NAZAR

Ustadz Menjawab
Kamis, 10 November 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

Assalamu’alaikum. Saya mau bertanya mengenai nadhar, bagaimana niat nadhar dan berapa macam cara bernadhar sesuai syari’at islam? # A 41

Jawaban :
—————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Sebaiknya nadzar  dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ اَلْمَقْدِسِ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا” . فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا”. فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “شَأْنُكَ إِذًا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).” Nabi bersabda: “Shalat di sini saja.” Orang itu meminta lagi. Nabi menjawab: “Shalat di sini saja.” Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: “Kalau begitu terserah kamu.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzar, sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah.
(HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

1. Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

2. Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat. jika fakir miskin itu seorang wanita, maka sebagusnya mesti dengan kerudungnya juga.

3. Atau memerdekakan seorang budak

4. Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
(QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfu’:

مَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَمْ يُسَمِّهِ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا فِي مَعْصِيَةٍ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَا يُطِيقُهُ فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا أَطَاقَهُ فَلْيَفِ بِهِ»

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: “Isnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.” Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfu’ /ucapan nabi.  )

Wallahu A’lam

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

📆 Rabu, 08 Shafar 1438 H/09 November 2016

📗 Aqidah

📝 Ustadzah Prima Eyza Purnama

============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalaamu’alaikum wr.wb..

Apa kabar adik-adik pemuda Islam kebanggan umat, mudah-mudahan senantiasa dalam limpahan hidayah dan rahmat dari Allah SWT. Aamiin..

Hari ini kita lanjutkan kembali pembicaraan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada bahasan lalu telah selesai membahas syarat yang kedua. Kali ini kita masuk pada syarat yang ketiga.

SYARAT KETIGA:

الإِخْلاَصُ اَلْمُنَافِيْ لِلشِّرْكِ

(KEIKHLASAN YANG MENGHILANGKAN KEMUSYRIKAN)

Orang yang bersyahadat harus menjadi orang yang mukhlish, yakni ikhlash dalam syahadatnya, ikhlash bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Artinya, haruslah ikhlash dalam seluruh aktifitasnya baik perkataan, maupun perbuatannya, termasuk lintasan di hati dan fikirannya sekalipun.

Ikhlash artinya niat mencari keridhaan Allah Ta’ala semata-mata dalam seluruh aktifitas, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun selain Dia, dan senantiasa membersihkan niatnya itu dari segala kotoran yang dapat merusak (keikhlashan itu).

→ Maka, orang yang ikhlash; niatnya murni, bersih, suci, dari berbagai kotoran (kemusyrikan), baik kemusyrikan yang kecil maupun yang besar. Tentu sudah difaham sebelumnya tentang kandungan Laa Ilaaha illaLaah, yang mengharuskan seorang yang beriman itu melenyapkan segala bentuk ilah (Tuhan) selain Allah, sampai ke akar-akarnya. Sebab ia telah bersyahadat (menyatakan, berjanji, dan bersumpah) untuk itu.

Lawan ikhlash adalah syirik.
Secara bahasa, syirik berarti : syirkah dan musyarakah, yang artinya:

1. Bercampurnya dua kepemilikan.
2. Ada sesuatu untuk dua orang atau lebih baik secara dzat ataupun nilainya.

Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Secara istilah atau menurut syariat, syirik yaitu sikap menyekutukan Allah secara Dzat, sifat, perbuatan dan/atau ibadah.

Syirik secara dzat yakni menganggap/meyakini bahwa Dzat Allah itu seperti dzat makhluk-Nya. Menganggap bahwa Allah itu serupa dengan makhluk. Padahal salah satu sifat yang wajib dan mutlak bagi Allah adalah mukhalafatuhu lil hawadits (berbeda dengan makhluk). Dan di ayat terakhir surah Al-Ikhlash jelas-jelas kita mendapat penegasan dari Allah, “Dan tiada seorang pun yang menyerupai-Nya.”

Syirik secara sifat artinya seseorang menganggap/meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain menganggap bahwa makhluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali. Secara prinsip, sifat Allah ada dua, yakni bahwa Allah itu bebas dari segala kekurangan dan kelemahan dan Allah berkumpul pada diri-Nya segala ke-Maha-an. Kuasa Allah tiada berbatas. Tiada tanding tiada banding.

Syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mampu mengatur alam semesta dan rizki manusia sebagaimana kuasa dan perbuatan Allah.

Syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah kepada selain Allah dan mengagungkannya sebagaimana seharusnya ia mengagungkan Allah serta mencintainya sebagaimana seharusnya ia mencintai Allah.
Para ulama juga mengatakan bahwa prilaku syirik ada yang tampak (zhahir) dan ada yang tersembunyi (khafiy), ada syirik besar dan ada pula syirik kecil.
Nah, orang yang ikhlash, ia selamat dan sungguh jauh dari semua bentuk kesyirikan tersebut.

● Jika masih syirik, syahadatnya tidak diterima.

Jika masih ada syirik, maka syahadatnya tidak akan diterima di sisi Allah.
Karena kita tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan pada-Nya. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

Dalam sebuah riwayat hadits,

وَعَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْل بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رَيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قَرْطٍ بْنِ رَزَاحِ بْنِ عَدِيّ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيّ بْنِ غَالِبٍ الْقُرَشِيّ الْعَدَوِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ متفق

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapatkan pahala di sisi Allah)’.” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam sebuah hadits Qudsi,  Allah SWT menegaskan menolak setiap amal perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Barang siapa yang melakukan perbuatan, di dalamnya terdapat persekutuan bersama-Ku dengan yang selain Aku, maka Aku tinggalkan amalnya dan sekutunya itu.” (HR. Muslim no.2985)

Juga sebuah hadits tentang apa yang diperoleh Nabi SAW dari Allah SWT dalam perjalanan Isra` Mi’raj:

وَأُعْطِيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا: أعْطِيَ الصلوات الخمس، وأعْطِي خواتيمَ سورة البقرة، وغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ شيئًا المُقْحَماتُ

“Diberikan kepada Rasulullah saw (saat Isra Mi’raj) tiga hal: diberikan shalat lima waktu, diberikan akhir surat al-Baqarah, dan diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan ALLAH dengan apapun.” (HR. Muslim)

Dalam Al-Qur’an, Allah menginformasikan prilaku syirik orang-orang Quraysy jahiliyah, yang walaupun mereka mengenal Allah sebagai Tuhan (karena peninggalan ajaran Nabi Ibrahim as) dan mempersembahkan qurban untuk Allah, namun pada saat yang sama mereka juga mempersembahkan sesaji kepada berhala.

Dalam QS Al-An’aam [6] : 136  disebutkan sesaji tersebut berupa tanaman dan ternak:
“… Lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami’. …”
Tindakan yang serupa dan semisal dengan ini masih banyak terdapat di masyarakat kita yang notabene mereka mengucapkan syahadat. Mungkin mereka tidak menyadari atau memang belum/tidak memahami. Menjadi tugas kita untuk membersihkan keimanan mereka dari segala kotoran syirik itu dengan menyeru mereka kepada tauhid dan aqidah yang benar, yakni syahadat yang ikhlash dan bersih dari segala bentuk syirik.

Bersambung…

Wallaahu a’lam bishshowab

PERIAS SALON

Ustadz Menjawab
Rabu, 09 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum..klo hukum bgi perias wajah/salon kcantikan bagaimana,walau tadinya niat ingin membantu muslimah utk tampil cantik dihadapan suami,tapi apa daya yg datang misal kebanyakan minta dirias utk acara wisuda,pernikahan dll..

🍃🍃🍃Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
saya rasa secara hukum sudah jelas, bahwa para gadis ini belum waktunya seperti itu, untuk siapa mereka seperti itu, mgkin agak mending jika mereka sdh berhijab artinya kemungkinan minta disanggul lebih kecil, sehingga terhindar sebagai alwashilat wal mustawshilat (penyambung rambut dan yg disambung rambut), tapi tetaplah wajah akan permak begitu rupa .. Ini memang terkait pemahaman agama, ghazwul fikri, serta budaya dan nilai hidup yg dianut.

Sikap yg terbaik adalah tegas menolaknya, agar kita tidak ada peran dlm tabarrujnya mereka .

Ada pun merias utk pernikahan
Aisyah pun dirias saat nikah, yang penting tetap tutup aurat secara sempurna, tdk dgn bahan yg najis atau diharamkan, tdk israf/berlebihan, ada pun bahan yg dipilih tdk masalah. mahkota2 itu wilayah syubhat/grey area, lbh hati2 tinggalkan .. sbb ada unsur tasyabbuh/ikut2an/menyerupai riasan wanita non muslim.
wallahu a’lam

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 1)

📆 Selasa, 07 Shafar 1438 H/08 November 2016

📔 Sirah

📝 Ustadz Yani
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

1⃣ Profil dan Pernikahannya Dengan Rasulullah SAW

Khadijah binti khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay Al-Qurasiyah Al-Asadiyah… begitulah nama lengkap bunda Khadijah. Lahir di Makkah pada tahun 68 sebelum hijrah. Terlahir dari keluarga terhormat dan mulia, bahkan di juluki Ath-Thahirah (wanita suci) dimasa jahiliyah. Ayahandanya meninggal pada perang Fijar.

Selain dari keluarga terhormat di kaumnya, bunda Khadijah adalah Bussiness Woman ulung saat itu. Kafilah dagangnya tak ada henti membawa barang dagangan dari Makkah-Madinah, dan juga sering menyewa orang untuk menjualkan barang dagangannya ke Syam dengan imbalan.

Dengan segala kelebihan yang dimiliki bunda Khadijah merupakan puncak impian bagi wanita pada umumnya, namun, Allah SWT menghendaki melebihi dari batas pada umumnya, bahkan melebihi dunia yang fana ini.

Kemuliaan mana lagi yang dapat menandingi kemuliaan wanita yg dihormati di kaumnya, kaya raya, dan sebagai istri dari manusia paling mulia di bumi ini, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Sebenarnya sudah banyak para lelaki mendekati bunda Khadijah saat itu, namun, tampaknya tak ada yang berkenan di hatinya. Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, beliau adalah janda yang sudah menikah 2 kali. Pernikahan pertama dengan Abu Halah bin Zurarah bin Nabasy At-Tamimi, dan kedua dengan Atiq bin A’iz bin Umar bin Makzhum.

Bunda Khadijah menerima pinangan Rasulullah SAW, berawal dari informasi atas  kemuliaan akhlak dan sifat amanah yang terpuji nya Rasulullah. Dan saat itu Rasulullah SAW belumlah diangkat oleh Allah SWT sebagai Nabi. Bunda mengutus budaknya Maisarah menawarkan kerjasama kepada Rasulullah SAW dalam perdagangannya ke Syam dengan imbalan tertentu, dan menyertainya, gayung bersambut dan Rasulullah SAW pun menerima.

Selama perjalanan Maisarah melihat banyak keistimewaan pada diri Rasulullah SAW, diantaranya adalah saat Beliau singgah disebuah pohon dekat tempat ibadah seorang rahib. Rahib tersebut bertanya kepada Maisarah, “Siapa orang itu?” “Orang dari suku Quraish, penduduk tanah Haram (Makkah)” jawab Maisarah.

Rahib itu pun berkata; “Tidak ada yang singgah seorangpun dibawah pohon itu kecuali seorang Nabi.”

Keistimewaan lainnya yang dimiliki Rasulullah SAW adalah akhlak mulia, tutur kata yg lembut, sifat Amanah dan kejujuran. Maisarah pun menangkap Barakah pada diri Beliau, karena barang dagangannya mendapat keuntungan berlipat-lipat.

Setelah kembalinya dari Syam, Maisarah pun melaporkan semuanya kepada bunda Khadijah. Seperti mendapatkan apa yang selama ini dicarinya, bunda Khadijah pun mengungkapkan keinginannya kepada sahabatnya Nafisah binti Umayyah tentang perasaannya terhadap Rasulullah SAW. Lalu, Nafisah pun menyampaikannya kepada paman Rasulullah SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Ternyata, keinginan bunda Khadijah disambut baik oleh Rasulullah SAW, lalu Hamzah pun secepatnya mendatangi paman bunda Khadijah yaitu ‘Amr bin Asad bin Abdul Uzza untuk menyampaikan lamaran dari Rasulullah SAW kepada bunda Khadijah. Lalu, pernikahan pun dilaksanakan dengan mahar 12 Uqiyah, dan saat itu Rasulullah SAW berusia 25 tahun dan bunda Khadijah berusia 40 tahun.

Begitulah takdir yang Allah SWT gariskan, didalamnya terkandung pelajaran yg sangat berharga. Akhlaq mulia adalah bekal paling utama dalam kehidupan, disini menjadi standar penilaian bagi orang-orang mulia. Dan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun rumah tangga, sebagaimana Rasulullah SAW isyaratkan.

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits ini derajatnya hasan)

Bersambung…

Maraji’ :
Isteri & Puteri Rasulullah SAW (Mengenal & Mencintai Ahlul Bait)

• Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay KSA (Penyusun : Ust. Abdullah Haidir, Lc)

Khitbah (Meminang)

📆 Rabu, 9 Shafar 1438H / 9 Nopember 2016

📚 MUAMALAH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

1. Khitbah (meminang) merupakan step pertama yang mestinya dilakukan oleh orang yang hendak menikah..

2. Khitbah hakekatnya adalah menyampaikan keinginan atau janji untuk menikahi wanita pilihannya kepada walinya.

3. Hukumnya disunahkan dalam agama, karena  sebelum pernikahan, hendaknya masing-masing pasangan mengenali calonnya dengan baik.

4. Bagusnya sebelum melangkah khitbah, seseorang melakukan istikharah dan istisyarah.

5. Istikharah adalah mohon kepada Allah agar pilihannya baik baginya, di dunia atau akhirat. Shalat dua rakaat, baca doanya..

6. Istisyarah adalah berkonsultasi dengan orang-orang bijak di sekitarnya, baik tentang kesiapan dirinya atau calon yang akan dilamar.

7. Jika pilihan sudah OK, hati sudah mantap, istikharah dan istisyarah sudah ditempuh… bersiap-siaplah khitbah…

8. Dianjurkan untuk melihat wanita yang hendak dilamar, begitupula, sang wanita melihat laki-laki yg melamar.

9. Dlm riwayat Muslim, ketika ada orang yang hendak menikah, namun belum melihat calonnya, Rasululah saw perintahkan dia untuk melihatnya.

10. Melihat juga boleh dilakukan sebelum khitbah, selama niat khitbah sudah ada. Bahkan boleh juga tanpa diketahui calonnya..

11. Atau melihat calon dapat dilakukan saat khitbah. Yang penting tidak boleh ada khalwat. Cuma berduaan saja.

12. Sekedar pengalaman, dahulu murabbi saya mengajak saya ke apotik untuk beli obat, sekalian untuk melihat calon saya yang kerja di apotik..:)

13. Sebaiknya memang tdk cukup dengan poto saja. Bahkan boleh jadi ada mudharatnya. Melihat langsung diutamakan.

14. Perkara lain lagi yg harus dipastikan adalah bahwa calon yang dilamar bukanlah orang yang terlarang dinikahi..

15. Misal, masih mahram, masih status isteri orang, masih dalam masa idah. Termasuk tidak boleh khitbah wanita yang sudah dikhitbah..

