KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Ustadz Menjawab
Ahad, 09 Oktober 2016
Ustadz Noorahmat

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Assalamuaalaikum.mba admin bs minta bahan materi/ kepemimpinan dalam islam dan dalilnya?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Kepemimpinan dalam Islam menempati posisi yang sangat penting yang mempengaruhi seluruh jenjang kehidupan.

Di dalam Al Qur’an terdapat banyak sekali ayat-ayat terkait kepemimpinan. Silahkan dibuka Al Qur’an-nya…

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [QS Al Baqarah 2 : 30]

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa manusia ditaqdirkan oleh Allah Azza wa Jalla menjadi khalifah, pemimpin di muka bumi menggantikan kepemimpinan makhluk ciptaan Allah Ta’ala sebelumnya yang dipersaksikan oleh para malaikat sebagai pembuat kerusakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
[QS An Nisa 4:59]

Terdapat penggunakan istilah yang berbeda untuk menunjukkan makna dari pemimpin di ayat ini, yaitu ulil amri, pemangku kebijakan atas segala urusan yang diamanahkan oleh pemberi amanah. Dalam hal ini pemberi amanah tidak hanya sekedar manusia yang dipimpinnya, namun amanah itu juga merupakan ujian dari Allah Azza wa Jalla. Karena itulah maka ketaatan kepada ulil amri (pemimpin) haruslah berada dalam kerangka ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Ulil Amri ini merupakan mereka yang ‘Alim nan luas wawasannya, tinggi keta’atannya kepada Allah Azza wa Jalla dan jauh dari penyakit Wahn.

Lalu apakah sebenarnya tugas seorang Ulil Amri?

Dalam Kitab Lulu wal Marjan, terdapat hadits terkait kepemimpinan yang cukup populer.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” Aku menduga Ibnu ‘Umar menyebutkan: “Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”

Bila ditakhrij dari kitab asalnya (kitab induk) maka hadits tersebut diatas terdapat dalam Shahih Bukhari (Bab Shalat Jum’at, Bab Membebaskan Budak), Shahih Muslim (bab Kepemimpinan), Sunan Abu Dawud (Bab Pajak, Kepemimpinan dan Fa’i) dan Musnad Imam Ahmad (Musnad Abdullah Ibnu Umar ra)

Hadits diatas secara tegas menyatakan bahwa dalam Islam, setiap muslim merupakan pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya atas yang dipimpinnya. Hal ini sejalan dengan peran dan fungsi manusia di muka bumi yang Allah Ta’ala gambarkan dari QS Al Baqarah 2:30.

Dalam konteks keluarga, maka Suami sebagai kepala keluarga bertanggung-jawab atas istri dan anak-anaknya, Istri bertanggung jawab atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Sedangkan dalam konteks kemasyarakatan maka seorang pemimpin lingkungan formal, mulai dari pimpinan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Walikota/Bupati, Gubernur, Presiden/Perdana Menteri, mereka semua kelak akan dimintai pertanggung-jawaban atas segala hal yang menjadi lingkup naungan kepemimpinannya. Hal ini juga berlaku dalam kepemimpinan kelembagaan di semua tingkatan.

Maka secara umum Allah Azza wa Jalla menjabarkan tugas utama kepemimpinan melalui ayat-ayat yang berbeda dalam Al Qur’an.

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” [QS Al Anbiya 21:73]

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
[QS As Sajdah 32:24]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
[QS An Nisa 4:135]

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS An Nisa 4:58]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al Ma’idah 5:8]

Dari ayat-ayat tersebut diatas, dapat kita tarik benang merah bahwa tugas utama Ummat Islam dalam hal kepemimpinan itu adalah untuk mewujudkan prinsip-prinsip keadilan di muka bumi dengat mendasarkan pada nilai-nilai Ilahiyyah yang teah ditetapkan Allah Ta’ala dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Karena masalah kepemimpinan ini adalah masalah yang cukup penting, maka Allah Azza wa Jalla secara langsung menyampaikan firman-firman-Nya dalam Al Qur’an perihal memilih pemimpin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”
[QS Mumtahanah 60:1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS At Taubah 9:23]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” [QS An Nisa 4:144]

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” [QS Ali Imran 3:28]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [QS Al Maidah 5 : 57]

dan termasuk pula ayat yang saat ini sedang mendapat perhatian khusus di DKI Jakarta dalam kaitannya dengan pernyataan Gubernur, yaitu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
[QS Al Maidah 5 : 51]

Dari sini saja, kalau kita simak dan pelajari Al Qur’an secara seksama, tuntunan yang diberikan Allah Azza wa Jalla terkait memilih pemimpin tidak hanya terdapat pada satu ayat, namun terdapat pada banyak ayat yang diantaranya sudah disampaikan diatas.

