4 MAHZAB

Ustadz Menjawab
Rabu, 26 Oktober 2017
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum wr wb Ustadz/ah..
Saya mau tanya kita muslim sama2 tau bahwa ada 4 mahzab dan kita tau bahwa 4 mahzab itu hidup setelah rasulullah, Namun yang saya lihat saat ini banyak para kalangan muslim membahas ikut salah satu tata cara dari mahzab tersebut lebih jauh saya perhatikan ke 4 mahzab tersebut tidaklah menciptakan sakte atau aliran lambat laun muridnyalah yg menciptakan sakte tersebut di dalam islam atau di dlam Alquran menyatakan bahwa ikutilah Allah dan rosul serta ulil amri ulil amri yakni para ulama namun ada lanjutan ayat apa bila ulil amri tersebut bertentangan kembalilah kepada Allah dan rasul. Adapun dalam satu ajaran islam bahwa kita muslim di haramkan dalam berpecah belah bahwa Allah menyatakan bukanlah tanggungmu muhammad orang yg memecah belah aliran tersebut
yang saya tanyakan Adalah bagaimana setatus islam ini? Kita mengikuti 4 mahzab atau baginda? Dalam suatu hadist dikatakan 2 pusaka yg tidak akan tersesat yakni Alquran dan Hadist, tentulah hadist soheh munurut ustad bagaimna tanggapannya bila ada serang hamba Allah atau ummat nabi yang mengklaim dirinya bukan mengikuti salah satu 4 mahzab namun mengikuti rasul?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

📌 Dalam masalah gerakan anti madzhab, lalu mereka menyerang para imam madzhab dan yang mengikutinya, jelas itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah telah mengkritik para penggiat anti madzhab ini dengan menyusun kitab: Raf’ul malam an a’immatil a’lam.

Beliau telah melucuti pihak-pihak yang telah berlaku kasar dan sombong terhadap para imam-imam madzhab, dan Beliau telah berhasil mengembalikan madzhab dan para pendirinya pada kedudukan yang seharusnya mereka terima.

Sejak dahulu hingga kini selalu ada golongan yang selalu menyerukan kembali kepada Al Quran dan As Sunnah. Seruan ini baik dan patut didukung, tetapi ternyata dibalik mulia seruan ini ada “azab” di dalamnya. Meminjam istilah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, “Kalimatul haq yuradu bihal baathil.” Kalimat yang benar untuk dimaksudkan pada hal yang batil.

Dibalik seruan ini mereka hendak mengubur dalam-dalam warisan pemikiran para imam kaum muslimin, dengan slogan “Cukup Al Quran dan As Sunnah,” dan lemparlah ke tong sampah pemikiran Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Inilah golongan Neo Zhahiriyah  yang selalu ada setiap zaman, mereka hendak memposisikan dirinya sebagai mujtahid yang setara dengan para imam tersebut bahkan melebihinya, sehingga mereka tidak butuh mengutip, menimbang, mengkaji, dan  menganalisa, dari istimbath para imam-imam ini. Bagi mereka, “Kami adalah laki-laki dan mereka juga laki-laki, kami juga bisa menggali langsung dari Al Quran dan As Sunnah!” Akhirnya, mereka justru terjebak pada keadaan yang mereka tidak benarkan sendiri, yakni mendirikan madzhab baru, “madzhab tanpa madzhab.”

Ini adalah sikap ekstrim yang tidak dibenarkan syariat, akal, dan adat manusia. Bagaimana pun, manusia yang hidup zaman ini tidak bisa lepas dari para pendahulunya. Ulama yang hidup masa modern juga tidak bisa melepas total dengan para ulama terdahulu (salaf). Sebab, para ulama masa lalu menyiapkan kaidah ilmu  dan tonggak-tonggak dalam memahami dasar-dasar agama adalah diperuntukkan anak dan cucu mereka seperti kita yang hidup masa kini. Saat ini kita sudah dimudahkan dengan rumusan berbagai kaidah dan ilmu yang mereka buat, itu adalah warisan yang sangat mahal, yang belum tentu kita mampu menciptakan seperti mereka. Namun, di mata orang yang picik,   para imam-imam ini dianggap pemecah belah agama, dan kita tidak boleh taklid kepada mereka. Wallahul Musta’an!

📌 Di sisi lain, ada pula golongan lain yang menjadi lawannya. Mereka bersikap ekstrim pula dalam mengkultuskan pendapat madzhab. Mereka begitu fanatik dengan pendapat madzhabnya dan mengingkari pendapat madzhab lain. Walaupun pendapat tersebut lemah. Akhirnya, mereka menjadi junudul madzhab (tentara-tentara madzhab) bukan junudullah (tentara-tentara Allah). Marahnya mereka karena madzhab, ridha pun karena madzhab. Pedang mereka siap terhunus dan taring mereka siap menerkam siapa-siapa saja yang mengkritik pendapat imam madzhabnya. Kuat lemahnya hujjah tidak lagi menjadi ukuran, tapi ukuran itu dilihat dari “Setiap orang  yang berbeda dengan madzhab kami maka dia sesat dan menempuh bukan jalan kaum beriman.”

Sikap ini juga tidak benar dan tercela, bahkan sama sekali bukan cerminan akhlak dari para imam madzhab, tidak Hanafi, tidak Maliki, tidak Syafi’i, dan tidak pula Hambali.

Para bintang dunia ini, tidak pernah mengajak orang lain untuk selalu mengkultuskan pendapatnya, salah dan benar harus diikuti.
 
Maka, sikap anti madzhab di satu sisi dan kultus madzhab di sisi lain, keduanya sama-sama keliru dan berbahaya. Bahkan para imam dan tokoh madzhab seperti Imam Abu Yusuf (Hanafi), Imam Al Ghazali (Syafi’i), Imam An Nawawi (syafi’i), Imam Ibnul ‘Arabi  (Maliki), Imam Ibnu Taimiyah (Hambali), mereka adalah sebaik-baiknya imam pengikut madzhab, tapi mereka terbuka dengan pihak lain, tidak fanatik, dan berjalan bersama dalil-dalil.

Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk menempuh jalan tengah, adil, dan seimbang:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

  “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan ..” (QS. Al Baqarah (2): 143)

  Ayat lain:

أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9)

  Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. Ar Rahman (55): 8-9)

  📌 Ada pun tentang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah, dia adalah seorang ulama hadits masa kini yang telah menghabiskan hampir semua umurnya untuk berkhidmat kepada sunah nabi. Telah banyak pengakuan dan penghargaan baginya, baik yang datang dari kawan dan lawan.

Telah ada kritikan baginya seperti yang dilakukan oleh Syaikh Hammud At Tuwaijiri Rahimahullah dalam beberapa masalah, padahal   secara garis pemikiran mereka berdua tidak berbeda.  Syaikh Al Qaradhawi pun –yang pernah memuji Syaikh Al Albani- pernah mengkritiknya dalam hal pengingkarannya terhadap zakat pertanian, dan banyak lagi dari para ulama lainnya, termasuk kritik dari Syaikh Said Ramadhan Al Buthi Rahimahullah.

Namun, saling kritik dalam dunia ilmu adalah hal yang biasa dan sudah terjadi sejak masa lalu. Dan, hal itu sama sekali tidak menjatuhkan nama dan kehormatan Syaikh Al Albani Rahimahullah dan ulama lainnya.

Dalam konteks gerakan anti madzhab, maka jalan yang ditempuh oleh Syaikh Al Albani tidaklah demikian. Bagi orang yang akrab dengan karya-karyanya, akan menyimpulkan bahwa metode beliau adalah madzhabnya Ahlul Hadits atau Ashhabul Hadits, itu pun tidak mutlak, sebab dalam berbagai pembahasan Beliau juga mengikuti pendapat para imam madzhab. Madzhab Ahlul Hadits ini pun sudah ada sejak masa lalu dan mesti tetap diberikan peluang dan ruang hidup sebagaimana lainnya. Bagi yang dekat dengan karya-karya para fuqaha, mereka akan sering mendapatkan informasi, “menurut Malikiyah begini, Hambali begitu, ada pun ahli hadits mereka begini …. .”

Sebagai misal dalam hal turun sujud, apakah lutut dahulu atau tangan dahulu? Saya akan kutipkan paparan Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah sebagai berikut:

 ذهب الجمهور إلى استحباب وضع الركبتين قبل اليدين، حكاه ابن المنذر عن عمر النخعي ومسلم بن يسار وسفيان الثوري وأحمد وإسحاق وأصحاب الرأي قال: وبه أقول، انتهى.
وحكاه أبو الطيب عن عامة الفقهاء.
وقال ابن القيم: وكان صلى الله عليه وسلم يضع ركبتيه قبل يديه ثم يديه بعدهما ثم جبهته وأنفه هذا هو الصحيح الذي رواه شريك عن عاصم بن كليب عن أبيه.
عن وائل بن حجر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه ولم يرو في فعله ما يخالف ذلك، انتهى.
وذهب مالك والاوزاعي وابن حزم إلى استحباب وضع اليدين قبل الركبتين، وهو رواية عن أحمد. قال الاوزاعي: أدركت الناس يضعون أيديهم قبل ركبهم. وقال ابن أبي داود: وهو قول أصحاب الحديث.
 
“Menurut madzhab jumhur ulama, disunahkan meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan. Demikian itu diceritakan Ibnul Mundzir dari Umar, An Nakha’i, Muslim bin Yasar, Sufyan Ats Tsauri , Ahmad, Ishaq dan ashabur ra’yi (pengikut Abu Hanifah). Dia berkata: “Aku juga berpendapat demikian.” Abu Thayyib menceritakan hal ini dari umumnya para fuqaha.

Ibnul Qayyim mengatakan: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan lututnya sebelum tangannya, kemudian tangannya, lalu diikuti dengan keningnya dan hidungnya. Inilah yang shahih yang diriwayatkan oleh Syarik dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika dia sujud dia meletakkan lututnya sebelum tangannya, dan jika dia akan bangkit, dia mengangkat tangannya sebelum lututnya. Dan tidak ada riwayat yang bertentangan dengan apa yang dilakukannya itu.” Selesai.

Sedangkan madzhab Imam Malik, Al Auza’i , dan Ibnu Hazm, menyunnahkan meletakkan tangan sebelum lutut, itu juga merupakan satu riwayat dari Ahmad. Berkata Al Auza’i: “Aku melihat manusia meletakkan tangan mereka sebelum lututnya.”

Berkata Ibnu Abi Daud: “Ini adalah PENDAPAT PARA AHLI HADITS.”   (Fiqhus Sunnah, 1/164. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Telah masyhur bahwa Syaikh Al Albani mengikuti pendapat ahli hadits dalam hal ini sebagaimana yang kita lihat dalam Shifat Shalat Nabi.

Contoh lain adalah dalam menyikapi penguasa yang zalim dan menyimpang. Para ulama berbeda pendapat antara yang memilih untuk bersabar saja sebagaimana pendapat Ahli Hadits, atau yang menurunkan pemimpin tersebut sebagaimana pendapat Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Mawardi, dan lainnya.

Jadi, madzhab ahli hadits sudah ada sejak lama. Bahkan tidak sedikit kitab yang secara khusus menempatkan pendapat para ahli hadits dalam bidang aqidah, seperti Al Intishar Li Ashhabil Hadits karya Imam Abu Muzhaffar As Sam’ani, lalu  I’tiqad Ahl As Sunnah Syarh Ashhab Al Hadits karya Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al Khamis.

Syaikh Al Albani juga sering menyandarkan pendapatnya pada pendapat imam madzhab. Ketika Beliau membahas “membaca Al fatihah bagi makmum” beliau memilih pendapat Imam Ahmad  dan Imam Malik, bahwa membaca Al Fatihah bagi Makmum adalah wajib ketika shalat sirr, namun tidak membacanya ketika shalat dijaharkan, tetapi mesti mendengarkan bacaan imam.

Dalam mengharamkan alat-alat musik (lihat kitab Tahrim Alat Ath Tharb) beliau mengikuti dan mengulang-ulang bahwa imam empat madzhab mengharamkan musik.

Kesimpulan, Syaikh Al Albani juga bermadzhab yakni madzhab Ahli Hadits, dan kadang Beliau mengikuti pendapat imam madzhab fiqih yang dipandangnya kuat dalilnya.

Pengingkaran beliau lakukan kepada orang yang fanatik madzhab, bukan kepada madzhabnya. Inilah yang bisa kita lihat jika langsung membaca karya-karyanya. Hanya saja,  Syaikh Al Albani kerap menggunakan pilihan kata yang pedas dan keras kepada orang-orang yang dikritiknya. Bisa kita lihat dalam muqadimah Tahrim Alat Ath Tharb, beliau begitu pedas dalam mengkritik tiga ulama sekaligus, yakni Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan Syaikh Al Qaradhawi, seakan tiga ulama ini benar-benar bodoh dihadapannya. Juga antara beliau dengan Syaikh Hammud At Tuwaijiri, yang keduanya sama-sama pedas dalam mengkritik, tapi dalam kehidupan nyata keduanya baik-baik saja.

Belum lagi kritikan beliau terhadap Syaikh Hasan As Saqqaf (pengarang kitab Tanaqudhat Al Albani – Kontradiksinya Al Albani), atau Syaikh Habiburrahman Al A’zhami, atau Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan masih banyak lainnya. Sehingga hampir-hampir  saja kita katakan bahwa mereka adalah ulama yang saling bermusuhan dan membenci satu sama lain.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

NABI HUD AS (Part 2)

Selasa, 24 Muharam 1438 H/25 Oktober 2016

Sirah

Ustadzah Yani

============================

KETIKA AZAB DITURUNKAN


Ketika kaum Nabi Hud masih dalam kekufuran, maka Allah menurunkan azab-NYA. Azab tersebut diawali dengan musim kering yang berkepanjangan, dan selama 3 tahun lamanya tak ada turun hujan.

Pada saat itu, masyarakat mengalami kondisi yang sangat genting, mereka memohon pertolongan Allah dengan kehormatan & kemuliaan Baitullah. Maka, diutuslah beberapa orang dari kaum ‘Ad pergi ke Baitullah dengan tujuan memohon pertolongan Allah agar diturunkan hujan. Saat tiba diperbatasan kota Makkah, mereka singgah di kediaman Muawiyah bin Bakr, dan tinggal sebulan lamanya. Mereka berpesta minum khamr dan dihibur biduanita yang disediakan oleh Muawiyah, mereka lupa dengan tujuan awal mereka. Lalu mereka tersadar, dan pergi menuju Masjidil Haram lalu berdo’a kepada Allah SWT,  memohon agar diturunjannya hujan pada kaumnya.

Kemudian Allah SWT menjadikan 3 macam awan, ada yang putih, merah, dan hitam. Lalu, ada seruan yang diarahkan ke mereka untuk memilih awan mana yg mereka inginkan. Dan merekapun memilih awan hitam dengan anggapan awan tersebut lebih banyak airnya. Lalu, Allah SWT menggiring awan tersebut diatas bangsa ‘Ad. Melihat awan tersebut kaum ‘Ad bergembira dan mengira permohonan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun.

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Namun, apa yang mereka kira akan turun hujan adalah salah. Awan yang mereka pilih adalah awan yang membawa angin yang membinasakan.

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (QS. Al-Qamar: 19)

Allah SWT menimpakan angin itu kepada kaum ‘Ad selama 7 malam dan 8 hari selama terus menerus. Dan mereka pun mati bergelimpangan bagaikan batang kurma yang lapuk.

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)

فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al-Haqqah: 8)

Kedahsyatan azab berupa angin kencang yang menimpa kaum ‘Ad selalu diingat Rasulullah SAW, apabila beliau melihat awan menggantung dilangit, raut muka beliau berubah dan beliau dengan gusar keluar masuk rumah. Wajah Rasulullah SAW kembali berseri seri apabila telah turun hujan.

Aisyah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah SAW apabila menyaksikan angin bertiup kencang, beliau berdoa,

اللهم إني أسألك خيرها وخيرما فيها وخيرما أرسلت به، وأعذبك من شرها وشرما فيها وشرما أرسلت به
(رواه مسلم، رقم ٨٩٩)

‘Allahumma innii as aluka khoirohaa wa khoiromaa fiiha wa khoiromaa arsilat bihi, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa fiihaa wa syarrimaa ursilat bihi.’ (HR. Muslim, no. 899)

“Ya Allah, sungguh aku mohon kepadaMU kebaikannya (angin tersebut) dan kebaikan yg ada didalamnya serta kebaikan yg ENGKAU kirim kepadanya. Dan aku berlindung kepadaMU dari keburukannya dan keburukan yg ada didalamnya serta keburukan yg ENGKAU kirim padanya.”

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Allahu ‘alam bishowab

Sumber : Kisah Para Nabi (Ibnu Katsir

Hidangan Allah – [at-Tahrim] (Bag. 1)

Selasa, 24 Muharram 1438H / 25 Oktober 2016

TADABUR AL- QURAN

Pemateri: DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

BILA TAK SEMUA BUNGA WANGI

Kehidupan rumah tangga merupakan sebuah biduk yang penuh pernik-pernik. Bahkan, sekalipun itu adalah sebuah keluarga Nabi. Surat at-Tahrim, yang sedang kita tadabburi bersama ini menjelaskan salah satu pernik keluarga yang dilalui oleh Rasulullah. Sekaligus menunjukkan bahwa Rasulullah sebagai tauladan semua manusia, khususnya umat Islam. Beliau adalah seorang manusia, bukan malaikat. Hal tersebut dimaksudkan agar siapapun bisa meniru sifat-sifat terpuji beliau yang telah diabadikan dalam al-Qur’an, _“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”_ *(QS. Al-Qalam: 4)*

Surat yang turun di Madinah ini menggambarkan sedikit masalah yang terjadi antara Rasulullah saw dan isteri-isterinya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah membawa Maria al-Qibthiyah ke rumah Hafshah, dan beristirahat di sana ketika Hafshah sedang tidak berada di rumahnya. Kemudian Hafshah menjumpai Rasulullah berada dalam rumahnya dengan Maria. Hafshah pun cemburu. Maka seketika itu pula Rasul pun mengharamkan Maria untuk diri beliau. Namun, riwayat ini lemah karena beberapa periwayatnya yaitu Abdullah bin Syabib seorang yang kurang kuat hafalannya. Dan Abu Said ar-Rib’iy seorang yang pandai tapi mudah lupa dan terlalu banyak bicara dan bercerita sehingga tercampur-campur riwayatnya. Sebagaimana ditegaskan Abu Ahmad al-Hakim dalam bukunya Mîzân al-`I’tidâl fi Naqdi ar-Rijâl (lihat vol. 4/118).

Adapun sebab turun ayat ini yang shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim juga Abu Dawud, Rasulullah dijumpai oleh Aisyah dan Hafshah sepulang dari rumah Zainab binti Jahsy dan mereka berdua menemukan tanda-tanda Rasulullah telah meminum madu dan jamuan yang istimewa di rumah Zaenab, mereka berdua pun cemburu. Untuk menyenangkan isteri-isterinya Rasul pun mengharamkan madu. Maka turunlah teguran Allah, _“Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”_ *(At-Tahrim: 1)*

Kemudian tatkala beliau menjelaskan sebuah rahasia tertentu kepada Hafshah. Lalu Hafshah memberitahukannya kepada Aisyah dan mereka berdua sibuk membicarakannya. Turunlah teguran Allah berikutnya, _“Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang Telah memberitahukan hal Ini kepadamu?” nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”_ *(At-Tahrim: 3-5)*

Adalah sebuah keistimewaan dan kebanggaan berada di dekat Rasulullah, berada di tengah-tengah kehidupan Rasulullah. Apalagi dengan status sebagai ahli baitnya. Menjadi orang pertama yang dekat dengan sumber turunnya hukum dari Allah. Namun, keistimewaan ini tak lantas membuat ahli bait Rasulullah kebal hukum dan bebas melakukan apa saja. Karena agama Islam, risalah yang dibawa Rasulullah tak mengenal kasta. Siapapun yang baik dihargai kebaikannya dan yang salah harus dihukum atau setidaknya ditegur.

Teguran pertama yang diperuntukkan Rasulullah adalah sebuah teguran yang tegas. Apakah demi menyenangkan para isteri, beliau bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. Sekaligus sebagai contoh untuk para umatnya, terutama dalam mengarungi kehidupan keluarga. Tak jarang demi menyenangkan hati isteri seorang suami melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Dalam ayat ini, Rasul tidaklah melakukan maksiat atau melanggar larangannya, tapi beliau menahan dari sesuatu yang dibolehkan. Itu saja sudah mendapat teguran. Apalagi jika seandainya yang dilakukan adalah maksiat. Maka yang perlu diambil pelajaran adalah penyikapan terhadap perilaku isteri yang kadang memiliki kecemburuan yang berlebihan, bahkan tak jarang sangat tidak beralasan. Penyelesaian yang baik bukanlah asal isteri senang. Namun, perlu diperhatikan apakah melanggar norma agama selain tentunya dicari akar permasalahan yang sesungguhnya. Dan kemudian dibicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin. Bahwa permasalahan cemburu juga tak jauh berbeda dengan permasalahan salah paham antara pasangan suami istri dalam berkomunikasi. Kecuali jika memang benar suami telah benar-benar melanggar hak-hak istri. Bukan sekedar praduga atau prasangka, karena kita diminta untuk menjauhi keduanya.

🔹Bersambung…🔹

MEMBANGUNKAN YG TIDUR PULAS SETELAH MASUK AZAN

Ustadz Menjawab
Selasa, 25 Oktober 2016
Ustadzah Dwi Hastuti Rakhmawati. S.Psi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
assalamualaikum…afwan izin bertanya…
kalau ada yang lagi tidur pulas lalu masuk azan sholat apakah kita wajib membangunkan ya? apa tidak? soal nya pernah ada yg bilang tdk usah di bangunkan… terimakasih  #A 42

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ada sebuah ayat yang bisa menguatkan untuk manusia berbuat baik yaitu :

 وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ   ؕ  وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Al-Baqarah: Ayat 110]

Membangunkan teman untuk melaksanakan kewajiban Muslim yaitu sholat adalah kebaikan. Khawatir pula jika tidak dibangunkan teman tersebut tidur sampai lewat waktu sholat.

Perlu juga diperhatikan cara-cara membangunkan teman. Bisa ditepuk pada tubuh bagian kanan dan mengucapkan salam didekat telinganya atau dengan suara yang cukup didengar.

Wallahu a’lam.

Ash-Shabr

Senin, 23 Muharam 1438 H/24 Oktober 2016

Akhlak

Ustadzah Trisa Yunita

============================

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syu’ara : 43)

Bersabar bukan saja sikap yg utama..namun, ia merupakan perintah Allah SWT.

Dan siapa saja yg mampu bersabar maka janji Allah SWT adalah akan dicukupkan pahalanya tanpa batas.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az -Zumar : 10).

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Saat Keluar Rumah

Senin, 23 Muharrom 1438H / 24 Oktober 2016

HADITS DAN FIQIH

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah keluar dari rumah kecuali beliau melihat ke langit seraya berdoa:

*”ALLAHUMMA A’UUDZU BIKA AN ADHILLA AW UDHALLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZHLIMA AW UZHLAMA AW AJHALA AW UJHALA ‘ALAYYA”*

 (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau dibodohi).”

—–

HR. Abu Daud No. 5094,  An Nasa’i No. 5486,  Al Hakim No.1907, beliau berkata: “Shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.”

Berkata Ath Thayyibi Rahimahullah:

فَاسْتُعِيذَ مِنْ هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا بِلَفْظٍ سَلِسٍ مُوجَزٍ وَرُوعِيَ الْمُطَابَقَةُ الْمَعْنَوِيَّةُ وَالْمُشَاكَلَةُ اللَّفْظِيَّةُ كَقَوْلِ الشَّاعِرِ

Maka hendaknya meminta perlindungan dari semua keadaan ini dengan kata-kata  yang ringan, ringkas, indah, yang begitu serasi antara makna dan bentuk katanya, seperti sya’ir.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 9/272

AMALAN-AMALAN HARI JUM’AT

Ustadz Menjawab
Senin, 24 Oktober 2016
Ustadzah Novria Flaherti

Assalamualaikum..minta tlg ditanyakan ustadz ttg sunah2 di hari Jum’at…yg hadistnya lbh sahih.Saya mau share dgn ibu2 tetangga..krn sebagian masih kaku bahwa majelis ta’lim malam Jum’at hrs diisi dgn pembacaan QS.Yassin. Bukan utk berdebat,sekedar sharing saja. Jazakillah!    # A 42

Jawaban
—————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Beberapa amalan Sunnah pada hari Jum’at

1. Mandi

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa.

Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” (HR. Bukhari)

3. Menghentikan Aktivitas Duniawi dan Menyegerakan ke Masjid.

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

4. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.”
(HR. Muslim)

5. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

6. Memperbanyak Shalawat.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat.”
(HR. Baihaqi)

Dari Aus Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:

“Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi.” (HR, “al-Khamsah)

# Memperbanyak do’a di hari Jum’at.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (HR Bukhari Muslim)

4. Memperbanyak berdzikir dan berdoa di hari Jumat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah…” (QS. AlJumu’ah: 9)

Allahu ‘Alam bisshowab

Tersenyumlah Wahai Saudaraku

Ahad, 22 Muharram 1438H / 23 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Senyumlah saudaraku…
Senyumlah dengan segenap jiwa kita..
Senyumlah dengan sepenuh hati kita…
Senyumlah dengan setulus batin kita..
Semoga Allah memberkahi senyum ikhlas kita itu

Nabi SAW tercinta telah bersabda…
Sedekah tidak harus dengan harta berlimpah…
Sedekah tidak mesti dalam bentuk barang yang jumlahnya meruah…
Senyuman ikhlas kan hadirkan suasana yang meriah…
Meski tak terhidang makanan yang mewah

“Tabasumuka fi wajhi akhuka shadaqah”
Senyuman terhadap saudaramu menjadi shadaqah

Masya Allah begitu indah Rasulullah mengajarkan kepada kita
Hidup terasa bahagia, kenyamanan pun tercipta

Dengan senyum wajah tercerahkan
Hati tak terkeruhkan
Kebersamaan pun kan semakin terhangatkan
Jiwa menyatu dalam sebuah ikatan

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”
(HR.Imam Muslim).

Terkadang merasa sangat menyayangkan bila hal yang mudah saja sangat sulit untuk kita lakukan.
Allah sudah menyiapkan jalan-jalan kemudahan untuk meraih pahala, sayangnya kita enggan segera mengambil kesempatan.

Kita mudah mengabaikan, melalaikan, serta memilih berperilaku dengan hal yang tak bermutu.
Terusik dengan kebahagiaan teman, tertekan dengan keberhasilan orang lain.
Padahal hal itu akan semakin mempuruk keadaan diri.

Rugilah rasanya bila kita terlelahkan oleh kesibukan mencari kesalahan bukan mengoreksi diri agar semakin nampak kemuliaan diri kita.
Masalah-masalah kita di akhirat kelak sangat berat, maka memperbaiki diri lebih utama dibanding mencari-cari kelemahan orang lain.

Waktu yang ada sangat efektif bila kita segera mau berkaca.
Untuk merapikan diri, untuk memperindah diri, untuk menghias diri dengan akhlak mulia.

Menjadi pribadi yang indah agar perjalanan menuju keabadian akan terasa lebih bermakna…

Fastabiqul khairat

AURAT WANITA

Ustadz Menjawab
Ahad, 23 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum..Izin bertanya ustadz..
Dalam hal merawat diri, bagaimana ketika wanita/pria ketika ber spa?

Terkhusus kepada istri, yg mau spa khusus di salon muslimah, ini seperti apa?jatuhkah larangan dikarenakan menampakkan aurat kepada orang lain??

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Spa pd prinsipnya tdk apa2, tp tetap menjaga aurat dr laki2 yg bukan mahram .., lalu bgmn dgn wanita lajn?

Wanita ada 2 aurat ..

1. Mughallazhah, berat, seperti dibawah leher, dada sampai lutut, ini hanya boleh dilihat oleh suami

2. Aurat mukhafafah, ringan, seperti sepanjang tangan, leher, betis, rambut, .. ini boleh terlihat oleh mahramnya (ortu, kakak, adik, paman, kakek, anak, keponakan), dan juga wanita muslimah lain ..

Lengkapnya kpd siapa aja boleh terlihat, baca ayat ini ya .

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, *atau wanita-wanita islam,* atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Ada pun kpd laki2 yg bukan mahram (ipar dan sepupu termasuk bukan mahram), tidak boleh menampakkan semua jenis aurat tsb.
Wallahu a’lam

Anak SMA Mencium Tangan Guru, Bolehkah?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
22 Oktober 2016
=====================

Assalamualaikum. Ka, ana mau bertanya. Apa hukumnya bila seorang anak SMA mencium tangan gurunya yg berlawanan jenis? Kemudian berdosakah seorang akhwat yang dibonceng seorang ikhwan, bila ikhwan tersebut hanya berniat ingin mengantarnya saja? Mohon penjelasannya

Jawaban
========

Berboncengan dengan teman laki-laki.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR. Ahmad)

Saat ini, kita sering sekali baik itu tukang ojek, tetangga, teman kerja atau teman sekolah, kuliah dll.

Hadits Shahih Bukhari; dan hadits Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

“Dari Asma bin Abu Bakar…Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu, Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan “ikh … ikh”) agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan :

Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:

1. Adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin.

2. Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi, kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.

3. Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. Karena Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.

Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya diikuti ummatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri Abu Bakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka, hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat.

Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:

1. Tidak terjadi persinggungan badan.

Jika dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.

Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.

2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi).

Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.

3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat.

Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kita, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.

Boncengan dengan teman laki2 sebaiknya dihindari.