Ber jima Disiang Hari Saat Ramadhan, Bagaimana Hukumnya??

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“Ustadzah Ida Faridah
=================

๐Ÿ“†Rabu, 8 Juni 2016 M
                3 Ramadhan 1437 H
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Assalamu’alaikum Ustadz/ustadzah saya mau tanya. bilamana ada sepasang suami-istri yang baru menikah menjelang bulan ramadhan. kemudian karena alasan safar/perjalanan mereka tidak berpuasa dan dalam safar tersebut melakukan jimak di siang hari bulan ramadhan. bagaimana kah hukumnya. afwan. jazakumullah khoir.
๐ŸŒฟA14

===========
Jawaban

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Menurut jumhur ulama batalnya puasa yang mewajibkan qadha’ dan kifarat, hanyalah yang disebabkan bersetubuh disiang hari pada bulan ramadhan, hal ini berdasarkan hadist nabi yang berbunya:
_”Dari Abu Hurairah ra. Berkata: seorang lelaki datang kepada Nabi saw lalu berkata: “Celakalah sayan ya rasulullah!”. Kenapa kamu celaka?”tanya Rasul. Lai-laki itupun menjawa! “Saya telah bersetubuh dengan isteriku pada siang hari di bulan ramadhan!”. Rasul bertanya: Sanggupkah kamu memberi memerdekakan seorang budak? “Tidak! Jawab laki-laki itu. “Kuatkah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut? Tanya Rasul pula. “Tidak!” Jawabnya. “Sanggupkah kamu memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” tanya Rasul. Dan laki-laki itu pun tetap menjawab: “Tidak!” Kemudian ia pun duduk, maka datanglah Nabi saw membawa sebakul tamar lalu seraya berkata: “Sedekahkanlah kurma ini! “Kata beliau. “Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami? Padahal dikampung tidak ada satu keluargapun yang lebih melarat selain kami! “Kata laki-laki itu menerangkan. Dan Nabi saw pun tertawa sampai kelihatan gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Pulanglah, berikan kurma ini kepada keluargamu!”._

Dalam soal hukum syar’i, laki-laki muslim dan wanita muslimah mendapat porsi yang sama. Mereka sama-sama wajib membeyar kifarat, bila kedua-duanya sama-sama sengaja bersetubuh disiang hari pada bulan ramadhan, tanpa dipaksa oleh siapapun, sedang mereka berdua telah berniat puasa pada hari itu.

Dengan demikian, apabila persetubuhan itu terjadi karena lupa, atau karena dipaksa bukan karena kehendak sendiri, atau pada hari itu mereka memang tidak berniat puasa, maka *kifarat pun tidak wajib dilakukan*oleh siapapun, baik oleh lelaki maupun yang perempuan.

Dalam madzhab Maliki untuk menentukan apakah batalnya puasa itu disertai wajib kifarat atau tidak yakni melalui beberapa syarat, salah satunya: Batalnya itu disengaja. Akan tetapi kalau batalnya itu karena lupa, atau tidak sengaja, atau karena udzur seperti sakit atau bepergian, maka *yang wajib hanya qadha*.
Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala

Fiqih I’tikaf (Bag. 4)

๐Ÿ“† Rabu,  10 Ramadhan 1437 H / 15 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Fiqih I’tikaf (Bag. 4)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Bolehkah Iโ€™tikaf Selain Ramadhan dan Tanpa Puasa?*

Dalam hal ini terjadi khilafiyah, Syaikh Utsaimin berkata:

ูุงู„ุฐูŠ ูŠุธู‡ุฑ ู„ูŠ ุฃู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู„ูˆ ุงุนุชูƒู ููŠ ุบูŠุฑ ุฑู…ุถุงู†ุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡ ุจุฏู„ูŠู„ ุฃู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุฃุฐู† ู„ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ ุฃู† ูŠูˆููŠ ุจู†ุฐุฑู‡ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู‡ุฐุง ุงู„ู†ุฐุฑ ู…ูƒุฑูˆู‡ุงู‹ ุฃูˆ ุญุฑุงู…ุงู‹ุŒ ู„ู… ูŠุฃุฐู† ู„ู‡ ุจูˆูุงุก ู†ุฐุฑู‡ุŒ ู„ูƒู†ู†ุง ู„ุง ู†ุทู„ุจ ู…ู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุฃู† ูŠุนุชูƒู ููŠ ุฃูŠ ูˆู‚ุช ุดุงุกุŒ ุจู„ ู†ู‚ูˆู„ ุฎูŠุฑ ุงู„ู‡ุฏูŠ ู‡ุฏูŠ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…ุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ูŠุนู„ู… ุฃู† ููŠ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ููŠ ุบูŠุฑ ุฑู…ุถุงู†ุŒ ุจู„ ูˆููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู†ู‡ ุณู†ุฉ ูˆุฃุฌุฑุงู‹ ู„ุจูŠู†ู‡ ู„ู„ุฃู…ุฉ ุญุชู‰ ุชุนู…ู„ ุจู‡

โ€œYang nampak benar bagi saya, bahwa manusia jika iโ€™tikaf pada selain Ramadhan, hal itu tidaklah   diingkari berdasarkan dalil bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengizinkan Umar bin Al Khathab menepati nazarnya.

Seandainya nazar tesebut makruh atau haram, niscaya Beliau tidak akan mengizinkan memenuhi nazarnya. Tetapi, kami tidak menuntut setiap orang untuk beriโ€™tikaf pada bulan apa saja semaunya dia, bahkan kami katakan sebaiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam . Seandainya Rasul Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengajarkan Iโ€™tikaf selain Ramadhan, bahkan diluar 10 hari terakhir adalah sunah dan berpahala, niscaya Beliau akan menjelaskan kepada umat sehingga umat mengerjakannya.โ€ (Syarhul Mumtiโ€™, 6/164. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

    Hadits yang dimaksud oleh Syaikh Utsaimin, yakni Dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khatab berkata:

ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ู†ุฐุฑุช ููŠ ุงู„ุฌุงู‡ู„ูŠุฉ ุฃู† ุฃุนุชูƒู ู„ูŠู„ุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุญุฑุงู…. ูู‚ุงู„: ุฃูˆู ุจู†ุฐุฑูƒ

โ€œWahai Rasulullah, saya bernazar pada masa jahiliyah untuk iโ€™tikaf pada malam hari di masjidil haram.โ€ Beliau bersabda: โ€œPenuhi nazarmu.โ€ (HR. Bukhari No. 1927, 1937,1938)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ููู‰ ุฃู…ุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู‡ ุจุงู„ูˆูุงุก ุจุงู„ู†ุฐุฑ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู† ุงู„ุตูˆู… ู„ูŠุณ ุดุฑุทุง ููŠ ุตุญุฉ ุงู„ุงุนุชูƒุงูุŒ ุฅุฐ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ู„ูŠู„.

Maka, pada perintah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepadanya  (Umar) untuk memenuhi nazar, merupakan dalil bahwa berpuasa bukanlah syarat bagi sahnya iโ€™tikaf, mengingat bahwa tidak sahnya berpuasa malam hari. (Fiqhus Sunnah, 1/478)

Inilah pendapat Ali, Ibnu Masโ€™ud, Al Hasan Al Bashri, Asy Syafiโ€™i, dll. Sedangkan โ€˜Aisyah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Saโ€™id bin Al Musayyib,  Urwah bin Zubeir, Az Zuhri,  Al Auzaโ€™i, Malik, Abu Hanifah, menyatakan bahwa Iโ€™tikaf tidak sah tanpa berpuasa. (Ibid, 1/479)

Faktanya, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah Iโ€™tikaf pada bulan Syawwal, yaitu 10 hari terakhir bulan Syawwal, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahihnya:
ุจูŽุงุจ ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู ูููŠ ุดูŽูˆู‘ูŽุงู„ู

  Bab Iโ€™tkaf Pada Bulan Syawwal

Maka, pandangan yang lebih kuat adalah bahwa Iโ€™tikaf tetap sah dilakukan tanpa puasa dan sah pula di luar Ramadhan. Jika ditambah puasa maka itu afdhal.

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿ”นBersambung ๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih I’tikaf (Bag. 3)

๐Ÿ“† Selasa,  9 Ramadhan 1437 H / 14 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Fiqih I’tikaf (Bag. 3)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Iโ€™tikaf Kaum Wanita*

Dari โ€˜Aisyah Radiallahu โ€˜Anha:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽูˆูŽูู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู

๐Ÿ“ŒBahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam beriโ€™tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah, kemudian istri-istrinya pun Iโ€™tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Syaikh Al Albani Rahimahullah mengomentari hadits ini:

ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุงุนุชูƒุงู ุงู„ู†ุณุงุก ุฃูŠุถุง ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุฐู„ูƒ ู…ู‚ูŠุฏ ุจุฅุฐู† ุฃูˆู„ูŠุงุฆู‡ู† ุจุฐู„ูƒ ูˆุฃู…ู† ุงู„ูุชู†ุฉ ูˆุงู„ุฎู„ูˆุฉ ู…ุน ุงู„ุฑุฌุงู„ ู„ู„ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ูƒุซูŠุฑุฉ ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆุงู„ู‚ุงุนุฏุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ : ุฏุฑุก ุงู„ู…ูุงุณุฏ ู…ู‚ุฏู… ุนู„ู‰ ุฌู„ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ

๐Ÿ“ŒDalam hadits ini terdapat dalil bolehnya Iโ€™tikaf bagi wanita juga, dan tidak ragu bahwa kebolehan itu terikat dengan izin para walinya, atau aman dari fitnah, dan aman dari berduaan dengan laki-laki lantaran banyak dalil yang menunjukkan hal itu, juga kaidah fiqih: menolak kerusakan lebih diutamakan dibanding mengambil maslahat. (Qiyamur Ramadhan, Hal. 35. Cet. 2. Maktabah Islamiyah, โ€˜Amman. Jordan)

  Selain itu, hendaknya wanita Iโ€™tikaf di masjid yang memungkinkan dan kondusif bagi mereka.

 Berkata Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah:

ูˆุฅุฐุง ุงุนุชูƒูุช ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏุŒ ุงุณุชุญุจ ู„ู‡ุง ุฃู† ุชุณุชุชุฑ ุจุดูŠุกุ› ู„ุฃู† ุฃุฒูˆุงุฌ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุฃุฑุฏู† ุงู„ุงุนุชูƒุงู ุฃู…ุฑู† ุจุฃุจู†ูŠุชู‡ู†ุŒ ูุถุฑุจู† ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏุŒ ูˆู„ุฃู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูŠุญุถุฑู‡ ุงู„ุฑุฌุงู„ุŒ ูˆุฎูŠุฑ ู„ู‡ู… ูˆู„ู„ู†ุณุงุก ุฃู„ุง ูŠุฑูˆู†ู‡ู† ูˆู„ุง ูŠุฑูŠู†ู‡ู….

  ๐Ÿ“Œโ€œJika wanita Iโ€™tikaf di masjid, dianjurkan dia membuat penutup dengan sesuatu, karena para isteri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ketika hendak iโ€™tikaf, Beliau memerintahkan mereka untuk menjaga diri, lalu mereka mendirikan kemah di masjid, karena masjid dihadiri kaum laki-laki, dan itu lebih baik bagi mereka (kaum laki-laki) dan bagi wanita, sehingga kaum laki-laki   tidak melihat mereka dan sebaliknya.โ€ (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/125)

๐Ÿ“š *Keutamaannya*

  Tidak ada riwayat shahih yang mendefinitkan keutamaan Iโ€™tikaf secara khusus. Namun, adanya berita shahih bahwa nabi, para isterinya, dan para sahabat yang senantiasa melakukannya setiap Ramadhan menunjukkan keutamaan Iโ€™tikaf. Sebab, tidak mungkin mereka merutinkan amalan yang dianggap โ€˜biasa saja.โ€™

  Syaikh Sayyid Sabiq  Rahimahullah menulis sbb:

ู‚ุงู„ ุฃุจูˆุฏุงูˆุฏ: ู‚ู„ุช ู„ุงุญู…ุฏ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ุชุนุฑู ููŠ ูุถู„ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ุดูŠุฆุงุŸ ู‚ุงู„: ู„ุงุŒ ุฅู„ุง ุดูŠุฆุง ุถุนูŠูุง.

๐Ÿ“Œ  Berkata Abu Daud: Saya berkata kepada Ahmad Rahimahullah: โ€œApakah engkau mengatahui tentang keutamaan Iโ€™tikaf?โ€ Beliau berkata: โ€œTidak, kecuali suatu riwayat yang dhaif.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/475)

๐Ÿ“š *Syarat-Syarat Iโ€™tikaf*

ูˆูŠุดุชุฑุท ููŠ ุงู„ู…ุนุชูƒู ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู…ุณู„ู…ุงุŒ ู…ู…ูŠุฒุง ุทุงู‡ุฑุง ู…ู† ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ ูˆุงู„ุญูŠุถ ูˆุงู„ู†ูุงุณุŒ ูู„ุง ูŠุตุญ ู…ู† ูƒุงูุฑ ูˆู„ุง ุตุจูŠ ุบูŠุฑ ู…ู…ูŠุฒ ูˆู„ุงุฌู†ุจ ูˆู„ุงุญุงุฆุถ ูˆู„ุง ู†ูุณุงุก.

๐Ÿ“ŒSyarat bagi orang yang beriโ€™tikaf adalah: muslim, mumayyiz (sudah mampu membedakan salah benar, baik buruk), suci dari junub, haid, dan nifas, tidak sah jika kafir, anak-anak yang belum mumayyiz, junub, haid, dan nifas. (Fiqhus Sunnah, 1/477)

๐Ÿ“š *Rukun-Rukun Iโ€™tikaf*

Berikut ini keterangannya:

ุฃุฑูƒุงู†ู‡: ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ุงู„ู…ูƒุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุจู†ูŠุฉ ุงู„ุชู‚ุฑุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ุŒ ูู„ูˆ ู„ู… ูŠู‚ุน ุงู„ู…ูƒุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุฃูˆ ู„ู… ุชุญุฏุซ ู†ูŠุฉ ุงู„ุทุงุนุฉ ู„ุง ูŠู†ุนู‚ุฏ ุงู„ุงุนุชูƒุงู.

๐Ÿ“ŒRukun-rukunnya: hakikat dari Iโ€™tikaf adalah tinggal di masjid dengan niat taqarrub ilallah Taโ€™ala. Seandainya tidak menetap di masjid atau tidak ada niat melaksanakan ketaatan, maka tidak sah disebut iโ€™tikaf . (Ibid)

๐Ÿ”‘Jadi, ada dua rukun: niat untuk ibadah dan menetap di masjid.

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

SALMAN AL FARISI

Rabu, 10 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
๏“™Ustadzah Sumaryani, SE
๏“– *SALMAN AL FARISI*
=========================
๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…
Assalamualaikum Sahabat MFT yang Sholeh/h….
Tahukah sahabat Siapakah sosok *Salman Al Farisi* ???
Salman Al Farisi adalah contoh pemudah tangguh dan teguh dalam mencari kebenaran sejati….gigih dalam menggapai Hidayah dari Robbnya.
Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Salman al-Farisiradhiyallahu โ€˜anhu:
*ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ุซูู‘ุฑูŽูŠูŽู‘ุงุŒ ู„ูŽู†ูŽุงู„ูŽู‡ู ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุคูู„ูŽุงุกู*
*_โ€œSeandainya keimanan itu berada (jauh) di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari mereka ini telah meraihnya.โ€ Muttafaq โ€˜alaih_*
Banyak hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, sering kali mereka goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam.
Inilah Salman al-Farisi radhiyallahu โ€˜anhu, seorang sahabat yang mulia. Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam hidayah adalah bukti kebenaran iman.
Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu, beliau dikenal dengan nama aslinya, Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam.
Ayahnya adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat sang ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman menjalani hari-harinya  sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan oleh bangunan miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah gereja Nasrani. Salman kemudian masuk dan mendapati orang-orang Nasrani yang sedang beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari mereka, Salman mengetahui bahwa agama Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina dan sekitarnya).
Salman mengisahkan peristiwa itu dan mengungkapkan kekagumannya kepada ayahnya. Kekhawatiranpun meliputi diri sang ayah. Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan menahannya di rumah.
Namun inilah Salman Al Farisi, sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya. Saatnya mencari kebenaran yang selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri.
Suatu hari tersiar kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan yang tak disia siakan oleh Salman, ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke Syam, Salman melepaskan belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.
Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama di antara pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Salman tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang jelek perangainya. Dia memerintahkan orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah tersebut disimpannya untuk dirinya sendiri.
Tak lama, uskup itu pun mati. Salman memberitahukan perbuatan uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan menunjukkan kepada mereka simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Mereka pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya.
Kemudian ditunjuklah pengganti sang uskup tadi, dia adalah seorang yang tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun sebelumnya. Salman tinggal bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik tersebut didatangi tanda-tanda kematian.
Salman mendatanginya dan meminta wasiat untuk dirinya, kepada siapa ia harus pergi. Dia pun berpesan, โ€œWahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk, maka temuilah dia!โ€
Sepeninggalnya, Salman menemui orang yang disebutkan. Salman tinggal bersamanya dan mendapatinya sebagai sebaik-baik orang di atas agama temannya. Sampai ketika tanda-tanda kematian mendatanginya, Salman kembali meminta wasiat untuk dirinya. Senada dengan ucapan temannya yang terdahulu, lelaki baik ini mewasiatkan kepada Salman untuk menemui seorang lelaki di Nashibin (kota Nusaybin, Turki).
Singkat cerita, Salman mengalami kisah sebagaimana masa-masa di Maushil. Sampai dia mendapatkan petunjuk untuk menemui seorang di โ€˜Ammuriyyah (kota Amorium, Turki).
Sebagaimana sebelumnya, menjelang kematiannya, lelaki itu pun berpesan, โ€œWahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah Arab, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang berbatu hitam, di antaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah).โ€
Lelaki itu lalu melanjutkan, โ€œPada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi negeri tersebut, maka lakukanlah!โ€ Tak lama, lelaki itu pun meninggal.
Suatu hari di โ€˜Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman meminta mereka untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi dan kambing-kambing miliknya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil Qura, mereka justru menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak. Tinggallah Salman bersama Yahudi tersebut.
Allah Maha mengetahui kesungguhan hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi datang dan membeli Salman darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa mengetahuinya dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salman tinggal di Madinah.
Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak mengetahui hal ini sampai ketika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada suatu hari, Salman berada di atas pohon kurma, sementara tuannya sedang duduk. Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang datangnya seorang dari Mekkah di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang nabi. Mendengar cerita tersebut Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru membuat marah tuannya hingga memukulnya dengan keras.
Salman tak putus asa dan berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira nabi tersebut. Berbekal ciri-ciri yang dia ketahui, Salman beberapa kali mendatangi Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.
Pertama, Salman mendatangi beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dengan membawa sesuatu sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat memakannya, sementara beliau sendiri menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman.
Kedatangan kedua, Salman kembali membawa sesuatu. Kali ini dia menghadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu memakannya dan memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman.
Ketiga kalinya, Salman mendatangi Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika beliau sedang mengiringi jenazah seorang sahabat di pekuburan Baqiโ€™. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengenakan dua pakaian sejenis jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap kenabian di bagian punggung Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyadari hal ini, lalu melepaskan selendang dari punggung beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian itu.   Seketika itu dia tertelungkup di hadapan Rasululloh,lalu mencium beliau, dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam. Kesungguhannya dalam mencari kebenaran, mengantarkannya  kepada hidayah yang selama ini dia cari.
Setelah Salman masuk Islam,Salman masih dalam perbudakan, sehingga tidak mengikuti perang Badar dan Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, Salman berhasil membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak pernah terluput dari mengikuti peperangan bersama Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,serta peperangan di masa Khulafaโ€™ Rasyidin.
Pada peristiwa perang Khandaq tahun 5 H, Salman menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit besar sebagai strategi pertahanan kaum muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari upaya penyerangan pasukan gabungan musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu.
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Dardaโ€™ dengan Salman al-Farisi radhiyallahu โ€˜anhu. Mereka menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga mereka berdua terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing.
Abu Dardaโ€™ menjadi seorang Qadhi (hakim) di Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi gubernur di Madain, Irak. Suatu hari, Abu Dardaโ€™ mengirim surat untuk Salman, yang isinya, โ€œMarilah menuju bumi yang suci (Syam)โ€. Maka Salman membalas surat tersebut, โ€œSesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri seseorang. Hanyalah amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.โ€
Sebagian ulama menyebutkan adanya ijmaโ€™ (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau mencapai 250 tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang pendapat.
Setelah melalui perjalanan panjangnya, beliau wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada tahun 36 H. Beliau telah meninggalkan banyak pelajaran berharga bagi kaum muslimin. Semoga Allah meridhainya.
Sahabat MFT…..
Pelajaran/Ibroh yang bisa kita ambil adalah  perjuangan Salman Al Farisi

Radhiallahu’anhu dalam mencari hidayah dan kebenaran. Demikian
Juga usaha dari Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu untuk menjaga
hidayah tersebut. Kalau kita tidak mensyukuri hidayah yang telah ada, maka mungkin sekali Allah SWT akan mencabut hidayah itu. 
Sahabat MFT….Tugas kita yang paling utama adalah menjaga
hidayah ini dengan mempertebal bersemangat Tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu )
Wallahu aโ€™lam bish shawab.
———–
Maraji : Dari berbagai sumber
——————————-
๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๏“ฒSebarkan! Raih pahala…..

ALLAH TUJUAN KITA

๏“†Selasa, 10 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
๏“˜Akhlak
๏“Ustadz Farid Num’man Hasan, S.S
๏“–ALLAH TUJUAN KITA
=====================
๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ
Sikap dan perbuatan seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala adalah sebagai pancaran jiwa hamba yang taat, patuh, taqwa, dan pasrah karena sebuah kesadaran. Si muslim sangat yakin bahwa apa-apa yang dimilikinya semuanya semata-mata karena pemberian Allah Subhanahu wa Taโ€™ala.
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:
โ€œDan apa saja yang (dimiliki) olehmu berupa nikmat,
kesemuanya adalah pemberian Allahโ€
(QS. An-Nahl (16): 53)
โ€œDan jika kamu ingin menghitung-hitung nikmat Allah kepadamu,  niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnyaโ€  (QS. Ibrahim (14) : 34)
Sikap dan perbuatan seorang Muslim kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berlandaskan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Taโ€™ala yang menciptakan dirinya dan apa saja yang merupakan sarana hidupnya. Dan ia pun sangat yakin Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berkuasa untuk mencabut apa saja yang dimilikinya itu. Ia pun sadar bahwa Allah Subhanahu wa Taโ€™ala mengetahui bukan saja yang nyata tapi juga yang tersembunyi.
Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:
โ€œAllah mengetahui apa yang kamu sembunyikan
dan apa yang kamu nyatakanโ€
(QS. Al Baqarah (2): 77)
Setiap Muslim sadar bahwa tidak ada satupun perbuatannya di dunia baik yang kecil dan besar, kecuali akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala di akhirat kelak. Oleh sebab itu, seorang Muslim akan senantiasa bersikap sebagai seorang Muslim yang benar.
1.  Mengabdi hanya kepada Allah
Bertaqwa dan mengabdi hanya kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, tidak mempersekutukannya dengan apapun dalam bentuk apapun dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun.
โ€œDan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepadakuโ€.
(QS. Adzariyat (51): 56)
โ€œMereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karenanya dengan menjauhi kesesatan, dan (agar) mereka mendirikan sholat, dan memberikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurusโ€
(QS. Al Bayyinah (98): 5)
  Dahulu, pada masa Khalifah Umar bin Al Khathab Radhiallahu โ€˜Anhu ada pangima perang nan gagah berani, Khalid bin Walid Radhiallahu โ€˜Anhu, dia adalah panglima besar yang selalu memimpin berbagai peperangan dan selalu menang. Akhirnya banyak manusia yang memuji-muji dan sangat menyanjungnya.  Umar bin Al Khathab mengkhawatiri itu akan mengurangi keikhlasannya, maka Khalid bin Walid dicopot dari jabatannya sebagai panglima tertinggi dan diturunkan menjadi prajurit biasa.
  Orang-orang saat itu bertanya kepada Khalid bin Walid, kenapa dia mau begitu saja diturunkan menjadi prajurit biasa padahal dahulunya panglima tertinggi? Kenapa dia tidak protes atas keputusan itu?
  Khalid bin Walid menjawab: โ€œTidak apa-apa, karena aku berperang bukan untuk khalifah Umar, tetapi aku berperang untuk Tuhannya Khalifah Umar.โ€
2.  Tunduk dan Patuh hanya kepada Allah
Tunduk dan patuh kepada Allah Taโ€™ala merupakan suatu keharusan bagi setiap Muslim, karena ketentuan dan ketetapan Allah bersifat abadi. Tidak berubah sepanjang masa dan tidak bisa dirubah oleh siapapun. Berbeda dengan ketentuan dan ketetapan yang dibuat oleh manusia.
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman :
โ€œWahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah  dan Rasul๏€ญNya, dan janganlah kamu berpaling dari pada๏€ญNya  padahal kamu mendengarโ€
(QS. An Anfal (8): 20)
Dan bagi mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala akan dibalas dengan ganjaran pahala berupa hidup berdampingan di surga๏€ญNya bersama para Nabi, orang-orang yang benar (shidiq), orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang shalih.
Seorang Muslim dilarang untuk taat, takut, dan tunduk kepada makhluk melebihi taat, tunduk, dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala. Ketaatan kepada makhluk hanya dibolehkan apabila tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Taโ€™ala. Perintah Allah Subhanahu wa Taโ€™ala adalah di atas segala-galanya. Apabila Allah Subhanahu wa Taโ€™ala melarang kita berdusta, maka janganlah berdusta meskipun kita diperintah berdusta oleh orang tua kita, guru, kakak, teman, pejabat, atasan, bos, dan yang lain. Apabila Allah Subhanahu wa Taโ€™ala menyuruh kita sholat, maka shalatlah walaupun dilarang oleh orang lain.
Sabda Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam:
ู„ูŽุง ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ ูููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุทู‘ูŽุงุนูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู
โ€œTidak boleh taat  dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya  dalam hal yang maโ€™ruf (baik).โ€ (HR. Bukhari No. 4340, 7145 dan Muslim No. 1840)
Justru yang ada adalah takut bila tidak melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Taโ€™ala; tidak sholat lima waktu, tidak puasa, tidak berinfaq, tidak mengasihi anak-anak yatim, tidak memberi makan fakir miskin. Dan takut apabila melanggar larangan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala; dilarang untuk melawan orang tua, takut bila berdusta, takut bila berzina, takut bila mencuri, takut bila menyakiti sesama Muslim, takut bila tidak menutup aurat, takut bila berkelahi, takut bila menceritakan keburukan orang lain, dsb โ€ฆ
Jadi hanya Allah-lah yang berhak untuk ditakuti dan ditaati. Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:
_”Allah lah yang lebih berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang berimanโ€_
(QS. At Taubah (9): 13)
_”Sesungguhnya (yang pantas) memakmurkan masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat; dan tidak takut kepada yang lain kecuali hanya kepada Allahโ€_
(QS. At Taubah (9): 18)
3.  Bersyukur hanya kepada Allah
Bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, baik nikmat kesehatan, akal pikiran, maupun nikmat-nikmat lainnya yang sulit bagi manusia untuk menghitungnya.
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman :
_โ€œDan Tuhanmu telah memaklumkan kamu (bahwa) jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, apabila kamu tidak bersyukur, maka azab๏€ญKu itu sangat pedihโ€_ (QS. Ibrahim (14): 6 ๏€ญ 7)
4.  Ridha dan Ikhlas Menerima Keputusan Allah
Sesudah manusia berusaha, bekerja sungguh-sungguh dan bertawakal, maka ia dituntut untuk ikhlas dan ridha terhadap semua keputusan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala. Dia selalu siap menerima semua itu tanpa sedikit pun keberatan di dalam hatinya. Apalagi berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala . Yang dia rasakan adalah bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala apapun bentuknya, itu adalah yang terbaik baginya.
Orang yang tidak ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, sama saja menuduh Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berbuat tidak adil. Padahal Allah lah zat yang Maha Adil.  Keadilan Allah  Subhanahu wa Taโ€™ala tidak pilih kasih, tidak pandang bulu. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala memberikan rasa keadilan kepada semua orang tanpa kecuali. Keikhlasan ini senantiasa dituntut oleh Allah kepada setiap Muslim. Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala  :
_โ€œDan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasul๏€ญNya berikan kepada mereka . . ._
(QS. At Taubah (9) : 59)
_”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi. Yaitu masuklah di dalam golongan hamba-hamba๏€ญKu. Dan masuklah ke dalam syurga๏€ญKuโ€_
(QS. Al๏€ญFajr (89): 27 ๏€ญ 30)
5.  Selalu Berharap kepada Allah
Setiap manusia pasti punya keinginan dan cita-cita. Keinginan yang macam-macam dan banyak. Ingin memiliki masa depan yang cerah, ingin sekolah yang baik, ingin punya pekerjaan yang layak, dsb, dsb. Namun, ingatlah keinginan itu tidak mungkin tercapai hanya dengan mengandalkan usaha sendiri. Oleh sebab itu, gantungkanlah harapan, keinginan, dan cita-cita itu kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala saja. Manusia tidak boleh menggantungkan harapannya kepada sesama makhluk apalagi kepada benda-benda mati. Karena banyak juga orang-orang yang menggantungkan harapan, keinginan, dan cita-citanya kepada kuburan orang terkenal, paranormal, dan dukun, ramalan bintang, roh-roh halus, dsb. Hal ini disamping tidak masuk di akal juga akan terkena dosa paling besar yakni dosa syirik (menduakan Allah dengan makhluk).
Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:
โ€œBarang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (pertemuan) dengan Allah akan tiba. Dia Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahuiโ€
(Q.S Al๏€ญAnkabut (29) : 5)
Allah  Subhanahu wa Taโ€™ala  pun melarang kita berputus asa kepada๏€ญNya. Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:
โ€œJanganlah kamu putus asa kepada๏€ญKu, karena sesungguhnya tidaklah putus asa kepada Allah, kecuali orang-orang yang kafirโ€
(QS. Yusuf (12): 87)
โ€œJanganlah kamu berputus asa dari Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamuโ€
(QS. Az๏€ญZumar (39): 53)
6.  Berdoโ€™a (Memohon Pertolongan Allah)
Salah satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah  Taโ€™ala adalah berdoโ€™a kepadanya dan hanya kepadaNya. Kenapa Allah Taโ€™ala senang diminta oleh hamba๏€ญNya. Karena Allah Maha Kaya. Dialah pemiliki tunggal apa ayang ada di alam semesta beserta isinya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang miskin. Miskin segala-galanya. Kenapa ? Karena pada hakekatnya semua yang ada pada manusia sangat sedikit dibandingkan kekayaan alam semesta. Yang sedikit itupun bukan miliknya karena ketika datang ke dunia, manusia tidak membawa apa-apa, satu potong pakain pun tidak, bahkan dirinya sendiri adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala.
Oleh sebab itu, manusia yang tidak pernah berdoโ€™a adalah orang yang sombong, yang merasa kaya dan tidak butuh pertolongan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala.
Islam mengajarkan agar kita selalu berdoโ€™a sambil merendahkan diri kepada๏€ญNya. Firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:
โ€œDan apabila hamba-hamba๏€ญKu bertanya tentang Aku, katakanlah : bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan doโ€™a, orang yang berdoโ€™a kepada๏€ญKuโ€
(QS. Al๏€ญBaqarah (2): 186)
Berdoโ€™a kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala  diajarkan oleh Rasul Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam untuk kita baca di setiap kesempatan dan di mana saja. Berdoโ€™alah ketika hendak makan dan selesai makan, ketika hendak tidur dan bangun tidur, ketika belajar, ketika keluar rumah, dan naik kendaraan, ketika berpakaian, dan bercermin, dan ketika melakukan kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Agar doโ€™a dikabulkan seorang hamba diharapkan suci diri dan pakaian, dengan penuh harap, ikhlas, dengan suara perlahan-lahan dan dengan menyebut nama Allah yang Mulia (Asmaโ€™ul Husna).
7.   Menjadi pembela agamaNya
Seorang muslim yang baik, tentunya tidak ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Harus menjadi istimewa dibanding orang lain. Di antaranya adalah hendaknya dia menjadi muslim pejuang yang membela agama Allah Taโ€™ala yang diturunkanNya melalui risalah NabiNya yang mulia, Islam.
Membela agamaNya, bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari yang paling ringan sampai yang paling berat mengorbankan harta dan nyawa; seperti menyantuni kaum muslimin yang lemah, membela yang tertindas dan terusir, memberikan infaq untuk para pejuang, pendirian masjid, Islamic Center, menjadi pemikir dan penulis muslim yang handal, sampai ikut berjihad fi sabilillah di medan tempur.
Allah Taโ€™ala berfirman:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ู’ ุชูŽู†ู’ุตูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽู†ู’ุตูุฑู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูุซูŽุจู‘ูุชู’ ุฃูŽู‚ู’ุฏูŽุงู…ูŽูƒูู…ู’
Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan pendirian kalian. (QS. Muhammad: 7)
Wallahu Aโ€™lam
๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ๏ƒ๏ƒ๏Œบ
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๏“ฒSebarkan! Raih pahala….

Fiqih I’tikaf (Bag. 2)

๐Ÿ“† Senin,  8 Ramadhan 1437 H / 13 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹  *Fiqih I’tikaf (Bag. 2)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Hukumnya*

  Hukumnya adalah sunnah alias tidak wajib, kecuali Iโ€™tikaf karena nazar.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุฏ ูˆู‚ุน ุงู„ุฅุฌู…ุงุน ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจูˆุงุฌุจ ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฅู„ุง ููŠ ู…ุณุฌุฏ

๐Ÿ“ŒTelah terjadi ijmaโ€™ bahwa Iโ€™tikaf bukan kewajiban, dan bahwa dia tidak bisa dilaksanakan kecuali di masjid. (Fathul Qadir, 1/245)

Namun jika ada seorang yang bernazar untuk beriโ€™tikaf, maka wajib baginya beriโ€™tikaf.

  Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

ุงู„ุงุนุชูƒุงู ูŠู†ู‚ุณู… ุฅู„ู‰ ู…ุณู†ูˆู† ูˆุฅู„ู‰ ูˆุงุฌุจุŒ ูุงู„ู…ุณู†ูˆู† ู…ุง ุชุทูˆุน ุจู‡ ุงู„ู…ุณู„ู… ุชู‚ุฑุจุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุทู„ุจุง ู„ุซูˆุงุจู‡ุŒ ูˆุงู‚ุชุฏุงุก ุจุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆูŠุชุฃูƒุฏ ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุงูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ู„ู…ุง ุชู‚ุฏู…ุŒ ูˆุงู„ุงุนุชูƒุงู ุงู„ูˆุงุฌุจ ู…ุง ุฃูˆุฌุจู‡ ุงู„ู…ุฑุก ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ุŒ ุฅู…ุง ุจุงู„ู†ุฐุฑ ุงู„ู…ุทู„ู‚ุŒ ู…ุซู„ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„: ู„ู„ู‡ ุนู„ูŠ ุฃู† ุฃุนุชูƒู ูƒุฐุงุŒ ุฃูˆ ุจุงู„ู†ุฐุฑ ุงู„ู…ุนู„ู‚ ูƒู‚ูˆู„ู‡: ุฅู† ุดูุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุฑูŠุถูŠ ู„ุงุนุชูƒูู† ูƒุฐุง.
ูˆููŠ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: ” ู…ู† ู†ุฐุฑ ุฃู† ูŠุทูŠุน ุงู„ู„ู‡ ูู„ูŠุทุนู‡ “

๐Ÿ“Œ  Iโ€™tikaf terbagi menjadi dua bagian; sunah dan wajib. Iโ€™tikaf sunah adalah Iโ€™tikaf yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim dalam rangka taqarrub ilallahi (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka mencari pahalaNya dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Hal itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana penjelasan sebelumnya.

  Iโ€™tikaf wajib adalah apa-apa yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri, baik karena nazar secara mutlak, seperti perkataan: wajib atasku untuk beriโ€™tikaf sekian  karena Allah. Atau karena nazar yang muโ€™alaq (terkait dengan sesuatu), seperti perkataan: jika Allah menyembuhkan penyakitku saya akan Iโ€™tikaf sekian ..

  Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œBarang siapa yang bernazar untuk mentaati Allah maka taatilah (tunaikanlah).โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/475)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

FIQIH Iโ€™TIKAF (Bag. 1)

๐Ÿ“† Ahad,  7 Ramadhan 1437 H / 12 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *FIQIH Iโ€™TIKAF (Bag. 1)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Definisi*

๐Ÿ“• *Secara Bahasa (Lughah):*

I’tikaf adalah Al Mulaazim artinya  berdiam, membiasakan, menetapi (Lihat Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/244. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

ูŠู‚ุงู„ ุนูƒู ุนู„ู‰ ุงู„ุดูŠุก : ุฅุฐุง ู„ุงุฒู…ู‡

    Dikatakan, โ€˜akafa โ€˜ala Asy Syaiโ€™  (Dia menetap di atas sesuatu), artinya dia selalu bersamanya. (Ibid)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ุงู„ุงุนุชูƒุงู ู„ุฒูˆู… ุงู„ุดุฆ ูˆุญุจุณ ุงู„ู†ูุณ ุนู„ูŠู‡ุŒ ุฎูŠุฑุง ูƒุงู† ุฃู… ุดุฑุง

Iโ€™tikaf adalah menetapi sesuatu dan menutup  diri, dalam hal baik atau buruk . (Fiqhus Sunnah, 1/475)

๐Ÿ“• *Secara Istilah (Syaraโ€™)* :

 ูˆุงู„ุงุนุชูƒุงู ููŠ ุงู„ุดุฑุน : ู…ู„ุงุฒู…ุฉ ุทุงุนุฉ ู…ุฎุตูˆุตุฉ ุนู„ู‰ ุดุฑุท ู…ุฎุตูˆุต

Secara syaraโ€™: menetap dalam rangka taat secara khusus dengan syarat khusus pula. (Fathl Qadir, 1/245)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ุจู‡ ู‡ู†ุง ู„ุฒูˆู… ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุงู„ุงู‚ุงู…ุฉ ููŠู‡ ุจู†ูŠุฉ ุงู„ุชู‚ุฑุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„.

Yang dimaksud Iโ€™tikaf di sini adalah menetapi masjid dan menegakkan shalat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

๐Ÿ“• *Dasar Hukum*

๐ŸŒธ *Al Quran*

ูˆูŽู„ุง ุชูุจูŽุงุดูุฑููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนูŽุงูƒููููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู

Janganlah kalian    mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang   Iโ€™tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

๐ŸŒธ *As Sunnah*

Dari โ€˜Aisyah Radiallahu โ€˜Anha:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽูˆูŽูู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู

Bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam beriโ€™tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun Iโ€™tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู‚ูุจูุถูŽ ูููŠู‡ู ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง
Dahulu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam Iโ€™tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau Iโ€™tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Yaโ€™la No. 5843,  Abu Nuโ€™aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

๐ŸŒธ *Ijmaโ€™*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijmaโ€™ tentang  syariat Iโ€™tikaf:

ูˆู‚ุฏ ุฃุฌู…ุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ุดุฑูˆุนุŒ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุนุชูƒู ููŠ ูƒู„ ุฑู…ุถุงู† ุนุดุฑุฉ ุฃูŠุงู…ุŒ ูู„ู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุนุงู… ุงู„ุฐูŠ ู‚ุจุถ ููŠู‡ ุงุนุชูƒู ุนุดุฑูŠู† ูŠูˆู…ุง.

Ulama telah ijmaโ€™ bahwa Iโ€™tikaf adalah disyariatkan, Nabi  Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam beriโ€™tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 5)

๐Ÿ“† Sabtu,  6 Ramadhan 1437 H / 11 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 5)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

2โƒฃ8โƒฃ  *Doa ketika Lailatul Qadar*

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengajarkan doa khusus  untuk kita baca ketika Lailatul Qadar.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู…ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ููˆู„ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนููููˆู‘ูŒ ูƒูŽุฑููŠู…ูŒ ุชูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ููŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู‘ููŠ

  Dari โ€˜Aisyah dia berkata โ€œAku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?โ€ Beliau menjawab: โ€œUcapkanlah, โ€˜Allahumma innaka โ€˜afuwwun karim tuhibbul โ€˜afwa faโ€™fuโ€™anni.โ€

 (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jamiโ€™ No. 4423, dan lainnya)

2โƒฃ9โƒฃ  *Orang yang tidak berpuasa tanpa alasan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, secara marfuโ€™:

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุนูุฐู’ุฑู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุฑูŽุถู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ู’ุถูู‡ู ุตููŠูŽุงู…ู ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽู‡ู

Barang siapa yang  tidak berpuasa pada Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya. (HR. Bukhari No. 1934)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุนุฑู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…ุŒ ูˆู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฏูŠู† ุซู„ุงุซุฉุŒ ุนู„ูŠู‡ู† ุฃุณุณ ุงู„ุงุณู„ุงู…ุŒ ู…ู† ุชุฑูƒ ูˆุงุญุฏุฉ ู…ู†ู‡ู†ุŒ ูู‡ูˆ ุจู‡ุง ูƒุงูุฑ ุญู„ุงู„ ุงู„ุฏู…: ุดู‡ุงุฏุฉ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉุŒ ูˆุตูˆู… ุฑู…ุถุงู†
             
Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.โ€

(HR. Abu Yaโ€™ala No. 2349, Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul โ€˜Ummal No. 23, juga Ad Dailami dan dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfuโ€™kan kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majmaโ€™ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah. Tetapi didhaifkan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

ูˆุนู†ุฏ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ู…ู‚ุฑุฑ:  ุฃู† ู…ู† ุชุฑูƒ ุตูˆู… ุฑู…ุถุงู† ุจู„ุง ู…ุฑุถุŒ ุฃู†ู‡ ุดุฑ ู…ู† ุงู„ุฒุงู†ูŠุŒ ูˆู…ุฏู…ู† ุงู„ุฎู…ุฑุŒ ุจู„ ูŠุดูƒูˆู† ููŠ ุฅุณู„ุงู…ู‡ุŒ ูˆูŠุธู†ูˆู† ุจู‡ ุงู„ุฒู†ุฏู‚ุฉุŒ ูˆุงู„ุงู†ุญู„ุงู„.

โ€œBagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya.โ€ (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

3โƒฃ0โƒฃ  *Puasa adalah tameng dari Api Neraka*

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงูŽู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ุฌูู†ู‘ูŽุฉูŒ ูŠูŽุณู’ุชูŽุฌูู†ู‘ู ุจูู‡ูŽุง ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
“Puasa adalah tameng, orang berpuasa akan melindungi dirinya dari api neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya No. 14669)

Imam Al Haitsami mengatakan: isnadnya hasan. (Majma’ Az Zawaid, No. 5077)

Berkata Syaikh Syu’aib Al Arnauth:

ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ุจุทุฑู‚ู‡ ูˆุดูˆุงู‡ุฏู‡ ูˆู‡ุฐุง ุฅุณู†ุงุฏ ุญุณู†

 “Hadits shahih dengan berbagai jalur dan penguatnya. Isnad hadits ini hasan.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 14669, Jadi sanad hadits ini hasan, namun terangkat menjadi shahih karena banyaknya jalan. Demikian menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Syaikh Al Albani juga menghasankan hadits ini. Lihat Shahihul Jami’ No. 4308)
Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 4)

๐Ÿ“†Jumat,  5 Ramadhan 1437 H / 10 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 4)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

2โƒฃ6โƒฃ *Umrah ketika Ramadhan adalah sebanding pahalanya seperti haji bersama Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam*

Dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan:

ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุนูู…ู’ุฑูŽุฉู‹ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุชูŽู‚ู’ุถููŠ ุญูŽุฌู‘ูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุฌู‘ูŽุฉู‹ ู…ูŽุนููŠ

โ€œSesungguhnya Umrah ketika bulan Ramadhan sama dengan memunaikan haji atau haji bersamaku.โ€ (HR. Bukhari No. 1863, Muslim No. 1256)

2โƒฃ7โƒฃ *Tentang Lailatul Qadar*

Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู

โ€œMaka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.โ€ (HR. Bukhari    No.  1105)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูุฑููˆุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุงุทูŽุฃูŽุชู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู

โ€œSesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œSaya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.โ€ (HR. Bukhari No. 1911, 6590, Muslim No.1165  Ibnu Hibban No. 3675, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8327, Ibnu Khuzaimah No. 2182, Malik dalam Al Muwaththaโ€™ No. 697)

Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir? Tertulis penjelasannya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, sebagai berikut:

ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุจุฑ ูŠุญุชู…ู„ ู…ุนู†ูŠูŠู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูู…ู† ูƒุงู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุนู„ู… ุชูˆุงุทุฃ ุฑุคูŠุง ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃุฎูŠุฑ ููŠ ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู…ุฑู‡ู… ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูˆุงู„ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅู†ู…ุง ุฃู…ุฑู‡ู… ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ูˆุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ุฅุฐุง ุถุนููˆุง ูˆุนุฌุฒูˆุง ุนู† ุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ูƒู„ู‡

Berkata Abu Bakar: Khabar ini memiliki dua makna. Pertama, pada malam ke tujuh terakhir karena Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tatkala mengetahui adaya kesesuaian dengan mimpi sahabat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir pada tahun itu, maka beliau memerintahkan mereka pada tahun itu untuk mencarinya pada tujuh malam terakhir. Kedua, perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepada para sahabat untuk mencari pada tujuh malam terakhir dikaitkan jika mereka lemah dan tidak kuat mencarinya pada sepuluh hari semuanya. (Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2182)

Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ููŽุฅูู†ู’ ุถูŽุนูููŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุฌูŽุฒูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุบู’ู„ูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุจูŽูˆูŽุงู‚ููŠ

Bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.โ€ (HR. Muslim No. 1165, 209)

๐Ÿ“Œ Kemungkinan besar adalah pada malam ganjilnya

Kemungkinan lebih besar adalah Lailatul Qadr itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุฑููŠุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูุณู‘ููŠุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูููŠ ูˆูุชู’ุฑู

โ€œSeseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada m

alam ganjil.โ€ (HR. Bukhari No. 638, 1912,  1923)

Dalam riwayat lain:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽูˆู’ุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

โ€œDari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.โ€ (HR. Bukhari No. 1913)

Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.

๐Ÿ“Œ Malam ke 24,  25, 27 dan 29?

  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุงู„ุชู…ุณูˆุง ููŠ ุฃุฑุจุน ูˆุนุดุฑูŠู†

  โ€œCarilah pada malam ke 24.โ€ (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 1918)

Imam Bukhari juga meriwayatkan, dari โ€˜Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu โ€˜Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉู

  โ€œMaka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).โ€ (HR. Bukhari No. 49, 1919)

  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Kaโ€™ab Radhiallahu โ€˜Anhu:

ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทู’ู„ูุนูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูููŠ ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ุดูุนูŽุงุนูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง

โ€œDemi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.โ€ (HR. Muslim No. 762)

Bukan hanya Ubay bin Kaโ€™ab, tapi juga sahabat yang lain.  Salim meriwayatkan dari ayahnya Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฑูŽุฃูŽู‰ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽุงุทู’ู„ูุจููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

  โ€œSeorang laki-laki melihat Lailatul Qadr pada malam ke 27. Maka, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: Aku melihat mimpi kalian pada sepuluh malam terakhir, maka carilah pada malam ganjilnya.โ€ (HR. Muslim No. 1165)

  Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadr adalah pada malam ke 27. Namun, perselisihan tentang kepastiannya sangat banyak, sehingga bisa dikatakan bahwa jawaban terbaik dalam Kapan Pastinya  Lailatul Qadr  adalah wallahu aโ€™lam.

  Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงูุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑ ุงูุฎู’ุชูู„ูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง . ูˆูŽุชูŽุญูŽุตู‘ูŽู„ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุฐูŽุงู‡ูุจู‡ู…ู’ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง

  โ€œPara ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.โ€ (Fathul Bari, 4/262. Darul Fikr)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 3)

๏“† Kamis,  4 Ramadhan 1437 H / 9 Juni 2016 M

๏“š Fiqih dan Hadits

๏“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๏“‹ *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 3)*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏

 
2โƒฃ1โƒฃ *Terawih pada masa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: 8 rakaat dan witir 3 rakaat*

   Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, dia berkata:
ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฒููŠุฏู ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉ
          
โ€œBahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat shalat malam, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya.โ€  (HR. Bukhari No. 2013, 3569, Muslim No. 738)

                Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:

ุฌุงุก ุฃุจูŠ ุจู† ูƒุนุจ ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ุฅู† ูƒุงู† ู…ู†ูŠ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ุดูŠุก ูŠุนู†ูŠ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุŒ ู‚ุงู„ : ยซ ูˆู…ุง ุฐุงูƒ ูŠุง ุฃุจูŠ ุŸ ยป ุŒ ู‚ุงู„ : ู†ุณูˆุฉ ููŠ ุฏุงุฑูŠ ุŒ ู‚ู„ู† : ุฅู†ุง ู„ุง ู†ู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู†ุตู„ูŠ ุจุตู„ุงุชูƒ ุŒ ู‚ุงู„ : ูุตู„ูŠุช ุจู‡ู† ุซู…ุงู† ุฑูƒุนุงุช ุŒ ุซู… ุฃูˆุชุฑุช ุŒ ู‚ุงู„ : ููƒุงู† ุดุจู‡ ุงู„ุฑุถุง ูˆู„ู… ูŠู‚ู„ ุดูŠุฆุง
               
Ubay bin Kaโ€™ab datang kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan berkata: โ€œWahai Rasulullah, semalam ada peristiwa pada diri saya (yaitu pada bulan Ramadhan).โ€ Rasulullah bertanya: โ€œKejadian apa itu Ubay?โ€, Ubay menjawab: โ€œAda beberapa wanita di rumahku, mereka berkata: โ€œKami tidak membaca Al Quran, maka kami akan shalat bersamamu.โ€ Lalu Ubay berkata: โ€œLalu aku shalat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, lalu aku witir,โ€ lalu Ubay berkata:  โ€œNampaknya nabi ridha dan dia tidak mengatakan apa-apa.โ€  (HR. Abu Yaโ€™la dalam Musnadnya No. 1801. Ibnu Hibban No. 2550, Imam Al Haitsami mengatakan: sanadnya hasan. Lihat Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 74)

2โƒฃ2โƒฃ  *Terawih pada masa Sahabat:   20 rakaat dan witir 3 rakaat serta terawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat*

Pada masa sahabat, khususnya sejak masa khalifah Umar bin Al Khathab Radhilallahu โ€˜Anhu dan seterusnya, manusia saat itu melaksanakan shalat tarawih dua puluh rakaat.

ูˆุตุญ ุฃู† ุงู„ู†ุงุณ ูƒุงู†ูˆุง ูŠุตู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ุฑุฃูŠ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ุญู†ููŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูˆุฏุงูˆุฏุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ูˆุฃูƒุซุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ู…ุง ุฑูˆูŠ ุนู† ุนู…ุฑ ูˆุนู„ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุŒ ูˆู‚ุงู„: ู‡ูƒุฐุง ุฃุฏุฑูƒุช ุงู„ู†ุงุณ ุจู…ูƒุฉ ูŠุตู„ูˆู† ุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉ

โ€œDan telah shahih, bahwa manusia shalat pada masa Umar, Utsman, dan Ali sebanyak 20 rakaat, dan itulah pendapat jumhur (mayoritas) ahli fiqih dari kalangan Hanafi, Hambali, dan Daud. Berkata At Tirmidzi: โ€˜Kebanyakan ulama berpendapat seperti yang diriwayatkan dari Umar dan Ali, dan selain keduanya dari kalangan sahabat nabi yakni sebanyak 20 rakaat. Itulah pendapat Ats Tsauri, Ibnul Mubarak. Berkata Asy Syafiโ€™i: โ€œDemikianlah, aku melihat manusia di Mekkah mereka shalat 20 rakaat.โ€ (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/206

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah menyebutkan:
               
ูˆูŽุนูŽู†ู’ ูŠูŽุฒููŠุฏ ุจู’ู† ุฑููˆู…ูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ูููŠ ุฒูŽู…ูŽุงู†ู ุนูู…ูŽุฑ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ” ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุจู’ู† ู†ูŽุตู’ุฑ ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ ุนูŽุทูŽุงุก ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู‡ู…ู’ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ูŠูุตูŽู„ูู‘ูˆู†ูŽ ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉ ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑ “
         
  โ€œDari Yazid bin Ruman, dia berkata: โ€œDahulu manusia pada zaman Umar melakukan  23 rakaat.โ€ Dan Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Athaโ€™, dia berkata: โ€œAku berjumpa dengan mereka pada bulan Ramadhan, mereka shalat 20 rakaat dan tiga rakaat witir.โ€ (Fathul Bari, 4/253)

Beliau melanjutkan:

ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏ ุงูุจู’ู† ู†ูŽุตู’ุฑ ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุจู’ู† ู‚ูŽูŠู’ุณ ู‚ูŽุงู„ูŽ ” ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุช ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูููŠ ุฅูู…ูŽุงุฑูŽุฉ ุฃูŽุจูŽุงู†ูŽ ุจู’ู† ุนูุซู’ู…ูŽุงู† ูˆูŽุนูู…ู’ุฑ ุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒ – ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู – ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ุจูุณูุชูู‘ ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ูˆูŽูŠููˆุชูุฑููˆู†ูŽ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ” ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏููŠู…ู ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง . ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงู„ุฒูŽู‘ุนู’ููŽุฑูŽุงู†ููŠูู‘ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ุงููุนููŠูู‘ ” ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุช ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ ูŠูŽู‚ููˆู…ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุจูุชูุณู’ุนู ูˆูŽุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ูˆูŽุจูู…ูŽูƒูŽู‘ุฉ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุก ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุถููŠู‚ูŒ “

Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari jalur Daud bin Qais, dia berkata: โ€œAku menjumpai manusia pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz โ€“yakni di Madinah- mereka shalat 39 rakaat dan ditambah witir tiga rakaat.โ€ Imam Malik berkata,โ€Menurut saya itu adalah perkara yang sudah lama.โ€ Dari Az Zaโ€™farani, dari Asy Syafiโ€™i: โ€œAku melihat manusia shalat di Madinah 39 rakaat, dan 23 di Mekkah, dan ini adalah masalah yang lapang.โ€ (Ibid)

2โƒฃ3โƒฃ *Orang yang sia-sia puasanya*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ุตูŽุงุฆูู…ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุตููŠูŽุงู…ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุฌููˆุนู
Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja. (HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)

Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: hasan. (Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 9685), Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: hadits ini shahih. (Sunan Ad Darimi No. 2720. Cet. 1, 1407H. Darul Kitab Al โ€˜Arabi, Beirut)

2โƒฃ4โƒฃ *Boleh mencium isteri jika mampu menahan diri*

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu โ€˜Anhu:
ุนู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุดูŽุดู’ุชู ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ุตูŽู†ูŽุนู’ุชู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ู„ูŽูˆู’ ุชูŽู…ูŽุถู’ู…ูŽุถู’ุชูŽ ุจูู…ูŽุงุกู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽูููŠู…ูŽ
Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, saya berkata: โ€œHari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa.โ€ Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œApa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?โ€, Saya (Umar) menjawab: โ€œTidak mengapa.โ€ Maka Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œLalu, kenapa masih ditanya?โ€ (HR. Ahmad,  No. 138, 372. Al Hakim, Al Mustadrak No. 1572,   Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 7808, 8044. Ibnu Khuzaimah No. 1999)
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim. (Al Mustadrak โ€˜Alash Shahihain No. 1572).  Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 138). Syaikh Al Aโ€™zhami (Tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah No. 1999)
Hadits di atas menerangkan bahwa mencium isteri dan berkumur-kumur hukumnya sama yakni boleh, kecuali berlebihan hingga bersyahwat, apalagi mengeluarkan air mani.
Dari Abu Salamah,  bahwa   โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha berkata:
ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠู‚ุจู„ ุจุนุถ ู†ุณุงุฆู‡ ูˆู‡ูˆ ุตุงุฆู…. ู‚ู„ุช ู„ุนุงุฆุดุฉ: ููŠ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ูˆุงู„ุชุทูˆุนุŸ ู‚ุงู„ุช ุนุงุฆุดุฉ: ููŠ ูƒู„ ุฐู„ูƒุŒ ููŠ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ูˆุงู„ุชุทูˆุน
โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mencium sebagian isterinya  dan dia sedang puasa.โ€ dan aku juga berpuasa.โ€ Aku (Abu Salamah) berkata kepada โ€˜Aisyah: โ€œApakah pada puasa wajib atau sunah?โ€ Beliau menjawab: โ€œPada semuanya, baik puasa wajib dan sunah.โ€ (HR.  Ibnu Hibban No. 3545)
Syaikh  Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œHadits ini shahih.โ€ (Shahih Ibnu Hibban bitartib Ibni Balban, No. 3545)

2โƒฃ5โƒฃ *Berpuasa ketika safar; diberikan pilihan antara tetap berpuasa atau berbuka, tergantung kekuatan orangnya*

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡: ุฃุฌุฏ ุจูŠ ู‚ูˆุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ุณูุฑ. ูู‡ู„ ุนู„ูŠ ุฌู†ุงุญ ุŸุŒ ูู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: “ู‡ูŠ ุฑุฎุตุฉ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ูู…ู† ุฃุฎุฐ ุจู‡ุง ูุญุณู†. ูˆู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุตูˆู… ูู„ุง ุฌู†ุงุญ ุนู„ูŠู‡”.

โ€œWahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya?โ€ Maka Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menjawab: โ€œItu adalah rukhshah (keringanan) dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya.โ€ (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no.  7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฎุฑุฌ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุฉ ุนุงู… ุงู„ูุชุญ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ูุตุงู… ุญุชู‰ ุจู„ุบ ูƒุฑุงุน ุงู„ุบู…ูŠู… ูุตุงู… ุงู„ู†ุงุณ ู…ุนู‡ ูู‚ูŠู„ ู„ู‡ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅู† ุงู„ู†ุงุณ ู‚ุฏ ุดู‚ ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุตูŠุงู… ูุฏุนุง ุจู‚ุฏุญ ู…ู† ู…ุงุก ุจุนุฏ ุงู„ุนุตุฑ ูุดุฑุจ ูˆุงู„ู†ุงุณ ูŠู†ุธุฑูˆู† ูุฃูุทุฑ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ูˆุตุงู… ุจุนุถ ูุจู„ุบู‡ ุฃู† ู†ุงุณุง ุตุงู…ูˆุง ูู‚ุงู„ ุฃูˆู„ุฆูƒ ุงู„ุนุตุงุฉ

โ€œBahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: โ€œWahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa.โ€ Kemudian Beliau meminta segelas air  setelah asar,  lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya  bahwa ada orang   yang masih puasa.โ€   Maka Beliau bersabda: โ€œMereka  durhaka.โ€  (HR. Muslim No. 1114.  Ibnu Hibban No. 2706, An Nasaโ€™i No. 2263. At Tirmidzi No. 710.  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

Bahkan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan dia kesusahan karenanya.

ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุณูุฑู‡. ูุฑุฃู‰ ุฑุฌู„ุง ู‚ุฏ ุงุฌุชู…ุน ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ูŠู‡. ูˆู‚ุฏ ุถู„ู„ ุนู„ูŠู‡. ูู‚ุงู„: “ู…ุงู„ู‡ ุŸ” ู‚ุงู„ูˆุง: ุฑุฌู„ ุตุงุฆู…. ูู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: “ู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ุจุฑ ุฃู† ุชุตูˆู…ูˆุง ููŠ ุงู„ุณูุฑ”.

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: โ€œKenapa dia?โ€ Mereka menjawab: โ€œSeseorang yang puasa.โ€ Maka Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œTidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar.โ€ (HR. Muslim No. 1115)

Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Jaโ€™a fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Hadits Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:

ุจุงุจ ุฐูƒุฑ ุฎุจุฑ ุฑูˆูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุชุณู…ูŠุฉ ุงู„ุตูˆู… ููŠ ุงู„ุณูุฑ ุนุตุงุฉ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฐูƒุฑ ุงู„ุนู„ุฉ ุงู„ุชูŠ ุฃุณู…ุงู‡ู… ุจู‡ุฐุง ุงู„ุงุณู… ุชูˆู‡ู… ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฃู† ุงู„ุตูˆู… ููŠ ุงู„ุณูุฑ ุบูŠุฑ ุฌุงุฆุฒ ู„ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุจุฑ

โ€œBab tentang khabar dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tentang penamaan berpuasa saat safar adalah DURHAKA tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah TIDAK BOLEH karena hadits ini.โ€

  Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah  bin Amru Al Aslami Radhiallahu โ€˜Anhu di atas.

Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ู„ุง ุชุนุจ ุนู„ู‰ ู…ู† ุตุงู… ูˆู„ุง ู…ู† ุฃูุทุฑ. ู‚ุฏ ุตุงู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ููŠ ุงู„ุณูุฑุŒ ูˆุฃูุทุฑ.
 

  โ€œTidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.โ€ (HR. Muslim No. 1113)

Dari Ibnu Abbas juga:

ุณุงูุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฑู…ุถุงู†. ูุตุงู… ุญุชู‰ ุจู„ุบ ุนุณูุงู†. ุซู… ุฏุนุง ุจุฅู†ุก ููŠู‡ ุดุฑุงุจ. ูุดุฑุจู‡ ู†ู‡ุงุฑุง. ู„ูŠุฑุงู‡ ุงู„ู†ุงุณ. ุซู… ุฃูุทุฑ. ุญุชู‰ ุฏุฎู„ ู…ูƒุฉ .ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง: ูุตุงู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฃูุทุฑ. ูู…ู† ุดุงุก ุตุงู…ุŒ ูˆู…ู† ุดุงุก ุฃูุทุฑ.

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai โ€˜Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah.โ€ Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma berkata: โ€œMaka Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka.โ€ (Ibid)

Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar  bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu Aโ€™lam

๏”ธBersambung ๏”ธ

๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…