Pergi Haji Atau Menolong Orang?

Ustadz Menjawab
Ustadz Zaki
17 Oktober 2016
=====================

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya pengen nanya..ada banyak orang bilang, kalau sudah niat pergi haji, terus ada orang yang membutuhkan pertolongan, terus orang tadi ga jadi pergi haji karena uangnya digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan tadi. Maka, katanya orang itu sudah dapat pahala haji. Itu artinya hanya sebatas pahala saja atau artinya sudah gugur juga kewajiban hajinya?

Saya tambah bingung ketika baca artikel “halal bagi saya tapi haram buat tuan” yg tersebar di WA dr tmn2. # Mft 02..

Jawaban :
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Diterimanya pahala haji berdasar niat yang ikhlas kepada Allah Ta’ala.

2. Bekal haji merupakan bekal yang benar-benar bersih dari harta haram.

3. Soal pahala haji karena menolong orang hanya Allah yang tahu..

Sebagaimana Percakapan Allah kepada malaikat. Malaikatpun tidak tahu siapa yang haji mabrur. Kisah hadits tersebut merupakan dorongan bagi kita untuk meluruskan niat, mencari bekal halal dan di ridhai.

Soal ujian yang diberikan Allah berupa kesulitan saudara kita hanya Allah yang tahu..

Halal bagi saya artinya orang tersebut dalam kondisi darurat, jika tidak makan maka dia mati kelaparan krn tdk ada lg yg menolong selain kita. Haram bagi tuan karena si tuan orang berada dan mampu.. maka makanan tersebut tidak berlaku ke daruratannya kepada yang mampu.

Wallahu a’lam.

Jangan Mudah Memberi Cap Buruk pada Orang Lain

Senin, 16 Muharam 1438 H/17 Oktober 2016
Akhlak
Ustadzah Ida Faridah
===========================
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhori No. 5606)
Jika terbersit satu prasangka buruk, ada baiknya kita mencarikan alasan-alasan untuk menghindari prasangka tersebut. “Aah mungkin dia bersikap seperti itu karena sedang lelah, atau dia seperti itu karena anaknya sedang sakit,” dan puluhan alasan lainnya agar kita tidak mudah bersu’udzon.
Selain diminta untuk menjauhi prasangka buruk, Rasulullah pun menyatakan larangan menjelekkan saudara sesama muslim.
“Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِBukhari No. 6066 dan Muslim No. 6482)
Wallahu a’lam.

Kalo Sujud Kaki Renggang atau Rapat?

Senin, 16 Muharrom 1438H / 17 Oktober 2016

HADITS DAN FIKIH

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man

Masalah rapatnya tumit saat sujud, diperselisihkan para ulama.

Sebagian ulama menetapkan bahwa sujud itu hendaknya tumit dirapatkan, dengan jari-jemari kaki mengarah ke kiblat.

Dasarnya adalah, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي، فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ

Aku kehilangan Rasulullah ﷺ, saat itu dia bersamaku di pembaringan, aku dapati Beliau sedang sujud, merapatkan tumitnya, dan mengarahkan jari jemari  kaki ke kiblat. (HR. Ibnu Khuzaimah No.  654, Al Hakim, Al Mustadrak No. 832,  Ibnu Hibban No. 1933, Ath Thahawi dalam Musykilul Atsar No. 111)

Hadits ini SHAHIH menurut Imam Al Hakim., dan sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. (Al Mustadrak No. 932), Imam Adz Dzahabi menyepakatinya dalam At Talkhish.
Imam Ibnul Mulaqin juga menyatakan shahih. (Badrul Munir, 1/621)

Dishahihkan pula oleh Syaikh Muhammad Mushthafa Al A’zhami dalam tahqiq beliau terhadap kitab Shahih Ibni Khuzaimah. Sementara Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban memasukan hadits ini dalam kitab SHAHIH mereka masing-masing, artinya dalam pandangan mereka ini hadits SHAHIH.

Syaikh Al Albani juga menshahihkan haidts ini. (Ta’liqat Al Hisan No. 1930)

Bagi yang menshahihkan tentu menjadikan hadits ini sebagai hujjah bahwa saat sujud hendaknya tumit bertemu atau rapat.

Sementara ulama lain mendhaifkan hadits ini, karena dalam  sanadnya terdapat perawi bernama Yahya bin Ayyub Al Ghafiqi. Beliau pribadi yang kontroversi, ada yang mendhaifkan ada pula yang menyatakan tsiqah (terpercaya).

Ibnu Sa’ad mengatakan: “Dia  haditsnya munkar.” (Ath Thabaqat Al Kubra No. 7090)

Al ‘Ijli mengatakan: “terpercaya.” (Ats Tsiqat No. 1791)

Yahya bin Ma’in mengatakan: “Orang mesir, shalih, dan terpercaya.” Sementara Abu Hatim berkata: “Haditsnya ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah.” (Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 9/128)

Imam An Nasa’i mengatakan: “Tidak kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah.” (Ibnul Jauzi, Adh Dhuafa wal Matrukin, No. 3694)

Imam Ahmad mengatakan: “Buruk hapalannya.” Imam Ad Daruquthni mengatakan: “Sebagian haditsnya goncang.” (Adz Dzahabi, Al Mughni fidh Dhuafa No. 6931)

 Tapi, Imam Al Bukhari dan Imam Muslim memasukan Yahya bin Ayyub sebagai salah satu perawinya, dalam hadits-hadits yang sifatnya penguat saja.

Oleh karena itu, sebagaian ulama menganggap ini hadits dhaif, dan secara lafal juga syadz (janggal), karena bertentangan dengan hadits yang lebih shahih darinya. Apalagi Imam Al Hakim  berkata:

وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذَا اللَّفْظِ، لَا أَعْلَمُ أَحَدًا ذَكَرَ ضَمَّ الْعَقِبَيْنِ فِي السُّجُودِ غَيْرَ مَا فِي هَذَا الْحَدِيثِ

  Imam Al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dengan lafaz seperti ini. Aku tidak ketahui seorang pun yang menyebut adanya merapatkan dua mata kaki saat sujud selain yang ada pada hadits ini saja. (Al Mustadrak No. 832)

Dengan kata lain, inilah satu-satunya hadits yang menyebutkan merapatkan tumit atau mata kaki saat sujud.

Ada pun hadits yang lebih shahih tidak menyebutkan merapatkan kaki, yaitu:

فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ

Aku kehilangan Rasulullah ﷺ suatu malam dari pembaringannya, maka aku menyentuhnya, tanganku memegang bagian dalam kedua kakinya dan dia sedang dimasjid dan beliau berdiri. (HR. Muslim, 486/222)

Dalam riwayat lain:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا فَقَدَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَضْجَعِهِ، فَلَمَسَتْهُ بِيَدِهَا، فَوَقَعَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

Dari ‘Aisyah bahwa dia kehilangan Nabi ﷺ dari pembaringannya, dia menyentuhnya dengan tangannya dan nabi sedang sujud. (HR. Ahmad No. 25757. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan:
Majelis Ilmu Farid Nu’man:
para perawinya terpercaya, semua perawinya Bukhari dan Muslim, kecuali  Shalih bin Sa’id. Ibnu Hibban mengatakan terpercaya)

Nah, riwayat-riwayat ini tidak ada yang menyebutkan rapatnya kedua tumit saat sujud. Secara sanad pun ini yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Inilah yang dipilih oleh banyak ulama, juga Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Muqbil, dan lainnya, bahwa saat sujud kedua telapak kaki direnggangkan.

Wallahu A’lam

Halal Buat Saya Haram Buat Tuan

Ustadz Menjawab
Senin, 17 Oktober 2016
Ustadz Zaki

HALAL BAGI SAYA HARAM BUAT TUAN

Assalamu’alaikum ustadz/ah..saya pengen nanya..ada banyak org bilang, klo sdh niat pergi haji, terus ada org yg membutuhkan pertolongan, trus org tadi ga jd pergi haji krn uangnya digunakan utk menolong org yg membutuhkan pertolongan tadi.
Maka katanya org itu sdh dpt pahala haji. Itu artinya hanya sebatas pahala saja ato artinya sdh gugur jg kewajiban hajinya?
saya tambah bingung ketika baca artikel “halal bagi saya tapi haram buat tuan” yg tersebar di WA dr tmn2. # Mft 02..

Jawaban :
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1. Diterimanya pahala haji berdasar niat yang ikhlas kepada Allah
2. Bekal haji merupakan bekal yang betul betul bersih dari harta haram
3. Soal pahala haji karena menolong orang hanya Allah yang tahu..

Sebagaimana Percakapan Allah kepada malaikat. Malaikatpun tidak tahu siapa yang haji mabrur.
Kisah hadits tersebut merupakan dorongan bagi kita untuk meluruskan niat, mencari bekal halal dan si ridhai.
Soal ujian yang diberikan Allah berupa kesulitan saudara kita hanya Allah yang tahu..

Halal bagi saya artinya orang tersebut dalam kondisi darurat, jika tidak makan maka dia mati kelaparan krn tdk ada lg yg menolong selain kita.
Haram bagi tuan karena si tuan orang berada dan mampu .. maka makanan tersebut tidak berlaku ke daruratannya kepada yang mampu.

Wallahu a’lam.

PENYAKIT AIN

Ustadz Menjawab
Ahad, 15 Oktober 2016
Ustadzah Rochma Yulikha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
afwan saya mau nanya, bagaimana penjelasan tentang penyakit ain?
benarkah kalo ada yang mengagumi kita bisa menyebabkan terkena penyakit tsb? kemudian bgaimana kita mencgah dah mengobatinya???
Dan apa benar bisa melalui foto yg d upload d medsos?

A39

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Dari Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhu, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Ain (mata jahat) itu benar-benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar,maka akan didahului oleh ain.Apabila kamu diminta untuk mandi maka mandilah. (hadist riwayat Muslim)

Penyakit ‘Ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata,yaitu pandangan mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya.

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :

Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

‘Ain dapat terjadi meskipun tanpa kesengajaan pelakunya

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang paling jahat. Sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli fiqh menyatakan, :Sesungguhnya bila diketahui ada orang yang melakukan hal itu, maka penguasa kaum muslimin harus memenjarakannya, lalu dipenuhi seluruh kebutuhannya hingga akhir hayat.”

Namun terkadang pengaruh buruk ain terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-orang yang sholih sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi diantara para sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam, padahal hati mereka terkenal bersih,tidak ada rasa iri atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ain ini dapat terjadi diantara mereka.

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini” Maka terpelantinglah Sahl. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!Maka Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya,dua tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia. (HR Malik dalam Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya shohih,para perawinya terpercaya,lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qodir al-Arnauth 4/150 cetakan tahun 1424 H)

Wallahu a’lam.

Kuatkan ‘Azam,Tegarkan Diri, Surgamu Menanti

Ahad, 15 Muharrom 1438H / 16 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M. Ag

Bukankah ketegaran itu baru terasa bila kondisi berat menghampiri kita.

Bukankah ‘Azam yang kuat itu baru terasa bila tantangan itu menghadang.

Maka benar kata Sayyid Qutb : “Hakekat iman tidak akan terbukti kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan dengan upaya orang lain yang berlawanan imannya”

Kunci ketegaran adalah dengan mengendalikan nafsu amarah bissuu’. Dan ketegaran baru terasa ketika dalam kondisi berat. Segalanya menjadi indah saat merindukan jalan dakwah.

Veteran-veteran perang Uhud adalah pribadi-pribadi yang tegar di jalan dakwah. Takkan mundur barang sejengkal tuk meninggalkan rasulullah meski mereka kalah, meski mereka mengakui kesalahan yang baru saja dibuatnya.

Meski 70 orang terbaik syahid di jalanNya dan banyaknya sahabat yang terluka. Tetapi tidak mematahkan ketegaran mereka.
Tak sedikitpun mereka mengiba pada musuh.
Tak sedikitpun ada penyesalan untuk kemudian menyarungkan senjata mereka.

Ketika penggilan rasulullah terdengar alunan takbir mengelegar membakar semangat mereka. Mereka pun memperoleh kemenangan.

Merekalah yang telah berhasil mengendalikan nafsu amarah bissuu’ dan menggantikannya dengan totalitas ‘azam.

Berusahalah untuk senantiasa bersamaNya. Tetaplah memelihara hak-hakNya, dikala senang dan lapang. Insyaallah, Allah pasti akan ada bersama kita dikala kita sempit, ketika kita mengalami kesulitan dan  membutuhkan pertolonganNya.

Jika kita termasuk orang-orang yang merindukan jalan dakwah,

Jika kita termasuk orang-orang yang bergabung dalam barisan dakwah,

Jika kita termasuk orang-orang yang bersatu padu dalam kelompok yang menegakkan agamaNya,

Jika kita termasuk orang-orang yang berjuang di jalanNya…

Jika kita termasuk orang-orang yang bertekad bulat masuk dalam kelompok mereka yang mendambakan kehidupan yang tentram dan damai di bawah naunganNya…

Maka yakinlah tak sedikitpun Allah berniat mendhalimi makhlukNya. Apalagi bila kita merindukan jalan dakwah ini.

Yakinlah janji Allah pasti benar

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 57

Sabtu, 14 Muharam 1438 H  / 15 Oktober 2016

Al-Qur’an

Ustadz Noorahmat

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 57
============================

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Adik-adik….
Hari ini kita bertemu kembali dengan materi Tafsir Al Qur’an.

Bagaimana khabar adik-adik sekalian? Semoga senantiasa berada dalam keberkahan Allah Azza wa Jalla.

Kali ini kita akan bahas Tafsir Al Quran surat Al Maidah ayat 57.

Kenapa ayat 57? Kenapa bukan ayat 51 yang sedang heboh? Mau tahu alasannya?…..

Salah satunya agar kita semua juga melanjutkan memahami Al Quran tidak hanya fi ayat-ayat tertentu.

Adik-adik sekalian….
Al Maidah ayat 57 ini merupakan penegasan dari ayat 51 yang heboh itu.

Mari kita mulai.
Allah Azza wa Jalla berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil jadi wali kalian, orang-orang yang membuat agama kalian jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kalian betul-betul orang-orang yang beriman. [QS Al Maidah 5:57]

Adik-adik…
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan terhadap aktifitas berteman dekat (karib) dengan musuh-musuh Islam dan para pemeluknya, yaitu dari kalangan kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik.

Kaum musyrik pada umumnya adalah orang-orang yang menjadikan syumuliah syariat Islam yang mencakup semua kebaikan dunia dan akhirat sebagai bulan-bulanan ejekan mereka.

Terkait ini ada sebuah syair

وَكَمْ مِنْ عَائبٍ قَولا صَحِيحًا … وآفَتُهُ مِن الْفَهم السَّقِيمِ …

Betapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar, hal itu bersumberkan dari pemahaman yang tidak benar.

Adik-adik…
Huruf min pada lafaz minal lazina dalam ayat ini adalah untuk menerangkan jenis yang berarti “yaitu”.

Penggunaan lafaz yang sama bisa dilihat dalam dalam QS Al Hajj ayat 30.

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ

maka jauhilah oleh kalian barang yang najis, (yaitu)berhala-berhala tersebut.

Para mufassir mentafsirkan yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam ayat ini ialah orang-orang musyrik, seperti yang disebutkan di dalam qiraah Ibnu Mas’ud menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ

Janganlah kalian mengambil orang-orang yang membuat agama kalian jadi buah ejekan dan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian dan orang-orang musyrik, sebagai wali kalian.

Yaitu bertakwalah kalian kepada Allah, janganlah kalian mengambil musuh-musuh kalian dan agama kalian itu sebagai wali (teman sejawat) kalian jika kalian orang-orang yang beriman kepada syariat Allah, karena mereka membuat agama kalian sebagai bahan ejekan dan permainan.

Hal ini selaras dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-NyaDan hanya kepada Allah kembali (kalian). [Ali Imran 3:28]

Jadi kesimpulannya?
Diskusikab dengan mentor di group masing-masing ya….☺ Jangan malu bertanya….👍

InsyaAllah sampai disini dahulu, kita bertemu kembali pekan depan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Akhwat Shalat Jum’at?

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Ida Faridah
15-Oktober-2016
=====================

Assalamualaikum. Mau nanya. Jika akhwat melakukan shalat jumat apakah harus juga melakukan shalat dhuhur? Syukron

MFT A05
===========

Jawaban
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sholat jum’at adalah sholat fardu dua raka’at yang dilakukan pada hari jum’at diwaktu dzuhur sesudah dua khotbah.

Sholat jum’at merupakan fardhu ain (kewajiban pribadi) bagi setiap muslim kecuali wanita dan musyafir. Dalil wajibnya sholat jum’at terdapat dalam a-Qur’an surat al-jumu’ah ayat 9, hadist Nabi saw dan ijmak ulama.

Karna yang wajib sholat jum’at adalah laki-laki maka perempuan tidak wajib sholat jum’at, adapun jika perempuan melaksanakan sholat jum’at hukumnya boleh dan tidak usah sholat dzuhur lg

والله اعلم بالصواب

Kisah Mariyah Al-Qibtiyah

Sabtu, 14 Muharram 1438 H / 15 Oktober 2016

SIROH & KELUARGA

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Kisah Mariyah Al-Qibtiyah

Mariyah lahir di kota Jafnin sebelah timur sungai Nil ke arah Asmuniyah. Kemudian ia pindah ke istana Muqauqis gubernur Mesir dan hari demi hari ia lalui di sana. Hari-hari yang tergadaikan. Hingga suatu hari…datanglah Hatib bin Bi Balta’ah membawa surat dari Rasulullah Saw mengajak Muqauqis kepada Islam.

Bismillahirrahmanirrahiim
Dari Muhamad bin Abdillah hamba Allah dan rasulNya. Aku ingin mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah maka kalian akan selamat. Allah akan memberikan pahala bagimu dua kali lipat. Jika engkau menolaknya maka engkau akan menanggung dosa orang Qibti semuanya.

“Katakanlah wahai ahlul kitab, marilah kita berpegang kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan sesuatu denganNya, sebagian kita tidak menjadikan yang lain sebagai tuhan selain Allah, bila mereka berpaling maka katakanlah “Saksikanlah bahwa kami berserah diri (kepada Allah).” (QS Ali Imran:94)

Mariyah seorang budak belian yang cantik mendengar isi surat tersebut yang membuat hatinya lapang. Fikiran dan jiwanya melayang membayangkan siapa orang yang mengirimkan kata-kata indah penuh makna itu. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika seorang pemuka mengatakan bahwa  ia bersama saudara kandungnya dipilih oleh kaisar untuk pergi ke Madinah sebagai hadiah untuk Rasulullah Saw. Bersamanya Muqauqis menyertakan emas permata, perhiasan yang indah serta madu asli yang sangat lezat. Ia menyambut perjalanan ini dengan penuh suka cita dengan kerinduan akan hidayah Allah.

Aku membaca suratmu dan memahami isinya. Aku mengetahui bahwa seorang nabi telah datang dan aku kira ia berasal dari daerah Syam. Aku telah memuliakan utusanmu dan mengutus untukmu dua orang sahaya yang memiliki kedudukan yang mulia di Qibty. Bersama dengan berbagai perbekalan yang dapat engkau manfaatkan. Semoga keselamatan atasmu. (Inilah surat balasan dari Muqauqis untuk Rasulullah Saw)

Saat rehat di perjalanan, Hatib bercerita kepada Mariyah tentang Rasulullah dan Islam serta bagaimana beliau sangat memuliakan manusia dan menjaga kehormatannya juga memperhatikan kebebasan beribadah.
Detak jantung Mariyah saling berbalapan saat perjalanan sudah mendekati Madinah. Nabi meminta Mariyah untuk tetap bersamanya dan menghadiahkan Sirin saudaranya kepada Hissan bin Tsabit.

Para istri Rasulullah menyambut kehadiran duta baru disertai rasa cemburu dalam hati mereka. Suatu pagi ummul mukminin Hafsah pergi ke rumah ayahnya. Tak lama kemudian ia kembali. Dan ternyata di dalam rumahnya Rasulullah sedang berbincang dengan Mariyah. Betapa marahnya Hafsah. Ia berkata:”Jika engkau tidak merendahkanku, tidak akan engkau ajak dia ke rumahku.” Dan mulailah ia menangis. Rasulullah menenangkannya dengan mengatakan: “Sesungguhnya  Mariyah haram untukku.” Beliau meminta Hafsah untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun. Namun Hafsah menceritakannya kepada Aisyah dan akhirnya semua istri Rasulullah melakukan _unjuk rasa_. Rasulullah sampai bersumpah untuk tidak menjumpai mereka selama satu bulan. Dan tersiarlah kabar bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya.

Maka turunlah surat At-Tahrim ayat 1
  يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS At Tahrim:1)

Rasulullah Saw memindahkan Mariyah ke daerah aaliyah (tempat penyembelihan di Madinah) yang jauh dari istri-istrinya. Kemudian Mariyah hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim.

Kelahiran Ibrahim disambut gembira oleh Rasulullah Saw. Beliau mencarikan sebaik-baik kabilah untuk merawatnya dan memberikan berbagai hadiah kepadanya. Ketika Ibrahim berusia delapan belas bulan, ia jatuh sakit yang cukup parah. Ia dipindahkan ke sebuah kamar disamping masyrubah Ummu Ibrahim. Mariyah bersama saudaranya Sirin bergantian menjaganya. Setelah Rasulullah diberi kabar akan sakitnya Ibrahim beliau segera datang dan menggendongnya. Dengan berlinang air mata beliau menemani Ibrahim hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

Rasulullah telah mewasiatkan kebaikan akan orang-orang Qibty. Beliau bersabda:”Akan dibebaskan Mesir setelah ini. Maka aku wasiatkan kepada kalian agar memperlakukan orang-orang Qibty dengan baik. Sesungguhnya mereka memiliki tanggungan dan sifat penyayang.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

KISAH PENANGGGALAN

Ustadz Menjawab
Sabtu, 15 Oktober 2016
Ustadzah Novria Flaherti, S.si

KISAH PENANGGGALAN

Assalamu’alaikum wr.wb. afw ukht.  sekiranya prtanyaan saya ini agak lancang saya berlindung kpd Allah SWT  dan memohon ampun kepada-Nya krn ktrbatasan ilmu saya, dan di sisi lain kita juga diwajibkan utk brtanya kpd ahli ilmu ttg suatu hal yg kita tdk mengetahuinya agar tdk trjerumus dlm kesesatan krn ktidaktahuan kita. prtanyaan saya, bagaimana bisa pd zaman nabi Musa As sdh diketahui 10 muharram beliau brpuasa pdhl penanggalan hijriyah baru di mulai sejak hijrahnya nabi Muhammad SAW ke Madinah dari Mekkah. dan penanggalan itu juga baru di buat pd zaman khalifah Umar bin Khattab RA. mohon diberi penjelasan yg disertai dalil yg kuat agar kami masyarakat yg awam akan ilmu agama dpt memahamu dgn sebenar2nya. syukron wa jazakillah khairon katsiran 😊

Jawaban :
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Memang benar bahwa bahwa penetapan kalender hijriah dibuat pada masa khalifah Umar bin Khatab.

Khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun di mana hijrahnya Nabi Muhammad dari
Mekkah ke Madinah.

Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharram Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622.

Sistem penanggalan sdh ada sejak awalnya manusia dibumi, Allah menciptakan manusia dilengkapi dgn Akal dan fikiran. Diciptakannya matahari dan bulan, melainkan terdapat tanda2 kebesarannya bagi orang2 yang berfikir

Bukti sistem penaggalan berdasarkan bulan/lunar/hijriah sudah ada semenjak dulu berdasarkan dalil dibawah ini:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
(At Taubah, 9 : 38)

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa sistem kalender yang lunar atau hijriah atau yg menggunakan acuan bulan sudah dipakai sejak adanya nabi Ibrohim, sejak adanya perintah berhaji dan qurban

Berdasarkan dalil dibawah ini:

“Orang-orang bertanya kepadamu tentang hilal. Wahai Muhammad katakanlah: “Hilal itu adalah tanda waktu untuk kepentingan manusia dan badi haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Sebelum penanggalan hijriyah ditetapkan, masyarakat Arab dahulu menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan tahun. Tahun renovasi Ka’bah misalnya, karena pada tahun tersebut, Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun fijar, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan istilah tahun fiil/tahun gajah.

Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.” Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan)

Inilah bukti-bukti bahwa sistem penanggalan baik mengacu kepada matahari atau bulan sudah lama adanya, bahkan sebelum adanya Islam masuk ke bangsa Arab..

Allahu ‘Alam bisshowab

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c