Seputar Waris

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Ijin mengajukan pertanyaan mengenai bab waris.

Dalam sebuah keluarga dimana kedua orang tua sudah tiada, dan tinggal beberapa anak yang sudah mendapat hak waris.

Salah satu anak tersebut bermasalah dengan hidupnya (tidak bekerja, tidak berkeluarga, dan agak agak tidak sehat jiwanya)

Kemudian anak tersebut meninggal.. Dan dia masih memegang warisan dari ortunya.

Lalu warisan tersebut akhirnya dibagikan kembali ke kakak2nya.

Pertanyaannya :
1. Apakah sah jika harta warisan itu diwakafkan (untuk pembangunan masjid misalnya)?

2. apakah warisan yg diwakafkan tersebut juga bisa menambah pahala bagi si mayit, meski semasa hidupnya ia tidak meniatkan hartanya untuk diwakafkan?
Jazaakillahu khoiron katsiiron…

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Jadi, saat anak tersebut wafat dia memiliki harta yg merupakan harta warisan dari org tuanya.

Maka, harta tersebut tentunya juga di wariskan. Karena orangtua sdh wafat, anak itu juga tidak punya anak atau istri (betul ya), yg ada hanya saudara2 kandung .. maka tentu harta dia diwariskan untuk saudara2nya itu.

Kemudian, apakah apa boleh diwaqafkan harta tersebut? Yg perlu dilakukan adalah dibagikan dulu ke saudara2 kandungnya sebagai waris .. setelah itu silahkan saudara2nya menyedekahkan harta itu atas nama anak tersebut .. jadi, bukan ujug-ujug jadi waqaf sebab dia tidak pernah berniat waqaf ..

Sedekah atas nama orang yang sudah wafat sampai pahalanya dan ini ijma’ ..

Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya memasukkan hadits ini dalam _Bab Wushul tsawab Ash Shadaqah ‘anil Mayyit Ilaih._ (Sampainya pahala sedekah dari Mayit kepada yang Bersedekah)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

“Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya, apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawa: Na’am (ya).” (HR. Muslim No. 1630)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan tentang maksud hadits di atas:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث جَوَاز الصَّدَقَة عَنْ الْمَيِّت وَاسْتِحْبَابهَا ، وَأَنَّ ثَوَابهَا يَصِلهُ وَيَنْفَعهُ ، وَيَنْفَع الْمُتَصَدِّق أَيْضًا ، وَهَذَا كُلّه أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu

sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan, semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.” (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 6/20. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Demikian.

Wallahu a’lam.

KESUKSESAN SEJATI

Allāh ﷻ berfirman dalam Surat Al-A’rāf [7] ayat 126:

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ *رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ*

_Dan engkau tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa), *“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”*_

📌 Betapapun tingginya tingkat kemusyrikan seseorang, jika Allāh ﷻ menghendaki kematian yang _husnul khatimah_, maka tidak ada siapapun yang dapat menghalanginya

📌 Husnul khatimah adalah akhir kehidupan manusia dalam kondisi yang terbaik, mudah mengucapkan kalimat thayyibah, dan sedang berprasangka baik kepada Allāh ﷻ

📌 Kondisi akhir terbaik ada pada puncak tawakkal-nya dengan meniadakan _ilah_ dalam wujud apapun

📌 Keimanan tegak di atas keilmiahan sehingga lahir ketenangan, pada saat itu muncul keberanian dan motivasi untuk menatap hari setelah kematian

📌 Dengan kehendak Allāh, di pagi hari mereka musyrik, namun di petang hari wafat sebagai syuhadā, meski merasakan hukuman salib pertama, dan hukuman pemotongan tangan dan kaki secara bersilangan

📌 Para senior pakar sihir yang akhirnya beriman ini, dalam penghayatannya, telah mewariskan do’a yang pantas kita dawamkan selaku manusia yang mengaku telah lama beriman, agar melibatkan Allāh untuk memberikan akhir yang baik, kesuksesan sejati, bagi kita:

*_Rabbanā afrigh ‘alainā shabran, wa tawaffanā muslimīn._*

Jakarta, 19 Shafar 1439 H

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

Haruskah Riba Kembali??

Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamualaikum. … saya ingin bertanya.
Dahulu kami membangun usaha dengan meminjam uang dari bank. Saat ini setelah kami sering mempelajari Al Quran dan mengikuti kajian Islam, kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami berjanji akan menyelesaikan hutang-hutang kami yang tersisa dan melakukan shalat taubat.
Tetapi saat ini orang tua meminta bantuan untuk meminjam dana guna perluasan usaha dibidang pendidikan kebank menggunakan nama kami, meskipun perbulannya orang tua yang akan membayar cicilanya (karena usia orang tua tidak layak saat diverifikasi oleh bank).
Apakah kami ikut terlibat dosa riba dalam kondisi seperti ini? Sedang kami tidak memakan keuntungan riba tersebut dan bertujuan membantu orang tua. Apa yang sebaiknya kami lakukan agar tidak menyingung perasaan orang tua dan tidak menimbulkan konflik keluarga?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

📌 Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah Ta’ala

📌 Allah Ta’ala juga melarang saling bantu dalam dosa dan kejahatan, laa ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan ..maka menggunakan nama kita utk itu sama saja menjadi fasilitatornya

📌 Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه وقال هم سواء
Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, yang memberinya, pencatatnya, dan yang menjadi saksinya. Beliau berkata: semua sama. (HR. Muslim No. 1598)

Jadi, fasilitatornya juga kena, walau tidak memakannya.

📌 Solusinya adalah tetap hindari, jaga perasaannya, lalu berikan alternatif ke Bank Syariah, dengan akad yamg sesuai syariah juga.
Selamat berjuang .. !

Wallahu a’lam.

Misi Membalas Dendam, Uhud adalah Hasadnya Musyrikin Makkah

📚 *Bagian Pertama*

Ibnu Hisyam mencatat bahwa setelah kekalahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada Quraisy, gembong kemusyrikan dicampakkan ke dalam sumur di Badr, dan sisanya lari tunggang-langgang ke Makkah maka Abu Sufyan menjadi tumpuan harapan mereka.

Tokoh yang melobinya adalah Abdullah ibn Abi Rabi’ah, Ikrimah ibn Abi Jahl, dan Shafwan ibn Umayyah. Mereka bertiga telah kehilangan, entah ayah, anak, atau saudara di Pertempuran Badr. Mereka mendesak Abu Sufyan dan rombongan kafilahnya yang terselamatkan itu untuk mendanai ekspedisi balas dendam.

Mereka mengajukan argumentasi bahwa kekalahan Badr itu adalah penghinaan yang harus dibalas serta pembunuhan atas punggawa mereka, mereka mendesak:

فأعينونا بهذا المال على حربه

Maka bantulah kami dengan pendanaan atas ekspedisi perang (Uhud) tersebut

Berkenaan dengan rencana busuk ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya Surah al-Anfaal ayat ke-36

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.

Agung Waspodo, sekilas di waktu Subuh, perhatikan perjalanan hidup, apakah terwarnai oleh keRidhaan atau amarah murka?

Depok, 20 Februari 2018

👉🏻 Bersambung ke Bagian kedua

*Referensi:* _ar-Raudhul Unuf karya al-Imam Abil Qasim Abdurrahman al Khats’ami as-Suhayli, Jilid 3, halaman 250, Darul Hadits_

Bulu Mata Palsu

Assaalaamu ‘alaikum wrwb..
Maaf ustadzah mau tanya, apakah bulu mata palsu termasuk menyambung rambut?
Makasih. #A 13

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Menurut saya pertanyaan ini tentu saja dikaitkan dengan keinginan untuk memakai bulu mata palsu ini.

Saya lebih tertarik membahasnya dari sisi tujuan dan dampak negatifnya

Artikel-artikel yang membahas tentang bulu mata palsu menyebutkan manfaatnya untuk tampil cantik dan seksi. Salah satunya berbunyi:

Merias mata bisa membuat seorang wanita terlihat berbeda alias lebih cantik dan sexy. Selain merias mata dengan eye shadow, biasanya sebagian wanita juga memakai bulu mata palsu.

Sedangkan dari sisi negatifnya disebutkan,dokter telah memperingatkan ekstensi bulu mata bisa menimbulkan risiko kesehatan serius, dari infeksi mata sampai alergi. Bulu mata palsu bahkan dapat merusak bulu mata alami seseorang, sehingga membuat bulu mata asli mereka lebih tipis, katanya memperingatkan.

Bulu mata ekstensi biasanya dilakukan di salon, tapi benda kecantikan ini juga bisa diterapkan sendiri. Penerapannya, bulu mata sintetis pribadi ditempel pada bulu mata alami perempuan. Fungsi bulu mata ekstensi adalah untuk memperpanjang, menambah volume, dan dapat bertahan sampai enam minggu.

Namun, Robert Dorin dari Tru and Dorin Medical Group di Kota New York, Amerika Serikat, mengatakan, lem yang digunakan untuk menempelkan bulu mata palsu ke bulu mata alami perempuan bisa menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang.

“Untuk beberapa alasan bakteri dapat menetap di sana sehingga menyebabkan infeksi jamur dan virus.”

Beberapa lem mengandung formalin yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Lalu, bulu mata gaya ini juga dapat memicu infeksi mata karena kotoran dan bakteri yang terjebak di dalamnya,” kata Dorin.

Risiko terbesarnya adalah bulu mata ekstensi dapat merusak bulu mata alami, karena dia diletakkan di atas kelopak mata. Akibatnya, bulu mata alami dapat menjadi lebih tipis.

“Menggunakan bulu mata ekstensi secara teratur dapat memberikan tekanan pada folikel rambut. Pada akhirnya bulu mata akan rontok dan tidak tumbuh kembali,” kata Dorin.

“Di Jepang, bulu mata ekstensi sangat populer. Namun, benda kecantikan ini menyebabkan dokter mata menerima peningkatan pasien yang datang dengan masalah mata” katanya. Sebagian besar kunjungan ke klinik mata di negara tersebut disebabkan oleh infeksi karena bulu mata ekstensi, ujarnya.

Kecantikan yang sesungguhnya adalah kecantikan alami dan bukan penipuan disertai dengan kecantikan hati. Apalagi resikonya demikian besar bagi kesehatan. Jadi hindarilah penggunaan bulu mata palsu tsb.

Wallahu a’lam.

Keteladanan Kunci Suksesnya Pendidikan

© Dalam proses pendidikan anak ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua. Mendidik mereka tak cukup menyampaikan materi yang kita baca tapi kita pun melaksanakannya.

▪Kita tentunya sudah tahu bahwa kunci pendidikan adalah keteladanan. Dengan mengambil referensi dari buku Tarbiyatul Aulad karya Ustadz Abdullah Nashih Ulwan ada beberapa hal yang harus kita cermati sebagai orang tua.

1. Lisanul Hal afshahu min lisanul Maqal. Bahwa keteladanan dari perilaku orang tua jauh lebih manjur bila dibandingkan dengan ucapan saja. Semisal kita suruh anak shalat dengan meneriaki akan merasa kesulitan meskipun suara kita sudah mengeras bahkan dengan membentak sekalipun. Mengapa tidak kita lakukan dengan kita berwudhu dan mengajak shalat bersama. Mengusapnya, menyentuhnya sebagai bentuk dari ajakan.

2. Attarbiyah bil muta’ah. Kita harus mendidik dengan pengawasan. Kita tidak hanya melepas begitu saja sekiranya anak kita sudah sekolah di tempat yang baik. Belum sepenuhnya karena pendidikan yang utama adalah tanggung jawab utama dipikulkan pada pundak orang tua. Maka wajiblah kita mengawasi mereka.

3. At Tarbiyah Bin Nashihah. Mendidik dengan nasihat. Mendidik anak dengan kalimat-kalimat berhikmah untuk membentuk pribadi yang shalih. Kita ajak mereka berdialog penuh kenyamanan. Sikap tubub dan bahasa lisan mampu membentuk kepribadian mereka. Maka hiasi hari-hari dengan saling berbincang tentang kebaikan.

4. At Tarbiyah bil ‘aadah. Mendidik anak dengan kebiasaan. Hal yang baik bisa kita contohkan. Orang tua itu potret pertama bagi anak. Apa yang dilakukan oleh mereka para orang tua di rumah dan kebiasaannya itulah yang akan ditiru. Bahkan semangat mengikuti agenda dakwah menjadi contoh juga bagi anak-anak kita. Dan tentunya masih banyak lagi adat kebiasaan di rumah yang ditiru oleh anak-anak kita.

5. At Tarbiyah bil hadiah wa Uqubah. Mendidik dengan hadiah, penghargaan dan iqab atau hukuman. Tentu saja hadiah bukan sembarang hadiah. Hadiah bisa berupa pujian yang membangun rasa percaya dirinya. Atau bisa juga dengan barang-barang sederhana yang bagi mereka cukup membahagiakan. Menyenangkan anak tidak harus mahal. Bahkan membangun suasana kebersamaan dengan jalan-jalan atau makan di luar bersama juga bisa.

Untuk hukuman juga bukan serta merta berupa tindakan yang berat. Tapi lebih pada yang sifatnya mendidik agar mereka semakin memahami kaidah yang menjadi ketentuan agama ini. Selain itu juga perlu alasan yang bijak untuk disampaikan kepada anak-anak tentang hukuman yang diberikan agar mereka mengerti. Seperti halnya Luqman Al Hakim berkata: “Jangan menyekutukan Allah, karena itu sebuah kedzaliman yang besar.

® Seperti inilah proses pendidikan anak yang kita harapkan bisa meneruskan perjuangan dakwah ini.

Bahaya Tidak Memahami Perbedaan Fiqih Para Ulama

📌 Lahirnya generasi kaku dalam berfiqih

📌 Mereka tidak peduli dengan khilaf (perselisihan) para ulama dalam sebuah permasalahan

📌 Bagi mereka hanya satu pendapat yaitu yang mereka yakini kebenarannya dan merasa itulah satu-satunya yg sesuai dalil, yang lain tidak ..

📌 Mereka begitu malas membuka diri terhadap pendapat yang lain, mungkin karena pendapat itu dianggap aneh dan asing oleh mereka

📌 Jika ini dialami orang awam maka kita masih maklumi

📌 Tapi jika ini dilakoni oleh yang dianggap ustadz, maka binasalah mereka dan rusaklah fiqih

Imam As Subki Rahimahullah menasehati dengan tajam:

وَكَذَلِكَ لَا يهون الْفَقِيه أَمر مَا نحكيه من غرائب الْوُجُوه وشواذ الْأَقْوَال وعجائب الْخلاف قَائِلا حسب الْمَرْء مَا عَلَيْهِ الْفتيا فَليعلم أَن هَذَا هُوَ المضيع للفقيه أَعنِي الِاقْتِصَار عَلَى مَا عَلَيْهِ الْفتيا فَإِن الْمَرْء إِذا لم يعرف علم الْخلاف والمأخذ لَا يكون فَقِيها إِلَى أَن يلج الْجمل فِي سم الْخياط

Demikian juga, seorang Faqih (ahli fiqih) janganlah meremehkan persoalan yang termasuk dalam pendapat-pendapat asing, perkataan yang janggal, dan perselisihan dalam perkara yg aneh-aneh. Lalu dia berkata: “Cukuplah bagi seseorang mencari pendapat yang bisa difatwakan saja”.

Maka hendaknya diketahui, faqih yang semodel ini adalah seorang menyia-nyiakan, yaitu sikapnya yang membatasi diri hanya berkutat pada pandangan yang difatwakan saja.

Sesungguhnya, seseorang jika tidak mengetahui ilmu yang diperselisihkan para ulama dan sumber pengambilannya, maka dia tidak akan pernah menjadi seorang ahli fiqih sampai unta masuk lubang jarum sekali pun.

(Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 1/319)

Wallahu a’lam Walillahil ‘Izzah

Bolehkah Sholat Sunnat Fajar Sesudah Sholat Shubuh???

Assalamualaikum ustadz😀 , ada pertanyaan dr member 🅰0⃣8⃣:

Mau tanya apakah boleh shalat sunat fajar dilakukan sesudah shalat subuh? Karena sy seorang ibu yg memiliki bayi. Pernah suatu kali sy mendahulukan shalat sunat fajar tp kemudian bayi sy menangis dan sy hrs menyusuinya hingga sy shalat subuhnya sdh telat sekali diakhir waktu. Demikian prtanyaan sy. Jzk atas jawabannya

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Shalat sunah fajar boleh diqadha, yakni dilakukan setelah subuh baik matahari telah terbit atau belum. Hal ini berdasarkan hadits berikut (sebenarnya masih ada beberapa hadits lainnya, namun saya sebut dua saja):

Hadits Pertama:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang belum shalat dua rakaat fajar, maka shalatlah keduanya (sunah fajar dan subuh) sampai tebitnya matahari.”  (HR. At Tirmidzi No. 423)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

وقد روي عن ابن عمر أنه فعله  والعمل على هذا عند بعض أهل العلم وبه يقول سفيان الثوري وابن المبارك والشافعي وأحمد وإسحق

Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia melakukannya. Sebagian ulama telah mengamalkan hadits ini dan inilah pendapat Sufyan At Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy Syafi’I, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, penjelasan hadits No. 423)

Imam Asy Syaukani menulis dalam Nailul Authar sebagai berikut:

وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَاهُمَا مَعَ الْفَرِيضَةِ لَمَّا نَامَ عَنْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

“Telah tsabit (kuat) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengqadha keduanya  (shalat sunah fajar)  bersama shalat wajib (subuh) ketika ketiduran saat fajar dalam sebuah perjalanan.” 

Tentang hadits Imam At Tirmidzi di atas,  Imam As Syaukani berkata:

وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ مَا يَدُلُّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ فِعْلِهِمَا بَعْد صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Pada hadits ini tidaklah menunjukkan  larangan untuk melaksanakan dua rakaat tersebut setelah shalat subuh.”    (Nailul Authar, 3/25)

Hadits Kedua:

Hadits yang paling jelas tentang qadha shalat sunah fajar adalah riwayat tentang Qais bin Umar bahwa beliau shalat subuh di masjid bersama Rasulullah, sedangkan dia sendiri belum mengerjakan shalat sunah fajar. Setelah selesai shalat subuh dia berdiri lagi untuk shalat sunah dua rakaat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   berjalan melewatinya dan bertanya:

مَا هَذِهِ الصَّلَاةُ فَأَخْبَرَهُ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَضَى وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

“Shalat apa ini?, maka dia menceritakannya. Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diam, dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.” (HR. Ahmad No. 23761, Abdurazzaq dalam Al Mushannaf No. 4016, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul Ummal No. 22032, Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkat: Berkata Al Iraqi: sanadnya hasan. (Fiqhus Sunnah, 1/187). Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: hadits ini mursal (terputus sanadnya pada generasi sahabat), namun semua perawinya tsiqaat. Lihat Taliq Musnad Ahmad No. 23761)

Beliau  melanjutkan:

وظاهر الاحاديث أنها تقضى قبل طلوع الشمس وبعد طلوعها، سواء كان فواتها لعذر أو لغير عذر وسواء فاتت وحدها أو مع الصبح

“Secara zhahir, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengqadha shalat sunah fajar  bisa  dilakukan sebelum terbit matahari atau setelahnya. Sama saja, baik terlambatnya karena adanya udzur atau selain udzur,  dan sama  pula baik yang luput itu shalat   sunah fajar saja, atau juga shalat subuhnya sekaligus.   (Fiqhus Sunnah, 1/187) Sekian. Wallahu Alam

Syaikh  Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

وقال ابن الملك: سكوته يدل على قضاء سنة الصبح بعد فرضه لمن لم يصلها قبله. وبه قال الشافعي – انتهى. وكذا قال الشيخ حسين بن محمود الزيداني في المفاتيح حاشية المصابيح، والشيخ علي بن صلاح الدين في منهل الينابيع شرح المصابيح، والعلامة الزيني في شرح المصابيح

Berkata Ibnu Al Malik: Diamnya nabi menunjukkan bolehnya mengqadha shalat sunah subuh setelah ditunaikan kewajiban subuhnya, bagi siapa saja yang belum melakukannya sebelumnya. Ini adalah pendapat Asy Syafii. Selesai. Demikian juga pendapat Syaikh Husein bin Mahmud Az Zaidani dalam kitab Al Mafatih Hasyiah Al Mashabih, Syaikh Ali bin Shalahuddin dalam kitab  Manhal Al Yanabi Syarh Al Mashabih, dan juga Al Allamah Az Zaini dalam Syarh Al Mashabih. (Mirah Al Mafatih, 3/465).
Namun, hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan.

Wallahu a’lam.

Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….bagaimana menanggapi Undangan Imlek dr saudara atau tetangga? Keluarga jg ada turunan Cina

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Sekitar th 2007 saya pernah tanya ke salah satu tokoh Etnis Tionghoa di Pontianak, bahwa Imlek itu bukan sekedar tahun baru atau budaya tapi ada nilai teologis dan ideologisnya, yaitu ada unsur keyakinan tertentu kpd dewa-dewa  Cina .. ​Maka, kita hrs berlepas diri dgn perayaan2 sprti itu, apa pun bentuknya​ …

Ada pun menerima hadiah dari mereka .. pernah dibahas waktu bulan Desember lalu ..

💢💢💢💢💢💢
Ustadz
Bagaimana sikap terbaik dlm islam, terhadap tentangga kita yg akan merayakan natal
Mereka tetangga yg baik dan santun
Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami.
Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?
Kami belum tau makanan itu pesan atau buat sendiri, dan tidak tau apakah mereka meng konsumsi yg diharamkan dlm islam.
Mohon penjelasan ustadz🙏🏼
—————————————-
Bismillah wal Hamdulillah ..

Hendaknya tetap berbuat baik dalam  momen yg lain, yg bukan ritual keagamaan.

Menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama makanan halal, barang halal, bukan makanan acara ritualnya, tidak apa-apa.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid  mengatakan:

أما قبول الهدية من الكافر في يوم عيده ، فلا حرج فيه ، ولا يعد ذلك مشاركة ولا إقرارا للاحتفال ، بل تؤخذ على سبيل البر ، وقصد التأليف والدعوة إلى الإسلام ، وقد أباح الله تعالى البر والقسط مع الكافر الذي لم يقاتل المسلمين ، فقال : ( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8.
لكن البر والقسط لا يعني المودة والمحبة ؛ إذ لا تجوز محبة الكافر ولا مودته ، ولا اتخاذه صديقا أو صاحبا

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari rayanya, tidak apa-apa. Itu tidak dinilai ikut serta dalam perayaan dan menyetujui acara mereka.

Bahkan itu bisa dijadikan sarana kebaikan dan ajakan kepada Islam. Allah Ta’ala telah membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang yang tidak memerangi kaum muslimin:

​Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.​ (QS. Al Mumtahanah: 8)

Tetapi berbuat baik dan adil bukan berarti menumbuhkan kasih sayang dan Mahabbah (cinta), sebab kasih sayang dan cinta terlarang kepada orang kafir, serta terlarang menjadikan sebagai sahabat dekat.

​(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab   no. 85108)​

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها .

​Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, dulu kami telah jelaskan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia diberikan hadiah pada hari raya Nairuz, dan dia menerimanya.​

​(Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 251)​

Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم

Bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, katanya: ​”Kami memiliki wanita-wanita yang menyusui anak kami, dan mereka Majusi, mereka memberikan kami hadiah.”​

Aisyah menjawab: ​”Ada pun makanan yg disembelih karena hari raya itu (makanan ritual), maka jangan kalian makan, tetapi makanlah yang sayuran.”​ ​(Ibid)​

​Bagaimana kalau kita yg memberikan hadiah?​

Jika tidak terkait hari raya tidak apa-apa, bahkan bagus untuk mendakwahkan mereka. Dahulu Aisyah ​Radhiyallahu ‘Anha​  membawakan makanan kepada ibunya yang masih musyrik, dan Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ membolehkannya.

Tapi pemberian itu jika terkait hari raya, itu tidak boleh.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

يجوز للمسلم أن يهدي للكافر والمشرك ، بقصد تأليفه ، وترغيبه في الإسلام ، لاسيما إذا كان قريبا أو جارا ، وقد أهدى عمر رضي الله عنه لأخيه المشرك في مكة حلة (ثوبا) . رواه البخاري (2619).

​Boleh bagi seorang muslim memberikan hadiah kepada orang kafir dan musyrik, dengan tujuan mengikat hatinya dan mengajaknya kepada Islam. Apalagi jika dia kerabat dekat atau tetangga. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yg musyrik di Mekkah. (HR. Bukhari no. 2619)​

لكن لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل .

_Tapi tidak boleh memberikan hadiah kepada orang kafir di hari raya me

reka. Sebab itu dihitung sebagai ikut serta dan pengakuan atas acara hari raya mereka yg batil._

وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما ، حتى ذهب بعض أهل العلم إلى أن ذلك كفر .

​Jika hadiah itu dapat membantu perayaan tersebut baik berupa makanan, minuman, dan lainnya. Maka, itu keharamannya besar, sampai ada sebagian ulama berpendapat ini adalah kafir.​

​(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab   no. 85108)​

📓 Jadi, kesimpulannya:

– Secara umum menerima atau memberi hadiah kepada non muslim boleh, selama barang dan makanan halal

– Termasuk menerima hadiah dr mereka saat hari raya mereka, selama harta dan makanan halal, bukan barang dan makanan ritual. Ini tidak termasuk ikut membantu acara mereka.

– Kecuali memberikan hadiah saat mereka hari raya, ini terlarang. Sebab termasuk membantu mensukseskan acara mereka.
Demikian.

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN: Muraqobah – Ayat-ayat Muraqobah​

​Al Quran:​

قَالَ الله تَعَالَى :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ [ الشعراء :218 – 219 ]،

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُم [الحديد :4] ،

إِنَّ اللهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ [ آل عمران : 5 ] ،

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ[ الفجر : 14 ] ،

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ [ غافر : 19 ]

وَالآيات في البابِ كثيرة معلومة .

​Artinya:​

Firman Allah Subhanahu wa Ta’aala.

​QS Assyu’ara: 218-219​
​Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.​

​QS Al-Hadid:4​
​Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.​

​QS Ali Imran:5​
​Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.​

​QS Al-Fajr:14​
​Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.​

​QS Al-Ghafir: 9​
​Allah mengetahui pengkhianatan (penyelewengan dan ketiadaan jujur) pandangan mata seseorang, serta mengetahui akan apa yang tersembunyi di dalam hati.​

Dan banyak lagi ayat-ayat lain…

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:

 http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1