16. Jika semuanya telah siap, hubungilah walinya untuk mengajukan khitbah. Silakan tetapkan waktu yang tepat dan pas.

17. Khitbah bisa langsung dilakukan oleh calon suami, atau diwakili oleh keluarganya. Atau datang rame-rame sekalian..

18. Tidak ada ritual khusus untuk khitbah. Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar khitbah dirahasiakan.

19. Khususnya jika dikhawatirkan khitbahnya mengundang kedengkian. Tapi jika  merasa aman, diumumkn juga tidak apa.

20. Terkait dengan hadiah-hadiah dan pemberian, semuanya sekedar pemberian biasa saja. Tidak mengikat, seperti mahar.

21. Tidak harus juga menyerahkan cincin khusus untuk khitbah. Atau tukeran cincin. Hal itu tidak ada aturannya dalam khitbah.

22. Tapi kalau memang ingin memberi hadiah cincin kepada wanita yang hendak dikhitbah tidak mengapa, dan tanpa ikatan apa-apa..

23. Sampaikan kepada wali wanita tersebut bahwa dia bermaksud melamarnya. Jika walinya setuju, dan wanitanya setuju, resmilah lamaran tersebut.

24. Namun, khitbah prinsipnya adalah sekedar janji untuk menikah. Bukan pernikahan itu sendiri. Maka status hukumnya masih ‘orang lain’.

25. Maka, setelah khitbah, kedua calon pasangan tersebut, tetap tidak boleh ‘klayar kluyur’ kesana kemari berduaan, layaknya suami isteri..

26. Bahkan berbicarapun secukupnya, sesuai kebutuhan, jangan langsung ngomong mesra-mesraan dan cinta-cintaan.

27. Sebaiknya memang, antara khitbah dan akad pernikahan jangan terlalu lama, agar tidak membuka peluang fitnah..

28. Kalau lamaran dibatalkan gimana? Boleh saja. Baik yang membatalakn laki-laki ataupun wanita. Hanya saja sebaiknya ada alasan yang jelas.

29. Makanya, khitbah itu baik ketika diajukan atau ketika diterima, hendaknya berdasarkan pemahaman yang jelas, agar tidak timbul masalah.

30. Jika dibatalkan, apakah pemberiannya harus dikembalikan? Tidak harus, itukan hadiah. Namun kalau dikembalikan lebih baik.

31. Jika sang wanita sudah dilamar, maka tidak boleh ada laki-laki yang melamarnya, apabila dia tahu akan hal itu.

32. Selama masa khitbah, calon pasangan tersebut boleh membicarakan rencana-rencana pernikahan. Termasuk syarat-syarat yang ingin diajukan.

33. Kalau syaratnya diterima dan tidak bertentangan dengan aturan agama, maka syarat tersebut harus dipenuhi.

34. Berdasarkan hadits, syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat-syarat dalam perkawinan.

Moga Allah beri kemudian bagi saudara-saudara kita yang hendak menikah…

Amiin..

TAUBAT DARI FOTO TIDAK BERJILBAB

🌍 Ustadz Menjawab
✍🏽 Ustadz DR. Wido Supraha
📆 07 November 2016
======================
🍃🍃🌷🍃🍃🌷🍃🍃🌷

Assalamu’alaikum ka.
Aku mau nanya kan kita sebagai perempuan tidak boleh kelihatan auratnya bagi laki2 bukan mahram, sementara saya baru pakai kerudung menjelang SMA dan otomatis foto2 saya tanpa kerudung sudah tersebar luas, walaupun saya sudah menghapus foto2 tanpa kerudung saya di sosmed, tetapi tetap saja foto2 saya tanpa berkerudung ada buku tahunan sekolah dll.. itu bagaimana ka hukumnya?

Jawaban :
=========

Allah SAW tidak membebani manusia di atas kemampuannya, dan memberikan ganjaran terbaik mereka yang bersegera dalam seluruh urusan ketaatan dan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah SEMAMPU KALIAN. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertaubat.” [HR Tirmidzi, no. 2499 dari sahabat Anas bin Malik].

التائب من الذنب كمن لاذنب له

“Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)

Berkata Fudhail bi ‘Iyadh,

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ ، يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

Maka, terhadap foto-foto yang telah lalu, jika masih ada dijumpai lakukanlah semampu kita dengan hal berikut:

1. Meminta kepada sahabat yang memposting foto untuk menghapusnya, jika tidak mau melakukannya, UN-FRIEND adalah salah satu opsi agar ia tidak tampil dalam wal kita, dan UN-FRIEND bukan bermaksud memutuskan silaturrahim, ia hanya sekedar sarana agar foto tidak tampil.

2. Melakukan UN-TAG terhadap foto-foto yang terkait dengan diri kita dengan posisi tidak syar’i.

Semoga ALlah SWT memberikan keistiqamahan atas hijrah yang telah dilakukan. Yassirlana.

Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

📆 Senin, 06 Shafar 1438 H/07 November 2016

📕 Akhlak

📝 Ustadz Muhar Nur Abdy

============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalamu’alaikum adik-adik..
Ketemu lagi sama Senin nih..😊
Sehat dan Semangat teruss ya adik-adik..

So, kita lanjut nih, materi Akhlaknya..
Kita masih ngebahas tentang Meneladani Akhlak Rasulullah SAW..

Dalam diri Nabi SAW terdapat akhlak-akhlak yang mulia sehingga beliau menjadi teladan yang baik bagi ummatnya. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Akhlak yang mulia menjadi kunci keberhasilan beliau membangun bangsa dari kenistaan ke martabat yang tinggi. Akhlak-akhlak beliau bisa kita ketahui dari banyak referensi, utamanya kitab-kitab syamail (kitab yang membahas tentang sifat, bentuk fisik dan akhlak Nabi), seperti Syamail At-Tirmidzi, Syamail As-Suyuthi dan sebagainya. Membaca kisah Nabi SAW kian lama kian mengasyikkan dan tidak membuat bosan. Semakin kita mengenal Nabi, semakin banyak kita mengenal keistimewaan yang ada padanya. Dengan mengetahui keistimewaan tersebut kita akan bertambah cinta dan ta’at menjalankan sunnah-sunnahnya. Jika sebuah pepatah “tak kenal maka tak sayang” itu menjadi pijakan kita, maka tak salah kalau kita harus membaca biografi beliau secara tuntas hingga akhirnya kita dapat meneladani dan mencintai sunnah-sunnah yang beliau lakukan setiap hari. Bagi seorang muslim, Nabi SAW adalah sumber teladan utama yang patut diikuti. Karena sunnah-sunnahnya mengajari umatnya bagaimana meneguhkan iman dan taqwa, bersabar dalam setiap musibah, bersyukur ketika mendapatkan anugerah, bersikap ridha dan tawakal dalam setiap urusan, bertindak jujur dalam segenap keadaan, serta berjiwa ikhlas dalam beramal.

© Akhlak Rasulullah SAW.

Para ulama banyak menulis tentang masalah ini. Berikut ini adalah sebagian dari akhlak Nabi SAW :

® Suka memaafkan dan tidak suka membalas kejelekan orang lain.

Diriwayatkan bahwa waktu perang Uhud, wajah Nabi SAW terluka dan gigi raba’iyah (gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi taring)nya patah. Para sahabat merasa berat melihat hal itu. Mereka berkata: “Hendaknya engkau berdoa agar mereka celaka!.” Nabi SAW berkata: “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat. Aku diutus sebagai juru dakwah dan sebagai rahmat. Wahai Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Asy-Syifa bii Ta’rifi Huquq Al-Musthafa, Qadhi Iyadh, Juz 1 hal. 105)

Sikap pemaafnya juga tergambar jelas saat berdakwah di Makkah pada awal Islam. Sikap ini perlu ditiru oleh kaum muslimin. Hanya saja, kadang-kadang memberi maaf cukup dilakukan oleh hati tanpa diucapkan dengan kata-kata agar orang yang bersalah tidak mengulangi kesalahannya lagi.

® Dermawan.

Nabi SAW ketika dimintai sesuatu maka beliau pasti memberi jika ada yang diberikan. Jika tidak ada maka beliau diam. Berdasarkan riwayat ini, orang yang dimintai sesuatu tetapi tidak mungkin memenuhinya maka ia disunnahkan untuk diam agar orang yang meminta tidak malu. Jika orang yang meminta tidak memahami bahasa diamnya, maka ia perlu menegaskan penolakannya dengan kata-kata. (Asy-Syamail Asy-Syarifah, As-Suyuthi, hal 247)

® Menerima hadiah sekecil apapun dan membalasnya.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW menerima hadiah dan membalasnya. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Ummu Fadhli mengirim air susu dalam sebuah wadah kepada Nabi SAW saat beliau melakukan wukuf di Arafah, dan beliau meminumnya. (Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin, Az-Zabadi, Juz 7 hal. 99)

® Hidup sederhana dan tidak mau menyusahkan diri sendiri.

Nabi SAW memerah kambing, mengikat dan memberi makan unta, menyapu rumah, membersihkan pakaian, membawa barang belanja dari pasar, makan apa adanya dan berpakaian seadanya. (Madarij As-Su’ud, Nawawi Al-Bantani, hal 54. Ihya ‘Ulumuddin, Al-Ghazali, Juz 3 hal. 366, 372)

® Bergaul dengan baik

Nabi SAW memenuhi undangan walimah, menjenguk orang sakit, mengiring jenazah, duduk dan makan bersama fakir miskin, menyambung tali kekerabatan, rendah hati dan kadang-kadang bercanda. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang nenek datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku ke dalam surga!.” Nabi SAW berkata: “Hai ibu si Fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek!.” Wanita itu pergi sambil menangis. Lalu Nabi SAW berkata kepada para sahabat: “Katakan kepada wanita itu bahwa ia tidak masuk surga dalam keadaan nenek-nenek (karena akan dimudakan umurnya menjadi perawan).” (Ihya ‘Ulumuddin, Al-Ghazali, Juz 3 hal. 356-359. Asy-Syamil, At-Tirmidzi hal. 199)

© Jangan sampai salah Idola ya adik-adik..

