Ibadah dalam islam II

16 Syawal 1437 H/  21 Juli 2016
 *Fiqih Ibadah*
 Suci Susanti S.SoS.I
 *Ibadah Dalam Islam II*
===========================

Assalammualaykum adik-adik MANIS 4 teen..
Gimana kabarnya ?
Gimana puasanya kemarin ?
Semoga Allah swt menerima amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ya… aamiin.
Adik-adik yang dirahmati Allah swt, kita sebagai muslim harus bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menikmati bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan pembelajaran, bulan latihan, bulan “penggemblengan” , agar kita semua menjadi umat yang bertakwa.
Sebulan penuh kita semua berusaha mengikuti perintah Allah swt. Sehingga hal itu menimbulkan banyak hikmah. Di antara hikmah tersebut ada 3 hikmah yang utama dari bulan Ramadhan.
1.       Hikmah ketaatan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
_”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”_ (QS. Al Baqarah: 183)
Dalam firman Allah swt di atas sangat jelas bahwa puasa membuat kita menjadi bertakwa. Salah satu indikator ketakwaan yaitu taat dan patuh pada perintah-Nya. Contoh ; ketika berpuasa, kita merasa takut jika hendak berbohong karena kita paham bahwa berbohong dilarang Allah swt dan menimbulkan dosa jika kita melakukannya. Jika pun berbohong, kita akan merasa bersalah setelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan meningkatkan ketaatan kita pada Allah swt.
2.       Hikmah kesabaran
Di bulan Ramadhan kita dituntut untuk sabar. Sabar dalam menahan lapar dan haus selama lebih kurang 12 jam. Sabar dalam menahan amarah padahal kita mampu untuk marah. Sabar ketika melihat orang lain makan di depan kita.
Orang-orang yang sabar dalam ketaatan adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang keimanannya benar, karena mereka telah mewujudkan keimanan hati melalui ucapan dan perbuatan . Seperti yang di firmankan Allah swt :
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
_Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”_. [Al-Baqarah : 177]
3.       Hikmah kekonsistenan
Dalam bahasa Arab, konsisten sering diartikan sebagai istiqomah. Di bulan Ramadhan, kita sangat konsisten terutama pada waktu sahur dan berbuka. Terutama pada saat berbuka, jarang sekali yang mengulur-ngulur waktu berbuka. Kalau bisa satu jam sebelum berbuka sudah duduk di depan meja makan.
Istiqomah adalah keteguhan dan kemenangan di medan pertempuran (dalam hal ini puasa Ramadhan) antara ketaatan dan hawa nafsu. Teguh dalam memegang prinsip. Teguh dalam ketaatan walau terasa berat. Seperti sabda Rasulullah saw ;
نْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : _”Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.”_
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972), ad-Dârimi (II/298), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 6396, 6397, 6398), ath-Thayâlisi (no. 1327), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 21-22), Ibnu Abid Dun-ya dalam ash-Shamt (no. 7), al-Hâkim (IV/313), Ibnu Hibbân (no. 938, 5668, 5669, 5670, 5672-at-Ta’lîqâtul Hisân), al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 4572, 4574, 4575), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 16).
Nah adik-adik MANIS 4 teen, semoga pembelajaran yang diberikan Allah swt selama satu bulan kepada kita, dapat menjadi kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Dan bahwa ketaatan kepada Allah swt berlaku seterusnya, bukan pada bulan Ramadhan saja. Tapi pada bulan-bulan selanjutnya.
Aamiin yaa Rabbalalamin…
============
Maroji :
Shahih tafsir Ibnu Katsir
Al-Wafi, Syarah Kitab Arba’in

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

PENTINGNYA MA'RIFATULLAH (MENGENAL ALLAH) – Lanjutan

📆Rabu, 15 Syawal 1437H/ 20 Juli 2016
📖 Aqidah
🌸 Ustadzah Prima Eyza
📚PENTINGNYA MA’RIFATULLAH (MENGENAL ALLAH) – Lanjutan
🍓🍇🍓🍇🍓🍇🍓🍇🍓🍇
💖Bagaimana kabarnya, adik-adik sholeh-sholihah.??
Semoga tidak ada kata terlambat ya…, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan bathin, taqobbalallaahu minna wa minkum…
Semoga Allah SWT menerima semua amalan saya dan adik-adik semuanya…
aamiiiin…🙏
💖Kali ini mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita sebelumnya tentang pentingnya mengenal Allah SWT.
Pada kesempatan yang lalu, kita telah selesai membahas alasan pertama dan kedua yang menyebabkan ma’rifah (pengenalan/pemahaman) kita tentang Allah itu penting sekali, yakni dikarenakan, pertama, tema yang dibicarakan/dipelajari dalam Ma’rifatullaah itu adalah Allah, Tuhan semesta alam. Kedua, karena perintah mengenal Allah berdasarkan pada dalil-dalil yang kuat.
3⃣ Sekarang kita masuk alasan yang ke-3, mengapa perkara mengenal Allah itu menjadi sangat penting sekali, yakni dikarenakan:
3. Buah/hasil dari pengenalan kepada Allah adalah meningkatkan iman dan taqwa.
Apabila manusia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, mentadaburi dalil-dalil yang dalam, maka iman kepada Allah akan kuat dan senantiasa meningkat. Setiap ayat-ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah akan selalu menjadi bahan berfikir sehingga menjadi penambah keimanan serta ketaqwaan.
Keimanan dan taqwa kepada Allah adalah pangkal penentu bagi segala kebaikan, baik di dunia mapun di akhirat. Karena iman dan taqwa itu sendiri membuahkan banyak prinsip-prinsip kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
🍇Diantara buah-buah yg didapatkan di dunia dari meningkatnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah:
a. الطُّمَأْ نِيْنَةُ  🍓(Ketenangan)
Mengenal dan mengingat Allah adalah kunci ketenangan.
Firman Allah dalam Al Quran:
أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”  (QS Ar Ra’d [13] : 28)
Maka manusia, semakin tidak ingat kepada Allah akan semakin tidak tenang.
b. الْأَمْنُ 
🍓(Rasa aman)
Firman Allah:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam [6] : 82)
c. الْحُرِّيَّةُ
🍓 (Kebebasan/kemerdekaan yang hakiki)
Kebebasan hakiki terjadi jika tidak ada belenggu-belenggu selain Allah yang mengikat diri kita.
Itulah kenapa Islam memaknai kemerdekaan itu dengan :

تَحْرِيْرُالنَّاسِ مِنْ عِبَادَةِ الْمَخْلُوْقِ
إِلٰى عِبَادَةِ اللهِ وَحْدَهُ

“Membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluq, kepada penyembahan kepada Allah semata.”
Kebebasan hakiki = hanya terikat kepada Allah saja.
Selain ikatan kepada Allah = akan membelenggu manusia.
  → harta, tahta, hawa nafsu, dll.
Firman Allah:
“…Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku…” (QS. Al Baqarah [2] : 150)
“Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorangpun selain Allah.  Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al Ahzab [33] : 39)
d. الْبَرَكَاتُ
🍓 (Keberkahan)
Keberkahan = sustainable; value added; manfaat yang besar.
Bagi orang-orang beriman dan bertaqwa, Allah melimpahkan keberkahan dari langit dan dari bumi.
Keberkahan dari langit, misalnya:  turunnya hujan; dikabulkannya doa, dll.
Keberkahan dari bumi, misalnya: tumbuhan; dicukupkan segala keperluan, dll.
Firman Allah:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf [7] : 96)
e. الْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ 
🍓(Kehidupan yang baik)
Firman Allah:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16] : 97)
🍲Diantara bentuk kehidupan baik adalah rizqi yang baik dan halal, makanan dan pakaian yang halal, dikaruniai sifat qana’ah, hidup beriman kepada Allah dan mentaati-Nya, hati yang ridho dan bahagia, dll, yang tidak semua orang dengan mudah bisa memilikinya.
😖Ingatlah bahwa berpaling dari Allah akan mengakibatkan penghidupan yang sempit, sebagaimana peringatan Allah dalam kitab-Nya:
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha  [20] : 124)
Na’udzubillahi min dzaalik…
🍇Sedangkan buah-buah yg didapatkan di akhirat dari meningkatnya keimanan dan ketaqwaan adalah:
a. دُخُوْلُ الْجَنَّةِ  🍓(Dimasukkan ke dalam surga)
Surga adalah tempat tinggal terakhir dan abadi bagi orang-orang beriman.
“Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka Itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus  [10] : 25-26)
b. مَرْضَاتِ الله 
🍓(Ridho Allah)
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. الله Ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al Bayyinah [98] : 8)
Ridho Allah adalah puncak kenikmatan yang hakiki. Dalam Quran surah At Taubah ayat 72, setelah Allah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga bagi orang-orang beriman, lalu Allah berfirman :

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ

“Dan keridhoan Allah adalah lebih besar (dari semua itu).”
Dan orang-orang yang mendapatkan keridhoan Allah ini juga mendapat bonus, yakni melihat Allah.
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). …” (QS. Yunus [10] : 26)

Saat memandang wajah  Allah, maka kenikmatan surga tentu tidak ada apa-apanya lagi…
Mudah-mudahan kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat kenikmatan itu… Aamiiin…
-Tamat-
🍇🍓🍇🍓🍇🍓🍇🍓🍇
Dipersembahkan oleh :
www.iman-islam.com
📭Sebarkan!  Raih pahala….

TERUSLAH BERSHABAR AGAR ALLAH TERUS BERSAMAMU

Selasa, 14 Syawal 1437 H/19 Juli 2016
📒Sirah
📖 *TERUSLAH BERSHABAR AGAR ALLAH TERUS BERSAMAMU*
==============================
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Tetaplah Bersabar Agar Pertolongan Itu Datang
Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan. (HR Ahmad No 2666)
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)
Teruslah Bersabar Agar Kekuatan Itu Datang
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Anfaal:65)
Tetaplah Bersabar Agar Balasan Baik Terus Ada Bersamamu
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl:96)
Kebahagian Sejati Ada Pada Orang Yang Sabar
Orang yang berbahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang terkena ujian dan cobaan, dia bersabar. (HR Ahmad)
Maukah Dikagumi Rasulullah?
Aku (rasulullah) mengagumi seorang mukmin yang bila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, dia memuji Allah dan bersabar. (HR Ahmad)
Dan ini juga luar biasa, Rasulullah mengagumi mukmin yang bershabar? Saat kita menghentikan shabar, artinya kita lagi menjadi pribadi yang dikagumi Rasulullah shallallahu wa alaihi wa sallam.
Sumber: www.motivasi-islam.com
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
📲Sebarkan! Raih pahala

MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA (Bag.1)

📆 Sabtu, 11 Syawal 1437H / 16 Juli 2016

📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*

📝  *MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA (Bag.1)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

Menyebutkan Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan hal rutin dilakukan dalam keseharian kaum muslimin. Minimal ketika kita rutin menjalankan sholat dalam keseharian kita. Alhamdulillah. Masalahnya, menyebutkan atau bershalawat untuk Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam tidak otomatis langsung menguatkan kecintaan anak-anak pada sosok beliau. Tidak otomatis anak-anak langsung bersemangat meneladani beliau dalam dalam kehidupan mereka.

_Meneladani beliau shalallahu ‘alaihi wassalam dalam kehidupan, butuh pengenalan yang mendalam tentang sosok mulia ini, baik untuk kita sebagai orang tua maupun anak-anak._

Ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan di rumah untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam.

Sederhana, tapi mudah-mudahan bisa menginspirasi contoh-contoh sederhana yang bisa  langsung kita aplikasikan di rumah dalam kehidupan sehari-hari.
Lakukan semua kegiatan tersebut dengan mendiskusikannya dengan anak-anak, kegiatan yang cocok dengan target yang diinginkan.

1⃣  *Melakukan Perjalanan Bersama Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam.*

Gunakan peta jazirah Arab, lalu mintalah anak-anak dengan bantuan orang tua mengikuti jalur perjalanan dari Mekah ke Madinah. Tunjukkan tempat-tempat yang berbeda yang akan dilalui. Persilahkan salah satu anak, atau semuanya, yang siap yang mempresentasikan kepada seluruh anggota keluarga tentang rute perjalanan tersebut.

2⃣ *Bangunlah Bersama Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam.*

Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam bangun setiap hari jauh sebelum fajar. Sebelum sholat Subuh, beliau akan akan beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala dengan shalat, doa, zikir. Sambil melihat langit, beliau akan membaca ayat-ayat terakhir surat ‘Ali ‘Imron (QS ‘Ali ‘Imran :190 – dst) , sambil merenung tentang alam semesta dan Penciptanya.
Hal ini merupakan cara yang luar biasa untuk menjadi lebih dekat dengan Allah, di waktu ketika konsentrasi ada pada puncaknya, pikiran bersih dari segala urusan dan keruwetan dunia dan berdasarkan hadits bahwa itulah saat Allah SWT sangat dekat dengan hamba-hamba Nya.
_“Allah SWT turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang pertama telah berlalu. Dia berkata, ‘Akulah raja, Akulah raja, siapa yang berdoa kepada-Ku Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku Aku beri, siapa yang meminta ampun Aku ampuni.’ Dia terus berkata demikian sampai sinar fajar merekah.” (HR. Muslim)_

_Rasulullah saw bersabda, “Allah tabaaraka wata’aala turun setiap malam ke langit bumi, ketika malam tersisa sepertiga terakhir. Ia berkata, ‘Adakah yang memohon kepada-Ku agar Aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku agar Aku berikan, adakah yang memohon ampun agar Aku ampuni.’” (HR. Bukhari-Muslim)_
Di banyak ayat dalam Al Qur’an, Allah SWT sering menganjurkan kaum Muslimin untuk ber-Qiyamul Lail. Allah Ta’ala berfirman,

_“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka, sesungguhnya mereka sebelumnya di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz-Dzariyaat:15-17)_

 Pada awal kemunculan dakwah, Allah SWT menyuruh Rasulullah saw dan para sahabat agar mendirikan Qiyamul Lail, sebagaimana firman-Nya,

_“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu dan bacalah Al Qur’an dengan tartil (perlahan-lahan).” (Al Muzzammil:1-4)_

 Terkait dengan keutamaan Qiyamul Lail, Rasulullah saw bersabda,
_“Hendaklah kalian mengerjakan qiyamul lail, karena qiyamul lail itu kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, sebab qiyamul lail mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari dosa, menghapus kesalahan-kesalahan, dan mengusir penyakit dari tubuh.” (HR. At Tirmidzi dan Al Hakim)_

Bahkan ketika ditanya, amalan apa yang paling utama, Rasulullah saw bersabda,
_“Shalat paling utama setelah shalat wajib ialah qiyamul lail.” (HR. Muslim)_

Bangunkan seluruh keluarga untuk menunaikan sholat istimewa ini pada hari libur mereka. Motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik dan tetap bangun untuk bermunajat dan beribadah pada Allah SWT seperti yang dilakukan Rasul SAW.

🔸Bersambung🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kita Segera Buktikan

📆 Jumat, 10 Syawal 1437H / 15 Juli 2016

📚 *MOTIVASI*

📝 Ustadzah Rochma Yulika

📝 *Kita Segera Buktikan*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌼Kalau bukan karena keharusan untuk bekerja  keras, maka Abdurahman ibn ‘Auf tak usah repot melangkahkan kakinya membersamai Rasulullah ke Madinah dan tak secuil pun harta yang ia bawa.

🌺Dan ketika sampai di Madinah ia menyusuri lorong-lorong pasar dengan keyakinan penuh dan matanya yang setajam pisau tuk membedah peluang dinar dan dirham dihadapannya. Padahal ia masih sangat belia. Hingga akhirnya mampu mengubah papa-nya menjadi harta berlimpah.

🌼Ia pun menikahi gadis Madinah, membeli rumah dan perabotannya serta Rasulullah tersungging senyaum padanya.

🌺Apakah Abdurahman ibn ‘Auf orang miskin?
Bukan karena tak punya harta. Karena bagi Abdurahman ibn ‘Auf tak sulit untuk hanya sekedar memborong kuda terbaik untuk mengantarkannya ke Madinah. Bukan.

🌼Tapi lantaran Allah dan RasulNya merindukan kerja kerasnya. Ia menjadi mulia karenanya.

🌺Kalau bukan karena keharusan untuk bekerja keras, maka Christopher Colombus tak usah repot-repot mengarungi samudra dan melawan menerjang dahsyatnya badai untuk menemukan benua Amerika.

🌼Dengan keyakinan yang penuh akhirnya puluhan bahkan ribuan orang kini mengenang jasanya.

🌺Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.s. at-Taubah : 16).

🌼Akan nampak di mata kita siapa yang sekiranya mau bersungguh-sungguh atau yang bermalas-malasan. Rasulullah pernah bersabda tentang nilai utama kerja cepat dan bahaya kerja lambat dalam sabdanya: “Barang siapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.” (HR. Muslim).

🌺Kita tunjukkan komitmen kita di jalan dakwah ini dengan bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, bekerja mawas, bekerja ikhlas dan bekerja penuh produktivitas.

🌼Supaya Allah ridla memberikan kepada kita di kehidupan yang tiada berbatas dengan kemuliaan yang tiada kita mampu membalas.

Wallahul musta’an

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KEGAGALAN

 Jum’at, 10 Syawal 1437 H/ 15 Juli 2016
Pengembangan Diri dan Motivasi
 TIM Psikologi
 *KEGAGALAN*
========================

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar bro and sist???
Semoga selalu dalam perlindungan-Nya dan Allah berkehendak memberikan hidayah kepada kita semua supaya kita tetap dalam naungan Islam. Aamiin
Kali ini materi hari Jumat bertemakan *KEGAGALAN*
Sudah pernah merasa gagal? 
Gimana rasanya Gagal?
Enak?atau Malu?
Setiap manusia pasti merasakan kegagalan. Bahkan bayi yang baru lahir saja sering merasa gagal…liat aja kalau punya ponakan,adik atau ada bayi yang baru belajar jalan,sudah dipastikan jatuh bangun dalam proses bisa jalan sendiri. Bayi tersebut akan tersenyum senang ketika bisa berjalan dengan sempurna. 
Proses menjadi _*”Bisa”*_ terkadang membutuhkan trial and error. Seberapa lama proses tersebut,tergantung bagaimana setiap orang menyikapi tentang kegagalan. Belakangan berita tentang bunuh diri Akibat kegagalan sering bermunculan.  Pelajar yang bunuh diri karna nilainya jelek,mahasiswa bunuh diri karena skripsinya di tolak,seorang yang bunuh diri karena ditolak cintanya dan lainnya. 
Perlukah sampai melakukan hal itu?
Gagal bukanlah suatu hal yang memalukan. Gagal adalah proses dari belajar untuk menjadi Mampu. Pengelolaan gagal dengan efektif akan menghasilkan kemampuan baru. 
Bagaimana cara mengelola kegagalan?
Yuukkk…disimak 
1. Perlunya bermuhasabah diri jika terjadi kegagalan. Sudahkah apa-apa yang dilakukan sesuai dengan ajaran-Nya?. Sudahkah sebelum melakukan hal apapun selalu berkompromi dengan Allah? Tanya pada hati yang paling dalam dan jujur dengan diri sendiri. 
2. Evaluasi diri. Mana yang buruk dalam diri sendiri dan mana yang baik dalam diri sendiri. Terkadang perlu membuka telinga dan kelapangan hati untuk mendengar kritikan orang lain. Tetapi tidak perlu mengikuti semua omongan atau harapan orang lain. Perlu di pilah-pilih dengan cermat. 
3. Jika peristiwa dan masalah lalu terulang lagi,lakukan dengan cara yang berbeda. 
4. Hal yang buruk dalam diri tidak mudah untuk dihilangkan sepenuhnya. Apalagi sudah menjadi kebiasaan. Syaraf otak yang begitu rumit di dalam kepala tersambung kuat jika satu perilaku dilakukan setiap hari. Bagaimana bila ada banyak perilaku buruk?dan itu dilakukan setiap hari? Syaraf otak terjalin kuat dan membutuhkan waktu yang lama untuk melepas. Itulah salah satu sebab menuju perilaku baik membutuhkan proses yang cukup panjang. Istiqomah adalah solusinya. 
5. Tak perlu menanyakan sampai kapan diri ini berubah dan sudahkah ada perubahan. Do it!! And Di it!!! Suatu saat hasil perubahan itu akan terasa. Bisa jadi tahu dari komentar orang lain atau ada sesuatu lain dalam diri sendiri
6. Mulai dari diri sendiri,mulai dari yang terkecil dan mulai dari sekarang(Aa Gym).
7. Bersyukurlah kepada Allah karena setiap perubahan yang terjadi tak lepas dari Kuasa-Nya. 
Silahkan dibuka Al-Qur’annya dan cari surat Al-An’am ayat 54. Ayat tersebut menjelaskan Bahwa luasnya ampunan dari Allah. Tapi..eitss…Maha Pengampun Allah jangan disalah gunakan lho ya…Dengan seribu alasan yang berujung ucapan “khan Allah Maha Tahu dan Pengampun” kemudian tak ingin berubah diri… buka lagi lembaran Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 10. Azab Allah itu pedih Bro and Sist…
*TERUSLAH BERUSAHA BERUBAH MENUJU KEBAIKAN KARENA KEBAIKAN PERLU DIUSAHAKAN*
*TERUSLAH BELAJAR KARENA PERUBAHAN AKAN SELALU ADA*
 
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

MENJADI ANAK YANG BERSYUKUR

Kamis, 9 Syawal 1437H/ 14 Juli 2016
 AKHLAQ
Pemateri:
Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S
 MENJADI ANAK
YANG BERSYUKUR

❓ “Bu,” kata Hamzah. “Aku ingin deh punya HP Android kayak temen-temen. Habis HPku udah ketinggalan zaman, gak bisa buat FB, Twitter, WA …, nanti kalau dibelikan saya rajin belajar deh. ”
  “Hamzah …,” kata Ibu. “Kamu yakin kalau dibelikan HP bagus maka kamu jadi rajin belajar?, justru Ibu takut kalau kamu punya HP seperti itu, waktu kamu habis buat ngurusin HP kamu saja, buka FB atau twitter. Coba kamu lihat temen-temen kamu yang tidak punya HP sama sekali, bahkan tidak punya apa-apa. Mereka tidak ada uang untuk sekolah, beli baju, sepatu, bahkan makan sehari-hari. Ibu bukannya pelit, tapi lihatlah apa yang sudah kamu punya, bukankah dahulu juga pernah berjanji akan giat belajar. Nah, ketika ada HP model baru kamu tergoda lagi, lalu buat janji lagi, kapan selesainya? Keinginan manusia kalau diikuti memang gak ada habis-habisnya Hamzah …  ”
Hamzah terdiam.
  Sementara itu, ‘Azizah yang berbadan gemuk dan kulit kecoklatan ikut-ikutan dalam pembicaraan.
  “Bu, tadi di sekolah pas saya masuk kelas …. temen-temen mengolok-olok saya. Mereka ngatain saya: “mesin giling lewat … mesin giling lewat …!” Awalnya sih saya gak  marah karena mereka cuma becanda, tapi  itu terjadi setiap hari bu ….., saya ‘kan lama-lama marah juga.” Kemudian ‘Azizah terdiam.
          “Lalu?” ibu bertanya
   “Kenapa sih saya dilahirkan dengan badan gemuk begini? Udah gitu item lagi! Bu …, kalau saya boleh memilih takdir, pengen deh badan saya tinggi, langsing, dan berkulit putih .. , cantik lagi!”
  “Azizah yang shalihah,” ibu mulai bicara. “Mencela sesama manusia adalah akhlak yang jelek, apalagi yang dicela adalah fisik seseorang yang merupakan ciptaan Allah yang Maha Sempurna.  Kenapa kamu tidak berpikir positif terhadap dirimu sendiri? Masih banyak kelebihan yang kamu miliki yang tidak dimiliki orang lain, seperti akhlak yang baik, tutur kata yang sopan, dan menyanyangi sesama.
  Kamu mesti bersyukur dengan keadaan tubuh kamu yang seperti ini …”
  “Lho koq bersyukur?” ‘Azizah memotong.
  “Ya kamu mesti bersyukur, sebab jika tubuh kamu langsing, tinggi, dan berkulit putih seperti mereka, bisa jadi kamulah yang juga ikut-ikutan mencela orang lain yang bertubuh gemuk dan hitam, sehingga apa bedanya kamu dengan mereka yang suka mencela ..?”
  ‘Azizah pun terdiam.
 Adik-adik yang dirahmati Allah ……..
  Manusia umumnya memang tidak mampu bersyukur terhadap apa yang telah dimilikinya. Dia selalu memandang miliknya dengan rendah, sedangkan apa yang ada pada orang lain selalu dilihat dengan pandangan tinggi. Lalu, dia pun ingin memilikinya dan membuang apa yang sudah ada.
  Jelas sekali, itu bukanlah sifat hamba Allah Ta’ala yang mulia. Hamba-hamba Allah, adalah mereka yang mampu mensyukuri apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, sekali pun ‘jatah’ yang Allah berikan kepadanya tidak sebanyak yang Allah Ta’ala berikan kepada orang lain, dia akan berpikir positif: ‘mungkin saya belum pantas memilikinya ………… Allah Maha Tahu yang terbaik buat hambaNya …….. Orang yang diberi kelebihan tanggung jawabnya juga berat …. Dan seterusnya.
  Kalau kita mau sedikit merenungkan apa yang ada dalam diri kita, maka kita akan katakan: saya adalah kaya!  Mata yang kita miliki, yang dengannya kita dapat melihat keindahan dunia dan peristiwa menakjubkan, maukah kedua mata itu ditukar dengan uang walau triliunan? Sebab buat apa punya uang triliunan, kalau mata kita tidak bisa melihat uang tersebut. Itu baru mata, apalagi jika ditotal dengan harga yang lainnya. Tak ada yang mau anggota tubuhnya yang masih normal dan sehat ditukar dengan uang mahal, setelah itu  membuat dirinya cacat, tidak dapat berbuat apa-apa.
 Adik-adik yang shalih dan shalihat …
  Coba deh lihat di luar sana, masih banyak anak-anak seusia kalian yang mengorbankan waktu bermainnya untuk mencari uang, mereka mengamen, bahkan menjadi pengemis .. jangankan hisa sekolah seperti kalian, untuk makan saja sulit ..
  Coba lihat lagi, anak-anak yang sudah ditinggalkan orang tuanya sejak kecil, mereka tidak mendapatkan kasih sayang orang tua. Menjadi yatim piatu, hanya ditemani oleh kakek nenek, atau orang-orang terdekat yang masih menyayangi mereka .. tetapi tetap tanpa ibu dan bapak!
  Maka bersyukurlah, sebab Allah Ta’ala akan menambahkan ….
    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 7)
  Bersyukur bukan hanya kepada Allah Ta’ala, tetapi juga kepada manusia. Maksudnya berterima kasih atas kebaikan yang kita terima dari mereka. Baik berupa bantuan nasihat, tenaga, atau uang. Bahkan bersyukur kepada manusia merupakan syarat bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah. (HR. At Tirmidzi, dan ia menilainya hasan shahih)
Maknanya adalah: Allâh Ta’ala tidak menerima syukur seorang hamba kepada-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan, tatkala dia tidak pandai berterima kasih atas kebaikan manusia kepadanya. Yang demikian karena (kuatnya) hubungan kedua hal tersebut satu dengan yang lain. (Imam Ibnu Katsir)
Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
✅Sebarkan! Raih pahala..  

Penaklukan Militer dan Penaklukan Hati

📆 Kamis, 9 Syawal 1437H / 14 Juli 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

📝 Penaklukan Militer dan Penaklukan Hati

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Pertempuran ‘Ayn at-Tamr (Mata Air Kebun Kurma)
Akhir Musim Semi 633

Pertempuran ini terjadi di front Irak pada era Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththab (ra) antara pasukan Muslimin melawan Sassania Persia bersama pasukan pendukung dari suku Arab Nasrani. ‘Ayn at-Tamr terletak sebelah barat kota Anbar yang dahulu merupakan pos-pantau terdepan bagi Sassania untuk memantau pergerakan suku-suku Arab di perbatasan.

Lesson #1 pantaulah lawan, jangan malah terpantau lawan; dalam bahasa sekarang jangan semua info pribadimu diumbar di medsos.

Pasukan muslimin yang dipimpin oleh panglima Khālid ibn al-Walīd (ra) mengalahkan dengan telak pasukan Sassania beserta pasukan pendukungnya dari kalangan suku Arab Nasrani yg sebelumnya melanggar perjanjian netralitas. Menurut sumber sejarawan non-muslim, Khālid ibn al-Walīd (ra) dikabarkan meringkus sendiri komandan lawan yg bernama Aqqa ibn Qays ibn Basyir dari kalangan suku Arab Nasrani.

Lesson #2 hukumlah pengkhianat jika tidak ingin marak pengkhianatan selanjutnya

Setelah pertempuran usai, banyak petinggi Sassania yang mengira bahwa pasukan Khālid ibn al-Walīd (ra) akan balik ke pedalaman padang pasir sebagaimana tradisi perang al-Karr wal-Farr mereka. Namun mereka salah duga, karena Khālid ibn al-Walīd (ra) terus menyerang posisi pasukan Sassania yg terdesak mundur, hingga ke pertempuran di Daumat al-Jandal.

Lesson #3 lakukan apa yang tidak diprediksi lawan agar selalu tak terkira; dalam bahasa sekarang tidak harus punya rutinitas yang terbaca orang

Ketika pasukan kaum muslimin membebaskan kota ‘Ayn at-Tamr, mereka menjumpai ada 1 orang pemuka agama Nasrani di gerejanya dan 1 orang pandai besi. Kedua orang ini terkesan dengan perilaku pemimpin dan pasukan muslimin sehingga keduanya masuk Islam.

Lesson #4 akhlaqmu adalah cerminan aqidahmu

Sang rahib itu bernama Nusayr yg kelak memiliki anak yg bernama Mūsa, anak ini akan menjadi panglima sekaligus Gubernur Ifriqiyya yg bernama Mūsa ibn Nusayr. Ialah yg mengutus komandan Tariq ibn Ziyad dalam penaklukan Visigothic Iberia menjadi Andaluisa.

Sang pandai besi itu bernama Sirin yg kelak memiliki anak yg bernama Muhammad, anak ini kemudian menjadi ‘ulama ahli hadits dan sirah-nabawiyah yg dengan karya yg terkenal “Ta’bir ar-Ru’ya” bernama (Abu Bakr) Muhammad ibn Sirin atau Ibnu Sirin saja. Beliau lahir di Basra 2 tahun sebelum akhir era Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan (ra) dan belajar kepada sahabat Rasul SAW yg bernama Anas ibn Malik (ra).

Lesson #5 jangan tinggalkan generasi penerus kecuali sudah dipersiapkan untuk dekat kepada Allah SWT dan siap konsisten berkorban di jalanNya

Agung Waspodo, mencatat bahwa penaklukan militer tidak bisa berhasil kecuali diikuti dengan penaklukan jiwa melakui akhlaq yg karimah. Penaklukan Khālid (ra) terhadap ‘Ayn at-Tamr ini menjadi penting karena juga membawa dua orang masuk ke dalam Islam dan melahirkan generasi penerus yg membawa harum Ummat ini.

Depok, 8 Agustus 2015, maaf telat posting hampir setahun

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Silaturahim ke Mertua

Ustadz Menjawab Kamis, 14 Juli 2016

💻Ustadzah Menjawab
✏Ustadzah Dra. Indra Asih

🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Bagaimana hukumnya bila seorang menantu tidak mau silahturahim kepada ibu mertua nya, jika pihak ibu mertua dan keluarganya yg pernah membuat keluarga menjadi sangat kecewa,  dan itu sangat membekas buat sang istri ,dan anak2 ,nampaknya istri ini belum bisa Menerima dengan kejadian ini semua. 🅰2⃣5⃣

🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jawaban__

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, selama itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.

Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki’.”

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”

Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, “Ketahuilah, juga perkataan sia-sia.” Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami bergumam, “Sekiranya beliau berhenti.”

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncul dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Pahala memaafkan
Hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh Allah ta’ala bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
(QS. Asy Syuura: 40).

Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu :
[1] Golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas.
[2] Golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya.
[3] Golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meninggalkan haknya untuk membalas.
 Allah ta’ala menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).

(Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

أَلاَ لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Perhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh Allah!”

(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya).

Apabila hal ini diiringi  dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan setiap pihak yang telah menzaliminya termasuk mertua

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya.

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

“Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf.”

(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata, namun mewariskan kehinaan batin.
(Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin, namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin.

Wallahu a’lam

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal (Syarah Bulughul Maram, Hadits No. 681)

📆 Rabu, 1 Syawal 1437 H / 6 Juli 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal   (Syarah Bulughul Maram, Hadits No. 681)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

  Puasa Syawal merupakan salah satu puasa sunah yang masyhur. Berikut ini kami paparkan penjabarannya. Semoga bermanfaat!

📌 *Dalilnya:*

  Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.”

Hadits ini SHAHIH dikeluarkan oleh:

–  Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1164
–  Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 759
–  Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 2433
–  Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 1716
–  Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2866
–  Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8214, dan As Sunan As Shaghir No. 1119
–  Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 3908, 3909, 3914, 3915
–  Imam Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 228
–  Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 1945
–  Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1780

📌 *Hukumnya*

  Hukumnya diperselisihkan para ulama, antara yang menyunahkan dan memakruhkan. Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك

  Dalam hadits ini terdapat petunjuk yang jelas bagi  pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, Daud, dan yang menyepakati mereka tentang sunahnya berpuasa enam hari tersebut. Berkata Malik dan Abu hanifah: Hal itu dimakruhkan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/56)
 
Namun menurut pendapat mayoritas ulama adalah sunah. Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْمَالِكِيَّةُ ، وَالشَّافِعِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ وَمُتَأَخِّرُو الْحَنَفِيَّةِ – إِلَى أَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بَعْدَ صَوْمِ رَمَضَانَ

  Mayoritas fuqaha –Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah muta’akhirin (generasi kemudian)- berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadhan. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/92)

Berkata Imam At Tirmidzi dalam Sunannya:

وَقَدْ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ صِيَامَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ هُوَ حَسَنٌ هُوَ مِثْلُ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

  Sekelompok ulama menyunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal berdasarkan hadits ini. Ibnul Mubarak mengatakan: “Ini bagus, semisal dengan berpuasa tiga hari di setiap bulan.” (Lihat Sunan At Tirmidzi pada komentar hadits No. 759)

  Sementara pemakruhan Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu,  dengan alasan  ditakutkan orang awam   menganggap puasa tersebut masih satu paket dengan puasa Ramadhan, jika tidak demikian,  tidak apa-apa.

  Disebutkan dalam kitab Mawahib Al Jalil – karya Imam Al Hathab  Al Maliki:

كَرِهَ مَالِكٌ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – ذَلِكَ مَخَافَةَ أَنْ يَلْحَقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ مِنْ أَهْل الْجَهَالَةِ وَالْجَفَاءِ ، وَأَمَّا الرَّجُل فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ فَلاَ يُكْرَهُ لَهُ صِيَامُهَا .
 
Imam Malik Rahimahullah Ta’ala memakruhkan hal itu, ditakutkan hal tersebut merupakan memasukan kepada Ramadhan dengan sesuatu yang bukan berasal darinya yang dilakukan oleh orang bodoh dan ekstrim. Ada pun seseorang yang mengkhususkannya secara tersendiri, maka  puasa tersebut tidak makruh. (Imam Al Hathab, Mawahib Al Jalil Li Syarhi Mukhtashar Al Khalil,  3/329)

Disebutkan dalam Al Istidzkar:

وذكر مالك في صيام ستة أيام بعد الفطر أنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها

  Imam Malik menyebutkan tentang puasa enam hari Syawal, bahwa Beliau belum pernah melihat seorang pun dari kalangan ulama dan ahli fiqih yang melakukan puasa itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Al Istidzkar Al Jaami’ Li Madzaahib Fuqahaa Al Amshaar, 3/379)

Maksudnya adalah selama di Madinah, Imam Malik belum pernah melihat shaum syawal dilakukan oleh ulama dan ahli fiqih di sana. Sebab, sepanjang hayatnya Beliau tidak pernah keluar Madinah kecuali saat haji.

Imam Al Kasani Rahimahullah menceritakan:

وَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ : أَكْرَهُ أَنْ يُتْبَعَ رَمَضَانُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ ، وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ ، وَالْعِلْمِ يَصُومُهَا وَلَمْ يَبْلُغْنَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ ، وَإِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَيَخَافُونَ بِدْعَتَهُ ، وَأَنْ يُلْحِقَ أَهْلُ الْجَفَاءِ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ

  Demikian juga diriwayatkan dari Imam Malik bahwa Beliau berkata: “Aku membenci puasa Ramadhan disusul dengan puasa Syawal, dan aku belum pernah melihat seorang pun dari ahli fiqih dan ulama yang berpuasa itu, dan belum sampai kepada kami seorang pun dari salaf, sesungguhnya para ulama memakruhkan hal itu karena mereka khawatir dengan kebid’ahannya, dan khawatir orang ekstrim akan mengkaitkan  puasa Ramadhan dengan hal yang bukan berasal darinya.”  (Imam Al Kasani, Al Bada’i Shana’i, 4/149. Mawqi’ Al Islam)

   Aroma kemakruhan berpuasa enam hari di bulan Syawal, juga nampak dalam  pandangan Madzhab Hanafi generasi awal. Berikut ini keterangannya:

 وَمِنْهُ أَيْضًا صَوْمُ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ مُتَفَرِّقًا كَانَ أَوْ مُتَتَابِعًا وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ كَرَاهَتُهُ مُتَتَابِعًا لَا مُتَفَرِّقًا لَكِنَّ عَامَّةَ الْمُتَأَخِّرِينَ لَمْ يَرَوْا بِهِ بَأْسًا

  Di antaranya juga (yang makruh)   berpuasa enam hari Syawal  menurut Abu Hanifah, baik dilakukan  terpisah atau  berturut-turut. Dari Imam Abu Yusuf: makruh jika  berturut-turut, dan jika dipisah tidak apa-apa. Tetapi mayoritas Hanafiyah generasi berikutnya berpendapat tidak apa-apa. (Imam Ibnu Nujaim Al Mashri, Bahrur Raiq, 6/133. Mawqi’ Al islam)

  Imam Ibnu ‘Abidin Al Hanafi Rahimahullah berkata:

قَالَ صَاحِبُ الْهِدَايَةِ فِي كِتَابِهِ التَّجْنِيسُ : إنَّ صَوْمَ السِّتَّةِ بَعْدَ الْفِطْرِ مُتَتَابِعَةً مِنْهُمْ مَنْ كَرِهَهُ وَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ لِأَنَّ الْكَرَاهَةَ إنَّمَا كَانَتْ لِأَنَّهُ لَا يُؤْمَنُ مِنْ أَنْ يُعَدَّ ذَلِكَ مِنْ رَمَضَانَ فَيَكُونَ تَشَبُّهًا بِالنَّصَارَى وَالْآنَ زَالَ ذَلِكَ الْمَعْنَى

  Berkata pengarang Al Hidayah dalam kitabnya At Tajnis: “Sesungguhnya berpuasa enam hari setelah hari raya secara berturut di antara mereka ada yang memakruhkan. Dan, pendapat yang  menjadi  pilihan adalah tidak apa-apa, sebab kemakruhannya itu adalah jika hal tersebut tidak aman dari anggapan hal itu masuk ke dalam Ramadhan, maka itu menjadi menyerupai  Nasrani. Namun sekarang makna itu sudah berubah. (Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 8/35)

  Imam Abu Yusuf Rahimahullah –murid dan kawan Imam Abu Hanifah- berkata:

كَانُوا يَكْرَهُونَ أَنْ يُتْبِعُوا رَمَضَانَ صَوْمًا خَوْفًا أَنْ يَلْحَقَ ذَلِكَ بِالْفَرْضِيَّةِ

  Mereka memakruhkan menyusul puasa Ramadhan dengan berpuasa, khawatir hal itu dikaitkan dengan kewajiban. (Imam Al Kisani, Al Bada’i Shana’i, 4/149. Mawqi’ Al Islam)

   Sementara Imam Al Kasani Rahimahullah memberikan tafsiran sebagai berikut:

وَالْإِتْبَاعُ الْمَكْرُوهُ هُوَ : أَنْ يَصُومَ يَوْمَ الْفِطْرِ ، وَيَصُومَ بَعْدَهُ خَمْسَةَ أَيَّامٍ .فَأَمَّا إذَا أَفْطَرَ يَوْمَ الْعِيدِ ثُمَّ صَامَ بَعْدَهُ سِتَّةَ أَيَّامٍ : فَلَيْسَ بِمَكْرُوهٍ بَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ وَسُنَّةٌ .

Yang dimaksud “menyusul” yang dimakruhkan adalah berpuasa pada hari raya, lalu diikuti dengan lima hari setelahnya di bulan Syawal. Ada pun jika berbuka pada hari raya, kemudian berpuasa setelahnya enam hari, maka tidak  makruh, bahkan itu justru mustahab (disukai/sunah). (Ibid)

  Dari uraian ini bisa kita simpulkan:

–  Puasa enam hari bulan Syawal adalah sunah menurut jumhur (mayoritas) ulama.

–  Ada yang memakruhkan, yaitu Imam Malik dengan alasan ditakutkan hal itu dianggap bagian dari puasa Ramadhan dan  Beliau belum pernah melihat satu pun ulama yang melakukannya.

–  Imam Abu Hanifah memakruhkan pula, baik dilakukan secara berturut-turut enam hari atau dipisah-pisah. Muridnya, Imam Abu Yusuf, memakruhkan jika berturut-turut, dan tidak apa-apa jika dipisah.

–  Pengikut Imam Abu Hanifah setelah generasi awal membolehkan baik berturut-turut atau tidak, dan itu adalah pendapat pilihan, bahkan mereka mengatakan mustahab jika dilakukan setelah hari raya.

Pendapat yang kuat –Insya Allah- adalah pandangan mayoritas ulama, yakni sunah. Alasannya adalah:

–  Zahir hadits menyebutkan bahwa “menyusul” puasa Ramadhan dengan puasa enam hari Syawal memiliki keutamaan, maka makna ini tetap demikian dan sama sekali tidak ada dalil yang merubahnya.

–  Kekhawatiran Imam Malik  bahwa hal itu akan dianggap menjadi bagian dari puasa Ramadhan oleh sebagian orang awam, bodoh, dan ekstrim,  perlu didiskusikan lagi, sebab hal itu terjadi secara kasuistis dan personal, alias tergantung pelakunya. Hal ini sama halnya dengan sunahnya terawih, dia tetaplah sunah  walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkannya karena khawatir dianggap wajib oleh sebagian manusia.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menyanggah  alasan-alasan Imam Malik ini, katanya:

و الجواب أنه بعد ثبوت النص بذلك لا حكم لهذه التعليلات وما أحسن ما قاله ابن عبد البر: إنه لم يبلغ مالكا هذا الحديث يعني حديث مسلم

Jawabannya adalah: bahwasanya setelah pastinya sebuah nash (dalil) maka tidak ada hukum bagi alasan-alasan ini.  Dan komentar terbaik adalah  apa yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar: “Sesungguhnya hadits ini belum sampai kepada Imam Malik, yakni hadits riwayat Muslim.” (Subulus Salam, 2/167)

–  Jika ada orang shalih, ulama, dan ahli fiqih meninggalkan sebuah amalan atau tidak pernah melakukannya, bukan berarti hal itu tidak ada dan tidak masyru’ (disyariatkan).

Sebab, At Tarku (meninggalkan) bukanlah termasuk mashaadirul ahkam (sumber-sumber hukum), apalagi  yang “meninggalkan” berasal dari selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

–  Kesunahannya adalah sama saja apakah dilakukan secara berturut-turut atau tidak, karena nash tidak merincinya.

Selanjutnya, apakah kesunahan puasa ini juga berlaku bagi orang yang sedang tidak berpuasa Ramadhan pada beberapa waktu? Misal wanita haid, nifas, hamil, menyusui, orang sakit, musafir, dan golongan lainnya yang mengalami udzur untuk tidak berpuasa. Ataukah  kesunahannya ini hanya berlaku bagi mereka yang  puasa Ramadhannya bisa full?

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : اسْتِحْبَابُ صَوْمِهَا لِكُل أَحَدٍ ، سَوَاءٌ أَصَامَ رَمَضَانَ أَمْ لاَ

  Pendapat Syafi’iyah: disunahkan puasa ini bagi setiap orang, sama saja apakah dia puasa Ramadhan atau tidak. (Al Mausu’ah, 28/93)

Selanjutnya:

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ : لاَ يُسْتَحَبُّ صِيَامُهَا إِلاَّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ .

Menurut Hanabilah (Hambaliyah): tidak disunahkan berpuasa enam hari Syawal kecuali bagi orang yang berpuasa Ramadhan. (Ibid)

Menurut nash secara manthuq (tekstual), maka  kesunahan berpuasa enam hari Syawal hanyalah bagi mereka yang sebelumnya berpuasa Ramadhan sebagaimana pendapat Hanabilah, secara tegas haditsnya berbunyi: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.” Jadi, keutamaan puasa setahun penuh baru didapatkan   jika berpuasa Ramadhan lalu dilanjutkan dengan puasa Syawal enam hari lamanya.
Lalu puasa Ramadhan yang bagaimana? yaitu yang melakukannya secara utuh. Sebab jika disebut “Wajib Puasa Ramadhan” tentu maknanya wajib puasa secara full Ramadhan, bukan wajib pada sebagian hari saja.  Namun, bagi yang meninggalkannya beberapa hari karena memiliki udzur syar’i, , mereka juga disunahkan, sebab mereka bisa menjadi “full” Ramadhannya dengan diqadha pada hari lain. Kalau pun bagi mereka tidak sunah, mereka juga  dibolehkan untuk melakukan puasa tersebut. Sebab, tidak disunahkan bukan berarti tidak boleh.

 Ada pun bagi yang sudah tidak mampu lagi berpuasa tentu tidak termasuk dalam anjuran puasa Syawal, sebab yang wajib saja seperti Ramadhan mereka cuma bisa menggantinya dengan fidyah. Tentu yang sunah  lebih layak lagi untuk tidak ditekankan kepada mereka.

Tentang pembahasan mana yang lebih didahulukan puasa Syawal atau Qadha akan kami bahas terakhir.

📌 *Keutamaannya:*

  Sesuai yang tertera dalam nash hadits bahwa berpuasa enam hari di bulan Syawal seakan berpuasa setahun penuh.

  Bulan Ramadhan ada tiga puluh hari, puasa syawal enam hari, jadi total

puasa adalah 36 hari. Dan masing-masing kebaikan   senilai dengan sepuluh kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, jadi ada 360 kebaikan. Maka,  seakan dia berpuasa setahun penuh.

  Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah Ta’ala:

لأن رمضان بثلاثين يوماً، فيكون المجموع مع شوال ستة وثلاثين يوماً والحسنة بعشر أمثالها، فإذا صام رمضان وستاً من شوال، وصام ثلاثة أيام من كل شهر يكون بذلك كأنه صام الدهر مرتين

Karena Ramadhan ada 30 hari, maka jika dikumpulkan bersama puasa Syawal menjadi 36 hari, dan satu kebaikan dilipatkan nilainya dengan sepuluh kebaikan semisalnya, jika dia puasa Ramadhan, puasa enam hari Syawal, dan puasa tiga hari setiap bulannya, maka seakan dia berpuasa  sepanjang tahun sebanyak  dua kali. (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 13/237)

  Apa yang dikatakan Syaikh Abdul Muhsin ini sesuai dengan hadits Qudsi:
الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

  Puasa adalah untukKu, adan Akulah yang akan memberikan ganjarannya, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya. (HR. Bukhari No. 1894)

   Dari Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ هَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

  Tiga hari pada tiap bulannya, dan Ramadhan ke Ramadhan, itu semua adalah puasa setahun penuh. (HR. Muslim No. 1162, Abu Daud No. 2425, An Nasa’i No. 2387, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3844, dll)

  Jadi, jika kita berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan enam hari bulan Syawal, ditambah lagi melakukan puasa tiga hari setiap bulannya, maka seakan puasa setahun penuh sebanyak dua kali.

📌 *Waktu dan Tata Caranya:*

  Puasa ini sah dilakukan baik  secara berturut-turut atau tidak. Hanya saja para ulama berbeda pendapat mana yang lebih utama.

   Sebagian  ulama mengutamakan dilakukan segera setelah hari raya. Ada pula yang mengutamakan berturut-turut dibanding terpisah, ada pula yang menganggap kedua cara sama saja.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:

وَاخْتَارَ ابْنُ الْمُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةَ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ

  Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)

  Syaikh Sayyid Sabiq -Rahimahullah rahmatan waasi’ah- berkata:

وعند أحمد: أنها تؤدى متتابعة وغير متتابعه، ولا فضل لاحدهما على الاخر. وعند الحنفية، والشافعية، الافضل صومها متتابعة، عقب العيد.

  Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)

  Tertulis dalam Al Mausu’ah:

وَلَمْ يُفَرِّقِ الْحَنَابِلَةُ بَيْنَ التَّتَابُعِ وَالتَّفْرِيقِ فِي الأَْفْضَلِيَّةِ .وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ تُسْتَحَبُّ السِّتَّةُ مُتَفَرِّقَةً ، كُل أُسْبُوعٍ يَوْمَانِ .

  Kalangan Hanabilah tidak membedakan antara berturut-turut atau terpisah dalam hal keutamannya. Menurut Hanafiyah disunahkan enam hari itu secara terpisah-pisah, setiap pekan dua hari. (Al Mausu’ah, 28/93)

  Imam An Nawawi mengatakan:

قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

  Berkata sahabat-sahabat kami (syafi’iyah), yang lebih utama adalah berpuasa enam hari secara beruntun setelah hari raya, seandainya dipisah atau diakhirkan dari awal-awal Syawal sampai akhir-akhirnya tetap mendapatkan keutamaan “mengikuti” sebab dia telah membenarkan (sesuai) dengan “mengikuti puasa enam hari pada bulan Syawal.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/56)

  Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah mengatakan:

وهذا الفضل لمن يصومها فى شوال ، سواء أكان الصيام فى أوله أم فى وسطه أم فى آخره ،

وسواء أكانت الأيام متصلة أم متفرقة ، وإن كان الأفضل أن تكون من أول الشهر وأن تكون متصلة . وهى تفوت بفوات شوال .

  Keutamaan ini adalah bagi yang berpuasanya di bulan Syawal, sama saja apakah diawalnya, di tengah, atau di akhirnya, dan sama pula apakah dengan hari yang berturut atau dipisah-pisah. Hanya saja lebih utama di awal bulan dan secara bersambung. Anjurannya berakhir  jika sudah selesai  bulan Syawal.  (Fatawa Darul Ifta Al Mishriyah, 9/261)

Demikianlah, sangat beragam ulama kita menjelaskan kapan waktu afdhalnya. Jelasnya adalah semua waktu dan  cara itu sah selama dilakukan dalam lingkup bulan Syawal.  Kita bisa melakukannya di awal, pertengahan, atau di akhir, yang penting berjumlah enam hari. Pilihlah waktu yang paling mudah dan lapang bagi kita untuk melakukannya, sebab setiap manusia punya kemampuan dan kelapangan yang tidak sama. Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah teladan kita, bahwa Beliau akan memilih yang paling mudah jika dihadapkan dua pilihan, selama tidak mengandung dosa.

  Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

 مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا

  “Sesungguhnya tidaklah  Rasulullah   dihadapkan dua perkara, melainkan  dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.” (HR. Bukhari No. 3560, Muslim No. 2327)

📌 *Mana dulu; Puasa Syawal dahulu atau Puasa  Qadha?*

  Kalau bicara boleh atau tidak, boleh saja seseorang mendahulukan puasa Syawal dibanding Qadha Ramadhan, apalagi dengan pertimbangan mengqadha Ramadhan memiliki luang waktu yang luas sampai Ramadhan tahun depan, sedangkan puasa Syawal waktunya terbatas, sebagaimana dijelaskan sebagian ulama. Demikian ini jika bicara boleh atau tidaknya.

Tetapi, mana yang lebih utama di antara keduanya? secara logika mudahnya  tentu puasa Qadha lebih  utama ditunaikan, sebab dia hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal adalah sunah, tentunya yang wajib mesti didahulukan dibanding yang sunah. Lalu, jika wafat dalam keadaan belum menjalankan yang wajib tentu akan menjadi hutang. Sedangkan hal itu tidak terjadi pada ibadah sunah, yang jika ditinggalkan dia tidak berdosa, tidak berhutang, namun juga tidak mendapatkan pahala.

  Bahkan, jika berbicara fadhilah   puasa enam hari Syawal, sebagian ulama menyatakan tidak akan didapatkan kecuali bagi mereka yang telah sempurna menjalankan puasa Ramadhannya.

  Berkata Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah  ketika ditanya hal ini:

فالجواب هو أن الثواب المترتب إنما يكون لمن صام جميع رمضان، ومن بقي عليه يوم لا يعد صائما للجميع كما هو ظاهر الحديث:” من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر” .[ رواه مسلم]. وعلى هذا فابدأ بقضاء اليوم ثم بعد ذلك صم الست… والله أعلم

Jawabnya adalah bahwa pahalanya sifatnya berurut, itu hanya terjadi bagi orang yang berpuasa semua hari Ramadhan, dan bagi yang menyisakan sehari dia tidak puasa, maka dia tidak dihitung puasa seluruhnya sebagaimana zahir hadits: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim) Atas dasar ini, maka mulailah dengan mengqadha yang sehari itu, lalu setelah itu berpuasalah yang enam hari … Wallahu A’lam. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, No fatwa. 18)

  Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah dalam acara siaran radio Nur ‘Ala Ad Darb:

فأما التطوع التابع لرمضان كصيام ستة أيام من شوال فإنها لا تنفعه حتى ينتهي من رمضان كله أي لا يحصل له صيام ستة أيام شوال حتى يصوم رمضان كله لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال ومعلوم أن من عليه قضاء من رمضان لا يقال عنه أنه صام رمضان فلو أن أحداً من الناس كان عليه عشرة أيام من رمضان قضاء فلما أفطر الناس يوم العيد شرع في صيام أيام الست فصام ستة أيام من شوال ثم قضى العشرة بعد ذلك فإننا نقول له إنك لا تنال ثواب صيام ستة أيام من شوال بهذه الأيام التي صمتها لأن النبي صلى الله عليه وسلم اشترط في صيامها أن يكون بعد صيام رمضان بل لأن النبي صلى الله عليه وسلم اشترط للثواب المرتب على صيامها أن يكون صيامها بعد رمضان لأنه قال من صام رمضان ثم أتبعه س

تاً من شوال وبناء على ذلك فإننا نقول من صام ستة أيام من شوال قبل أن يقضي ما عليه من صيام رمضان فإنه لا ينال ثوابها.

Ada pun puasa sunah yang menyusul puasa Ramadhan, seperti puasa enam hari Syawal,  tidaklah membawa manfaat bagi dirinya sampai dia menyempurnakan semua puasa Ramadhannya, yaitu tidaklah mendapatkan hasil puasa enam hari Syawalnya itu sampai dia melakukan puasa Ramadhan semuanya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  “Barang siapa yang berpuasa ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa Syawal enam hari.” Telah diketahui bahwa siapa saja yang masih memiliki kewajiban qadha Ramadhan, tidaklah dikatakan bahwa dia telah berpuasa Ramadhan. Seandainya ada seorang manusia yang berhutang puasa Ramadhan 10 hari, lalu ketika sampai waktu hari raya,  disyariatkan untuk   berpuasa enam  hari Syawal, lalu   dia melakukan puasa enam hari Syawal, setelah itu melakukan Qadha Ramadhan yang 10 hari itu. Kami katakan, bahwa Anda dengan puasa yang seperti itu tidaklah akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan puasa tersebut setelah puasa Ramadhan, bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan untuk mendapatkan ganjarannya itu dengan ketentuan bahwa puasa Syawal itu dilakukan setelah puasa Ramadhan. Sebab Beliau bersabda: “Barang siapa yang berpuasa ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa Syawal enam hari,” atas dasar inilah kami katakan: “Siapa saja yang melakukan puasa enam hari Syawal sebelum  menunaikan qadha puasa Ramadhan dia tidak akan mendapatkan ganjarannya.”  (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb, Bab Az Zakah wash Shiyam, No. 191)
Pandangan ini juga disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz (Lihat Fatawa Islamiyah, 2/356), Syaikh Salim Al ‘Ajmi (Lihat Ash Shiyam Sual wa Jawab, Hal. 18), dan lain-lainnya.

  Jadi, tidak dianjurkan berpuasa Syawal bagi yang belum menyelesaikan puasa Ramadhannya, baik menyelesaikan secara ada’an (tunai), atau qadha’an (membayar hutang puasa dihari lain). Tetapi, boleh saja dia melakukannya, sebab –seperti yang kami katakan sebelumnya- tidak dianjurkan bukan berarti dilarang untuk melakukan, hanya saja dia akan kehilangan keutamaannya sebagaimana diterangkan para ulama.

 Sekian. Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…