Siswa/i Yang Menjaga Diri

Ustadzah Heni

Assalamu’alaikum
Afwan kak malam-malam pc. Mau bertanya, yang biasa atau bisa disebut sebagai siswa atau siswi yang menjaga diri itu seperti apa? Terimakasih
#MFT A02

Jawaban
========

Wa’alaikumssalam..

⇨ Sebelumnya dijelaskan terlebih dahulu tentang menjaga diri.

⇨ Menjaga diri adalah kemampuan diri untuk mengendalikan perilaku supaya tidak melampaui batas dan tidak melanggar ajaran Islam. Ada beberapa bentuk atau wujud dari siswa dan siswi yang bisa menjaga diri.

⇨ Menjaga diri dalam pergaulan. Berteman dengan laki-laki perlu ada batas supaya kehormatan masing-masing bisa terjaga. Misalnya, jika ngobrol dengan kawan lelaki sebaiknya tidak sendiri dan di tempat yang terbuka atau umum.

⇨ Perhatikan waktu untuk kongkow bersama teman-teman. Terutama bagi perempuan baiknya tidak sampai larut malam berada di luar rumah.

⇨ Bisa memilah dan memilih teman supaya tidak terjerumus ke hal hal negatif, seperti ; narkoba, seks bebas, hobi nonton pornografi. Karena teman memiliki pengaruh yang cukup besar, apalagi jika sedang tertimpa masalah. Teman yang baik akan selalu mengingat kan kepada Allah Ta’ala.

Benarkah Mubahalah Tidak Boleh Untuk Sesama Muslim?

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Mubahalah, kata Imam Ibnu ‘Abidin adalah Al Mula’anah Al Masyru’ah (saling melaknat yg dibolehkan dalam syariat). (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/541)

Wacana mubahalah kembali mencuat ketika salah satu kontributor Jaringan Islam Liberal, Ade Armando, terangan-terangan mengajak mubahalah kepada siapa saja yang tidak setuju dengan kepemimpinan non muslim. Akhirnya sangat banyak yang menyambut tantangan ini dan memintanya berjumpa langsung. Tp sayangnya yang bersangkutan tidak berani berjumpa langsung untuk bermubahalah, tapi hanya mau di medsos saja, .. Ini menunjukkan kebodohannya terhadap syariat mubahalah.

Namun ada sebagian orang yang memandang tidak boleh mubahalah dengan sesama muslim, sebab yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan adalah bermubahalah dengan Nasrani Bani Najran, sehingga menurut  mereka mubahalah hanya boleh kepada non muslim.

📌 *Benarkah seperti itu ??*

Berikut ini kami tampilkan fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta (Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) di Arab Saudi.

Berikut ini fatwanya:

المباهلة التي حصلت بين الرسول صلى الله عليه وسلم والنصارى في عهده ، والتي وردت في قوله تعالى: { فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ }  إلى آخر الآية الكريمة ، هل هي خاصة بالنبي صلى الله عليه وسلم ، وإن لم تكن كذلك فهل هي خاصة مع النصارى ؟

الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد:
ج: ليست المباهلة خاصة بالرسول صلى الله عليه وسلم مع النصارى ، بل حكمها عام له ولأمته مع النصارى وغيرهم ، لأن الأصل في التشريع العموم ، وإن كان الذي وقع منها في زمنه صلى الله عليه وسلم في طلبه المباهلة من نصارى نجران ، فهذه جزئية تطبيقية لمعنى الآية لا تدل على حصر الحكم فيها .
وبالله وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

📌 *Pertanyaan:*

Mubahalah yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Nasrani di  zamannya, yang telah di firmankan dalam ayatNya:

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali ‘Imran: 61)

Apakah ini khusus buat nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  saja? Jika tidak demikian, apakah ini juga khusus terhadap Nasrani saja?

🔑 *Jawab:*

Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Mubahalah tidaklah khusus buat Nabi   Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  terhadap Nasrani saja, tapi itu berlaku umum bagi umatnya baik terhadap Nasrani dan selainnya. Sebab pada dasarnya pensyariatan itu berlaku umum, jika kenyataannya pada zaman Nabi    Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mubahalah terjadi terhadap Nasrani Bani Najran, itu hanyalah bagian dari penerapannya saja, hukum ayat tersebut tidak menunjukkan adanya pembatasan.

Wabillahit Taufiq wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatwa Al Lajnah Ad Daimah No. 6238)

Jadi Istri Kedua?

Ustadzah Nurdiana

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
bila ada pria beristri hendak melakukan poligami, dan misal saya sebagai pihak calon istri kedua, maka hal-hal apa yang harus saya pertimbangkan untuk menerima/menolak dipoligami?
kemudian apa saja landasan yang harus jadi tolok ukur dan bahan referensi bagi wanita terkait masalah poligami. A19

Dan

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
bagi seorang laki-laki apabila masuk syurga kan akan didampingi oleh bidadari-bidadari, dan isterinya tidak akan cemburu, lalu bagaimana jika isterinya 2?
jika seorang wanita menjadi isteri kedua dari seorang pria apakah memang itu telah disebut jodohnya?

mohon pencerahannya disertai dalil-dalil yang jelas
Jazakillah Khairan Katsir

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Hal hal yg harus dipertimbangkan bg calon istri kedua:
1. Istikharoh dan persiapan ruhiah

2.Mental. Kira kira  sanggup gak menerima penilaian dari orang lain dgn stigma negatif istri kedua. Sekalipun tdk semua istri kedua negatif tapi sangat dimaklumi kenapa stigma itu ada karena mayoritas orang menikah kedua karena perselingkuhan. Married by accident. Karena harta, tahta, sekedar entertaint, karena sekedar nafsu.dll.
Meskipun banyak yg poligami itu sukses tapi belum tersosialisasikan dan memang fitnah serta dinamikanya akan lebih rumit. Semua itu kembali terpulang kepada kepemimpinan laki-laki sbg suaminya.

3. Pastikan calon suaminya adalah pria sholeh yg mau mengamalkan sunnah bukan hanya latah

4.bila memungkinkan dialog dg istri pertamanya.karena dialah yg paling tahu karakter suaminya

5.kenali keluarga calon suami.kel istri pertama dan anak-anak dari calon suami

6 .pastikan niat nikahnya untuk apa???

Bila seorang sudah menikah dan jadi istri kedua ya itulah jodohnya karena sesuatu yg sdh terjadi  disebut taqdir bila belum terjadi masih disebut qodho dan masih terbuka lebar kesempatan tuk merubahnya dengan doa dan amal sholeh tidak usah berfikir nanti gmn dgn laki-laki yg beristri 2 . Lebih baik kita konsen dan pastikan dulu kita masuk surga. Karena kalau sudah ada di surga semua indah dan Allah yg mengaturnya.

Wallahu a’lam.

Amalan Sebelum Shalat

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamualaikum ustad .
Mau bertanya …
Adakah doa khusus atau amalan lain yang harus dibaca sbelum sholat selain membaca niat sholat supaya lebih khusyuk ??
Syukron jazakallah khair 🅰4⃣3⃣

Jawab:
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Tidak ada doa atau bacaan khusus yang dilakukan sebelum mengerjakan shalat. Namun ada amalan-amalan yang baik untuk dilakukan sebelum mengerjakan shalat, khususnya shalat fardhu.

1. Bersiwak

Menurut Imam An Nawawi, siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran (Tahriru Alfaazith Tanbih, hal 33). Bersiwak adalah kegiatan membersihkan gigi dengan menggosoknya dengan sesuatu yang keras, misalnya ranting pohon Al Arok (kayu siwak), ranting pohon kurma, ranting pohon zaitun, atau sikat dan pasta gigi seperti yang banyak kita temui di kehidupan sehari-hari. Maksud dari sunnah bersiwak sebelum shalat adalah untuk mengharumkan bau mulut, membersihkan gigi, dan mengeluarkan kotorannya sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah shalat.

2. Memperbarui wudhu

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya:

Manakah amalan yang lebih utama sebelum melaksanakan shalat fardhu? Apakah memperbarui wudhu, i’tikaf di masjid, membaca al-Quran atau melaksanakan shalat sunnah?

Beliau menjawab:

تجديد الوضوء مستحب إذا كان قد توضأ سابقاً إذا جدد فهو أفضل ولا يلزمه تجدد الوضوء, والسنة أن يتقدم إلى الصلاة والجلوس في المسجد ينتظر الصلاة فيه خير عظيم, وإذا سمي اعتكاف فلا بأس؛ لأن اللبث في المسجد يسمى اعتكاف إذا نوى اعتكافاً عند انتظاره الصلاة أو الجلوس في المسجد يقرأ هذه قربة إلى الله-جل وعلا- فالمؤمن يتقرب إلى الله بما شرع فإذا قصد مسجد أن يقرأ فيه ويتعبد, ويصلي ونواه اعتكافا سواء ساعة أو ساعتين, أو يوم, أو يومين كله لا بأس, ولكن عليه أن يحافظ على الصلاة في جماعة في أوقاتها, ويحذر التخلف عن ذلك، وإذا أراد تجديد الوضوء إذا توضأ للظهر وأراد أن يجدد للعصر أو المغرب هذا أفضل, وإن صلى بالوضوء السابق فلا حرج

Memperbaharui wudhu dianjurkan jika orang yang melakukannya telah berwudhu sebelumnya. Jika ia memperbarui wudhu hal itu lebih utama, namun perkara tersebut tidaklah wajib. Dianjurkan bersegera (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat dan duduk di dalamnya dalam rangka menunggu pelaksanaan shalat. Sebab padanya terdapat kebaikan yang besar. Tidak mengapa jika duduk di masjid tersebut dinamakan i’tikaf. Karena berada di dalam masjid pun bisa disebut i’tikaf jika diniatkan seperti itu sambil menunggu sholat atau duduk di dalam masjid sembari membaca al-Qur’an. Ini merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.

3. Pergi ke Masjid dan Menunggu Waktu Shalat

Setelah bersiwak, dianjurkan untuk bersegera berangkat ke masjid bagi muslim laki-laki, sedangkan bagi muslim perempuan diperbolehkan shalat di rumah. Dianjurkan pula bagi kita untuk berdiam di dalam masjid sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika memasuki masjid, adalah sunnah untuk mendahulukan kaki kanan, sedangkan ketika keluar dari masjid dahulukan kaki kiri.

Saat adzan berkumandang, disunnahkan bagi kita untuk menjawab seruan adzan tersebut, walaupun dalam kondisi berhadats. Namun, terdapat pengecualian kepada orang yang sedang shalat, buang hajat, berjima’, atau mendengarkan khotib (khusus shalat Jumat). Bila kita sedang berada dalam 4 keadaan tersebut, adalah lebih baik untuk menjawab adzan setelahnya. Menjawab adzan pada waktu sedang melaksanakan shalat hukumnya makruh dan tidak membatalkan shalat, namun menjawab adzan ketika selesai shalat adalah lebih baik. Menjawab adzan ketika khotib berdiri di mimbar dapat membatalkan shalat Jumat, karena jama’ah shalat tidak diijinkan berbicara sepatah katapun pada saat itu.

4. Shalat Tahiyyatul Masjid

Apabila seorang muslim memasuki masjid, maka ia dianjurkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid sebelum duduk di dalamnya. Shalat tahiyyatul masjid hukumnya sunnah dan dilakukan dengan 2 rakaat. Bila kita masuk ke masjid ketika khotib sedang menyampaikan khotbah Jumat, maka disunnahkan untuk melakukan shalat 2 rakaat dengan ringan, kemudian segera duduk untuk mendengarkan khotbah.

Dalil yang mendasari pendapat ini adalah riwayat dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Sulaik Al-Ghathafany tiba pada hari Jumat ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khotbah, lalu dia langsung duduk. Beliau bertanya, “Wahai Sulaik, bangunlah dan shalatlah dua rakaat dan lakukan dengan bersegera”. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian datang pada Hari Jum’at, sedang imam sedang menyampaikan khotbah, maka shalatlah dua rakaat dan hendaklah ia bersegera melakukannya”.

5. Shalat Sunnah Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang dilakukan sebebelum atau sesudah shalat fardhu. Manfaatnya amalan sunnah ini adalah sebagai penambah kekurangan dari shalat wajib yang kita lakukan. Nabi SAW tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dalam keadaan mukim (tidak dalam keadaan safar).

Diriwayatkan dari Ummu Habibah, istri Nabi shalallahu alaihi wa sallam, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba muslim yang mendirikan shalat karena Allah setiap hari sebanyak dua belas rakaat secara tathawwu’ selain fardhu, melainkan Allah membangunkan sebuah rumah baginya di dalam surga atau dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. (HR. Nasai – no. 1774)

Wallahu a’lam.

Meneladankan Diri Untuk Menjadi Cermin Yang Terbaik

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Menjadikan diri lebih baik sebuah keniscayaan.
Berkaca pada nurani menjadi kewajiban.
Lantaran bersihnya nurani yang mampu menggerakkan laku untuk memperbaiki diri.

Menjadi baik bukan sekedar mengantarkan sosok muslimah menjadi pribadi yang penuh harga diri di mata manusia, lebih dari itu ada tujuan jangka panjang yakni kehidupan ukhrowi yang tak bertepi.

Belajar dari kisah yang menyejarah di masa lalu bisa membangkitkan semangat untuk berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan berharap esok kan raih cita gemilang dalam mengukir sejarah hidupnya.

Menjadi muslimah yang dikenal sepanjang sejarah tak selalu lurus dalam menjalani hidupnya. Terkadang ada sandungan, ada aral melintang, ada ujian, dan Allah memberi kesempatan untuk berbuat salah.
Bukan sekedar peristiwa yang menjadikannya bersalah, namun perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan, dari kejahilan, dan bangkit dari kesalahan itu yang bisa kita jadikan teladan untuk menjalani kehidupan.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada satu pun manusia yang sempurna, hanya Rasulullah yang mulia yang terjaga dari dosa hingga gelar Al Ma’shum melekat pada beliau.

Banyak wanita di sekeliling Nabi, mereka sebelumnya menjadi musuh Islam, menghina Rasulullah hingga akhirnya menjadi teladan kebaikan hingga akhir zaman.

Tersebutlah wanita shalihah yang kisahnya cukup mengesankan dan menjadi sarana belajar bagi kita untuk lebih berhati-hati. Ummu Banin namanya. Ummu Banin sendiri adalah putri dari Abdul Azis bin Marwan serta saudara wanita dari Umar bin Abdul Azis.

Umar bin Abdul Azis sendiri adalah salah satu pemimpin, salah satu khalifah teladan sepeninggal Khulafaur Rasyidin.
Tak banyak sejarawan yang menuliskan sejarah hidupnya. Namun sekelumit berkisah tentangnya berharap bisa menjadikannya contoh untuk berhati-hati dalam berkata-kata. Ummu Banin yang shalihah tanpa menyadari telah menunjukkan sikap kesombongan.

Dikisahkan dari Marwan bin Muhammad bahwa Azzah sahabat Kutsayyir pernah datang menghadap kepada Ummu Banin.

Bermula dari pertemuannya dengan seorang wanita muda yang bernama Azzah dan sahabat laki-lakinya. Setiap kali Kutsayyir bertemu dengan Azzah selalu saja berdendang sebuah syair bahwa hutang itu wajib dibayar.

Mendengar dendangan syair itu Azzah selalu murung hingga kemurungannya diketahui Ummu Banin. Dengan rasa penasaran Ummu Banin bertanya kepada Azzah dan meminta Azzah bercerita.

Akhirnya Azzah menceritakan maksud dari sindiran tentang hutang tersebut bahwa dulu pernah berjanji bersedia dicium Kutsayyir, lantas Kutsayyir setiap bertemu Azzah selalu saja menagihnya. Tetapi Azzah menolak dan takut berdosa.

Mendengar penuturan itu, Ummu Banin spontan terlontar kata-kata geram dengan cerita itu. “Tepatilah janjimu kepadanya dan akulah yang akan menanggung dosanya,” kata Ummu Banin.

Tak seberapa lama, Ummu Banin merenungi kata-katanya. Ummu Banin pun segera menginterospeksi diri atas perkataannya. Ia memohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongannya.

Ketakutan akan hari akhir yang membuat Ummu Banin menyegerakan pertaubatan atas khilaf selintas lepas. Lantaran sekecil apa pun kesombongan, tak kan pernah berhak untuk menginjakkan kaki di Surga.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perilaku takabur dan merasa tinggi hati. Astagfirullah…..

Jika kita lihat kesalahan Ummu Banin tak seberapa besar. Lantaran pemahaman yang mendalam terhadap dienul Islam maka Ummu Banin untuk menunjukkan kesungguhan taubatnya, beliau membebaskan 40 budak. “Ya Allah, mengapa tidak bisukan saja mulutku ini ketika mengatakan hal itu,” pintanya dalam tobat.

Tekun Beribadah. Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, Ummu Banin kian tekun dalam beribadah. Ummu Banin selalu meninggalkan peraduannya guna menunaikan shalat sepanjang malam.
Setiap hari jumat, ia selalu keluar rumah dengan membawa sesuatu di atas punggung kudanya kemudian diberi-berikannya kepada fakir miskin.

Tidak jarang pula Ummu Banin mengundang para wanita ahli ibadah untuk berkumpul di rumahnya kemudian menggelar pengajian membahas keagamaan. “Setiap manusia pasti akan membutuhkan sesuatu, sedangkan aku akan menjadikan kebutuhanku itu menjadi sebuah pengorbanan dan pemberian.
Demi Allah, silaturrahmi bagiku lebih menarik daripada makanan selezat apapun,” tuturnya kepada para wanita lainnya.

Hingga akhir hayatnya, Ummu Banin selalu berbuat kebaikan.

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Ummu Banin, salah seorang Wanita Teladan dalam Sejarah Islam.

Sahabat Surgaku…..
Merawat jiwa, mengolah pribadi, menjaga perilaku, dan menata hati seyogyanyalah ada dalam pribadi-pribadi muslimah.

Selalu berada dalam orbit keshalihan, selalu menjaga keistiqamahan, dan menjadikan orang-orang beriman menjadi kawan.

Berhati-hati hingga tak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas. Lantaran Allah swt mengingatkan pada kita dalam firman-Nya, “Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)

Mari kita pelihara dan tingkatkan taqwa kita.
Mari kita bersegera memantaskan diri menjadi hamba-Nya.

Sudah seberapakah amalan yang kita bawa? Seberapa khusyu’ kita menghamba? Seberapa banyak waktu kita untuk memperjuangkan diin mulia?

Atau kita lebih sering berpacu dengan waktu untuk urusan yang tak tentu. Mengejar yang fana hingga lupa yang baka. Mengejar dunia saja hingga lupa akhiratnya.

Sisa hidup kita tak seberapa lama. Bersyukur karena Allah masih beri kesempatan kita untuk mengumpulkan bekal. Menyibukkan diri pada amal-amal kebaikan.

Waktu terus melaju, hari-hari pun berlalu, tanpa terasa kita sudah berada di ujung kehidupan. Sejenak menakar iman,  sesaat kita melintasi kehidupan, dan selamanya kita hidup dalam keabadian. Maka tugas kita untuk meneladankan diri bagian dari kebutuhan.

Ustadz Hasan Al Bisri menasihati kita,”Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.” Usia kita tak terukur, tanpa kita tau kapan saatnya harus tidur di dalam kubur. Jika peluang hidup masih ada bergegas membuat karya.

Seperti halnya sosok-sosok muslimah yang jauh mendahului kita.
Ibunda Khadijah RA yang kesantunan pribadinya bisa dijadikan teladan sepanjang masa. Ibunda Aisyah RA yang kecerdasannya terekam dalam sejarah melalui karya-karyanya.

Berguru dari kisah di masa lalu hingga berusaha memperjuangkan asa tak kenal jemu. Saatnya kita ambil peran untuk menegakkan peradaban. Menjunjung nilai-nilai Islam hingga kembali raih kejayaan.

Mengembalikan eksistensi muslimah di akhir jaman adalah tugas kita. Sejauh mana diri telah berbuat untuk agama ini. Apakah kita masih sering memilih terlena hingga waktu tersia-sia. Atau kita segera beranjak dan berlari mengusung panji-panji untuk menyongsong kemenangan. Tak hanya jadi penonton tapi mampu mengambil peran untuk tegaknya sebuah kejayaan.
Mengembalikan kejayaan Islam, menampilkan sosok-sosok muslimah di akhir zaman.

Muslimah yang bisa seperti khadijah, yang pandai berdagang, menjadi pengusaha sukses sementara hidupnya tak jauh dari naungan Al Quran.

Serupa Aisyah yang menggeluti bidang keilmuan. Sosok aisyah yang menjadi tempat bertanya bagi sesiapa. Selayaknya zainab binti Khuzaimah yang menjadi umul masakin. Berperan banyak di masyarakat untuk melayani, untuk membantu menolong fakir miskin.

Adalah tugas kita sebagai muslimah mengisi hidup dengan banyak peran yang dilakukan. Membentuk keluarga sakinah, mendidik anak-anak menjadi shalih dan shalihah, dan berbuat banyak untuk melayani masyarakat. Mampu menjadikan setiap episode hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.
Sosok yang mengajarkan, sosok yang meneladankan, dan sosok yang meninggalkan jejak kebaikan sepanjang sejarah hidupnya.

Sahabat Surgaku…
Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, esok berharap berkah.
Kemarin jadi tempat berkaca, hari ini saatnya berkarya, dan esok berharap kan raih asa.
Kemarin  bisa dijadikan pelajaran, hari ini kerja keras kan jadi kawan, dan esok kan raih kesuksesan.

Apa yang berlalu bisa kita jadikan guru untuk ditiru. Apa yang terlewat bisa kita jadikan nasihat.

Meneladankan diri, menampilkan sosok muslimah sejati. Tak silau karena pujian tak galau lantaran beratnya ujian. Tetap berkarya meski langkah menuju kehadapan tak mundur selangkah pun dari jalan Tuhan.

Perjalanan membangun peradaban memang membutuhkan waktu yang
panjang dan melelahkan. Tak sekedar harta, jiwa,  raga, dan waktu tersita untuk memperjuangkannya. Banyak yang harus kita korbankan lantaran kecintaan kita kepada Allah.

Terkadang kita terengah-engah untuk melangkah hingga tujuan. Terkadang pula terseok-seok mengikuti lajunya derap langkah kafilah dakwah. Kadang pula tersandung, terjatuh, terluka dan aral yang melintang menghadang perjalanan kita.

Namun bagaimana pun kita harus tetap teguh pendirian untuk tetap semangat mengeksistensikan diri di jalan dakwah ini.

Imam Syafi’i menasihati kita,” Jika sudah berada di jalan Allah maka melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua tak mampu kau lakukan, tetaplah maju terus meski merangkak perlahan. Janganlah pernah mundur dari jalan Allah.”

Sahabat Surgaku…..
Bergeraklah agar tubuh tak kaku.
Bertuturlah agar lidah tak kelu.
Berpikirlah agar otak tak beku.
Beramallah agar hidup lebih terasa syahdu.
Berjuanglah agar terukir namamu.
Berdakwakahlah tanpa kenal jemu.
Berharap tinggal di surga yang dirindu.

Demi Allah, dunia dibanding dengan akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut. Yang tersisa di jarinya itulah kehidupan dunia. (HR Muslim)

Wallahu  A’lam.

Karakter Munafiq Dalam QS. Al-Munafiquun (I-a)

Ustadz Noorahmat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuhu.

Adik-adik MFT yang disayang Allah Ar Rahmaan…

Alhamdulillah kita bertemu kembali hari ini. Dalam kesempatan hari ini hingga beberapa pekan kedepan, kita akan membahas karakter-karakter yang ditunjukkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun. Surat ke 63 dan bagian dari Juz 28.

Ehm….sudah ada yang tahfidznya sampai Juz 28? Semoga Allah Ta’ala membersihkan jiwa kita agar mudah menghafal Al Qur’an dan menerapkannya dalam kehidupan. Aamiin.

Mempersingkat tulisan, kita langsung saja ya….

Adik-adik yang dirahmati Allah Ar Rahiim, kita awali pembahasan QS Al Munafiquun, dengan menyampaikan empat ayat pertama dari surat ini…

Allah Azza wa Jalla berfirman

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُون
َ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
َ
“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُون
َ
“Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.”

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُون
َ
“Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

Nah sekarang, kita bahas bagian per-bagian…

Dalam ayat-ayat diatas Allah Azza wa Jalla menceritakan beberapa karakteristik orang-orang munafiq, bahwa mereka hanya mengakui Islam dengan mulutnya saja, bila datang kepada Nabi Saw. Sedangkan di dalam hati mereka justru kebalikannya, tidak seperti yang mereka tampakkan. Untuk itulah maka Allah Azza wa Jalla berfirman dalam bagian awal ayat pertama:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ…

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”…

Yakni apabila orang-orang munafiq datang kepada Rasulullah SAW dan menghadapi beliau dengan pengakuan tersebut, serta menampakkan hal itu kepada beliau, justru kenyataannya tidaklah seperti apa yang orang-orang munafiq katakan.

Karena itulah maka dalam ayat ini diletakkan kalimat sisipan yang memberitahukan bahwa sesungguhnya Nabi Saw. adalah utusan Allah, yaitu:

…وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ…

…Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya…

Kemudian Allah Ta’ala sebutkan dalam kelanjutannya:

…وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

…dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Yaitu dalam pemberitaan mereka, sekalipun pada lahiriahnya mereka menampakkan hal yang sungguhan, karena sesungguhnya mereka tidak meyakini kebenaran dari apa yang mereka ucapkan dan tidak pula membenarkannya dalam hati mereka.

Karena itulah maka orang-orang munafiq ini didustakan berdasarkan keyakinan yang tersimpan dalam hati mereka.

Nah adik-adik yang dirahmati Allah Azza wa Jalla…
Pelajaran yang bisa kita ambil hari ini adalah terkait satu karakter utama yang dimiliki orang-orang munafiq, yaitu menampakkan keimanan yang justru bertentangan dengan isi hatinya….

Semoga tidak ada satupun diantara kita yang memiliki karakter ini ya….

Kita bertemu kembali pekan depan untuk kelanjutan pembahasan ayat kedua dari QS Al Munafiquun ini. ان شاء الله

Wassalam.

Membacakan Al Fatihah Untuk Orang Meninggal

Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum, mau bertanya:
Bagaimana membacakan atau mengirimkan alfatihah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya? Syukran

Dari 🅰4⃣3⃣

Jawaban
——–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah

Masalah ini diperselisihkan sesama Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ..

*A.  Para Imam Ahlus Sunnah Yang MELARANG Membaca Al Quran Untuk Mayit*

1.  Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu dan sebagian pengikutnya

Syaikh Athiyah Shaqr mengatakan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik memakruhkan membaca Al Quran di kubur, alasannya karena tak ada yang sah dari sunah tentang hal itu. (Fatawa Al Azhar, 7/458)
Namun, kami dapati dalam  kitab lain bahwa kalangan Hanafiyah terjadi perbedaan antara waktu makruhnya itu, berikut ini keterangannya:

تُكْرَهُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْمَيِّتِ حَتَّى يُغَسَّل وَأَمَّا حَدِيثُ مَعْقِل بْنِ يَسَارٍ مَرْفُوعًا اقْرَءُوا سُورَةَ يس عَلَى مَوْتَاكُمْ   فَقَال ابْنُ حِبَّانَ : الْمُرَادُ بِهِ مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، وَيُؤَيِّدُهُ مَا أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا وَابْنُ مَرْدُوَيْهِ مَرْفُوعًا مَا مِنْ مَيِّتٍ يُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلاَّ هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَخَالَفَهُ بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْمُحَقِّقِينَ ، فَأَخَذَ بِظَاهِرِ الْخَبَرِ وَقَال : بَل يُقْرَأُ عَلَيْهِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَهُوَ مُسَجًّى وَفِي الْمَسْأَلَةِ خِلاَفٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَيْضًا . قَال ابْنُ عَابِدِينَ : الْحَاصِل أَنَّ الْمَيِّتَ إِنْ كَانَ مُحْدِثًا فَلاَ كَرَاهَةَ ، وَإِنْ كَانَ نَجِسًا كُرِهَ . وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا أَيْضًا إِذَا لَمْ يَكُنِ الْمَيِّتُ مُسَجًّى بِثَوْبٍ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِهِ ، وَكَذَا يَنْبَغِي تَقْيِيدُ الْكَرَاهَةِ بِمَا إِذَا قَرَأَ جَهْرًا .
 
  “Dimakruhkan menurut Hanafiyah membaca Al Quran di sisi mayit sampai dia dimandikan. Ada pun hadits Ma’qil bin Yasar, secara marfu’: Bacalah surat Yasin atas orang yang mengalami sakaratul maut di antara kalian. Ibnu Hibban mengatakan maksudnya adalah bagi orang yang sedang menghadapi kematian. Hal ini didukung oleh riwayat Ibnu Abi Dunia dan Ibnu Mardawaih, secara marfu’: Tidaklah seorang mayit dibacakan di sisinya surat Yasin, melainkan Allah akan mudahkan baginya.  Sebagian peneliti muta’akhir (masa belakangan) berbeda dengannya, dengan mengambil makna zhahir dari khabar (hadits) itu, dengan berkata: “Bahkan dibacakan atasnya setelah wafatnya dan dia sudah dibungkus oleh kafan.” Ada pun tentang doa, kalangan Hanafiyah juga terjadi perbedaan pendapat. Berkata Ibnu ‘Abidin: “Kesimpulannya, sesungguhnya jika mayit itu  dalam kondisi hadats maka tidaklah makruh, jika dia bernajis maka makruh. Secara zhahir ini juga berlaku jika mayit belum dibungkus dengan kain yang menutup seluruh tubuhnya. Demikian juga pemakruhan dibatasi  jika membacanya secara Jahr (dikeraskan). (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Mawqi’ Ruh Al Islam)

2.   Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu dan sebagian pengikutnya

Syaikh Ibnu Abi Jamrah mengatakan bahwa Imam Malik memakruhkan membaca Al Quran di kuburan. (Syarh Mukhtashar Khalil, 5 /467)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah mengatakan dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu:

قال المالكية: تكره القراءة عند الموت إن فعله استناناً كما يكره القراءة بعد الموت، وعلى القبر؛ لأنه ليس من عمل السلف

Berkata  kalangan Malikiyah: dimakruhkan membaca Al Quran baik ketika naza’ (sakaratul maut) jika dilakukan menjadi kebiasaan, sebagaimana makruh membacanya setelah wafat, begitu pula di kubur, karena hal itu tidak pernah dilakukan para salaf (orang terdahulu). (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/599. Maktabah Misykah)

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يُكْرَهُ قِرَاءَةُ شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ مُطْلَقًا

  “Menurut Malikiyah, dimakruhkan secara mutlak membaca apa pun dari Al Quran.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

3.  Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu dan Imam Ibnu Katsir Rahimahullah

Dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Imam Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan Surat An Najm ayat 18:  “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما.

“Sebagaimana dia tidak memikul dosa orang lain, begitu pula pahala, ia hanya akan diperoleh melalui usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dan pengikutnya berpendapat bahwa pahala bacaan Al Quran tidaklah sampai kepada orang yang sudah wafat karena itu bukan amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menganjurkannya dan tidak pernah memerintahkannya, dan tidak ada nash (teks agama) yang mengarahkan mereka ke sana, dan tidak ada riwayat dari seorang sahabat pun yang melakukannya, seandainya itu baik tentulah mereka akan mendahului kita dalam melakukannya. Bab masalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) harus berdasarkan nash, bukan karena qiyas atau pendapat-pendapat. Sedangkan, mendoakan dan bersedekah, telah ijma’ (sepakat) bahwa keduanya akan sampai kepada mayit, karena keduanya memiliki dasar dalam syara’. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

  Dari apa yang disampaikan Imam Ibnu Katsir ini ada beberapa point:

1.  Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya menyatakan pahala membaca Al Quran tidaklah sampai sebagaimana dosa seseorang tidaklah dipikul oleh orang lain.

2.  Tidak ada anjuran dan perintah, dan tidak ada nash dari Rasulullah, tidak ada riwayat dari sahabat yang melakukannya. Seandainya baik, pasti mereka orang pertama yang akan melaksanakannya.
3.  Tidak boleh qiyas dalam perkara ibadah ritual.
4.  Doa dan bersedekah atas nama mayit adalah boleh menurut ijma’, karena memiliki dasar dalam syariat.

Namun Imam An Nawawi mengatakan dalam Riyadhus Shalihin, bahwa Imam Asy Syafi’i mengatakan disunnahkan membaca Al Quran di sisi kubur, jika sampai khatam maka itu bagus.   (Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin, Hal. 117. Mawqi’ Al Warraq)

  Namun yang masyhur (terkenal) dari Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya adalah mereka menolak keyakinan sampainya pahala bacaan Al Quran ke mayit. Imam Asy Syaukani menyatakan keterangan sebagai berikut:

والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن

  “Yang masyhur dari madzhab Asy Syafi’i dan jamaah para sahabat-sahabatnya adalah bahwa pahala membaca Al Quran tidaklah sampai ke mayit.”

  Asy Syaukani juga mengutip perkataan Imam Ibnu Nahwi, seorang ulama madzhab Asy Syafi’i, dalam kitab Syarhul Minhaj, sebagai berikut:

لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور

  “Yang masyhur menurut madzhab kami, pahala bacaan Al Quran tidaklah sampai ke mayit.” (Nailul Authar, 4/142. Maktabah Ad da’wah Al Islamiyah)

  Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ قَبْل الدَّفْنِ لِئَلاَّ تَشْغَلَهُمُ الْقِرَاءَةُ عَنْ تَعْجِيل تَجْهِيزِهِ

  “Dan pendapat Syafi’iyah bahwa tidaklah dibaca Al Quran di sisi mayit sebelum dikubur, agar pembacaan itu tidaklah mengganggu kesibukan dalam menyegerakan pengurusan jenazah.”  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Dari keterangan para imam di atas, maka janganlah langsung menuding Wahabi kepada muslim lainnya yang tidak mau membaca Al Quran untuk mayit. Apakah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy Syafi’i adalah Wahabi karena mereka makruhkan hal itu? Bagaimana mungkin mereka disebut Wahabi,  padahal gerakan Wahabiyah baru ada hampir sepuluh Abad setelah zaman tiga imam ini!?

4.  Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah

Beliau mengatakan:

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ تَعْزِيَةُ أَهْلِ الْمَيّتِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ هَدْيِهِ أَنْ يَجْتَمِعَ لِلْعَزَاءِ وَيَقْرَأَ لَهُ الْقُرْآنَ لَا عِنْدَ قَبْرِهِ وَلَا غَيْرِهِ وَكُلّ هَذَا بِدْعَةٌ حَادِثَةٌ مَكْرُوهَةٌ

  “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bertakziah ke keluarga mayit. Dan, bukanlah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul di rumah keluarga mayit untuk menghibur, lalu membaca Al Quran untuk si mayit baik di kuburnya, atau di tempat lain. Semua ini adalah bid’ah yang dibenci.” (Zaadul Ma’ad, 1/527. Muasasah Ar Risalah)

  Namun, dalam kitab beliau yang lain yakni Ar Ruh, justru beliau membolehkan dan banyak meriwayatkan dari salaf tentang membaca Al Quran untuk mayit. Insya Allah akan kami ketengahkan juga.

5.  Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi Rahimahullah

Beliaulah yang disebut sebagai perintis gerakan Wahabi, walau beliau tidak pernah mengatakan hal itu dan tidak pernah meniatkan adanya gerakan atau faham Wahabi. Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah mengutip darinya, sebagai berikut:

إن القراءة عند القبور، وحمل المصاحف إلى المقبور كما يفعله بعض الناس يجلسون سبعة أيام ويسمونها الشدة، وكذلك اجتماع الناس عند أهل الميت سبعة أيام ويقرءون فاتحة الكتاب، ويرفعون أيديهم بالدعاء للميت فكل هذا من البدع والمنكرات المحدثة التي يجب إزالتها، والحديث المروي في قراءة سورة يس في المقبرة لم يعز إلى شيء من كتب الحديث المعروفة، والظاهر عدم صحته، انتهى .

“ Sesungguhnya  membaca dan membawa Al Quran di kubur sebagaimana yang dilakukan sebagian manusia hari ini, mereka duduk selama tujuh hari dan menamakan itu sebagai kesungguhan, begitu pula berkumpul di rumah keluarga si mayit selama tujuh hari membaca Al Fatihah, dan mengangkat tangan untuk berdoa untuk si mayit, maka semua ini adalah bid’ah munkar yang diada-adakan, dan harus dihilangkan. Ada pun periwayatan hadits tentang membaca Yasin di kuburan tidak ada yang kuat satu pun di antara kitab-kitab  hadits yang terkenal, secara zhahir menunjukkan itu tidaklah shahih.”  (Syaikh Shalih Fauzan, Al Bayan Li Akhtha’i Ba’dhil Kitab, Hal. 171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hadits yang dimaksud adalah:

من زار قبر والديه كل جمعة ، فقرأ عندهما أو عنده *( يس )* غفر له بعدد كل آية أو حرف  
 
“Barangsiapa yang menziarahi kubur dua orang tuanya setiap Jum’at, lalu dibacakan Yasin pada sisinya, maka akan diampunkan baginya setiap ayat atau huruf.”

  Hadits ini palsu. Ibnu ‘Adi berkata: “Hadits ini batil dan tidak ada asalnya sanad ini.” Ad Daruquthni mengatakan: “Hadits ini palsu, oleh karena itu Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini kedalam kitabnya Al Maudhu’at (hadits-hadits palsu).”   (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/127/ 50)

6.  Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah

Beliau berkata:

أما جلوس أهل الميت أو غيرهم يوما أو أكثر لقراءة القرآن وإهدائه إلى الميت فبدعة لا أصل لها في الشرع المطهر.

  Ada pun duduknya keluarga mayit atau selainnya, sehari atau lebih, untuk membaca Al Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit maka itu bid’ah, tidak ada sadarnya dalam syariat yang suci. (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz, 13/397)

7.  Syaikh Shalih bin Abdullah Fauzan Hafizhahullah

Beliau berkata dalam kitab Al Mulakhash Al Fiqhi sebagai berikut:

أما من مات فأنه لا يقرأ عليه، فالقراءة على الميت بعد موته بدعة

  “Ada pun bagi orang sudah wafat maka tidaklah dibacakan Al Quran, maka membacakan Al Quran untuk mayit sesudah wafatnya adalah bid’ah …”

  Dia juga berkata:

فالقراءة على الميت عند الجنازة أو على القبر أو لروح الميت، كل هذا من البدع

  “Maka, membaca Al Quran  atas mayit di sisi jenazah atau di kubur atau untuk arwah mayit, semua ini adalah bid’ah.” (Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/296-297. Mawqi’ Ruh Al Islam)

8.  Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah

Beliau mengatakan dalam Syarh Sunan Abi Daud:

وأما القراءة عند الأموات فلا تفعل لا بـ (يس) ولا غيرها؛ لأنه لم يثبت في ذلك شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم

“Adapun membaca di sisi mayit, maka janganlah dilakukan, tidak dengan surat Yasin dan tidak pula dengan selainnya, sebab tak satu pun yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang itu.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syarh Sunan Abi Daud No. 363. Maktabah Misykat)

Dan masih banyak lainnya.

*B.  Para Imam Ahlus Sunnah Yang  MEMBOLEHKAN  Membaca Al Quran Untuk Mayit*

1.  Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma

Beliau adalah seorang sahabat Nabi, ayahnya adalah  Amr bin Al ‘Ash, Gubernur Mesir pada masa Khalifah Umar. Dalam kitab Syarh Muntaha Al Iradat, disebutkan demikian:

وَعَنْ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ كَانَ يُسْتَحَبُّ إذَا دُفِنَ الْمَيِّتُ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا ، رَوَاهُ اللَّالَكَائِيُّ ، وَيُؤَيِّدُهُ عُمُومُ { اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ } .

 Dari  Abdullah bin Amru, bahwa dia menganjurkan jika mayit dikuburkan hendaknya dibacakan pembuka  surat Al Baqarah, dan akhir surat Al Baqarah. Ini diriwayatkan oleh Imam Al Lalika’i. Hal ini dikuatkan oleh keumuman hadits: Bacalah Yasin kepada orang yang menghadapi sakaratul maut. (Imam Al Bahuti, Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16. Mawqi’ Al Islam)

Hanya saja dalam kitab ini tidak disebutkan validitas riwayat tersebut, apakah shahih  dari Ibnu Amr?
Tetapi, ada riwayat dari Muhammad bin Al Jauhari, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku  Mubasysyir, dari ayahnya, bahwa dia berwasiat jika dikuburkan maka hendaknya dibacakan surat Al Fatihah, Al Baqarah, dan sampai selesai membacanya. Aku mendengar bahwa Ibnu Amru juga mewasiatkan demikian.  (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 5/78)

 Mubaysyir ini dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh Imam Ahmad.

2.  Imam Asy Syafi’i Rahimahullah

Tercatat dalam kitab Riyadhushshalihin:

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أن يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسن

Berkata Asy Syafi’i Rahimahullah: disukai membaca Al Quran di sisi kubur dan jika sampai khatam maka itu bagus. (Hal. 295, Muasasah Ar Risalah)

Kitab Riyadhushshalihin disusun sejak delapan Abad yang lalu, tidak ada yang meragukan  pernyataan ini, sampai akhirnya Syaikh Al Albani meragukannya,  sebab menurutnya dalam madzhab Asy Syafi’i yang masyhur justru tidak sampainya bacaan Al Quran untuk mayit.

Namun dalam kitab yang lain, yakni _Al Qira’ah ‘Indal Qubur_, karta Abu Bakar Al Khalal, terdapat riwayat pembolehan membaca Al Quran di kubur oleh Imam Asy Syafi’i.

Abu Bakar Al Khalal berkata:

أخبرني روح بن الفرج ، قال : سمعت الحسن بن الصباح الزعفراني ، يقول : « سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال : لا بأس به »

  Mengabarkan kepadaku Ruh bin Al Faraj, katanya: Aku mendengar Al Hasan bin Ash Shabaah Az Za’farani berkata: “Aku bertanya kepada Asy Syafi’i tentang membaca Al Quran di sisi kubur, Beliau menjawab: Tidak apa-apa.” (Lihat riwayat No. 6)

  Nah, dari sini kita mendapatkan keterangan dari Imam Asy Syafi’i.

Pertama, Beliau menyatakan TIDAK SAMPAI pahala bacaan Al Quran buat mayit seperti yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir, dan ini menjadi pendapat yang masyhur golongan Syafi’iyah.

Kedua, Beliau membolehkan membaca Al Quran di sisi kubur, bahkan jika sampai khatam itu adalah bagus. Sebagaimana dikatakan Imam Abu Bakar Al Khalal dan Imam An Nawawi.

Jika keduanya shahih dari Imam Asy Syafi’i, maka apakah memang baginya kedua hal ini berbeda? Mengirim pahala adalah satu hal, sedangkan membaca di sisi kubur adalah hal yang lain?  Yang satu tidak sampai pahalanya berdalil surat An Najm ayat 39, yang satu dibolehkan karena untuk mencari berkahnya Al Quran bagi mayit? Wallahu A’lam

3.  Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan dalam kitabnya, Syarhul Kabir:

وقال أحمد ويقرءون عند الميت إذا حضر ليخفف عنه بالقرآن يقرأ (يس) وأمر بقراءة فاتحة الكتاب.

 Berkata Ahmad: bahwa mereka membacakan Al Quran (surat Yasin) pada sisi mayit untuk meringankannya, dan juga diperintahkan membaca surat Al Fatihah. (Imam Ibnu Qudamah, Syarh Al Kabir, 2/305. Darul Kitab Al ‘Arabi).

Imam Al Bahuti juga mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .

Imam Ahmad mengatakan, bahwa  semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal, beliau berkata: “Jika kalian memasuki kuburan maka bacalah ayat kursi tiga kali, qul huwallahu ahad, kemudian katakan: Allahumma inna fadhlahu li Ahlil Maqabir.” (Al Mughni, 5/78)

Dahulu Imam Ahmad membid’ahkan membaca Al Quran di kuburan, lalu dia meralat pendapatnya itu. Imam Ibnu Qudamah menceritakan perubahan pada Imam Ahmad tersebut, sebagai berikut:
  Diceritakan, bahwa Imam Ahmad melarang Dharir untuk membaca Al Quran di kuburan, Imam Ahmad berkata:  “Membaca Al Quran di kuburan adalah bid’ah.”  Lalu Muhammad bin Qudamah Al jauhari bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir Al Halabi?” Imam Ahmad menjawab: “Dia tsiqah (bisa dipercaya).”
 Lalu Muhammad bin Al Jauhari berkata, telah mengabarkan kepadaku  Mubasysyir, dari ayahnya, bahwa dia berwasiat jika dikuburkan maka hendaknya dibacakan pembuka surat Al Baqarah, dan sampai selesai membacanya. Aku mendengar bahwa Ibnu Umar juga mewasiatkan demikian.  (Al Mughni, 5/78) berawal dari sinilah Imam Ahmad, meralat pendapatnya, yang tadinya membid’ahkan membaca Al Quran di kuburan, menjadi membolehkannya bahkan menganjurkannya.

4.  Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Tertulis dalam Majmu’ Al Fatawanya:

وسئل عن قراءة أهل البيت : تصل إليه ؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا ؟
فأجاب :
يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه . والله أعلم .
وسئل : هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أو لا على مذهب الشافعي ؟
فأجاب :
أما وصول ثواب العبادات البدنية كالقراءة، والصلاة، والصوم فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل . والله أعلم .

Beliau ditanya tentang membaca Al Quran ang dilakukan keluarga; apakah sampai kepada mayit? Begiju juga tasbih, tahmid, takbir, jika dihadiahkan olehnya untuk mayit , sampaikah pahalanya kepadanya atau tidak?

Beliau menjawab:

“Pahala bacaan Al Quran keluarganya itu sampai kepada mayit, dan tasbih mereka, takbir, serta semua bentuk dzikir mereka kepada Allah Ta’ala jika dia hadiahkan kepada mayit, maka sampai kepadanya. Wallahu A’lam”

Beliau ditanya: menurut madzhab Syafi’I apakah pahala membaca Al Quran akan sampai kepada mayit dari anak atau tidak?

Beliau menjawab:

“Ada pun sampainya pahala ibadah-ibadah badaniah seperti membaca Al Quran, shalat, dan puasa, maka madzhab Ahmad, Abu Hanifah, segolongan sahabat Malik, Syafi’i, menatakan bahwa hal itu sampai pahalana. Sedangkan pendapat kebanyakan sahabat Malik, Syafi’I, mengatakan hal itu tidak sampai.” Wallahu A’lam   (Majmu’ Fatawa, 34/324. Darul Maktabah Al Hayah)

5.  Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah
Dalam kitab Ar Ruh Beliau berkata:

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

“Pernah disebutkan sebagian para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata Abdul Haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah Al Baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh Mu’alla bin Hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini karena masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Al Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ dalam Kitab Qira’an ‘Indal Qubur: Telah berkata kepadaku Al Abbas bin Muhammad Ad Dauri, berbicara kepadaku Yahya bin Ma’in, berbicara kepadaku Mubasyyir Al Halabi, berbicara kepadaku Abdurrahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, dari ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah ! Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat Al Baqarah, karena aku telah mendengar Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu menyuruh membuat demikian. Berkata Al Abbas Ad Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal,  apakah dia  menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Ma’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Al Khallal, telah memberitahuku Al Hasan bin Ahmad Al Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Musa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya : Suatu saat saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !   Ketika kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al Jauhari seterusnya : Aku  telah menulis sesuatu darinya !  Imam Ahmad berkata : Ya ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, dari Abdurrahman Bin Al Ala’ bin Lajlaj, dari ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik penolakanku itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al  Hasan bin As Sabbah Az Za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Al Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshar, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu dari Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An Naqid, katanya aku telah mendengar Al Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki dan memberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar Al Athrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.” (Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ar Ruh, Hal. 5. Maktabah Al Misykah)

Demikian dari Imam Ibnul Qayyim. Sebagian ulama –seperti Syaikh Al Albani- menganggap bahwa kitab Ar Ruh adalah tidak benar dinisbatkan sebagai karya Imam Ibnul Qayyim, sekali pun benar, mestilah kitab ini dibuat olehnya ketika masih muda. Dengan kata lain, pendapat Beliau dalam Zaadul Ma’ad tentang bid’ahnya membaca Al Quran di kubur, telah merevisi pendapat yang ada dalam Ar Ruh. Sementara ulama lain mengatakan, benar bahwa Ar Ruh adalah karya Imam Ibnul Qayyim jika dilihat dari gaya penulisannya yang jelas khas dan cita rasa beliau, bagi yang terbiasa membaca karya-karyanya, hal ini akan mudah diketahui. Wallahu A’lam

6.  Imam Jalauddin As Suyuthi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

أَنَّ سُنَّةَ الْإِطْعَامِ سَبْعَةُ أَيَّامٍ، بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى الْآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى الْآنَ، وَأَنَّهُمْ أَخَذُوهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ الْأَوَّلِ. [وَرَأَيْتُ] فِي التَّوَارِيخِ كَثِيرًا فِي تَرَاجِمِ الْأَئِمَّةِ يَقُولُونَ: وَأَقَامَ النَّاسُ عَلَى قَبْرِهِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَأَخْرَجَ الْحَافِظُ الْكَبِيرُ أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ عَسَاكِرَ فِي كِتَابِهِ الْمُسَمَّى ” تَبْيِينُ كَذِبِ الْمُفْتَرِي فِيمَا نُسِبَ إِلَى الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ “: سَمِعْتُ الشَّيْخَ الْفَقِيهَ أَبَا الْفَتْحِ نَصْرَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْقَوِيِّ الْمِصِّيصِيَّ يَقُولُ: تُوُفِّيَ الشَّيْخُ نَصْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيُّ فِي يَوْمِ الثُّلَاثَاءِ التَّاسِعِ مِنَ الْمُحَرَّمِ سَنَةَ تِسْعِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ بِدِمَشْقَ، وَأَقَمْنَا عَلَى قَبْرِهِ سَبْعَ لَيَالٍ نَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ عِشْرِينَ خَتْمَةً.

Bahwasanya disunahkan memberikan makanan selama tujuh hari (di rumah mayit, pen), telah sampai kepadaku bahwa hal itu terus berlangsung sampai saat ini di Mekkah dan Madinah. Kenyataannya hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat Nabi ﷺ sampai saat ini (zaman Imam As Suyuthi), dan sesungguhnya generasi khalaf telah   mengambil dari generasi salaf sampai generasi awal Islam. Aku melihat dalam banyak kitab-kitab sejarah dan biografi para imam, bahwa mereka mengatakan: “Manusia menetap di kuburnya (para imam, pen) selama tujuh hari membaca Al Quran. Diriwayatkan oleh Al Hafizh Al Kabir Abul Qasim bin ‘Asakir dalam kitabnya yang bernama “Tabyin Kadzib Al Muftara” yang disandarkan sebagaikarya Imam Abul Hasan Al Asy’ari: “Aku mendengar Asy Syaikh Al Faqih Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abdul Qawwi Al Mishshishiy berkata: Telah wafat Asy Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisiy di hari selasa, tanggal 9 Muharam, 490H di Damaskus, kamu menetap di kuburnya selama tujuh malam dan membaca Al Quran tiap malam sebanyak 20 kali khatam.    (Imam Jalaluddin As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, Juz. 2 Hlm. 234)

Imam As Suyuthi juga menceritakan (dan ini sering dijadikan dalil tahlilan selama tujuh hari dan empat puluh hari oleh pihak yang mendukung tahlilan):

روى أحمد بن حنبل في الزهد وأبو نعيم في الحلية   عن طاوس أن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام إسناده صحيح وله حكم الرفع وذكر بن جريج في مصنفه عن عبيد بن عمير أن المؤمن يفتن سبعا والمنافق أربعين صباحا وسنده صحيح أيضا

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az Zuhd, Abu An Nu’aim dalam Al Hilyah, dari Thawus bahwasanya mayit akan mendapatkan ujian dikuburnya selama tujuh hari, maka para sahabat nabi menyukai untuk memberikan makan selama tujuh itu. Isandnya shahih dan hukumnya sebagai hadits marfu’. Ibnu Juraij dalam Mushannafnya menyebutkan dari ‘Ubaid bin ‘Amir bahwa seorang mu’min diuji selama tujuh hari sedangkan orang munafik diuji selama empat puluh hari. (Imam As Suyuthi, Ad Dibaj ‘Alash Shahih Muslim, Juz. 2, Hlm. 490. Atsar-atsar ini juga terdapat dalam kitabnya Imam Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, Juz. 1, Hlm. 454)

7.  Imam Asy Syaukani Rahimahullah

Dalam kitab Nailul Authar-nya, Ketika membahas tentang hadits dari Ibnu Abbas, tentang pertanyaan seorang laki-laki, bahwa ibunya sudah meninggal apakah sedekah yang dilakukannya membawa manfaat buat ibunya? Rasulullah menjawab: ya. (HR. Bukhari, At Tirmidzi, Abu Daud, dan An Nasa’i)

Dalam menjelaskan hadits ini, dia mengatakan:

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي غَيْرِ الصَّدَقَةِ مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ هَلْ يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ ؟ فَذَهَبَتْ الْمُعْتَزِلَةُ إلَى أَنَّهُ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ وَاسْتَدَلُّوا بِعُمُومِ الْآيَةِ وَقَالَ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ : إنَّ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ صَلَاةً كَانَ أَوْ صَوْمًا أَوْ حَجًّا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبِرِّ ، وَيَصِلُ ذَلِكَ إلَى الْمَيِّتِ وَيَنْفَعُهُ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ انْتَهَى

 Telah ada  perbedaan pendapat para ulama, apakah  ‘sampai atau tidak’ kepada mayit,  perihal amal kebaikan selain sedekah?   Golongan  mu’tazilah (rasionalis ekstrim) mengatakan, tidak sampai sedikit pun. Mereka beralasan dengan keumuman ayat (yakni An Najm: 39, pen).  Sementara, dalam Syarh Al Kanzi Ad  Daqaiq, disebutkan: bahwa manusia menjadikan amalnya sebagai pahala untuk orang selainnya, baik itu dari shalat, puasa, haji, sedekah, membaca Al Quran, dan semua amal kebaikan lainnya, mereka sampaikan hal itu kepada mayit, dan menurut Ahlus Sunnah hal itu bermanfaat bagi mayit tersebut. Selesai. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 4/92. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Asy Syaukani telah memberikan dalil untuk masing-masing amal kebaikan yang bisa disampaikan kepada mayit, baik puasa, haji, sedekah, dan juga membaca Al Quran. (Ibid, 4/93)

8.  Al Imam Al Hafizh Fakhruddin Az Zaila’i Rahimahullah

  Perlu diketahui, ayat yang dijadikan dalil oleh Imam Asy Syafi’i, menurut Ibnun Abbas telah dimansukh (dihapus). Dalam Tafsir Ibnu Jarir tentang An Najm ayat 39: “Manusia tidaklah mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.”  Disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut mansukh (dihapus, yang dihapus bukanlah teksnya, tetapi hukumnya, pen) oleh ayat lain yakni, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka ..”  maka anak-anak akan dimasukkan ke dalam surga karena kebaikan yang dibuat bapak-bapaknya. (Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari,  Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 22/546-547)

Sementara dalam kitab Tabyin Al Haqaiq Syarh Kanzu Ad Daqaiq, disebutkan bahwa An Najm ayat 39 tersebut dikhususkan untuk kaum Nabi Musa dan Ibrahim, karena di dalam rangkaian ayat tersebut   diceritakan tentang  kitab suci mereka berdua, firmanNya: “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm (53): 36-37)
Ada juga yang mengatakan, maksud ayat tersebut (An Najm 39) adalah untuk orang kafir, sedangkan orang beriman, maka baginya juga mendapatkan manfaat usaha dari saudaranya. (Imam Fakhruddin Az Zaila’i, Tabyin Al Haqaiq Syarh Kanzu Ad Daqaiq, 5/132)

9.  Imam Ibnu Nujaim Al Hanafi  dan Imam Kamaluddin bin Al Hummam Rahimahumallah

ومنها ما رواه أبو داود “اقرءوا على موتاكم سورة يس” وحينئذ فتعين أن لا يكون قوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} [النجم:39] على ظاهره، وفيه تأويلات أقربها ما اختاره المحقق ابن الهمام أنها مقيدة بما يهبه العامل يعني ليس للإنسان من سعي غيره نصيب إلا إذا وهبه له فحينئذ يكون له.

“Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud: “Bacalah surat Yasin atas orang yang menghadapi kematian di antara kalian.” Saat itu tidaklah ayat: Manusia tidaklah mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya (An Najm: 39) diartikan secara zhahir. Ayat ini memliki banyak takwil. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah apa yang telah dipilih oleh Al Muhaqqiq Ibnu Al Hummam, bahwa ayat itu tidak termasuk  orang yang menghadiahkan amalnya. Artinya, tidaklah bagi manusia mendapatkan bagian selain apa yang diusahakannya, kecuali jika dia menghibahkan kepada orang lain, maka saat itu menjadi milik orang tersebut.” (Imam Ibnu Nujaim Al Hanafi, Al Bahrur Raiq Syarh Kanz Ad Daqaiq,  3/84.    Dar Ihya At Turats)

Dalam kitab Fathul Qadir –nya Imam Ibnul Hummam, pada Bab Al Hajj ‘anil Ghair, setelah beliau  memaparkan hadits-hadits tentang amal shalih yang bisa dilakukan orang hidup dan bermanfaat untuk orang mati, seperti doa, haji, sedekah, dan terakhir dia menyebut hadits tentang membaca surat Yasin. Lalu beliau mengatakan, bahwa siapa saja yang berbuat amal kebaikan untuk orang lain maka dengannya Allah Ta’ala akan memberinya manfaat dan hal itu telah sampai secara mutawatir  (diceritakan banyak manusia dari zaman ke zaman yang tidak mungkin mereka sepakat untuk dusta, pen). (Imam Kamaluddin bin Al Hummam, Fathul Qadir, 6/134)

10.  Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah

Imam Muhammad Al Kharrasyi mengatakan dalam kitabnya, Syarh Mukhtashar Khalil:

 Dalam An Nawazil-nya, Ibnu Rusyd mengatakan: “Jika seseorang membaca Al Quran dan menjadikan pahalanya untuk mayit, maka hal itu dibolehkan. Si Mayit akan mendapatkan pahalanya, dan sampai juga kepadanya manfaatnya. Insya Allah Ta’ala.” (Imam Muhammad Al Kharrasyi, Syarh Mukhtashar  Khalil, 5/467)

11.  Imam Al Qarrafi Al Maliki Rahimahullah

Beliau mengatakan, “Yang benar adalah bahwa bagi orang yang sudah wafat akan mendapat keberkahan dari membaca Al Quran, sebagaimana seseorang yang mendapatkan keberkahan karena bertetanggaan dengan orang shalih, maka hendaknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mayat dari perkara membaca Al Quran dan  tahlil (membaca Laa Ilaha Illallah) yang dilakukan saat dikuburnya.” (Imam Ahmad An Nafrawi, Al Fawakih Ad Dawani, 3/283)

12.  Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i Rahimahullah

Dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj beliau mengatakan –setelah mengutip hadits membaca Yasin untuk orang yang sedang sakaratul maut-  bahwa hendaknya diperdengarkan bacaan Al Quran bagi mayit agar mendapatkan keberkahannya sebagaimana orang hidup, jika diucapkan salam saja boleh, tentu membacakannya Al Quran adalah lebih utama. Mereka telah menerangkan bahwa dianjurkan bagi para peziarah dan pengantar untuk membacakan bagian dari Al Quran. (Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 10/371)

13.  Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau membolehkan membaca Al Quran untuk mayit bahkan setelah dikuburkan, dan ada sebagian pengikut Syafi’i lainnya menyatakan itu sunah. (Imam Syihabuddin Ar ramli, Nihayatul Muhtaj, 2/428)

14.  Syaikh Hasanain Makhluf Rahimahullah (Mufti Mesir pada masanya)

Beliau  mengatakan –setelah memaparkan berbagai hadits tentang fadhilah Yasin dan analisa yang cukup panjang-  bahwa dibolehkan membaca  surat Yasin pada orang sakit untuk meringankannya, juga pada orang yang  mengalami sakaratul maut, dan boleh juga membacanya untuk orang yang sudah wafat dengan alasan untuk meringankannya. (Fatawa Al Azhar, 5/471)

15.  Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (Mufti Mesir pada masanya)

Setelah beliau memaparkan hadits-hadits tentang pembacaan Yasin untuk orang wafat, beliau mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang waktu pembacaannya. Ada yang mengatakan sebelum wafat (ketika sakaratul maut) demi meringankan keluarnya ruh, dan saat itu pun malaikat hadir  mendengarkannya untu menurunkan rahmat. Ada juga yang mengatakan dibaca setelah wafat, baik sebelum di kubur atau sesudah dikubur, sama saja. Dan dibolehkan membaca Yasin dengan menghadiahkan pahalanya, Insya Allah itu bermanfaat bagi mayit, dan surat Yasin memiliki keutamaan itu dan juga pengaruhnya. Sedangkan pendapat beliau sendiri, membaca surat Yasin adalah sama saja waktunya, baik ketika sakaratul maut atau setelah wafatnya. Malaikat ikut mendengarkannya, mayit mendapatkan faidahnya karena hadiah tersebut, dan si pembaca juga mendapatkan pahala, begitu pula pendengarnya akan mendapatkan pelajaran dan hikmah darinya. (Fatawa Al Azhar, 8/295)

*📚Kesimpulan*

Demikianlah perselisihan ini.   Namun, masih ada jalan keluar yang bisa kita tempuh untuk keluar dari perselisihan ini, yakni semua ulama sepakat (ijma’) bahwa berdoa untuk sesama muslim, baik masih sehat, orang sakit, sakaratul maut, dan orang yang sudah meninggal adalah dibolehkan, sebagaimana yang sudah kami jelaskan. Maka, bagi yang tetap ingin mengirimkan pahala membaca Al Quran, sebaiknya ia lakukan dalam bentuk doa saja, setelah dia membaca Al Quran: “Ya Allah, jadikanlah bacaan Al Quranku tadi sebagai rahmat bagi si fulan, dan berikanlah pahalanya bagi si fulan.” Inilah cara yang ditempuh oleh sebagian ulama –seperti Imam Muhammad Al Kharrasyi,  Imam Ahmad An Nafrawi, Imam Abdul Karim As Salusi-  untuk menengahi dua arus pemikiran ini. Jadi,    membaca Al Quran tidak langsung diniatkan untuk si mayit, tapi ia berdoa kepada Allah Ta’ala semoga pahala bacaan Al Qurannya disampaikan untuk si mayit.
Dalam kitab Al Madkhal disebutkan bahwa barangsiapa yang ingin menyampaikan pahala bacaan Al Quran untuk mayit tanpa ada perselisihan pendapat, maka hendaknya dia menjadikannya sebagai doa, seperti: Allahuma awshil tsawaba Dzalik (Ya Allah, sampaikanlah pahala ini ..) (Syarh Mukhtashar Khalil, 5/468. Al Fawakih Ad Dawani, 3/283).

Terakhir, kami sampaikan pandangan bijak dari seorang ulama masa kini, Beliau tidak menyetujui membaca Al Quran untuk orang yang sudah wafat, tetapi pandangannya yang jernih dan sikapnya pun dewasa. Berikut ucapan Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim:

 أما أن نذهب إلى الميت، أو إلى القبر ونقرؤها فبعض العلماء يقول: كان بعض السلف يحب أن يقرأ عنده يس، وبعضهم يحب أن تقرأ عنده سورة الرعد، وبعضهم سورة البقرة، كل ذلك من أقوال السلف ومن أفعالهم، فلا ينبغي الإنكار في ذلك إلى حد الخصومة، ولو أن إنساناً عرض وجهة نظره واكتفى بذلك فقد أدى ما عليه، لكن أن تؤدي إلى الخصومة والمنازعة والمدافعة فهذا ليس من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في البيان، وفي الدعوة إلى الله أو إلى سنة رسول الله.

“Adapun kami pergi menuju mayit, atau kubur, dan kami membaca Al Quran. Maka sebagian ulama mengatakan: “Dahulu kaum salaf menyukai membaca surat Yasin di samping mayit, sebagian lagi menyukai membaca surat Ar Ra’du, dan sebagian lain surat Al Baqarah. Semua ini merupakan ucapan dan perbuatan kaum salaf (terdahulu). Maka, tidak semestinya mengingkari hal itu hingga lahir kebencian. Seandainya manusia sudah menyampaikan pandangannya maka hal itu sudah cukup, dan dia telah menunaikan apa yang seharusnya. Tetapi jika demi melahirkan  permusuhan, perdebatan, dan  menyerang, maka ini bukanlah sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberikan penjelasan, dan bukan cara dakwah kepada Allah dan kepada sunah Rasulullah.” (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh Bulughul Maram, Hal. 113. Maktabah Misykah)

Wallahu A’lam

Beberapa Tip Membersamai Suami

Pemateri: *Ustadz DR. Wido Supraha*

📚 *Membersamai Suami yg Over-Protective*

📬 *Soal:* ” Assalamualaikum. Bagaimana sikap seharusnya seorang istri menghadapi suami yang overprotektif , dan bagaimana jika overprotektif nya sampai melewati batas kaidah agama, melarang seorang istri mengerjakan amalan amalan contoh sedekah, membantu fakir miskin..”

🔓 *Jawab:* _”Bersyukurlah memiliki suami yang sangat peduli, memperhatikan, menyayangi, dan melindungi. Taatilah suami dalam perkara-perkara yang diperintahkannya, selama dalam batas-batas keridhoan Allah Swt..”_

📌 Ketaatan kepada manusia, termasuk orang tua dan suami memiliki batasan. Batasan itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw.:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khalik. Sesungguhnya ketaatan itu adalah dalam hal yang ma’ruf.”

🚨 Untuk amalan yang bersifat _Sunnah_, maka jika suami belum mengizinkannya cukuplah dengan berdoa di keheningan malam agar suami senang dan mendukung kebaikan. Genggamlah tangannya untuk bersama-sama menimba ilmu.

📚 *Membersamai Suami yang Egois*

📬 *Soal:* “Saya jg mau tanya ustad… bagaimana menghadapi suami yg egonya tinggi, tdk pernah mau ibadah…apakah Istri hrs tetap patuh punya suami seperti itu.”

🔓 *Jawab:* _”Tetap harus patuh pada seluruh perintahnya yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam, karena kepatuhan istri bukan karena kualitas agama suaminya, tapi karena kedudukannya sebagai suami yang sah.”_

📌 Islam adalah ajaran yang sangat memperhatikan pensucian jiwa ( _tazkiyatunnafs_). Egoisme akan menurun seiring seringnya manusia menghadiri majelis dzikir, dan mentadabburi ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah.

🚨 Hendaknya seorang istri terus berusaha mendekatkan suaminya dengan agama tanpa pernah jemu. Jauhkan hal-hal yang menyebabkannya jauh dari agama seperti televisi. Siapkan alternatif hiburan berkualitas Islami di rumah. Berbicaralah dengan lemah lembut dan penuh rasa sayang kepada suami. Jadikanlah *Asiyah* panutan karena kondisinya jauh lebih berat dari Ibu.

Dakwahnya yang lemah lembut sembari memberikan pelayanan batin yang maksimal kepada suaminya perlu ditiru. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Qashash [28] ayat 9:

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

_Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari._

Dialah Asiyah yang terus bersabar dan berharap hanya kepada Allah Swt. Perhatikan doanya dalam surat At-Tahrīm [66] ayat 11:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

_Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim._

Doakan suami Ibu di keheningan malam, tanpa diketahuinya. Di dalam sujud Ibu, agar kelak di Jannah, ibu dapat kembali bersatu dengan Bapak.

Hukum Gambar

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum, afwan saya mau bertanya di zaman yang semakin berkembang ini kita pasti tau yang namanya selfie, disini saya mau bertanya bagaimana pandangan islam tentang foto selfie itu sendiri, terlebih lagi jika di posting di media sosial bukan kah ini dapat membuat kaum adam ataupun kaum hawa dpt tertarik satu sama lain ?dan juga bukan kah kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita kpd yang bukan muhrim ?syukron😊

===========
Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Untuk pertanyaan ini sudah di web manis, silahkan adik-adik cek d sana ya

HUKUM GAMBAR/FOTO

http://www.manis.id/2016/10/hukum-gambarfoto.html?m

Apa sih kebiasaan itu ??

Bunda Heni & Tim

Kebiasaan adalah hal hal yang kita lakukan berulang ulang. Kebanyakan dari kita tidak sadar akan kebiasaan kita, semua seperti berjalan dengan sendiri nya. Kebiasaan menjadi cikal bakal seseorang menuju sukses atau kehancurannya.
Mau yang mana sukses atau hancur??

Dijamin setiap manusia di belahan dunia manapun pasti menginginkan sukses,walaupun makna  sukses pada setiap manusia berbeda.

Bagaimana memulai kebiasaan positif menuju sukses??

Seperti pesan dari Aa Gym, mulai dari yang terkecil,mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Apa saja kebiasaan positif menuju sukses??

■ Berolahraga. Karena dengan olah raga tubuh menjadi sehat. Dengan tubuh yang sehat bisa lebih mampu melakukan banyak hal dan berkarya.

■ Bangun pagi. Udara pagi sangat baik untuk kesehatan tubuh dan meningkat kan mood baik. Apalagi ada kewajiban kita sebagai Muslim shalat shubuh, sehingga perlu bangun pagi. Yuukkk bangun pagi!!

■ Berpikir positif. Hmmm….kita perlu nih memiliki karakter ini sehingga ketika ada masalah bawaanya gak baper melulu..

■ Selalu mengambil Hikmah dari setiap peristiwa dan selalu ingin belajar untuk menjadi lebih baik. Eitss…belajar yang dimaksud di sini bukan belajar pelajaran lhoo…tetapi belajar yang tentang kehidupan. Bagaimana supaya hidup menjadi lebih baik.

■ Pelajari dan fahami lebih dalam tentang ajaran Islam. Islam itu sudah lengkap lhoo…mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Jadi, pelajari dan pahami kembali ajaran Islam dan kalau perlu berdiskusi lah dengan teman, ortu, guru, murabbi.

Berikut ini kutipan dari penulisan Samuel Smiles.

“Taburkanlah suatu pikiran,maka kamu akan menuai perbuatan”

“Taburkanlah suatu perbuatan,maka kamu akan menuai kebiasaan”

“Taburkanlah suatu kebiasaan,maka kami akan menuai karakter”

“Taburkanlah suatu karakter,maka kamu akan menuai takdir”

Sudahkah hari ini memulai kebiasaan baik??