Kemajuan teknologi dan globalisasi yang tidak dibarengi dengan ketakwaan dan ilmu agama yang kuat, akan menimbulkan krisis akhlak dan moral yang berkepanjangan. Banyak remaja muslim yang kurang atau tidak mengenal Nabinya. Di antara akibatnya adalah mereka memilih idola yang tidak semestinya diidolakan. Mengapa demikian? Ada beberapa faktor penyebab di samping faktor di atas, di antaranya:

Mengikuti atau menyesuaikan diri dengan keadaan yang menjadi trend saat itu.Tidak adanya tokoh yang bisa menjadi panutan pada saat itu. Perpecahan kaum muslimin yang berbeda-beda kepentingan.

Adalah sangat disayangkan jika kemudian orang-orang memandang sebelah mata lalu menyalahkan para remaja dan pemuda yang melakukan kesalahan di atas, tanpa melihat latar belakang mereka melakukan kesalahan itu. Banyak pihak yang mungkin dipersalahkan dalam hal ini. Tak ada asap jika tak ada api. Kata yang tepat yang tidak menyinggung perasaan semua pihak dalam masalah ini adalah lepas kontrol. Lepas kontrol terhadap diri sendiri, terhadap anak, terhadap murid dan terhadap lingkungan merupakan penyebab mengapa para remaja begitu mudah terbawa arus, malu mempertahankan sunnah Nabi SAW dan bangga jika telah menyesuaikan diri dengan trend saat itu. Untuk mengatasinya, tak cukup hanya dengan memperbanyak ceramah atau mauidhah. Harus ada pengamalan sunnah Nabi SAW secara nyata oleh berbagai pihak, utamanya orang-orang yang memiliki massa atau pengikut. Dan telah maklum, bahwa seseorang tidak mungkin mengikuti sunnah Nabi SAW secara sempurna, ia hanya diperintahkan untuk melakukan semampunya.

© Dan pada akhirnya..

Dalam tiap masa dan tiap generasi, selalu ada dua sisi dalam kehidupan: sisi terang yang diperankan oleh aktor protagonis dan sisi gelap yang diperankan oleh aktor antagonis. Pada masa Nabi Dawud AS muncul raja Jalut, pada masa Nabi Musa AS muncul raja Firaun, pada masa Nabi Muhammad SAW muncul Abu Jahal beserta sekutunya di Makkah dan Abdullah bin Ubay beserta sekutunya di Madinah. Begitu juga masa sekarang. Ini telah menjadi sunnatullah. Jadi, hidup adalah pilihan. Jika bisa berperan sebagai aktor protagonis dengan mengamalkan akhlak yang baik, mengapa kita mau memerankan peran antagonis dengan mengamalkan akhlak yang buruk?

Wallaahua’alamu bisshawab.

Pemimpin Buruk dan Penipu

📆 Selasa,  8 Shafar 1438H / 8 November 2016

📚 HADITS DAN FIQIH

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“  ….. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian …..”  (HR. Muslim No. 1855, Ahmad No. 23981, Ad Darimi No. 2839, dll)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنَ المُسْلِمِينَ، فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ

📌Tidaklah seseorang yang diberikan amanah untuk memimpin urusan kaum muslimin, lalu dia mati dalam keadaan menipu mereka (kaum muslimin), melainkan Allah haramkan surga baginya. (HR. Al Bukhari No. 7151, Muslim No. 152, dari Ma’qil bin Yasar. Ini lafaznya Al Bukhari)

Apa makna “menipu mereka”? Berkata Imam ‘Ali Al Qari Rahimahullah:

أي خائن لهم، أو ظالم لهم، لا يعطي حقوقهم، ويأخذ منهم ما لا يجب عليهم

📌Yaitu mengkhianati mereka (kaum muslimin), atau berbuat zhalim kepada mereka, tidak memberikan hak-hak mereka, dan mengambil dari mereka apa-apa yang tidak wajib atas mereka untuk mengeluarkannya. (Mirqaah Al Mafaatiih, 6/2403. Cet 1, 1422H. Darul Fikr, Beirut)

Wallahu A’lam

SHOLAT JUM’AT

Ustadz Menjawab
Selasa, 08 November 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan
                                           
 Assalamu’alaikum ustadz/ah…sholat jumat itu apakah berlaku utk seluruh muslim (lk&pr)? trus jika laki-laki berhalangan sholat jumat krn sakit atau perjalanan apakah sholat jumat sendiri atau sholat dhuhur?

Jawaban nya
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah, wa ba’d:

Jazakillah  khairan kepada penanya … semoga Allah Ta’ala selalu menaungi antum, keluarga, dan kaum muslimin yang istiqamah dengan hidayah dan rahmatNya.

