Perempuan Lebih Baik Shalat di Masjid Atau Rumah?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Ida Faridah
19 Oktober 2016
=====================

Kak.. nanya dong kak.. Perempuan itu sebenernya lebih baik shalat di Masjid atau di rumah? Bagaimana jika udah menikah, apa ada perbedaan?
#MFT A05

Jawaban :
—————-

Dari ibnu Umar r.a., dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Apabila istri-istrimu meminta izin kepadamu pergi kemasjid malam hari, izinkanlah.”

Dalam riwayat lain:
“Janganlah kamu halangi istri-istrimu untuk pergi kemasjid, meski rumah mereka lebih baik bagi mereka.”

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda: “jangalah kamu halangi hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid Allah, dan hendaklah mereka pergi tanpa minyak wangi.”

Arti hadist diatas menurut Asy-Syaukani, dimana “tafilat” diartikan tidak memakai minyak wangi. Sedang artinya yang asli ialah wanita yang bau badannya tak sedap lagi. Dan demikian pula menurut ibnu Abdir dan yang lain, dengan hadist itu kaum wanita diperintahkan pergi kemasjid dan dilarang memakai minyak wangi.

Kemudian tambahnya pula, seperti halnya minyak wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang lain yang wangi, dilarang pula menggunakan barang-barang yang seperti dengannya, yakni larangan-larangan agama yang bisa membangkitkan syahwat, seperti pakaian mewah, perhiasan yang menyolok dan rias yang menggiurkan.

Sedangkan menurut pendapat ulama adalah :

Menurut madzhab Maliki perempuan shalat dirumah lebih utama dari pada shalat di Masjid.

Menurut madzhab Hambali shalat berjama’ah itu sunnah dilaksanakan bagi wanita.

Menurut madzhab Syafi’i, bagi wanita berjama’ah dirumah lebih utama daripada di Masjid. Sedang shalat jama’ah itu sendiri bagi mereka hukumnya sunnah mu’akad.

Sedangkan menurut pendapat madzhab Hanafi, shalat jama’ah itu tidak disyari’atkan atas kaum wanita, bahkan jama’ah wanita yang diimami oleh seorang wanita hukumnya makruh tahrim, sekalipun sah shalat mereka dan keimamannya.

والله اعلم باالصواب

Perbuatan dan Keyakinan yang Membuat Pelakunya menjadi Kafir dari Islam

Rabu, 18 Muharam 1438 H/19 Oktober 2016

Aqidah

Ustadz Farid Nu’man Hasan

============================

Berikut ini tertera dalam kitab Minhajul Muslim, karya Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi Rahimahullah:

1. Siapa pun yang memaki Allah ﷻ, atau seorang Rasul dari rasul-rasul-Nya, atau malaikat-malaikat-Nya ‘Alaihimussalam, maka dia kafir.

2. Siapa pun yang mengingkari rububiyah Allah ﷻ, atau risalahnya seorang Rasul, atau menyangka bahwa adanya seorang nabi setelah penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad ﷺ, maka dia kafir.

3. Siapa pun yang mengingkari sebuah kewajiban diantara kewajiban-kewajiban syariat yang telah disepakati, seperti shalat atau zakat atau shaum atau haji atau berbakti kepada kedua orang tua atau jihad misalnya, maka dia kafir.

4. Siapa pun yang membolehkan hal-hal yang telah disepakati keharamannya, dan termasuk perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama, seperti zina, atau meminum khamr, atau mencuri, atau membunuh, atau sihir misalnya, maka dia kafir.

5. Siapa pun yang mengingkari satu surat saja dalam Al-Qur’an, atau satu ayat, atau satu huruf saja, maka dia kafir.

6. Siapa pun yang mengingkari satu sifat saja di antara sifat-sifat Allah ﷻ, seperti Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengasih, maka dia kafir.

7. Siapa pun yang terang-terangan meremehkan ajaran agama baik pada kewajibannya, atau sunah-sunahnya, atau mengejeknya, atau melecehkannya, atau melempar mushaf ke tempat kotor, atau menginjaknya dengan kaki, menghina dan melecehkannya, maka dia kafir.

8. Siapa pun yang meyakini tidak ada hari kebangkitan, tidak ada siksaan, dan tidak ada kenikmatan pada hari kiamat nanti, atau menganggap azab dan nikmat itu hanyalah bermakna maknawi (tidak sebenarnya), maka dia kafir.

9. Siapa pun yang menyangka bahwa para wali lebih utama dibanding para nabi, atau menyangka bahwa ibadah telah gugur bagi para wali, maka dia telah kafir.

Semua hal ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) umumnya kaum muslimin, setelah firman Allah Ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. At-Taubah: 65-66)

Maka, ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang yang terang-terangan mengolok-olok Allah, atau sifat-sifat-Nya, atau syariat-Nya, atau Rasul-Nya, maka dia kafir.

(Selesai)

Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Hal. 378-379. Cet. 4. 1433H-2012M. Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam. Madinah

Manusia Berhati Burung

Rabu, 18 Muharram 1438H / 19 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Hadits:

“Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung.”  (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang ‘hati burung’ yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Di antara perkara yang sangat penting untuk kita pelihara dari hati adalah kelembutan dan kepekaannya terhadap perkara yang terjadi di sekeliling kita.

Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang. Namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif, ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu membuatnya tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya, manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun dan memeriksa kebutuhan sang bayi.

Boleh jadi ketika itu dia tidak berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi makanan yang dapat dimasaknya, maka tanpa mengindahkan posisinya sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang nenek.

Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta’ala.

Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang. Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan posisi lebih tinggi di dunia ini.

Seperti suami kepada isteri dan anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki.

Karena memiliki kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut –misalnya- akan sangat mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu pula halnya bagi pemimpin, pejabat atau orang kaya.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang beku, sungguh yang terjadi adalah pemandangan yang sangat miris dan sulit diterima akal.

Bagaimana dapat seorang suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di atas penderitaan rakyatnya, padahal mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa sedikitpun keinginan berbagi, padahal tidak akan ada orang kaya kalau tidak ada orang miskin.
Sungguh mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja, sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!

Makna Pemimpin Dalam Al Maidah 51

Ustadz Menjawab
Rabu, 19 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum..Ustad saya salah satu member WA Manis. Saya ingin menanyakan atau nitip pertanyaan yg masih terkait QS Al Mai’dah 51:
1. Kata “pemimpin” itu apakah berarti luas atau spesifik dalam hal politik saja?
2. Apakah “pemimpin” itu termasuk jg RT RW Lurah Camat sampai presiden kt tidak boleh yg non-muslim?
3. Sebagai pegawai (pns, swasta, bumn) apakah “pemimpin” itu termasuk jg supervisor, manager dan direktur tidak boleh yg non-muslim?
4. Saya sebelumnya pernah di pimpin manager non-muslim bagaimana hal ini? Apakah hal seperti ini boleh? (Alhamdulillah saat ini atasan muslim)

Terimakasih atas jawabannya

جَزَا كَ الله خَيْرًا كَثِيْرًا

Dari group manis I19

Jawaban
———-

Wa’Alaikumussalam wa rahmatullah ..
Bismillah wal hamdulillah ..
1.  Definisi Wali (jamaknya auliya’), sudah diterangkan para ulama, khususnya tentang surat Al Maidah ayat 51 tersebut.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله، ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك
  Allah Ta’ala melarang hamba-hambaNya yang beriman memberikan loyalitasnya kepada Yahudi dan Nasrani, mereka adalah musuh Islam dan umatnya, semoga Allah memerangi mereka, lalu Allah mengabarkan bahwa sebagian mereka menjadi penolong atas lainnya, lalu Allah mengancam orang yang melakukan hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/132)
  Imam An Naisaburi menjelaskan status orang beriman yang memilih mereka sebagai pemimpin:
الذين ظلموا أنفسهم بموالاة الكفرة فوضعوا الولاء في غير موضعه
Merekalah orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan memberikan kepemimpinan orang kafir, mereka meletakkan loyalitas bukan pada tempatnya. (Tafsir An Naisaburi, 3/174)
  Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari yang telah mengangkat salah satu Nashrani sebagai Kaatib (sekretaris) di propinsinya:
لا أكرمهم إذ أهانهم الله ، ولا أعزهم إذا أذلهم الله ، ولا أدنيهم إذ أبعدهم الله
Jangan hormati mereka saat Allah menghinakan mereka, jangan muliakan mereka saat Allah rendahkan mereka, dan jangan dekati mereka saat Allah menjauhkan mereka. (Ibid)

Demikian tegas sikap para ulama dalam hal ini. Ada pun secara bahasa, apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.  (Tafsir Ath Thabari, 9/319)

Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).  (Al Munawwir, Hal. 1582)

  Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman. Ada sebagian penulis yang mengatakan bahwa larangan itu hanyalah tentang larangan menjadikan mereka sebagai “teman dekat” bukan larangan sebagai pemimpin, .. ini merupakan syubhat pemikiran yang kacau. Seharusnya berpikir, jika mengangkat sebagai teman dekat saja tidak boleh apalagi jadi pemimpin?? Inilah qiyas aula, yakni jk mereka tidak boleh sebagai teman apalagi sebagai pemimpin, lebih  tidak boleh lagi.
Penulis2 ini mencoba membela calon pemimpin non muslim, tp justru hujjah mereka memperkuat hujjah kami.

  Apa yang dilakukan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menunjukkan bahwa larangan pada ayat itu berlaku untuk semua level dan jenis kepemimpinan, baik imamul a’zham (khalifah), sampai yang terendah di rumah tangga.

Pertanyaan 2,3, 4 …

Ada sebagian orang dengan sinis (bahkan setengah ngambek) mengatakan: “Ya sudah kalau tidak mau dipimpin orang kafir, sekalian saja anda keluar kerja, kan pimpinan perusahaan juga orang kafir.”
Maka ucapan ini ada beberapa kesalahan:
–  Presiden, Gubernur, Bupati, Wali Kota, Kepala desa, rw, rt adalah kepemimpinan yang memiliki WILAYAH dan OTORITAS, sedangkan manajer, direktur, adalah kepemimpinan yang hanya memiliki otoritas tanpa tanpa wilayah atau daerah.
–  Pemimpin2 tersebut dipilih langsung oleh rakyat atau wakilnya, rakyat punya power, keinginan dan daya sendiri untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpinnya. Sedangkan manajer, direktur, adalah pimpinan yang ditentukan oleh atasannya lagi, seperti owner misalnya. Sedangkan karyawan (sebagai rakyat di perusahaan) tidak punya kekuatan sama sekali untuk memilih, mereka menerima begitu saja. Contoh, jika ada seorang guru muslim di mutasi dari sekolah X ke Y, ternyata di Y kepala sekolahnya non muslim, maka dia tidak bersalah sebab dia tidak ada daya untuk memilih siapa kepala sekolahnya, sebab itu maunya kanwil.

–  Ada kondisi kaum muslimin minoritas dan lemah, maka mereka sama sekali tidak bersalah jika dipimpin non muslim. Kondisi pengecualian selalu ada, dan syariah sudah mengantisipasi itu. Seperti keadaan di NTT, Papua, atau Amerika, Eropa, sebagian Afrika, dll.

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Rabb kami, jangan hukum kami jika kami lupa dan melakukan kesalahan yang tidak kami inginkan .. (QS. Al Baqarah: 286)

Nabi ﷺ bersabda:

إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Sesungguhnya Allah meletakkan (membiarkan) kesalahan umatku yang: salah tidak sengaja, lupa, dan terpaksa untuk melakukannya. (HR. Ibnu Majah No. 2045, shahih)

Bahkan jika kondisi seperti itu (lemah dan minoritas), merka masih diberikan peluang untuk memberikan haknya, mereka bisa memanfaatkan itu walau calon2 yang ada adalah non muslim semua. Syariat mengizinkan mereka untuk memilih yang lebih ringan bahayanya di antara calon2 yang ada. Misal, Jika semua calon yang ada adlh non muslim, lalu ada yang sangat anti Islam  versus  yang netral,  tentu lebih baik memilih yang netral, demi kemaslahatan umat Islam.

Maka, tidak pantas, tidak cocok, tidak apple to apple, menyamakan dua hal yang berbeda, seperti:

–  Kepemimpinan Wilayah dengan kepemimpinan non wilayah
–  Kondisi mayoritas dengan minoritas
–  Kondisi kuat dengan kondisi lemah
–  Kondisi mampu memilih dengan tanpa mampu memilih.

Semua ini ada sikap dan fiqihnya sendiri yang berbeda-beda. Wallahu A’lam

Thufail Ibn Amr Ad-Dawsi

Selasa, 17 Muharam1438H/ 18 Oktober 2016

Sirah

Ustadz Muhar Nur Abdi

=========================

Dear Para Pemuda Islam,

At-Tufail ibn Amr Ad-Dawsi atau Tufail bin Amar adalah salah seorang sahabat Nabi. Tufail bin Amar adalah seorang bangsawan Arab terkemuka serta merupakan ketua Kabilah Arab Daus. Beliau mempunyai sifat yang mulia dan suka menolong dan melindungi masyarakat yang berada dalam kesusahan dan ketakutan. Beliau juga mempunyai tahap pemikiran yang luas, bijak, cerdas dan berperasaan halus. Juga merupakan penyair yang mampu membuat untaian terhadap syairnya agar lebih indah dan tajam.

👳🏽 Thufail memeluk Islam

Minatnya terhadap bidang kesenian membuatkan beliau sering kali tidak mahu melepaskan peluang dalam menyertai “Pesta Kesenian” di Pasar Ukaz. Pasar Ukaz merupakan suatu pasar kesenian yang terletak tidak jauh dari Kota Suci Makkah.

Namun demikian, Tufail merasakan yang beliau perlu bertemu dengan seorang lelaki di Kota Suci Makkah al-Mukarramah yang sebelum ini dikhabar merupakan lelaki yang mempunyai keistimewaan yang tersendiri (luar biasa dan handal dalam pelbagai bidang) seperti yang selama ini didengari olehnya di negerinya yang bernamaTihamah (negeri yang terletak di dataran rendah sepanjang persisiran Laut Merah yang menjulur ke Makkah). Lelaki itu bernama Muhammad bin Abdullah (Nabi Muhammad SAW) seorang lelaki yang menggelar dirinya “Utusan Allah”.

Demi memastikan bahawa lelaki itu benar-benar wujud, Tufail bertanyakan khabar tersebut dengan beberapa pembesar Quraisy yang dalam perjalanan ke kota suci Makkah. Para pembesar Quraisy tidak memberikan apa-apa jawapan terhadap pernyatan Tufail tadi mungkin mereka ingin menjaga kepentingan keturunan mereka dan pangkat kemuliaan mereka di depan bangsawan kabilah Arab yang lain. Namun Tufail tidak berputus asa, hasratnya yang membara ingin bertemu dengan Muhammad terus dipendam sehingga beliau sampai di Kota Suci Makkah.

Sesampai sudah Tufail di Makkah, Tufail dilayani dengan penuh meriah oleh para pembesar Quraisy. Mereka membuat suatu majlis keraian sebagai tanda menyambut kedatangan Saudara pembesar dari puak Kabilah Arab yang lain. Dalam majlis tersebut Tufail bertanyakan tentang perihal kewujudan Muhammad di bandar itu kepada salah seorang pemuka Quraisy. Beliau tidak tahu yang Muhammad itu memang merupakan Nabi, Rasul dan Utusan Allah. Dia juga tidak mengetahui bahawa Muhammad itu merupakan keturunan kepada pemerintah Kota Suci Makkah yang sangat dibenci dan dimusuhi oleh kaum Quraisy yang menyembah berhala akibat dari sikap Muhammad yang mengagungkan Allah yang Esa dan tidak mahu berganjak dari dakwahnya itu,

Demi tidak mahu melukakan hati Tufail, pemuka Quraisy itu menjawab pertanyaannya:”Wahai Tufail sahabat kami, pemimpin kaum Daus yang bijak bestari, Engkau datang ke mari dalam keadaan selamat. Tiada satu halangan pun yang menimpamu. Kami pun menghormatimu dengan sepenuhnya. Muhammad yang kau maksudkan itu memag ada di kota Makkah ini. Dia seorang yang suka menimbulkan perselisihan diantara kami sehingga terjadilah perpecahan dan permusuhan antara satu sama lain”.

Para pembesar Arab quraisy yang lain terdiam sejenak,masing-masing sepert mahu mengumpulkan kekuataan dan mempertahankan keyakinan mereka. Bagi mereka pertanyaan Tufail itu telah dapat dijangkakan awal lagi disebabkan;

Tufail merupakan seorang bangsawan yang sangat berpengaruh dalam hal ehwal sosial. Dan orang yang baik-baik dan tidak mementingkan pangkat semata-mata.Tufail merupakan seorang yang amat meminati kepada kesenian, jadi tidak hairanlah jika dia sentiasa mahukan kelainan dan mencari ilmu berkaitan agama, kesenian, dan lain-lain dari orang yang dianggapnya terlalu luar biasa seperti Muhammad Rasullullah.Kebanyakan pembesar Arab yang melawat kota-kota besar mereka akan sentiasa berbuat baik dengan cara mengenali orang-orang yang yang terpengaruh dalam masyarakat dan keturunan mereka. Hal ini menjadi lambang persaudaraan Arab yang kukuh pada sejak berkurun lamanya.

Namun, pemuka Quraisy tidak putus-putus menghasut Tufail dengan memburuk-burukkan Nabi Muhammad seperti mendakwa bahawa Muhammad itu membawa ajaran palsu dan hanya memainkan sihir semata-mata. Walau bagaimanapun, lonjakan hati nurani Tufail yang ingin bertemu dengan Muhammad dapat memutuskan hasutan dan tuduhan palsu pemuka/pembesar Quraisy itu. Akhirnya Tufail menjawab dengan tegas: “Demi Tuhan!, Kedatangan saya ke mari memang sengaja hendak bertemu dengannya (Muhammad) dan hendak mendengar ucapannya. Jika tuan-tuan sekalian tidak memperkenankan saya mendengar ucapannya, menatap raut wajahnya pun sudah cukup bagi saya. Saya tidak akan berbicara dengannya. Kedua-dua belah telinga saya ini akan saya sumbati dengan kapas (dalam-dalam)agar saya tidak dapat mendengar ucapan-ucapannya”. Kata-kata Tufail itu membuatkan pemuka Quraisy tidak berdaya menghalangi keinginan bangsawan itu untuk bertemu Nabi Muhammad SAW.

Keesokan harinya,Tufail telah menuju ke Masjid (diriwayatkan kawasan sekitar Masjidil Haram) untuk menemui Nabi Muhammad SAW. Seperti yang telah dijanjikan Tufail telah menyumbatkan putik-putik kapas ke dalam telinganya sehingga beliau tidak boleh mendengar apa-apa suara yang telah terhasil dari luar. Seketika, beliau telah menanyakan orang sekeliling bagaimanakah rupa Muhammad itu lalu orang yang lalu lalang di situ memberitahu gerangan Muhammad serta tempat baginda berada. Akhirnya Tufail menemui Muhammad, di mana ketika itu Muhammad sedang solat disisi Kaabah. Lalu Tufail pun menghampiri Muhammad, beliau benar-benar ingin melihat paras rupanya dan keistimewaan yang ada pada Muhammad itu.

Lantas dengan izin Allah, Tufail yang sedang menghampiri Muhammad pada waktu yang tidak membenarkan beliau boleh mendengar tiba-tiba boleh mendengar dengan jelas alunan bacaan Al-Quran yang dibacakan oleh Muhammad. Dia berusaha untuk terus menutup telinganya rapat-rapat namun tidak berjaya. Suara Muhammad yang membacakan Al-Quran amat jelas walaupun pada zahirnya bacaan Muhammad itu perlahan dan tidak pula ditinggikan. Beliau akhirnya terpesona dengan bacaan itu.

Tufail bertanya sendirian: “Mengapa begitu indahnya perkataan-perkataan yang diucapkannya itu? Saya tidak akan takut pada barang yang baik daripada barang yang buruk. Apa yang menghalangi saya jika saya mendengar apa-apa yang dibaca oleh orang itu? Barang yang baik sudah tentu saya terima dan barang yang buruk akan saya buang. Siapakah yang menghalang saya jika saya memperkenalkan diri kepada orang itu? Saya ingin belajar kepadanya sesuatu yang saya belum ketahui. Alangkah baiknya jika saya dapat mempelajari rangkaian kata-kata seperti yang sedang diucapkan”.

Selepas Nabi Muhammad menunaikan sembahyang, Nabi terus pulang ke rumahnya, dalam pada itu Tufail turut mengikuti nabi pulang ke rumah secara senyap-senyap. Sesampainya Nabi Muhammad ke rumah, Tufail meminta izin Nabi untuk masuk ke rumah baginda. Beliau memberi salam dan memperkenalkan dirinya kepada Muhammad. Nabi meminta Tufail untuk duduk. Lalu Tufail menjelaskan kedatangannya dan cabaran yang hendak diterima sewaktu bertemu ingin bertemu Muhammad. Namun beliau menyerahkan semua itu kepada keizinan Allah. Tufail meminta untuk Muhammad membacakan beberapa ayat-ayat Al-Quran kepadanya. Nabi pun setuju dan membacakan Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, lalu selepas Nabi selesai membacanya, lalu Tufail berkata kepada Nabi: “Demi Allah!Saya belum pernah mendengar bacaan yang lebih bagus daripada ini. Saya belum pernah mendengar urusan yang lebih lurus daripada bacaan ini”.

Ketika pada waktu itu juga beliau mengucapkan kalimah syahadah dan berkata kepada Muhammad: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ini seorang yang ditaati oleh kaumku. Saya akan kembali kepada mereka untuk mengajak mereka memasuki Islam. Doakanlah semoga Allah memberikan suatu tanda (bukti kebenaran) yang akan membantu bagiku mengenai soal kuserukan kepada mereka”. Lalu Nabi Muhammad SAW tidak menghampakan permohonan Tufail yang ikhlas itu dengan berdoa: “Ya Allah!Jadikanlah baginya suatu tanda(bukti kebenaran)”.

Akhirnya Tufail telah memeluk Islam, menerima cahaya keimanan dan hidayah serta ketaqwaan. Nabi telah mendidik Tufail akan cara hidup baharunya apabila beliau mengamalkan Islam. Hatinya telah puas dan lega. Keimanan barunya itu tidak mudah untuk dicanang dan digoncang oleh sesiapapun. Kerana itu beliau tidak mengherankan ejekan dan tomahan kerana dia memeluk dan mempelajari Islam secara mendalam serta mengamalkannya.

Pemuka Quraisy tidak boleh berbuat apa-apa kerana beliau adalah pembesar Kabilah Arab Daus yang paling disegani dan apabila sesuatu kecelakan yang menimpa atas Tufail sudah pastinya masyarakat Daus di Tihamah akan menuntut bela atas apa-apa kecelakaan terhadap Tufail.

Wallahu a’lam.

Komunikasi Dengan Lawan Jenis

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
18 Oktober 2016
=====================

Aku juga mau nanya, kalau misalkan tiap hari chat-an sama cowo karna sahabatan atau semacamnya gimana ya? Makasii.
Alya#03

Jawaban :
—————-

“Tidaklah aku meninggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Muslim)

Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada dasarnya tidak dilarang apabila pembicaraan itu memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh syara’, begitu pula dengan chatting via sosmed, ataupun aplikasi messenger lainnya.

Dalam sejarah, kita lihat bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW berbicara dengan para sahabat, ketika menjawab pertanyaan yang mereka ajukan tentang hukum agama. Bahkan, ada antara isteri Nabi SAW yang menjadi guru para sahabat selepas wafatnya baginda yaitu Aisyah RA.

Akan tetapi, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan ketika chatting dengan lawan jenis, karena Islam sangat menjaga ummatnya dari godaan syahwat untuk berzina, adab yang perlu diperhatikan diantaranya :

1. Hanya untuk Keperluan Penting.

Jika chatting tidak untuk keperluan yang penting, maka segeralah dihentikan, karena termasuk ke dalam perbuatan sia-sia.

2. Waktunya tidak lama.

Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah masalah waktu atau durasi, jangan sampai melampaui batas. Meski hanya melalui whats app, chatting sebentar saja sudah cukup jika memang dilakukan hanya berdua, jika ingin lebih lama, lakukanlah chatting di forum.

3. Jangan Sengaja Menarik Hati Lawan Chatting.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab: 32)

Imam Qurtubi menafsirkan kata  ‘Takhdha’na’ (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu, menarik hati orang yang mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.

Artinya, pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.

 4. Larangan Khalwat (Berduaan).

 “Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khalwat adalah perbuatan menyepi yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram dan tidak diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini dilarang karena ia dapat menyebabkan atau memberikan peluang kepada pelakunya untuk terjatuh dalam perbuatan yang dilarang.

“Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya.” (Hadis Sahih)

Khalwat bukan saja dengan duduk berduaan. Tetapi berbicara melalui telepon atau chatting di luar keperluan syar’i juga dapat dikatakan berkhalwat.

Hukum chatting sama dengan menelepon artinya chatting di luar keperluan yang syar’i termasuk khalwat. Begitu juga dengan sms.

Namun, bila ada tuntutan syar’i yang darurat, maka itu diperbolehkan sesuai keperluan. Tentunya dengan syarat-syarat yang sudah dijelaskan. Di sinilah menuntut kejujuran kita kepada Allah, sebaiknya chattinglah ditempat terbuka digrup bukan berduaan. Wallaahu alam.

TANGGAL YANG BAIK U/ PERNIKAHAN

Ustadz Menjawab
Selasa, 18 Oktober 2016
Ustadzah Nurdiana

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.
Bagaimana hukum dalam Islam untuk mencari tanggal yang baik dalam pernikahan? Karena kalau masyarakat yang masih memegang teguh adat, hari pernikahan akan dicari dengan cara menghitung dari hari lahir calon mempelai. Apakah hal tersebut diperbolehkan? Dan bagaimana cara menghindari hal-hal yang tidak baik (hal-hal buruk) pada saat pernikahan dan selama kedua mempelai tersebut berumah tangga?
Terimakasih sebelumnya mbak 😊
# A 41

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Di dalam ISLAM semua hari baik. Karena hanya Allah yang bisa memberi kebaikan dan kemudharatan.

Bagaimana cara menghindari hal-hal yang tidak baik pada saat pernikahan dan selama berumahtangga?

Setiap orang punya garis takdir yang berbeda. Dan dalam rukun Iman, salah satunya percaya kepada qodho dan qodar. Sehingga sebelum takdir buruk menimpa kita, banyaklah berdoa, bersedekah dan beramal sholeh.

Di dalam hidup, ujian dan cobaan sebuah keniscayaan. Apapun yang dialami oleh seseorang pasti sesuai dengan kesanggupannya dan berbanding lurus dengan kualitas keimanannya. Sehingga tidak perlu takut dengan masa depan. Karena Allah berfirman dalam surat 41 :30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
(Qs. Fussilat : 30)

Menyimak ayat diatas maka tuk berani menatap hari dan menyongsong masa depan. Kita harus istiqomah dan beriman kepada Allah

Wallahu a’lam.

MUARA KEMULIAAN (QS: al-Hujurat)

Selasa, 17 Muharram 1438H / 18 Oktober 2016

TADABUR AL- QURAN

Pemateri: DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

Menjadi mulia adalah impian setiap manusia. Apalagi bila kemuliaan tersebut bermuara pada kebahagiaan. Bagi sebagian orang, kemuliaan adalah jabatan prestisius atau status sosial di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, kemuliaan berarti mengejar popularitas.

Sebagian yang lain menganggapnya bisa diraih dengan kemapanan duniawi, istri cantik, suami yang mapan, anak-anak yang dibanggakan atau serangkaian kekayaan materi lainnya.

Namun, Allah menegaskan hakikat kemuliaan yang laik dikejar dan diraih oleh seorang mukmin. Status mulia bagi Allah adalah dengan ketinggian derajat takwa seseorang. Dan Allah Maha Mengetahui dengan detail apa dan bagaimana ketakwaan seorang hamba-Nya.

Ketakwaan Bilal ra menjadikannya mulia meski ada yang menghinanya karena kulitnya yang hitam legam.

Sebagian sahabat Nabi saw pernah menertawakan betis Abdullah bin Mas’ud yang kecil ketika tersingkap. Tapi Rasul menimpali bahwa kedua kaki terebut lebih berharga dan lebih mulia dari dua gunung emas.

Di dalam surat ini (surat al-Hujurât) Allah memberikan perangkat-perangkat untuk meraih ketakwaan. Diantaranya ada dalam ayat-ayat yang sedang kita tadabburi bersama.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan sekumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan sekumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan.

Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.

Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [QS al-Hujurât: 11-12]

Pertama,

Allah melarang orang-orang beriman untuk saling membanggakan diri. Karena hal tersebut akan memancing pada tindakan untuk merendahkan orang lain.

Secara jelas di sini kita temukan larangan tersebut. Baik dilakukan oleh laki-laki dalam sebuah komunitas masyakarat ataupun oleh kaum perempuan. Tidak banyak tempat dalam al-Qur’an Allah memerinci dengan kata-kata yang lugas seperti ini.

Hal tersebut bisa jadi karena kebanyakan laki-laki terutama para pemuka kaum kadang membanggakan status sosial dan jabatan serta popularitasnya. Hal-hal itu bisa memicu permusuhan karena adanya sikap saling meremehkan dan merendahkan terhadap orang lain.

Hal-hal ini juga bisa dilakukan oleh sesama kaum perempuan yang biasanya membanggakan nasab, keturunan, suami dan anak-anaknya atau juga status sosial mereka.

Bisa jadi orang-orang yang sering diolok-olok dan ditertawakan lebih baik derajatnya dibanding orang yang memperolok dan menertawakan. Karena manusia hanya menilai dari perawakan zhahir saja serta tiada mengetahui batin dan hati seseorang.

Kedua,

Allah juga melarang orang mukmin mencela sesama mereka. Dalam ayat ini Allah membahasakannya dengan ”jangan mencela dirimu sendiri”. Karena mencela orang lain ibarat memukul air dalam tempayan di depan kita. Percikannya akan kembali pada diri kita sendiri.

Penegasan kekerabatan dan persaudaraan sesama muslim di sini diperjelas karena pada hakikatnya kaum muslimin ibarat satu badan. Jika ada yang sakit maka bagian yang lainnya akan merasakannya. Namun, ini bukan berarti Allah membolehkan kaum muslimin untuk mencela dan merendahkan orang-orang non muslim. ”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” [QS al-`An’âm: 108]

Bila seseorang memaki ayah atau ibu orang lain maka secara tak langsung ia memaki ayah atau ibunya sendiri, karena orang yang dimaki akan membalasnya; bahkan bisa jadi dengan makian yang lebih pedas.

Ketiga,

Allah melarang orang-orang mukmin untuk mempermainkan saudaranya dengan julukan-julukan atau gelar yang buruk. Memberi julukan atau gelar pada seseorang adalah perbuatan latah yang sering dilakukan oleh masyarakat. Jika julukan atau gelar seperti ”si cantik”, atau ”si kacamata”, atau ”si jenius” mungkin tak jadi soal. Dan hal itu sah-sah saja bila menjadi sebuah julukan yang terkenal dan baik.

Masalahnya kadang ada kecenderungan untuk memberi gelar dan julukan sebagai olok-olok seperti dengan menyebutnya ”si pincang”, ”si pandir”, ”si dungu”, ”si otak udang”. Islam melarang hal tersebut. Ini sangat tidak disukai oleh orang yang menerima julukan tersebut. Sangat wajar. Karena setiap kita memiliki nama yang kita banggakan. Dan setiap orang tua berkewajiban memberi nama yang baik sehingga sang anak kelak tidak rendah diri dan merasa minder dengan sebutan tersebut.

Dan… ”Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman”. Seperti memanggil orang yang sudah bertobat dengan ”si pelacur”, ”si pencuri”, ”si kafir” atau ”si fasiq”. Barang siapa yang melakukan hal tersebut. Itulah salah satu bentuk kezhaliman yang dicela Allah.

Kempat,

Allah juga melarang orang beriman untuk memperturutkan praduga dan prasangka yang tidak-tidak. Karena praduga tersebut belumlah menjadi sebuah berita yang jelas. Apalagi biasanya prasangka tersebut seputar aib seseorang yang seharusnya ditutupi.

Kelima

Allah melarang memata-matai (tajassus). Bila prasangka diperturutkan, maka kadang tanpa terasa sering ditindaklanjuti dengan memata-matai dan menelusuri kebenaran isu dan desas-desus yang sebelumnya hanya sekedar praduga. Hal inilah yang bisa merusak suasana keakraban dan ukhuwah. Tak jarang terjerumus pada perbuatan mencari-cari celah kesalahan. Mengada-adakan sesuatu yang sebetulnya tidak ada serta meniup-niupkan isu dan membesar-besarkan masalah kecil.

Keenam

Allah melarang menggunjing sesama (ghibah). Karena ghibah merupakan mata rantai lanjutan dari prasangka dan mencari-cari kesalahan. Tak heran bila Allah memberikan perumpamaan yang buruk bagi perbuatan ghibah. Bagaikan memakan daging saudara sendiri, bahkan lebih dari itu; bangkai sesama manusia. Dan ghibah lebih buruk dari memakan bangkai sesama saudara.

Bila kita sangat jijik dan risih untuk sekedar membayangkan memakan bangkai manusia. Bagaimana mungkin kita memulai hari-hari kita dengan sarapan bangkai manusia? Memakan daging saudara kita? Dengan mempergunjingkan isu yang kadang belum jelas arahnya. Kalau pun itu benar, maka sudah semestinya aib tersebut tidak diumbar ke mana-mana.

Rasul saw suatu ketika bertanya kepada para sahabatnya: ”Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”.

Beliau bersabda: ”Menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ada yang bertanya: ”Bagaimana bila yang dikatakan ada pada saudaraku?”

Beliau menjawab: ”Jika seperti apa yang kau sebut (yang dibencinya) engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmizi dan Nasa’i).

Itulah lidah. Sebuah perangkat lunak yang diberikan Allah pada manusia sekaligus salah satu ujian yang cukup berat. Dengan kata-kata (ijab-qabul)sesuatu yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan menjadi halal, bahkan bernilai ibadah.

Dengan kata-kata (syahadat) seseorang meninggalkan kekufuran dan mengikrarkan keislamannya.

Dengan kata-kata pula (adu domba) persaudaraan dan kekerabatan menjadi retak. Dengan kata-kata (fitnah) orang baik-baik menjadi terdakwa.

Dan dengan kata-kata (sumpah palsu) orang bejat dan durjana menjadi pahlawan dan terpandang di tengah masyarakat.

Karena itu Allah memerintahkan untuk bertakwa dan bertaubat dari itu semua. Sebab tak jarang kita terjerumus dalam ghibah dan mempergunjingkan orang lain. Bahkan menikmatinya. Bisa jadi kita yang memulai pembicaraan dan pergunjingan tersebut. Na’ûdzubilLâh.

Keenam hal di atas merupakan perangkat ketakwaan untuk meraih kemuliaan hakiki sebagaimana yang dijelaskan Allah di ayat berikutnya. Dilengkapi dengan resep ketujuh yaitu: saling mengenal dan mempererat persudaraan.

”Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS al-Hujurât: 13]

Dalam ayat ini Allah mengingatkan kebhinekaan dan keberagaman dalam masyarakat. Kadang Allah mengingatkan kita akan asal usul kita dari sebuah air yang hina. Dan kali ini Allah menekankan asal kita dari dua yang berbeda. Laki-laki dan perempuan. Dari perbedaan yang jauh segala aspek itulah kita ada.

Ayah dan ibu kita sebelum menikah adalah dua sosok yang sangat berbeda. Baik lingkungan, asal-usul, bahkan kebiasaan dan adat. Juga mungkin status sosial. Namun yang jelas mereka adalah dua orang yang berbeda. Satu laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan kebiasaan dan adat yang berbeda. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Berbeda bahasa dan budaya. Tujuan dari perbedaan ini adalah untuk memperkaya wawasan dan persaudaraan dengan saling mengenal. Bukan untuk saling membanggakan atau mengolok-olok kaum yang lain. Rasa superioritas yang tinggi akan menimbulkan keinginan untuk menaklukan orang lain atau setidaknya merasa lebih tinggi dari orang lain. Tak jarang dari pola pikir seperti ini bermula sebuah pertempuran sengit antar bangsa. Boleh jadi dibungkus dengan bisikan jahiliah mempertahankan prestise dan harga disi suku atau bangsa.

Budaya saling mengenal dan memperkenalkan ini akan mendewasakan dan memperkaya ilmu seseorang. Itulah salah satu bentuk silaturrahmi. Sunnah Rasul saw. yang bila ditinggalkan akan semakin membuat dunia kehilangan cinta dan dipenuhi oleh kedengkian dan permusuhan.

Rasa iri yang tinggi dan kedengkian yang membara akan mematikan semangat berprestasi seseorang dan mengurangi produktifitas. Karena dirinya akan disibukkan oleh hal-hal yang tak seharusnya mengganggunya.

Alkisah ada dua ekor elang yang sedang berlomba untuk saling mengejar dan terbang tinggi di udara. Seekor elang dengan lincahnya meluncur dan terbang tinggi di angkasa. Elang yang lainnya hanya terbakar iri dan dengki. Ia sibuk memikirkan bagaimana menjegal temannya agar tidak dapat terbang tinggi. Maka ia berusaha mendekati temannya dan memperpendek jarak. Kemudian ia mencabut sehelai bulunya. Ia melempar ke arah temannya.
Bila sasaran tepat maka temannya akan terjatuh dan dialah yang keluar sebagai pemenang.

Lemparan pertama luput. Ia melanjutkan dengan lemparan kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai bulu-bulunya hampir habis. Sampai ia kehabisan tenaga dan ia pun tersungkur. Ia kalah dengan menelan kedengkian yang dalam. Sementara temannya terbang tinggi menjulang.

Setelah ini setiap kita diharapkan mampu menyimpulkan makna kemuliaan yang sebenarnya.

Kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketakwaan yang diraih seseorang melalui kedekatan hubungan dengan Allah serta baiknya interaksi sosial dengan sesamanya.

Kaya atau miskin, cantik atau tampan, strata pendidikan yang tinggi, popularitas, kemapanan sosial serta berbagai topeng dunia lainnya tidaklah berarti di hadapan Allah bila tidak disertai dengan kualitas ketakwaan yang baik. Karena sesungguhnya derajat kemuliaan yang sebenarnya di hadapan Allah hanya bisa diraih dengan ketakwaan tersebut. Dan Allah Maha Mengetahui dengan sedetail-detailnya kualitas ketakwaan seseorang.

Maukah kita bergegas meraih ketakwaan tersebut? Bersegeralah! Sebelum semua menjadi terlambat.

 WalLâhu al-Musta’ân

Pergi Haji Atau Menolong Orang?

Ustadz Menjawab
Ustadz Zaki
17 Oktober 2016
=====================

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya pengen nanya..ada banyak orang bilang, kalau sudah niat pergi haji, terus ada orang yang membutuhkan pertolongan, terus orang tadi ga jadi pergi haji karena uangnya digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan tadi. Maka, katanya orang itu sudah dapat pahala haji. Itu artinya hanya sebatas pahala saja atau artinya sudah gugur juga kewajiban hajinya?

Saya tambah bingung ketika baca artikel “halal bagi saya tapi haram buat tuan” yg tersebar di WA dr tmn2. # Mft 02..

Jawaban :
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Diterimanya pahala haji berdasar niat yang ikhlas kepada Allah Ta’ala.

2. Bekal haji merupakan bekal yang benar-benar bersih dari harta haram.

3. Soal pahala haji karena menolong orang hanya Allah yang tahu..

Sebagaimana Percakapan Allah kepada malaikat. Malaikatpun tidak tahu siapa yang haji mabrur. Kisah hadits tersebut merupakan dorongan bagi kita untuk meluruskan niat, mencari bekal halal dan di ridhai.

Soal ujian yang diberikan Allah berupa kesulitan saudara kita hanya Allah yang tahu..

Halal bagi saya artinya orang tersebut dalam kondisi darurat, jika tidak makan maka dia mati kelaparan krn tdk ada lg yg menolong selain kita. Haram bagi tuan karena si tuan orang berada dan mampu.. maka makanan tersebut tidak berlaku ke daruratannya kepada yang mampu.

Wallahu a’lam.

Jangan Mudah Memberi Cap Buruk pada Orang Lain

Senin, 16 Muharam 1438 H/17 Oktober 2016
Akhlak
Ustadzah Ida Faridah
===========================
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhori No. 5606)
Jika terbersit satu prasangka buruk, ada baiknya kita mencarikan alasan-alasan untuk menghindari prasangka tersebut. “Aah mungkin dia bersikap seperti itu karena sedang lelah, atau dia seperti itu karena anaknya sedang sakit,” dan puluhan alasan lainnya agar kita tidak mudah bersu’udzon.
Selain diminta untuk menjauhi prasangka buruk, Rasulullah pun menyatakan larangan menjelekkan saudara sesama muslim.
“Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِBukhari No. 6066 dan Muslim No. 6482)
Wallahu a’lam.