Lalu bagaimana bila Ummat Manusia khususnya manusia yang mengucapkan dua kalimat syahadat (muslim) namun mengesampingkan tuntunan Allah Al Aziz dalam ayat-ayat tersebut diatas? Kita simak ayat-ayat berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ. بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِين

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”
[QS Al Imran 3 : 149-150]

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا. الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” [QS An Nisa 4 : 138-139]

تَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ. وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”
[QS Al Ma’idah 5 : 80-81]

Sebagai penutup, dalam rangka menghadirkan kepemimpinan yang Adil dan Amanah sesuai dengan tuntunan Ilahiyyah, maka seorang pemimpin haruslah seorang yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas sebagai perbekalan dirinya dalam menuntaskan amanah. Terkait dengan ini, terdapat hadits yang merupakan pernyataan Rasulullah SAW dan direkam oleh Abu Hurairah r.a.

ذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”
(HR Bukhari)

Semoga jawaban sederhana ini bisa membuka cakrawala berfikir kita untuk mengkaji lebih dalam hal-hal terkait Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Islam.

Wallahu a’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Tafsir Surat Al-Kautsar

Sabtu, ٧ Muharam ١٤٣٨ H  / 08 Oktober 2016

📒 Al-Qur’an

📝 Ustadz Noorahmat

📖 Tafsir Surat Al-Kautsar
============================

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Adik-adik…..pagi ini kita bertemu kembali dengan bagian akhir dari Tafsir Surat Al-Kautsar….

Bagaimana khabar semuanya? Semoga kita terjaga dalam komitmen untuk menjalankan amaliah penghuni syurga tanpa kenal lelah ya…. Agar kelak bisa istirahat di sebaik-baiknya tempat….. Syurga Firdaus, dan bercengkerama bersama Rasulullah SAW menikmati buah dari kerja keras kita di dunia menjaga Syahadat dan mengawal kemuliaan serta keutamaan nilai-nilai ke-Islam-an dalam kehidupan kita

Nah….kita langsung saja ya…

Firman Allah SWT :

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 3)

Dalam kaitannya dengan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa sesungguhnya orang yang membenci Rasulullah SAW, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang beliau sampaikan, maka orang-orang itulah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-As ibnu Wa-il.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Ruman yang mengatakan bahwa dahulu Al-As ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah SAW, ia mengatakan, “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah sebutannya.” Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan surat ini.

Syamir ibnu Atiyyah mengatakan bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Uqbah ibnu Abu Mu’it. Ibnu Abbas mengatakan pula, dan juga ikrimah, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Ka’b ibnul Asyraf dan sejumlah orang-orang kafir Quraisy.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Ka’b ibnul Asyraf datang ke Mekah, maka orang-orang Quraisy berkata kepadanya, “Engkau adalah pemimpin mereka. Tidakkah engkau melihat kepada lelaki yang terusir lagi terputus dari kaumnya itu (maksudnya Nabi SAW)? Dia mengira bahwa dirinya lebih baik daripada kami, padahal kami adalah ahli (pelayan) jemaah haji, ahli sadanah (pelayan Ka’bah) dan ahli Siqayah (pelayan minuman air zamzam),” Maka Ka’b Ibnul Asyraf berkata, “Kalian lebih baik daripadanya.” Maka turunlah firman Allah Azza wa Jalla ini, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 3)”

Adik-adik sekalian, Dari Al Bazzar disampaikan bahwa ternyata surat ini juga diturunkan berkenaan dengan Abu Lahab. Demikian itu terjadi ketika putra Rasulullah SAW. meninggal dunia, maka Abu Lahab pergi menemui orang-orang musyrik dan berkata kepada mereka, “Tadi malam Muhammad terputus (keturunannya).” Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya sehubungan dengan peristiwa tersebut: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 3)

Ibnu Abbas r.a. juga menyampaikan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa makna: sesungguhnya orang-orang yang membencimu. (Al-Kautsar: 3) Yakni musuhmu.

Nah, pendapat Ibnu Abbas yang terakhir ini lebih mencakup dan meliputi semua orang yang bersifat dan berkarakter demikian, baik dari kalangan mereka yang telah disebutkan di atas maupun yang lainnya.

