Ganjaran Orang Yang Berkhianat

Jumat, 13 Muharram 1438H / 14 Oktober 2016

MUAMALAH

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Ganjaran Orang Yang Berkhianat

A. Hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Semua pengkhianat akan diberi tanda bendera pengkhianatannya pada hari kiamat sebagai tanda pengenalnya.” (HR. Bukhari)

B. Hikmah Hadits :

1. Khianat merupakan salah satu sifat paling buruk dan paling tercela dalam pandangan Islam, serta merupakan ciri paling mendasar orang munafik.

Sedangkan orang munafik kelak akan ditempatkan Allah Swt di dalam kerak dasar paling dalam di neraka Jahanam, na’udzubillahi min dzalik.

2. Demikian buruknya dan dibencinya sifat khianat ini, hingga Allah Swt memberikan tanda khusus di hari kiamat bagi orang-orang yang khianat, yaitu bendera khusus sebagai tanda pengkhianatan yang pernah dilakukannya di dunia.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan, dari Abu Sa’id ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, ‘Di hari Kiamat kelak, setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dikibarkannya tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatannya.” (HR. Muslim)

3. Khianat bermacam-macam bentuk dan jenisnya, diantaranya adalah khianat dalam kapasitasnya sebagai hamba, sebagai suami, istri, orang tua, pekerja, pejabat, wakil rakyat, bendahara, guru, dosen, pedagang, pengusaha, dsb.

Oleh karenanya kita harus berusaha menjaga dan menunaikan amanah sebaik-baiknya, menghindarkan diri dari sifat khianat sejauh-jauhnya.

4. Bentuk khianat yang paling berat dan paling keji adalah khianat kepada Islam dan kaum muslimin.

Seperti meyakini kebenaran agama lain selain Islam, bekerja sama dengan musuh-musuh Allah Swt khususnya dalam hal-hal yang dapat merugikan kepentingan umat, menegatifkan citra Islam dan kaum muslimin, memilih atau mempropaganda umat untuk memilih non muslim sebagai pemimpin, dsb.

 Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27).

Semoga Allah Swt hindarkan kita semua dari sifat khianat ini, dan kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang amanah…

Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

MENOLAK PEMIMPIN ZHALIM

Ustadz Menjawab
Jum’at, 14 Oktober 2016
Ustadz Wido Supraha

MENOLAK PEMIMPIN ZHALIM

“Kafir itu zolim, mari tolak pemimpin zolim.”
Tapi mengapa partai Islam yg harusnya sangat paham tentang ini malah mengusung calon pemimpin dr non-Islam?? Mohon penjelasanya Ustadz.

Jawab :

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Pertanyaan Anda dapat ditanyakan langsung kepada Dewan Syariah dari Struktur Kepengurusan Partai Islam setempat, karena mereka yang lebih memahami sekaligus bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil

Secara umum, setiap keputusan fiqh membutuhkan pemahaman yang utuh terhadap situasi dan kondisi medan peperangan politik yang dihadapi. Keputusah fiqh juga diawali dengan komunikasi dan upaya sinergi sehingga lahir komitmen untuk kebaikan dakwah Islam secara umum di masa jangka panjang.

Berdasarkan seluruh informasi yang didapat, umumnya ahli syari’ah akan menggunakan Ushul Fiqh sebagai metodologi istinbath hukum, dan menimbang-nimbang antara ragam timbangan yang ada, sehingga kemudian memutuskan pilihan yang dianggap terbaik bagi dakwah Islam di wilayahnya setempat.

Saya cukupkan pada jawaban normatif dan umum terhadap pertanyaan ini, dikarenakan ini menyangkut keputusan syar’i yang tentunya pembuat keputusan lebih memahami konteks dan latar belakang keputusannya. Berprasangka baik kepada para ahli syari’at kita dahulukan dalam hal ini. Wallahul musta’an.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Perbedaan Penanggalan

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Novria
Kamis, 13 Oktober 2016
=====================

السلام عليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ana mau bertanya nihh, kan diindonesia nih adaa sperti kelompok islam contohx muhammadiyah, sy mau tanya, biasanya klo muhammadiyah itu idul fitrinya biasaa lebih awal daripda wktu yg ditentukan pmerintah, tapi kan dalam alqur’an ada dijelaskan bahwa patuhi lah pemerintahmu, lantas, bgaimna pndangan kakak😊

MFT ikhwan 02
=============
Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Perbedaan itu terjadi karena acuan dalam menafsirkan metode penentuan awal bulan, yaitu ru’yah dan hisab.

1⃣ Ru’yah adalah kegiatan untuk melihat hilal (penampakan bulan sabit) di ufuk langit sebelah barat sesaat setelah matahari terbenam untuk menentukan permulaan bulan baru. Dalam konteks ini, hilal menempati posisi sentral sebagai penentu bulan baru dalam kalender Hijriah.

Hal ini sebagaimana firman Allah:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia… (QS. Al Baqarah: 189)

Hilal itu sendiri hanya dapat terlihat setelah proses ijtima’, yaitu proses ketika bulan berada satu kedudukan dalam satu garis dengan  matahari dan bumi. Ketika ijtima’ terjadi, bulan berada di antara bumi dan matahari. Pada saat bulan bergeser dan sebagian permukaannya menerima cahaya matahari yang terlihat berbentuk seperti lengkuk cahaya yang sangat halus, itulah yang dinamakan hilal.

Ru’yah sendiri terdapat perbedaan dalam penentuan irtifa’ (ketinggian) bulan. Satu kelompok berpendapat bahwa hilal dapat dilihat bila irtifa’ nya minimal 2 derajat. Kelompok lainnya menyatakan irtifa’ itu tidak boleh kurang dari 6 derajat. Berdasarkan metode ini, masing-masing kelompok berijtihad dalam penentuan tanggal 1 Syawal.

Berdarkan hadits Rasulullah:
Berpuasalah kamu sekalian karena melihat bulan (awal Ramadhan). Dan berbukalah kamu sekalian karena melihat bulan (Idul Fitri). Bila hilal tertutup awan di atasmu, maka genapkanlah ia menjadi tiga puluh hari. (HR. Muslim)

2⃣ Hisab merupakan proses penetapan awal bulan dengan menggunakan metode ilmu hitung menghitung.

Berdasarkan Firman Allah:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). {QS. Yunus: 5}

Hisab ini mulai berkembang sejak masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-8 M). Sedangkan Ru’yah dapat dipahami melalui prediksi/perkiraan posisi bulan dalam ilmu hisab. Awal dan akhir bulan tidak ditentukan oleh irtifa’ (ketinggian) hilal. Jika menurut ilmu hisab hilal telah tampak, berapa pun ketinggiannya maka hitungan bulan baru sudah masuk.

Demikianlah penjelasan mengapa terjadi perbedaan-perbedaan dalam penetapan bulan baru Hijriah di kalangan umat Islam. Namun kedua hal tersebut memiliki pijakan yang kuat berdasarkan Al Quran dan Hadits. Pilihlah menurut keyakinan berdasarkan nalar dan pengetahuan.

Al-Ustadz Hasan Al-Banna Rahimahullah menjelaskan -setelah Beliau menerangkan sebab-sebab perselisihan fiqih di antara umat Islam:

“Bahwa sebab-sebab itu membuat kita berkeyakinan bahwa upaya penyatuan dalam masalah furu’ adalah pekerjaan mustahil, bahkan bertentangan dengan tabiat agama ini. Allah menghendaki agar agama ini tetap terjaga dan abadi, dan dapat mengiringi kemajuan zaman. Untuk itu agama ini harus muncul dalam warna yang mudah, fleksibel dan lentur, tidak jumud atau keras.” (Majmu’ah Ar Rasa-il, hal. 26)
Dalam Risalah Al-Khamis beliau juga berkata:

“Bahwa perselisihan dalam masalah furu’  merupakan masalah yang mesti terjadi. Hal itu karena dasar-dasar Islam dibangun dari ayat-ayat, hadits-hadits dan amal, yang kadang dipahami beragam oleh banyak pikiran. Karena itu, maka perbedaan pendapat pun tetap terjadi pada masa sahabat dulu. Kini masih terjadi dan akan terus terjadi sampai hari kiamat. Alangkah bijaknya Imam Malik ketika berkata kepada Abu Ja’far, tatkala Ia ingin memaksa semua orang berpegang pada Al-Muwatha’ (himpunan hadits karya Imam Malik), “Ingatlah bahwa para sahabat Rasulullah telah berpencar-pencar di beberapa wilayah. Setiap kaum memiliki ahli ilmu. Maka apabila kamu memaksa mereka dengan satu pendapat, yang akan terjadi adalah fitnah sebagai akibatnya.”

Bukanlah aib dan cela manakala kita berbeda pendapat. Tetapi yang aib dan cela adalah sikap fanatik (ta’ashub) dengan satu pendapat saja dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Menyikapi khilafiyah seperti inilah yang akan menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu pemikiran. Cukuplah manusia itu terhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim adalah muslim, seperti yang dikatakan oleh Zaid radhiallahu ‘anhu. (Ibid, hal. 187)

InsyaAllah perbedaan penetapan idul fitri tidak apa-apa ya, tidak berdosa jika kita mengikuti salah satu ulama yang kita percayai. Yang paling penting bagaimana sikap kita saling menghormati dalam perbedaan tersebut selama tidak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah

والله اعلم بالصواب

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Sujud Syukur (bersambung)

Kamis, 13 Muharam 1438 H/ 14 Oktober  2016

Ibadah

Ustadzah Ida Faridah

Sujud Syukur (bersambung)
============================

Assalamu’alaikum adik-adik,,,,,

Apa kabar hari ini?

Tetap semangat dalam belajar ya

Kali ini, kita akan membahas tentang “Sujud Syukur”

Adik-adik, Sujud adalah meletakan dahi seluruh bagian telapak tangannya diatas tanah dan mengangkat kedua siku-sukunya diatas tanah dengan penuh ketundudukan dan kekhusyuan.

Sedangkan syukur dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam al-Qur’an meliputi makna ‘pujian atas kebaikan’, ‘ucapan terimakasih’, atau ‘menampakan nikmat Allah SWT kepermukaan’, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Didalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai ‘menggunakan anugrah ilaahi sesuai dengan tujuan penganugerahan’

Jadi sujud syukur adalah sujud terima kasih, yaitu sujud satu kali diwaktu mendapat keuntungan yang menyenangkan atau terhindar dari kesusahan yang besar.

Firman Allah

 وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرت أن عذابي الشديد

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim:7)

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. (Qs. al-Baqarah:152)

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Pendaftaran Member MANIS [Oktober 2016]

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

AlhamduliLLah, salam dan shalawat semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallaLLahu ‘alayhi wa sallam beserta seluruh keluarga dan shahabatnya.

Alhamdulillah kembali dibuka pendaftaran member grup WhatsApp Majelis Iman Islam (MANIS). Saya mengundang Anda Bergabung bersama 18.000 anggota dari berbagai penjuru dunia.

GRATIS…!!!

🔍 Sekilas tentang Grup WhatsApp MANIS (Majelis Iman Islam) 🔎

MAjelis imaN dan ISlam atau MANIS adalah salah satu media pembelajaran  agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp, Channel Telegram, Fans Page, Twitter, Instagram, application store android dan juga Website.

Grup ini diasuh dan dibimbing oleh beberpa Ustadz & Ustadzah:

💜Ust. Ahmad Sahal Hasan, Lc
💙Ust. Farid Nu’man Hasan SS
💛Ust. Abdullah Haidir, Lc
💙Ust. Syahroni Mardani, Lc
💗Ust. Agung Waspodo, SE, MPP
💜Ust. Dr. Wido Supraha
💚Ust. Noorahmat, M.Sc
💙Ust. Dr. Abbas Mansur Tamam
💜Ust. Rikza Maulana, Lc, MA
💚Ust. Dr. Syaiful Bahri, MA
💙Ust. Umar Hidayat. M. Ag
💛Ust. Drs. Muhammad Said, M. Hum
💚Ust. Hermawan, SAg.
💗Ust. Solikhin Abu Izzudin
💙Ust. Bendri Jaisyurahman
💙Ust. Imantoko Riyanto
💜Ustzh. Dr. Aan Rohanah, Lc. M.Ag
💛Ustzh. Wirianingsih, M.Si
❤Ustzh. Eko Yuliarti Siroj, S.Ag
💚Ustdzh. Rochma Yulika, S.Ag S.Pd
💖Ustdzh. Dra. Indra Asih
💜Ustdzh. Asri Widiarti

👥 Dan Asatidzah lainnya

Materi yang akan disampaikan di grup ini Insya Allah sbb :

📌 SIRAH DAN TARIKH
📌 AL QURAN DAN TAFSIR
📌 FIQIH DAN HADITS
📌 TAZKIYATUN NAFS
📌 DA’WAH DAN HARAKAH
📌 MOTIVASI ISLAMI
📌 TSAQAFAH ISLAMIYAH
📌 KELUARGA
📌 TARBIYATUL AULAD
📌 FIQIH MUAMALAT KONTEMPORER
📌 MUHASABAH
📌 Dan Materi Tematik lainnya

Dengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

📝 Pendaftaran*

1⃣ Langsung gabung ke channel Telegram :
Channel Majelis MANIS
Http://Bit.ly/22QK469

2⃣ Via pesan WhatsApp:

Ketik : Nama – L/P – Asal – No.WA
Contoh: Ahmad – L – Jkt – 0812123456

Kirim ke:
📲0857-5382-1044 / 0811-1088-707(Ikhwan)
📲0812-7516-0013 / 0838-9943-7415 (akhwat)

            P E R H A T I A N
➡ Lakukan pendaftaran melalui 1 nomor saja, dan TIDAK MELAYANI pendaftaran via SMS.

3⃣ Via Link: http://bit.ly/2dg5J0c

Semoga dengan bergabungnya kita di Grup Majelis Iman Islam ini dapat menambah ilmu dan semangat dalam beribadah dan berdakwah kepada ALLah Jalla wa ‘Ala.

Dan semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ALLAH kehendaki kebaikan dengan memahamkan kita kepada agama-Nya. Aamiin.

Selain di WA, MANIS bisa juga dinikmati di;
🍯Web : www.manis.id
🍯Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
🍯Twitter : https://twitter.com/grupmanis
🍯Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🍯Google Application Playstore Android  (Gratis) : http://bit.ly/2dU907K

BaarakaLLahu fiikum.

Andil dalam Menguasai Teknologi & Mengejar Ketertinggalan bagi Kemuliaan Ummah

Kamis, 12 Muharram 1438H / 13 Oktober 2016

*SIROH DAN TARIKH*

Pemateri: *Ustadz AGUNG WASPODO, SE MPP*

*Andil dalam Menguasai Teknologi & Mengejar Ketertinggalan bagi Kemuliaan Ummah*

*Wajib Kontribusi dalam Peradaban Islam Dalam Profesi Anda Masing-masing!*

Galangan Kapal di Kalas

Kapal perang fregat kelas 41-Zira bernama Bülheves yang dibangun oleh Mustafa Hoca pada tahun 1796-98 di galangan kapal Kalas, kekhilafahan Turki Utsmani, OIA.

Sayyid Mustafa Hoca belajar sebagai kalfa (asisten pelaksana) dibawah ahli kapal perang Le Brun berkebangsaan Perancis. Ia termasuk murid yang langka karena berhasil mendapatkan sertifikat khusus teknik geometri-kapal yang dikenal sebagai nisbet-i bendesiyye üzre sefain insasını tahsil dalam waktu singkat.

*Lesson #1* _jadilah yang terbaik pada masing-masing profesi kita serta padukan niat dan ‘amal bagi kejayaan Ummat Islam._

Pada masa Sultan Selim III (1789-1807), Molla Mustafa, begitu sapaan akrab beliau, mendapat tantangan yang sejak lama diimpikannya. Sultan mempercayakannya tugas untuk membangun kapal kelas firkateyn (fregat) sesuai standar kapal-perang-cepat kelas-5 menurut British Royal Navy. Salah satu karyanya adalah yg di gambar ini, bernama Bülheves. Sultan Selim III terkenal sebagai tokoh modernisasi angkatan laut kekhilafahan. Atas presetasi tersebut, beliau diangkat menjadi instruktur pada galangan kapal utama Mühendishane-i Berrı-i Humayün di İstanbul.

*Lesson #2* _berkaryalah dengan ikhlash maka penduduk-langit akan menjadi saksi berikut penduduk-bumi yang peduli urusan langit._

Pada masa Sultan Selim III tercatat 14 kapal kelas firkateyn berbagai ukuran yang diselesaikan dibawah pengawasan beliau. Ini adalah sebuah prestasi pada masa penuh keprihatinan.

*Lesson #3* _masa sulit adalah tantangan, berhasil pada masa itu akan terasa lebih manis._

Nama beliau masuk sebagai salah satu yang mendapat penghargaan tinggi kekhilafahan pada tahun 1803-04 sebagai Halife-i Sani atau master supervisor tingkat-dua. Karir beliau terus menanjak. Posisi tertinggi yang diamanahkan kepada beliau adalah Ser Mi’mar-ı Hassa atau arsitek utama kekhilafahan pada tahun 1813 menggantikan Nikoli Halife yang terbukti tidak kompeten pada jabatannya. Beliau mundur dari profesinya pada tanggal 15 November 1824 serta mendapatkan uang pensiun sebesar 250-Kuruş.

Agung Waspodo, sejenak bersama buku Tuncay Zorlu
Depok, 11 Oktober 2016

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Urgensi Sirah Nabawiyah

Selasa, 10 Muharam1438H/ 11 Oktober 2016

Siirah

Dr. Wido Supraha

Urgensi Sirah Nabawiyah
=========================

Dear Para Pemuda Islam,

1. Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup teladan utama kita semua, Nabi Muhammad Saw., manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi namun bukanlah buku sejarah an sich. Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya

2. Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

3. Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia. Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw.

4. Sirah Nabawiyah memberikan kemudahan bagi manusia untuk:
 Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek kehidupannya
Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber hukum
Mudah memahami Al-Qur’an
Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar
Memiliki rujukan pola dakwah terbaik

5. Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya.

6. Sirah Nabawiyah memiliki banyak keistimewaan

7. Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.

8. Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman
Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul
Mencakup semua aspek kehidupan manusia
Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya

Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk kamu-kamu dalam peningkatan pemahaman agama Islam. Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!
=================

Maraji’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat

Rabu, 04 Muharam 1437 H/ 05 Oktober 2016

Aqidah

Ustadzah Prima Eyza

Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat

============================

Assalaamu ‘alaikum wrwb..

Apa kabar, adik-adik…??  Kita bertemu kembali dalam seri materi Aqidah yang kali ini mengangkat tema tentang “Syarat-Syarat Diterimanya Syahadatain”.

Syahadatain, yakni ucapan dua kalimat syahadat, bukanlah sekedar perkataan ringan yang hanya mewakili kebiasaan, rutinitas, atau sebatas slogan-slogan keIslaman kita. Melainkan rangkaian dua kalimat tersebut adalah ikrar, janji, dan sekaligus sumpah kita bahwa tidak ada Ilaah yang dituhankan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah benar utusan-Nya. Maka, para ulama merangkum dalil-dalil dan penjelasan tentang konsekuensi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi agar syahadat tersebut diterima sebagai syahadat yang benar di sisi Allah.

Hasan al Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi’in, pernah bertanya kepada seseorang, “Apa yang engkau persiapkan untuk kematian?”  Orang itu mengatakan, “Persaksian (syahadat) Laa Ilaaha illallaah.”  Hasan al Bashri mengatakan,”Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi).”  (Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).

Dalam atsar yang lain juga disebutkan:

قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, “Bukankah Laa Ilaaha illallaah itu merupakan kunci surga?”  Wahab menjawab, “Benar. Tetapi tidak dinamakan kunci kalau tidak mempunyai gerigi. Jadi, jika kamu datang dengan membawa kunci bergerigi tentu kamu akan dibukakan, dan jika tidak demikian, pasti tidak dibukakan untukmu.” (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Wahab bin Munabbih adalah juga salah seorang ulama tabi’in. Beliau murid dari beberapa orang sahabat Nabi saw, diantaranya Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, Nu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahab bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang dari 4 hadits.

Kandungan makna dari apa yang dikatakan oleh Wahab bin Munabbih di atas adalah bahwa tidak cukup bagi seseorang hanya sekedar mengucapkan syahadat sebatas lafaz-lafaz di lisan saja. Melainkan lebih jauh dari itu, ia haruslah menjalankan konsekuensi atau syarat-syarat dari ucapan syahadat tersebut. Konsekuensi/syarat dari ucapan syahadat adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Adalah benar bahwa syahadat Laa Ilaaha illallaah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang harus dilaksanakan setelah mengucapkan syahadat tersebut adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu bisa terbuka atau tidak oleh kuncinya.

Jadi, syahadat yang memenuhi syarat itu bagaikan kunci yang bergerigi. Apabila salah satu gerigi kunci patah, maka kunci tersebut tentu tidak bisa digunakan. Maka, syahadat yang dikatakan sebagai kunci surga tentu tidak akan berfungsi sebagai pembuka pintu surga jika salah satu konsekuensi/syarat-syarat syahadat tersebut tidak terpenuhi. Sehingga, syarat-syarat syahadat itu tidak bisa tidak, harus terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak atau tidak sempurna.

SYARAT PERTAMA:

الْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ

1⃣ ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN

Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya. Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui dan memahami makna/kandungannya, maka syahadatnya tidak diterima.

Allah berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”  (QS Ali ‘Imran [3] : 18)

Dalam ayat diatas sangat jelas bahwa subjek yang diakui syahadat (persaksian)-Nya hanyalah tiga pihak, yakni: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu. Bermakna pula bahwa syahadat orang-orang yang berilmu bahkan disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan para malaikat.
Disebutkannya syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat dalam ayat tersebut juga merupakan pujian dari Allah, bahwa syahadat orang-orang yang berilmu adalah syahadat yang:
kokoh dan benar.
Paling kuat ikatannya kepada Allah (sebagaimana para malaikat).

Dalam Al Quran, Allah juga memerintahkan agar kita memiliki ilmu (memahami) لاإله إلا الله (yakni ucapan syahadat tauhid kita). Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا الله …

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah …”  (QS Muhammad [47] : 19)

Kata  فَاعْلَمْ  yang maknanya: ketahuilah/fahamilah/ilmuilah, dalam ayat tersebut disampaikan dalam bentuk perintah. Hukum asal dari setiap bentuk perintah dalam Al Quran adalah WAJIB. Sehingga ayat tersebut dengan jelas-jelas memahamkan kepada kita bahwa Allah memerintahkan untuk wajib mempelajari/memahami  لَا إِلَهَ إِلا الله , yakni syahadat kita. Sekali lagi, perintahnya adalah : mengilmui/mempelajari hingga faham.
Untuk apa? Agar syahadat tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi keimanan kita. Syahadat yang hanya sekedar ikut-ikutan saja, tidak difahami dan diilmui, maka tidak akan menghasilkan keimanan yang kokoh dan teguh. Ingatlah bahwa keimanan itu akan senantiasa diuji (QS Al Ankabuut [29] : 2-3)
→ Bagi yang punya ilmu (faham), akan mantap dalam menjalani ujian.
→ Bagi yang hanya ikut-ikutan, tentu akan mudah goyah dan jatuh.

Dalam salah satu haditsnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mati sedangkan dia mengetahui (memahami/memiliki ilmu) لا إله إلا الله  maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Maka, mati dengan mengilmui/memahami syahadat adalah bagian dari ajaran Nabi saw.

Disamping itu, tentulah kita faham tentang kaitan erat antara ilmu dan komitmen. Yakni bahwa pengetahuan/ilmu itu akan melahirkan keyakinan yang mantap. Keyakinan yang mantap akan melahirkan kesetiaan. Kesetiaan akan melahirkan komitmen. Demikianlah orang-orang yang mengilmui dan faham akan syahadatnya. Ia akan yakin, setia, dan komitmen melaksanakan segala konsekuensi dari syahadatnya.
Tepatlah nasehat Imam Bukhari :

 الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu itu sebelum berucap
dan berbuat (beramal).”  (Dalam Shahih al-Bukhari, kitab “al-‘Ilmu”,
bab “al-‘Ilmu Qobla al-Qoul wa al-‘Amal”)

Diriwayatkan pula bahwa pernah terjadi sebuah dialog antara Rasulullah saw dan pemuka-pemuka Quraisy,

فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّ قَوْمَكَ يَشْكُونَكَ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ تَشْتُمُ آلِهَتَهُمْ وَتَقُولُ وَتَقُولُ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ
فَقَالَ يَا عَمِّ إِنِّي إِنَّمَا أُرِيدُهُمْ عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ تَدِينُ لَهُمْ بِهَا الْعَرَبُ وَتُؤَدِّي إِلَيْهِمْ بِهَا الْعَجَمُ الْجِزْيَةَ
قَالُوا وَمَا هِيَ نَعَمْ وَأَبِيكَ عَشْرًا
قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
قَالَ فَقَامُوا وَهُمْ يَنْفُضُونَ ثِيَابَهُمْ وَهُمْ يَقُولُونَ { أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ }.

“Musyrikin Quraisy tengah mengadukan Rasul saw —yang menda’wahkan Islam— kepada Abu Thalib. Rasul saw datang dan hendak duduk di sebelah paman beliau tetapi Abu Jahal benci sehingga tidak ada lagi tempat duduk kecuali di dekat pintu.
Abu Thalib berkata kepada Rasul saw,“Wahai anak saudaraku, kaummu mengadukanmu dan menuduhmu bahwa kamu telah menghina tuhan-tuhan mereka dan kamu berkata ini-itu serta berbuat ini-itu.”
Rasul saw menjawab,“Wahai Pamanku, sesungguhnya aku hanyalah menginginkan dari mereka SATU KALIMAT. Dengan kalimat itu ditundukkan bagi mereka bangsa Arab, dan disampaikan kepada mereka jizyah dari bangsa Non-Arab.”
Musyrikin Quraisy lalu berkata,”Ya, demi bapakmu, sepuluh (kalimat pun kami mau)!”
Rasul saw berkata,”(Ucapkanlah) لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.”
Rasulullah saw lalu bersabda,”Mereka langsung berdiri sambil mengibaskan pakaian mereka dan berkata, ‘Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ (QS Shaad [38] : 5)
Kemudian Rasulullah saw membacakan hingga ayat 8.”
(HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad, bab Bidayah Musnad Abdullah bin Abbas, Juz 7, hlm. 277)

Nah, lihatlah orang-orang kafir dan musyrik itu, mereka tidak mau mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  karena mereka tahu arti dan maknanya (sebab mereka berbahasa Arab), bahwa tidak ada yang boleh dituhankan melainkan hanya Allah saja satu-satunya. Sementara mereka menyembah ratusan berhala, mereka percaya ramalan, mereka meyakini dukun dan tukang tenung, dan lain-lain prilaku jahiliyah yang bermuatan syirik (mempersekutukan Allah).
Maka kita, yang betul beriman, betul berTuhan hanya kepada Allah saja dan terus-menerus mengucapkan syahadat, tentulah harus memahami dan meyakini kebenaran mutlak makna yang terkandung di dalam syahadat tersebut.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk memperbaharui/menyegarkan iman dengan mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.
Rasulullah saw bersabda:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Perbaharuilah iman kalian.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami memperbaharui iman kami?” Bersabda Rasulullah saw, “Perbanyaklah mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.”  (HR. Ahmad)

Tentu syahadat yang dimaksudkan dapat memperbaharui keimanan adalah syahadat yang difahami. Karena syahadat yang difahami, semakin diucapkan akan semakin diyakini dan semakin kuat komitmen kepada syahadat tersebut. Banyak mengucapkan syahadat tanpa memahami maknanya, tentu tidak juga akan bisa menghayati dan menepatinya, sehingga tidak berpengaruh apa-apa untuk memperbaharui keimanan.

SYARAT KEDUA:

اَلْيَقِيْنُ اَلْمُنَافِيْ لِلشَّكِّ

KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN

Wallaahu a’lam bishshowab…

– Bersambung –

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Grup Silaturahim Manis Ikhwan

Group Silaturahim Wilayah
adalah group khusus chat, diskusi, dll.. sebagai salah satu sarana mengaplikasikan materi-materi yang sudah didapat di group Manis.
Dibuat per-area bertujuan agar semua anggota MANIS juga dapat saling bersilaturahim darat (kopdar) dalam bentuk kajian offline, atau kegiatan bermanfaat lain di wilayahnya masing-masing.

Yang belum bergabung silahkan daftar sesuai format berikut :
JOIN – SILATURAHIMANIS – (AREA) – (NAMA) – L/P – (NO.WA)

Contoh :
JOIN – SILATURAHIMANIS – BANDUNG,JAWA BARAT – ABDULLAH – L – +6288812345678

#Kirim Melalui WA ke nomor Berikut (Sesuai domisilinya masing-masing)

Sumatra
Nanang +6285228694678,
Rizal+6285263111115,
Pak Uwo +6285356958595
============
DKI Jakarta
Abu Fatih +62 813-8980-0493
============
Banten+Bekasi+Cikarang
Munir +6281524050766,
Benny +628118383691
============
Jawa Barat
Wilman +6282217404357
============
Depok
Awah 085710510107 ,
Ridwan 08888764265
============
Jawa Tengah & Jogja
Mismanto +6285878400096 , +62 896-9366-3203
============
Jawa Timur
Abu Bakar : +6285257779001
============
Bali, Lombok, NTB & NTT & Kalimantan
Shofwan ; +628159016655
============
Sulawesi, Maluku & Irian Jaya
Abi Tholib +62 85255127598,
============
Luar Negeri
Harun +97455564094

ANJING SEBAGAI HEWAN PEMBURU

Ustadz Menjawab
Rabu, 12 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

ANJING SEBAGAI HEWAN PEMBURU

Assalamu’alaikum pak ustadz…
Bisa dijelaskan QS. Al Ma’idah: 4..?
Bagaimana jika hewan pemburu itu adalah anjing (dan kebanyakan hewan pemburu adalah anjing), apakah halal dimakan…?
Mohon penjelasannya ustadz…
syukron katsiran

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Di antara hewan untuk berburu memang anjing, hal ini tertera dalam banyak hadits. Tentunya hasil buruannya halal dimakan jika memenuhi syarat.

Berikut ini contohnya:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ أَوْ غَنَمٍ أَوْ صَيْدٍ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

  “Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing penjaga tanaman, atau penjaga ternak, *atau anjing pemburu,* maka berkuranglah pahalanya setiap harinya satu qirath.”   (HR. Muslim No. 1574, 56)

  Dalam riwayat Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, disebutkan berkurang pahalanya dua qirath.

 مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

  Barang siapa yang memelihara seekor anjing bukan untuk menjaga ternak  *atau bukan untuk dilatih berburu,* maka berkuarang dari pahalanya setiap hari sebanyak dua qirath.  (HR. Bukhari No. 5480)

Tentang ukuran satu qirath, hanya Allah Ta’ala yang tahu sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahumallah.

Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam:
ثُمَّ رَخَّصَ فِي كَلْبِ الصَّيْدِ وَكَلْبِ الْغَنَمِ

“Kemudian beliau memberi  keringanan terhadap ANJING PEMBURU dan anjing penjaga kambing”.   (HR. Muslim No. 1573, 48)

Secara umum anjing dimakruhkan ada dipekarangan seorang  muslim, kecuali pemburu/pelacak, penjaga kebun dan ternak.

ada tiga jenis anjing yang dibolehkan.

  Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:

والكلب هنا هو الحيوان المعروف وظاهر الحديث أنه يشمل الكلب الذي يباح اقتنائه وغيره والكلاب التي يباح اقتنائها ثلاثة أنواع .
1- كلب الحرث يعني يكون للإنسان بستانا ويجعل فيه كلبا يحرث البستان عن الذئاب والثعالب وغيرها .
2- كلب الماشية يكون عند الإنسان ماشية في البر يحتاج إلى حمايتها وحفظها يتخذ كلبا ليحميها من الذئاب والسباع ومن السراق ونحوهم لأن بعض الكلاب معلم إذا أتي شخص أجنبي نبح حتى ينتبه صاحبه له
3- كلب الصيد يتخذ الإنسان كلبا يعلمه الصيد ويصيد به

“Anjing dalam konteks hadits ini adalah hewan yang telah dikenal, secara zahirnya hadits ini mencakup anjing yang dibolehkan untuk disimpan (dipelihara) dan lainnya.”

Anjing yang diperbolehkan untuk dipelihara ada tiga jenis:

Pertama -> Kalbul Hartsi (Anjing Ladang),  yaitu   manusia menempatkannya di kebun, dan menjadikannya sebagai penjaga dari anjing hutan, serigala, dan lainnya.

Kedua -> Kalbul Maasyiyah (Anjing penjaga peternakan),  yaitu manusia memiliki hewan ternak yang hidupnya di darat, mereka membutuhkan perlindungan dan penjagaan, maka dijadikanlah anjing untuk menjaga hewan ternaknya dari ganggunan anjing hutan, serigala, pencuri, dan semisalnya. Sebab sebagian anjing telah diajarkan jika datang seorang asing, maka dia akan menggonggong  sehingga pemiliknya terjaga.

Ketiga -> Kalbul Shayd (Anjing Pemburu), manusia memanfaatkannya untuk diajarkan berburu dan berburu dengannya.
(Asy Syarh Al Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram,2/8. Mawqi’ Al Islam)

Bagaimana Syaratnya?

Tentu hewan yang diburu adalah hewan yang halal dimakan. Lalu, cara berburunya sesuai syariat yaitu dengan membaca bismillah saat melepasnya berburu.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan Sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.
(QS. Al Maidah: 4)

Tidak usah khawatir dengan bagian tubuh hasil buruan yang tercabik oleh taringnya, cukup bersihkan saja, atau potong dan buang bagian itu.
Jika liurnya najis (sbgmn pendapat Hanafi, Syafi’i, dan Hambali), dia bisa dibersihkan dengan cara yang nabi ajarkan, atau buang saja seperti yang saya sampaikan.

Hal ini serupa dgn daging babat, tentu tahu kan soto babat? Babat merupakan tempatnya kotoran, tapi dibersihkan sebersih-bersihnya dan bisa dimakan.

Wallahu a’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c