Tersenyumlah Wahai Saudaraku

Ahad, 22 Muharram 1438H / 23 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Senyumlah saudaraku…
Senyumlah dengan segenap jiwa kita..
Senyumlah dengan sepenuh hati kita…
Senyumlah dengan setulus batin kita..
Semoga Allah memberkahi senyum ikhlas kita itu

Nabi SAW tercinta telah bersabda…
Sedekah tidak harus dengan harta berlimpah…
Sedekah tidak mesti dalam bentuk barang yang jumlahnya meruah…
Senyuman ikhlas kan hadirkan suasana yang meriah…
Meski tak terhidang makanan yang mewah

“Tabasumuka fi wajhi akhuka shadaqah”
Senyuman terhadap saudaramu menjadi shadaqah

Masya Allah begitu indah Rasulullah mengajarkan kepada kita
Hidup terasa bahagia, kenyamanan pun tercipta

Dengan senyum wajah tercerahkan
Hati tak terkeruhkan
Kebersamaan pun kan semakin terhangatkan
Jiwa menyatu dalam sebuah ikatan

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”
(HR.Imam Muslim).

Terkadang merasa sangat menyayangkan bila hal yang mudah saja sangat sulit untuk kita lakukan.
Allah sudah menyiapkan jalan-jalan kemudahan untuk meraih pahala, sayangnya kita enggan segera mengambil kesempatan.

Kita mudah mengabaikan, melalaikan, serta memilih berperilaku dengan hal yang tak bermutu.
Terusik dengan kebahagiaan teman, tertekan dengan keberhasilan orang lain.
Padahal hal itu akan semakin mempuruk keadaan diri.

Rugilah rasanya bila kita terlelahkan oleh kesibukan mencari kesalahan bukan mengoreksi diri agar semakin nampak kemuliaan diri kita.
Masalah-masalah kita di akhirat kelak sangat berat, maka memperbaiki diri lebih utama dibanding mencari-cari kelemahan orang lain.

Waktu yang ada sangat efektif bila kita segera mau berkaca.
Untuk merapikan diri, untuk memperindah diri, untuk menghias diri dengan akhlak mulia.

Menjadi pribadi yang indah agar perjalanan menuju keabadian akan terasa lebih bermakna…

Fastabiqul khairat

AURAT WANITA

Ustadz Menjawab
Ahad, 23 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum..Izin bertanya ustadz..
Dalam hal merawat diri, bagaimana ketika wanita/pria ketika ber spa?

Terkhusus kepada istri, yg mau spa khusus di salon muslimah, ini seperti apa?jatuhkah larangan dikarenakan menampakkan aurat kepada orang lain??

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Spa pd prinsipnya tdk apa2, tp tetap menjaga aurat dr laki2 yg bukan mahram .., lalu bgmn dgn wanita lajn?

Wanita ada 2 aurat ..

1. Mughallazhah, berat, seperti dibawah leher, dada sampai lutut, ini hanya boleh dilihat oleh suami

2. Aurat mukhafafah, ringan, seperti sepanjang tangan, leher, betis, rambut, .. ini boleh terlihat oleh mahramnya (ortu, kakak, adik, paman, kakek, anak, keponakan), dan juga wanita muslimah lain ..

Lengkapnya kpd siapa aja boleh terlihat, baca ayat ini ya .

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, *atau wanita-wanita islam,* atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Ada pun kpd laki2 yg bukan mahram (ipar dan sepupu termasuk bukan mahram), tidak boleh menampakkan semua jenis aurat tsb.
Wallahu a’lam

Anak SMA Mencium Tangan Guru, Bolehkah?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
22 Oktober 2016
=====================

Assalamualaikum. Ka, ana mau bertanya. Apa hukumnya bila seorang anak SMA mencium tangan gurunya yg berlawanan jenis? Kemudian berdosakah seorang akhwat yang dibonceng seorang ikhwan, bila ikhwan tersebut hanya berniat ingin mengantarnya saja? Mohon penjelasannya

Jawaban
========

Berboncengan dengan teman laki-laki.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR. Ahmad)

Saat ini, kita sering sekali baik itu tukang ojek, tetangga, teman kerja atau teman sekolah, kuliah dll.

Hadits Shahih Bukhari; dan hadits Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

“Dari Asma bin Abu Bakar…Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu, Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan “ikh … ikh”) agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan :

Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:

1. Adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin.

2. Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi, kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.

3. Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. Karena Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.

Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya diikuti ummatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri Abu Bakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka, hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat.

Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:

1. Tidak terjadi persinggungan badan.

Jika dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.

Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.

2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi).

Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.

3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat.

Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kita, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.

Boncengan dengan teman laki2 sebaiknya dihindari.

Kisah Istri Nabi Nuh AS

Sabtu, 21 Muharram 1438 H / 22 Oktober 2016

KELUARGA

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Kisah istri Nabi Nuh AS ini diabadikan Allah di surat At-Tahrim ayat 10 :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النار مع الداخلين

At Tahrim Ayat 10-12

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

Pagi bersinar cerah dengan cahaya mentari memancar tajam menerangi penjuru bumi dengan sinarnya yang tajam. Seluruh makhluk bertasbih kepada Allah Robb Sang Pemilik Mentari.

Pagi itu…nabi Nuh AS keluar rumah untuk berdakwah menyeru manusia agar menyembah Allah SWT.
Pagi itu juga, istri nabi Nuh beranjak dari peraduan. Ia bersolek, memakai pakaian terbaik, menggunakan perhiasan simpanannya dan bergegas menemui karib kerabatnya. Hari ini hari raya besar….pesta akan dilaksanakan di tempat penyembahan berhala Wadda, Suwa’, Yaghuts, Ya’uuq, dan Nasra. Mereka bergegas dengan membawa berbagai sesajen dari makanan yg beragam, bunga2 yg bermacam, serta wewangian yg menjadi persembahan bagi para berhala.

Dalam perjalanan pulang dari perayaan besar itu, istri nabi Nuh bertemu dengan putranya Kan’an yang menceritakan dakwah yang dilakukan sang ayah. Seraya terbahak si anak berkata : “
Ayah menginginkan agar tuhan-tuhan itu dijadikan hanya satu saja.”

Si ibu berkata : “Biarlah dia bersama mereka. Mereka akan menjadikannya pahlawan pembawa petunjuk.”

Si anak berkata lagi : “Bayangkan ibu! Ayah menyeru manusia seperti kebiasaannya dan mereka berkumpul disekelilingnya dan ayah mulai meracuni mereka dengan kata-kata ajaibnya.”
Si ibu berkata: “Aku hafal betul apa yang dia katakan ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.'(QS Nuh :2-3)”.

Ia mengucapkannya dengan penuh amarah. Baginya…apa yang dilakukan suaminya adalah perbuatan yang hina dan memalukan. Mencoreng nama baik dan kedudukannya di tengah kaum kerabatnya.
Si anak bertanya:”Bagaimana engkau hafal dengan apa yang disampaikan ayah itu wahai ibu?”.
Si ibu menjawab: “Karena setiap waktu siang dan malam, pagi dan sore, kalimat itulah yang disampaikan ayahmu kepada setiap orang.” Ia melanjutkan : “Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya saat ia pulang nanti.”
Beberapa saat kemudian nabi Nuh AS memasuki rumahnya. Dan saat itu juga, si istri memberondongnya dengan kata2 penuh caci maki dan amarah. Nabi Nuh AS berkata:”Takutlah engkau kepada Allah dan tinggalkanlah menyembah berhala. Jangan engkau pelihara anakmu dalam kesesatan.”

“Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS Huud:36-37)…..

Inilah perintah Allah SWT kepada nabi Nuh AS. Allah memerintahkan kepada beliau untuk membuat bahtera. Dengan keta’atan nabi Nuh AS melaksanakan perintah Robb-nya.

Dan lihatlah apa yg dilakukan istri serta kaumnya. Setiap kali mereka lewat di tempat nabi Nuh membuat bahtera, si istri tertawa dengan penuh ejekan dan mengatakan :”Rupanya kau telah alih profesi. Apakah engkau telah meninggalkan ibadah kepada Tuhanmu dan beralih menjadi tukang kayu?”. Ejekan itu terus dikatakan istrinya setiap hari. Hingga ketika bahtera itu sudah sempurna, nabi Nuh AS mengajak orang2 yang beriman untuk pergi menaiki bahtera dengan membawa keluarga bahkan binatang ternak miliknya.

Dan inilah istri nabi Nuh yang tak henti mengolok-olok. “Apakah engkau membawa binatang ternak yang beriman kepadamu dan meninggalkan yang lain karena tidak beriman kepadamu?”. Nabi Nuh AS menjawab:”Ini adalah perintah Allah.”

Pagi itu….saat seharusnya mentari bersinar terang, Allah taqdirkan air bah melimpah ruah keluar dari semua sumbernya dan hujan deras tak terhingga menyertai kepergian nabi Nuh AS meninggalkan kaumnya tanpa disertai istri dan anaknya. Angin topan bertiup kencang memporak porandakan apa yang ada dipermukaan bumi. Nabi Nuh AS masih berharap anaknya bisa ikut bersamanya. Dari atas bahtera yang kokoh, nabi Nuh berseru: “Ayo….pergilah bersama kami!”. Namun si anak menjawab: “Aku bersama ibu akan pergi ke puncak gunung.” Maka sirnalah harapan itu. Harapan untuk pergi dengan selamat bersama orang terdekat anak dan istri…

*Hikmah kehidupan :*

1⃣ Ada model pasangan suami istri yang sikapnya kepada Allah SWT begitu kontras. Suami sangat soleh dan istri sebaliknya. Membangkang aturan2 Allah.

2⃣ Dalam kondisi taqdir seperti ini, sikap istri tidak harus menjadikan suami berhenti berdakwah. Ia tetap berdakwah dengan terus mengupayakan perubahan sikap istrinya.

3⃣ Peran ibu dalam memelihara & menumbuhkan hidayah dalam diri seorang anak sangat penting. Jangan serahkan urusan memelihara hidayah kepada guru ngaji. Tetapi ibulah yang menghandle urusan ini.

4⃣ Ujian dalam keluarga seorang da’i terkadang lebih berat daripada ujian yang datang dari luar.

5⃣ Khianat terbesar seorang istri adalah khianat dalam aqidah dan dakwah.

6⃣ Diantara karakter istri tolihah (kebalikan solihah) adalah sering mengejek/mengolok2/memandang rendah pekerjaan dan kondisi suami.

7⃣ Hidayah tidak mengenal nasab dan ikatan keluarga. Bahkan ia bisa begitu jauh dari orang2 terdekat seorang da’i. Maka mintalah kepada Allah dan berdo’alah agar hidayah selalu bersemai dihati kita, keluarga kita, orang2 dekat kita dan orang2 yg kita cintai

اللهم نور قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنور شمسك ابدا ابدا يا ارحم الراحمين
“Ya Allah…terangilah hati kami dengan cahaya hidayahMu sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahai yg tidak pernah padam…selamanya…. selamanya…wahai yang Maha Penyayang..”

Wallohu a’lam bis showwab

HUKUMNYA HAMIL SEBELUM MENIKAH

Ustadz Menjawab
Sabtu, 22 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Apabila seorang laki2 dan wanita berbuat zina di sebelum menikah , tetapi pada akhirnya kedua’nya menikah apa hukumnya??
Apakah dosa itu dihapus / bagaimana??

Terimakasih.

saya tambah pertanyaannya,  kemudian lahir anaknya padahal waktu menikah itu si wanita sdg hamil, apakah sudah lahir anaknya, mereka menikah lagi?
Syukron… #A41

JAWABAN
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain.”

Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).

Abu Hanifah membolehkan akad sebelum  istibra’ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh  jima’ (hubungan badan) dulu  sampai dia melahirkan.

Asy Syafi’i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafi’i.

Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.”

# Nikahnya Wanita Hamil Harus dirinci sebagai berikut:
1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?
Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena ‘iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?
Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafi’i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.
Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah.
Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian.
Wallahu A’lam

Empati (Part 2)

Jum’at, 20 Muharam 1438 H/21 Oktober 2016

Pengembangan Diri & Motivasi

Ustadzah Dina & Bunda Wiwit

============================

Assalaamu’alaikum Sobat!!

Ketemu lagi dengan sesi materi psikologi, semoga tidak bosan dan tetap semangat yaa!

Masih inget dengan materi jum’at lalu? Nah, kita mau lanjut lagi ya, supaya bisa tambah banyak info dan lebih faham lagi, OK.

® Review dikit yaa. Empati yaitu ; kamu menempatkan diri di posisi orang lain dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

® Masih inget jenis empati? Ada empati kognitif dan empati emosional.. Nah, kira-kira contohnya apa ya?

® Contoh empati kognitif : misal, kamu melihat temanmu sering makan di restoran. Alih-alih berpikir bahwa ia sombong dan buang-buang uang, kamu bisa memahami cara berfikirnya bahwa makan di restoran lebih praktis dan mudah baginya.

® Contoh empati emosional: kamu melihat temanmu menangis karena uangnya hilang, kamu bisa memahami perasaan sedih yang dialaminya sehingga kamu bisa memakluminya.

® Mengapa harus empati???

© Remaja yang mampu ber-empati, cenderung lebih sukses karena dapat memahami dan merasakan tujuan utama dari suatu proses pendidikan/pembelajaran.

© Remaja yang kurang memiliki kemampuan empati, cenderung fokus hanya pada dirinya dan kurang peduli dengan keadaan orang lain, bahkan ironisnya, seringkali ia juga kurang mampu bersikap peduli pada dirinya sendiri.

® Gimana caranya supaya bisa jadi orang yang empati??

1. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang orang lain.

2. Cobalah untuk ikut merasakan emosi yang dialami oleh orang lain.

3. Cobalah untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.

4. Cobalah untuk cepat menangkap isi perasaan dan fikiran orang lain (understanding others).

5. Berikan masukan positif yang membangun kepada orang lain (developing others).

6. Ambillah manfaat dari perbedaan, bukan mempermasalahkan perbedaan (leveraging diversity).

7. Memahami adab/etika dalam pergaulan.

® CARA Efektif Menumbuhkan Empati:

© Berinteraksi
© Mendengar
© Menghayati oranglain

Nah, semoga dengan penjelasan tersebut, kamu bisa lebih faham dan termotivasi untuk mengembangkan kemampuanmu dalam ber-empati, OK.

See you next time..

Dengerin Musik Di Kamar Mandi, Boleh?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
20 Oktober 2016
=====================

Saya mau tanya mengenai mendengarkan musik itu hukumnya apa? Saya jadi ingin nanya juga..
Kalau di kamar mandi bolehkah mendengar musik? Tapi tidak bernyanyi..
#MFT 02

Jawaban
========

Berdasarkan hadist diatas, barangsiapa yang mendengarkan nyanyian baik ada musik ataun tanpa musik dalam rangka bermaksiat kepada Allah niscaya ia tergolong fasik. Namun, barangsiapa berniat sekedar menghibur dirinya agar mengokohkan jiwanya untuk semakin taat kepada Allah dan menggairahkan hatinya untuk berbuat kebaikan maka perbuatannya itu adalah benar. Akan tetapi, orang yang tidak berniat untuk taat ataupun bermaksiat maka ia melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan ulama memfatwakan bahwa nyanyian diiringi musik atau tanpa musik adalah haram, berdasarkan firman Allah SWT :

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ  وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًا   ؕ  اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Berdasarkan Hadist dari Aisyah r.a., ia berkata bahwa Abu Bakar r.a., masuk ke rumahnya pada suatu hari Mina (Hari Raya Idul Adha), sedang saat itu disampingnya ada dua gadis yang tengah bernyanyi dan memukul rebana, sementara Nabi SAW berada disitu dengan menutupi wajahnya denga pakaiannya. Serta merta Abu Bakar mengusir kedua gadis itu. Mendengar itu Nabi SAW membuka tutup wajahnya dan berkata, “biarkan mereka wahai Abu Bakar, saat ini adalah hariraya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa hadist tentang dua gadis tersebut menunjukkan bahwa nyanyian itu tidak haram. Beberapa hal yang dapat ditolerir adalah nyayian dan menabuh rebana adalah hiburan disaat hari raya, yakni waktunya bersenang-senang.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait nyanyian dengan musik atau tanpa musik:

1. Tema nyanyian tidak berlawanan dengan etika dan ajaran islam.

2. Walaupum tema nyanyian tidak bertentangan dengan ajaran islam, akan tetapi cara menyanyikannya menyebabkan ia bergeser dari halal ke haram maka mendengarkannya adalah haram. Misalnya, dengan cara berlenggak lenggok.

3. Tidak berlebih-lebihan, dengan artian tidak menghabiskan waktu.

4. Jika nyanyian dapat membangkitkan nafsu untuk melakukan maksiat maka mendengarkan nyanyian/musik adalah haram.

5. Ulama sepakat bahwa nyanyian yang diiringi dengan hal-hal yang haram maka hukumnya menjadi haram pula.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Sungguh akan ada sekelompok orang dari ummatku yang meminum khamar, mereka menamainya dengan nama lain, lalu diiringi dengan musik2 dan para biduan wanita. Allah bakal meneggelamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan mereka kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah).

Beda Hamba dan Umat

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
20 Oktober 2016
=====================
Assalamu’alaikum kak, aku boleh tanya ? “Apasih kak bedanya hamba sama Ummat?”
#MFT 09

Jawaban
========

Hamba berasal dr kata ‘abid. Yang berarti mengabdi (beribadah) kepada yang menciptakan/Tuhan/Rabb, sedangkan Ibadah berarti menaati perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya

Hubungan manusia dengan Allah SWT bagaikan hubungan seorang hamba dengan tuannya. Si hamba harus senantiasa patuh, tunduk, dan taat atas segala perintah tuannya. Demikianlah, karena posisinya sebagai ‘abid/hamba.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
 
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ    ۙ  حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ  

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْن
ِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)

Ibadah berakar kata ‘abada yang artinya mengabdikan diri/ menghambakan diri. Ibadah dalam artian segala aktivitas penyembahan kepada sang Pencipta.

Ibadah juga berarti adalah melaksanakan segala aspek kehidupan sesui dgn nilai2 yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta/Tuhan/Rabb/Allah SWT dan semua perbuatan baik yang mendatangkan manfaat bagi diri dan orang lain adalah ibadah atau amal saleh.

Ummat/ummah berarti: “masyarakat” atau “bangsa”. Kata tersebut berasal dari kata amma-yaummu, yang dapat berarti: “menuju”, “menumpu”, atau “meneladani”. Dari akar kata yang sama, terbentuk pula kata: um yang berarti “ibu”, dan imam yang berarti “pemimpin”.

Misalnya, Ummat Islam bermakna masyarakat atau bangsa yang beragama Islam. Ummat Muhammad berarti masyarakat yang mempunyai pemimpin atau meneladani Muhammad.

Jadi, perbedaan hamba dan ummat terletak pada hubungan dengan Tuhan dan Manusia.

WallahuA’alam

Sujud Syukur

Kamis, 19 Muharam 1438 H/20 Oktober 2016

Ibadah

Ustadzah Ida Faridah

============================

Hukum Sujud Syukur

Seseorang hendaknya senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, kapan pun, dalam kondisi apapun, seseorang diwajibkan untuk terus mensyukuri nikmat Allah. Sebab apapun yang diberikan Allah SWT kepada kita, itulah yang terbaik buat kita. Allah Maha Tahu, kita wajib ridha dengan takdir Allah, meskipun takdir tersebut tidak kita sukai. Kita harus yakin Allah tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Sementara itu, hukum bersyukur dengan cara melakukan sujud syukur adalah sunah.

Hadist Rasulullah SAW:

عن ابي بكرة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان اذا أتاه أمر يسره أو بشر به خر ساجدا شكرا لله تعالى.

“Dari Abu Bakarah, sesungguhnya Nabi SAW apabila mendapat sesuatu yang menyenangkan atau diberi khabar gembira segeralah beliau tunduk sujud sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Turmudzi yang menganggapnya sebagai hadist hasan)

Dalam hadist lain dijelaskan sebagai berikut :

عن عبد الرحمن بن عوف، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إني لقيت جبرائيل عليه السلام فبشرني وقال: أن ربك، يقول : من صلى عليك صليت عليه، ومن سلم عليك سلمت عليه، فسجدت لله شكرا

Dari Abdurrahman bin ‘Auf, bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa Sallam pernah bersabda : “Aku bertemu dengan Jibril ‘Alaihis-salam, lalu ia memberikan kabar gembira kepadaku dengan berkata: ‘Sesungguhnya Rabbmu telah berfirman: Barang siapa yang mengucapkan shalawat kepadamu, maka aku akan mengucapkan shalawat kepadanya. Barang siapa yang mengucapkan salam kepadamu, maka aku akan mengucapkan salam kepadanya; (mendengar hal itu), aku pun bersujud kepada Allah bersyukur kepada-Nya.'”(HR. Baihaqi dan Hakim)

Bersambung…

Perbuatan dan Keyakinan Yang Membuat Pelakunya menjadi kafir dari Islam

Jumat, 20 Muharram 1438H / 21 Oktober 2016

AQIDAH

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Berikut ini tertera dalam kitab Minhajul Muslim, karya Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazairi Rahimahullah:

1. Siapa pun  yang memaki Allah ﷻ, atau seorang Rasul dari rasul-rasulN, atau malaikat-malaikatNya ‘Alaihimussalam, maka dia kafir.

2. Siapa pun yang mengingkari rububiyah Allah ﷻ, atau risalahnya seorang Rasul, atau menyangka bahwa adanya seorang nabi setelah penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad ﷺ, maka dia kafir.

3. Siapa pun yang mengingkari sebuah kewajiban diantara kewajiban-kewajiban syariat yang telah disepakati, seperti shalat atau zakat atau shaum atau haji atau berbakti kepada kedua orang tua atau jihad misalnya, maka dia kafir.

4. Siapa pun yang membolehkan hal-hal yang telah disepakati keharamannya, dan termasuk perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama, seperti zina, atau meminum khamr, atau mencuri, atau membunuh, atau sihir misalnya, maka dia kafir.

5. Siapa pun yang mengingkari satu surat saja dalam Al Quran, atau satu ayat, atau satu huruf saja, maka dia kafir.

6. Siapa pun yang mengingkari satu sifat saja di antara sifat-sifat Allah ﷻ, seperti Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengasih, maka dia kafir.

7. Siapa pun yang terang-terangan meremehkan ajaran agama baik pada kewajibannya, stau sunah-sunahnya, atau mengejeknya, atau melecehkannya, atau melempar mushaf ke tempat kotor, atau menginjaknya dengan kaki, menghina dan melecehkannya, maka dia kafir.

8. Siapa pun yang meyakini tidak ada hari kebangkitan, tidak ada siksaan, dan tidak ada kenikmatan pada hari kiamat nanti, atau menganggap azab dan nikmat itu hanyalah bermakna maknawi (tidak sebenarnya), maka dia kafir.

9. Siapa pun yang menyangka bahwa para wali lebih utama dibanding para nabi, atau menyangka bahwa ibadah telah gugur bagi para wali, maka dia telah kafir.

Semua hal ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) umumnya kaum muslimin, setelah firman Allah Ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.”
 (QS. At Taubah: 65-66)

Maka, ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang yang terang-terangan mengolok-olok Allah, atau sifat-sifatNya, atau syariatNya, atau RasulNya, maka dia kafir.

Maroji:
Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al Jazairi, Minhajul Muslim, Hal. 378-379. Cet. 4. 1433H-2012M. Maktabah Al ‘Ulum wal Hikam. Madinah