Pada dasarnya melaksanakan shalat jum’at adalah kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah : 9)

أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال لقوم يتخلفون عن الجمعة لقد هممت أن آمر رجلاً يصلي بالناس ثم أحرق على رجال يتخلفون عن الجمعة بيوتهم. رواه أحمد ومسلم عن ابن مسعود رضي اللّه عنه

وعن أبي هريرة وابن عمر: (أنهما ما سمعا النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم يقول على أعواد منبره لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن اللّه على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين). رواه مسلم وأحمد والنسائي من حديث ابن عمر وابن عباس.

وعن أبي الجعد الضمري وله صحبة: (أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم قال من ترك ثلاث جمع تهاوناً طبع اللّه على قلبه). رواه الخمسة. ولأحمد وابن ماجه من حديث جابر نحوه أخرجه أيضاً النسائي وابن خزيمة والحاكم بلفظ (من ترك الجمعة ثلاثاً من غير ضرورة طبع على قلبه) قال الدارقطني أنه أصح من حديث أبي الجعد.

Syarat wajib shalat jumah:
lelaki baligh yang mukim/menetap
Yang tidak wajib:
1. lelaki atau siapapun yang musafir
2. Perempuan
3. anak-anak
4. Budak
5. orang gila
6. Orang sakit.

Ancaman Allah Bagi yang Meninggalkannya
——————
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu A’laihi wa Salam bersabda tentang orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at dengan mengatakan,

”Sebenarnya aku berniat memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat bersama masyarakat dan aku pergi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at itu.”
(HR. Muslim dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Ibnu Umar bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu A’alibi wa Salam bersabda diatas mimbar bersabda,

”Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatan meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Al-Ja’d radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallllah  A’laihi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Ibnu Majah, no. 1126 juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallah  A’laihi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ   (وحسنه الشيخ الألباني في ” صحيح ابن ماجه)

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (Faidhul Qadir, 6/133)

Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan membatasi tiga kali dengan berturut-turut. Dalam musnad Thayalisi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu  A’laihi wa Sallam bersabda,

من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya.”

Dalam hadits yang lain,

من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه   (وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع)

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Tertunda karena Udzur syar’i
———————-
Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, katanya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: “Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: “Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 51, 717, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2188, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Aahad wal Matsaani No. 939, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 826. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48), Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 717), dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani juga menshahihkan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813) )

Dalam riwayat tersebut dijelaskan tentang shalat Al ‘Ashrain adalah:

«صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا»

“Shalat sebelum terbit matahari (Shalat Subuh) dan Shalat sebelum tenggelam matahari (shalat Ashar)”. (Ibid)

Dalam hadits ini nabi mengajarkan kepada sahabatnya untuk menjaga shalat lima waktu, tetapi sahabat itu mengeluh kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang kesulitannya menjaga shalat lima waktu itu, lalu nabi memerintahkan dia untuk menjaga shalat subuh dan ashar. Apa maksudnya? Apakah berarti dia boleh meninggalkan shalat lainnya karena kesibukannya, dan dia cukup shalat subuh dan ashar saja? Bukan itu! Sangat mustahil nabi memerintahkan sahabat itu hanya shalat subuh dan ashar tapi meninggalkan shalat wajib lainnya. Tetapi makna hadits ini mesti diartikan bahwa dia sangat sibuk dan kesulitan untuk menjaga shalat berjamaah, maka dia dianjurkan oleh nabi untuk menjaga shalat berjamaah subuh dan ashar, bukan menjaga shalat subuh dan ashar semata-mata.

Inilah Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, dia telah menjelaskan hadits ini dengan begitu bagus sebagai berikut:

وَفِي الْمَتْن إِشْكَال لِأَنَّهُ يُوهم جَوَاز الِاقْتِصَار على الْعَصْريْنِ وَيُمكن أَن يحمل على الْجَمَاعَة لَا على تَركهَا أصلا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Pada redaksi hadits ini nampak ada hal yang membingungkan, karena seakan nabi membolehkan cukup dengan shalat al ashrain (subuh dan ashar), kemungkinan maksud hadits ini adalah tentang meninggalkan shalat berjamaah, bukan meninggalkan shalatnya itu sama sekali. Wallahu A’lam.” (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menambahkan:

“Rukhshah (keringanan) ini terjadi hanyalah karena kesibukan yang dimiliki orang itu sebagaimana keterangan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam.” (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813)

Demikianlah, kesibukan apa pun yang mendatangkan kesulitan untuk shalat pada awal waktu,  atau tidak sholat jum’at berjamaah. Inilah di antara udzur syar’i itu. Tetapi, ini hanya berlaku bagi kesibukan pada aktifitas yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, bukan kesibukan karena kesia-siaan apalagi sibuk karena perkara haram dan maksiat.

Jadi, dari keterangan diatas, Khusus buat kasus saudara penanya, tentang kesulitan sholat jumat, bila memungkinkan bisa ditugaskan kepada pegawai wanita ketika jam-shalat jum’at  untuk menjaga . karena wanita tidak wajib shalat jumat. Atau jika ada yang non muslim, mungkin bisa didelegasikan dulu kepada mereka. .

