Tawazun

Kamis, 01 Dzulqo’dah 1437 H/ 4 Agustus 2016
Fiqih Ibadah
Ustadzah Lely
 *Tawazun*
========================

Assalamu’alaikum.sobat MFT yang dirahmati allah, smoga allah senantiasa memberikan kebahagiaan kepada kita semua.Aamiin ya robb :)…
Okey guys,btw did you know? Bahwa dalam hidup kita juga harus seimbang? So,that tuk lebih jelasnya mari kita simak materi tentang
“TAWAZUN”(Seimbang)
====================
Tawazun artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan. (QS.67:3)
Manusia dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30).
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,”Tiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”).
Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad (jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada (QS.55:7-9)
Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu sbb :
1. Jasmani
Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga . Dalam sebuah hadits dikatakan, “Mu’min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu’min yang lemah.”(HR.Muslim), maka jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat (QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.
2. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali hakikat sesuatu, Mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
3. Ruh (hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.
Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan ni’mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan wasathon (QS.2:143), Yaitu umat yang seimbang.
Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)
Kebahagiaan dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai
mensyukuri ni’mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya.
Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).
Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani/materi saja.
Manusia Pantheis (kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.
So,mari kita hidup seimbang ya sobat_wallahu’alam bis showab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.con
Sebarkan! Raih pahala….

Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga

📆 Sabtu, 3 Dzulqo’dah 1437H / 06 Agustus 2016

📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*

📝 *Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An Nisa’: 19).

Pergauli istri dengan cara yang patut adalah mempergauli istri dengan baik dengan tutur kata dan sikap. Cara yang patut yang dimaksud adalah dengan bersahabat yang baik, dengan tidak menyakiti istri, serta berbuat baik padanya. Termasuk dalam bergaul dengan cara yang baik adalah memberi nafkah dan memberi pakaian. Hendaknya suami mempergauli istrinya dengan cara yang baik sebagaimana yang ia inginkan pada dirinya sendiri.

Memperlakukan istri beda sekali dengan memperlakukan pria. Karena istri diciptakan dari tulang rusuk dan sifatnya seperti itu pula.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sehingga istri tidak boleh dikasari dengan memukulnya di wajah.

Dari Mu’awiyah bin Jaydah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

“Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan melakukan hajr (mendiamkan istri) selain di rumah” (HR. Abu Daud).

Sebagaimana dikatakan oleh istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau bersabda,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَرَبَ خَادِماً لَهُ قَطُّ وَلاَ امْرَأَةً لَهُ قَطُّ وَلاَ ضَرَبَ بِيَدِهِ شَيْئاً قَطُّ إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Allah”. (HR. Ahmad)

Selain menghindari wajah, memukul istri tidak dengan pukulan yang membekas sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

“Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas” (HR. Muslim).

Kekerasan Terhadap Istri Atau Perempuan Secara Umum Adalah Kebiasaan Jahiliyah
Jumlah kekerasan di dalam rumah tangga tidak diketahui dengan pasti. Mungkin hanya dua. Mungkin dua puluh. Atau mungkin sangat banyak.
Sebelum datang Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, Hidia dan negeri-negeri lainnya.
Orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita!

Allah berfirman tentang mereka,

 وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl [16]: 58)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Ambil Kesempatan Terbaik

📆 Jumat, 02 Dzulqo’dah 1437H /  05 Agustus 2016
📚 *MOTIVASI ISLAM*

📝 Ustadzah *Rochma Yulika*
📋 *Ambil Kesempatan Terbaik*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Sahabat Surgaku….
❣Keindahan dunia akan nampak MEMPESONA bila mata ini masih terbuka.
💟Lakukan karya TERBAIK dalam hidup kita selama kesempatan masih ada.
❣ *Tak kan ada KESEMPATAN kedua dalam kisah perjalanan manusia.*
Dan bila tiba masanya tak kan ada yng bisa menghindarinya.
Hanya amal kebajikan yg jadi teman SEJATINYA.
💟Kerugian bila hati tertambat pada dunia.
Tujulah akhirat dunia pun kan kita dapat.
Bila hanya dunia yang jadi tujuan ingatlah bahwa hidup di dunia hanya sesaat lewat.
❣ *Hasal Al Bisri* Menasihati kita,
_”Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dengan meninggalkan kepentingan hidup di akhirat, maka Allah Swt akan memberikan enam sangsi, tiga di dunia dan tiga lagi di akhirat._
🌺Tiga di dunia yaitu:
(1) angan-angan yang tidak ada habisnya. 
(2) ketamakan yang luar biasa berkobar-kobarnya sehingga tidak ada qanaah sedikitpun.
(3) dicabut kelezatan ibadah darinya.
🌼Adapun tiga di akhirat ialah
(1) keguncangan pada hari kiamat. 
(2) kekerasan dalam hisab.
(3) kerugian yang berkepanjangan.
💟Kesempatan belum tentu berulang apalagi kesempatan kita untuk beramal.
❣Karena hidup ini dibatasi oleh ajal. Maka jangan sampai diri terjungkal kala diri tiada punya amal untuk menuju kehidupan kekal.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Pertempuran di Sarmada, Lapangan Berdarah


📆 Kamis, 01 Dzulqo’dah 1437H / 04 Agustus 2016

📚 *SIROH DAN TARIKH*

📝 Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP*

📝 *Kebangkitan Melawan Pasukan Salib*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

*Pertempuran di Sarmada, Lapangan Berdarah*

28 Juni 1119

Pertempuran ini juga dikenal sebagai Ager Sanguinis dimana pasukan salibis dibawah Roger of Salerno dari kota Antioch ditumpas habis oleh balatentara Najmuddin Ilghazi Ibn Artuq yang berkedudukan di Mardin. Beliau berasal dari Bani Artuqi yang berpusat di Aleppo.

