Kelembutan Tutur Kata Nabi Saw

📆 Ahad, 19 Syawal 1437H / 24 Juli 2016

📚 *MUAMALAH*

📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

📝 *Kelembutan Tutur Kata Nabi Saw*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hadits*

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا لَعَّانًا وَلَا سَبَّابًا كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik ra berkata; “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bertutur kata yang keji, (tidK pernah pula) melaknat dan mencela orang lain. Dan apabila beliau hendak mencela seseorang, maka beliau akan (menyindirnya saja) dengan berkata: “Mengapa dahinya berdebu?” (HR. Bukhari)

📚 *Hikmah Hadits :*

❣1. Diantara kemuliaan Nabi Saw adalah bahwa beliau senantiasa bertutur kata yang baik, lembut dan berusaha tidak menyinggung perasaan orang lain (para sahabat). Beliau tidak pernah berkata yg kasar dan keji, tidak pernah pula melaknat atau mencela orang lain, serta senantiasa mengedepankan kasih sayang.

Maka diantara cara mengikuti sunnah Nabi Saw adalah dengan berusaha bertutur kata yg baik, lembut dan tidak mencela atau melaknat sesama muslim lainnya.

❣2. Kalaupun Nabi Saw tidak suka dengan perbuatan atau perangai seseorang, maka beliau hanya mengungkapkan dengan perkataan sindiran yang menunjukkan ketidaksukaan beliau terhadap orang tersebut, seperti ungkapan beliau, “Mengapa dahinya berdebu?” Dan umumnya para sahabat memahami bahwa ungkapan tersebut adalah bentuk teguran Nabi Saw.

Sungguh, betapa mulianya akhlak beliau… Allahumma shalli wasallim wabarik alaih…

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA Bag.2

📆 Sabtu, 18 Syawal 1437H / 23 Juli 2016

📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*

📝 *MENGHIDUPKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM DALAM JIWA ANAK-ANAK KITA  Bag.2*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

*Bag. 1*   http://www.iman-islam.com/2016/07/menghidupkan-rasulullah-shalallahu.html?m=1

*3. Ceritakan Kisah Rasul SAW.*

Dalam Shahîh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan (Nabi) Ismail. Dan memilih suku Quraisy dari (bangsa) Kinânah. Kemudian memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy dan memilih diriku dari Bani Hasyim” (HR Muslim).
Mempelajari Siroh (sejarah hidup) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berguna sebagai nutrisi bagi hati dan sumber keceriaan bagi jiwa serta penyejuk bagi mata. Bahkan hal itu merupakan bagian dari agama Allah Ta’ala dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  merupakan kehidupan sarat dengan mobilitas tinggi, ketekunan, kesabaran, keuletan, penuh harapan, jauh dari pesimisme dalam mewujudkan ubudiyah (penghambaan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendakwahkan ajaran agama-Nya.

📚 *_Faedah dan manfaat mempelajari Sirah Nabawi tersimpulkan pada poin-poin berikut:_*
💐a. Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. Al-Ahzab/33:21).

💐b. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu dalam memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pengamalan nyata terhadap al-Qur`an. Hal ini berdasarkan keterangan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk al-Qur`an dengan sempurna, dalam hal perintah dan larangan serta adab-adab al-Qur`an.
💐c. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penanaman cinta dan penguatannya pada hati seorang Muslim menuntutnya untuk mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya cintanya kian subur di hatinya terhadap sosok yang mulia ini. Dan selanjutnya, cinta tersebut akan mendorongnya menuju setiap kebaikan dan ittiba’ kepada beliau.
💐 d. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu menuju peningkatan keimanan.
💐 e. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu memudahkan memahami Islam dengan baik dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak. Dan sejarah telah mencatat bahwa beliau memulai dakwah dengan tauhid dan perbaikan aqidah dan menekankan pada masalah tersebut.
💐 f. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau.
💐 g. Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu berkah menuju gerbang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para rasul.
💐 h. Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa perilaku dan sejarah hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim yang mengharap kebaikan dan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Generasi Islam akan mengalami kemerosotan bila sebagian mereka lebih mengenal sejarah hidup orang-orang yang tidak pantas diteladani.

Kegiatan ini bisa dilakukan menjelang tidur, ketika anak-anak pulang dari sekolah atau di saat-saat lain yang kondusif untuk belajar.
Kita bisa membelikan buku tentang kehidupan Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam. Bisa juga memperdengarkan melalui radio dalam perjalanan di mobil.
Atau bisa saja dimunculkan kegiatan setiapa anggota keluarga menceritakan cerita pilihan masing-masing.

*4. Meneladani Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam Ketika Tidur*

Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu tidur adalah teladan terbaik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang Beliau ajarkan. Selaras dengan fitrah manusia. Jauh dari sikap ifrath (berlebih-lebihan) ataupun tafrith (mengurangi atau meremehkan).
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam.

Pada sebagian riwayat dijelaskan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur berbaring di atas rusuk kanan Beliau. Terkadang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya di atas yang lain. Sesekali Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam letakkkan telapak tangannya di bawah pipi kanan Beliau. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa. Satu catatan penting juga, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur dalam kondisi perut penuh berisi makanan.

🙏Diantara doa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan untuk dibaca sebelum tidur adalah sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut.
عَنِ البَرَّاء بنِ عَازِب، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللهُمَّ إِنِّي اَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَ فَوَضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَ أَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا منك إَلاّ إِلَيْكََ ، أَمَنْتُ بِكِتَابٍكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ وَ اجْعَلْهُنَّ آخِرَ كَلاَمِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ على الفِطْرَة))
“Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,”Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah doa:” Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau meninggal di atas fitrah” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Posisi berbaring seperti yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah posisi tidur terbaik yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena pada posisi miring ke kanan, makanan berada dalam lambung dengan stabil sehingga proses pencernaan berlangsung lebih efektif.

Adapun tentang posisi tidur yang terlarang, hadits berikut akan menjelaskan kepada kita.
عَنْ يَعِيْشَ بن طِخْفَةَ الغِفَاري رَضِي الله عنه قال : قال أَبي بَيْنَمَا أَناَ مُضْطَجِعٌ في المَسْجِد ِعَلى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَال (( إَّنَّ هَذِهَ ضِجْعَةٌ يُبْغِضَها اللهُ)) قال فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ
“Dari Ya’isy bin Thihfah ia berkata,”Ayahku berkata,” Ketika aku berbaring (menelungkup) di atas perutku di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggoyangkan tubuhku dengan kakinya lantas ia berkata,” Sesungguhnya cara tidur seperti ini dibenci Allah” Ia berkata,”Akupun melihatnya ternyata orang itu adalah Rasululullah” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Tentang tidur siang, sebagian ulama ada yang membaginya ke dalam tiga kategori:
🌷 *Pertama* : Tidur siang pada tengah hari saat matahari bersinar terik. Tidur ini biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
🌷 *Kedua* : Tidur pada waktu dhuha. Tidur ini sebaiknya ditinggalkan, karena membuat kita malas serta lalai untuk berusaha meraih kemashlatan dunia dan akhirat
🌷 *Ketiga* : Tidur pada waktu ashar. Ini merupakan waktu tidur yang paling jelek.
Sebagian salaf juga membenci tidur waktu pagi. Ibnu Abbas pernah mendapati putranya tidur pada pagi hari, lantas ia berkata kepadanya,”Bangunlah, apakah engkau tidur pada saat rizki dibagikan?”

*5. Meneladani cara makan Rasul salallahu ‘alaihi wassalam*

Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum.
🍀 a. Memakan makanan dan minuman yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51)
🍀 b. Mendahulukan makan daripada shalat jika makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih)
Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.
🍀 c. Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …”
🍀 d. Jangan berlebih-lebihan dan boros.Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 e. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad)
🍀 f. Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud)
🍀 g. Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)
🍀 h. Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-)” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Di antara faedah membaca basmallah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)
🍀 i. Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salammendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)
🍀 j. Makan mulai dari makanan yang terdekat. Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 k. Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)
🍀 l. Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan.Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.
🍀 m. Cara duduk untuk makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari) Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan.
🍀 n. Apabila lalat terjatuh dalam minumanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari)
🍀 o. Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makanTerdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.”(Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari)
🍀 p. Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk.Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)
🍀 q. Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🍀 r. Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari)
🍀 s. Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah)
🍀 t. Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.'”

*6. Meneladani Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sholat*

 صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوُنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari dari sahabat Malik bin al-Huwairits)

Hadits di atas merupakan landasan utama bagi umat Islam dalam meneladani ibadah shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lainnya, karena syarat diterimanya sebuah ibadah selain niat yang ikhlas juga harus sesuai contoh yang dibimbingkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. al-Bukhari  dan Muslim lafazh hadits diambil dari riwayat Muslim)

Sebagai contoh, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ada seseorang shalat di masjid yang saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya. Seusai shalat, orang itu menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyuruhnya untuk mengulangi kembali shalatnya. Lalu orang tersebut mengulangi shalatnya, ternyata disuruh kembali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengulanginya, hingga peristiwa tersebut terulang tiga kali. Akhirnya orang tersebut meminta Nabi supaya diajarkan sifat shalat yang benar, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya. (Lihat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

*7. Berhibur mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam*

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

TASYAFFI

📆 Jumat, 17 Syawal 1437H / 22 Juli 2016

📚 *TAZKIYATUN NAFS*

📝 Ustadz Abdullah Haidir Lc.

📋 *TASYAFFI*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

“Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (QS. Yusuf: 77)

Kata-kata di atas adalah komentar saudara-­saudara Nabi Yusuf yang Allah kisahkan kembali dalam Al­-Quran pada surat Yusuf ayat 77.

Latar belakangnya, Nabi Yusuf ingin agar Bunyamin tetap bersamanya. Maka dia perintahkan pegawainya memasukkan wadah milik kerajaan ke kantong makanan yang dibawanya dengan tujuan agar dia dituduh mencuri dan akhirnya ditawan dan tidak dapat ikut kembali bersama saudara-saudaranya.

Saudara­-saudaranya sendiri, yang sudah kadung membenci dan dengki kepada Bunyamin dan Nabi Yusuf, alih-­alih membelanya dan mencarikan alibi, mereka justeru memperlebar masalah dengan membawa-­bawa nama Nabi Yusuf, ‘Wajarlah kalau dia mencuri, wong saudaranya juga pernah mencuri…..’ begitu kira-kira jika ayat di atas disederhanakan maknanya.

Sikap di atas dalam bahasa Arab disebut *tasyafii*; _menumpahkan umpatan yang tersimpan ketika ada berita tentang ‘kelakuan buruk’ seseorang yang kadung tidak disukai_.

Perkara berita tersebut benar atau tidak, apakah mutlak salahnya atau tidak, apa latar belakang masalahnya, maksud dan tujuannya apa, itu ‘nomor ketigabelas’.

Yang penting moment tersebut tidak boleh terlewatkan baginya untuk menyalurkan dan melampiaskan ekspresinya tersebut. Perkara itu ghibah atau bukan, tinggal dicarilah logika pembenarannya, kan sudah biasa berdebat.

Gampang saja, bukan? Dalilnya, tinggal dipilih! Baginya, mengangkat kekeliruan dan kesalahan orang tersebut dan mengenyampingkan kebaikan­-kebaikannya, lebih mudah dan terasa memuaskan, ketimbang menyebut kebaikan-­kebaikannya dan menutup kekeliruannya atau minimal mencari klarifikasi atas apa yang dianggapnya salah.

Kondisi seperti ini sebenarnya merugikan pihak pengumpat jauh lebih besar ketimbang yang diumpat. Hatinya semakin keruh, kata­katanya semakin tidak terkontrol dan tertutuplah kebaikan­kebaikan yang seharusnya bisa dia dapatkan.

Kesalahan adalah tabi’at manusia, apalagi kalau wilayah aktifitasnya pada tataran riil dengan segmen publik yang luas, berbeda kalau wilayah aktifitasnya hanya sebatas wacana dan diskusi terbatas.

Kekeliruan memang harus diluruskan, setelah kita yakin bahwa itu kekeliruan. Tapi tidak dengan membuat kekeliruan baru dengan bergunjing, memperlebar masalah dan menafikan berbagai kebaikan yang ada, apalagi terhadap orang yang secara umum berusaha menempuh jalur kebaikan dan menebarkan kebaikan.

Adapun niatnya, hanya Allah yang mengetahui niat seseorang, kecuali kalau kita ingin menandingi Allah dalam masalah ini.

Ada kisah menarik dan sangat dikenal (haditsnya dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhushshalihin, bab Taubat), yaitu tentang Ka’ab bin Malik, shahabat mulia namun pernah tergelincir karena mangkir dalam perang Tabuk. Di tengah perjalanan, ketika ada seseorang hendak melampiaskan kekesalannya dengan berkata di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
‘Wahai Rasulullah, dia tak ikut karena asyik dengan burdahnya…’

Mendengar itu, serta merta Muaz bin Jabal menyergah, ‘Buruk sekali apa yang kamu katakan, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak mengenalnya kecuali dia orang yang baik.’ (Muttafaq alaih)

WalLâhu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Tujuh Pelajaran (lain) dari Kudeta Turki yang Gagal

📆 Kamis, 16 Syawal 1437H / 21 Juli 2016

📚 *SIROH DAN TARIKH*

📝 Pemateri: *Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP* (Peneliti Sejarah Islam, Narator Napaktilas Fatih)

📝 *Tujuh Pelajaran (lain) dari Kudeta Turki yang Gagal*

🌸🍀🌷💐🌸🍀🌷💐🌸

Salah seorang tersangka otak kudeta militer di Turki kemarin pernah menjadi atas militer untuk Israel. Nama jenderal Akın Öztürk terdapat dalam daftar tersangka otak kudeta militer yang kandas kemarin. Ia pernah menjadi kepala staf angkatan udara Turki dan menjadi salah satu dari sekurangnya 5 jenderal yang ditahan kemarin.

*Lesson #1* _setiap orang yang akan ditugaskan berhubungan dengan Israel harus mendapatkan persiapan ideologi yang matang; karena mereka berhadapan dengan entitas yang memiliki kekuatan memengaruhi loyalitas dan integritas siapa saja._

Jenderal Akın Öztürk pernah menjadi atase militer bagi kedutaan Turki di Tel Aviv periode 1998-2000. Ia telah turun dari jabatan kepala staf angkatan udara tahun kemarin namun tetap menjabat pada Supreme Military Council. Badan tinggi militer ini berfungsi sebagai pengelola karir militer seluruh angkatan bersenjata Turki; sebuah badan strategis.

*Lesson #2* _semakin tinggi jabatan maka semakin tinggi pula tantangan dan godaannya; pendidikan kesetiaan dan integritas kepribadian harus menjadi prioritas bagi seluruh pejabat tinggi._

Termasuk diantara jenderal yang ditahan adalah komandan Balatentara Kedua, jenderal Adem Huduti yang termasuk paling senior yg ditangkap sejauh ini. Balatentara Kedua ini berpangkalan di kota Malatya yang mencakupi pertahanan perbatasan Turki dengan Syria, Irak, dan Iran. Komandan garnizun Malatya, kolonel Avni Angun dan komandan Balatentara Ketiga jenderal Erdal Öztürk juga ditahan.

*Lesson #3* _rotasi jabatan serta pengeloaan karir yang cermat menjadi penting untuk menjaga profesionalisme kerja serta loyalitas pejabat negara._

Kudeta ini diduga telah dipersiapkan cukup lama dengan daftar perwira militer yang akan ditugaskan mengambil alih fungsi kegubernuran serta badan kenegaraan lainnya. Rencana kudeta yang belum tuntas ini terpaksa dimajukan untuk mengantisipasi pergantian pejabat militer yang akan diputuskan bulan Agustus ini oleh Supreme Military Council.

*Lesson #4* _dinas intelijen harus senantiasa meningkatkan sensitivitas pantau terhadap tanda dan upaya kudeta serta menempatkan kepentingan negara di atas golongan._

Pasukan yang setia kepada pemerintah Erdoğan menumpas kantong-kantong pemberontak hingga Sabtu malam setelah massa memenuhi seruan presiden untuk turun dan menguasai jalan-jalan. Pasukan pemberontak mulai terlihat menyerahkan diri dan meninggalkan tank baja yang mereka kerahkan dalam kudeta militer yang gagal ini.

*Lesson #5* _kepemimpinan yang bersih, kabinet yang profesional, tata kerja yang minim pencitraan, serta keberhasilan pendidikan kewarganegaraan, disamping kesejahteraan masyarakat, adalah sebuah keharusan dalam mewujudkan publik yang berdaya._

Korban yang jatuh sementara ini diperkirakan sejumlah 161 jiwa termasuk di dalamnya masyarakat yang menolak kudeta militer yang terakhir pernah berhasil 30 tahun sebelumnya. Pemerintah mengumumkan telah menahan 2.389 orang yang diduga kuat terlibat dalam proses percobaan kudeta ini dari pangkat terendah hingga perwira tinggi termasuk aktor sipil yang mendukung.

*Lesson #6* _kejahatan hanya akan berjaya jika kebaikan hanya diam dan berpangku tangan, baik diam maupun bertindak ada resikonya; sehingga seluruh komponen bangsa yang masih waras perlu bergabung untuk tumbangkan potensi tumbuhnya junta militer yang menciderai proses demokrasi dan merugikan semua pihak yang bermain sesuai aturan._

Para pemberontak mengerahkan sejumlah kendaraan lapis baja dan helikopter militer serta menggunakannya untuk menyerang pusat intelijen negara serta gedung parlamen Turki. Kekuatan militer pemberontak ini diduga telah gagal menculik presiden serta mengancam jiwa sejumlah perwira tinggi militer yang diperkirakan tetap loyal kepada pemerintahan yang terpilih secara sah melalui proses yang demokratis.

*Lesson #7* _keselamatan pimpinan tertinggi negara merupakan tanggung jawab yang diemban oleh pasukan pengamanan presiden (paspampres) yang profesional dengan integritas yang tinggi; tugas mulia penuh resiko ini harus diisi oleh pasukan yang berakhlak mulia dan jauh dari sifat buruk manusia pada umumnya._

Bagaimana dengan negeri Indonesia yang kita cintai bersama? Apakah ketujuh hikmah pelajaran tersebut bisa kita temukan?

Depok, menjelang subuh
Pertengahan Syawal 1437 H
Ketujuh Lessons oleh Agung Waspodo

Sumber berita: Hürriyet dan Haaretz

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🍀😋

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahalanya

PEMUDA-PEMUDA OBSESIF (bag-2) (Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

📆 Rabu, 15 Syawal 1437H / 20 Juli 2016

📚 *QUR’AN DAN TAFSIR*

📝 Ustadz DR Saiful Bahri, MA.

📝 *PEMUDA-PEMUDA OBSESIF* (bag-2)
(Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Kekuatan Obesi dan Manajemen Harapan*

”Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk” (QS. 18: 13).

Disamping konsisten memegang teguh iman kepada Allah para pemuda itu teguh memegang prinsip dan mempertahankan harapan dengan penuh keyakinan bahwa suatu saat nanti Allah akan menurunkan pertolongan-Nya pada hamba-hamba-nya yang tertindas serta memuliakan agama-Nya dan para penganutnya yang taat. Allah-pun meneguskan mereka dan semakin menambahkan petunjuk-Nya kepada mereka.

Inilah yang dalam ilmu manajemen modern disebut dengan *”manajemen harapan”*. Yaitu bagaimana seseorang mampu mempertahankan mimpi, angan dan cita-citanya agar tidak luntur meskipun berhadapan dengan berbagai halangan dan rintangan yang sangat dahsyat dan datang bertubi-tubi. Bahkan mampu menularkannya pada orang lain sehingga tujuan mulia ini terus dimiliki dan ditularkan dari generasi ke generasi.

Itulah kekuatan berkata benar di depan penguasa yang lalim dan zhalim. Allah meneguhkan mereka saat diperlukan sebuah keterusterangan. Dengan lantang mereka berani berkata: ”Tuhan kami adalah Tuhan pencipta langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menuhankan siapapun selain-Nya” (lihatlah ayat 14).

Hal ini dikatakan di depan para pemuka kerajaan bahkan sebagian riwayat ada yang menyebutkan di depan upacara resmi yang dihadiri oleh Kaisar Agung Romawi. Dan tentunya disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata.

Tentunya merupakan pukulan telak bagi penguasa saat itu. Karenanya Allah meneguhkan mereka. Sehingga mereka berani berkata benar dengan lantang tanpa ketakutan sedikit pun. Apapun konsekuensinya.

Mereka pun memberikan argument kuat dan berani. Hal ini bisa kita lihat di ayat selanjutnya (15), ”Kaum kami ini telah menjadikan selain dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”

Bahwa tak ada yang laik untuk dituhankan kecuali Dzat yang serba Maha. Siapakah Kaisar Romawi yang mengaku sebagai titisan Dewa. Apa kelebihan berhala-berhala yang tak bernyawa yang mereka sembah? Atau ruh-ruh leluhur mereka yang tidak ketahuan bagaimana nasib mereka di alam kubur?

📚 *Konsekuensi*

Berdakwah menyampaikan kebenaran bukanlah jalan mudah yang penuh pujian dan untaian penghargaan. Dari sejak Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Luth, Ibrahim, Musa, Isa, semua dibalas dengan cemoohan dan terror-teror psikis serta tak jarang mengarah pada terror dan ancaman fisik. Padahal mereka adalah orang-orang terbaik di zamannya.

Hal ini sepenuhnya dipahami oleh para pemuda kahfi. Mereka pun kemudian menjadi buronan. Namun, Allah memberi ilham pada mereka untuk lari dan berlindung ke dalam sebuah gua. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa lari dalam situasi seperti ini dibolehkan. _Bukan lari dari tanggung jawab. Namun, lebih merupakan sebuah *strategi*_. Mengingat kekuatan musuh yang jauh lebih besar. Sedangkan lari dari medan peperangan yang dilaknat Allah adalah sikap pengecut yang takut dari kematian.

Kemudian mereka pun ditidurkan Allah selama 300 tahun.

Disinilah Allah memberikan pancaran rahmat dan kekuasaannya pada mereka. Meski tidur Allah memberikan sinar matahari serta membolak-balikkan mereka, supaya tetap bertahan dan tidak dimakan binatang dan bumi. ”Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..” (QS. 18: 17)

Selain itu Allah juga menjaga mereka dari tangan-tangan jahil yang berusaha menyakiti mereka. ”Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. 18: 18). Sehingga sampai bertahan sekian tahun mereka pun tak ada yang bisa menyentuh.

📚 *Pembuktian Janji Allah*

Datanglah hari pembuktian janji Allah pada mereka. Mereka dibangunkan Allah. Sebagian bertanya-tanya kira-kira berapa lama tidur. Ada yang menjawab setengah hari dan ada yang menjawab satu hari. Lihatlah pembicaraan mereka,” Dan demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”.

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (QS. 18: 19-20)

Saat salah satu dari mereka turun ke kota, semuanya telah berubah. Orang-orang dengan mudah dan tenang menyebut nama Allah. Tak ada rasa ketakutan sedikit pun. Semua telah berubah.

Hal ini berlanjut ketika ia hendak membeli makanan sebagaimana yang dipesankan oleh teman-temannya untuk mengganjal perut yang lapar. Uang yang dibawanya sudah tak laku. Karena sudah berlalu tiga abad. Bahkan kemudian ia di bawa menghadap raja untuk ditanyai banyak hal.

Singkat cerita terungkap bahwa dia adalah salah seorang dari para pemuda yang lari ke gua untuk menghindar dari teror Diqyanus yang zhalim. Sebagaimana dimaklumi penguasa saat itu telah memeluk agama Nabi Isa.

Kemudian semua ashâbul kahfi pun dibawa dan dikumpulkan di kota. Sekaligus untuk menjawab keraguan akan hari kebangkitan. Inilah buktinya bahwa Allah mampu membangunkan orang mati. Sehingga keraguan tentang hari kebangkitan bisa disirnakan dengan kisah nyata dan dengan saksi hidup seperti ini.

Allah pun mengabulkan doa-doa mereka ketika bermunajat memohon pertolongan dan sandaran pada-Nya. Mereka khusyu’ dan terus mempertahankan harapan ini. Para dai di luar gua pun makin gigih mendakwahkan agama yang terus diteror oleh penguasa.

Karena rentang waktu yang jauh dengan gaya hidup dan masa yang berbeda, Allah pun kembali menyabut nyawa mereka. Supaya mereka lebih tenang dan yakin ketika menghadap Allah. Dan karena hidup dengan suasana seperti itu sungguh sangat tidak nyaman. Mungkin juga dikhawatirkan mereka akan dikultuskan, dituhankan dan disembah oleh kaum mereka.

📚 *Pelajaran Berharga*

❣Kaum muda itu tidak identik dengan hura-hura, tidak bisa diatur, tidak serius. Namun kaum muda adalah sekelompok orang yang penuh potensi kebaikan dan kekuatan yang bisa dimenej bisa dioptimalkan untuk berbagai kemaslahatan umat.
Karena bila tidak digunakan untuk hal-hal yang baik akan mengarah pada hal-hal negatif yang merugikan banyak orang,

❣Orang tua perlu memberi kesempatan kaum muda untuk berbuat dan berkarya dengan arahan dan bimbingan.
Bukan sebaliknya disisihkan atau bahkan dijadikan saingan,

❣Konsisten dan teguh dalam memegang prinsip selama itu merupakan sebuah kebenaran. Meski berhadapan dengan kezhaliman dan terror-teror fisik atau psikis,

❣Memiliki manajemen harapan yang kuat dengan terus menenamkan rasa tawakkal pada Allah yang dibarengi usaha yang maksimal serta menularkannya kepada generasi setelah kita,
Tidak berputus asa dalam berdakwah bagaimanapun kondisinya serta berani menanggung resiko apapun,

❣Mempunyai strategi yang tepat dalam berdakwah serta mampu membangun jaringan (network) yang baik,

❣Segala sesuatu itu berproses dan tidak terjadi seketika. Kemenangan agama Allah dan pembuktian janji Allah pun dengan sunnatullah. Bahkan dalam kisah ini memerlukan waktu tiga abad,

❣Berdakwah tidak menunggu tua atau banyak ilmu. Tapi sampaikan dakwah itu sesuai pengetahuan kita,

❣Menuai hasil dan buah usaha tidak selamanya bisa disaksikan langsung saat kita hidup. Namun bisa jadi bermanfaat untuk generasi setelah kita. Dengan ini justru akan semakin membuat amal kita bernilai tinggi dengan segenap keikhlasan dan ketulusan serta sepenuh kepasrahan pada Allah.

📚 *Ikhtitam*

Semoga sedikit yang kita tadabburi ini semakin mendekatkan kita dengan al-Qur’an serta semakin membangun ketakwaan kita pada Allah. Demi menggapai kemuliaan di sisi Allah.

WalLâhu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

PEMUDA-PEMUDA OBSESIF (Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

📆 Selasa, 14 Syawal 1437H / 19 Juli 2016

📚 *QUR’AN DAN TAFSIR*

📝 Ustadz DR Saiful Bahri, MA.

📝 *PEMUDA-PEMUDA OBSESIF*
(Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Iftitah*

Bila kita hendak mengetahui betapa pentingnya masa muda kita bisa menilik pada sejarah. Para nabi utusan Allah hampir semua menerima wahyu pada usia muda.

Karena pada kaum muda terdapat berbagai potensi dan kekuatan yang tidak dimiliki anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia.

Maka bila tidak terarahkan secara baik dikhawatirkan akan beralih menjadi potensi kejahatan dan kejelekan yang akan merusak. Bukan hanya bagi dirinya, tapi bisa berakibat pada lingkungan sekitarnya.

Perhatian al-Qur’an terhadap pemuda tertuang secara simbolik melalui kisah ashâbul kahfi. Kisah heroik beberapa orang kaum muda yang konsisten berpegang pada ajaran Allah meski berhadapan dengan penguasa diktator yang gencar mengintimidasi dengan teror-teror fisik dan psikis. Kepada siapapun yang enggan menyembah sesembahan dan tunduk pada agama mereka.

📚 *Konsisten dan Sabar*

Kunci kisah heroik ashâbul kahfi sebenarnya terletak pada konsistensi mereka mempertahankan semangat dakwah mereka serta kesabaran mereka. Terlihat jelas dari kejelian mereka mengatur strategi berdakwah.

Menyembunyikan keimanan mereka dan kemudian berani lantang menyuarakan kebenaran pada saat yang tepat. Meski pada akhirnya Allah lah yang mengatur strategi lebih jitu dan memiliki rencana. Di atas semua rencana hamba-hamba-Nya.

Di antara sebab-sebab diturunkannya Surat al-Kahfi –sebagaimana yang ditulis oleh as-Suyuthi dalam Lubâb an-Nuqûl, demikian juga ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya-

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, saat itu Nadhar bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu’ith pergi ke pendeta-pendeta Yahudi. Singkat cerita mereka menyuruh Nadhar dan Uqbah untuk bertanya tiga hal pada Nabi Muhammad saw. : tentang ashâbul kahfi, Raja Zulkarnaen dan tentang ruh. Jika bisa terjawab maka Muhammad benar-benar seorang Nabi utusan Allah. Maka mereka pun bergegas menguji Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad seketika menjawab,”Akan aku jawab besok.” Ternyata sampai lima belas malam belum juga turun wahyu. Nabi pun bersedih dan khawatir umatnya semakin berani mengolok-olokkan dan mendustakannya.

Allah pun menurunkan wahyu-Nya. Beliau ditegur karena memastikan sesuatu, tidak mengatakan ”insya Allah”. ”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:

Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): *“Insya Allah”*. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. 18 : 23-24)

📚 *Tanda-tanda Kekuasaan Allah*

Pada ayat sembilan Allah berfirman,” Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?” (QS. 18 :9).

Karena terkadang kita terjebak pada hal-hal yang seperti ini. Cenderung mengultuskan orang-orang yang diberi karomah oleh Allah. Padahal sebenarnya Allah ingin menyampaikan pesan kekuasaan-Nya melalui mereka. Sebagaimana memberi para rasul dan nabi-Nya dengan berbagai mukjizat.

📚 *Siapakah Ashâbul Kahfi*

Ashâbul kahfi hidup membawa ajaran Nabi Isa as.
Hanya saja al-Qur’an tidak menjelaskan dengan detail kapan mereka hidup. Al-Qur’an hanya menyebutkan berapa lama mereka ditidurkan Allah dalam gua.

 ”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun” (QS. 18: 25) Yaitu selama 300 tahun (Kalender Masehi) atau sama dengan 309 tahun (Kalender Hijriyah). Karena itu Allah menyebutkannya dengan ”wazdâdû tis’an”.

Mereka adalah sekelompok pemuda yang jumlahnya diperselisihkan[1]. Ada yang mengatakan jumlah mereka tujuh orang ditambah satu anjing penjaga. Bahkan di antara mereka menjadi orang kepercayaan Gubernur Romawi saat itu -menurut Ibnu Katsir bernama Diqyanus. Sekaligus menepis rumor bahwa agama Islam hanya dianut oleh orang-orang miskin dan lemah. Justru sebaliknya agama ini mampu menembus dinding-dinding istana meski dikawal ketat oleh para algojo kezhaliman.
Sebagaimana dakwah Nabi Musa as. yang masuk istana dengan tenang meski Fir’aun secara membabi buta telah membunuh ratusan, bahkan mungkin ribuan bayi.

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Pencuri Dalam Shalat

📆 Senin, 13 Syawal 1437H / 18 Juli 2016

📚 *HADITS DAN FIKIH*

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan SS.

📝 *Pencuri Dalam Shalat*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hadits*

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

” إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً، الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا؟ قَالَ: ” لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا

“Sesungguhnya sejelek jeleknya pencuri adalah manusia yang mencuri dalam shalatnya.”

Manusia bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri dalam shalatnya?”

Beliau bersabda: “Seseorang yang tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.”

📋 Musnad Ahmad No. 11532. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: sanadnya hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 11532

📚Al Hafizh Ibnu Hajar ‘Asqalani Rahimahullah mengatakan:

  وَقَدْ صَرَّحَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأَنَّ صَلَاةَ مَنْ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ غَيْرُ مُجْزِئَةٍ، كَمَا أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ بِلَفْظِ: «لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ» وَنَحْوِهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ شَيْبَانُ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ مَاجَهْ، وَقَدْ تَقَدَّمَا فِي بَابِ أَنَّ الِانْتِصَابَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرْضٌ. وَالْأَحَادِيثُ فِي هَذَا الْبَابِ كَثِيرَةٌ وَكُلُّهَا تَرُدُّ عَلَى مَنْ لَمْ يُوجِبْ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالِاعْتِدَالِ مِنْهُمَا.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerangkan bahwa shalat yang tidak lurus tulang punggungnya saat ruku dan sujud tidaklah mencukupi.
Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Daud, At Tirmidzi, dan dishahihkan oleh An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud, dengan lafazh: “Tidak sah shalat seseorang sampai dia meluruskan tulang punggungnya saat ruku dan sujud.” Dan yg semisal ini juga dari Ali bin Syaiban, yang disebutkan Ahmad dan Ibnu Majah. Hal ini sudah dibahas dalam Bab Al Intishaab ba’dar ruku’ fardhun (Bab Wajibnya Berdiri Tegak Setelah Ruku’).

Hadits-hadits dalam bab ini banyak, semuanya mengoreksi orang-orang yang tidak tuma’ninah dan tegak dalam ruku dan sujud.

✍ Lihat Fathul Bari, 2/311

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Menuduh Sesama Muslim Dengan Tuduhan Fasik Atau Kafir

📆 Ahad, 12 Syawal 1437H / 17 Juli 2016

📚 *MUAMALAH*

📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

📝 *Larangan Menuduh Sesama Muslim Dengan Tuduhan Fasik Atau Kafir*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hadits*

 عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ (رواه البخاري)

Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seseorang melontarkan tuduhan kefasikan kepada orang lain, dan tidak pula ia menuduh orang lain dengan tuduhan kekufuran, melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepada dirinya sendiri, jika ternyata orang yang dituduhnya tidak seperti itu.” (HR. Bukhari)

📚 *Hikmah hadits*

❣1. Hendaknya kita berusaha untuk _menjaga lisan_, khususnya terkait dengan _hak dan kehormatan orang lain sesama muslim._

Karena bisa jadi, lisan kita bisa menodai kehormatan sesama muslim dan kita dilarang untuk mencederai kehormatan sesama muslim.

Sebagaimana sabda Nabi Saw :Seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatannya… (al-hadits)

❣2. Diantara bentuk menjaga lisan adalah bahwa _Nabi Saw *melarang* kita saling menuduh fasik atau kufur antara sesama muslim._

Karena tuduhan fasik atau kufur sangatlah berat, dan tidak boleh dilakukan antara sesama muslim.
Dan apabila tuduhan tersebut dilakukan, maka bisa jadi tuduhan tersebut kembali kepada orang yg menuduh, yaitu bahwa yg sesungguhnya fasik dan kufur adalah orang yang menuduh.. Na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Sahabatku, Cermin diriku

Jum’at, 17 Syawal 1437 H/ 22 Juli 2016
Pengembangan Diri dan Motivasii
Ustadzah Wiwit, Ustadzah Dina, Ustadzah Heni
 *Sahabatku, Cermin diriku*
============================

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
 Nasehat ulama :
_Lisan mempunyai pengaruh yang sangat kuat, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkata-kata baik, maka ia akan terbiasa untuk berkata baik._
_Namun jika ia bergaul dengan orang-orang yang berkata buruk, maka ia pun akan terbiasa untuk berkata buruk._
_Oleh karenanya, perbaikilah lisanmu dengan memperbaiki lingkungan pergaulanmu._
*(Dr. Khalid Al Mushlih)*
KRITERIA teman baik :
 Peduli
 Mau menerima kekurangan dan kelebihan
 Mengajak melakukan hal-hal positif
 Mengingatkan utk menjauhi hal-hal negatif
 Memberi dukungan saat kamu melakukan hal yg benar
 Sungguh-sungguh mengingatkan saat kamu melakukan hal yg salah
 Mau diingatkan dan senang berbagi ilmu
 Dst…. mungkin kamu bisa tambahkan lagi kriteria berikutnya? 樂
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

Ibadah dalam islam II

16 Syawal 1437 H/  21 Juli 2016
 *Fiqih Ibadah*
 Suci Susanti S.SoS.I
 *Ibadah Dalam Islam II*
===========================

Assalammualaykum adik-adik MANIS 4 teen..
Gimana kabarnya ?
Gimana puasanya kemarin ?
Semoga Allah swt menerima amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ya… aamiin.
Adik-adik yang dirahmati Allah swt, kita sebagai muslim harus bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menikmati bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan pembelajaran, bulan latihan, bulan “penggemblengan” , agar kita semua menjadi umat yang bertakwa.
Sebulan penuh kita semua berusaha mengikuti perintah Allah swt. Sehingga hal itu menimbulkan banyak hikmah. Di antara hikmah tersebut ada 3 hikmah yang utama dari bulan Ramadhan.
1.       Hikmah ketaatan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
_”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”_ (QS. Al Baqarah: 183)
Dalam firman Allah swt di atas sangat jelas bahwa puasa membuat kita menjadi bertakwa. Salah satu indikator ketakwaan yaitu taat dan patuh pada perintah-Nya. Contoh ; ketika berpuasa, kita merasa takut jika hendak berbohong karena kita paham bahwa berbohong dilarang Allah swt dan menimbulkan dosa jika kita melakukannya. Jika pun berbohong, kita akan merasa bersalah setelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan meningkatkan ketaatan kita pada Allah swt.
2.       Hikmah kesabaran
Di bulan Ramadhan kita dituntut untuk sabar. Sabar dalam menahan lapar dan haus selama lebih kurang 12 jam. Sabar dalam menahan amarah padahal kita mampu untuk marah. Sabar ketika melihat orang lain makan di depan kita.
Orang-orang yang sabar dalam ketaatan adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang keimanannya benar, karena mereka telah mewujudkan keimanan hati melalui ucapan dan perbuatan . Seperti yang di firmankan Allah swt :
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
_Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”_. [Al-Baqarah : 177]
3.       Hikmah kekonsistenan
Dalam bahasa Arab, konsisten sering diartikan sebagai istiqomah. Di bulan Ramadhan, kita sangat konsisten terutama pada waktu sahur dan berbuka. Terutama pada saat berbuka, jarang sekali yang mengulur-ngulur waktu berbuka. Kalau bisa satu jam sebelum berbuka sudah duduk di depan meja makan.
Istiqomah adalah keteguhan dan kemenangan di medan pertempuran (dalam hal ini puasa Ramadhan) antara ketaatan dan hawa nafsu. Teguh dalam memegang prinsip. Teguh dalam ketaatan walau terasa berat. Seperti sabda Rasulullah saw ;
نْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : _”Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.”_
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972), ad-Dârimi (II/298), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 6396, 6397, 6398), ath-Thayâlisi (no. 1327), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 21-22), Ibnu Abid Dun-ya dalam ash-Shamt (no. 7), al-Hâkim (IV/313), Ibnu Hibbân (no. 938, 5668, 5669, 5670, 5672-at-Ta’lîqâtul Hisân), al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 4572, 4574, 4575), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 16).
Nah adik-adik MANIS 4 teen, semoga pembelajaran yang diberikan Allah swt selama satu bulan kepada kita, dapat menjadi kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Dan bahwa ketaatan kepada Allah swt berlaku seterusnya, bukan pada bulan Ramadhan saja. Tapi pada bulan-bulan selanjutnya.
Aamiin yaa Rabbalalamin…
============
Maroji :
Shahih tafsir Ibnu Katsir
Al-Wafi, Syarah Kitab Arba’in

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala