Tafsir Surat Al-Kautsar

Sabtu, 29 Dzulhijjah 1437 H/ 01 Oktober 2016

📒 Al-Qur’an

📝 Ustadz Noorahmat

📖 Tafsir Surat Al-Kautsar
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum wr wb

Adik-adik…..pagi ini kita bertemu kembali dengan bagian ketiga dari Tafsir Surat Al Kautsar….

Bagaimana khabar semuanya? Semoga kita terjaga dalam komitmen untuk menjalankan amaliah penghuni syurga tanpa kenal lelah ya…. Agar kelak bisa istirahat di sebaik-baiknya tempat….. Syurga Firdaus, dan bercengkerama bersama Rasulullah SAW menikmati buah dari kerja keras kita di dunia menjaga Syahadat kita.

Nah….kita langsung saja ya…
Allah Azza wa Jalla berfirman

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS Al-Kautsar: 2)

Setelah Allah Azza wa Jalla mengkhabarkan kepada kita akan indahnya Al Kautsar, sebagaimana yang telah dibahas pekan lalu, yang berwujud kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, antara lain sebuah sungai yang sifat-sifatnya telah disebutkan pekan lalu, maka….

Maka… kerjakanlah salat fardu dan salat sunat kalian semua dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla dan juga dalam semua gerak-gerik kita.

Sembahlah Allah Azza wa Jalla semata, jangan pernah menyekutukan-Nya karena tiada sekutu bagi-Nya.

Hal yang semacam ini juga Allah Ta’ala sebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَماتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(QS Al-An’am: 162-163)
Ada istilah wanhar di akhir ayat kedua QS Al Kautsar ini….
Apa ya maksudnya?

Ibnu Abbas, Ata, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wanhar ialah menyembelih unta dan ternak lainnya sebagai korban. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Qatadah, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’, Ata Al-Khurrasani, Al-Hakam, Sa’id ibnu Abu Khalid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf. Hal ini berbeda keadaannya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang menyebut nama-Nya, Allah Swt. telah berfirman:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (Al-An’am: 121), sampai akhir ayat.

Nah adik-adik…
Pendapat diatas adalah yang sahih, yaitu dengan menyatakan bahwa makna yang dimaksud dengan nahr ialah menyembelih hewan kurban. Karena itulah maka Rasulullah SAW seusai salat Idul Adha segera menyembelih kurbannya, lalu bersabda:

“مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا، فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ. وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَا نُسُكَ لَهُ”. فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نَيَّارٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَسكتُ شَاتِي قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ. قَالَ: “شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ”. قَالَ: فَإِنَّ عِنْدِي عِنَاقًا هِيَ أَحَبُّ إليَّ مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتُجْزِئُ عَنِّي؟ قَالَ: “تُجْزِئُكَ، وَلَا تُجَزِئُ أَحَدًا بَعْدَكَ”.

Barang siapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih kurban seperti kami menyembelih kurban, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kurbannya. Dan barang siapa yang menyembelih kurban sebelum salat (hari raya) maka tiada kurban baginya.Maka Abu Burdah Nayyar bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menyembelih kambingku sebelum salat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang semua orang menyukai daging padanya” Rasulullah Saw. menjawab:Kambingmu itu adalah daging kambing biasa (bukan kurban). Abu Burdah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seekor anak kambing kacang yang lebih aku sukai daripada dua ekor kambing biasa, apakah itu cukup untuk kurbanku?” Rasulullah Saw. menjawab: Cukup untukmu, tetapi tidak cukup untuk orang lain sesudahmu.

Nah adik-adik…
Ternyata memang surat Al Kautsar ini berkaitan dengan Idul Adha yang beberapa pekan lalu kita rayakan bersama. Dan semuanya bertaut sebagai bagian dari kebaikan yang banyak….

Semoga kita semua semakin semangat mengejar amaliah syurga ya….

Sementara sampai disini dulu, kita akan bertemu kembali pekan depan untuk bagian keempat dari Tafsir QS Al Kautsar yang akan membahas bagian akhir dari surat yang indah ini.

Wassalamu’alaikum wr wb.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Islam Itu Moderat

📆 Rabu, 04 Muharram 1438H / 05 Oktober 2016

📚 TSAQOFAH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir  Lc.

📋  Islam Itu Moderat..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Tanpa istilah moderat,
islam dengan keseluruhan ajarannya yang utuh; Aqidah, syariat dan akhlak, dengan sendirinya merupakan ajaran yang moderat…

Islam itu moderat,
antara mereka yang gampang mengkafirkan dengan mereka yang gampang mentolerir kekufuran….

Islam Itu moderat,
antara mereka yang rajin beramal tapi  tanpa ilmu dan mereka yang berilmu tapi malas beramal

Islam itu moderat,
antara mereka yang kaku dan kasar terhadap sesama muslim dan mereka yang akrab dengan musuh-musuh Islam…..

Islam itu moderat,
antara mereka yang menerapkan syariat tanpa akhlak dan mereka yang utamakan akhlak namun anti syariat…..

Islam itu moderat,
diantara mereka yang melampaui batas memuja para nabi dan orang saleh dan mereka yang menyakiti dan memusuhi Nabi dan orang-orang saleh

Islam itu moderat,
diantara mereka yang abai terhadap dunia atas nama mengejar akhirat dan mereka yang tenggelam dalam urusan dunia tak peduli akhirat..

Islam itu moderat,
antara mereka yang eksploitasi politik dengan kekuasaan dengan menjual agama dan mereka yang tak peduli politik dan kekuasaan untuk bela agama

Islam itu moderat,
antara mereka yang intoleran terhadap khilaf furu (perbedaan cabang) dan mereka yang toleran terhadap inhiraf ushul (penyimpangan prinsip)

Islam itu moderat,
antara mereka yang selalu bersihkan hati tapi amal menyimpang, dan mereka yang amalnya benar, tapi hatinya kotor….

Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

SYARIAT, HAKEKAT, TAREKAT & MAKRIFAT

Ustadz Menjawab
Rabu, 05 Oktober 2016
Ustadzah Nurdiana

🌿🍁🌺 SYARIAT, HAKEKAT, TAREKAT & MAKRIFAT

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Mohon penjelasannya tentang syariat hakekat tarekat dan makrifat
# A36

Jawaban
———–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1.Syariat berasal dari kata syaa ri” artinya jalan.
Maksudnya syariat  islam adalah petunjuk jalan. Pedoman aturan . Kaidah buat orang islam.

2.Hakekat Kata hakikat (Haqiqat)                             merupakan kata benda yang berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “Al-Haqq”, dalam bahasa indonesia menjadi kata pokok yaitu kata “hak“ yang berarti milik (ke¬punyaan), kebenaran, atau yang benar-¬benar ada, sedangkan secara etimologi Hakikat berarti inti sesuatu, puncak atau sumber dari segala sesuatu.

3.Tarekat  (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah)
    berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau kebenaran hakiki).

4.Makrifat
    Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara lain :

Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan :
   “Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Olah Raga Dalam Sunnah

📆 Kamis, 27 Dzulhijjaah 1437 H/ 29 September 2016

📘 Ibadah

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

📖 Olah Raga Dalam Sunnah
============================
🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃

Assalamu’alaikum ustad saya ingin bertanya

Apakah ada olah raga yang disunnahkan oleh Rosulallah saw? Jika ada, Olah raga apa ustad, kalau sunnah berarti mengerjakannya mendapat pahala tentu menyehatkan
Syukron katsir ustad

Jawaban:

Wa ‘Alaikumussalam wa Rahmatullah …, Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

 Pada dasarnya olah raga apa pun, selama terpenuhi adab-adab Islam adalah baik, dan bisa dinilai ibadah jika diniatkan sebagai upaya menjaga amanah Allah swt yang bernama KESEHATAN.

  Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 Wahai orang-orang beriman janganlah kalian khianati Allah, Rasul, dan amanah-amanah yang ada pada kalian. (QS. Al Anfal: 27)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

المؤمن القوي خير وأحب إلي الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير

Mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah dibanding mu’min yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. (HR. Muslim No. 2664)

Maka, tidur yang cukup, makan minum yang halal dan sehat, serta olah raga, bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai penjagaan terhadap amanah kesehatan kita.

*📌 Beberapa Olah Raga dan Permainan Yang Disebut dalam As Sunnah*

*1⃣ Olah Raga Bela Diri, Berkuda, dan Pedang*

Secara umum persiapan diri dengan ilmu bela diri dari serangan musuh disebutkan dalam firman Allah ﷻ :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

Wahai orang-orang beriman, bersiap siagalah, dan berangkatlah ke medan tempur baik secara berkelompok atau bersamaan. (QS. An Nisa: 71)

Firman Allah ﷻ :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siap siagakanlah olehmu untuk menghadapi mereka berupa kekuatan yang kamu sanggupi, dan dari kuda-kuda yang tertambat, yang dengannya dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kalian… (QS. Al Anfal: 60)

Firman Allah ﷻ :

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang jika menimpa kepada mereka kezaliman maka mereka membela diri (QS. Asy Syura: 39)

Dari As Sunnah, Imam An Nawawi Rahimahullah menceritakan:

قولها رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسترني بردائه وأنا أنظر إلى الحبشة وهم يلعبون وأنا جارية وفي الرواية الأخرى يلعبون بحرابهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم فيه جواز اللعب بالسلاح ونحوه من آلات الحرب في المسجد

Ucapan ‘Aisyah:  “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutupi aku dengan selendangnya, saat itu aku menyaksikan orang-orang Habsyah (Etiopia) yang sedang bermain-main, dan saat itu aku masih remaja, dalam riwayat lain- mereka bermain dengan alat-alat perang mereka di masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”Pada kisah ini menunjukkan bolehnya memainkan senjata dan  alat-alat perang lainnya di dalam masjid. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/184)

Lalu dalam riwayat Abu Daud No. 4080. dan At Tirmidzi No. 1784, bahwa Nabi pernah bergulat dengan Abu Rukanah.

Semua nash ini, menunjukkan bahwa kemampuan membela diri, baik berupa dengan belajar bela diri, bergulat, berlatih kuda, dan pedang  adalah disebutkan baik secara tersurat dan tersirat. Hal ini bukan semata-mata olah raga, ketangkasan, dan permainan, tapi merupakan bagian dari I’dadul Jihad (persiapan jihad) bagi kaum muslimin.

*2⃣ Memanah, Tombak, atau yang semisal*

Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya, dia memarfu’kan, katanya:

عَلَيْكُمْ بِالرَّمْيِ فَإِنَّهُ خَيْرٌ أَوْ مِنْ خَيْرِ لَهْوِكُمْ

Hendaknya kalian melempar (Ar Ramyu) karena itu adalah permainan terbaik bagi kalian atau di antara yang terbaik. (HR. Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1146, Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 2049)

Imam As Suyuthi mengatakan shahih. (Al Jaami’ Ash Shaghiir No. 5524-5525)

Imam Al Haitsami mengatakan: “Para perawi Al Bazzar  adalah perawi kitab Ash Shahih, kecuali Hatim bin Al Laits, dia terpercaya. Dem

Demiikian juga para perawi Ath Thabarani.” (Majma’ Az Zawaid No. 9382)

Syaikh Al Albani menshahihkan pula. (Shahihul Jami’ No. 4065, Ghayatul Maram No. 381, dan kitabnya yang lain).

Imam Al Munawi mengatakan: shahih. (At Taysiir bi Syarhil Jaami’ Ash Shaghiir, 2/274)

Imam Abdurrauf Al Munawi Rahimahullah berkata:

(عليكم بالرمي) بالسهام (فإنه خير لهوكم) أي خير ما لهوتم به

(Hendaknya kalian melempar) yakni dengan PANAH, (karena itu adalah permainan terbaik bagi kalian) yaitu sebaik-baiknya permainan yang kalian lakukan. (Faidhul Qadir, 4/448)

Maka, di zaman ini bisa dianalogikan dengan olah raga melempar lainnya, seperti tombak (lempar lembing), tolak peluru, dan menembak, karena prinsipnya sama, bahwa semuanya ada upaya melempar.  

*3⃣ Berenang*

Ada hadits yang menyebutkan secara khusus:

علموا بنيكم السباحة والرمي

  “Ajarkan anak-anak kalian dengan berenang dan memanah.”

Imam As Sakhawi mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Ma’rifah, dan Ad Dailami dari hadits Bakr bin Abdillah bin Ar Rabi’ Al Anshari, sanadnya dhaif, tetapi hadits ini punya syahid (penguat).” (Maqashid Al Hasanah No. 708)

Dari Mak-huul, katanya:

أن عمر بن الخطاب كتب إلى أهل الشام أن علموا أولادكم السباحة والرمى والفروسية

Bahwa Umar bin Al Khathab menulis surat buat penduduk Syam: “Ajarkan anak-anak kalian berenang, memanah, dan berkuda.” (Kanzul ‘Ummal No. 11386)

Memanah, berkuda, dan berenang dinilai BUKAN HAL YANG MELALAIKAN, bukan semata-mata permainan, selama tidak meninggalkan hal yang lebih wajib.

Nabi ﷺ bersabda:

كل شيء ليس من ذكر الله فهو لعب لا يكون أربعة ملاعبة الرجل امرأته وتأديب الرجل فرسه ومشي الرجل بين الغرضين وتعلم الرجل السباحة

Segala hal selain dzikrullah adalah melalaikan, kecuali empat hal: “Seorang laki-laki yang bercumbu dengan istrinya, berkuda, memanah, dan belajar berenang.” (HR. An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 8889, dari  Jabir bin Abdullah dan Jabir bin Umair)

Syaikh Al Albani mengatakan SHAHIH. (Shahihul Jami’ No. 4534)

Jadi, berkuda, berenang, bergulat, pedang, memanah dan semisahnya, merupakan olah raga yang sunah mubahah (boleh), dan bisa menjadi mustahabbah (dianjurkan) jika diniatkan untuk ibadah dan persiapan jihad.

Sekian. Wallahu A’lam

🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📷 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

KARAKTERISTIK ISLAM

📆 Rabu, 26 Dzulhijjah 1437 H/ 28 September 2016

📗 Aqidah

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

📖 KARAKTERISTIK ISLAM
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

4⃣ Al-Wasathiyah wat ‘Adalah wat Tawazun (Pertengahan, Adil, dan Seimbang)

Maksud dari karakter ini adalah sikap Islam yang pertengahan, adil, dan seimbang di antara dua jalan dan arah yang saling bertentangan. Antara dunia dan akhirat, individu (fardiyah) dan masyarakat (jama’iyah), idealita (mitsaliyah) dan realita (waqi’iyah), spiritual (ruhiyah) dan material (maddiyah), tekstual (manthuq) dan kontekstual (mafhum), konsisten (tsatbat) dan taghayyur (perubahan), sosialisme (isytirakiyah) dan kapitalisme (ra’sumaliyah), dan lainnya.

Pertengahan di antara dua hal itulah umat Islam layak di sebut umat terbaik, itu jika mereka masih berpegang teguh padanya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (QS. Al-Mulk: 3)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ummatan wasathan berarti umat yang adil, pilihan dan terbaik. Dikatakan, “Quraisy adalah suku pertengahan di Arab secara garis keturunan (nasaban) dan negri tempat tinggal (Daaran), yaitu sebagai suku terbaik di sana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pertengahan (wasathan) di antara kaumnya, yaitu yang paling mulia nasabnya, darinya ada istilah shalat wustha yaitu shalat paling utama, yakni Ashar.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, 1/190)

Penulis Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah mengatakan, “Umat Islam adalah pertengahan antara agama-agama (milal), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan (umatan wasathan).” (QS. Al-Baqarah:143), sedangkan Ahlus Sunnah adalah pertengahan antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam. (Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthany, Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, hal.48. muraja’ah. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin. Cet.2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Ri-asah Idarat al Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad)  
Karakter pertengahan, adil, dan seimbang ini bukanlah klaim, melainkan fakta. Contoh, pertengahan Islam dalam menyikapi wanita haid. Menurut Yahudi, wanita haid haruslah dikucilkan, hatta suaminya tidak boleh  menyentuhnya. Adapun menurut Nasrani, wanita haid tidak berdosa bagi suaminya untuk menggaulinya. Dua gambaran ekstrim yang amat bertolak belakang.

Adapun Islam, pertengahan di antara kedua sikap ini. Islam mengajarkan para suami untuk tetap bersikap sewajarnya dengan wanita haid dan berinteraksi secara ma’ruf, bahkan boleh bercumbu (mubasyarah) –banyak hadits yang menceritakan kedekatan Rasulullah SAW kepada isteri-isterinya walau mereka sedang haid sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah, Ummu Salamah, dan Maimunah radhiallahu ‘anhunna, namun tidak dibenarkan untuk lebih dari itu, yaitu menggaulinya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Yahudi jika seorang wanita sedang haid, maka mereka tidak mau makan bersamanya (menjauhinya), maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Lakukanlah apa saja oleh kalian (terhadap isteri yang sedang haid, pen) kecuali  nikah (jima’).” (HR. Muslim. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab ath-Thaharah, Bab Al-Haidh, hal. 33, no. 121. Darul Kutub Al-Islamiyah).

Belum lagi keadilan Islam dalam pembagian waris yang amat detil dan proporsional, yang tidak kita temukan dalam agama lain. Kaum feminis yang selalu sinis menggugat perbandingan 2:1 pembagian waris antara laki-laki dan perempuan. Maunya mereka sama rata. Ini menunjukkan kecerobohan mereka dalam berfikir. Adil tidak berarti sama rata, jika Anda memberikan uang masing-masing Rp. 50.000,- kepada siswa SMA, SMP, dan kelas 1 SD. Adilkah? Tidak! Sebab siswa SMA dan SMP merasa kurang dengan Rp. 50.000,- karena kebutuhan mereka lebih dari itu dalam sepekan. Tetapi bagi siswa kelas 1 SD, uang senilai itu ia tidak mengerti untuk apa. Laki-laki mendapat dua bagian dari wanita dalam hak waris dalam Islam. sebab, si laki-laki akan menggunakan uangnya  untuk isteri dan anaknya, sedangkan si wanita uang yang ia dapatkan tidak berkurang, justru bertambah dari suaminya, apalagi jika ia punya penghasilan juga.  

Keadilan Islam juga nampak dalam menyikapi hak kepemilikan harta. Kaum komunis dan sosialis mengingkari kepemilikan pribadi, bahkan mereka menganggap hak kepemilikan pribadi merupakan sumber segala kehancuran, kehancuran, dan penyelewengan. Hak prbadi semua harus dikembalikan kepada negara, sehingga tidak ada kaya dan miskin di masyarakat. Sedangkan kapitalis mengakui hak kepemilikan pribadi secara ekstrim tanpa mempedulikan masyarakat lain, sehingga walau tetangga melarat, negara bangkrut, bukan urusan dan tanggung jawab mereka (rasa-rasanya ini yang terjadi atau dianut di Indonesia tanpa disadari). Bahkan, mereka menganggap Tuhan telah menakdirkan, kalau si miskin tetap miskin  Kedua model ini sudah terbukti gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Nah, Islam pertengahan di antara keduanya. Manusia secara individu berhak memiliki harta sesuai usahanya yang halal dan baik, tanpa melupakan hak orang lain yang tidak seberuntung dirinya, seperti adanya zakat, infaq, sadaqah, atau waqaf. Negara diberi wewenang untuk mengelola itu semua untuk sebesar kemakmuran umatnya dibawah prinsip keadilan Islam. Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan permusuhan antara pemilik modal dengan negara.

Islam memandang, adanya kaya dan miskin, adalah sunatullah kehidupan yang tidak bisa diingkari. Sedangkan, pengabdian kepada negara Islam dengan pemimpinnya yang shalih, adalah bagian dari perintah agama, athi’ullaha wa athi’urrasul wa ulil amri minkum…

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📷 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Cara Efektif Sukses Ujian 💯

📆 Jum’at, 28 Dzulhijjah 1437 H/30 September 2016

📙 Pengembangan Diri & Motivasi

📝 Ustadzah Wiwit, Ustadzah Dina, Ustadzah Heni

📖 Cara Efektif Sukses Ujian 💯
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Suka atau tidak suka, masa ujian tetap datang dan kita harus mengikutinya.
Beberapa tips ini mudah-mudahan bisa membantu untuk sukses dalam menghadapi ujian.

📝 Preparation : Persiapan sebelum ujian.

🔻Selalu berdo’a sebelum belajar.

🔻Pastikan semua sumber belajar, catatan materi, textbook, dll sudah lengkap.

🔻Pelajari konsep-konsep utama, hubungkan konsep yang saling berkaitan sehingga mendapatkan pemahaman utuh.

🔻Rewriting; jgn malas untuk menuliskan kembali apa yang sudah kamu pelajari. Menulis membantu mengingat dan memahami konsep utama.

🔻Gunakan semua indera saat belajar; tidak hanya membaca, tapi juga menuliskan, dan mendiskusikan dengan teman.

🔻Carilah tempat belajar yang kondusif, dapat juga berpindah-pindah supaya tidak merasa bosan.

🔻Gunakan gambar, tabel, atau diagram untuk lebih memahami konsep yang dipelajari.

🔻Berusaha untuk memahami konsep utama, bukan sekedar menghafal.

🔻Latihan dengan mengerjakan soal ujian tahun sebelumnya, jika tidak ada, kami bisa coba membuat pertanyaan-pertanyaan latihan.

🔻Berlatih untuk menuliskan jawaban soal essay.

🔻Fokus pada materi-materi yang belum kamu pahami/kuasai.

🔻Siapkan semua peralatan yang diperlukan; alat tulis lengkap, kartu ujian, dst.

📝 Saat ujian :

🔺Datang sebelum waktu ujian dimulai, sehingga kamu punya waktu untuk mempersiapkan diri.

🔺Berdo’a sebelum memulai mengerjakan ujian.

🔺Baca dan pahami soal dengan teliti sehingga kamu bisa memilih jawaban yang tepat.

🔺Gunakan waktu se-efektif mungkin utk setiap soal, jangan berlama-lama pada soal tertentu yang kamu belum kuasai.

🔺Baca kembali hasil pekerjaanmu, cek apakah ada yang msh perlu ditambahkan atau dikoreksi.

🔺Jangan panik. kepanikan akan membuatmu lupa dan tidak teliti. Berusahalah untuk tetap tenang sehingga kamu bisa berpikir dgn jernih.

🔺Terus berdo’a semoga Allah SWT memberikan hasil yang terbaik.

Demikian tips yang bisa coba kamu praktekkan, semoga semua sukses menempuh ujian.

Tetap semangat!! 🎉🎉🎉

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📷 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Profile Ali bin Abi Thalib

📆 Selasa, 25 Dzulhijjah 1437 H/ 27 September 2016

📕 Sirah

📝 Ustadzah Ida Faridah

📖 Profile Ali bin Abi Thalib
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Assalamu’alaikum sahabat MFT…..

Apa kabarnya hari ini???

Baik adik-adik, kali ini kita akan membahas profile sahabat Nabi lagi

Ali bernama lengkap Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf. Ibunya bernama Fatimah binti Saad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Beliau dilahirkan di Mekkah pada hari jum’at 13 Rajab tahun 570 M atau 32 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beliau tinggal bersama Nabi Muhammad SAW sejak kecil. Beliau diasuh sebagaimana anak sendiri karena kondisi ayahnya yang miskin. Beliau mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi seorang yang berbudi tinggi dan berjiwa luhur.

Ali bin Abi Thalib masuk islam saat berusia tujuh tahun. beliau adalah anak kecil yang pertama masuk islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita pertama yang masuk islam, Zaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk islam, Abu Bakar ra adalah lelaki merdeka yang pertama masuk islam.

Ali bin Abi Thalib mendapat nama panggilan Abu Thurab (Bapaknya tanah) dari Nabi SAW. Abu Thurab adalah panggilan yang paling disenangi oleh Ali karena Nama itu adalah kenang-kenangan berharga dari Nabi SAW.

Ali adalah salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Ali adalah orang laki-laki pertama yang masuk islam dan pertama dari golongan anak kecil. Beliau dinikahkan dengan putri Nabi SAW, Fatimah Az-Zahra. Lahir dari Fatimah dua anak yaitu Hasan dan Husein.

Peranan Ali bin Abi Thalib sangat besar. Beliau menggantikan Nabi Muhammad SAW di tempat tidurnya ketika Nabi SAW mau hijrah. Beliau mempertaruhkan nyawanya karena saat itu rumah Nabi Muhammad SAW sudah dikepung oleh algojo kafir Quraisy. Setelah itu, dia mendapat siksaan dari kafir Quraisy.

Selain itu, Ali bin Abi Thalib mendapat tugas untuk menyelesaikan urusan-urusan yang terkait dengan amanat Nabi Muhammad SAW. Sehingga beliau sempat beberapa hari tinggal dulu di Mekkah. Setelah urusan selesai, beliau menyusul Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Beliau berjalan kaki menuju Madinah. Kemudian beliau bertemu dengan Nabi SAW di Quba.

Sikap pemberani dan petarung sejati dibuktikan di beberapa peperangan yang diikutinya. Pada perang Badar beliau melakukan duel satu lawan satu dengan kafir Quraisy. Beliau berhasil membunuh musuhnya, begitu juga ketika perang Uhud, beliau merupakan salah satu petarung yang berhadapan dengan perwakilan kafir Quraisy.

Perang saudara pertama dalam islam, perang Siffin pecah diikuti dengan merebaknya fitnah seputar kematian Ustman bi Affan membuat posisi Ali sebagai khalifah menjadi sulit. Beliau meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimbangi shalat subuh di masjid Kuffah, pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ketika berusia 63 tahun. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Jagalah Allah Niscaya Allah akan Menjagamu

📆 Senin, 24 Dzulhijjah 1437 H/ 26 September 2016

📓 Akhlaq

📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc. M.Ag.

📖 Jagalah Allah Niscaya Allah akan Menjagamu
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟْﻌَﺒَّﺎﺱِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ، ﻛُﻨْﺖُ ﺧَﻠْﻒَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ، ﻳَﺎ ﻏُﻼَﻡُ ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﻋَﻠِّﻤُﻚَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺕٍ، ﺍﺣْﻔَﻆْ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺤْﻔَﻈْﻚَ، ﺍﺣْﻔَﻆْ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﺠِﺪْﻩُ ﺗُﺠَﺎﻫَﻚَ، ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻝْ ﺍﻟﻠَّﻪَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻌَﻨْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍْﻷُﻣَّﺔَ ﻟَﻮْ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻚَ، ﻭَﻟَﻮْ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ، ﺭُﻓِﻌَﺖْ ﺍْﻷَﻗْﻼَﻡُ ﻭَﺟَﻔَّﺖْ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ )

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas r.a. berkata, “Saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari, beliau bersabda, ‘Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.'” (HR. Turmudzi)

Takhrij Hadist
1. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam Kitab Shifatil Qiyamah War Raqa’iq Wal Wara’ ‘An Rasulillah, hadist no 2440.

2. Hadist ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya, dalam bidayah musnad Ibni Abbas RA, hadits no 2537.

Pelajaran Hadist:

1⃣ Cara Nabi SAW memberikan nasihat yang sangat bijaksana, di mana beliau memberikan nasihat kepada Ibnu Abbas dengan beberapa metode:

A. Beliau memulai sapaan dengan panggilan “Ya Ghulam” (wahai anak muda) kepada Ibnu Abbas. Ghulam umumnya digunakan untuk memanggil seorang anak yang menjelang dewasa, atau untuk memanggil anak yang baru dewasa. Sapaan seperti ini tentunya akan menentramkan siapapun yang disapanya, sehingga ia akan lebih bisa memperhatikan isi dari nasihat tersebut.

B. Bahwa Nabi SAW memberikan nasihat kepada Ibnu Abbas r.a. ketika ia membonceng di belakang Nabi SAW. Dalam kondisi seperti ini, tentulah kedekatan antara Nabi SAW dengan Ibnu Abbas menjadikan nasihat yang diberikan akan menjadi sangat efektif dan mudah diterima dalam hati.

C. Nabi SAW juga memulai memberikan nasihat dengan ungkapan; ‘Inni u’allimuka kalimaat’ (aku hendak mengajarimu beberapa kalimat). Artinya, bahwa Nabi SAW menyampaikan kepada Ibnu Abbas, ada beberapa poin nasihat yang akan disampaikan beliau kepadanya. Penyampaian seperti ini tentu akan membuka memori Ibnu Abbas untuk menyimpan beberapa poin tersebut.

2⃣ Adapun nasihat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas adalah beberapa poin penting, yaitu:

A. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Maksud dari jagalah Allah adalah pesan untuk berpegang teguh terhadap perintah-perintah Allah dan tidak melanggar larangan-larangan Allah SWT. Atau dengan kata lain, pesan untuk senantiasa taat terhadap syariat Allah SWT. Dan apabila kita menjaga syariat dan hukum-hukum Allah SWT, maka niscaya Allah SWT akan menjaga dan memelihara kita, di manapun kita berada. Karena Allah SWT adalah sebaik-baik pemelihara dan penjaga kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

ﻗَﺎﻝَ ﻫَﻞْ ﺁﻣَﻨُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺇِﻻَّ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻣِﻨﺘُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺧِﻴﻪِ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻓَﺎﻟﻠّﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﺣَﺎﻓِﻈﺎً ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﺭْﺣَﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴﻦَ ٦٤

Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?.” Maka, Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf: 64)

B. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu. Ini adalah benefit kedua apabila kita menjaga hukum dan syariat Allah SWT, yaitu bahwa Allah SWT akan senantiasa bersama dengan kita. Maksudnya adalah bahwa Allah SWT akan selalu menolong, membela, dan melindunginya. Dalam poin ini terdapat hikmah penting yang tersirat, yaitu bahwa pertolongan Allah SWT sangat erat kaitannya dengan aspek menjaga hukum dan syariat Allah SWT. Maka jika ingin mendapatkan nashrullah, kita harus taat terhadap hukum dan syariat Allah SWT.

C. Jika meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dalam poin ini sangat jelas pesan Rasulullah SAW kepada ibnu Abbas dan juga kepada umatnya untuk senantiasa meminta sesuatu dan bersandar hanya kepada Allah SWT. Karena, Allah SWT lah yang Maha Mengabulkan segala doa permintaan hamba-Nya. Dan larangan meminta kepada selain Allah. Allah SWT berfirman:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

D. Jika meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Sebagaimana poin sebelumnya bahwa kita hanya boleh meminta kepada Allah, maka kita pun juga hanya boleh meminta pertolongan kepada Allah SWT. Karena, jika meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah SWT akan memberikan pertolongan-Nya dan menganugerahkan kemenangan. Allah SWT berfirman:

ﺇِﻥ ﻳَﻨﺼُﺮْﻛُﻢُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻓَﻼَ ﻏَﺎﻟِﺐَ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﺇِﻥ ﻳَﺨْﺬُﻟْﻜُﻢْ ﻓَﻤَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻨﺼُﺮُﻛُﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِﻩِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛِّﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali-Imran: 160)

E. Yang dapat memberikan manfaat atau mudharat, hanyalah Allah SWT. Poin ini adalah “buah” dari meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT. Karena hanya Allah lah yang bisa memberikan pertolongan dan kemenangan. Oleh karenanya, jika suatu kaum atau satu organisasi atau satu pasukan atau satu negara sekalipun berniat untuk memberikan mudharat kepada kita, niscaya itu tidak akan pernah terjadi tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Sebaliknya, jika suatu kaum, kelompok, organisasi atau negara sekalipun berniat untuk memberikan kebaikan kepada kita, maka segala upaya mereka tidak akan pernah terjadi sama sekali, tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Kuasa Allah SWT meliputi segala sesuatu. Allah SWT berfirman:

ﻭَﺇِﻥ ﻳَﻤْﺴَﺴْﻚَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺑِﻀُﺮٍّ ﻓَﻼَ ﻛَﺎﺷِﻒَ ﻟَﻪُ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﻭَﺇِﻥ ﻳَﻤْﺴَﺴْﻚَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪُﻳﺮٌ ١٧

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am: 17)

F. Pena telah diangkat dan kertas telah kering. Artinya, segala sesuatu yang terjadi, pasti sudah tertulis di Lauhil Mahfudz sesuai dengan kehendak Allah SWT. Maka oleh karenanya, dalam menjalani kehidupan dan perjuangan, yang terpenting dilakukan adalah ikhtiar dan usaha yang maksimal. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha, adapun hasil adalah diserahkan kepada Allah SWT. Jika dalam perjalanan terjadi sesuatu, maka pastilah hal tersebut terdapat hikmah yang besar karena hal tersebut terjadi adalah karena izin dan kehendak Allah SWT.
Wallahu A’lam bis shawab.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📷 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Nabi Hud AS Part I

📆 Selasa, 03 Muharram 1438 H/04 Oktober 2016

📕 Sirah

📝 Ustadzah Yani

📖 Nabi Hud AS Part I
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalamu’alaikum sahabat MFT…..

1. Nasab dan Asal Muasal Nabi HUD AS

Nasabnya adalah Hud bin Syalih bin Afkhasyz bin Sam bin Nuh AS.

Beliau berasal dari suku ‘Ad bin Aush bin Sam bin Nuh. Mereka adalah bangsa Arab yang tinggal di gunung bebatuan yang terletak di negeri Yaman, antara Oman dan Hadramaut.

Mereka biasa tinggal didalam kemah yang memiliki tiang besar, sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?” (QS. Al-Fajr: 6)

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ

“(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” (QS. Al-Fajr: 7)

Maksudnya adalah bahwa suku Iram merupakan bangsa ‘Ad generasi pertama. Adapula yang mengatakan bahwa Nabi Hud merupakan orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab.  Bangsa-bangsa Arab sebelum Nabi Ismail AS dikenal dengan istilah Arab Al-Aribah. Mereka terdiri dari banyak suku, diantaranya Ad, Tsamud, Madyan, Qathan, dll. Sedangkan keturunan Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS dikenal dengan istilah Arab Al-Musta’ribah.

2. Kekuatan Bangsa ‘Ad dan Penentangan Terhadap Nabi HUD AS.

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.” (QS. Fushshilat: 15)

Bangsa ‘Ad adalah bangsa pertama penyembah berhala setelah peristiwa banjir bandang yang menimpa kaum Nabi NUH AS. Allah SWT memberi mereka postur tubuh yang kekar dan kuat. Namun, sangat disayangkan dengan kekuatan yang mereka miliki mereka merasa sombong dan menyatakan bahwa mereka lah yang paling kuat. Puncak kesombongannya adalah ketika mereka tidak beriman kepada Allah SWT.

Merekapun menjadi penyembah berhala, yaitu Shuda, Shamuda dan Hira.

Allah SWT mengutus Nabi HUD AS untuk berdakwah, agar mereka meninggalkan kemusyrikan dan beribadah kepada Allah SWT.

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.” (QS. Hud: 50)

(فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 27)

Namun, kaum ‘Ad menolak dakwah Nabi HUD AS, seraya berkata bahwa mereka tidak ingin meninggalkan ajaran nenek moyang mereka, dan mereka tidak yakin akan risalah yang dibawa oleh Nabi HUD AS sebelum beliau membuktikan kebenarannya. Serta, mereka mengancam Nabi HUD AS dengan mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka akan mendatangkan kecelakaan terhadap Nabi HUD AS.

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ۗ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)

Nabi HUD AS menjawab tantangan mereka dengan menyatakan Bara (berlepas diri) dari berhala yang mereka sembah dan meminta mereka membuktikan bahwa tuhan-tuhan mereka dapat menyakitinya secepat mungkin. Namun, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

مِنْ دُونِهِ ۖ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ

“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56)

Mereka bangsa ‘Ad menolak Nabi HUD AS karena mereka menganggap bahwa seorang Rasul mestinya bukan manusia seperti mereka. Namun, hal tersebut langsung dibantah oleh Nabi HUD AS dengan berkata sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?” (QS. Al-A’raf: 63)

Begitulah Nabi HUD meladeni pengingkatan-pengingkaran dari kaum ‘Ad dengan jawaban yang halus namun tegas. Hingga akhirnya setelah berbagai cara dakwah dilakukan namun tiada guna. Maka Nabi HUD AS mengancam mereka dengan azab Allah jika terus menerus menolak untuk menyembah Allah SWT.  Sebagai wujudnya Nabi HUD memohon dan berdo’a kepada Allah agar di tolong dalam menghadapi kaum yang mendustakannya.

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

Rasul itu berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” (QS. Al-Mu’minun: 39)

Bersambung…

Sumber : Kisah Para Nabi (Ibnu Katsir)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📷 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Puasa Sunah Asyura (Bag. 2)

📆 Selasa, 3 Muharrom 1438H / 4 Oktober 2016

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.*

📋 *Puasa Sunah Asyura (Bag. 2)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 Keutamaan ‘Asyura dan Puasanya

1⃣  *Puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

 📌 “Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharam.” (HR. Muslim No. 1163. Ad Darimi No. 1758.  Ibnu Khuzaimah No. 2076. Ahmad No. 8534, dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arna’uth)

2⃣  *Diampuni dosa setahun sebelumnya*

Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 وَصَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

  📌“Dan berpuasa ‘Asyura, sesungguhnya saya menduga atas Allah bahwa dihapuskannya dosa setahun sebelumnya.” (HR. Abu Daud  No. 2425, Ibnu Majah No. 1738. Syaikh Al Albani mengatakan shahih dalam Al Irwa, 4/111, katanya: diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Al Bukhari dan At Tirmidzi.  Shahihul Jami’ No. 3806)

3⃣ *Hari ‘Asyura adalah Hari  di mana Allah Ta’ala membebaskan Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Fir’aun dan Bala tentaranya*

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.
فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه

 📌 Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun beruasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Bersambung …

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

🗳Sebarkan dan raihlah pahala …