*Latar Belakang*

Peperangan antara basis pasukan Salibis di Antioch dengan penguasa Kaum Muslimin di Aleppo dan Musul sudah berlangsung lama. Roger of Salerno yang memimpin Antioch sebagai regent bagi Bohemond II tidak membina hubungan baik dengan Baldwin II dari Edesaa maupun Pons dari Tripoli.

_*Lesson #1 selalu bersatu*_

Kemenangan Roger atas ekspedisi pendudukan Bursuq ibn Bursuq di Pertempuran Sarmin tahun 1115 semakin membuat ia percaya diri secara berlebihan.

_*Lesson #2 jangan pernah melupakan Allah SWT*_

Pada tahun 1117, kota Aleppo dipimpin oleh Ilghazi yang bergelar Atabeg (Atabik) dari Bani Artuqi. Setahun kemudian Roger berhasil menguasai Azaz yang menjadikan kota Aleppo kehilangan titik pertahanan strategis. Oleh karena itu, Ilghazi merasa perlu menyerang Antioch guna mengembalikan keseimbangan teritorial pada tahun 1119.

_*Lesson #3 selalu siap siaga*_

Roger maju menyongsong kekuatan Ilghazi bersama Bernard of Valence, patriarch gereja Latin di Antioch. Bernard menasihatinya untuk bertahan di Artah sebagai titik pertahanan yang kokoh serta memanggil bantuan dari Baldwin yang kini naik menjadi Raja Jerusalem. Namun, entah situasi maupun harga diri Roger yang tinggi menyebabkannya mengabaikan kedua nasihat baik ini.

_*Lesson #4 dengarkan nasihat*_

Roger mendirikan tenda di jalur Sarmada sementara Ilghazi mengepung benteng al-Atharib. Roger mengirim sebagian pasukannya dibawah Robert of Vieux-Pont untuk mematahkan kepungan itu. Ilghazi mundur secara sengaja untuk memancing pasukan Robert ke dalam jebakan yang menghabisi mereka.

*Pertempuran*

Ilghazi juga sebenarnya sedang menunggu bala bantuan dari Emir Damaskus dari Bani Buri, namun waktu semakin mendesaknya untuk memanfaatkan momentum. Beliau memilih untuk melancarkan serbuan mendadak melalui jalur-jalur kecil yang tidak lazim guna mengepung kekuatan Roger pada malam 27 Juni.

_*Lesson #5 selalu kreatif dan berinisiatif*_

Roger telah keliru menempatkan kemah bagi 700 knights dan 3000 pasukan infanterinya pada posisi lembah berhutan lebat dengan jalur keluar yang sangat terbatas. Serangan malam lagi mendadak ini menyebabkan Roger tergesa membentuk 5 divisi dalam formasi berbentuk huruf “V”  menghadap pasukan utama Ilghazi.

Ketika pasukan Ilghazi masih menunggu aba-aba serang, hakim Abu al-Fadhl ibn al-Khasyab mendahului menyerbu dalam pakaian ulamanya bersenjatakan tombak panjang. Sebelum ulama senior ini maju, IA menyempatkan membakar kesemangatan dengan membacakan ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW tentang keutamaan jihad perang.

_*Lesson #6 ulama adalah pejuang baris depan*_

Sebagaiaman dicatat oleh Kamaluddin, sejarawan Aleppo pada masa itu, para prajurit profesional Bani Artuqi menangis tersedu dibuatnya. Mereka ini adalah prajurit veteran berbagai palagan yang merindukan kematian di medan juang. Mereka maju bersama ulama masyhur ini dalam formasi tempur yang rapi menuju barisan pasukan Salibis.

_*Lesson #7 surga ada di bawah kilatan pedang*_

Pertempuran dimulai dengan saling tembak antara pasukan panah kedua pihak. Pada awalnya, sayap kanan serta barisan tengah Bani Artuqi kocar-kacir berhadapan dengan pasukan Roger yang juga tersemangati oleh para pemuka gereja yang turun tempur seperti Peter dan Geoffrey the Monk.

Namun Allah SWT berkehendak lain, sayap kiri pasukan Bani Artuqi berhasil mendesak pasukan Robert of St. Lo dan barisan turcopoles ke bagian tengah sehingga tombul kekacauan. Keadaan berbalik memberikan keunggulan bagi Kaum Muslimin pada hari itu.

_*Lesson #8 jangan pernah menyerah*_

Kini pasukan Salibis terkepung akibat pecahnya kedisiplinan serta ditambah dengan tewasnya Roger pada posisi bertahan yang terakhir. Dari keseluruhan pasukan hanya tersisa 2 knight sehingga pertempuran di Sarmada ini dikenal oleh sejarawan Eropa sebagai palagan berdarah atau Ager Sanguinis dalam istilah Latin.

*Kesudahan*

Pertempuran ini menjadi bukti bahwa Kaum Muslimin dapat mengalahkan pasukan Salibis yang secara kualitas individual lebih superior, tanpa bantuan kekuatan Seljuk.

Patut disayangkan bahwa Ilghazi tidak meneruskan kemenangan ini dengan mengepung Antioch yang nyaris tidak berkekuatan. Namun dengan kemenangan ini maka Atharib, Zerdana, Sarmin, Ma’arat an-Nu’man, serta Kafr Tab jatuh menyusul.

Siang hari, sambil menunggu servis kendaraan
Lenteng Agung, 9 Juli 2016
Agung Waspodo

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Syirik

Rabu, 29 Syawal 1437 H / 3 Agustus 2016
 Aqidah
 Ustadz Farid Nu’man Hasan
Syirik
==========================

Syirik, Bahaya dan Dosanya
 Mukadimah
Syirik adalah menyekutukan Allah ﷻ dengan yang lainnya, baik dalam peribadatan, berdoa, meminta pertolongan, dan hal-hal lain yang khusus hanya bagiNya. Ini merupakan perilaku dan pemahaman yang sangat berbahaya bagi kehidupan sesorang. Sebab ini adalah dosa terbesar dan aqidah yang paling rusak. Banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini dan menganggapnya seperti lalat yang hinggap di hidung lalu diusir begitu saja, ringan, mudah, dan sepele.
Fenomena kesyirikan masih begitu banyak walau di negeri yang mayoritas muslim. Hal ini terjadi karena faktor pemahaman masyarakat muslim yang masih tercampuri oleh keyakinan umat terdahulu, baik berupa khurafat, tahayul, dan mitos. Sehingga ini menjadi PR bagi para ulama, da’i, dan muballigh untuk menjelaskan yang salah dan mengarahkannya ke arah yang benar (tauhid).
 Berbagai Bahayanya
1⃣. Dosa dan Kejahatan yang Tidak Diampuni.
Allah ﷻ berfirman: 
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan diri-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)
Yaitu, jika dia belum bertaubat dari kesyirikannya sampai dia wafat. Sedangkan bagi sempat bertaubat dengan sebenar-benarnya sebelum wafatnya, maka kasih sayang dan ampunan Allah ﷻ sangat luas.
2⃣. Dosa yang Sangat Besar.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka dia telah melakukan kedustaan dan dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48)
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’Anhu, bahwa Nabi Sallallaahu’alaihi wasallaam bersabda:
أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ وَشَهَادَةُ الزُّورِ
“Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, ucapan dusta atau kesaksian palsu.” (HR. Al Bukhari No. 6871)
3⃣. Kezaliman yang Sangat Besar.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, dan dia memberikan pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang teramat besar.'” (QS. Luqman: 13)
4⃣. Kesesatan yang Teramat Jauh.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka dia telah tersesat sejauh-jauhnya kesesatan.” (QS. An-Nisa: 116)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:
“Yaitu dia telah menempuh jalan yang tidak benar, telah tersesat dari petunjuk dan jauh dari kebenaran, dan dia telah membinasakan diri sendiri dan merugikannya, baik pada kehidupan dunia dan akhirat, dan dia pun tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/414. Cet. 2, 1420H-1999M. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)
5⃣. Terhapusnya Amal Shalih.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Telah diwahyukan kepadamu dan orang-orang sebelum kamu, jika kamu melakukan kesyirikan niscaya benar-benar terhapus amalmu dan kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah mengatakan:
“Ini berlaku bagi semua amal, maka terdapat pada nubuwwah seluruh nabi bahwa syirik menghapuskan seluruh amal, sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat Al An’am -yang membicarakan banyak para nabi dan rasul- : ‘Itulah petunjuk dari Allah, Dialah yang memberikan petunjuk bagi yang Dia kehendaki, dan barang siapa di antara mereka menyekutukan Allah maka terhapus amal-amal yang telah mereka lakukan.'” (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Manan, Hal. 729. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah)
6⃣. Masuk Ke Neraka dan Terhalang Dari Surga.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya, siapa yang menyekutukan Allah maka dia telah terhalang baginya surga dan tempatnya adalah neraka. Dan orang-orang zalim itu tiada memiliki penolong sedikit pun.” (QS. Al-Maidah: 72)
Bersambung….

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Mari Kita Belajar Bersyukur

📆 Rabu, 29 Syawal 1437 H / 3 Agustusi 2016 M

📚 *TAZKIYATUN NAFS*

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 *Mari Kita Belajar Bersyukur….*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

❣Lihatlah orang sakit, perhatikan yang tertimpa bencana, lihat orang terpenjara, kan kau dapati, pada dirimu ternyata menyimpan segudang nikmat…

💟 *Nikmat itu yang penting bukan apa yang kita miliki, tapi apa yang kita rasakan dan syukuri*…apa yang ada dan kau syukuri, lebih baik dari keinginan yang tak kunjung terwujud….

❣Dua orang mendapatkan keuntungan yang sama;
Bisa jadi yang satu merasa untung tiada kira, yang satu merasa kurang dan merana…
*Ini soal bagaimana mensyukuri…*

💟 Dalam bahasa Arab antara nikmat نعمة dan niqmah نقمة yang berarti azab sangat tipis bedanya. Nikmat yang sama dapat jadi berkah, dapat jadi azab..

❣ _Nikmat menjadi barokah, ketika kt gunakan pada apa yang Allah cintai dan ridhai, tapi jadi sumber azab, kalau digunakan di jalan kemaksiatan._

💟Bahkan dlam kekurangan, keterbatasan, keterhalangan, keterdesakan boleh jadi tersimpan nikmat.

❣Betapa banyak kekurangan kita menyebabkan berkurangnya potensi keburukan yang akan kita dptkan apabila diberi kelebihan….

💟Betapa banyak keterhalangan kita, menghalangi kita untuk melakukan perbuatan nista dan tercela dibanding bila segalanya terbuka…

❣Betapa banyak keterdesakan kita, mendesak kita untuk kuat berikhtiar dan kian pasrah, dibanding apabila segalanya serba lapang kita rasakan..

💟 Betapa banyak keterpurukan kita, membuat kita terpuruk dan tersungkur di hadapan kebesaran Allah, memohon ampun dan pertolongan Nya….

