Turki Utsmani Mempelopori Penerbangan Militer dan Kebebasan Rasial

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

*Penerbang Militer Muslim Asal Afrika Pertama ; Ahmet Ali Çelikten*

Ahmet Ali Çelikten terlahir dengan nama İzmirli Alioğlu Ahmed (1883) juga mendapat nama legendaris sebagai Arap Ahmet Ali atau İzmirli Ahmet Ali. Beliau adalah penerbang pada era Turki Utsmani dan bisa jadi beliau adalah penerbang berkulit hitam pertama dalam sejarah penerbangan militer. Nenek Ahmet Ali berasal dari Bornu (sekarang berada dalam wilayah Nigeria) dan neneknya didatangkan ke İstanbul sebagai budak.

Ahmet Ali terlahir di propinsi Aidin dari ibu yang bernama Zenciye Emine Hanım dan ayahnya Ali Bey. Ia belajar pada Sekolah Teknik Kelautan Haddehane Mektebi untuk menjadi seorang pelaut militer pada tahun 1904. Beliau lulus empat tahun kemudian sebagai Mülazim-i Evvel atau setingkat Letnan Dua.

Beliau melanjutkan pendidikan pada Sekolah Penerbang Kelautan untuk menguasai seni dan teknik sebagai penerbang militer di Deniz Tayyare Mektebi yang didirikan pada 25 Juni 1914 di daerah Yeşilköy. Beliau mendapatkan wing penerbangnya pada tahun 1915. Setelah lulus beliau masuk ke dalam Angkatan Udara kekhilafahan Turki Ustmani.

Beliau memulai kedinasan aktif di angkatan udara pada bulan November 1916. Pada tanggal 18 Desember 1917 ia dikirim ke Berlin dalam kepangkatan Yüzbaşı (kapten) untuk menuntaskan pendidikan kepenerbangan tingkat mahir.

Memasuki Perang Dunia Pertama ia menikahi Hatice Hanım kelahiran 1897 yang merupakan seorang imigran dari Preveza yang sekarang berada di wilayah Yunani. Beliau wafat pada tahun 1969 sedangkan isterinya diberkahi hidup yang panjang hingga ke tahun 1991.

Agung Waspodo,
Depok, 9 Desember

Pola Asuh yg Memanjakan

By: Ustadz Farid Nu’man Hassan, S.S

Assalammualaikum Wr. Wb.
saya ingin bertanya lebih dalam,tentang permasalahan keluarga kepada ustadz, Saya mohon pencerahannya..ada beberapa kebimbangan di hati saya saat ini,pola asuh ibu saya yang terlalu memanjakan kakak laki laki saya, membuat kakak saya jadi ngelunjak dan tak sadar diri, di usia dia yang mau ke 30 tahun, dia tak tergerak untuk hidup secara sederhana dan mandiri. Pola asuh ibu saya membuat dia selalu pengen dibelikan ini dan itu tanpa berusaha untuk sendiri mewujudkannya. kami keluarga besar sudah banyak memberi saran, agar ibu saya tak terlalu memperturutkan semua kehendak kakak saya, apakah saya sebagai anak tidak salah untuk mengingatkan ibu saya? Sikap yang bagaimana yang harus saya jalani ketika ibu saya sendiri tak mau mendengarkan saran saran baik dari kami.. 🅰1⃣3⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah .., Jika memang begitu keadaannya, dan pihak saudara yang lain juga merasakan hal serupa, maka tidak apa-apa memberikan nasihat yang baik dengan perkataan yang lembut.

Mengingat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Untuk siapa ?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan. (HR. Muslim, 95/55)

Jadi, siapa pun itu berhak mendapatkan nasihat. Bahkan budaya saling menasihati di sebuah keluarga merupakan di antara ciri keluarga dikatakan keluarga Islami (Usrah Muslimah).

Ini pun dalam rangka menolong ibu, agar bisa berbuat adil terhadap anak-anaknya. Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adil-lah kepada anak-anak kalian.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu a’lam

Ilmu Allah Ta’ala (Part 1)

By: Ustadzah Novria Flaherti

◈ Dalam asmaul husna, Allah SWT disebut sebagai Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Bahwasanya ilmu Allah tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang dahulu, sekarang, ataupun besok, baik yang ghaib maupun yang nyata.

⇨ “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Hajj: 70)

⇨ “Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 22)

◈ Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap diketahui Allah SWT. “Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang.” (QS. Al-An’am: 59)

◈ Ilmu Allah SWT maha luas, tak terjangkau, dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat, dan makhluk manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Tentang tubuhnya sendiri saja, tidak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai manusia. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji.

◈ Belum lagi tentang astronomi. Berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dan seterusnya. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah SWT tak akan tertandingi sedikitpun jua.

◈ Allah SWT menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah SWT, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan.

⇨ “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al-Kahfi: 109)

⇨ “Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Luqman : 27)

Niat dan Pahala

By: Ustadz Slamet Setiawan

Assalamu’alaikum ka, aku mau nanya. Kalau misalkan kita shalat jama’ah tapi kita baca niat nya shalat munfarid , itu berarti shalat nya termasuk jama’ah atau munfarid ka? Mohon jawaban nya ka, Syukron#MFT A08

Jawaban
========

⇨ Ibnul Mubarak pernah mengatakan,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al-Ikhlas wan Niyyah).

◈ Apakah Niat Itu?

Secara bahasa niat artinya القصدُ (keinginan atau tujuan), sedangkan makna secara istilah niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Niat letaknya ada di dalam hati dan tidak dilafalkan.

◈ Fungsi Niat

Fungsi niat dalam amalan seorang hamba adalah,

1. Membedakan antara ibadah dengan rutinitas (membedakan tujuan suatu perbuatan).

Misalnya, seseorang membasahi seluruh badannya dengan niat untuk menyegarkan badan, kemudian ada seorang yang lain membasahi seluruh badannya dengan niat mandi junub. Maka, mandinya orang yang kedua bernilai ibadah sedangkan mandinya orang yang pertama hanya bernilai rutinitas.

2. Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain.

Misalnya, seseorang melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat sunnah, kemudian seorang yang lain melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat wajib. Maka amal kedua orang tersebut terbedakan karena sebab niatnya.

◈ Dengan demikian, fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan rutinitas dan membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Makna niat yang pertama yaitu membedakan tujuan suatu perbuatan, yang membedakan apakah suatu ibadah semata-mata ikhlas karena Allah atau karena yang lainnya.

◈ Pahala Sesuai dengan Kadar Niatnya…

⇨ Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

⇨ Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

⇨ Adik-adik yang semoga dirahmati Allah, hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar niat yang ada dalam hati kita. Wallahu a’lam.

Mengantar Mayit ke Pusara

By: Ustadzah Ummu Zaheedah

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Sy pernah baca, tdk boleh menangis di depan mayit/di kuburan.

Kl emg benar, bagaimana baiknya apabila ada kerabat dekat yg wafat (ortu/saudara)?
Kalau dtg mengantar untuk dikuburkan atau ziarah pasti menangis. Sebaiknya tdk perlu datang, atau tdk apa2 datang ke pemakaman walau pasti akan menangis? Terima kasih. #A38

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah..
Menangis ketika ada kerabat dekat yang wafat adalah tindakan yang wajar dan diperbolehkan.
Yang tidak diperkenankan adalah menangis dengan diiringi jeritan atau ratapan.

“Sesungguhnya Allah tidak menyiksa ( mayat) karena linangan air mata dan kesedihan hati,tetapi menyiksa karena ini ( beliau mengisyaratkan lisannya ) atau jika Dia tidak menyiksa, berati Dia mengasihinya “
( HR. Bukhari Muslim )

Rasulullah SAW juga menangis ketika putra beliau , Ibrahim meninggal dunia.
Beliau bersabda:
” Sungguh mata mengalirkan air mata dan hati menjadi bersedih. Kami tidak mengucapkan selain ucapan yang diridhai Tuhan kami. Sungguh kami amat bersedih atas kepergiannya ,wahai Ibrahim .”
( HR.Mutafaqun ‘alaih )

Menangis adalah ekspresi wajar seorang manusia. Maka ia diperbolehkan , bahkan ketika mendapati musibah seperti halnya kematian kerabat terdekat. Namun, tidak diperbolehkan jika tangisan tersebut berlebihan seperti sudah dijelaskan di awal tadi.

Sedang untuk mengantar ke kuburan ataupun ziarah adalah sunnah bagi laki-laki dan menurut mayoritas ulama diperbolehkan pula untuk perempuan. Walau ada yang menyebutkan makruh dengan alasan karakter perempuan yang mudah histeris atau berlebihan dalam berkesedihan yang biasanya diiringi dengan ratapan atau jeritan , juga terkait masalah adab lainnya spt menutup aurat dan sejenisnya.

Padahal, tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingat akhirat dan mengambil pelajaran.

Jadi, boleh saja mengantar ke kuburan atau ziarah kubur, dengan tetap memperhatikan etika atau adab yang sudah di contohkan Rasulullah. Salah satunya dengan tidak menangis berlebihan dengan menjerit2 atau meratapi jenazah.

Wallahu’alam

Larangan Berangan-Angan Mengharapkan Kematian

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

A. HADITS

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian berangan-angan mengharapkan datangnya kematian. Karena, kalaulah dia orang baik, siapa tahu ia bisa menambah kebaikannya. Dan kalaulah dia adalah orang jahat, siapa tahu ia bisa meminta penangguhan (untuk bertaubat).” (HR. Bukhari)

B. HIKMAH HADITS:

1. Bahwa dalam menjalani roda kehidupan di dunia ini, tak jarang ada jurang terjal menghadang, ada aral besar yang melintang, atau bahkan samudra luas yang membentang, menghadang setiap langkah dalam menempuh perjalanan.

Dan tak jarang, tajamnya aral yang melintang, ditambah dengan gelapnya sisi lain kehidupan dunia yang diwarnai dengan saling fitnah dan saling hantam, dihiasi juga dengan keburukan dan kemunafikan, membuat sebagian orang berputus asa dalam menjalani bentangan samudra kehidupan.

Karena ia beranggapan, lebih baik “pulang” sekarang menuju kematian, dari pada harus menunggu hari esok yang entah fitnah apalagi yang akan menghadang, ataupun karena beratnya beban kehidupan, di tengah hedonisme nya zaman, atau juga karena beratnya permasalahan, yang terasa demikian mencengkram.

2. Namun ternyata hadits di atas melarang siapapun untuk berharap dan meng-angankan kematian, terhenti dari segala aktivitas duniawi dan aktivitas pekerjaan.

Karena betapapun, setiap detik kehidupan adalah anugrah ilahi, yang tentunya akan sangat berarti.

Bisa jadi, dengan masih langgengnya nafas dalam badan, akan menambah kebaikan bagi setiap orang yang mendambakan keridhaan Ar-Rahman.

Atau dengan masih langgengnya kehidupan, akan semakin memberi kesempatan bagi orang yang berbuat maksiat, untuk melakukan tauabatan nashuhan.

3. Maka Islam mengajarkan optimisme dalam menapaki jalan menuju hari depan, dan melarang pesimisme dalam mengarungi setiap cobaan dan ujian.

Karena sekali lagi, setiap detik nafas yang dihembuskan, adalah samudra potensi kebaikan.

Allah Swt berfirman,
“..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87).

Wallahu A’lam

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 2)

Oleh: Ustadzah Yani

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab : 33)

2⃣ Keluarga Bahagia Nan Barakah.

Bunda khadijah, r.a. walau beliau usia nya lebih tua dari Rasulullah SAW, dari keluarga kaya dan terhormat, tidak menghalangi mereka dlam mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu, sebagai istri beliau tetap memposisikan diri nya sebagaimana layaknya seorang istri.

Sementara, Rasulullah SAW tetap pada kemuliaan budi pekertinya, kemuliaan akhlaknya. Tidak berubah pada perilaku tercela hanya karena bergelimang harta. Hal ini memberikan pelajaran berharga, bahwa hubungan dan perilaku suami istri tidak ditentukan oleh latar belakang kedua belah pihak. Akan tetapi ditentukan oleh kedudukan yang Allah SWT tetapkan.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa : 34)

3⃣ Buah Pernikahan Harmonis.

Dari pernikahan Rasulullah SAW dengan bunda Khadijah r.a., Allah SWT memberikan karunia 4 orang putri dab 3 putra, ke 4 putrinya yaitu :

1. Zainab
2. Ruqayyah
3. Ummu Kultsum
4. Fatimah

Sedangkan ke 3 putranya yaitu :
1. Al-Qasim, karenanya Kuniah beliau adalah Abul-Qasim.
2. Abdullah, yang dijuluki Ath-Thayib.
3. Ath-Thahir

Rasulullah SAW mendapatkan putri-putri nya yaitu hasil pernikahannya dengan bunda Khadijah r.a.  Sedangkan, Putra-putra nya selain dari bunda Khadijah,  Rasulullah SAW mendapatkannya dari pernikahannya dengan Maria Al-Qibthiyah yang bernama Ibrahim. Selebihnya, Rasulullah SAW tidak mendapatkan keturunan dari istri-istri beliau yang lain.

Namun, Allah SWT berkehendak dalam takdir Rasulullah SAW dengan penuh hikmah, seluruh putra Rasulullah SAW wafat ketika usia anak-anak. Sedangkan, semua putri-putri beliau hidup hingga dewasa dan sempat menikah.

Adapun Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum meninggal semasa Rasulullah SAW masih hidup. Hanya Fatimahlah yg masih hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW, dan hanya beberapa bulan saja kemudian Fatimahpun wafat menyusul ayahandanya.

Bersambung…

=====================
⇨ Maraji’ :
Isteri & Puteri Rasulullah SAW (Mengenal & Mencintai Ahlul Bait)
⇨ Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay KSA (Penyusun : Ust. Abdullah Haidir, Lc)

Belajar di Sekolah Non Muslim

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamu’alaikum
Kak mau tanya, kalau kita dapat beasiswa sekolah dari suatu yayasan yang donaturnya itu mayoritas orang-orang nasrani itu gimana hukumnya ?
Terimakasih kak.

Jawaban
========

Wa’alaikumsalam wr, wb..

Menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim tanpa terkecuali, mulai dari buaian hingga ke liang lahat.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih tempat belajar atau menuntut ilmu.

⇨ Pertama, memilih tempat belajar yang dapat menjaga iman kita. Karena setiap lembaga pendidikan pasti punya visi dan misi untuk membentuk karakkter peserta didiknya. Sekolah muslim punya misi membentuk pribadi yang shaleh dst. Sedangkan sekolah non muslim juga sama misinya, membentuk karakter yang sesuai dengan keyakinan mereka.

⇨ Kedua, pilih lembaga pendidikan yang mampu menambah wawasan keislaman kita. Lembaga yang mempunyai program-program keislaman sehingga jati diri kita sebagai muslim akan terpelihara.

⇨ Ketiga, jika kita memutuskan bersekolah di sekolah umun, maka pastikan sekolah tersebut welcome terhadap kegiatan keislaman, sehingga kita sebagai seorang muslim tetap punya ruang mengembangkan diri.

⇨ Terakhir, ada kaidah fiqih, “meninggalkan sesuatu yang lebih besar berpotensi membahayakan lebih baik daripada mengambil manfaatnya.”

Wallahu a’lam.

Umat Islam Itu Satu Tubuh

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Nahnu Islam Qabla Kulli Syai’  (Kita adalah Islam Sebelum apa pun juga). Ini bukan ayat, bukan pula hadits, namun memiliki nilai kebenaran. Kita semua seharusnya merenung sejenak, bahwa sebelum kita menjadi NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lainnya, kita adalah seorang muslim. Kita adalah fitrah (Islam) sebelum menjadi ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raf (7): 172)

🔑Oleh karena itu, kecintaan dan kebanggaan diri sebagai muslim harus lebih diutamakan dibanding kebanggaan sebagai anggota ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?” (QS. Al Fuzhilat (41): 33)

Dari sini kita paham bahwa Allah Ta’ala yang telah mengikat kita dengan Islam,  bukan ormas-ormas.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal 98): 63)

Dalam ayat lain:

📌“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu  dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن المؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعض . وشبك أصابعه.

  📌        “Sesungguhnya seorang mu’min bagi mu’min lainnya adalah seperti bangunan saling menguatkan satu sama lainnya.” Maka nabi menggenggamkan jari-jemarinya. (HR. Bukhari [476, 2314], At Tirmidzi [1993], Ibnu Abi Syaibah [112])

  🔑               Maka, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan karena Islam) jangan dikorbankan dan dikalahkan oleh ukhuwah jam’iyah (persaudaraan karena organisasi). Ikatan hati dan aqidah ini sangat mahal harganya dan sangat sayang nilainya, jika hanya dikorbankan karena rebutan pengaruh dan eksistensi diri dan kelompok semata.

                Ayat-ayat dan hadits ini adalah makanan sehari-hari para tokoh Islam dan aktifis dakwah. Mereka pun diberbagai forum senantiasa menyerukan persaudaraan dan keutuhan. Tetapi, jangan sampai ini semua hanya slogan dan  bacaan formalitas tanpa aksi nyata. Apakah ayat dan hadits ini adalah kalimat-kalimat kosong tanpa makna?

📌Disebutkan dalam sebuah syair:

ولست أدرى سوى الإسلام لي وطنا      الشام فيها و وادي النيل سيان
وكلمـــا ذكر أسم الله فى بلــد       عددت أرجاءه من لب أوطـاني

                Aku Tidak Mengenal Tanah Air selain Islam
                Bagiku sama saja, Syam atau lembah Nil
                Tiap kali disebut nama Allah di sebuah negeri
                Maka, kuingat setiap penjuru dari negeriku

Wallahu A’lam

Hukum Wanita Safar

Ustadz Wido Supraha

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Saya sudah baca beberapa fiqih tentang hukum wanita safar demi menuntut ilmu,mayoritas melarang. Lalu, apakah masih ada fiqih (dalil) yg memperbolehkan wanita safar ke luar negeri utk menuntut ilmu? Misal muslimah Indonesia S2/S3 di eropa?
Jazaakumullah #A19

Jawabab
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Untuk perjalanan safar yang jauh, maka diwajibkan bersama mahram, termasuk dalam menuntut Ilmu.
Maka hendaknya ia dapat dititipkan orang tuanya kepada lokasi yang aman dan memiliki mahram di tempat tujuan.

Wallahu a’lam.