Menikah dengan Adat Istiadat

Ustadzah Nurdiana

Assalammualaikum.wr.wb..
Mba mau tanya mba, bagaimana hukumnya menikah dengan mengikuti adat istiadat. Contohnya menikah dengan cara adat didaerah masing masing mba? Syukran.
A40

Jawaban
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Mereka menikah hukumnya sunnah. Menikah merupakan ibadah. Sepanjang adat tidak bertentangan dengan ibadah. Maka dipersilahkan dengan cara adat di daerah masing-masing.

Prinsipnya Islam mudah tapi jangan di mudah-mudahankan.
Tidak berlebih lebihan.
Tidak mubazir.
Tidak ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan.)
Usahakan tidak ada kemaksiatan kepada Allah dalam acara nikah tersebut.

Wallahu a’lam.

Menafsirkan Al Quran Tanpa Ilmu adalah Perbuatan Terlarang*

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Ketentuan ini berlaku bagi siapa saja. Menafsirkan Al Quran tanpa ilmu, bukan hanya merusak pemahaman terhadap agama, membawa absurditas, serta membawa kerusakan bagi manusia lantaran Al Quran dijadikan bahan permainan akal manusia dan hawa nafsunya. Melainkan juga pelakunya mendapatkan ancaman dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

                 Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

     📌           “Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan tanpa ilmu, maka disediakan baginya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4022, katanya: hasan shahih)

                Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ومن قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

📌“Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan akal pikirannya semata, maka disediakan bagianya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4023, katanya: hasan)

Bagaimana maksud hadits yang mulia ini? Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri Rahimahullah (w. 1353H):

“ومن قال” أي من تكلم “في القرآن” أي في معناه أو قراءته “برأيه” أي من تلقاء نفسه من غير تتبع أقوال الأئمة من أهل اللغة والعربية المطابقة للقواعدالشرعية بل بحسب ما يقتضيه عقله وهو مما يتوقف على النقل بأنه لا مجال للعقل فيه كأسباب النزول والناسخ والمنسوخ وما يتعلق بالقصص والأحكام

    📌            “Wa man qaala” yaitu barang siapa yang berbicara, “fil Quran” yaitu tentang makna Al Quran atau bacaannya, “bi Ra’yihi ” yaitu sesuai dengan nafsunya dengan tanpa mengikuti perkataan para imam ahli bahasa dan arab,  (tanpa) menyesuaikan dengan kaidah-kaidah syariat. Bahkan akalnya harus mengikuti apa-apa yang disikapi oleh dalil, karena sesungguhnya tidak ada tempat bagi akal di dalamnya, seperti masalah asbabun nuzul, nasikh mansukh, dan hal yang terkait dengan kisah dan hukum. (Tuhfah Al Ahwadzi, 8/278-279)

                Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah (w. 774H) dengan tegas mengharamkan tafsir bir ra’yi (tafsir dengan akal/rasio), dengan ucapannya:

فأما تفسير القرآن بمجرد الرأي فحرام

   📌             “Ada pun tafsir Al Quran semata-mata dengan ra’yu, maka itu haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits-hadits di atas. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/10. Dar Thaibah Lin Nasyr wat Tauzi’)        

                Menafsirkan Al Quran dengan akal yakni tafsir bir ra’yi tidak selamanya terlarang, selama orang tersebut melakukannya dengan ijtihad yang benar, memahami seluk beluk bahasa Arab dengan baik dan niat yang bersih. Dan ini jelas tidak semua orang mampu melakukannya. Hendaknya dikembalikan kepada spesialisnya.

Wallahu A’lam

MUHASABAH DI PENGHUJUNG PENANTIAN

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Tak pernah kita tahu helaan nafas kita kapan berujung.
Tak pernah kita mengerti apakah kita akan beruntung.

Terlalu hina kala jiwa tertambat oleh dunia.
Terlalu nista bila tautan hati hanya pada manusia

Terlalu naif bila kita hanya bisa berbincang tentang yang fana

Sejenak kita menakar keimanan kita
Seberapa besar cinta kita pada Nya

Seberapa teguh kita sanggup Agungkan Nama Nya

Seberapa tangguh kita mampu berjuang untuk menegakkan kalimat Nya

Waktu Itu………
Imam hasan Basri menasihati, waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada esok hari, kalau esok menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti hari ini.

Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu darimu.

“Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia yang tidak mereka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya,” (HR. Thabrani, dishahihkan oleh Albani)

“Ntar ah” kalimat itu sangat biasa kita dengar.

Kadang kita sendiri yang kala terlena oleh kegiatan yang melenakan sementara harus melakukan hal yang lain.

Sudah tabiat kita.
Apalagi mengulur waktu sholat. Pastilah kata,”ntar lagi tanggung” begitu saja keluar.

Seperti kisah tentang Ka’ab Bin Malik.
Ketika diajak rasul untuk berangkat berperang ia enggan lantaran akan menunggui hasi panen kebunnya. Saat itu ia tak pernah menyadari kebun akhirat di ladang jihad jauh lebih baik dari pada seluruh dunia seisinya.

Sementara kesempatan untuk berbuat kebaikan takkan terulang.

Kita sejenak merenungkan tabiat dari waktu. Dia tak akan bisa diputar lagi, dia berlalu begitu saja tanpa bisa terganti.

Jangankan mundur sesaat, untuk berhenti sejenak pun takkan pernah terjadi.

Maka hargailah waktu yang telah menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup kita.

Setiap detik akan menghadirkan makna bagi seseorang bila ia mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Islam adalah agama yang mulia, tidak ada yang terlewatkan dari setiap ajarannya untuk mengatur kehidupan manusia sampai mengantarkan manusia pada derajat yang mulia.

Hidup manusia adalah saat ini, dan kehidupan yang sesungguhnya itu ada di akhirat nanti.

Hidup manusia pada saat ini dan detik ini karena apa yang akan terjadi satu detik ke depan hanya sebuah harapan.

Satu detik yang menjadi bagian dari rencana kita bisa sirna bila datang takdir dari sang Pencipta akan batas usia kita.

Selalu berbenah diri untuk menjadi yang terbaik dari setiap masa yang kita lalui merupakan suatu kewajiban bagi seorang hamba bila ia ingin menghadirkan cinta-Nya.

Wallahu  A’lam.

Flek Menstruasi

Oleh: Suryanisah

Assalamualaykum, ustadzah. Saya mau bertanya tentang masalah haid. Saya haid biasanya 6-7 hari. Bulan ini saya halangan lima hari. Dua hari bersih, besoknya keluar flek coklat, mungkin sisa darah haid. Pada saat terhenti dua hari tadi saya sholat. Jadi bagaimana hukumnya?
Terimakasih….[A14]

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam ilmu Fiqih ada istilah Mu’taadah, artinya: Wanita yang punya kebiasaan haid yang stabil dan teratur. Patokannya bukan tiap tanggal berapa dia haid setiap bulannya, akan tetapi berapa hari lamanya mengalami haid setiap bulannya.

Setiap wanita Mu’tadah berbeda mengenai berapa lama kebiasaan haidnya, ada yang biasa mengalami haid 6 hari, ada yang terbiasa 7 hari, 8 hari, atau mungkin 10 hari di tiap bulannya. Biasanya, wanita akan tahu kebiasaannya apabila sudah mengalami 3 kali haid dan setiap haid itu durasinya selalu stabil dan teratur.

Seluruh ulama ahli Fiqih sepakat jika darah Mu’tadah sudah tidak keluar lagi sebelum kebiasaan masa haidnya berakhir, maka wanita ini sudah suci dan boleh menunaikan shalat. Jika wanita terbiasa mengalami haid selama 6 hari, sedangkan pada satu waktu haid darahnya sudah berhenti di hari ke-4 dan tidak keluar lagi, maka ia sudah masuk masa suci mulai sejak berhentinya darah.

 a. Madzhab Hanafi

Madzhab hanafi sangat menggaris bawahi istilah Mu’tadah dan bukan Mu’tadah dalam menentukan darah haid dan istihadhah. Menurut madzhab ini, Mu’tadah yang darahnya keluar melewati masa kebiasaan haidnya maka dihukumi istihadhah. Misalnya, bila ada wanita terbiasa haid 7 hari pada tiap bulannya, kemudian pada satu masa haid ternyata darahnya tetap mengalir di hari selanjutnya, maka darah yang keluar melewati 7 hari itu dianggap istihadhah.

Begitupula bila wanita terbiasa haid selama 6 hari, kalau tiba-tiba darahnya masih belum berhenti di hari ke-7 maka darah yang keluar di hari ke-7 dan selanjutnya itu dihukumi sebagai darah istihadhah.

Namun jika pada tiap bulannya ia terbiasa keluar haid melebihi 10 hari (misalnya terbiasa mengalami haid 11 hari atau 13 hari), maka yang dihukumi sebagai haid adalah 10 hari pertama, dan darah yang keluar melewati 10 hari dianggap istihadhah. Sebab menurut madzhab ini masa maksimal keluarnya darah haid adalah 10 hari 10 malam. Maka darah yang keluar melewati batas 10 hari dihukumi istihadhah.

Bila darah terputus di tengah-tengah masa haid

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa wanita yang mengalami terputusnya darah haid, lalu beberapa hari kemudian darahnya keluar lagi, maka darah kedua ini dianggap darah haid juga. Dengan syarat darah kedua ini keluar di dalam masa rentang 10 hari (masa maksimal haid menurut madzhab ini)

Saat darah teputus, apakah wanita boleh shalat atau tidak?

Madzhab Hanafi mewajibkan wanita untuk menunaikan shalat di saat darahnya sedang berhenti keluar. Misalnya, bila wanita haid di tanggal 1-4 lalu darahnya berhenti di tanggal 5-6, kemudian darah keluar lagi di tanggal 7-9. Pada kondisi ini, tanggal 1-4 dan tanggal 7-9 si wanita tidak boleh shalat karena sedang haid, sedangkan di tanggal 5-6 saat darah berhenti si wanita tetap wajib shalat.

b. Madzhab Maliki

Apabila darah keluar di hari pertama, lalu terputus, kemudian keluar lagi. Maka darah yang pertama dan kedua dianggap satu fase darah haid. Dengan syarat bahwa darahnya tidak terputus atau tidak berhenti lebih dari 15 hari (yakni masa minimal suci menurut madzhab ini).

Pada masa terputusnya / berhentinya darah itu, ia wajib melaksanakan shalat krna ia dianggap suci. Dan saat darah haid keluar lagi (dalam rentang masa 15 hari tersebut), maka ia kembali dianggap haid dan tidak boleh menunaikan shalat.

Misalnya, bila seorang wanita keluar haid di tanggal 1-5, kemudian darahnya terputus atau berhenti di tanggal 6-8, kemudian ternyata keluar lagi darahnya di tanggal 9-10. Maka, tanggal 1-5 dan tanggal 9-10 ia berada dalam keadaan haid, sedangkan tanggal 6-8 dianggap suci dan wajib melaksanakan shalat.

Teori dari madzhab Hanafi dan Maliki mengenai terputusnya darah di tengah-tengah masa haid agaknya hampir sama, hanya saja dua madzhab ini berbeda dalam menetapkan masa minimal dan maksimal haid.

Menurut Madzhab Hanafi, masa minimal haid adalah 3 hari, sedangkan maksimalnya adalah 10 hari. Sedangkan menurut madzhab Maliki, masa minimal haid adalah beberapa tetes saja, sedangkan maksimalnya adalah 18 hari bagi Mu’tadah dan 15 hari bagi yang bukan Mu’tadah.

c. Madzhab Syafi’i

Ulama dari madzhab Syafi’i berpendapat bahwa darah yang berhenti kemudian keluar lagi dianggap seluruhnya satu ‘paket’ haid. Artinya, bahwa jika wanita haid mengalami masa terputusnya/berhentinya darah yang disusul keluarnya darah kedua, semua masa itu dianggap masa haid. Dengan syarat:

1. sejak pertama darah keluar hingga habisnya darah kedua itu tidak melebihi masa maksimal haid (15 hari).

2. darah yang berhenti itu ada di antara 2 masa keluarnya darah yang sempat terputus.

3. darah pertama yang belum sempat terputus sudah keluar minimal sehari semalam. (Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 119)

Misalnya: bila wanita mengalami haid pada tanggal 1-4, kemudian darah terputus dan tidak keluar di tanggal 5-7, lalu darah keluar lagi di tanggal 8-12, maka dari tanggal 1 hingga tanggal 12 dianggap seluruhnya dalam keadaan haid. Konsekwensinya, selama 12 hari itu ia dilarang menunaikan shalat.

Madzhab ini sepertinya lebih memudahkan para wanita untuk menghitung hari-hari haidnya. Apalagi bagi wanita yang siklus haidnya tidak teratur.

d. Madzhab Hambali

Pendapat dar madzhab ini lebih sederhana, yakni apabila darah haid wanita berhenti, baik karena terputus atau tidak, maka ia dihukumi sebagaimana wanita yang suci. Dan jika darahnya keluar lagi pada rentang masa ‘aadah atau kebiasaan haidnya, maka berarti ia kembali haid dan tidak boleh melaksanakan shalat.
(al-Kaafi juz 1 hal. 186)

Demikian pendapat dari masing-masing madzhab muktamad. Mudah-mudahan dapat membantu para muslimah dalam menentukan haid dan tidaknya. Hal ini penting, sebab dengan mengetahuinya, para muslimah dapat mengerti kapan ia harus melaksanakan ibadah-ibadah tertentu seperti shalat dan puasa, dan kapan ia tidak boleh melaksanakannya.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Menshalati Jenazah yang Semasa Hidupnya Tidak Pernah Shalat

Ustadz Menjawab
Ustadz DR. Wido Supraha
12 November 2016
======================

Assalamualaikum
Afwan ustadz, hukumnya menshalati jenazah yang seumur hidupnya tidak pernah shalat bagaimana?
Syukran
#MFT

Jawaban
========

Hukumnya dibolehkan, dan hendaknya sebagian kaum muslimin menyolatkannya.
Adapun para ulama hendaknya meningalkannya untuk memberikan ilmu dan motivasi bagi umat, jika secara zhahir memang diketahui orang tersebut tidak shalat.

Tafsir QS Al-Hujuraat ayat 9-10 (Bagian II)

📆 Sabtu, 11 Shafar 1438 H/12 November 2016

📒 Al-Qur’an

📝 Ustadz Noorahmat

============================

Asaalamu’alaikum adik-adik.
Bagaimana khabarnya? Semoga Allah Azza wa Jalla mengkaruniai istiqamah dalam Iman Islam. Sebagai kelanjutan dari pekan lalu, kali ini akan kita bahas tafsir dari QS Al-Hujuraat ayat 10.

Firman Allah Azza wa Jalla

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Kita kupas bagian per bagian ya…

…إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.”

Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa hakikat persaudaraan sejati tidaklah ditentukan oleh hubungan kekerabatan, namun lebih pada keimanan. Semuanya yang se-Iman adalah saudara, hal ini seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya dimana beliau yang mengatakan:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya.”

Adik-adik, hadist-hadist shahih yang menerangkan persaudaraan atas dasar kesatuan aqidah cukup banyak, dan berikut ini coba disuguhkan beberapa diantaranya.

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.”

إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ

“Apabila seorang muslim berdo’a untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka malaikat mengamininya dan mendoakan, ‘Semoga engkau mendapat hal yang serupa.'”

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهم وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).”

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin (terhadap mukmin lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling kuat-menguatkan. (Kemudian Rasulullah SAW menyatukan jari-jemarinya)”

Imam Ahmad dalam musnad beliau menceritakan hadist berikut dari Rasulullah SAW yang bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ، كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ

“Sesungguhnya orang mukmin dari kalangan ahli iman bila dimisalkan sama kedudukannya dengan kepala dari suatu tubuh; orang mukmin akan merasa sakit karena derita yang dialami oleh ahli iman, sebagaimana tubuh merasa sakit karena derita yang dialami oleh kepala.”

Nah, adik-adik…hadist-hadist diatas sudah cukup gamblang menjelaskan persaudaraan atas dasar iman. Sekarang kita lanjutkan dengan penggalan berikutnya dari QS Al-Hujuraat ayat 10 secara beruntun ya…

Firman Allah Ta’ala

…فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ…

“…maka damaikanlah antara keduanya…”

Mendamaikan siapa ya adik-adik? Yakni mendamaikan di antara dua golongan mukmin yang berseteru.

…وَاتَّقُوا اللَّهَ…

“…dan bertakwalah kepada Allah…”

Sampai dimanakah batas ketaqwaannya? Tentu saja dalam semua jenis urusan kita sebagai manusia, karena Islam mengatur seluruh hajat hidup manusia hingga sedetail-detailnya.

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ…

“…supaya kamu mendapat rahmat.”

Nah adik-adik, inilah pernyataan dari Allah Ar-Rahmaan yang mengandung kepastian bahwa Dia pasti memberikan Rahmat-Nya kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.

Tentu kita semua ingin mendapat Rahmat dari Allah Ar-Rahmaan kan? Maka, jagalah ukhuwah yang didasarkan pada keimanan dengan penuh kesungguhan.

Sampai disini dahulu ya, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan hati dan jiwa kita senantiasa terikat pada jiwa-jiwa orang-orang yang beriman pada Allah Azza wa Jalla, sehingga selalu menjadi juru damai ketika melihat sesama mukmin bersilang sengketa agar kita semua senantiasa mendapat limpahan Rahmat dari Allah Ar-Rahmaan atas kesungguhan kita dalam menjaga kualitas ketaqwaan. Aamiin.

Kita bersua kembali pada kesempatan berikutnya pekan depan InsyaAllah.

Wassalam

Mengajarkan Akhlak Al Quran dan As Sunnah Sejak Dini

📆 Sabtu, 11 Safar 1438H / 12 November 2016

📚 *KELUARGA & MOTIVASI*

📝 Pemateri: Ustzh DR. Hj. Aan Rohanah, Lc, MAg

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Pentingnya mengajarkan akhlak Al Qur’an dan As Sunnah adalah:*

1⃣ Akhlak adalah sumber kebaikan.

البر حسن الخلق . رواه مسلم

Artiya: ” kebaikan itu adalah akhlak yang baik”. ,( HR. Muslim).

2⃣ Menjadi orang yang paling istimewa.

ان من خياركم احسنكم اخلاقا. متفق عليه

Artinya: ” Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya” (HR. Muttafaq alaihi).

3⃣ Amal yang paling berat saat dihisab.

ما من شيئ اثقل فى ميزان العبد المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق.  رواه الترمذي

Artinya: ” Tiada amal seorang hamba yang mukmin yang lebih berat dalam timbangan di hari kiamat lebih dari daripada akhlak yang baik”(HR  Tirmidzi).

4⃣ Menjadi ahli surga

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن اكثر ما يدخل الًجنة ؟   فقال تقوى الله وحسن الخلق.  رواه الترمذى

Artinya:  ” tentang amal yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga? Beliau menjawab: bertakwa kepada Allah danp berakhlak yang mulia” (HR Tirmidzi)

5⃣ Menjadi indikator iman yang paling sempurna.

اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا. رواه الترمذي

Artinya: ” Iman yang paling sempurna diantara orang-orang mukmin adalah mereka yang paling baik akhlaknya”,(HR. Tirmidzi).

6⃣ Sama derajatnya dengan orang yang rajin shaum dan Qiyamul lail.

ان المؤمن ليدرك بحسن خلقه درجت الصائم القائم. رواه ابو داود.

Artinya: ” Sesungguhnya denganl akhlak yang mulia seorang mukmin bisa mencapai derajat orang yang rajin shaum dan Qiyamul lail. (HR Abu Daud)

📚 *Mengapa harus mengajarkan akhlak Al Quran dan As Sunnah?*

Al Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca saja, tetapi juga untuk difahami, diamalkan, dihafalkan dan diajarkan serta didakwahkan. Itulah hak2 alquran yang harus dipenuhi oleh keluarga muslim. Sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan shohabiyat.

Selain itu, akhlak yang terbaik adalah akhlak Rasulullah SAW , karena akhlak beliau adalah akhlak alquran. Sehingga beliau dikenal sebagai alquran berjalan. Sebagaimana di dalam hadits disebutkan.

ادبنى ربى فاحسن تأديبى

Artinya: ” Tuhanku telah mendidik aku, maka sebaik-baiknya pendidikan adalah pendidikan yang diberikan kepadaku”

كان خلقه القران

Artinya: ” akhlaknya ( Nabi SAW ) adalah akhlak alquran”.

Akhlak harus menjadi jiwa anak, karena akhlak itu sifat, watak  dan  kebiasaan , yang sekarang banyak disebut dengan istilah karakter. Karena itu akhlak harus diajarkan sejak dini.

📚 *Cara2 mengajarkan akhlak Al Quran dan As Sunnah kepada anak ?*

Ada 4 metode yang harus digunakan, yaitu:

*1. Melalui lisan:*
a. Diawali dengan keteladanan.
b. Memberikan motivasi.
c. Memanggil dengan panggilan yang baik, dengan nama yang disukai.
d. Memberikan pengarahan/ nasihat pada waktu yang tepat.
e. Menggunakan kalimat yang sederhana tidak bertele-tele.
f. Tidak mencela.
g. Memaafkan dengan diikrarkan jika anak  bersalah.
h. Memberikan pujian jika anak berhasil.
i. Berdoa kepada Allah SWT.

*2. Melalui Akal*
a. Bercerita
b. Menghafalkan  surat2 pendek, hadits dan doa2 .
b. Dialog dengan tenang.
c. Bicara sesuai dengan kemampuan akal anak.
d. Membangun keberanian untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.
e. Belajar tentang nilai2 Islam.
f. Menyediakan buku2 Islami,

*3. Melalui jiwa*
a. Memenuhi hak2 anak
b. Membantu anak untuk bisa berakhlak.
c. Menyediakan sarana yang dibutuhkan .
d. Melatih dan membiasakan berakhlak mulia.
e.  Berbuat adil .
f. Menemani  dalam bermain dan beraktivitas.
g. Menggembirakan .
h. Menumbuhkan kepercayaan terhadap kemuliaan akhlak.
i. Bertahap.
J. Membangun jiwa bersaing.
h. Menumbuhkan kecintaan berakhlak mulia dan membenci akhlak yang buruk.

4. Melalui lingkungan
a. Sekolah yang Islami.
b, Diajak shalat berjamaah di masjid.
c. Didekatkan dengan guru2 yang shaleh.
d. Dipersahabatkan dengan kawan2nya yang paling baik akhlaknya.
e, Diajak menziyarahi para ulama, para ustadz, dan orang2 shaleh.
f. Diajak i’tikaf di masjid.
g. Wisata ruhani ke pesantren2 dan masjid2 yang megah dan makmur jamaahnya.

Wallahu A’lam bishshawaab.

Beda Aqidah Dalam Keluarga

Ustadz Menjawab
Sabtu, 12 November 2016
Ustadzah Indra Asih

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Saya ingin bertanya apakah benar kalau dalam satu keluarga ada yang beda aqidah itu bukan saudara lagi karena sudah kafir. Kalau iya apakah ada ayat-ayatnya. Dan kita tidak boleh silaturrahim dengan orang beda agama walau orang tersebut masih kakak atau adik dalam keluarga. Wassalam. #A20

Jawaban:
———

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Non-muslim (baik keluarga maupun tidak) terbagi menjadi:

– Kafir harbi atau kafir muharib, yaitu orang kafir yang berada dalam peperangan dan permusuhan terhadap kaum muslimin

– Kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup di tengah kaum muslimin di bawah pemerintah muslim dan mereka membayar jizyah setiap tahun

– Kafir mu’ahhad, yaitu orang kafir yang sedang berada dalam perjanjian dengan kaum muslimin dalam jangka waktu tertentu

– Kafir musta’man, yaitu orang kafir yang dijamin keamanannya oleh kaum muslimin

Masing-masing jenis orang kafir ini memiliki hukum dan sikap yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, jika kita kelompokkan lagi, maka terbagi menjadi 2 kelompok besar sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma: “Dahulu kaum musyrikin terhadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan kaum mukminin, mereka terbagi menjadi 2 kelompok: musyrikin ahlul harbi, mereka memerangi kami dan kami memerangi mereka dan musyrikin ahlul ‘ahdi, mereka tidak memerangi kami dan kami tidak memerangi mereka” (HR. Bukhari).

Toleransi terhadap orang kafir ahlul ‘ahdi

Islam agama yang samahah (toleran), Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama Allah (Islam) itu hanifiyyah dan samahah” (HR. Bukhari secara mu’allaq, Ahmad, Ath Thabrani). Hanifiyyah maksudnya lurus dan benar, samahah maksudnya penuh kasih sayang dan toleransi. Bahkan terhadap orang kafir yang tidak memerangi Islam telah diatur adab-adab yang luar biasa, diantaranya:

1. Dianjurkan berbuat baik dalam muamalah

Setiap muslim hendaknya bermuamalah dengan baik dalam perkara muamalah dengan non-muslim, serta menunjukkan akhlak yang mulia. Baik dalam jual-beli, urusan pekerjaan, urusan bisnis, dan perkara muamalah lainnya. Sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an (artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah :8).

Ayat ini juga merupakan dalil bolehnya berjual-beli dan berbisnis dengan orang kafir selama bukan jual beli atau bisnis yang haram. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat juga dahulu berbisnis dengan orang kafir.

2. Tidak boleh menyakiti mereka tanpa hak              

Haram menyakiti dan mengganggu orang kafir tanpa hak, apalagi meneror atau sampai membunuh mereka. Bahkan doa orang kafir yang terzhalimi itu mustajab.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Berhati-hatilah terhadap doanya orang yang terzalimi, walaupun ia non-muslim. Karena tidak ada penghalang antara Allah dengannya” (HR. Ahmad, shahih).

Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda: “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surga” (HR. Ibnu Hibban, shahih).

3. Dianjurkan berbuat baik kepada tetangga kafir

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata tetangga di sini bermakna umum, baik tetangga yang muslim maupun kafir.

Batasan toleransi terhadap orang kafir

Toleransi tentu ada batasannya. Dalam hal ibadah dan ideologi tentu tidak ada ruang untuk toleransi. Bahkan jika kita mau jujur, seluruh agama tentu tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk meyakini aqidah agama lain, atau beribadah dengan ibadah agama lain. Demikian pula Islam, bahkan bagi kaum muslimin telah jelas termaktub dalam Al Qur’an (artinya): “Untukmu agamamu, dan untukku, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dengan non-muslim (termasuk keluarga tentunya):

1. Wajib membenci ajaran kekufuran dan orang kafir

Hakekat dari Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat terhadap perintahnya-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Dan ini adalah konsekuensi dari laailaaha illallah. Tidak mungkin seseorang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, namun secara bersamaan itu mengakui dan berlapang dada terhadap ajaran yang menyatakan ada sesembahan tandingan selain Allah. Tidak mungkin ada orang yang beriman kepada Allah dan mentauhidkan Allah, namun tidak membenci kekafiran dan tidak membenci ajaran kekafiran dan kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Tidak akan kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih-sayang kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadalah: 22).

2. Tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya

Auliya dalam bentuk jamak dari wali yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Dalam Al Qur’an, banyak sekali ayat yang melarang kita menjadikan orang kafir sebagai auliya. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28).

Maka anjuran berbuat baik dan ihsan kepada tetangga kafir, keluarga kafir atau orang kafir secara umum, hanya sebatas perbuatan baik yang wajar, tidak boleh sampai menjadikan mereka orang yang dekat di hati, sahabat, orang kepercayaan atau yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang, apalagi menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Wallahul musta’an.

3. Tidak boleh menyerupai orang kafir

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, hasan). Yang terlarang di sini adalah menyerupai mereka dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka, baik dalam ibadah, cara berpakaian, kebiasaan, adat dan perkara lainnya. Karena ini menunjukkan tidak adanya bara’ah (kebencian) terhadap ajaran kufur dan orangnya. Selain itu meniru mereka dalam perkara zhahir akan menyeret kita untuk meniru mereka dalam perkara batin yaitu aqidah.

Termasuk juga dalam hal ini, tidak boleh memakai atribut-atribut agama lain. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat Adi bin Hatim radhiallahu’anhu yang mengenakan kalung salib, beliau mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu” (HR. Tirmidzi, hasan). Juga, termasuk dalam hal ini, tidak boleh ikut merayakan perayaan orang kafir. Khalifah Umar bin Khathab radhiallahu’anhu pernah mengatakan, “Janganlah kalian memasuki peribadatan non muslim di gereja-gereja mereka di hari raya mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah” (HR. Abdurrazaq).

4. Muslim dan kafir bukan saudara dan tidak saling mewarisi

Seorang kafir bukanlah saudara bagi seorang muslim dalam agamanya.

Ingatlah perkataan Nabiyullah Nuh dalam Al Qur’an (artinya) :“Ya Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya“ Allah berfirman : “”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu”” (QS. Hud: 45-46)”.

Dan seorang muslim tidak mendapatkan bagian waris dari keluarganya yang meninggal dalam keadaan kafir, serta sebaliknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim tidak memberikan warisan kepada orang kafir dan orang kafir tidak memberikan warisan kepada muslim” (Muttafaqun ‘alaih).

Yang tidak kalah penting adalah kita berharap dan mengusahakan keluarga kita  yang kafir mendapatkan hidayah.

Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang menunjukkan kepada hidayah maka ia mendapat pahala semisal pelakunya’ (HR. Muslim)”

Wallahu a’lam.

Update Donasi Multimedia Manis (12/11)

No. 007/INFO/MII/X/2016
Tanggal: 20 Oktober 2016
Perihal : *DONASI MULTIMEDIA MANIS*
Tujuan : Semua Member MANIS & Umum

##################

بسم الله الرحمن الرحيم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Setelah 1 tahun lebih berdakwah online lewat media sosial WA, Telegram, FB, Twitter, Instagram, Website dan Aplikasi Android,
*YAYASAN MANIS* berencana mengembangkan dakwah di bidang *AUDIO VISUAL.*

Pengurus Manis berencana *memproduksi video kajian Islam* oleh asatidz Manis dengan kualitas bagus.
Video kajian ini, disamping akan menjadi *alternatif materi kajian rutin Manis* juga bisa dinikmati ummat Islam lainnya.

*Tim Multimedia Manis* telah terbentuk dan saat ini membutuhkan dana untuk pengadaan *1 set lengkap peralatan video recording*,
dengan rincian sbb:

1. Camcorder Sony NX3
 – Est. harga: Rp 34.500.000
– Baterai cadangan 1 unit Rp. 700.000

2. Microphone Sennheiser EW 112 PG3 – Est. harga: Rp 6.750.000

3. Audio Recorder Zoom H4N – Est harga : Rp 3.100.000

4. Memory Camera, Kelas 10 – Est. harga: Rp 500.000

5. Tripod Video, excel-VT700 – Est. harga: Rp 1.500.000

6. Lighting 528led h520 2 unit  – Est. harga: @Rp 1.500.000 = Rp. 3.000.000

7. Stand Lighting 2 unit @Rp.280.000= Rp 560.000

8. Batery lighting 3 buah @Rp 400.000 – Est harga: Rp 1.200.000

9. Laptop Lenovo core i7 – Est harga: Rp 15.000.000

10. Dry box (tool box) – Est harga: Rp 600.000

11. Modem + mouse + external hard disc – Est harga: Rp 1.500.000

12. Biaya operational   – Est biaya 1 tahun : Rp 6.000.000

*_Total kebutuhan biaya_*:  *_Rp. 75.910.000_*

🔹💰🔸💰🔸💰🔹

*UPDATE  12 Nop 2016  DONASI TERKUMPUL*

*1. Uang Tunai*
*_Rp. 42.020.000_*

*2. Barang*
  – Satu unit PC video editing.

🔹💰🔸💰🔸💰🔹

Kami masih mengharapkan bantuan sahabat member Manis untuk ikut beramal jariyah menyebarkan ajaran Islam lewat audio visual ini.

Donasi dapat di kirimkan melalui :
🏧 *No Rek. a/n Nur* *Rahmawati : BSM norek : 700-943-3176*

_Mohon tambahkan Rp…03 di setiap transfer sebagai pembeda._
*Contoh Rp. 1,000.003* _(satu juta tiga rupiah)_

📱 *KONFIRMASI TRANSFER* : Andy Abidin WA +62822 9074 6588

⏰ *Donasi akan kami Tutup pada tanggal 15 Nopember 2016*

ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

-Pengurus MANIS-

Mazhab zhahiri

Ustadz Menjawab
Jum’at, 11 November 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ah.. Mazhab zhahiri ini masuk kelompok mana ya? Bisa kasih pencerahan?

🌴🌴🌴Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ttg madzhab Zhahiri (tekstualist), .. dipondasikan oleh Imam Daud Azh Zhahiri, lalu dikembangkan oleh Imam Ibnu Hazm Azh Zhahiri .., mereka termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah, tetapi tidak berkembang.

Sebenarnya dahulu madzhab fiqih dlm Ahlus Sunnah bukan hanya 4; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, tapi juga ada Al Auza’i, Ath Thabari, juga Azh Zhahiri, tapi secara komunal mereka punah, yg tersisa hanya pemikiran para pendirinya, tapi tidak ada yang melanjutkan dan menyebarkan.

Madzhab Zhahiri, sumber fiqihnya adalah Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’ tp mereka menolak qiyas. Mereka berpatokan pada zhahiriyah nash (teks yang tersurat), tidak terlalu memperhatikan makna tersirat dari nash.

Cth .., kata nabi jika seorg gadis dilamar, maka DIAMnya berarti setuju. Madzhab ini memahami secara kaku, maka jika gadis itu tidak diam, tapi malah menjawab YA, maka berarti dia tidak setuju. Sebab setuju itu ya diam, bukan menjawab. Padahal kita memahami, jika diam itu bermakna setuju maka  apalagi jika dijawab Iya.
Nah, kekakuan ini kadang membuat madzhab ini nabrak mainstream.

Wallahu a’lam