Gimana Cara Mengetahui Kelebihan Kita?

🌍 Ustadz Menjawab
✍🏽 Ustadzah Heni
📆 11 November 2016
======================
🍃🍃🌷🍃🍃🌷🍃🍃🌷

Assalamu’alaikum kak..
Gimana cara mengetahui kelebihan yang kita miliki? Karena orangtua mengatakan saya sering  membuat mereka malu. Saya jadi merasa minder dan malu. Selama ini saya berpikir hanya punya kekurangan saja tanpa satu pun kelebihan.
#MFT A08

Jawaban
========

Walaikumssalam
Ada beberapa cara untuk mengetahui kemampuan diri.

⇨ Bertanya ke sahabat, apa-apa saja yang baik dari diri sendiri.
⇨ Bisa melalui psikotes minat-bakat.
⇨ Kalau orangtua selama ini mengatakan sering membuat malu, perlu berdiskusi dengan orangtua, apa-apa saja yang membuat malu. Sehingga, Ananda tahu penyebab dari orangtua mengatakan sering membuat malu.

Setiap manusia selalu memiliki kekurangan dan Kelebihan. Allah SWT tidak menciptakan seluruh isi bumi ini dengan sia-sia, semua pasti ada manfaatnya. Termasuk kehadiran manusia di bumi ini.

Semoga bermanfaat

Ngobrol Lama-lama Sama Cowok

🌍 Ustadz Menjawab
✍🏽 Ustadzah Heni
📆 10 November 2016
======================
🍃🍃🌷🍃🍃🌷🍃🍃🌷

Assalamualaikum kak. Mau nanya…

Temenku dikelas itu suka bgt bahas tentang film dan lagu barat setiap hari pasti bicarain itu trs dia perempuan dan bicarain nya sm laki2. Aku ngeliat nya kya gmn gt. Pgn aku ksh nasihat tp tkut salah. Gmana ka??
#MFT A08

Jawaban
========

Walaikumssalam…
Kenapa seseorang betah berlama-lama ngobrol dengan satu orang atau lebih karena tema obrolannya nyambung jadinya ngobrol terasa asiikkk…☺☺☺
Dan itu terjadi ke teman Ananda yang asik ngobrol dengan teman laki-laki. Trus, gimana cara kasih tahu adab bergaul dengan laki2?

Kasih tahunya gak didepan umum atau didepan teman-teman lainnya. Bisa dunk…ajak ngobrol teman itu berdua saja. Diawali dengan tema obrolan lain setelah merasa nyaman untuk ngobrol barulah Ananda memberikan sedikit nasehat bagaimana bergaul dengan laki-laki dan bagaimana sebaiknya perempuan menjaga dirinya. Tentunya nasehat yang diberikan tidak bersifat menggurui.

Semoga bermanfaat

Kemunafikan Itu Akhirnya Terbongkar

📆 Kamis, 09 Shafar 1438 H/10 November 2016

📘 Ibadah

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Sangat mudah bagi Allah Ta’ala membuka tirai kemunafikan sebagian manusia. Hanya dengan satu peristiwa Allah Ta’ala mempertontonkan mereka secara gamblang. Mereka mudah kita temukan di di dunia nyata dan maya.

Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut, lalu lihat apa yang sedang hangat terjadi di negeri kita…

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.” (QS. An-Nisa: 138)

Allah Ta’ala memerintahkan agar memberikan kabar untuk kaum munafikin dengan azab yang pedih bagi mereka.

Lalu, siapakah orang munafik yang dimaksud?

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari ‘izzah di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua ‘izzah kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa: 139)

Ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan dengan terang beberapa karakter orang munafik…

1⃣ Mengangkat orang kafir sebagai pemimpin, penolong, pelindung, seraya membuang jauh-jauh orang-orang beriman. Bahkan lebih parah lagi, untuk kasus Indonesia, mereka menjadi pasukan khusus orang kafir tersebut, serta mereka pun mengolok-olok, menghina, memfitnah, dan makar terhadap orang-orang beriman.

2⃣ Mereka melakukannya karena dunia yaitu ‘izzah dari orang kafir, baik itu perlindungan, harta, proyek, dan keakraban.

3⃣ Padahal semua ‘izzah (kemuliaan, kehormatan, kekuatan) berasal dari Allah Ta’ala semata.

Kemudian… Allah Ta’ala menunjukkan karakter lain dalam ayat selanjutnya, yaitu mereka tetap duduk bersama orang kafir walau mereka tahu ayat-ayat Allah Ta’ala dinista. Bagi mereka dinistanya ayat-ayat Allah Ta’ala bukan masalah, masalah bagi mereka adalah jika orang kafir kecintaannya itu yang dinista, barulah mereka bangkit bergerak.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An-Nisa: 140)

Jadi, sikap diam saja saat Al-Qur’an diolok-olok dan dia pun mengetahuinya tapi masih tetap duduk bersama mereka maka itu cukup menunjukkan bahwa dia termasuk golongan kuffar.

Kemudian…

ان الله جامع الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa: 140)

Ini merupakan hasil akhir bagi kaum munafikin yang mendukung, membela, dan melindungi orang-orang kafir yang merendahkan Islam. Bahkan, kepada yang tetap diam bersama penista saat Al-Qur’an dinista. Mereka satu cluster di akhirat, tidak terpisah, sebab pada hakikatnya mereka satu walau lahiriyahnya berbeda.

Ibrahim An-Nakha’i Rahimahullah mengatakan:

وإِن الرجل ليجلس في المجلس، فيتكلم بالكلمة، فيسخط الله بها، فيصيبه السّخط، فيعمّ من حوله.

“Seseorang yang duduk dalam sebuah majelis di sana membicarakan hal yang membuat Allah murka, maka murka Allah turun kepadanya,  bahkan menimpa secara umum bagi yang sekitarnya pula.” (Imam Ibnul Jauzi,  Zaadul Masiir, 1/487)

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

Pengantar Aqidah Islamiyah

📆 Jumat, 11 Shafar 1438H / 11 Nopember 2016

📚 AQIDAH ISLAM

📝 Pemateri: Ustadz KH Aus Hidayah Nur

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

🌷. APA ITU AQIDAH?

Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti “keimanan”, “kepercayaan yang kokoh” atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.

Pondasi akidah Islam didasarkan pada hadits Jibril, yang memuat definisi Islam, rukun Islam, rukun Iman, ihsan dan peristiwa hari akhir.

Sedangkan menurut istilah (terminologi), akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, Akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepadaNya, beriman kepada para malaikatNya, rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ salaf as-shalih.

🌷. BAGAIMANAKAH KEDUDUKAN AQIDAH DALAM AJARAN ISLAM?

Dalam ajaran Islam, aqidah memiliki kedudukan yang paling penting. Ibarat suatu bangunan, aqidah adalah pondasinya, sedangkan ajaran Islam yang lain, seperti ibadah dan akhlaq, adalah sesuatu yang dibangun di atasnya.

Rumah yang dibangun tanpa pondasi adalah suatu bangunan yang sangat rapuh. Tidak usah ada gempa bumi atau badai, bahkan untuk sekedar menahan atau menanggung beban atap saja, bangunan tersebut akan runtuh dan hancur berantakan.

Maka, aqidah yang benar merupakan landasan (asas) bagi tegak agama (din) dan diterimanya suatu amal.

🌷. BAGAIMANAKAH HUBUNGAN AQIDAH DENGAN AJARAN ISLAM LAINNYA?

Ibarat sebuah pohon,  Aqidah merupakan akar pohon sedangkan ibadah bagaikan batang dari pohon tersebut, sedangkan ajaran-ajran lain seperti akhlaq, syariah, jihad dan lain-lain .

Jika pohon itu ingin subur dan memberikan manfaat maka yang besar  maka akar dan batangnya yang lebih dahulu harus kokoh dan kuat.

Firman Allah, tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim: 24-25)

🌷. MENGAPA AQIDAH MERUPAKAN ILMU YANG SANGAT PENTING?

Karena setiap muslim wajib menjadikan aqidah atau keimanan sebagai landasan dari seluruh amal perbuatan dan perilakunya sehingga tidak ada satu pun yang terlepas dari keimanan.

Jika Anda ingin belajar Islam dengan urutan yang benar maka pelajarilah aqidah terlebih dahulu.

Itu sebabnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam memprioritaskan  menanamkam aqidah kepada para sahabatnya selama 13 tahun pertama di Makkah. Para sahabat Nabi telah memiliki iman yang kokoh sebelum mereka melaksanakan seluruh ajaran syariat Al Qur-an di Madinah.

Seperti kata Abdullah bin Umar bin Khattab  Rodhiyallahu Anhuma, “Kami telah mengalami masa yang panjang dalam perjuangan Islam, dan seorang dari kami telah ditanamkan keimanannya sebelum diajarkan Al-Qur’an, sehingga tatkala satu surah turun kepada Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam  maka ia langsung mempelajari dan mengamalkan halal-haram, perintah-larangan dan apa saja batasan agama yang harus dijaga.

Lalu aku melihat banyak orang saat ini yang diajarkan Al-Qur’an sebelum ditanamkan keimanan dalam dirinya, sehingga ia mampu membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir dan tak mengerti apa-apa soal perintah dan larangan dan batasan apa saja yang mesti dipelihara.”

[Kitab Al-Mustadrak ‘Alash-Shahiihain, Jilid I hlm, 35]

Perwira Tinggi Militer & Keluarganya – Hijab dalam Dunia Kemiliteran Turki Utsmani

📆 Kamis, 09 Safar 1438H / 10 November 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

🌐 Stasiun Kereta-api, İstanbul

Setelah digulingkannya Sultan Abdülhamid II Han pada tahun 1909 oleh kelompok CUP maka keputusan untuk perang setelah itu tidak lagi menjadi kendali sultan. Secara nominal penerusnya, Sultan Mehmed V Reşat, tidak memiliki kekuatan untuk mencegahnya.

Perang yang merugikan adalah ketika Italia menginvasi Libya pada tahun 1910. Perang pendek namun heroik itu belangsung kurang lebih setahun. Terputusnya jalur darat dan lemahnya angkatan laut kekhilafahan Turki Utsmani menjadi sebagian penyebab kekalahan operasional.

Foto ini mengabadikan saat kembalinya beberapa perwira tinggi beserta keluarganya pada tahun 1912. Mereka dikembalikan ke İstanbul setelah menjadi tawanan perang Italia selama setahun. Jika kita perhatikan seksama, maka isteri serta keluarga perempuan perwira ini masih mengenakan hijab penuh serta bercadar.

Foto ini merekam generasi militer Turki yang masih memegang kuat prinsip hijab. Institusi kekhilafahan masih tetap ada hingga 12 tahun lagi setelah foto ini diambil. Setelah itu sekularisasi pada Republik Turki menghapus dan melarang hijab, dimulai dari para perwira tinggi militer.

Saat ini sebagian mendung di Turki mulai sirna, di negeriku mendung masih menggelayuti Ummat

 ✳🇲🇨 Selamat Hari Pahlawan Nasional  🇲🇨✳

“Insaf-lah! Barang siapa mati, padahal belum pernah berperang, bahkan hatinya berhasrat perangpun tidak, maka matinya ia di atas cabang kemunafikan.” Jend. Soedirman.

“Andai tidak ada kalimat takbir, saya tidak tahu dengan apa membakar semangat pemuda melawan penjajah.” Bung Tomo.

NAZAR

Ustadz Menjawab
Kamis, 10 November 2016
Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

Assalamu’alaikum. Saya mau bertanya mengenai nadhar, bagaimana niat nadhar dan berapa macam cara bernadhar sesuai syari’at islam? # A 41

Jawaban :
—————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Sebaiknya nadzar  dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ اَلْمَقْدِسِ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا” . فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا”. فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “شَأْنُكَ إِذًا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).” Nabi bersabda: “Shalat di sini saja.” Orang itu meminta lagi. Nabi menjawab: “Shalat di sini saja.” Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: “Kalau begitu terserah kamu.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzar, sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah.
(HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

1. Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

2. Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat. jika fakir miskin itu seorang wanita, maka sebagusnya mesti dengan kerudungnya juga.

3. Atau memerdekakan seorang budak

4. Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
(QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfu’:

مَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَمْ يُسَمِّهِ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا فِي مَعْصِيَةٍ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَا يُطِيقُهُ فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا أَطَاقَهُ فَلْيَفِ بِهِ»

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: “Isnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.” Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfu’ /ucapan nabi.  )

Wallahu A’lam

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

📆 Rabu, 08 Shafar 1438 H/09 November 2016

📗 Aqidah

📝 Ustadzah Prima Eyza Purnama

============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalaamu’alaikum wr.wb..

Apa kabar adik-adik pemuda Islam kebanggan umat, mudah-mudahan senantiasa dalam limpahan hidayah dan rahmat dari Allah SWT. Aamiin..

Hari ini kita lanjutkan kembali pembicaraan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada bahasan lalu telah selesai membahas syarat yang kedua. Kali ini kita masuk pada syarat yang ketiga.

SYARAT KETIGA:

الإِخْلاَصُ اَلْمُنَافِيْ لِلشِّرْكِ

(KEIKHLASAN YANG MENGHILANGKAN KEMUSYRIKAN)

Orang yang bersyahadat harus menjadi orang yang mukhlish, yakni ikhlash dalam syahadatnya, ikhlash bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Artinya, haruslah ikhlash dalam seluruh aktifitasnya baik perkataan, maupun perbuatannya, termasuk lintasan di hati dan fikirannya sekalipun.

Ikhlash artinya niat mencari keridhaan Allah Ta’ala semata-mata dalam seluruh aktifitas, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun selain Dia, dan senantiasa membersihkan niatnya itu dari segala kotoran yang dapat merusak (keikhlashan itu).

→ Maka, orang yang ikhlash; niatnya murni, bersih, suci, dari berbagai kotoran (kemusyrikan), baik kemusyrikan yang kecil maupun yang besar. Tentu sudah difaham sebelumnya tentang kandungan Laa Ilaaha illaLaah, yang mengharuskan seorang yang beriman itu melenyapkan segala bentuk ilah (Tuhan) selain Allah, sampai ke akar-akarnya. Sebab ia telah bersyahadat (menyatakan, berjanji, dan bersumpah) untuk itu.

Lawan ikhlash adalah syirik.
Secara bahasa, syirik berarti : syirkah dan musyarakah, yang artinya:

1. Bercampurnya dua kepemilikan.
2. Ada sesuatu untuk dua orang atau lebih baik secara dzat ataupun nilainya.

Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Secara istilah atau menurut syariat, syirik yaitu sikap menyekutukan Allah secara Dzat, sifat, perbuatan dan/atau ibadah.

Syirik secara dzat yakni menganggap/meyakini bahwa Dzat Allah itu seperti dzat makhluk-Nya. Menganggap bahwa Allah itu serupa dengan makhluk. Padahal salah satu sifat yang wajib dan mutlak bagi Allah adalah mukhalafatuhu lil hawadits (berbeda dengan makhluk). Dan di ayat terakhir surah Al-Ikhlash jelas-jelas kita mendapat penegasan dari Allah, “Dan tiada seorang pun yang menyerupai-Nya.”

Syirik secara sifat artinya seseorang menganggap/meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain menganggap bahwa makhluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali. Secara prinsip, sifat Allah ada dua, yakni bahwa Allah itu bebas dari segala kekurangan dan kelemahan dan Allah berkumpul pada diri-Nya segala ke-Maha-an. Kuasa Allah tiada berbatas. Tiada tanding tiada banding.

Syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mampu mengatur alam semesta dan rizki manusia sebagaimana kuasa dan perbuatan Allah.

Syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah kepada selain Allah dan mengagungkannya sebagaimana seharusnya ia mengagungkan Allah serta mencintainya sebagaimana seharusnya ia mencintai Allah.
Para ulama juga mengatakan bahwa prilaku syirik ada yang tampak (zhahir) dan ada yang tersembunyi (khafiy), ada syirik besar dan ada pula syirik kecil.
Nah, orang yang ikhlash, ia selamat dan sungguh jauh dari semua bentuk kesyirikan tersebut.

● Jika masih syirik, syahadatnya tidak diterima.

Jika masih ada syirik, maka syahadatnya tidak akan diterima di sisi Allah.
Karena kita tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan pada-Nya. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

Dalam sebuah riwayat hadits,

وَعَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْل بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رَيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قَرْطٍ بْنِ رَزَاحِ بْنِ عَدِيّ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيّ بْنِ غَالِبٍ الْقُرَشِيّ الْعَدَوِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ متفق

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapatkan pahala di sisi Allah)’.” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam sebuah hadits Qudsi,  Allah SWT menegaskan menolak setiap amal perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Barang siapa yang melakukan perbuatan, di dalamnya terdapat persekutuan bersama-Ku dengan yang selain Aku, maka Aku tinggalkan amalnya dan sekutunya itu.” (HR. Muslim no.2985)

Juga sebuah hadits tentang apa yang diperoleh Nabi SAW dari Allah SWT dalam perjalanan Isra` Mi’raj:

وَأُعْطِيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا: أعْطِيَ الصلوات الخمس، وأعْطِي خواتيمَ سورة البقرة، وغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ شيئًا المُقْحَماتُ

“Diberikan kepada Rasulullah saw (saat Isra Mi’raj) tiga hal: diberikan shalat lima waktu, diberikan akhir surat al-Baqarah, dan diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan ALLAH dengan apapun.” (HR. Muslim)

Dalam Al-Qur’an, Allah menginformasikan prilaku syirik orang-orang Quraysy jahiliyah, yang walaupun mereka mengenal Allah sebagai Tuhan (karena peninggalan ajaran Nabi Ibrahim as) dan mempersembahkan qurban untuk Allah, namun pada saat yang sama mereka juga mempersembahkan sesaji kepada berhala.

Dalam QS Al-An’aam [6] : 136  disebutkan sesaji tersebut berupa tanaman dan ternak:
“… Lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami’. …”
Tindakan yang serupa dan semisal dengan ini masih banyak terdapat di masyarakat kita yang notabene mereka mengucapkan syahadat. Mungkin mereka tidak menyadari atau memang belum/tidak memahami. Menjadi tugas kita untuk membersihkan keimanan mereka dari segala kotoran syirik itu dengan menyeru mereka kepada tauhid dan aqidah yang benar, yakni syahadat yang ikhlash dan bersih dari segala bentuk syirik.

Bersambung…

Wallaahu a’lam bishshowab

PERIAS SALON

Ustadz Menjawab
Rabu, 09 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum..klo hukum bgi perias wajah/salon kcantikan bagaimana,walau tadinya niat ingin membantu muslimah utk tampil cantik dihadapan suami,tapi apa daya yg datang misal kebanyakan minta dirias utk acara wisuda,pernikahan dll..

🍃🍃🍃Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
saya rasa secara hukum sudah jelas, bahwa para gadis ini belum waktunya seperti itu, untuk siapa mereka seperti itu, mgkin agak mending jika mereka sdh berhijab artinya kemungkinan minta disanggul lebih kecil, sehingga terhindar sebagai alwashilat wal mustawshilat (penyambung rambut dan yg disambung rambut), tapi tetaplah wajah akan permak begitu rupa .. Ini memang terkait pemahaman agama, ghazwul fikri, serta budaya dan nilai hidup yg dianut.

Sikap yg terbaik adalah tegas menolaknya, agar kita tidak ada peran dlm tabarrujnya mereka .

Ada pun merias utk pernikahan
Aisyah pun dirias saat nikah, yang penting tetap tutup aurat secara sempurna, tdk dgn bahan yg najis atau diharamkan, tdk israf/berlebihan, ada pun bahan yg dipilih tdk masalah. mahkota2 itu wilayah syubhat/grey area, lbh hati2 tinggalkan .. sbb ada unsur tasyabbuh/ikut2an/menyerupai riasan wanita non muslim.
wallahu a’lam

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 1)

📆 Selasa, 07 Shafar 1438 H/08 November 2016

📔 Sirah

📝 Ustadz Yani
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

1⃣ Profil dan Pernikahannya Dengan Rasulullah SAW

Khadijah binti khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay Al-Qurasiyah Al-Asadiyah… begitulah nama lengkap bunda Khadijah. Lahir di Makkah pada tahun 68 sebelum hijrah. Terlahir dari keluarga terhormat dan mulia, bahkan di juluki Ath-Thahirah (wanita suci) dimasa jahiliyah. Ayahandanya meninggal pada perang Fijar.

Selain dari keluarga terhormat di kaumnya, bunda Khadijah adalah Bussiness Woman ulung saat itu. Kafilah dagangnya tak ada henti membawa barang dagangan dari Makkah-Madinah, dan juga sering menyewa orang untuk menjualkan barang dagangannya ke Syam dengan imbalan.

Dengan segala kelebihan yang dimiliki bunda Khadijah merupakan puncak impian bagi wanita pada umumnya, namun, Allah SWT menghendaki melebihi dari batas pada umumnya, bahkan melebihi dunia yang fana ini.

Kemuliaan mana lagi yang dapat menandingi kemuliaan wanita yg dihormati di kaumnya, kaya raya, dan sebagai istri dari manusia paling mulia di bumi ini, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Sebenarnya sudah banyak para lelaki mendekati bunda Khadijah saat itu, namun, tampaknya tak ada yang berkenan di hatinya. Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, beliau adalah janda yang sudah menikah 2 kali. Pernikahan pertama dengan Abu Halah bin Zurarah bin Nabasy At-Tamimi, dan kedua dengan Atiq bin A’iz bin Umar bin Makzhum.

Bunda Khadijah menerima pinangan Rasulullah SAW, berawal dari informasi atas  kemuliaan akhlak dan sifat amanah yang terpuji nya Rasulullah. Dan saat itu Rasulullah SAW belumlah diangkat oleh Allah SWT sebagai Nabi. Bunda mengutus budaknya Maisarah menawarkan kerjasama kepada Rasulullah SAW dalam perdagangannya ke Syam dengan imbalan tertentu, dan menyertainya, gayung bersambut dan Rasulullah SAW pun menerima.

Selama perjalanan Maisarah melihat banyak keistimewaan pada diri Rasulullah SAW, diantaranya adalah saat Beliau singgah disebuah pohon dekat tempat ibadah seorang rahib. Rahib tersebut bertanya kepada Maisarah, “Siapa orang itu?” “Orang dari suku Quraish, penduduk tanah Haram (Makkah)” jawab Maisarah.

Rahib itu pun berkata; “Tidak ada yang singgah seorangpun dibawah pohon itu kecuali seorang Nabi.”

Keistimewaan lainnya yang dimiliki Rasulullah SAW adalah akhlak mulia, tutur kata yg lembut, sifat Amanah dan kejujuran. Maisarah pun menangkap Barakah pada diri Beliau, karena barang dagangannya mendapat keuntungan berlipat-lipat.

Setelah kembalinya dari Syam, Maisarah pun melaporkan semuanya kepada bunda Khadijah. Seperti mendapatkan apa yang selama ini dicarinya, bunda Khadijah pun mengungkapkan keinginannya kepada sahabatnya Nafisah binti Umayyah tentang perasaannya terhadap Rasulullah SAW. Lalu, Nafisah pun menyampaikannya kepada paman Rasulullah SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Ternyata, keinginan bunda Khadijah disambut baik oleh Rasulullah SAW, lalu Hamzah pun secepatnya mendatangi paman bunda Khadijah yaitu ‘Amr bin Asad bin Abdul Uzza untuk menyampaikan lamaran dari Rasulullah SAW kepada bunda Khadijah. Lalu, pernikahan pun dilaksanakan dengan mahar 12 Uqiyah, dan saat itu Rasulullah SAW berusia 25 tahun dan bunda Khadijah berusia 40 tahun.

Begitulah takdir yang Allah SWT gariskan, didalamnya terkandung pelajaran yg sangat berharga. Akhlaq mulia adalah bekal paling utama dalam kehidupan, disini menjadi standar penilaian bagi orang-orang mulia. Dan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun rumah tangga, sebagaimana Rasulullah SAW isyaratkan.

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits ini derajatnya hasan)

Bersambung…

Maraji’ :
Isteri & Puteri Rasulullah SAW (Mengenal & Mencintai Ahlul Bait)

• Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay KSA (Penyusun : Ust. Abdullah Haidir, Lc)

Khitbah (Meminang)

📆 Rabu, 9 Shafar 1438H / 9 Nopember 2016

📚 MUAMALAH

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

1. Khitbah (meminang) merupakan step pertama yang mestinya dilakukan oleh orang yang hendak menikah..

2. Khitbah hakekatnya adalah menyampaikan keinginan atau janji untuk menikahi wanita pilihannya kepada walinya.

3. Hukumnya disunahkan dalam agama, karena  sebelum pernikahan, hendaknya masing-masing pasangan mengenali calonnya dengan baik.

4. Bagusnya sebelum melangkah khitbah, seseorang melakukan istikharah dan istisyarah.

5. Istikharah adalah mohon kepada Allah agar pilihannya baik baginya, di dunia atau akhirat. Shalat dua rakaat, baca doanya..

6. Istisyarah adalah berkonsultasi dengan orang-orang bijak di sekitarnya, baik tentang kesiapan dirinya atau calon yang akan dilamar.

7. Jika pilihan sudah OK, hati sudah mantap, istikharah dan istisyarah sudah ditempuh… bersiap-siaplah khitbah…

8. Dianjurkan untuk melihat wanita yang hendak dilamar, begitupula, sang wanita melihat laki-laki yg melamar.

9. Dlm riwayat Muslim, ketika ada orang yang hendak menikah, namun belum melihat calonnya, Rasululah saw perintahkan dia untuk melihatnya.

10. Melihat juga boleh dilakukan sebelum khitbah, selama niat khitbah sudah ada. Bahkan boleh juga tanpa diketahui calonnya..

11. Atau melihat calon dapat dilakukan saat khitbah. Yang penting tidak boleh ada khalwat. Cuma berduaan saja.

12. Sekedar pengalaman, dahulu murabbi saya mengajak saya ke apotik untuk beli obat, sekalian untuk melihat calon saya yang kerja di apotik..:)

13. Sebaiknya memang tdk cukup dengan poto saja. Bahkan boleh jadi ada mudharatnya. Melihat langsung diutamakan.

14. Perkara lain lagi yg harus dipastikan adalah bahwa calon yang dilamar bukanlah orang yang terlarang dinikahi..

15. Misal, masih mahram, masih status isteri orang, masih dalam masa idah. Termasuk tidak boleh khitbah wanita yang sudah dikhitbah..

16. Jika semuanya telah siap, hubungilah walinya untuk mengajukan khitbah. Silakan tetapkan waktu yang tepat dan pas.

17. Khitbah bisa langsung dilakukan oleh calon suami, atau diwakili oleh keluarganya. Atau datang rame-rame sekalian..

18. Tidak ada ritual khusus untuk khitbah. Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar khitbah dirahasiakan.

19. Khususnya jika dikhawatirkan khitbahnya mengundang kedengkian. Tapi jika  merasa aman, diumumkn juga tidak apa.

20. Terkait dengan hadiah-hadiah dan pemberian, semuanya sekedar pemberian biasa saja. Tidak mengikat, seperti mahar.

21. Tidak harus juga menyerahkan cincin khusus untuk khitbah. Atau tukeran cincin. Hal itu tidak ada aturannya dalam khitbah.

22. Tapi kalau memang ingin memberi hadiah cincin kepada wanita yang hendak dikhitbah tidak mengapa, dan tanpa ikatan apa-apa..

23. Sampaikan kepada wali wanita tersebut bahwa dia bermaksud melamarnya. Jika walinya setuju, dan wanitanya setuju, resmilah lamaran tersebut.

24. Namun, khitbah prinsipnya adalah sekedar janji untuk menikah. Bukan pernikahan itu sendiri. Maka status hukumnya masih ‘orang lain’.

25. Maka, setelah khitbah, kedua calon pasangan tersebut, tetap tidak boleh ‘klayar kluyur’ kesana kemari berduaan, layaknya suami isteri..

26. Bahkan berbicarapun secukupnya, sesuai kebutuhan, jangan langsung ngomong mesra-mesraan dan cinta-cintaan.

27. Sebaiknya memang, antara khitbah dan akad pernikahan jangan terlalu lama, agar tidak membuka peluang fitnah..

28. Kalau lamaran dibatalkan gimana? Boleh saja. Baik yang membatalakn laki-laki ataupun wanita. Hanya saja sebaiknya ada alasan yang jelas.

29. Makanya, khitbah itu baik ketika diajukan atau ketika diterima, hendaknya berdasarkan pemahaman yang jelas, agar tidak timbul masalah.

30. Jika dibatalkan, apakah pemberiannya harus dikembalikan? Tidak harus, itukan hadiah. Namun kalau dikembalikan lebih baik.

31. Jika sang wanita sudah dilamar, maka tidak boleh ada laki-laki yang melamarnya, apabila dia tahu akan hal itu.

32. Selama masa khitbah, calon pasangan tersebut boleh membicarakan rencana-rencana pernikahan. Termasuk syarat-syarat yang ingin diajukan.

33. Kalau syaratnya diterima dan tidak bertentangan dengan aturan agama, maka syarat tersebut harus dipenuhi.

34. Berdasarkan hadits, syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat-syarat dalam perkawinan.

Moga Allah beri kemudian bagi saudara-saudara kita yang hendak menikah…

Amiin..