Jika tidak didapatkan pengganti maka dibolehkan baginya untuk tidak melaksanakan shalat jum’at dan menggantinya dengan shalat zhuhur berdasarkan keumuman firman Allah swt :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At Thaghabun : 16)

Wallahu A’lam

WANITA HAID MEMEGANG QUR’AN

Ustadz Menjawab
Senin, 07 November 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

Assalamualaikum ukh.. sya ingin bertanya, berwudhu bagi orang haid, mmbaca Al Qur’an+Menyentuh dan membaca hafalan apakah diperbolehkan? Karena banyak pendapat yang mengatakan hal trs dilakukan tidak apa2, ada juga yang berpendapat hal itu dilarang. Mohon penjelasannya ukh. ☺  # A 43

Jawaban:
————
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jima’ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).

Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.

🌿Para Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu ‘Anhu, katanya:

أنه لا يحجزه شيء عن القرأءة إلا الجنابة            
“Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.”
(HR. Ibnu Majah No. 594)

Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاتقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن        

“Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.” (HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi – hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni,  Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id ‘An Qira’atil Quran,No. 1)

🌿Para Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qath’i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu A’lamTetapi, ada yang merinci: wanita  HAID dan  NIFAS adalah  BOLEH, sedangkan  JUNUB adalah TIDAK BOLEH.Syaikh Abdul Aziz bin BazRahimahullah mengatakan –dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج ولا بأس أن تقرأ القرآن على الصحيح أيضاً لأنه لم يرد نص صحيح صريح يمنع الحائض والنفساء من قراءة القرآن إنما ورد في الجنب خاصة بأن لا يقرأ القرآن وهو جنب لحديث على رضي الله عنه وأرضاه أما الحائض والنفساء فورد فيهما حديث ابن عمر { لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن } ولكنه ضعيف لأن الحديث من رواية اسماعيل بن عياش عن الحجازيين وهو ضعيف في روايته عنهم ، ولكنها تقرأ بدون مس المصحف عن ظهر قلب أما الجنب فلا يجوز له أن يقرأ القرآن لا عن ظهر قلب ولا من المصحف حتى يغتسل والفرق بينهما أن الجنب وقته يسير وفي إمكانه أن يغتسل في الحال من حين يفرغ من اتيانه أهله فمدته لا تطول والأمر في يده متى شاء اغتسل وإن عجز عن الماء تيمم وصلى وقرأ أما الحائض والنفساء فليس بيدهما وإنما هو بيد الله عز وجل ، فمتى طهرت من حيضها أو نفاسها اغتسلت ، والحيض يحتاج إلى أيام والنفاس كذلك ، ولهذا أبيح لهما قراءة القرآن لئلا تنسيانه ولئلا يفوتهما فضل القرأءة وتعلم الأحكام الشرعية من كتاب الله فمن باب أولى أن تقرأ الكتب التي فيها الأدعية المخلوطة من الأحاديث والآيات إلى غير ذلك هذا هو الصواب وهو أصح قولى العلماء رحمهم الله في ذلك .

“Tidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali – semoga Allah meridhainya dan dia  ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,” tetapi  hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits  dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi.  Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk  mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas,  dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka  dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama –rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah,  4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)

🌿Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

فسقط الاستدلال بالحديث على التحريم ووجب الرجوع إلى الأصل وهو الإباحة وهو مذهب داود وأصحابه واحتج له ابن حزم ( 1 / 77 – 80 ) ورواه عن ابن عباس وسعيد بن المسيب وسعيد بن جبير وإسناده عن هذا جيد رواه عنه حماد بن أبي سليمان قال : سألت سعيد بن جبير عن الجنب يقرأ ؟ فلم يربه بأسا وقال : أليس في جوفه القرآن ؟

“Maka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; “Bukankah Al Quran juga berada di rongga  hatinya?” (Tamamul Minnah, Hal. 117)

🌿Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:

يجوز للحائض أن تقرأ القرآن للحاجة، مثل أن تكون معلمة، فتقرأ القرآن للتعليم، أو تكون طالبة فتقرأ القرآن للتعلم، أو تكون تعلم أولادها الصغار أو الكبار، فترد عليهم وتقرأ الآية قبلهم. المهم إذا دعت الحاجة إلى قراءة القرآن للمرأة الحائض، فإنه يجوز ولا حرج عليها، وكذلك لو كانت تخشى أن تنساه فصارت تقرؤه تذكراً، فإنه لا حرج عليها ولو كانت حائضاً، على أن بعض أهل العلم قال: إنه يجوز للمرأة الحائض أن تقرأ القرآن مطلقاً بلا حاجة.وقال آخرون: إنه يحرم عليها أن تقرأ القرآن ولو كان لحاجة.فالأقوال ثلاثة والذي ينبغي أن يقال هو: أنه إذا احتاجت إلى قراءة القرآن لتعليمه أو تعلمه أو خوف نسيانه، فإنه لا حرج عليها.

“Dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk  membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.              

Jadi, tentang “Orang Berhadats Besar Membaca Al Quran” bisa kita simpulkan:

🍀 Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali, Jabir,  hingga tabi’in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakha’i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, dan Ishaq.

🍀 Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi ‘Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

🍀 Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin.

🍀Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub.  Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud,  Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.

Wallahu a’lam.