❣Belajarlah mensyukuri hal-hal yang dianggap sepele; udara segar, tidur nyenyak, pedasnya sambel 😋, anak2 sehat, keluarga rukun… dan lain-lain

💟Yang mudah mensyukuri hal-hal kecil, tentu akan lebih bersyukur pada kenikmatan yang lebih besar.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Dipersembahkan oleh:

website: www.iman-islam.com

Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

KENAPA YA NABI DILAHIRKAN DI MAKKAH? (2)

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
📆Selasa, 28 Syawwal 1437 H/ 02 agustus 2016
📘Sirah
📝 Wido Supraha
📖 KENAPA YA NABI DILAHIRKAN DI MAKKAH? (2)
=============================
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Brother and Sista,
Kita lanjutkan ya rahasia mengapa Nabi dilahirkan di Makkah. Udah pada baca tulisan pertama kan? Terakhir kita telah belajar bahwa bangsa Arab pada aslinya merupakan keturunan dari dua bangsa besar: Qahthan dan ‘Adnan.
Nah, brother and sista, kalau kaum Qahthan mendiami bagian Selatan (wilayah Yaman) dan telah mengenal kebudayaan dan cara kehidupan menetap, maka kaum ‘Adnan (keturunan Isma’il a.s.) yang mendiami bagian Utara (Hijaz bagiannya) masih menjalani kehidupan Badui dan nomaden. Nomaden itu artinya suka berpindah-pindah tempat, guys. Segala bentuk kejahiliyahan karena ketidaktahuan terjadi pada masa ini. Budaya kehidupan nomaden ini melahirkan penghargaan yang lebih tinggi kepada golongan laki-laki, dan merendahkan martabat golongan wanita. Terjadilah kisah seperti dikuburnya anak wanita agar tidak menjadi tawanan perang. Kalaupun ada yang membesarkan anak wanita mereka, mereka membesarkannya dalam keadaan malu.
Kehidupan nomaden juga melahirkan watak berperang meski terdapat banyak watak positif seperti penghormatan terhadap bulan Haram, menjaga kehormatan, keberanian, konsistensi, memerangi kezhaliman, jujur, melindungi tetangga, pemaaf ketika berkuasa, menghormati tamu, dan lainnya. Perlindungan yang mereka jaga hadir baik melalui adopsi, perjanjian, sumpah, loyalitas, ataupun suaka politik. Kemungkinan besar akhlak yang paling menonjol dan paling banyak mendatangkan manfaat setelah pemenuhan janji adalah kemuliaan jiwa dan semangat pantang mundur, sebab kejahatan dan kerusakan tidak bisa disingkirkan, keadilan dan kebaikan tidak bisa ditegakkan kecuali dengan kekuatan dan ambisi seperti ini.
Dapat terbayangkan gak brother and sista, kalau di masa itu, dunia dikuasai oleh dua negara adidaya, Persia dan Romawi, disusul India dan Yunani. Kalau Persia adalah ladang subur khurafat dan filosofis yang saling bertentangan, maka Romawi telah dikuasai sepenuhnya semangat kolonialisme. Demikian India dan Yunani yang berada pada puncak kebejatan agama, akhlak dan sosial. Namun hikmah diturunkannya Islam bukan di Persia maupun di Romawi sama seperti hikmah dijadikannya Rasulullah seorang ummi.
Posisi jazirah Arab yang tepat di tengah jantung dunia purbakala, memiliki hikmah tersendiri. Belum pernah ada penakluk yang penuh ambisi merambah wilayah ini. Tak ada penguasa yang ingin menguasai daerah ini. Segala kegiatan aksi militer hanya sampai ke perbatasan Arab dengan Syiria, Palestina dengan Libanon. Bagi mereka, Jazirah Arab tidak pantas untuk diperebutkan. Di tempat inilah ternyata Nabi kita tercinta dilahirkan. Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih pahala….
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

SYARAH HADITS 1: NIAT DAN IKHLAS, Bag. Terakhir

📆 Selasa,  28 Syawal 1437 H / 2 Agustusi 2016 M

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

📋  *Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 4)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *SYARAH HADITS 1: NIAT DAN IKHLAS, Bag. Terakhir*

✏️ Kedudukan, Faidah, dan Makna Hadits Secara Global

📌   Pertama. Hadits ini berisikan sesuatu yang amat penting dalam Islam yakni niat dan ikhlas. Amal harus ada niat, sedangkan niat harus ada keikhlasan agar dia diterima. Oleh karena itu para ulama menganjurkan agar siapa saja yang hendak menyusun kitab, agar mencantumkan hadits ini di permulaan kitabnya sebagai renungan bagi penyusunnya untuk meluruskan niatnya.

  Berkata Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id:

قال الإمام أحمد والشافعي رحمهما الله: “يدخل في حديث الأعمال بالنيات ثلث العلم” قاله البيهقي، وغيره. وسبب ذلك أن كسب العبد يكون بقلبه ولسانه وجوارحه والنية أحد الأقسام الثلاثة.

  Imam Ahmad dan Imam Asy Syafi’i Rahimahumallah berkata: ‘Hadits ini mencakup sepertiga ilmu’ , hal itu dikatakan juga oleh Al Baihaqi dan lainnya. Sebabnya adalah perbuatan hamba terdiri atas hati, lisan, dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu bagian dari tiga itu. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah,  Hal. 24)

  Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, bahwa katanya: hadits ini mencakup 70 bab tentang fiqih. Segolongan ulama  mengatakan hadits ini merupakan sepertiganya Islam.

  Berkata Imam Abdurrahman bin Al Mahdi Radhiallahu ‘Anhu:

ينبغي لكل من صنف كتاباً أن يبتدئ فيه بهذا الحديث تنبيهاً للطالب على تصحيح النية.

  “Hendaknya bagi setiap orang yang menyusun kitab agar mengawali kitabnya dengan hadits ini, sebagai peringatan bagi penuntut ilmu untuk meluruskan niatnya.” (Ibid Hal. 25)

📌Kedua. Hadits ini pula yang dijadikan oleh para ulama sebagai parameter untuk membedakan (tamyiz) status hukum amal seseorang; antara adat dan ibadah, dan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya.

  Jika seseorang makan demi memenuhi kebutuhan perutnya, ini adalah adat, tetapi jika makan demi menjaga kekuatan untuk ibadah dan ketaatan kepadaNya maka makan seperti itu dinilai ibadah.

  Niat juga yang membedakan antara nilai puasa yang satu dan yang lainnya. Seseorang yang berpuasa pada hari senin tetapi saat itu dia sedang berniat puasa syawal, maka kesunahan puasa senin kamis baginya telah gugur. Artinya dalam syariat dia dinilai sedang puasa syawal bukan puasa senin kamis. Sedangkan menggabungkan berbagai niat puasa dalam satu hari, tidak ada dasarnya dalam syariat, walau ada ulama yang membolehkannya. Hal ini sama halnya dengan seorang yang masuk ke masjid langsung bergabung dengan jamaah shalat fardhu, maka kesunahan shalat tahiyatul masjid baginya telah gugur.

  Hadits ini telah melahirkan sebuah kaidah fiqih yang sangat terkenal, dan Imam As Suyuthi telah memasukkannya dalam kaidah pertama dalam kitab Al Asybah wan Nazhair, yakni:

الأمور بمقاصدها

  “Urusan/perkara tergantung maksud-maksudnya.” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Oleh karena itu, syariat menghargai orang yang berniat ingin shalat malam, tetapi dia ketiduran, maka dia tetap mendapatkan pahala shalat malam. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من أتى فراشه وهو ينوي أن يقوم يصلي من الليل فغلبته عينه حتى يصبح كتب له ما نوى

  “Barang siapa yang mendatangi pembaringannya dan dia berniat untuk melaksanakan shalat malam, lalu dia tertidur hingga pagi, maka dia tetap mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Ibnu Majah No. 1344, An Nasa’i No. 1787. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1344)

  Begitu pula orang yang berniat ingin shalat berjamaah di masjid, tetapi sesampainya di sana dia tertinggal jamaah, maka Allah Ta’ala tetap memberikannya nilai pahala berjamaah. Hal ini dengan syarat dia tidak menyengaja untuk berlambat-lambat menuju masjid.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘Alaihi wa Sallam bersada:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا لَا

يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia pergi ke mesjid (untuk berjamaah) dan dia lihat jamaah sudah selesai, maka ia tetap mendapatkan seperti pahala orang yang hadir dan berjamaah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”   (HR. An Nasa’i No. 855, Abu Daud No. 564, Ahmad No. 8590, Al Hakim No. 754, katany shahih sesuai syarat Imam Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6163)

Berkata Imam Abul Hasan Muhammad Abdil Hadi As Sindi Rahimahullah:

ظَاهِره أَنَّ إِدْرَاك فَضْل الْجَمَاعَة يَتَوَقَّف عَلَى أَنْ يَسْعَى لَهَا بِوَجْهِهِ وَلَا يُقَصِّر فِي ذَلِكَ سَوَاء أَدْرَكَهَا أَمْ لَا فَمَنْ أَدْرَكَ جُزْء مِنْهَا وَلَوْ فِي التَّشَهُّد فَهُوَ مُدْرِك بِالْأَوْلَى وَلَيْسَ الْفَضْل وَالْأَجْر مِمَّا يُعْرَف بِالِاجْتِهَادِ فَلَا عِبْرَة بِقَوْلِ مَنْ يُخَالِف قَوْله الْحَدِيث فِي هَذَا الْبَاب أَصْلًا .

 “Secara zhahir, hakikat keutamaan jamaah adalah dilihat dari kesungguhan dia untuk melaksanakannya, tanpa memperlambat diri atau menunda-nunda. Jika demikian, ia tetap dapat pahala jamaah, baik sempat bergabung dengan jamaah atau tidak. Maka, barang siapa yang mendapatkan jamaah sedang tasyahud, maka pahalanya sama dengan yang ikut sejak rakat pertama. Adapun urusan pahala dan keutamaan tidak dapat diketahui dengan ijtihad. Jadi, sepatutnya kita tidak peduli dengan pendapat yang bertentangan dengan hadits-hadits di atas.”  (Syarh Sunan An Nasa’i, 2/113. Syamilah)

  Begitu pula dengan kesalahan yang tidak diniatkan untuk dilakukan dan juga karena terpaksa, seperti membunuh tidak sengaja (peluru nyasar), terpaksa mengaku kafir demi menjaga jiwa seperti yang dilakukan oleh sahabat nabi, Amr bin Yasir, dan contoh  lainnya. Hal ini berdasarkan pada ayat:

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

    “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah.”  (QS. Al Baqarah (2): 286)

  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن الله تعالى تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

  “Sesungguhnya Allah Ta’ala melewatkan saja bagi umatku; kesalahan tidak sengaja, lupa, dan orang yang dipaksa.” (HR. Ibnu Majah No. 2043, 2045. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, No. 14871. Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 1/358, No. 1731. Al Maktab Al Islami. Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa sahabat yakni Abu Dzar, Ibnu Abbas, dan Tsauban)

  Dalam kehidupan suami isteri juga demikian, tidak dikatakan zhihar bagi seorang suami yang memanggil isterinya dengan panggilan Ummi (ibuku), sebab dia maksudkan dengan panggilan itu adalah sebagai bimbingan bagi anak-anaknya agar terbiasa memanggil Ummi kepada ibunya. Bukan berarti dia menganggap isterinya sama dengan ibunya.

  Thalak pun tidak jatuh bagi  isteri yang dithalak suaminya yang sedang mabuk, tidak sadar, atau marah yang membuatnya tidak terkendali, sebab ia tidak meniatkannya secara sadar. Inilah pandangan jumhur (mayoritas) ulama seperti Utsman bin Affan, Ibnu Abbas, Ahmad,  Bukhari, Abusy Sya’ tsa’, Atha’, Thawus, Ikrimah, Al Qasim bin Muhammad, Umar bin Abdul Aziz,  Rabi’ah, Laits bin Sa’ad, Al Muzani, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan lain-lain. Inilah pendapat yang kuat, bahwa thalak baru jatuh ketika sadar, akal normal, dan  sengaja.

  Ada juga ulama yang berkata, thalak orang mabuk adalah sah seperti Said bin Al Musayyib, Hasan Al Bashri, Az Zuhri, Asy Sya’bi, Sufyan Ats Tsauri, Malik, Abu Hanifah, dan Asy Syafi’i.

Begitu pula kaum yang mencela negara penjajah Zionis Israel,   sesungguhnya kaum tersebut bukan sedang mencela Nabi Ya’qub yang memiliki nama lain Israil. Tidak benar bahwa mereka dianggap sedang menghina Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam sebagaimana anggapan sekelompok orang. Sebab, yang mereka maksudkan dengan nama ‘Israel’ adalah bangsa Yahudi yang mencaplok Palestina, sebagaimana terekam dalam dokumen sejarah modern, bukan Nabi Ya’qub.

Begitu pula ketika ramai manusia membicarakan seorang koruptor bernama Al Amin, misalnya. Tidaklah itu bermakna bahwa manusia sedang menggunjingkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memiliki gelar Al Amin.

  Demikianlah, betapa pentingnya kedudukan niat dalam menentukan status hukum sebuah amal perbuatan manusia.

📌  Ketiga. Hadits ini juga menegaskan betapa pentingnya ikhlashun niyyah. Sebab keikhlasan merupakan syarat diterimanya amal shalih sebagaimana yang telah diketahui. Bahkan amal yang tidak dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, baik karena ingin dipuji, ingin ketenaran, ingin harta dunia, dan semisalnya, akan membuat pelakunya celaka.

  Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud (11): 15-16)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

            “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya dia seharusnya menginginkan wajah Allah, (tetapi) dia tidak mempelajarinya melainkan karena kekayaan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ibnu Hibban No. 78, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 288, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani mengatakan shahih lighairih. Shahih Targhib wat Tarhib No. 105. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 3664, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, No. 252)

Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

 “Barangsiapa diantara mereka  beramal amalan akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian apa-apa di akhirat.” (HR. Ahmad No. 20275. Ibnu Hibban No. 405, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 7862, katanya: sanadnya shahih. Imam Al Haitsami mengatakan:  diriwayatkan oleh Ahmad dan anaknya dari berbagai jalur dan perawi dari Ahmad adalah shahih, Majma’ Az Zawaid 10/220. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan semua amal kita karena hanya mengharap ridhaNya. Amin.

  Sekian syarah hadits pertama. Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 3)

📆 Senin,  27 Syawal 1437 H / 1 Agustusi 2016 M

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan
📋  *Syarah Hadits Arbain Nawawiyah (Bag. 3)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Materi sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut:

http://www.iman-islam.com/2016/07/syarah-hadits-arbain-nawawiyah-bag-2.html

Selanjutnya:

فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله :

“Maka, barang siapa yang hijrahnya  kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya”

Kalimat ‘faman’ (Maka barang siapa), secara khusus yang dimaksud dalam hadits ini adalah seorang laki-laki  yang berhijrah dari mekkah ke Madinah bukan karena mencari keutamaan hijrah tetapi karena mengincar seorang wanita yang ingin dinikahinya. Berkata Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id:

نقلوا أن رجلا هاجر من مكة إلى المدينة لا يريد بذلك فضيلة الهجرة، وإنما هاجر ليتزوج امرأة تسمى أم قيس

  “Mereka meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dengan hijrahnya itu dia tidak menghendaki  keutamaan hijrah. Dia hanya menghendaki agar dapat menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.” (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 27. Maktabah Al Misykah. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 1/10. Darul Fikr)

   Sehingga di dalam sejarah, laki-laki tersebut dikenal dengan sebutan Muhajir Ummu Qais.

  Walaupun sababul wurud hadits ini karena laki-laki tersebut, namun nilai dan hukum yang terkandung di dalamnya juga berlaku  bagi manusia lain secara umum. Hal ini sesuai kaidah: Al ‘Ibrah bi ‘umum al lafzhi laa bi khushush as sabab (Pelajaran bukanlah diambil dari  sebabnya yang spesifik, tetapi dari makna lafaznya secara umum).

  Kalimat ‘Kanat hijratuhu’  (yang hijrahnya), yakni hijrah dari Mekkah ke Madinah setelah tiga belas tahun da’wah di Mekkah mengalami penindasan. Dahulu Madinah dinamakan Yatsrib, dan hijrah tersebut adalah yang kedua, setelah hijrah pertama ke Habasyah (Etiopia). Peristiwa ini menjadi titik tolak awal penanggalan tahun Hijriyah.

  Perintah hijrah ini langsung datangnya dari Allah Ta’ala, bahkan orang yang tidak mau ikut hijrah padahal mereka sanggup, oleh Allah Ta’ala disebut sebagai orang yang menganiaya dirinya sendiri.

  Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa (4): 97)

   Yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu. Imam Adh Dhahak mengatakan mereka adalah orang-orang munafiq yang memang berselisih dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  justru mereka ikut bersama kaum musyrikin ketika perang Badar. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/389. Dar An Nasyr wat Tauzi’)

  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mencela mereka, dari Samurah bin Jundub Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من جامع المشرك وسكن معه فإنه مثله

  “Barang siapa yang berkumpul dan tinggal bersama orang musyrik maka dia adalah semisal dengannya.” (HR. Abu Daud No. 2787. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2787)

  Hijrah secara bahasa artinya At Tarku (meninggalkan). Secara syariat, hijrah adalah Al Intiqal min baladil Kufri ilaa baladil Islam, wa min dar asy syirki ilaa dar at tauhid,  wa min dar al khauf ilaa dar al amn (pindah dari negeri kufur menuju negeri Islam, dan dari negeri syirik menuju negeri tauhid, dan dari negeri yang tidak aman menuju negeri yang aman).

  Para ulama berbeda pendapat, apakah hijrah itu wajib atau sunah? Namun pendapat yang lebih kuat adalah hijrah dari sebuah tempat  di mana  seorang muslim yang tidak  dapat menjalankan agamanya secara sempurna adalah wajib. Hal ini sesuai kai

dah :
ما لايتم الواجب إلا به فهوواجب

Kewajiban yang tidak sempurna kecuali oleh sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

  Menjalankan agama adalah kewajiban, tetapi baru bisa sempurna menjalankannya dengan hijrah dari daerah  kufur tersebut,  maka hijrah adalah wajib.

Hijrah ada dua model. Pertama, hijrah makani (pindah wilayah) yaitu dari negeri kafir ke negeri tauhid. Bisa juga pindah tempat dari daerah buruk, daerah maksiat dan kejahatan, yang tidak kondusif bagi agama dan akhlak, menuju daerah yang shalih dan aman buat agama. Kedua, hijrah ma’nawi (pindah secara nilai) yaitu berubahnya seseorang yang tadinya kafir menjadi muslim, ahli maksiat menjadi ahli tha’at, jahil (bodoh) menjadi  ‘alim (berilmu) dan lainnya.
“kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya”

  Makna ‘kepada Allah’ adalah orang yang hijrahnya karena Allah Ta’ala, untuk mencari balasan kebaikan dariNya, untuk mendapatkan ridhaNya, dan untuk membela syariatNya. Allah Ta’ala berfirman:

 وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

    “dan jika kamu sekalian menghendaki   Allah dan Rasulnya-Nya.” (QS. Al Ahzab (33): 29).

   Imam Asy Syaukani mengatakan: “yaitu (menginginkan) surga dan kenikmatannya.” (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 6/37. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin mengatakan: “yaitu menginginkan wajahNya dan menolong agamaNya. Ini adalah keinginan yang baik.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Hal. 9. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Makna ‘dan RasulNya’ adalah orang yang berhijrah untuk memperoleh keberuntungan bersahabat dengannya, menjalankan sunahnya, membelanya, dan mengajak manusia kepadanya, serta menyebarkan agamanya. (Ibid)

Makna ‘maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya’ yaitu  dia akan mendapatkan apa yang diniatkan itu yakni pahala dari Allah Ta’laa, ridhaNya, kemenangan dunia dan akhirat, sebagaimana yang dia niatkan sebelumnya.

Berkata Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah:

إلى الله ورسوله : بأن يكون قصده بالهجرة طاعة الله عز وجل ورسوله صلى الله عليه وسلم .
فهجرته إلى الله ورسوله : ثوابا وأجرا .

“Kepada Allah dan RasulNya: yaitu menjadikan maksud hijrahnya adalah demi ketaatan kepada Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. ‘Maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya: yaitu (mendapat) balasan dan pahala.” (At Tuhfah Ar Rabbaniyah Hal. 2)

  Selanjutnya:

ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه :

“dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.”

  Makna ‘dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya’ yakni menginginkan kenikmatan kehidupan dunia seperti  kekayaan, pangkat, perniagaan, jabatan, perhiasan, dan godaan dunia lainnya.

  Secara bahasa dunia diambil dari kata danaa yang artinya dekat (Al Qarbu). Ini sekaligus menunjukkan singkatnya kehidupan dunia.  Dinamakan Ad Dun-ya karena lebih dahulu dibanding akhirat, atau sangat dekat dengan zawal (tergelincirnya waktu). Kehidupan ini  adalah di atas bumi yang di dalamnya terdapat  udara dan angin  dan apa pun yang ada sebelum datangnya kiamat. (Ibid)

  Makna ‘atau wanita’ yakni Ummu Qais.  ‘ yang  ingin dinikahinya’ yakni dikawininya dan dijadikannya isteri   Dan, pengkhususan wanita di sini, padahal wanita adalah bagian dari kenikmatan dunia juga, merupakan keistimewaannya sekaligus ‘daya goda’-nya yang seringkali lebih kuat terhadap laki-laki dibanding godaan lainnya.

  Makna ‘maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu’  yakni dia akan mendapatkan dunia yang diinginkannya itu, tetapi dia tidak mendapatkan Allah dan RasulNya.

  Oleh karena itu Allah Ta’alla berfirman:

وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

   “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran (3): 145)

 Ucapan Imam An Nawawi: Diriwayatkan oleh Imamul Muhadditsin, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husein Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, dalam kitab shahih mereka yang merupakan kitab hadits paling shahih. Yaitu hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka, yang berjudul sama, Jami’ush Shahih. Bukan kitab karya mereka yang lain.