Ikrimah r.a. mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara. As-Saddi mengatakan bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka mereka mengatakannya abtar (terputus keturunannya). Dan ketika putra-putra Nabi SAW semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, “Muhammad telah terputus.” Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (QS. Al-Kautsar: 3)

Pendapat ini senada dengan apa yang telah disebutkan di atas yang mengatakan bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Maka, orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya.

Padahal, tidaklah demikian kenyataannya, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan sebutan Nabi SAW di hadapan para saksi dan mewajibkan syariat yang dibawanya di atas pundak hamba-hamba-Nya, yang akan terus berlangsung selamanya sampai hari mereka dihimpunkan untuk mendapat pembalasan. Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah-kan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat. Aamiin.

Demikianlah bagian akhir dari pembahasan tafsir surat Al-Kautsar, segala puji bagi Allah atas limpahan karunia-Nya. Semoga kita semua semakin semangat mengejar amaliah syurga sembari mengokohkan pondasi dan bangunan keimanan dalam setiap jejak langkah kehidupan kita. Wallahu A’lam.

Adik-adik MFT yang dirahmati Allah Ar-Rahman…
InsyaAllah kita akan bertemu kembali pekan depan untuk Tafsir tematik menarik lainnya…
Tetap saling mendo’akan untuk kebaikan Ummat Manusia sedunia…

Wassalamu’alaikum wr wb.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Tahun Baru Hijriyah Tahun Baru Umat Islam

Ustadz Menjawab
Sabtu, 08 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

🍃🌻Tahun Baru Hijriyah Tahun Baru Umat Islam

Assalamulalaykum ustadz/ah..
mohon bantuannya utk menjelaskan bagaimana sikap kita menghadapi fenomena ritual menyambut tahun baru islam yg memang tdk pernah dilakukan oleh Rasulullah.
tetapi tetap dg sikap bijak. dan apakah kaidah Islam dalam hal ini.

jazaakumullah khayran

🐾🐾Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
📌 Setiap umat ada sejarah dan peradabannya masing-masing

📌 Termasuk keberadaan hari-hari istimewa yang menjadi kesepakatan masing masing peradaban tersebut

📌 Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyampaikan dalam beberapa hadits shahih bahwa hari raya kita adalah Idul Fitri, Idul Adha, Hari Arafah, hari tasyriq, .. bahkan hari Jumat yang paling utama

📌 Tapi, sahabat yang mulia, Umar Al Faruq Radhiallahu ‘Anhu, menggagas bahwa peristiwa hijrah nabi dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah adalah titik tolak penanggalan awal tahun Islam, sehingga sering disebut tahun Hijriyah

📌 Ini bukan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dengan tahun-tahun dan penanggalan yang mereka miliki, tapi justru  pembeda dengan mereka

📌 Ini juga bukan bid’ah, para sahabat menyepakatinya, lalu oleh generasi selanjutnya dari masa ke masa

📌 Ini penting dan besar, sebab kalau tidak, buat apa sampai dijadikan sebagai titik awal penanggalan kaum muslimin …

📌 Namun, walau demikian tidak ada “fadhilah ‘ubudiyah” apa pun pada saat tahun baru Hijriyah

📌 Tugas kita adalah tidak melupakan sejarahnya, sebab pada umat terdahulu ada pelajaran, apalagi pada generasi yang terbaik  umat ini .. kata Nabi tentang kisah Bani Israel: hadditsuu ‘anhum walaa haraj – kisahkanlah dari mereka, tidak apa-apa .., maka apalagi kisah-kisah nabi dan sahabatnya

📌 maka, ambil pelajaran hijrah mereka … , jika mereka hijrah maknai (perpindahan tempat),
al intiqal min biladil kufri ila biladit tauhid- pindah dari negeri kufur ke negeri tauhid .. maka kita hari ini hijrah ma’nawi (hijrah mentalitas dan moralitas), al intiqal minal ma’shiyah ilat tha’ah .. minasy syirki ilat tauhid – perpindahan dari maksiat menuju taat … dari syirik menuju tauhid .. dst

📌 Inilah pelajaran yg seharusnya tiap tahun kita petik ..

📌 Tapi, sayang … tiap kali datang tahun baru hijriyah, saat itu pula kaum muslimin banyak yang melupakan sejarahnya

📌 Tiap kali datang tahun baru, .. datang lagi perdebatan tentang doa akhir dan awal tahun, boleh atau tidak .. diulang lagi diulang lagi … sementara esensi hijrahnya tidak tersentuh

📌 Sehingga patut jika ada yang menyindir, tidak ada peristiwa-peristiwa besar pada umat Islam  melainkan pasti disikapi dengan perselisihan; seperti masuk dan berakhirnya Ramadhan, masuknya 10 zulhijah (Idul Adha), …

📌 Tidak apa berbeda pendapat, tapi tahan lisan dan tulisan dari mentabdi’ saudaranya .. atau sebelah sana menyerang balik yang sebelah situ ..

📌 Akhirnya, musuh asyik bertepuk tangan melihat umat Islam bangga bercakar-cakaran  … kata mereka kepada umat Islam: Syukran jaziiilan!! Terima kasih banyak!! Setengah tugas kami sudan selesai oleh prilaku kalian sendiri, wahai Umat Islam!!

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kisah Ummu Kultsum binti Uqbah

📆 Sabtu, 07 Muharram 1438 H / 08 Oktober 2016

📚 *SIROH & KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag*

📝 *Kisah Ummu Kultsum binti Uqbah*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Al Mumtahanah:10)

🌟Ketika cahaya Islam bersinar di jazirah Arab, keyakinan kepada Allah merasuki relung hatinya. Ia beriman kepada Allah dan RasulNya dan kehidupannya disinari petunjuk dan ketakwaaan.

📚 Ayahnya seorang yang sangat memusuhi Islam. Ummu Kultsum menyembunyikan keislamannya. Dan ketika Rasulullah bersama para sahabat hijrah ke Madinah, ia merindukan kehadiran kaum muslimin dan majlis-majlis iman. Maka ia bertekad untuk hijrah ke Madinah dan dengan sembunyi-sembunyi ia mempersiapkan perjalanan menuju Madinah.

🌸 Ummu Kultsum menceritakan perjalanan hijrahnya: sesungguhnya ia mulai meninggalkan kampung dan tinggal 3 atau 4 malam di pinggiran Tan’im. Hingga ia benar2 membukatkan tekad untuk berhijrah. Di perjalanan ia bertemu dengan seseorang dari Bani Khuza’ah yang bertanya:”Hendak pergi kemana wahai hamba Allah?” Ketika ia tahu bahwa yg bertanya adalah seorang Khuza’qh dan Khuza’ah terikat pernanjian dengan Rasulullah Saw, ia menjawab: “Aku seorang perempuan Quraisy yang ingin menyusul Rasulullah ke Madinah.” Lelaki Khuza’ah itu kemudian membawakan seekor unta, didudukan dihadapannya dan mempersilakannya untuk naik. Lelaki itu bersumpah untuk tidak berbicara kepadanya hingga sampai di Madinah. Sesampainya di Madinah ia menemui Ummul Mu’minin Ummu Salamah yang bertanya kepadanya :”Apakah engkau berhijrah untuk Allah dan RasulNya.” Ummu Kultsum menjawab:”Ya, akan tetapi aku takut Rasulullah Saw mengembalikan aku kepada orang2 Quraisy sebagaimana beliau mengembalikan Abu Jandal dan Abu Bashir.”

📚 Ketika memasuki rumah Rasulullah Saw, beliau menyambutnya.  Ummu Kultsum berkata:”Sesungguhnya aku lari menujumu untuk menyelamatkan agamaku. Maka lindungilah aku dan jangan kau kembalikan aku kepada mereka. Mereka akan menyiksaku dan aku bukan  orang yang sabar menghadapinya. Sesungguhnya aku  seorang  perempuan yang lemah.”
Maka Allah menurunkan surat Al-mumtahanah ayat 10.

🌷Al Walid dan Ammaroh dua saudara kandung Ummu Kultsum, kemudian menyusul ke Madinah untuk bertemu Rasulullah Saw.  Mereka berkata:”Ya Muhammad, apakah engkau melanggar perjanjian antara engkau dan kami?” Rasulullah menjawab:” Allah telah membatalkan perjanjian  itu dengan apa yang telah Ia ajarkan kepada kita tentang perempuan.” Dan kedua saudara Ummu Kultsum itu pun pergi meninggalkannya di Madinah.

💍Hari berlalu….dan Zubair bin Awwam, Zaid bjn Haritsah, Abdurrahman bin Auf, Amr bin Ash hadir untuk melamar Ummu Kultsum. Ia bingung, siapa yang harus ia pilih diantara sahabat2 mulia ini? Ia pun menemui saudara seibunya yaitu Utsman bin Affan untuk bermusyawarah. Utsman menyarankan agar ia bertanya kepada Rasululloh Saw dan memilihkan baginya. Maka Nabi Saw menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah dan lahirlah dari pernikahan itu Zaid bin Zaid dan Ruqoyyah. Keduanya wafat saat masih anak2. Kemudian Zaid menceraikannya dan ia menikah dengan Zubair bin Awwam. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak yaitu Zainab. Zubair bin Awwam saat itu dikenal sangat keras terhadap perempuan. Ummu Kultsum tidak menyukai perangainya dan meminta talak akan tetapi Zubair menolak. Suatu hari ia merajuk kepadanya dibulan terakhir kandungannya. Maka Zubair mentalaknya dan iapun melahirkan. Zubair sempat mengadu kepada Rasulullah dan menginginkan untuk tidak menceraikannya. Dan Rasulullah menjelaskan ia harus memulainya dari awal dengan kembali melamarnya. Akan tetapi Ummu Kultsum tidak menghendaki untuk kembali kepadanya. Kemudian Abdurrahman bin Auf menikahinya dan ia hidup bahagia bersamanya. Dari pernikahan ini lahir Ibrahim dan Humaidan. Hingga Abdurrahman bin Auf wafat, ia kemudian dinikahi oleh Amr bin Ash dan terus hidup bersamanya sampai akhir hayatnya.

✍🏻Ummu Kultsum meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw :”Bukanlah pendusta ia yang memperbaiki hubungan antara sesama dengan mengatakan yang baik2 saja.” Ibrahim dan Humaidan kedua putranya meriwayatkan hadits ini.

🌸Diriwayatkan bahwa para muslimah menemuinya dan meminta nasehat darinya. Maka Ummu Kultsum binti Uqbah mengatakan :”Sesungguhnya hubungan antaramu dengan suamimu harus berdasarkan cinta dan kasih sayang yang dengannya hati kalian berdua bersatu. Dengannya ruh kalian berpadu. Hingga masing2 kalian menjadi tempat menyimpan rahasia pasangannya dan menjadi penguat dalam kesulitan dan berbagai masalah.”

Wallahu a’lam bish showab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

PEMIMPIN NON MUSLIM

Ustadz Menjawab
Jum’at, 07 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan

🌿🍁🌺 PEMIMPIN NON MUSLIM

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
“Kafir itu zolim, mari tolak pemimpin zolim.”
Tapi mengapa partai Islam yg harusnya sangat paham tentang ini malah mengusung calon pemimpin dr non-Islam?? Mohon penjelasanya Ustadz.  🅰2⃣8⃣

Jawaban
===============

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Bismillah wal Hamdulillah …
Sebenarnya pertanyaan ini lebih pas diajukan kepada partai tersebut, apa alasan syar’i-nya mereka mendukung calon non muslim.

Jika konteksnya adalah konstalasi yang terjadi di DKI Jakarta, pendukung cagub non muslim tak satu pun yang partai Islam.

Saya berbaik sangka, mungkin jika ada partai Islam atau berbasis massa Islam mendukung cagub  non muslim, ada beberepa pertimbangan mereka.

📗 Sebagian ulama membolehkan menyerahkan jabatan kepada kafir dzimmi, dalam lingkup eksekutif, bukan legislatif dan yudikatif. Nah pemimpin daerah adalah eksekutif, mereka hanya tinggal menjalankan UU saja, bukan membuat. Ini pendapat Imam Abul Hasan Al Mawardi.

📙 Bisa jadi, mereka memahami larangan menjadi orang kafir sebagai “wali” adalah teman dekat, bukan pemimpin. Itu maka wali bagi mereka.

Ini baik sangka kita …

Tapi, yang aman dan selamat adalah tetap jangan mendukung mereka ..

Sebab:

📌 Allah Ta’ala Menyebut Munafiq kepada Orang yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan mengenyampingkan orang beriman

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138  (الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139(

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi waliy dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
(QS. An Nisa: 138-139)

📌 Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut sebagai pengkhianat

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 «مَنِ اسْتَعْمَلَ عَامِلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ أَوْلَى بِذَلِكَ مِنْهُ وَأَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَجَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ»

“Barang siapa yang memilih seseorang untuk mengurus urusan kaum muslimin padahal dia tahu ada orang lain yang lebih pantas darinya, lebih paham Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan semua Kaum Muslimin.”

(HR.  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20861,  Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 11053 , Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7023)

📌 Para sahabat nabi pun marah jika ada yang mengangkat non muslim sebagai pemimpin

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah memberikan keterangan dengan sebuah kisah Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu ‘Anhu yang mengangkat seorang sekretaris dari Syam yang beragama Nashrani, lalu Umar Radhiallahu ‘anhu merasa heran dan mencegah pengangkatan itu, lalu Umar Radhiallahu ‘Anhu mengutip ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(QS. Al Maidah: 51)
(lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/123)

Sikap herannya Umar Radhiallahu ‘anhu ini hanya Abu Musa menjadikan Nasrani sebagai  sekretaris, apalagi dia menjadikannya sebagai pemimpin.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan!Raih pahala…

=================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Sampaikan Dariku Walau Satu Ayat.

📆 Jumat, 06 Muharram 1438H / 07 Oktober 2016

📚 DA’WAH

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

📋  Sampaikan Dariku Walau Satu Ayat.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Jangan Remehkan Yang Sedikit Selama Itu Kebaikan

Mau da’wah tapi hanya sedikit tahu ayat dan hadits?

Mau ajak kebaikan tetapi masih sedikit memahami ayat dan hadits?

Atau masih sedikit hapal atsar-atsar para salafush shalih?

Jangan khawatir …

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikan dariku walau satu ayat. (HR. Al Bukhari No. 3461, At Tirmidzi No. 2669, Ahmad No. 6486, 6888, 7006, Ad Darimi No. 559, Ibnu Hibban No. 6256)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarka furi Rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan berbagai keterangan para ulama, bahwa maksudnya adalah walau menyampaikan satu ayat pendek dari Al Quran.

Ada yang mengatakan “ayat” di sini adalah al kalam al mufid (kalimat yang bermanfaat) semisal “Barang siapa yang diam maka dia akan selamat,” atau “Agama adalah nasihat.”

Ada yang mengartikan “sampaikan dariku hadits-haditsku.”

Ada pula yang mengatakan “sampaikan hikmah-hikmah yang diwahyukan Allah kepada Nabi ﷺ.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 7/360)

Maka, sampaikan apa yang sudah kita ketahui dan pahami saja, baik berupa ayat, hadits atau nasihat para ulama dan shalihin,  itu sudah cukup mendatangkan kebaikan yang banyak.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan: “Sepantasnya bagi penuntut ilmu dan selain penuntut ilmu, dan setiap orang yang sudah memahami sunah, untuk  menjelaskannya di kesempatan yang tepat.

Jangan katakan “saya bukan ulama”.
Benar Anda memang bukan ulama, tapi Anda punya pengetahuan, dan Nabi ﷺ bersabda: sampaikan dariku walau satu ayat ..” (Syarh Riyadh Ash Shalihin, Hal. 824)

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺbersabda:

إن الله وملائكته وأهل السموات والأرضين حتى النملة في حجرها وحتى الحوت ليصلون على معلم الناس الخير

Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit, penduduk bumi, sampai-sampai semut di lubangnya, dan ikan di lautan mereka mendoakan ampun bagi orang yang mengajarkan manusia kebaikan.  (HR. At Tirmidzi No. 2685. Dishahihkan oleh Imam As Suyuthi. Lihat Al Jami’ Ash Shaghir No. 5859)

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
https://www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Air Mata Manusia-Manusia Mulia

📆 Kamis, 05 Muharam 1438 H/ 06 Oktober 2016

📘 Ibadah

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

📖 Air Mata Manusia-Manusia Mulia
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

® Air mata yang membebaskan dari api neraka.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi saw bersabda:

عينان لا تسمهما النار عين بكت من خشية الله وعين باتت تحرس في سبيل الله

“Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka. (Yaitu) mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga dalam keadaan berjaga-jaga fisabilillah”. (HR. At-Tirmidzi No. 1639, Beliau mengatakan: hasan. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Inilah tangisan orang-orang yang bartaubat, yang takut terhadap siksa-Nya dan ke-Maha Kuasaan-Nya.

Imam Al-Munawi Rahimahullah mengatakan:

أي من خوف عقابه أو مهابة جلاله

“Yaitu rasa takut terhadap siksa-Nya atau kehebatan keagungan-Nya. (At-Taisir, 2/293)

Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri Rahimahullah menjelaskan:

وهي مرتبة المجاهدين مع النفس التائبين عن المعصية سواء كان عالما أو غير عالم

“Ini adalah kedudukan orang-orang yang berjihad, bersama orang-orang yang bertaubat dari maksiatnya, sama saja apakah dia seorang berilmu atau bukan”. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 5/221)

® Air mata yang paling Allah cinta.

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi saw bersabda:

ليس شيء أحب إلى الله من قطرتين وأثرين قطرة من دموع في خشية الله وقطرة دم تهراق في سبيل الله وأما الأثران فأثر في سبيل الله وأثر في فريضة من فرائض

“Tidak ada suatu apa pun yang lebih Allah cintai dibandingkan dua tetes dan dua bekas: ada pun dua tetes yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetes-tetas darah fisabilillah. Sedangkan, dua bekas adalah bekas-bekas saat jihad fisabilillah dan bekas dari menjalankan kewajiban”. (HR. At-Tirmidzi No. 1669, katanya: hasan gharib. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, No. 7918. Dishahihkan oleh Imam As-Suyuthi, Al-Jaami’ Ash-Shaghiir No. 7600. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Merintis Suatu Kebaikan ~ Mengalirkan Kebaikan Tiada Henti

📆 Kamis, 05 Muharram 1438H / 06 Oktober 2016

📚 *SIROH DAN TARIKH*

📝 Pemateri: *Ustadz AGUNG WASPODO, SE MPP*

📝  *Merintis Suatu Kebaikan ~ Mengalirkan Kebaikan Tiada Henti*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌐 Perwakilan Turki Utsmani di Sri Lanka

Surat kabar Ceylon Daily pada tanggal 20 Februari 1953 memuat artikel tentang Marikar Hussain Lebbe Effendi sebagai pejabat yang menyusun Peraturan Muhammadan tahun 1806. Peraturan ini ditujukan bagi penduduk yang beragama Islam di negeri tersebut. Fokus peraturan ini pada penanganan hak kepemilikan dan hak sipil sesuai syariat Islam.

💡 *Lesson #1* syariat Islam untuk kemaslahatan.

Pada sensus tahun 1824 tercacah sejumlah 14.847 penduduk Muhammadan yaitu mereka yang beragama Islam di ibukota Colombo.

💡 *Lesson #2* menjadi minoritas adakah tantangan tersendiri untuk da’wah; syukuri kemayoritasan dengan lebih bersemangat lagi memberi manfaat untuk Ummat dan bangsa.

Marikar Hussain Lebbe Effendi adalah tokoh yang aktif mengelola masjid Jami Akbar Colombo yang terletak di Moor Street. Pada tahun 1874, pemerintah kota Colombo menutup lahan pekuburan Muslim yang terletak di samping masjid tersebut; alasan utamanya adalah aspek kesehatan. Hussain Lebbe kemudian membeli lahan baru untuk pekuburan bagi kaum Muslimin di wilayah lain dari kota Colombo. Upaya beliau ini mendapatkan simpati serta dukungan dari para Mathicam; keluarga Muslim yang berada.

💡 *Lesson #3*  memenuhi kebutuhan dasar Ummat adalah jihad yang bernilai tinggi.

Sebuah prasasti dibuat di pekuburan baru Maligawatte tersebut untuk menghargai jasa Hussain Lebbe. Bahkan kisah beliau diliput oleh wartawan asing, John Capper, pada tahun 1877 untuk majalah Old Ceylon.

💡 *Lesson #4* menghargai peran dan jasa kebaikan generasi terdahulu adalah kebiasaan Kaum Muslimin.

Pada tahun 1505 hanya terdapat 2 masjid di kota Colombo. Namun memasuki tahun 1824 telah berdiri 17 masjid di kota tersebut. Hussein Lebbe diangkat menjadi konsul kehormatan untuk kekhilafahan Turki Utsmani di Colombo. Anaknya yang bernama Abdul Majeed kemudian meneruskan jabatan tersebut setelah ayahnya wafat.

💡 *Lesson #5* kebaikan harus diestafetkan.

Sebagai konsul kehormatan yang baru, Abdul Majeed turut menyelenggarakan acara syukuran Kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1900. Ia juga bertanggung-jawab mendirikan Hameedia School dan toko Muslim serba ada Ibrahim bin Ahmed. Toko halal tersebut masih berdiri hingga sekarang di Main Street, Colombo.

Beliau kemudian digantikan oleh Mr. Muhammad Macan Markar sebagai Vice Consul untuk Republik Turki, reportase MJK.

❔ *Lantas apa rintisan kebaikan yang sudah kita mulai?*

Depok, 29 Agustus 2016

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MASTURBASI -> MANDI WAJIB?

Ustadz Menjawab
Kamis, 06 Oktober 2016
Ustadzah Novria Flaherti, S.si

🌿🌺🍄 MASTURBASI -> MANDI WAJIB?

Assalamu alaikum ustadz/ah..
mau nanya apakah orang yang melakukan masturbasi itu harus melakukan mandi wajib? #A 40

JAWABAN
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Mengeluarkan lendir di vagina dengan menggunakan jari sehingga merasakan kenikmatan dinamakan juga dengan “onani/masturbasi/istimna”.

Para ulama fiqih berbeda pendapat dalam menetapkan hukumnya. Jumhur ulama mengharamkannya, di antaranya adalah pengikut mazhab Maliki, Syafi’i, dan Zaid . Mereka berpegangan pada firman Allah swt dalam surat Al-Mukminin ayat 5-7 :

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”  

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Syurutu Qabulisy Syahadatain

📆 Rabu, 04 Muharam 1437 H/ 05 Oktober 2016

📗 Aqidah

📝 Ustadzah Novria Flaherti, S.si.

📖 Syurutu Qabulisy Syahadatain
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Adik-adik MFT Syahadat yang kita ucapkan merupakan azaz/landasan dari rukun Islam. Dengan syahadat yg kita ucapkan maka kita menjadi muslim.. Agar diterimaNya syahadat yang kita ucapkan, ada syaratnya.. Beberapa syarat antara lain… ( lanjutan dari 1. Ilmu yang menolak kebodohan dan 2. Keyakinan yang menolak keraguan)

3⃣Keikhlasan dan bebas dari kemusyrikan

Syahadatain harus diucapkan dengan ikhlas karena Allah dan tidak ada niat lain selain mengharap ridhaNya. Niat yang tidak ikhlas termasuk syirik, padahal Allah tidak mengampuni dosa kemusyrikan.

Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Bayyinah ayat :5

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ    ۙ  حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ  
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Dan dalam surat Ak-Kahfi Ayat: 110, Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ  ۚ  فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْالِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

4⃣ Jujur bukan Dusta

Syahadat harus diucapkan dengan sejujurnya, bukan dengan dusta. Kemunafikan merupakan perbuatan yang sangat tercela sehingga Allah menyiksa orang-orang munafik diatas neraka.

Allah berfirman dalamAl-Quran surat Al- Baqorah ayat: 8-9
وَمِنَ النَّاسِ  مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
“Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: Ayat 8)
يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  ۚ  وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ  وَمَا يَشْعُرُوْنَ
“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”
(QS. Al-Baqarah: Ayat 9)

Dan Quran Surat Al-Ahzab ayat 23-24, Allah SWT berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ  فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ   ۖ   وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),”
(QS. Al-Ahzab: Ayat 23)

لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَآءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا  
“agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ahzab: Ayat 24)

5⃣ Cinta yang menolak kebencian

Syahadatain harus disertai dengan kecintaan bukan dengan kebencian ataupun pura2 cinta. Hal ini akan dapat dicapai bila proses syahadatain dilakukan melalui syarat-syarat diatas.

Firman Allah dalam QS Al-Baqorah ayat :165

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ  ؕ  وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ  ؕ  وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ ۙ   اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ  وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Dan QS Al-Anfal ayat: 2
Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,”
(QS. Al-Anfal: Ayat 2)

6⃣ Menerima yang jauh dari penolakan

Tidak ada alasan untuk menolak syahadatain dan konsekuensinya karena ia hanya akan mendatangkan
Kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ  حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ  حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’: Ayat 65)

7⃣ Pelaksanaan yang jauh dari sikap statis atau diam

Para ulama menyebut bahwa iman harus meliputi keyakinan di hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan angota badan.

Dalam QS An-Nur ayat 51 dan 46, Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ  بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا  ؕ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nur: Ayat 51)

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَ اٰ تُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْـعُوا الرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.”
(QS. An-Nur: Ayat 56)

Dan dalam QS Luqman, Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗۤ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ  بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى  ؕ  وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ
“Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”
(QS. Luqman: Ayat 22)

Jika syarat-syarat diterimanya syahadat telah terpenuhi, maka akan terdapat pada diri seorang muslim itu kerelaan untuk diatur oleh Allah SWT, Rasulullah dan Islam dalam kehidupannya sehari-hari tanpa adanya keberatan karna rasa cintanya akan Rabbnya dan Rasulnya.

Semoga kita selalu istiqamah berada di jalan ini, jalan kebenaran hingga sampai ke garis finish, syurgaNya kelak… aamiin.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis