Wudhu Pakai Air Hangat, Bolehkah?

Senin, 30 Muharram 1438H / 31 Oktober 2016

FIKIH DAN HADITS

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Sebagian ulama ada yang memakruhkan berudhu dengan air hangat, berdasarkan hadits-hadits larangan berwudhu dengan air musyammas (air hangat karena panas matahari).

Dari Muhammad bin Al Fath, dari Muhammad bin Al Husein Al Bazaz, dari Amru bin Muhammad Al A’syam, dari Falih, dari Az Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يتوضأ بالماء المشمس أو يغتسل به وقال إنه يورث البرص

Rasulullah ﷺ melarang berwudhu atau mandi dengan air hangat karena terik matahari. Beliau mengatakan: itu dapat menyebabkan kusta. (HR. Ad Daruquthni, 1/38)

Hadits ini dhaif. Berkata Ad Daruqthni:
“Amru bin Muhammad Al A’syam itu munkar haditsnya, tidak ada yang meriwayatkan dari Falih kecuali dirinya. Dan tidak shahih dari Az Zuhri.”  (Ibid)

Sehingga lemahnya hadits ini tidak cukup baginya untuk dijadikan acuan utama.
Jadi, wajar jika umumnya ulama membolehkannya untuk beruwdhu, baik hangat karena matahari atau direbus baik dengan api unggun atau listri.

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

ولا أكره الماء المشمس إلا أن يكره من جهة الطب

Aku tidak memakruhkan air musyammas (air hangat karena terik matahari), melainkan makruhnya itu dari sisi kedokteran saja.
(Ma’rifatus Sunan,23/507)

Imam Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan:

واعلم أن استعمال الماء المشمس مكروه على الأصح من مذهب الشافعي والمختار عند متأخري أصحابه عدم كراهيته وهو مذهب الأئمة الثلاثة والماء المسخن غير مكروه بالإتفاق

Ketahuilah, bahwa menggunakan air musyammas itu makruh menurut yang shahih dari madzhab Syafi’i, namun yang dipilih oleh Syafi’iyah generasi belakangan adalah tidak makruh, dan itulah pendapat para imam yang tiga (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad). Ada pun air rebusan TIDAKLAH MAKRUH menurut kesepakatan ulama. (Mirqah Al Mafatih, 2/422)

Sedangkan bertayamum karena air sangat dingin, dan dengan itu dia khawatir atas kesehatan dirinya,  juga tidak apa-apa. Syaikh Abu Bakar Al Jazairi Rahimahullah mengatakan:

Jika air sangat dingin dan tidak api yang bisa memanaskannya, dan dia yakin bisa sakit jika menggunakan air dingin tersebut, maka dia bisa bertayamum dan shalat dengannya, itu tidak apa-apa. Sebab Abu Daud meriwayatkan dengan sanadyang jayyid, bahwa Nabi ﷺ menyetujui Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu  melakukan itu. ( Minhajul Muslim, Hal. 141, Cat kaki No. 4. Maktabah Al ‘Ulum wa Hikam. Madinah)

Wallahu A’lam

Sungguh Kematiaan Adalah Muara Bagi manusia

Ahad, 29 Muharram 1438H / 30 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Sejenak kita ingat Quran surat Al Anbiya ayat 1,
“Telah dekat kepada manusia harmanusiahisab segala amalan mereka, sedang mereka berda dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).”

Begitu juga dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada menuais terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: ‘Ya Tuhan kami tangguhkan kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Tersentak diri tanpa sadar sudah di ujung usia. Sang malakul maut pun menghampiri diri yang lemah ini. Tak kuasa menolak ketetapan Nya. Semua akan kita tinggalkan dan hanya amal sebagai bekalan. Tak sia-siakan kesempatan kala nyawa masih dikandung badan.

Bergegas untuk memperbanyak amalan. Yang mati tak bisa dihidupkan dan yang hidup tinggal menunggu kepastian kapan saat itu tiba.

Kematian awal sebuah perjalanan yang panjang. Kubur sebagai pertanda pindahnya fase dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Lantas seperti apa kubur kita? Apa ia kan menjadi taman surga yang indah lagi mempesona atau menjadi jurang neraka yang kelam lagi mengerikan?

Amal kita lah yang akan menentukan seperti apa kubur kita kelak.
Bila menjadi taman surga kebahagiaan bisa dirasakan sembari menunggu hari kiamat tiba. Waktu berlalu tanpa dirasa, hingga sangkakala dibunyikan.

Namun, jika neraka yang dihadirkan di kubur kita, seolah lama sekali menunggu tiba berakhirnya.

Masya Allah….
Bila mengingat dahsyatnya peristiwa kematian, diri tersadar tak ingin lagi hidup dalam kesia-siaan.

Namun terkadang diri terjatuh dalam ketergodaan. Dan tugas kita bersegera bangkit untuk selalu melakukan perbaikan. Berharap Allah kan beri ampunan dan saat ajal menjelang semua dosa kan termaafkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar,”Kami bersepuluh datang kepada Rasululla SAW, ketika seorang anshar berdiri dan bertanya:”Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?”

Maka Rasulullah SAW menjawab, ”Mereka adalah yang sering mengingat kematian. Merekalah orang-orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majjah).

Memperbanyak mengingat kematian akan mendatangkan kemuliaan. Merasa takut akan azab Nya saja mampu menghapus diri dari dosa. Bahkan para sahabat Rasulullah sampai membuat liang lahat di dalam rumahnya untuk mengingatkan diri sendiri.

Kala iman melemah mereka masuk ke liang lahat dan menutupnya rapat-rapat untuk bermuhasabah. Menyadari khilaf dan alpa supaya bersemangat mengumpulkan pahala.

Allahu Akbar.
Kematian sebuah kisah kepastian yang kita tak mampu merubah skenario Nya. Air mata, duka nestapa, ratapan sanak saudara tak mampu hentikan alur cerita yang sudah ditetapkan oleh Nya. Selagi nafas masih ada, tetaplah bertahan di jalan kebenaran. Untuk menangkap peluang berbuat kebajikan serta menebar kebaikan. Agar tak menyesal kala waktu habis tak tersisa lagi untuk kita.

Hidup di dunia diibaratkan kita sedang bercocok tanam di ladang, dan kelak hasil dari cocok tanam tersebut akan kita tuai pada kehidupan setelah mati, yakni kehidupan di akhirat.

Hidup di dunia hanya senda gurau, permainan yang tak lebih hanya sebagai terminal kehidupan menuju sebuah hidup yang lebih kekal dan hakiki.

Adanya kehidupan setelah mati merupakan hal yang wajib dipercaya oleh mereka yang memiliki agama. Segala bentuk tindakan yang pernah kita lakukan selama di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Inilah yang menyebabkan kita tak boleh begitu larut dengan indahnya kehidupan dunia. Sebab akan ada proses hitung-hitungan yang akan kita jalani kelak di hadapan Tuhan.

Jika kita buruk selama di dunia niscaya Tuhan akan memberi balasan yang setimpal dengan keburukan kita.
Sebaliknya jika kita baik, maka Tuhan akan memberi balasan berupa keindahan surga yang sangat dinanti-nanti oleh manusia. Inilah makna kehidupan yang sebenarnya.

Indahnya gemerlap kehidupan di dunia sering membuat manusia lupa dengan hakikat dan makna kehidupan. Manusia merasa seolah mereka akan hidup selamanya di dunia. Mereka lupa bahwa akan ada kehidupan sejati yang akan dilalui. Segala bentuk ketidakadilan yang dialami manusia selama di dunia akan diadili di akhirat kelak.

Di sanalah pengadilan yang tak akan pernah sedikit pun menzalimi para peserta pengadilan tersebut.

Manusia penting mengingat mati, sebab itu akan mendorong dirinya cerdas dalam mengahadapi segala hal kehidupan di dunia. Ia tak akan tertipu dengan kemewahan dunia.

Bahkan dikatakan bahwa orang yang paling pintar adalah orang yang selalu rajin mengingat kematian atau disebut dengan zikrul maut.

Sebab kematian adalah sesuatu yang rahasia, hanya Allah yang tahu kapan seorang hamba akan ia panggil kembali.

Wallahu A’lam

Seri Memahami Diri

Jum’at, 27 Muharam 1438 H/28 Oktober 2016

Pengembangan Diri & Motivasi

Bunda Heni & Tim

============================

Memelihara tanaman memungkinkan kita memberi tanpa mengharapkan balasan, ucapan terima kasih atau penghargaan. Memang benar tanaman hanya meminta sedikit perhatian. Hanya air dan sinar matahari. Dalam hal material pun, tanaman bahkan hanya memberikan. Sedikit imbalan. Meskipun demikian, rumah yang dihiasi tanaman semakin populer karena terkesan lebih dekoratif. Mungkin kita menanam tanaman karena memenuhi kebutuhan penting manusia: kebutuhan untuk selalu dibutuhkan.

Sebuah pot tanaman yang ada di balkon jatuh. Anda segera keluar untuk melihat kerusakannya. Apa yang Anda lihat?

1⃣ Tanaman jatuh dan tetap utuh.

2⃣ Pot rusak,tapi tanaman tidak rusak.

3⃣ Pot dan tanaman rusak tanpa dapat diperbaiki.

4⃣ Karena alasan tertentu, pot dan tanaman tidak terlihat.

Yukss dipilih..dan tunggu penjelasan nya di hari sabtu..

OPTIMIS MENGHADAPI TAKDIR*

Sabtu, 28 Muharram 1438H / 29 Oktober 2016

*KELUARGA & MOTIVASI*

Pemateri: *Ustzh DR. Hj. Aan Rohanah, Lc, MAg*

Memperjuangkan keberhasilan visi dan misi kehidupan harus disertai rasa optimis sekalipun banyak cobaan.

Memperjuangkan visi dan misi berkeluarga harus dengan rasa optimis sekalipun banyak tantangan.

*Kenapa harus optimis dan  tidak boleh putus asa?*

A. Putus asa sikap orang kafir bukan orang mukmin

” Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang2 kafir” (QS. 12 : 87).

B. Hidup dan kematian adalah ujian untuk selalu memberikan yang terbaik kepada  Allah.

Hidup di dunia bukan kenikmatan hakiki, kenikmatan yang sesungguhnya itu setelah kematian

” Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian yang paling baik amalnya (QS. 67 : 2).

C. Yakin terhadap kekuasaan Allah SWT. Dengan ‘kun fayakun’ semua yang sulit bisa berubah menjadi mudah.

“Maka  sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Qs 94 : 5 – 6)

D. Segala sesuatu di dunia dapat berubah dengan usaha dan doa. (QS 13 ,: 11)

E. Dibalik takdir yang buruk banyak hikmah.

 Ketika mendapat takdir yang buruk  tetap bersyukur dan memuji Allah SWT, maka balasannya mendapat istana di surga dan akan diangkat derajatnya.

” Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.” ( QS 2: 216)

 Saat mendapatkan takdir yang buruk maka lakukanlah evaluasi diri, banyak bertaubat dan beristigfar serta memperbaiki diri.

F. Orang yang beriman pasti bisa bersabar.

Rasulullah bersabda : “Sungguh takjub dg urusan orang mukmin jika diberi nikmat bersyukur dan jika diberi musibah bersabar”.

*KIAT2 MEMBENTUK SIKAP OPTIMIS*

1⃣. *Yakin dengan semua takdir Allah selalu berakibat baik.*

” Wahai Rab kami, tidak ada yang Engkau ciptakan ini  dalam keadaan sia2″ (QS 3: 191).

2⃣. *Ikhlas*

 Ikhlas bisa menimbulkan ketenangan. Sebab orang yang ikhlas  semua urusannya dimudahkan Allah.

3⃣. *Sabar*
Sabar  itu menambah iman, membentuk kekuatan dan menambah kecerdasan.

Sabar itu sebagian dari iman.

“Sabar itu cahaya”. (HR Muslim)

4⃣. *Tawakkal*
Tawakkal itu bisa mengendalikan perasaan.
” Barang siapa yang bertakwakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai pelindungnya”
(65:4)

5⃣. *Berdoa*

Do’a diwaktu yang mustajab  dan  diiringi dengan ibadah (shaum, dzikir, shalat sunnah, dll) insya Allah lebih cepat  mustajab.

” Aku  kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada Ku (QS. 2 : 186)

” Barang siapa yang tidak meminta pada Allah SWT, Allah SWT murka” (HR Tirmidzi).

“Tidak ada yang bisa menolak ketetapan Allah SWT kecuali do’a”

6⃣. *Fokus dan bekerja keras dalam berikhtiar*

” Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah dirinya sendiri” ( QS 13 : 11 )

 Dengan bekerja keras , solusi akan selalu datang.

” Dan orang2 yang berjuang di jalan Kami, maka Kami berikan petunjuk untuk selalu berada di jalan Kami”
(QS. 29 : 69)

7⃣. *Banyak berbuat kebaikan.*
” Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang2 yang berbuat kebaikan” ( 7 : 56)

Jangan pernah lelah memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah untuk mendapatkan banyak rahmat Nya.  

Ada  4 hal yang merubah nasib setelah beribadah lebih baik.

✳ Mendapatkan  cinta Allah
✳ Kebersamaan Allah
✳ Doa terkabul
✳ Mendapatkan  perlindungan Allah.

8⃣. *Banyak beristighfar dan bertaubat.*

 Istighfar dan taubat bisa mendatangkan kesenangan

“Dan hendaklah kamu beristighfar dan bertaubat kepada Tuhanmu , maka Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang ditentukan” (QS. 11 : 3)

” Barang siapa yang memperbanyak beristighfar maka Allah  memberikan kemudahan terhadap kesulitannya , menghilangkan bebannya dan memberikan rizki dari yang tidak terduga” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah )

9⃣. *Banyak membaca _laa hawlla wa laa quwwata illaa billah_* .
Dzikir tersebut mendatangkan solusi dan rizki.

*Banyak berinfak/ bersedakah, akan dibalas dengan rizki dan  solusi.*

” Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang yang menumbuhkan 7 tangkai, pada setiap tangkai ada 100 biji , Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki  , dan Allah Maha luas, Maha mengetahui” (QS 2 : 261).

Wallahu A’lam bishshawaab.

Yang Menggunakan Alaihi/ha Salam dalam Shahih Bukhori

Ustadz Menjawab
Jum’at, 28 Oktober 2016
Ustadz Wawan

Assalamualaikum mohon dijawab ustadz/ah.. apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)?mohon jawabannya
# i-23)

Jawaban
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha Salam ada 5 orang.
Silahkan dibuka :
1. Fatimah, ada di hadits nomor: 3435, 3730, 5843, 4942, 3913, 5812, 2881, 3429, 4103, 4943, 4080, 2862

2. Ali, terdapat pada hadits nomor: 4566, 1947, 3280

3. Ummu kultsum, terdapat pada hadits nomor: 5394

4. Fatimah dan al Abbas, hadits nomor: 6230

5. Husain bin Ali, nomor: 3702, 3465.

Wallahu a’lam.

Dan Nabi Saw Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

Jumat, 27 Muharram 1438H / 28 Oktober 2016

MUAMALAT

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Hadits:

 عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)

Dari Abu Musa ra berkata, aku menemui Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku.

Salah satu dari keduanya berkata ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pejabat (amir).’
Kemudian orang yang kedua juga mengatakan hal yang sama.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Kita tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang-orang yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya.” (HR. Bukhari)

Hikmah Hadits :

1. Kecenderungan manusia umumnya suka terhadap jabatan dan kedudukan. Karena secara lahiriyah, jabatan terlihat manis dan menyenangkan, bertaburan harta dan penghormatan, serta diwarnai dengan wibawa dan kemewahan.

Maka tidak heran, terkadang demi jabatan, banyak orang yang rela melakuka apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, haram bahkan berbau kemusyrikan. Atau juga sekedar lobi, datang dan sowan, kepada tokoh dan panutan, atau juga melakukan pencitraan, demi mendapatkan jabatan.

2. Sementara hakikat dari jabatan itu sendiri adalah amanah yang sangat berat dari Allah Swt, yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dalam hisab yang panjang.

Disamping juga bahwa jabatan, penuh dengan tekanan dan jebakan, bahkan intrik saling menjelekkan dan menjatuhkan, yang apabila seseorang lemah iman, ia akan terperdaya dalam perangkap syaitan.

3. Maka Nabi Saw pun enggan memberikan jabatan kepada orang yang terperdaya dengan kemilau pesonanya, ambisi terhadap gemerlapnya, atau yang tergoda bias wibawa dan kemewahannya.

Karena mungkin umumnya orang yang ambisi, punya maksud dan niatan yang tersembunyi, yang menggelapkan niatan suci, demi semata keinginan pribadi.

4. Idealnya, jabatan dipegang oleh orang yang amanah, shiddiq dan fathanah, yang hati kecilnya menolak untuk memangkunya, namun ia ‘terpaksa’ memikulnya, karena beban dan amanah untuk dakwah, bukan karena ingin hidup mewah, namun karena amanah untuk menyelamatkan ummah.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)

Wallahu A’lam

Meraih Kemuliaan Dengan Iman dan Ilmu

Kamis, 26 Muharam 1438 H/27 Oktober 2016

Ibadah

Ustadz Farid Nu’man Hasan

============================

Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Kandungan ayat ini:

• Allah Ta’ala meninggikan derajat orang beriman dan berilmu dengan banyak tingkatan dibanding yang tidak beriman dan berilmu.

• Iman saja tanpa ilmu akan mudah diperdayai, bahkan beriman tapi sedikit daya guna.

• Berilmu tapi tanpa iman, membuatnya tidak bermanfaat, bahkan ketiadaan iman membuat ilmunya bisa membawa petaka bagi diri dan orang lain.

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menjelaskan:

أَيْ فِي الثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ وَفِي الْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ وَالْعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ. وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: مَدَحَ اللَّهُ الْعُلَمَاءَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ. وَالْمَعْنَى أَنَّه ُيَرْفَعُ اللَّهُ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ عَلَى الَّذِين َآمَنُوا وَلَمْ يُؤْتَوُا الْعِلْمَ (دَرَجاتٍ) أَيْ دَرَجَاتٍ فِي دِينِهِمْ إِذَا فَعَلُوا مَا أُمِرُوا بِهِ.

“Yaitu ketinggian balasan yang diperolehnya di kehidupan akhirat, dan ketinggian karamah (kemuliaan) di dunia. Maka, Allah meninggikan orang beriman di atas yang tidak beriman, dan meninggikan orang berilmu di atas yang tidak  berilmu.

Ibnu Mas’ud berkata: “Allah memuji para ulama dalam ayat ini.”

Dalam ayat ini Allah meninggikan orang yang diberikan ilmu di atas orang beriman yang tidak diberikan ilmu.

(Banyak derajat) yaitu derajat dalam agama mereka jika mereka menjalankan apa-apa  yang diperintahkan.”

• Imam Al-Qurthubi, Jami’ Lil Ahkam Al-Qur’an, 17/299

Membuat Home Industri Perlengkapan Ibadah Agama Lain

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
27 Oktober 2016
============================

Assalamualaikum. Ustadz, bagaimana hukum nya orang islam yang membuat home industri persiapan  upacara natalan, seperti petasan untuk natalan, topi nya, dll.

Jawaban
========

1. Tidak boleh/Haram.

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً (الفرقان:72)

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan [25]: 72)

Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “Az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh Ar-Rabî’ bin Anas, Al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan Ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “Az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.”

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya. Bukan sekedar menyaksikan.

Hadits Anas bin Malik r.a., yang menyatakan:

قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“Rasulullah SAW tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.'” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasa’i dengan Syarah Muslim)

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah SAW. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan, sabda Nabi SAW, “Lebih baik dari keduanya” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah SWT kepada kita.

Tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkannya kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh mendemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.

‘Umar pun berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقيإسناد صحيح].

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)

2. Ada juga yang membolehkan.
Dr. Quraisy Shihab menyatakan, memberikan ucapan selamat Natal sudah diajarkan dalam Al-Qur’an, seperti tertuang dalam surah Maryam ayat 34.

“Itu tentang Isa putera Maryam, yang merupakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (QS. Maryam [19]: 34)

Ayat ini sama sekali tidak membahas tentang hukum kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan tentang siapa Nabi Isa –’alaihissalam. Dia adalah putra Maryam, tidak seperti yang dituduhkan orang Yahudi, sebagai putra Yûsuf an-Najjâr, atau seperti klaim orang Kristen, bahwa dia adalah Tuhan (anak), atau putra Tuhan.

DR. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama, selama tidak merugikan agama lain. Termasuk hak tiap agama untuk memberikan ucapan selamat saat perayaan agama lain. Dia mengatakan, “Sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan ucapan selamat kepada non-Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori Al-Birr (perbuatan yang baik).

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Kebolehan memberikan mengucapkan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan ucapan selamat kepada kita dalam perayaan hari raya kita:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

Begitu, kata DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Padahal, QS. Al-Mumtahanah: 8 di atas, khususnya frasa “Tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka) tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir yang tidak memerangi kita. Karena bersikap baik dan adil kepada mereka dalam hal ini terkait dengan mu’amalah, bukan ibadah. Sedangkan, mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka bagian dari ibadah. Konteks ayat ini terkait dengan Bani Khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan Nabi untuk tidak memerangi dan menolong siapapun untuk mengalahkan Baginda SAW, maka Allah SWT perintahkan kepada Baginda SAW untuk berbuat baik, dan menepati janji kepada mereka hingga berakhirnya waktu perjanjian. Jadi, konteks “berbuat baik” di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, yang merupakan bagian dari “berbuat baik”.

Demikian juga dengan QS. An-Nisa’: 86. Ayat ini menjelaskan tentang tahiyyah (ucapan salam) yang disampaikan kepada orang Mukmin. Tahiyyah juga bisa berarti do’a agar diberi kehidupan. Menurut At-Thabari, “Jika kalian dido’akan orang agar diberi panjang umur, maka diperintahkan untuk mendo’akannya dengan do’a yang sama.Namun, menurut Al-Qurthubi, tahiyyah di sini bisa berarti ucapan salam. Jadi, “Jika kalian diberi salam, maka jawablah salamnya dengan lebih baik.” Hanya, menurut Al-Qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang Islam, jika mereka yang mengucapkan salam. Jika yang mengucapkan salam orang Kafir, termasuk Ahli Dzimmah, maka tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang diajarkan oleh Nabi SAW, “Wa’alaikum.”

• Kesimpulannya

Tidak boleh ikut andil dalam perayaan hari besar agama lain termasuk dalam memproduksi perlengkapan untuk memeriahkannya, menjual ataupun memberikan ucapan selamat hari raya..

Allahu’Alam Bisshowab

LAKI LAKI BERDANDAN

Ustadz Menjawab
Kamis, 27 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Bagaimana hukumnya laki-laki metroseksual. Yg seneng dandan, pake minyak wangi, baju sesuai style terkini entah niatnya untuk gaya , tuntutan pekerjaan dll. Lantas bagaimana batas laki-laki dalam berias atau berdandan??

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Rasulullah itu pakai farfum, minyak rambut, menyisir (tp tdk sering), suka dgn baju putih, pernah merah, hijau dan bercorak ..

Dulu ada pemuda yg kumel, dia disuruh pulang oleh Ibnu Abbas, diminta rapi agar istrinya jg senang .. sbb istri jg berhak melihat suaminya rapi ..

Batasannya adalah selama tdk memakai emas dan sutra, tidak menyerupai style wanita, tdk meniru2 non muslim (ini biasanya sering terjadi pd model rambut) gak peduli cocok apa gak dgn bentuk tubuh dan wajah, dan dari bahan yg halal dan suci.
Ada pun “berlebihan” memang tdk boleh, jika ibadah sunah saja tdk boleh berlebihan apalagi sekedar memperindah diri .

Wallahu a’lam

Jika Terpaksa Mundur, Lakukan Dengan Elegan Jika Sudah Memukul Mundur, Jangan Beri Kesempatan Bertahan

Kamis, 26 Muharram 1438H / 27 Oktober 2016

SIROH DAN TARIKH

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Salerno – Foothold in Europe, David Mason, Ballantine’s Illustrated History of the Violent Century – Battle Book no. 24, New York: 1972.

Buku tipis ini membahas lengkap Operasi Avalanche yang merupakan pendaratan Sekutu di wilayah “sepatu” Italia yang diduduki Jerman. Operasi militer yang digelar bersamaan dengan Operasi Slapstick ini adalah kelanjutan dari Operasi Husky (Juli 1943) dan Baytown (September 1943) melewati pertengahan Perang Dunia Kedua.

Karena pendaratan Sekutu dan pukulan balik Vietinghoff sudah sering dibahas, maka saya hendak menulis sedikit saja pelajaran tentang bagaimana taktik mundur-teraturnya Jerman setelah itu. Jenderal Clark yang memimpin Operasi Avalanche juga menguatkan persepsi saya tentang kemahiran Jerman dalam hal ini ketika mengatakan: “Kesselring was a master of delaying tactics.”

Ketika perintah mundur turun lewat tengah hari, maka pada malamnya hampir semua elemen tempur Jerman sudah bergerak. Yang tersisa hanyalah kesatuan jaga mundur (rearguard elements) yang memang bertugas untuk melindungi gerak mundur utama.

*Lesson #1* jika terpaksa mundur, lakukanlah dengan teratur dan terhormat.

Garis mundur balatentara Jerman adalah sepanjang Sungai Volturno. Persiapan untuk menjadikan garis itu sebagai basis pertahanan berikutnya yang kuat pasti membutuhkan waktu. Pasukan yang mundur mendapat tugas ganda disamping menyelamatkan kesatuannya; yaitu menahan laju pengejaran Sekutu. Setiap bukit dan lembah diubah menjadi medan tempur yang menguntungkan pihak yang bertahan. Kota Naples terpaksa ditinggalkan dan dibumi-hanguskan oleh Jerman agar Sekutu tidak dapat langsung memanfaatkannya, terutama fasilitas pelabuhan.

*Lesson #2* bertempur sambil mundur adalah satuan tindakan terkoordinasi dalam suasana chaos yang tak menentu; hanya jiwa korsa, disiplin, dan kepemimpinan yang mumpuni yang berpeluang mencegah pecahnya kepanikan.

Faktor cuaca pun tidak mendukung laju gerak balatentara Sekutu dengan hadirnya musim hujan dan badai yang menjadikan jalanan seperti kubangan lumpur. Pasukan Sekutu harus memulai lagi perjuangannya merebut sejengkal demi sejengkal bumi Italia. Namun yang sudah pasti, balatentara Jerman kini terdesak mundur, Jenderal McCreery menginstruksikan kepada Korps X bahwa: “once we have the enemy on the run, we will keep him moving.”

*Lesson #3* jika lawan sudah limbung, jangan beri dia waktu dan ruang untuk kembali kokoh. Terus kejar dan hujani serangan sampai jatuh tak berkutik.

Agung Waspodo, berharap hari ini penuh keberkahan kembali
Depok, 18 Oktober 2016