  Berkata Imam An Nawawi dalam kitab At Taqrib:

أول مصنف في الصحيح المجرد، صحيح البخاري، ثم مسلم، وهما أصح الكتب بعد القرآن، والبخاري أصحهما وأكثرهما فوائد، وقيل مسلم أصح، والصواب الأول

  “Kitab pertama yang paling shahih adalah Shahih Al Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran. Dan Shahih Al Bukhari paling shahih di antara keduanya dan paling banyak manfaatnya. Ada yang mengatakan Shahih Muslim paling shahih, tapi yang benar adalah yang pertama.” (Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 1. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Beliau menambahkan:

الصحيح أقسام: أعلاها ما اتفق عليه البخاري ومسلم، ثم ما انفرد به البخاري، ثم مسلم، ثم ما على شرطهما، ثم على شرط البخاري، ثم مسلم، ثم صحيح عند غيرهما، وإذا قاولوا صحيح متفق عليه أو على صحته فمرادهم اتفاق الشيخين

  “Ash Shahih itu terbagi-bagi, paling tinggi adalah yang disepakati oleh Al Bukhari dan Muslim, kemudian Al Bukhari saja, kemudian Muslim, kemudian hadits yang sesuai syarat keduanya, kemudian yang sesuai syarat Al Bukhari, kemudian Muslim, kemudian shahih menurut selain keduanya. Jika mereka mengatakan: Shahih Muttafaq ‘Alaih atau ‘Ala Shihatihi maksudnya adalah disepakati oleh Syaikhain (dua syaikh yakni Al Bukhari dan Muslim).” (Ibid)

Namun, tidak ada kitab yang melebihi kesempurnaan Al Quran. Oleh karena itu kitab mereka berdua pun juga tidak selamat dari kritik para ulama hadits. Ditengarai dalam kitab mereka berdua terdapat 210 hadits yang dikritik. Imam Al Bukhari kurang dari 80, sisanya adalah Imam Muslim. Ini sekaligus menujukkan kebenaran bahwa Shahih Bukhari lebih baik dibanding Shahih Muslim.

🔹 *Bersambung* , masih hadits ke1🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Apa yang membuat kita siap menjalani ujian itu?

📆 Ahad,  26 Syawal 1437 H / 31 Juli 2016 M

📚 *Motivasi Islam*

📝 Ustadzah Rochma Yulika

📋  *Apa yang membuat kita siap menjalani ujian itu?*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌺Bila kita sadari setiap peristiwa hidup ini tak luput dari rencana-Nya. Bahkan sehelai daun yang jatuh tak lepas dari pandangan-Nya pula.

🌼Kadang suasana tak mudah kita ubah namun rasa yang muncul dalam menyikapi suasana bisa mudah kita rubah. Keimanan yang sangat besar di dalam dada akan menjadi landasan hidup. Segala aral yang melintang tak mampu membuat kita terlarut dalam kesedihan dan penyesalan.

🌺Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Ada kemudahan setelah kesulitan. Karena dengan ujian itu kita akan tahu reputasi kita. Kita akan tahu kualitas kita. Kita akan tahu daya tahan imunitas kita. Kita akan tahu sportivitas dan optimisme kita. Dan dengan ujian itu sesungguhnya kita sedang merancang masa depan kita.

🌼Mari kita bersama mulai melangkah dengan meyakini ujian itu pasti datang. Gelombangnya boleh jadi makin hari makin besar dan dahsyat sesuai dengan tingkat kiprah dan keimanan kita. Fitnah dan mighnah akan datang seiring dengan disiapkannya kenikmatan, bila tak di dunia insyaallah di surga kan bisa mendapatinya.

🌺Bila kita bisa mengarungi gelombang itu bukan berarti telah berhasil meraih kemenangan namun pastilah akan datang lagi cobaan. Semuanya itu tak lain untuk meningkatkan derajat kita di mata Allah.

🌼Bila ujian-ujian itu telah terlampaui insya Allah akan sirna kepedihan hati berganti ketenangan dan kedamaian yang merupakan bagian dari perjalanan menuju surga-Nya.

🌺Cobaan dan ujian memang adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tak mengalaminya. Karena memang hal ini pun juga telah disebutkan banyak di dalam ayat Al Quran.

🌼Cobaan dan ujian tentu ada dalam dua bentuk yaitu kesedihan dan kebahagiaan. Kesedihan seperti kurangnya harta, ditinggalkan oleh orang yang disayangi atau tertimpanya bencana atau penyakit yang tak kunjung sembuh adalah bentuk ujian yang tak diharapkan oleh kebanyakan orang. Karena memang semuanya membawa pada keadaan yang tak mengenakkan.

🌺Sedangkan bentuk ujian yang kedua adalah dimana semuanya berada pada hal yang mengenakkan. Misalnya banyaknya harta benda yang dimilki, usaha yang dijalankan sukses dan selalu menghasilkan untung besar. Memilki banyak anak yang sehat dan pintar. Semuanya adalah bentuk ujian yang terkadang tak banyak disadari oleh kita karena memang di balik semuanya tersimpan kebahagiaan bukan kesedihan.

🌼Dalam menghadapi kedua hal tersebut, manusia dinilai oleh Allah. Sejauh mana mereka akan senantiasa mampu bersabar dan bersyukur dalam menjalaninya.  Dan dari penilaian inilah Allah akan menentukan banyak sediktnya pahala yang akan di dapat oleh manusia tersebut.

🌺Jika memang ia dapat melewatinya dengan baik dan benar tentu akan mendapatkan nilai yang baik. Dan nilai yang baik ini akan membawanya kepada surganya Allah. Sebaliknya jika manusia dalam menghadapi semua cobaan dan ujian itu tidak berhasil dengan benar maka yang didapat adalah nilai yang buruk dimana nilai ini akan menjerumuskan manusia ke neraka yang begitu menyiksa.

🌼Mengolah rasa dalam menyikapi keadaan menjadi kewajiban kita agar ketahanan diri dalam meyikapi masalah yang hadir lebih bijaksana.

Wallahu A”lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Dipersembahkan oleh:
website: www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis