليلة؛ لأن هذا لا يؤثر على الاعتكاف، لكن مجالس العلم إن دامت، وصار يطالع دروسه، ويحضر الجلسات الكثيرة التي تشغله عن العبادة الخاصة، فهذا لا شك أن في اعتكافه نقصاً، ولا أقول إن هذا ينافي الاعتكاف.

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi i’tikaf terdapat ketaatan khusus, seperti shalat, dzikir, membaca Al Quran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mu’takif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi I’tikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuatMajelis Ilmu Farid Nu’man:
I’tikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir I’tikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti’,  6/163)

🔸Bersambung🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 8)

📆 Sabtu,  13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf  (Bag. 8)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *_Aktifitas Yang Diperbolehkan Selama I’tikaf_*

  Berikut ini aktifitas yang diperbolehkan selama I’tikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

1⃣.  Tawdi’  (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan thdp Shafiyyah

 2⃣.    Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang ‘Aisyah lakukan terhadap nabi

4⃣.  Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

4⃣.  Makan, minum, dan tidur ketika I’tikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

   Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan shalat jumat bagi yang I’tikafnya di masjid ghairu jami’, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal I’tikafnya. Wallahu A’lam

📚 *_Pembatal-Pembatal I’tikaf_*

  Pembatal-pembatal tersebut antara lain:
1⃣. Secara sengaja Keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar
 2⃣.  Murtad
 3⃣. Hilang akal
 4⃣. Gila
 5⃣. Mabuk
 6⃣. Jima’  (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

📚 *_Aktifitas Selama I’tikaf_*

Hendaknya para mu’takifin memanfaatkan waktunya selama I’tikaf untuk aktifitas ketaatan, seperti membaca Al Quran, dzikir dengan kalimat yang ma’tsur,  muhasabah, shalat sunnah mutlak,  boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.
Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang I’tikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS, WA, telegram, yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktifitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

وقوله: «لطاعة الله» اللام هنا للتعليل، أي: أنه لزمه لطاعة الله، لا للانعزال عن الناس، ولا من أجل أن يأتيه أصحابه ورفقاؤه يتحدثون عنده، بل للتفرغ لطاعة الله عزّ وجل.
وبهذا نعرف أن أولئك الذين يعتكفون في المساجد، ثم يأتي إليهم أصحابهم، ويتحدثون بأحاديث لا فائدة منها، فهؤلاء لم يأتوا بروح الاعتكاف؛ لأن روح الاعتكاف أن تمكث في المسجد لطاعة الله ـ عزّ وجل ـ، صحيح أنه يجوز للإنسان أن يتحدث عنده بعض أهله لأجل ليس بكثير كما كان الرسول صلّى الله عليه وسلّم يفعل ذلك

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (‘ilat- istilahnya lam ta’lil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang i’tikaf di masjid. Lalu, datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beri’tikaf, karena ruh yang ingin beri’tikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya  tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis I’tikaf, beliau berkata:

لا شك أن طلب العلم من طاعة الله، لكن الاعتكاف يكون للطاعات الخاصة، كالصلاة، والذكر، وقراءة القرآن، وما أشبه ذلك، ولا بأس أن يَحضر المعتكف درساً أو درسين في يوم أو ليلة؛ لأن هذا لا يؤثر على الاعتكاف، لكن مجالس العلم إن دامت، وصار يطالع دروسه، ويحضر الجلسات الكثيرة التي تشغله عن العبادة الخاصة، فهذا لا شك أن في اعتكافه نقصاً، ولا أقول إن هذا ينافي الاعتكاف.

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi i’tikaf terdapat ketaatan khusus, seperti shalat, dzikir, membaca Al Quran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mu’takif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi I’tikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuatMajelis Ilmu Farid Nu’man:
I’tikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir I’tikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti’,  6/163)

🔸Bersambung🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 6)

📆 Jumat,  12 Ramadhan 1437 H / 17 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf (Bag. 6)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Tentang Hadits Todak ada I’tikaf selain di tiga masjid*

❣ *Bunyi hadits:*

لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة

“Tidak ada i’tikaf kecuali pada 3 masjid.” (HR. Ath Thahawi, Syarh Musykilul Atsar No. 2771. Al Baihaqi , 4/316) yaitu masjidil haram, masjid nabawi, dan masjidil aqsha

Syaikh Utsaimin mengatakan: hadits ini dhaif (lemah). (Syarhul Mumti’, 6/164).

Sementara Syaikh Al Albani mengatakan:

و هذا إسناد صحيح على شرط الشيخين

Isnad hadits ini shahih sesuai syarat syaikhain (Bukhari-Muslim). (As Silsilah Ash Shahihah No. 2786)

 Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu memaknai bahwa hadits di atas, hanya mengingkari kesempurnaan I’tikaf saja, tidak sampai mengingkari keabsahan I’tikaf di masjid lain.

 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud mentakwil demikian, Katanya:

لا اعتكاف كاملا ، كقوله صلى الله عليه وسلم : ” لا إيمان لمن لا أمانة له ، و لا دين لمن لا عهد له ” و الله أعلم

“I’tikafnya tidak sempurna, sebagaimana Sabdanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tidak ada iman bagi yang tidak menjaga amanah, dan tidak beragama bagi yang tidak menepati janji.” Wallahu A’lam (Ibid)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah juga memahami demikian, katanya:

إن صح هذا الحديث فالمراد به لا اعتكاف تام، أي أن الاعتكاف في هذه المساجد أتم وأفضل، من الاعتكاف في المساجد الأخرى، كما أن الصلاة فيها أفضل من الصلاة في المساجد الأخرى. ويدل على أنه عام في كل مسجد قوله تعالى: {{وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ}} [البقرة: 187] .فقوله تعالى: {{فِي الْمَسَاجِدِ}} (الـ) هنا للعموم….

Jika hadits ini shahih, maka maksudnya adalah I’tkafnya tidak sempurna, yaitu sesungguhnya I’tikaf di masjid-masjid ini adalah lebih sempurna dan afdhal dibanding I’tikaf di masjid lain sebagaimana shalat di dalamnya lebih afdhal dibanding shalat di masjid lain.

Hal yang menunjukkan bahwa ini berlaku untuk semua masjid adalah firmanNya: (Janganlah kalian mencampuri mereka sedangkan kalian I’tikaf di masjid-masjid), firman Allah fil Masajid (di masjid-masjid), Al (alif lam) di sini menunjukkan umum … (Ibid)

Beliau melanjutkan:

ثم كيف يكون هذا الحكم في كتاب الله للأمة من مشارق الأرض ومغاربها، ثم نقول: لا يصح إلا في المساجد الثلاثة؟! فهذا بعيد أن يكون حكم مذكور على سبيل العموم للأمة الإسلامية، ثم نقول: إن هذه العبادة لا تصح إلا في المساجد الثلاثة، كالطواف لا يصح إلا في المسجد الحرام. فالصواب أنه عام في كل مسجد، لكن لا شك أن الاعتكاف في المساجد الثلاثة أفضل، كما أن الصلاة في المساجد الثلاثة أفضل.

Lalu, bagaimana bisa hukum yang terdapat dalam kitabullah yang berlaku bagi umat di timur dan barat, lalu kita mengatakan kepada mereka: tidak sah kecuali di tiga masjid?

Ini adalah sangat jauh, jika hukum tersebut diterapkan secara umum bagi semua umat Islam. Kemudian kita mengatakan ibadah ini tidak sah kecuali di tiga masjid, seperti thawaf tidak sah kecuali di masjidil haram.

Yang benar adalah bahwa ini berlaku umum pada setiap masjid, tetapi tidak ragu lagi I’tikaf di tiga masjid tersebut lebih utama, sebagaimana shalat di dalamnya lebih utama. (Ibid)

Hanya saja Syaikh Utsaimin menegaskan, bahwa yang disebut masjid adalah yang di dalamnya ditegakkan shalat berjamaah dan shalat Jumat, jika tidak ada shalat Jumat, maka itu bukan masjid.

Dengan kata lain, beliau sebenarnya berada pada kelompok pertama, yaitu hanya membolehkan I’tikaf pada masjid jami’, hanya saja beliau tidak mengistilahkannya dengan masjid jami’

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Masih Mau Jadi Manusia Biasa Saja?

📆Selasa, 16 Ramadhan 1437H/ 21 Juni 2016
📒Shirah
📝
-Ustadz Wido Supraha
-TB Tedyansyah
📚Masih Mau Jadi Manusia Biasa Saja?
🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃
Setiap kali dalam kesempatan saya memberikan pelatihan atau seminar, saya selalu bertanya-tanya kepada setiap peserta dengan ajuan pertanyaan yang sederhana : ‘Maukah kita menjadi manusia-manusia yang biasa saja?’.
Jawaban dari sebagian peserta pelatihan saya pun beragam, ada yang dengan lantang menjawab tidak mau, ada yang diam bahkan ada yang hanya mengangguk-anggukan kepala yang saya pun tidak tahu apa yang ada didalam kepala peserta pelatihan saya tersebut.. hehehe..😀
❓Pertanyaan sederhana diatas memang mampu menggelitik benak setiap siapa pun yang mendengarnya tak terkecuali saya pribadi. Saya pun kadang merenung dan berfikir :
❓❓❓
* Kenapa ALLAH SWT menciptakan saya?
* Apa maksud ALLAH SWT meniupkan ruh kedalam jasad sewaktu berada dikandungan orang tua kita?
* Apa tujuan kita hidup di dunia?
* Mau kemana dan hendak seperti apa kita menjalani hidup di dunia ini?
* Apakah kita akan menjadi manusia-manusia biasa saja? Hanya sekedar lahir, besar, menikah, bekerja lalu mati?
* Apa yang akan dibanggakan dari diri kita?
* Apa hasil karya kita di dunia ini?
❓Ya pertanyaan-pertanyaan tersebut memang butuh perenungan yang mendalam untuk menemukan jawabannya.
Butuh waktu khusus untuk mengurai setiap pertanyaan tersebut dengan jawaban yang akan memuaskan diri kita.
❓Apakah kita akan menjadi orang-orang biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat dikenang atau dapat diceritakan oleh orang lain dari diri kita? Hasil karya apa yang akhirnya setiap orang mengapresiasinya? Kambali lagi kepada kita, kita lah yang memutuskan arah hidup kita.
👳Jika kita berkaca dari generasi-generasi hebat terdahulu, banyak orang-orang besar yang memutuskan bahwa hidup mereka tidak boleh disia-siakan. Hidup ini terlalu berarti jika dihabiskan hanya untuk kesenangan yang bersifat sementara dan tak abadi. Bahkan ‘kesadaran’ tersebut sudah mereka dapatkan semenjak mereka kecil, sebut saja kegigihan yang dijalani oleh Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu,Al-Quran dihafalkan, Hadits/Sunnah pun didalami yang akhirnya beliau menjadi seorang ulama besar.
👳Di generasi lain kita dapat melihat bagaimana hebatnya Muhammad Al-Fatih membentuk dirinya menjadi pejuang sedari muda.Waktu nya dihabiskan untuk menuntut ilmu dan menantang diri nya menjadi mujahid hebat yang akhirnya fakta sejarah bercerita bahwa beliau berhasil membebaskan Konstantinopel dari cengkraman bangsa Romawi.
📖Jika kita bercerita tentang orang-orang hebat tersebut, saya yakin tak akan habis berlembar-lembar kertas untuk menuliskan kisah hebat mereka.
Bagaimana orang-orang tersebut bisa menjadi manusia-manusia luar biasa?. Padahal secara fitrah mereka juga manusia biasa seperti kita yang hidup, menikah, belajar danbergaul dengan orang lain.
Saya pun mencoba mencari jawabannya, mudah-mudahan dengan sedikit tulisan ini, kita semua dapat mencontoh pribadi-pribadi hebat diatas dan mampu menjadi luar biasa,
Mau tau caranya??
Wait, kita tunggu sambungannya 😉🙏
🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
👆�Sebarkan! Raih pahala

Bagaimana Perhitungan Zakat Profesi???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ust. Rikza Maulana Lc.M.Ag

📆Kamis, 17 Juni 2016 M
                  12 Ramadhan 1437H

🌿🌺🍂🍀🌼 🍄🌷🍁🌹

Assalamuallaikum wr wb Ustadz,
Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% × gross income

Atau

B.  2.5%× gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.Jazakumullah khairan katsiran. 🅰0⃣8⃣
       
🌿 Jawabannya  

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                        

——————–

🌏Ustadzah Menjawab
✏Ustadzah Ida Faridah, S.Pd.I

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹

Assalaamu ‘alaikum wrwb…
Mohon materi pencerahan tentang zakat profesi.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..

[A13] ——

JAWABAN:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Zakat profesi termasuk zakat mal, yaitu al-mal al-mustafaad (kekayaan yg d peroleh oleh seorang muslim melalu bentuk usaha baru yang sesuai dengan syari’at islam). Adapun profesi baru yang d maksud adalah dokter, insinyur, dan pengacara. Para ulama sepakat bahwa harta pendapatan wajib di keluarkan zakatnya apabila mencapai batas nisab. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, dengan kadar zakat 2,5%

Dalam harta profesi ini, para ulama berbeda pendapat dalam hasil pendapatan.

✒Abu Hanifah mengatakan, harta pendapatan itu di keluarkan zakatnya apabila mencapai masa setahun penuh kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis. Untuk itu harta penghasilan di keluarkan pada permulaan tahun dengan syarat sudah mencapai batas nisab

✒Imam Malik berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan tidak di keluarkan sampai satu tahun penuh, baik harta itu sejenis dengan harta pemiliknya atau tidak sejenis.

✒Imam Syafe’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan itu di keluarkan bila mencapai waktu satu tahaun meskipun ia memiliki harta sejenis yang sudah cukup nisab.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🌼🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Zakat, Infaq, Dan Shadaqoh Bagaimana seharusnya???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ustadz Farid Nu’man

📆Rabu, 15 Juni 2016 M
                 11 Ramadhan 1437 H
🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Assalamu ‘alaikum wrwb..
Bagaimana seharusnya menurut syari’at tentang pembayaran infaq, sedekah dan zakat apakah setelah pemotongan kebutuhan tiap bulan atau disisihkan dl untuk infaq, sedekah dan zakat?
Member MANIS A23

🍃🍃Jawaban🌾🌾

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
📌 Sedekah dan Infaq ada sedikit perbedaan.

📌Sedekah itu ibadah harta dan non harta

📌 Utk yg harta, seperti ayat:
“khudz min amwaalihim shadaqatan – ambillah dr harta mereka sedekahnya (zakat) ..”

📌Dalam hadits Abu Daud, Ahmad, dll, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, “Beliau bertanya: ayyu shadaqah afdhal? – sedekah apa yang paling baik?, nabi menjawab: saqiyul maa’ – memberikan air.”

📌 untuk yg non harta, sebagaimana dalam beberapa hadits, misal

dlm Shahih Muslim:
“inna fi budh’i ahadikum shadaqah – dikemaluan kalian ada sedekah.”

 Atau dalam Shahih Bukhari:
“kalimatuth thayyibah shadaqah – perkataan yang baik adalah sedekah.”

📌 Sedangkan infaq adalah ibadah harta saja. Seperti ayat:
“wa mimma razaqnaahum yunfiquun – dan orang2 yang menginfakan apa yang Kami rezekikan …”

📌atau hadits doa malaikat:
“Allahumma a’thi munfiqan khalafa – Ya Allah, berikanlah ganti bagi org yg berinfaq.” (HR. Bukhari)

📌 Persamaannya adalah pada keduanya ada yang *WAJIB* dan *SUNNAH*.

📌 Yang Wajib seperti zakat dan belanja dari suami kepada istri, juga sedekah yg  dinadzarkan, kaffarat, dan semisalnya.

📌 yang Sunnah, seperti sedekah dan infaq kepada org yang sedang kesulitan, sumbangan membangun masjid, dll.

📌 mana yang di dahulukan? Maka yg wajib didahulukan dibanding yang sunnah

📌 Jika sama2 wajib, seperti zakat dan nafkah kpd keluarga, maka zakat didahulukan, sebab sedekah yang membawa manfaat pribadi dan org banyak secara bersamaan didahulukan dibanding sedekah yg bermanfaat utk diri sndiri. TAPI ini terjadi jika sudah *NISHAB dan HAUL*,  jika belum maka kebutuhan keluarga didahulukan.
Wallahu a’lam

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Ummu Qur'an – Al Fatihah

Sabti, 13 Ramadhan 1437H/ 18 Juni 2016
Al-qur’an
Ustadz Noorahmat
 _*Ummu Qur’an – Al Fatihah*_
=============================

Alhamdulillah kita bertemu kembali. Bagaimana shaum-nya? Semoga Allah Azza wa Jalla menerima shaum kita. Aamin.
Dari QS Al Fatihah….mari kita mulakan dengan Basmallah…

*بسم الله الرحمن الرحيم*
Ulama berbeda pendapat mengenai waktu turunnya Surah Al Fatihah. Namun mayoritas ulama menyepakati bahwa Al Fatihah termasuk surah yang _diturunkan di Makkah_ (Makkiyyah) dan tergolong kelompok surah yang pertama diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah SAW

Diantara dalil yang memastikan bahwa surah ini adalah Makkiyyah adalah firman Allah Azza wa Jalla dalam *QS Al Hijr ayat 87*

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًۭا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang Agung.

Abu Hurairah r.a berkata bahwa pada saat Ubay bin Ka’ab membacakan Ummul Qur’an (Al Fatihah) dihadapan Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW pun bersabda “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, Allah tidak menurunkan semisal surah ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an. Sesungguhnya surah ini adalah As-Sab’ul Matsani (tujuh kalimat pujian) dan Al Qur’an Al ‘Adzhim yang diberikan kepadaku”.

Maka mari kita mulai dengan basmallah…

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Adik-adik…

Dalam ayat ini, terdapat lafadz الله yang merupakan Nama-Nya yang paling agung dan mencakup semua sifat.

Terdapat pula kata الرحمن dan الرحيم yang merupakan dua kata sifat yang terbentuk dari kata رحمة (rahmah) yang berarti kasih sayang. Masing-masing dari keduanya memiliki penekanan tersendiri.

Kata الرحمن (Ar Rahmaan) berarti yang sangat besar Rahmah-Nya karena memiliki pola *fa’laan*, sebuah kata mubalaghoh yang maknanya menunjukkan _banyaknya dan besarnya sesuatu_.

Sedangkan kata الرحيم (Ar-Rahiim) berarti yang langgeng Rahmah-Nya….ajeg dan terus menerus tanpa pernah berakhir karena memiliki pola *fa’il*, sebuah bentuk kata mubalaghah yang menunjukkan kepada _sifat-sifat yang langgeng_.

Dalam hal ini, Al Khaththabi mengatakan bahwa _”Kata Ar Rahmaan berarti yang Rahmah-Nya meliputi semua makhluk terkait rezeki dan kebutuhan mereka baik mu’min maupun kafir. Sedangkan kata Ar Rahiim berarti yang Rahmah-Nya langgeng dan khusus bagi mu’min”_

Kenapa khusus bagi mu’min saja? Karena Allah Azza wa Jalla berfirman

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ *وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا*

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). *Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman*. [QS Al Ahzab 33:43]

Nah adik-adik…

Kalimat Basmallah ini merupakan pembuka dari Surah Al Fatihah yang merupakan Ummul Qur’an. Maka bisa kita sadari betapa luar biasanya posisi lafadz basmallah ini bagi kita. Maka, sebagai mu’min, basmallah itu haruslah selalu menjadi awal bagi kita setiap akan memulai semua aktifitas. Karena dengan membaca basmallah berarti kita menghadirkan Allah Azza wa Jalla dalam tiap aktifitas kita.

Jadi….
Ucapkanlah basmallah setiap kita akan memulai segala sesuatu ya…. 

Wallahua’lam.

Sampai bertemu kembali pekan depan untuk kelanjutan tafsir Al Fatihah-nya…

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

"Bila tdk bs menjadi pena yg menulis kebaikan. Maka jadilah penghapus yg akan menghilangkn keburukan"

Jumat, 12 Ramadhan 1437H/ 16 Juni 2016
Judul:
“Bila tdk bs menjadi pena yg menulis kebaikan. Maka jadilah penghapus yg akan menghilangkn keburukan”
By Ukasyah

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar semuanya semoga selalu dalam perlindungan Allah dan diberikan Rahmat oleh Allah pula….
Btw kata kata mutiara yang tertulis di atas garapan salah satu member manis lho….. 
berkarya itu memang bikin keren 
❓Sudah dapet materi tentang adab2 berinteraksi dengan guru belum?
Sudah dunk….
Kali ini kita coba bahas lebih dalam deh…terutama jika dikaitkan dengan berita belakangan ini yang menyebutkan bahwa ada beberapa murid yang melaporkan tindakan guru ke polisi…perlu sampe segitunya gak sih??!!!
Padahal bagaimanapun juga dari merekalah kita dapet ilmu,dari cucuran keringat merekalah kita bisa memperoleh ijazah…
Sudah tahu belum kerja guru bagaimana?
Sini sini…..dikasih gambaran bagaimana kerja guru. 
Mereka itu dipantau lhoo oleh Mendiknas bagaimana kinerjanya selama mengajar. Kemudian mereka harus melaporkan kegiatan siswa ke dinas pendidikan setempat. ✍Menjelang raportan mereka dengan sukarela mengisi raport kalian sampe malam…bahkan anak2 mereka sendiri terkadang harus di nomor duakan.
Kalau ada diantara kalian yang ortunya bekerja sbg guru atau dosen akan lebih paham tentang kondisi ini.

Mari kita pikir bersama tentang hal ini
❓Gak ada guru apa mungkin ada yang kasih ilmu?
❓Gak ada guru apa mungkin ijazah bisa keluar?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa tahu dunia?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa tahu berhitung,bahasa,alam sekitar dll?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa bermimpi sekolah favorit bahkan berkeliling ke luar negeri?
❓Gak ada guru apa mungkin sekolah berdiri di sekiling kita?
❓Apa yang terjadi jika tak ada Guru di dunia ini?
Haruskah kita mengedepankan emosi diri hanya karena kebencian sesuatu?
Think this!!樂樂樂樂
Ada saran nihh…buat kalian semua ketika bertemu dengan guru/dosen
Begini…..邏邏邏邏
1⃣ketika berbeda pendapat dengan guru cari waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan guru tersebut
2⃣jika guru menginginkan tindakan atau hal2 yang buruk bahkan melanggar syariat Islam… *Tolaklah dengan ucapan baik* contohnya:” maaf pak saya gak nyaman dengan itu”.
3⃣jika guru masih memaksa untuk *mengajak ke hal2 yang melanggar syariat islam* mintalah bala bantuan saudara,ortu atau pihak2 berwenang yang bisa melindungi diri.
4⃣senyum adalah ibadah bahkan termasuk shodaqoh,bertemu dengan guru dan tersenyum bisa menambah nilai kebaikan.
5⃣ada baiknya perlu menjaga diri bila bertemu dengan guru yang berlawan jenis..
Simak ayat berikut ini 
يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ   ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
(Luqman berkata),  “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
[QS. Luqman: Ayat 16]
Allah akan selalu membalas kebaikan kita,sekalipun itu keciiillll….kenapa Allah yang membalas❓❗ Karena hanya Allah yang tahu isi hati manusia dan adil dalam pembalasan…
Soo…..kita perlu berbuat baik kepada Guru/dosen bahkan siapapun yang ada di sekeliling kita..
Tapi ingat, berbuat BAIK pun harus tetap dgn pemahaman yang cukup dan kehati²an.
Jangan sampai kebaikan kamu malah jadi kesempatan buat oranglain berbuat jahat sama kamu.
Menjadi org baik bukan berarti mengikuti semua keinginan orang lain lho! Always think first before doing something.
So, be nice and good, but always smart and survive.
Wallahu alam
biswab…

Dipersembahkan oleh :
Www.manis-islam.com
✈ Sebarkan!  Raih pahala..

Fikih I’tikaf (Bag. 5)

📆 Kamis,  11 Ramadhan 1437 H / 16 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf (Bag. 5)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 _*I’tikaf Wajib di Masjid; Masjid yang bagaimanakah ?*_

 Di masjid adalah syarat sahnya I’tikaf sesuai petunjuk Al Quran Al Baqarah ayat 187, juga contoh dari sunah Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 Disebutkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَصِحُّ لِلرَّجُل أَنْ يَعْتَكِفَ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ } ، وَلأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْتَكِفْ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ .
وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَقَدْ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهَا كَالرَّجُل لاَ يَصِحُّ أَنْ تَعْتَكِفَ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ ، مَا عَدَا الْحَنَفِيَّةَ فَإِنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّهَا تَعْتَكِفُ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا لأَِنَّهُ هُوَ مَوْضِعُ صَلاَتِهَا ، وَلَوِ اعْتَكَفَتْ فِي مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ التَّنْزِيهِيَّةِ .

  “Fuqaha telah ijma’ bahwa tidak sah bagi laki-laki yang beri’itikaf kecuali di masjid, sesuai firmanNya Ta’ala: sedang kalian sedang   I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187), dan  karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak beri’tikaf kecuali di masjid.

  Ada pun wanita, jumhur ulama mengatakan bahwa mereka sama dengan laki-laki; tidak sah I’tikaf kecuali di masjid, kecuali menurut Hanafiyah, mereka mengatakan bahwa waita I’tikaf di masjid di rumahnya, karena di sanalah tempat shalat mereka, dan seandainya mereka I’tikaf   di masjid, boleh saja namun makruh tanzih (makruh yang mendekati boleh).” (Al Mausu’ah, 37/213)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah:

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى مَشْرُوطِيَّة الْمَسْجِدِ لِلِاعْتِكَافِ ، إِلَّا مُحَمَّدَ بْن عُمَر اِبْن لُبَابَةَ الْمَالِكِيَّ فَأَجَازَهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، وَأَجَازَ الْحَنَفِيَّةُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَعْتَكِفَ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا وَهُوَ الْمَكَان الْمُعَدُّ لِلصَّلَاةِ فِيهِ

“Ulama telah sepakat atas pensyaratan masjid untuk I’tikaf, kecuali Muhammad bin Umar bin Lubabah Al Maliki yang membolehkan di setiap tempat. Kalangan Hanafiyah membolehkan kaum wanita I’tikaf di masjid rumahnya, yaitu tempat yang dipersiapkan untuk shalat di dalamnya.” (Fathul Bari, 4/272. Darul Fikr)

Demikian kesepakatannya, ada pun adanya pendapat yang menyendiri yang bertabrakan dengan mainstream dalam hal ini, tidaklah dianggap. Namun walau mereka bersepakat tentang keharusan di masjid, mereka berselisih pendapat tentang jenis masjidnya.

Beliau melanjutkan:

وَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَة وَأَحْمَد إِلَى اِخْتِصَاصه بِالْمَسَاجِدِ الَّتِي تُقَام فِيهَا الصَّلَوَات ، وَخَصَّهُ أَبُو يُوسُف بِالْوَاجِبِ مِنْهُ وَأَمَّا النَّفْل فَفِي كُلّ مَسْجِد ، وَقَالَ الْجُمْهُور بِعُمُومِهِ مِنْ كُلّ مَسْجِد إِلَّا لِمَنْ تَلْزَمهُ الْجُمُعَةُ فَاسْتَحَبَّ لَهُ الشَّافِعِيّ فِي الْجَامِع ، وَشَرَطَهُ مَالِكٌ لِأَنَّ الِاعْتِكَافَ عِنْدهمَا يَنْقَطِعُ بِالْجُمُعَةِ ، وَيَجِبُ بِالشُّرُوعِ عِنْد مَالِك ، وَخَصَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَف كَالزُّهْرِيِّ بِالْجَامِعِ مُطْلَقًا وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيّ فِي الْقَدِيم ، وَخَصَّهُ حُذَيْفَةُ بْن الْيَمَانِ بِالْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَة ، وَعَطَاءٌ بِمَسْجِدِ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ وَابْنُ الْمُسَيِّبِ بِمَسْجِدِ الْمَدِينَةِ ، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ

“Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad  berpendapat dikhususnya I’tikaf hanya pada *masjid yang di dalamnya dilaksanakan berbagai shalat, Imam Abu Yusuf mengkhususkan pada shalat wajib saja, ada pun shalat sunah bisa di semua masjid. Mayoritas (jumhur) berpendapat sesuai keumumannya pada semua masjid, kecuali bagi orang yang juga sekalian shalat Jumat, maka kalangan Imam Asy Syafi’i menyunnahkan di masjid Jami’, ada pun Imam Malik mensyaratkan hal itu (Masjid Jami’) karena menurut mereka berdua, I’tikaf menjadi terputus karena shalat Jumat. Imam Malik mewajibkan hal itu (keberadaan di masjid Jami’) sejak permulaan I’tikaf. Sebagian salaf seperti Az Zuhri mengkhususkan masjid jami’ secara mutlak, hal itu juga diisyaratkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat lamanya.

Sedangkan Hudzaifah bin Yaman mengkhususkan di tiga masjid saja (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha), Atha’ mengkhususkan pada masjid di Mekkah dan Madinah, Said bin Al Musayyib mengkhususkan masjid di Madinah, dan mereka sepakat tidak ada batasan dalam hal banyaknya.” (Ibid)

Dari penjelasan Al Hafizh, kita bisa simpulkan, bahwa para fuqaha berselisih tentang jenis masjid yang boleh dilakukan i’tikaf di dalamnya:

1⃣.  Sahnya I’tikaf hanya di masjid yang di dalamnya dilakukan shalat yang lima dan shalat Jumat (Istilahnya: masjid jami’). Inilah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Abu Tsaur, Malik, dll

2⃣.  I’tikaf sah di lakukan di semua masjid, termasuk masjid yang tidak mendirikan shalat Jumat. (istilahnya: masjid ghairu Jami’ – surau), inilah pendapat, Syafi’i, Daud,   dll. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama).   Imam Bukhari juga mengikuti pendapat ini, beliau menulis dalam Shahihnya:

بَاب الِاعْتِكَافِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالِاعْتِكَافِ فِي الْمَسَاجِدِ كُلِّهَا

  Bab I’tikaf di 10 Hari terakhir dan I’tikaf Masjid-Masjid Seluruhnya. (lalu beliau mengutip Al Baqarah 187)

3⃣.  I’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Ini pendapat Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu ‘Ahu, ini yang nampak dari  pendapat Syaikh Al Albani Rahimahullah, dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 2786.

4⃣.  Hanya  masjid di Mekkah dan Madinah, apa pun masjid itu. Ini pendapat ‘Atha

5⃣  Hanya masjid di Madinah, apa pun masjid itu. Ini pendapat Sa’id bin Al Musayyib

Nampak bahwa pendapat jumhur adalah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnul Utsaimin pada pembahasan selanjutnya.

Bersambung

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

 Kamis, 11 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
Fiqih Ibadah
Ustadzah Suci Susanti S.SoS.I
 *BERBAKTI KEPADA ORANGTUA*
===================================

Assalammualaykum adik-adik…
Bagaimana puasanya ?
Jelang sepuluh hari pertama Ramadhan, semoga puasanya semakin semangat ya. Juga ibadah-ibadah lainnya seperti zikir, membaca alquran, mendalami ilmu agama, semoga terus meningkat. Aamiin…
Adik-adik, biasanya bulan puasa seperti ini yang paling sibuk di rumah siapa ? …. kalian atau ibu ? ayo… jawab yang jujur J biasanya yang sibuk banget adalah ibu.
Coba adik-adik perhatikan. Ketika seisi rumah terlelap, ibu sudah bangun untuk menyiapkan makanan sahur. Begitupun jelang berbuka puasa. Ketika yang lainnya sedang asyik menonton televisi, membaca, atau bermain bersama teman, ibu kembali sibuk di dapur untuk menyiapkan menu terbaiknya.
Belum lagi urusan-urusan rumah tangga lainnya. Seperti menjaga kebersihan rumah, menjaga anggota rumah dari serangan penyakit, merawat anggota rumah yang sakit, dan masih banyak lagi. Luar biasa ya pekerjaan seorang ibu.
Bagaimana dengan ayah ?
Peran seorang ayah ngga kalah besar dengan peran ibu. Jika seorang ibu menjaga rumah dan seisinya, maka tugas seorang ayah adalah menjamin seluruh anggota keluarga dalam keadaan baik.
Luar biasa ya adik-adik tugas orangtua kita. Nah, besarnya tugas ayah dan ibu sering kali tidak sebanding dengan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka.
Coba deh ingat-ingat lagi. Kapan kita tidak mau mendengar nasehat mereka ? tadi pagi jelang sahur ?… atau tadi pagi subuh ?… atau setelah dhuhur?
Saat dinasehati ayah ibu, seringkali kita berucap dalam hati ;
 Mama cerewet banget sih
Papa ngga ngerti anak jaman sekarang
Masa gitu aja ngga boleh, apa-apa dilarang
 Males deh kalau sering dimintain tolong sama mama
Dan masih banyak lagi… ayo… siapa yang sering dalam hatinya ngedumel saat dinasehatin atau dimintain tolong sama ayah ibu.
Dalam QS Luqman : 14, Allah swt berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
_”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”_
Mujahid berkata, “ Yang dimaksud dengan وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ adalah, _“Dalam keadaan penuh penderitaan saat mengandung sang anak.”_
Sedangkan Qatadah berkata, _“ Dalam keadaan kepayahan di atas kepayahan.”_
‘Atha’ al-Khusarani berkata, _“ Maksudnya, ‘Kelemahan di atas kelemahan.’”_
Sengaja, Allah menyebutkan perjuangan seorang ibu dalam mengurus anaknya. Penderitaan dan pengorbanan seorang ibu dalam melindungi anaknya di antaranya tidak bisa tidur dengan nyaman sepanjang siang dan malam, semata-mata agar seorang anak senantiasa mengingat jasa-jasa ibunya.
Adik-adik yang dicintai Allah swt, hak paling tinggi dan paling agung yaitu hak Allah swt untuk senantiasa diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatupun. Kemudian setelah itu hak sesama makhluk. Dan hak sesama makhluk yang paling utama adalah hak kedua orangtua. Oleh karena itu dalam QS Luqman : 14, Allah swt memadukan antara hak-Nya denga hak kedua orangtua.
Hadits tentang keuatamaan berbakti kepada orangtua pun begitu banyak. Salah satunya adalah ;

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

_“Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’._

Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).”_ (HR. Bukhari dan Muslim)
Ternyata luar biasa ya kedudukan orangtua. Setelah kita menunaikan hak Allah swt, maka kita harus menunaikan hak orangtua. Ngga ada yang lebih tinggi dari kedua hal tersebut. Bahkan jika ada panggilan jihad, sementara kita masih mempunyai orangtua, Rasulullah saw memerintahkan untuk menjaga orangtua. Dan ternyata amalan berbakti kepada orangtua merupakan amalan utama setelah shalat tepat waktu.
Adik-adik yang dirahmati Allah swt, mulai sekarang yuk kita berbakti kepada ayah ibu, abi ummi, ayah bunda. Dengarkan nasehat-nasehat mereka. Ikut perintah-perintah mereka, agar kita selamat dunia akhirat.
===================
Maraji : Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala